Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Menaikkan Gengsi Karya Guru

Oleh Hamidulloh Ibda, M.Pd
Direktur Utama Forum Muda Cendekia (Formaci) Jateng

Karya intelektual guru selama ini “gengsinya” rendah. Bahkan, karena bukan dosen yang memiliki tugas Tri Darma Peguruan Tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat), guru malu dan minder ketika diajak penelitian. Ketika menulis dan meneliti, mental guru menciut, ketika berhadapan dengan dosen yang bergelar magister, doktor dan profesor. Padahal, sebagai entitas dan pelaku pendidikan, guru memiliki peran strategis dalam penelitian dan penulisan karya ilmiah. Apalagi saat ini peluang meneliti, menulis dan melakukan inovasi pendidikan terbuka lebar.

Tema Hari Guru Nasional (HGN) yang diperingati tanggal 25 November 2016 tahun kemarin, adalah “Guru dan Tenaga Kependidikan Mulia Karena Karya”. Tema tersebut, menjadi harapan bagi semua elemen, terutama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Berbicara karya guru, sudah pasti karya intelektual, bukan karya yang lain. Lalu, sudahkah guru “mulia karena karya” mereka?

Karya guru tidak bisa sekadar “klaim ilmiah” saja bahwa guru sudah “berkarya”. Pertanyaannya, karya guru itu yang seperti apa, berupa apa dan berguna atau tidak? Sebab, karya guru harus realistis, sesuai filsafat ilmu, berdasarkan dampak bagi pendidikan bahkan masyarakat umum. Sebab, saat ini guru lebih disibukkan dengan administrasi sekolah, waktu untuk berkarya terkuras bahkan tiada. Kesalahan tidak hanya masalah sistem dan tuntutan, namun juga skill, kemauan dan “spirit berkarya” yang minim.

Kompetensi Profesional
Kewajiban berkarya, sudah diatur dalam Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) sesuai Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Regulasi tersebut, dimaksudkan dalam rangka meningkatkan kompetensi profesional, maka guru dituntut memenuhi PKB tersebut.
Regulasi tersebut menjelaskan, PKB merupakan unsur utama yang kegiatannya diberikan angka kredit untuk pengembangan karir guru. Tiga unsur utama itu meliputi pendidikan, pembelajaran/pembimbingan dan tugas tambahan atau tugas lain yang relevan. Permenpan RB Nomor 16 Tahun 2009 membagi PKB terdiri atas tiga komponen, meliputi pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif.

Amanat Permenpan RB substansinya sama dengan kewajiban dosen, yaitu melakukan penelitian dan penulisan, baik itu berupa artikel ilmiah di jurnal, penelitian dan artikel populer di media massa maupun majalah. Lalu mengapa spirit berkarya guru masih rendah?

Husamah (2010: 184) menyebut salah satu penyebab lemahnya kualitas dan intensitas guru dalam menulis karya ilmiah adalah sikap humble atau rendah diri. Nyali yang ciut itu, sebenarnya terbangun dari “ketidakmauan” belajar dan cinta membaca, menulis dan meneliti. Spirit menulis yang rendah, tak hanya masalah kemampuan dan kemauan, namun lebih pada “gengsi rendah” pada guru. Padahal, jika guru rajin menulis, selain berdampak pada pengembangan intelektual dan pemenuhan tuntutan, guru bisa “investasi ide” dan konsep untuk pendidikan.

Gengsi Karya Guru
Tema HGN tahun ini seharusnya mengakar dan dimaknai sebagai “kebangkitan” guru untuk berkarya. Sangat paradoks jika guru dikatakan “mulia karena karya” jika sekadar “klaim ilmiah” dan ritus belaka. Oleh karena itu, guru harus menjawab tantangan zaman globalisasi dengan karya intelektual. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, membangun rasa percaya diri atau “pede” pada guru. Problem utama menulis sebenarnya pada rasa takut dan malu, bukan masalah kemampuan. Sebab, guru saat ini semuanya bergelar sarjana, bahkan banyak yang sudah magister dan doktor.

Kedua, menyebarkan virus menulis pada guru. Sebab, saat ini guru sudah “dijajah teknologi” dan nyaman berada di “zona aman” jika sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Mereka lebih menikmati dan betah ketika bermain Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, Line, maupun Bigo Live yang justru banyak unsur destrutktifnya daripada konstruktifnya.

Ketiga, guru perlu memahami kembali tugas, peran dan fungsinya sesuai Undang-undang Guru dan Dosen (UUGD). Sebab, selain UUGD,  tugas dan kewajiban guru, sudah diatur juga Permenpan RB bahwa mereka harus menulis, baik itu artikel ilmiah hasil penelitian dan artikel populer. Apalagi, saat ini banyak media siap menampungnya. Contohkan saja jurnal, dalam jurnal pendidikan, guru diberi porsi menyembangkan tulisan selain dari unsur dosen, kepala sekolah dan praktisi.

Keempat, selain menulis di jurnal, majalah dan media massa, intensitas menulis guru harus dibiasakan dengan mengikuti lomba intelektual. Mulai dari lomba Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), lomba penelitian ilmiah, seminar edukasi dan lainnya. Semakin rajin guru mengikuti lomba, maka karya mereka akan memberikan kontribusi positif pada pembangunan dunia keilmuan.

Kelima, gengsi karya guru harus menjadi spirit berkarya dalam pembangun pendidikan. Jangan sampai peringatan HGN tahun ini hanya formalistik simbolis dan hanya berhenti pada upacara dan lomba-lomba. Padahal, hakikat HGN bukan sekadar kegiatan ritus saja, melainkan pemaknaan kembali atas nilai-nilai keguruan dan kependidikan di negeri ini.

Salah satu topik HGN tahun ini, Kemendikbud akan membahas topik “Membangun Budaya Literasi di Satuan Pendidikan”. Artinya, melalui tema besar itu, tiap guru dari tingkat SD, SMP dan SMA/SMK/MA harus berkarya. Maka, Kemendikbud yang bekerjasama dengan Guru Republik Indonesia (PGRI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) dan Persatuan Guru Nahdatul Ulama (Pergunu) harus bisa “menaikkan gengsi” karya intelektual dalam HGN 2016 ini.


Guru mulia karena karya jangan sampai bias. Sebab, tanpa perayaan Hari Guru pun, guru akan tetap mulia jika sudah berkarya. Jika tidak mampu berkarya, apakah pantas guru disebut mulia?
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget