Halloween Costume ideas 2015

Harian Guru

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Latest Post

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Agar siswa gemar membaca buku, banyak rekayasa yang harus dilakukan sekolah. Tanpa rekayasa yang terprogram, kebiasaan membaca buku juga tidak akan tumbuh. Salah satu yang penting adalah rekayasa menarik sumbangan buku dari masyarakat.

Sekolah-sekolah yang sudah menerapkan program literasi, biasanya mengalami kendala kekurangan buku saat program tersebut sudah berjalan. Siswa masih mau membaca buku, tetapi buku-buku yang bagus sudah terbaca semua. Hal ini bisa menurunkan semangat dan minat siswa untuk membaca.

Misalnya di  SD 12 Kutai Kartanegara.  Semenjak dilatihkan program budaya baca, sekolah mitra Tanoto Foundation ini sudah mulai menjalankan program literasi. Namun menurut Siti Albani, sekolahnya masih kekurangan banyak buku  “Buku di sekolah banyak sudah dibaca siswa. Strategi kami adalah kami akan memutar buku yang ada di pojok baca di setiap kelas ke kelas-kelas yang lain,” ujarnya.

Di sekolah-sekolah lain, beberapa strategi telah dilakukan untuk mendulang buku dari masyarakat, seperti berikut ini:
Madrasah Ibtidaiyah Asy Syauqi Kutai Kartanegara: Bekerja sama Dengan Perusahaan
Madrasah Ibtidaiyah Asy Syauqi langganan membeli buku paket pelajaran pada sebuah perusahaan buku. Dengan cerdik, sang kepala madrasah, ibu Iip Syarifah, sebagai timbal balik pembelian buku tersebut, mengusulkan perusahaan membantu meningkatkan budaya literasi sekolah. Ia mengusulkan perusahaan mengadakan reading day per kelas tiap minggu. Usul tersebut diterima. Perusahaan sesuai jadwal membawa banyak buku cerita ke kelas. Selama kurang lebih satu jam, para siswa membaca dan menceritakan isi buku bacaan. Perusahaan  memberikan hadiah buku carita bagi siswa yang berani bercerita di depan teman-temannya dengan baik. Kegiatan seperti ini sudah berlangsung dua kali. Selain itu, ibu Iip juga membentuk paguyuban kelas dan mengorganisasikannya lewat grup di whats apps. Lewat aplikasi tersebut, ia menghimbau orang tua siswa yang tergabung di dalamnya menyumbangkan buku. Saat penyerahan buku, gambar-gambarnya juga ia share di grup, sehingga memantik orang tua lainnya untuk perduli.

MI AL Aula Balikpapan : Mengumpulkan Buku dari Paguyuban Kelas dan Arisan Buku
Komite atau paguyuban kelas di Mi Al Aula cukup aktif untuk mengumpulkan buku. Ketua komite kelas satu yang sering datang ke sekolah, menghimbau para anggota paguyuban untuk menyumbangkan buku di rumah masing-masing untuk diletakkan di sudut baca..  Selain kegiatan tersebut, siswa kelas V Mi Al Aula juga punya kreatifitas. Mereka membuat arisan buku. Seluruh siswa mengumpulkan uang untuk satu orang, dan hasilnya dibelikan buku yang kemudian diletakkan di pojok baca. 

SDN 003 Tenggarong: Menarik Buku dari Calon Alumni
Untuk menambah jumlah buku, SDN 003 Tenggarong mewajibkan para siswa yang mau lulus menyumbangkan minimal satu buku buku cerita ke sekolah. Buku tersebut kemudian distempel tersendiri. Stempel alumni. Setiap lulusan sekolah, rata-rata sekolah mendapatkan 60 buku dari alumni. “Cukup banyak untuk menambah buku di sudut-sudut baca, yang kami rolling ke sudut baca ke setiap kelas yang lain,” ujar Kurnia, guru sekolah tersebut.

Mendulang buku di MTs Balikpapan; Program Koinku untuk Buku
MTs 1 Balikpapan memiliki cara unik untuk mendulang buku. Sekali sebulan pada hari Senin saat sehabis upacara,  sekolah mengadakan sumbangan koinku untuk buku atau disingkat kutu buku. Siswa yang ditunjuk khusus berkeliling menyodorkan kotak sumbangan. Karena jumlah siswa di madrasah tersebut berjumlah lebih dari 1000, hasil yang didapat cukup banyak, kurang lebih satu juta rupiah dalam sekali pengumpulan. Uang yang didapat dibelikan buku lewat kelompok literasi yang aktif di Balikpapan yaitu Komunitas Bikers Sosial. “Buku yang didapat lebih murah dan lebih variatif, sesuai selera siswa,” kata ibu Ummi Putri Balia, penggagas gerakan koinku untuk buku di madrasah ini. Sekolah saat ini telah membuat pojok baca, taman baca di tengah sekolah, dan juga jadwal membaca rutin.

SMPN1 Balikpapan: Lomba Perpustakaan Mini Kelas
Atas inisiasi ibu Aryanti, SMPN Balikpapan mengawali gerakan literasi di sekolah tersebut dengan mengadakan lomba perpustakaan mini kelas. Mereka membentuk kepanitiaan yang terdiri dari guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Mereka mengundang orang tua siswa dan mengumumkan bahwa sekolah akan memulai gerakan literasi dengan lomba perpustakaan mini kelas yang akan dikelola orang tua siswa. Salah satu kriteria ikut lomba perpustakaaan mini kelas  adalah bukunya harus berjumlah minimal 60 eks dan sesuai dengan usia anak. Karena persyaratan jumlah buku tersebut, orang tua siswa berlomba-lomba menyumbangkan buku ke sekolah untuk diisikan di perpustakaan mini di kelas. Buku yang terkumpul dari lomba ini lebih dari 600 buku.

Madrasah Ibtidaiyah Nahdatul Ulama Balikpapan:  Arisan dan Pengajian Penggalangan Dana
Pak Gunanto, kepala madrasah MINU, bukan hanya kepala madrasah biasa. Ia merupakan pedakwah aktif di komunitas. Untuk membangkitkan peran serta masyarakat masyarakat,  ia menggagas pertemuan rutin. Isi pertemuan  adalah pengajian,  arisan dan penggalangan dana.  Saat pertemuan, dia melaporkan keadaan keuangan sekolah, pengeluaran dan pendapatan, serta kebutuhan yang masih harus dipenuhi. Penggalangan dana dilakukan lewat kotak amal, dan sumbangan bulan berjalan. Hasil sumbangan dibelikan untuk kebutuhan sekolah, salah satunya buku-buku yang mengisi pojok baca dan taman baca. “Lewat pertemuan rutin dengan masyarakat, masyarakat menjadi lebih terikat dengan kita. Mereka menjadi lebih perduli dengan program sekolah, termasuk program literasi,” ujarnya.

Masih banyak trik-trik lain yang telah dijalankan banyak sekolah untuk memperoleh buku. Sekolah-sekolah mengajukan proposal ke perusahaan, perpustakaan daerah atau toko-toko buku. Sekolah bisa juga menyelenggarakan bazar buku dengan penerbit buku atau ikut dalam kegiatan-kegiatan literasi lain.

Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kemenag, Tanoto Foundation berusaha terus menerus meningkatkan  budaya baca di sekolah-sekolah di daerah mitranya.  Tanoto Foundation di awal tahun 2019 ikut menyumbangkan buku bagi 44 sekolah-sekolah mitra SD dan MI yang ada di Balikpapan, Kutai Kartanegara dan Samarinda. Masing-masing sekolah mendapatkan 70 buku cerita, atau totalnya 3080 buku.(HG44/hms).


Temanggung, Harianguru.com – Dalam Seminar Nasional dan Call for Paper Lembaga Bahasa STAINU Temanggung bertajuk “Peran Akademisi di Era Revolusi Industri 4.0 dalam Mengembangkan IPTEKS” di aula STAINU Temanggung, Sabtu (6/4/2019), Dosen S3 Politik Islam-Ilmu Politik, Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Dr Hasse J, MA menegaskan bahwa akademisi khususnya di STAINU Temanggung harus menjadi pioner dalam pengembangan IPTEKS.

Pihaknya menegaskan, bahwa perkembangan era Revolusi Industri 4.0 begitu pesat, dan mencerabut kehidupan termasuk agama dan nilai-nilai luhur yang diwariskan ulama. “Seolah-olah, dunia virtual telah menggantikan peran agama. Jika dulu orang ada orang mati ya datang takziyah, sekarang cukup kirim gambar tanda duka, ini harus dijawab dan diantisipasi agar agama tidak ditinggalkan generasi milenial,” beber jebolan Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM yang mewakili pembicara Prof Irwan Abdullah tersebut.

Pihaknya berharap, bahwa akademisi perlu melakukan inovasi terutama dalam mepertahankan nilai-nilai agama karena saat ini eranya adalah pos truth, antara yang hoaks dengan yang benar beda tipis. “Kita perlu bekerja kolektif, baik melalui pengembangan IPTEKS maupun melakukan inovasi dalam mempertahankan nilai-nilai agama,” beber pria kelahiran Bolabulu, Sidrap 09 September 1976 tersebut.

Dalam menjawab era pos truth ini, menurut pria tersebut, akademisi harus mengomparasikan agama dan teknologi. Sebab, kata dia, saat ini agama dan teknologi sangat berpotensi dijadikan propaganda asing khususnya penyebaran fitnah, ujaran kebencian, bahkan radikalisme.

Sementara itu, dosen Universitas Negeri Semarang Dr. Rochmad, MSi sebagai pembicara kedua mengatakan, untuk menjawab era Revolusi Industri 4.0 membutuhkan beberapa pendekatan. “Dalam pembelajaran, kita harus melakukan blended learning, pembelajaran berbasis daring. Ini harus dilakukan dan sudah dapat dilakukan karena boleh di atas lima puluh persen perkuliahan dengan memanfaatkan teknologi yang ada seperti SPADA,” beber dosen asal Temanggung tersebut.

Pihaknya juga menambahkan, akademisi harus dapat melakukan perkuliahan yang mengarah pada skill abad 21. “Selain itu, akademisi baik itu dosen atau mahasiswa harus dapat menerapkan berpikir kritis, berpikir logis, dan berpikir kreatif sesuai gradasinya,” tandasnya dalam seminar yang dimoderatori Kaprodi PGMI STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda tersebut.

Untuk menjawab Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, menurut Rochmad, akademisi harus memperkuat agama dengan cara memahaminya dengan benar. “Selain teknologi, kita harus bernalar, berlogika, bahkan akademisi harus punya amalan berupa hafalan Asmaul Husna, bahkan hafalan Quran sebagai solusi untuk menjawab era Revolusi Industri 4.0 ini, karena yang fisik itu pastik digerakkan yang metafisik,” beber dia.

Hadir dalam seminar itu Ketua STAINU Temanggung Dr. H. Muh Baehaqi, MM dan jajarannya serta ratusan mahasiswa, dan puluhan dosen, guru, akademisi yang telah mengikuti presentasi artikel hasil riset dalam Call for Paper yang dirangkai dalam kegiatan tersebut. (hg44).


Temanggung, Harianguru.com – Puluhan peneliti dari unsur dosen, mahasiswa Pascasarjana, guru, dan lainnya melakukan presentasi dalam forum Call for Paper yang dirangkai dengan Seminar Nasional bertajuk “Peran Akademisi di Era Revolusi Industri 4.0 dalam Mengembangkan IPTEKS” di ruang rapat STAINU Temanggung, Sabtu (6/4/2019).

Kegiatan tersebut digelar Lembaga Bahasa STAINU Temanggung yang dipimpin langsung moderator presentasi Rhindra Puspitasari, M.Pd., dengan didampingi reviewer Dr. Baedhowi, M.Ag., dan Hamidulloh Ibda, M.Pd.

Di sela-sela mereview, Dr. Baedhowi mengatakan di era Revolusi Industri 4.0, perlu mengintegrasikan hasil riset sesuai dengan perkembangan zaman agar tidak ahistoris. “Dari riset yang ada, perlu pengembangan sesuai disiplin ilmu masing-masing agar dapat memberi sumbangsih dalam dunia IPTEKS,” papar Pembantu Ketua I Bidang Akademik STAINU Temanggung tersebut.

Sementara itu, Hamidulloh Ibda juga mengatakan banyak naskah yang belum sesuai pedoman penulisan yang sudah ditentukan panitia. Untuk itu, kedalaman dan keluasan riset perlu dibenahi apalagi dari naskah yang masuk kebanyakan adalah hasil riset lapangan. “Sehingga impact dari riset lebih ditonjolkan daripada sekadar bermain teori,” kata peraih Juara I Lomba Artikel Nasional Kemdikbud 2018 tersebut.

Dalam laporannya, Ketua Panitia Call for Paper dan Seminar Nasional Zaidatul Arifah, M.Pd mengatakan bahwa banyak naskah artikel yang masuk dari berbagai kampus maupun institusi, dari unsur dosen, mahasiswa, guru, maupun peneliti unsur lain.

“Kami menerima naskah dari berbagai kampus. Selain internal STAINU Temanggung, ada dari Universitas Tidar Magelang, Unsiq Wonosobo, Universitas Sebelas Maret, IAIN Salatiga, STAINU Purworejo, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, Universitas Islam Batik Surakarta, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Peradaban Brebes, SDN Sampangan 01 Kota Semarang dan lainnya,” papar Zaidatul Arifah.

Dalam kesempatan itu, naskah dipresentasikan dan diberi masukan dari reviewer untuk diperbaiki. Ada naskah yang berbahasa Indonesia, Arab dan Inggris sesuai disiplin ilmu masing-masing. Usai presentasi, kegiatan dilanjutkan dengan seminar nasional yang diikuti ratusan peserta. (hg55/HI).


Semarang, Harianguru.com – Pada Kamis, (4/4/2019), Lembaga Pendidikan (LP) Ma`arif PWNU Jawa Tengah memulai kegiatan tahap pertama dengan merumuskan desain program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Guru Ma`arif Jawa Tengah. 

Kegiatan ini merupakan kemitraan antara LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah dengan Direktorat GTK Kementerian Agama RI.

Hadir dalam dalam kesempatan ini Tim Pengembang PKB Guru Direktorat GTK Kementerian Agama RI Bahris Salim. Adapun narasumber kegiatan ini adalah Manager Technical Assistance for Education Strengthening System (TASS) Abdul Munir, dan Konsultan Teknis TASS Kementerian Agama Ihsan. 

Hadir pula Ketua PWNU Jawa Tengah KH. Muzammil, Sekretaris PWNU Jawa Tengah Gus Hudalloh Ridwan Naim dan jajaran pengurus harian LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah.

Dalam kesempatan itu, Ketua PWNU Jateng KH Muzammil menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan kemitraan LP Ma`arif dan Kementerian Agama serta menyampakan ucapan terima kasih atas fasilitasi yang diberikan oleh tim TASS. “Kegiatan ini sangat penting mengingat bahwa mutu inilah yang dibutuhkan oleh guru-guru kita di Ma`arif,” papar KH Muzammil.

Sementara menurut Konsultan Teknis TASS Kementerian Agama RI Ihsan menyampaikabahwa ketika kementerian membuka ruang tersistem dan massif maka harus ada standar proses yaitu prencanaan, pelekasanaan, pemantauan dan evaluasi, dan pelaporan. 

Oleh karena itu tahapan-tahapan penyusunan perencanaan program harus dilalui dalam beberapa tahap agar sistemnya terbangun sampai siap untuk diimplementasikan,” katanya.

Ketua LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah, R. Andi Irawan mengatakan dalam penyususun perencanaan program ini LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah unsur yang terlibat sebagai tim perumus program adalah beberapa Ketua LP Ma`arif cabang, guru/kepala madasarah/sekolah, dosen, widyaiswara dan pengurus PW Ma`arif Jateng. 

“Komposisi tim perumus ini terdiri atas beberapa unsur yaitu akademisi, dari Balai Diklat, Kepala madrasah dan SMK, Ketua LP Ma`arif dan pengurus Ma`arif Wilayah,” ungkap dia.

Di akhir penjelasan tim TASS, menegaskan bahwa pertemuan ini akan berlangsung dalam beberapa tahap dan berkelanjutan sampai system terbentuk dan LP Ma`arif Jawa Tengah siap melaksanakan piloting dan desiminasi ke guru-guru maarif se Jawa Tengah. (HG44/Hi).

Kudus, Harianguru.com -Peserta didik KB Al-Azhar Jekulo kunjungi BPBD (Badan penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Kudus, Jumat 29/03/2019.

"Kunjungan diikuti 124 anak, terdiri atas Kelompok Persiapan A dan B," Terang Eni Misdayani, Penyelenggara KB Al-Azhar.

"Ini pertama kali, kami (red: KB Al-Azhar) berkunjung ke BPBD, " Ujarnya.

Tujuan daripada kegiatan ini, tak lain adalah mengenalkan secara dini pada anak, akan pentingnya tanggap bencana.

Dengan kunjungan ke BPBD ini, anak-anak mengenal berbagai macam bencana, mengetahui asal muasal terjadinya, dan penanggulanganya, bahkan anak dikenalkan berbagai macam alat keselamatan pada bencana" Jelas Eni Misdayani, Penyelenggara KB Al-Azhar.

Kegiatan ini di sambut baik Djunaedi, Sekretaris Dinas BPBD Kabupaten Kudus, di hadapan anak-anak, ia mengimbau agar tidak membuang sampah secara sembarangan, apalagi di sungai, akan mengakibatkan banjir," pesannya pada anak-anak.

Dipandu oleh Johan dan Abdul Jalil, anak-anak di putarkan film edukatif, menanggapi perihal bencana dan cara mengatasi, mereka menyerukan pada anak-anak agar tak panik, sekalipun dalam keadaan darurat bencana.

Selain itu, anak-anak Al-Azhar juga di ajak simulasi dan praktik langsung di halaman, untuk memadamkan api.

Dari truck tangki BPBD, bersama Agung Hartono, dkk, anak-anak KB Al-Azhar di ajari menggunakan helm safety, rompi, memegang selang, dan cara menyemprotkan air yang tepat pada titik api.

"Saya senang berkunjung, bermain dan belajar di BPBD Kudus," Tutur Abraham Arya Satya



Bahkan, dengan tanggap, ia bertanya pada Abdul Jalil, sewaktu melihat Gudang Logistik BPBD, "saya minta nomor telepon BPBD, Pak?" Tanggap Arya. (Fakhrudin)

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Semenjak Tanoto Foundation bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kemenag mengenalkan skenario pembelajaran memakai unsur MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi), banyak guru di Kaltim yang kreatif dalam mengajar. Mereka berusaha membuat pembelajaran jadi menyenangkan dan sesuai karakter anak-anak. Salah satunya bu Lusi Ambarani, guru kelas II dari Madrasah Nahdatul Ulama Balikpapan. Ia mengajar pecahan pada siswa dengan memakai media kue enak yang  disukai anak-anak : kue donat.

“Ini adalah salah satu cara saya agar siswa menjadi senang belajar matematika. Kebanyakan siswa takut dengan matematika kalau kita mengajar tidak dengan cara yang menyenangkan dan sesuai karakter mereka,” ujar bu Lusi.

Nah bagaimana caranya ia mengajar pecahan dengan memakai donat? 
Pertama, ibu Lusi tidak langsung membagikan donat pada siswa, tapi lebih dahulu mengajak  mereka mengamati kertas biru yang  dia modelkan sebagai donat.  Ibu Lusi bertanya pada para siswa, kalau ia memiliki donat yang harus dibagi adil pada salah satu siswa, maka apa yang harus ia lakukan? Para siswa  menjawab donat tersebut harus dibagi dua.

Setelah itu, ibu Lusi menempelkan kertas biru tersebut di papan tulis dan meminta siswa menentukan berapa besar jadinya dari salah satu bagian donat tersebut. Para siswa langsung menjawab setengah bagian. Ibu Lusi kemudian menuliskan angka  ½ di papan tulis dan mengajarkan bahwa yang diatas disebut pembilang dan yang dibawah disebut penyebut dalam sebuah pecahan.

Selanjutnya ibu Lusi  mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengarahkan siswa mengerti 1/4, 1/5 dan seterusnya.  Misalnya dengan pertanyaan “Ibu punya selembar kertas berbentuk lingkaran dan mau dibagi 4 sama rata? Berapakah nilai masing-masing kertas yang telah dibagi empat?” 

Setelah siswa mengerti konsepnya, mereka dibagi menjadi lima kelompok. Kali ini ibu Lusi benar-benar memberikan mereka kue donat dan pemotongnya. Masing-masing kelompok diberi tugas membagi donat berdasarkan angka pecahan yang ia berikan. Tiap kelompok mendapatkan angka yang berbeda-beda, misalnya 1/7, 1/8, 1/9 dan seterusnya.
Disinilah waktu yang amat menyenangkan, para siswa memotong-motong kue donat yang diberikan sesuai angka pecahan yang diberikan. Mereka sangat antusias!

Apalagi setelah selesai kegiatan itu, para siswa diajak saling mengunjungi hasil kerja kelompok. Difasilitasi oleh ibu Lusi, para siswa mengoreksi pekerjaan  kelompok lainya. Dengan saling berkunjung seperti ini, siswa sambil bermain diajak bu Lusi untuk memahami apa yang ia kerjakan dan dikerjakan temannya.

“Siswa gembira sekali mengunjungi hasil karya teman-temannya. Apalagi setelah itu, kue kue yang dijadikan media belajar dimakan bersama-sama, mereka begitu gembira!” cerita  bu Lusi tentang siswa-siswanya.  

Namun permainan belum selesai.  Untuk menguji kemampuan siswa, bu Lusi juga meminta siswa secara individu membuat sendiri soal pecahan dan membuat gambarnya. 
Karena sudah mengetahui konsep yang diajarkan, siswa sangat cekatan menjawab. Salah satu siswa misalnya menuliskan angka 1/3, kemudian menggambar sebuah persegi panjang, lalu dibagi menjadi 3 bagian sama besar. Adapula yang menuliskan bilangan 1/10 dan menggambar sebuah lingkaran yang ia bagi menjadi 10 bagian, layaknya pizza.
“Anak-anak menikmati sekali pembelajaran matematika dengan cara begini. Mereka gembira sekaligus cepat mengerti,” kata bu Lusi antusias.

Mengutip penelitian INAP Kemendikbud tahun 2016, Indonesia dikategorikan masuk kondisi darurat matematika. 77,6 persen siswa SD di seluruh Indonesia memiliki kompetensi matematika yang sangat rendah,  20,58 cukup dan hanya 2,29 persen yang kategori baik. Hal ini disinyalir salah satu sebabnya adalah karena kurangnya kemampuan metodologi pembelajaran matematika oleh guru. “Model pembelajaran yang ibu Lusi lakukan perlu disebarluaskan,  agar siswa semenjak dini menyukai matematika, pelajaran yang seringkali jadi momok bagi para siswa, “ ujar Mustajib, Communication Specialist Tanoto Foundation Kalimantan Timur. (HG44/Hms).

Temanggung, Harianguru.com - Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung menggelar Rapat Tinggi (Rating) yang dirangkai usai kegiatan Sosialisasi Visi Misi di aula MI Asmaul Husna Kemloko, Kranggan, Temanggung pada Sabtu (30/3/2019).

Kegiatan Rating berakhir Ahad (31/3/2019) yang diikuti pengurus HMP dan semua mahasiswa-mahasiswi PGMI STAINU Temanggung. Rating itu membahas program kerja yang sudah berlangsung dan yang akan datang yang dipimpin Ketua HMP PGMI STAINU Temanggung Munawaroh.

Sebelumnya Kaprodi PGMI STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda juga datang dan melakukan sosialiasi visi misi kepada guru dan mahasiswa. Sosialisasi itu merupakan tindaklanjut MoU yang dilalukan tahun lalu. Tahun lalu sudah berjalan pendampingan pembuatan RPP bagi guru-guru MI Asmaul Husna.

Selain Kaprodi PGMI STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda, saat sosialisasi juga hadir sosen PGMI M. Fadloli Alhkim, Effi Wahyuningsih, dan Faizah, mahasiswa, komite, guru dan yayasan yang menaungi MI Asmaul Husna.

Dalam pemaparannya, Kaprodi PGMI STAINU Temanggung mengatakan bahwa Prodi yang ia kelola sebentar lagi akan malalukan akreditasi. "Meski belum punya lulusan dan masih baru berjalan dua tahun, tapi kami sudah upload borang akreditasi di Sapto. Semoga hasilnya maksimal," tutur pengurus Bidang Litbang dan Diklat LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah tersebut.

Saat menjelaskan visi misi, ia mengatakan bahwa Visi Prodi PGMI STAINU Temanggung adalah Unggul dalam Bidang Ilmu Pendidikan Dasar Islam dan Teacherpreneurship Berwawasan Ahlussunah Waljamaah Annahdliyah pada tahun 2037. "Sesuai profil lulusan, Prodi PGMI STAINU Temanggung menyiapkan calon guru kelas MI/SD dan teacherpreneurship bidang pendidikan dasar," papar penulis buku Stop Pacaran, Ayo Nikah! tersebut.

Pihaknya berharap, persiapan akreditasi matang dan target minimal dapat akreditasi B dari BAN-PT. (HG44).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget