Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

November 2015

Jakarta, Harian Guru – Ujian Nasional (UN) tahun 2016 di daerah bencana terdampak asap disepakati Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) diundur atau disesuaikan jadwal.
Kemendikbud sudah menggelar konferensi video jarak jauh dengan dinas pendidikan daerah yang terdampak bencana asap untuk membahas persiapan UN 2016.

Dalam konferensi video itu, sebagian besar daerah yang terdampak bencana asap sepakat untuk melaksanakan UN sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan pusat (Kemendikbud). Keputusan tersebut disepakati dengan mempertimbangkan ketuntasan belajar para peserta didik.

Sebanyak tujuh dari sembilan provinsi terdampak bencana asap hadir dalam konferensi video persiapan UN 2016.

Ke-7 provinsi tersebut adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Untuk dua provinsi lain, yaitu Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara, akan dilakukan pembicaraan khusus karena tidak terkoneksi dengan jaringan saat konferensi video berlangsung di Graha Utama Kemendikbud, Jakarta, (30/11/2015).

Konferensi video dipimpin Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad. Dalam konferensi tersebut, Hamid meminta para kepala dinas pendidikan provinsi untuk memberikan perkembangan terkini tentang persiapan UN 2016 dan ketuntasan belajar para peserta didik di daerah terdampak bencana asap.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Rahmat Derita mengatakan ujian nasional di Provinsi Jambi akan dilakukan sesuai jadwal yang telah ditetapkan pusat. Namun untuk jadwal ujian sekolah (US) akan diundur setelah peserta didik mengikuti ujian nasional.

“Ketuntasan pembelajaran wajib dipenuhi dengan mengoptimalkan waktu libur akhir semester I dan II,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, Damber Liwan, mengatakan akan mengundur jadwal ujian nasional di provinsinya, yaitu mundur 10 hari dari jadwal nasional, begitu juga dengan jadwal ujian sekolah.

Menanggapi hal itu, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Nizam yang juga hadir dalam konferensi video, menyarankan agar pelaksanaan UN di semua provinsi tetap sesuai jadwal nasional.
Pertimbangannya adalah, supaya hasil UN 2016 dapat digunakan sebagai salah satu syarat mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Hamid menjelaskan Kemendikbud dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah akan melanjutkan pembicaraan tentang pelaksanaan jadwal UN lebih lanjut pada rapat koordinasi pengambilan keputusan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sesuai dengan kewenangannya pada tanggal 5 Desember 2015. Ia menegaskan, pelaksanaan UN harus memperhatikan ketuntasan belajar para peserta didik. (Desliana Maulipaksi).

Jakarta, Harian Guru – Jumlah cagar budaya Indonesia mencapai 66.573 yang sudah terdaftar. Sampai detik ini, kajian Tim Ahli Cagar Budaya Nasional pada tahun 2015 telah menghasilkan 61 rekomendasi penetapan dan pemeringkatan cagar budaya. Ke-61 cagar budaya itu terdiri dari dua rekomendasi cagar budaya peringkat Kota, satu rekomendasi cagar budaya peringkat Kabupaten, sembilan rekomendasi cagar budaya peringkat Provinsi, dan 50 rekomendasi cagar budaya peringkat Nasional.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kacung Marijan mengatakan, meski belum resmi ditetapkan sebagai cagar budaya, cagar budaya yang direkomendasikan tersebut tetap harus diperlakukan dan dirawat sebagai sebuah cagar budaya.

Pihaknya juga mendesak agar segera dibentuk tim ahli cagar budaya di daerah-daerah, mengingat Indonesia memiliki banyak cagar budaya yang belum ditetapkan sebagai cagar budaya, baik peringkat kota, kabupaten, provinsi, maupun nasional.

“Sampai hari ini sudah ada 66.573 cagar budaya yang  terdaftar. Tetapi dari jumlah tersebut, baru 1.003 yang resmi ditetapkan sebagai cagar budaya. Maka dari itu kita sangat mendesak untuk pembentukan tim ahli cagar budaya di daerah-daerah,” kata Kacung saat jumpa pers tentang Cagar Budaya yang Ditetapkan Nasional, di Tangerang, Banten, Jumat (27/11/2015).

Kegiatan kajian oleh Tim Ahli Cagar Budaya Nasional terhadap usulan penetapan cagar budaya  telah berlangsung sejak tahun 2013. Hasil kajian tersebut menghasilkan suatu rekomendasi penetapan yang diserahkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional.  Hingga saat ini baru ada 50 cagar budaya yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional.

Kacung menargetkan, pada tahun  2016, minimal ada 100 cagar budaya yang ditetapkan. “Syukur-syukur  lebih dari seratus. Kami tidak mau 50 saja. Kalau tim cagar budaya di daerah-daerah sudah terbentuk, bisa lebih dari seratus, bahkan bisa 200 cagar budaya yang bisa kita tetapkan,” katanya optimis.

Penetapan Cagar Budaya menjadi cagar budaya nasional akan memberikan kewenangan serta tanggung jawab Pemerintah dalam melaksanakan pelindungan, pengembangan dan pemanfaatannya. Penetapan Cagar Budaya Nasional  dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia berdasarkan rekomendasi dari Tim Ahli Cagar Budaya Nasional.

Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Untuk penetapan itu sendiri adalah pemberian status Cagar Budaya terhadap benda, bangunan, struktur, lokasi, atau satuan ruang geografis yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya. (Erika Hutapea/Desliana Maulipaksi).

Jakarta, Harian Guru - Penyelenggaraan Temu Zapin Nusantara 2015 merupakan inisiatif Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan.

Mendikbud mengatakan, pada awal tahun 2015, ia sempat berdiskusi dengan Dirjen Kebudayaan Kacung Marijan dan Direktur Kesenian Endang Caturwati, tentang rencana penyelenggaraan festival tari secara nasional. Saat itu yang menjadi pertimbangan adalah sebuah tarian yang hampir ada di tiap wilayah di Indonesia sehingga memiliki variasi yang tinggi.

"Kesenian yang ada di berbagai daerah di Indonesia dengan tingkat variasi yang tinggi adalah Tari Zapin. Kita akan merasakan betapa variasi tinggi, dengan ekspresi berbeda, tetapi akarnya sama," ujar Mendikbud saat pembukaan Temu Zapin Nusantara 2015 di Plasa Insan Berprestasi Kemendikbud, Jakarta, (28/11/2015).

Ia berharap, kegiatan Temu Zapin Nusantara ini dapat mengingatkan kembali berbagai komponen masyarakat tentang eksistensi Tari Zapin. Sebab kecenderungan sekarang ini, katanya, masyarakat Indonesia sudah jarang melihat Tari Zapin sebagai kesenian pembuka suatu acara.

"Padahal Tari Zapin memiliki ritme yang menggugah, dinamis, dan menggerakkan. Izinkan Tari Zapin menjadi salah satu ikon tari Indonesia yang menonjol," tutur Mendikbud.

Ia juga menuturkan ada satu aspek yang tidak kalah penting dalam kesenian Indonesia.

"Hampir semua ekspresi kita di bidang seni merupakan ekspresi kerja bersama, terutama di bidang performing art. Itu bisa menjadi ikon bahwa Indonesia merupakan negara gotong-royong," katanya.

Mendikbud juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak yang berinisiatif untuk ikut terlibat dalam Temu Zapin Nusantara 2015. Ia juga mengajak semua pihak untuk terus menyelenggarakan kegiatan Temu Zapin secara rutin dan berkala.

"Mari kita galakkan kembali tari ini. Mari kita undang Tari Zapin untuk mewarnai panggung-panggung di Indonesia," ujarnya.

Tari Zapin merupakan salah satu dari beberapa jenis tarian Melayu yang masih eksis sampai sekarang. Tarian ini diinspirasikan oleh keturunan Arab yang berasal dari Yaman. Zapin berasal dari bahasa arab yaitu "Zafn" yang mempunyai arti pergerakan kaki cepat mengikut rentak pukulan.

Seperti diketahuii, sebutan Zapin umumnya dijumpai di Sumatera Utara dan Riau, sedangkan di Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu menyebutnya Dana. Julukan Bedana terdapat di Lampung, sedangkan di Jawa umumnya disebut Zafin. Masyarakat Kalimantan cenderung memberi nama Jepin, di Sulawesi disebut Jippeng, dan di Maluku lebih akrab mengenal dengan nama Jepen. Sementara di Nusa Tenggara Barat dikenal dengan julukan Dana-Dani. (Desliana Maulipaksi).

Surabaya, Harian Guru – Dalam rangka gladi bersih Upacara Hari Ulang Tahun Ke-44 KORPRI Tahun 2015 dengan tema Memperkokoh Netralitas dan Profesionalitas, Korpri Siap Menyukseskan Nawacita Demi Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat, berjalan seru dan penuh antusiasme dari seluruh peserta.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Yuddy Chrisnandi, memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang berjumlah tidak kurang dari 13 ribu yang terdiri dari pegawai pemerintah di Jawa Timur, baik kabupaten maupun kota, serta perwakilan dari pengurus KORPRI lintas provinsi se Indonesia.

"Pertama dalam sejarah, peringatan Hari Ulang Tahun KORPRI diselenggarakan di Jawa Timur. Surabaya menjadi tuan rumah," ujar Menteri Yuddy.

Dalam gladi upacara peringatan HUT KORPRI ke-44 ini, yang mengusung sub tema Netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam Pemilukada, serta Revolusi Mental ASN dengan tiga nilai utamanya, yakni integritas, etos kerja, dan gotong royong, peserta nampak antusias dan memiliki optimisme yang tinggi terhadap jalannya pemerintahan yang lebih baik dengan menjadi agen-agen perubahan untuk menyukseskan program pembangunan.

Menteri Yuddy menekankan bahwa kehadiran dan partisipasinya dalam gladi bersih tersebut juga dalam rangka memberikan semangat perubahan serta memotivasi peserta dalam mengikuti  upacara peringatan HUT KORPRI.

"Saya hadir di tengah gladi bersih untuk memberikan semangat, terima kasih, sampai bertemu di hari puncak HUT Korpri ke-44," tukas Yuddy.

Situasi di lapangan menjadi seru karena setelah usai gladi, Menteri PANRB spontan menyalami dan selfie bersama para peserta upacara dan anggota paduan suara. Mereka nampak bergembira dan berebut mengambil pose walaupun disengat oleh panasnya mentari di Lapangan Kodam V Brawijaya.
Keseruan bertambah seiring dengan penampilan gladi tari kolosal Gandrung Sewu yang melibatkan sekira 1000 penari, serta unjuk penampilan Paduan Suara Anggota KORPRI Jawa Timur yang menyanyikan lagu Indonesia Jaya serta berbagai lagu perjuangan.

Menurut Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Achmad Sukardi, saat mendampingi Menteri PANRB pada acara gladi tersebut, Tarian Gandrung Sewu yang akan memeriahkan dan menyemarakkan HUT KOPRI ini didatangkan khusus dari Kabupaten Banyuwangi.

"Ada seribu penari Gandrung Sewu yang akan unjuk kebolehan. Mereka kami datangkan dari Banyuwangi dengan menggunakan 22 bus," kata Achmad. (ris/hs/HUMAS MENPAN).

Mendikbud saat menghadiri deklarasi Hari Dongeng Nasional 2015.
Jakarta, Harian Guru - Hari Dongeng Nasional 2015 dideklarasikan. Selama ini memang kebudayaan nusantara sangat kaya akan dongeng karena bangsa Indonesia sejak dulu memiliki budaya narasi yang disampaikan secara oral.

Setiap daerah memilki puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan cerita dan dongeng. Karena itulah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sangat mengapresiasi dan mendukung inisiatif masyarakat untuk menetapkan Hari Dongeng Nasional.

Hari ini, 28 November 2015, bertepatan dengan hari lahir Drs. Suyadi, atau yang biasa dikenal sebagai Pak Raden, Mendikbud Anies Baswedan pun turut menghadiri Deklarasi Hari Dongeng Nasional di Perpustakaan Kemendikbud, Jakarta, bersama Forum Dongeng Nasional dan komunitas lainnya.

Mendikbud mengatakan, Pak Raden adalah sosok multitalenta, yang tak hanya pintar mendongeng, namun juga melukis. Kekuatan terbesarnya adalah rasa cintanya yang tak hingga pada anak-anak.

Tidak ada satupun pendongeng modern Indonesia yang tidak mengidolakan dan meneladani Pak Raden. Karena itu, katanya, masyarakat Indonesia merasa sangat kehilangan ketika mendengar kabar berpulangnya Pak Raden.

"Menjadikan hari kelahirannya sebagai Hari Dongeng Nasional artinya kita memastikan legasi, keteladanan dan pesan-pesannya akan terus kita kenang setiap tahunnya. Maka dari itu saya mengapresiasi inisiatif untuk deklarasi 28 November, hari kelahiran Pak Raden, sebagai Hari Dongeng Nasional oleh berbagai komunitas dongeng dan kami akan memikirkan dukungan-dukungan apa yang bisa kami berikan lebih jauh pada tahun-tahun ke depan," ujar Mendikbud saat acara Deklarasi Hari Dongeng Nasional di Perpustakaan Kemendikbud, Jakarta, (28/11/2015).

Ia juga menuturkan, manusia adalah makhluk naratif, sehingga bercerita dan mendengarkan cerita adalah sesuatu yang tertanam begitu dalam di dalam diri manusia, dansesuatu yang disukai secara alami. Ada teori yang mengatakan bahwa bercerita dan mendongeng bisa jadi adalah salah satu alasan munculnya bahasa pertama kali. Bercerita dan mendongeng adalah perekat komunitas manusia sejak ribuan tahun lalu. Bercerita dan mendongeng juga merupakan bentuk tertua dari mengajar, mendahului menulis dan membaca.

"Ada banyak sekali kelompok-kelompok kebudayaan manusia yang buta huruf, mungkin hingga sekarang, tetapi tidak ada satupun kelompok kebudayaan manusia yang tidak memiliki cerita dan dongeng," tutur Mendikbud.

Namun, lanjutnya, saat ini ada kecenderungan penurunan penggunaan dongeng dan cerita di kelas-kelas dan bahkan mungkin di rumah-rumah.

"Mungkin karena sebagian dari kita terlalu mengutamakan kemampuan akademis secara tidak proporsional, mengutamakan model-model pembelajaran yang instan dan cepat, penuh dengan hapalan-hapalan permukaan. Mungkin karena sebagian dari kita sudah terbiasa menjalani tanpa mencoba mengalami,” ujar Anies.

Padahal, lanjutnya, sudah begitu banyak riset yang membuktikan manfaat cerita dan dongeng dalam tumbuh kembang anak, mulai dari meningkatkan kemampuan mendengar, kemampuan berbahasa, kemampuan imajinasi, kemampuan empati, dan pengembangan karakter lainnya.

Ia juga mengapresiasi inisiatif masyarakat untuk menghidupkan kembali penggunaan dongeng dan cerita dalam pembimbingan tumbuh kembang anak-anak.  Para pegiat dongeng di Indonesia berkumpul di berbagai wilayah dan secara bersama ingin mengangkat momen Hari Dongeng Nasional sebagai perayaan suka cita cerita untuk merayakan dongeng.

Salah satunya adalah Forum Dongeng Nasional yang terdiri dari banyak individu, perorangan, kelompok, komunitas, pendidik, dan pemerhati anak di seluruh Indonesia yang ingin menyatakan tanggal 28 November sebagai Hari Dongeng Nasional. Deklarasi Hari Dongeng Nasional dan acara dongeng bersama pun dilakukan serentak di Aceh, Medan, Lampung, Palembang, Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Nusa Tebggara Barat, Bali, Saparua, Ambon, Sidrap, Majene, Pinrang, Makasar, dan masih banyak lagi. (Desliana Maulipaksi).

Jakarta, Harian Guru - Proses lelang pengadaan penggandaan dan pendistribusian naskah ujian nasional (UN) tahun 2016 dimulai hari ini, Jumat (27/11/2015). Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud, Dadang Sudiyarto mengatakan, terdapat 24 paket naskah UN yang akan dilelang di 34 provinsi.

Sedikitnya, ada beberapa provinsi yang lelangnya digabungkan, misalnya Provinsi Gorontalo bergabung dengan Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Maluku.

Lelang pengadaan naskah UN ini ditujukan untuk penyelenggaraan ujian nasional berbasis kertas atau paper based test (PBT). Dadang mengatakan, total peserta UN 2016 mencapai 7,3 juta siswa yang terdiri dari siswa SMP, SMA/SMK, dan UN Pendidikan Kesetaraan (Paket B dan Paket C).

Dari total 7,3 juta siswa itu, sebanyak 6,3 juta siswa menjadi peserta UN berbasis kertas, sedangkan sisanya adalah peserta UN berbasis komputer ataucomputer based test (CBT).

Besarnya anggaran untuk mengadakan dan mendistribusikan naskah UN 2016 ini mencapai Rp94 miliar. Anggaran tersebut turun sekitar Rp20 miliar dibandingkan pada tahun lalu.

Tahun 2015, anggaran UN untuk pelaksanaan ujian nasional berbasis kertas mencapai Rp114 miliar. Penurunan anggaran ini disebabkan meningkatnya jumlah peserta UN berbasis komputer pada UN 2016 mendatang.

Sebagai proses awal tanda dimulainya lelang pengadaan penggandaan dan pendistribusian naskah ujian nasional (UN) tahun 2016, Balitbang Kemendikbud mengundang perwakilan dinas pendidikan dari 34 provinsi untuk melakukan rapat koordinasi (rakor) mengenai dokumen pengadaan. Rakor tersebut diselenggarakan pada 26-27 November 2015 di Kantor Kemendikbud.

Dalam rakor dibahas beberapa kriteria calon penyedia jasa untuk melakukan pengadaan naskah UN 2016. Rakor juga membahas evaluasi pekerjaan pengadaan naskah UN tahun lalu.

“Kita menetapkan standar-standarnya, misalnya standar mesin cetak, ruang pengepakan dari proses cetak sampai distribusi, standar keamanan dan ketersediaan CCTV,” ujar Dadang usai pembukaan resmi dimulainya lelang pengadaan naskah UN 2016, di Kantor Kemendikbud, Jakarta, (27/11/2016).

Untuk keamanan, pada UN 2015 lalu, Balitbang Kemendikbud ikut memantau proses pencetakan naskah UN melalui CCTV yang tersambung ke perusahaan-perusahaan percetakan.

Maka dari itu pada lelang pengadaan UN 2016, dipertegas kembali klausul tentang surat pernyataan dari pimpinan perusahaan yang mewakili seluruh pegawai di perusahaan tersebut, untuk menjaga kerahasiaan ujian nasional. (Desliana Maulipaksi).

Makassar, Harian Guru - Reformasi Birokrasi Kemendikbud bisa ditempuh lewat penguatan pengawasan. Sebab, manajemen perubahan merupakan salah satu program yang disusun Kemendikbud untuk membantu memahami perubahan, merencanakan, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan serta memudahkan pelaksanaan reformasi birokrasi.

Salah satu programnya adalah sosialisasi dan internalisasi reformasi birokrasi Kemendikbud yang dilaksanakan di Hotel Santika, Makasar, Sulawesi Selatan, pada 26-28 November 2015.

“Reformasi birokrasi merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai good government dan melakukan pembaharuan dan perubahan mendasar terhadap pemerintahan terutama yang menyangkut aspek-aspek kelembagaan atau organisasi dan Sumber daya Negara aparatur,” tutur Asianto Sinambela dalam sambutan pembukaannya, selaku Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat sekaligus Koordinator Manajemen Perubahan, Kamis (26/11/2015).

Penguatan pengawasan, internalisasi tata nilai budaya kerja, dan pengisian kuisioner evaluasi RBI, merupakan agenda yang akan disampaikan pada kegiatan ini.

Dalam hal penguatan pengawasan, Sekretaris Inspektorat Jenderal Kemendikbud, Hindun Basri Purba menyampaikan, untuk mencapai nawacita dan tujuan renstra, yaitu membuat pemerintah selalu hadir dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, perlu dilakukan penguatan pengawasan sebagai langkah reformasi birokrasi.

“Ada beberapa hal yang harus dilakukan di antaranya pengawasan dana transfer daerah, peningkatan kualitas pengawasan dana pendidikan, peningkatan peran komite sekolah dan pelayanan pengaduan masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu, disampaikan juga tentang pentingnya membangun integritas di lingkungan Kemendikbud yang mengutamakan kepentingan publik daripada kepentingan pribadi.

“Kemendikbud adalah hulu pemberantasan korupsi di Indonesia, oleh karena itu sangat urgent untuk membangun integritas di Kemendikbud sehingga tidak cukup jujur tetapi integritas yang mengutamakan kepentingan publik daripada kepentingan peribadi”,” tutur Hindun Basri.  

Berdasarkan hasil evaluasi reformasi birokrasi yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi tahun 2015, Kemendikbud menempati urutan ke-empat di bawah Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Evaluasi reformasi birokrasi ini dilakukan terhadap 41 kementerian, lembaga, dan badan negara di Indonesia.

Peserta yang hadir dalam kegiatan Sosialisasi dan Internalisasi Reformasi Birokrasi Kemendikbud terdiri dari perwakilan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Regional Timur sebanyak 52 orang dan Unit Utama/Pusat sebanyak 53 orang. (Dennis Sugianto)

Jakarta, Harian Guru – Bagi Anda yang ingin mengetahui jadwal UKG 2015, berikut
ini jadwal UKG susulan pada 11-14 Desember 2015.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menyelenggarakan uji kompetensi guru (UKG) susulan pada tanggal 11 Desember 2015 sampai 14 Desember 2015.

UKG susulan ini dilaksanakan untuk mengakomodir guru-guru yang belum terdaftar pada UKG tanggal 9 November 2015 sampai 27 November, atau sudah terdaftar tetapi verifikasinya tidak valid.

Kepala Bagian Perencanaan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Tagor Alamsyah mengatakan, guru-guru yang ingin mengikuti UKG susulan dapat mendaftarkan diri dan melakukan verifikasi ulang ke dinas pendidikan di daerahnya masing-masing.

Verifikasi yang dilakukan harus valid, agar tidak terulang lagi kesalahan verifikasi, seperti adanya perbedaan antara mata pelajaran yang diampu guru dengan yang keluar saat uji kompetensi, atau mata pelajarannya benar, namun jenjang pendidikan pada soal yang keluar di UKG berbeda.

“Guru yang sudah sertifikasi, mata pelajarannya sesuai dengan sertifikasinya itu. Sedangkan guru yang belum sertifikasi bisa memilih mata pelajaran dalam UKG, sesuai yang diampu atau yang diajarkannya di kelas,” ujar Tagor saat gelar wicara dengan Radio Sindo Trijaya FM, di Kantor Kemendikbud, Jakarta, (26/11/2015).

Ia mengatakan, hingga kemarin, (26/11/2016), ada 2.360.388 guru yang sudah mengikuti uji kompetensi.

“Itu berarti sudah 91 persen. Sisanya ada 226.885 guru yang akan mengerjakan uji kompetensi sampai nanti jadwal selesai, yaitu 27 November,” katanya.

Pihaknya  menuturkan, penyelenggaraan uji kompetensi guru selama ini berjalan dengan baik. Hambatan kecil yang terjadi di lapangan dapat diselesaikan sesuai prosedur.

Tagor juga kembali menegaskan, tidak ada sanksi yang diberikan kepada guru yang memiliki nilai buruk dalam UKG. Uji kompetensi guru, katanya, ditujukan untuk bercermin, dan memotret serta menganalisa peta kompetensi individu masing-masing guru.

Tindak lanjut dari UKG 2015 adalah berupa pendidikan dan pelatihan (diklat) yang lebih terarah untuk guru-guru sesuai dengan pemetaan yang dihasilkan dari UKG.

“Apapun nilai UKG, itu hanya dijadikan baseline untuk treatment atau perbaikan,” tutur Tagor. (Desliana Maulipaksi).

12 Kepala Daerah yang menerima Anugerah Ki Hajar 2015
Jakarta, Harian Guru – Anugerah Ki Hajar Dewantara 2015 diberikan 12 kepala daerah. Mereka terdiri atas empat gubernur dan delapan bupati/walikota menerima Anugerah Ki Hajar tahun 2015.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan memberikan penghargaan kepada para kepala daerah tersebut dalam acara Malam Anugerah Ki Hajar ke-10, Kamis (26/11/2015) malam, di Plasa Insan Berprestasi Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Jakarta.

Anugerah Kihajar untuk gubernur dan bupati/walikota adalah bentuk apresiasi Kemendikbud kepada kepala daerah yang berprestasi mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pendidikan.

Pendayagunaan TIK dalam pendidikan meliputi kegiatan pembelajaran dan administrasi baik di sekolah maupun di lembaga pemerintah yang menangani pendidikan.

Penganugerahan penghargaan untuk kepala daerah ini didahului proses penilaian yang dilakukan dari Bulan Oktober hingga November 2015. Kategori penilaian meliputi kebijakan, program, dan implementasi. Pada kategori implementasi dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu utama, madya, dan pratama.

Gubernur yang mendapat Anugerah Kihajar yaitu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Aceh Zaini Abdullah, dan Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo. Sedangkan bupati/walikota yang mendapat penghargaan yaitu: a. Haryadi Suyuti (Kota Yogyakarta); b. Benhur Tomi Mano (Kota Jayapura); c. Syarif Fasha (Kota Jambi); d. Illiza S. Djamal (Kota Banda Aceh); e. Marten A. Taha (Kota Gorontalo); f. Adi Darma (Kota Bontang); g. Hendri Arnis (Kota Padang Panjang); i. Juliatmono (Kabupaten Karanganyar).

Mendikbud Anies Baswedan mengapresiasi para kepala daerah yang telah mendayagunakan TIK untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah. Di daerah yang sulit aksesnya, kata Mendikbud, kehadiran teknologi adalah keharusan, karena tanpa teknologi mereka akan semakin tertinggal dari daerah lain. Namun yang lebih penting adalah manusia pengguna teknologinya.

"Mari sama-sama dorong, agar guru-guru mengoptimalkan pemanfaatan TIK, dengan begitu teknologi yang hadir benar-benar bisa membuat proses pembelajaran menyenangkan, lebih dekat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan membuat jarak geografis tidak menjadi kendala," kata Menteri Anies.

Walikota Banda Aceh Illiza S. Djamal yang hadir dalam Malam Anugerah Kihajar tersebut merasa bangga dan terhormat mendapat penghargaan ini. Kota Aceh menurutnya serius memanfaatkan TIK dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan.

Semua sekolah di Kota Banda Aceh sudah terhubung dengan Internet. Selain itu orang tua siswa disediakan fasilitas sehingga dapat memantau kehadiran anaknya di sekolah.

"Orang tua di Banda Aceh melalui TIK dapat memantau apakah anak-anaknya masuk sekolah atau bolos, sehingga dapat melakukan penanganan," ujar Iliza menambahkan. (Nur Widiyanto/ Erika Hutapea) .

Suasana UKG.
Makassar, Harian Guru  - Nilai Uji Kompetensi Guru (UKG) 2015 akan berakhir pada 27 November 2015. Saat ini memang banyak orang mencari daftar nilai UKG di Jakarta 2015, juga nilai UKG di Maluku, Surabaya, Semarang, Medan dan juga lainnya.

Untuk di Provinsi Sulawesi Selatan, justru ada fakta menarik seputar hasil uji kompetensi para guru di provinsi itu.

Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Salam Soba menyatakan, hasil uji kompetensi para guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Sulsel, lebih baik dibandingkan dengan hasil UKG para guru pendidikan dasar (SD dan SMP).

“Itu nilai UKG guru PAUD rata-rata 70, sedangkan nilai rata-rata guru SD dan SMP malah dapat 40-an,” ujarnya saat acara dialog Kemendikbud dengan lembaga atau organisasi masyarakat (ormas) di Makassar, Sulawesi Selatan, (26/11/2015).

Salam mengungkapkan, salah satu faktor adanya kesenjangan perbedaan hasil UKG tersebut karena para guru PAUD di Sulsel banyak yang berusia muda, sehingga lebih kreatif dan tanggap terhadap penggunaan komputer.

“Sedangkan guru SD/SMP di Sulsel tergolong kurang motivasi untuk mengikuti pelatihan dan UKG itu sendiri,” katanya. Ia mengatakan, peserta UKG di Makassar sebanyak 115.000 orang, dari total 145.000 guru yang tersebar di seluruh provinsi Sulsel.

Sementara Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud E. Nurzaman mengungkapkan, nilai UKG dari masing-masing guru dapat menggambarkan dua kemampuan guru, yaitu kemampuan pedagogik, dan profesional.

“Kategorinya itu bisa saja nilainya 80 belum tentu bagus dua-duanya, bisa saja pedagoginya bagus 80, sedangkan kemampuan profesionalnya kurang,” ungkap dia.

Pihaknya mengungkapkan bahwa hasil UKG akan diformulasikan untuk analisis kebutuhan diklat. Misalnya seberapa tinggi atau rendah penguasaan kompetensi seorang guru sehingga ada pemetaan. Kemudian, peta kemampuan tadi dianalisis untuk dijadikan sebagai dasar dalam program peningkatan kemampuan guru.

UKG merupakan alat pemetaan bagi kompetensi guru. Sebanyak 2.949.122 guru mengikuti UKG 2015, dari total sejumlah 3.015.315 guru dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini samapi dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Naskah soal yang diujikan sebanyak 200 paket soal dengan 200 mata pelajaran. Pelaksanaanya, guru mengerjakan satu mata pelajaran sesuai dengan sertifikat profesinya atau mata pelajaran yang diampunya, dengan mengerjakan sebanyak 60-120 soal selama 120 menit. (Gloria Gracia/Desliana Maulipaksi).

Ilustrasi
Jakarta, Harian Guru - Syarat pendaftaran CPNS 2016 terbaru perlu dibaca dan dipahami bagi Anda yang berminat untuk mengikuti pendaftaran CPNS tahun 2016, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) berencana memberikan kesempatan kembali kepada honorer kategori 2 untuk mengikuti seleksi CPNS tahun 2016.

Baca juga: Ini Jadwal Penerimaan CPNS 2016.

Sebelum mendaftar, ada baiknya Anda membaca dulu dengan teliti apa saja persyaratan yang diperlukan untuk pendaftaran CPNS, agar Anda tidak perlu lagi repot mengurus tetek-bengek administrasi saat sudah mendekati hari H-nya.

Berikut adalah syarat-syarat pendaftaran CPNS 2016:

Persyaratan Umum:

Warga Negara Indonesia (WNI)
Berusia paling rendah 19 tahun dan tidak boleh lebih dari 46 tahun pada tanggal 1 Januari 2016
Sehat jasmani, rohani dan bebas NARKOBA
Berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap
Tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagai PNS/Anggota TNI/Polri atau diberhentikan tidak dengan hormat sebagai pegawai swasta
Tidak berkedudukan sebagai CPNS atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan/atau tidak sedang menjalani perjanjian/kontrak kerja/ikatan dinas pada instansi lain
Persyaratan Khusus:

Seleksi Tes ini adalah diperuntukan untuk “eks Tenaga Honorer K-2” yang tidak lulus dalam tes sebelumnya
Harus sudah terdaftar dalam database BKN
Tenaga Honorer K2 yang dibiayai bukan dari APBN atau APBD, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan bekerja di instansi pemerintah, masa kerja paling sedikit satu tahun pada tanggal 31 Desember 2005 dan sampai saat ini masih bekerja secara terus menerus
Kebenaran data yang disampaikan dijamin dengan Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) yang ditandatangani oleh PPK, yang sebelumnya sudah dilakukan verifikasi dan validasi terpadu oleh BKN dan BPKP
Seleksi:

Seleksi penerimaan CPNS untuk honorer Kategori 2 adalah menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT CPNS)

Materi Tes

Tes seleksi yang diberikan adalah Tes Kompetensi Dasar berbasis CAT yang terdiri dari:

Tes Wawasan Kebangsaan
Tes Intelegensi Umum
Tes Kepribadian
Kriteria Kelulusan:

Tiap kelulusan peserta ujian ditentukan oleh nilai passing grade atau nilai ambang batas dan tidak dapat dilakukan perubahan. Kelulusan dilakukan berdasarkan urutan atau peringkat.

Lain-Lain:
Penanggungjawab pelaksanaan seleksi untuk instansi pusat adalah Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK), yakni Menteri, Kepala LPNK, dan Sekjen Lembaga Negara (instansi pemerintah pusat), sedangkan untuk pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati, dan Walikota
Bagi Tenaga Honorer K-2 yang mengikuti seleksi dan dinyatakan lulus namun kemudian diketahui tidak memenuhi persyaratan administratif, maka yang bersangkutan tidak dapat diangkat atau dibatalkan pengangkatannya sebagai CPNS. Dan terhadap pejabat yang menandatangani SPTJM akan dikenakan sanksi administratif dan/atau hukum
Pendaftaran tidak dipungut biaya
Keputusan Panitia Seleksi tidak dapat diganggu gugat

Pelaksanaan penerimaan seleksi CPNS untuk honorer K2 direncanakan akan dilaksanakan mulai bulan Agustus 2016

Ilustrasi
Jakarta, Harian Guru - Lowongan CPNS 2016 terbaru akhirnya dibuka. Secara otomatis pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2016 akhirnya telah resmi dibuka. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) menyatakan moratorium rekrutmen CPNS pada 2016 sifatnya terbatas. Artinya, masih ada formasi tertentu yang dibuka lantaran sejumlah instansi masih sangat membutuhkan pegawai baru.

Baca juga: Ini Jadwal Penerimaan CPNS 2016.

“Moratorium bukan berarti tidak menerima pegawai baru sama sekali. Koridornya masih di moratorium terbatas dan jumlah yang diangkatkan pun sangat sedikit karena hanya menggantikan yang pensiun saja,” kata Asdep Koordinasi Kebijakan, Penyusunan, Evaluasi Program dan Pembinaan SDM Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) Bambang Dayanto Sumarsono kepada JPNN, Rabu (4/11/2015).

Rencananya, formasi yang dibuka adalah tenaga kesehatan, tenaga pendidikan, dan penegak hukum. Adapun tenaga kesehatan terdiri dari bidan PTT, dokter PTT, perawat, tenaga kesehatan lainnya. Kuota yang disiapkan sekitar 42 ribu.

“Untuk tenaga kesehatan bidan PTT dan dokter PTT, Kemenkes harus berkoordinasi dengan pemda,” ujarnya.

Formasi tenaga pendidik diprioritaskan untuk guru 3T (terluar, terdepan, tertinggal). Jumlahnya, sekitar 3.000-an. Formasi tenaga penegak hukum sekitar 1.000-an.

“Guru 3T akan diprioritaskan. Berapapun yang diajukan Kemdikbud untuk 3T akan diberikan karena ini mendukung program presiden,” ujarnya.

Selain tiga formasi tersebut, pemerintah juga mengalokasikan untuk lulusan sekolah ikatan dinas sekitar 5.000-an. Sekolah ikatan dinas ini, antara lain, Sekolah Tinggi Sandi Negara milik Lemsaneg, Sekolah Tinggi Intelegen (BIN), Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (BPS), serta sekolah untuk penjaga sipir/lapas dan imigrasi (Kementerian Hukum dan HAM).

Selain itu, ada juga sekolah D2 dan D3 Perpajakan milik Kementerian Keuangan, sekolah pengamat gunung berapi (BMKG), dan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).

Ilustrasi
Jakarta, Harian Guru - Jadwal penerimaan CPNS 2016 berdasarkan usulan dari penyelenggaraan tes CPNS tahun sebelumnya, setiap daerah diminta untuk mengajukan formasi atau jumlah kuota yang akan dibuka dalam penerimaan CPNS 2016 yang akan berlangsung sekitar bulan Mei atau bulan Juni 2016 yang akan datang.

Baca juga: Lowongan CPNS 2016 Resmi Dibuka.

Setelah semua usulan formasi CPNS dari semua daerah dibahas dalam sidang kabinet selanjutnya, hasil keputusan akan diperoleh yakni tentang hasil berapa jumlah kuota dan formasi yang diperbolehkan direkrut oleh masing-masing daerah pada lowongan pendaftaran CPNS 2016.

Beberapa waktu kemudian jadwal akan mulai disusun hanya saja penyelenggaraan pendaftaran online yang dibuka oleh masing-masing daerah tak berlangsung serentak melainkan beberapa tahap dimulai dari daerah yang benar-benar siap dalam pelaksanaan tes CPNS 2016.

Selain jadwal tes pertama yang akan menguji kompetensi peserta yang ikut serta dalam tes seleksi CPNS 2016 yakni tes TKD (tes kompetensi dasar) maka ada juga pengumuman mengenai lokasi tempat tes CPNS tertulis 2016 berlangsung.

Di dalam informasi jadwal sendiri telah ada beberapa hal yang masih terkait tes CPNS 2016 yakni tentang jadwal pendaftaran baik online maupun offline yang disertai dengan tenggang waktu sesua dengan kebijakan daerah penyelenggara.

Ada juga jadwal pelaksanaan tes yang berlangsung dalam beberapa hari dan juga beberapa lokal dengan sistem menggunakan CAT CPNS 2016, namun kerap kali keterbatasan fasilitas pendukung tes CAT CPNS membuat waktunya dijadwalkan menjadi beberapa waktu hingga semua peserta ikut tes seleksi CPNS yang diadakan.

Sebagai gambaran maka disini kami rangkum:

Beberapa poin penting dalam jadwal lengkap tes CPNS tahun 2016 yakni :

Bulan Maret 2016 menjadi awal pembukaan tes CPNS hingga pertengahan tahun (meski pada penerpannya bisa dimulai april, mei, juni ataupun juli), dan masih menunggu kabar selanjutnya.

Pendaftaran online dan juga pengiriman berkas sesuai dengan syarat lamaran yang telah ditentukan oleh daerah penyelenggara tes CPNS 2016 yang akan berlangsung hingga bulan agustus hingga sepetember.

Jeda waktu beberapa minggu sambil menantikan hari pelaksanaan tes tertulis TKD CPNS tahun 2016.
Menyelesaikan tes seleksi oleh semua daerah yang mengadakan tes seleksi CPNS 2016.
Menantikan hasil pengumuman kelulusan tes CPNS 2016.

Suasana workshop literasi informasi, Rabu (25/11/2015).
Jakarta, Harian Guru - Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada Rabu (25/11/2015) menggelar workshop literasi informasi bagi guru dan pustakawan sekolah. Kegiatan ini digelar di Perpustakaan Kemendikbud Jakarta.

 Workshop tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan Pekan Perpustakaan Kemendikbud 2015.

“Workshop seperti ini penting sekali untuk pustakawan dan guru dalam pemecahan masalah siswa,” ujar Hana Chaterina George, Ketua Asosiasi Profesional Informasi Sekolah Indonesia (APISI).
Hana menambahkan bahwa saat ini banyak siswa yang tidak tahu akan pentingnya mencantumkan sumber informasi yang ia ambil. Hal tersebut terjadi karena sejak dini tidak pernah diajarkan mengenai literasi informasi, tambah Hana.

M. Ihsan, Ketua Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI) mengatakan bahwa pustakawan itu bukan pengelola buku tapi pengelola data, informasi, pengetahuan yang ada di dalam buku, sehingga keterampilan literasi informasi sangat dibutuhkan.

Workshop Literasi Informasi ini diharapkan dapat membantu siswa dalam mengenali kebutuhan informasi dan bagaimana mencari informasi tersebut dengan baik dan benar, kata Chaidir Amir, Kepala Subbagian Perpustakaan Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) Kemendikbud.

Peserta workshop ini berjumlah 28 orang yang terdiri dari guru dan pustakawan sekolah. Manfaat penerapan literasi informasi ini, yaitu: a. Keragaman sumber informasi dalam bentuk tercetak maupun elektronik; b. meningkatkan kemampuan reading comprehension dan kemampuan pembelajaran serta penelitian; c. siswa yang memperoleh keterampilan literasi informasi di sekolah akan lebih sukses di perguruan tinggi; dan d. menjadi pembelajaran seumur hidup. (Dwi Retnawati/Handi Sandi)

Jakarta, Harian Guru - Frankfurt Book Fair 2015 di mana Indonesia berperan sebagai tamu kehormatan, telah usai. Banyak dukungan dari para sastrawan dan seniman agar pemerintah meneruskan program penerjemahan karya sastra yang telah dilakukan pada Frankfurt Book Fair 2015.

Mendikbud Anies Baswedan merespons positif aspirasi tersebut. Ia menyatakan komitmennya untuk meneruskan program penerjemahan, tidak hanya untuk karya sastra, tetapi juga karya budaya lainnya.

“Kita menginginkan agar karya Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, melainkan juga di negeri orang. Harus ada upaya serius dalam penerjemahan. Tidak terbatas dalam urusan yang terkait dengan produk sastra saja,” katanya dalam acara syukuran dan ramah tamah dengan Komite Nasional Indonesia untuk Frankfurt Book Fair 2015, di Plasa Insan Berprestasi Kemendikbud, Jakarta, Rabu malam (25/11/2015).

Ia kemudian menceritakan kunjungannya ke Google Cultural Institute di Paris, beberapa waktu lalu. Mendikbud mengatakan, Google Cultural Institute telah menjadikan Candi Borobudur sebagai situs pertama yang bisa dijelajahi para peselancar dunia maya melalui kemampuan visual digital dari Google. Ke depannya, ujar Mendikbud, Google Cultural Institute akan bekerja sama dengan Kemendikbud agar situs-situs bersejarah lain di Indonesia juga bisa dikunjungi secara virtual.

“Misalnya kita bisa jalan-jalan ke keraton-keraton di Indonesia secara virtual, atau menjelajahi Sangiran secara virtual. Jadi proses penerjemahan jangan hanya fokus pada satu produk budaya saja,” ujar Mendikbud.

Ia mengatakan, Indonesia adalah negara yang besar, karena itu kita harus memikirkan sesuatu yang besar untuk semakin membesarkan nama Indonesia di kancah internasional. “Pondasinya dimulai dari pengalaman Frankfurt Book Fair 2015. Kemendikbud insyaAllah berkomitmen menjalankan itu semua,” tuturnya. (Desliana Maulipaksi).

Jakarta, Harian Guru - Keikutsertaan Indonesia dalam Frankfurt Book Fair 2015 sebagai Guest of Honour atau Tamu Kehormatan berhasil diselenggarakan dengan sukses. Indonesia mendapatkan banyak pemberitaan yang positif oleh media massa internasional.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan, meski dirinya dan banyak masyarakat Indonesia tidak terlibat dalam proses pengkaryaan, gaung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan Frankfurt Book Fair 2015 juga dirasakan di tanah air.

“Indonesia bukan hanya berhasil meraih yang diharapkan, tetapi berhasil melampaui yang diharapkan,” ujarnya saat acara syukuran dan ramah tamah dengan Komite Nasional Indonesia untuk Frankfurt Book Fair (FBF) 2015, di Plasa Insan Berprestasi Kemendikbud, Jakarta, Rabu malam (25/11/2015).

Mendikbud mengatakan, dalam penyelenggaraan Indonesia sebagai Tamu Kehormatan FBF 2015, telah terjadi kerja sama yang baik antara pemerintah (Kemendikbud) dengan pelaku di dunia industri kreatif.

“Ini pola operasi yang ingin kita teruskan. Dua tahun lagi kita akan menjadi guest country di Festival Europalia. Pengalaman ini mudah-mudahan bisa menjadi modal. Banyak hal yang masih perlu kita kerjakan bersama-sama,” kata Mendikbud.

Ketua Komite Nasional Indonesia untuk Frankfurt Book Fair 2015, Goenawan Mohamad juga memberikan apresiasi kepada Kemendikbud karena telah memberikan kepercayaan penuh kepada komite untuk bekerja dalam Program Tamu Kehormatan Frankfurt Book Fair 2015.

“Ada trust (kepercayaan) yang besar kepada kita (komite). Ini salah satu tanda bagian dari demokrasi yang sedang kita jalani,” katanya.

Dalam acara syukuran dan ramah tamah itu juga dilakukan serah-terima cinderamata dari Komite Nasional kepada Mendikbud berupa beberapa buah pigura besar yang menampilkan foto Mendikbud saat berada di Frankfurt, Jerman, dengan latar belakang iklan Indonesia sebagai Tamu Kehormatan Frankfurt Book Fair 2015. Mendikbud mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Komite Nasional dan seluruh pihak yang telah membuat nama Indonesia besar dalam FBF 2015.


“Ini sebuah peristiwa yang historik, bersejarah. Bekasnya akan ada sampai dua dekade ke depan. Setelah kita mensyukuri ini, let’s tell the world, how big we are,” tuturnya. (Desliana Maulipaksi).

Yogyakarta, Harian Guru – Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) telah memminta kepada top 9 dan top 40 inovasi pelayanan publik untuk menyerahkan proposal dan dokumen secara lengkap paling lambat tanggl 10 Desember 2015.

Kemudian, setelah itu proposal tersebut akan disampaikan ke United Nations Public Services Award (UNPSA) 2016.

“Ditunggu proposal dan dokumen lengkap tanggal 10 Desember 2015,” kata Deputi Bidang Pelayanan Publik Kementerian PANRB Mirawati Sudjono saat penutupan Bimtek Kepesertaan UNPSA di Yogyakarta, Kamis (26/11/2015).

Dikatakan Mira, dokumen tersebut tidak hanya untuk UNPSA, tetapi juga akan dilaporkan kepada Presiden dan Wakil Presiden, sebagai instansi dan pemda yang telah melakukan inovasi.

“Akan didokumentasikan dan dilaporkan ke Presiden dan Wapres,” kata Mira.

Pihaknya juga mengatakan, berkaitan dengan Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik 2016, agar seluruh instansi maupun pemerintah daerah mengirimkan inovasinya.

Pendaftaran sudah dibuka tanggal 1 November 2015 dan akan ditutup tanggal 30 Januari 2016.

Mira mengatakan, pihaknya akan memenuhi permintaan peserta agar peserta Bimtek diberikan sertifikat. Sebab sertifikat ini bisa menjadi nilai lebih saat penilaian kepegawaian.

“Saudara-saudara kan memang memiliki kelebihan, sebagai innovator pasti memiliki nilai lebih,” pungkasnya. (ags/HUMAS MENPANRB).

Putri Hayuningtyas, Guru SMP Negeri 10 Surabaya Ciptakan Inovasi Aksara Jawa
Jakarta, Harian Guru – Putri Hayuningtyas merupakan guru SMP Negeri 10 Surabaya menciptakan inovasi aksara jawa. Seperti diketahui, Pemerintah Jawa Timur menetapkan aksara Jawa menjadi mata pelajaran muatan lokal yang wajib diajarkan di sekolah-sekolah. Pelajaran ini diberikan sejak kelas 3 SD. Logikanya, saat duduk di kelas 7, seharusnya siswa telah mahir menulis dan membaca aksara Jawa. Kenyataannya tidak demikian.

“Pengetahuan anak-anak terhadap aksara Jawa seperti dari nol lagi. Padahal mereka sudah belajar aksara Jawa selama empat tahun,” kata Putri Hayuningtyas, guru aksara Jawa SMP Negeri 10 Surabaya, Jawa Timur yang ditemui di sela-sela kegiatan “Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan 2015” di Istora Senayan, Jakarta, Senin (23/11/2015).

Mengetahui kenyataan itu, Putri kemudian berpikir, ia harus melakukan sesuatu. Tidak hanya mengejar materi yang selama ini tertinggal, tetapi juga harus menggunakan metode yang tepat agar siswa cepat menghafal bentuk aksara Jawa yang jumlahnya mencapai 40.

Ibu tiga anak ini kemudian menemukan cara agar siswa cepat hafal dan mampu segera menerapkannya dalam bentuk kata dan kalimat. Putri mencoba mengelompokkan pasangan huruf Jawa berdasarkan itu menjadi enam kelompok.

“Huruf Jawa itu punya 20 karakter aksara inti dan 20 karakter pasangannya. Saat mengajar, saya tidak memulainya berdasarkan urutan ho-no-co-ro-ko, melainkan dengan pengelompokan tadi,” tutur guru yang telah mengajar selama 27 tahun mata pelajaran bahasa daerah ini.

Kelompok pertama adalah kelompok huruf dan pasangan yang memiliki bentuk yang sama. Kelompok kedua merupakan kelompok huruf dan pasangan dengan bentuk mirip. Kelompok ketiga adalah kelompok huruf dan pasangan yang hilang bagian depannya. Kelompok empat hilang bagian belakangnya. Kelompok lima adalah kelompok dengan penulisan mudah, dan kelompok keenam merupakan kelompok dengan penulisan sulit.

“Target saya, dengan pengelompokkan ini anak harus sudah hafal dalam hitungan 5-10 menit. Jadi, dalam satu kali pertemuan, ke-40 huruf Jawa ini sudah dapat mereka hafalkan,” imbuh Putri.

Ia menuturkan, setelah metode ini diterapkan, hanya dengan dua kali pertemuan tatap muka, anak-anak sudah mampu menghafal cara penulisan, menulis, dan membaca aksara Jawa,” tambah guru bahasa daerah yang mengajar kelas 8 dan 9 ini.

Metode Putri dalam mengelompokkan aksara Jawa ini mendapat apresiasi berupa Juara 1 Lomba Karya Inovasi Pembelajaran Guru SMP Kelompok Seni Budaya tingkat Nasional 2015. Sebelum sampai ke tingkat nasional, inovasinya ini sudah diuji di tingkat kabupaten/kota dan provinsi. Pada 2014 misalnya, Putri mendapat juara pertama Guru lnovatif Bahasa Jawa se-Jatim tahun 2014. Dia pun berhak meraih piala Gubernur. Ia berhasil menyisih sebanyak 22 peserta yang terdiri dari guru Bahasa Jawa se-Jawa Timur.

Menurut Putri, metode tersebut memerlukan kerja sama antara guru dan siswa. Saat guru mengenalkan kelompok-kelompok ini kepada siswa, guru mengajak siswa membayangkan bentuknya, mendeskripsikannya, sambil menggerakkan jari ke udara untuk menuliskan aksara yang dimaksud. Cara ini diulangi berkali-kali agar proses siswa menghafal menjadi lebih cepat. Jika di kelompok satu siswa belum hafal, tidak boleh pindah ke kelompok dua. Demikian seterusnya.

Putri mencontohkan aksara ke dua (No) yang masuk dalam kelompok mudah. Untuk menghafal pasangan No, Putri meminta muridnya menghafal sambil membayangkan dan mengucap kalimat ‘turun belok ke kanan”.

Begitu juga ketika harus menghafal pasangan aksara Bo, siswa diminta menghafal dengan kalimat “C plunker N”. “Memang pasangan Bo kan seperti huruf C lalu melingkar membentuk huruf N. Jadi murid bisa membayangkan sambil memejamkan mata menghafalnya. Otak kanan dan otak kiri bekerja semuanya,” katanya.

Untuk memacu anak lebih cepat memahami aksara Jawa, Putri biasanya membagi kelompok siswa menjadi empat. Masing-masing siswa di empat kelompok ini diminta melanjutkan menuliskan huruf pertama yang sebelumnya ditulis Putri di papan tulis. Dari huruf pertama ini kemudian berkembang menjadi kata. Kata menjadi kalimat. Kalimat menjadi paragraf.

“Setelah 10 menit, saya minta masing-masing kelompok memeriksa hasil tulisan kelompok lain. Kelompok 1 memeriksa kelompok 2, kelompok 2 memeriksa kelompok 3, demikian seterusnya. Mereka yang memeriksa diminta menunjukkan letak kesalahannya. Saya kemudian tawarkan kepada kelompok yang diperiksa untuk membetulkan kesalahan yang dibuatnya. Jika tidak bisa, saya minta kelompok yang memeriksa untuk mengoreksinya. Mereka harus bertanggung jawab saat menyebut milik kelompok yang diperiksanya salah. Ini cara saya agar anak lebih cepat menguasai aksara Jawa,” tutur Putri. (Ratih Anbarini)

Suasana makan yang digelar Presiden Jokowi bersama guru SMP dan SMA
Jakarta, Harian Guru - Puncak Peringatan Hari Guru Nasional, yang digelar pada 24 November 2015, menjadi hari yang istimewa bagi sebelas guru yang datang dari Solo. Mereka adalah guru-guru dari Presiden Joko Widodo saat duduk di bangku SMP dan SMA.

Ke-11 guru itu diundang secara khusus ke  Istora Senayan untuk menghadiri Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2015. Presiden bahkan mengistimewakan guru-gurunya itu dengan mengundang mereka dalam jamuan makan siang di Istana Negara.

"Seperti mimpi ya..!?” kata beberapa guru presiden saat menghadiri jamuan makan siang di Istana Negara, (24/11/2015). Ucapan itu disambut presiden dengan tersenyum.

Ke-11 guru presiden tersebut adalah Budi Satriani, Drs. Murdi Suyitno, Dra. Hj. Chury Martiningsih, Dra. Agnes S. Mujiari, Sih Winarni, Ramelan Sukanta,  Drs. Sudadi, Suparmi Sutoto, Siti Nurhayati, S.Pd, Soedrajatmo, dan Sri Haryadiningsih.

Mereka tidak hanya menyaksikan pidato Hari Guru Nasional dari muridnya yang kini menjadi Presiden Republik Indonesia, namun juga menikmati jamuan makan siang bersama presiden di Istana Negara seusai acara Puncak Peringatan Hari Guru Nasional di Istora Senayan, Jakarta, (24/11/2015).

Pak Sudadi (62 tahun), salah satu guru Presiden, mengisahkan suasana makan siang semeja dengan Presiden Jokowi yang pernah jadi muridnya. "Sangat gayeng, akrab dan tidak terasa berjarak. Kami cerita-cerita nostalgia dan banyak canda,” katanya.

Bahkan Pak Ramelan (84 tahun) sempat bercerita bahwa dirinya terkejut saat mendapat undangan acara Puncak Peringatan Hari Guru Nasional di Jakarta yang akan dihadiri Presiden, "Kami khawatir, jangan-jangan ini penipuan,” katanya yang disambut senyum dan tawa Presiden Jokowi dan guru lainnya. Tapi setelah melakukan konfirmasi satu sama lain, akhirnya mereka berangkat ke Jakarta.

Guru presiden yang lain, Bu Marti (77 tahun) juga sempat melontarkan kisahnya. "Memang sempat ragu mau datang. Diundang ke Jakarta, apalagi ini undangannya kan tanggal tua. Lha kami ini kan pensiunan," tuturnya.

Ke-11 guru Presiden Jokowi ini bersama guru-guru lainnya yang seluruhnya berjumlah 30 orang dijamu makan siang di Istana Negara untuk menghormati para guru di Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November.
Di Istana Negara, Presiden Jokowi mengistimewakan mereka. "Kita semua merupakan karya dari para guru kita,” katanya.

Presiden Jokowi terlihat berkaca-kaca ketika Ibu Suparmi Sutoto  (91 tahun) guru SMP-nya, memeluknya yang kini menjadi orang nomor satu di Indonesia. Bu Sutoto, guru aljabar dan geometri saat presiden sekolah di SMP 1 Solo itu, kini sudah berkursi roda. Ibu Sutoto mendoakan anak didiknya itu bisa mengantarkan Indonesia ke arah kemajuan. “Mesti sukses,” katanya. (Seno Hartono/Desliana Maulipaksi).

Presiden Jokowi saat memberikan sambutan 
Jakarta, Harian Guru - Presiden Joko Widodo menyampaikan beberapa pesan dalam sambutannya di acara Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2015. Pihaknya mengatakan, guru berperan penting dalam pendidikan karakter bangsa. Guru juga merupakan pelukis masa depan bangsa Indonesia.

"Saya meyakini bahwa karya guru-guru  yang akan melukis wajah masa depan Republik ini. Kualitas manusia Indonesia di masa depan ditentukan oleh guru-guru kita hari ini," kata Presiden Jokowi di hadapan ribuan guru di Istora Senayan, Jakarta, (24/11/2015).

Ia juga menuturkan, guru adalah teladan bagi generasi masa depan dan teladan pembelajar yang terus belajar. Dengan karya seorang guru, kata presiden, akan ada jutaan anak Indonesia yang karakternya terbentuk dengan etos kerja berbasis karya.

"Karena itu, guru bukan sekedar pendidik melainkan peletak dasar masa depan kita semua," ujarnya.

Presiden juga mengapresiasi tema Hari Guru Nasional 2015, yaitu "Guru Mulia Karena Karya". Ia meminta guru-guru Indonesia untuk terus berkarya dan jangan merasa lelah dalam berkarya. Guru harus aktif mengembangkan berbagai metode pembelajaran yang  kreatif, inovatif, serta mendorong peserta didik untuk aktif dan berpikir kritis.

"Saya gembira mendengar guru-guru yang mengikuti simposium adalah guru-guru yang berprestasi. Guru-guru yang terpilih karena karyanya. Banyaknya karya yang masuk adalah tanda guru kita tak pernah lelah berkarya," ujar Presiden Joko Widodo. Ie berharap, simposium bisa menjadi penyebar inspirasi bagi guru-guru yang lain, yang selanjutnya juga menjadi inspirasi bagi anak-anak dan masa depan Indonesia.

Sementara dalam laporannya, Mendikbud Anies Baswedan mengatakan, Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan 2015 merupakan kegiatan lokakarya belajar bersama para guru-guru Indonesia.

Ada 3.336 karya yang masuk dari seluruh Indonesia untuk menjadi peserta simposium. Karya-karya itu kemudian diseleksi oleh tim dari perguruan tinggi dan menghasilkan 360 karya terbaik yang dipresentasikan dalam simposium. Para peserta simposium pun tersebar dalam 16 ruang tematik. (Desliana Maulipaksi).

Suasana pameran
Semarang, Harian Guru - Dalam Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2015, Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Semarang menghadirkan pameran buku terbaru 2015 yaitu Pesta Semarang Sejuta Buku.

Kegiatan Pameran Buku ini kembali hadir kali ke-15 yang merupakan salah satu agenda tetap Pemerintah Kota Semarang. Pameran Buku yang dilaksanakan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip ini diselenggarakan dua kali dalam setahun, dan sudah di mulai dari tahun 2008 sampai dengan 2014, dengan konsep yang matang dan selalu berbeda.

Untuk tema Pesta Semarang Sejuta Buku 2015 adalah “Keabadian Ilmu Dalam Buku" yang akan dilaksanakan pada tanggal  27 November 2015 sampai dengan 3 Desember 2015.

Dalam rillis panitia, pameran buku di Gedung Wanita Semarang tersebut dibuka mulai 09.00 WIB sampai pukul  21.00 WIB yang bertempat  di Gedung Wanita Semarang Jalan Sriwijaya nomor 29 Semarang.

Tujuan diadakannya pameran buku 2015 tersebut antara lain meliputi menggalang kerjasama pelaku bisnis perbukuan dan pasar potensial untuk memperluas pasar perusahaan pendukung pada wilayah pasar buku yang selama ini telah terbangun.

Kemudian, mendukung kegiatan pengembangan wacana pendidikan dan peningkatan sosialisasi budaya dan minat baca masyarakat berbagai daerah di Indonesia. Selanjutnya, mendekatkan buku kepada semua lapisan masyarakat Semarang dengan kelengkapan buku dan harga murah.

Selain itu juga menyediakan sarana informasi, transaksi, dan komunikasi antar masyarakat perbukuan dengan masyarakat luas. Kemudian, pasar potensial dalam memperluas pasar perusahaan pendukung pada wilayah pasar buku yang selama ini telah di terbangun.

Tujuan lain yaitu merangsang dan menggali potensi naskah, penulis, penerbit, toko buku maupun perpustakaan di daerah untuk program pengembangan yang berkelanjutan. Kemudian bentuk kampanye berkesinambungan Gerakan Gemar Membaca dan Menulis di Kota Semarang.

Adapun isi acara antara lain mulai dari wisata buku, Lomba Menggambar & Mewarnai TK & SD, Lomba Tari Kreasi, Lomba Band Akustik, Lomba Menyanyi, Lomba Fashion Show, Talkshow / Bedah Buku, Kopdar Komunitas, Hiburan Kesenian, Musik Akustik dan juga Seminar. Datang dan ramaikanlah PESTA SEMARANG SEJUTA BUKU 2015 ilmu adalah bekal utama dan ilmu salah satunya bersumber dari buku sebagai pijakan hidup. (Red-HG12).

Presiden Jokowi saat menghadiri puncak Hari Guru Nasional 2015, Selasa (24/11/2015).
Jakarta, Harian Guru – Tema Hari Guru Nasional 2015 “Guru Mulia Karena Karya” yang dipuncaki pada Selasa (24/11/2015) yang dihadiri sekitar 12.500 guru dan tenaga kependidikan memenuhi Gedung Istora Senayan pada acara Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2015.

Di antara ribuan guru tersebut, turut hadir pula guru-guru Presiden Joko Widodo saat ia bersekolah di SMP dan SMA di Solo, Jawa Tengah. Presiden tampak terkejut saat memasuki auditorium Istora Senayan dan langsung menyalami guru-gurunya itu.

Saat memberikan sambutan, presiden juga menyapa ke-11 gurunya yang hadir di acara Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2015. Ia bahkan masih mengingat nama-nama mereka, salah satunya Bu Ning, guru mata pelajaran Kimia saat ia bersekolah di SMAN 6 Solo.

"Nilai kimia saya dulu paling tinggi. Kalau tidak percaya, tanya Bu Ning. Banyak yang nggak percaya sih kalau saya pandai," ujarnya berkelakar yang disambut tawa para hadirin di Istora Senayan, Jakarta, (24/11/2015).

Terkait tema Hari Guru Nasional Tahun 2015, yaitu "Guru Mulia Karena Karya", presiden mengatakan kemuliaan seorang guru dilihat dari karyanya. "Saya sendiri adalah karya dari guru-guru saya, dan kita sendiri adalah karya guru-guru kita," tuturnya.

Presiden Joko Widodo bersekolah di SMPN 1 Solo dan SMAN 6 Solo. Ada 11 gurunya yang diundang hadir ke Istora Senayan sebagai kejutan kepada presiden. Guru-guru tersebut antara lain Siti Norjati, Guru Biologi di SMPN 1 Solo; Soeparmi Soetoto, Guru Ilmu Ukur dan Aljabar di SMPN 1 Solo; dan Sri Hariyadiningsih, Guru Kimia di SMAN 6 Solo.

Sri Hardiyaningsih mengatakan, ia sangat bangga memiliki anak didik yang hebat, yang saat ini menjadi presiden ke-7 Republik Indonesia. "Saya guru yang paling lama ngajar dia, kelas 1, 2, dan 3. Kalau ulangan dia pelit, tidak mau dicontek teman. Kejujurannya luar biasa. Nilai kimianya memang bagus," tutur guru yang akrab dipanggil Bu Ning itu.

Ketua Panitia Pelaksana Peringatan Hari Guru Nasional 2015, Anas M Adam mengatakan, guru-guru Presiden Joko Widodo itu sengaja didatangkan untuk memberikan kejutan kepada presiden.
"Kami bergerilya. Mereka (guru-guru) ditelepon berdasarkan data yang sudah kami miliki, lalu setelah ada konfirmasi kami kirimkan tiket," ujarnya. (Desliana Maulipaksi).

Jokowi dan Anies Baswedan saat hadir di puncak Hari Guru Nasional di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (24/11/2015).
Jakarta, Harian Guru - Hari Guru Nasional 2015 di Istora Senayan, Jakarta, (24/11/2015) dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan. Sekitar 12.500 guru dari berbagai wilayan Indonesia menghadiri acara tersebut. Dalam sambutannya, Presiden Joko Widodo mengatakan, guru berperan penting dalam pendidikan karakter bangsa.

“Saya mengajak semua pihak untuk menggunakan momentum Hari Guru Nasional untuk menyadari peran penting guru dalam pendidikan karakter bangsa. Guru adalah agen perubahan karakter bangsa,” kata Presiden Joko Widodo saat acara puncak peringatan Hari Guru Nasional 2015 di Istora Senayan, Jakarta, (24/11/2015).

Pendidikan karakter, ujar presiden, dilakukan di sekolah sebagai arena pembelajaran anak-anak dalam pembentukan karakter. Guru memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk karakter anak didiknya. Presiden mengatakan, nilai-nilai seperti etos kerja, kerja keras, integritas, kejujuran, optimisme, disiplin, gotong-royong, bisa ditumbuhkan dan menjadi kebiasaan di ruang kelas.

Terkait tema Hari Guru Nasional Tahun 2015, yaitu “Guru Mulia karena Karya,” presiden meminta para guru Indonesia untuk terus berkarya dan menghasilkan metode pembelajaran yang kreatif sehingga dapat mendorong peserta didik untuk menjadi anak yang kreatif pula.

“Dirgahayu Guru Indonesia. Karya muliamu membuka jalan bagi masa depan Indonesia yang lebih baik,” kata presiden.

Sementara itu dalam laporannya, Mendikbud Anies Baswedan mengatakan kegiatan Hari Guru Nasional dibagi menjadi dua, yaitu Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan 2015 pada 23 November 2015 dan Puncak Peringatan Hari Guru Nasional pada hari ini, (24/11/2015).

Dalam simposium, terdapat sekitar 4.000 guru menjadi peserta. Sedangkan pada acara puncak peringatan, ada 11.500 guru yang terdaftar, namun ada permintaan tambahan sehingga jumlah peserta membludak menjadi 12.500 orang.

Para guru tersebut antara lain terdiri dari guru-guru sekolah satu atap dan guru garis depan (GGD). Kemendikbud juga mengundang semua asosiasi guru dan tenaga kependidikan. Ia mengatakan, semua memiliki posisi yang sama di hadapan negara.

“Ada 12.500 guru di sini yang mewakili guru-guru seluruh Indonesia. Dan jutaan guru di luar sana adalah guru-guru keren Indonesia. Sejatinya mulia karena karya adalah bagian dari revolusi mental,” tutur Mendikbud. (Desliana Maulipaksi).

Dyan Widya Agustina, Guru Berprestasi yang Ciptakan Monte Karlo Parti
Jakarta, Harian Guru  - Dyan Widya Agustina adalah guru berprestasi yang menciptakan Monte Karlo Parti.  Selama ini, model pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sangat dinantikan oleh para peserta didik. Seorang guru dituntut untuk terus mengembangkan model pembelajaran yang efektif dan menyenangkan itu agar semangat belajar anak-anak terus terpacu.

Dyan Widya Agustina, guru kelas 4 SD Islam Bunga Bangsa Samarinda, Kalimantan Timur memahami betul tuntutan itu. Maka, ia ciptakan sebuah alat bantu pembelajaran yang diberi nama Monte Karlo Parti.

Monte Karlo Parti adalah kependekan untuk monopoli, kartu kuartet, Kurikulum 2013, dan papan penuh arti. Dyan menggabungkan tiga jenis permainan sekaligus dalam alat yang dikembangkannya itu, yaitu monopoli, permainan kartu kuartet, dan papan checker. Monte Karlo Parti bukan sembarang permainan.

Alat pendukung pembelajaran ini diciptakan untuk mendukung pembelajaran tematik terpadu yang diterapkan pada sekolahnya yang sudah menggunakan Kurikulum 2013.

Inovasi Dyan dalam menciptakan permainan ini diganjar penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai Juara 1 Lomba Kreativitas Guru SD Tingkat Nasional tahun 2015. Ia mendapat kehormatan diundang ke Jakarta bersilaturahim dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan beberapa waktu lalu.

Dalam peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2015, ia bersama peraih penghargaan guru dan tenaga kependidikan berprestasi-berdedikasi lainnya juga bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada Selasa (24/11/2015) di Istora Senayan, Jakarta.

Dyan menilai, tuntutan Kurikulum 2013 mengharuskan guru mengajar secara tematik terpadu. “Dengan alat bantu pembelajaran ini, guru terbantu sekali karena dengan permainan, anak tidak merasa seperti sedang belajar,” ungkap Dyan dalam presentasinya di hadapan para guru yang mengikuti “Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan 2015” di kawasan Istora Senayan, Jakarta, Senin (23/11). Acara ini digelar sebagai rangkaian peringatan HGN 2015.

Dyan mengutip penyataan seorang filsuf dunia, Confusius yang mengungkapkan pernyataan. “Tell me and I forget. Jika anak hanya diomongkan, maka ia akan lupa. Show me and I remember. Tunjukkan, maka ia akan ingat. Let me do it and I understand. Biarkan anak melakukannya, maka anak akan memahami,” tutur guru berjilbab itu.

Atas dasar itulah ia memahami bahwa dalam proses pembelajaran, seorang anak harus ikut bersama-sama ‘melakukan’ agar mengerti materi yang disampaikan. Dyan mengembangkan alat bantu pembelajaran ini untuk Tema 3, yaitu Peduli Terhadap Makhluk Hidup. Untuk membuat satu set permainan dalam satu tema yang terdiri atas tiga subtema membutuhkan biaya sekitar Rp 235.000. Bahan-bahan yang digunakan juga mudah diperoleh, seperti karton, plastik laminating, wadah bekas, gunting.

“Anak-anak sengaja dilibatkan membantu membuat permainan ini. Saya menggambar sendiri tokoh-tokoh dalam permainan ini untuk mempertahankan orisitalitas ide dan anak-anak yang mewarnainya. Ukuran papan permainan monopoli dibuat lebih besar dari ukuran sebenarnya agar dapat memasukkan materi pembelajaran di dalamnya,” jelas Dyan.

Menurut guru kelahiran Samarinda, 10 Agustus 1976 ini, penggunaan Monte Carlo Parti sangat membantu guru dalam proses pembelajaran karena dapat digunakan di kelas yang memiliki jumlah siswa yang besar ataupun kecil. Dapat pula digunakan oleh kelompok siswa yang pendiam dan kelompok siswa yang banyak bicara.

Dari hasil pembelajaran menggunakan permainan Monte Carlo Parti di sekolahnya, Dyan mengungkapkan setidaknya ada lima manfaat yang dapat diambil.

Pertama, mudah dan menyenangkan untuk dimainkan siswa karena tidak terasa seperti belajar. Kedua, terkandung pesan moral dan sikap terpuji, misalnya siswa diajak menaati peraturan, disipliln, mau berbesar hati menerima kekalahan.

“Karena pada dasarnya permainan akan membuat siswa bersaing sehat,” tambahnya.

Manfaat ketiga, memudahkan siswa memahami materi. Siswa tidak perlu ‘disuapi’ oleh guru, karena mereka sendiri yang memainkan permainan itu dan dapat memahami materi pembelajaran. Keempat, menghidupkan suasana kelas, dan kelima, permainan ini dapat diduplikasi.

“Jika ada guru yang ingin menduplikasi permainan ini di kelas, saya senang sekali jika ini bermanfaat untuk guru lainnya,” ungkap Dyan.

Ia percaya, jika seseorang mengajak kebaikan yang bermanfaat bagi orang banyak, maka hasil kebaikan itu akan kembali lagi padanya, tanpa mengurangi kebaikan yang diterimanya. Dyan yakin dengan membagikan inovasi ini, ia berharap dapat membantu guru dalam proses pembelajaran di sekolah lainnya. (Ratih Anbarini).

Kepala SLB Negeri Sragen, Djoko Sambodo
Jakarta, Harian Guru - Sekolah Luar Biasa (SLB) selama ini memang seringkali dipandang sebelah mata oleh masyarakat sebagai sekolah yang minim dengan fasilitas pembelajaran baik bagi siswa, guru, dan kepala sekolah. Namun, hal itu tidak tertampak di SLB Negeri Sragen, Jawa Tengah, yang saat ini sudah memanfaatkan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi bagi siswa, guru, dan kepala sekolah.

Tak hanya itu, hal tersebut juga mampu mengubah pandangan masyarakat tentang SLB yang gagap teknologi menjadi sekolah modern yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Kepala SLB Negeri Sragen, Djoko Sambodo menyampaikan, program gebrakan ini bisa mengangkat mutu pendidikan SLB secara nasional yang dimulai dari SLB Negeri Sragen terlebih dahulu.

“Program kami ini dapat dilihat atau diunduh oleh siapapun di laman kami (www.slbn-sragen.sch.id,). Mari kita bersama-sama untuk menyebarkan virus kebaikan ini agar seluruh SLB bermutu dan memberikan pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus juga bermutu yang nanti menghasilkan output (hasil langsung dari proses pendidikan,-) dan outcome (efek jangka panjang dari proses pendidikan,-) yang bermutu juga,” katanya saat diwawancarai pada acara Siposium Guru 2015 di Istora Senayan, Jakarta, Senin (23/11/2015).

Pemanfaatan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi di SLB Negeri Sragen meliputi Closed Circuit Television (CCTV) sebagai alat untuk memonitor proses pembelajaran di kelas oleh kepala sekolah kapanpun dan dimanapun, komputer dilengkapi internet dan proyektor untuk proses pembelajaran di kelas, printer braile untuk mencetak bahan ajar dan memudahkan membaca bagi tuna netra, jejaring nirkabel agar warga sekolah bisa terhubung dengan internet, mesin absensi digital bagi warga sekolah, perpusatakaan digital, dan ruang telekonferensi serta laman sebagai media dalam jejaring untuk menyampaikan informasi kepada siswa, orang tua, dan masyarakat serta pemangku kepentingan lainnya.

Djoko mengungkapkan, selain memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, SLB Negeri Sragen juga telah memiliki standar internasional di bidang sistem manajemen mutu dengan label ISO 9001:2008. Selain kedua hal tersebut, kata dia, tiga program lain yang termasuk dalam program Panca Krida Utama itu meliputi pengubahan wajah dan sarana prasarana sekolah, unjuk kerja dan prestasi oleh seluruh masyarakat sekolah, dan mendirikan koperasi siswa mandiri.

“Melalui Panca Krida Utama ini, harapan kami bisa mengangkat martabat dan memotivasi SLB lain agar lebih maju seperti sekolah umum,” ujarnya.

Djoko menjelaskan, melalui program Panca Krida Utama ini terjadi peningkatan jumlah siswa yang signifikan dari 56 siswa menjadi 278 sejak 2008 lalu.

“Program Panca Krida Utama yang kami lakukan ini mampu meningkatkan kepercayaan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dan masyarakat terhadap SLB yang selama ini dipandang sebelah mata,” tutur Juara 1 Kepala SLB Dikmen Tingkat Nasional itu.


Djoko menyebutkan, sarana dan prasarana (sarpras) yang dikembangkan di SLB Negeri Sragen adalah gedung sekolah yang modern dan representative, taman SLB yang ramah anak dan lingkungan, gedung pusat layana autis dan terapi anak berkebutuhan khusus, gedung asrama siswa, ruang untuk pengembangan keterampilan bagi warga sekolah seperti studio musik, salon kecantikan, bengkel otomotif, ruang gomputer, ruang tata boga, lahan pertanian, dan lahan peternakan.

Selain sarpras, kata dia, SLB Negeri Sragen juga memiliki guru berprestasi di tingkat nasional, 90 persen guru berpendidikan sarjana (S1) dan sisanya berpendidikan pasca sarjana (S2), serta pernah tiga kali memecahkan rekor Museum Rekor Republik Indonesia pada kategori dalang cilik, angklung, dan kuda lumping bagi anak berkebutuhan khusus. (Agi Bahari)

Ilustrasi: Permainan engklek
Jakarta, Harian Guru – Hampir selama 19 tahun mengajar siswa tuna rungu, Niken Wahyuni, guru kelas 1 Sekolah Luar Biasa (SLB) B-C YPCM Boyolali, Jawa Tengah paham betul bahwa kosa kata yang terbatas menjadi hambatan bagi mereka untuk berkembang.

Maka dari itu, pihaknya menciptakan terus inovasi dalam pembelajaran kosa kata, sehingga menambah pembendaharaan kata yang dimiliki siswanya.

“Anak tuna rungu miskin sekali kota kata,” tutur Niken saat melayani wawancara di kawasan Istora Senayan, Jakarta di sela-sela kegiatan Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan 2015, Senin (23/11/2015).

Inovasi pembelajaran yang ia ciptakan terinspirasi dari permainan tradisional engklek. Niken modifikasi sedikit permainan itu. Permainan engklek yang biasanya dilakukan dengan menggambar kotak-kotak di tanah atau lantai, dimodifikasi dengan menggunakan lembar karpet karet tipis berukuran 40 x 40 cm yang digambar kotak-kotak. Tujuannya agar permainan ini dapat dilakukan di mana saja, cukup dengan membentangkan karpet itu.

Pada setiap kotak engklek itu, kata dia, saya letakkan 10 kartu bergambar sama. Permainan dimulai dengan hompimpa untuk menentukan siapa yang jalan terlebih dahulu. Lalu setelah melempar gacuk (pecahan genting) ke salah satu kotak, anak melompati semua kotak yang ada kecuali kotak dengan gacuk tadi. Saat kembali, anak mengambil gacuk dan kartu gambar.

“Sampai di tepi, mereka diminta menyebutkan gambar yang dilihatnya dan kata yang berhubungan dengan gambar itu. Jika dapat menjawabnya, anak lanjut bermain. Jika tidak, gantian temannya yang bermain,” papar Niken.

Dengan permainan itu, Niken mengaku, anak-anak yang dididiknya dapat menghafal kosa kata lebih mudah dan menyenangkan dibanding dengan cara biasa. Kosa kata anak juga bertambah, karena dari satu satu gambar, misalnya aktivitas makan, dapat diikuti dengan kosa kata lain yang berhubungan, seperti sendok, piring, garpu, nasi, dan lain-lain.

Inovasinya itu ia ikutkan dalam Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi tingkat Nasional 2015. Dalam kompetisi itu ia mempresentasikan permainan pembelajaran yang ia kembangkan berjudul “Gaplek untuk Meningkatkan Penguasaan Kosa Kata Siswa Kelas 1 Tuna Rungu di SLB B-C YPCM Boyolali, Jawa Tengah”.

Gaplek, kata Niken, merupakan akronim dari kartu gambar dalam permainan engklek. Dengan karya inovatif itu ia terpilih sebagai Peringkat 1 Guru Pendidikan Khusus Berdedikasi tingkat Nasional 2015 yang diumumkan pada Sabtu (21/11/2015) di Plasa Insan Berprestasi, Gedung Ki Hajar Dewantara, Kemendikbud, Jakarta.

Lebih lanjut Niken menuturkan, agar lebih menarik, kotak-kotak engklek ini diberi warna-warna mencolok agar menarik perhatian siswa. Kartu bergambar yang diunduh dari internet juga dibuat berwarna. Ia menyebut, biaya yang dikeluarkan untuk membuat satu set permainan ini hanya menghabiskan Rp 80.000.

Ia juga mengungkapkan, permainan ini sangat mendukung pembelajaran Kurikulum 2013. Keaktifan siswa yang mengamati, menanya, dan mengomunikasikan dapat terlihat melalui permainan ini. Daya kreativitas anak juga tinggi.

“Siswa jadi lebih aktif dibandingkan hanya mendengarkan guru di depan kelas,” katanya.

Niken mengaku, hal paling membanggakan menjadi guru yang mendidik anak-anak berkebutuhan khusus adalah ketika anak mampu berkomunikasi dengan orang normal.

“Alhamdulillah, anak didik saya yang sekarang di kelas 7 sudah dapat berkomunikasi lancar dengan orang normal. Rasanya bangga dan senang sekali,” tandas guru berkaca mata ini. (Ratih Anbarini).

Deputi Pelayanan Publik Mirawati Sudjono di Yogyakarta, Selasa (24/11/2015).
Yogyakarta, Harian Guru - Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) kembali menggelar bimbingan teknis lanjutan keikutsertaan dalam United Nations of Public Service Awards 2016.

Acara yang digelar di aula Radyo Suyoso komplek Kepatihan Yogyakarta menghadirkan 150 peserta dari Top 9 Inovasi Pelayanan Publik 2014 dan Top 40 Inovasi Pelayanan Publik 2015.

Deputi Pelayanan Publik Mirawati Sudjono mengatakan, pihaknya akan mendorong agar mengikutkan peserta sebanyak-banyaknya ke UNPSA.

"Dengan bimbingan teknis ini, kami optimis Sleman akan banyak yang menang," ujarnya di Yogyakarta, Selasa (24/11/2015).

Ditambahkan, Top 25 baru saja mengikuti kunjungan ke Thailand. Jadi mereka tampak begitu percaya diri, karena sempat menyaksikan beberapa inovasi di negeri tersebut.

"Sebenarnya kita kalah dengan mereka. Kita upayakan melalui bimbingan teknis lanjutan ini, supaya proposalnya sempurna," imbuh Mira dengan didampingi Karo Organisasi Pemerintah Provinsi DIY, Djarot Budiarjo.

Dijadwalkan, Menteri PANRB Yuddy Chrisnandi akan memberikan pengarahan kepada para peserta agar lebih siap menghadapi UNPSA 2016. (ags/ HUMAS MENPANRB).

Menteri PANRB Yuddy Chrisnandi saat memberikan keterangan kepada awak media, Selasa (24/11/2015).
Yogyakarta, Harian Guru – Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Aparatur Sipil Negara (ASN) harus meningkatkan pelayanan publik. Pasalnya, hal itu menjadi keniscayaan bagi abdi negara.

Menteri PANRB Yuddy Chrisnandi menegaskan pentingnya inovasi pelayanan publik. Tak hanya itu, inovasi itu juga jarus ditularkan kepada instansi lain. Hal itu dikatakan Yuddy dalam arahannya pada Bimbingan Teknis Keikutsertaan dal United Nation Public Sevices (UNPSA) 2016, di Yogyakarta, Selasa (24/11/2015).

Bukan tanpa alasan acara ini digelar di Yogyatarta. Sebab DIY merupakan salah satu ptovinsi yang telah menerapkan tata kelola pemerintahan yany bersih dan akuntabel.

"Silakan daerah lain belajar kepada DIY," tandas Yuddy.

Menurut Menteri, langkah yang dilakukan DIY merupakan kebijakan novasi yang harus ditularkan kepada daerah lain.

"Saya tekankan, bombingan teknis ini jangan semata-mata untuk mengejar menjadi juara. Yang paling penting, inovasi ini harus memberikan manfaat kepada masyarakat, yakni meningkatkan kesejahteraan rakyat," papar Yuddy.

Bagi para inovator, Menteri juga menyampaikan apresiasi, dan berharap agar terus dikembangkan dan disebarluaskan.

Bimbingan teknis lanjutan keikutsertaan dalam United Nations of Public Service Awards 2016. Acara yang digelar di aula Radyo Suyoso komplek Kepatihan Yogyakarta menghadirkan 150 peserta dari Top 9 Inovasi Pelayanan Publik 2014 dan Top 30 Inovasi Pelayanan Publik 2015.

Deputi Pelayanan Publik Mirawati Sudjono mengatakan, pihaknya akan mendorong agar mengikutkan peserta sebanyak-banyaknya ke UNPSA.

"Dengan bimbingan teknis ini kami optimis akan semakin banyak yang menang," ujarnya.
Pihaknya menambahkan, Top 25 baru saja mengikuti kunjungan ke Thailand. Jadi mereka tampak begitu percaya diri, karena sempat menyaksikan beberapa inovasi di negeri tersebut.

"Sebenarnya kita kalah dengan merekaKita upayakan melalui bimbingan teknis lanjutan ini, supaya proposalnya  sempurna," kata Mira. (ags/ HUMAS MENPANRB)

Ilustrasi: Anggota PGRI dalam suatu acara
Jakarta, Harian Guru – Dengan adanya wacana kebijakan pengadaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN) dari sarjana cumlaude sebagaimana dibesut oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) tak lama ini.

Dari adanya wacana tersebut, ada yang pro mendukung kebijakan tersebut, ada juga yang mengritisinya. Menanggapi hal itu, Juru Bicara Menteri PANRB, Herman Suryatman, memberikan penjelasan bahwa rencana dimaksud akan digulirkan dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Pak Menpan menegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas dan performa SDM aparatur, beliau memberikan apresiasi kepada para sarjana cumlaude atau dalam bahasa normatifnya putra/putri lulusan terbaik, untuk bergabung menjadi PNS melalui proses pengadaan sesuai aturan," kata Herman.

Pihaknya memastikan bahwa implementasi kebijakan tersebut, selain didasarkan kepada peraturan perundang-undangan, juga mempertimbangan kebutuhan objektif hasil analisis jabatan dan analisis beban kerja dalam kerangka peningkatan kualitas birokrasi pemerintahan.

Apa yang digariskan pak Menpan, kata Herman, sejalan dengan semangat meritokrasi sebagaimana diatur dalam UU ASN.

“Pola rekrutmennya berbasis kualifikasi dan kompetensi. Jadi tidak sembarangan, ada proses dan mekanisme yang harus ditempuh. Bukan tanpa tes sama sekali," paparnya.

Dikatakannya Herman, kebijakan Menteri PANRB untuk memberikan apresiasi dan ruang kepada putra/putri lulusan terbaik tersebut, pastinya akuntabel serta memperhatikan aspek legalitas.

Dalam Peraturan Menteri PANRB Nomor 26 Tahun 2014 tentang Formasi Khusus ASN Kementerian/Lembaga TA 2014, bahwa yang dimaksud formasi untuk putra/putri lulusan terbaik, uraiannya adalah : 1) Lulusan dari Perguruan Tinggi yang Terakreditasi A dan Program Studi Terakreditasi A; 2) Perguruan Tinggi Luar Negeri yang diakui oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; 3) Predikat Lulusan Cumlaude/dengan Pujian.

Tidak perlu khawatir, lanjut Herman, dengan kebijakan tersebut, pak Menpan menekankan bahwa prosesnya akan berlangsung transparan, objektif dan akuntabel.

“Kami jamin akan mendapatkan lulusan yang berkualitas dan kompeten," kata Herman.

Selain kriteria objektif di atas, menurutnya, teknis pelaksanaan pengadaan formasi putra/putri lulusan terbaik, nantinya akan dikoordinasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Panitia Seleksi Nasional, baik terkait tata cara seleksi maupun persyaratan administratif lainnya.

Secara umum, pelaksanaan pengadaan ASN dari jalur formasi untuk putra/putri lulusan terbaik, sama dengan dari jalur umum. Ada passing grade-nya juga. Yang membedakan hanya persyaratan administratif serta kepesertaan seleksi, yakni dikompetisikan sesama lulusan terbaik.

Dalam Peraturan Menteri PANRB No. 26/2014, juga diatur bahwa yang dimaksud dengan formasi khusus pegawai ASN itu selain formasi putra/putri lulusan terbaik, ada juga formasi untuk sarjana mengajar di tempat terdepan, terluar dan tertinggal (SM3T); formasi untuk atlit berprestasi dan pelatih berprestasi; formasi untuk putra/putri papua; serta formasi disabilitas.

"Karena itu, saya mohon para sahabat muda dan rekan Nitizen, untuk tetap tenang dan menyimak hal ini secara seksama. Percayalah, kebijakan yang kementerian kami tetapkan adalah yang terbaik untuk bangsa dan negara. Nanti pada waktunya akan kami umumkan secara resmi," pungkas Herman. (HUMAS MENPAN).

Mendikbud saat membuka Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun 2015 berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, hari ini, Senin (23/11/2015).
JAKARTA, HARIAN GURU – Dalam rangkaian peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2015, Kemendibuk menggelar Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun 2015 berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, hari ini, Senin (23/11/2015).

Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan berharap, simposium ini bisa dimanfaatkan oleh para guru sebagai ajang menjadi guru pembelajar dalam memberikan bekal kepada peserta didik.

Pihaknya membuka Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan sebagai salah satu kegiatan dalam peringatan HGN 2015.

Tugas kita yang pertama dan utama adalah belajar, kata Anies, di dalam proses belajar. guru juga belajar, menghasilkan karya dan menghasilkan inovasi yang mencerahkan.

“Tradisi yang dibangun di Hari Guru ini mengingatkan kepada kita, amanat yang dititipkan kepada kita adalah amanat mulia. Dan simposium ini menunjukkan kepada kita banyak guru yang berkarya, yang hadir karena karyanya, dan memberikan terobosan bagi Indonesia,” kata Mendikbud Senin (23/11/2015).

Hal itu diungkapkan Anies Baswedan saat pembukaan Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan, di Istora Senayan, Jakarta, Senin (23/11/2015). Pihaknya menegaskan, Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan tahun ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan Kemendikbud dalam rangka peringatan Hari Guru Nasional 2015.

Simposium ini direncanakan akan diselenggarakan rutin setiap tahun. Diharapkan, melalui simposium akan semakin banyak guru yang menginspirasi di berbagai wilayah tanah air.

“Ada puluhan dan ratusan guru yang terobosannya akan disampaikan. Simposium ini memberikan kesempatan kepada kita untuk menambah ilmu dengan berbagi dengan sesama guru,” papar Mendikbud.

Dikatakan Mendikbu, saat ini para guru berhadapan dengan situasi yang unik, di mana anak-anak yang dididik adalah anak-anak abad 21.

Sebagai pendidik, menurut Anies, guru harus bisa memastikan anak-anak memiliki bekal yang baik untuk masa depan.

“Simposium ini, bisa dapat digunakan sebagai hulu untuk berinteraksi dan berbagi pengalaman, sedangkan hilirnya ada di ribuan ruang kelas di seluruh penjuru Tanah Air,” papar Menteri Anies.

Kami berharap, kata Anies, praktik terbaik hasil tukar pikiran di sini dapat dibawa ke tempat kita mengabdi, dari berbagai macam bentuk aktivitas. Mari kita sebarkan praktik terbaik. termasuk asosiasi mata pelajaran, sebarkan praktik terbaik.

“Bayangkan jika acara ini rutin diselenggarakan, maka siklusnya akan menyebar, dan yang diuntungkan adalah anak-anak kita,” tandas Mendikbud.

Dalam Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan diikuti lebih dari 2.000 orang dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka adalah para finalis Lomba Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi, Guru Garis Depan, guru-guru yang lolos seleksi setelah mengirimkan karya tulis ilmiah, masyarakat umum, asosiasi profesi guru dan tenaga kependidikan, pemerhati pendidikan, LSM praktisi pendidikan dan para pemangku kebijakan.

Setelah acara pembukaan, para peserta akan dibagi menjadi 6 kelompok seminar sesuai dengan jenjang pendidikan dengan tema yang berbeda-beda.

Kemudian esok hari, Selasa (24/11/2015), mereka akan mengikuti acara puncak peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2015 yang rencananya akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan beberapa tamu undangan. (Desliana Maulipaksi/Seno Hartono).

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget