Halloween Costume ideas 2015

Harian Guru

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Latest Post

Rapat persiapan Kemah Kebangsaan Sakoma NU Jawa Tengah

Semarang, Harianguru.com - Direncanakan dalam Kegiatan Kemah Kebangsaan Anggota Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’arif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (8-10 November 2019) akan dilasanakan Bedah Syarat Kecakapan Umum (SKU) Pramuka untuk di tambah kompetensi khusus terkait Ajaran Ahlussunah Waljama’ah Annadliyah. Hal itu diungkapkan Ketua Sakoma NU Jateng, H. Shobirin, S.Ag., M.Pd.I, di sela-sela rapat persiapan Kemah Kebangsaan, Ahad (3/11/2019).

“Bedah Syarat Kecakapan Umum (SKU) Pramuka ini rencananya akan kami laksanakan dalam kegiatan Kemah Kebangsaan Anggota Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’rif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah tahun 2019,” ujar H. Shobirin.

Dijelaskannya, SKU hasil kegiatan ini dimaksudkan untuk digunakan bagi semua anggota Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’rif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, kegiatan ini selain merupakan salah satu program Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’rif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah.

“Ini merupakan jabaran program Lembaga Pendidikan Ma’arif PWNU Jawa Tengah juga bentuk ikhtiar pengurus dalam melaksanakan tugas pokok memberikan wadah bagi gugus depan dil ingkungan Lembaga Pendidikan Maarif Nahdatul Ulama untuk menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi peserta didik guna menumbuhkan tunas bangsa agar menjadi generasi yang lebih baik, bertanggungjawab, mampu membina dan mengisi kemerdekaan serta membangun dunia yang lebih baik,” jelasnya.

Dengan kegiatan ini diharapkan Sako Ma’arif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah dapat mewujudkan tujuannya untuk membentuk setiap Pramuka memiliki beberapa karakter. “Pertama, agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup. Kedua, memiliki keyakinan akan kebenaran aqidah Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah,” katanya.

Sesuai rencana, Kemah Kebangsaan akan digelar pada 8-10 November 2019 di kompleks Bumi Perkemahan Candra Birawa Pusdiklatda Jawa Tengah. Ratusan peserta sudah siap mengikuti kegiatan itu dari wilayah Jawa Tengah. (Hg44/HI).

Suasana rapat persiapan Kemah Kebangsaan

Semarang, Harianguru.com – Semarang – Menjelang digelarkan Kemah Kebangsaan Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif (Sakoma) LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah besuk pada Jumat 8 November 2019 sampai Ahad 10 November 2019, jajaran panitia menggelar rapat di kompleks Bumi Perkemahan Candra Birawa Pusdiklatda Jawa Tengah, Ahad (3/11/2019). Hadir sejumlah panitia yang membahas persiapan tersebut. 


Ketua Sakoma NU Jawa Tengah, H. Shobirin, S.Ag., M.Pd.I, mengatakan bahwa persiapan sampai Ahad ini sudah matang. “Sebelum rapat, panitia bidang petualangan penegak pandega telah melakukan survei tempat petualangan di sekitar Curug Lawe dan Curug Benowo serta Desa Kalisidi untuk memastikan lokasi kegiatan penegak pandega berpetualangan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ketua Sakoma NU Jateng dan Waka Binawasa Kakak Drs. H. Sumardi Nurrahman juga turut mendampingi survei lokasi Curug Lawe dan Curug Benowo Kalisidi Ungaran Barat.

Sampai hari ini, rekap jumlah peserta terakhir sejumlah 339 peserta. “Besuk, seluruh panitia akan datang Kamis 7 November  2019 pukul 15.00 WIB. Mulai memasang umbul-umbul kegiatan, bendera pendukung kegiatan, spanduk dan baliho kegiatan  serta perlengkapan lain pendukung kegiatan,” katanya.
Survei lokasi Curug Lawe dan Curug Benowo Kalisidi Ungaran Barat.
“Untuk mendukung kegiatan upacara pembukaan diupayakan ada peserta upacara  dari anggota Sako Ma’arif Wilayah Ungaran yaitu Gudep Sako Ma’arif MI Keji, MTs NU Ungaran, SMK NU Ungaran dan Gudep Sako Ma’arif yang memungkinkan diundang,” lanjutnya.

Direncanakan, akan ada acara tersendiri bagi Ketua Sako Ma’arif NU Kabupaten/Kota yang diundang untuk penguatan organisasi dan sosialisasi program Sakoma NU Jawa Tengah.

“Sehubungan untuk kegiatan Bakti Menanam pohon di lokasi sekitar Curuk Lawe  dianggap  belum sangat perlu untuk saat ini, maka kegiatan Bakti di alihkan bentuk pelepasan burung di alam terbuka Curuk Lawe (bagi peserta) dan tabur benih ikan (bagi Pengurus Sakoma NU Jateng) informasi perubahan dan teknik pengadaan akan di informasikan Sekretaris Panitia kepada kontingen kabupaten/kota,” jelasnya.

Untuk seremonial pembukaan, katanya, disepakati dengan bentuk pelepasan balon udara yang di bawahnya digantungkan kaos kegiatan dan nominal voucer  belanja sebagai hadiah yang menemukan. “Mengingat efektifitas kegiatan kegiatan penguatan Aswaja dan Sakoma NU Jateng Anti Radikalisme dilaksanakan di satu tempat dengan 2 sesi,” katanya.

“Untuk pendukung kegiatan Sakoma NU Jateng Bersholawat diadakan Tambahan Tenda terob di tribun Lapangan upacara sebelah barat sebagai panggung kegiatan. Karena sekitar curuk lawe sinyal HP sangat minim, maka kepada semua panitia diharapkan membawa/ meminjam HT sebagai pendukung komunikasi panitia melaksanakan tugas,” katanya.


Persiapan itu, menurut H. Shobirin sudah hampir 99 persen. Ia berharap, Kemah Kebangsaan itu dapat membangun generasi nasionalis, dan menguatkan ideologi Aswaja Annahdliyah. (Red-HG33/HI).

Kutai Kartanegara, Harianguru.com - Di hadapan 401 Kepala Sekolah SD Negeri dan Swasta se kabupaten Kutai Kartanegara yang hadir pada Rapat Kerja AKSI (Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia) untuk Kabupaten Kutai Kartanegara yang dipusatkan di Kecamatan Sebulu, Bupati Kukar, Edi Damansyah menekankan pada seluruh kepala sekolah untuk menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah yang telah dikenalkan oleh program PINTAR hasil kerjasama dengan Tanoto Foundation. “Manajemen Berbasis Sekolah dari Program PINTAR kerjasama dengan Tanoto Foundation harus diterapkan di semua sekolah,” ujarnya menekankan baru-baru ini.



Manajemen Berbasis Sekolah yang dilatihkan oleh program PINTAR Tanoto Foundation mendorong manajemen sekolah dilakukan lebih professional, transparan dan akuntabel. “Sudah terbukti kalau pelatihan PINTAR tentang manajemen berbasis sekolah  membuat kepala sekolah menjadi lebih efektif dalam kepemimpinan.  Sekolah menjadi lebih transparan, budaya baca diterapkan dan peran serta masyarakat juga makin besar,” ujar Suwarni, Pengurus AKSI bagian Hukum yang juga  Kepala Sekolah SDN 003 Loa Kulu menanggapi seruan bupati tersebut. 



Dalam rapat tersebut, para kepala sekolah yang hadir membahas berbagai isu, misalnya isu keuangan, anggaran untuk peningkatan kualitas guru dan lain-lain. Berkaitan dengan anggaran untuk peningkatan kualitas guru ini, bupati  meminta kepala sekolah menganggarkan dana Boskap untuk mengadopsi pelatihan progam PINTAR kerjasama dengan Tanoto Foundation. Dia juga meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengalokasikan secara khusus anggaran untuk program ini.



Pelatihan Serempak



Di tempat terpisah, Program PINTAR hasil kerjasama Tanoto Foundation, Kemenag dan Pemerintah Daerah lewat Dinas Pendidikan secara serempak melakukan banyak pelatihan pembelajaran. Salah satunya adalah pelatihan Praktik Baik Pembelajaran untuk guru-guru SMP dan MTs berdasarkan mata pelajaran yang dilaksanakan di Grand Elty, Kukar (20 – 23 Oktober 2019). 



Pelatihan kali ini diikuti oleh 52 peserta dari 8 SMP dan MTs mitra program PINTAR. Pelatihan kali ini merupakan pelatihan modul 2 yang lebih menukik lagi membahas pelaksanaan mengajar sesuai dengan karakter mata pelajaran. Mata pelajaran tersebut adalah matematika, IPA, bahasa Indonesia, IPS, bahasa Inggris, dan Literasi Kelas Awal.



Agus Prihantoro, Spesialis Pembelajaran SMP Tanoto Foundation mengatakan bahwa modul dua lebih mengantarkan siswa untuk lebih kreatif. “Pembelajaran yang berkarakter mapel dapat mengembangkan potensi anak. Pada  mapel IPS misalnya, yang dikembangkan adalah ketrampilan berpikir kritis, mengolah informasi dan berperan dalam kelompok, yang semua mengarahkan agar siswa menjadi lebih kreatif” ujarnya menguraikan.



Sedang pada  pembelajaran IPA, ketrampilan yang dikembangkan adalah berpikir secara ilmiah. “Siswa diajak untuk senantiasa mampu memecahkan masalah secara ilmiah, secara logis, dan menemukan jawaban dari setiap persoalan karena kemampuan berpikir ilmiah tersebut,” ujar Agus.



Menurut Agus, salah satu yang menarik dalam dalam modul pembelajaran bahasa Indonesia, menulis cerpen dengan literasi visual. Para siswa diajak untuk melihat gambar dan mendeskripsikan gambar tersebut secara imajinatif untuk membentuk cerita. Ternyata dengan cara tersebut, para siswa mampu menulis dengan panjang-panjang walaupun baru mendapatkan model demikian pertama kalinya. “Ketrampilan menulis menjadi lebih cepat berkembang dengan literasi visual yang dikenalkan pada modul dua kali ini,” ujar Agus menambahkan.



Pelatihan yang sama dilaksanakan di lima provinsi di Indonesia, yaitu Jambi, Jateng, Kaltim, Sumut dan Riau. (HG44).

Suasana  Expo dan Pameran Inklusi
Semarang, Harianguru.com - Bertempat di GOR Wujil Ungaran Kab. Semarang, LP Ma`arif NU Jawa Tengah bersama 4 Madrasah inklusi mitra UNICEF (MTs NU Ungaran, MI Ma`arif Keji, MI Gedanganak, MI Pabelan) mengikuti kegiatan Expo dan Pameran Inklusi di GOR Wujil Kabupaten Semarang, Selasa, 28 Oktober 2019.

Kegiatan tersebut juga dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober. Acara expo pendidikan yang dibuka oleh Bupati Kab. Semarang tersebut melibatkan 70 stand pameran pendidikan mulai dari jenjang pendidikan Dasar, Menengah, dan Sekolah Luar Biasa. Acara expo dan pameran akan berlangsung selama 2 hari, 28-29 Oktober 2019.

Hari pertama kegiatan Expo, Stand Madrasah inklusi menjadi salah satu stand yang paling ramai dikunjungi, tercatat sampai sore hari pukul 16.00 dalam buku daftar hadir, hampir 900 pengunjung mengisi daftar hadir yang disediakan panitia. Sekda Kabupaten Semarang, Kepala Disdikbudpora Kab. Semarang, Kabid Penma Kemenag Kab. Semarang menjadi tokoh-tokoh pertama yang menyempatkan diri hadir di stand LP Ma`arif setelah pembukaan dan memberikan apresiasi yang cukup luar biasa. “Inklusi Hebat” demikian kata Sekda Kab. Semarang Gunawan Wibisono di stand LP Ma`arif.

Selain stand dan pameran inklusi salah satu hal menarik lainnya yang menjadi perhatian pengunjung adalah ditengah-tenga ragam pameran dan expo Madrasah Inklusi LP Ma`arif menampilkan permainan futbolnet, kolaborasi antara anak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan non ABK.

“Di sinilah nilai dari inklusi dan pameran hari ini. Kita tunjukkan bahwa pendidikan inklusi yang dikembangkan madrasah Ma`arif ini akan menjadi contoh dalam setiap pembelajaran di Madrasah/sekolah. Kita mengajarkan kebersamaan dan kesamaan dalam hidup tanpa ada batas dan bulliying. Semoga yang hadir dan melihat permainan ini bisa terprovokasi dan membangkitkan semangat inklusif terutama para pendidik,” ungkap Ratna Andi Irawan, Ketua LP Ma`arif Jawa Tengah di lokasi Expo yang juga didampingi oleh beberapa pengurus Ma`arif Wilayah.

Nada Optimis akan dampak dari kehadiran stand Inklusi ini juga disampaikan oleh Supriyono kepala MI Keji Ungaran. “Bapak/Ibu, stand madarasah inklusi kita banyak diapresiasi yang sangat bagu, meskipun awalnya beberapa orang ragu dan menyangsikan keseriusan dan kemampuan kita. Alhamdulillah kita bisa membuktikan dan banyak yang salut dan mendukung kita. Semua harus all out menampilkan yang terbaik, inshaalloh pesan pendidikan kita akan diterima oleh yang lain,” kata Supriyono kepada semua Tim Inklusi Ma`arif.

Sesuai Jadwal kegiatan, hari ke-dua tim inklusi LP Ma`arif masih akan menampilkan futbolnet dengan model permainan lain. Sehingga diharapkan pada hari ke-dua pameran dan stand madrasah inklusi Ma`arif akan lebih banyak lagi pengunjung dan melihat penampilan kolaborasi ABK dan non ABK. “inilah yang kita sebut kolaborasi tanpa batas,” ungkap Miftahul Huda, education officer program Inklusi LP Ma`arif NU Jawa Tengah. (red-HG99/HI).

Muarakaman, Harianguru.com - 13 Sekolah Dasar di Muara Kaman sekitar enam bulan belakangan ini mulai berubah.  Mereka secara rutin melakukan program membaca senyap selama 15 menit, menjalankan strategi mendekatkan buku pada siswa dengan membangun pojok-pojok baca, taman baca dan lain-lain. Para guru-guru juga menerapkan pembelajaran aktif yang membuat proses belajar menjadi menyenangkan dan siswa semakin betah di sekolah.

Perubahan tersebut tak lepas dari perjuangan seorang pengawas di daerah tersebut. Namanya Pak Ponidi. Sebagai pengawas, ia agak risau melihat guru-guru di bawah pengawasannya  belum mampu membuat perencanaan mengajar dengan baik. “Mengajar itu seperti membuat film yang bagus. Jadinya perlu skenario yang juga bagus. Film yang bagus itu yang mempunyai alur yang menyenangkan, membuat penonton penasaran dan akhirnya  diingat terus menerus. Nah demikian juga mengajar, punya langkah dan proses yang harus membuat siswanya juga demikian. Harus punya skenario yang matang yang mengantar siswa menguasai banyak kompetensi,“ ujarnya, 18 Oktober 2019.

Ia mendapati guru-guru mengopi paste rencana persiapan mengajarnya dari internet, dan jarang membuat sendiri. “Nah kadang juga,  copy paste rencana mengajar itu juga tidak dilaksanakan di kelas. Akhirnya guru mengajar tanpa langkah-langkah yang strategis dan bermakna. Ia hanya mengikuti nalurinya saja,” ujar salah satu Fasilitator program PINTAR Tanoto Foundation ini.

Setelah ia ikut pelatihan PINTAR, pak Ponidi menjadi tahu apa yang harus dilakukan untuk menghapus kecenderungan guru-guru seperti itu. Program PINTAR merupakan program pelatihan yang dikhususkan untuk pendidikan dasar hasil kerjasama antara Tanoto Foundation, Kemenag dan Pemda setempat lewat Dinas Pendidikan.

Ia ingin juga para guru tersebut mendapatkan pelatihan yang menurutnya sangat bermakna. “Dengan pelatihan program PINTAR, kita sebagai pendidik menjadi tahu dengan lebih gampang bagaimana cara membuat rencana persiapan mengajar yang alurnya menarik dan menyenangkan siswa” ujarnya antusias.

Untuk mewujudkan pelatihan itu, ia menghubungi kelompok kerja kepala sekolah dan juga kepala UPTD Muarakaman. Pelatihan tiga hari akhirnya berlangsung sukses dengan menggunakan dana BOS.

Setelah itu, untuk memastikan  pelatihan benar-benar dilaksanakan di sekolah, sebagai pengawas, Ponidi berkeliling melakukan penguatan dan pendampingan.

Ia sering melakukan pertemuan dengan para guru, mereviu kembali materi pelatihan, meninjau RPP, melihat kegiatan guru di kelas, meninjau pelaksanaan budaya baca dan peran serta masyarakat di sekolah. Yang didatangi secara intensif bukan cuma sekolah-sekolah di bawah pengawasannya, tapi semua sekolah yang pernah dilatih. “Pak Ponidi sering sekali datang ke sekolah kami untuk menguatkan pelatihan kemarin, walau sekolah kami bukan dibawah mandat pengawasannya,” ujar Iskandar, kepala sekolah SDN 029 Muarakaman, memberikan kesaksian.

Berkat kerja keras pak Ponidi didukung oleh K3S dan UPTD Muarakaman, dampak diseminasi program PINTAR  mulai tampak di 13 sekolah tersebut.  Di SDN 025, misalnya, orang tua siswa kelas 2 bergotong royong membuat sudut baca dan menghias kelas. Hal yang sama dilakukan oleh SDN 029, yang lebih jauh  menghias setiap bangku kelas dengan taplak meja yang cantik. Di SDN 008, para orang tua siswa membangun taman baca dari Ban Bekas dan menjadi percontohan bagi sekolah-sekolah lain. Bahkan taman Baca di SDN 028, diresmikan langsung oleh Bupati Kutai Kartanegara.

“Saya bersyukur bahwa banyak perubahan nyata di sekolah-sekolah diseminasi program PINTAR. Siswa sekarang lebih suka membaca buku, aktif dan lebih berani tampil ke depan untuk tampil presentasi. Sangat penting mempersiapkan anak didik disini dengan baik, karena kita dekat dengan calon lokasi ibukota negara yang baru,” ujar Ponidi.

Yang paling menyenangkan baginya sekarang, tidak ada guru di sekolah-sekolah tersebut yang download rencana pelaksanaan pembelajaran dari internet. “Mereka bahkan bilang, yang dari internet itu sebenarnya lebih susah dilaksanakan dibanding yang mereka buat sendiri sesuai konteks sekolah,” ujarnya senang. (HG44).


Semarang, Harianguru.com – Pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah, di akhir tahun 2019 akan menggelar Sekolah Menulis Sastra (SMS) #1. Penanggungjawab acara, Hamidulloh Ibda, mengatakan bahwa kegiatan itu diperuntukkan guru dan umum dari semua unsur.

“Program ini merupakan bagian dari tindaklanjut Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) yang sudah kami launching pada bulan ini. Menulis dan mengapresiasi karya sastra menjadi kompetensi penting yang harus dikuasai guru saat ini,” kata penulis buku Senandung Keluarga Sastra tersebut, Sabtu (19/10/2019).

Dalam penjelasannya, ia mengatakan pembicara utama dalam kegiatan pertama kali itu akan menghadirkan Tokoh Sastrawan Asia Tenggara dari eSastera Kuala Lumpur, yaitu Muhammad Rois Rinaldi.

Syarat dan prosedur, yaitu guru semua jenjang dan umum (tidak ada batasan usia), menulis 1 puisi bertema Hubbul Wathan (Cinta Tanah Air), mentransfer infak Rp 100.000 ke nomor rekening BRI. 3741-01-032772-53-3 a.n Ahmad Muzamil.

Peserta mendapatkan fasilitas materi saat pelatihan, 1 buku antologi karya peserta, kudapan, dan sertifikat. Sesuai rencana, tempat kegiatan di Hotel Muria Semarang pada 1 Desember 2019 pukul 09.00 WIB-selesai.

“Kuota Terbatas 100 orang. Konfirmasi ke Khoirun Niam 082276951949 atau Hamidulloh Ibda 08562674799,” kata dia.

Pendaftaran, upload bukti transfer dan pengiriman naskah terakhir 25 November 2019 melalui http://bit.ly/RegistrasiSMS1. (Admin).

Pati, Harianguru.com - Perpustakaan siswi Mathali'ul Falah mengadakan bedah novel karya Elin Khanin yang bertajuk Cinta Sang Abdi Ndalem Jumat(18/10/2019).

Motivasi Elin dalam menulis novel CSAN yaitu bahwa kang/mbak yang mengabdikan dirinya kepada kiainya dengan penuh ikhlas, tentu cinta mereka juga ikhlas.

"Saya ingin menunjukan apabila pesantren mempunyai nilai nilai yang berbeda, apalagi dengan kisah cintanya, dengan terbitnya novel ini saya berharap orang yang membaca akan semakin cinta terhadap orang tuanya, kiainya dan suami/istrinya" jelas Elin muthakhorijat Matolek 2007.

Ahla Kholidah, sebagai moderator mengemukakan apabila orang yang membaca novel Cinta sang Abdi Ndalem, tentu akan melihat Kajen dari sisi yang berbeda, desa kecil yang di huni puluhan pesantren.  Dan lagi mereka yang telah boyong dari Kajen akan sedikit terobati kerinduan nya apabila membaca novel tersebut.

"Kami dari para guru akan memperioritaskan alumni yang telah menjadi penulis untuk bisa bedah di almamater nya, tujuannya sederhana yaitu untuk memberikan motivasi kepada adik adik yang masih mengenyam pendidikan di pesantren," ujar Alek Fauzi

Senada dengan hal itu, Penulis juga berpesan apabila punya cita cita ingin menjadi penulis tentu harus tekun dan lagi tulislah apa yang di dekatmu, apa yang kau kuasai dan kau pahami, sebab menulis itu pembiasan.

Lanjutnya, kedepannya harapan saya akan lahir penulis penulis baru yang terlahir dari pesantren dan kisah cinta dari pesantren. (HG44/K Niam).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget