Halloween Costume ideas 2015

Harian Guru

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Latest Post

Muarakaman, Harianguru.com - 13 Sekolah Dasar di Muara Kaman sekitar enam bulan belakangan ini mulai berubah.  Mereka secara rutin melakukan program membaca senyap selama 15 menit, menjalankan strategi mendekatkan buku pada siswa dengan membangun pojok-pojok baca, taman baca dan lain-lain. Para guru-guru juga menerapkan pembelajaran aktif yang membuat proses belajar menjadi menyenangkan dan siswa semakin betah di sekolah.

Perubahan tersebut tak lepas dari perjuangan seorang pengawas di daerah tersebut. Namanya Pak Ponidi. Sebagai pengawas, ia agak risau melihat guru-guru di bawah pengawasannya  belum mampu membuat perencanaan mengajar dengan baik. “Mengajar itu seperti membuat film yang bagus. Jadinya perlu skenario yang juga bagus. Film yang bagus itu yang mempunyai alur yang menyenangkan, membuat penonton penasaran dan akhirnya  diingat terus menerus. Nah demikian juga mengajar, punya langkah dan proses yang harus membuat siswanya juga demikian. Harus punya skenario yang matang yang mengantar siswa menguasai banyak kompetensi,“ ujarnya, 18 Oktober 2019.

Ia mendapati guru-guru mengopi paste rencana persiapan mengajarnya dari internet, dan jarang membuat sendiri. “Nah kadang juga,  copy paste rencana mengajar itu juga tidak dilaksanakan di kelas. Akhirnya guru mengajar tanpa langkah-langkah yang strategis dan bermakna. Ia hanya mengikuti nalurinya saja,” ujar salah satu Fasilitator program PINTAR Tanoto Foundation ini.

Setelah ia ikut pelatihan PINTAR, pak Ponidi menjadi tahu apa yang harus dilakukan untuk menghapus kecenderungan guru-guru seperti itu. Program PINTAR merupakan program pelatihan yang dikhususkan untuk pendidikan dasar hasil kerjasama antara Tanoto Foundation, Kemenag dan Pemda setempat lewat Dinas Pendidikan.

Ia ingin juga para guru tersebut mendapatkan pelatihan yang menurutnya sangat bermakna. “Dengan pelatihan program PINTAR, kita sebagai pendidik menjadi tahu dengan lebih gampang bagaimana cara membuat rencana persiapan mengajar yang alurnya menarik dan menyenangkan siswa” ujarnya antusias.

Untuk mewujudkan pelatihan itu, ia menghubungi kelompok kerja kepala sekolah dan juga kepala UPTD Muarakaman. Pelatihan tiga hari akhirnya berlangsung sukses dengan menggunakan dana BOS.

Setelah itu, untuk memastikan  pelatihan benar-benar dilaksanakan di sekolah, sebagai pengawas, Ponidi berkeliling melakukan penguatan dan pendampingan.

Ia sering melakukan pertemuan dengan para guru, mereviu kembali materi pelatihan, meninjau RPP, melihat kegiatan guru di kelas, meninjau pelaksanaan budaya baca dan peran serta masyarakat di sekolah. Yang didatangi secara intensif bukan cuma sekolah-sekolah di bawah pengawasannya, tapi semua sekolah yang pernah dilatih. “Pak Ponidi sering sekali datang ke sekolah kami untuk menguatkan pelatihan kemarin, walau sekolah kami bukan dibawah mandat pengawasannya,” ujar Iskandar, kepala sekolah SDN 029 Muarakaman, memberikan kesaksian.

Berkat kerja keras pak Ponidi didukung oleh K3S dan UPTD Muarakaman, dampak diseminasi program PINTAR  mulai tampak di 13 sekolah tersebut.  Di SDN 025, misalnya, orang tua siswa kelas 2 bergotong royong membuat sudut baca dan menghias kelas. Hal yang sama dilakukan oleh SDN 029, yang lebih jauh  menghias setiap bangku kelas dengan taplak meja yang cantik. Di SDN 008, para orang tua siswa membangun taman baca dari Ban Bekas dan menjadi percontohan bagi sekolah-sekolah lain. Bahkan taman Baca di SDN 028, diresmikan langsung oleh Bupati Kutai Kartanegara.

“Saya bersyukur bahwa banyak perubahan nyata di sekolah-sekolah diseminasi program PINTAR. Siswa sekarang lebih suka membaca buku, aktif dan lebih berani tampil ke depan untuk tampil presentasi. Sangat penting mempersiapkan anak didik disini dengan baik, karena kita dekat dengan calon lokasi ibukota negara yang baru,” ujar Ponidi.

Yang paling menyenangkan baginya sekarang, tidak ada guru di sekolah-sekolah tersebut yang download rencana pelaksanaan pembelajaran dari internet. “Mereka bahkan bilang, yang dari internet itu sebenarnya lebih susah dilaksanakan dibanding yang mereka buat sendiri sesuai konteks sekolah,” ujarnya senang. (HG44).


Semarang, Harianguru.com – Pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah, di akhir tahun 2019 akan menggelar Sekolah Menulis Sastra (SMS) #1. Penanggungjawab acara, Hamidulloh Ibda, mengatakan bahwa kegiatan itu diperuntukkan guru dan umum dari semua unsur.

“Program ini merupakan bagian dari tindaklanjut Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) yang sudah kami launching pada bulan ini. Menulis dan mengapresiasi karya sastra menjadi kompetensi penting yang harus dikuasai guru saat ini,” kata penulis buku Senandung Keluarga Sastra tersebut, Sabtu (19/10/2019).

Dalam penjelasannya, ia mengatakan pembicara utama dalam kegiatan pertama kali itu akan menghadirkan Tokoh Sastrawan Asia Tenggara dari eSastera Kuala Lumpur, yaitu Muhammad Rois Rinaldi.

Syarat dan prosedur, yaitu guru semua jenjang dan umum (tidak ada batasan usia), menulis 1 puisi bertema Hubbul Wathan (Cinta Tanah Air), mentransfer infak Rp 100.000 ke nomor rekening BRI. 3741-01-032772-53-3 a.n Ahmad Muzamil.

Peserta mendapatkan fasilitas materi saat pelatihan, 1 buku antologi karya peserta, kudapan, dan sertifikat. Sesuai rencana, tempat kegiatan di Hotel Muria Semarang pada 1 Desember 2019 pukul 09.00 WIB-selesai.

“Kuota Terbatas 100 orang. Konfirmasi ke Khoirun Niam 082276951949 atau Hamidulloh Ibda 08562674799,” kata dia.

Pendaftaran, upload bukti transfer dan pengiriman naskah terakhir 25 November 2019 melalui http://bit.ly/RegistrasiSMS1. (Admin).

Pati, Harianguru.com - Perpustakaan siswi Mathali'ul Falah mengadakan bedah novel karya Elin Khanin yang bertajuk Cinta Sang Abdi Ndalem Jumat(18/10/2019).

Motivasi Elin dalam menulis novel CSAN yaitu bahwa kang/mbak yang mengabdikan dirinya kepada kiainya dengan penuh ikhlas, tentu cinta mereka juga ikhlas.

"Saya ingin menunjukan apabila pesantren mempunyai nilai nilai yang berbeda, apalagi dengan kisah cintanya, dengan terbitnya novel ini saya berharap orang yang membaca akan semakin cinta terhadap orang tuanya, kiainya dan suami/istrinya" jelas Elin muthakhorijat Matolek 2007.

Ahla Kholidah, sebagai moderator mengemukakan apabila orang yang membaca novel Cinta sang Abdi Ndalem, tentu akan melihat Kajen dari sisi yang berbeda, desa kecil yang di huni puluhan pesantren.  Dan lagi mereka yang telah boyong dari Kajen akan sedikit terobati kerinduan nya apabila membaca novel tersebut.

"Kami dari para guru akan memperioritaskan alumni yang telah menjadi penulis untuk bisa bedah di almamater nya, tujuannya sederhana yaitu untuk memberikan motivasi kepada adik adik yang masih mengenyam pendidikan di pesantren," ujar Alek Fauzi

Senada dengan hal itu, Penulis juga berpesan apabila punya cita cita ingin menjadi penulis tentu harus tekun dan lagi tulislah apa yang di dekatmu, apa yang kau kuasai dan kau pahami, sebab menulis itu pembiasan.

Lanjutnya, kedepannya harapan saya akan lahir penulis penulis baru yang terlahir dari pesantren dan kisah cinta dari pesantren. (HG44/K Niam).

Pelajar SMKN 2 Sragen yang mengibarkan bendera HTI yang viral di media sosial

Semarang, Harianguru.com - Aksi pembentangan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Palestina di kompleks SMK Negeri 2 Sragen, Jawa Tengah yang viral di media sosial, mendapat respon serius dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (PWNU Jateng). Sebab, HTI merupakan ormas terlarang karena bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Untuk itu, PWNU Jawa Tengah mendesak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk menindak tegas aksi tersebut. PWNU Jateng mendepak Ganjar Pranowo mengambil langkah cepat pelaku atau orang yang di belakang kejadian tersebut.

Hal itu disampaikan Sekretaris Tanfidziyah PWNU Jateng KH Hudallah Ridlwan Naim (Gus Huda) dalam siaran pers yang diterima Harianguru.com, Kamis (17/10/2019). Gus Huda menegaskan bahwa kejadian tersebut sangat disayangkan. “Di periode kedua kepemimpinan Pak Ganjar menjadi Gubernur Jawa Tengah, sangat disayangkan jika ada kasus seperti ini,” tegasnya.

Gus Huda juga membeberkan bahwa pihaknya menemukan foto sejumlah siswa dan guru SMKN 2 Sragen yang viral di media sosial dengan membentangkan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid yang identik simbol Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan bendera Palestina.

“Jika ini benar, maka sangat disesalkan. Baru saja Gubernur Jateng menyatakan telah menindak sejumlah kepala SLTA yang terpapar radikalisme, kini simbul organisasi terlarang itu dibentangkan di sekolah negeri,” tegas Gus Huda.

Dijelaskannya, sekolah yang menjadi tempat penyelenggara pendidikan untuk mencetak generasi muda yang berwawasan kebangsaan dan dibiayai negara itu seharusnya steril dari virus intoleran dan radikalisme. “Kejadian ini  sebagai bukti bahwa masih banyak racun dan virus pengasong khilafah yang sudah menyebar ke bawah. Ini fakta bahwa radikalisme sudah menyusup dan mengakar di tingkatan pelajar,” lanjutnya.

Pembentangan bendera yang menjadi simbul organisasi yang sudah dibubarkan di lembaga pendidikan berstatus negeri ini, menurut Gus Huda, menunjukkan bahwa garis kebijakan gubernur tidak diindahkan oleh aparatur di bawahnya. “Kepala Sekolah jenjang SMA kan kewenangan Pemrov, maka Gubernur Jateng sebagai orang nomor satu di Pemrov harus berani menindak tegas pelaku tersebut,” katanya.

Atas kejadian yang kesekian kalinya ini, Gus Huda mendesak Gubernur Jateng untuk bersih-bersih dan memberantas pengusung ideologi terlarang di lembaga pendidikan tingkat SLTA yang secara terbuka melakukan tindakan inkonstitusional.

Jauh-jauh hari, PWNU Jateng telah menginstruksikan kepada warga NU di Jateng untuk selalu siap siaga menghadapi radikalisme dan terorisme, di antaranya menghadang organisasi terlarang yang mencoba-coba untuk bangkit dan kini justru menyusup di lembaga pendidikan yang harusnya steril dari virus radikalisme.

“Termasuk kasus di Sragen ini, kami mendapat laporan lengkap dari kader NU di sana. Kami berharap pemegang otoritas juga lebih meningkatkan intensitas pengawasan sekaligus penindakannya agar virus ideologi terlarang tidak melebar,” tegasnya.

Sebagai organisasi yang mendukung nasionalisme dan tegaknya NKRI, PWNU Jateng mendukung dan menanti ketegasan Ganjar Pranowo sebagai orang nomor satu di Pemrov yang secara garis kebijakan membawahi SMA di Jateng. “Kami tunggu ketegasan Pak Ganjar, karena ini sekolah negeri yang urusannya dengan Pemrov Jateng,” lanjutnya.

“Kami juga mendesak Gubernur Jateng segera mengevaluasi sistem dan prosedur pengangkatan kepala sekolah negeri,” katanya.

Sebab, menurut Gus Huda, penjaringan kepala sekolah di jenjang SLTA harusnya steril dari orang-orang yang terindikasi radikal.  “Ini bisa jadi sistem penyaringan jebol, screeningnya jebol. Secara hukum, SK Kepala Sekolah tidak masalah, tapi proses penyaringan keluarnya SK jebol, maka ini harus diperbaiki agar semua SLTA di Jateng ini benar-benar steril dari radikalisme,” tutupnya. (hg44).

Kalimantan Timur, Harianguru.com  - Jumpa Kopi adalah strategi untuk membuat koleksi buku di pojok baca ruang kelas SMPN 4 Tenggarong terasa selalu baru. Jumpa Kopi adalah akronim dari Jumat Pagi Koleksi Pindah.

Program ini dilaksanakan setiap Jumat pagi selepas para siswa melakukan senam pagi. Dikoordinir oleh masing-masing pengurus kelas, para siswa setiap kelas menukarkan koleksi buku bacaan di pojok-pojok baca kelas dengan kelas lainnya. 

Misalnya, kelas VIIA bertukar koleksi buku dengan kelas VIIB, VIIC bertukar dengan VIIIA, IXA dengan IXB dan seterusnya.

“Jumpa Kopi dilaksanakan karena koleksi buku di pojok baca dalam satu minggu rata-rata semua sudah terbaca. Agar ada buku baru maka koleksinya ditukar antar kelas,” kata Agus Suparmanto, Kepala SMPN 4 Tenggarong.
Melalui Jumpa Kopi semangat membaca siswa meningkat. Mereka setiap saat bertemu dan disuguhi buku-buku yang belum pernah dibaca.

“Siswa di kelas juga semakin peduli dengan pojok baca yang sudah dibuat bersama-sama,” katanya lagi.
Jumat kopi merupakan istilah yang diperkenalkan Agus Suparmanto di sekolah tersebut. Hal itu dilakukan agar semangat membaca tetap terjaga. Jika buku sudah terbaca semua, tanpa buku yang baru semangat membaca akan turun drastis.

Koleksi buku di sekolah memang cepat habis terbaca. Terutama sejak SMPN 4 Tenggarong mengadakan program membaca 15 menit tiap pagi sebelum pembelajaran.

Sekolah tersebut juga membuat jurnal membaca untuk tiap siswa. Jurnal tersebut berisi kolom tanggal, halaman buku yang dibaca, rangkuman, dan tanda tangan wali kelas atau orang tua siswa.

“Kedua program ini telah meningkatkan minat baca siswa. Dengan Jurnal membaca siswa terpicu untuk berlomba-lomba membaca buku. Karena dengan jurnal tersebut akan ketahuan berapa jumlah buku yang dibaca tiap bulan,” ujar Agus.

Untuk menambah koleksi buku bacaan, selain menganggarkan 20 persen dari dana BOS, sekolah juga melibatkan orang tua siswa.

Dalam rapat, para orang tua siswa sepakat untuk mendukung gerakan literasi dengan menyumbangkan buku semampu mereka secara sukarela.

“Rata-rata orang tua siswa menyumbang satu buku untuk menambah koleksi pojok baca. Namun di pojok baca, bukunya juga berasal dari perpustakaan,” jelas Agus.

Untuk membuat siswa terpapar terus menerus dengan buku, sekolah mitra Tanoto Foundation ini juga membangun taman-taman baca di halaman dan lorong sekolah. Sekolah menyebutnya dengan nama Teras Baca dan Terminal Baca.

Teras baca terletak di lorong jalan masuk ke sekolah, dan terminal baca di bawah pohon yang rindang.

“Strategi mendekatkan siswa dengan buku terbukti efektif untuk membuat siswa tergerak untuk membaca. Bahkan dalam sebulan ada siswa yang membaca 27 buku bacaan,” ujar pak Agus yang bangga dengan peningkatan minat membaca siswanya.

Agus Suparmanto, yang juga fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation, menyebarkan Jumpa Kopi yang dilakukan di sekolahnya melalui group facebook Forum Peningkatan Kualitas Pendidikan.

“Saya membagikan link FB Jumpa Kopi yang saya tulis kepada seluruh kepala sekolah SMP di Tenggarong. Ternyata banyak yang tertarik karena Jumpa Kopi memecahkan masalah penyediaan buku bacaan di kelas. Juga minim biaya,” katanya.

Fatiyah Febiana, Siswa Keas 7a, menyatakan kesenangannya dengan program Jumpa Kopi. Dengan program tersebut, ia semakin senang membaca. “Bukunya selalu baru dan saya sudah membaca puluhan buku dalam bulan ini,” ujarnya. (Hg44).

Balikpapan, Harianguru.com - Pelajaran bahasa Inggris  kadang terasa sulit bagi siswa. Namun banyak guru kreatif membuatnya asyik dan menyenangkan. Ini seperti yang dilakukan oleh ibu Irma Sabriati, guru Bahasa Inggris SMP 1 Balikpapan. Ia membuat siswa serasa mengamati para superhero dan kemampuan-kemampuannya.

Cara Ini dilakukan saat ia membahas tentang modalitas can dan cannot yang menyatakan kemampuan dan ketidakmampuan. Pelajaran untuk kelas 2.

Lalu bagaimana cara ia menghubungkan can dan cannot dengan para superhero. Pertama yang dilakukan ibu Irma menyuruh para siswa mencari referensi dahulu di google,  rumus-rumusnya maupun kegunaannya. “Para siswa sekarang tidak hanya saya suruh mencari di buku paket saja, tapi sumber dari mana saja. Ini dalam rangka gerakan literasi. Tugas saya juga memfasilitasi mereka untuk mengetahui, bukan terus menerus memberitahu kepada mereka. Mereka harus aktif,” ujar Irma, 27 September 2019

Para siswa tersebut secara berkelompok mencari berbagai referensi. Setelah menemukan, mereka diminta  saling mendiskusikan dan mempresentasikan apa yang didapatkannya di depan kelompoknya sendiri. Mereka didorong bercakap dengan bahasa Inggris ketika melakukan itu. “Siswa suka dengan model begini, mereka diberi kesempatan untuk mendiskusikan penemuan referensinya dengan bahasa Inggris. Mereka belajar speaking diantara teman-temannya,” ujarnya.

Setelah mencari referensi selesai,  mereka membuat contoh-contoh dari modalitas can tersebut dengan bahasa mereka sendiri, minimal 5. Nah disinilah ibu Irma meminta para siswa, membuat contoh-contoh dengan tema kemampuan dan ketidakmampuan para Superhero. “Dengan cara ini, ternyata mereka sangat bersemangat. Anak-anak milenial kan gandrung dengan game dan film superhero.  Dengan menghubungkan dengan cerita yang mereka sukai,  memantik diskusi yang menarik,”ujarnya

Baik tugas mencari formula, kegunaan dan contoh-contoh kata can tersebut dikerjakan di kertas plano besar secara berkelompok. Mereka juga diharuskan menggambar atau menempel foto super hero yang dipilih. “Contoh-contoh kalimat tersebut saya arahkan yang bentuhknya positif, tapi saya tak membatasi kalau mereka mau membuat kalimat negatif atau interogatif,” ujar Irma.

Setelah selesai, masing-masing kelompok presentasi di depan kelas. “Saat  presentasi,  untuk kalimat interogatifnya, saya  memberi pertanyaan langsung dari contoh kalimat positif yang mereka buat. Misalnya, ketika mereka memberi contoh superman can fly, maka saya bertanya pada mereka: can superman fly?  Pertanyaan ini sekaligus memberi contoh pada mereka bagaimana membentuk kalimat interogatif dari kalimat afirmatif atau positif,” ujar Irma lebih lanjut menerangkan metode mengajarnya. 

“Mereka juga kadang memberikan contoh kalimat-kalimat negatif dari kalimat positif yang mereka buat. Misalnya, batman can jump from tower to tower, kalimat negatifnya yang mereka buat: batman cannot jump from tower to tower,” ujar Irma. 

Setelah presentasi, Irma memerintahkan para siswa melakukan knowledge shopping. Kertas plano hasil karya kelompok ditempel di dinding-dinding kelas, dan dalam urutan searah jarum jam, kelompok siswa berputar melihat hasil karya kelompok lain. “Pada knowledge shopping ini, para siswa mempelajari masing-masing contoh yang dibuat kelompok lain, membandingkan dengan punya mereka sendiri, mengoreksi jika salah, dan  memberi masukan.” Ujar Irma

“Namun saya juga memberi tugas mereka untuk mencatat kata-kata baru yang didapat pada kertas plano pekerjaan kelompok lainnya. Ternyata dengan menggunakan contoh superhero, banyak kosa kata baru muncul yang dicatat para siswa, misalnya: resist, martial arts, hibernate, camouflage, stronghold dan lain-lain. Saya biasa meminta mereka menghapal kosa kata baru yang telah mereka dapatkan, atau memberi tugas berdasarkan kalimat yang mereka dapatkan,” ujar Irma menjelaskan caranya lebih lanjut.  
Setelah itu, menurut Irma, sangat penting untuk menguatkan pengetahuan siswa dengan meminta siswa menyimpulkan pelajaran hari itu.  Dia lebih jauh memberikan contoh dan penguatan lainnya.

“Namun yang  juga penting, selain tugas kelompok, memberikan tugas Individu pada siswa. Ini untuk mengevaluasi apakah  pemahaman siswa itu merata. Untuk tugas Individu saya biasa minta mereka mengerjakan soal-soal di buku paket,” ujarnya.
Semua siswa menyatakan bahwa model pembelajaran seperti ini menyenangkan. Namun banyak yang senang dengan model belajar kelompok demikian. “Saya senang belajar dengan model kelompok, karena saya bisa melatih conversation saya,” ujar Gaodie, salah seorang siswa.

Menurut Irma, belajar kelompok memang penting, selain untuk melatih conversation, akan mampu meningkatkan kecakapan sosial siswa. “Mereka makhluk sosial, jadi perlu dilatih memiliki kecakapan sosial semenjak dini,” ujarnya. (HG44).



Kudus, Harianguru.com - Peserta Didik KB Al-Azhar Jekulo, Kudus, menggelar doa bersama atas wafatnya BJ Habibie, Presiden Republik Indonesia ke-3, Kamis, 12/09/2019 siang.

Doa bersama yang dilakukan di Halaman KB Al-Azhar tersebut, diikuti oleh 142 Peserta didik dari Kelompok Persiapan.

Eni Misdayani, Ketua Penyelenggara KB Al-Azhar mengutarakan turut berduka cita, atas meninggalnya salah satu putra bangsa yang begitu besar jasanya.

Pada gelaran doa kali ini, ada pembelajaran yang bisa disampaikan kepada anak-anak kami, "pembelajaran terkait kepedulian sosial dan rasa cinta kepada tanah air," katanya.

"Lebihnya, untuk menghormati jasa para pahlawan atau pemimpin bangsa yang telah berjuang bagi Tanah Air," jelasnya.

Kami juga turut mengenalkan kepada mereka siapa Bapak BJ Habibie itu, "misalnya, dengan jasa Pak Habibie dengan mengharumkan Bangsa, membuat pesawat, bagi mereka (anak PAUD), akan lebih mudah mengenal dengan jasa beliau," ujarnya.

Tahlil dan doa dipimpin Ustazah Siti Aslamiyah, diiringi rasa khidmat oleh peserta didik KB Al-Azhar, sembari mengamini. (hg44/Udin).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget