Halloween Costume ideas 2015

Harian Guru

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Latest Post

Pati, Harianguru.com - Buku antologi puisi "Negeri Puisi" usai dilauncingkan dan dibedah hari ini di MA Manahijul Huda oleh Niam At-Majha dan Sahrozi, Selasa (12/12/2017). 

Buku antalogi puisi yang berisi karya pelajar, alumni dan guru MA Manahijul Huda Ngagel itu adalah buku perdana yang terbit dari penerbit Pilar Nusantara Semarang. Tujuan diterbitkannya buku itu adalah untuk mewadahi karya para peserta dan pelengkap dari adanya kegiatan lomba menulis dan deklamasi puisi tahun lalu.

Acara yang dihadiri oleh peserta didik, alumni, guru, dan beberapa tamu undangan ini juga menampilkan pembacaan puisi dari peserta didik yaitu Innarotul Laila dengan Nur Lailatin Nisfah dan paduan suara dari Harmoni Mahida.

Alfiriz Nadhira selaku penanggung jawab acara ini juga menjelaskan bahwa dengan adanya acara ini dia berharap agar di tahun berikutnya akan ada lagi kegiatan semacam ini "Iya, semoga saja di tahun berikutnya MA Manahijul Huda akan memiliki buku terbitan lagi agar dapat memotivasi para peserta didik agar semakin bersemangat belajar dalam dunia literasi." katanya usai acara saat ditemui redaksi LPS Cendekia Mahida.

Pembedah buku pertama dalam acara ini, yaitu Sahrozi. S.Pd selaku guru di MTs Manahijul Huda Ngagel dan pegiat di teater Trisma ini menjelaskan bahwa masih banyak koreksi yang harus dilakukan dalam buku antalogi tersebut. Terlebih dibagian tatanan kata satu dengan lainnya yang kebanyakan tidak dipisah dan acak-acakkan.

"Semoga saja jika nanti akan ada antologi atau terbitan buku dari karya pelajar MA Manahijul Huda lagi, penyunting bisa lebih teliti pada tatanan katanya. Karena saya melihat masih banyak dibeberapa puisi ada kata satu dengan seterusnya yang harus diberi sepasi malah tidak. Agar pembaca tidak bingung dan memudahkan pembacanya. Namun meski begitu saya merasa bahwa buku ini adalah buku keren. Hebat." paparnya. 

Sedangkan melalui penjelasan pembedah kedua, yaitu Khoirul Ni'am atau yang lebih terkenal dengan Ni'am At-Majha juga memaparkan hal serupa dengan pembedah pertama. Beliau juga menambahi jika diksi yang digunakan masih banyak yang kurang tepat "Jika ingin menguasai diksi untuk menulis puisi dengan baik, banyak-banyaklah membaca. Membaca buku sastra atau buku puisi. Karena dengan begitu akan lebih mudah mendapatkan diksi yang tepat dan juga baik." jelas ketua dewan komite kesenian kabupaten Pati tersebut pada para peserta.

Setelah rangkuman bedah buku selesai, para peserta dipersilahkan bertanya kepada pembedah. Dan bagi penanya diberi buku gratis oleh Ni'am At-Majha. Dari kebanyakan peserta menanyakan tentang cara-cara atau tips menjadi penulis yang baik.

Begitu acara tanya jawab ditutup, dilanjutkan dengan acara pembagian sertifikat dan beberapa buku kepada madrasah, perpustakaan, dan tiga juara lomba menulis puisi. Lalu acara ditutup usai foto bersama dengan para pembedah. (hg33/an).

Jogjakarta, Harianguru.com - Dr. Fauzan MA, Ketua Asosiasi Dosen PGMI Indonesia yang juga asesor menegaskan bahwa penyusunan borang yang bagus sebenarnya sudah memenuhi nilai 80 persen saat mau akreditasi. Sedangkan SAPTO, tidak perlu dipusingkan karena ia hanya alat untuk mengirimkan saja atau kendaraannya.


“BAN-PT sudah merillis aturan baru termasuk akreditasi berbasi SAPTO Akreditasi, 80 persen itu di borang, bukan divisitasi. Jadi, jangan sekali-kali mengirim borang jika itu tanpa proses, tanpa bimbingan apalagi proses copas. Ini PGMI, kok tulisannya PAI, Manajamen. Simpulan saya cuma satu, ya akreditasi selama ini kurang bimbingan,” kata Dr Fauzan usai melantik  Pengurus Perkumpulan Dosen PGMI (PD PGMI) Korwil Jateng-DIY Masa Bakti 2017-2022 resmi dilantik pada Selasa (12/12/2017) di Atrium Premiere Hotel Jogjakarta.

Yang pertama kali dilihat asesor di Borang online, kata dia, itu ya minimal enam dosen di homebase PGMI, dan sudah ber NIDN.

“Ini syarat mutlat, harus ber NIDN, harus dosen tetap, harus homebasenya di PGMI. Mimimal ada SK Dosen Tetap dari Rektor lah. Nah, jangan sekali-kali ngirim borang tanpa ada enam dosen itu. Jangan sampai ada dosen memiliki homebase tidak jelas, dan jangan juga ada di dua homebase,” beber dia.

Baca juga: Pengurus PD PGMI Korwil Jateng-DIY Periode 2017-2022 Dilantik

Fauzan juga menegaskan, pelantikan itu menjadi sejarah di Indonesia karena baru pertama kali dibentuk dan sudah dilantik pengurus PD PGMI Korwil di daerah. “Ini menjadi sejarah pertama kali PD PGMI di Korwil karena baru Korwil Jateng-DIY yang dilantik,” tukas dia. (hg33/HI).

Suasana pelantikan
Jogjakarta, Harianguru.com - Pengurus Perkumpulan Dosen PGMI (PD PGMI) Korwil Jateng-DIY Masa Bakti 2017-2022 resmi dilantik pada Selasa (12/12/2017) di Atrium Premiere Hotel Jogjakarta.


Pelantikan itu langsung dipimpin Dr. Fauzan MA, Ketua Perkumpulan Dosen PGMI Indonesia. Mereka secara resmi melalui Surat Keputusan Perkumpulan Dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PD-PGMI) Nomor: 01/PP-PDPGMI/XII/2017 tentang "Pengesahan Pengurus Perkumpulan Dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Koordinator Wilayah Jawa Tengah dan DIY Masa Bakti 2017-2022.

Pada posisi Ketua yaitu Dr. Aninditya Sri N, M.PD dari UIN Sunan Kalijaga, Wakil Ketua 1 H. Fakrur Rozi, M.Ag dari UIN Walisongo, Wakil Ketua 2 Mufatihatu Taubah, M.Pd.I dari STAIN Kudus.

Sementara Sekretaris yaitu Ahwy Oktradiksa, M.Pd.I dari UM Magelang, Bendahara Endang Sulistyowati dari UIN Sunan Kalijaga.

Pada Bidang Penelitian, Pengabdian dan Publikasi Ilmiah, dijabat oleh Laelatul Badriah, M.Pd dari Universitas Alma Ata, Mustajab, M.Pd.I dari IAINU Kebumen, Peni Susapti, M.Si dari IAIN Salatiga, dan Aniqoh, M.Th.I dari STAINU Purworejo.

Pada Bidang Pengembangan Pendidik, dijabat oleh Diyah Mintasih, M.Pd dari STAIYO, Dra. Alik Chusnah, M.Pd dari IIM Surakarta, H. Hidayatul Mustofa, M.Pd.I dari STAI Al-Muhammad Cepu Blora, dan Ari Purwanto, M.Pd.I dari STAI Khozinatul Ulum Blora.

Pada Bidang Penjaminan Mutu, dijabat oleh Herman Khunaivi, M.Pd dari STAI Al-anwar Sarang Rembang, Hamidulloh Ibda, M.Pd dari STAINU Temanggung, dan Ma'as Shobirin, M.Pd dari Unwahas.


Sementara pada Bidang SDM dijabat Inayatul Ulya, M.SI dari IPMAFA Pati, Samsudin, M.Pd.I dari IIQ An-nur, dan Anita Desi Kusumaningtyas, M.Pd dari Universitas Sunan Pandanaran.

Dalam kesempatan itu, Dr. Fauzan MA, Ketua Perkumpulan Dosen PGMI Indonesia menegaskan bahwa keaktifan dosen PGMI di asosiasi atau perkumpulan khusus PD PGMI Jateng-DIY akan berdampak pada akreditas PGMI itu sendiri. “Karena nanti akan masuk di website, dan ada kartu anggota dan akan tetap kita pantau terus,” ujar Fauzan.


Kami ingin PD PGMI menjadi wadah untuk pengembangan dosen PGMI Indonesia, kata dia, Prodi PGMI Indonesia karena milik bersama dan bukan milik PTKAIN tertentu, tetapi milik PGMI semua. (hg33/hms).

 Dr Fauzan MA Ketua Asosiasi Dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) se Indonesia  saat menyampaikan materi
Jogjakarta, Harianguru.com – Dr Fauzan MA Ketua Asosiasi Dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) se Indonesia menegaskan bahwa pengelolaan, manajemen bahkan kurikulum sampai akreditasi PGMI di Indonesia selama ini masih rasa PAI.

Klik juga: Wajib Baca, Ini Keunggulan PGMI Daripada PGSD

“PGMI memang masih rasa PAI. Tidak bisa dibantah, memang kondisinya seperti itu. Tapi nanti kita lihat, 2015 sampai 2016 lah, bisa kita lihat minimal Prodi PGMI terakreditasi B, bahkan A, kurun 2013-2016 sejak ada perkumpulan ini justru banyak yang PGMI terakreditasi minimal B daripada PGSD,” kata Fauzan usai melantik PD-PGMI Wilayah Jateng-DIY saat menyampaikan materi bertajuk ‘Sosialisasi Kebijakan Rekruitmen Guru MI/SD di Wilayah Jateng-DIY’ tersebut di Atrium Premiere Hotel Jogjakarta, Selasa (12/12/2017).

Dijelaskan dia, bahwa PGMI jelas berbeda dengan PAI. “Awal kali munculnya Prodi PGMI, memang untuk memenuhi kebutuhan guru kelas MI. Namun kurun 2007 sampai 2012, PGMI masih rasa Pendidikan Agama Islam atau PAI. Kemudian melakukan evaluasi, kurun 2012-2016 sudah ada perbaikan sampai sekarang,” beber dia.

Maka, menurut dia, PGMI harus memiliki basis lulusan yang jelas, memiliki profil lulusan. “Saya ingat tahun 2014, kalau PGMI minimal akreditasi B, nanti bisa jadi gelarnya SPd, bukan lagi S.Pd.I. Ternyata terbukti. Malah imbasnya, PAI gelarnya juga S.Pd. Kok malah ikut-ikutan ya, tetapi ini jelas rumpun keilmuwannya berbeda,” beber Wakil Dekan III FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Permendikbud Nomor 16 Tahun 2007, itu kalau berbicara MI, pasti ada garis miring (/) SD. “Ini semua berbicara kesetaraan, termasuk berbicara guru kelas,” imbuh dia. Maka, sebenarnya ini menjadi tugas pengelola Prodi PGMI memang profil lulusan PGSD dan PGMI itu hakikatnya sama.

Baca juga: Pengurus PD PGMI Korwil Jateng-DIY Periode 2017-2022 Dilantik

Dijelaskannya, bahwa guru sebagai pekerja profesional memiliki karakteristik dan memenuhi persyaratan pendidikan tertentu untuk ditetapkan sebagai pekerja profesional antara lain pertama, kualifikasi akademik minimal S1 atau D IV, Kedua, guru harus memiliki empat kompetensi, pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian.

Ketiga, memiliki sertifikat pendidik. Keempat, memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) sebelum sertifikasi. Sesuai memiliki sertifikat pendidik, guru akan diberi Nomor Registrasi Guru Profesional.

Ia mencontohkan bahwa PGMI di Indonesia saat ini yang bagus hanya beberapa saja. Seperti PGMI IAIN Salatiga, PGMI IAIN Tulungagung, PGMI UIN Sunan Kalijaga, PGMI UIN Walisongo. “Minimal di Jateng-DIY, PGMI nya berkiblat pada PGMI inilah, agar lurus,” ujar dia. (hg33/HI).

Dr Fauzan MA, Ketua Asosiasi Dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) se Indonesia saat menyampaikan materi, Selasa (12/12/2017).
Jogjakarta, Harianguru.com - Di tahun 2014, ada keresahan pengelola PGMI karena lulusan PGMI di nomenklatur regulasi Menpan, bahwa lulusan PGMI tidak bisa mendaftar CPNS guru kelas SD. Merespon hal itu, Asosiasi PGMI Indonesia melakukan audiensi dengan Prof. Dr. Dede Rosyada, MA Direktur Pendidikan Tinggi Islam pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Dirjen Diktis Kemenag) saat itu, dan pihaknya bisa memperjuangkan ke Menpan lulusan PGMI bisa mendaftarkan diri di CPNS Kemenpan asal ada perbaikan akreditasi.

Baca juga: PGMI UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Kuatkan Literasi Digital

Namun setelah dilobi dan banyak Prodi PGMI terakreditasi B bahkan A, maka sudah ada penyamaan antara lulusan PGMI dan PGSD. Bahkan di Jawa Barat, ada Walikota yang langsung terjun ke BKD untuk menyamakan persepsi dan tidak membedakan lulusan PGSD dan PGMI dalam perekrutan CPNS.

Baca juga: Inilah Daftar 243 Kampus yang Lulusannya Tak Bisa Daftar CPNS

Demikian yang dijelaskan Dr Fauzan MA, Ketua Asosiasi Dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) se Indonesia usai melantik PD-PGMI Wilayah Jateng-DIY saat menyampaikan materi bertajuk ‘Sosialisasi Kebijakan Rekruitmen Guru MI/SD di Wilayah Jateng-DIY’ tersebut di Atrium Premiere Hotel Jogjakarta, Selasa (12/12/2017).


“PGSD dan PGMI intinya ya sama, secara yuridis, dari Undang-undang sampai Permen, itu semua sama. Yang beda itu penerapannya,” kata Fauzan yang juga asesor tersebut.


Wakil Dekan III FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu juga menegaskan, hal utama yang harus dilakukan dalam menapaki kurikulum PGMI adalah menata perubahan dari kurikulum berbasis KKNI dan SN Dikti dengan merancang profil lulusan.

“Profil lulusan harus diperjelas guru kelas, jangan sampai keluar target dari fokus yang dikejar. Kalau guru kelas, maka penguatannya pada lima mata kuliah umum, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, PKn,” beber dia.

Baca juga: Prodi PGMI Haram Seperti Prodi PAI

Menurut dia, dulu ada perdebatan di profil lulusan, antara menyiapkan calon guru kelas MI saja atau calon guru MI/SD. “Tapi kalau mau menganut nomenklatur regulasi, ya calon guru MI/SD. Karena di UU No 20 Tahun 2003 dan Permennya demikian. Kalau di S1, memang kita hanya sampai menyiapkan calon guru kelas MI/SD. Kalau guru profesional ya di PPG itu,” ujar Fauzan.

Dijelaskan pula, bahwa PGMI hanya sampai menyiapkan calon guru kelas, bukan menyiapkan guru profesional. “Kalau sesuai UU Nomor 12 tahun 2012 tentang SNPT, kita (Prodi PGMI) hanya sampai mengantarkan lulusan menjadi calon guru kelas MI/SD. Makanya, Akta IV itu gugur ketika KKNI dan SNPT ada,” lanjut dia.

Jadi seperti contoh di internal FITK UIN Jakarta di tempat kami, lanjut dia, dulu sempat debat soal Akta IV, tapi saya bilang ini ngapain sibuk-sibuk tanda tangan Akta IV, wong kurikulmnya sudah jadi. Tapi lambat laun, ternyata hilang sendiri sudah pada nggak ngurus. “PGMI, ke depan harus lebih baik dengan menyiapkan calon guru kelas berkualitas sebagai penguat madrasah itu sendiri,” papar dia.

Tapi masalahnya, kata dia, di Jateng-DIY itu, BKD nya apakah masih beda pemahaman soal lulusan PGMI dan PGSD. Saya ingin tahu ini, apakah di Jateng-DIY apakah membedakan atau sudah sama. “Karena PGMI ini ya sama seperti PGSD sama-sama menyiapkan guru kelas. Kalau BKD tidak percaya, silakan tunjukkan kurikulumnya, apa bedanya dengan PGSD? Kalau ini terlaksana, insyaallah, persoalan rekruitmen, ke depan tidak ada masalah antara PGSD dan PGMI,” lanjut dia.


“Pada prinsipnya, lulusan PGMI dan PGSD itu sama. Guru kelasnya sama, yang berbeda dari PGMI dan PGSD itu apa, ya penguatan keislamannya,” tegas dia.


Ia juga mendorong semua Prodi PGMI di wilayah Jateng-DIY minimal mendapatkan akreditasi B. “Saya ingin PGMI di wilayah Jateng-DIY punya akreditasi minimal B,” harap dia.


Fauzan juga menyinggung PGMI dan PGSD dalam strata dua (S2), yang pada dasarnya juga sama. “Basis lulusan Pendidikan Dasar untuk S2, ya sama saja bisa masuk di PGMI atau menjadi dosen PGMI. Hanya tiga tahun terakhir yang masuk menjadi dosen PGMI/PGSD dan paling banyak yang diserap adalah lulusan UPI Bandung dan UNY,” ujar dia. (hg33/hi).

Jogjakarta, Harianguru.com - Prodi PGMI UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta menggelar International Conference The 4th Summit Meeting On Education "Value-Based Digital Literacy In Millenium Era" yang dihadiri ratusan peserta dari unsur dosen, mahasiswa, peneliti dan lainnya, Selasa (12/12/2017) di auditorium kampus tersebut.

Baca juga: PGMI UIN Sunan Kalijaga Gelar Seminar Internasional Literasi Digital

Hadir Roger (Raj) Miles, Expert Of Value-Based Distance Learning Australia, Gerardette Philips Expert of Interreligious Value-Based Education and Counselling Canada dan Christoper Drake, President of International ALIVE dan Budhy Munawar Rachman perwakilan The Asia Foundation Indonesia.

Dalam pemaparannya, Budhy Munawar Rachman perwakilan The Asia Foundation menjelaskan bahwa tradisi literasi digital di era sekarang tidak bisa melepaskan tradisi pembelajaran tradisional.

"Dalam tradisi literasi, mengumpulkan dan membaca serta mempelajari literatur jelaa berbeda. Meskipun sekarang ada literasi digital, tetapi proses pembelajaran tetap tradisional yaitu membaca, mempelajari dan menuliskannya kembali dalam bentuk ilmiah. Jadi tidak bisa dishort cut tanpa melakukan proses pembelajaran tradisional," beber penulis dan juga pendiri Nurcholish Madjid Society (NCMS) tersebut.

Budhy Munawar Rachman juga menegaskan, tradisi literasi tidak boleh lepas dari pendidikan berbasis nilai. Oleh karena itu, pihaknya lewat The Asia Foundation mengajak Fakultas Tarbiyah di UIN seluruh Indonesia untuk mengembangkan pembelajaran literasi berbasis nilai.

Hadir pula Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA PhD Rektor UIN Sunan Kalijaga yang didapuk sebagai keynote speaker. Juga Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga dan Kaprodi PGMI UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.  Hadir juga ratusan mahasiswa dan juga dosen termasuk perwakilan dari PGMI STAINU Temanggung, PGMI UM Magelang, PGMI STAI Al Anwar Rembang, PGMI UIN Walisongo, PGMI IAINU Kebumen dan lainnya. (hg33/Ibda).

Jogjakarta, Harianguru.com - UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta menggelar International Conference The 4th Summit Meeting On Education "Value-Based Digital Literacy In Millenium Era" yang dihadiri ratusan peserta dari unsur dosen, mahasiswa, peneliti dan lainnya, Selasa (12/12/2017) di auditorium UIN SUKA.

Lihat Juga: Buddy Munawar: Literasi Digital tak Bisa Lepas dari Budaya Ilmiah Tradisional 

Hadir Roger (Raj) Miles, Expert Of Value-Based Distance Learning Australia, Gerardette Philips Expert of Interreligious Value-Based Education and Counselling Canada dan Christoper Drake, President of International ALIVE dan Budhy Munawar Rachman perwakilan The Asia Foundation Indonesia.

Raj Miles menyampaikan materi 'Taking Social Media Personally' dengan mengajak para audiens untuk bijak dalam bermedia sosial. "Selama ini, ada masalah besar dalam penggunaan sosial media di Australia. Kami susah menyampaikan pendidikan nilai kepada masyarakat karena negera Australia sangat luas. Seperti di Indonesia yang memiliki banyak pulau. Jadi sangat susah untuk menyampaikan nilai-nilai pendidikan. Sebab, nilai itu hadir dalam jiwa, ia sebuah rasa dan tidak hadir dari dalam kepala seperti yang dominan di media sosial," beber Raj Miles dalam Bahasa Inggris itu.

Kalau berbicara media sosial, lanjut dia, itu kebanyakan hadir dari kepala dan kita kehilangan sesuatu dari dalam hati. "Maka solusi kami di Australia adalah melakukan pendidikan jarak jauh, dengan tujuan memudahkan dan membantu orangtua dan anak untuk menanamkan nilai. Bisa diterapkan dalam sekolah, bahkan dunia bisnis. Lewat situ, kita mengajarkan nilai dan perdamaian, cinta, kerjasama dan toleransi," beber dia.

Tetapi kita masih ada bullying, kata dia, frustasi, ada kemarahan di dalam kelas dan ketakutan. "Jadi kita tak bisa menemukan nilai itu lewat pendidikan tradisional, namun harus dilakukan lewat pendidikan jarak jauh berbasis media sosial," ujar dia.

Ditambahkannya, nilai merupakan energi yang bisa kita transfer ke orang lain. Tapi masalah di sosial media tidak bisa menerjemahkan nilai kehidupan.

"Media sosial hanya kendaraan menyampaikan pesan. Jika pesannya benar, maka akan diinterpretasikan orang dengan benar. Jika pesan itu buruk, maka akan diinterpretasikan buruk bahkan menjadi sumber permusuhan. Maka kita harus berhati-hati bermedia sosial apalagi untuk kepentingan edukasi," lanjut dia.

Dalam pendidikan, kata dia, mengajar adalah menyampaikan tentang cara hidup. "Anda adalah tutor, motivator yang harus menyampaikan pesan dan nilai positif," bebernya.


Gerardette Philips Expert of Interreligious Value-Based Education and Counselling Canada dan Christoper Drake juga menambahkan, ada pergeseran mendasar dalam pola kehidupan. "Jika dulu orang mengambil uang harus ke bank, tapi sekarang cukup gesek lewat mesin atm bahkan aplikasi di gadget," ujar dia.

Ia juga mencontohkan pembelajaran di tahun 1900an dengan era milenial abad 21 sekarang. "Masyarakat selarang lebih takut dan sibuk mengurus pekerjaan daripada mengurus pendidikannya," lanjut dia.

Menurut dia, di tahun 2020 kita akan menggunakan transportasi bersistem robot. Sedangkan di Indonesia sekarang sudah menggunakan kereta super cepat. "Tahun 2020 nanti, hampir semua kegiatan manusia akan digantikan robot. Ini menjadi pekerjaan kita untuk mengatasi hal itu," imbuh dia.

Teknologi sangat penting, kata dia, karena kita bisa mencari segala hal, seperti Facebook itu juga menarik bagi kaum muda. "Kita akan menggunakan platform ini untuk membelajarkan sains, matematika dan Bahasa Inggris di program website ini," beber dia.

Christoper Drake, President of International ALIVE juga menambahkan, bahwa dalam hitungan detik, perubahan begitu cepat digerakkan lewat internet. Banyak muncul berita fake dan hoax. "Tidak hanya pelajar, namun doktor dan politisi juga ikut menyebarkan berita di media sosial entah itu benar atau tidak. Lebih banyak kuantitasnya daripada kualitasnya," ujar dia.

Kita hidup dia dunia nyata, kata dia, tetapi juga hidup di dunia maya, virtual, ada browsing dan gaming. "Sebenarnya media sosial itu benar-benar sosial ataukah justru antisosial," katanya.

Ia mengajak para peserta seminar untuk tidak memburu like dan komen-mengomen dalam bermedia sosial. "Kita harus mengutamakan reliabilitas, kualitas dan mengurangi cyber bullying. Karena penelitian terbaru di New York, cyber bullying memiliki kecenderungan sensirif dibagikan, dibagikan dan dibagikan," beber dia.

Dalam seminar itu, hadir pula Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA PhD Rektor UIN Sunan Kalijaga yang didapuk sebagai keynote speaker. Juga Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga dan Kaprodi PGMI UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.  Hadir juga ratusan mahasiswa dan juga dosen termasuk perwakilan dari PGMI STAINU Temanggung, PGMI UM Magelang, PGMI STAI Al Anwar Rembang, PGMI UIN Walisongo, PGMI IAINU Kebumen dan lainnya. (hg44/Ibda).

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget