Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Meninjau Ulang Kekerasan Verbal di Sekolah Dasar

Jefrey Oxianus Sabarua
Kekerasan verbal di sekolah dasar (SD) selama ini masih menjadi perhatian tersendiri bagi peneliti pendidikan. Tidak heran jika hal itu membuat Jefrey Oxianus Sabaru meneliti hal tersebut. Dosen PGSD Uniera tersebut mengangkat judul “Kekerasan Verbal dalam Interaksi Pembelajaran di Sekolah Dasar Kabupaten Sumba Tengah” yang diangkatnya dalam tesis di Program Studi Pendidikan Dasar Konsentrasi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes).

“Tuturan merupakan media untuk melegitimasi diri melalui berbicara dalam menyampaikan maksud dan tujuan tertentu. Implementasi tuturan dalam proses pembelajaran dapat menyebabkan situasi pembelajaran yang kurang menyenangkansiswa merasa tertekan, takut, dan tercekam, karena guru menggunakan otoritas untuk menekan siswa, menakut-nakuti siswa, dan mengancam siswa,” beber Jefrey Oxianus Sabarua kepada Harianguru.com baru-baru ini.


Di bawah bimbingan Dr. Ida Zulaeha, M.Hum dan Dr. Hari Bakti Mardikantoro, M.Hum, pada 30 Juni 2016 lalu, ia berhasil mempertahankan tesisnya tersebut.


Fokus masalah penelitian ini, kata dia, meliputi bentuk kekerasan verbal guru, ekspresi kekerasan verbal guru dan faktor penyebab terjadinya kekerasan verbal guru dalam pembelajaran di sekolah dasar Kabupaten Sumba Tengah.

“Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi bentuk satuan lingual bahasa pada kekerasan verbal guru, menemukan ekspresi kekerasan verbal guru dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan verbal yang dilakukan oleh guru di sekolah dasar  Kabupaten Sumba Tengah,” ungkap mantan Kaprodi PGSD Uniera tersebut.

Tipe penelitian adalah deskriptif kualitatif, lanjut dia, dengan menggunakan psikolinguistik. Data diperoleh menggunakan metode simak dan metode cakap. Analisis data dilakukan dengan metode agih dan metode padan (PUP, teknik HBS, teknik HBB dan teknik HBSP), dengan bantuan teknik bagi unsur langsung.

“Hasil penelitian menunjukan bahwa, kekerasan verbal cenderung dilakukan guru dalam bentuk satual lingual bahasa berupa kalimat eksklamatif. Bentuk kekerasan verbal tersebut, diekspresikan dengan cara menuduh dan mempermalukan anak di depan umum. Adapun faktor penyebabnya meliputi warisan pendidikan masa lampau, kurangnya pemahaman guru terhadap kekerasan verbal, minimnya kosa kata guru, adanya tuntutan administrasi, penegakan disiplin dan budaya setempat,” beber dia.

Agar terhindar dari tindak kekerasan verbal, kata dia, pembelajaran harus dirancang dengan baik, sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif. “Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengembangan terhadap sumber daya manusia (guru) dalam hal model, metode, teknik dan pendekatan, serta strategi belajar mengajar. Mengacu pada hal tersebut, maka diperlukan wawasan yang cukup tentang kekerasan verbal, yang ditunjang dengan kebiasaan bertutur yang santun di lingkungan sekolah,” pungkas dia. (Red-HJ99/Foto: JOS).

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget