Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Hore, Dosen Sekarang Boleh S1, Menristekdikti Akan Hapus Regulasinya

Menristek Dikti M Nasir
Jakarta, Harianguru.com - Undang-undang di Indonesia yang menghambat kemajuan pendidikan tinggi direncanakan akan dihapus, termasuk regulasi yang mengatur bahwa dosen harus S2 (magister/master).

Sebab, selama ini dosen harus S2 sudah diatur UU No 14 Tahun 2005 dan hal itu dinilai menghambat perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia.

Perguruan tinggi di Indonesia diminta berbenah dengan meningkatkan mutu pendidikan untuk merespons perubahan global. Untuk itu perlu diregulasi peraturan-peraturan yang dianggap menghambat perguruan tinggi dalam bersaing dan meningkatkan kualitas.

Pendapat itu disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat beraudiensi dengan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri, Forum Rektor Indonesia, dan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin.

“Sesuai arahan Presiden, harus dilakukan secepat-cepatnya perbaikan-perbaikan terhadap regulasi-regulasi yang menyangkut di pendidikan tinggi,” ujar Menristek Dikti M Nasir seusai pertemuan.

Salah satu regulasi yang dianggap menghambat, lanjutnya, ialah syarat dosen minimal S-2 yang diatur UU No 14 Tahun 2005. Padahal, banyak profesional yang ahli di bidangnya, tetapi tidak memenuhi syarat formal sebagai dosen.

“Contoh, ada yang ahli di bidang media, tetapi pendidikannya D-4. Karena syarat dosen S-2, hal itu akan dimasukkan ke model yang pendidikan vokasi. Politeknik, akademik ini sudah kami laksanakan sehingga dosen itu tidak harus syaratnya S-2. Sebanyak 50% dari akademik, 50% bisa dari industri atau dari praktisi,” tambah Nasir.

Kemenristek Dikti, sambungnya, sedang menggodok aturan sehingga orang bergelar S-1 bisa mengajar di tingkat universitas. Menurutnya, aturan itu sebenarnya sudah dituangkan dalam perpres, tetapi hanya untuk pendidikan vokasi.

Untuk itu, jelas Nasir lagi, pihaknya tengah mengkaji kembali Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Untuk RPL ada level 1 sampai 9. Jika level 6 ialah sarjana, kemudian level 7 ialah profesi, dan level 8 ialah magister, sedangkan level 9 ialah doktor.

“Kalau mereka lulusan D-4 atau D-3, dia di level 5, tetapi kemampuan profesionalnya di level 8. Dia akan dikategorikan di level 8 itu. Berarti sama dengan magister,” paparnya.

“Contoh Bu Susi, menteri KKP. Dia hanya lulusan SMA, tetapi karena kompetensinya dia level 9, oleh IPB pada saat itu dinilai dia berarti level doktor sehingga bisa mendapatkan gelar doctor honoris causa waktu itu,” tandasnya. (Red-HG88/MI).
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget