Halloween Costume ideas 2015

Harian Guru

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Latest Post

Temanggug, Harianguru.com - Ada yang sedikit berbeda dari biasanya, hari ini Kamis 18 Juli 2019 untuk pertama kalinya tim KKN Undip mengunjungi MI Ma'arif Malebo, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah.

Suara gemuruh menyambut kedatangan mereka, anak-anak berantusias karena mereka sebelumnya belum kenal.

Agus Ilmi guru olahraga mengucapkan biar nanti diajak ke lapangan saja dulu karena hari ini juga Kamis 18 juli 2019 murid-murid kelas 5 dan 6 kebetulan ada mata pelajaran PJOK. "Dan nnti untuk yang murid laki-laki biar bermain sepakbola dan murid perempuan biar bermain permainan dengan kakak-kakak KKN UNDIP yang perempuan juga," kata dia.

Maka dari itu sehabis istirahat pertama mereka langsung digiring ke lapangan untuk mengikuti praktik pelajaran PJOK.

Ilham fadil perwakilan dari TIM KKN UNDIP mengucapkan bertemu anak anak MI merupakan kebanggaan bagi kami. "Semangat tak kenal lelah, banyak bakat yang bisa digali dari mereka. Semangat terus aja buat anak anak MI buat menggapai cita cita nya," kata dia.

Walaupun kurang lebih hanya 2 jam tetapi sangat bermanfaat buat anak-anak MI Ma'arif Malebo karena kehadiran TIM KKN Undip menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka anak-anak kelas 5 dan 6. (Hg88).

Demak, Harianguru.com - Bertempat di Lapangan bola Jatimulyo Bonang Demak, Komunitas Pecinta Alam Demak (Pade) menggelar camping bersama komunitas sekabupaten Demak pada Sabtu sampai dengan Minggu (6-7/7/2019).

Acara yang dilakukan untuk memeringati Anniversary atau ulang tahu ke 5 komunitas Pade juga sekaligus memeringati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI).

Mengundang Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Raden Sahid dan Maunatul Mubarok untuk mengampanyekan gerakan anti narkoba dan pentingnya menjalani rehabilitasi bagi para korban pecandu narkoba di kabupaten Demak.

Anas Nasution, pimpinan IPWL Raden Sahid menyampaikan bahwa di tengah-tengah kita sebenarnya masih banyak para pengedar narkotika maupun obat-obatan terlarang yang demi mendapatkan uang rela merusak mental anak-anak muda di kabupaten Demak.

"Kita harus waspada kepada mereka. Tetapi lebih penting lagi kita juga harus memberikan perhatian kepada para korban pengedar, yaitu penyalahguna narkoba, kita harus menyelamatkannya dengan memberikan kesempatan berhenti dengan cara rehabilitasi," kata Anas.

Di Demak, lanjutnya ada 2 IPWL yang diberi kesempatan merehabilitasi. Yaitu IPWL Raden Sahid di Kebonagung dan Maunatul Mubarok di Sayung.

"Kami berharap komunitas ini menjadi peran penting untuk membantu pemerintah Demak menyelamatkan anak muda dari pengaruh buruk narkoba,"pungkas Anas.

Dwi Sulistyo, ketua komunitas Pade menyampaikan dalam peringatan ulang tahun Pade ke 5 itu dengan berharap komunitasnya maupun seluruh komunitas di kabupaten Demak melakukan gerakan-gerakan yang positif.

"Acara ini dibarengkan dengan peringatan hari antinarkotika sekaligus mengajak agar kawan-kawan juga ikut melakukan program yang menyelamatkan generasi muda di Demak dari pengaruh narkoba. Agar komunitas tidak disalah artikan kumpul kumpul tidak benar," kata pria yang hobi mendaki gunung itu.

Acara berlangsung dua hari itu diikuti hampir ratusan peserta dari lintas komunitas di Demak. Dengan rangkaian acara kampanye anti narkoba, donor darah, dan penanamab pohon. (HG44).

Tegal, Harianguru.com - Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jawa Tengah melakukan pendataan madrasah dan sekolah di wilayah Jawa Tengah yang terlaksana pada Sabtu (6/7/2019) dan Ahad (7/7/2019).

Wakil Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng Ziaul Haq menjelaskan bahwa kegiatan pendataan gelombang pertama ini terlaksana di Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kota Tegal. "Tujuan kami mendata ini untuk merapikan data, agar jelas jumlah madrasah dan sekolah Ma'arif di Jawa Tengah, kita punya server sendiri, yaitu di datamaarif.com. Dengan data kita bisa mandiri dan bisa berbuat banyak sesuai dengan kepentingan NU tanpa ada campur tangan dari pihak lain. Sebagai organisasi terbesar di Indonesia NU perlu mempunya pangkalan data mandiri. Sudah saatnya NU mandiri dalam hal data," kata dia.

Pihaknya menambahkan bahwa pendataan ini adalah yg pertamakali dilakukan di lingkungan pendidikan NU. "Terlebih lagi saat ini era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, madrasah dan sekolah Ma'arif harus melek data dengan menguatkan literasi data berbasis teknologi," kata dia.

Kegiatan itu digelar di PCNU Brebes, PCNU Tegal, SMA NU Kota Tegal yang digilir sesuai jadwal. "Nanti insyallah akan merata se Jawa Tengah. Tim kami sudah siap jemput bola agar pendataan berjalan lancar," ujar dia.

Selain Ziaul, hadir Tim IT LP Ma'arif PWNU Jateng Rohmat Eko Wahyudi, Herman Abu Bakar, Abdul Halim, dan dikawal langsung LP Ma'arif di masing-masing kabupeten dan kota. (hg44/Ibda)


Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.
Guru SD Supriyadi Semarang, Alumni Program Pascasarjana UNNES

Memasuki tahun ajaran baru, banyak orang tua yang menginginkan anaknya masuk ke sekolah negeri. Banyak pertimbangan yang menjadi alasan kenapa mereka lebih memilih anaknya masuk ke sekolah negeri dibandingkan sekolah swasta.

Namun, dengan semakin berkembangnya dunia pendidikan ada beberapa macam pembaharuan di dunia pendidikan salah satunya sistem pendaftaran berbasis zona dimana sekolahan negeri menerima siswa dari sekitar domisili.

Dengan sistem baru tersebut semakin marak kegelisahan dari sekolah yang berlabel favorit atau sekolah unggulan yang biasanya menyaring anak berprestasi di luar daerah jadi tidak bisa lagi dengan adanya sistem zonasi. Begitu pun kegalauan wali murid yang anaknya bergudang prestasi namun tidak bisa diterima di sekolah idaman karena berada di luar batas zona.

Memilih sekolah negeri memang masih menjadi momok idaman para orang tua. Pada umumnya, yang menjadikan para wali murid lebih memilih sekolah negeri ialah terkait persoalan biaya dan kualitas pendidikan. Banyak yang beranggapan jika selain biayanya murah, sekolah negeri juga memiliki kualitas pengajaran yang lebih bagus.

Banyak wali murid menganggap bahwa anaknya tidak diterima sekolahan Negeri maka akan malu dengan tetangganya. Anggapan keliru yang selalu menganggap anak yang sekolah tidak di sekolah negeri pasti anak bodoh, pasti anak nakal, pasti anak nilai akademiknya rendah. Memang tidak ada sekolah swasta yang bisa mendidik? Memang tidak ada sekolah swasta berkualitas? Soal bertambahnya ilmu memang hanya faktor dari sekolahan saja? Karena sesungguhnya kemampuan dari masing-masing siswa pun turut andil besar, dan sekolah hanya memfasilitasi, membimbing, mengarahkan dan membelajarkan. Dan bukan ditentukan dari label sekolah Negeri atau swasta.

Lalu apakah sekolah swasta selalu “kalah” jika dibandingkan dengan negeri? Ternyata tidak. Ada beberapa keunggulan sekolah swasta yang tidak dimiliki oleh sekolah negeri. Apa sajakah keunggulan tersebut?

Pertama, Secara fasilitas, sekolah swasta umumnya jauh lebih baik. Jika kita cermati, kebanyakan fasilitas yang ditawarkan sekolah swasta umumnya lebih baik dibandingkan dengan sekolah negeri. Hal ini disebabkan pengelolaan keuangan sekolah swasta sepenuhnya dikelola pihak yayasan yang memiliki sekolah. Sumber dana yang diperoleh pun berasal dari berbagai pihak, selain dari yayasan, wali murid, donatur, maupun kerja sama pendanaan dengan pihak lain. Jadi, mereka bisa leluasa meningkatkan kualitas fasilitas kegiatan belajar mengajarnya dengan mengedepankan sarana prasarana dan fasilitas penunjang proses pembelajaran.

Sedangkan untuk sekolah negeri, keuangan mereka ditentukan oleh pemerintah. Mereka hanya diberi jatah yang kadang sangat kurang untuk membangun fasilitas sekolah yang cukup mumpuni

Kedua, Secara mata pelajaran, sekolah swasta lebih beraneka ragam. Keuntungan lainnya yang bisa kita dapatkan dari sekolah swasta ialah lebih bervariasinya muatan mata pelajaran yang diberikan. Jika di sekolah negeri umumnya hanya fokus dengan mata pelajaran yang akan diujikan (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS) maka untuk sekolah swasta ada mata pelajaran lain yang tidak kalah ditekankan. Bahkan beberapa sekolah pun menjadikan mata pelajarn tertentu seperti muatan karakter dan agama menjadi program unggulan dalam tujuan pendidikannya.


Seperti misal, terjadi pada SD Supriyadi Semarang yang berdiri di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al-Falah. Selain siswa menerima pelajaran pokok dari pemerintah, ada beberapa program unggulan yang terinput dalam muatan mata pelajaran bidang keagamaan seperti akidah akhlak, fikih, Al Qur’an hadits, Bahasa Arab, dan penanaman karakter di setiap pembelajaran dengan tetap berpayung pada kurikulum yang berlaku dari pemerintah. Begitu pun dengan sekolah swasta yang lainnya, sudah barang pasti akan memvariasikan mata pelajaran sesuai dengan visi dan misinya.

Ketiga, Variasi dalam berkegiatan dan berorganisasi. Sama halnya seperti pelajaran, biasanya variasi kegiatan dan organisasi sekolah swasta lebih banyak pilihannya. Jika sekolah negeri berkutat dengan organisasi OSIS, PMI, Paskibra, atau olahraga, namun di sekolah swasta banyak ditemukan kegiatan dan organisasi yang tidak kalah keren. Organisasi tersebut biasanya sengaja dibentuk sebagai nilai jual kualitas sekolah swasta. Seperti kegiatan intrasekolah yang beraneka macamnya sehingga siswa bisa menyalurkan bakat dan minat sesuai dengan kemampuannya. Tak hanya kegiatan intra sekolah untuk siswa. Kegiatan organisasi yang beranggotakan wali murid dan masyarakat pun banyak dibentuk oleh sekolah swasta dengan tujuan utama menghidupkan kembali tripusat pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat).

Keempat, Pelayanan sekolah swasta biasanya lebih baik. Sekolah swasta dikenal memiliki etos kerja dan pelayanan yang cukup prima. Hal ini karena mengingat biaya yang dikeluarkan orangtua siswa tidak sedikit, jadi pelayanan terhadap peserta didikpun menjadi prioritas utama. Tidak jarang, jajaran yayasan dan dewan guru mengadakan rapat internal untuk melakukan evaluasi rutin, serta mendengarkan berbagai kritik dan masukan dari berbagai pihak demi kemajuan pendidikan.


Itulah beberapa keunggulan sekolah swasta dibandingkan dengan sekolah negeri. Menjadi benang merah dan menjadi koreksi bersama bahwa yang menentukan kesuksesan seseorang bukan status sekolah, Negeri atau Swasta, melainkan bagaimana kesungguhan usaha seseorang dalam meraih cita-cita.

Ilustrasi Pembukaan Porsema
Semarang, Harianguru.com - Perhelatan Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) XI LP Ma'arif PWNU Jateng telah sukses digelar pada 24-27 Juni 2019 di Kabupaten Temanggung. Dengan hasil, Juara Umum 1 Kabupaten Kudus, Juara Umum 2 Banyumas, dan Juara Umum 3 Jepara.

Ketua Tim Media Center Porsema Ziaul Khaq, mengapresiasi peran media massa, baik cetak atau online yang membantu publikasi Porsema sejak dari awal hingga akhir. "Kami dari Tim Media Center mengapresiasi rekan-rekan wartawan yang telah meliput dan mempublikasikan Porsema dari awal sampai akhir, sehingga warga NU yang jauh dari Jawa Tengah dapat mengikuti perhelatan bergengsi ini," kata dia, Sabtu (29/6/2019).

Ia mengakui, tanpa adanya publikasi di media, Porsema tidak akan dapat diketahui publik, baik itu warga NU atau masyarakat luas. "Intinya, kami sangat bangga dengan rekan-rekan jurnalis, baik cetak, online, televisi, atau radio bahkan Youtuber yang telah memublikasikan Porsema ini," lanjut dia.

Sementara itu, Sekretratis Panitia Porsema XI LP Ma'arif PWNU Jateng, Abdulloh Muchib juga menyampaikan bahwa banyak apresiasi dari luar karena publikasi Porsema yang begitu gencar. "Kami secara internal memiliki tim media, dan juga banyak wartawan yang meliput baik itu yang dipublikasikan di media NU atau media umum," kata dia.

Fungsi media massa, menurut dia, memang menginformasikan, namun dalam Perhelatan Porsema kali ini juga mengedukasi betapa pentingnya berdakwah melalui media massa yang isinya tentang kegiatan positif Ma'arif melalui Porsema. "Semoga amal baik dari semua elemen khususnya media nanti mendapat balasan setimpal. Tanpa adanya bantuan media, maka Porsema akan sepi dan tidak dapat diketahui masyarakat secara luas," lanjut dia. (hg55/hi).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Kreativitas untuk menumbuhkan budaya membaca semakin banyak muncul di sekolah. Salah satunya adalah Sekolah Dasar Negeri  020 Balikpapan Tengah, Kalimantan Timur. Siswa di sekolah ini mengumpulkan koin, dan bersama guru dan komite pergi ke toko buku untuk membeli buku melengkapi koleksi buku yang sudah ada di sekolah. Koin tersebut juga dimanfaatkan untuk membeli pipa paralon yang dibentuk sedemikian rupa  menjadi dudukan buku yang sudah dibeli. 

Pengumpulan koin tersebut dilakukan tiap hari sabtu. Tiap kelas  memiliki kaleng koin sendiri. Koin masing-masing kelas kemudian dikumpulkan oleh guru yang bertanggung jawab. Jumlah yang terkumpul setelah empat-lima bulan efektif pembelajaran mencapai hampir dua juta rupiah. 

Selain tiga orang lainnya, Rayhana adalah salah satu siswa yang terpilih memilih dan membeli buku-buku hasil pengumpulan koin tersebut.  Selain berhak memilih buku, ia juga berhak menjadi peminjam dan pembaca pertama buku-buku yang dipilihnya.   Setelah selesai, ia harus mengembalikan lagi buku-buku tersebut ke sekolah.

“Rayhana dan yang tiga siswa lainnya berhak demikian karena sering tampil ke depan untuk bercerita pada saat acara Sabtu Ceria. Acara Sabtu Ceria kami adakan  tiap bulan sekali selama kurang lebih 45 menit. Setiap anak bebas menunjukkan kemampuannya pada saat itu, menyanyi, baca puisi, menunjukkan keberhasilan pembelajaran dan  bercerita” ujar Rahadiani Dwi, guru kelas II, 29 Juni 2019.

Rahadiani berharap dengan penghargaan demikian, siswa-siswa yang lain juga terpacu untuk lebih banyak membaca buku dan mau tampil bercerita di Sabtu Ceria.  

“Buku yang dipilih oleh siswa biasanya juga buku yang disukai oleh teman-teman sebayanya. Ini poin yang amat penting karena program kita adalah bagaimana menumbuhkan kesukaan membaca pada anak-anak. Supaya siswa gemar membaca, biarkan mereka memilih buku sesuai selera mereka,” ujar Listiyorini, guru kelas IV A yang menemani siswa belanja buku.  

Menurut Listiyorini, kegiatan pengumpulan koin dan pembelian buku  sendiri oleh siswa ini menumbuhkan sifat memiliki siswa terhadap buku-buku di sekolah. “Karena mereka sendiri yang kumpulkan koin dan membeli  buku, mereka menjadi lebih merasa memiliki terhadap buku-buku tersebut,” ujarnya.

Pembelian Pipa Untuk Pipa Baca
Selain untuk beli buku, hasil Koin Literasi tersebut  juga dibelikan pipa parallon yang dibelah sebagian untuk  digunakan sebagai dudukan buku yang sudah dibeli tersebut. Pipa tersebut kemudian dipasang di setiap dinding luar depan kelas. Kelas satu sampai kelas enam memiliki pipa baca masing-masing dan kurang lebih 80 buku yang berhasil dibeli dengan koin tersebut diletakkan secara merata di pipa-pipa baca tersebut setiap hari. 

“Supaya jumlah buku yang kami beli banyak, kami tidak membeli di toko buku yang mahal. Walaupun kualitas kertasnya agak berbeda, tapi isinya bagus,” ujar Listyorini.  

“Untuk mengakomodasi program 15 menit membaca sebelum pembelajaran yang kami laksanakan tiap hari pembelajaran, kami sebenarnya sudah memiliki pojok baca di tiap kelas. Buku-buku di pojok baca, berasal kebanyakan dari siswa. Tiap siswa dulu sebelumnya menyumbang rata-rata satu buku atau lebih secara sukarela. Dengan adanya pipa baca yang terletak di dinding luar kelas dan pojok baca yang ada di dalam kelas, siswa semakin sering terpapar dengan buku. Kemana-mana mereka akan lihat buku.  Kita berharap dengan strategi memapar siswa dengan buku ini, siswa tergerak untuk selalu baca buku,” ujar ibu kepala sekolah Linceria Hutapea.

Awal Mula Program
Program literasi ini muncul setelah kepala sekolah dan guru di sekolah tersebut dilatih program PINTAR Tanoto Foundation tentang manajemen sekolah dan peran serta masyarakat, yang di dalamnya juga berisi menggerakkan program budaya baca. Setelah ikut pelatihan tersebut, pihak sekolah langsung mengundang komite dan orang tua siswa mengadakan rapat untuk menggerakan budaya baca dan program-program lainnya. Komite dan orang tua sepakat menyukseskan program tersebut.

“Pembuatan pipa paralon untuk dudukan baca itu dilakukan oleh orang tua siswa. Mereka juga aktif membantu pada banyak kegiatan yang lain, misalnya pembuatan taman, acara olahraga, halal bi halal dan lain-lain. Ini terjadi setelah komite dan orang tua kami ajak musyawarah secara terbuka. Kami ceritakan kebutuhan sekolah dan keterbatasan sekolah untuk menanggung semuanya,” ujar Rahadiani.

Menurut Mustajib, Communication Specialist Program PINTAR Tanoto Foundation Kaltim, gerakan koin literasi yang dilakukan oleh SDN 020 perlu direplikasi oleh banyak sekolah lain. “Gerakan seperti ini sudah dilakukan oleh beberapa sekolah lain, seperti  MTs Negeri I Balikpapan, MINU Balikpapan dan lain-lain, dan masih perlu direplikasi oleh banyak sekolah lain.  Salah satu hal yang paling penting dalam program menumbuhkan gemar membaca adalah ketersediaan buku yang bervariasi secara terus menerus. Untuk memastikan ketersediaan buku yang banyak dan bervariasi, peran orang tua siswa sangat penting. Mereka perlu diajak bermusyawarah. Sekolah memiliki keterbatasan untuk bisa menanggung semuanya,” ujarnya.

Program PINTAR merupakan program peningkatan pendidikan dasar hasil kerjasama Tanoto Foundation dengan Dinas Pendidikan dan Kemenag. Di Balikpapan, program ini menyasar ke 24 sekolah SD/MI dan SMP/MTs. Budaya Baca menjadi salah aktivitas utama program ini. (HG44),

Temanggung, Harianguru.com - Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) XI LP Ma'arif PWNU Jateng pada Kamis (27/6/2019) resmi ditutup di Graha Bumi Pala Temanggung.

Berdasarkan SK Nomor 12/PW.11/LPM/SK/VI/2019 tentang Penetapan Juara 1, 2, 3 Porsema XI Tingkat Jawa Tengah tahun 2019, Juara Umum 1 LP Ma'arif NU Kudus, Juara Umum 2 LP Ma'arif NU Banyumas, Juara Umum 3 LP Ma'arif NU Jepara.

Dalam sambutannya, Ketua LP Ma'arif PCNU Temanggung H. Miftakhul Hadi menyampaikan bahwa kejuaraan bukan tujuan utama kegiatan Porsema. "Yang tidak juara jangan berkecil hati karena Porsema ini tujuannya untuk silaturahmi," beber dia.

Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng R. Andi Irawan mengatakan bahwa tujuan utama Porsema ada tiga. "Pertama adalah media silaturahim, untuk menyambut persaudaraan warga Nahdliyin. Kedua, menyiarkan bahwa NU memiliki peran besar untuk memberikan sumbangsih pada kemajuan pendidikan di Indonesia khususnya di Jawa Tengah," beber dia.

Data yang kami dapat dari Kemeneg RI beberapa bulan lalu, kata Andi, 95 persen madrasah di Indonesia swasta. "Mayoritasnya adalah miliki NU tentu adalah LP Ma'arif. Jelas ini adalah bentuk nyata peran Ma'arif dalam memajukan mutu pendidikan," kata dia.

Ketiga, memberikan media atas bakat dan minat dalam bidang olahraga dan seni. "Jadi, intinya ada pada nomor satu yaitu menjaga ukhuwah nahdliyah lewat silaturahim," tegas dia.

Pihaknya juga menegaskan, bahwa ke depan perlu kegiatan kontinu berupa penyiapan atlet baik olahraga dan seni di madrasah dan sekolah. "Penyiapan atlet tidak sekadar saat Porsema namun harus ada pembinaan kontinu," ujar dia.

Dalam Porsema XI ini, mengangnat tema Menuju Generasi Emas Aswaja An-Nahdiyah yang Sportif, Kreatif, dan Berkarakter. "Ada tiga kata kunci di sini, yaiti sportif kreatif dan berkarakter. Dalam olahraga dan seni, membutuhkan sportivitas, kreativitas dan karakter. Hal itu kami harap lahir dari Porsema ini sesuai basic dari nilai-nilai pesantren," tandas dia.

Sekda Temanggung, menyampaikan bahwa dipilihnya Temanggung menjadi wahana sosialisasi kearifan lokal dan wisata Temanggung. "Kami bangga Temanggung menjadi Porsema XI LP Ma'arif PWNU Jateng. Ini merupakan wahana sosialisasi karena Temanggung ini kota kecil sebagai kota tengah-tengahnya Jawa Tengah, namun dipilih menjadi tuan rumah Porsema," kata Sekda.

Ia juga mengajak kepada semua peserta Porsema untuk memaknai kesehatan jasmani dan rohani sebagai wahana pembangunan banga.

Selain Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng, Ketua LP Ma'arif PCNU Temanggung dan Sekda, hadir juga Tim SC Panitia Porsema Fakhrudin Karmani dan Ziaul Khaq, Wakil Ketua Panitia Porsema Hamidulloh Ibda, Sekretaris Panitia Porsema Abdulloh Muchib, Bendahara Panitia Porsema Ahmad Muzammil dan ribuan peserta se Jateng.

Wakil Ketua Panitia Porsema Hamidulloh Ibda, mengatakan bahwa dari rekapitulasi perolehan medali, Kudus mendapat 15 emas, 8 perak, dan 5 perunggu. Untuk Banyumas mendapat medali 13 emas, 3 perak, 6 perunggu. "Sedangkan Jepara mendapat medali 12 emas, 14 perak, dan 3 perunggu," kata dia.

Penetapan Juara Umum sesuai dengan perolehan medali emas yaitu Kudus. "Untuk peringat di bawahnya ada Temanggung, Pati, Batang, Pekalongan, Kota Semarang, Grobogan, Wonosobo dan lainnya," kata dia.

Secara resmi, Sekda Suryono menutup kegiatan Porsema pada pukul 10.41 WIB. Kegiatan dilanjutkan penyerahan piala dan penghargaan kepada atlet olahraga dan seni yang juara. (hg98/Irfan).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget