Halloween Costume ideas 2015

Harian Guru

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Latest Post


Temanggung, Harianguru.com
- Sebagai perguruan tinggi milik Nahdlatul Ulama, Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung diharapkan dapat berkonstribusi dalam mengembangkan moderasi beragama.


Harapan tersebut disampaikan Agen Raharjo dari Badan Intelijen Negara (BIN) saat bersilaturahmi dengan pengurus dan pejabat INISNU Temanggung pada Jumat (24/9/2021) di ruang rektorat.


Dalam pertemuan tersebut juga digagas adanya Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan para pimpinan Ormas dan lembaga untuk membahas internalisasi dan implementasi gerakan moderasi di masyarakat terutama di kalangan muda. 


"Problematika berkembangnya radikalisme dan di kalangan muda disebabkan karena pemahaman keagamaan yang sempit," jelas Sekretaris Badan Pelaksana Penyelenggara INISNU H. Mahsun.


Selanjutnya dijelaskan bahwa perlu ada internalisasi nilai moderasi melalui kajian keagamaan di sekolah dan kampus dengan narasumber yang tepat.


Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Muh Syafi' di kesempatan itu juga mengharapkan agar BIN menjadi mitra strategis INISNU untuk program kewaspadaan dini.


Hal itu diperkuat lagi dengan keterlibatan dosen dan mahasiswa INISNU dalam pengawalan moderasi beragama dalam penelitian. Selain itu PJs Wakil Rektor I Hamidulloh Ibda juga aktif sebagai Ketua Bidang Media, Hukum dan Humas Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah yang selalu mengikutsertakan mahasiswa dalam kegiatan kontra narasi dan deradikalisasi. Seperti melalui webinar dan memasukkan perlombaan dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).


"Kampus kami siap menjadi agen untuk Mendesiminasi program cegah tangkal radikalisasi," katanya.


Pihak BIN dalam kesempatan tersebut juga mengapresiasi kepada INISNU dan KBIHU Babussalam Nu yang ikut mensukseskan vaksinasi yang diselenggarakan oleh BIN dan Pemkab Temanggung. (HG44).


Temanggung, Harianguru.com
- Dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Kegurun INISNU Temanggung melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) hibah Diktis Kemenag RI tahun 2021 dengan Ketua Tim Hamidulloh Ibda dan anggota Andrian Gandi Wijanarko.


Pada tahap pertama ini yang mengangkat tentang Moderasi Islam melalui Webinar Penguatan Kurikulum Aswaja Annadhliyah LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah dalam Mencegah Radikalisme Agama pada Jumat, (24/09/2021) 


Turut hadir dalam kesempatan itu, Pjs Wakil Rektor I, Hamidulloh Ibda, M.Pd, Pjs Kaprodi PGMI, Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd, Pemateri I, II, dan Guru MI, SD, Kepala MI, pengurus LP Ma'arif NU sebagai peserta Webinar.


Kegiatan tersebut menghadirkan Koordinator Tim Penyusun Kurikulum LP Maarif PWNU Jawa Tengah Abdul Khalim, M.Pd., dan Pjs Kaprodi PAI INISNU Temanggung Sigit Tri Utomo, M.Pd.I, yang menjadi pemateri dalam acara yang diikuti oleh 25 peserta yang berasal dari Temanggung, Magelang dan Purworejo. 


Dalam Sambutanya, Pjs Wakil Rektor I, Hamidulloh Ibda, M.Pd., menyampaikan tujuan kegiatan PkM. Dijelaskannya, PkM tersebut merupakan hibah dari bantuan Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2020 yang terlaksana tahun ini karena recofusing Covid-19.


“Kegiatan ini kami harapkan mampu memberikan manfaat bagi peserta dalam menganalisis kurikulum Aswaja Annadhliyah. Setelah selesai webinar ini kami harapkan seluruh peserta dapat mengikuti rencana tindak lanjut untuk membedah kurikulum dengan pendampingan bapak Abdul Halim, M.Pd, dari LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah. Kemudian pada tahap dua nanti kita laksanakan secara tatap muka terbatas yang menghasilkan kurikulum Aswaja Annahdliyah atau Ke-NU-an jenjang MI," beber dia.


Kegiatan dilanjutkan kegiatan webinar yang dimoderatori oleh Novia Sari Melati. Dalam kesempatan itu, Pemateri I, Sigit Tri Utomo, M.Pd.I menyampaikan Telaah Kurikulum PAI MI dan Muatan Moderasi Beragama. 


Selanjutnya, Pemateri II, Abdul Halim, M.Pd Bedah Kurikulum Ke-NU-an dan Aswaja Annadhliyah LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah. Kegiatan diakhiri setelah koordinasi terkait rencana tindak lanjut setelah webinar ini yang dipandu oleh Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd. (adm)


Lombok, Harianguru.com - Direktorat GTK Kementerian Agama RI melalui program komponen 3  MEQR (Madrasah Education Quality Reform) menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Pendidik Inklusif di Hotel Holiday Resort Lombok Barat NTB pada tanggal 18 s.d 24 September 2021.


Hadir sebagai narasumber Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd. selaku Kasubdit Bina Guru dan Tendik RA GTK Madrasah, dengan materi regulasi pendidikan inklusif di direktorat jenderal pendidikan Islam.


Disela-sela pelatihan para peserta mendapatkan tugas observasi, wawancara dan penelitian implementasi pendidikan inklusif di MI NW Tanak Beak Narmada Lombok Barat NTB pada tanggal 23 September 2021, kegiatan ini juga didampingi oleh Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd. dan pengurus Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) Pusat. Kedatangan Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd. beserta rombongan disambut meriah oleh ketua Yayasan, Kepala Madrasah, dewan Guru dan peserta didik MI NW Tanak Beak.


Kepala MI MW Tanak Beak Hj. Nurimin, S.Pd. dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang dan rasa haru yang tidak terkira atas kehadiran Kasubdit Bina Guru dan Tendik GTK beserta rombongan, beliau juga menyampaikan dalam ungkapannya bahwa pelaut yg ulung tidak berlayar di laut yang tenang, jangan sampai menolak anak yang ingin belajar, apapun latar belakangnya, apapun kondisinya, dan pahala itu tergantung jerih payahnya seseorang. setelah itu sambutan dilanjutkan oleh Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd, beliau memberikan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya pendidikan inklusif di MI NW Tanak Beak, beliau berpesan agar terus berjuang dalam memberikan pelayan inklusif untuk anak-anak PDBK, "sebagai seorang pelaut, jangan pernah mundur jika ada badai yang menerjang" imbuhnya.


Setelah pembukaan, Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd dan peserta pelatihan meninjau secara langsung implementasi pendidikan inklusif menuju ke ruang sumber dan beberapa ruang kelas, dalam observasi peserta dibagi menjadi tiga kelompok, 1). Kelompok Akademik, 2) Kelompok Manajerial, 3) Kelompok Layanan Komensatoris, tugas dari masing-masing kelompok membuat laporan berupa vlog durasi 5 menit. Kegiatan ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dari Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd, Ketua FPMI Pusat dan Bendahara FPMI Pusat.


Pelatihan Penguatan Pendidik Inklusif ditutup bersamaan dengan Pengukuhan Pengurus FPMI NTB, yang dihadiri oleh Direktur GTK Madrasah Dirjen Pendis Dr. Muhammad Zain, Dewan Penasehat FPMI NTB Ir. H. Lalu Winengan, MM. dan Dewan Pakar FPMI NTB Dr. H. Lukman Hakim, M.Pd. melalui virtual, dan hadir secara langsung Kasubdit Bina Guru dan Tendik GTK RA Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd.


Pengurus FPMI NTB dikukuhkan secara langsung oleh Ketua FPMI Pusat, Supriyono, S.Pd.I., M.Pd. didampingi oleh Maskanah, MPd, selaku Ketua I FPMI Pusat, dan bertugas sebagai Pembacaan SK Erwan Hermawan, S.Pd.I., M.Pd, selaku Sekretaris II FPMI Pusat. Adapun pengurus yang dikukuhkan ketua umum Mahruf, S.Pd. M.Pd.I, wakil Ketua H. Ahmad Mujahidin, B.Ed., M.Pd., Sekretaris Ilham Prakoso, Bendahara Dr. Mira Mareta, MA. Bersama pengurus lainnya.


Berita acara pengukuhan ditandatangani oleh Ketua FPMI Pusat selaku yang mengukuhkan, ketua FPMI NTB selaku yang dikukuhkan dan Dra. Hj. Siti Sakdiyah, M.Pd sebagai saksi dalam pengukuhan tersebut.


Sebagai penutup kegiatan pelatihan Penguatan Pendidik Madrasah Inklusif, Direktur GTK Dirjen Pendis, Dr. Muhammad Zain, M.Ag menyampaikan bahwa dalam mengelola madrasah terutama pendidikan inklusif harus didasarkan dengan cinta, segala sesuai yang dilakukan dengan cinta akan berbuah kebaikan. (HG44).

Suasana penyusunan modul di Surabaya

Surabaya, Harianguru.com
- Madrasah memiliki kekhasan tersendiri dalam proses pembelajaran. Kekhasan pembelajaran madrasah bukan saja terletak pada jumlah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab yang jauh lebih banyak dari pada di sekolah, namun justru pada nilai-nilai yang mewarnai proses pembelajaran dan penilaian. Nilai-nilai inilah yang akan diperkuat implementasinya dalam proses pembelajaran di madrasah. Hal ini disampaian Direktur KSKK Madrasah Moh. Ishom secara virtual jarak jauh.

"Madrasah adalah sekolah umum bercirikhas agama Islam. Jadi, dengan demikian lulusan madrasah sama dengan lulusan sekolah dengan nilai tambah tertentu. Nilai tambah tersebut berupa kedalaman pemahaman, penerapan dan internalisasi bahkan transformasinya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan sehari-hari. Cara berpikir, bersikap dan bertindak insan madrasah diwarnai dengan nilai-nilai agama Islam," imbuhnya.

Untuk memperkuat nilai-nilai tersebut dalam proses pembelajaran, Kementerian Agama RI melalui Direktorat KSKK Madrasah menyusun modul pendampingan implementasi pembelajaran PAI dan Bahasa Arab (Angkatan I) di Surabaya pada 22 sampai 24 September 2021.

Dalam sambutan laporannya, Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi pada Direktorat KSKK madrasah, Ahmad Hidayatullah menyampaikan, bahwa  modul ini akan disusun secara berbeda sesuai karakteristik mata pelajaran. Asumsinya adalah, bahwa mengajarkan fiqih tentu berbeda dengan bagaimana mengajarkan mata pelajaran aqidah. Demikian juka berbeda cara mengajarkan akhlak, apalagi Bahasa Arab. Karena katakteristik mata pelajaran berbeda. Perbedaan ini berkonsekwensi adanya perbedaan metode, pendekatan dan teknik pembelajarannya.

Tidak hanya itu, modul juga diperkaya dengan konten yang mengimplementasikan pembelajaran abad-21, berbasis literasi dan moderasi beragama. Demikian disampaian Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi pada Direktorat KSKK madrasah.

Kegiatan ini diikuti oleh para penyusun modul dari unsur praktisi pendidikan yaitu guru, pengawas dan kepala madrasah, serta unsur akademisi dari perguruan tinggi sesuai bidang keahlian masing-masing, baik ahli konten maupun metodologi dan teknologi pembelajaran.

Diharapkan output rangkaian kegiatan ini akan menghasilkan 22 modul sesuai mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab pada setiap jenjang madrasah. Buku-buku tersebut antara lain; Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Fikih, SKI dan Bahasa Arab untuk jenjang MI, MTs dan MA. Adapun modul pendampingan khusus mata pelajaran MA peminatan/ program Keagamaan antara lain; Tafsir, Hadits, Akhlak-Tashawuf, Ilmu Kalam, Usul Fikih, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Nahwu-Sharaf, dan Balaghah. Rangkaian penyusunan modul dilakukan secara bauran antara kegiatan daring dan luring dalam semua tahapannya.

Diharapkan modul pendampingan ini akan merubah suasana pembelajaran di madrasah lebih hidup, berkembang dan diwarnai nilai-nilai religiusitas. Yaitu suasana kebatinan yang diwarnai nilai-nilai agama Islam moderat dalam cara berpikir, bersikap dan bertindak para guru, kepala madrasah, pengawas, peserta didik dan warga madrasah lainnya. (Red-Hg99/ImamBk).


Kalsel, Harianguru.com - Forum Pendidik Madrasah Inklusi (FPMI) Kalsel bekerjasama dengan beberapa Madrasah di kota Banjarbaru, kota Banjarmasin dan kabupaten Banjar  telah melaksanakan kegiatan sosialisasi  madrasah inklusi perdana di RA Al Hikam kota Banjarbaru dengan kegiatan parenting yang mengusung tema “Membangun Pengasuhan Positif Anak Usia Dini di Masa Pandemi“ pada hari selasa, 14  September 2021.

Kegiatan ini dihadiri oleh Bu Husnul khotimah,Sp  selaku praktisi Pendidikan inklusi, Bu Hj. Hernita M.Pd.I selaku pengawas Madrasah kota Banjarbaru,Khairul umatin ida cahya nirwana selaku peserta TOT FASNAS perwakilan Kalsel,Bu Siti Aisyah,S.Ag.I selaku Kepala RA Alhikam dan Bu Linda Yani Pusfiyaningsih ,S.Psi,M.Si, selaku  narasumber kegiatan parenting  kegiatan ini juga di hadiri oleh beberapa mahasiswa PKL STAI Darussalam.

Kegiatan ini di lakukan mulai pukul 09.00 WITA sampai  dengan  11.00 WITA. Sebelum kegiatan berlangsung  di bagikan form cek list tentang perkembangan anak kepada peserta parenting dalam hal ini adalah ortu /wali murid RA Alhikam. Acara ini di awali dengan pembukaan oleh Ibu Husnul khotimah selaku praktisi pendidikan inklusi . Kemudian di lanjutkan dengan sambutan yang di sampaikan Ibu Hernita selaku pengawas Madrasah kota Banjarbaru dan di lanjutkan dengan Ibu  Linda Yani Pusfiyaningsih ,S.Psi,M.Si selaku narasumber kegiatan Parenting.

Selama kegiatan berlangsung peserta parenting sangat antusias  dan aktif  berdiskusi tentang pola asuh anak terutama di masa pandemi ini dari beberapa pertanyaan hampir seluruh peserta mengeluhkan anaknya mengalami tantrum dalam mengerjakan tugas daring dari sekolah.Kegiatan ini di tutup dengan bimbingan identifikasi awal untuk  guru – guru RA  Alhikam berdasarkan form cek list perkembangan anak yang telah di bagikan.Kegiatan ini akan lanjutkan  ke madrasah – madrasah di kota banjarbaru,kabupaten Banjar dan Kota Banjarmasin.Dengan harapan Pendidikan inklusi di lingkungan madrasah mendapat respon positif dari penentu kebijakan dan masyarakat umum. (KP33).


Jakarta, Harianguru.com
- Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI menggelar Training of Trainer (ToT) Pendidikan Inklusif berbasis Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI) Seri-7 pada Rabu (8/9/2021) via Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui Youtube GTK Madrasah Channel. ToT seri-7 ini mengangkat tema Sistem Monitoring, Evaluasi Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif Berbasis GEDSI.

 

Dalam pengarahannya, Kasubdit Kurikulum Dan Evaluasi Direktorat KSKK Madrasah Kemenag RI Dr. Ahmad Hidayatullah, M.Pd., menyampaikan peluang-peluang kebijakan kurikulum inklusif di madrasah. Pihaknya menyampaikan pengembangan kurikulum inklusif di madrasah.

 

"Tampaknya kita perlu melakukan pembahasan intensif terkait pengembangan kurikulum inklusif di madrasah. Masalah pendidikan inklusi ini sebenarnya sudah lama digaungan, namun membutuhkan upaya sendiri untuk meletakkan paradigma ini kepada semua lini level pembahasa, pengambil kebijakan di satuan pendidikan termasuk di madrasah," bebernya yang dimoderatori Dr. Yeni Sri Wahyuni Rangkuti, S.Pd., MA.

 

Dijelaskannya, bahwa target dalam pengembangan kurikulum dimimpikan pengembangan program pembelajaran yang memastikan terwujudnya Gender Equality/Kesetaraan Gender, Disability/Disabilitas and Social Inclusion/Inklusi Sosial (GEDSI) di madrasah. "Tentunya ini tidak bergerak sendiri di Direktorat KSKK, selalu melibatkan dalam kaitan sarpras, kelembagaan dan kesiswaan," lanjutnya.

 

Pihaknya menjelaskan soal cara mewujudkan GEDSI dalam perspektif pengembangan kurikulum. "Kita sudah banyak melakukan upaya-upaya penyelenggaraannya. Terkait dengan GEDSI untuk ditegakkan, ini merupakan tantangan tersendiri di tengah keragaman bangsa Indonesia. Di Kementerian Agama, konsep ini tidak beda dengan dengan moderasi beragama. Walaupun ada beragamanya, namun moderasi beragama memberikan ruang kebijakan untuk bisa mendorong bagaimana upaya-upaya yang menghormati keberagaman, kebhinekaan, dan sebagainya," lanjutnya.

 

Di dalam target pengembangan kurikulum pendidikan inklusif di madrasah hanya satu, lanjutnya, yaitu meleburkan skat-skat, perbedaan-perbedaan, diskrimasi dalam gender, geografi, kemiskinan, akses internet, migrasi, bahasa, budaya, suku bangsa, kemudian disabilitas itu bisa diatasi.

 

"Dalam bahasa saya meleburkan skat-skat tersebut dalam pembelajaran di madrasah, ini bukan bicara sederhana, namum meleburkan skat-skat untuk mewujudkan interkoneksi yang cukup luas, cukup harmonis, untuk bisa membawa anak-anak kita ke dalam pemahaman yang general di dalam menyikapi keanekaragama ini ternyata kalau kita kaji secara dalam membutuhkan kesadarana dan pehamahan kita secara jeli, pernik-perniknya begitu dalam," lanjutnya.

 

Pihaknya berharap, kepada guru dan stakeholders di madrasah untuk bisa mengimplementasikan paradigma tersebut. "Kita bisa beropini, namun dalam pelaksanaannya terkadang susah dilakukan. Mengapa? Seperti sudah saya katakan tadi, program-program pendidikan inklusi sudah lama digaungkan, namun perlu keterlibatan kita secara massif dan juga kesadaran kita," tegas dia.

 

Dalam Kebijakan Kurikulum dan Evaluasi, agar guru-guru bisa menyikapi keanekaragaman siswa, sudah ada beberapa regulasi. Mulai dari jenjang RA: KMA 792 Tahun 2018, PAI Madrasah: KMA 183 Tahun 2019, Implementasi Kurikulum: KMA 184 2019, Supervisi Pembelajaran: KMA tentang Supervisi Pembelajaran.

 

Maka dari itu, ada beberapa agenda yang dilakukan. Pertama, panduan kurikulum akomodatif dalam mengimplementasikan kurikulum yang mengarusutamakan GEDSI. Kedua, panduan identifikasi dan assesmen fungsional bagi Peserta Didik Berkebutuan Khusus (PDBK). Ketiga, pedoman program pembelajaran individual/SKS ( PPI). Keempat, pedoman pembelajaran dan penilaian akomodatif. Kelima, panduan pengembangan strategi dan media pembelajaran inklusi. Keenam,  juknis monitoring, evaluasi, pelaporan dan penjaminan mutu internal. Ketujuh, pengembangan budaya inklusif di madrasah.

 

Di akhir sambutan, ia berharap agar semua elemen konsisten menjalankan perjuangan pendidikan inklusif di madrasah. Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi dari para narasumber. Pertama adalah Dewan Pakar FPMI Pusat/Ketua Umum Lintang Samudra Edukasi Yayasan MDP Indonesia Drs. Dedy Kustawan, M.Pd., yang menyampaikan materi Kebijakan Dan Konsep
Monitoring Dan Evaluasi Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Berbasis Gender, Disabiltas, Dan Inklusi Sosial. Kedua, Pengurus FPMI Kemenag Pusat Maskanah, S. Ag. M. Pd., yang menyampaikan materi Mekanisme Pelaksanaan Sistem Monitoring, Evaluasi Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif Berbasis Gender, Disabilitas, Dan Inklusi Sosial yang dimoderatori Pengawas Madrasah Kankemeneg Kabupaten Bone Akmal, S.Ag., M.Pd.I.

 

Deputy Director Learning INOVASI Feiny Sentosa dalam kesempatan itu mengatakan selamat atas terlaksananya ToT sejak April seri-1 sampai dengan September 2021 seri-7 yang merupakan sesi akhir. "Pelatihan ToT biasanya merupakan langkah awal untuk mendiseminasikan atau meneruskan pelatihan selanjutkan diteruskan kepada praktisi, guru atau kepala madrasah yang justru akan melaksanakan apa yang dilatih di madrasah-madrasah mereka," bebernya.

 

Tugas ke depan, pihaknya berharap para Fasnas yang sudah dilatih untuk menularkan, mendampingi, dalam perjalanan, mendorong guru dan kepala untuk terus mencoba, mencoba lagi sampai berhasil. "Masa pendampingan ini sebenarnya masa yang penting bagi guru, untuk melaksanakan refleksi melalui pengamatan dengan teman sejawat, atau dengan pendamping atau dengan Fasnas sendiri," katanya.

 

Pihaknya berharap agar lokakarya atau ToT ini berjalan maksimal dengan tindaklanjut di madrasah masing-masing. “Perlu evaluasi pelaksanaan dan pendampingan, perlu apa sih yang harus dimaksimalkan ke depan,” harapnya.

 

Di akhir sesi, secara resmi ditutup oleh Direktur GTK Madrasah Kemenag RI Dr. Muhammad Zain, M.Ag. Pihaknya mengapresiasi saat kunjungan di Semarang dan bertemu dengan guru-guru inklusi yang luar biasa, yang mampu mengawal anak-anak yang memiliki keterbatasan. "Mereka punya cara tersendiri yang luar biasa, yang bisa mencari talenta dari anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut," paparnya.

 

Dari data EMIS, kita memiliki 43 ribu anak berkebutuhan khusus dan guru-guru kita banyak yang belum terlatih secara profesional. "Dalam konteks inilah, arti penting ToT Fasilitator Nasional ini, dan semua yang kita latih, para tutor ini bisa meneruskan para ilmu pada guru di daerah masing-masing," harapnya.

 

Pihaknya berharap, agar para Fasnas menularkan semua ilmu, praktik baik dan pengalaman yang didapat kepada semua guru di daerah masing-masing untuk memaksimalkan apa yang didapat. Pihaknya juga berharap ke dapan ada program-program yang berkelanjutan yang menyentuh pendidikan inklusi karena dari hasil wawancara dengan guru-guru, masih banyak guru yang ternyata belatihan otodidak tentang inklusi. (Ibda).


Jakarta, Harianguru.com - Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI menggelar Training of Trainer (ToT) Pendidikan Inklusif berbasis Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI) Seri 6 pada Rabu (25/8/2021) via Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui Youtube GTK Madrasah Channel. 


ToT diberikan kepada para Fasilitator Nasional (Fasnas) untuk meningkatkan kualitas Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif berbasis GEDSI yang bekerjasama dengan INOVASI dan Froum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) seri-6 ini mengkaji Program Pendidikan Khusus/Kompensatoris pada Madrasah Penyelenggara Pendidikan Inklusif berbasis GEDSI.


Dalam sambutannya, Ketua FPMI Pusat Supriyono, M.Pd., menyampaikan bahwa perjuangan FPMI bersama Kemenag, INOVASI dan semua stakeholders dalam memajukan pendidikan inklusif memiliki dasar teologis yang jelas. "Sedikit mengingatkan, misi perjuangan dan iktikad kita untuk terus memberikan layanan pendidikan inklusif di madrasah kita, perlu kita mengingat bahwa Islam bahkan semua agama sangat mengutamakan kesetaraan di antara sesama, tidak ada perbedaan antarkelompok, gender, disabilitas, semua sama di hadapan Allah, di hadapan Tuhan, dan yang membedakan adalah ketakwaan kita di hadapan Allah," tegasnya.


Hal itu dijelaskan Lek Pri, menyadur Al-Quran Surat Annur ayat 61. Pihaknya berharap, perjuangan yang dilakukan melalui kegiatan itu menjadi perjuangan yang sukses dunia akhir, memberikan keberkahan bagi pelaksana, keluarga, dan juga masyarakat luas. Secara eksplisit, menurutnya, bahwa ayat ini menjelaskan kesetaraan sosial, baik bagi tidak halangan tuna netra, tuna daksa, orang sakit, berhak mendapat perlakuan sama.


Penafsiran dalam hal ini jelas, bahwa Islam mengecam sikap tindakan diskrimatif terhadap penyandang disabilitas, apalagi diskriminasi berdasarkan kesombongan dan jauh dari akhlakul karimah


Narasumber pertama, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia Dr. Kristiantini Dewi, Sp.A., menyampaikan materi bertajuk Temu Kenali Dini Disleksia. Dalam penjelasannya, pihaknya menjelaskan beberapa hal yang sering ditemukan di PAUD. Seperti rewel sekali, selalu harus dituruti keinginannya, tapi komunikasi tidak lancar, sehingga anak tantrum. Kemudian juga sikap agresif, bermainnya ‘kasar’, banyak konflik fisik dengan teman, tidak bisa duduk tenang. Lalu sikap sangat kalem, dan super lambat dalam segala hal dan masih serba kesulitan dalam aspek keterampilan bina diri.

Atas fenomena itu, banyak tanggapan yang bermunculan seperti anggapan wajar, anggapan telat berbicara, anggapan pemakluman anak PAUD tak bisa diam, anggapan bagus kalau anaknya kalem, lambat-lambat sedikit tidak masalah, dan anggapan anak PAUD masih wajar diladeni karena nanti diyakini bisa mandiri.


Selain di PAUD, ia juga menjelaskan fenomena yang terjadi di jenjang SD/MI seperti banyak bengongnya, jika diberi instruksi, tidak bersegera, masih membutuhkan pengulangan berkali-kali saat menerima instruksi, serba pelupa, kesulitan membaca, namun paham jika artikel dibacakan, masih sulit menulis, masih sulit menumpukan perhatian, banyak bicara, jahil, dan provokator.


Pihaknya juga menjelaskanm perbedaan kesulitan belajar umum dan kesulitan belajar spesifik. Kesulitan belajar umum memiliki ciri potensi kecerdasan di bawah rata-rata, kesulitan terjadi pada semua aspek perkembangan, didapatkan pada berbagai kasus: autism, palsi serebral, disabilitas intelektual, sindrom down, dan vokasional/bantu diri

lebih utama.


Kesulitan belajar khusus, yaitu potensi kecerdasan di rentang rata-rata atau di atas rata-rata, kesulitan terjadi pada aspek perkembangan bahasa dan fungsi eksekutif, didapatkan pada kasus disleksia, diskalkulia, disgrafia, dan mampu belajar di sekolah regular/inklusi


Dalam kesempatan itu, pihaknya menegaskan definisi disleksia menurut Asosiasi Disleksia Indonesia (2019). Dijelaskannya, bahwa disleksia merupakan salah satu bentuk kesulitan belajar spesifik yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan adanya kesulitan belajar yang terjadi pada individu dengan potensi kecerdasan yang sedikitnya normal atau berada pada taraf kecerdasan rata-rata, di mana kesulitan belajar yang terjadi meliputi kesulitan di area berbahasa, termasuk bahasa lisan (yang terutama ditandai dengan adanya gangguan kesadaran fonem), bahasa tulisan, dan bahasa sosial (kesulitan memaknai bahasa tubuh, sikap dan postur lawan bicara, serta kesulitan menampilkan bahasa tubuh, sikap, serta postur tubuh yang tepat dalam merespons suatu situasi sosial), disertai adanya gangguan di area fungsi eksekutif (executive function).


Disleksia juga seringkali disertai dengan bentuk kesulitan belajar spesifik lainnya yakni disgrafia dan diskalkulia. Selain itu disleksia juga seringkali disertai kondisi penyerta lain seperti Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (Attention Deficit Hyperactivity disorder) dan Gangguan Perencanaan Motorik (Dispraksia). 


Narasumber selanjutnya, Pegiat Hak Asasi Difabel Yayasan Dria Manunggal DIY Drs. Setia Adi Purwanta, M.Pd., menyampaikan materi Program Kompensatorik Anak dengan Gangguan Penglihatan. "Di dalam Al-Quran, kata pertama adalah iqra', bacalah. Carilah informasi. Kalau kamu sudah membaca, mencari informasi, kamu bisa mengorientasikan diri. Kalau sudah demikian, kita akan tahu ke mana kita akan bergerak," tegas dia.


Dijelaskan dia, bahwa perolehan informasi melalui indera, untuk penglihatan 83 %, pendengaran 11 %, peraba 4 %, pembau 1 %, dan pengecap 1 %. Menurutnya, dari informasi, akan mempertegas orientasi, dari orientasi akan mempertegas mobilitas, dan setelah itu pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian persoalan.


Di akhir materinya, ia menegaskan bahwa belajar merupakan mengelola potensi dan kondisi pesertadidik, potensi lingkungan fisik dan sosial, serta relasi potensi dan kondisi pesertadidik dengan potensi lingkungannya untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. Peserta didik memiliki potensi adaptasi terhadap diri sendiri dan lingkungannya.



The Litle Hijabi Homeschooling for Deaf Galuh Sukmara pemateri selanjutnya, menjelaskan Program Kompensatorik bagi Anak Berkebutuhan Khusus Gangguan Pendengaran. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa perlu perubahan paradigma dari ekslusif menjadi inklusif. "Antonim atau lawan kata dari inklusif adalah ekslusif,” bebernya.


Ia menegaskan bahwa sudut pandang ekslusif merupakan cara pandang alamiah terhadap keberbedaan dan keanekaragaman. Semua menjalani satu kehidupan bersama. Semua saling melengkapi dan saling menggenapi pemahaman. Semua sedang belajar bersama-sama. Semua memiliki cara hidupnya masing-masing yang jika disinergikan akan membuat penghayatan akan kehidupan lebih sempurna


Dalam konteks pembelajaran, inklusifitas adalah cara pembelajaran bagi semuanya. Tidak ada pemisahan, semuanya diperkenankan bertemu sesuai dengan pemberian porsi masing-masing, pemberian porsi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masing-masing, diperuntukkan bagi semuanya bukan bagi yang sempurna, ditempuh dengan jalan yang disesuaikan kemampuannya, tapi yang "diistimewakan" Tuhan dengan alatnya different abilities, di mana kemampuannya yang digunakan untuk belajar dan mengenali kehidupannya yang berbeda dengan orang lain


Narasumber berikutnya, Spectrum Treatmen and Education Centre Diah Kartia Esti menyampaikan materi Kendala Perilaku & Emosional pada Anak. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan siklus tumbuh kembang, tentang anak berkebutuhan khusus dan dilanjutkan analisis deteksi gangguan perilaku emosional. Dalam penjelaskannya, ada beberapa hal yang didapatkan dari analisis deteksi gangguan perilaku emosional, di antaranya No health without Mental health (sehat seutuhnya adalah yang diikuti dengan kesehatan mental).


Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan strategi membantu guru. Secara umum yaitu mengatur waktu yang dapat mereka periksa beberapa kali dalam sehari, kemudian mengelola waktu: memecah tugas panjang menjadi tugas pendek dan menetapkan waktu yang singkat, mengelola ruangan dan materi: meminimalkan kesulitan dengan mengatur proses dan cara bekerja, mengelola pekerjaan: daftar periksa untuk menyelesaikan tugas bertemu guru untuk meninjau pekerjaan, dan menggunakan warna untuk menyoroti informasi penting dalam buku serta menulis tanggal tugas harus diselesaikan di bagian atas tugas.

Dalam konteks ini, pendidik harus memiliki keterampilan dasar para guru dan keterampilan tambahan para guru serta keterampilan ekstra pada guru. Keterampilan ekstra guru dapat dilakukan dengan melibatkan orang tua, berhubungan dengan masyarakat untuk membangun kerjasama bagi  siswa yang lebih tua untuk magang dan mengajarkan siswa ketrampilan umum di luar kelas.


Dewan Pakar FPMI dan Akademisi Universitas Negeri Malang Dr. Ahsan Romadlon Junaidi sebagai narasumber terakhir menyapaikan materi bertajuk Pengembangan Diri Peserta Didik Hambatan Intelektual.


Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa setiap manusia diberi anugrah kecerdasan. “Setiap individu memiliki anugrah kecerdasan. Teori kecerdasan majemuk (Gardner) mengajarkan bahwa setiap individu kapasitas untuk memiliki sembilan kecerdasan. Kecerdasan-kecerdasan tersebut ada yang dapat sangat berkembang, cukup berkembang, dan kurang berkembang. Semua anak dapat mengembangkan setiap kecerdasan hingga tingkat penguasaan yang memadai apabila ia memperoleh cukup dukungan, pengayaan, dan pengajaran,” bebernya


Pihaknya menegaskan strategi layanan pendidikan bagi peserta didik hambatan intelektual. Hal itu dimulai dari bangun kesadaran kepada guru, orang tua dan warga sekolah bahwa setiap anak memiliki kecerdasannya masing-masing, tetapkan tujuan yang jelas bahwa pendidikan tidak hanya akademik, tetapi memfasilitasi semua potensi anak, lakukan pengamatan dengan cermat untuk menemukan kecerdasan setiap anak, berikan pilihan-pilihan kegiatan belajar sehingga anak bisa menghasilkan karya atau mengaktualkan kemampuan / kecerdasannya, berikan ruang untuk memberikan apresiasi terhadap karya atau aktualisasi kemampuan anak, libatkan orang tua secara proporsional dalam memfasilitasi potensi anak.


Usai penyampaian materi, kegiatan di tiap sesi dilanjutkan dengan diskusi antara narasumber dan peserta. Selain jajaran FPMI dan narasumber, hadir juga PTP Subdit Kurikulum dan Evaluasi KSKK Madrasah Kemenag RI Dr. Imam Bukhori, M.Pd., Dra. H. Siti Sakdiyah, Kasubdit Bina Guru RA Direktorat GTK Ditjen Pendis Kemenag RI,  Kasubdit Kesiswaan Direktorat KSKK Ditjen Pendis Kemenag RI Nanik Pujiastuti, perwakilan tim INOVASI, dan panitia. (Hg99/Ibda).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget