Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Keluarga dan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Nurchaili
Penulis adalah Guru/Alumnus FKIP Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Pendidikan sangat berperan dalam menyiapkan generasi bangsa yang beriman, cerdas, kreatif dan berbudi pekerti luhur. Modal intelektual seseorang hanya dapat dibentuk melalui pendidikan berkualitas yang dilakukan sedini mungkin. Anak-anak usia dini (0-6 tahun) saat ini, nanti ketika seabad kemerdekaan Indonesia pada tahun 2045 akan berada pada usia produktif. Kualitas dan kesiapan merekalah yang akan menentukan keberhasilan pembangunan dimasa mendatang. Disinilah diperlukan peran keluarga untuk melahirkan generasi emas Indonesia yang akan menentukan kejayaan bangsa dan negara.

Sejak dalam kandungan hingga usia enam tahun merupakan periode emas (golden period) atau jendela kesempatan (window of oppurtunity) untuk tumbuh kembang manusia. Di saat ini sel-sel otak sedang tumbuh pesat sehingga perkembangannya memengaruhi kecerdasan di masa dewasa. Perkembangan otak 80 persen terjadi saat dalam kandungan sampai usia dua tahun. Karenanya untuk mendapatkan generasi yang sehat, cerdas dan produktif skala prioritas yang dilakukan adalah pemenuhan gizi sejak dalam kandungan dan pendidikan sedini mungkin. Hasil riset menemukan, kecerdasan anak 50 persen dicapai pada usia 0-4 tahun, 30 persen berikutnya pada usia delapan tahun, dan sisanya pada usia 18 tahun.

Asupan Gizi
Keluarga sangat menentukan cukup tidaknya asupan gizi anak sejak masih dalam kandungan. Seorang ibu hamil harus memastikan dirinya memiliki status gizi baik, tidak menderita kurang energi kronik dan anemia. Kekurangan gizi pada masa kehamilan berakibat pada gangguan awal kesehatan, perkembangan otak, kecerdasan, kemampuan sekolah dan produktivitas anak yang tidak dapat diperbaiki dimasa berikutnya. Sifat dan kecerdasan manusia saat dewasa, salah satunya sangat dipengaruhi oleh perkembangan otak dimasa janin. Setelah melahirkan, semua bayi harus mendapatkan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif.

Balita yang kekurangan gizi mempunyai Intelligence Quotient (IQ) lebih rendah 13-15 poin dari balita yang cukup gizi. Tahun pertama bayi merupakan masa tercepat pertumbuhan otak (berat otak mencapai 300 persen dibanding berat otak pada saat lahir). Periode emas pertumbuhan otak sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan struktur sel baru dan fungsi-fungsinya. Sekitar 25 persen bahan penyusun otak dibentuk selama periode ini.

Kasus gizi buruk masih menghantui Indonesia. Kemiskinan adalah penyebab utama gizi buruk, disamping rendahnya pendidikan dan pengetahuan tentang gizi, pola asuh anak yang kurang baik, dan berbagai faktor lainnya. Gizi buruk menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti diare, Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), pneumonia, dan sebagainya. Efeknya juga berimbas pada perkembangan tubuh anak yang tidak optimal hingga dewasa, rendahnya kemampuan motorik, produktivitas, daya saing, dan kecerdasan.

WHO memperkirakan 54 persen kematian bayi dan balita di dunia dilatarbelakangi oleh keadaan gizi buruk.  Mayoritas kasus gizi buruk berada di negara yang menjadi target bantuan untuk masalah pangan dan nutrisi, yaitu wilayah Afrika, Asia Selatan, Myanmar, Korea Utara, dan Indonesia. Rendahnya asupan gizi masyarakat  juga terlihat dari tingkat pertumbuhan dan kecerdasan. Sebanyak 35,6 persen balita Indonesia bertubuh pendek (stunting) dari ukuran normal dan 14, 2 persen bertubuh kurus. Stunting disebabkan kekurangan gizi berulang dalam waktu lama pada masa janin hingga dua tahun pertama kehidupan seorang anak.

Keluarga adalah basis dalam memperbaiki status gizi suatu bangsa. Karenanya perlu dikembangkan model pendidikan gizi yang melibatkan keluarga dan masyarakat dengan dukungan dari lembaga pemerintah dan swasta, pengusaha, politisi, sampai kalangan akademisi dan peneliti.
Pendidikan Sedini Mungkin

Saat dilahirkan anak tidak memahami apa-apa, namun Allah Swt telah membekalinya dengan berbagai potensi bawaan, baik fisik (indrawi) maupun non fisik (kecerdasan). Bayi yang baru lahir telah memiliki struktur otak yang komplit dan dilengkapi lebih dari 100 miliar neuron serta sekitar satu triliun sel glia. Pengalaman indera yang diterima seorang anak hingga usia enam tahun akan memperkuat dan memperbanyak sambungan antara sel-sel otak. Satu sel otak dapat bersambung dengan 15 ribu sel otak lainnya.

Pada masa perkembangan dan pertumbuhan anak memiliki potensi yang luar biasa dalam mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial emosional, konsep diri, disiplin, kemandirian, seni, moral, dan nilai-nilai agama (Atikah, E. dkk, 2010 dan Sit, M. 2009). Selama kehidupan berlangsung otak diperkirakan mampu menampung 100 triliun bit informasi atau sekitar 12,5 triliun huruf (Priyoko, 2010). Potensi luar biasa ini harus diberdayakan oleh setiap orang tua dengan memberikan pendidikan sedini mungkin.

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah sarana pengalaman belajar bagi anak disamping mengoptimalkan perkembangan otak. PAUD harus mencakup seluruh proses stimulasi yang tidak hanya terbatas pada proses pembelajaran di kelas. Maksudnya, PAUD dapat berlangsung setiap saat dan dimana pun sebagaimana interaksi manusia yang terjadi di dalam keluarga, teman sebaya, dan hubungan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak.

Penting bagi orang tua untuk memahami cara pengasuhan anak yang benar. Sekarang masih banyak orang tua yang tidak memahami akan potensi luar biasa yang dimiliki putra-putrinya. Keterbatasan pengetahuan dan informasi menyebabkan potensi si buah hati tidak berkem_bang maksimal. Salah satu solusi untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan melalui kursus bagi calon pengantin dengan memberikan materi dan pemahaman bahwa anak adalah amanah Allah yang wajib dijaga, dididik dan dipenuhi kebutuhannya.

Mendidik anak adalah pekerjaan mulia yang harus dilaksanakan oleh setiap orang tua. Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang yang mendidik anaknya adalah lebih baik daripada ia bersedekah dengan satu sha” (H.R. Tirmidzi). Imam Al-Ghazali berkata, “Ketahuilah, mendidik anak merupakan perkara penting dan fundamental. Anak adalah amanah bagi kedua orang tua. Hatinya merupakan mutiara yang suci, berharga, dan masih kosong dari segala ukiran dan gambar (pengarauh luar). Jika hatinya dipalingkan pada sesuatu maka dia akan condong padanya. Jika dia diajarkan dan dibiasakan berbuat kebaikan maka dia akan tumbuh di atas pondasi kebaikan”.

Pemenuhan gizi dan PAUD adalah jembatan dalam melahirkan generasi emas Indonesia. Anak-anak saat ini merupakan benih emas yang akan dituai nantinya. Saat seabad kemerdekaan Indonesia kita berharap nusantara tercinta ini telah menjadi negara maju dan diperhitungkan dalam percaturan dunia. Keinginan ini tidaklah berlebihan, jika diiringi dengan usaha dan kerja keras seluruh komponen bangsa. Pada tahun 2030 saja, The McKinsey Global Institute memprediksi Indonesia akan berada pada posisi ke-7 ekonomi terbesar dunia setelah China, Amerika Serikat, India, Jepang, Brazil, dan Rusia.

Mari bersama keluarga kita siapkan generasi emas Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, cerdas dan terampil dengan keahliannya, berbudi pekerti luhur, serta cinta agama dan tanah air sehingga mampu mengelola bangsa dan negara dengan baik di masa mendatang.

Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget