Halloween Costume ideas 2015

Harian Guru

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Latest Post

Kudus, Harianguru.com - Kelompok Bermain Al-Azhar, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, menggelar upacara Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia, Sabtu, 17/08/2019.

Menariknya, seluruh pendidik KB Al-Azhar mengenakan pakaian adat Kudus. 

Pakaian adat kudus memiliki ciri khas, dimana perempuan yang memakai baju adat Kudus mengenkan caping kali, baju kurung bludru, jarik, selendang tohwatu dan pernak-pernik lainya tersebut dikenakan dalam upacara yang di selenggarakan di halaman KB Al-Azhar dan diikuti oleh 35 pendidik dan berlangsung sangat khidmat.

Eni Misdayani, Ketua Penyelenggara KB Al-Azhar menyampaikan, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini memilki beragam identitas masing-masing suku, baik bahasa dan budayanya, oleh karena itu, baju adat yang kita pakai hari ini merupakan jati diri kita sebagai warga Kudus.

"dengan pakain yang kita kenakan ini juga menunjukkan bahwa betapa melimpah-ruahnya kekayaan budaya kita dan salah satunya, sebagai salah satu wujud pelestarian baju adat Kudus" tuturnya.

Lanjut, Umi Eni, sapaan akrab Penyelenggara KB Al-Azhar tersebut, pada ulang tahun ke-74 Republik Indonesia, tahun ini, dengan tema SDM Unggul, Indonesia Maju, di dorong dengan kuatnya (SDM) Sumber Daya Manusia, "pendidikan di PAUD harus selalu kita upayakan untuk keberlangsungan para pewaris masa depan Bangsa," imbuhnya.

"Harapanya, melalui suksesnya pendidikan di PAUD, kita akan menyongsong menuju Indonesia Emas di tahun 2045, dengan kualitas pendidikan yang baik dan dimulai sejak dini, kita akan memiliki generasi yang benar-benar dapat dikata generasi emas dengan kerja keras dalam berbagai bidang termasuk pendidikan," pungkasnya. (hg44/Fakhrudin).


Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.

Ruang kelas sekolah hari ini tak ubahnya menjadi ekspo elektronik. Ruang kelas semakin berjubel dengan peralatan meja, kursi,AC, kipas angin, LCD, speker aktif, dan kabel-kabel bersliweran. Walaupun tidak semuanya, itulah sedikit kritik atas gambaran dinamika ruang kelas yang ada di sekolah saat ini. Semua diatur sedemikian rupa dengan kendali struktur yang ada.

Sepoi angin melambai-lambai dan hamparan sejuk taman sekolah tak lagi dijangkau oleh sejauh mata memandang. Memang terasa dingin suhunya saat listrik tidak oglangan, tetapi ketika listrik padam, semua berubah. Ruang kelas seakan pabrik yang mengepulkan asap panas. Panas, panas, dan panas. Sungguh ironis, pembelajaran desain ruang kelas masa lalu pun hanyut seiring kebijakan anggaran yang memihak teknologi, namun jauh dari sentuhan alam dan sosial.

Peran seorang guru pun pada sisi ini menjadi penting. Menghidupkan kembali suasana kelas yang ramah anak, yang sarat akan teknologi tapi tidak kaku saat teknologi mati. Aktivitas belajar tetap berjalan dengan menyenangkan meski tanpa AC, tanpa kipas angin, tanpa LCD dll. Karena selain mengasah kemampuan mengajar, guru sebagai pengajar sekaligus pendidik di sekolah pun perlu tahu bagaimana pola pengajaran yang tepat diberikan kepada peserta didiknya.

Dan bukan hanya soal pengetahuan, belakangan seiring perkembangan zaman, metode pembelajaran mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Saat kita bicara bahwa kita percaya kemerdekaan guru dan kemerdekaan belajar siswa, maka akan bersinggungan dengan banyak hal. Salah satunya kemerdekaan dalam proses belajar. Jika tujuannya agar anak mampu mengerjakan soal ujian, kita cukup mengajarkan cara menjawab soal-soal ujian dengan benar. Jika tujuannya agar anak mampu mempelajari dan menjawab tantangan hidup, selaku pendidik kita perlu mengajarkan murid untuk merdeka belajar.
Proses belajar yang bermakna mensyaratkan kemerdekaan guru dan murid dalam menentukan tujuan dan cara belajar yang efektif. Guru merdeka menemukan paduan yang pas antara tuntutan kurikulum, kebutuhan murid, dan situasi lokal. Murid merdeka menetapkan tujuan belajar bermakna, memilih cara belajar yang efektif, dan terbuka melakukan refleksi bersama guru.

Proses belajar yang menyenangkan dan bermakna hendaknya tidak memberikan sekat antara ruang kelas dengan realitas. Menyatukan keduanya dalam skenario pembelajaran dan kehidupan yang menarik. Jangan jadikan ruang kelas hanya menjadi objek penataan meja kursi dan seperangkat elekronik. Desain ruang kelas sudah saatnya dikembalikan pada sang pemilik kelas yakni guru dan siswa.    

Siswa dan guru harus sama-sama belajar. Ruang kelas yang sebenarnya adalah kenyataan yang ada. Jadikan ruang kelas menjadi sumber inspirasi bagi siswa. Jadikan setiap sudut ruang kelas menjadi media dan sumber belajar bagi siswa. Membawa alam semesta ke dalam ruang kelas bukanlah tak mungkin. Dibutuhkan kreatifitas guru dalam mewujudkan semua itu. Jadikan ruang kelas, menjadi udara sejuk nan asri. Jadikan ruang kelas menjadi air mengalir yang menghidupkan. Jadikan ruang kelas menjadi tanah yang subur, dan jadikan ruang kelas, menjadi cahaya penerang dengan pengalaman belajar, pengalaman mencoba, pengalaman menulis, pengalaman bercerita, pengalaman bermain peran, pengalaman berkomunikasi, pengalaman bersosial dan  penggalian berbagai ilmu.

Kemerdekaan siswa dan guru
Guru berperan penting dalam pendidikan, namun tuntutan akan besarnya peran atau secara spesifik tingginya kompetensi tidak akan tercapai saat guru tidak memiliki hal yang asasi: kemerdekaan. Kemerdekaan guru dalam jangka panjang berperan sentral untuk menumbuhkan kemerdekaan belajar siswa.

Lalu bagaimana cara guru menghidupkan kemerdekaan dalam kelas. Kemerdekaan bagi guru dalam mengelola pembelajaran dan kemerdekaan belajar bagi siswa?

Pertama, tersedia fasilitas dan prasarana yang membangkitkan semangat berkarya dan berimajinasi bagi anak. Seperti membuat pohon literasi di sudut kelas yang didisi dengan gantungan kaleng-kaleng bekas berisi karya-karya siswa baik secara individu ataupun kelompok. Bisa juga dengan membuat sudut baca yang menyediakan buku-buku bacaan anak. Sehingga setiap harinya anak-anak diajak membaca. Atau dengan memilih salah satu buku bacaan berurutan setiap harinya, lalu semua siswa mendengarkan bacaan yang dibacakan oleh guru atau salah satu siswa dengan suasana yang santai siswa duduk di lantai melingkar. Kegiatan demikian cukup efektif untuk menghilangkan kejenuhan belajar.

Kedua, siswa diberi kebebasan untuk bergerak di ruang kelas, bebas menyampaikan pendapat mereka dan tidak ada pengelompokan atas dasar tingkat kecerdasan. Karena pada dasarnya semua siswa memiliki kemampuan yang sama. Tinggal tugas guru untuk mengarahkan dan membimbing dengan sabar dan terbuka.

Ketiga, membiasakan siswa menulis buku harian atau diary. Aktivitas ini dilakukan setiap harinya setelah pembelajaran berakhir atau jelang jam pelajaran terakhir usai. Biarkan anak-anak menuliskan rasa suka dukanya di hari itu. Cara ini sangat efektif membantu guru memahami masing-masing kepribadian siswa, terlebih bagi siswa introvert yang terkenal dengan sikap pendiamnya. Setelah siswa pulang, guru membaca satu per satu tulisan siswa. Dari membaca tulisan siswa, guru bisa melakukan refleksi dari cara pengajarannya hari ini. Apa yang dituliskan oleh siswa menjadi tindak lanjut guru di pertemuan berikutnya. Permasalaan-permasalahan yang ada pada diri siswa, guru bisa membantunya. Setidaknya dengan menulis isi hatinya lewat diary, siswa pulang sekolah dalam keadaan tidak membawa beban psikisnya.

Keempat, menciptakan suasana kelas yang penuh kasih sayang, hangat, hormat dan terbuka, artinya guru bersedia mendengarkan keluhan peserta didik dengan aman dan mampu menjaga rahasia siswa. Kelima, jika ditemukan masalah pada siswa dengan siswa, guru menangani masalah tersebut dengan jalan berkomunikasi secara pribadi dengan siswa yang bersangkutan tanpa melibatkan pihak lain.

Guru tidak perlu menjadi figur yang serba ahli, selama dia merdeka dengan mempraktikkan segala apa yang dia pelajari dan belajar dari banyak kegagalan sebelum akhirnya meraih kemerdekaan sesungguhnya di dalam kelas bersama siswa. Karena kemerdekaan milik kita bersama, guru dan siswa.

-Penulis adalah Guru SD Supriyadi Semarang.

Kaltim, Harianguru.com - Hari kemerdekaan bisa dirayakan dengan berbagai macam cara. Salah satunya dengan menggerakan lebih jauh budaya baca yang sudah ada di sekolah, seperti dilakukan oleh SDN 008 Muara Kaman. Bergotong royong bersama dengan lebih 100 orang tua siswa, para pendidik di sekolah tersebut membangun dua pondok baca, taman dan pagar sekolah.

“Bertepatan dengan hari kemerdekaan, sekolah kami menjadi tempat rapat kelompok kerja kepala sekolah. Untuk menyambut mereka dan hari kemerdekaan 17 Agustus ini, pada awal Agustus kemarin, kami  mendirikan dua pondok baca bersama dengan orang tua siswa,” ujar Murniati, Kepala Sekolah, Sabtu, 17 Agustus 2019.

Uniknya pondok baca, taman dan pagar yang dibangun dibuat dari bahan yang murah yaitu dari ban mobil bekas. Bahan tersebut terutama untuk kursi dan mejanya, sedangkan atapnya dibuat dari daun palma.

Semua bahan untuk pembangunan pondok baca, taman dan pagar berasal dari orang tua siswa. Ban diambil dari dua bengkel yang ada di dekat sekolah milik orang tua siswa. Ban-ban itu gratis disumbangkan begitu saja oleh orang tua siswa. Orang tua siswa yang lain menyumbang kayu, cat, semen dan lain-lain. Ada juga yang menyumbang uang secara sukarela.  “Semua pengeluaran dan pemasukan akan kami laporkan secara terbuka kepada orang tua Siswa setelah kegiatan Agustusan hari ini,” ujar Murniati.

Lalu bagaimana cara agar orang tua siswa mau tergerak membantu sekolah. Murniati membagikan kiatnya. “Saya sering berkomunikasi secara terbuka dengan komite tentang berbagai kebutuhan sekolah dan keterbatasan dana yang kami miliki.  Setelah Pelatihan Program PINTAR Tanoto Foundation, sebagai bagian rencana tindak lanjut setelah pelatihan, saya juga berkonsultasi dengan komite untuk mendirikan pondok baca, taman dan pagar sekolah,” ujar Murniati.

Komite sangat sigap menanggapi usulan sekolah. Setelah diberitahu tentang keinginan membangun pondok baca, komite segera mengundang seluruh wali murid untuk rapat. Akhirnya wali murid dari kelas satu sampai kelas enam sepakat untuk bergotong royong  membangun bersama.

Saat ini, para wali murid juga berkumpul menyambut hari 17 Agustusan dengan berbagai lomba, salah satunya lomba lari terompah dan tarik tambang. “Ini kami lakukan agar hubungan kami dengan mereka semakin akrab. Hubungan yang akrab dengan mereka akan memudahkan membangkitkan peran serta masyarakat,” ujar Murniati.

30 Kepala sekolah yang ikut rapat K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) juga dipersilahkan untuk melihat dan bertanya tentang pondok baca, taman dan pagar yang dibangun. “Mereka banyak yang antusias bertanya tentang sumber dana membangun pondok baca ini. Karena murah, saya yakin mereka akan juga membangun pondok-pondok baca di sekolah masing-masing,”ujar Murniati bersemangat menyebarkan praktik baiknya.

Keperdulian komite dan orang tua siswa memang lumayan  besar di sekolah ini.  Ketua Komite, bapak Teguh Wahyudi, bahkan secara sukarela menyumbangkan 50 benih kelapa sawit dan pupuknya untuk sekolah. Tanaman tersebut ditanam di tanah sekolah seluas 75 x 100 meter. “Hasilnya nanti untuk memenuhi berbagai kebutuhan sekolah yang tidak bisa hanya mengandalkan dana BOS, misalnya untuk tambahan gaji guru honorer,” ujar Murniati.

Bangkitnya peran serta masyarakat juga tak lepas dari peran pengawas sekolah Pak Ponidi dan kepala UPT desa tersebut, Pak Alpian. Selama rapat dengan orang tua wali murid, pak Ponidi memberikan kesadaran terhadap orang tua siswa tentang pentingnya membaca bagi siswa sehingga masyarakat mau bergerak. Kepala UPT sering datang ke sekolah memberikan masukan-masukan. “Jadi kami didukung oleh banyak pihak. Tanpa keterlibatan banyak pihak, sekolah tidak akan bisa banyak mengalami kemajuan seperti sekarang,” ujar Murniati menutup. (Hg33/hms).


Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka menyambut HUT RI ke 74, MTs Ma'arif Gemawang Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah menggelar berbagai perlombaan di MTs Ma'arif Gemawang Selasa (13/8/2019) dan Rabu (14/8/2019).

Tujuan pelaksanaan lomba itu tidak sekadar formalitas, namun lebih pada untuk menanamkan spirit nasionalisme kepada pelajar.

Siswa-siswi MTs Ma'arif Gemawang mengikuti perlombaan permainan seru, seperti estafet air, mengambil koin pada pepaya dan memasukkan pensil ke dalam botol, dengan sangat antusias pada Selasa (13/8/2019). 

Perlombaan dilanjutkan kembali usai melaksanakan upacara peringatan Hari Pramuka ke 58 pada Rabu (14/8/2019) pagi. Adapun perlombaan pada hari ini adalah lomba menghias kelas, paduan suara dan menghias tumpeng.

"Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memupuk rasa nasionalisme dan cinta tanah air pada siswa-siswi MTs Ma'arif Gemawang khususnya dan generasi muda NU umumnya", tutur Kepala MTs Ma'arif Gemawang Imam Achmadi.

Peringatan HUT RI ini sangat penting agar generasi penerus bangsa tidak melupakan sejarah bangsanya dan memiliki semangat untuk mengisi kemerdekaan dengan berbagai prestasi yang mengharumkan nama bangsa.

Kegiatan perlombaan diakhiri dengan tasyakuran dan makan tumpeng bersama siswa dan guru MTs Ma'arif Gemawang. (Hg44//Enik)

Balikpapan, Harianguru.com - 24 Sekolah di Balikpapan, 16 SD/MI dan 8 SMP/MTs hari ini (24 Juli 2019) mengadakan showcase atau unjuk karya praktik baik pembelajaran dan manajemen berbasis sekolah di gedung KNPI Balikpapan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh program PINTAR hasil kerjasama antara pemerintah kota Balikpapan lewat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Balikpapan, Kemenag Balikpapan dan Tanoto Foundation.

Dalam pameran program PINTAR atau Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran ini, 24 sekolah ini mendirikan 24 stand yang memamerkan berbagai kreatifitas pendidik dan siswa di sekolah. Kreatifitas yang banyak muncul setelah  pelatihan pembelajaran aktif, manajemen berbasis sekolah, budaya baca dan peran serta masyarakat yang diselenggarakan untuk sekolah mitra program mulai bulan September 2018.

Dalam Sambutan Showcase atau pameran pendidikan ini, Bapak Walikota Balikpapan yang diwakili oleh Asisten 2, Muhammad Noor  mengajak para guru untuk menciptakan siswa yang inovatif, kreatif, produktif dan mampu berpikir tingkat tinggi serta cinta dan bangga terhadap Indonesia. Walikota juga menyatakan apresiasinya terhadap program PINTAR yang telah mengimplementasikan pelatihan yang ikut mendukung terciptanya siswa –siswa demikian.  “Dengan meningkatnya pihak-pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan di tanah air,  ke depan saya yakin sumber daya manusia Indonesia semakin baik dan maju,” ujarnya mengapresiasi.

Sementara Ari Widowati, Deputy Director Program Program Basic Education  Tanoto Foundation , menyatakan hasil yang terlihat dalam pameran merupakan praktik-praktik baik yang bisa dijadikan inspirasi bagi sekolah-sekolah lain. “Pendidikan yang berkualitas di semua sekolah bisa mempercepat kesetaraan peluang siswa ke depan,” ujarnya. Tak lupa dia juga ungkapkan  apresiasinya kepada pemerintah daerah atas kerjasama yang baik menjalankan  program PINTAR.

Selain pameran yang menampilkan karya siswa dan guru di booth, beberapa siswa juga melakukan unjuk karya hasil kreatif pembelajaran aktif memakai unsur MIKIR (mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi). Siswa kelas VI SDN 006 yaitu Nabila Salsabil dan Axel Nareswara menampilkan di hadapan undangan energy alternatif untuk menyalakan lampu dari buah apel, kentang dan  jeruk nipis.   Dengan kreatif, mereka berdua mencoba menghubungkan  buah-buah tersebut dengan kabel, tidak secara langsung, tapi pakai koin, paku, penjepit. “Bapak/Ibu, karena buah-buah tersebut mengandung asam solanum, maka dapat menghasilkan listrik dan menghidupkan lampu,” ujar Axel menyimpulkan.  

Sedangkan siswa SMP 12  yang diwakili oleh Ayuditya Pratiwi Widyani dan Muhammad Ikhsan menampilkan lomba menangkap es untuk membuktikan prinsip IPA dalam kehidupan sehari-hari. Demonstrasi yang dilakukan  ingin membuktikan bahwa  es yang diberikan garam akan membeku lebih lama.

Siswa dari MINU yang bernama Asyifa Soliha Ramadhani menampilkan kesukaannya membaca buku setelah sekolah menyelenggarakan program budaya baca, yaitu membaca 15 menit sebelum pembelajaran dan membaca masal selama 30 menit setiap hari sabtu. Soliha juga rajin membaca karena dorongan orang tua. Setiap bulan rata-rata dia membaca 5 sampai 8 buku.

Masih banyak siswa yang lain yang tampil menunjukkan kreatifitasnya, misalnya membuat balon dari coca cola dan garam, cara membuat hujan buatan secara sederhana dan lain-lain.

Setiap stand juga banyak menampilkan banyak karya inovatif dari siswa, misalnya maket gunung yang dibuat untuk mempraktekkan bagaimana gunung meletus, pembuat es krim sederhana,  saringan  air kotor, maket daur hidup hewan dan lain-lain.

Pameran kali ini merupakan unjuk keberhasilan pelatihan modul 1 program PINTAR. Mulai bulan Agustus 2019, PINTAR juga akan melatih para guru, kepala sekolah, komite dan pengawas dengan modul II, yang isinya akan lebih menukik lagi ke arah konten pembelajaran dan semua pendukungnya. Modul 1 lebih banyak  berpusat pada penguatan unsur pembelajaran aktif yaitu mengalami, interaksi, komunikasi dan refleksi dan aspek-aspek lain yang menunjangnya. 

“Kemenag Balikpapan telah mendiseminasikan program ini ke  seluruh madrasah Ibtidaiyah di Balikpapan yang jumlahnya 24 buah, dan Dinas Pendidikan juga telah mendiseminasikan ke 34 Ketua Kelompok Kerja Guru. Ketua-ketua tersebut diharapkan nanti mendiseminasikan ke semua guru yang lain di KKGnya.,” ujar Munawir, penanggung jawab kegiatan yang mengucapkan apresiasinya kepada pemerintah kota Balikpapan dan Kemenag yang mendukung penuh kegiatan unjuk karya ini.  (HG44).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap buku semenjak dini, SDN 003 Tenggarong Kutai Kartanegara menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan salah satu tema kegiatannya adalah Program Budaya Baca di sekolah tersebut.

Dalam kegiatan tersebut, 61 anak-anak didik baru sekolah tersebut dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok terdiri dari lima orang. Karena mereka belum diajarkan menulis dan membaca, tiap guru yang bertanggung jawab di kelompok hanya menceritakan sebuah buku cerita. Setelah mendengar cerita tersebut, siswa yang berani diberikan microphone dan  menceritakan kembali.  Orang tua siswa yang mengantar anaknya dan bebas masuk melihat juga kegiatan tersebut dari bangku-bangku yang sudah disediakan. 

Setelah diceritakan buku cerita tersebut, salah satu murid baru yang bernama Fatih berkata bahwa di rumah tidak pernah dilakukan kegiatan demikian. Ia kemudian berlari ke ibunya dan  memintanya melakukan kegiatan seperti itu juga di rumah. “Saya senang melihat reaksi itu.  Kegiatan  seperti ini juga dalam rangka menanamkan pada orang tua siswa bahwa budaya baca bukan cuma tanggung jawab sekolah, tapi juga orang tua siswa,” kata Kurnia Astuti,  salah satu guru yang bertanggung jawab atas kegiatan tersebut. 

Untuk menguatkan, budaya baca  juga disosialisasikan lewat rapat bersama orang tua siswa baru di hari berikutnya.  Dalam rapat tersebut, pihak sekolah menegaskan bahwa sekolah telah  memiliki SK Budaya Baca yang isinya berbagai kegiatan budaya baca dan penanggung jawabnya. Kegiatan tersebut umpamanya meliputi membaca 15 menit, membaca selama 2 jam di perpustakaan di waktu-waktu khusus,  menceritakan isi buku bacaan, kegiatan rutin menulis dan pengadaan buku. Orang tua juga diharapkan juga aktif membantu budaya baca selama di rumah, misalnya lewat bercerita dengan anaknya sebelum tidur.

Kegiatan yang hampir sama juga dilakukan oleh sekolah mitra Tanoto Foundation yang lain yaitu  MTsN 1 Balikpapan. Bekerjasama dengan Aliansi Bikers Sosial Balikpapan, para siswa baru dikumpulkan bersama di mushola dan dikenalkan budaya baca di sekolah. Salah satunya adalah mengenalkan program  pengadaaan buku lewat “koinku untuk buku”. Diharapkan semua siswa secara sukarela menyumbangkan koin setiap bulannya. Abdul Gofur, kepala MTsN 1 Balikpapan juga sempat membawa kaleng koinku dan siswa yang sudah membawa koin dari rumah memasukkan secara bergiliran ke kaleng tersebut.

Berkat kegiatan koinku untuk buku, sekolah tiap bulan rata-rata mendapatkan dana 800 ribu untuk pengadaaan buku. Buku tersebut dipajang di perpustakaan dan di Taman Baca yang terdapat di halaman sekolah. Abdul Gofur juga berkomitmen untuk terus meningkatkan budaya baca di sekolah dengan kegiatan budaya baca yang lebih kreatif dan lebih banyak lagi. Umi Putri Ibalia, guru sekaligus penanggung jawab budaya baca di sekolah berencana akan mengadakan pelatihan dasar jurnalistik bagi para siswa.

Di sekolah mitra Tanoto Foundation yang lain yaitu MIN 1 Balikpapan, untuk menyambut siswa baru, sekolah membangun pojok literasi di kelas. Dana pojok literasi tersebut berasal dari koin literasi yang juga sumbangan dari siswa.

Budaya  Baca merupakan salah satu program PINTAR yang saat ini dilaksanakan di Balikpapan, Kutai Kartanegara dan Samarinda. Program ini merupakan hasil kerjasama antara Kemenag dan Dinas Pendidikan, UNMUL dan IAIN Samarinda dengan Tanoto Foundation. (Hg44).

Temanggug, Harianguru.com - Ada yang sedikit berbeda dari biasanya, hari ini Kamis 18 Juli 2019 untuk pertama kalinya tim KKN Undip mengunjungi MI Ma'arif Malebo, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah.

Suara gemuruh menyambut kedatangan mereka, anak-anak berantusias karena mereka sebelumnya belum kenal.

Agus Ilmi guru olahraga mengucapkan biar nanti diajak ke lapangan saja dulu karena hari ini juga Kamis 18 juli 2019 murid-murid kelas 5 dan 6 kebetulan ada mata pelajaran PJOK. "Dan nnti untuk yang murid laki-laki biar bermain sepakbola dan murid perempuan biar bermain permainan dengan kakak-kakak KKN UNDIP yang perempuan juga," kata dia.

Maka dari itu sehabis istirahat pertama mereka langsung digiring ke lapangan untuk mengikuti praktik pelajaran PJOK.

Ilham fadil perwakilan dari TIM KKN UNDIP mengucapkan bertemu anak anak MI merupakan kebanggaan bagi kami. "Semangat tak kenal lelah, banyak bakat yang bisa digali dari mereka. Semangat terus aja buat anak anak MI buat menggapai cita cita nya," kata dia.

Walaupun kurang lebih hanya 2 jam tetapi sangat bermanfaat buat anak-anak MI Ma'arif Malebo karena kehadiran TIM KKN Undip menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka anak-anak kelas 5 dan 6. (Hg88).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget