Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

September 2017

Sabina mengamati kegiatan membaca terbimbing di kelas
Batu, Harianguru.com – Pembelajaran di SDN Sumbergondo 2 Batu, Jawa Timur, dinilai Sabina Behague Senior Communication Specialist International Education Research Triangle Institute Amerika, sama berkualitasnya dengan sekolah SD negeri berkualitas baik di sekitar Washington DC, Amerika. Sekolah ini, menurut Sabina bisa menjadi model yang baik bagi sekolah-sekolah lainnya di Indonesia dan di dunia. 

“Saya melihat para  siswa difasilitasi guru untuk melakukan kegiatan membaca bersama dengan menyenangkan, berdiskusi di kelompok kecil, melakukan percobaan, dan diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil karya mereka. Siswa menjadi lebih percaya diri dan terbiasa memecahkan masalah dalam pembelajaran. Kualitas pembelajaran di sekolah ini sama berkualitasnya dengan sekolah negeri berkualitas baik di tempat tinggal saya di area Washington DC,” kata Sabina usai mengunjungi SDN Sumbergondo 2, Kamis (28/9/2017).

SDN Sumbergondo 2 Batu adalah salah satu dari 34.000 sekolah penerima manfaat program USAID PRIORITAS. Walaupun berada di wilayah pedesaan di bawah kaki gunung Arjuna, sekolah ini memberikan pembelajaran berkualitas dunia untuk para siswanya. Menurut Sri Winarni, kepala sekolah, semua guru sudah berkomitmen untuk menerapkan pembelajaran aktif yang memfasilitasi siswa menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Di dalam pembelajaran siswa sudah dibentuk kelompok-kelompok kecil untuk belajar secara kooperatif. Pajangan hasil karya siswa mulai kelas I sampai kelas VI, sudah memperlihatkan kemampuan belajar yang menghasilkan karya yang ditulis dengan kata-kata mereka sendiri. Misalnya di kelas I, tampak pajangan hasil karya siswa yang membuat laporan hasil wawancara dengan orang tuanya tentang ciri-ciri dirinya sendiri saat mulai baru lahir sampai usia 7 tahun.

Di jenjang kelas yang lebih tinggi, hasil karya siswa tampak lebih menantang, terstruktur, dan ditulis dengan kalimat yang lebih panjang. Seperti di kelas VI siswa membuat laporan percobaan membuat rangkaian listrik sederhana, serta keuntungan dan kerugiannya.

Kemajuan yang terjadi di SDN Sumbergondo 2 ini membuat Pemerintah Kota Batu melalui dinas pendidikan menunjuk sekolah ini menjadi sekolah rujukan.

“Banyak guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah yang melakukan studi visit ke SDN Sumbergondo 2. Mereka bisa belajar implementasi pembelajaran aktif, budaya baca, manajamen berbasis sekolah dan peran serta masyarakat yang berhasil,” tukas Mistin Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu.

Dinas Pendidikan Kota Batu juga berkomitmen menyebarluaskan keberhasilan sekolan ini ke sekolah-sekolah nonmitra di Kota Batu. Dinas pendidikan pada bulan Oktober 2017 akan melatih guru-guru dari sekolah-sekolah nonmitra USAID PRIORITAS. “Kami mau semua sekolah di Batu sama berkualitasnya seperti sekolah ini,” kata Mistin lagi.

Tahun 2017 ini, SDN Sumbergondo 2 Batu juga berhasil mempertahankan peringkat 1 UASBN. Bahkan kepala sekolahnya juga meraih prestasi sebagai kepala sekolah terbaik se-Kota Batu. (Red-HG88/Hms).

Ilustrasi; Suasana perkuliahan di kampus STAINU Temanggung
Temanggung, Harianguru.com - Jika banyak anggapan yang menyepelekan profesi pendidik sebagai guru PAUD, agaknya mereka  belum memahami urgensi pendidikan pra-sekolah secara tepat. Pendidikan pra-sekolah sebenarnya merupakan pondasi utama bagi keberhasilan pendidikan anak pada tingkat selanjutnya. Untuk itu, kalau dalam undang-undang disebutkan bahwa pendidik (guru) disyaratkan harus bergelar sarjana, maka mengingat pentingnya pendidikan pra-sekolah kalau perlu baiknya bergelar profesor.

Bacalah: Ini Lo 243 Kampus yang Lulusannya TIDAK BISA Daftar CPNS

“Salah satu titik point penting momentum hari sarjana di Kabupaten Temanggung adalah perhatian lebih terhadap pendidikan pra-sekolah, khususnya di Kabupaten Temanggung yang sebagaimana diketahui guru PAUD masih belum memiliki standar kualifikasi pendidikan Strata 1 (S1) PAUD,” ujar dosen PIAUD STAINU Temanggung, Husna Nashihin dalam momentum Hari Sarjana Nasional yang diperingati hari ini, Jumat (29/9/2017).

Hal ini, menurut dia, menjadi sangat penting untuk diperhatikan oleh guru PAUD karena untuk penjenjangan karir berupa sertifikasi guru (sergur) harus ditempuh dengan persyaratan kualifikasi pendidikan S1, di samping juga dalam rangka untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada usia anak tahap pra-sekolah. Pentingnya peningkatan kualitas pembelajaran pada PAUD ini semakin nyata ketika kita berkiblat pada pendidikan di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika yang sudah mewajibkan pendidikan pra-sekolah. Di negara tersebut, anak usia 3 tahun sudah diwajibkan mengenyam pendidikan pra-sekolah.

“Pendidikan pra-sekolah harus dimaknai oleh orang tua sebagai investasi mahal terhadap masa depan anak. Hal inilah yang mendorong tokoh pendidikan di Barat seperti Martin Luther, Rousseau, dan Pestalozzi untuk mengawali teori serta praktek pendidikan pra-sekolah dengan  sangat baik, seperti mendirikan kindergarten pada waktu. Kita sebagai bangsa Indonesia harusnya bisa memaknai positif itu,” lanjut dia.

Kalau di negara-negara maju saja sudah mengawali, kata dia, sudah saatnya Pemerintah Indonesia berani mewajibkan pendidikan anak mulai usia 3 tahun lewat PAUD. “Syukur-syukur pemerintah berani memberikan fasilitas lebih bagi lembaga dan guru pra-sekolah ini karena tugasnya yang berat sebagai fondasi utama bagi anak, misalnya menjadikan para guru PAUD sebagai PNS. Sinergi baik antara pemerintah dan guru seperti ini akan bisa mengoptimalkan masa tumbuh anak secara spesial sehingga potensi anak bisa digali secara lebih usia dini,” pungkas dia. (Red-HG99/hms).

Ilustrasi; mahasiswi STAINU Temanggung di kampus
Temanggung, Harianguru.com - Sebanyak 10 calon sarjana dari unsur mahasiswa dan mahasiswi STAINU Temanggung, hari Sabtu (30/9/2017) depan, akan mengikuti ujian munaqosyah gelombang I sebagai ujian akhir sebelum menyandang gelar sarjana. Mereka akan mempertahankan karya skripsinya dengan berbagai jenis penelitian dan temuan.

"Totalnya untuk gelombong I ini adalah 10 mahasiswa. 7 dari dari prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan 3 dari Al-akhwal Assyaksiyah (AS)," ujar Luluk Ifadah, M.S.I Ketua Panitia Ujian Munaqosah STAINU Temanggung, Jumat (29/9/2017).


Menurut Kaprodi PAI STAINU Temanggung inin ujian munaqosyah gelombang I pada tersebut akan dihelat besuk pada hari Sabtu tanggal 30 September 2017, yang akan dimulai pukul 12.00-17.30 WIB.

Menurutnya, tahap ujian skripsi ataua ujian munaqosyah ini menjadi tahap akhir yang wajib dilakukan semua mahasiswa sebelum wisuda.

Dari skripsi yang masuk ke Panitia Ujian Munaqosyah STAINU Temanggung, ada beberapa jenis penelitian yang nanti akan dipertahankan mahasiswa di depan penguji. "Ada riset lapangan, ada penelitian tentang literasi dan banyak yang lain," bebernya.

Sebelum sah menjadi sarjana sesuai disiplin ilmu dan prodinya, semua mahasiswa STAINU Temanggung diwajibkan menyelesaikan skripsi sebagai tugas akhir setelah mereka melakukan perkuliahan, PPL, KKN dan kegiatan akademik lainnya yang memuat unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi. Mulai dari pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. (Red-HG44/HI)

Ilustrasi; suasana perkuliahan di STAINU Temanggung
Temanggung, Harianguru.com – Semua guru jenjang PAUD, TK, maupun RA di wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya minimal memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1). Hal itu sesuai dengan amanat dengan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) dan juga Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 membahas tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru.

“Ini kan aturan lama, jadi seharusnya memang sejak dulu semua guru PAUD atau TK di Temanggung khususnya, harus minimal sarjana,” ujar Husna Nashihin, dosen Prodi PIAUD STAINU Temanggung, Jumat (29/9/2017).

Hal itu ia jelaskan dalam perayaan Hari Sarjana Nasional yang diperingati pada Jumat 29 September 2017 ini. Menurutnya, banyaknya PAUD atau TK di Temanggung menjadi sinyal positif untuk kemajuan pendidikan dan penguatan SDM di Kota Tembakau ini.

Berdasarkan data yang terdapat pada situs Kemendikbud, saat ini di Kabupaten Temanggung terdapat 779 lembaga pra-sekolah yang terdiri dari TK, RA, KB, maupun TPA yang tersebar di 20 kecamatan yang ada di Kabupaten Temanggung. Hal ini, menurut Husna, mengindikasikan pentingnya sebuah prodi PAUD yang menjembatani calon guru PAUD/TK untuk memenuhi standar kualifikasi S1 tersebut.
“STAINU Temanggung telah resmi membuka Prodi PIAUD. Lulusan Prodi PIAUD ini bisa mengajar di PAUD maupun PIAUD yang ada di Temanggung karena  juga memiliki nilai plus, yaitu adanya pendidikan Islam di dalamnya,” lanjut dia.

Menurut dia, saat ini masih banyak guru yang mengajar pada lembaga pendidikan pra sekolah di Kabupaten Temanggung, khususnya PAUD masih belum memiliki standar kualifikasi pendidikan S1 PAUD. “Hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan oleh guru PAUD karena untuk penjenjangan karir berupa sertifikasi guru (sergur) harus ditempuh dengan persyaratan kualifikasi pendidikan S1. Di samping juga dalam rangka untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada usia anak tahap pra-sekolah,” papar lulusan Pascasarjana UIN Jogja itu.

Pentingnya peningkatan kualitas pembelajaran pada PAUD ini, kata dia, semakin nyata ketika kita berkiblat pada pendidikan di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika yang sudah mewajibkan pendidikan pra-sekolah. “Di negara tersebut, anak usia 3 tahun sudah diwajibkan mengenyam pendidikan pra-sekolah. Hal ini tentunya juga diimbangi dengan kualitas pendidikan pra-sekolah dengan sudah diwajibkannya kualifikasi guru pra-sekolah memiliki gelar S1,” papar dia.

Husna menambahkan, eyang sepuh pendidikan kita di Barat seperti Martin Luther, Rousseau, dan Pestalozzi sudah mengawali teori  pendidikan pra-sekolah dengan  sangat baik, kita sebagai bangsa Indonesia harusnya bisa memaknai positif itu. “Kalau di negara-negara maju saja sudah mengawali, sudah saatnya Pemerintah Indonesia berani mewajibkan pendidikan anak mulai usia 3 tahun lewat PAUD. Syukur-syukur pemerintah berani memberikan fasilitas lebih bagi lembaga dan guru pra-sekolah ini karena tugasnya yang berat sebagai fondasi utama bagi anak, misalnya jadikan mereka semua PNS,” ungkapnya. (Red-HG88/HI).

Ilustrasi; suasana perkuliahan STAINU Temanggung
Temanggung, Harianguru.com – Kualifikasi akademik guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA) minimal sarjana (S1). Hal itu sesuai dengan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) dan sejumlah regulasi lainnya.

Wajib Baca: Inilah Nasib Lulusan Jurusan PGSD

Guru yang belum memiliki ijazah S1 maka akan terkena dampak sanksi. Sanksi itu seperti kehilangan hak tunjangan fungsional dan profesi, namun khusus tunjangan profesi tidak berlaku jika umur guru sudah mencapai 50 tahun atau lebih dan masa kerja 20 tahun dan golongan IV.

“Kalau berbicara regulasi, sesuai UUGD tahun 2005, Permendikbud Nomor 62/2013 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan untuk Penataan Guru, Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru menjelaskan guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi dan sertifikat pendidik. Untuk guru PAUD atau TK memang minimal sarjana PAUD,” ujar Husna Nashihin, dosen Prodi PIAUD STAINU Temanggung, Jumat (28/9/2017).

Dijelaskan dia, bahwa dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 membahas tentang standar kualifikasi dan kompetensi guru, dan setiap guru wajib memenuhi standar kualitas akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional. Guru sebagai kaum terdidik yang taat pada negara harus mematuhi semua kebijakan tentang pendidikan dan guru.

“Di sana dijelaskan, bahwa guru yang mengajar di satuan pendidikan TK, RA atau PAUD, minimal memiliki kualifikasi akademik S1. Guru pada PAUD/TK/RA harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum sarjana (S1) dalam bidang pendidikan anak usia dini atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi. Begitu bunyinya,” beber alumnus Pascasarjana UIN Jogja tersebut.

Untuk itu, ia berharap, dalam perayaan Hari Sarjana Nasional pada Jumat 29 September 2017 ini, harus menjadi refleksi bersama bahwa saat ini masih banyak guru PAUD yang belum memenuhi kualifikasi akademik.

Pihaknya juga berharap, bahwa saat ini dengan adanya Prodi PIAUD di STAINU Temanggung, masyarakat Temanggung, Magelang, Wonosobo dan sekitarnya serta umumnya di Indonesia bisa menempuh studi PIAUD untuk memenuhi standar kualifikasi sesuai UUGD tahun 2005 itu. “Kami di PIAUD STAINU Temanggung bertekad menjadi perguruan tinggi yang menjembatani masyarakat untuk memenuhi standardisasi kualifikasi pendidikan guru yang ingin mengajar di PAUD, TK atau RA,” imbuh dia.

Sebagaimana data yang terdapat pada situs Kemendikbud, kata dia, saat ini di Kabupaten Temanggung terdapat 779 lembaga pra-sekolah yang terdiri atas TK, RA, KB, maupun TPA yang tersebar di 20 kecamatan yang ada di Kabupaten Temanggung. “Hal ini mengindikasikan urgen atau pentingnya kuliah di PIAUD STAINU Temanggung. Sebab, di Temanggung hanya STAINU yang membuka prodi itu. Lulusan Prodi PIAUD ini bisa mengajar di PAUD maupun PIAUD yang ada di Temanggung karena  juga memiliki nilai plus, yaitu adanya pendidikan Islam di dalamnya," tandas dia.

Oleh karena itu, lanjutnya, ia berharap pada perayaan Hari Sarjana Nasional tahun 2017 ini menjadi renungan bersama bahwa kunci kemajuan Indonesia ada pada gurunya. Maka, semua guru harus memenuhi kualifikasi akademik minimal S1.

“Pasal 1 UUGD tahun 2005 menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Jadi sudah jelas, bahwa untuk mencapai itu tidak mungkin guru PAUD bisa mengajar dengan profesional tanpa memenuhi kualifikasi sarjana,” papar dia.

Standar itu, menurutnya hanya standar minimal dalam pencapaian kualifikasi akademik. “Ya, itu kan standar minimal. Tentu beda antara guru PAUD yang sudah sarjana dan yang pernah kuliah dengan yang belum S1. Sekarang malah sudah banyak guru PAUD yang S2 kok. Jadi, S1 itu harus dimaknai standar minimal, karena menuntut ilmu dan meningkatkan kualitas bagi guru itu tidak terikat regulasi saja, namun harus menjadi kebutuhan pokok,” pungkasnya. (Red-HG99/HI).

Ilustrasi; suasana perkuliahan lapangan oleh mahasiswa STAINU Temanggung
Temanggung, Harianguru.com - Momentum Hari Sarjana Nasional yang diperingati pada 29 September tahun 2017 kali ini, agaknya bisa menjadi cambuk bagi guru secara umum yang belum menempuh pendidikan Strata 1, termasuk guru PAUD yang ada di Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.

Baca juga: Inilah 243 Kampus yang Lulusannya TIDAK BISA Daftar CPNS

“Jika tidak sarjana, karir guru PAUD di Temanggung ya pasti macet. Kan sudah jelas regulasinya, Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) dan juga Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 membahas tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru mewajibkan guru PAUD minimal sarjana,” kata Husna Nashihin dosen Prodi PIAUD STAINU Temanggung, Jumat (29/9/2017).

Sesuai Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang guru, menjelaskan guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi dan sertifikat pendidik.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 membahas tentang standar kualifikasi dan kompetensi guru, setiap guru wajib memenuhi standar kualitas akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional. Guru sebagai kaum terdidik yang taat pada negara harus mematuhi semua kebijakan tentang pendidikan dan guru.

Permendiknas No. 16 Tahun 2007 menjelaskan ada 2 kualifikasi akademik guru, yaitu kualifikasi guru melalui pendidikan formal dan kualifikasi guru melalui uji kelayakan dan kesetaraan. Hal itu dijelaskan dengan kualifikasi akademik yang dipersyaratkan untuk dapat diangkat sebagai guru dalam bidang-bidang khusus.


Dikatakannya, Permendiknas Nomor 16 tahun 2007 menjelaskan standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama (kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial dan profesional). “Keempat kompetensi itu terintegrasi dalam kinerja guru. Standar kompetensi guru mencakup kompetensi inti guru yang dikembangkan menjadi kompetensi guru PAUD/TK/RA, guru kelas SD/MI dan guru mata pelajaran pada SD/MI, SMP atau MTs, SMA atau MA dan SMK atau MAK. Di sini harus dipahami bahwa jenjang PAUD-SMA, semua guru itu minimal S1. Itu minimal lo, kan sekarang sudah banyak guru-guru yang sudah magister,” lanjut dia.

Untuk itu, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, guru PAUD memiliki peran strategis untuk penguatan anak melalui pendidikan. Hal itu mustahil terjadi jika guru-guru PAUD di Temanggung masih tertinggal dan belum S1.

“Kami, di STAINU Temanggung siap menjadi perguruan tinggi pelaksanaan standarisasi kualifikasi pendidikan guru PAUD dengan membuka beberapa program studi baru, salah satunya Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) yang menjembatani calon guru PAUD memenuhi kualifikasinya,” tandas dia.

Belum lama ini, pada Selasa, 25 September 2017 dosen Prodi PIAUD menggelar acara Rapat Internal Prodi Dosen PIAUD STAINU Temanggung yang membahas mengenai prospek karir guru PIAUD. Dalam rapat tersebut, dibahas bahwa guru PAUD atau PIAUD yang tak mau lanjut sarjana S1 bakalan macet karirnya nanti kalau ada pengangkatan, sertifikasi, tunjangan, dan sebagainya karena terganjal Undang-undang.

Sementara itu, data yang terdapat pada situs Kemendikbud, saat ini di Kabupaten Temanggung terdapat 779 lembaga pra-sekolah yang terdiri dari TK, RA, KB, maupun TPA yang tersebar di 20 kecamatan yang ada di Kabupaten Temanggung. Berdasarkan data tersebut, maka dapat diketahui ada 2500 lebih guru pra-sekolah di Kabupaten Temanggung, itupun jika dihitung dengan rasio 3 guru per sekolah. Adapun untuk kualifikasi pendidikan Strata 1 guru PAUD masih sangat rendah dan sebagian besar lulusan SMA sederajat.

“Salah satu titik point penting momentum hari sarjana di Kabupaten Temanggung adalah perhatian lebih terhadap pendidikan pra-sekolah, khususnya di Kabupaten Temanggung yang sebagaimana diketahui guru PAUD masih belum memiliki standar kualifikasi pendidikan Strata 1 (S1) PAUD. Hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan oleh guru PAUD karena untuk penjenjangan karir berupa sertifikasi guru (sergur) harus ditempuh dengan persyaratan kualifikasi pendidikan S1, di samping juga dalam rangka untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada usia anak tahap pra-sekolah,” imbuh dia.

Dijelaskan dia, pentingnya peningkatan kualitas pembelajaran pada PAUD ini semakin nyata ketika kita berkiblat pada pendidikan di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika yang sudah mewajibkan pendidikan pra-sekolah. “Di negara tersebut, anak usia 3 tahun sudah diwajibkan mengenyam pendidikan pra-sekolah. Hal ini tentunya juga diimbangi dengan kualitas pendidikan pra-sekolah dengan sudah diwajibkannya kualifikasi guru pra-sekolah memiliki gelar S1,” tukasnya.

Menurut Husna, pendidikan pra-sekolah harus dimaknai oleh orang tua sebagai investasi mahal terhadap masa depan anak. Hal inilah yang mendorong tokoh pendidikan di Barat seperti Martin Luther, Rousseau, dan Pestalozzi untuk mengawali teori serta praktik pendidikan pra-sekolah dengan  sangat baik, seperti mendirikan kindergarten pada waktu.

“Kita sebagai bangsa Indonesia harusnya bisa memaknai positif itu. Kalau di negara-negara maju saja sudah mengawali, sudah saatnya Pemerintah Indonesia berani mewajibkan pendidikan anak mulai usia 3 tahun lewat PAUD. Syukur-syukur pemerintah berani memberikan fasilitas lebih bagi lembaga dan guru pra-sekolah ini karena tugasnya yang berat sebagai fondasi utama bagi anak, misalnya menjadikan para guru PAUD sebagai PNS. Sinergi baik antara pemerintah dan guru seperti ini akan bisa mengoptimalkan masa tumbuh anak secara spesial sehingga potensi anak bisa digali secara lebih usia dini,” pungkas dia.(red-HG99/HI)

Ilustrasi; Mahasiswa dan mahasiswi saat di perpustakaan STAINU Temanggung
Temanggung, Harianguru.com - Momentum Hari Sarjana Nasional yang diperingati pada 29 September tahun 2017 kali ini, agaknya bisa menjadi cambuk bagi guru secara umum yang belum menempuh pendidikan Strata 1, termasuk guru PAUD yang ada di Kabupaten Temanggung, wilayah Kedu dan sekitarnya.

“Jika tidak sarjana, karir guru PAUD di Temanggung bahkan di Indonesia ya pasti macet. Kan sudah jelas regulasinya, Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) dan juga Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 membahas tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru mewajibkan guru PAUD minimal sarjana. Ini amanat Undang-undang dan yang mewajibkan itu pemerintah, bukan kami," kata Husna Nashihin dosen Prodi PIAUD STAINU Temanggung, Jumat (29/9/2017).

Sesuai Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang guru, menjelaskan guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi dan sertifikat pendidik.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 membahas tentang standar kualifikasi dan kompetensi guru, setiap guru wajib memenuhi standar kualitas akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional. Guru sebagai kaum terdidik yang taat pada negara harus mematuhi semua kebijakan tentang pendidikan dan guru.

Permendiknas No. 16 Tahun 2007 menjelaskan ada 2 kualifikasi akademik guru, yaitu kualifikasi guru melalui pendidikan formal dan kualifikasi guru melalui uji kelayakan dan kesetaraan. Hal itu dijelaskan dengan kualifikasi akademik yang dipersyaratkan untuk dapat diangkat sebagai guru dalam bidang-bidang khusus.


Dikatakannya, Permendiknas Nomor 16 tahun 2007 menjelaskan standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama (kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial dan profesional). “Keempat kompetensi itu terintegrasi dalam kinerja guru. Standar kompetensi guru mencakup kompetensi inti guru yang dikembangkan menjadi kompetensi guru PAUD/TK/RA, guru kelas SD/MI dan guru mata pelajaran pada SD/MI, SMP atau MTs, SMA atau MA dan SMK atau MAK. Di sini harus dipahami bahwa jenjang PAUD-SMA, semua guru itu minimal S1. Itu minimal lo, kan sekarang sudah banyak guru-guru yang sudah magister,” lanjut dia.

Untuk itu, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, guru PAUD memiliki peran strategis untuk penguatan anak melalui pendidikan. Hal itu mustahil terjadi jika guru-guru PAUD di Temanggung masih tertinggal dan belum S1.

“Kami, di STAINU Temanggung siap menjadi perguruan tinggi pelaksanaan standarisasi kualifikasi pendidikan guru PAUD dengan membuka beberapa program studi baru, salah satunya Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) yang menjembatani calon guru PAUD memenuhi kualifikasinya,” tandas dia.

Belum lama ini, pada Selasa, 25 September 2017 dosen Prodi PIAUD menggelar acara Rapat Internal Prodi Dosen PIAUD STAINU Temanggung yang membahas mengenai prospek karir guru PIAUD. Dalam rapat tersebut, dibahas bahwa guru PAUD atau PIAUD yang tak mau lanjut sarjana S1 bakalan macet karirnya nanti kalau ada pengangkatan, sertifikasi, tunjangan, dan sebagainya karena terganjal Undang-undang.

Sementara itu, data yang terdapat pada situs Kemendikbud, saat ini di Kabupaten Temanggung terdapat 779 lembaga pra-sekolah yang terdiri dari TK, RA, KB, maupun TPA yang tersebar di 20 kecamatan yang ada di Kabupaten Temanggung. Berdasarkan data tersebut, maka dapat diketahui ada 2500 lebih guru pra-sekolah di Kabupaten Temanggung, itupun jika dihitung dengan rasio 3 guru per sekolah. Adapun untuk kualifikasi pendidikan Strata 1 guru PAUD masih sangat rendah dan sebagian besar lulusan SMA sederajat.

“Salah satu titik point penting momentum hari sarjana di Kabupaten Temanggung adalah perhatian lebih terhadap pendidikan pra-sekolah, khususnya di Kabupaten Temanggung yang sebagaimana diketahui guru PAUD masih belum memiliki standar kualifikasi pendidikan Strata 1 (S1) PAUD. Hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan oleh guru PAUD karena untuk penjenjangan karir berupa sertifikasi guru (sergur) harus ditempuh dengan persyaratan kualifikasi pendidikan S1, di samping juga dalam rangka untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada usia anak tahap pra-sekolah,” imbuh dia.

Dijelaskan dia, pentingnya peningkatan kualitas pembelajaran pada PAUD ini semakin nyata ketika kita berkiblat pada pendidikan di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika yang sudah mewajibkan pendidikan pra-sekolah. “Di negara tersebut, anak usia 3 tahun sudah diwajibkan mengenyam pendidikan pra-sekolah. Hal ini tentunya juga diimbangi dengan kualitas pendidikan pra-sekolah dengan sudah diwajibkannya kualifikasi guru pra-sekolah memiliki gelar S1,” tukasnya.

Menurut Husna, pendidikan pra-sekolah harus dimaknai oleh orang tua sebagai investasi mahal terhadap masa depan anak. Hal inilah yang mendorong tokoh pendidikan di Barat seperti Martin Luther, Rousseau, dan Pestalozzi untuk mengawali teori serta praktik pendidikan pra-sekolah dengan  sangat baik, seperti mendirikan kindergarten pada waktu.

“Kita sebagai bangsa Indonesia harusnya bisa memaknai positif itu. Kalau di negara-negara maju saja sudah mengawali, sudah saatnya Pemerintah Indonesia berani mewajibkan pendidikan anak mulai usia 3 tahun lewat PAUD. Syukur-syukur pemerintah berani memberikan fasilitas lebih bagi lembaga dan guru pra-sekolah ini karena tugasnya yang berat sebagai fondasi utama bagi anak, misalnya menjadikan para guru PAUD sebagai PNS. Sinergi baik antara pemerintah dan guru seperti ini akan bisa mengoptimalkan masa tumbuh anak secara spesial sehingga potensi anak bisa digali secara lebih usia dini,” pungkas dia.(HG99/dul).

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Semarang membuka Workshop Guru Nahdlatul Ulama Menulis di Auditorium MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Semarang, Kamis (28/9/2017)
Semarang, Harianguru.com - Para guru yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Nahdlatul Ulama diminta produktif menulis dan mempublikasikan karyanya di jurnal dan media massa. "Kalau guru sudah mulai aktif menulis, maka pendidikan Indonesia akan lebih maju" tegas Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Semarang KH Anasom MHum saat membuka Workshop "Guru Nahdlatul Ulama Menulis" di Auditorium MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Semarang, Kamis (28/9/2017).

Kegiatan yang diprakarsai oleh LP Maarif Cabang Kota Semarang dengan UIN Walisongo Semarang ini menghadirkan narasumber Dr Syamsul Maarif MAg (Kapuslitbit LP2M UIN Walisongo), M Rikza Chamami (Dosen) dan Asikin Khusnan (Pengawas Sekolah). Peserta berjumlah 60 guru Nahdlatul Ulama yang memiliki konsentrasi di bidang tulis menulis dari SD/MI hingga SMA/MA. "Kegiatan merupakan karya pengabdian dosen lewat program LP2M UIN Walisongo" kata Anasom.

Menulis, lanjut Anasom, merupakan tradisi para ulama dalam menyebarkan ilmu-ilmunya. Jadi para ulama bisa panjang umur dan terkenang sampai sekarang karena karya tulisnya masih dipelajari oleh para santri. "Maka tradisi menulis harus dikembangkan di semua komponen guru NU agar gagasan-gagasan itu dapat tersampaikan secara luas.

Di tengah kesibukan administratif para guru sekolah perlu menyisihkan waktu dalam menulis. "Jangan sampai guru hanya sibuk menulis jurnal sekolah dan menulis rapot saja" singgung Anasom. Potensi menulis itu sangat bermanfaat untuk guru. Sebab dengan menulis, guru akan dapat point untuk administrasi kepangkatan dan akan dapat koin berupa honor menulis.

Guru juga tidak hanya bisa menulis untuk jurnal ilmiah dan koran saja, tetapi bisa menulis buku ajar yang manfaatnya sangat besar. Bahkan ada seorang guru yang aktif menulis buku ajar dengan honor hingga seratus juga. "Itu yang perlu ditiru oleh guru-guru NU Kota Semarang" pungkasnya.

Ketua LP Maarif Cabang Kota Semarang H Asikin Khusnan MSI sangat berharap para guru mampu mendisiplinkan diri dalam menulis karya ilmiah. "Menulis dari mulai yang terkecil dengan best practice pengalaman mengajar di kelas" kata Asikin.

Dari pelatihan ini, Asikin berkomitmen akan menindaklanjuti dengan pembuatan Jurnal Ilmiah Online khusus guru yang dapat menampung gagasan-gagasan para guru. "Kalau LP Maarif sudah punya jurnal ilmiah akan mempermudah kenaikan pangkat guru dan melahirkan iklim akademik di lingkungan sekolah" tegasnya. (Red-HG99/Sakur).

Yeni Ervina
Era milenial, perkembangan teknologi sangat pesat, akhirnya menjadikan semua orang berbondong-bondong menghuni benua maya. Dari data yang dilansir dari Kompas.com pada 20 Oktober 2016, misalnya, menyebutkan pengguna aktif bulanan jejaring sosial Facebook kini sudah mencapai angka 88 juta di Indonesia.


Jumlah pengguna Facebook di Indonesia itu berdasarkan data Kompas.com di atas mengalami kenaikan dibandingkan angka sebelumnya sebesar 82 juta pengguna pada kuartal keempat 2015.  Pada akhir 2014, jumlah pengguna aktif bulanan Facebook di Indonesia masih tercatat sebanyak 77 juta.

Namun, kebanyakan mereka hanya menjadi warga internet (warganet) yang konsumtif. Masih sedikit warganet yang memanfaatkan kemajuan teknologi itu dengan kegiatan produktif, salah satunya adalah dengan berbisnis berbasis online atau lazim disebut online shop (olshop).

Banyak media sosial yang kini berkembang. Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Path, Bigo Live, hingga layanan chatting seperti Messenger, Line, Blackberry Messenger, WhatsApp dan lainnya.

Hal itulah yang mendorong Yeni Ervina, mahasiswi semester V prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Jurusan Tarbiyah STAINU Temanggung yang berkonversi menekuni bisnis olshop di sela-sela kesibukannya kuliah. Melalui olshop yang tidak perlu membuka toko, ia bisa belajar berbisnis sejak dini.

"Ya saya jualan baju sama jilbab cewek-cewek gitu, kan sekarang lagi hits terutama di Instagram," kata Yeni Ervina mahasiswi semester V Prodi PAI STAINU Temanggung tersebut, Selasa (26/9/2017).

Dijelaskannya, bahwa hobi jualannya itu dimulai sejak duduk di bangku SMA. "Sejak kelas 2 MAN, karena lebih mudah menarik minat pembeli, biasanya customer akan lebih tertarik dengan gambar," beber dara cantik asal Magelang tersebut.

Kecenderungan costumer yang suka pada gambar itulah yang dimanfaatkan Ervina untuk melakukan aktivitas olshopnya. Dengan menawarkan sejumlah katalog gambar melalui Instagram, para costumer bisa memilih jilbab dan baju dengan bebas tanpa perlu datang ke toko.

Bahkan ia pun memiliki trik menarik untuk melancarkan bisnisnya itu. "Strateginya ya dengan membuat grup BBM 'Erpina Shop' terus saya  masukkan customer di grup, jadi mereka bisa memilih barang-barang yang saya unggah," tukas dia.

Perempuan lulusan MAN 1 Kota Magelang ini menegaskan, bahwa omsetnya meski tak pasti, namun bisa menambah uang jajan dan menabung daripada sekadar memanfaatkan medsos untuk iseng dan suka-suka belaka.

"Soalnya costnya juga belum terlalu banyak jadi belum bisa banyak kalau untuk bantu biaya kuliah, tapi bisa nambah uang tabungan," tandas perempuan kelahiran  Magelang, 3 juli 1997 tersebut.

Ia mengakui, tiap bisnis memang memiliki kelebihan sekaligus kendala. "Kendalanya kalau lagi ada masalah, misalnya paketan overload dan customer ngomel-ngomel terus karena barang tak datang tepat waktu dan waktu itu saya lagi UAS jadi mengganggu konsentrasi," imbuh dia di sela-sela kesibukannya mengerjakan tugas kuliah.

Meski demikian, ia menikmati bisnis kecil-kecilan yang dirintis tersebut sebagai wahana belajar menjadi perempuan mandiri.

Alumni SMPN 1 Windusari ini juga mengatakan, bahwa kecenderungan netizen yang suka belanja online bisa dimanfaatkan untuk kegiatan positif dengan jualan online yang mewujud menjadi pundi-pundi rupiah.

Menurut perempuan yang aktif di HMJ Tarbiyah STAINU Temanggung dan Teater Petromas 11pm ini, sasarannya memang teman-temannya sendiri karena lebih mudah dijangkau. "Barangnga nggak yang branded, soalnya sasarannya teman-teman, kan bagi kita ini yang penting bisa ganti-ganti," beber dia.

Ia berharap, bisnis olshop itu bisa berkembang dan menjadi wahana untuk berbisnis dan akhirnya bisa menjadikannya sebagai mahasiswi mandiri. Sebab, menurut dia, kemajuan teknologi harus dimanfaatkan dengan kegiatan positif dan salah satunya adalah bisnis olshop. (Red-HG99).

Kudus, Harianguru.com - Sudah menjadi keharusan untuk mengenalkan rukun iman dan islam kepada anak, apalagi rukun islam yang ke-lima. "Haji, ya, rukun islam yang kelima ini menjadi rukun yang paling menjadi dambaan setiap insan umat islam untuk menyengaja(mampu) datang ke baitullah, anak juga perlu tahu tentang spirit ibadah haji yang teramat sakral tersebut," hal ini disampaikan Arina Izzal Muna, salah seorang pendidik KB Al-Azhar, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.

Ketua pelaksana kegiatan, Arina lebih akrab ia di sapa,  menyampaikanya dalam kegiatan Mansik Haji KB Al-Azhar yang dilaksanakan dua gelombang. Yakni, hari jumat dan sabtu pagi(22-23/9) di Halaman KB Al-Azhar yang di ikuti ratusan putra-putri KB Al-Azhar.

Selain itu, "kegiatan manasik haji juga menanamkan nilai agama dan moral agama sejak dini. Dimana haji adalah rukun penyempurna bagi umat islam, sehingga anak-anak memiliki pemikiran yang teguh, kelak untuk melaksanakan ibadah haji sesungguhnya " tuturnya.

Arina menambahkan,"area yang di pergunakan untuk manasik, kami desain sedemikian rupa untuk mempermudah anak dalam mempraktikkan ibadah haji seperti halnya di Makkah, dan tepat, hasilnya mereka mampu melaksanakan kegiatan manasik di pagi hari walaupun suasana agak terik sambil mengucapkan bacaan talbiyah secara bersamaan," beber dia.

Manasik haji kali ini, "putra-putri juga di khususkan membaca do'a berbakti kepada orang tua dan kebaikan dunia juga akhirat, sekaligus mengajarkan anak untuk berdo'a di tempat mustajab ketika melaksanakan wuquf di arafah. Karena arafah bisa dikatakan sebagai rukun paling utama dalam haji yang tak ditemukan kewajibanya di umrah," pungkas Arina.(Red-HG88/Fakhrudin).

Foto bersama usai diskusi
Semarang, Harianguru.com - Hamidulloh Ibda pengajar Jurusan Tarbiyah STAINU Temanggung menegaskan bahwa tujuan utama kuliah tidak sekadar mencari ilmu, menghilangkah kebodohan, dan mencari ijazah dan gelar untuk mencari pekerjaan. Namun lebih pada untuk menbahagiakan orang tua.

"Tujuan kuliah yang utama bagi saya ya nyenengke (menyenangkan) ibu dan bapak kita. Soal cerdas atau tidak, nanti lulus jadi apa, itu utopis dan terserah keputusan Tuhan," ujar dia dalam diskusi dengan puluhan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang, Minggu sore (24/9/2017) yang bertajuk 'Sukses Kuliah, Sukses Organisasi' tersebut.

Menurut dia, belajar dan mencari ilmu itu tidak terbatas ruang dan waktu. "Namun, regulasi kita, pendidikan formal kita memonopoli tempat belajar. Orang yang tidak sekolah dan kuliah dianggap bodoh dan dianggap belajarnya tidak sah dan laku. Makanya, Anda ini terjajah oleh regulasi pendidikan, bahwa di luar pendidikan formal, kalian anggap tidak belajar. Jadi, tujuan kuliah itu ya bukan sekadar mencari ilmu, namun intinya bisa membahagiakan orangtua. Soal belajar, bisa di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja," tegas penulis buku Sing Penting NUlis Terus tersebut.

Bagi dia, suksesnya seorang mahasiswa itu bisa lulus cepat dan aktif di organisasi. "Silakan teman-teman aktif di organisasi apa saja. Mau intra, ekstra, pokoknya yang penting aktif. Dengan berorganisasi, Anda bisa belajar di kampus kedua itu, dapat relasi dan belajar mengelola dan menghadapi banyak orang," tegas Direktur Forum Muda Cendekia (Formaci) Jateng itu.

Dijelaskannya, model perkuliahan saat ini memang mendorong mahasiswa untuk lulus cepat. Artinya, lulus cepat saja tidak cukup, karena teori di kampus hanya bagian dari khazanah ilmu untuk kembali ke masyarakat.

"Kuliah sejati itu sebenarnya ya di masyarakat. Kita menemukan berbagai macam masalah, dinamika, intrik dan benar- benar nyata. Maka agar bisa kuat, mahasiswa harus jadi aktivis," ujar mantan anggota Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Walisongo itu.

Oleh karena itu, menjadi akademis itu wajib, namun sangat kurang jika hanya kuliah saja. "Intinya mahasiswa itu minimal sukses akademik, organisasi dan sukses berkarir atau sukses pribadi," tandas dia.

Namun, menurut dia, yang penting itu belajar dan adanya proses pembelajaran. "Bukan adanya sekolah atau kampus," papar penulis buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner? tersebut. (Red-HG99).

Adik-adik remaja sekalian, jika kalian masih bercita-cita jadi PNS, biar besok2 hidup terjamin sampai tua, maka itu cita-cita generasi luama sekali, orang tua kita dulu, SMA angkatan 70-80 mungkin masih begitu. 

Jika kalian bercita-cita jadi karyawan BUMN, biar gaji bagus, pensiun ada, besar pula, maka itu juga generasi lama, paman-paman, tante-tante kita dulu, SMA angkatan 90-an, itu cita-citanya. 

Jika kalian bercita-cita jadi karyawan multi nasional company, perusahaan swasta besar, biar bisa tugas di luar negeri, tunjangan dollar, itu juga cita-cita kakak-kakak kita dulu, yang SMA angkatan 2000-an.

Kalian adalah generasi berbeda. Kalian adalah yang SMP, SMA, atau kuliah di tahun 2010 ke atas. Seharusnya kalian tidak bercita-cita seperti itu lagi. Kalian adalah warga negara dunia, tersambung dengan seluruh sudut dunia. 

Apa cita-cita kalian? 
Jadilah pekerja kreatif, wiraswasta, profesi pekerjaan bebas, dan pekerjaan-pekerjaan yang menakjubkan lainnya. Kalian menonton film seperti Iron Man, Avengers, Minion, maka besok-besok giliran film kalian yang ditonton orang. 

Kalian jadi konsumen Burger King, KFC, dll, maka besok-besok giliran orang lain yang jadi konsumen franchise milik kalian. Hari ini kalian memakai baju, pakaian buatan orang lain, besok2 giliran orang lain yg pakai baju kalian. 

Hari ini kalian berobat ke rumah sakit, besok2 giliran orang yang berobat di klinik dengan sistem dan cara berbeda milik kalian.

Itulah dunia kalian. Masa depan. Jangan mau hanya jadi pengikut, follower, tapi berdiri di depan, giliran orang lain yang mengikuti dan mendengarkan trend yg kita buat. Maka saat itu tiba, kita bisa benar2 bilang: Merdeka!!

Ayolah, lupakan sejenak bekerja jadi PNS, karyawan BUMN, atau karyawan swasta, masuk pagi, pulang malam. 30-40 tahun bekerja, pensiun. Itu sudah terlalu banyak orang yang melakukannya, masa’ kita akan ikut jalan serupa, saatnya kalian memulai jalan berbeda. 

Jangan takut dengan kegagalan, jangan takut dengan tidak punya pekerjaan, menganggur, dll, dll. Sepanjang kita memang sungguh2, tahan banting, kita bisa menjadi yang terbaik di bidang yg kita geluti. 

Setinggi apapun jabatan kalian, jika masih PNS, karyawan BUMN, karyawan swasta, maka sejatinya tetap saja suruhan orang lain. Punya atasan, dan hidup kita laksana siklus dari bulan ke bulan, gajian ke gajian. 

Asyik duduk di belakang meja, lamat-lamat menatap media sosial, komen ini, komen itu, dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi tetap saja begitu-begitu saja hidup kita. Tidak, adik-adik sekalian, hidup kalian bisa lebih berwarna. Kalian bisa jadi apa saja. 

Jangan buat sempit cita-cita, mimpi-mimpi kalian. Generasi kalian seharusnya tidak terikat waktu, tidak korupsi waktu, sebaliknya, kalian bebas dan fleksibel menentukan jam kerja sendiri.

Yakinlah, besok lusa, karya kalian akan menaklukkan kota-kota jauh, bahkan negara-negara jauh. Besok lusa, profesi kalian akan memiliki reputasi hingga pulau-pulau seberang, benua-benua luar. 

Kalian bukan lagi generasi yang bahkan naik pesawat saja mahal dan susah. Atau mau berkirim kabar harus memakai telegram dan pager. Sambutlah masa depan kalian yang gemilang. 

Jadilah pekerja kreatif, wiraswasta, profesi-profesi penuh passion dan suka-cita. Itulah panggilan generasi kalian. Dan saat kalian bisa menggapainya, kalian bisa berteriak sekencang mungkin: Merdeka! Karena hidup kalian sungguh sudah merdeka. 

Mulailah dari sekarang, remaja. Cari hobi dan aktivitas bermanfaat. Tekuni. Besok-besok kalian menjadi master di bidang tersebut. 

Maka kita tidak lagi bicara tentang besok pagi2 berangkat kerja, sore2 pulang nanti macet, aduh, besok sudah Senin lagi, melainkan bicara: besok saya akan menginspirasi siapa, nanti sore saya akan mengubah apa, dan besok Senin saya akan meluncurkan karya apa lagi. (Paste dari wa)

Ilustrasi
Yayasan Wakaf Selamat Rahayu
Pondok Pesantren Modern Selamat Batang.
Sekolah Menengah Atas (SMA)
1. Guru Biologi
2. Guru Bhs. Indonesia
2. Guru Matematika
3. Guru TIK
4. Guru PAI
5. Guru BK
6. Guru Kimia
7. Guru Sejarah
8. Guru Geografi
9. Guru Bahasa Arab
10. Guru Seni Budaya
11. Guru Bahasa Inggris
12. TU
Syarat;
1. S1 Keguruan dan Ilmu Pendidikan
2. Pengalaman mengajar
3. Muslim/ muslimah
4. Menyukai dunia pendidikan
5. Belum menikah
6. Sanggup dan bersedia ditempatkan di asrama
7. Cakap, ulet, loyal, dan berdedikasi
Fasilitas;
1. Gaji 2,5 juta/ bulan
2. BPJS kesehatan bagi karyawan tetap
Kirim alamat ke Kampus Pondok Pesantren Modern Selamat Batang, alamat Jl. Batang_Semarang KM 14, Desa Clapar, Kec. Subah, Kab. Batang, Jawa Tengah
Hubungi 085700704688 ( bu lina) atau 085713530483 (bu ari)



Pati, Harianguru.com - Jangan berkecil hati menjadi mahasiswa dengan jurusan Sejarah apalagi kebudayaan yang di anggap kebanyakan orang hal tersebut jurusan yang tidak publish atau apalah persepsinya dari kebanyakan orang, karena kebudayaan mengandung makna yang sangat dalam, diantaranya terkandung di dalamnya akan nilai-nilai luhur, kepercayaan, hukum dan etika, hal tersebut dikemukakan Dr. Muhtar, S.Ip, MM dalam pagelaran Stadium General yang dilaksanakan STIBI Syekh Jangkung Pati (17/09/17) minggu pagi di Gedung SMA PGRI 2 Kayen.

Stadium General yang bertajuk "Sinergitas Perguruan Tinggi Dengan Pemerintah Dalam Membina dan Melestarikan Budaya" itu selain dihadiri Dr. Muhtar S.Ip, MM perwakilan dari Dispermades(Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa) sebagai pemateri, turut hadir Polsek dan Stakeholder dari Kecamatan Kayen, acara tersebut sekaligus sebagai momentum kuliah perdana oleh seluruh mahasiswa STIBI Syekh Jangkung.

Lelaki berkaca mata yang menempuh gelar Doktor di UNNES itu juga menjabarkan bagaimana peran kebudayaan yang memang urgen itu menilai, "budaya bukan persoalan statis(tetap), akan tetapi budaya merupakan sesuatu yang dinamis dan berkelanjutan," terang Muhtar.

Pria asli kelahiran Kabupaten Pati itu juga menguraikan. Menurutnya,  "bahwa budaya itu adalah hasil karya, cipta, rasa dan karsa yang memiliki nilai-nilai yang unggul dan luhur serta bisa dinikmati oleh masyarakat."

Lebih lanjut ia mengungkapkan "bahwasanya negara ini juga tercipta salah satunya dari sebuah budaya dengan keberagamanya, melalui budaya masyarakat kita juga bisa dilihat rukun, terpampang jelas harmonisasi antar ras, suku. Dan mereka merasa aman, damai seperti semboyan yang tertera pada lambang pancasila yakni 'Bhineka Tinggal Ika', dan agama islam yang tumbuh pesat di Indonesia juga merupakan implementasi dari budaya," bebernya.

"Teruntuk mahasiswa STIBI Syekh Jangkung, jangan takut ataupun minder sebagai mahasiswa yang cinta akan budaya, bahkan anda semua harus merasa lebih bersyukur menjadi salah satu bagian dari orang yang mencintai budaya. Mahasiswa STIBI  diharuskan mampu menanggapi, menghadapi virus globalisasi, dimana akses internet kini kian mudah, untuk menaggulanginya hal tersebut, maka, budaya dan kearifan lokal tidak tergerus dengan pengaruh arus globalisasi," pesanya kepada mahasiswa STIBI Syekh Jangkung," pungkasnya.

Untuk menunjang kegiatan dari mahasiswa, Drs. Noor Chafidl, M. Pdi, Ketua STIBI Syekh jangkung berharap, "sebagai kampus yang baru 2 tahun akademik berjalan, STIBI sudah memiliki 100 mahasiswa lebih dan kami harapkan peran dari Dinas yang berada di Pati selalu memberikan dukungan apapun kegiatan yang bakal dilakoni oleh mahasiswa STIBI," harapnya dalam sambutan acara Stadium General.

Sehari sebelumnya, sabtu(16/09) 70-an mahasiswa juga mengikuti jalanya Ospek, ziarah makam Syekh Jangkung(Saridin) sebagai pengalap berkah terhadap ikon STIBI  tersebut STIBI Syekh Jangkung. Dan stadium general sendiri merupakan kegaitan purna dari rangkaian penyambutan mahasiswa baru. (HG99/Hms).

Dosen STAINU Temanggung yang baru saat mengurus syarat di RSUD Temanggung.
Temanggung, Harianguru.com - Untuk memenuhi syarat agar bisa melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sejumlah dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung yang baru dalam minggu-minggu ini sibuk mengurus persyaratan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN).

Salah satunya adalah mengurus surat keterangan bebas narkoba, surat keterangan sehat jasmani dan rohani di RSUD Temanggung pada Selasa (19/9/2017).

Dosen baru prodi Ekonomi Syariah Jurusan Syariah STAINU Temanggung, Fatmawati Sungkawaningrum, mengatakan bahwa tugas dosen memang berbeda dengan guru. Sebab, kata dia, dosen negeri maupun swasta memiliki tugas berat untuk memenuhi Tri Dharma Perguruan Tingi.

"Tri Dharma Perguruan Tinggi setahu saya adalah salah satu tujuan pencapain yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi tersebut, baik itu negeri maupun swasta," beber perempuan yang akrab disapa Bu Fatma itu.

Dijelaskannya, Tri Dharma Perguruan Tinggi terdiri atas 3 poin , yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian kepada Masyarakat.


Menurut dia, tiap perguruan tinggi harus mampu melahirkan generasi yang memiliki semangat juang yang tinggi, diri yang dibarengi dengan pemikiran-pemikiran yang kritis, kreatif, mandiri, inovatif, beretika ataupun bermoral. "Hal itu tidak akan bisa jika Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak terlaksana," tandas dia.

Oleh karena itu, tiap dosen harus melakukan semua pekerjaan yang berkaitan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. "Syarat NIDN ini hanya bagian dari Tri Dharma. Jadi ini menjadi langkah awal bagi kami para dosen baru untuk memajukan STAINU Temanggung," tegas dia.

Seperti diketahui, beberapa bulan yang lalu STAINU Temanggung telah menambah sejumlah prodi baru. Di antaranya yaitu Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Ekonomi Syariah (ES). Selain itu, STAINU Temanggung sebelumnya sudah memiliki prodi lama yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Al-Ahwal Al-Syakhsiyah (AS).

Ia bersama rekan-rekan dosen yang baru berharap, melalui langkah awal tersebut, STAINU Temanggung dengan penambahan dosen dan prodi baru akan semakin memperkuat mutu akademik dan akhirnya menjadi perguruan tinggi berdidikasi tinggi di wilayah Temanggung dan sekitarnya. (Red-HG99/HI).

Suasana Pembinaan dan Monitoring Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di STAINU Temanggung, Minggu (17/9/2017).
Temanggung, Harianguru.com - Secara umum, selama ini orang memandang kampus atau perguruan tinggi bermutu adalah yang memiliki gedung mewah. Namun menurut Sekretaris Kopertais X Wilayah Jawa Tengah Dr. Hasyim Muhammad, ada tiga ciri atau indikator perguruan tinggi bermutu.

"Pertama adalah menetapkan dan mewujudkan visinya melalui pelaksanaan misinya," beber Hasyim Muhammad dalam acara Pembinaan dan Monitoring Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di STAINU Temanggung, Minggu (17/9/2017).

Ciri kedua, menurut Hasyim adalah menjabarkan visinya ke dalam sejumlah standar sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) tahun 2015 sesuai yang dikeluarkan Kemenristek Dikti.

"Ketiga adalah memenuhi dan menjabarkan penjaminan mutu sesuai kebutuhan stakeholder, pihak berkepentingan atau masyarakat," beber dia dalam kegiatan yang dihadiri pejabat, dosen dan karyawan STAINU Temanggung tersebut.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut Ketua STAINU Temanggung Drs. H. Muh. Baehaqi, MM menarget pada tahun 2018 akan dilaksanakan akreditasi prodi maupun institusi di internal STAINU Temanggung.

Hal itu disiapkannya dalam merespon percepatan peningkatan kualitas mutu akademik STAINU Temanggung. Sebab, prodi baru yang sudah berjalan, minimal dua tahun harus melaksanakan akreditasi untuk menyiapkan mutu dan lulusan berkualitas.

Drs. H. Asnawi Hasan, MSI Ketua BP3TNU juga menjelaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas lulusan, pihaknya juga menyiapkan monitoring untuk pengawalan pembelajaran dosen. "Jadi nanti jangan kaget kalau dosen ini dimonitoring. Bagaimana cara ngajarnya, sistemnya dan metodenya apakah sudah sesuai standar pendidikan tinggi atau belum," bebernya.
(Ibda).

Suasana pembinaan dan monitoring Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di kampus STAINU Temanggung, Minggu (17/9/2017).
Temanggung, Harianguru.com - Selama ini, momok bagi dosen adalah kenaikan pangkat. Padahal, hal itu jika tahu caranya sangat mudah sekali karena sudah menjadi tugasnya. Dr Hasyim Muhammad Sekretaris Kopertais X Wilayah Jawa Tengah mendorong dosen untuk meneliti dan publikasi di jurnal yang sudah terakteditasi.

Hal itu guna mempercepat kenaikan pangkat dosen yang bisa diajukan dalam dua tahun sekali bagi yang sudah memenuhi syarat sesuai dengan standar yang berlaku. Hal itu dijelaskannya lantaran selama ini banyak dosen kesusahan dalam kenaikan pangkat dan mengurus angka kredit.

"Jadi problemnya banyak dosen yang terkendala kenaikan pangkat karena masalah penelitian," beber Hasyim Muhammad dalam pembinaan dan monitoring Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di kampus STAINU Temanggung, Minggu (17/9/2017).

Padahal, menurut Hasyim, banyak peluang dosen untuk meneliti dan melakukan publikasi di jurnal maupun buku ber ISBN.


"Kalau hasil penelitian saja itu nilainya maksimal 2 poin. Kalau dijurnalkan maksimal 10 poin. 10 poin itu kalau sesuai kepakarannya. Misalnya manajamen kok nulis fikih, nilainya separo saja. Atau sebaliknya juga demikian," beber dalam kegiatan yang digawangi Kopertais X Wilayah Jawa Tengah tersebut.

Untuk itu, pihaknya mendorong dosen untuk aktif melakukan penelitian, baik individu maupun penelitian kelompok. Ia juga berharap, para dosen STAINU Temanggung bisa melakukan penelitian yang bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam hal ini adalah Pemkab Temanggung.

"Sekarang ini hampir semua proyek di pemerintahan itu berbasis riset. Jadi banyak peluang penelitian bisa dilakukan dosen sini," tegas dia.

Kegiatan itu merupakan kegiatan yang dihadiri Kopertais X Wilayah Jawa Tengah, Kepala BP3TNU,  pejabat, dosen dan juga karyawan STAINU Temanggung dalam rangka membahas peningkatan mutu akademik. (Red-HG99/Ibda).

Suasana pembinaan dan monitoring Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di kampus STAINU Temanggung, Minggu (17/9/2017). 
Temanggung - Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Wilayah X Jawa Tengah menggelar pembinaan dan monitoring Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di kampus STAINU Temanggung, Minggu (17/9/2017).

Dalam kegiatan itu, hadir Sekretaris Kopertais Wilayah X Dr. Hasyim Muhammad, Drs. H. Asnawi Hasan, MSI Ketua BP3TNU, Ketua STAINU Temanggung Drs. H. Muh. Baehaqi, MM, Pembantu Ketua STAINU Temanggung dan lainnya beserta pegawai dan dosen STAINU Temanggung.

Hal itu dalam rangka menggenjot kualitas dan mutu STAINU Temanggung sebagai perguruan tinggi yang sudah senior di wilayah Jawa Tengah.

Dr. Hasyim Muhammad mengatakan bahwa ada beberapa permasalah PTAIS. Pertama, banyak dosen yang merangksp PNS baik guru atau instansi lain. Kedua, rasio dosen ber NIDN belum terpenuhi.

Ketiga, pembinaan dan peningkatan SDM dosen dan karyawan tetap belum optimal. Keempat, tenaga kependidikan yang kurang profesional dan sebagian merangkap pekerjaan lain pada jam yang sama.

Kelima, sarana dan prasarana belum memadahli. Keenam, belum terlaksananta Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi (SPMT).

"Maka untuk mengatasi itu, harus ada penataan internal. Misalnya bidang penjaminan mutu harus ada lembaga sendiri. Pembinaan dan optimalisasi dosen tetap. Kemudian mendorong dosen untuk kenaikan pangkat. Angka kreditnya dosen harus didorong. Merespon program-program DIKTIS. Pemenuhan standar sarana dan prasarana. Kemudian pendirian prodi baru. Mengimplementasikan SPMT," jelas doktor tersebut.

Untuk mengimplementasikan SPMTP itu, menurut Hasyim, harus ada empat langkah. Mulai dari membangun kesadaran mutu, menyusun dokumen mutu, implementasi penjaminan mutu dan pelatihan audito internal. (Red-HG99/Ibda).

Suasana pelatihan  untuk kepala sekolah dan pengawas sekolah berprestasi gelombang dua dalam pengembangan sekolah sutuhnya.
Jakarta, Harianguru.com – Para kepala sekolah dan pengawas SD, SMP, SMA, dan SMK yang berhasil meraih prestasi di tingkat nasional terbukti memiliki praktik-praktik baik dalam pendidikan yang berhasil. Hal itu perlu disebarkan dan ditularkan ke sekolah lainnya.

“Kami minta kepala dan pengawas sekolah berprestasi untuk menuliskan dan mendokumentasikan dalam bentuk foto atau video praktik-praktik baik tersebut. Kami akan menerbitkannya dalam bentuk buku dan video yang akan disebarkan ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia,” tukas Anies Mucktiany, Kasubdit Kesejahteraaan, Penghargaan dan Perlindungan Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan (Dit. Pembinaan Tendik) Dikdasmen, GTK, Kemdikbud, di sela-sela pelatihan untuk kepala dan pengawas sekolah berprestasi dalam pengembangan sekolah seutuhnya di Hotel Ambhara Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta, baru-baru ini.

Dalam pelatihan kerja sama dengan USAID PRIORITAS tersebut, sekitar 170 peserta dilatih dengan kemampuan untuk mengembangkan sekolah seutuhnya dan menuliskan praktik baik yang mereka lakukan. “Peserta dilatih untuk melibatkan semua unsur sekolah seperti guru, kepala sekolah, masyarakat, dan siswa dalam mengembangkan praktik-praktik pendidikan yang baik dalam pembelajaran, budaya baca, manajemen sekolah, dan partisipasi masyarakat. Semua ini untuk memperkuat implementasi pendidikan karakter di sekolah,” kata Anies lagi.

Salah satu rencana tindak lanjut dari pelatihan ini, sekolah tempat peserta bertugas juga didorong untuk melakukan showcase atau open house yang memperlihatkan keberhasilan dalam pembelajaran aktif, budaya baca, manajemen sekolah, dan peranserta masyarakat. “Sekolah lainnya diundang untuk melihat dan belajar langsung praktik-praktik baik yang dapat dicontoh dan diterapkan di sekolahnya,” tukas Anies.

Dalam pelatihan tersebut teridentifikasi banyak praktik baik yang dapat dicontoh oleh sekolah-sekolah. Misalnya, dilakukan Eti Suyanti, saat memimpin SMKN 32 Jakarta, yang berhasil membuat para siswa anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolahnya menjadi berprestasi dan dapat mengembangkan potensi terbaik sesuai kelebihan yang mereka miliki. Ada juga keberhasilan sekolah-sekolah yang setelah menerapkan program budaya baca, para siswanya berhasil membuat satu buku hasil tulisan mereka sendiri.

Yang juga inspiratif, dilakukan Setyaning Watiti, pengawas sekolah di Malang yang membantu guru-guru di sekolah dampingannya meningkatkan hasil ujian nasional siswa melalui penerapan pola plasma MGMP dalam supervisi akademik dengan pendampingan guru sejawat. Dalam kegiatan supervisi, pengawas tersebut melibatkan guru-guru terbaik menjadi pendamping bagi guru lainnya. Para guru tersebut belajar mulai membuat perencanaan, pelaksanaan, dan menilai hasil pembelajaran. Mereka juga belajar langsung melihat para guru terbaik dalam mengajar, dan didampingi oleh pengawas dan guru terbaik saat mengajar di kelas.

Masih menurut Anies, praktik-praktik baik yang telah ditulis dan difoto atau divideokan dapat dikirimkan melalui email tendikharlindung@gmail.com. “Kami berharap pada akhir bulan September semua naskah, foto, dan video sudah dikirimkan kepada kami,” tukasnya.

Stuart Weston, Direktur Program USAID PRIORITAS, menyambut baik rencana Kemdikbud menerbitkan buku praktik baik kepala dan pengawas sekolah. “Melalui buku dan video praktik baik, guru, kepala, pengawas, dan komite sekolah, mereka bisa mendapat ide dan insprasi untuk mengembangkan praktik baik tersebut di sekolahnya sendiri. Kami juga telah menerbitkan tiga belas buku praktik baik, seratusan video, dan empat puluh tiga modul pelatihan pembelajaran, budaya baca, dan manajemen sekolah yang dapat dimanfaatkan oleh semua sekolah,” kata Stuart. (HG44/Hms).

Suasana Tadarus Buku dan Training Jurnalistik pada Jumat (15/8/2017) di musala Ponpes Al-anwar Suburan, Mranggen, Demak.
Demak, Harianguru.com - Jika tidak bisa menulis kitab kuning yang berbahasa Arab Pegon atau Jawa Pegon, santri harus bisa menulis, minimal artikel, buku, puisi, atau cerpan. Hal itu diungkapkan Hamidulloh Ibda penulis buku saat menjadi pemateri dalamTadarus Buku dan Training Jurnalistik pada Jumat (15/8/2017) di musala Ponpes Al-anwar Suburan, Mranggen, Demak.

"Jika santri tidak bisa menulis kitab kuning, ya minimal nulis kitab berbahasa Indonesia lah. Di sini kan pondoknya Kang Abik (Habiburrahman El-shirozy), jadi Mbak-mbak dan Kang-kang harus mewarisi tradisi menulis," beber Ibda.

Kegiatan itu, merupakan rangkaian pertama kali dalam rangka Semarak Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2017, Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al-anwar (IKASPA) Suburan, Mranggen, Demak menggelar Tadarus Buku dan Training Jurnalistik pada Jumat (15/8/2017) di musala Ponpes Al-anwar Suburan, Mranggen, Demak. 

Buku yang dikupas tersebut bertajuk "Sing Penting NUlis Terus (Panduan Praktis Menulis Artikel dan Esai di Koran)" karya Hamidulloh Ibda pengajar STAINU Temanggung.

Selain Tadarus Buku, dalam rangka Hari Santri Nasional 2017 ini, IKASPA juga akan ada sejumlah kegiatan termasuk training jurnalistik, dalam rangka menumbuhkan penguatan literasi bagi santri dan pelajar di lungkungan Al-anwar.

Tadarus buku "Sing Penting NUlis Terus (Panduan Praktis Menulis Artikel dan Esai di Koran)" karya Hamidulloh Ibda dosen Jurusan Tarbiyah STAINU Temanggung itu dihadiri ratusan pelajar dan santriwan-santriwati Al-anwar Mranggen, Demak.

Buku itu merupakan buku keempat yang ditulis Hamidulloh Ibda setelah buku Demokrasi Setengah Hati, Stop Pacaran, Ayo Nikah! dan buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner? yang terbit berurutan sejak tahun 2013.


Ahmad Umum Aufi Ketua Umum IKASPA dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan Tadarus Buku dan Training Jurnalistik tersebut menjadi awal untuk membuka kegiatan semarak Hari Santri Nasional 2017 yang digelar IKASPA.

Sebab, ke depan, menurut dia masih banyak kegiatan yang dinahkodadi IKASPA untuk menyemarakkan Hari Santri Nasional. (HG44).

Pembicara dan panitia Tadarus Buku dan Training Jurnalistik IKASPA saat foto bersama
Demak, Harianguru.com – Literasi sastra selama ini masih jarang diminati oleh penulis. Padahal, sastra ruang lingkupnya tidak hanya sekadar karya sastra, namun juga berkaitan dengan ilmu sastra.

Sastra yang lahir dari kalangan pondok pesantren harus dihidupkan dan digerakkan kembali. Sebab, sejak beberapa tahun ini kaum santri minim yang menggeluti sastra.

Hal itu diungkapkan Hamidulloh Ibda penulis buku “Sing Penting NUlis Terus (Panduan Praktis Menulis Artikel dan Esai di Koran)" dalam Tadarus Buku dan Training Jurnalistik pada Jumat (15/8/2017) di musala Ponpes Al-anwar Suburan, Mranggen, Demak.

“Kalau berbicara sastra wilayah cuma dua, yaitu ilmu sastra dan karya sastra. Kalau ilmu sastra, bisa dibaca sendiri di buku-buku sastra dan kalau karya sastra ya minimal dimulai dari kegiatan seperti ini,” beber Hamidulloh Ibda di hadapan ratusan santri Ponpes Al-anwar Suburan, Mranggen, Demak.
Dosen STAINU Temanggung itu menuturkan, bahwa selama ini masih sedikit santri atau kalangan NU yang fokus di sastra dan menggerakkannya di pesantren.

“Selama ini kita paling mengenal D. Zawawi Imron, Mustofa Bisri (Gus Mus), Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan Kang Abik atau Habiburrahman El Shirazy yang juga alumni Pondok sini (Al-anwar),” lanjut dia.

Padahal, kata dia, banyak ide-ide yang bisa dikemas santri menjadi bahasa puisi maupun cerpen. “Masalah kiriman telat, salat jemaah di masjid, problem ngaji, ngapalke, itu semua bisa jadi inspirasi untuk menulis karya sastra,” beber alumnus Ponpes Mamba’ul Huda Kembang, Pati tersebut.

Ia menuturkan, untuk menulis puisi, sebenarnya mudah dan murah. “Teorinya cuma dua, yaitu reseptif dan ekpresif. Reseptif itu input, dan kalau ekspresif itu output. Reseptif itu ya ketika Anda mendapatkan ide, saat marah, galau, gembira, lalu luapkan lewat kata-kata, itu namanya ekspresif,” lanjut alumnus magister Pendidikan Bahasa Indonesia Prodi Pendidikan Dasar Pascasarjana Unnes itu.

Kalau mau hebat lagi, kata dia, coba nanti baca Alquran, kitab Diba’, kitab Jalalain, yang kesemunya kalau diamati bahasanya itu indah. “Anta syamsun, anta badrun, antu nurun fauqa nurin, itu semua kan indah maknanya. Jadi, perkaderan sastra itu justru harus dimulai dari pesantren karena dekat dengan kitab dan kajian-kajian Islam,” beber dia.

Selain itu, semua peserta juga dipraktikkan menulis puisi sederhana yang diawali dengan pembacaan puisi karya Hamidulloh Ibda bertajuk "Membuka Galaksi Cinta" sebagai contoh puisi kepada peserta. (HG44).

Suasana stadium general di aula STAINU Temanggung, Sabtu (9/9/2017).
Temanggung, Harianguru.com - Ternyata, gelar haji yang selama ini disematkan di dapan nama orang Islam yang sudah haji merupakan warisan atau produk kolonial Belanda. Pada abad sekitar 16-17 masehi, banyak sekali peraturan Belanda yang mendominasi sistem politik dan sosial masyarakat Indonesia. Belanda sewenang-wenang membuat aturan agar masyarakat dan kaum santri tidak melawan.

Baca juga: Ketua STAINU Temanggung: Ciri Ulama itu Ikhlas


"Karena orang yang haji zaman itu Islamnya kuat, pakai semua didata dan diberi gelar H di depan namanya. Nah, kalau sekarang ada orang Islam yang bangga dengan gelar haji itu produk kolonial," ujar Dr. Samidi Khalim, MSI peneliti Balitbang Kemenag Kota Semarang dalam Stadium General di aula STAINU Temanggung, Sabtu siang (9/9/2017).


Dijelaskan Samidi, bahwa banyak sekali perlawanan ulama Nusantara dalam segi kultural terhadap Belanda. Salah satunya adalah melalui gerakan literasi penulisan arab dan jawa yang dijadikan satu dengan nama jawa pegon atau arab pegon.

Belanda takut jika Islam besar. Maka dari itu, banyak naskah-naskah Arab Pegon dibawa ke Leiden Belanda agar tidak dipelajari santri. Kemudian banyak sekali orang yang pergi haji didata agar bisa dideteksi.

Arab pegon secara historis dari dari huruf arab hijaiyah, kemudian disesuaikan dengan aksara atau abjad Jawa atau Indonesia untuk menulis kitab, manuskrip dan beberapa surat-surat.


Saat itu, kata Samidi, melawan Belanda memang tidak harus memakai senjara, namun pembangkangan dengan penulisan bahasa jawa pegon yang digunakan untuk alat komunikasi, karena Belanda menggunakan bahasa latin. "Peran literasi ulama-ulama saat itulah yang memberi sumbangsih besar terhadap kemerdekaan sampai sekarang," tegas Ketua LTN NU Kota Semarang itu.


Doktor jebolan UIN Walisongo itu juga menandaskan, bahwa karya arab pegon menjadi bentuk perlawanan terhadap Belanda kala itu. “Siapa pencetus karya pegon sampai sekarang yang pertama kali memang belum ada yang menemukan. Ada yang yang meriwayatkan itu sudah diterapkan pada zaman Sunan Bonang. Namun hal itu masih spekulatif,” beber dia.

Meski saat itu banyak arab pegon, namun menurut Samidi, aksara jawa dan melayu zaman itu berbeda. “Kalau aksara jawa yang dilestarikan snatri itu aksara pegon yang tulisannya arab namun pegon. Tapi kalau Melayu itu aksaranya pegon tapi nama aksaranya itu Jawi,” lanjut dia.

Aksara jawa pegon itu, menurut dia, dihadirkan sebagai perlawanan terhadap Belanda pada abad 16-17. “Sebab, saat itu Belanda itu menggunakan Bahasa Latin, Bahasa Melayu dan Eropa untuk komunikasi dan surat-menyurat. Sedangkan ulama-ulama Nusantara tidak mau karena itu produk Belanda. Makanya mereka menggunakan jawa atau arab pegon sebagai bentuk perlawanan,” lanjut dia di hadapan ratusan peserta stadium general. (red-hg99/Ibda).

Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung Drs.H. Moh. Baehaqi, MM (kiri) saat menyampaikan sambutan.
Temanggung, Harianguru.com - Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung Drs.H. Moh. Baehaqi, MM menegaskan bahwa ciri khas ulama Nusantara adalah ikhlas meskipun tidak diakui menjadi pahlawan.

Baca juga: Awali Kuliah, STAINU Temanggung Gelar Stadium General

Hal itu dijelaskannya dalam memberi sambutan saat pembukaan Stadium General pada Sabtu (9/9/2017) di aula STAINU Temanggung.

"Kenapa ada pahlawan? Pahlawan itu pahala dan wan. Orang yang banyak pahalanya," bebernya dalam acara yang bertajuk "Kontribusi Ulama Nusantara untk NKRI" tersebut.

Meski banyak ulama berjuang merebut kemerdekaan, menurut Drs. Moh. Baehaqi M.M tidak semuanya menjadi pahlawan.

Usai pembukaan, acara dilanjutkan Stadium general yang diisi Dr. Samidi Khalim MSI peneliti Balitbang Kemenang Kota Semarang. (HG99/Ibda).

Pembicara dan civitas akademika STAINU Temanggung saat foto bersama usai acara.
Temanggung, Harianguru.com - Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung menggelar Stadium General pada Sabtu (9/9/2017).

Baca juga: Ketua STAINU Temanggung: Ciri Ulama itu Ikhlas

Kegiatan tersebut mengusung tema "Kontribusi Ulama Nusantara untk NKRI" yang dihadiri ratusan mahasiswa dan civitas akademika STAINU Temanggung dan pembicara Stadium general Dr. Samidi Khalim, MSI peneliti Balitbang Kemenag Kota Semarang yang dimoderatori Sigit Tri Utomo, M.Pd.I Sekjur PAI STAINU Temanggung.

Dalam sambutannya, Ketua STAINU Temanggung Drs. H. Moh. Baehaqi, MM menejelaskan bahwa ulama Nusantara berjuang merebut kemerdekaan untuk dinikmati dan diteruskan perjuangannya.

"Kenapa ada pahlawan? Pahlawan itu pahala dan wan, atau orang yang banyak pahalanya," beber dia.

Banyak ulama itu ikhlas, kata dia, saking ikhlasnya banyak yang tidak jadi pahlawan.

Kalau berbicara ulama Nusantara, kata dia, khusus untuk mahasidea baru, nanti akan dibekali tentang sumbangsih para ulama di Nusantara ini akan dijelaskan Pak Samidi Kalim pakarnya.

Usai menyampaikan sambutan, tepat pada pukul 13.32 WIB, Stadium General STAINU Temanggung resmi dibuka. (TB43/Ibda).

Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Foto: Kemlu.go.id
Lowongan CPNS Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) 2017 Terbaru ini dibuka untuk semua kalangan yang membutuhkan pekerjaan sebagai PNS di Kemenlu. Seperti yang beredar secara resmi dan dilansir harianguru.com, ada beberapa formasi CPNS Kemenlu yang dibuka untuk semua kalangan dalam tahun anggaran 2017 ini.

Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemlu) atau sering disebut Kemenlu di tahun 2017 ini membuka lowongan CPNS bagi Anda semua.

Dari informasi yang disadur oleh harianguru.com memang ada beberapa unit kerja untuk formasi CPNS Kemenlu 2017 ini.
1. Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika
2. Direktorat Jenderal Amerika dan Erapa
3. Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN
4. Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral
5. Direktorat Jenderal Hukum dan Peranjian Internasional
6. Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik
7. Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler
8. Inspektorat Jenderal

Berikut formasi dan informasi lowongan CPNS Kemenlu 2017 terbaru:

Jangan lupa, bagikan informasi ini kepada suadara-saudara Anda yang ingin menjadi CPNS atau PNS Kemenlu. Sebab, hal itu akan mencerahkan masa depan dan tidak perlu susah-susah lagi mencari informasi CPNS tahun 2018, 2019, 2020 dan 2021 mendatang.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget