Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Contoh Artikel Kurikulum 2013 Terbaru

Oleh Nailul Mukorobin
Alumnus Universitas Negeri Semarang

Kurikulum 2013 yang saat ini diterapkan masih setengah hati. Diakui atau tidak, banyak kebijakan pemerintah tidak relevan dengan kondisi objektif pendidikan. Bahkan, pemerintah setiap kali ganti pemimpin, maka gantilah semua kebijakan, termasuk sistem pendidikan, kurikulum, dan sebagainya. Seolah-olah kebijakan termasuk kurikulum itu berjalan “setengah hati”.

Di lapangan, yang terjadi justru tergesa-gesa, bersifat reaktif ketimbang strategis, penyusunannya tidak melibatkan guru sebagai pihak yang paling berkepentingan mendidik di sekolah dan mengenali situasi dan kondisi daerah pengajarannya. Meski kabar terbaru dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemendikbud menyebutkan bahwa sampai saat ini kurikulum dan buku teksnya belum siap cetak namun Kemendikbud belum menuntaskan polemik kurikulum 2013.

Setengah Hati
Kemendikbud beberapa waktu silam telah menyiapkan dan mendistribusikan seluruh buku pelajaran ke sekolah-sekolah. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang dulu dikeluarkan masing-masing sekolah (atau guru) otomatis dihentikan. LKS dalam beberapa kasus masa lalu menimbulkan keluhan para orang tua murid, karena harga buku LKS terkadang malah lebih mahal ketimbang buku teks dari Kemendikbud.

Dengan Kurikulum 2013, peluang kerja sama dengan penerbit swasta diperketat dengan bahan kurikulum seutuhnya dari Kemendikbud. Ini menghindarkan perbedaan isi dari mata pelajaran yang sama, karena bukunya dikeluarkan penerbit yang berbeda. Pernah terjadi buku pelajaran dari penerbit tertentu terpaksa ditarik, karena dinilai menyalahi kurikulum.
Artinya, kurikulum 2013 benar-benar terpusat. Ini boleh jadi akan memunculkan persoalan kelak di berbagai daerah, khususnya daerah-daerah terpencil (terluar) atau tertinggal yang tingkat pendidikannya jauh berbeda dengan kota-kota besar. Untuk mengakomodir inilah dilakukan uji publik, guna mendapatkan masukan dari masyarakat. Namun uji publik di beberapa daerah beberapa waktu lalu, kurang representatif mewakili ke-33 provinsi di Indonesia. Waktunya terlalu singkat bila kurikulum sudah harus dilaksanakan pada 2013.
Begitulah sebagian tanggapan publik yang dapat kita temukan di media massa sampai hari ini, menanggapi rencana Kemendikbud menggulirkan Kurikulum 2013 untuk SD, SMP, SMA dan SMK. Kemendikbud mengganti kurikulum lama KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang dinilai kurang sempurna, dengan kurikulum yang lebih menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik, melalui penilaian berbasis tes dan portofolio. Mata pelajaran menghafal akan dikurangi karena kurikulum lebih berbasis sains.

Intinya, kata Mendikbud M Nuh, adalah menyederhanakan kurikulum ke dalam bentuk tematik-integratif yang disiapkan untuk mencetak generasi siaga menghadapi tantangan masa depan. Titik beratnya mendorong peserta didik lebih mampu dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengomunikasikan (mempresentasikan) apa yang mereka peroleh atau ketahui setelah menerima materi pembelajaran.

“Kurikulum 2013 juga menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya," kata Nuh. Dengan pendekatan ini siswa memiliki kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap lebih baik. Siswa juga akan kreatif, inovatif, produktif, hingga nantinya sukses menghadapi berbagai persoalan dan tantangan zamannya.
Tentu kita apresiasi proyeksi Mendikbud M Nuh, yang akan menyeimbangkan tercapainya kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan itu dengan pembelajaran yang katanya holistis dan menyenangkan. Namun, perubahan kurikulum tersebut tidaklah gratis. Wajar bila kita dengar suara masyarakat yang mengharapkan perubahan kurikulum tidak sia-sia. Agar besaran anggaran penyempurnaan kurikulum dan perbukuan yang sampai ratusan miliar rupiah berbanding lurus dengan hasilnya.

Sebelum itu kita juga mendukung desakan sebagian kalangan, agar Kemendikbud melaporkan evaluasinya atas kurikulum yang lalu kepada publik. Menyangkut semua hasil penelitian atas kurikulum, sekolah rintisan, model kurikulum, dan bahan-bahan kebijakan yang dianggap tidak memadai untuk kini dan masa datang.

Sebab dikhawatirkan, bila penyusunan kurikulum terbaru (2013) tidak berangkat dari kebutuhan dengan penyempurnaan (atau: tanpa riset), maka hasilnya boleh jadi keliru atau prematur seperti beberapa kurikulum masa lalu. Terkesan sekadar proyek: lain tim kerja menteri, lain pula produknya. Tanpa mempertimbangkan dasar pijakan, yakni UUD 45 Pasal 31, bahwa: pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Relevan Zaman?
Apakah kurikulum tersebut sudah relevan dengan zaman? Pasalnya, para siswa yang mempelajari mata pelajaran berdasarkan kurikulum baru harus berproses menjadi memahami mata pelajaran itu untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dengan zaman sekarang. Misalnya mampu berpikir kritis dan merumuskan pertanyaan ataupun menyampaikan argumen secara runtun, tertata, dan meyakinkan orang lain.

Peserta didik juga perlu mengembangkan sikap-sikap universal, seperti gigih, berpikir luwes, dan menghargai hak orang lain untuk berbeda pendapat. Inilah jenjang kasmaran berilmu pengetahuan yang harus direkacipta dalam kurikulum baru.

Pernyataan Wakil Presiden Boediono tentang Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) yang akan masuk kurikulum mendatang tentu sangat tepat. Hanya saja, permasalahannya kembali pada kurikulum yang diajarkan dan kurikulum yang dipelajari, bukan pada kurikulum tertulis.

Memasukkan atau menuliskan Empat Pilar Kebangsaan dalam dokumen kurikulum itu mudah, tetapi tidak akan serta-merta gagasan itu subur bermekaran di sanubari anak didik. Belajar matematika dan sains jika dilaksanakan seperti pada kebanyakan persekolahan sekarang, mustahil akan sampai pada tataran kasmaran berilmu pengetahuan.

Hampir mustahil pula dengan sistem persekolahan sekarang para siswa sanggup berkontemplasi dan menghayati Empat Pilar Kebangsaan itu. Namun, hal itu bisa terlaksana dengan maksimal jika pemerintah serius mengawalnya. Pemerintah harus menghentikan segala bentuk kebijakan yang dilakukan dengan unsur “proyekisasi”.

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget