Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Artikel Bahaya AIDS bagi Pendidikan

Oleh Wahyu Ambarwati, S.Pd, M.Pd
Guru di Smarta School Semarang, Alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Pendidikan karakter menjadi benteng mencegah perilaku menyimpang pada siswa, terutama membendung dari HIV (Human Immunodeficiency Virus)  merupakan penyebab dasar dari AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Pasalnya, HIV/AIDS bukan lagi penyakit asing yang terdengar di telinga kita. Bahkan, penyakit ini sudah menjalar pada usia sekolah. Virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia itu terdengar dikenal sebagai penyakit mematikan dan menakutkan. Penyakit ini sudah banyak dibicarakan sebagai penyakit yang belum ada obatnya dan mematikan.

Sejak 1987 hingga 2005, jumlah orang yang sudah masuk dalam stadium AIDS lebih banyak dilaporkan daripada yang baru terinfeksi HIV. Sementara itu, mulai 2006 hingga 2012, sudah lebih banyak orang terinfeksi HIV dan belum masuk stadium AIDS yang ditemukan. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, pada 2012 ditemukan kasus HIV sebanyak 21.511 orang dan AIDS sebanyak 5.686 orang.

Berdasarkan presentase kasus AIDS menurut faktor resiko pada 1987 hingga Desember, secara komulatif, faktor risiko penularan HIV terbanyak pada heteroseksual (58,7 persen); Injecting  drug user  (IDU) sebanyak 17,5 persen; penularan perinatal 2,7 persen dan homoseksual sebanyak 2,3 persen. Sementara itu, data pada 2011, penderita HIV sebanyak 21.031 orang dan penderita AIDS sebanyak 5.686 orang. Pada 2010, penderita HIV sebanyak 21.591 orang dan AIDS sebanyak 6.845 orang. Pada 2009, penderita HIV sebanyak 9.793 orang dan AIDS sebanyak 5.483 orang. Sedangkan pada 2008, penderita HIV sebanyak 10.362 orang dan AIDS sebanyak 4.943 orang (Kompass, 03/04/2013).

Peran Pendidikan
Data tersebut sangat mencengangkan. Pendidikan wajib ikut serta dalam pencegahan penyakit mematikan ini dengan cara yang radikal dari akarnya bukan melalui pembagian kondom seperti yang dilakukan oleh beberapa kalangan pada peringatan HIV/AIDS tanggal 1 Desember kemarin.  Salah satu tantangan penanggulangan HIV-AIDS adalah peningkatan pengetahuan anak sekolah dan remaja tentang HIV-AIDS. Pasalnya, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2010 yang dilaksanakan Kemenks menunjukkan masih rendahnya pengetahuan komprehensif tentang HIV-AIDS pada penduduk usia 15 sampai 24 tahun, yakni 11,4 persen.

Ketika semua orang resah dan sudah tidak dapat lagi berpikir bagaimana upaya pencegahannya, maka di sinilah peran pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan selalu berupaya untuk pembentukan akhlak mulia siswa dan pembentukan karakter siswa. Kepedulian guru dan orang tua sangat berperan dalam pencegahannya. Dengan kepedulian yang tinggi, perhatian dan pengarahan sejak dini dapat menjadi upaya mendasar dalam menekan jumlah penderita HIV/AIDS.

Pendidikan karakter sudah digembor-gemborkan beberapa tahun terakhir ini, tetapi kenyataannya belum terealisasi dengan baik. Pendidikan antiAIDS sebaiknya mampu diterapkan dalam pendidikan di Indonesia dengan cepat sehingga dapat berperan dalam upaya penekanan jumlah penderita HIV/AIDS.

Pendidikan antiAIDS dapat dimulai dari lingkungan terkecil dalam pendidikan. Pertama, keluarga harus membekali anaknya dengan pendidikan agama dan budi pekerti, kasih sayang dan kepedulian sejak usia dini. Kurangnya kepedulian dan kasih sayang orang tua pada anak sangat memperngaruhi perkembangan anak, apalagi saat anak tersebut memasuki masa remaja maka orang tua harus memperhatikan betul pergaulan anaknya agar tidak terjerumus dalam “pergaulan bebas”.

Kedua, pihak sekolah harus seringkali mengadakan sosialisasi kepada siswa dengan mendatangkan pakar-pakar kesehatan, misalnya sosialisasi tentang bahaya narkoba, pendidikan sexs, dan bahaya HIV/AIDS. Maka siswa kan mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak.

Ketiga, pihak sekolah menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua murid agar ketika ada terjadi penyimpanga pada murid, misalnya berkelahi,membolos, merokok di sekolah, orang tua dan pihak sekolah bekerja sama dalam mencari jalan keluar.

Keempat, guru harus mampu memberikan bimbingan dan pengarahan pada siswa bukan hanya pada akademik saja, tetapi juga pada penanaman sikap agar siswa terbiasa dengan pendidikan sikap untuk membentuk karakter yang baik.

Kelima, guru sesekali mengajak beberapa siswa turuh ke jalan raya, untuk mensosialisasikan bahaya virus HIV dan beberapa cara menghindarinya pada anak-anak jalanan agar siswa terlatih untuk berbagi pengetahuan dan ikut berperan dalam pencegahan HIV/AIDS.

Dalam implementasi pendidikan karakter, guru harus mampu memberikan fakta-fakta, contoh dan berbagai masalah mengenai HIV/AIDS yang mampu mengajak siswa untuk ikut serta dalam mencegah penyebaran penyakit HIV/AIDS. Pemberian contoh-contoh para penderta HIV/AIDS yang mati sisa-sia bukan menjadi hal yang menakutkan, tetapi dapt menjadikan sebuah pelajaran. Pencegahan dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat.

Pendidikan antiAIDS sejak usia dini diharapkan mampu berperan dalam upaya penekanan jumlah pederita HIV/AIDS di Indonesia serta meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia betapa bahayanya penyakit HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS bukan untuk “dicampakan” dan dijauhi tetapi tugas kita jangan biarkan semakin banyak masyarakat Indonesia mati sia-sia karena virus mematikan tersebut.
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget