Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Tayangan Edukatif untuk Anak

Oleh Jefrey Oxianus Sabarua
Ketua Program Studi PGSD Universitas Halmahera, Saat ini menempuh studi di Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Kekerasan di kalangan pelajar dan remaja saat ini marak terjadi. Salah satu penyebabnya adalah tayangan di televisi. Banyak kasus kekerasan yang dilakukan remaja atau anak muda, mulai perkelahian pelajar, pencurian dengan kekerasan, perkosaan hingga pembunuhan. Tindakan tersebut bukan lagi tergolong kenakalan remaja, tapi sudah mengarah kriminalitas. Apalagi, sampai menghilangkan nyawa orang lain.

Pertanyaannya, mengapa mereka demikian sadis dan dari mana mereka mendapat pengaruh tersebut? Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa pengaruh televisi (TV) sangat besar bagi perkembangan anak. Jika anak terlalu banyak mengomsumsi tayangan kekerasan, maka tingkat kekerasan anak semakin tinggi.

Di sisi lain, kontrol dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sangat lemah terhadap tayangan TV. Pasalnya, dunia kapital mendorong media massa hanya menyuguhkan tayangan dengan porsi hiburan lebih besar daripada porsi pendidikan bagi masyarakat.

Pengaruh bagi Anak
Dr Subyantoto, MHum (2014) menjelaskan penyebab kenakalan remaja hingga perilaku menyimpang disebabkan faktor dari dalam diri sendiri maupun faktor dari luar. Faktor dari diri sendiri disebabkan adanya kontrol diri yang lemah, sedangkan dari luar bisa juga karena pengaruh lingkungan, termasuk tayangan di televisi. Namun, tayangan televisi sangat mendorong anak melakukan kekerasan. Hampir 90 persen perbuatan, ucapan dan pikiran anak dikonstruk dari benda kotak tersebut.

Jika terlalu banyak menonton TV tanpa pendampingan berkala dari orang tua, maka anak akan berperilaku agresif, memberontak, menentang keinginan orang lain, khususnya orang tua. Mereka akan bersikap menentang bisa berubah kembali bila orang tua, pendidik menunjukkkan sikap konsisten dalam memperlihatkan kewibawaan dan peraturan yang telah ditetapkan.

Anak-anak seringkali memperlihatkan emosi yang meningkat setelah menonton TV. Pengaruh yang diberikan sebuah tayangan kepada masyarakat sebagai penonton sangatlah besar. Bahkan, pengaruh itu tidak sekadar 100 persen, namun bisa mencapai 1000 persen. Kotak ajaib ini memainkan peran penting dalam mendorong perubahan perilaku dalam masyarakat. Tutur kata, perilaku, bahkan gesture yang ditampilkan menjadi rujukan perilaku remaja. Keberadaan sinetron juga menjadi salah satu pemicu kekerasan remaja.

Prof Dr Sugiyo, MSi (2014) menjelaskan ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi anak. Pertama, kondisi fisik. Apabila kondisi fisik terganggu karena kelelahan, kesehatan  yang buruk, atau perubahan yang berasal dari perkembangan, maka anak akan mengalami emosiaonalitas yang menguat atau  meninggi.

Kedua, kondisi psikologis. Pengeruh psikologis yang penting antara lain tingkat kecerdasan, tingkat aspirasi, dan kecemasan. Ketiga, kondisi lingkungan. Ketegangan terus menerus, dan terlalu banyak pengalaman menggelisahkan yang merangsang anak secara berlebihan, salah satunya pengaruh tayangan TV.

Selain itu, tayangan kekerasan akan menimbulkan kemarahan, sehingga anak akan melakukan apa saja sesuai tayangan tersebut. Bahkan, tak jarang anak akan melakukan kekerasan sampai pembunuhan yang didorong dari provokasi media tersebut. Keluarga dan lingkungan menjadi faktor pengaruh besar bagi perkembangan emosi peserta didik.

Jika lingkungan dan keluarga tidak bisa mengatur cara anak menonton TV, maka dipastikan hidup anak didominasi dari tayangan tersebut. Kalau tayangan baik, anak bisa dipastikan berperilaku baik, namun saat ini tayangan yang memiliki rasa edukatif sangat minim, bahkan sangat langka.

Tayangan Edukatif
Seharusnya, porsi tayangan edukatif di TV harus diperbesar. Media massa sebagai wahana pendidikan bagi masyarakat, terutama bagi anak harus mengutamakan “peran edukatif” bukan sekadar “peran hiburan” semata. Selain itu, tayangan di TV akan berbahaya jika dikomsumsi anak-anak usia pendidikan dasar, karena pada saat itu anak-anak dalam kondisi perkembangan, baik secara emosi, fisik dan mental.

Perkembangan anak merupakan sesuatu yang kompleks. Artinya, banyak faktor  berpengaruh dan saling terjalin dalam berlangsungnya proses perkembangan anak. Perkembangan merupakan perpaduan dari proses-proses biologis, kognitif dan psikososial. Artinya, perkembangan berlangsung secara utuh dalam aspek yang ada dalam diri manusia. Dengan kata lain, setiap aspek perkembangan itu tidak berkembang sendiri.

Jika dulu anak lebih dominan dipengaruhi faktor sosial, keluarga dan buku, namun saat ini yang mempengaruhi perkembangan anak adalah media massa, TV, gadget, game dan sosial media seperti facebook dan twitter.

Dalam hal ini, media massa terutama TV harus melakukan beberapa hal agar tidak menjadi media perusak perkembangan emosi anak-anak. Pertama, media massa terutama TV harus ramah anak. Artinya, tayangan berbau kekerasan dan pornografi harus diseleksi lebih rinci agar tidak menjadi konsumsi bagi anak. Jika perlu, tayangan tersebut harus ditiadakan dari kotak ajaib tersebut. Peran orang tua juga sangat berperan membimbing anak dalam menonton televisi. Pasalnya, selama ini banyak orang tua memanjakan anak menonton televisi berjam-jam, apalagi saat liburan, TV justru menjadi teman sehari-hari bagi anak.

Kedua, anak yang terlalu berlebihan menonton TV akan terhambat perkembangan emosinya. Ia akan menjadi anak individualis dan susah bersosialisasi. Chatarina (2009) menjelaskan emosi sebagai suatu keadaan yang menyangkut pengalaman yang disadari yang bersifat mendalam, dan memungkinkan tejadi perubahan perilaku. Jika anak hanya terlalu sibuk menonton televisi, maka 90 persen emosi anak hanya seperti di tayangan tersebut.

Ketiga, tayangan edukatif bagi anak harus memperhatikan berbagai hal. Misalnya, kuis-kuis yang meningkatkan kecerdasan anak, game yang mendidik, serta tayangan yang mendukung perkembangan wawasan anak. Pasalnya, fungsi hiburan dan pendidikan tidak bisa lepas dari tayangan TV. Inilah pekerjaan berat TV ke depan, karena harus mendesain suatu acara yang di dalamnya ada porsi pendidikan dan hiburan.

Keempat, sebagai media hiburan, TV harus mampu mengatur jam tayang sesuai kebutuhan anak. Pasalnya, selama ini masih banyak TV yang sembarangan menayangkan acara khusus dewasa saat anak belum tidur. Seharusnya, tayangan khusus dewasa ditampilkan sesuai jam tayang yang sudah diatur KPI.

Kontrol Media
Dalam hal ini, seharusnya media massa terutama televisi ikut berperan mencerdaskan bangsa. Jangan sampai televisi mengejar materi dan popularitas saja. Artinya, selektivitas dalam memilih sebuah tayangan menjadi prosedur utama ketika membuat sebuah program. Meskipun tak menampik adanya pertimbangan rating juga menjadi sisi lain yang dipikirkan. Setidaknya, media massa memiliki tanggung jawab moral ketika membuat sebuah program.

Di era global seperti ini, magnet sinetron memang cukup besar. Maka dari itu, mekanisme kontrol kualitas harus mengacu pada ketentuan KPI untuk setiap program tayangan, termasuk sinetron-sinetron yang ditayangkan. TV berperan dalam membentuk perilaku remaja bisa dibenarkan. Namun itu tidak bersifat absolut. Ada media lain yang juga bisa memengaruhi perilaku remaja, yaitu internet yang bisa ditemukan dalam berbagai gadget.

Hal ini juga harus diperhatikan. Dibandingkan televisi, remaja sekarang lebih sering menggunakan internet dibandingkan menonton televisi. Pasalnya, di mana-mana remaja sekarang bisa mengakses internet. Informasi gaya hidup dan hiburan yang dianggap dapat mengubah perilaku dan sikap remaja dapat diakses melalui ponsel.

Sujarwanto Rahmat M Arifin, Ketua Bidang Pengawasan Isi Siaran KPI juga mengakui tak hanya sinetron, program komedi maupun program live berpotensi mengandung kekerasan, baik verbal maupun fisik. Pasalnya, kontrol talent (artis) itu memang susah ketika mereka berinteraksi dengan penonton (Solopos, 14/3/2014).

Maka dari itu, KPI harus menekankan untuk acara live, kontrol program acara maupun produser harus kuat. Jangan sampai TV justru menjadi media provokasi anak untuk melakukan kekerasan. TV harus menjadi kotak kecil yang mampu membentuk karakter anak menjadi besar. Pasalnya, anak-anak menjadi generasi penerus bangsa yang sejak dini harus ditanamkan nilai-nilai karakter, salah satunya lewat tayangan edukatif di TV dan media massa.
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget