Halloween Costume ideas 2015

Harian Guru

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Latest Post


Semarang, Harianguru.com - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UIN Walisongo Semarang menggelar bedah buku "Sekolah Harmoni: Restorasi Pendidikan Moderasi Pesantren" karya Ketua Forum Koordinasi dan Pencegahan Teorisme (FKPT) Jawa Tengah Prof. Dr. KH. Syamsul Ma'arif, M.Ag., pada Ahad (18/4/2021).


Selain penulis buku, kegiatan melalui moda daring dan luring ini menghadirkan Wakil Wali Kota Semarang Ir. Hj. Hevearita Gunaryanti Rahayu, M.Sos., sebagai keynote speaker. Hadir pula sebagai pembedah Ketua Umum MUI Kota Semarang Prof. Dr. KH. Moh. Erfan Soebahar, M.Ag., Satgas Penanggulangan FTF Densus 88 AT Polri Kombes Dr. Didik Novi Rahmanto, S.IK., M.H., dan Waket I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda.


Wakil Wali Kota Semarang Ir. Hj. Hevearita Gunaryanti Rahayu, M.Sos., saat menyampaikan keynote speaker mengapresiasi kegiatan tersebut dan mengucapkan atas terbitnya buku karya Ketua FKPT Jateng tersebut. "Saya mengapresiasi kawan-kawan mahasiswa PMII Komisariat UIN Walisongo yang turut peduli mencegah radikalisme dan terorisme melalui kegiatan ini," katanya.


Dalam penyampaiannya, Prof Syamsul mengatakan bahwa gerakan radikalisme di Indonesia sangat kuat. Maka dibutuhkan strategi dalam membendung maupun mencegahnya.


Dalam bedah buku terbitan Pilar Nusantara dan BNPT itu, Prof Syamsul yang juga Dekan FPK UIN Walisongo menjelaskan bahwa gerakan ekstremisme telah berkecambah di semua lini kehidupan dan menyasar semua kelompok masyarakat. Bahkan sekarang fakta membuktikan adanya gerakan-gerakan ekstremisme dan radikalisme masuk di sekolah. 


Menurut guru besar kelahiran Grobogan tersebut, terorisme sebagai extra ordinary crime (kejahatan luar biasa), kejahatan kemanusiaan, dan kejahatan lintas negara yang bermotif ideologi dan politik sangat jauh dengan nilai-nilai agama manapun. Masyarakat termasuk generasi muda banyak yang terpesona dengan propaganda mereka dan akhirnya masuk pada pusaran ekstremisme serta terjerumus pada tindakan-tindakan tidak beradab dan inkonstitusional.


Lewat buku tersebut, Prof Syamsul berusaha keras menawarkan konsep pendidikan moderasi pesantren yang dapat diadopsi dalam lembaga pendidikan pada umumnya.


Ketua Umum PMII Komisariat UIN Walisongo Zuhud Muhammad menyampaikan acara itu merupakan salah satu kegiatan PMII dalam rangka turut mencegah radikalisme yang bertepatan pada Harlah PMII ke 61 pada 17 April 2021 kemarin.


Pihaknya juga menceritakan suatu ketika ada mahasiswa bercadar di kampus yang pernah ditegur oleh DEMA. Fenomena seperti itu menurutnya perlu solusi sehingga pihaknya meminta solusi kepada para pembicara dalam kegiatan tersebut.


Sementara itu, Prof Dr KH Moh. Erfan Soebahar menyampaikan bahwa substansi agama Islam adalah agama yang damai, penuh rahmat atau rahmatal lillalamin. Maka pihaknya merekomendasikan bahwa buku Sekolah Harmoni layak dibaca. "Buku sangat layak dibaca karena isinya sangat menarik," bebernya.


Pihaknya juga sedikit mengritik dari aspek tulisan dalam buku tersebut. "Saya mengenal Prof Syamsul ini memang orangnya banyak menulis dan banyak bicara sejak menjadi mahasiswa. Isi buku ini sangat menarik dan mendalam. Namun ada sedikit koreksi pada kesimpulan ini. Ada kata sehingga diulang dua kali. Maka kalau besuk direvisi itu bisa diperbaiki," sarannya.


Kombes Dr. Didik Novi Rahmanto menambahkan bahwa buku tersebut sangat bermanfaat bagi generasi muda khususnya kader-kader PMII. "Buku ini menambah informasi dan data bagi kami khususnya bagi Densus 88 AT Polri," katanya.


Pihaknya juga mengucapkan selamat atas terbitnya buku tersebut yang menjadi bagian dan literatur moderat sebagai kontra narasi buku-buku yang bermuatan radikal.


Sementara Hamidulloh Ibda menyoroti fenomena kehancuran suatu bangsa dari perspektif Alquran maupun teori Prof Thomas Lickona yang menjelaskan ada 10 tanda kehancuran suatu bangsa.


"Salah satu bentuk kehancuran itu adalah kekerasan. Ada lima poin tanda-tanda menurut Prof Thomas Lickona yang itu mengarah kepada radikalisme dan terorisme," bebernya.


Pihaknya juga memberikan masukan bahwa tawaran konsep pendidikan moderasi pesantren harus mengarah pada local knowledge, local genius dan local wisdom. Di sisi lain, kehancuran bangsa ini perlu ada empat solusi mulai dari penguatan kompetensi, karakter, literasi dan ideologi.


Usai pemaparan dan bedah buku oleh pemateri, sesi selanjutnya dilanjutkan dengan tanya jawab. Pada sesi itu, Prof Syamsul merespon bahwa salah satu pesan yang ditangkap adalah motivasi terus menulis dan berkarya serta berkontribusi positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang integratif, menjaga damai dan memperkuat NKRI. (*)


Harianguru.com -
Setelah melaksanakan acara pelantikan PC dan PAC PERGUNU Kota Magelang, dilanjutkan penguatan kelembagaan PERGUNU. Acara ini dibuka oleh ketua dan Wakil Ketua PW PERGUNU Jateng. Penguatan adalah hal yang perlu dilakukan oleh organisai baru, hal ini sebagai kesolidan sebuah organisasi. Agar terjalin komunikasi dan kerja sama yang kuat antara pengurus dan anggota.

Ketua PW PERGUNU Jateng Drs KH Moh. Faojin, M.Pd.I. dalam penguatan tersebut menyampaikan pentingnya peran PERGUNU untuk bangsa. mohon untuk bersama-sama membangun bangsa. kemudian beliau juga berpesan bahwa Kota Magelang anggota untuk terus dipacu agar semakin banyak. jangan lupa isi SIMAS PERGUNU, dan punya baju PERGUNU dan KTA PERGUNU. Inilah identitas dasar sebagai anggota PERGUNU.

Wakil Ketua PW PERGUNU Jateng juga menyampaikan pesan akan makna perjuangan. Dalam sebuah perjuangan perlu pengorbanan harus belajar sabar dan ikhlas. Sedikit demi sedikit kegiatan dilaksanakan dimulai yang mudah dan terarah sesuai dengan kebutuhan para guru. Semisal pembekalan, pelatihan dan FGD serta sosialisasi lainnya.

Dilanjutkan dewan penasehat KH. Abdurrosyid, M.Ag. mengatakan mari bersama-sama membangun PERGUNU. Dan memotivasi agar para anggota PERGUNU di Kota Magelang untuk terus bertambah. Ayo sekolah-sekolah identifikasi guru-guru untuk diajak bergabung ke PERGUNU hal ini sebagai bentuk syiar dakwah ASWAJA.

Diakhiri oleh dewan Pakar Dr. A. Muhlisin, M.Pd. yang mengatakan dalam pemantapan program PERGUNU Kota Magelang adalah harus dibackup dan didampingi bersama-sama. Yang belaum tahu untuk memberitahu dan sebaliknya saling belajar. Jangan lupa program PERGUNU harus mempuyai roadmap yang jelas agar terukur dan terencana. (moy)


Temanggung, Harianguru.com - Di sela kegiatan peletakan batu pertama pembangunan gedung serbaguna KBIHU Babussalam NU Temanggung, Rais Syuriah PWNU Jateng KH. Ubaidillah Shodaqoh bersama Ketua Tanfidziah PWNU Jateng KH. Muhamad Muzamil berkunjung ke STAINU Temanggung, Ahad (28/2/2021).


Dalam kesempatan tersebut para tamu dari PWNU diterima langsung oleh Rais Syuriah PCNU Temanggung KH. Yacub Mubarok, Katib Syuriah PCNU Temanggung KH. Muhammad Syakur AH, Ketua Tanfidziyah PCNU Temanggung KH. Muhammad Furqon Masyhuri. Hadir mendampingi Ketua YAPTINU H. Nur Makhsun, Ketua Senat Dr. H. Muh Baehaqi, Ketua STAINU Sumarjoko, dan Wakil Ketua STAINU Khamim Saifuddin.


KH Ubaidallah Shodaqoh menyampaikan bahwa STAINU sebagai lembaga pendidikan Tinggi NU harus tetap mempertahankan sebagai lembaga yang dapat mencetak kader Ahlussunah Waljamaah. "Karena di lembaga pendidikan formal dan pondok pesantren ajaran ahlussunah Waljamaah akan tetap diinternalisasi dan dilestarikan," kata Mbah Ubaid.


Di tempat yang sama Ketua YAPTINU Nur Makhsun juga menyampaikan tentang proses alihstatus STAINU Temanggung menjadi INISNU yang sudah divisitasi tinggal menunggu Keputusan Menteri Agama untuk ditetapkan sebagai institut. 


Merespon hal itu, KH. Muhamad Muzamil mangatakan harapan bagi INISNU ke depan. "Setelah menjadi institut kami berharap agar dapat meningkatkan daya saing nya dengan perguruan tinggi lain agar menjadi perguruan tinggi terbaik di Jawa Tengah," pesannya menanggapi laporan Ketua YAPTINU tersebut.


Kiai Muzamil juga berharap agar ke depan INISNU mampu mengembangkan amal yang ilmiah dan ilmu yang amaliyah. "Mampu berharakah untuk menggapai berkah," lanjutnya. 


Sementara itu Ketua Tanfidziah KH. Muhammad Furqon mengharap agar kerawuhan para pengurus PWNU Jateng tersebut dapat memotivasi segenap sivitas akademika untuk lebih komitmen dan berintegritas dalam berjuang membesarkan lembaga pendidikan tinggi di Temanggung. (Ibda).


Semarang, Harianguru.com - Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang menggelar kegiatan Workshop Peer Counselor Walisongo Health and Professional Development Centre (WHPDC) yang dibuka pada Sabtu (27/2/2021). Kegiatan ini menurut Dekan FPK UIN Walisongo Prof Dr Syamsul Ma'arif akan terlaksana sampai besuk Ahad (28/2/2021).

Dalam sambutannya, Prof Syamsul menegaskan bahwa perkembangan zaman memunculkan banyak pemikir. Salah satunya Harvey Cox yang menulis buku The Secular City. Dijelaskannya, bahwa sekularisasi mencabik-cabik kehidupan manusia. "Kehidupan manusia yang harusnya integratif holistik, namun tercabik-cabik tidak jelas karena hanya beroritentasi pada materialisme," lanjutnya. 

Hal itu menurut Ketua FKPT Jateng ini, adalah awal dari penyebab kegoncangan psikologis pada manusia. Guru besar kelahiran Grobogan ini menegaskan bahwa saat ini banyak orang saat ini tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Berdamai dengan alam apalagi bercengkrama dengan Tuhannya.

"Amburadul lah pokoknya. Dari realitas ini banyak berkembang teori-teori psikologi. Kalau dalam perspektif psikolog muslim ya kembali pada transendensi. Fenomena ini juga membuat psikologi muslim dalam melancarkan kritik-kritik terhadap modernisasi atau teologi modern. Tapi kita juga harus mendialogkan secara kritis. Dari sekuler menuju pluralisme society yang merindukan spritualitas misalnya. Kalau bahasa FPK ya Unity Of Science," bebernya.

Tugas psikolog hari ini khususnya FPK UIN Walisongo harus dapat membangun masyarakat yang gersang spiritualnya menjadi masyarakat yang penuh akan spiritualitas. "Kita harus menawarkan kesalehan-kesalehan populer di tengah gegap gempitanya pluralism society ini," beber penulis buku Membangun Ilmu Pendidikan Nusantara tersebut.

Dari latar belakang itulah FPK UIN Walisongo menggelar kegiatan tersebut. "Pematerinya para psikolog profesional FPK UIN Walisongo. Acara dimulai hari ini sampai Minggu melalui daring," katanya.

Acara dimulai pembukaan, dilanjutkan materi 1 Peer Counselor, 2 Konseling Online, 3 Kode Etik Konseling, Sharing Session oleh Peer Counselor. (Hg33).


Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan Program Studi (Prodi), Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung melalui Dosen dan HPM PGMI STAINU Temanggung melakukan sosialisasi, dan edukasi dengan membuka stand bisnis dalam rangkaian agenda NU Fair 2021 di MTS Ma’arif Kecepit, Selopampang Temanggung pada Sabtu-Minggu (27-28/02/2021).


Stand bisnis Prodi PGMI STAINU Temanggung menjajakan beberapa produk hasil perkuliahan Teacherpreneurship Lanjutan berupa makanan, minuman, asesories dan juga perlengkapan. Terdapat beberapa produk unggulan yang dipamerkan diantaranya; Aiska Coffee, Khoir Makaron, Browkies, konektor rajut, masker yang laris-manis diborong oleh pengunjung dari pelbagai kalangan.

Kaprodi PGMI STAINU Temanggung, Andrian Gandi W, M.Pd mengungkapkan tujuan partisipasi dalam kegiatan ini, merupakan bagian dari program pengembangan Prodi PGMI STAINU Temanggung dalam bidang kerjasama, sosialisasi dan hubungan yang baik dengan masyarakat luas khususnya di wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya. “Prodi PGMI STAINU Temanggung akan terus menggenjot peningkatan mutu, relevansi, daya saing, tata kelola, akuntabilitas, citra publik, serta menjaga pemerataan dan perluasan akses atas layanan pendidikan tinggi bagi masyarakat sebagai akselerasi pelaksanaan tridharma perguruan tinggi," katanya

Ketua HMP PGMI STAINU Temanggung M. Khoiril Azmi sangat antusias dengan kegiatan tersebut. “Kita sangat senang dapat berpartisipasi dalam NU Fair 2021, selain melakukan praktik teacherpreneutship, kita juga turut sosialisasi tentang Prodi PGMI dan edukasi dalam memberikan pemahaman dan pengertian kepada masyarakat agar selalu meningkatkan kedisiplinan untuk mematuhi protokol kesehatan. Biar makin syahdu, pengunjung bisa “minum kopi sepuasnya, dan bayar seikhlasnya” sambil menikmati aneka hiburan di acara ini.“

Sementara itu, Bripka Triyoga Ragil Saputra dari Polsek Tembarak turut mengapresiasi program Prodi PGMI STAINU Temanggung dengan melakukan praktik teacherpreneurship, sosialisasi dan edukasi akan pentingnya disiplin protocol kesehatan. “Kami mengapresiasi Prodi PGMI STAINU Temanggung yang turut mendorong bangkitnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terpuruk karena Pandemi COVID-19. Dengan mengimplementasikan praktik wirausaha seperti ini, bisa menjadi pemantik bagi kita semua agar tetap berusaha dan berkarya sehingga mampu memberikan manfaat dan meningkatkan perekonomian di wilayah Temanggung. Hal ini semakin dikuatkan dengan pemberian edukasi yang dilakukan oleh Dosen, Mahasiswa dan Polisi dan Panitia tentang pentingnya menjaga kedisiplinan dalam mematuhi protokol kesehatan. (Hg88).


Probolinggo, Harianguru.com - Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda didapuk menjadi narasumber kegiatan pendidikan dan pelatihan penulisan artikel ilmiah di kampus 2 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Probolinggo, Jawa Timur pada Sabtu (20/2/2021).

Hadir Kepala MAN 1 Probolonggo Syaiful Abdi, Kepala Tata Usaha Fanani Heri Edy, dan puluhan guru.

Dalam kesempatan itu, Ibda menjadi narasumber tunggal selama satu hari. Penulis buku Dosen Penggerak Literasi ini menyampaikan beberapa materi. Pertama pengenalan artikel ilmiah. Kedua, teknik registrasi dan submit artikel di Open Journal System (OJS). Ketiga, teknik dan praktik manajemen referensi. Keempat, teknik dan praktik aplikasi pendeteksi plagiasi.

Kelima, teknik mengubah skripsi/tesis/disertasi/PTK/PTS menjadi artikel ilmiah publikasi jurnal/prosiding. Keenam, strategi penulisan artikel ilmiah dimuat jurnal ilmiah. Ketujuh, manajemen redaksi pengelolaan jurnal online.

Kegiatan itu, menurut Kepala MAN 1 Probolinggo Syaiful Abdi adalah kewajiban guru utamanya yang ASN. "Pengembangan profesi guru salah satunya adalah publikasi karya ilmiah. Saya harap nanti setelah materi ini, jurnal milik MAN 1 Probolinggo dapat dijadikan jurnal elektronik," harapnya.

Kegiatan itu diikuti puluhan guru MAN 1 Probolinggo yang dilaksanakan selama empat hari. Dua hari dilakukan luring dan dua harinya dilaksanakan daring dengan sistem penugasan. (HG91).

 sahabatanak.org

Oleh Umie Wahidatun Thohiriyah

Nama lengkapku Haris Ramadhan. Umurku 11 tahun dan saat ini duduk di bangku kelas 5 SD. Orang tuaku bekerja sebagai petani. Mereka bekerja di sawah setiap hari. Meskipun orang tuaku seorang petani, aku bangga kepada mereka. Sepulang sekolah, aku selalu membantu pekerjaan mereka di sawah.

Aku tinggal Bersama keluargaku di sebuah desa yang memiliki berbagai macam keindahan alam. Aku sering mengagumi keindahan alam tersebut. Saat kecil aku belum tahu nama berbagai macam keindahan alam yang ada di desaku.

“Ayah… itu apa?” tanyaku penasaran sambal menunjuk sebuah gundukan besar menjulang tinggi. Gundukan itu terbentang luas di hadapanku.

“Oh…itu Namanya Gunung Merapi, Haris…” jawab ayah.

Aku yang masih penasaran dengan jawaban ayah yang singkat itu. Aku pun kembali bertanya.

“Mengapa disebut Gunung Merapi dan mengapa ada di daerah kita, ayah?” tanyaku lagi penuh semangat.

“Gundukan itu disebut Gunung Merapi karena gunung itu masih aktif dan dapat mengeluarkan lahar kapan pun. Gundukan itu memang sudah ada sebelum ayah lahir. Ayah juga tidak tahu pasti mengapa gunung itu ada di daerah kita. Ayah hanya tahu kalua gunung itu banyak memberikan manfaat bagi manusia.

Buktinya, ayah dapat mengolah tanah di sini menghasilkan dan mampu mencukupi kebutuhan kita sehari-hari,” jelas ayah panjang lebar. Meskipun demikian, aku masih belum puas dengan jawaban ayah.

Aku menilai bahwa jawaban ayah hanya sekedarnya saja. Ayah mungkin masih Lelah pulang dari sawah. Jadi, jawabannya belum membuatku puas.

Sejak pembicaraan sore itu, aku tidak lagi mempermasalahkan kenapa dan mengapa di daerahku terdapat gundukan tanah yang menjulang tinggi itu. Aku juga tetep tidak tahu dengan jelas alas an ayah menyebut gundukan itu dengan nama Gunung Merapi.

Bagiku sudah cukup Bahagia dapat berada di tengah-tengah keluarga yang menyayangi. Untuk hal-hal lainnya biar orang dewasa yang mengurus. Aku tinggal bersama kedua orang tua dan kedua saudaraku yang bernama Kak Hamzah dan Kak Hani, aku anak bungsu.

Sampai sekarang pun aku tak memikirkan alasan kedua orang tuaku tinggal di desa terpencil seperti ini. Hal tersebut tidak menjadi masalah besar bagiku. Menurutku tinggal di desa sangatlah menyenangkan lingkungan desa sangat nyaman dan damai.

Sampai sekarang, aku hanya bisa melihat sesuatu yang disebut kereta dan sesuatu yang disebut gedung bertingkat hanya melalui tayangan televisi saja. Aku belum pernah ke kota, jadi belum pernah melihat secara langsung benda-benda tersebut. Minimal aku sudah memiliki gambaran tentang apa yang sering ibu dan bapak guru ceritakan tentang keberadaan kota dan kehidupan di kota. Aku ingin sekali melihat kehidupan kota seperti yang diceritakan oleh teman dan guruku. Namun, bagiku hal yang terpenting sekarang hanyalah menjadi anak yang bisa diandalkan kedua orang tuaku.

Kedua kakakku yang sudah merantau keluar daerah membuat posisiku seperti anak tunggal di rumah. Aku selalu tersenyum lebar saat aku sedang membantu kedua orang tuaku menggarap sawah. Aku tidak pernah mengeluh sedikit pun. Tak ada beban meskipun aku tidak bisa bermain leluasa seperti anak sebayaku.

Terkadang masih sangat lekat dalam ingatanku akan keceriaan yang tercipta saat kedua kakakku masih tinggal bersama. Aku masih bisa bermanja-manja ria. Terkadang keceriaan itu masih terbawa dalam mimpi saat aku tertidur lelap.

“Haris...Haris...sayang kemari Kak Hani bawakan sesuatu untukmu”

Begitulah Kak Hani sering memanggilku. Saat ia pulang ke rumah, pastilah ia membawakan aku sesuatu yang bisa membuat hatiku senang. Seketika itu, aku langsung berhamburan lari menghampiri Kak Hani. Dengan sedikit manja Kak Hani membelai halus rambutku lalu bercerita apa saja yang bisa membuatku senang untuk kesekian kalinya.

Kakakku yang paling besar bernama Kak Hamzah. Meskipun ia jarang bercanda denganku, namun aku tahu rasa sayangnya begitu besar kepadaku. Kak Hamzah jaujh beda dengan Kak Hani hanya saja Kak Hamzah orangnya lebih tegas, mirip sekali dengan Ayah. Dulu sering kali aku digendongnya sepulang sekolah melewati pematangan sawah yang terhampar hijau membentang. Sesekali ia bercerita. Ia pernah bercerita tentang keinginannya untuk merantau ke kota mencari uang agar bisa membelikan aku mainan. Ia juga ingin ayah tak lagi bekerja keras membanting tulang untuk keluarga.

“Kak Hamzah mau ke mana?” tangisku saat itu.

“Kakak tidak mau kemana-mana, tidak usah menangis jaga ayah dan ibu baik-baik ya...” jawabnya sambil mengelus lembut rambutku

“Terus kenapa kakak membawa tas ransel begitu besar, seperti orang mau pergi jauh?” tanyaku lagi seraya memghapus air mata yang sesekali masih menetes.

“Iya, Kak Hamzah memang mau pergi jauh tapi nanti juga kembali kok! Haris jaga ayah ibu ya. Jangan sering menyusahkan mereka,” sambil mengedipkan satu mata ke arahku.

Percakapan itulah yang aku ingat saat Kak Hamzah akan pergi merantau. Kak Hamzah sudah bekerja merantau ke luar daerah dan tinggallah aku ayah dan ibu yang berkumpul di halaman yang tak begitu luas namun tetap menjadi tempat menyenangkan kami untuk berbincang ringan bahkan bercanda bersama.

Aku bertempat tinggal di Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang yang terletak di lereng Gunung Merapi. Kondisi deaku sangat berpotensi rawan bencana.

Seperti daerah pegunungan lainnya, desa tempat tinggalku bergelombang dan berbukit-bukit. Oleh karena itu, tak heran jika kedua orang tuaku berprofesi sebagai petani yang mengolah tanah di sekitar gunung.

Suatu sore, Pak Lurah datang ke rumahku. Pria separuh baya itu mencari ayah. “Sore, Haris... Ayahmu ada di rumah?” tanyanya ramah kepadaku.

“Oh....Ayah masih di sawah, Pak,”jawabku.

“Memang ada keperluan apa, Pak?” lanjutku.

“Kalau sangat mendesak saya panggilkan ibu saja ya...”kataku.

Pak Lurah pasti memiliki urusan yang sangat penting dengan ayah. Beliau tidak biasanya mencari ayah seperti ini.

“Wah...memang anak Pak Hadi yang satu ini sangat cakap ya!”ujar laki-laki itu sambil tertawa terbahak-bahak.

“Bapak ini bagaimana...?” dengan nada heran kataku dan mulai berpikir kalau laki-laki yang sering disebut Pak Lurah itu ternyata bisa tertawa begitu kerasnya.

“Begini Nak...besok katakan kepada ayahmu kalau ada pertemuan di balai desa untuk membicarakan sesuatu.”

“Sesuatu apa itu Pak? Apa Hris boleh tahu?”

“Oh...sesuatu itu tidak terlalu penting.”

“Tapi kenapa Bapak sendiri yang menyampaikan undangan itu? Tidak menyuuh Pak Agus saja seperti biasanya?”tukasku lagi.

“Iya...Nak...memang biasanya Pak Agus yang mengantarkan undangannya tapi hanya saja memang tadi kebetulan Bapak lewat depan rumahmu. Jadi, undangan untuk ayahmu sekalian saja Bapak sampaikan sendiri.”

“O...begitu ya...nanti saya sampaikan pesan Bapak.”

Laki-laki separuh baya tersebut kemudian berpamitan dan mengucapkan salam. Aku masih berdiri dengan segudang pertanyaan yang ada di kepalaku. Tiba-tiba kecemasan muncul dihatiku. Sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi, tapi apa? Aku tidak tahu.

Lembayung merah mulai tampak dari ufuk barat pertanda aku harus segera masuk ke rumah dan menyambut ayah pulang dai sawah. Sesaat kemudian ayah nampak berjalan dari arah timur dan setibanya ayah di rumah aku langsung menghampiri dan menyampaikan undangan dari Pak Lurah tadi.

“Yah...tadi Pak Lurah ke sinj. Beliau menyampaikan undangan untuk pertemuan besok di balai desa.”

“Ya....hanya itu pesan beliau agar ayah menghadiri pertemuan besok.”

“Baiklah besok Ayah ke sana. O...iya Haris, tolong ambilkan teh yang sudah disiapkan Ibumu ke sini. Ayah haus.”

“Iya, Yah.”

Keesokan harinya penduduk sudah berkumpul di balai desa. Mereka sengaja diundang oleh Pak Lurah karena ada sesuatu yang ingin dibahas bersama-sama. Rencananya akan diadakan upacara sesaji untuk keselamatan warga desa ini. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin pada tahun-tahun sebelumnya.

Apalagi untuk tahun ini, sepertinya upacara tersebut harus diadakan lebih awal. Hal ini dikarenakan adanya pertanda yang kurang baik dari gaunung yang berdekatan dengan desa tempat kami tinggal tersebut. Adakalanya terasa seperti gempa namun sesekali saja.

Tahun 2011 mungkin membawa semangat baru dalam kehidupan warga sekitar Gunung Merapi Jawa Tengah, terutama keluarga kami setelah terjadinya letusan Merapi ditahun 2010 tepatnya 26 Oktober 2010 mengakibatkan sekitarnya 353 orang tewas, termasuk Mbah Maridjan. Aku beranggapan bahwa Tuhan memberikan anugerah kepada kami semua.

Malam itu cuacanya di luar cukup dingin. Aku brsiap untuk tidur aku pun berdoa sebelum tidur.aku sandarkankepalaku di atas sebuah bantal. Mataku belum sepenuhnya terpejam. Ku coba mengingat-ingat berbagai kejadian yang pernah terjadi dalam keluargaku. Semua itu membuatku lebih mensyukuri arti sebuah kehidupan yang dulu tak pernah ku hiraukan sebelumnya.

Menurutku hidup ini tak dapat terlepas dari ujian. Kedatangnganya tak dapat diduga sebelumnya. Semua menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang tiada bandinganya di alam semesta ini.

Tuhan Maha Kuasa, hanya kepada-Nya kita kembali. Bencana yang datang selalu membawa tiga kemungkinan. Pertama, muncul pesan didalamnya. Kedua, musibah datang sebagai cobaan. Ketiga, musibah datang sebagai pembawa peringatan atau hukuman.

Musibah yang dialami oleh keluargaku juga dialami oleh banyak orang yang bermukim di sekitar lereng Gunung Merapi. Gunung Merapi yang terletak pada perbatasan 4 daerah di Jawa Tengah yaitu Semarang (utara), Kedu (Barat), Yogyakarta (Selatan) dan Surakarta (Timur), mempunyai ketinggian (±) 2968 m DPAL (Dari Permukaan Air Laut). Gunung tersebut merupakan salah satu dari 129 gunung aapi yang masih aktif di Indonesia.  

 

-Penulis adalah seorang mahasiswa dari Universitas Ngudi Waluyo Ungaran, dengan Program Studi

Pendidikan Guru Dekolah Dasar, Fakultas Ilmu Komputer dan Pendidikan. Saat ini sedang menempuh semester 1.

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget