Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Artikel Konselor di Sekolah

Oleh Ahmad Abror
Pemerhati Pendidikan

Sekolah merupakan salah satu unit yang ada di dalam masyarakat. Eksistensi
sekolah sangat vital terhadap kehidupan masyarakat karena keberadaan sekolah adalah untuk melahirkan manusia-manusia cerdas yang memberikan perubahan dan kemajuan terhadap kehidupan masyarakat melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri dapat diartikan sebagai persesuaian dalam kepribadian yang dimanisfestasikan sebagai pola-pola respon yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan, (Witherington, 1952).

Dalam perjalanannya ternyata tidak mudah untuk membentuk siswa/remaja ke arah yang positif. Berhadapan dengan siswa/remaja artinya kita berhadapan dengan esensi yang sangat dinamis. Menurut Hurlock (1999), pada masa remaja ini ada beberapa perubahan yang bersifat universal, yaitu meningkatnya emosi, perubahan fisik, perubahan terhadap minat dan peran, perubahan pola perilaku, nilai-nilai dan sikap ambivalen terhadap setiap perubahan.

Pada level ini sekolah sangat berpotensi berurusan dengan para siswa/remaja yang berada pada posisi bingung peran. Bingung peran adalah suatu keadaaan yang menunjukkan terjadinya penyimpangan prilaku: merasa bingung, ragu-ragu dan perilaku anti sosial. Maka pada kondisi seperti ini kehadiran konselor sekolah merupakan hal yang sangat urgen.

Siapa Konselor Sekolah?
Konselor sekolah adalah orang/pihak yang membantu klien/siswa dalam proses konseling, dengan keahlian-keahlian khusus. Adapun pengertian konseling itu adalah semua bentuk hubungan antara dua orang, dimana seseorang yaitu klien (siswa) dibantu untuk lebih mampu menyesuaikan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya, hubungan konseling menggunakan wawancara untuk memperoleh dan memberikan berbagai informasi, melatih atau mengajar, meningkatkan kematangan, memberikan bantuan melalui pengambilan keputusan, (Robinson, 1986).
Konselor sekolah tidak dapat ditempati oleh mereka-mereka yang tidak didukung disiplin ilmu konseling. Bila konselor sekolah ditempati oleh mereka-mereka yang tidak memiliki kompetisi dibidangnya maka akan terjadi ‘malpraktek’ dalam menangani permasalahan remaja/siswa. Sewaktu penulis menempuh pendidikan di bangku SLTP dan SLTA, istilah konselor sekolah pada saat itu belum muncul, istilah yang digunakan untuk posisi orang yang menangani permasalahan para siswa adalah guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP), namun posisi itu tidak ditempati oleh orang- orang yang didukung dengan keahlian khusus, siapa saja dapat menjadi guru BP tergantung kebijakan kepala sekolah.

Alhasil praktek di lapangan lebih menjelaskan keberadaan guru BP pada saat itu tidak ubahnya seperti ‘polisi sekolah’, yang hanya bisa menghukum para siswa yang bermasalah, besar kemungkinan keadaan seperti itulah yang masih terjadi di sebagian besar sekolah hingga saat ini. Penanganan yang seperti itu merupakan masalah yang sesungguhnya. Persepsi yang digunakan dalam penanganan masalah itu adalah memandang siswa/remaja tak ubahnya sebagai seorang pelaku perbuatan kriminal. Padahal dalam penanganan masalah remaja/siswa dibutuhkan pemahaman yang mendalam tentang dunia para siswa/remaja dengan segala aspeknya: psikologis, biologis, psikomotorik, psikososial.

Menurut Hurlock (1999), masa remaja adalah masa yang tidak realistik, artinya remaja memandang kehidupan dari kaca matanya sendiri, baik dalam melihat dirinya maupun orang lain, mereka belum melihat apa adanya, tetapi menginginkan sebagaimana yang ia harapkan. Akibat dari penanganan yang seperti itu para siswa/remaja senantiasa menjadi korban karena penanganan seperti itu bukannya mengurangi masalah para siswa namun justru menambah masalah para siswa/remaja, karena membuat mereka merasa diabaikan dan tidak dihargai.

Tanggung Jawab
Maka dari itu kehadiran konselor sekolah di sekolah-sekolah merupakan kemestian sebagai bentuk tanggung jawab moral sekolah untuk membentuk generasi-generasi yang cerdas dan memiliki integritas moral. Konselor sekolah hadir sebagai mitra para siswa/remaja dalam membantu setiap permasalahan yang dihadapi mereka dengan menggali potensi-potensi mereka, memperhatikan aspek-aspek yang mungkin muncul dalam dunia remaja, sehingga mereka mampu menyesuaikan prilaku yang salah, belajar mengambil keputusan, serta mencegah timbulnya masalah. Artinya penyelesaian masalah remaja ini dimulai dari sumber masalahnya.

Dalam menjalankan tugasnya seorang konselor harus memiliki karakteristik yang mendukung keberhasilan proses konseling. Menurut Carl Rogers ada tiga karakteristik utama yang harus dimiliki seorang konselor: congruence, uncondotional positive regard, dan empathy. Satu, congruence maksudnya adalah seorang konselor (konselor sekolah) terlebih dahulu harus memahami dirinya, pikiran dan perbuatan harus serasi. Dua, unconditional positive regard yaitu seorang konselor harus menerima keadaan klien/siswa apa adanya. Konselor sekolah harus mampu menciptakan hubungan kasih sayang yang mampu menghadirkan efek konstruktif bagi pikiran dan mental klien/siswa, apapun keadaan siswa/remaja, termasuk misalnya seorang siswa/remaja yang datang kepada konselor dengan keluhan sering melakukan masturbasi, maka dalam hal ini konselor tidak menolak dan berlaku sinis.

Empathy, Menurut Wilis, (2009) Empathy adalah seorang konselor harus memiliki kemampuan memahami dan merasakan dunia pribadi klien (maksudnya siswa/remaja) tanpa ia kehilangan kesadaran diri, dan dalam hal ini ada tujuh komponen yang terdapat dalam emphaty, positive regard (penghargaan positif), respect (rasa hormat), warmth (kehangatan), concreteness (kekonkritan), immediacy. (kesegeraan/kesiapan), confrontation (konfrontasi), congruence (keaslian), (dikutip dari Namora Lumungga Lubis, 2001).

Dengan demikian seorang konselor sekolah itu selain dituntut menguasai berbagai macam pendekatan dan teknik-teknik dalam bimbingan konseling, baik itu konseling individu, konseling kelompok, dan bimbingan kelompok -yang tidak mungkin diuraikan dalam kolom ini- seorang konselor terlebih dahulu harus berjiwa konselor dimana dengan jiwa konselor itu ia akan terlibat secara emosional dalam menerima realitas keluhan siswa/remaja, yang dengan ini setiap siswa/remaja yang datang kepada konselor sekolah benar-benar merasa mendapat penerimaan yang tulus sehingga mereka yakin bersama konselor sekolah mereka dapat mengentaskan permasalahnya, mencegah datangnya masalah, dan mengembangkan potensi.

Kehadiran konselor sekolah di sekolah merupakan elemen yang sangat membantu para siswa baik secara invidual (dengan layanan konseling individu) maupun secara kolektif (dengan layanan bimbingan kelompok dan layanan konseling kelompok) dalam pengembangan aspek kepribadian mereka. Bersamaan dengan itu ia merupakan unsur yang signifikan dalam mewujudkan cita-cita pendidikan nasional sebagaimana yang tercantum UU Sisdiknas No. 20, Tahun 2003, pasal 3: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget