Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Apa Pendapatmu Tentang Kriminalisasi Guru?

Kekerasan dan kriminalisasi terhadap guru terus meningkat akhir-akhir ini. Guru Sekolah Menengah Pertama Raden Rachmat, Balongbendo, Sidiarjo, Muhammad Samhudi, 46 tahun, divonis oleh Majelis hakim Pengadilan Negeri Sidoarjo dengan hukuman pidana kurungan penjara selama 3 bulan dan denda sebesar Rp 250 ribu dengan masa percobaan selama 6 bulan.

Kasus ini bermula saat orang tua murid pada Februari 2016 melaporkan Muhammad Samhudi ke polisi setelah tidak terima anaknya dicubit. Samhudi mencubit muridnya karena sang murid tidak mengikuti salat duha.

Kejadian teranyar adalah Kepala Kepolisian Sektor Tamalate, Makassar, Komisaris Azis Yunus menetapkan Adnan Achmad dan anaknya berinisial MAS sebagai tersangka. Keduanya mengeroyok guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Makassar, Dasrul, 52 tahun, di sekolah. Alasan pengeroyokan itu sangat sederhana. Adnan tidak terima anaknya dimarahi dan dipukul oleh guru di depan kelas.

Aparat penegak hukum harus bijak dan tegas dalam menyikapi kasus kriminalisasi terhadap guru itu. Bila tidak hati-hati, bukan tidak mungkin para guru menjadi ragu bahkan tidak berani memberikan hukuman disiplin terhadap siswa yang melanggar tata tertib karena takut dilaporkan ke polisi.

Kami menghimbau dan mengajak para orang tua untuk sejenak merenung dan mengevaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukannya terhadap guru yang mendidik anaknya. Kekerasan memang dengan alasan apapun tidak dapat dibenarkan, tetapi kita harus melihatnya secara proporsional.

Orang tua seharusnya menyadari bahwa tidak ada guru yang ingin menyakiti murid-muridnya. Sebagai wakil orang tua di sekolah, para guru sangat mencintai anak-anak didiknya. Ketika guru menghukum muridnya yang melanggar tata tertib sekolah, hal tersebut dilakukan semata-mata untuk mendidik dan memberikan pelajaran agar murid yang tidak mengulangi perbuatannya.

Kita sebagai orang tua tentu juga punya pengalaman dimarahi oleh guru saat bersekolah dulu. Memang, zaman dulu sosok guru begitu sangat dihormati dan disegani. Zaman sekarang, wibawa guru jauh menurun. Kadang ada siswa tidak segan-segan mengolok-olok gurunya sendiri karena tidak suka terhadap guru atau pelajaran yang diberikan guru tersebut.

Zaman dahulu, kalau murid berpapasan dengan guru, sang murid membungkuk, mencium tangan, serta tidak mau menatap wajahnya karena segan. Tapi, zaman sekarang banyak murid yang bersikap tidak sopan kepada guru. Kalau bertemu di jalan seperti yang tidak kenal saja. Ketika murid diingatkan oleh guru, bukannya menuruti nasihat guru, tetapi banyak yang melawan.

Kita para orang tua perlu merenung sejenak, apa sebenarnya yang didapatkan oleh orang tua dengan menyeret guru ke meja hijau gara-gara mencubit anaknya. Kami mengajak para orang tua bersikap arif. Marilah kita selesaikan setiap permasalahan dengan kepala dingin. Kedepankan musyawarah dan kekeluargaan dalam mencari solusi.

Daripada saling melaporkan ke aparat kepolisian, lebih baik sama-sama melakukan introspeksi diri, sejauh mana guru dan orang tua berbagi peran dalam mendidik anak. Mari saling melengkapi, bukan saling mengandalkan. Mari saling memperbaiki bukan saling menyalahkan.

Mudah-mudahan, kasus yang menimpa guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Makassar, Dasrul, yang dipukul oleh Adnan Achmad dan anaknya berinisial MAS, menjadi yang terakhir. Jangan ada lagi ada kasus-kasus guru yang dikriminalisasi gara-gara memberikan hukuman kepada muridnya. Karena hal ini menjadi preseden buruk terhadap dunia pendidikan kita.

Guru silakan lakukan tugasnya secara profesional dengan mengacu kepada empat kompetensi guru, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Sementara peran orang tua pun sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak harus semakin diperkuat. Mari berdamai dan berjabat tangan, bersinergi mendidik generasi penerus bangsa untuk melahirkan manusia yang cerdas dan berbudi pekerti luhur. (Red-HG99/Korja).
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget