Halloween Costume ideas 2015

Harian Guru

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Latest Post

Balikpapan,  Harianguru.com - Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan,  Mukiran,  menyatakan bahwa pembelajaran di semua sekolah dasar di Balikpapan harus memakai metode pembelajaran aktif. Metode tersebut sangat penting diterapkan karena ke depan Indonesia harus menghadapi kompetisi global yang membutuhkan manusia-manusia yang memiliki ketrampilan  berpikir tingkat tinggi,  analitis, kritis dan kreatif.

“Pembelajaran dengan model ceramah biasa hanya membuat para siswa mengingat, memahami, dan mengaplikasikan  pelajaran.  Ini pembelajaran model dahulu yang hanya berkutat bagaimana siswa memperoleh pengetahuan sebanyak-banyaknya. Karena sudah banyak tersedia fasilitas memperoleh pengetahuan secara mandiri, zaman sekarang siswa sudah harus lebih jauh pada tingkat memiliki ketrampilan menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi untuk pengembangan lebih jauh,” ujarnya, 24 Agustus 2019.

Untuk membuat siswa  analitis, kritis dan kreatif semacam itu, skenario pembelajaran harus disusun sedemikian rupa dan secara sungguh-sungguh. Guru harus harus mampu membuat lembar kerja siswa yang mendorong siswa terus berpikir analitis, kritis dan pada akhirnya melahirkan suatu karya. “Di Balikpapan ini, kemampuan guru dalam membuat lembar kerja siswa yang membuat siswa bisa berpikir kritis dan kreatif  sangat perlu ditingkatkan. Lembar kerja sekarang bukan lagi yang menilai pengetahuan siswa, tapi yang mengarahkan siswa menjadi analitis terhadap masalah, terlatih menjadi problem solver dan kreatif,” tegasnya.

Untuk menunjang hal tersebut,  pertengahan Agustus kemarin,  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan mendiseminasikan pelatihan pembelajaran aktif program PINTAR atau Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pendidikan. Program yang merupakan hasil kerjasama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kemenag Balikpapan dan Tanoto Foundation ini sebelumnya hanya untuk para pendidik di 24 sekolah,  namun karena komitmen pemerintah kota Balikpapan untuk membuat pendidikan dasar semakin berkualitas, program pelatihan tersebut didiseminasikan ke 181 pendidik dari 39 sekolah dasar lainnya. 

Selama pelatihan tersebut, para peserta dilatih membuat pertanyaan-pertanyaan yang membuat siswa bisa lebih analitis, kritis dan kreatif. Mereka juga dilatih mengelola kelas yang mengarahkan siswa lebih aktif, mampu bekerjasama dalam tim dan percaya diri. Mereka juga langsung menerapkan hasil pelatihan dengan praktik mengajar.

Sebelumnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan bekerjasama dengan LPMP Kaltim, menyelenggarakan diseminasi pelatihan dengan model yang hampir sama  untuk  34 ketua KKG kota Balikpapan. “Kami berharap ketua-ketua Kelompok Kerja Guru yang mencakup semua kecamatan ini, melatihkan ke anggota-anggotanya.  Dengan cara demikian,  metode pembelajaran aktif semakin dikenali dengan lebih baik,” ujar Triyuni Astuti, Kasi Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  Kota Balikpapan.

Diseminasi Program PINTAR di Samarinda
Berkat  motivasi dari dosen-dosen Universitas Mulawarman, empat sekolah dasar Katholik di Samarinda secara mandiri juga melakukan diseminasi pelatihan program pembelajaran aktif PINTAR.  Empat sekolah tersebut adalah sekolah Dasar Katholik Asisi, SDK WR Supratman 1, 2 dan 3. Peserta berjumlah 50 orang.

Metode pembelajaran aktif merupakan metode yang berdasarkan banyak penelitian  telah terbukti berhasil meningkatkan daya serap siswa.  Penelitian yang dilakukan oleh Hoellwarth & Moelter (2011)menunjukkan bahwa mengubah cara mengajar pelajaran fisika dari model mengajar tradisional  ke pembelajaran aktif akan meningkatkan  daya serap siswa terhadap pelajaran sebanyak 38 persen.  Awalnya daya serap siswa cuma  12 persen, setelah diterapkan pembelajaran aktif,   daya serapnya menjadi 50 persen. Hasil tersebut diukur dengan menggunkan Force Concept Inventory yang merupakan standar baku pengukuran pembelajaran fisika. “Mengadopsi pembelajaran aktif program PINTAR akan meningkatkan kualitas siswa, baik dari segi daya serap dan karakternya. Pembelajaran aktif akan membuat mereka memiliki kecakapan sosial dan lebih percaya diri,” ujar Prof. Dr. Makrina TIndengan, Guru Besar FKIP Universitas Mulawarman.

Sandra Lakembe, Penanggung jawab utama program diseminasi  dari Tanoto Foundation berharap pembelajaran aktif benar-benar konsisten  dilakukan oleh para guru yang sudah dilatih. “Dengan konsistensi, guru akan semakin banyak belajar dari pengalaman-pengalaman. Menjadi guru fasilitator itu butuh pembiasaaan tiap hari,” ujarnya. (HG44/Hms).

Kudus, Harianguru.com - Dalam rangka turut memperingati Dirgahayu Republik Indonesia ke-74, Pusat Kerja Gugus (PKG) PAUD, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, menggelar karnaval kemerdekaan di Lapangan Mrican, Honggosoco, Sabtu, 24/08/2019.

Mengusung tema, 'Dengan Semangat Proklamasi Kemerdekaan Menuju Indonesia Unggul' tersebut, menuai kemeriahan  dengan 51 lembaga PAUD, yang mengikuti jalanya karnaval.

Sedari pagi, ribuan peserta didik dari 51 lembaga PAUD di Jekulo, mengikuti karnaval mengendarai kereta mobil dan menghiasi dengan identitas bendera merah-putih.

Anak-anak PAUD tersebut juga kenakan berbagai pakian adat maupun profesi, terlihat antusias mereka dengan menyanyikan lagu kebangsaan.

"Karnaval tersebut terselenggara, berkat kerja sama yang apik, antara IGTKI dan Himpaudi Kecamatan Jekulo yang bernaung dalam PKG," ungkap Yuliana, salah satu panitia kegiatan.

Sementara, Kartono, Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Jekulo, dalam sambutanya, ia menyambut baik dan mengapresiasi atas pelaksanaan kegiatan karnaval tersebut.

Tujuan peringati Dirgahayu Republik Indonesia ini, tak lain adalah sebagai ungkapan untuk mensyukuri nikmat, bagaimana perjuangan untuk mencapai kemerdekaan sangat luar biasa, berkat pejuangan seluruh rakyat Indonesia yang begitu gigih, "alhamdulillah Allah Swt, merahmati perjuangan kita dengan kemerdekaan, kita patut mensyukurinya," tuturnya.

Dengan adanya karnaval, dalam peringatan kemerdekaan yang diagendakan PKG Jekulo, "ini sebagai salah satu manifestasi persatuan, untuk memupuk kedamaian dan pelaksanaan pendidikan PAUD yang lebih baik, khususnya di Kecamatan Jekulo," ujarnya.

PAUD merupakan pendidikan usia dini, untuk itu, Kartono, menyampaikan pesan kepada pendidik se kecamatan,  "tanamkanlah karakter pada peserta didik 'panjenengan' semua, untuk meraih generasi saleh, bakti kepada orang tua dan kepada Bangsa," pesanya disampaikan kepada Pendidik PAUD Jekulo.

Karnaval dihdiri oleh Stake-holder Kecamatan Jekulo, Kepala UPT Kecamtan Jekulo, Koramil, Polsek, Ketua PKG, Ketua IGTKI, Ketua Himpaudi dan Kepala Desa Honggosoco

Dalam kesempatan tersebut, kegiatan dibuka oleh Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Jekulo.  (Hg44/Fakhrudin).


Magelang, Harianguru.com -  Bertempat di Gedung Prajurit Kodim 0705, Jalan A. Yani, Portobangsan, kuliah umum untuk Mahasiswa Baru Fakultas Ekonomi UNTIDAR Magelang dengan tema “Pembentukan Karakter Generasi Muda yang Berprestasi, Berjiwa Pancasila, dan Berakhlakul Karimah’’.

 Kuliah umum ini menghadirkan ulama muda serta tokoh Magelang KH M. Yusuf Chudlori atau biasa disapa Gus Yusuf pengasuh Pondok Pesantren (API) Asrama Perguruan Islam Tegal Rejo, Senin (26/08/2019).

Kuliah umum dibuka oleh Wakil Rektor bidang Akademik, Dr. Noor Farid M.Si, dalam sambutanya di depan civitas akademika Fakultas Ekonomi dan Mahasiswa Baru sekitar 480 orang. Beliau menekankan mahasiswa baru untuk belajar sungguh-sungguh, sehingga kelak menjadi mahasiswa yang berguna dan bermanfaat bagi Agama, Nusa dan Bangsa. Selanjutnya sambutan Dekan Dr. Hadi Sasana, M.Si. mengucapkan selamat datang kepada mahasiswa baru.

“Jadilah mahasiswa yang berprestasi dan membanggakan serta menekankan pada aspek karakter yang berjiwa wirausaha, pancasila dan berakhlak,” ungkapnya.

Pembicara utama atau inti Gus Yusuf dalam isi kuliah umum mengatakan jadilah orang yang selalu bersyukur atas nikmatNya, syukur atas Kemerdekaan Indonesia, para pahlawan berjuang mati-matian demi kemerdekaan, saat ini kita tinggal merawatnya, tidak usah merusak apalagi mecah belah dengan hanya ikut-ikutan kelompok tertentu, yang jelas merusak tatanan bangsa.

Pancasila menjadi ideologi luar biasa bagi bangsa Indonesia, karena sila-sila merepresentasi cita-cita bersama. Mahsiswa tinggal meneruskan perjuangan para pahlawan dengan sungguh-sungguh dalam belajar serta kelak bisa menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi sesama.

Beliau juga menyempaikan ada tiga kunci kenikmatan dalam falsafah hidup nilai baik dan buruknya, hal penting yang harus dimiliki dan diketahui bersama untuk para mahasiswa baru fakultas ekonomi.

Pertama, ibadah yang taat, semisal Islam ya shalat lima waktu dijalankan tidak, kalau ya indikatornya Insya Allah baik, kalau tidak jelas Salatnya berarti ada masalah begitu indikatornya menilai seseorang baik/buruknya. Termasuk mahasiswa ya ikuti peraturan Kampus, ikuti aturan Rektor jangan sampai melanggarnya.

Kedua, ambil di tengah-tengah (Moderat), tidak usah terlalu cenderung ke kiri maupun kanan, tapi ambil jalan yang bijak yang bisa mengayomi semuanya,  jadilah mahasiswa yang biasa, tampil apa adanya tidak usah berlebih-lebihan, sok keminter, sok bener, sok hebat dan lainnya.

Ketiga, Akhlak/Budi Pekerti, akhlak itu di atas ilmu, sesama makhluk harus saling membumi, tawadhu, menghargai, menghormati kepada dosen, guru, orang tua dan kepada sesama, tanpa saling menyakiti, kalau  tidak mau disakiti jangan menyakiti, kalau tidak mau melukai, jangan sekali-kali melukai. Kemudian pesan terakhir mahasiswa harus betul-betul selektif dalam kegiatan kampus.

“Sekarang banyak ideologi radikal yang bisa membahayakan diri sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar, belajar dengan baik diimbangi dengan agama yang baik, belajar agama dengan benar karena menjadi landasan hidup, serta jauhi Narkoba buat generasi muda,” tutupnya. (Red-HG71/MoySukron).

Kudus, Harianguru.com - Kelompok Bermain Al-Azhar, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, menggelar upacara Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia, Sabtu, 17/08/2019.

Menariknya, seluruh pendidik KB Al-Azhar mengenakan pakaian adat Kudus. 

Pakaian adat kudus memiliki ciri khas, dimana perempuan yang memakai baju adat Kudus mengenkan caping kali, baju kurung bludru, jarik, selendang tohwatu dan pernak-pernik lainya tersebut dikenakan dalam upacara yang di selenggarakan di halaman KB Al-Azhar dan diikuti oleh 35 pendidik dan berlangsung sangat khidmat.

Eni Misdayani, Ketua Penyelenggara KB Al-Azhar menyampaikan, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini memilki beragam identitas masing-masing suku, baik bahasa dan budayanya, oleh karena itu, baju adat yang kita pakai hari ini merupakan jati diri kita sebagai warga Kudus.

"dengan pakain yang kita kenakan ini juga menunjukkan bahwa betapa melimpah-ruahnya kekayaan budaya kita dan salah satunya, sebagai salah satu wujud pelestarian baju adat Kudus" tuturnya.

Lanjut, Umi Eni, sapaan akrab Penyelenggara KB Al-Azhar tersebut, pada ulang tahun ke-74 Republik Indonesia, tahun ini, dengan tema SDM Unggul, Indonesia Maju, di dorong dengan kuatnya (SDM) Sumber Daya Manusia, "pendidikan di PAUD harus selalu kita upayakan untuk keberlangsungan para pewaris masa depan Bangsa," imbuhnya.

"Harapanya, melalui suksesnya pendidikan di PAUD, kita akan menyongsong menuju Indonesia Emas di tahun 2045, dengan kualitas pendidikan yang baik dan dimulai sejak dini, kita akan memiliki generasi yang benar-benar dapat dikata generasi emas dengan kerja keras dalam berbagai bidang termasuk pendidikan," pungkasnya. (hg44/Fakhrudin).


Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.

Ruang kelas sekolah hari ini tak ubahnya menjadi ekspo elektronik. Ruang kelas semakin berjubel dengan peralatan meja, kursi,AC, kipas angin, LCD, speker aktif, dan kabel-kabel bersliweran. Walaupun tidak semuanya, itulah sedikit kritik atas gambaran dinamika ruang kelas yang ada di sekolah saat ini. Semua diatur sedemikian rupa dengan kendali struktur yang ada.

Sepoi angin melambai-lambai dan hamparan sejuk taman sekolah tak lagi dijangkau oleh sejauh mata memandang. Memang terasa dingin suhunya saat listrik tidak oglangan, tetapi ketika listrik padam, semua berubah. Ruang kelas seakan pabrik yang mengepulkan asap panas. Panas, panas, dan panas. Sungguh ironis, pembelajaran desain ruang kelas masa lalu pun hanyut seiring kebijakan anggaran yang memihak teknologi, namun jauh dari sentuhan alam dan sosial.

Peran seorang guru pun pada sisi ini menjadi penting. Menghidupkan kembali suasana kelas yang ramah anak, yang sarat akan teknologi tapi tidak kaku saat teknologi mati. Aktivitas belajar tetap berjalan dengan menyenangkan meski tanpa AC, tanpa kipas angin, tanpa LCD dll. Karena selain mengasah kemampuan mengajar, guru sebagai pengajar sekaligus pendidik di sekolah pun perlu tahu bagaimana pola pengajaran yang tepat diberikan kepada peserta didiknya.

Dan bukan hanya soal pengetahuan, belakangan seiring perkembangan zaman, metode pembelajaran mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Saat kita bicara bahwa kita percaya kemerdekaan guru dan kemerdekaan belajar siswa, maka akan bersinggungan dengan banyak hal. Salah satunya kemerdekaan dalam proses belajar. Jika tujuannya agar anak mampu mengerjakan soal ujian, kita cukup mengajarkan cara menjawab soal-soal ujian dengan benar. Jika tujuannya agar anak mampu mempelajari dan menjawab tantangan hidup, selaku pendidik kita perlu mengajarkan murid untuk merdeka belajar.
Proses belajar yang bermakna mensyaratkan kemerdekaan guru dan murid dalam menentukan tujuan dan cara belajar yang efektif. Guru merdeka menemukan paduan yang pas antara tuntutan kurikulum, kebutuhan murid, dan situasi lokal. Murid merdeka menetapkan tujuan belajar bermakna, memilih cara belajar yang efektif, dan terbuka melakukan refleksi bersama guru.

Proses belajar yang menyenangkan dan bermakna hendaknya tidak memberikan sekat antara ruang kelas dengan realitas. Menyatukan keduanya dalam skenario pembelajaran dan kehidupan yang menarik. Jangan jadikan ruang kelas hanya menjadi objek penataan meja kursi dan seperangkat elekronik. Desain ruang kelas sudah saatnya dikembalikan pada sang pemilik kelas yakni guru dan siswa.    

Siswa dan guru harus sama-sama belajar. Ruang kelas yang sebenarnya adalah kenyataan yang ada. Jadikan ruang kelas menjadi sumber inspirasi bagi siswa. Jadikan setiap sudut ruang kelas menjadi media dan sumber belajar bagi siswa. Membawa alam semesta ke dalam ruang kelas bukanlah tak mungkin. Dibutuhkan kreatifitas guru dalam mewujudkan semua itu. Jadikan ruang kelas, menjadi udara sejuk nan asri. Jadikan ruang kelas menjadi air mengalir yang menghidupkan. Jadikan ruang kelas menjadi tanah yang subur, dan jadikan ruang kelas, menjadi cahaya penerang dengan pengalaman belajar, pengalaman mencoba, pengalaman menulis, pengalaman bercerita, pengalaman bermain peran, pengalaman berkomunikasi, pengalaman bersosial dan  penggalian berbagai ilmu.

Kemerdekaan siswa dan guru
Guru berperan penting dalam pendidikan, namun tuntutan akan besarnya peran atau secara spesifik tingginya kompetensi tidak akan tercapai saat guru tidak memiliki hal yang asasi: kemerdekaan. Kemerdekaan guru dalam jangka panjang berperan sentral untuk menumbuhkan kemerdekaan belajar siswa.

Lalu bagaimana cara guru menghidupkan kemerdekaan dalam kelas. Kemerdekaan bagi guru dalam mengelola pembelajaran dan kemerdekaan belajar bagi siswa?

Pertama, tersedia fasilitas dan prasarana yang membangkitkan semangat berkarya dan berimajinasi bagi anak. Seperti membuat pohon literasi di sudut kelas yang didisi dengan gantungan kaleng-kaleng bekas berisi karya-karya siswa baik secara individu ataupun kelompok. Bisa juga dengan membuat sudut baca yang menyediakan buku-buku bacaan anak. Sehingga setiap harinya anak-anak diajak membaca. Atau dengan memilih salah satu buku bacaan berurutan setiap harinya, lalu semua siswa mendengarkan bacaan yang dibacakan oleh guru atau salah satu siswa dengan suasana yang santai siswa duduk di lantai melingkar. Kegiatan demikian cukup efektif untuk menghilangkan kejenuhan belajar.

Kedua, siswa diberi kebebasan untuk bergerak di ruang kelas, bebas menyampaikan pendapat mereka dan tidak ada pengelompokan atas dasar tingkat kecerdasan. Karena pada dasarnya semua siswa memiliki kemampuan yang sama. Tinggal tugas guru untuk mengarahkan dan membimbing dengan sabar dan terbuka.

Ketiga, membiasakan siswa menulis buku harian atau diary. Aktivitas ini dilakukan setiap harinya setelah pembelajaran berakhir atau jelang jam pelajaran terakhir usai. Biarkan anak-anak menuliskan rasa suka dukanya di hari itu. Cara ini sangat efektif membantu guru memahami masing-masing kepribadian siswa, terlebih bagi siswa introvert yang terkenal dengan sikap pendiamnya. Setelah siswa pulang, guru membaca satu per satu tulisan siswa. Dari membaca tulisan siswa, guru bisa melakukan refleksi dari cara pengajarannya hari ini. Apa yang dituliskan oleh siswa menjadi tindak lanjut guru di pertemuan berikutnya. Permasalaan-permasalahan yang ada pada diri siswa, guru bisa membantunya. Setidaknya dengan menulis isi hatinya lewat diary, siswa pulang sekolah dalam keadaan tidak membawa beban psikisnya.

Keempat, menciptakan suasana kelas yang penuh kasih sayang, hangat, hormat dan terbuka, artinya guru bersedia mendengarkan keluhan peserta didik dengan aman dan mampu menjaga rahasia siswa. Kelima, jika ditemukan masalah pada siswa dengan siswa, guru menangani masalah tersebut dengan jalan berkomunikasi secara pribadi dengan siswa yang bersangkutan tanpa melibatkan pihak lain.

Guru tidak perlu menjadi figur yang serba ahli, selama dia merdeka dengan mempraktikkan segala apa yang dia pelajari dan belajar dari banyak kegagalan sebelum akhirnya meraih kemerdekaan sesungguhnya di dalam kelas bersama siswa. Karena kemerdekaan milik kita bersama, guru dan siswa.

-Penulis adalah Guru SD Supriyadi Semarang.

Kaltim, Harianguru.com - Hari kemerdekaan bisa dirayakan dengan berbagai macam cara. Salah satunya dengan menggerakan lebih jauh budaya baca yang sudah ada di sekolah, seperti dilakukan oleh SDN 008 Muara Kaman. Bergotong royong bersama dengan lebih 100 orang tua siswa, para pendidik di sekolah tersebut membangun dua pondok baca, taman dan pagar sekolah.

“Bertepatan dengan hari kemerdekaan, sekolah kami menjadi tempat rapat kelompok kerja kepala sekolah. Untuk menyambut mereka dan hari kemerdekaan 17 Agustus ini, pada awal Agustus kemarin, kami  mendirikan dua pondok baca bersama dengan orang tua siswa,” ujar Murniati, Kepala Sekolah, Sabtu, 17 Agustus 2019.

Uniknya pondok baca, taman dan pagar yang dibangun dibuat dari bahan yang murah yaitu dari ban mobil bekas. Bahan tersebut terutama untuk kursi dan mejanya, sedangkan atapnya dibuat dari daun palma.

Semua bahan untuk pembangunan pondok baca, taman dan pagar berasal dari orang tua siswa. Ban diambil dari dua bengkel yang ada di dekat sekolah milik orang tua siswa. Ban-ban itu gratis disumbangkan begitu saja oleh orang tua siswa. Orang tua siswa yang lain menyumbang kayu, cat, semen dan lain-lain. Ada juga yang menyumbang uang secara sukarela.  “Semua pengeluaran dan pemasukan akan kami laporkan secara terbuka kepada orang tua Siswa setelah kegiatan Agustusan hari ini,” ujar Murniati.

Lalu bagaimana cara agar orang tua siswa mau tergerak membantu sekolah. Murniati membagikan kiatnya. “Saya sering berkomunikasi secara terbuka dengan komite tentang berbagai kebutuhan sekolah dan keterbatasan dana yang kami miliki.  Setelah Pelatihan Program PINTAR Tanoto Foundation, sebagai bagian rencana tindak lanjut setelah pelatihan, saya juga berkonsultasi dengan komite untuk mendirikan pondok baca, taman dan pagar sekolah,” ujar Murniati.

Komite sangat sigap menanggapi usulan sekolah. Setelah diberitahu tentang keinginan membangun pondok baca, komite segera mengundang seluruh wali murid untuk rapat. Akhirnya wali murid dari kelas satu sampai kelas enam sepakat untuk bergotong royong  membangun bersama.

Saat ini, para wali murid juga berkumpul menyambut hari 17 Agustusan dengan berbagai lomba, salah satunya lomba lari terompah dan tarik tambang. “Ini kami lakukan agar hubungan kami dengan mereka semakin akrab. Hubungan yang akrab dengan mereka akan memudahkan membangkitkan peran serta masyarakat,” ujar Murniati.

30 Kepala sekolah yang ikut rapat K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) juga dipersilahkan untuk melihat dan bertanya tentang pondok baca, taman dan pagar yang dibangun. “Mereka banyak yang antusias bertanya tentang sumber dana membangun pondok baca ini. Karena murah, saya yakin mereka akan juga membangun pondok-pondok baca di sekolah masing-masing,”ujar Murniati bersemangat menyebarkan praktik baiknya.

Keperdulian komite dan orang tua siswa memang lumayan  besar di sekolah ini.  Ketua Komite, bapak Teguh Wahyudi, bahkan secara sukarela menyumbangkan 50 benih kelapa sawit dan pupuknya untuk sekolah. Tanaman tersebut ditanam di tanah sekolah seluas 75 x 100 meter. “Hasilnya nanti untuk memenuhi berbagai kebutuhan sekolah yang tidak bisa hanya mengandalkan dana BOS, misalnya untuk tambahan gaji guru honorer,” ujar Murniati.

Bangkitnya peran serta masyarakat juga tak lepas dari peran pengawas sekolah Pak Ponidi dan kepala UPT desa tersebut, Pak Alpian. Selama rapat dengan orang tua wali murid, pak Ponidi memberikan kesadaran terhadap orang tua siswa tentang pentingnya membaca bagi siswa sehingga masyarakat mau bergerak. Kepala UPT sering datang ke sekolah memberikan masukan-masukan. “Jadi kami didukung oleh banyak pihak. Tanpa keterlibatan banyak pihak, sekolah tidak akan bisa banyak mengalami kemajuan seperti sekarang,” ujar Murniati menutup. (Hg33/hms).


Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka menyambut HUT RI ke 74, MTs Ma'arif Gemawang Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah menggelar berbagai perlombaan di MTs Ma'arif Gemawang Selasa (13/8/2019) dan Rabu (14/8/2019).

Tujuan pelaksanaan lomba itu tidak sekadar formalitas, namun lebih pada untuk menanamkan spirit nasionalisme kepada pelajar.

Siswa-siswi MTs Ma'arif Gemawang mengikuti perlombaan permainan seru, seperti estafet air, mengambil koin pada pepaya dan memasukkan pensil ke dalam botol, dengan sangat antusias pada Selasa (13/8/2019). 

Perlombaan dilanjutkan kembali usai melaksanakan upacara peringatan Hari Pramuka ke 58 pada Rabu (14/8/2019) pagi. Adapun perlombaan pada hari ini adalah lomba menghias kelas, paduan suara dan menghias tumpeng.

"Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memupuk rasa nasionalisme dan cinta tanah air pada siswa-siswi MTs Ma'arif Gemawang khususnya dan generasi muda NU umumnya", tutur Kepala MTs Ma'arif Gemawang Imam Achmadi.

Peringatan HUT RI ini sangat penting agar generasi penerus bangsa tidak melupakan sejarah bangsanya dan memiliki semangat untuk mengisi kemerdekaan dengan berbagai prestasi yang mengharumkan nama bangsa.

Kegiatan perlombaan diakhiri dengan tasyakuran dan makan tumpeng bersama siswa dan guru MTs Ma'arif Gemawang. (Hg44//Enik)

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget