Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Contoh Alih Kode dan Campur Kode dalam Pembelajaran


Contoh Alih Kode dan Campur Kode dalam Pembelajaran dapat dipahami dengan mempelajari pengertian alih kode dan campur kode terlebih dahulu. Alih kode adalah peristiwa pergantian bahasa dari ragam santai menjadi ragam resmi, atau juga ragam resmi ke ragam santai (Chaer dan Agustina, 2010: 107). Appel mendefinisikan alih kode sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi. Hymes menyatakan alih kode bukan hanya terjadi antarbahasa, tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa. Masyarakat multilingual sangat sulit seorang penutur mutlak hanya menggunakan satu bahasa. Dalam alih kode masing-masing bahasa masih cenderung mendukung fungsi masing-masing dan dan masing-masing fungsi sesuai dengan konteksnya. Appel memberikan batasan alih kode sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena perubahan situasi.
Penyebab alih kode menurut Fishman
1.      Pembicara atau penutur
2.      Pendengar atau lawan tutur
3.      Perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga
4.      Perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya
5.      Perubahan topik pembicaraan
Suwito (1985) membagi alih kode menjadi dua, yaitu
1.    Alih kode ekstern, bila alih bahasa, seperti dari bahasa Indonesia beralih ke bahasa Inggris atau sebaliknya dan
2.    Alih kode intern, bila alih kode berupa alih varian, seperti dari bahasa Jawa ngoko merubah ke krama.
Analisis Alih Kode Pada Interaksi Guru dan Siswa dalam Pembelajaran
1.      Sebelum pembelajaran Bahasa Jawa dimulai, anak-anak kelas VC bersama teman-temannya bercanda dengan menggunakan bahasa Jawa ngoko. Namun setelah guru masuk ke dalam kelas, dipimpin oleh ketua kelas siswa berdoa menggunakan Bahasa Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan adanya alih kode karena siswa menyesuaikan diri dari situasi nonformal ke formal.
2.      Guru menggunakan kalimat dalam bahasa Jawa sebagai pembuka pembelajaran. “Sugeng enjing, cah …. Piye kabare dina iki? Wis padha nggarap PR to?”. Namun karena siswa terkesan kurang memberikan respon, maka guru menekankan sapaan menggunakan bahasa Indonesia. “Anak-anak, PRnya sudah dikerjakan atau belum?”. Situasi tersebut menunjukkan adanya alih kode berupa berubahnya bahasa yang digunakan oleh penutur karena mitra tutur yang diajak berkomunikasi kurang paham informasi yang hendak disampaikan.
3.      Ketika menyampaikan materi tentang penulisan komponen-komponen yang terdapat dalam tulisan narasi nonfiksi, guru menggunakan bahasa Jawa baku. Namun ketika dipertengahan pembelajaran guru mulai lengah dan menggunakan dialek bahasa Jawa ala Semarangan sehingga terjadi alih kode dari pokok pembicaraan yang bersifat formal dengan ragam baku ke arah gaya bicara tidak serius dan bersifat informal. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh emosional baik penutur maupun mitra tutur.
4.      Untuk menghidupkan suasana, guru meminta salah seorang siswa untuk berdiri di depan teman-temannya. Siswa diminta untuk menyanyikan lagu tentang unsure-unsur cerita yang liriknya sudah dipersiapkan oleh guru. Pada lirik lagu tersebut telah terjadi perubahan alih ragam dari formal menjadi santai.
Sedangkan “Campur kode” adalah penggunaan dua bahasa atau lebih  atau dua varian dari sebuah bahasa dalam satu masyarakat tutur dengan kondisi ada sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan dan memiliki fungsi dan keotomiannya, sedangkan kode-kode lain yang terlibat dalam peristiwa tutur itu hanyalah berupa serpihan-serpihan (pieces) saja tanpa fungsi keotomiannya sebagai sebuah kode (Chaer dan Agustina, 2010: 107).
Ciri campur kode:
1.      Ketika seseorang menggunakan satu kata atau frase dari satu bahasa
2.      Tidak terjadi pengalihan seluruh klausa
3.      Terjadi pencampuran serpihan kata, frase, dan klausa suatu bahasa di dalam bahasa lain yang digunakan
Campur kode dibagi menjadi dua, yaitu:
1.  Campur kode ke dalam (innercode-mixing):
     Campur kode yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya
2.  Campur kode ke luar (outer code-mixing): campur kode yang berasal dari bahasa asing.
     Latar belakang terjadinya campur kode dapat digolongkan menjadi dua, yaitu
a.    sikap (attitudinal type)
    latar belakang sikap penutur
b.    kebahasaan(linguistik type)
latar belakang keterbatasan bahasa, sehingga ada alasan identifikasi peranan, identifikasi ragam, dan keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan.
Dengan demikian campur kode terjadi karena adanya hubungan timbal balik antaraperanan penutur, bentuk bahasa, dan fungsi bahasa.
 Beberapa wujud campur kode,
 a. penyisipan kata,
 b. menyisipan frasa,
 c. penyisipan klausa,
 d. penyisipan ungkapan atau idiom, dan
 e. penyisipan bentuk baster (gabungan pembentukan asli dan asing)

Analisis Campur Kode Pada Interaksi Guru dan Siswa dalam Pembelajaran
1.        Ketika berdoa dan memberikan sapaan hormat kepada guru, siswa mengatakan
“Oh My God, please increase my knowledge. Good morning Mom … Selamat pagi Bu … Sugeng enjing Bu …”. Pemilihan klausa dalam kalimat doa di atas memperlihatkan adanya campur kode. Siswa mencampurkan berbagai ragam bahasa untuk tujuan yang sama.
2.        Untuk membangkitkan motivasi belajar guru mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa sehingga terjadi campur kode. Penutur sengaja mencampur kode terhadap mitra bahasa karena mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Salah satu tujuan yang dimaksud adalah untuk menjaga kesantaian dalam berkomunikasi.
Contoh: Ayo ndang digarap, santai wae ora usah kesusu
3.        Karena beberapa mitra tutur kurang mengetahui makna kata dalam bahasa Jawa, guru mencampur bahasa Indonesia dan bahasa Jawa untuk memperkuat pemahaman siswa. Sebagai contoh:
“Salah sawijining unsur kang kalebu ana karangan narasi yaiku papan. Papan kuwi terbagi menjadi dua yaiku papan wektu lan panggonan. Waktu dan tempat.”
4.        Sebagai bahasa penghubung dalam pembelajaran guru seringkali menggunakan kata paham untuk menanyakan tingkat kepahaman siswa.
“Piye cah, sampun paham nopo dhereng?”
Jika dicermati, kata paham merupakan kata dalam bahasa Indonesia yang disisipkan dalam kalimat ujaran guru.

Referensi
Chaer, Abdul dan Agustina, Leoni. 2011. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget