Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Kisah Guru SM3T di Daerah Terpencil

Hana Lestari
Oleh : Hana Lestari
Mahasiswi S2 Pendidikan Biologi Universitas Negeri Jakarta

Sudah hampir 5 tahun ini, pemerintah melaksanakan program sarjana mendidik di daerah 3T (daerah terdepan, terluar dan tertinggal). Program yang bertujuan mencerdaskan anak bangsa di pelosok negeri. Program ini menyentuh hati penulis untuk menggambarkan betapa pentingnya membangun matahari di ujung timur Indonesia. Anak bangsa dengan senyuman mereka, dengan impian mereka dan dengan semangat mereka, ibarat matahari yang bersinar terang di muka bumi. Gambaran penulis ini berdasarkan pengalaman penulis mendidik generasi bangsa di tanah timor selama 1 tahun.

Timur Indonesia daerah yang sangat Indah beragam kekayaan alam terdapat disana. Begitupun dengan kekayaan generasi bangsanya. Tak jauh berbeda dengan pulau-pulau di Indonesia lainnya. Semangat dan motivasi belajar para peserta didik begitu besarnya untuk pendidikan. Dengan lantangnya setiap minggu, mereka lantunkan lagu Indonesia Raya yang melukiskan betapa cintanya mereka untuk Negara. Rasa Nasionalisme, rasa keingintahuan yang besar, semangat belajar yang tinggi dapat melahirkan generasi-generasi emas penerus bangsa. Namun kini pertanyaannya siapa kah yang dapat mencetak generasi emas bangsa ini? Jawabannya adalah guru. Guru  bukan hanya sebuah profesi, guru adalah garda terdepan bagi generasi penerus bangsa. Ibarat ujung pena, guru yang melukiskan berbagai pengetahuan dan penanaman karakter bagi peserta didik, karena mu guru ketertinggalan pendidikan diatasi dan generasi masa depan digapai.


Sungguh ironi pendidikan di Indonesia, tidak semua masyarakat dapat mengeyam pendidikan, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya tenaga pendidik yang kurang memadai, fasilitas yang tidak mendukung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, infrastruktur dan akses jalan yang sulit ditempuh oleh peserta didik dan rendahnya perekonomian masyarakat.

Berdasarkan data UNICEF tahun 2013 sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Data statistik tingkat provinsi dan kabupaten menunjukkan bahwa terdapat kelompok anak-anak tertentu yang terkena dampak paling rentan yang sebagian besar berasal dari keluarga miskin sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Hampir 3 persen dari anak-anak usia sekolah dasar di desa tidak bersekolah, dibandingkan dengan hanya lebih dari 1 persen di daerah perkotaan. Dari mereka yang belajar di bangku sekolah dasar, hampir 1 dari 5 anak tidak dapat melanjutkan ke sekolah menengah pertama, dibandingkan 1 dari 10 anak di daerah perkotaan.  Hal ini dipicu oleh faktor kekurangan tenaga pengajar untuk daerah terpencil dan tergolong berpenghasilan rendah.


Dari beberapa faktor yang disampaikan diatas, hal yang akan penulis soroti adalah guru. Selama ada guru yang berkompeten, berkaraker dan berjiwa besar untuk mengajar di daerah tertinggal, 50% masalah pendidikan akan teratasi. Di perlukan guru inspiratif yang mampu mendidik, memberi teladan yang baik dan bisa memahami kondisi kejiwaan peserta didik, serta mampu memotivasi dan memberi semangat peserta didiknya ke arah kemajuan.

Disayangkan faktanya tak banyak guru yang hati nuraninya terpaggil untuk mencerdaskan anak bangsa di timur Indonesia. Kini paradigma guru bergeser kebermaknaannya. Guru yang tanpa tanda jasa untuk mendidik, mengayomi,  memiliki karakterter bijaksana dan arif seperti Umar bakri ataupun Bu Muslimah dalam film laskar pelangi sulit untuk ditemukan pada zaman sekarang ini. Ironisnya, kini banyak guru yang menuntut kesejahteraan namun tak bersedia untuk ditempatkan di seluruh pelosok Indonesia. Selain itu, banyak guru yang sudah ditugaskan di daerah tetapi lebih banyak tinggal di kota atau meninggalkan tempat tugas, adapula yang sudah ditempatkan di daerah namun hanya sebagai daerah transit dan kembali mengajukan mutasi ke daerah perkotaan sehingga tetap terjadi ketidakmerataan pendidikan di Indonesia.


Program Sarjana Mendidik 3T (SM3T), program Indonesia Mengajar dan program 1000 guru Indonesia, merupakan program yang perlu terus diadakan, program yang mengedepankan panggilan jiwa para tenaga pendidik untuk mencerdaskan anak bangsa. Tak banyak para pendidik yang mampu dan bersedia di tempatkan di pelosok Negeri. Hanya guru yang berjiwa besar, yang mencintai profesinya, mencintai bangsanya melebihi dirinya sendiri dan rela mencurahkan tenaga dan pikirannya bagi mereka anak-anak bangsa. Sudah sepatutnya bagi mereka para guru yang bersedia di mengajar di pedalaman, kesejahteraan mereka lah yang perlu diprioritaskan. Tak ada yang bisa membalas mereka hanya tuhan yang dapat membalas jasa mereka.


Untuk Bapak ibu guru di seluruh negeri resapilah makna lagu Hyme Guru, dimana terdapat lirik “guru bak pelita penderang dalam gulita, jasamu tiada tara”. Daerah apapun di Indonesia, jadilah guru penginspirasi anak bangsa. Tak terkecuali di Papua, karena Papua juga Indonesia, generasi bangsa matahari timur Indonesia memanggil ibu bapak guru untuk mengabdi disana, menjadikan mereka cerdas dan berkepribadian, menjadikan mimpi-mimpi mereka terwujud, sesuai lirik yang diatas, pelita dalam kegelapan untuk pendidikan Indonesia yang jauh lebih baik.
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget