Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Conton Review Jurnal Internasional Terbaru 2017

The Importance of the Classroom Library for Support Literacy Programme
Introduction
Background
Sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan budaya literat pada anak didik. Oleh karena itu, tiap sekolah tanpa terkecuali harus memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan literasi. Di sekolah dengan budaya literasi yang tinggi, peserta didik akan cenderung lebih berhasil dan guru lebih bersemangat mengajar.
Perlu dipahami bahwa program membawa nyaring dan membaca di dalam hati hanyalah bagian kecil dari kerangka membangun budaya literasi di sekolah. Ada banyak hal yang mendukung sekolah membagun budaya literasi. Empat faktor itu adalah lingkungan fisik ramah literasi, lingkungan afektif, lingkungan sosial, dan lingkungan akademik.
Fokus penelitian ini adalah tentang lingkungan fisik ramah literasi. Lingkungan fisik yang dimaksudkan di sini salah satunya adalah ruang kelas. Kelas sebagai salah satu tempat belajar bagi siswa memberikan dampak besar dalam menumbuhkan cara  berpikir literat. Namun kondisi kelas khususnya pada jenjang sekolah dasar masih sangat bervariasi. Masih banyak sekolah yang belum memiliki perpustakaan kelas. Jangankan perpustakaan kelas, perpustakaan sekolah pun mereka belum memiliki. data Kementrian Pendidikan Nasional hingga tahun 2011, dari 143.437 SD, sebanyak 79.445 atau 55,39 persen sekolah tanpa perpustakaan. Di SMP sebanyak 39,37 persen sekolah (13.588 dari 34.511 sekolah) tanpa perpustakaan.
Berbagai problematika yang dihadapi oleh perpustakaan sekolah serta minimnya jumlah perpustakaan sekolah merupakan kondisi perpustakaan sekolah pada umumnya. Berbagai problematika yang dihadapi oleh perpustakaan sekolah ini menyebabkan perpustakaan sekolah tidak mampu menjalankan tugasnya secara maksimal.
Problematika yang dihadapi oleh perpustakaan sekolah harus segera dicari solusinya. Solusi ini diperlukan karena perpustakaan menjadi salah satu institusi penting dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan sekolah merupakan salah satu sarana pendidikan penunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah dan memiliki peranan penting dalam tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Tanpa eksistensi perpustakaan sekolah maka tujuan pendidikan yang ingin dicapai tidak akan memperoleh hasil maksimal.
Menurut pendapat Wafford (dalam Darmono: 2001) menerjemahkan perpustakaan sebagai salah satu organisasi sumber belajar yang menyimpan mengelola dan memberikan layanan bahan pustaka baik buku maupun non buku kepada masyarakat tertentu maupun masyarakat umum. Definisi lainnya diungkapkan oleh Basuki (1993) yang mendefinisikan perpustakaan sekolah sebagai perpustakaan yang tergabung pada sebuah sekolah, dikelola sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan, dengan tujuan utama membantu sekolah untuk mencapai tujuan khusus sekolah dan tujuan pendidikan pada umumnya.
Dari kedua definisi di atas dapat diketahui bahwa perpustakaan sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam keberhaislan pendidikan. Adapun perpustakaan kelas merupakan perpustakaan kecil yang berada di sudut kelas untuk memudahkan siswa dalam melaksanakan program literasi.
Problems
Bagaimana pengaruh perpustakaan kelas terhadap keberhasilan program literasi sekolah?
Purpose
Untuk mengetahui pengaruh perpustakaan kelas terhadap keberhasilan program literasi sekolah.

2. METHODS
2.1 Participant
Dalam penelitian kualitatif tidak mengenal istilah populasi dan sampel tetapi dinamakan situasi sosial yang terdiri atas tempat, pelaku, dan aktivitas (Sugiyono, 2010: 297). Penelitian dilaksanakan di kelas 5b SDN Sampangan 01 Kota Semarang. Aktor yang diamati adalah siswa kelas 5B begitu pula dengan aktivitasnya selama di dalam kelas.
2.2 Instrument
Instrumen yang digunakan adalah peneliti dan siswa kelas 5B. Dalam penelitian kualitatif ini peneliti menggunakan siswa sebagai instrumen utama dalam penelitian. Instrumen lain yang digunakan adalah catatan anekdot, lembar observasi, dan pedoman wawancara.
2.3 Procedure
Formula yang digunakan dalam penelitian kualitatif menurut Sugiyono (2010: 30) adalah tahap deskripsi, tahap reduksi, dan tahap seleksi. Pertama, pada tahap deskripsi peneliti memasuki situasi sosial dengan berada di dalam kelas dan di antara siswa sebagai instrumen penelitian yang utama untuk memperoleh informasi sebanyak-banyaknya. Hal yang diamati khususnya dengan keberadaan perpustakaan kelas dan program literasi yang ada di sekolah. Kedua, pada tahap reduksi peneliti mulai menentukan fokus penelitian. Peneliti mengambil fokus pada hubungan keberadaan perpustakaan kelas terhadap pelaksanaan kegiatan literasi membaca di kelas. Ketiga, tahap seleksi. Pada tahap seleksi peneliti mengurai fokus menjadi komponen yang lebih rinci. Adapun yang diurai peneliti dalam penelitian ini adalah asal pemerolehan buku, jenis buku, waktu membaca buku, pendampingan berliterasi, dan keterampilan memelihara buku.
3. Results
3.1 Asal pemerolehan buku
Buku yang ada dalam perpustakaan kelas berasal dari beberapa sumber. Siswa kelas 5B terdiri atas 25 anak dengan rincian 10 anak perempuan dan 15 anak laki-laki. Setiap anak diberikan tugas oleh guru kelas untuk membawa satu buku. Buku diletakkan di rak buku kelas. Setiap buku yang dikumpulkan menjadi hak milik perpustakaan kelas. Sumber kedua adalah dari perpustakaan sekolah. Setiap bulan guru mengambil 25 buku dari perpustakaan baik itu bergenre fiksi maupun non fiksi. Pada bulan kedua, guru akan mengganti dengan judul buku yang lain. Tujuannya adalah agar anak memperoleh lebih banyak informasi. Ketiga adalah buku yang dibeli oleh guru kelas. Secara berkala guru kelas membelikan buku bagi siswa menggunakan uang pribadi sebagai koleksi kelas.
3.2 Jenis buku
Jenis buku yang ada di kelas beraneka ragam. Buku bergenre fiksi berupa cerita rakyat, cerpen, dan ontologi. Buku nonfiksi berupa cara bercocok tanam, cara merawat binatang ternak, cara menggunakan TIK, cara membuat kompos, dan lain sebagainya. Selain buku fiksi dan nonfiksi, guru juga memperkenankan majalah yang sudah tidak terpakai di rumah untuk dibawa ke sekolah sebagai bahan bacaan bagi teman yang belum pernah membacanya. Beberapa majalah ada juga yang digunting dan dibuat majalan dinding kelas.
3.3 Waktu membaca buku
Waktu yang dipilih untuk membaca buku adalah 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Jadi, sebelum pembelajaran dimulai siswa diperkenankan untuk membaca buku apa saja yang ada di sudut perpustakaan kelas. Siswa tidak diberikan tekanan tugas. Siswa membaca dengan riang tanpa ada tanggungan untuk melakukan tugas tertentu setelah proses membaca dilakukan.
3.4 Pendampingan berliterasi
Pendampingan literasi dilaksanakan oleh guru kelas (peneliti). Jadi, belum ada pustakawan khusus yang mendampingi kegiatan berliterasi yang dilakukan oleh siswa. Literasi didampingi oleh guru kelas 5B.
3.5 Keterampilan memelihara buku
Awal mulanya pemeliharaan buku yang dilakkukan oleh siswa sudah baik. Siswa memberikan sampul plastik pada setiap buku yang ada di perpustakaan kelas. Namun seiring berjalannya waktu, sampul itu banyak yang lepas karena siswa kurang berhati-hati saat membuka, meutup, dan menggunakan buku. Keterampilan berikutnya adalah mengembalikan buku secara rapi. Awalnya siswa masih sangat susah saat diminta untuk merapikan buku fiksi dan nonfiksi yang ada di kelas. Namun setelah mendapat pengarahan dari guru, buku telah dapat tertata rapi dan siswa menjadi terbiasa.
4. Discussion
5. Conclusion

6. References 
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget