Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Pekerjaan Rumah Akademis yang Terlarang

Oleh Noperman Subhi, S.IP, M.Si 

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi secara resmi telah memberlakukan pelarangan pemberian pekerjaan rumah (PR) akademis untuk tingkat SD sampai SMA di Kabupaten Purwakarta (Jawa Barat). Dedi Mulyadi menjelaskan, pekerjaan rumah yang harusnya diberikan pada peserta didik adalah PR yang aplikatif (praktik atau penerapan). Artinya peserta didik langsung mempraktekkan teori yang diberikan di sekolah. Contohnya, untuk pelajaran Biologi maupun Kimia peserta diberi tugas untuk membuat kompos atau pupuk organik dari kotoran hewan ternak. Dengan tugas yang aplikatif peserta didik menjadi kreatif, kritis, mampu membuat jurnal dan menjawab masalah-masalah yang ada tengah masyarakat. Ambil contoh, seperti kasus antraks. Peserta didik yang belajar Biologi ditugaskan praktik ke sentra-sentra peternakan, khususnya di perkampungan untuk mengetahui penyebabnya antraks, dengan mereka mengamati langsung, peserta didik bisa mengambil kesimpulan mengenai penyebab dan dampak negatif antraks.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mendukung kebijakan Bupati Purwakarta yang melarang guru memberikan PR akademis untuk peserta didiknya. Mendikbud pun mendorong agar sekolah-sekolah di daerah lain dapat menerapkan sistem atau konsep serupa. Namun demikian, Mendikbud tidak akan membuat aturan yang mewajibkan hal tersebut, karena sekolah-sekolah saat ini berada didalam wilayah otonomi pemerintahan daerah. Mengeluarkan aturan sekolah merupakan kewenangan kepala daerah. Mendikbud berharap dengan PR yang bersifat kreatif dan produktif membuat suasana belajar menyenangkan dan bisa menjadikan peserta didik yang mandiri.

Secara harfiah, PR berarti suatu pekerjaan yang seharusnya dilakukan di rumah. Menurut Cooper (1989), PR adalah suatu tugas yang di berikan untuk di kerjakan di luar sekolah. Sedangkan menurut Harlem (2003), PR berkaitan dengan pelajaran yang telah disampaikan guru untuk meningkatkan penguasaan konsep atau keterampilan dan sekaligus memberikan pengembangan. PR juga dapat diartikan sebagai latihan atau pun tugas yang di berikan oleh guru untuk memperkuat pemahaman materi yang telah dipelajari sebelumnya. Artinya, PR juga merupakan suatu sarana pembelajaran yang cukup benilai.

Sekolah sekarang sepertinya identik dengan PR. Bukan sekolah namanya kalau tidak ada PR. Hampir tiap malam peserta didik mengerjakan PR di rumah. Seolah-olah yang dikatakan belajar itu hanyalah membuat PR. Akibanya banyak diantara peserta didik yang tidak menyukai PR, selain dikerjakan diluar jam belajar sekolah, PR dianggap akan mengurangi waktu bermain dan akibatnya peserta didik sering kali mengerjakan PR-nya di sekolah.
Pemberian PR kepada peserta didik sebenarnya salah satu bentuk strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan benar adanya jika PR sangat penting dan memilik manfaat yang luar biasa bagi peserta didik. Berikut beberapa alasan-alasan yang mengatakan PR penting dan bermanfaat :  Pertama, membuat peserta didik dapat mereview dan mengingat kembali pelajaran yang telah diajarkan di sekolah. PR harus dikerjakan dengan baik dan tidak asal-asalan. Dengan adanya PR membuat peserta didik semakin mengerti dengan materi yang diajarkan. PR lah yang menyebabkan peserta didik mencari referensi di internet sehingga pengetahuannya semakin luas. Jika sudah dikerjakan dengan baik maka peserta didik akan semakin paham dengan pelajaran tersebut. PR melatih peserta didik untuk belajar sendiri (independent learning).
Kedua, membiasakan peserta didik untuk memprioritaskan tugas sekolah dan membuat waktu belajar menjadi bertambah. Membuat PR berarti akan menggunakan waktu bermain untuk belajar. Peserta didik akan terpicu untuk semakin banyak membaca dan mencari tahu (mengeksplorasi). Ini sangat bagus agar peserta didik tidak menghabiskan waktunya dengan hal yang kurang bermanfaat. Peserta didik diajarkan untuk dapat mengatur waktu secara efisien antara waktu belajar dan bermain. Sebagai generasi muda, peserta didik harus rajin belajar agar kedepannya bisa bersaing dalam dunia kerja yang makin kompetitif.
Ketiga, PR sebagai wadah peserta didik membangun inisiatif dan tanggung jawab. Kalau sudah bisa mengerjakan PR dengan baik, selain memantapkan pemahaman konsep dasar dan siap untuk memahami materi pelajaran berikutnya, peserta didik sudah bisa menyelesaikan tanggung jawab kepada guru. Kebiasaan untuk menyelesaikan tanggung jawab dengan baik akan sangat bermanfaat ketika sudah bekerja. Kelak mereka akan bekerja dengan baik dan bisa mempertanggungjawabkan tugas yang diembannya.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Education menunjukkan bahwa Jumlah PR yang terlalu banyak bisa memberikan dampak negatif bagi peserta didik. Dalam penelitian mereka menemukan bahwa Jumlah PR yang terlalu banyak berhubungan dengan : pertama, tingkat stres yang lebih tinggi. Berdasarkan  penelitian, sebanyak 56 % dari peserta didik menganggap PR merupakan sumber utama stres. Hanya kurang dari 1 % dari peserta didik  mengatakan PR  tidak membuat stres.
Kedua, Penurunan kesehatan .Berdasarkan penelitian, banyak peserta didik mengatakan beban PR menyebabkan mereka kurang tidur dan menimbulkan masalah kesehatan lainnya.
Ketiga, lebih sedikit waktu untuk bertemu dengan teman, keluarga dan terbatasnya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Berdasarkan Penelitian, menghabiskan terlalu banyak waktu mengerjakan PR, kebutuhan perkembangan mereka tidak terpenuhi. Kegiatan mereka menjadi drop, tidak bertemu teman atau keluarga, dan tidak mengejar hobi yang mereka nikmati.
Keempat, tindakan Penyeimbang. Hasil penelitian membukti banyak peserta didik berjuang untuk menemukan keseimbangan antara PR, kegiatan ekstrakurikuler dan waktu sosial. Banyak peserta didik merasa dipaksa atau diwajibkan untuk memilih PR daripada mengembangkan bakat atau keterampilan lainnya.
Berikut dampak negatif PR dari sisi lain, di antaranya : Pertama, PR yang terlalu banyak mengandung risiko yang tidak baik bagi pertumbuhan peserta didik. PR dapat menyebabkan peserta didik merasa tertekan sehingga dapat menimbulkan perasaan alergi terhadap pelajaran dan akan membuat mereka malas ke sekolah. Jumlah PR yang banyak biasanya akan menjadi problem yang besar bagi peserta didik yang kemampuan ekonominya rendah.  Hal ini disebabkan karena orang tua mereka tidak mampu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar.
Kedua, PR mengurangi waktu peserta didik untuk melakukan aktivitas positif lainnya bersama teman, keluarga dan kegiatan ekstrakurikuler. PR biasanya diambil sebagai jalan pintas bagi peningkatan mutu pendidikan, bukannya meningkatkan kesempatan dan akses memperoleh pengetahuan. Hal ini justru akan memboroskan energi, waktu dan biaya.
Ketiga, hasil penelitian pun belum menemukan adanya korelasi yang positif antara pemberian PR dan prestasi pada nilai ulangan peserta didik. Berdasarkan fakta yang diungkapkan oleh David Baker peneliti dari Penn State University, di Thailand, Yunani dan Iran yang peserta didiknya mendapat Jumlah PR yang banyak, memperoleh nilai yang paling rendah. Sebaliknya di Jepang, Republik Ceko dan Denmark yang peserta didiknya hanya menerima PR yang jumlahnya relatif sedikit, memperoleh nilai yang tertinggi.
Tidak dipungkiri Pemberian PR pada setiap akhir Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sangat membantu peran peserta didik untuk memecahkan masalah yang diperoleh dalam KBM. Belajar di sekolah dan diulangi di rumah sampai dapat dimengerti serta dapat mampu menimbulkan minat peserta didik dan gairah peserta didik untuk lebih lanjut. Adanya PR diharapkan peserta didik terangsang untuk meningkatkan belajar yang lebih baik, memupuk inisiatif dan berani bertanggung jawab. Dengan PR juga diharapkan mampu menyadarkan peserta didik untuk memanfaatkan waktu sengganggnya untuk menunjang kegiatan belajarnya dan mengisinya dengan kegiatan yang berguna dan konstruktif. Namun  yang harus diperhatikan bagi guru untuk tidak salah memberikan PR kepada peserta didik.

Semua (peserta didik, guru dan orangtua) masih percaya kalau mau maju, belajarlah dengan baik dan keras. Salah satunya dengan mengerjakan PR dari guru. Yang perlu yang dirubah, khususnya mengenai PR adalah bentuk PR itu sendiri yang intinya tidak membuat peserta didik stress, turun kesehatan, terhambat perkembangan dan membatasi sosialisasinya. PR haruslah mendorong peserta didik untuk semakin mengerti dan tanggap dengan materi yang diajarkan, Peserta didik diajarkan untuk dapat mengatur waktu secara efisien, khususnya antara waktu belajar dan bermain dan peserta didik harus mampu membangun inisiatif dan tanggung jawab dalam belajar. PR yang diberikan hendaknya dikelola dan ditata menjadi paket yang menarik dan terstruktur bagi peserta didik. Tidak begitu banyak, dapat dikerjakan dan tujuan pemberian PR tercapai. Saatnya kepala sekolah mengkoordinasi guru mata pelajaran agar tidak memberikan PR serentak yang mesti dikerjakan dalam satu malam.

-Noperman Subhi, S.IP, M.Si, lahir di Pagaralam (Sumsel) 13 november 1969. Lulus S1 Ilmu Pemerintah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan S2 Magister Administrasi Pendidikan di Universitas Sjakhyakirti. Sekarang aktif sebagai guru PPKn diperbantukan di SMA PGRI 5 Palembang dengan jabatan Wakil kepala sekolah (2012 – sekarang). Pernah mengampu mata pelajaran Geografi dan pernah menjadi dosen luar biasa di Akademi Bina Bahari. Selain itu aktif menulis artikel dan cerita Pendek. Karya tulis yang pernah diterbitkan, “Musim Kopi dan Gaya Hidup” (2001), “Jas Biru Dewan” (2002) dan “Memotret Guru Dari Kejauhan” (2016), “20 Kegagalan Menembus Publikasi” (2017). Alamat : Jalan Kadir TKR No. 65 RT 42 RW 07 Kel. Karang anyar – Gandus Palembang. 
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget