Halloween Costume ideas 2015

Harian Guru

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Latest Post

Temanggung, Harianguru.com - Karang Taruna Desa Kebonsari Wonoboyo pada hari Selasa (11/12/2018) pada pukul 09.00-14.30 WIB di Rumah makan Girli Parakan Temanggung mengadakan pelatihan dan pembinaan keorganisasian, dalam acara yang dihadiri oleh Kepala Desa Kebonsari dan seluruh jajaran perangkat desa sebagai panitia, salah satu pegawai kecamatan sebagai tamu kehormatan dan pengurus serta anggota karang taruna Kebonsari sebagai peserta.



Dalam acara yang di hadiri oleh Bapak Rubiyanto sebagai narasumber memberi materi tentang pemanfaatan potensi desa dan pembangunan SDM, yang harus digali dan di asah terus menerus, sehingga potensi desa bisa dimaksimalkan, hal ini butuh konsitensi terutama kaum milinial.

Selsin itu karang taruna memiliki tanggung jawab utk proses pembangunan nasional melalui pembangunan desa agar negara ini bersinar karena lilin lilin kecil di setiap desa seluruh Indonesia.



Sementara Pengurus Karang Taruna Kabupaten Temanggung yang hadir yaitu Ketua Umum Saudara Yoki, Gusdur sebagai Sekertaris dan Pengurus yang lain saudara Romadhon, dalam acara tersebut memberi materi tentang hal-hal yang terkait dengan Karang Taruna seperti adminitrasi, kesekretariatan serta pertanggungjawaban pada wilayah tugas pokok dan fungsi diantaranya  a. rekreasi-olahraga-kesenian dan edukasi, b. Pendidikan dan pelatihan, c. Usaha kesejahteraan sosial, d. Usaha ekonomi produktif.



Bapak Widodo selaku kepala desa Kebonsari dalam sambutannya  mengatakan Pemuda perlu adanya gairah untuk membangkitkan semangatnya guna untuk pembangunan Desa Kebonsari, Kabupaten Temanggung bahkan sampai Nasional.



Acara yang berlangsung lancar, disampaikan oleh Sekertaris KT Temanggung kepada kepada Pengurus Kabupaten, dan ditanggapi langsung  Muhamad Jamal, SH. MH selaku Majelis Pertimbangan Karang Taruna Temanggung, dan menanggapinya, saya mengapresiasi kegiatan tersebut, hal ini sangat perlu dilakukan mengingat perjalanan organisasi butuh orang-orang yang mempunyai SDM mumpuni, agar segala persoalan kepemudaan bisa diatasi dengan cepat, tidak hanya itu.

"Saya berharap pelatihan tidak hanya masalah organisasi, namun pelatihan tentang hukum, pikiran saya adalah bagaimana Karang Taruna di Desa  se Kabupaten Temanggung mampu menguasai materi hukum dalam hal teori dan praktek, agar masalah yang timbul di desa cukup karang taruna yang menyelesaikan, saya sebagai Advokat dan Konsultan Hukum siap melatih kepada karang taruna agar mahir dalam mengatasi masalah," kata dia.

Acara dilakukan sangat meriah, sembari mempererat tali persaudaraan, tidak ada jarak antara pengurus Kabupaten dan Desa. (Red-HG65).

Sosialisasi Buku Digital Kepada Siswa

Oleh: Nurchaili

Saat ini kehidupan sebagian orang sudah tak terpisahkan dari smartphone (telepon pintar). Kesehariannya selalu melekat dengan alat komunikasi di era digital ini. Smartphone menjadi kebutuhan pokok selain sandang dan pangan. Bahkan ada yang rela mengurangi jatah makan demi memiliki smartphone atau sekadar membeli pulsa agar tetap eksis di dunia maya (online).

Kondisi ini semakin menjauhkan budaya literasi (membaca dan menulis) dari masyarakat Indonesia yang selama ini memang sudah dikenal lebih suka menonton atau mendengar dibandingkan membaca apalagi menulis. Padahal kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kemampuan literasi masyarakatnya. Dalam Al-Qur’an, ayat pertama yang diturunkan Allah Swt. juga memerintahkan kita untuk membaca (Iqra’), baik membaca ayat-ayat yang tersurat dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi maupun ayat-ayat yang tersirat di alam semesta.

Literasi merupakan sarana untuk mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapat, baik di bangku sekolah, rumah maupun lingkungan sekitar.  Dalam Deklarasi Praha tahun 2003 disebutkan juga literasi mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Di abad informasi saat ini kemampuan literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir dalam menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, auditori, dan digital (Sutrianto, dkk., 2016). Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.

Ismail, T. (2003) mengungkapkan budaya membaca di kalangan pelajar Indonesia masih sangat rendah. Kondisi ini terlihat dari perbandingan banyaknya buku yang wajib dibaca pelajar Indonesia dengan negara lainnya. Pada masa penjajahan Belanda misalnya, siswa AMS-B (setingkat SMA) diwajibkan membaca 15 judul karya sastra per tahun, sedangkan siswa AMS-A membaca 25 karya sastra setahun. Siswa AMS wajib membuat 1 karangan per minggu, 18 karangan per semester, atau 36 karangan per tahun, sedangkan siswa SMA sekarang tidak diwajibkan membaca buku.

Di Amerika Serikat, siswa SMA diwajibkan membaca 32 judul karya sastra dalam setahun, siswa Jepang 15 judul, Brunei Darussalam 7 judul, Singapura dan Malaysia 6 judul, serta Thailand 5 judul (www.wartakota.tribunnews.com).

Di tahun 2011, United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) melansir hasil surveinya yang menunjukkan indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001persen, atau hanya ada seorang dari 1000 penduduk yang mau membaca buku secara serius. Rendahnya minat baca juga bisa terdeteksi dari kurangnya jumlah buku baru yang terbit di Indonesia. Data tahun 2014, buku yang terbit hanya lebih dari 30 ribu judul. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang kurang lebih 250 juta jiwa,  satu orang belum bisa membaca satu buku. (www.cnnindonesia.com).

Berdasarkan standar Unesco, idealnya satu orang membaca tujuh judul buku per tahun. Berarti minat baca masyarakat Indonesia masih rendah dan jauh dari standar. Di era digital saat ini, menggiring generasi muda untuk berliterasi secara ideal bukanlah perkerjaan yang mudah. Betapa tidak, budaya dengar, tonton, hunting, posting, chatting, gaming, dan sebagainya dianggap lebih penting dan lebih populer daripada budaya membaca dan menulis (Azwardi, 2016). Orang tua pun jarang ada yang membeli buku untuk anaknya, tapi sebaliknya menjejali mereka dengan smartphone atau gadget.

Buku Digital
Buku Digital (Digital Book) atau dikenal juga dengan Electronic Book (E-book) adalah sebuah bentuk buku yang dapat dibuka secara elektronis melalui komputer, laptop atau smartphone. Buku digital adalah publikasi yang dapat dirancang semenarik mungkin karena didalamnya dapat memuat video, animasi, dan audio (suara) disamping teks dan gambar yang hanya dimiliki buku konvensional. Buku Digital dapat disimpan di PC (Personal Computer), laptop, smartphone, tablet, atau piranti elektronik yang secara khusus disediakan untuk menyimpan dan membaca buku  digital. Selain itu buku digital juga bersifat ramah lingkungan dan mendukung gerakan paperless.

Format ePub kini menjadi salah satu format buku digital yang paling populer.  Fitur yang dimilikinya antara lain: format terbuka dan gratis, terbaca di berbagai perangkat, tersedianya software pembuat ePub, mendukung penggunaan video dan audio, Reflowable (word wrap), tersedia pengaturan ukuran teks dan kemudahan lainnya. Salah satu sumber buku digital dapat diperoleh melalui SEAMOLEC Appstore dengan mengakses laman web http://seamarket.seamolec.org.

Buku digital memiliki berbagai fungsi, antara lain: (a) sebagai salah satu alternatif media belajar; (b) berbeda dengan buku cetak, buku digital dapat memuat konten multimedia di dalamnya sehingga dapat menyajikan bahan ajar yang lebih menarik dan membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan; (c) sebagai media berbagi informasi; (d) dibandingkan dengan buku cetak, buku digital dapat disebarluaskan secara lebih mudah, baik melalui media seperti website, kelas maya, email dan media digital lainnya; dan (e) seseorang dapat dengan mudah menjadi pengarang serta penerbit dari buku yang dibuatnya sendiri.

Budayakan Literasi
Jika ingin memenangkan kompetisi global, seluruh masyarakat Indonesia harus melek literasi. Pendidikan sebagai investasi masa depan generasi bangsa harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Lembaga pendidikan harus memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi dalam menyiapkan media pembelajaran. Sekarang penggunaan internet dan smartphone sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk pelajar dan mahasiswa.

Kehadiran internet dan smartphone adalah keniscayaan. Keduanya begitu fenomenal dan menjadi kebutuhan hidup manusia di era digital. Dalam dunia pendidikan, penggunaan internet sebagai media pembelajaran bisa menjadi salah satu solusi dalam mengatasi rendahnya kemampuan literasi peserta didik. Apalagi saat ini sebagian besar sumber informasi konvensional (perpustakaan) belum mampu  memenuhi dan memberi kepuasan bagi peserta didik dalam mendapatkan informasi dan sumber pengetahuan. Buku-buku konvensional juga belum tersedia dalam jumlah yang memadai dan terkadang membosankan bagi peserta didik. Karenanya perpustakaan harus berinovasi dengan menyediakan buku-buku digital yang dapat diakses penggunanya setiap saat tanpa terhalang oleh ruang dan waktu.

Di samping itu guru yang bisa diposisikan sebagai kelompok Digital Immigrant keberadaannya sangat penting bagi peserta didik. Guru harus mampu membimbing dan mengarahkan peserta didik agar belajar memanfaatkan internet dan smartphone ke arah yang lebih positif guna menunjang pembelajaran. Era digital hendaknya memotivasi dunia pendidikan untuk berinovasi tanpa henti. Sekolah atau madrasah tidak perlu anti terhadap peserta didik yang gandrung dengan internet dan smartphone-nya.

Sebaliknya, semua elemen pendidikan harus mampu memanfaatkan potensi internet dan smartphone agar peserta didik dapat memanfaatkannya untuk pembelajaran sekaigus meningkatkan kemampuan literasinya. Budaya literasi harus ditumbuhkan, karena penguasaan literasi dapat membuka cakrawala, memperluas wawasan, dan memahami dunia dalam lingkup yang lebih luas.

Penutup
Buku digital bisa menjadi salah satu solusi dalam menumbuhkan budaya literasi. Dengan berbagai keunggulan dan daya tarik yang dimilikinya diharapkan mampu menumbuhkan minat baca masyarakat. Dengan tumbuhnya budaya literasi, masyarakat Indonesia akan bergerak menuju masyarakat belajar (learning society) sehingga terwujudlah bangsa yang cerdas (educated nation) sesuai dengan amanat UUD 1945.  

Penulis adalah Guru MAN 4 Aceh Besar/mentor Training Online Buku Digital Bacth 2 SEAMEO-SEAMOLEC. Nurchaili dilahirkan di Banda Aceh, Provinsi Aceh, pada tanggal 17 Mei 1971 dari pasangan (Alm) Muhammad Amin, SH dan (Almh) Tjut Meurah Asiah. Menyelesaikan Sekolah Dasar di SD Negeri No. 11 Banda Aceh pada tahun 1984 dan SMP pada tahun 1987 di SMP Negeri 1 Banda Aceh. Selanjutnya pada tahun yang sama putri ke tiga dari tujuh bersaudara ini melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Banda Aceh. Namun ia menamatkannya di SMA Negeri 5 Banda Aceh (sekarang SMA Negeri 4 “DKI Jakarta”) setelah sebelumnya juga sempat menjalani studi di SMA Negeri 6 Pekanbaru, Provinsi Riau.

Pada tahun 1990 selepas dari menyelesaikan pendidikan tingkat SMA, diterima di Jurusan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh dan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada tahun 1995 dengan yudisium Cum Laude (IPK: 3,88/4,00). Pada tahun 2004, setelah mengikuti seleksi yang ketat dan jujur (dalam program Bagimu Aceh, Budi Luhur Peduli), ia terpilih sebagai salah seorang penerima beasiswa dari Yayasan Pendidikan Budi Luhur Jakarta untuk melanjutkan studi di Program Studi Magister Ilmu Komputer, Universitas Budi Luhur Jakarta. Ia menyelesaikan studi magisternya pada tahun 2006 dengan yudisium Cum Laude (IPK: 3,89/4,00) dan menjadi Wisudawan Terbaik Program Studi Magister Ilmu Komputer periode Oktober 2006.

Berbagai prestasi pernah diraihnya, antara lain: Siswa Teladan SLTP tingkat Nasional, Mahasiswa Berprestasi Unsyiah, Juara LKTI tingkat Nasional, Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden RI, Terbaik Pertama “PKS Award 2008” Anugerah Untuk Guru, Juara I Pemilihan Guru Madrasah Teladan Tingkat Nasional Tahun 2008, Tahun 2010 memperoleh penghargaan dari Mendiknas sebagai salah seorang pemenang Lomba Menulis Artikel Pendidikan Tingkat Nasional, Juara III Guru SMA/MA Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2014, memperoleh penghargaan dari Gubernur Aceh sebagai guru berprestasi tingkat nasional dalam rangka Hardikda ke-55, Peserta Studi Banding Pendidikan ke Perancis Tahun 2015 bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Berprestasi, dan Pemenang Karya Tulis Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Tingkat Nasional Tahun 2015.

Kegemarannya dalam dunia tulis menulis telah terpupuk sejak di Sekolah Dasar hingga sekarang. Berbagai penghargaan dibidang ini pernah diraihnya dan beberapa tulisannya telah dipublikasikan di berbagai media baik lokal maupun nasional. 

Sebagai salah seorang Guru Pamong Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) FKIP Unsyiah dan Sekretaris Umum Ikatan Alumni Pendidikan Kimia (Ikapenmia) Provinsi Aceh Periode 2008-2011, ia selalu aktif mengikuti berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan serta kegiatan ilmiah lainnya baik di dalam maupun luar negeri, diantaranya mengikuti kursus ”SS-0607 : Making Sense of Secondary Science Cooperatively” di Southeast Asian Ministers of Education Organisation (SEAMEO)–Regional Centre for Education in Science and Mathematics (RECSAM), Penang, Malaysia pada tahun 2003 dan pada tahun yang sama menjadi delegasi Indonesia dalam kegiatan ”World Conference on Science and Technology Education” yang diselenggarakan oleh International Council of Associations for Science Education (ICASE) serta mengikuti workshop pasca konferensi ICASE dengan topik ”Amazing Science and Mathematics Activities” dan “Widening Children’s Perceptions of Science and Technology” di Hotel Equatorial Penang, Malaysia. Ia juga menjadi pembicara di beberapa seminar dan workshop yang berkenaan dengan pendidikan. 


Temanggung, Harianguru.com – Melalui Program Kadang Peduli 2018, Kadang Temanggungan bekerjasama dengan STAINU Temanggung menggelar seminar Manajemen Peningkatan Profesionalisme Dosen pada Sabtu (8/12/2018) di STAINU Temanggung yang diikuti puluhan dosen dan pejabat kampus.

Dalam sambutannya, Ketua STAINU Temanggung Dr. H. Muh Baehaqi, MM menyampaikan bahwa kegiatan itu menjadi langkah awal untuk bersinergi memajukan STAINU Temanggung. “Mimpi saya, tahun 2019 ini kita beralih status dari Sekolah Tinggi menjadi Institut. Dari STAINU menjadi INISNU. Karena syarat minimal sudah kita penuhi, yaitu enam prodi, dan enam dosen tetap ber-NIDN di masing-masing prodi,” katanya.

Saya langsung welcome, kata dia, dengan teman-teman Kadang Temanggungan. “Saya melihat beberapa bulan lalu, banyak teman-teman asli Temanggung banyak sukses di tingkat nasional. Banyak kalangan Dirjen, ada juga di Polri, dan lainnya. Nah, mimpi saya ini, kalau nanti STAINU jadi universitas harus punya enam profesor atau guru besar,” beber doktor jebolan UII Yogyakarta tersebut.

Eli Mantofani Ketua Forum Ikatan Kadang Temanggungan (FIKT) mengatakan bahwa kegiatan itu menjadi salah satu kegiatan yang digelar bersamaan selain di Pendopo Pengayoman, Kledung, dan Kaloran. “Langkah ini menjadi awal, untuk membesarkan STAINU Temanggung ini. “Kalau infrastruktur nanti gampang kita usahakan. Yang paling penting SDM dosen kita genjot untuk melesat agar ke depan lebih baik,” beber dia.

Kadang Temanggung adalah forum silaturahim yang berisi orang-orang yang asli dan pernah belajar, hidup di Temanggung. “Kami rindu Temanggung akan jadi kota indah, bersih, dan maju,” beber dia.

Dalam kesempatan itu, disi Dr. Endah Nuraini, MM Ketua Program Pascasarjana PPM School of Management Jakarta tersebut mengatakan pembelajaran, kurikulum, memang harus sesuai dengan visi misi. “Profil lulusan harus menggambarkan visi dan misi,” bebernya.

Semua dosen harus Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Mendidik dan mengajar, meneliti, dan pengabdian kepada masyarakat. Kalau yang namanya profesionalisme, profesional, bergantung definisinya sekarang. Profesional wajib karena zaman dulu dengan sekarang beda. Jika dulu ada anak nilainya jelek, bapak ibu tidak marah pada guru, tapi sekarang mendatangi gurunya,” beber dia.

Sifar kegiatan yang dilakukan dengan mengikuti sistem, bukan tuntutan. Profesionalisme salah satunya tingkah laku, kepakaran, atau kualitas dari soerang yang profesional.

Ada tiga skill yang wajib dikuasai. Pertama, technical skill, kedua, communication, ketiga, human relations. “Seorang dosen tidak hanya dituntut pintar, tapi harus lihar berkomunikasi, dan menghadapi kompleksitas,” lanjut dia.

Dalam kesempatan itu, doktor yang akrab disapa Nunik itu menjelaskan profesionalisme dari tiga aspek. Mulai dari mendidik/mengajar, meneliti dan mengabdi. “Ada beberapa teknik mengajar yang baik. Pertama, adalah penampilan. Kedua, ruangan. Ketiga, analisis mahasiswa. Keempat, materi. Kelima, peralatan presentasi. Keenam, harapkan yang tidak diharapkan,” lanjut dia.

Untuk sesi awal mengajar atau perkuliahan, kata dia, pertama adalah introduksi yang harus singkat, hindari diskon diri, dan antusias. Kemudian, lanjut dia, awal kali pembukaan harus menarik dan berkesan. 

Selain Ketua dan Pembantu Ketua, hadir Kaprodi PAI, MPI, HKI, PIAUD, ES, dan lainnya beserta puluhan dosen. (hg120/hms).


Harianguru.com - Potensi pariwisata di Kota Semarang sedang mengalami geliat positif. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya tempat-tempat wisata baru serta tempat wisata yang dikelola dengan lebih baik di Kota Semarang.

Potensi yang ada tersebut mendorong kalangan mahasiswa turut mengambil bagian dalam mendukung peduli pariwisata, salah satunya adalah dengan adanya Lembaga Pariwisata dan Pecinta Mahasiswa Islam (LEPPAMI). Lembaga yang bergerak di bidang Pariwisata dan Pecinta Alam tersebut merupakan kelompok yang berada di naungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang.

Pada Kamis, 29 November 2019 bertempat di Wisma Djakfar Sampangan telah dilangsungkan Musyawarah Lembaga (Muslem) yang menjadi forum untuk mengevaluasi kepengurusan yang lama, memilih formateur (Direktur Utama) serta menetapkan rekomendasi untuk pengurus selanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kisanak M. Dwi Sugiarto selaku Direktur yang melakukan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) menyampaikan bahwa potensi organisasi ini sangat besar untuk menampung minat anggota HMI Cabang Semarang, sebab Leppami tidak terbatas pada satu disiplin keilmuan tertentu saja. “Berbeda dengan lembaga pengembangan profesi lainnya," kata dia.

Dalam kata sambutan pengurus HMI Cabang Semarang sekaligus membuka kegiatan Kanda Catur Basuki selaku Ketua Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi (KPP) yang mewakili ketua umum menyatakan bahwa Leppami harus bergerak lebih cepat dalam memfasilitasi minat bakat kader-kader HMI Cabang Semarang.

 “Istilah Kisanak-Kisanik yang menjadi ciri khas di Leppami selayaknya Kanda-Yunda di HMI tentu dapat menjadi motivasi bagi anggota Leppami. Bahwa Kisanak-Kisanak dalam film-film kolosal menunjukkan identitas bagi para pendekar. Tentu harapannya anggota Leppami dapat menjadi pendekar (manusia) yang memberi manfaat bagi masyarakat," ujar dia.

Proses Muslem berjalan dengan sangat dinamis, bahkan ketika pemilihan Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Lembaga (MPKPL) tedapat sekitar 11 calon hingga akhirnya disahkan tiga orang MPKPL yaitu M. Dwi Sugiarto, Catur Basuki dan Yanthuridi melalui surat ketetapan yang ditandatangani Kisanak Arju Najjay, Kisanik Rosalia Indah dan Kisanak Adhitya Kharisma selaku pimpinan sidang.

Formateur (Direktur Utama) Kisanak Ahmad Muzakki Alwi dalam uji kelayakan kriteria menegaskan bahwa amanah adalah kesempatan berharga yang tidak boleh disia-siakan. “Dan saya akan menjaganya sekuat tenaga saya,” ujar dia.

Kader dari HMI Komisariat FISIP Undip tersebut dalam kesehariannya merupakan sosok yang ramah dan memiliki pergaulan yang luas serta minat dalam kegiatan sosial. Ia merupakan mahasiswa semester 7 di Departemen Politik dan Pemerintahan FISIP Universitas Diponegoro. (Red-HG50/Kemang).


Temanggung, Harianguru.com - Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Trisula STAINU Temanggung resmi dilantik pada Jumat (30/11/2018). Pelantikan pengurus komisariat ini juga dirangkai dalam peringatan Harlah Korps PMII Putri (KOPRI) yang ke 51 dan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Dalam kesempatan itu, hadir jajaran PC PMII Temanggung dan Hamidulloh Ibda Majelis Pembina Komisariat (Mabinkom) PMII Komisariat Trisula STAINU Temanggung.

Usai pelantikan, cara sarasehan yang bertajuk "aplikasi sikap keteladanan Rasulullah SAW sebagai bekal di era digital" yang disampaikan Khamim Saifuddin Ketua IKA PMII Temanggung dan Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PC PMII Temanggung.

Nugroho ketua panitia pelaksana menambahkan panitia menggelar acara ini dalam rangkaian kegiatan pelantikan pengurus Komisariat PMII Trisula STAINU Temanggung yang dilangsungkan di Balaidesa Plumbon, Kecamatan Selopampang, Temanggung.

"Kegiatan ini memang sengaja di bersamakan karena bertepatan tanggal 25 November kemarin ialah tanggal harlah KOPRI," kata Usman Mafruhin Ketua PMII Komisariat Trisula STAINU Temanggung.

Adapun dalam isi acara Ketua Umum PMII Cabang Temanggung Ibrahim Fahmi menegaskan, kegiatan ini selain sebagai pemantik ghirah atau semangat pengurus komisariat dalam menjalankan roda organisasi juga bertujuan untuk memantapkan daya juang baik dalam situasi dan kondisi apapun untuk selalu berpegang teguh menegakan tanggung jawab organisasi. 

"Di samping itu harlah kopri ini kita patut kita syukuri bahwa kopri termasuk juga elemen yang ikut andil dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di manapun berada," ujar dia.

Sementara dalam sarasehan yang di isi oleh pemateri Khamim Syaifudin, beliau banyak menuturkan selain sejarah Nabi Muhammad SAW dari segi perjuangan dan juga dakwah beliau karena pada waktu yang bersamaan juga memperingati Maulid Nabi. 

"Maka di korelasikan terkait harlah KOPRI bagaimana kita membentuk atau mengaplikasikan sikap teladan nabi dalam ranah pergerakan khususnya wanita, ketua IKA PMII Temanggung ini juga berpesan bahwa kegiatan semacam ini jangan dilakukan sebatas seremonial belaka tetapi juga harus di isi forum-forum diskusi agar tidak lepas dari kultur warga pergerakan," kata dia.

Mau kegiatan berbentuk apapun, katanya, jangan lupa di dalamnya di kasih diskusi agar nalar pikir kita sering digunakan untuk mengasah terhadap suatu kajian wacana.

Setelah sarasehan, kegiatan dilanjutkan dengan potong tumpeng oleh Hamidulloh Ibda Majelis Pembina Komisariat (Mabinkom) PMII Komisariat Trisula STAINU Temanggung yang diberikan kepada Ketua KOPRI PC PMII Temanggung Wiwin Nur Hidayah. (Hg44).

Tangerang, Harianguru.com - Eko Sariyekti dan Hidayatun Ulfa, dosen STAINU Temanggung telah mengikuti Seminar Evaluasi Bantuan Penelitian, Publikasi Ilmuiah, dan Pengabdian Masyarakat DIKTIS Kementerian Agama (Kemenag) RI. 

Seminar evaluasi tersebut diselenggarakan pada tanggal 26-27 November 2018 di Hotel Allium Hotel Tangerang. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini 160 peserta.

Kegiatan ini diperuntukkan unk penerima bantuan zona Jawa dan DIY. Khusus bantuan penelitian transformatif (pengabdian berbasis riset) diikuti oleh seluruh penerima bantuan seluruh seluruh zona di Indonesia. 

Acara dibuka oleh Dirjen DIKTIS Kemenag RI, Prof. Arskal, dilanjutkan dengan kegiatan review dari masing-masing program. Kegiatan diakhiri dengan overview dari seluruh reviewer secara garis keseluruhan dan resmi ditutup oleh Kasubdit Penelitian, Publikasi Ilmiah dan Pengabdian  Kepada Mayarakat Diktis Kemenag RI.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas penelitian, pengabdian dan publikasi PTKI agar mampu bersaing dengan penelitian pengabdian dan publikasi dengan PT lain.

Di sela-sela kegiatan, Eko Sariyekti mengatakan bahwa ia menangkat penelitian peningkatan kualitas rebana dalam komunitas rebana Khairun-Nisa Kabupaten Temanggung.

"Kalau kebaruanna ya grup rebana khusus perempuan di Kabupaten Temanggung yang belum punya wadah dalam komunitas, kini sdh ada wadahnya yakni dengan komunitas tersebut," kata dia.

Pihaknya berharap, rangkaian riset itu dapat menjadi sumbangsih bagi masyarakat khususnya pada sasaran sesuai riset yang dikembangkan. (hg44).

Jakarta, Harianguru.com -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengapresiasi penumbuhan minat kewirausahaan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mendikbud berharap agar kegiatan "SMK Pencetak Wirausaha" yang dilaksanakan Direktorat Pembinaan SMK, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) dapat diperkuat dan dikembangkan lagi.

"Pembelajaran kewirausahaan itu bukan sekadar mengajari teori-teori saja. Tetapi harus dicoba, dilakukan, dipraktikkan. Yang penting itu menciptakan iklim yang mendukung tumbuhnya jiwa kewirausahaan," pesan Mendikbud Muhadjir Effendy pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Pembelajaran Kewirausahaan, di Jakarta, Kamis (22/11/2018).

Menurut Muhadjir, modal utama seorang wirausahawan adalah keberanian mengambil risiko, cermat melihat dan menangkap peluang, serta kemampuan menghadirkan sesuatu yang berbeda. "Kalau berhasil, tidak mudah puas. Dan kalau gagal, tidak kapok," katanya.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen), Hamid Muhammad, menyampaikan tahun depan target siswa dan sekolah yang mendapatkan dukungan program SMK Pencetak Wirausaha akan ditambah. Jika tahun ini sekitar dua ribu SMK, tahun depan diharapkan dapat meningkat dua kali lipat. Sekolah ditantang mengirimkan proposal dukungan, bukan lagi ditunjuk oleh pusat. "Kriteria utamanya adalah orisinal, unik, dan usefulness atau kegunaan," ujarnya.

Dirjen Dikdasmen mengungkapkan, program ini juga merupakan salah satu upaya Kemendikbud menjawab kritik dan pandangan negatif mengenai lulusan SMK yang menjadi pengangguran. Pengembangan minat kewirausahaan untuk siswa SMK ini melatih siswa membuka atau menciptakan lapangan pekerjaan. "Kita ingin menjawab, bahwa SMK ini bukan menciptakan pengangguran, tetapi menciptakan lapangan pekerjaan," kata Hamid.

Menurut Dirjen Hamid, kesesuaian antara bidang keahlian yang dipelajari di sekolah dengan usaha yang dijalankan tidak menjadi persoalan. "Ukurannya itu omzet. Pokoknya omzetnya sudah bisa lima juta ke atas. Kita apresiasi. Ini 'kan baru tahap awal, kita tetapkan lima juta. Tapi sudah ada yang omzetnya mencapai lima puluh sampai seratusan juta. Itu 'kan luar biasa untuk seusia mereka," katanya.

Pengembangan pembelajaran kewirausahaan di dalam kurikulum SMK telah diakomodir ke dalam mata pelajaran kompetensi keahlian dan penambahan jam pelajaran yang signifikan. Program “Sekolah Pencetak Wirausaha” merupakan kerja sama Direktorat Pembinaan SMK dengan The Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO).

Pada bimtek hari ini, Mendikbud menyerahkan hadiah berupa beasiswa modal wirausaha sebesar 1 juta rupiah kepada 17 siswa perwakilan dari sekolah peserta SMK Pencetak Wirausaha.

M. Fajrul Falah, siswa kelas XII SMK Negeri 1 Pekalongan mampu meraih omzet sebesar 143 juta rupiah dalam 3 bulan. Usaha yang dijalaninya adalah jasa pengelolaan pernikahan (wedding service organizer). Selain jasa katering, Fajrul juga menyediakan jasa tata rias dan sewa baju pengantin. "Omzet paling banyak dari jasa kateringnya," kata siswa yang menekuni tata boga di SMK tersebut. (hg44/Hms)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget