Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Sekolah adalah Surga bagi Anak

Oleh Jefrey Oxianus Sabarua
Dosen Program Studi PGSD Universitas Halmahera,
Mahasiswa Proram Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Saat ini sekolah belum sepenuhnya menjadi surga bagi anak-anak. Meskipun di jenjang TK, PAUD dan SD berprinsip “bermain sambil belajar”, namun fakta di lapangan, sekolah masih menjadi tempat gersang dan menakutkan bahkan menjadi “neraka” bagi mereka.

Mengapa demikian? Dewasa ini, pedofilia menjadi hal yang ditakuti layaknya hantu yang mengancam keberadaan anak-anak Indonesia. Mereka mencari korban tidak hanya di tempat-tempat umum, tetapi juga pada tempat yang selama ini kita anggap aman seperti sekolah dan rumah. Jika dahulu ada ungkapan “rumahku surgaku”, maka sekarang, lembaga pendidikan harus berprinsip “sekolahku surgaku”.

Hal itu tak bisa dipungkiri. Bahkan, tak lama ini Menteri Sosial (Mensos), Salim Segaf Al Jufri, mengkhawatirkan munculnya generasi yang hilang karena permasalahan anak yang sangat kompleks saat ini seperti kekerasan dan kejahatan seksual (SM, 17/5/2014).

Sekjen Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Prof Dr Suyatno, MPd juga menyatakan kasus pedofilia di Jakarta International School (JIS) merupakan sebuah potret buram yang terjadi pada wilayah sekolah. Pelaku pedofilia bisa bersembunyi bahkan melakukan kejahatannya di area yang dianggap aman untuk anak-anak. Lalu, apakah sekolah terus menjadi neraka bagi anak-anak? Tentu tidak. Hal itu harus diselesaikan dengan memperbaiki segala hal yang bisa mewujudkan sekolah menjadi surga bagi pelajar.

Sekolah bukan Penjara
Kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi saat ini membuka mata semua pihak, terutama sekolah untuk memperbaiki sistem, tata kelola, kurikulum dan pembelajarannya. Apalagi, berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Sosial dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) serta sejumlah lembaga lainnya terdapat jumlah anak di Indonesia sekitar 89 juta anak.
Satu dari tiga anak laki-laki dan satu dari empat anak perempuan usia 13-17 tahun di Indonesia mengalami satu bentuk kekerasan, baik seksual, fisik, atau emosional dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, sebanyak 900 ribu anak laki-laki dan 600 ribu anak perempuan usia 13-17 tahun mengalami kekerasan seksual dalam 12 bulan terakhir (Kompas, 18/5/2014).

Sementara pada rentang usia 18–24 tahun diperkirakan 1,1 juta remaja laki-laki dan 800 ribu remaja perempuan mengalami kekerasan seksual sebelum usia 18 tahun. Para pelakunya adalah orang-orang terdekat. Pada remaja perempuan, pelakunya adalah pacar, suami, dan laki-laki asing. Dalam hal ini, kita tidak sekadar melakukan penanganan korban secara profesional. Namun, gagasan sekolah sebagai surga bagi anak-anak harus menjadi nyata.

Sekolah sebagai Surga
Ada beberapa desain sekolah yang bisa menjadi surga bagi anak. Pertama; sekolah harus memiliki sistem pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak. Desain pembelajaran harus mengutamakan pada perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Pasalnya, selama ini rata-rata, semua sekolah masih berorientasi pada nilai kognitif saja, bukan pada perubahan perilaku dan pola pikir anak.

Kedua; semua sekolah, terutama pendidikan dasar harus selektif dalam menerima pendidik. Artinya, selama ini penerimaan guru masih mengutamakan kecerdasan intelektual calon pendidik, bukan pada kecerdasan emosional dan spiritual. Jika perlu, psikotes harus menjadi syarat penting dalam penerimaan guru. Hal itulah yang terjadi di JIS, mengapa banyak pengajar di sana justru menjadi pelaku kejahatan seksual.

Ketiga; semua guru, kelapa sekolah, petugas tata usaha, penjaga perpustakaan dan semua masyarakat sekolah harus menyenangkan dan pihak sekolah harus selektif dalam menerima mereka. Selain itu, mereka juga harus menjadi “keluarga yang melindungi” anak, bukan justru menjadi "orang menakutkan" bahkan menjadi pelaku kejahatan seksual pada anak.

Keempat; sistem pembelajaran di sekolah wajib hukumnya menyenangkan. Guru tidak harus mengutamakan nilai kognitif, tapi yang penting mampu menyesuaikan perkembangan koginitif, afektif dan psikomotorik siswa. Selain itu, semua metode, media, pendekatan dan desain kelas harus mendukung dan menciptakan atmosfer surga bagi anak.

Semua yang ada di sekolah tidak berorientasi pada “kemewahan”, tapi lebih pada “kenyamanan” dan "keselamatan" anak-anak. Dengan demikian, sekolah akan menjadi surga bagi anak-anak. Jika anak sudah nyaman, maka ia akan berada pada puncak alfa sehingga apa saja yang diberikan guru akan mudah ditangkap anak. Bahkan, anak yang mendekati ideot atau anak berkebutuhan khusus (ABK) bisa sembuh jika sekolah menjadi surga bagi mereka.

Kelima; pendidikan seks sebenarnya tidak cukup untuk mengurangi kejahatan seksual pada anak. Namun, orang tua siswa juga harus sadar bahwa mereka seharusnya melindungi anak, bukan menjadi pelaku pedofila. Ini harus dipahami. Pasalnya, orang tua menjadi “guru pertama” ketika anak lahir di dunia. Peran edukatif di keluarga harus dioptimalkan, karena orang tua adalah guru bagi anak-anaknya.

Keenam; pemerintah juga perlu merevisi Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 dengan hukuman minimal pelaku 15 tahun dan maksimal “seumur hidup atau kebiri”. Berdasarkan peraturan sebelumnya, hukuman maksimal bagi pelaku kekerasan seksual adalah 15 tahun penjara. Hukuman tersebut sangat kurang memberikan efek jera. Apalagi, masalah kejahatan seksual pada anak bukan hanya masalah hukum, tapi juga menyangkut pelecehan dan menghancurkan citra pendidikan.

Sebagai rumah kedua, sekolah harus berbenah dan mampu menjadi rumah perlindungan sosial anak agar calon korban tidak lagi melakukan kejahatan. Ini harus direalisasikan. Pasalnya, kejahatan tidak hanya dihindari, namun harus diselesaikan secepatnya, salah satunya dengan menciptakan sekolah surga bagi anak. Sekolah harus menjadi taman indah, nyawan dan menjadi kawah candradimuka pencetak generasi emas.
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget