Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Contoh Artikel Kurikulum 2013

Oleh Ahmad Abror
Pemerhati Pendidikan

Wacana pemberlakuan Kurikulum 2013 mendapat respon luar biasa dari berbagai kalangan. Kebanyakannya bernada kekuatiran besar. Menurut mereka, tidak ada grand design dan arah pendidikan. Respons seperti ini memang bisa dimaklumi di alam demokratis ini, meskipun kadangkala memahaminya secara parsial.

Bila kurikulum dipahami secara sederhana sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka arah pendidikan terdapat dalam tujuan pendidikan Indonesia. Tujuan pendidikan Indonesia dalam UU Nomor 2 Tahun 1989 Pasal 4 adalah “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi-pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung-jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”

Setiap bagian dari tujuan pendidikan ini dicapai dengan cara menuangkannya dalam bentuk kurikulum. Misalnya, untuk mewujudkan manusia Indonesia yang beriman dan berbudi pekerti luhur dirancang mata pelajaran agama dan pendidikan Pancasila. Demikian juga untuk mewujudkan pengetahuan dan keterampilan, dirumuskan kompetensi-kompetensi yang perlu dimiliki peserta didik dalam setiap mata pelajaran.

Namun, rumusan kurikulum perlu dimengerti sebagai produk sosial. Sejak awal sekali dicanangkan, kurikulum melibatkan sejumlah interaksi sosial dengan berbagai pihak. Dalam memahami dan mengimplementasikannya pun, seharusnya melibatkan interaksi yang lebih intens. Apalagi, sebagus apa pun kurikulum dirumuskan, tak akan bermakna bila pada tahap implementasinya tidak bagus. Alasannya, pihak yang menjadi target kurikulum itu ada pada fase implementasi di lapangan.

Kejar Target
Harus diakui, pelaksanaan kurikulum di negeri ini seringkali kontraproduktif. Di satu sisi, kurikulum harus dicapai dan bahkan dikejar sebagaimana ditargetkan pemerintah. Maka terjadilah kejar target kurikulum dan belajar yang berientasi ujian (examination-oriented). Namun di sisi lain, sangat kurang diberikan waktu yang memadai kepada guru-guru dan semua komunitas sekolah untuk berinteraksi secara rutin dalam rangka memahami kurikulum dan permasalahan dalam pelaksanaannya.

Untuk mengantisipasi ketidakjelasan dalam pelaksanaan kurikulum, para guru dan pihak yang dilibatkan dalam implementasi kurikulum diberikan waktu yang memadai dan fasilitas yang cukup untuk berinteraksi sesama mereka dan dengan para pembuat kebijakan.  Interaksi ini perlu dilakukan hingga tercipta rasa yakin (belief) di hati mereka tentang kebaikan kurikulum tersebut, dibandingkan kurikulum sebelumnya. Apalagi banyak penelitian di berbagai negara tentang ketidakberhasilan reformasi kurikulum akibat belum terwujudnya keyakinan guru.

Pasalnya, menurut sejumlah peneliti reformasi pendidikan, antara lain Sargent (2012) dari University of Pennsylvania, keyakinan guru merupakan prasyarat penting untuk keberhasilan pelaksanaan kurikulum di kelas dan reformasi kurikulum secara keseluruhan.

Pengalaman ini penting dipikirkan untuk pendidikan kita. Apalagi guru di Indonesia sangat beragam, mulai dari guru PNS, honor, bakti, dan lain-lain. Seringkali, tak semua guru itu ditatar atau mendapat perhatian yang sama. Yang diundang ke tempat pelatihan seringkali hanya satu dua utusan dari sekolah atau gugus.  Sedangkan yang lain harus mencari sendiri pengetahuan tentang kurikulum tersebut. Akibatnya, tak jarang sebahagian guru belum sempat memahami dan menerapkan dengan benar kurikulum lama, kurikulum baru sudah diperkenalkan.

Padahal, kurikulum yang dirubah itu bukan mengganti semuanya, tetapi lebih pada penyempurnaan pada bagian-bagian tertentu. Seperti Kurikulum Berbasiskan Kompetensi (KBK) yang dilaksanakan tahun 2004, yang kemudian diganti dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada 2006, dan selanjutnya dirubah menjadi Kurikulum 2013. Kalau dicermati ketiganya, sangat banyak persamaannya, terutama tekanannya pada penguasaan kompetensi dan pengaktifan siswa semaksimal mungkin dalam belajar.

Seperti pada Kurikulum 2013, terjadi perubahan pada jumlah mata pelajaran dan bertambah jam pelajaran yang dianggap menimbulkan masalah. Untuk SD, hanya akan ada mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan, Agama, Olahraga, dan Seni. Sedangkan untuk SMP, akan tersisa 10 mata pelajaran, yaitu Pendidikan Agama, Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Inggris, IPA, IPS, Olahraga, Seni Budaya, serta Prakarya.

Sejumlah mata pelajaran sudah diintegrasikan, sehingga guru-guru diharapkan mampu mengajar secara tematis. Misalnya, dalam mengajar tentang suatu tema, guru perlu mengintegrasikan materi yang berkenaan tentang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Masalah Bagi Guru
Di satu sisi, bila dilaksanakan dengan baik, kurikulum baru ini memiliki kebaikan bagi perkembangan pendidikan para peserta didik.  Alasannya, mereka akan memiliki banyak waktu untuk belajar dan berpeluang menguasai suatu kompetensi secara komprehensif. Namun di sisi lain, akan menimbulkan masalah bagi guru-guru, terutama yang tidak mampu mengajar secara tematis. Guru-guru juga perlu bekerja ekstra untuk merombak silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Makanya sangat relevan kata Anies Baswedan bahwa sia-sia mengubah kurikulum bila tidak meningkatkan kualitas gurunya (Kompas, 14/12/2012).

Memang kurikulum sifatnya tak akan pernah sempurna. Kurikulum harus dinamis atau memerlukan perubahan. Pasalnya, dunia terus berkembang, sehingga dalam proses mencerdaskan bangsa, membutuhkan penyempurnaan kurikulum secara terus-menerus. Jadi, proses mencerdaskan bangsa perlu diubah dan ditingkatkan perlahan.

Dengan demikian, perubahan kurikulum di Indonesia menjadi Kurikulum 2013 bukan suatu yang tak wajar. Lebih-lebih bila perubahan tersebut dilakukan karena adanya kebutuhan, yang disimpulkan berdasarkan kajian mendalam dengan melibatkan berbagai pakar pendidikan dan yang berkaitan.

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget