Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Bola Udara (Antara Kearifan Lokal dan Nasib Keamanan Penerbangan)

Oleh Firdaus Ahmadi
Radaktur Pelaksana Jurnal  Sekolah Tinggi Teknologi dan  Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Banten 


Sebagai bentuk rasa syukur dan merayakan kemenangan di Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal 1438 Hijriah) dilakukan tradisi bola udara yang dilakukan warga, terutama di wilayah Jawa Tengah di sekitar Kabupaten Wonosobo. Penerbangan balon udara itu adalah suatu kearifan lokal yang baik dan terjadi sejak dahulu yang bertujuan untuk mempererat persaudaraan dan memeriahkan Idul Fitri. Zaman dulu balon udara diterbangkan dengan dipanaskan menggunakan bahan bakar dalam drum. Belakangan, bahan bakar diganti dengan tabung gas, yang ikut mengudara. Dan ini yang paling berbahaya.  Balon udara menjadi berbahaya apabila terbang hingga ketinggian pesawat terbang, apalagi jika balon udara melayang di jalur penerbangan yang padat..

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Santoso, mengungkapkan balon udara yang terbang pada level ketinggian di bawah jalur penerbangan pesawat komersil masih terhitung aman. Menurut  Wisnu Direktur AirNav, "Ada dua pilihan untuk mengatasinya. Pertama dengan ditali, dengan demikian terkendali pada ketinggian tertentu. Jangkarnya ada di darat," ujar Kedua adalah seperti zaman dulu, jadi balon itu dipanaskan di bawah saja, kemudian setelah itu dilepas, tanpa pemanasnya ikut terbang," ucapnya. Dan tahun ini juga sama. Tim dari AirNav Indonesia terjun ke wilayah Wonosobo dan sebagainya untuk memberikan sosialisasi tentang bahayanya, Syarat lain dari penerbangan balon terbang ini adalah berjarak sedikitnya 15 km dari kawasan bandara. Menurut AirNav, aturan penggunaan balon udara terdapat dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 09 Tahun 2009 tentang CASR Part 101. Aturan ini mengatur tentang pengoperasian balon yang ditambatkan, layang-layang, roket tanpa awak, dan balon udara tanpa awak. Balon udara tradisional yang diterbangkan di Jawa Tengah dapat dikategorikan balon udara tanpa awak. Dan seseorang dilarang mengoperasikan balon tanpa awak kecuali mendapat izin dari ATC, itu pun dengan ketinggian di bawah 2.000 kaki serta berada di dalam batas sisi ruang udara kelas B, kelas C, kelas D, atau kelas E di sekitar bandar udara.


Kearifan lokal seperti ini  juga terjadi di Kabupaten Garut dinamakan ngapunkeun balon atau menerbangkan balon. Tiga hari sebelum Lebaran datang, mereka membuat balon udara berukuran raksasa dari bahan kertas bening atau warga Panawuan menyebutnya kertas endog. Kertas-kertas tersebut direkatkan menggunakan remeh yang berarti sisa-sisa nasi. Balon raksasa tersebut diterbangkan di lapangan terbuka sekitar kampung setelah salat sunat Idul Fitri dilaksanakan. Namun balon itu terbang setelah sebelumnya diberi udara dari hasil pembakaran jerami yang dibakar di bawah tungku yang terbuat dari tanah bukan dari gas, mungkin terlihat lebih aman. Kearifan lokal dalam bentuk penerbangan balon bertujuan mulia, yaitu, ingin mempersatukan warga setempat terutama pada hari lebaran.

Ke depan nanti akan dipadukan bentuk kearifan lokal semacam festival balon udara. dan ngapungkeun balon yang akan menjadi salah satu kegiatan wisata, namun harus di tentukan ketinggian, tempatnya, dengan kualifikasi tertentu agar tidak mengganggu dan berbahaya khususnya bagi penerbangan dan masyarakat. Jadi ini akan diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang sesuai dengan aturan, tidak mengganggu kearifan lokal, tidak membahayakan masyarakat dan keamanan penerbangan atau kegiatan lainnya. Apabila dikelola dengan baik, tradisi ini bisa mendatangkan pemasukan dari turis. (*)
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget