Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Mencari Sosok Guru yang Bisa Digugu dan Ditiru

Ilustrasi: Suasana upcara Hari Guru Nasional 2016
Semarang, Harianguru.com – Guru, bagi sebagian orang adalah mereka yang menjadi panutan di segala hal. Akan tetapi, selama ini masih banyak kasus-kasus yang mencerminkan bahwa guru masih belum pantas digugu dan ditiru. Apalagi, di tengah himpitan ekonomi, banyak di antara mereka mengejar materi tanpa mengutamakan tugas, peran dan fungsi guru.

“Profesor, doktor, dokter, tentara, polisi, advokat, hakim, semuanya tidak bisa menjadi itu semua tanpa peran guru. Makanya, guru yang benar-benar guru itu ya yang bisa digugu dan ditiru,” ujar Hamidulloh Ibda MPd pemerhati pendidikan yang juga Direktur Utama Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah, Jumat (25/11/2016).

Secara regulasi, kata dia, guru sudah diwajibkan memenuhi empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogi, kepribadian, sosial dan kompetensi profesional. “Selain itu guru juga diwajibkan menguasai delapan keterampilan mengajar. Nah sebenarnya kalau syarat ini dipenuhi, maka makna hakikat guru bisa dicapai. Jadi guru itu tidak sekadar profesi, namun mampu menjadi simpul pergerakan dan peradaban dunia,” beber penulis buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner tersebut.

Dalam sejarha, lanjut dia, tentu kita ingat, ketika Jepang dibom, yang dicari bukan seberapa banyak harta yang tersisa. “Namun yang dicari justru masih berapa guru yang hidup. Ini membuktikan bahwa betapa pentingnya guru dalam kehidupan. Buktinya, Jepang yang begitu hebat, ternyata mengutamakan guru sebagai poros kehidupan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,” tandas magister pendidikan dari Pascasarjana Unnes tersebut.

Digugu dan Ditiru
Menurut pria kelahiran Pati tersebut, sosok yang menjadi anutan sebenarnya tidak hanya di lembaga formal, mulai dari SD sampai perguruan tinggi. “Kalau dulu, guru itu ya kiai, ia didatangi para santri yang ditimba ilmunya. Tapi kalau sekarang kan berbeda zamannya, justru guru yang mencari murid. Jadi secara historis sosial, peran guru mulai bergeser,” lanjut dia.

Untuk bisa digugu dan ditiru, ia mengatakan bahwa di lembaga formal, guru harus mampu memformulasikan tiga ranah capaian dalam pendidikan. “Dalam pendidikan sudah diwajibkan untuk memenuhi standar kompetensi lulusan, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Maka, dalam hal ini guru sebenarnya tidak hanya mentransfer ilmu, namun juga mentransfer moral,” tuturnya.


Apalagi, kata dia, kecerdasan itu tidak hanya intelektual, namun juga kecerdasan emosional dan spiritual. “Rumusnya sudah jelas, bahwa hakikat belajar itu tidak sekadar meraup ilmu sebanyaknya, namun hakikat belajar yang benar itu ya menata cara berpikir dan mengubah perilaku. Jadi kalau ini bisa ditangkap, saya kira sosok yang bisa digugu dan ditiru itu bisa terwujud. Sebab, saat ini pendidikan karakter juga masih dinilai gagal, makanya di Hari Guru Nasional 2016 ini harus menjadi momentum bagi guru untuk bisa membuktikan bahwa ia adalah memang benar-benar guru yang bisa digugu dan ditiru. Tidak hanya guru di sekolah, namun juga di kehidupan,” pungkas dia. (Red-HG99/Foto: Harian Guru).
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget