Halloween Costume ideas 2015

Harian Guru

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Latest Post

Ilustrasi:  Prof. Dr. Barmawy Munthe, MA guru besar UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta saat menyampaikan materi.
Purworejo, Harianguru.com - Prof. Dr. Barmawy Munthe, MA guru besar UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta menyampaikan ada beberapa tugas berat dosen yang harus dilakukan dosen sebelum mengajar.

Baca: Dosen STAINU Temanggung Perkuat Kualitas Metode Pembelajaran

"Sebelum mengajar, dosen harus bisa merumuskan capaian pembelajaran atau kompetensi sebuah mata kuliah yang mengacu pada KKNI-SNPT," kata Prof. Munthe dalam Workshop Metode Pembelajaran yang Merujuk pada KKNI-SNPT yang digelar di Hotel Sanjaya Inn Purworejo, Sabtu (17/2/2018) yang digelar oleh STAIAN Purworejo bekerjasama dengan Center for Teaching Staff Development (CTSD) UIN Sunan Kalijaga.

Workhsop yang digelar sampai besuk Minggu (18/2/2018) ini dihadiri dosen-dosen STAIAN Purworejo dan Tim CTSD UIN Sunan Kalijaga, hadir pula perwakilan dari STAINU Temanggung, dosen-dosen STAINU Purworejo, STAI Al-Husein Magelang dan lainnya.

Selain itu, Prof. Munthe, sapaannya, juga membeberkan bahwa dosen harus mampu mendesain standar isi atau materi pembelajaran satu mata kuliah yang mengacu KKNI-SNPT. "Kemudian menentukan berbagai strategi pembelajaran atau standar proses yang mengacu KKNI-SNPT," beber profesor berkopyah tersebut.

Selanjutnya, mengaplikasikan prinsip dan teknik standar penilaian pembelajaran dan membuat Rencana Pembelajaran Semester atau RPS serta membuat outline atau Satuan Acara Perkuliahan (SAP) untuk satu semester sesuai KKNI-SNPT.

Pihaknya juga menyampaikan pengertian KKNI dan SNPT. Menurut dia, KKNI adalah urusan kualifikasi dan diskualifikasi dari hasil pendidikan. "Kualifikasi lulusan harus jelas. Dan yang membuat kurikulum di tingkat prodi ya prodi itu sendiri," beber dia.

Maka, menurut dia, pengembangan kurikulum KKNI yang disesuaikan dengan visi-misi prodi atau institusi sangat menentukan profil lulusan sebagai produk dari kampus tersebut.

Semua itu, menurut dia sangat berdampak pada capaian pembelajaran lulusan. "Kata kerja operasional menjelaskan, memahami, mengetahui, itu di bawah standar. Kalau level enam di KKNI sesuai taksonomi Bloom yang sudah direvisi itu minimal menganalisis," tegas dia.

Kalau tidak seperti itu, kata dia, harus dibenahi. "Apa jadinya lulusan dari kampus Anda kalau capaian pembelajaran  lulusan tidak jelas," papar dia.

Pihaknya menjelaskan tingkatan level dalam pembelajaran. Menurutnya, yang paling bawah adalah mengingat, kemudian memahami, menerapkan, analisis, evaluasi dan terakhir adalah membuat atau creating.

Selain Prof. Dr. Barmawy Munthe, M.A, hadir pula narasumber dalam kegiatan ini Dr. H. Maksudin, M.Ag, Dr. Sekar Ayu Aryani, M.Ag, Dr. Eva Latipah, M.Si, Diah Ajeng Purwani, M.Si, Dr. Imelda Fajriati, M.Si dan Jauhar Faradis, MA. (red-HG33/hms)

Ilustrasi: Dosen STAINU Temanggung saat foto bersama Ketua Tim CTSD UIN Sunan Kalijaga Dr. H. Maksudin, M.Ag dan Prof. Dr. Barmawy Munthe, MA di sela-sela materi.
Purworejo, Harianguru.com - Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, dua dosen STAINU Temanggung mengikuti Workshop Metode Pembelajaran yang Merujuk pada KKNI-SNPT yang digelar di Hotel Sanjaya Inn Purworejo selama dua hari, Sabtu (17/2/2018) sampai besuk Minggu (18/2/2018).

Dua dosen itu adalah Hamidulloh Ibda dosen dan Kaprodi PGMI dan Husna Nashihin dosen dan Sekprodi PIAUD STAINU Temanggung. Kegiatan ini digelar oleh STAIAN Purworejo yang bekerjasama dengan Center for Teaching Staff Development (CTSD) UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

Narasumber dalam kegiatan ini adalah Dr. H. Maksudin, M.Ag, Prof. Dr. Barmawy Munthe, M.A, Dr. Sekar Ayu Aryani, M.Ag, Dr. Eva Latipah, M.Si, Diah Ajeng Purwani, M.Si, Dr. Imelda Fajriati, M.Si dan Jauhar Faradis, MA.

Saat menyampaikan materi, Dr. Eva Latipah, M.Si mengatakan bahwa workshop metode pembelajaran merujuk KKNI-SNPT ini dimaksudkan untuk berbagi (sharing) pengetahuan dan pengalaman bidang kompetensi pedagogi yang mengacu pada KKNI dan SNPT.

"Tim fasilitator workshop ini adalah Tim CTSD UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Materi yang diberikan merupakan satu alternatif untuk mendesain sebuah mata kuliah secara holistik yang mengacu KKNI-SNPT yang meliputi Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi Pembelajaran, Standar Proses Pembelajaran yang interaktif-partisipatif, dan Standar Penilaian Pembelajaran sesuai prosedur dan teknik yang fair," kata Dr. Eva Latipah, M.Si, Sabtu (17/2/2018).

Dalam kesempatan itu, selain dosen-dosen STAIAN Purworejo dan Tim CTSD UIN Sunan Kalijaga, hadir pula perwakilan dari STAINU Temanggung, dosen-dosen STAINU Purworejo, STAI Al-Husein Magelang dan lainnya.

Dijelaskan Eva, bahwa workshop metode pembelajaran itu berorientasi pada hasil dan sekaligus pada proses. "Untuk itu, semua peserta akan terlibat aktif dalam penerapan teori-teori yang hasil akhirnya adalah karya," beber dia.

Semua peserta, dalam workshop ini langsung diajak simulasi dan wajib mengerjakan tugas dari para narasumber. Mulai dari materi KKNI-SNPT, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi/Materi Pembelajaran, Standar Proses Pembelajaran, Standar Penilaian Pembelajaran, Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dan Outline Mata Kuliah atau SAP. (red-HG33/hms).

Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun (HUT)  ke 64 dan 63, PC IPNU-IPPNU Kabupaten Temanggung menggelar rangkatan acara di komplek kampus STAINU Temangggung yang berakhir Minggu (18/2/2018).



Bertempat di halaman STAINU Temanggung, pada hari Sabtu (17/2/2018) kemarin, peringatan HUT PC IPNU-IPPNU yang ke 64 dan 63 ini mengangkat tema "Pemuda Zaman Now" dengan mengadakan beberapa kegiatan seperti festival band religi, artikel ilmiah, vlog dan seminar pemuda, kesenian daerah Kabupaten Temanggung.



Kegiatan yang dilaksanakan mulai 17 sampai 18 Februari 2018 ini menarik antusiasme warga nahdliyin di wilayah Temanggung dan civitas akademika STAINU Temanggung.



Dalam pembukaan HUT IPNU-IPPNU ini, ini dihadiri oleh Sekda Temanggung, Ketua STAINU Temanggung, Presiden Mahasiswa STAINU Temanggung dan seluruh Ketua PAC IPNU-IPPNU se Kabupaten Temanggung.



Dalam sambutannya, Ketua Panitia M Ulfi Fadli menuturkan kegiatan ini dilakukan agar nantinya dapat meningkatkan sinergitas kader IPNU-IPPNU se Kabupaten Temanggung.



Kemudian, Ketua Panitia juga menuturkan agar kegiatan HUT ini berjalan dengan lancar dengan berpesan agar supaya mengikuti seluruh kegiatan yang dilakukan di acara HUT IPNU-IPPNU ini.



Sementara itu, Wakil Sekda Temanggung Romadhon, menuturkan agar nantinya seluruh kader IPNU-IPPNU  mempunyai sinergitas keilmuan Islam yang tinggi.



Pembukaan acara HUT IPNU-IPPNU ini dibuka secara simbolis oleh Ketua STANU Temanggung, Drs. H. Muh Baehaqi, MM yang dihadiri ratusan hadiran dari berbagai kalangan.



Mereka tampak antusias dengan berselfi, foto-foto dan menyimak festival band di komplek kampus STAINU Temanggung. (red-HG33/kholil).



Oleh: Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.

Penulis adalah Guru SD Supriyadi Semarang


“Ketika saya duduk di bangku SD sampai SMA, jika saya membuat kesalahan, keributan, pasti dijewer guru. Bahkan tak jarang pula guru menyentilkan tuding (penggaris dari bambu) ke badan saya. Teman-teman lain pun mengalami hal yang sama. Dengan hukuman dari guru yang seperti itu, saya merasa takut menjadi anak yang bodoh, saya takut untuk tidak belajar, saya takut menjadi anak yang tidak disiplin, saya takut menjadi anak yang tidak jujur, saya takut menjadi anak yang tidak menghormati guru. Dan, dari rasa ketakutan yang diberikan  oleh sang guru, kini saya pun menjadi seorang guru. Saya selalu berkaca dari guru-guru saya. Beliau lah sosok panutan kemuliaan dari semua profesi”. Ini lah seklumit curahan hati penulis, yang mungkin mewakili sebagian besar kids jaman old.

Walaupun telah mendapat perlakuan sakit secara fisik dan itu hanya sesaat, tapi hubungan murid dengan guru, hubungan orang tua dengan guru tetaplah harmonis. Pada waktu dulu belum ada Undang-Undang Perlindungan Anak, tidak pernah pemberitaan berakhir tragis, guru dihukum, kabar guru diciduk polisi, guru dijeblos ke penjara, guru dipukul orang tua siswa, bahkan guru dianiaya muridnya sendiri hanya karena guru menegurnya. Seperti yang baru baru ini terjadi di Sampang, Madura, seorang guru meninggal setelah dianiaya muridnya yang tak terima ditegur dan dicoret pipinya oleh sang guru. Sungguh sakit hati ini, gemetar badan ini. Lagi, seolah tak ada habisnya penyiksaan terhadap guru.

Satu-satu pergi, satu-satu hilang. Demikianlah pesan “guru BUDI” yang menjadi korban pemukulan hingga akhirnya meninggal dunia akibat ulah muridnya yang duduk di kelas XI di sebuah SMA Negeri di Sampang, Madura.  Postingan terakhir di akun IG abc_isme (Achmad Budi Cahyono), lirik ‘Sendja Djiwa’ seolah menjlentrehkan tentang krisis moralitas murid terhadap gurunya. Satu per satu sikap hormat terhadap guru telah pergi. Satu per satu sopan santun terhadap guru telah hilang. Satu per satu rasa segan terhadap guru pergi lalu hilang.

Pada saat sekarang ini, perilaku dan tindakan murid terhadap guru semakin memprihatinkan. Hampir tidak ada lagi siswa yang berjalan dengan merundukkan badan di depan gurunya, tidak ada lagi murid yang segan dan hormat kepada gurunya. Bahkan pada saat berlangsungnya proses kegiatan belajar mengajar murid tak segan-segan melawan gurunya, mulai dari perkataan sampai pukulan, MIRIS!!.
Jaman modern kini, murid berpikir secara instan, bahwa dirinya adalah sosok yang akan selalu mendapat perlindungan dan terbebas dari kesalahan apalagi hukuman. Bertindak semaunya sendiri tanpa memperhatikan dengan siapa dia berbicara dan bertindak. 

Mungkinkah, dari imbas Undang-Undang perlindungan anak menjadikan murid semakin brutal, arogan dan radikal terhadap gurunya?
Kita tahu, bahwa guru pasti memberikan pendidikan yang terbaik walaupun terkadang perlu jeweran, cubitan dan sentilan dari guru. Dengan adanya UU perlindungan anak tentunya sangat mempengaruhi dunia pendidikan karena dalam undang-undang, anak tidak boleh dipukul dan disakiti. Sering kita amati, murid sekarang tidak segan-segan merokok di depan gurunya sendiri bahkan ada yang berkendara melewati guru yang sedang berjalan kaki tidak berhenti menyapa, terlebih memberi tumpangan kepada gurunya.

Apa Penyebabnya?
Sikap murid-murid dahulu dengan sekarang amat jauh berbeda bagai “langit dan bumi”. Dewasa ini, boleh dikatakan hampir kebanyakan murid kurang menghormati guru-guru di sekolah apalagi di luar sekolah, saat bertemu sang guru.

Berikut ini, menjadi penting untuk kita bersama-sama kembali peduli dan renungkan. Pertama, Orang tua murid itu sendiri. Pada jaman dahulu orang tua murid begitu akrab hubungannya dengan guru-guru. Mereka sentiasa bertegur sapa saat bertemu, orang tua sangat menghormati guru, bahkan tak jarang, hanya sekedar berkirim “salam” untuk guru yang dititipkan melalui anaknya.  Sekarang di jaman serba modern ini, keadaan seperti ini tidak berwujud lagi. Dahulu orang tua murid senantiasa menempatkan guru berada di pihak yang benar jika guru menghukum anaknya, karena orang tua menyadari guru pasti memberikan pendidikan terbaik, tidak mungkin guru memberi hukuman jika muridnya tidak melakukan kesalahan.

Pada masa sekarang, sebaliknya, guru yang selalu disalahkan, jika guru menghukum murid dengan jeweran atau cubitan. Bagi orang tua, mereka menutup rapat mata dan telinga mereka dan lebih berpihak kepada anak-anak serta menyalahkan guru.

Kedua, Faktor perkembangan IT. Dahulu guru adalah satu-satunya sumber ilmu jika dibandingkan jaman modern yang serba canggih ini. Sekarang,  murid bisa mendapat ilmu dari pelbagai sumber seperti dari TV, berbagai media cetak dan terbaru sekali ialah melalui internet. Murid menjadi  merasa sok tahu dan lebih tau dari gurunya. Jika ini menjadi satu dari penyebabnya, kita sebagai guru harus semakin aktif di dalam mengakses ilmu pengetahuan dan berita terbaru.

Ketiga, Kedudukan guru yang semakin goyah di masyarakat. Pada masa dahulu guru adalah profesi yang amat dihormati di masyarakat. Jika ada suatu acara di daerah misalnya, gurulah yang memainkan peran utama. Guru-guru jaman dahulu akan duduk di barisan berdampingan dengan jabatan penting di daerah itu. Keadaan sekarang sudah berubah. Pada masa ini posisi telah diambil alih oleh elit politik yang berkepentingan hingga artis.

Pekerjaan guru adalah satu pekerjaan yang mulia, yang sekarang ini dipandang sebelah mata. Undang-Undang perlindungan anak seolah menjadi senjata murid yang minim etika terhadap gurunya. Menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah seharusnya, sebagai pihak yang berwenang atas muatan yang dibuat. Kedudukan guru di berbagai lapisan keluarga hingga masyarakat perlu dipulihkan. Cara-cara ini menjadi solusi yang dapat memberikan kesadaran kepada murid-murid agar kembali menghormati gurunya. Satu-satu pergi, satu-satu hilang, semoga tidak ada lagi ‘guru budi’ yang pergi dan hilang. (hg8)

Suasana Wisuda Program Sarjana ke XXIII STAINU Temanggung, Selasa (13/2/2018).
Temanggung, Harianguru.com - Dr. Nurul Huda perwakilan dari Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) mengatakan bahwa banyak peran LPTNU yang harus dipahami perguruan tinggi NU.

"LPTNU itu dibentuk saat Muktamar NU di Jombang. Kalau dulu namanya Lajnah NU. Tugasnya, mendirikan dan pembinaan perguruan tinggi NU," beber dia dalam Wisuda XXIII STAINU Temanggung," Selasa (13/2/2018) di Gedung Pemuda Temanggung.

Dari awal, kata dia, ada 31 perguruan tinggi baru yang tumbuh dari Jakarta, Medan dan sampai ke Timur.

"Selain pendirian, kami mendorong perguruan tinggi ilmu ekonomi menjadi sekolah tinggi agama Islam. Nah kalau yang sudah menjadi sekolah tinggi ilmu agama Islam NU, kita dorong menjadi institut atau universitas," beber dia yang mewakili Prof Dr. KH. Mujahidin dalam forum tersebut.

Syarat menjadi institut, kata dia, hanya enam saja. "Nah, STAINU Temanggung ini sudah enam prodi. Makanya ini nanti kita dorong untuk segera berubah menjadi INISNU," beber dia.

Kita mendorong atas perubahan itu untuk meningkatkan akreditasi. "Kalau kemarin STAINU sudah mendapat akreditasi B, maka besuk harus dapat A. Mudah-mudahan dorongan ini menjadi ikhtiar untuk kemajuan pendidikan tinggi di NU," kata dia.

Dalam wisuda itu, hadir perwakilan LPTNU, PWNU Jawa Tengah, PCNU Temangggung,  BPPPTNU Temanggung, Prof Dr H Muhibbin Noor, MA, Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga yang mewakili Bupati Temanggung,

Hadi pula perwakilan dari Bank Jateng dan Bank Syariah, tamu undangan dari Kodim, Polres, SKPD dan pejabat Temanggung yang hadir. Hadir pula para anggota Senat, kiai, alim ulama, orang tua dan wisudawan, civitas akademika STAINU Temanggung. (red-hg44/hms).

Suasana Wisuda Program Sarjana ke XXIII STAINU Temanggung
Temanggung, Harianguru.com - Prof Dr H Muhibbin Noor Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah, mengatakan bahwa hidup di zaman now ini, lulusan S1 harus melanjutkan studi lanjut yaitu S2 atau magister.

"Zaman now, S1 itu belum apa-apa. Sekarang ya minimal S2, jangan puas dengan apa yang didapat," kata Rektor UIN Walisongo Semarang itu dalam Wisuda XXIII STAINU Temanggung di gedung pemuda Temanggung, Selasa (13/2/2018).

Kalau tidak bisa S2, kata dia, ya yang penting membaca, membaca dan lakukan pembelajaran di lembaga non formal.

Dalam wisuda itu, hadir perwakilan LPTNU, PWNU Jawa Tengah, PCNU Temangggung,  BPPPTNU Temanggung, Prof Dr H Muhibbin Noor, MA, Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga yang mewakili Bupati Temanggung,

Hadi pula perwakilan dari Bank Jateng dan Bank Syariah, tamu undangan dari Kodim, Polres, SKPD dan pejabat Temanggung yang hadir. Hadir pula para anggota Senat, kiai, alim ulama, orang tua dan wisudawan, civitas akademika STAINU Temanggung. (red-HG22/hi)

Anak-anak TK IT Mutiara Hati saat di Museum Dirgantara
Harianguru.com - Dalam perkembangan anak, tidak melulu berorientasi pada kecerdasan intelektual, namun juga emosional dan spiritual. Apalagi, bagi mereka yang masih duduk di bangku TK/PAUD. Mereka sangat membutuhkan kegiatan di luar dengan spirit belajar dan bermain.

Oleh karena itu, TK IT Mutiara Hati Parakan, Temanggung, melalukan Rilah Jauh ke Museum Dirgantara Yogyakarta pada Rabu, 8 Februari 2018 dalam rangka melejitkan kecerdasan emosional pada anak didik mereka.

Anak-anak tersebut, bersama guru berangkat pukul 07.00 WIB dari depan Kantor Kawedanan Parakan menuju lokasi Museum Dirgantara Yogyakarta. Dalam kegiatan itu, anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan Rilah dengan tema pesawat tersebut.

Rhindra Puspitasari, M.Pd komite TK IT Mutiara Hati Parakan yang juga dosen Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAINU Temanggung, kegiatan Rilah tersebut dapat meningkatkan kecerdasan emosi anak. 
Anak-anak TK IT Mutiara Hati saat di Museum Dirgantara

"Kegiatan seperti ini sangat membantu akselerasi pertumbuhan anak, terutama kecerdasan emosional. Mereka juga sejenak menyegarkan pikiran karena lama belajar di sekolah," kata dia kepada Harianguru.com pada Minggu (11/2/2018).

Pihaknya menjelaskan, pengalaman baru dan perasaan gembira anak saat mengikuti kegiatan Rilah adalah salah satu hal yang ptg dalam pembentukan kecerdasan emosi anak.

"Memahamkan anak atas emosi dasar manusia sangat penting dan harus dilatihkan. Melalui Rilah hal baru dan perasaan gembira, anak-anak akan mudah mendapatkan kegembiraan dan anak akan belajar bagaimana mengelola emosi bahagia," jelas anggota Lembaga Penjamin Mutu (LPM) STAINU Temanggung itu.

Rindra juga membebeakrna, bahwa Rilah dilaksanakan oleh TK IT Mutiara Hati Parakan dengan menggunakan 4 bus pariwisata dengan tujuan ke Museum Dirgantara dan Pandawa Water World di Solo. "Kurang lebih ada jumlah peserta dan wali murid serta crew sekitar 200-an," ujar Rindra. (HG33/ibda).

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget