Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Apa Arti Metode Probing Prompting?



Kompetensi guru dalam mencoba menggunakan berbagai metode sangat diperlukan. Salah satunya adalah metode probing prompting. Menurut kamus terjemahan Inggris-Indonesia, probing adalah menyelidiki atau melacak. Sedangkan prompting adalah stimulus yang diberikan sebelum dan selama terjadinya sesuatu. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa probing-prompting merupakan suatu metode yang digunakan untuk menyelidiki suatu permasalahan dengan diberikan stimulus-stimulus sebelum dan selama terjadinya pembelajaran. Adapun yang dimaksud dengan stimulus disini adalah pemberian pertanyaan-pertanyaan kepada siswa sampai menemukan pengalaman baru.
Metode pembelajaran probing-prompting memang belum banyak digunakan karena keterbatasan referensi dan kurangnya kemampuan guru dalam menyusun pertanyaan yang efektif bagi keterlaksanaan pembelajaran. Sebagian besar guru masih merasa kebingungan dalam menyusun pertanyaan dasar sampai pertanyaan lanjut sehingga pada pembelajaran kooperatif metode ini jarang digunakan.
Probing
Penjelasan mengenai probing telah disajikan oleh Jacobsen pada bukunya yang berjudul Methods for Teaching (1989: 149):
The former involves increased numbers of students, and the latter deals with incorrect responses. An additional situation arises when the student’s reply is correct but insufficient because it lacks depth. In such a case, it is important for the teacher to have the student supply additional information in order to have better, more inclusive answers. This technique is called probing.
Proses pembelajaran akan melibatkan guru, siswa dan lingkungan sebagai tempat belajar. Setiap pembelajaran mencoba mengaktifkan siswa dengan memberikan tawaran pertanyaan hingga muncul jawaban salah pada diri siswa. Situasi tersebut akan terus berlangsung sampai konsep jawaban benar menjadi simpulan dari pertanyaan yang diajukan oleh guru. Namun jawaban yang benar dari siswa tersebut tidak cukup sehingga membutuhkan jawaban yang lebih mendalam dari guru. Dalam kasus ini penting bagi guru untuk memiliki pengetahuan yang lebih sehingga tercipta jawaban inklusif untuk disajikan kepada siswa. Teknik seperti ini yang disebut probing (Jacobsen. 1989: 149).
Mengajukan pertanyaan merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Keefektifan pertanyaan dapat dilihat dari cara siswa menyikapi soal-soal yang diberikan oleh guru. Ketika pertanyaan muncul mau tidak mau siswa akan termotivasi untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Hal tersebut sama dengan langkah yang dilakukan oleh Anne dalam memecahkan masalah. Menurut Johnson (2009: 217) langkah mencari solusi permasalahan adalah sebagai berikut:
a.         Identifikasi masalah
b.        Kumpulkan solusi-solusi yang memungkinkan
c.         Pilihlah tiga solusi terbaik
d.        Laksanakan rencana kalian
e.         Evaluasi keefektifan solusi kalian
Penggunaan pertanyaan dalam pembelajaran pada dasarnya memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpikir dan merenung. Hal tersebut dikuatkan oleh DePorter (2012) dalam bukunya Quantum Teaching yang menjelaskan bahwa dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk merenung, guru telah membantu siswa mendirikan pengertian konseptual yang lebih mendalam, membangun kaitan yang lebih kuat, dan lebih banyak lagi menekan proses belajar. Adapun pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dalam proses pemberlajaran disebut probing question.
Metode probing-prompting membutuhkan penguasaan keterampilan bertanya yang baik pada guru.  Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan tanya jawab kepada siswa:
a.    Tujuan yang akan dicapai dari metode tanya jawab, antara lain:
1.    Untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran telah dikuasai oleh siswa.
2.    Untuk merangsang siswa berpikir.
3.    Memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan masalah yang belum dipahami.
b.    Jenis pertanyaan. Pada dasarnya ada dua pertanyaan yang perlu diajukan, yakni pertanyaan ingatan dan pertanyaan pikiran.
1.    Pertanyaan ingatan, dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana pengetahuan sudah tertanam pada siswa. Biasanya pertanyaan berpangkal kepada apa, kapan, dimana, berapa, dan yang sejenisnya.
2.    Pertanyaan pikiran, dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana cara berpikir anak dalam menanggapi suatu persoalan. Biasanya pertanyaan ini dimulai dengan kata mengapa, bagaimana.
c.    Teknik mengajukan pertanyaan. Berhasil tidaknya metode tanya jawab, sangat bergantung kepada teknik guru dalam mengajukan pertanyaan. Hal pokok yang harus diperhatikan antara lain:
1.    Perumusan pertanyaan harus jelas dan terbatas sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan pada siswa.
2.    Pertanyaan hendaknya diajukan pada kelas sebelum menunjuk siswa untuk menjawabnya.
3.    Beri kesempatan/ waktu pada siswa untuk memikirkannya.
4.    Hargailah pendapat/ pertanyaan dari siswa.
5.    Distribusi atau pemberian pertanyaan harus merata.
6.    Buatlah ringkasan hasil tanya jawab sehingga memperoleh pengetahuan secara sistematik (Sudjana, 2009: 79).
Perancangan pertanyaan hendaknya disesuaikan taksonomi tujuan pembelajaran. Pada struktur kawasan kognitif, Bloom (dalam Murni, 2011: 94) menyatakan tingkatan hierarkis dari yang paling rendah (pengetahuan) sampai ke yang paling tinggi (evaluasi) dan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.         Tingkat pengetahuan (Remember)
b.        Tingkat pemahaman (Understand)
c.         Tingkat penerapan (Apply)
d.        Tingkat analisis (Analyze)
e.         Tingkat evaluasi (Evaluate)
f.         Tingkat membuat (Create)
Metode probing-prompting terdapat dua aktivitas yang saling berhubungan yaitu aktivitas siswa yang meliputi aktivitas berpikir dan fisik yang berusaha membangun pengetahuan serta aktivitas guru yang berusaha membing siswa melalui pertanyaan-pertanyaan. Metode pembelajaran Probing-prompting dikembangkan ke dalam langkah-langkah sebagai berikut:
a.         Guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali.
b.        Siswa mengonstruksi konsep prinsip aturan menjadi pengetahuan baru.
c.         Guru melakukan tanya jawab dengan menunjuk siswa secara acak
d.        Guru memberikan penghargaan kepada siswa yang jawabannya salah
e.         Tanya jawab diteruskan sampai mendapatkan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak diberitahukan.
f.         Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang berprestasi (Suyatno, 2009: 63)
It is important to note that no new ideas have been introduced. The purpose here is to get students to justify or further explain their responses, thereby increasing the depth of the discussion. It also helps to move students away from surface responses. All too often, we don’t take our students beyond the simple yes or no or correct anwer response. We need to provide our students with increased opportunities to process information, to deal with the why, the how, and the based upon what. By doing so, the student not only gains experiences a greater feeling of success.
Penting untuk dicatat bahwa tidak ada ide-ide baru telah diperkenalkan. Tujuan disini adalah untuk meningkatkan kedalaman diskusi siswa. Hal ini juga membantu siswa untuk merespon permasalahan yang muncul dalam pembelajaran. Siswa perlu mendapat kesempatan untuk meningkatkan proses informasi sehingga tidak hanya memperoleh pengalaman dalam berurusan dengan tingkat yang lebih tinggi tetapi juga mengalami perasaan sukses yang lebih besar (Jacobsen. 1989: 150).
Prompting
Prompting merupakan kondisi ketika siswa tidak dapat menjawab pertanyaan guru tidak langsung melemparkan pertanyaan kepada siswa lain namun memberi kesempatan kepada siswa yang salah untuk menjawab pertanyaan sederhana sebagai bentuk bantuan dari guru (Jacobsen. 1989: 146).
The effectiveness of prompting is supported by research. Anderson, Everson, and Brophy (1979) and Stallings, Needels, and Stayrook (1979) found that students benefited most, after giving an incorrect response, when teacher asked a series of simple questions and gave clues to help them arrive at the correct answer.
Keefektifan prompting didukung dengan beberapa penelitian. Anderson, dkk (dalam Jacobsen. 1989: 146) adalah ketika siswa menjawab pertanyaan dengan jawaban yang salah, guru memberikan pertanyaan sederhana dan memberi petunjuk untuk menemukan jawaban yang benar.
Metode probing-prompting dapat dikatakan mirip dengan metode tanya jawab. Pengaruh positif dari metode probing-prompting diantaranya adalah siswa menjadi lebih aktif. Hal ini dikarenakan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru harus dijawab oleh siswa. Menurut Suherman (2003: 209-211) agar siswa aktif dalam tanya jawab hendaknya guru berlaku:
a.    Menghargai jawaban, pertanyaan, keluhan, atau tindakan siswa bagaimanapun jelek mutunya.
b.    Menerima jawaban siswa lalu memeriksanya dengan mengajukan pertanyaan.
c.    Merangsang siswa untuk aktif berpartisipasi dengan menjawab pertanyaan atau mendemonstrasikan hasil berpikirnya di depan kelas atau papan tulis, dan memperlihatkan hasil karyanya.
d.   Mengajukan pertanyaan kepada sasaran yang sesuai dengan keperluan.
e.    Bertindak atau bersikap seolah-olah belum tahu atau membuat kekeliruan yang disengaja.
f.     Mengajukan pertanyaan yang tinggi tarafnya.
Berdasarkan kolaborasi pendapat Suyatno dan Jacobsen, penulis menyimpulkan langkah pembelajaran metode probing-prompting adalah sebagai berikut:
a.    Guru menyajikan serangkaian pertanyaan kepada siswa
b.    Guru menuliskan beberapa alternatif jawaban yang diperoleh dari siswa
c.    Guru mengonstruksi pengetahuan baru berdasarkan jawaban siswa
d.   Guru memberikan pertanyaan menuntun dan menggali untuk mendapatkan jawaban lebih mendalam
e.    Tanya jawab diteruskan sampai mendapatkan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak diberitahukan
f.     Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang berprestasi

Referensi
DePorter, Bobbi. 2012. Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
____________. 2012. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.

Jacobsen D. 1989. Methods for Teaching. Ohio: Merrill Publishing Company.
Murni, Wahid, dkk. 2011. Keterampilan Dasar Mengajar. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Suherman, Erman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.
 

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget