Halloween Costume ideas 2015

Harian Guru

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Latest Post

Banyumas, Harianguru.com - Berbagai pihak terus berupaya melakukan pencegahan penyebaran covid-19 dengan sosialisasi preventif dan penyemprotan disinfektan. Tak terkecuali Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Kabupaten Banyumas yang ikut berperan dalam penyemprotan disinfektan dan pembagian hand sanitizer di sejumlah tempat, Sabtu (28/3/2020).

Hal ini dilakukan mengingat semakin meningkatnya gejala penyebaran covid-19 dan telah diberlakukan lockdown pada tiap kecamatan di Banyumas. Kewaspadaan ini perlu ditingkatkan sebagai antisipasi dini penyebaran virus corona.

“Langkah ini diambil sebagai upaya berkelanjutan dari pencegahan covid-19 yang telah diberlakukan lockdown setiap kecamatan. Misalnya di Kecamatan Kedungbanteng telah didirikan tujuh titik posko gugus tugas pada jalur keluar atau masuk wilayah kecamatan,” kata Ketua LPBI NU Kabupaten Banyumas, Wuryanto Al Maghfuri.

Menurutnya, kondisi ini perlu disikapi oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi sosial kemasyarakatan. Seperti diketahui, LPBI NU menjadi lembaga yang secara struktural-organisatoris sebagai pelaksana kebijakan dan program NU di bidang penanggulangan bencana, perubahan iklim, dan pelestarian lingkungan.

Untuk itu, lanjut Wuryanto, diberlakukannya lockdown pada setiap kecamatan di Kabupaten Banyumas menjadi peringatan serius untuk warga masyarakat agar tidak keluar rumah tanpa alasan mendesak. Sehingga kerjasama dan partisipasi masyarakat sangat diharapkan untuk tetap dirumah, mengurangi aktivitas diluar dan menghindari kerumunan masa.

“Penyemprotan kali ini difokuskan pada tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Baturraden, Purwokerto Utara dan Kedungbanteng. Sasaran yang dituju meliputi masjid, pondok pesantren, madrasah diniyah dan tempat umum lain,” jelasnya.

Relawan LPBI NU Kabupaten Banyumas, Ahmad Musholih menyampaikan intensifikasi penyemprotan disinfektan dan pembagian hand sanitizer merespon perubahan terkini. Kegiatan ini hasil kerjasama dengan Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Banyumas.

“Acara dipimpin oleh Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang NU Kabupaten Banyumas. Relawan secara sukarela bahu membahu membagi hand sanitizer dan mendatangi beberapa tempat untuk disemprot,” terangnya.

Diberlakukannya lockdown, tambah Musholih, menjadi perhatian semua pihak untuk waspada dan saling menjaga. Bagi para pemudik atau pendatang dari luar kota diharap untuk cek kesehatan di puskesmas atau posko yang telah didirikan pemerintah.

“Selain menyemprot dan membagi hand sanitizer, relawan juga menghimbau masyarakat melalui pengeras suara dengan mobil keliling. Meski sederhana, cara ini dianggap lebih menarik dan mendekatkan ke masyarakat,” pungkasnya. (hg88/Musmuallim).

Brebes, Harianguru.com - PKB hadir di tengah-tengah masyarakat, untuk membantu dan menenangkan masyarakat dalam kondisi Covid+19 dengan cara penyemprotan di Pondok  Pesantren, tempat-temat ibadah serta tempat umum lainnya, pihaknya memberikan sabun cuci tangan dan juga hand sanitizer dengan mengandeng DPC untuk terjun ke masyarakat untuk tanggap Covid-19.

Demikian disampaikan oleh Hj. Nur Nadlifah selaku Anggota DPR RI dari Fraksi PKB juga anggota Komisi IX membidangi masalah Kesehatan. Sabtu (28/03/2020).

Nadlifah menambahkan, pihaknya melakukan penyemprotan cairan Disinfektan di empat pondok pesantren, yakni Pesantren Assalafiyah Luwungragi Kecamatan Bulakamba dan Ponpes Assalafiyah 2 Saditan Kecamatan Brebes, Ponpes Al Bukhori Sengon Kecamatan Tanjung, dan Ponpes Al Falah Salafiyah Jatirokeh Kecamatan Songgom.

Saat ini kata Nadlifah, belum ada pengobatan khusus yang efektif untuk infeksi virus corona baru. Vaksin mungkin baru bisa tersedia 18 bulan ke depan (2021).

" Sementara ini, cara terbaik adalah melakukan tindakan pencegahan, yaitu: Sering suci tangan pakai sabun dan air mengalir hindari menyentuh muka, jauhi orang yang menunjukkan gejala (demam, batuk kering, kelelahan), bila Anda mengalami demam, rasa lelah dan batuk kering, segera cari pengobatan, anda dapat menguatkan sistem kekebalan diri dengan melakukan perilaku sehat, seperti olah raga teratur, makan makanan bergizi seimbang, tidak merokok dan memastikan Anda dan anak Anda mendapat imunisasi lengkap, "imbuhnya.

Sementara Pengasuh Ponpes Assalafiyah Luwungragi KH. Subhan Makmun mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh  Anggota DPR RI FPKB, sekaligus DPC-PKB Kabupaten Brebes yang tanggap untuk upaya pencegahan merebaknya virus Corona di Kabupaten Brebes.

" Kunci pencegahan virus corona (COVID-19): Tetap Ikhtiar, Tawakal dan selalu berdoa agar dalam waktu cepat aman dari wabah penyakit, sering suci tangan pakai sabun dan air mengalir, hindari menyentuh muka, jauhi orang yang menunjukkan gejala (demam, batuk kering, kelelahan), bila batuk atau bersin: tutup mulut dan hidung dengan siku terlipat atau tisu yang dibuang langsung ke tempat sampah tertutup setelah dipakai, " pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua DPC PKB Zubad Fahilatah, pihaknya senang dengan kegiatan seperti ini, Intruksi DPP PKB memerintahkan agar penyemprotan Disinfektan ke pondok pesantren dan tempat ibadah, ini awal kami untuk bergerak yakni penyemprotan di 4 Ponpes dilanjutkan tempat lainnya.

Pada acara penyemprotan dihadiri sejumlah pengurus DPC PKB dan tim relawan penyemprotan yang ditugaskan untuk membantu tanggap covid-19. (hg88/BU)

Temanggung, Harianguru.com - Dalam pidatonya, Ketua STAINU Temanggung Dr. H. Muh. Baehaqi menegaskan bahwa virus corona jangan sampai meneror masyarakat. Hal itu diungkapkan dalam wisuda program sarjana STAINU Temanggung, Selasa (17/3/2020).

"Selain problem bangsa yaitu virus corona yang kini meneror umat, kita harus refleksi sejenak, bahwa ada problem mendasar yang dihadapi bangsa ini. Di antaranya mutu SDM, kompetensi, dan literasi yang masih lemah, pengangguran, narkoba, prositusi, degradasi moral bangsa, hingga radikalisme," bebernya.

Corona, menurut Baehaqi, jangan turut dijadikan teroris karena masih banyak musuh bangsa yang harus dihadapi.

"Karakteristik umat Islam di Indonesia sejak kehadirannya sampai dipeluk oleh mayoritas masyarakat, memiliki sifat dasar yang moderat. Pemaknaan moderat di sini adalah tengah-tengah, wasatiyah, tidak terlalu mainstrem kanan dan mainstream kiri. Moderat berarti damai, dapat menerima perbedaan dan terbiasa hidup dalam keragaman. Namun akhir-akhir ini umat Islam Indonesia sering terstigma radikal atau ekstrim," lanjut doktor jebolan UII Yogyakarta itu.

Jika kita kaji secara mendalam, kata dia, sesungguhnya hal tersebut tidaklah benar. Hanya karena kesalahan dari beberapa gelintir orang kemudian masyarakat Islam secara keseluruhan mendapat imbasnya. "Untuk itu mayoritas kaum modernis harus memiliki peran moderasi di negara kepulauan yang luas ini," bebernya.

Sebagaimana kita ketahui, katanya, bahwa kekuatan umat Islam telah terbukti membentuk prinsip kebangsaan yang paripurna, sehingga konsep keIslaman dan keIndonesiaan menyatu dalam dinamika yang terus menerus berproses secara berkesinambungan. "Praktik keIslaman Indonesia atau Islam Nusantara menjelma sebagai watak genuince yang membumi. Maka dari itu menjadi kontra produktif ketika dijumpai sekelompok umat Islam minoritas yang dengan lantang memiliki cara pandang dan tindakan radikal menjurus ekstrem, keras, dan anti terhadap Pancasila maupun bentuk radikalisme lainnya," lanjut dia.

Menurutnya, negara harus hadir untuk memangkas cara pandang hal tersebut. Menata dan meninjau ulang konsep dan strategi kontra radikalisme menjadi langkah awal yang perlu dilakukan. "Semua mafhum bahwa labelisasi terhadap Islam sangat identik dengan radikalisme umat Islam. Namun kebijakan deradikalisasi yang muaranya pada institusi-institusi Islam tidak lantas menjadi pembenaran untuk memusuhi Islam. Konsep moderasi Islam sebagai satu paket utuh dengan moderasi Indonesia dan keindonesiaan dianggap perlu untuk dilakukan secara utuh," tegas pembimbing haji di KBIHU NU Babussalam tersebut.

Baehaqi juga menjelaskan, bahwa Soekarno menamakan negara ini dengan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak lain sebagai entitas untuk membentuk perbedaan diri dalam satu kesatuan. "Pancasila sebagai falsafah dasar (Philosofische grondslag) dan pandangan hidup (Weltanschauung) yang menjadi pusat titik-temu dari seluruh keragaman yang dihimpun dalam jiwa Gotong Royong agar bangunannya berdiri tegak di atas. Titik temu inilah yang menjadi kekuatan moderat di tubuh Indonesia, sehingga dapat disimpulkan Indonesia dengan segala aspek keindonesiaannya yang diikat dan dilandasi Pancasila itu sejatinya berkarakter moderat. Karenanya Indonesia tidak boleh ditarik dan dibelokkan menjadi radikal, ekstrem, dan mengingkari kemoderatan dirinya," bebernya.

Dijelaskannya, meskipun demikian tindakan radikal tidak dapat dilawan dengan radikalisme atau dalam bahasa agama amar makruf harus dengan cara yang makruf dan nahi mungkar harus dengan jalan yang makruf. Maka moderasi merupakan pilihan untuk melawan radikalisme atau ekstremisme. Moderasi Indonesia sesungguhnya merupakan kontinyuitas dari akar masyarakat Indonesia.

"Watak moderat menjadi konsensus nasional dalam bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai titik temu dari segala arus keindonesiaan," lanjut dia.

Sebelum digelar wisuda, pihak kampus sudah melakukan koordinasi dengan Kopetais Wilayah X dan Pemkab Temanggung dan menjalankan instruksi dari pihak-pihak terkait. "Pesan dari Setda Temanggung terkait pelaksanaan wisuda STAINU, harus disediakan hand sanitizer atau tempat cuci tangan dengan sabun antiseptik, tidak ada jabat tangan, jarak antar kursi satu meter, dan menyediakan termogun untuk mengukur panas tubuh, itu sudah kami lakukan untuk antisipasi," kata dia.

Hadir civitas akademika STAINU Temanggung, Sekretaris Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah Dr. H. Ruswan, Sekretaris PWNU Jawa Tengah KH. Hudallah Ridwan Naim Lc, Ketua YAPYINU Drs. H. Nur Mahsun, PCNU Temanggung, perwakilan Pemkab Temanggung, wisudawan dan wali wisudawan, dan berbagai tamu undangan. (Hg44/Hi).

Purbalingga, Harianguru.com - Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jawa Tengah - UNICEF menggelar kampanye inklusi di Gedung PGRI Purbalingga, Sabtu (15/2/2020). Kegiatan ini dihadiri kepala madrasah dan kepala sekolah di Wilayah I yaitu LP Ma'arif PCNU Purbalingga, LP Ma'arif PCNU Cilacap, dan LP Ma'arif PCNU Banyumas, Sabtu (15/2/2020).

Ketua LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan mengatakan bahwa kampanye inklusi itu diikuti 463 kepala madrasah / kepala sekolah dari tiga daerah tersebut.

Kampanye itu dkhadiri juga Ketua PWNU Jawa Tengah Drs. KH. Muhamad Muzamil, Ketua LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan, jajaran PCNU dan LP Ma'arif PCNU dari tiga wilayah, dan tamu undangan dari beberapa unsur.

Pamateri pertama, Kepala MI Ma'arif Keji Kabupaten Semarang, Supriyono. Ia mengatakan untuk menerapkan madrasah/sekolah inklusi, para kepala, guru, dan stakeholders harus mengubah paradigma bahwa pendidikan adalah untuk semua. "Semua anak berhak mendapatkan pendidikan layak, dan tidak ada diskriminasi dalam mendapatkan layanan pendidikan," kata dia.

Sementara pembicara kedua, Wakil Pimred Suara Merdeka sekaligus pengelola SD Cita Bangsa Semarang Triyanto Triwikromo yang menerapkan pendidikan inklusi. Pihaknya menekankan bahwa inklusi tidak sekadar kebutuhan anak berkebutuhan khusus (ABK). "Namun inklusi sebenarnya untuk semua. Maka literasi dasar, tidak hanya soal literasi baca tulis, melek media, namun juga harus melek inklusi," katanya.

Moderator kampanye inklusi, Miftahul Huda juga menekankan bahwa pendidikan inklusi menjadi program penting dan utama dalam kepengurusan LP Ma'arif PWNU Jateng periode 2018-2023 kali ini yang bermitra dengan UNICEF. (Hg76/Ibda).

Klaten, Harianguru.com - Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jawa Tengah - UNICEF menggelar Kampanye Pendidikan Inklusi di Pendopo Kabupaten Klaten, Sabtu (8/2/2020).

Dijelaskan Ketua LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan, bahwa kampanye kali ini di eks Karesidenan Surakarta diikuti 7 kabupaten/kota, yaitu Klaten, Sukoharjo, Surakarta, Sragen, Karanganyar, Boyolali, Wonogiri. "Total peserta kali ini ada 162 kepala madrasah/sekolah yang dipusatkan di Klaten," kata dia.

Koordinator program inklusi Fakhrudin Karmani menjelaskan bahwa program madrasah/sekolah inklusi sudah berjalan lama. "Untuk piloting sudah terlaksana di empat kabupaten di Jawa Tengah. Silakan jika tertarik, madrasah dan sekolah dapat berkoordinasi kami untuk menerapkan pendidikan inklusi yang sudah kami terapkan bersama mitra kami UNICEF," lanjut dia.

Sementara pemateri, yaitu mahasiswa Fakultas Pertanian Univeritas Brawijaya yang juga penyandang disabilitas tuli, Maulana Aditya, dan didampingi penerjemah bahasa isyarat Yanda.

Saat memaparkan materi, Aditya menggunakan bahasa isyarat. Dalam penjelasannya, saat ia sekolah di jenjang SD, SMP, SMA, masih banyak ketimpangan kurikulum atau pembelajaran. Seperti contoh, materi SD namun materinya materi TK. "Ini membuat kami tidak berkembang seperti anak normal lainnya," jelasnya melalui penerjemah tersebut.

Sampai akhir materi, semua peserta sangat antusias menyimak pemaparan materi inklusi dari Aditya yang dimoderatori Education Officer Program Inklusi LP Ma' arif PWNU Jateng Miftahul Huda tersebut.

Selain pengurus LP Ma'arif PWNU Jateng, hadir juga perwakilan UNICEF Supriyono, Ketua PWNU Jawa Tengah Drs. KH. Muhamad Muzamil, Kepala Dinas Kominfo yang mewakili Bupati Klaten, Ketua LP Ma'arif PCNU dari tujuh kabupaten. (Hg89/Ibda).

Semarang, Harianguru.com - Menyelenggarakan pendidikan inklusif tidaklah mudah. Madrasah/sekolah seringkali mengalami kesulitan dalam menerapkan pendidikan yang benar-benar inklusif. Mulai dari kendala warga sekolah atau madrasah yang belum sepenuhnya menerima kehadiran ABK maupun masih belum maksimalnya peran Guru Pendamping Khusus (GPK) di madrasah/sekolah inklusif.

Yang terlebih lagi semangat dari Kepala Madrasah/sekolah terkadang juga tidak sejalan dengan upaya untuk menyelenggarakan layanan yang inklusif.
Demikian disampaikan Supriono, M.Pd, Nara Sumber kegiatan workshop penguatan GPK Madrasah/sekolah Inklusif yang diselenggarakan oleh program kemitraan LP Ma`arif NU Jawa Tengah – UNICEF di MI Ma`arif Keji Ungaran dan SLB Ma`arif Muntilan Magelang pada 3-5 Februari 2020.

Selain Supriono, hadir pula sebagai Nara Sumber Lani Setiyadi, S.Pd dari Yayasan Yogasmara Semarang. Kegiatan penguatan GPK LP Ma`arif NU Jateng diikuti 41 GPK dari 24 Sekolah/Madrasah LP Ma`arif.

“Lingkungan sekitar madrasah/sekolah inklusif harus mengupayankan anak-anak ABK bisa ditangani dan diterima. Seperti tersedianya ruang sumber dan membuat lingkungan yang nyaman ketika anak mengalami masalah. Harus ada arah yang jelas dari tujuan pendidikan untuk anak ABK. Tidak bisa melaksanakan pembelajaran tanpa rencana seperti madrasah harus punya PPI. Sangat penting juga menemukan potensi/bakat ABK supaya mereka PD dan itu bisa menjadi kunci karena dengan PD itu kita mudah mendorong mengasah bakat dan motivasi mereka” demikian ungkap Lani yang juga aktif di komunitas sahabat difabel Semarang.

Miftahul Huda, Education Officer program inklusi LP Ma`arif menjelaskan, bahwa peserta kegiatan penguatan GPK ini hanya tidak sekedar menerima materi dari nara sumber, tetapi hari ke-2 para GPK akan diajak melakukan kunjungan rumah (home visit) ke wali murid ABK dari MI Keji untuk memperoleh pengalaman langsung terkait peran serta orang tua dirumah dalam mendampingi anaknya. Pada Hari ke-3 peserta akan melakukan school visit ke SLB Ma`arif NU Muntilan untuk melihat praktek pembelajaran dan layanan kompensatoris. Dan hari ke-4 GPK akan dilatihkan modul 3 tentang fotbolNet dan ma`arif game.

“jadi setelah kegiatan penguatan ini, kami harap GPK benar-benar menerapkan pengalaman pelatihan supaya semakin yakin dan percaya diri menjadi guru Pendamping ABK di sekolah/madrasah. Dengan demikian madrasah/sekolah penyelenggara pendidikan inklusif akan diterima oleh masyarakat dan mampu mengembangkan potensi diri ABK” ungkap Huda. [Hg44/FK]

Kendal, Harianguru.com - Untuk menghasilkan lulusan yang kompeten, kompetitif dan berkarakter, MKKS SMK NU kabupaten Kendal menyelenggarakan IHT Revitalisasi SMK yang diikuti 267 guru dan pegawai SMK NU se kabupaten Kendal.

Kegiatan berlangsung Sabtu (1/2) di gedung DPRD Kendal. Hadir dalam kegiatan tersebut Mujib Rohmat (anggota komisi X DPR RI), Ahmad Nadhif (Kepala SMK Percontohan NU Ma'arif Kudus) dan Ibnu Darmawan (Ketua LP Ma'arif NU Kendal)

Ahmad Nadhif yang tambil sebagai pembicara menyampaikan bahwa yang terpenting dalam program Revitalisasi adalah revitalisasi SDM. "Komitmen Kepala Sekolah, kompetensi Guru dan instruktur serta support tenaga kependidikan adalah kunci keberhasilan revitalisasi SMK" demikian tuturnya. Ditambahkan langkah berikutnya yaitu penguatan kemitraan dengan Dudi mulai dari singkronisasi kurikulum, magang guru, magang siswa, transfer teknologi dan puncaknya rekruitmen lulusan

Sementara itu Ibnu Darmawan dalam sambutannya menekankan pentingnya karakter bagi lulusan SMK NU. "Dudi saat ini mementingkan karakter atau attitude diatas knowledge dan skill, karena karakter butuh waktu lama untuk membentuknya" melalui pembiasaan sehari-hari disekolah diharapkan karakter tersebut terbentuk

Sedangkan Mujib Rohmat memandang saat ini masih banyak lulusan SMK yang mis match dengan dunia kerja. Pihaknya akan mendorong kementrian pendidikan untuk membantu modernisasi alat praktek siswa agar relevan dengan perkembangan Dudi.

Ahmad Supari Ketua MKKS SMK NU Kendal mengungkapkan saat ini 8 SMK NU di kabupaten Kendal terus berupaya melakukan revitalisasi diantaranya melalui peningkatan kompetensi guru, mengirim guru mengikuti Diklat Asesor, dan menggandeng berbagai Dudi Nasional dan multinasional sebagai mitra SMK.

"Kami sedang persiapan membentuk LSP P2 sebagai lembaga yang akan mensertifikasi lulusan kami, juga mengintensifkan peran BKK Ma'arif untuk membantu lulusan kami memperoleh pekerjaan" demikian terangnya. (Hg77/Hi).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget