Halloween Costume ideas 2015

Harian Guru

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Latest Post


Temanggung, Harianguru.com - Dalam sambutannya, Ketua STAINU Temanggung Dr. H. Muh. Baehaqi, M.M., mengatakan bahwa lulusan STAINU Temanggung harus menjadi sarjana profesional yang santri, dan menjaga Islam moderat yang berhaluan Islam Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah yang berada di tengah-tengah dalam era Revolusi Industri 4.0 ini.

"Tidak terlalu ekstream, tidak terlalu konservatif, lulusan STAINU harus berada di tengah-tengah dan moderat" beber dia, Selasa (12/2/2019) dalam Sidang Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Sarjana Satu (S1) Angkatan XXIV tahun 2019 pada Selasa (12/2/2019).

Pihaknya menegaskan, berbagai usaha telah disiapkan dalam menyiapkan berbagai perubahan status sekolah tinggi menjadi institusi. "Bertambahnya empat prodi baru, yaitu MPI, PGMI, PIAUD dan ES menjadikan kami siap berubah dari STAINU menjadi INISNU Temanggung selambat-lambatnya tahun 2020 nanti," tegas doktor jebolan UII Yogyakarta tersebut.

Dalam kesempatan itu, selain wisudawan, hadir Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah Prof Dr H Muhibbin, MA., Ketua PWNU Jateng Drs. KH. Muhammad Muzammil, LPTNU Jawa Tengah, jajaran PCNU Temanggung, Bupati Temanggung dan pejabat Pemkab Temanggung, BPPPTNU Temanggung, sivitas akademika STAINU Temanggung, wali wisudawan, mahasiswa dan tamu undangan.

Sedangkan dalam orasi ilmiah bertajuk Moderasi Islam, Prof Dr KH Malik Madani guru besar UIN Sunan Kalijaga menegaskan bahwa lulusan STAINU didorong menjaga akidah Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah yang menjaga Islam moderat. “Islam yang moderat yang wasathi, Islam yang tidak radikal adalah Islam yang sangat layak dalam masyarakat,” beber dia.

Saya Masih ingat dawuh Kiai Sahal Mahfudz Rais Am PBNU saat itu, lanjutnya, bahwa politik dibagi menjadi dua, yaitu pertama politik tingkat tinggi atau high politic yang kedua poltik tingkat rendah atau low politic atau dikenal politik praktis.

“Sebagai organisasi besar, NU harus tidak ikut politik praktis. NU harus ikut politik tingkat tinggi yang mencakup politik kebangsaan yaitu harus aktif berupaya mempertahankan NKRI sebagai bentuk final bentuk negara, kedua politik kerakyatan, dan ketiga etika berpolitik,” lanjut mantan Katib Aam PBNU tersebut.

Menurutnya, Islam sebagai agama negara tetap bertahan, karena berkeadilan dengan seadil-adilnya. Pihaknya menegaskan, bahwa NKRI adalah keputusan final yang tidak perlu diganggu gugat. (hg99/Ibda).


Temanggung, Harianguru.com - Bertempat di Gedung Pemuda Temanggung, STAINU Temanggung menggeler Sidang Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Sarjana Satu (S1) Angkatan XXIV tahun 2019 pada Selasa (12/2/2019) tepat pukul 09.07 WIB dimulai dengan dihadiri ratusan peserta dari berbagai elemen.

Dalam kesempatan itu, selain wisudawan, hadir Koordinator Kopertais Wilayah X Prof Dr H Muhibbin, MA., Ketua PWNU Jateng Drs. KH. Muhammad Muzammil, Ketua LPTNU Jateng, jajaran PCNU Temanggung, Pemkab Temanggung, BPPPTNU Temanggung, sivitas akademika STAINU Temanggung, wali wisudawan, mahasiswa dan tamu undangan.

Saat membacakan Surat Keputusan dengan nomor STAINU/X /10/PP. 009/ 005/1/2019 tentang Wisudawan Terbaik Strata Satu (S1) Angkatan XXIV tahun 2019, Pembantu Ketua I Bidang Akademik Dr. Baedhowi, M.Ag menjelaskan ada dua wisudawan terbaik dari masing-masing Prodi.

Wisudawan terbaik STAINU Temanggung Ahmad Mansur dari Prodi Al Akhwal Al Syakhsiyyah dengan IPK 3.86 dari wali wisudawan Mustahid - Patonah, dan Nailil Maghfiroh dari Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan IPK 3.91 dari wali wisudawati Tohir Muhlasin - Rondiyati.

Mereka berdua mendapat penghargaan dari Bank BPD Jateng yang diserahkan Direktur Bank Jateng dan Ketua STAINU Temanggung.

Sedangkan Nailil Magfiroh, saat menyampaikan kesan pesannya, menegaskan bahwa pihaknya berterima kasih kepada STAINU Temanggung yang telah mengantarkannya menjadi sarjana dan wisudawan terbaik.

“Prosesi wisuda ini bukan akhir talabul ilmi. Kita hari ini diwisuda dari kampus STAINU Temanggung. Tentunya kami akan memasuki kampus yang sejati, yaitu masyarakat. Mari kita isi ruang kosong di masyarakat. Yang buruk kita arahkan ke yang baik. Yang baik kita sempurnakan," tegas dia. (hg44/Ibda).

Temanggung, Harianguru.com - Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Trisula STAINU Temanggung mengkaji bahasa lokal khas Temanggungan, Jumat siang (8/2/2019) di aula STAINU Temanggung. Kegiatan itu dirangkai dengan Diskusi Rakyat bertajuk "Kajian Bahasa: Sikak, Sikem, Jidor, Thelo Ditinjau dari Berbagai Perspektif" yang menghadirkan Hamidulloh Ibda dosen Bahasa Indonesia dan Khamim Saifuddin dosen Sejarah Pemikiran dan Perkembang NU STAINU Temangggung.

Dalam pemaparannya, Hamidulloh Ibda menjelaskan bahasa umpatan, makian, marahan, pisuhan, nesunan tidak bisa dianalisis dan dilihat secara kajian linguistik saja, namun harus memahami etnografi, etnolinguistik, filologi, sosiolinguistik dan psikolinguistik.

"Temuan data yang saya dapatkan, munculnya idiom kata sikak, thelo, sikem, jidor ini berasal dari petani tembakau yang ditindas oleh konspirasi global yang merugikan dan berpotensi mematikan tembakau sebagai mata pencarian utama warga Temanggung. Lantaran ditindas oleh WHO, pemerintah, munculnya kebijakan yang memarjinalkan tembakau dan kutukan terhadap tembakau, rokok, maka muncullah gerakan perlawanan berupa kesenian, ketoprak dengan drama yang menyindir, manifesto gerakan, demo, dan kata-kata perlawanan termasuk umpatan thelo, jidor, sikem, sikak," kata Ibda.

Selain itu, Ibda juga menjelaskan, petani juga melawan dengan membentuk organisasi seperti APTI yang melindungi petani dan masa depan pertembakauan. "Ada idiom ngrokok mati, ora ngrokok mati, mending ngrokok sampek mati. Di antara gerakan kultural kreatif itu salah satunya muncul idiom budaya berupa bahasa-bahasa umpatan itu," kata peraih Juara I Lomba Esai Nasional Filsafat Ilmu UGM 2018 tersebut.

Apakah bahasa ini kasar?, kata dia, kasar atau tidak kasar bergantung dengan perspektifnya. "Umpatan memang diartikan sebagai kata, frasa atau kalimat kotor, jijik, jorok, tak patut diungkapkan. Nah, biasanya identik dengan anggota badan seperti matamu, dengkulmu. Lalu kondisi kejiwaan manusia seperti gendeng, bento, stress dan lainnya. Selain itu juga nama-nama hewan seperti asu, celeng, dan lainnya. Ada juga umpatan dari jenis pekerjaan hina manusia seperti lonte, perek, babu, dan lainnya," jelas penulis buku Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut untuk Mahasiswa tersebut.

Menurut pengurus LP Ma'arif NU Jateng ini, dalam memahami kata umpatan tidak hanya cukup pada linguistiknya saja. "Berbahasa tidak hanya menggunakan pendekatan bahasa atau linguistik saja. Namun juga perlu sosiolinguistik. Untuk memahami ragam bahasa umpatan ini, kita perlu yang namanya register atau variasi bahasa berdasarkan penggunaannya yang dapat dilihat dari aspek pekerjaan, kelas sosial, dan daerah atau budaya tertentu. Maksudnya, register ini adalah kunci untuk memahami bahasa yang diucapkan, kita tidak akan paham bahasa kaum kuli, sopir, kalau kita tidak kuli atau sopir. Maka memahami umpatan khas Temanggungan, ya kita harus melihatnya dengan memahami emosi, tujuan dan kondisi psikis antara penutur dengan mitra tuturnya dengan setting budaya dan lokalitas Temanggung," lanjut dia.

Dijelaskan dia, seorang boleh menggunakan umpatan sesuai dengan mitra tutur atau lawan bicara. "Umpatan itu muncul karena emosi manusia, salah satunya umpatan senang atau penanda keakraban, persahabatan atau kedekatan, marah atau jengkel, dan lainnya. Dan hanya orang yang bilang sikak, jidor, cuk, itu penanda persahabatan, kedekatan emosional. Hanya orang yang akrab yang dapat menggunakan bahasa itu tanpa tujuan kejahatan, justru alat membangun kemesraan. Bahasa seperti itu adalah alat untuk penanda perekat komunikasi, perlawanan terhadap penindasan atau anomali. Ketika Anda ditindas orang, maka secara psikis pasti marah dan biasanya mengumpat. Ini boleh karena justru kata umpatan itu diucapkan untuk melawan penindas, bukan diucapkan untuk menindas," papar Kaprodi PGMI STAINU Temanggung tersebut.

Dalam Islam, kata dia, di surat Annisa ayat 148 ditegaskan, intinya kita tidak boleh berkata kasar secara terang-terangan kecuali dalam kondisi teraniaya atau dizalimi. "Kan kita dalam Islam dianjurkan mengucapkan kalimat tayibah, tapi kalau kita dianiaya boleh mengumpat. Masalahnya, teraniaya atau tidak, dan kadar teraniaya tiap orang ini berbeda. Emosi manusia mempunyai tingkatan yang berbeda. Ketika kita ditindas kok tidak kuat melafazkan kalimat tayyibah, mulai dari subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, allahu akbar, ya langsung saja bilang jancuk, sikak, telo," kelakarnya yang membuat peserta tertawa lepas.

Jadi ketika Anda dijotos, ditipu, ditindas orang sekali saja kok sudah merasa dianiaya atau dizalimi, kata Ibda, kalau Anda tak kuat mengucapkan kalimat tayyibah, ya langsung saja bilang sikak.

Selain bertujuan melawan kejahatan, penanda keakraban, menurut Ibda, umpatan itu muncul karena spontanitas, hasil kebudayaan dari tiap daerah. "Contoh lain di Temanggung kata celes itu penghalusan dari kata celeng. Asem penghalusan dari kata asu. Sikem penghalusan kata sikak yang diartikan bulu di alat kelamin manusia," beber dia dalam diskusi yang dihadiri dari mahasiswa Untidar Magelang, Akper Alkautsar dan UIN Walisongo Semarang tersebut.

Maka menurut Ibda, umpatan khas Temanggung ini bagian dari kearifan lokal yang harus dilestarikan. "Benar salah, baik buruk dari umpatan tidak bisa dilihat secara kacamata linguistik saja. Semuanya bergantung mitratutur, kondisi psikis, tujuan, dan keakraban. Sebab, bahasa hakikatnya hanya alat. Benar salah dan baik buruknya bergantung Anda sebagai penutur atau mitratuturnya," tegas peraih Juara I Lomba Artikel Nasional Kemdikbud 2018 tersebut.

Sementara itu, Khamim Saifuddin memandang umpatan itu dari perspektif sosial budaya. "Pak Ibda tadi menjelaskan dari aspek etnografi, etnolinguistik dan sosiolinguistik. Jika dikaji dari aspek linguistik, derajat sikak, sikem, thelo, jidor, sama dengan budaya menulis Arab pegon oleh ulama-ulama kita. Arab pegon adalah bukti perlawanan kepada Belanda yang mendominasi pengetahuan, sekolah, bahkan politik saat itu. Artinya, makna substansinya hal ini lebih kepada umpatan yang digunakan untuk melawan," kata dia.

Salah satu peserta diskusi, Ibna dari Untidar Magelang, berpendapat kata sikak itu adalah salah satu bagian tubuh manusia yang tidak layak diutarakan. Menurutnya, tidak semua orang paham dengan kata-kata umpatan itu karena tidak semuanya paham tentang bahasa.

Sedangkan Ketua PMII Komisariat Trisula, Usman Mafrukhin, berpendapat dari aspek filsafat, seorang filsuf Agustinus, menggambarkan dua waktu yaitu objektif dan subjektif. "Sikak secara objektif memanggil seseorang Mas, Mbak, Kak bahkan Yang. Sebuah keakraban itu muncul dari kata-kata subjektif seperti sikak, telo, jancuk dan lainnya. Maka sikak sebenarnya tidak ada buruknya jika bertujuan demikian," kata dia.

Saat merespon penanya, Hamidulloh Ibda menjawab bahwa manusia dalam filsafat bahasa disebut animal symbolicum menurut pandangan Ernst Cassirer. "Manusia adalah hewan yang berbahasa atau menggunakan simbol untuk berbahasa. Kita memahami ragam bahasa itu harus memahami kultur dan psikologis masyarakatnya. Ragam umpatan diucapkan selain dari kultur dilihat juga dari perspektif jenis kelamin, laki-laki dengan laki-laki itu biasa. Tapi perempuan dengan perempuan itu lebih memendam saat mendapat kejahatan, tapi aslinya hatinya mangkel," papar dia.

Maka menurut Ibda, mengumpat didasari emosi, dan emosi yang muncul dari kejahatan itu disesuaikan dengan jenis kelamin. Bahasa umpatan itu juga muncul dari kondisi psikis manusia. "Kembali pada Alquran surat Annisa ayat 148 tadi, bahwa Tuhan tidak menyukai bahasa kasar, kecuali ketika teraniaya maka kita boleh mengumpat. Baik buruknya bergantung dengan kondisi dan kejadian, kultur, kondisi psikis, tujuan dan kesepakatan masyarakat tertentu. Bisa jadi di sini kasar, tapi bisa jadi di daerah lain itu biasa, dan sebaliknya," tukas dia.

Soal hukum memakai bahasa umpatan, Ibda menegaskan kata-kata umpatan jika untuk kejahatan tetap tidak baik. "Hukum beredar sesuai illatnya atau hukum sebab terjadinya kita mengumpat. Tapi jika diucapkan sebagai perlawanan kepada kejahatan, untuk penanda keakraban, bertujuan merawat budaya lokal, ya tidak masalah karena ini hanya dimiliki Temanggung," papar dia.

Khamim Saifuddin juga menambahkan, bahwa ungkapan dari sosiolog, semakin banyak orang yang mengeluarkan kata-kata ungkapan umpatan semakin mendekatkan pada kecerdasan emosional yang tinggi. "Kata-kata umpatan memiliki ragam makna dan maksud tertentu. Hukum mengumpat bergantung dengan kultur dan local wisdom," tukas dia.

Di akhir acara, para peserta melakukan foto bersama dan hasilnya berupa pemertahanan bahasa lokal sebagai kekayaan budaya Temanggung yang dapat diungkapkan sesuai kode budaya tertentu. (HG55/Dheta Ari Salsabila).

Temanggung, Harianguru.com - Adalah kalimat pertama yang muncul dari Bapak Najib Mubarak, M.Sc sebagai pemateri Seminar Pendidikan “Polemik Pendidikan NU” yang dilaksanakan di Aula Kampus STAINU Temanggung, pada Kamis (07/02/2019). Acara ini dihadiri oleh seluruh mahasiswa Tarbiyah dan beberapa pejabat penting  STAINU Temanggung

Kalimat tersebut muncul karena pada kenyataannya, pemahaman pelaku pendidikan sendiri mengalami penyempitan makna dari kata tarbiyah yang saat ini mengalami penyempitan seakan-akan menjadi ta’lim. Jika dibahasakan indonesiakan maka dari pendidik sekan menjadi pengajar, pengajar esensinya menjadi nilai (angka hasil belajar) dan bahkan lebih parah lagi pemaknaannya menjadi absen (dalam kelas) saja. Padahal sejatinya Tarbiyah itu adalah bermakna mendidik, yang memiliki tanggung jawab untuk membentuk manusia sepenuhnya, bukan hanya di sekolah, bukan hanya dalam tataran ilmiah, namun juga dalam segala aspek kehidupan individu itiu sendiri termasuk akhlak, ibadah dan ilmiahnya. Hal ini menjadi pembahasan yang menarik pada pelaksanaan Seminar Pendidikan yang diselenggarakan oleh HMJ Tarbiyah, Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama. Persoalan kita saat ini adalah adanya polemik dalam pendidikan di (lingkungan-red) NU.

“Sebagai praktisi pendidikan, setidaknya menurut saya, NU memiliki tujuh polemik pendidikan,” lanjutnya menerangkan.

Di antaranya adalah, pertama, pendidikan dalam NU berangasur-angsur mengalami kehilangan jati diri”. “NU menjadi mayoritas di negara kita, namun dalam prosesnya, NU mengalami gejala-gejala kehilangan jati diri. Apakah jati diri NU itu? Jati diri NU adalah Pesantren,” kata dia.

Kedua, lanjut dia, NU harus mampu menjadi pengaman terciptanya iklim pendidikan yang sesuai dengan akar kehidupan dan sesuai dengan tujuan pendidikan. “Pada kenyataannya, ada sebagian masyarakat yang belum siap dengan arus perubahan jaman ini. Ada sebagian yang masih kolot dan eksklusif, namun di sisi lain ada yang sudah Inklusif dan mulai terbuka,” ujar dia.

Ketiga, sekolah dan guru, harus berangkat dari masyarakat. Guna menjaga martabat pendidik dan institusi pendidikan. Pada masa lampau, institusi bermula dari pengakuan masyarakat, dan pembangungannya baik secara sarana dan prasarana dilakukan oleh kekuatan pengakuan masyarakat. “Hal ini bertentangan dengan keadaan yang lumrah pada akhir-akhir ini, yaitu muncul banyak sekali institusi pendidikan (non-formal) yang muncul karena inisiatif sendiri (orang tertentu) yang telah selesai menempuh belajar dari pesantren-pesantren dan merasa mampu menjadi wakil mamsyarakat tempat ia tinggal,” paparnya.

Keempat, sekolah dan guru harus inklusif. Miskin dan keterbatasan bukan alasan untuk mengamputasi hak peserta didik dalam mengenyam pendidikan. “Artinya, sekolah harus benar-benar membuka diri sebagai tempat belajar tanpa dipengaruhi oleh hal-hal lain. Karena pada kenyataannya banyak sekali wali murid yang memiliki pandangan bahwa sekolah yang mahal, pasti lebih baik dari sekolah yang murah. Dan ketidak mampuan yang membayangi tersebut membatasi kesempatan belajar dari peserta didik,” tandas dia.

Kelima, pendidikan NU mengalami kemandegean karena adanya dikotomi antra ilmu agama an ilmu umum. Padahal sejatinya, kedua bidang ilmu tersebut bisa saling bersinergi untuk membentuk pribadi yang luhur sesuai tujuan pendidikan. “Lagipula, tidak dipungkiri bahwa tingkat keilmuan seseorang tidak menentukan nilai agamis seseorang itu sendiri. Bahkan ilmu umum, terkadang bisa membuat orang lebih agamis daripada ilmu agama itu sendiri,” beber dia.

Keenam, mayoritas dalam kuantitas, minoritas dalam kualitas. “Hal ini merupakan pekerjaan kita bersama sebagai jamaah. Masih terbuka besar peluang untuk memayoritaskan ke-minoritas-an kita, dengan mulai berbenah diri, dan melakukan perbaikan secara berjamaah,” lanjut dia.

Ketujuh, stigma yang berkembang dari latar belakang sejarah bahwa NU itu bermasalah pada sisi kedisiplinan, manajemen dan koordinasi. Padahal sebenarnya, kita sedang melakukan perubahan dan pergerakakn membangun. “Hal ini dibuktikan dengan digencarkannya kegiatan PKPNU yang tujuannya adalah untuk memperbaiki kualitas NU baik secara individu maupun secara jamaah, baik secara kultural maupun struktural,” katanya.

Itulah tujuh poin yang disampaikan oleh pemateri M. Najib Mubarak, M.Sc pada Seminar Pendidikan yang dilakukan siang hari tadi (Kamis, 07/02.2019). Sebagai penutup seminar itu, Najib Mubarak berpesan putus asa dalam sekkolah itu hal yang biasa, tapi jangan pernah putus asa dalalm belajar. (Hg44/Rennen L.P)

Temanggung, Harianguru.com - Belajar adalah proses tanpa batas kelas ruang dan waktu. Demikian ungkapan Luluk Ifadah, M.S.I dalam sambutan pembuka saat pembentukan Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (HMP PAI) sekaligus seminar dengan tema "Polemik Pendidikan NU",  Kamis (7/2/2019).

Acara ini diikuti oleh seluruh mahasiswa PAI STAINU Temanggung dengan antusias. Tidak hanya itu, Najib Mubarok, M.Sc dalam seminarnya menyampaikan bahwa pentingnya kembalinya ruh NU dalam membangun pendidikan.

Acara juga dihadiri Pembantu Ketua II Ana Sofiyatul Azizah, M.Pd., Kaprodi dan Sekprodi STAINU Temanggung.

Selain itu acara dimeriahkan dengan memberi apresiasi. Prestasi mahasiswa Prodi PAI STAINU Temanggung atas nama M.Ulfi Fadli Juara Lomba Artikel Ilmiah Hari Santri Kab. Temanggung 2018, Yeni Ervina Finalis Duta Wisata Kabupaten Magelang 2018, Anisatul Ngazizah Juara Artikel Ilmiah Hari Santri Kab. Temanggung 2018, Khoirus Sa'adah Juara 3 Nasional Kejurnas Arung Jeram 2018, Yosita Bella Nofeliasari Juara 1 Lari Paraolympic Jawa Tengah 2018.

Setelah itu diadakan votting pemilihan Ketua HMP PAI dari berbagai kandidat. (Hg33/Sigit).


Blora, Harianguru.com - Pada hari Minggu (27/01/2019), Tim KKN Tematik UNDIP Desa Tutup Kecamatan Tunjungan melaksanakan sosialisasi dan pelatihan pemberdayaan masyarakat melalui ibu-ibu PKK di Balai Desa Tutup, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Pelatihan yang diselenggarakan yaitu pelatihan pembuatan Hand Sanitizer dari pelepah pisang, pembuatan sabun dari minyak jelantah dan pembuatan pestisida dari bumbu-bumbu dapur. Partisipasi ibu-ibu yang hadir sangat tinggi terlihat dari ramainya ibu-ibu yang hadir dan antusias dalam memperhatikan dan aktif bertanya serta antusias untuk mencoba produk-produk yang dihasilkan.

Selain itu juga sebelumnya telah dilakukan pelatihan dan pemberdayaan kelompok tani yang dilaksanakan pada hari Jumat 25 Januari 2019. Pelatihan yang diselenggarakan yaitu pelatihan pembuatan pupuk kompos dan pakan ternak dengan meode fermentasi anaerob serta pembuatan pupuk cair dari sisa air cucian beras.

Harapan dari Tim KKN Tematik UNDIP Desa Tutup yaitu meningkatnya produktivitas dan meringankan beban perekonomian dalam masyarakat, “Tujuan dari diterjunkannya Tim KKN Tematik Undip ini yaitu untuk mengembangkan potensi desa serta dapat meringankan sedikit beban perekonomian yang ada dalam masyarakat melalui pelatihan – pelatihan yang ada. Dengan diadakannya pelatihan dan sosialisasi diharapkan dapat menambah wawasan dan motivasi untuk mengembangkan suatu usaha ” ungkap Agum selaku Koordinator Tim KKN Desa Tutup.

Di sisi lain, Ibu ketua PKK desa Tutup mengaku antusias warga sangat tinggi. “Antusias warga sangat tinggi karena di acara tersebut ibu-ibu diberikan berbagai resep dan cara pembuatan  hand sanitizer dari pelepah pisang, pembuatan sabun dari minyak jelantah, dan pembuatan pestisida dari bumbu dapur, ibu-ibu sangat aktif dan antusias bertanya dan langsung ikut terlibat dalam proses pembuatan”,  Ujarnya.

Selain itu, bapak – bapak kelompok tani juga sangat antusias ketika mengetahui sisa sisa rumput dan jerami dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selama ini jerami hanya terbuang sia-sia dan baru mengetahui jika fermentasi jerami dan sisa – sisa rumput dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak memiliki banyak kelebihan yaitu, meningkatkan nilai gizi dan daya cerna pakan, mengurangi limbah organik dan tentunya dapat mengurangi pengeluaran ekonomi yang ada. (HG33/Hms).

Balikpapan, HARIANGURU.com – Kementrian Agama Kota Balikpapan  bekerja sama dengan Tanoto Foundation melaksanakan penyebaran atau replikasi Modul Satu Program PINTAR pelatihan praktik baik pembelajaran aktif ke semua  madrasah Ibtidaiyah  se-kota Balikpapan yang berjumlah 24 sekolah. Peserta pelatihan adalah seluruh guru dan kepala sekolah dari 24 madrasah tersebut yang mencapai 289 orang, kecuali yang sudah mendapatkan pelatihan sebelumnya dari Tanoto Foundation. “Semua guru, bahkan guru agama, dari madrasah ibtidaiyah di Balikpapan, kita ikutkan dalam pelatihan ini,” ujar Khundori, Spesialis Pembelajaran Sekolah Dasar Tanoto Foundation Kaltim.

Penyebarluasan pelatihan atau sering disebut diseminasi adalah tindak lanjut  dari kegiatan sebelumnya yaitu Pertemuan Stakeholder yang dilaksanakan sekitar bulan Desember 2018 terkait peningkatan mutu pendidikan di Balikpapan. Kemenag Balikpapan bertekad menyebarluaskan praktik baik pembelajaran ke semua pendidik  di madrasah, tidak hanya Madrasah Ibtidaiyah, namun juga ke depan ke Madrasah Tsanawiyah yang ada di Balikpapan.

“Saya berharap, dengan pelatihan yang diperuntukkan untuk semua guru madrasah Ibtidaiyah yang ada di Balikpapan ini,  satu tahun ke depan ini kita akan mengalami perubahan besar-besaran.  Kualitas pembelajaran di semua madrasah meningkat pesat dan orang tua siswa semakin tertarik menyekolahkan anaknya ke madrasah,” ujar Sartono, Kasi Pendidikan Madrasah mewakili Kepala Kemenag saat membuka pelatihan di Aula Rumah Jabatan Walikota Balikpapan, Rabu (30 Januari 2019).

Sartono berharap dengan pelatihan besar-besaran ini semua guru madrasah memiliki kesamaan visi dan pandangan tentang bagaimana pembelajaran yang baik, cara penyampaian dan kontennya. “Metode pembelajaran itu lebih penting dari pelajaran itu sendiri. Bagaimana pun menariknya suatu pelajaran kalau cara membawakannya tidak menarik, pelajaran itu tidak akan banyak terserap oleh siswa,” tegasnya menginginkan guru berkomitmen menerapkan pembelajaran aktif.

Pelatihan untuk 289 pendidik ini dilakukan sebanyak tiga gelombang dan dilaksanakan di dua tempat, di Aula Rujab Bupati dan MI Sentral Cendekia Muslim. Setiap gelombang terbagi menjadi dua kelompok. Pelatihan akan berlangsung sampai pertengahan bulan Februari 2019.

Dana pelatihan berasal dari dana BOS masing – masing madrasah. Tanoto Foundation hanya menanggung honor untuk fasilitator daerah yang melatih. ”Pelatihan besar-besaran ini merupakan komitmen Kemenag dalam meningkatkan kualitas guru  di daerah ini agar lebih inovatif dan kreatif,” ujar Syamsul Huda, Pengawas Madrasah Ibtidaiyah Kaltim.

Sebelumnya sekitar bulan Oktober 2018, Tanoto Foundation telah melatihkan pembelajaran aktif untuk pendidik dari 4 Madrasah Ibtidaiyah Mitra Tanoto Foundation di Balikpapan, yaitu Madrasah Ibtidaiyah NU, Al Ula, Sentra Cendekia Muslim  dan MIN 1 Balikpapan. Masing masing madrasah mengirimkan tujuh guru. Sisa guru yang belum terlatih di masing-masing madrasah tersebut ikut pelatihan replikasi ini.

“Dengan melatihkan pembelajaran aktif memakai pendekatan MIKIR, kita berharap metode mengajar guru di madrasah menyesuaikan dengan kebutuhan zaman, menjadi lebih interaktif dan melibatkan siswa. Ini sangat penting mempersiapkan siswa menyambut era Industri 0.4 ke depan,” ujar Affan Surya, Provincial Coordinator program PINTAR Tanoto Foundation Kaltim.(hg44/hms).

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget