Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Oktober 2017

Pelantikan pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jateng periode 2017-2022, Sabtu (28/10/2017). 
Semarang, Harianguru.com - Kalangan akademisi, khusus guru dan dosen serta pelajar dan mahasiswa dilarang buta media siber dan media sosial. Sebab, selama ini masih banyak kalangan akademisi tidak bisa membedakan mana media siber dan mana media sosial. Dikarenakan tidak paham perbedaan itulah, mereka mudah termakan informasi hoak.

Demikian yang dijelaskan Hamidulloh Ibda dosen STAINU Temanggung setelah resmi dilantik menjadi pengurus Bidang Literasi Media Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jateng periode 2017-2022, Sabtu (28/10/2017).

Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri yang mewakili Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, lalu Dr. Noor Achmad anggota DPR RI, Theodorus Yosep Parera Ketua Peradi Semarang.

Hadir juga Amir Machmud NS Ketua PWI Jateng, Plt Kepala Ombudsman RI Kantor Perwakilan Jateng Sabarudin Hulu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, perwakilan Kodam IV Diponegoro, Polda Jateng, Pengurus SMSI Pusat Auri Jaya, dan Dr. Jawase Hafiz dosen Fakultas Hukum Unissula, dan jurnalis, mahasiswa dan berbagai tamu undangan.

Pegiat literasi itu juga mengatakan bahwa akademisi baik itu kalangan mahasiswa maupun dosen, peneliti, harus lah melek media siber atau online.

“Psikologi pembaca media siber itu memang gumunan dan tidak bisa membedakan mana berita yang asli dan palsu,” beber Hamidulloh Ibda di sela-sela pelantikan penguru SMSI Jateng yang bertempat di ruang Lokarida lantai 8 Gedung Moch. Ikhsan Balaikota Semarang.

Menurut dia, literasi media sangat penting, karena hampir semua orang belum paham apa itu media siber dan media sosial. Semua sumber berita itu, kata dia, tidak dibedakan dan dipetakan. Maka dari itu, ini menjadi garapan SMSI Jateng yang akan dimasukkan dalam program kerja. "Di sini tidak hanya kumpulan jurnalis. Namun di sini itu kumpulan media sibernya. Bisa pengelola dan juga jurnalisnya yang diberi kepercayaan untuk mewakili media itu bergabung di SMSI," beber dia.

Yang bergabung di SMSI Jateng ini, kata dia, adalah kumpulan media yang suda berbadan hukum dan resmi serta bukan blogger. "Sebagai pengurus bidang literasi, saya berharap masyarakat mampu membedakan media online atau siber dan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path dan lainnya. Nah kalau media siber ya seperti contoh Suaramerdeka.com, Harianjateng.com, Mediajateng.net, Hariansemarang.com dan lainnya. Nah kalau layanan pesan atau chatting itu ya WhatsApp, Blackberry Messenger, Line dan Messenger. Jadi semua itu beda, tapi melihat kecenderungan masyarakat kita sekarang, literasi media sangat dibutuhkan," ujar dia.

Seperti diketahui, Ibda dilantik Auri Jaya Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Kerjasama SMSI Pusat bersama enam belas pengurus lainnya yang mewakili dari media siber di wilayah Jawa Tengah.

SMSI merupakan serikat yang dibentuk oleh himpunan media-media online yang berserikat ke dalam sebuah wadah bernama Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) yang ke depan diharapkan menjadi media mainstream dan mampu mengedukasi pembaca dengan cerdas di tengah banjir berita seperti ini. (red-HG33/Heri).

Ilustrasi
Temanggung, Harianguru.com - Farinka Nurrahmah Azizah dosen prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung, dalam perayaan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2017 ini, mengajak kaum guru di negeri ini untuk selalu berjiwa muda.

Baca juga: Inilah Nasib Lulusan PGSD dan PGMI

Muda di sini, bukan sekadar pada usia, melainkan pada spirit, jiwa dan juga semangat. Sebab, jiwa muda wajib dipertahankan untuk menjawab tantangan global seperti saat ini. Oleh karena itu, momentum Sumpah Pemuda yang merupakan momentum bersejarah tentang pentingnya pemuda berkontribusi dalam pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia, salah satunya bagi guru yang menjadi orang yang digugu dan ditiru.

“Sumpah Pemuda itu maknanya luas. Pada hari itu para pemuda di seluruh Indonesia, berbeda ras, bahasa dan suku bangsa bertekad menggalang kesatuan untuk kemajuan negera tercinta ini. Pembangunan tersebut diterapkan pada berbagai aspek kehidupan antara lain dalam dunia pendidikan. Di sini, guru-guru MI atau pun SD harus berjiwa muda, dan yang berusia muda harus lebih muda,” ujar Farinka Nurrahmah Azizah, Sabtu (28/10/2017).

Menjadi muda itu, kata dia, maksudnya adalah guru harus berjiwa muda, melek TIK, komputer, update perkembangan metode, media dan model pembelajaran terkini yang semua sudah berbasis siber.

“Penekanan pembelajaran tidak hanya mengenai pemahaman materi, tetapi lebih ke proses, cara berpikir, yang disesuaikan dengan semangat pemuda yang menggebu-gebu dalam pencarian kebenaran tanpa banyak kepentingan pribadi di dalamnya,” ujar dosen asal Kota Wali tersebut.
Selain itu, menurut dia, penerapan metodologi dalam pendidikan di sini salah satunya dengan mengedepankan metode diskusi, pencarian literatur secara mandiri dan pembuatan produk unggulan dalam ranah pendidikan baik berupa pemikiran maupun praktik.

Baca juga: Guru SD/MI Tak Berjiwa Digital Akan Ketinggalan Zaman

“STAINU Temanggung adalah contoh institusi pendidikan yang mengerti betul-betul serius menerapkan semangat Sumpah Pemuda dalam dunia pendidikan. Hal ini diejewantahkan pada pembukaan prodi baru PGMI yang visi misinya sesuai dengan semangat Sumpah Pemuda,” tegas dia.

Tidak hanya itu, lanjutnya, metodologi pembelajaran yang telah dilaksanakan selama ini juga mengedepankan pengembangan pemikiran dan ide yang diperlukan pemuda untuk menjadi pribadi yang unggul, terutama ranah pendidikan. “Sehingga kompetensi lulusan PGMI STAINU temanggung ke depan dapat menjadi pemuda dalam baris pertama yang memajukan dunia pendidikan di Indonesia, dengan keluasan ilmu, kekuatan kharakter dan keunggulan dalam praktik pembelajaran sesuai dengan pembelajaran yang telah dikembangkan di STAINU Temanggung dewasa ini,” ujar dia.

Karena pada dasarnya, kata Farinka, pemahaman sumpah pemuda tidak hanya dimaknai sebatas persatuan  tumpah darah, budaya dan bahasa indonesia saja, namun juga pemaknaan akan kebersamaan untuk unggul di berbagai aspek dan bidang, salah satunya dalam bidang pendikan, sehingga akhirnya para guru dapat menerapkan ilmu yang didapatnya untuk memajukan semua anak didiknya, baik dalam pemikiran, karakter maupun penerapannya.

Baca juga: Jika Belum Sarjana, Bagaiman Nasib Pembelajaran di PAUD/SD?

“Sehingga rasa semangat berkontibrusi riil para pemuda di hari Sumpah Pemuda dalam koridor persatuan dalam memajukan berbagai bidang dalam ranah nasional dapat terencana. Prodi PGMI kami, memiliki visi terwujudnya guru madrasah ibtidaiyah yang profesional dan unggul dalam bidang metodologi pembelajaran pendidikan dasar Islam dalam 10 tahun ke depan,” imbuh dia.

Kami berharap, kata dia, Sumpah Pemuda tahun ini benar-benar menjiwai kaum guru di Indonesia, khususnya guru MI atau SD sebagai peletak dasar kecerdasan kognitif, afektif dan psikomotorik pada anak-anak. “Tanpa jiwa muda, kaum guru akan tertinggal jauh dari peradaban, karena hampir semua pekerjaan di sekolah sekarang berbasis siber,” pungkas dia. (Red-HG13/Hms).



Bangladesh, Harianguru.com - Berbagai pertanyaan diajukan anak-anak Rohingya kepada relawan Gerakan Pramuka, di antaranya “apa kegiatan anak-anak Indonesia?”. Pertanyaan ditujukan kepada Ahmad Fikri (Andalan Nasional Gerakan Pramuka), salah satu Relawan Gerakan Pramuka di Camp Pengungsian warga Rohingya di Camp Pengungsian Balukali, Ukhia, Cox’s Bazar, Bangladesh.

Ahmad Fikri kemudian bercerita, mengajak anak-anak itu bertepuk tangan gembira. “Oh ya bagaimana jika kita mengucapkan sukseskan untuk Lomba Tingkat Lima (LT-V) Gerakan Pramuka Indonesia pada 22-28 Oktober 2017 nanti,” ajak Fikri, kemudian ia menuliskan ucapannya, dan anak-anak itupun ikut dengan muka gembira.

Ahmad Fikri menceritakan, saya hampir menangis, membandingkan kondisi anak-anak di sini dengan anak-anak di Indonesia. Di Indonesia, anak-anak bisa dengan riang gembira ikut kegiatan Pramuka di luar ruangan, menjelajah, halang rintang, berkemah, napak tilas, pendakian, unggun gembira, permainan persahabatan, dll. Namun, anak-anak Rohingya di sini selalu dihantui ketakutan jika bermain di luar ruangan.

“Semoga suatu hari, anak-anak Rohingya dan seluruh anak-anak yang hidup di pengungsian di negara manapun dapat merasakan asyik dan serunya kegiatan Pramuka di luar ruangan. Yang mereka butuhkan tak hanya makanan dan tenda, mereka perlu kegiatan-kegiatan rekreatif, edukatif ala Pramuka, ini dapat menghilangkan dendam dan trauma,” ujar Ahmad Fikri dari Bangladesh (18/10/2017).

Sebagai informasi, sejak 2014, Gerakan Pramuka telah menerjunkan relawannya dalam tragedi kemanusiaan di Myanmar. Berbagai bantuan, baik dari Gerakan Pramuka maupun yang dititipkan kepada Gerakan Pramuka sudah sampai kepada warga Rohingya. Bahkan pada awal September 2017, Eko Sulistio (Andalan Nasional Gerakan Pramuka) berhasil menembus tiga camp pengungsian yang sulit dijangkau.

“Kita fokus bantuan untuk anak-anak, wanita dan orangtua, terakhir kemarin hampir 400 juta dana yang masuk. Empat hari lalu, Kak Eko juga sudah berangkat ke Bangladesh membawa bantuan,” ujar Adhyaksa Dault, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka di Jakarta. (HG76/Hms).



Jakarta, Harianguru.com - Lomba Gugus Depan (Gudep) Unggul dan Festival Penggalang Ceria Sekolah Dasar Tingkat Nasional 2017 resmi dibuka, Selasa (17/10) di Grand Mulya Hotel and Convention, Bogor. Kegiatan ini kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud RI) dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, diselenggarakan dari tanggal 17-21 Oktober 2017.

Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Bidang Perencanaan, Pengembangan, dan Kerjasama, Marbawi mengungkapkan, Kwarnas Gerakan Pramuka mendukung penuh kegiatan yang erat dengan pendidikan karakter ini. “Kita sepenuhnya mendukung apa pun program kepramukaan dalam rangka penguatan karakter anak. Karena kita tahu, tahun 2045 adalah satu abad Indonesia.  Anak-anak ini yang akan menjadi pemimpin kita,” ucap Marbawi dalam sambutannya.

Marbawi juga mengingatkan pentingnya generasi Z bijak menyikapi informasi. Karena Pramuka mempunyai tanggung jawab untuk menjaga karakter dan moral bangsa. Jangan ikut-ikutan menyebarkan konten hal yang belum kita mengerti duduk perkaranya. Kita Pramuka punya tanggungjawab untuk menjaga karakter dan moral bangsa ini. Pramuka itu perekat NKRI dan manusia Pancasila.

“Sekarang Gerakan Pramuka punya tagline Setiap Pramuka Adalah Kantor Berita, tujuannya agar setiap Pramuka mampu membuat konten dengan telepon genggamnya. Rekamlah video kegiatan positif adik-adik, edit yang baik dan gotong-royong menyebarkannya di media sosial. Promosikan produk unggulan, budaya, pariwisata daerah-daerah adik-adik di media sosial. Ingat Setiap Pramuka Adalah Kantor Berita,” tegas Marbawi.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Thamrin Kasman yang membuka perlombaan ini mengungkapkan, lomba ini merupakan salah satu wujud pendidikan karakter generasi muda. Melalui perlombaan ini diharapkan dapat muncul bibit-bibit pemimpin Indonesia di masa mendatang.

“Saya sangat berharap tanggal 17 Oktober 2045 di antara adik-adik ini ada yang membuka acara seperti ini. Artinya, dengan pendidikan karakter kita tanamkan sejak usia dini untuk menjadi pemimipin. Nanti ada yang menjadi Ketua Kwarnas, menjadi Bupati, dan ada yang jadi Sekjend menggantikan saya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Thamrin juga membacakan pesan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajir Effendy.

“Semangat mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai amanat UUD 45 harus selalu kita pompa dan bakar secara terus-menerus sebagaimana matahari yang tidak pernah berhenti memancarkan sinarnya, sehingga sampai benar-benar terwujud cita-cita kemerdekaan yang sejati, yakni Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur. Cita-cita luhur ini akan tercapai jika anak-anak Indonesia sebagai pelangsung masa depan bangsa dan negara dibekali dengan keterampilan hidup yang memampukan mereka untuk bersaing di masa depan,” ucap Kasman mewakili Mendikbud.

Kepada peserta, Thamrin berpesan agar senantiasa menjaga kebersamaan dan tidak saling bermusuhan. Sebab, sesuai nama lombanya, semua peserta harus ceria. “Jangan ada yang saling bermusuhan, jangan ada yang saling mencibir. Kita harus berbahagia selama bebarpa hari di kompleks ini. Di kesempatan ini anak-anak harus mencurahkan kegembiraannya, kreatif dan seterusnya,” tegasnya.  

“Tahun 2045 negara kita akan mencapai usia kemerdekaan 100 tahun. Kami percaya dan kami titipkan kejayaan Indonesia di pundak kalian. Teruslah belajar, belajar, dan belajar. Gapailah cita-cita kalian dan wujudkan cita Indonesia yang gemilang,” tambahnya.

Untuk diketahui, Lomba Gudep Unggul dan Festival Penggalang Ceria diikuti 34 Gudep terbaik hasil seleksi dari seluruh provinsi di Indonesia.  Selanjutnya, 34 Gudep Unggul tingkat provinsi itu bersaing  untuk menjadi Gudep Unggul Tingkat Nasional 2017 kali ini. (HG18/Hms).

Jakarta, Harianguru.com - Pengelolaan media sosial (medsos) akan dinilai dalam Lomba Tingkat Lima (LT-V) Gerakan Pramuka yang akan digelar pada 22-28 Oktober 2017 di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta. Andalan Nasional Gerakan Pramuka Urusan Binawasa Mohammad Laiyin mengungkapkan, lomba ini khas Generasi Z. Tujuannya, agar peserta mampu menggunakan medsos dengan bijak, tidak menyebar hoaks dan ujaran kebencian.

Sementara itu, Andalan Nasional Gerakan Pramuka Urusan Kominfo Hariqo Wibawa Satria menandaskan, dalam lomba pemanfaatan medsos ini yang dinilai adalah strategi komunikasi, konten yang diproduksi, dan distribusi. Hal itu sesuai dengan tagline Gerakan Pramuka ‘Setiap Pramuka adalah Kantor Berita’.

“Lomba ini melatih setiap Pramuka untuk mampu mempublikasikan kegiatan dengan baik. Banyak kegiatan Pramuka di daerah yang keren, namun luput dari pemberitaan. Karenanya kemampuan Pramuka memberitakan kegiatannya sendiri menjadi sangat penting,” jelas Hariqo.

Sebagai informasi, LT-V Gerakan Pramuka akan dibuka secara resmi oleh Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Adhyaksa Dault pada Senin, 23 Oktober 2017 pukul 08.30 WIB, di Bumi Perkemahan Pramuka, Cibubur, Jakarta. Lomba tingkat nasional lima tahunan ini sangat dinantikan, karena berjenjang dan sangat ketatnya seleksi regu yang bisa mengikutinya. Peserta kegiatan ini adalah Pramuka Penggalang yang tergabung dalam satu regu, baik putra maupun putri dengan usia 11-15 tahun.

Regu yang bisa mengikuti LT-V adalah regu berprestasi tinggi atau yang menjuarai empat Lomba Tingkat (LT) sebelumnya, yaitu: LT-I (tingkat Gugus Depan), LT-II (tingkat Kwartir Ranting/Kecamatan), LT-III (tingkat Kwartir Cabang/Kota atau Kabupaten), dan LT-IV (tingkat Kwartir Daerah/Provinsi). Jadi, LT-V adalah perlombaan antarregu Penggalang terbaik dari setiap Provinsi/Kwartir Daerah di Indonesia.

Masing-masing Kwarda mengutus regu putra dan regu putri dengan jumlah anggota regu sebanyak delapan orang. Ibarat pertandingan sepakbola, LT-V adalah ‘Piala Dunianya’ Pramuka.(Red-HG56/Hms).

Jakarta, Harianguru.com - Lomba Tingkat Lima (LT-V) Kwarnas Gerakan Pramuka akan dibuka pada Senin, 23 Oktober 2017, pukul 08.00 WIB, di Lapangan Kempi 2, Bumi Perkemahan Pramuka, Cibubur, Jakarta Timur. Sebanyak 34 materi lomba akan dipertandingkan, di antaranya lomba jelajah rimba di Cibodas Bogor, lomba membuat obat tradisional, pidato bela negara, kuliner, merakit robot, pengelolaan media sosial, dan lain-lain.

Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Kodrat Pramudho menjelaskan, dalam lomba membuat obat tradisional, setiap regu akan diminta membuat ramuan dari bahan-bahan alami, baik tumbuh-tumbuhan maupun buah-buahan. Sehingga, akan ada 34 jenis obat tradisional khas dari daerah atau provinsi seluruh Indonesia. Yang akan dinilai adalah bahan-bahan bakunya, tingkat kesulitan proses pembuatan, keunikan, serta khasiatnya. Jika ada bahan obat yang tidak dimiliki di tempat lain, maka itu menjadi nilai tambah.

“Kita akan minta setiap regu menuliskan proses pembuatan. Hasilnya akan kita bukukan, namun sebelumnya akan kita periksa dengan detail untuk menghindari hoaks dan hak cipta,” jelas Kodrat Pramudho di Gedung Kwarnas Gerakan Pramuka, Jalan Merdeka Timur, No 6, Jakarta (22/10).

Sementara itu, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault memaparkan, bahwa LT-V adalah kegiatan yang sangat dinantikan karena super ketatnya seleksi peserta. Jadi regu yang bisa mengikuti LT-V adalah regu berprestasi tinggi atau yang menjuarai empat Lomba Tingkat (LT) sebelumnya, yaitu: LT-I (tingkat Gugus Depan), LT-II (tingkat Kwartir Ranting/Kecamatan), LT-III (tingkat Kwartir Cabang/Kota atau Kabupaten), dan LT-IV (tingkat Kwartir Daerah/Provinsi).

“LT-V Gerakan Pramuka mempertemukan generasi muda terbaik Indonesia dalam satu bumi perkemahan. Ibarat pertandingan sepakbola, LT-V adalah ‘Piala Dunianya’ Pramuka. Mereka akan menyatu selama di perkemahan. Pramuka dengan berbagai kegiatan nasionalnya di luar ruangan telah merekatkan sejak dini calon-calon pemimpin Indonesia, Pramuka itu perekat NKRI,” tegas Menpora Periode 2004-2009 ini.

Adhyaksa Dault menambahkan, dalam perkemahan adik-adik Pramuka mempraktekan langsung nilai-nilai luhur dari bangsa kita Indonesia, seperti: musyawarah, gotong-royong, belajar mendengar, belajar menyampaikan pendapat, menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, dll. Nilai-nilai luhur tersebut bukan hanya teori, tapi langsung dipraktekkan di lapangan.

Sebagai informasi, LT-V Gerakan Pramuka akan berlangsung pada 22 – 28 Oktober 2017 di Bumi Perkemahan Pramuka, Cibubur, Jakarta. Saat ini semua kontingen dari 34 Provinsi se-Indonesia sudah tiba di lokasi. (HG11/Hms).

Jakarta, Harianguru.com - Ada yang beda di KRL jurusan Stasiun Pondok Cina ke Stasiun Juanda. Terlihat ratusan Pramuka Penggalang ramai-ramai naik kereta itu. Mereka mengobrol dengan penumpang, hingga ada yang memberikan tempat duduknya kepada penumpang yang lain.

"Ada beberapa yang ngobrol, dan beberapa (peserta) memberi tempat duduknya kepada penumpang lain. Saya salut, mereka ikhlas menolong orang lain," ujar salah satu Pendamping Pasukan, Iman Firdaus.

Ia meneruskan, karena aksi itu penumpang mengapresiasi dan berterima kasih kepada mereka yang memberikan tempat duduknya. "Terima kasih Nak, semoga diberikan kelancaran acara Pramukanya," begitu ia menirukan perkataan penumpang tersebut.

Usut punya usut, ternyata mereka adalah para peserta Lomba Tingkat Regu Pramuka Penggalang Lima (LT-V) Gerakan Pramuka 2017. Siang sampai sore ini mereka tengah mengikuti kegiatan Jelajah Budaya.

Jelajah Budaya kali ini dimulai dari Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta Timur, kemudian naik angkot sampai ke Stasiun Pondok Cina. Setelah itu, mereka naik KRL Commuter Line menuju Stasiun Juanda, lalu jalan kaki menuju Masjid Istiqlal, Gereja Katredal, Kantor Kwarnas Gerakan Pramuka, Monumen Nasional, Halaman Istana Merdeka, dan akhirnya kembali ke Cibubur.

"Senang sekali bisa ikuti Jelajah Budaya. Ini pertama kali, bisa melihat kantor-kantor penting di negeri ini dari kereta listik," ungkap Dwiyanto, salah satu kontingen dari Kwarda Sulawesi Utara.

Sementara itu, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault memaparkan, LT-V Gerakan Pramuka mempertemukan generasi muda terbaik Indonesia dalam satu bumi perkemahan. Ibarat pertandingan sepakbola, LT-V adalah ‘Piala Dunianya’ Pramuka.

"Dalam perkemahan, adik-adik Pramuka mempraktikan langsung nilai-nilai luhur dari bangsa kita, seperti: musyawarah, gotong-royong, belajar mendengar, belajar menyampaikan pendapat, menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, dan lain-lain," terangnya.

LT-V Gerakan Pramuka 2017 akan dibuka pada Senin (23/10) pukul 08.00 WIB-selesai di Lapangan Kempi 2, Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur Jakarta Timur. Lomba tingkat nasional ini diikuti perwakilan Kwarda Gerakan Pramuka se-Indonesia, sampai pada Jumat, 28 Oktober 2017.(HG44/Hms).

Bekasi, Harianguru.com - Sebanyak 33 regu Pramuka Penggalang menampilkan berbagai kesenian daerah di Indonesia di Plaza Cibubur, Bekasi, pada Senin 23 Oktober 2017, pukul 18.00 – 23.00 WIB (malam). Kegiatan ini dihadiri Prof. Dr. Budi Prayitno, Prof. Dr. Suyatno dan Dr. Susi Yuliati, ketiganya Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka.

Tari yang ditampilkan antara lain: Tari Kerincing Kuda, Tari Rentak Bulian, Tari Tidung Jepen Bedangan, Tari Nawung Sekar, Tari Anak Panah, Tari Piring, Tari Lariangi, Tarian Maharatu, Tari Tabot, dan lain-lain.

Rio Ashadi (Andalan Nasional Gerakan Pramuka), penanggungjawab kegiatan ini menjelaskan, rata-rata peserta berlatih satu tahun sebelumnya, sebab itu penampilan mereka begitu baik. Bagi masyarakat yang belum menonton, masih ada kesempatan karena belum semua regu tampil, 33 regu lagi akan tampil pada Kamis, 26 Oktober 2017, Pukul 19.00 – 23.00 di Plaza Cibubur.

“Total ada 66 regu, untuk kreasi seni sengaja kita tampilkan di pusat perbelanjaan agar masyarakat dapat menikmati sekaligus terus mengingatkan kita semua pentingnya anak-anak Indonesia tidak hanya sekedar menghafal nama-nama tari, namun juga bisa menari," ujar Rio Ashadi pada Senin malam di Bekasi (23/10/2017).

Masyarakat yang di pusat perbelanjaan itu mengapresiasi Kreasi Seni yang ditampilkan regu-regu Pramuka tersebut. Mereka menonton pertunjukan sampai selesai. Bahkan, pemilik mal  menanyakan apakah kegiatan itu bisa ditampilkan lagi di mal-nya. "Pemilik mal satu keluarga hadir dari awal sampai akhir acara. Bahkan, menanyakan apakah bisa dibuat kegiatan seperti ini lagi," terang Rio.

LT-V Gerakan Pramuka diselenggarakan pada 22-28 Oktober 2017 di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta Timur. Kegiatan dibuka pada Senin pagi, 23 Oktober 2017 oleh Adhyaksa Dault, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka.

Sebagai informasi, LT-V adalah kegiatan yang sangat dinantikan dan prestisius, karena seleksi peserta yang sangat ketat. Regu yang bisa mengikuti Lomba Tingkat Lima (LT-V) adalah Regu yang menjuarai empat Lomba Tingkat (LT) sebelumnya, yaitu LT-I (tingkat Gugus Depan), LT-II (tingkat Kecamatan), LT-III (tingkat Kota/Kabupaten), dan LT-IV (tingkat Provinsi). Jadi LT-V adalah pertemuan regu penggalang terbaik di Indonesia. Ibarat pertandingan sepakbola, LT-V adalah ‘Piala Dunianya’ Pramuka. (HG99/Hms).

Bogor, Harianguru.com - Setiap orang memiliki pilihan, menjadi orang luar biasa atau orang biasa-biasa saja, menjadi orang berkarakter atau tidak. Demikian disampaikan Walikota Bogor, Bima Arya saat menyambut 528 peserta Lomba Tingkat Regu Pramuka Penggalang Lima (LT-V) di Kebun Raya Bogor pada Selasa, 24 Oktober 2017.

“Saya titip, jangan pernah lupa suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Hati-hati dengan pikiran Anda karena itu akan menjadi kata-kata. Hati-hati dengan kata-kata karena itu bisa jadi perbuatan. Hati-hati dengan perbuatan karena itu bisa jadi karakter,” ungkap Bima Arya.

Ia kemudian bertanya kepada ratusan Pramuka itu, apakah  siap untuk menjadi generasi muda yang berkarakter dan  menjadi pemimpin. Pertanyaan itu langsung dijawab "siap" dengan lantang oleh mereka secara bersamaan.

Ketua Mabicab Gerakan Pramuka Kota Bogor itu berpesan  agar mereka bisa menjadi manusia yang disiplin, bertanggung jawab, dan berkarakter. Sebab, kata dia, itulah tiga tujuan utama ikut Pramuka. Nah, tandas dia, adik-adik Pramuka tidak akan menyesal mengikuti LT-V, sebab lomba tingkat nasional itu adalah proses menuju tiga hal tersebut.

Saat di Kebun Raya Bogor, para peserta LT-V Gerakan Pramuka 2017 juga mengunjungi ribuan tanaman endemik dari seluruh Indonesia. Tempat ini ibarat laboratorium bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih jauh tanaman langka. Ada banyak sejarah di dalam kebun yang dibangun era kolonial Belanda itu.

"Di sini mereka akan mengeksplor tanaman-tanaman yang bermanfaat herbal, serta mengetahui tanaman spesifik endemik Indonesia," ujar Andalan Nasional Gerakan Pramuka Bidang Lingkungan Hidup dan Kesakaan, Bayu Tresna di lokasi.

"Jadi, tempat ini memang khas, banyak mengandung sejarah. Anak-anak bisa belajar itu sambil melihat beberapa tanaman endemik. Mereka juga akan diajak untuk mengunjungi Istana Bogor," jelasnya.

Jelajah rimba ini diadakan selama dua hari, hingga Rabu 25 Oktober 2017. Dari Kebun Raya Bogor, mereka bertolak menuju Cibodas untuk berkemah di Bumi Perkemaham Mandala Kitri. Rabu pagi, mereka menjelajah rimba menuju Istana Cipanas guna belajar sejarah.

Sebelumnya, 528 peserta LT-V ini sudah melakukan kegiatan jelajah budaya di hari pertama, Minggu 22 Oktober 2017. Mereka pergi ke Jakarta Pusat menggunakan kereta KRL guna mengunjungi Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, Monumen Nasional, Museum Nasional, dan juga Kantor Kwarnas Gerakan Pramuka.

Kegiatan menarik lainnya ialah kreasi seni daerah, yang ditampilkan oleh 33 Regu Pramuka Penggalang berprestasi tinggi dan terbaik dari seluruh Indonesia pada Kamis (23/10) pukul 19.00-22.00 WIB di Plaza Cibubur, Kota Bekasi. Selanjutnya juga ada Karnaval Budaya Sumpah Pemuda, yang ditampilkan oleh 66 regu Pramuka Penggalang pada Sabtu (28/10) Pukul 08.30-11.30 WIB di Lapangan Utama, Bumi Perkemahan Pramuka, Cibubur, Jakarta Timur.

LT-V Gerakan Pramuka diselenggarakan pada 22-28 Oktober 2017 di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta Timur. Kegiatan ini dibuka pada Senin pagi, 23 Oktober 2017 oleh Adhyaksa Dault, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka.

Sebagai informasi, LT-V adalah kegiatan yang sangat dinantikan dan prestisius, karena seleksi peserta yang sangat ketat. Regu yang bisa mengikuti Lomba Tingkat Lima (LT-V) adalah Regu yang menjuarai empat Lomba Tingkat (LT) sebelumnya, yaitu LT-I (tingkat Gugus Depan), LT-II (tingkat Kecamatan), LT-III (tingkat Kota/Kabupaten), dan LT-IV (tingkat Provinsi). Jadi, LT-V adalah pertemuan regu penggalang terbaik di Indonesia. Ibarat pertandingan sepakbola, LT-V adalah ‘Piala Dunianya’ Pramuka. (HG44/Hms).

Temanggung, Harianguru.com – Upacara Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2017 dilaksanakan dengan hikmat dan sangat luar bisa karena kegiatan upacara dilakukan oleh anak santri yang khusus mondok saja (Takhosus).

“Kegiatan upacara dilaksanakan di lapangan MA Darul Muttaqien, diikuti semua santri Darul Muttaqien, Alumi , Ustadz, dan Guru SMP, MA Darul Muttaqien Bolong, Selopampang, Temanggung,“ ujar Pembina Upacara Ustadz Ariyanto (ketua pondok), pada acara upacara memperingati HSN yang ke-3 ini.

Para santri, menurutnya, harus mengingat bahwa lebel para santri selalu dikenang oleh masyarakat, karena santri memiliki akhlak yang bagus yang bisa hidup mandiri,  pada zaman sekarang ini kita bisa melihat bahwa godaan dari berbagai penjuru sangatlah berbahaya, mulai dari makan, pakain, dan hiburan, semua itu hanya akan merusak ahklak bangsa.

Dengan diadakan HSN ini, katanya, pondok pesantren bertekat membumikan Nusantara untuk pendidikan karakter, pentingnya menjaga kesatuan dan persatuan Indonesia, seperti yang diutarakan oleh Hadratus Syekh Hasyim As’ary, bahwa membela Negara adalah hukumnya Fardhu ‘Ain, dan para santri harus selalu menginat sejarah para ulama yang meperjuangkan Indonesia seperti yang diutarakan oleh presiden Indoensia yang ke-2, yaitu Bung Karno, bahwa bangsa yang hebat adalah bangsa yang menghargai sejarah, maka dari itu jangan melupakan sejarah, ayo bersama-sama dukung kegiatan HSN tanggal 22 Oktober dan gerakan Ayo Mondok.

Dalam Tausyah KH. M. ABDUL MUHITH, bahwa kegiatan HSN ini dilakukan dipondok pesantren sendiri, tidak menggabung dikabupaten seperti tahu sebelumnya, dengan alasan agar kegiatan upacara HSN ini dilakukan dengan hikmat dan bisa merasakan betapa penting memperingati Hari Santri Nasional itu sendiri, pondok pesantren Darul Muttaqien juga meningkatkan lembaga pendidikan formalnya, karena agar menjadi pendidikan alternatif khsusnya di Temanggung, Magelang dan lainnya, berbagai penjuru seperti lampung, Sumantera, Jambi, Riau, bahkan Kalimatan. (Red-HG44/Nur Edi).

Harianguru.com - Itma Yusticia, mahasiswi semester V prodi MPI STAINU Temanggung, Jawa Tengah memiliki alasan terjun langsung mengawal proses demokrasi secara praktis.
 Itma Yusticia, mahasiswi semester V prodi MPI STAINU Temanggun

Ia berkesempatan mengawal perjalanan demokrasi di Temanggung dan Jawa Tengah dengan mengikuti seleksi Penerimaan Calon Panitia Pemilihan Kecamatan di Temanggung tahap kedua. Di mana ia telah lolos ke tes tahap pertama yaitu seleksi tes administrasi yang diumumkan pada 19 Oktober 2017 kemarin.

Pembentukan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dalam penyelenggaraan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah tahun 2018 dan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Temanggung 2018
Temanggung mendatang.

Seleksi tahap kedua itu merupakan seleksi tes tertulis PPK yang dihelat di Gor Bambu Runcing Temanggung pada pukul 13.00 wib yang diikuti oleh 397 peserta dan 12 peserta tidak  hadir. 

Panitia KPU Kabupaten Temanggung menuturkan bahwa setiap peserta diwajibkan mengikuti peraturan sesuai yang sudah ditetapkan, di antaranya membawa alat tulis  membawa kartu tes yang sudah dibagikan, E-KTP dan berpakaian bebas, rapi dan bersepatu, serta hadir 30 menit sebelum tes berlangsung.

Itma yusticia mengatakan bahwa dalam tes berlangsung peserta diwajibkan menonaktifkan ponsel (HP) dan menaruh barang bawaan diatas lantai kecuali alat yang diperlukan., lembar jawab diserahkan kepada pengawas.

Pihaknya menuturkan, mengikuti seleksi PPK karena ingin secara langsung mengaplikasikan ilmu yang ia dapat di kampus. Sebab, selama ini peran nyata mahasiswa harus ditampakkan dan dibuktikan nyata agar bisa dinikmati oleh masyarakat luas secara langsung.

"Antusias para peserta luar biasa mulai dari berbagai profesi seperti guru, pengusaha dan mahasiswa, termasuk saya," ujar dia. (HG60/HI).

Temanggung, Harianguru.com – Konsep Hubbul Wathan Minal Iman, menjadi induk dari nasionalisme yang diterapkan dalam pendidikan Islam di Indonesia. Hal itu diungkapkan Hamidulloh Ibda, dosen STAINU Temanggung dalam Seminar Ilmiah bertajuk “Pendidikan Karakter Bangsa” di aula STAINU Temanggung, Sabtu (21/10/2017) yang digelar Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengabian Masyarakat (LP3M) STAINU Temanggung, Jawa Tengah.

Dalam artikel bertajul “Konsep Hubbul Wathan Minal Iman dalam Pendidikan Islam sebagai Marwah Nasionalisme” itu, Ibda menegaskan bahwa selama ini banyak orang salah kaprah tentang konsep Hubbul Wathan.

“Ada yang mengatakan ini ayat Alquran, padahal ini rumusan kiai NU untuk membangkitkan spirit nasionalisme dalam melawan penjajah. Dalam artikel ini, saya membaginya ada tiga fase. Mulai sebelum, sesudah kemerdekaan dan era sekarang,” beber dia.

Ia juga membeberkan, bahwa urgensei penerapan Hubbul Wathan dalam pendidikan Islam adalah seratus persen. “Pertentangan antara nasionalisme dan spirit keagamaan makin kacau karena ditunggangi kepentingan politik. Ditambah benturan suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA) yang dimanfaatkan pihak-pihak tertentu. Adanya kelompok pengusung spirit negara Islam justru memperkeruh kondisi bangsa. Padahal memegang nasionalisme dan Pancasila sudah sangat islami dan bukan pula melenceng dari substansi Islam itu sendiri,” beber mantan Ketua IPNU tersebut.

Adanya kelompok radikal, lanjut dia, konservatif, kaku, yang ingin menegakkan khilafah, negara Islam dan sistem syariah.

“Kita juga harus melihat, bahwa Indonesia dengan Arab, Mesir, Yaman beda.  Di Nusantara ini, tidak ada yang urgen untuk mendirikan negara Islam, daulah islamiyah, Islamic state atau pun khilafah. Sebab, hukum Islam tidak bergantung pada adanya suatu negara, melainkan masyarakat dapat memberlakukan hukum agama dalam sebuah negara berbentuk apa saja. Dan Islam tidak harus menjadi sebuah negara, karena yang harus ditonjolkan seharusnya adalah nilai-nilainya, spirit dan substansinya,” beber dia.

Dalam sejarah Islam, menurut dia, nasionalisme tidak bisa lepas dari lahirnya Piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah) yang oleh para pakar politik Islam sekaliber Montgomery Watt pada 1988 dan Bernard Lewis pada 1994 yang dianggap sebagai embrio lahirnya negara nasional atau nation state dan menempatkan Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin negara dan tidak sekadar menjadi pemimpin agama.

“Pembentukan Piagam Madinah itu, tidak hanya dinikmati umat Islam, namun juga dari kaum Yahudi, Nasrani dan umat yang masih menyembah berhala. Jadi, faham nasionalisme itu sudah lahir sejak zaman nabi,” jelasnya.

Ia juga menyinggung sejarah lahirnya nasionalisme di Indonesia. "Dari artikel saya, ada tiga jenis nasionalisme, yaitu nasionalisme Islam, kebudayaan dan nasionalisme radikal. Salah satu pelopor nasionalisme kebudayaan adalah Budi Utomo (BU). Sementara organisasi yang mengusung nasionalisme berbasis pemurnian Islam, yaitu Syarikat Islam (SI) dulu bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Kemudian pada 4 Juli 1927 Bung Karno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang merupakan wadah nasionalisme modern yang radikal. Ideologi partai tersebut nasional radikal, yang dalam pandangan Bung Karno dianggap kekuatan bangsa Indonesia terletak pada Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme (NASAKOM).

“Setelah itu, diikuti kelahiran banyak organisasi, baik yang bercorak keagamaan, politik maupun kepemudaan, seperti Muhammadiyyah (18 November 1912), Nahdlatul Ulama (31 Januari 1926), Christelijke Ethische Partij (1916), Indiche Katholieke Partij (1918), Jong Java (1915), Jong Sumatera Bond (1917), dan lainnya. Lahirnya beraneka ragam organisasi itu dapat dikatakan nasionalisme sudah mulai tumbuh karena senasib sependeritaan, yang menginginkan bebas dari penjajahan Belanda, dan ingin mewujudkan cita-cita yaitu masa depan lebih baik, yang oleh Anderson disebut Imagined Political Community. Nasionalisme mencapai puncaknya saat dibentuknya BPUPKI pada 1 Maret 1945,” ujar dia.

Menurutnya, gagasan cinta tanah air, nasionalisme, yang dikemas dengan idiom Hubbul Wathan Minal Iman tidak pernah lepas dari peran ulama dan kiai Nusantara khususnya NU. “Secara bahasa, hub artinya cinta, wathan berarti tanah air (bangsa), minal iman berarti dari atau sebagian dari iman.

Konsep Hubbul Wathan Minal Iman yang digagas tahun 1934 oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah yang kemudian diabadikan dalam lagu Syubbanul Wathan adalah yang paling ideal dan justru menjadi induk nasionalisme. “Sebab, Hubbul Wathan Minal Iman itu lengkap, memuat unsur Islam, kebudayaan dan kebangsaan. Namun, mengapa kok pakai Bahasa Arab? Kalau versi Kiai Said, karena untuk mengecoh Belanda agar tidak tahu artinya saat penjajahan dulu,” ujar dia.

Selain itu, dalam artikelnya itu, ada beberapa peran NU dalam mengawal nasionalisme. Sebab, tanggal 22 Oktober 1945 yang diperingati sebagai Hari Santri Nasional, delapan minggu setelah Indonesia merdeka, terjadi perang di Surabaya. Untuk memobilisasi dukungan umat Islam, KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa untuk tetap mempertahankan NKRI.
“Pertama, Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus wajib dipertahankan. Kedua, Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dijaga dan ditolong.  Ketiga, musuh Republik Indonesia yaitu Belanda yang kembali ke Indonesia dengan bantuan Sekutu (Inggris) pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia.  Keempat, umat Islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan Belanda dan Sekutu yang ingin menjajah Indonesia kembali. Kelima, kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tinggal di radius 94 kilometer,” beber dia.

Tidak hanya dalam bentuk lagu, KH. Abdul Wahab Chasbullah juga mendirikan sekolah Islam bernama Nahdlatul Wathan untuk membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan umat Islam. Nahdlatul Wathan menjadi kawah candradimuka yang menggembleng pemuda Islam untuk belajar dan menggelorakan cinta tanah air dalam melawan penjajah.

“Gagasan Hubbul Wathan Minal Iman tidak bisa terlepas dari peran dan perjuangan KH. Abdul Wahab Chasbullah yang dikonsep dari spirit Islam dan kebangsaan. Dirumuskan dengan Bahasa Arab, tujuannya agar Belanda tidak mengetahui maknanya. Sebab, jika tahu maknanya, maka Belanda akan melawan kaum pesantren saat itu,” lanjut dia.

Untuk menggerakan spirit nasionalisme, kata dia, Syubbanul Wathan sebagai sayap Nahdlatul Wathan mendirikan sayap di sejumlah daerah. Seperti Madrasah Akhul Wathan (saudara setanah air) di Semarang, Far’ul Wathan (cabang tanah air) di Gresik dan Malang, Hidayatul Wathan (petunjuk tanah air) di Jombang dan Jagalan, Ahlul Wathan (warga tanah air) di Wonokromo dan Khitabul Wathan di Pacarkeling.

Ia juga menjelaskan penerapan Hubbul Wathan Minal Iman dalam pendidikan Islam yang bisa diterapkan melalui Pancasila, mapel Kewarganegaraan, PKn dan semua materi. “Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), ada 17 karakter yang dikuatkan. Nah, ada dua karakter yang senafas dengan Hubbul Wathan Minal Iman, yaitu semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Di sinilah yang harus dipahami bersama untuk mengimplementasikan Hubbul Wathan Minal Iman secara sederhana,” papar dia.

Karakter nasionalisme dan Hubbul Wathan Minal Iman yang didesain melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), lanjut dia, harus dimaksimalkan lembaga pendidikan Islam untuk mencetak generasi yang setia kepada Indonesia. “Hal itu menjadi cara strategis untuk menghalau lahirnya generasi antinasionalisme, faham dan aliran radikal yang mengancam keutuhan Indonesia. Nasionalisme memang bukan segalanya, namun keutuhan negara yang di dalamnya ada suku, bahasa, budaya dan agama berawal dari sana. Tanpa nasionalisme, Indonesia akan mudah dijajah dan dihancurkan,” tutur dia.


Sementara itu, Rhindra Puspitasari pemateri kedua yang juga dosen PIAUD STAINU Temanggung, membeberkan bahwa urgensi menerapkan Pancasila dalam PAUD atau TK sangat mendesak. Sebab, saat ini banyak pengaruh negatif, degradasi nilai dan moral anak, penyalahgunaan narkoba seks bebas dan lainnya.

“Di dalam Pancasila itu banyak karakter kebangsaan. Maka kita harus #MENEMPATKAN Pancasila sebagai dasar negara, menjadikan  bangsa Indonesia sudah menetapkan fondasi bagi setiap konten aspek kehidupan berbangsa dan bernegara,” beber dia yang membawakan materi dengan artikel bertajuk “Eksistensi Pancasila dalam Pendidikan Karakter Kebangsaan Melalui  Good Citizen Diary Activity Anak Salih (GCDA2S) Untuk Anak Usia Dini”.

Dari desain penelitian yang ia gagasa itu, ada beberapa hal yang dikonsep. Pertama adalah pembentukan karakter kebangsaan sebagai perwujudan dari eksistensi Pancasila melalui good citizen daity activity anak salih.

“Kedua, nilai-nilai Pancasila mampu menjadi jangkar transedental dalam pembentukan karakter kebangsaan, sedangkan good citizen dairy acivity anak salih dapat menjadi salah satu media pembiasaan anak usia dini dalam melakukan pembiasaan disiplin sholat dan pembiasaan lain yang positif. Dan Ketiga, salah satu kunci dari keberhasilan membentuk karakter kebangsaan pada anak usia dini adalah konsistensi, keteladanan dan ketelatenan orang tua maupun pendidik dalam menerapkan pembiasaan disiplin sholat pada anak dan pembiasaan lain yang positif,” papar dia dalam seminar yang dihadiri pejabat dan semua dosen STAINU Temanggung itu. (Red-HG33/Dloli).

Kudus, Harianguru.com - Hari ini anak-anak KB Al-Azhar Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus mengenakan baju ala pesantren, baju yang tak seperti biasanya mereka kenakan tiap sekolah, mereka memakai sarung dan peci, baju muslimah untuk anak perempuan, terlihat sejuk,anggun nan sedap dipandang mata dan hari ini mereka pula datang lebih awal dari biasanya.

Upacara yang biasanya dilakukan hari senin, kini, dalam menyambut hari santri yang tiap jatuh pada tanggal 22 Oktober tiap tahunya, mereka gelorakan pada hari ini, Sabtu pagi (21/10/2017).

Tampak semangat mengibarkan sang merah-putih dan menyanyikan lagu kebangsaan di depan halaman sekolahan mereka yang berada di Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.

Selain agenda apel, mereka juga melakukan kirab keliling kampung (area dekat dengan sekolahan), mereka berjalan kaki berurutan sambil melafadzkan shalawat nariyah.

Anak-anak KB Al-Azhar juga membawa berbagai bentuk tulisan yang memberikan motivasi, seperti aku bangga menjadi santri Al-Azhar, yuk kita membaca Al-qur'an, jadilah santri yang berwawasan kebangsaan dan religius, santri cermin islam nusantara.

Selain itu, mereka juga membawa potongan huruf bilamana jika digabung tulisanya ialah 'Santri Al-Azhar'.

Nurul ahla mengatakan,"pengenalan kebangsaan memang harus sejak dini, sekaligus memberikan wawasan terhadap mereka, santri dan kiai yang juga turut mengusir para penjajah dari Indonesia,"ujarnya.

"Dan alhamdulillah, mereka antusias menyambut HSN(Hari Santri Nasional),"jelasnya. (Red-HG33/Fakh).

Temanggung, Harianguru.com - Perhetalan Pameran Kopi Temanggung tahun ini menjadi ajang promosi kopi lokal berkualitas internasional asli Indonesia. Hal itu terbukti dalam Pameran Kopi Temanggung jilid 3 yang digelar di Temanggung, Jawa Tengah yang digawangi oleh  Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kabupaten Temanggung yang digelar mulai 20 sampai 22 Oktober 2017.

Dalam kesempatan ini, mahasiswa maupun alumni STAINU Temanggung banyak mengambil peran dalam menyukseskan Pameran Kopi Temanggung jilid 3 yang digelar di halaman Gedung Pemuda Temanggung itu.

Hamam Nashiruddin Ketua Panitia Pameran Kopi, mengatakan bahwa kebanayak panitia didominasi mahasiswa dan alumni STAINU Temanggung.

"Rata-rata panitia festival kopi 3 adalah mahasiswa STAINU Temanggung," bener Hamam Nashiruddin yang juga mahasiswa STAINU Temanggung itu, Minggu (22/10/2017).

Ia menegaskan bahwa banyak sekali peran mahasiswa STAINU dalam mengawal kegiatan di Temanggung. "Tugas mahasiswa adalah agen perubahan sosial. Teman-teman PMII di sini prihatin dengan kehidupan petani kopi. Nah maka HIPMI menggandeng PMII untuk meningkatkan kualitas petani kopi," beber aktivis PMII tersebut.


Kepanitiaan di sini, kata dia, benar-benar tugas sosial karena tidak dibayar apa pun. "Sejak festival kopi di Temanggung dari jilid 1 - 3 ini, minat masyarakat terhadap kopi semakin meningkat. Untuk level internasional. Sudah sampai ke SCAA atau kontes kopi yg diselenggarakan di Atlanta," ujar dia.


Tahun ini, kata dia, Temanggung alhamdulillah menjad juara kontes kopi internasional di Jakarta kategori Robusta.

Sementara itu, salah satu peserta lain, Aris Zaenal Amin mengatakan kegiatan pameran kopi sangat mendukung petani kopi di wilayah Temanggung. Alumnus STAINU Temanggung ini juga berharap, ke depan bisa mendongkrak perekonomian terutama kaum muda di Temanggung.


Festival ini cukup menginspirasi bagi peserta. "Terutama pengusaha kopi seperti saya, dari segi ilmu dan prospek ke depan," beber Aris Zaenal Amin

Kebanyakan, para juri adalah yang menjadi juri di Kontes Kopi Internasional di Jakarta beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan pameran itu, hadir juga Ardi juri dari HIPMI Temanggung dan ratusan pengunjung dari berbagai kalangan.

Sesuai rencana, Pemerintah Kabupaten Temanggung juga akan bekerjasama dengan Perhutani melalui lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) untuk mengembangkan kopi di kawasan hutan di lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prahu.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung juga menyebutkan luas areal tanaman kopi arabika di Kabupaten Temanggung sekitar 1.800 hektare dan tanaman kopi robusta mencapai 11.000 hektare. Akan tetapi, Dinas Pertaian dan Ketahanan Pangan Temanggung menyebut produktivitas kopi rata-rata lima ton per hektare.

Selama ini, permintaan kopi arabika tinggi, namun luas lahannya terbatas sehingga produksinya kurang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menambah luasan lahan bekerja sama dengan Perhutani.

Dalam Festival Kopi Temanggung 3 itu, ada kegiatan sarasehan dan anjangsana kopi, klinik kopi, demo barista lokal dan nasional, stand-stand kopo terbaik dari Temanggung, lomba cita rasa kopi, lomba barista, lomba latte art, lalu lomba pertunjukan seni, hipnoptis, juga musik angklung live, pameran UMKM unggulan dan produk kreatif asli Temanggung. (Red-HG99/ibda).

Suasana penampilan grup rebana di kampus STAINU Temanggung, Jumat (20/10/2017).
Temanggung, Harianguru.com – Perhelatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2017 ini, kampus STAINU Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (20/10/2017) dipenuhi rebana dari berbagai daerah.

Sedikitnya, selain dari Temanggung sendiri, ada 30 grup rebana yang berpartisipasi dari Kota Salatiga, Kabupaten Purworejo, Wonosobo, Magelang dan juga Jogjakarta.

Perhelatan Festival Al-Banjari itu disambut antusias oleh masyarakat. Dilihat dengan banyaknya grup yang mendaftar membuat warga setempat berbondong-bondong ke STAINU Temanggung.

Dalam Festival Rebana Al Banjari itu, dari laporan Ketua Panitia Podo Mukhsin, ada beberapa juri yang didapuk menilai para peserta dari beberapa aspek.

Mulai dari Sam'ani, Pelatih Rebana Senior yang menilai aspek ketukan rebana, Fauzan, Vokalis Grup Rebana Panji Kinasih dari aspek lagu, dan Sholahudin, KUA Bejen dari aspek vokal dan Budianto S.HI, KUA Kedu dari sisi penampilan.

Menurutu Podo Mukhsin, kegiatan yang dihelat PCNU Temanggung itu dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang digelar di kampus STAINU Temanggung.

Selain Festival Rebana Al-Banjari, PCNU Temanggung juga akan merayakan puncak acara HSN dengan Upacara Apel Akbar Hari Santri pada Minggu 22 Oktober 2017 di Gedung Pemuda Temanggung yang direncanakan akan diikuti ribuan santri, murid madin, dan dari LP Maarif dan juga STAINU Temanggung.

Sampai berita ini ditulis, festival masih berlangsung karena dijadwalkan sampai pagi. (TB44/Dama).

Suasana konferensi pers Menristekdikti Mohamad Nasir di Bandung, Minggu (15/10/2017).
Bandung, Harianguru.com - Secara resmi, ada 25 daftar nama-nama perguruan tinggi swasta atau kampus swasta ditutup operseionalnya oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti).

Baca juga: Ini Daftar 243 Kampus yang Tak Bisa Ikut Tes CPNS 2016 -2017

Kemenristekdikti, secata resmi telah memberhentikan operasional 25 perguruan tinggi swasta di seluruh Indonesia karena sudah tidak memenuhi ketentuan pendirian perguruan tinggi.

"Sebanyak 127 perguruan tinggi yang sekarang sedang kami lakukan, sebanyak 25 PTS di antaranya sudah kami berhentikan," kata Menristekdikti Mohamad Nasir di Bandung, Minggu (15/10/2017).

Ia mengatakan bahwa pihaknya sedang memilah di antara 102 perguruan tinggi terkait dengan pemberhentian operasional. Bahkan, ada beberapa yang tinggal menunggu SK.

Menurut dia, penutupan itu berdasarkan beberapa faktor, seperti tidak bisa mengelola perguruan tinggi dengan baik, sudah tidak ada mahasiswa, dan terakhir terdapat kecurangan-kecurangan saat pelaksanaan operasional kampus.

Sebelum menutup, pihak Kemenristekdikti sempat memberikan teguran agar perguruan tinggi yang bermasalah segera memperbaiki kinerja. Akan tetapi, beberapa di antaranya mengabaikan peringatan tersebut sehingga pemerintah terpaksa menutupnya.

"Kalau itu dilakukan proses pembelajaran enggak benar harus kami peringatkan. Kalau sudah diperingatkan berkali-kali dan tidak dijalankan, mereka tidak bisa lagi diperbaiki. Ini harus dihentikan," katanya.

Ia menjelaskan bahwa kehadiran perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, sudah sepatutnya mencetak lulusan-lulusan terbaik. Hal ini untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan mampu bersaing di pasar global.

Dengan penutupan perguruan tinggi yang bermasalah, kata dia, semata-mata untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia yang harus mengejar ketertinggalan dengan negara tetangga.

"Mutu pendidikan tinggi harus kita tingkatkan, jangan sampai kita meluluskan lulusan abal-abal. Akan tetapi, harus meluluskan lulusan yang terbaik," katanya.

Di sisi lain, salah satu upaya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan yakni dengan mendorong penggabungan kampus-kampus yang masih dalam satu yayasan. Berdasarkan catatan dari Kemenristekdikti, sekitar 500 kampus yang akan melakukan merger.

"Kami dorong perguruan tinggi ke depan makin kuat. Mereka sendiri yang ingin merger. Saya sendiri akan fasilitasi," katanya.

Berdasarkan data Kemristekdikti, berikut 25 PTS yang diberhentikan operasionalnya:
Akademi Keperawatan Jayapura
STIKES Majapahit Singaraja
STKIP Indonesia Kupang
Sekolah Tinggi Teknologi dan Kejuruan Gianyar, Bali
Sekolah Tinggi Ilmu Teknologi Kelautan Nusantara, Kupang

Akademi Teknik Bima, NTB
Universitas PGRI Nusa Tenggara Timur, Kupang
Universitas Cakrawala, Madiun
Universitas Tritunggal, Surabaya
Akademi Sekretaris Manajemen Lancang Kuning

Akademi Teknologi Lorena, Medan
Akademi Seni Rupa dan Desan Akseri, Yogyakarta
Akademi Teknologi Otomotif Nasional, Yogyakarta
Akademi Sekretari dan Manajemen Indonesia, Bantul
Akademi Keuangan dan Perbankan YIPK, Yogyakarta

Akademi Kesejahteraan Sosial Tarakanita, Yogyakarta
Sekolah Tinggu Ilmu Ekonomi Adhy Niaga, Provinsi Jawa Barat
Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Cakrawala, Bogor
Akademi Sekretari ISWI, Jakarta
Sekolah Tinggi Manajemen Industri Indonesia, Jakarta

Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Yapann, Jakarta
Akademi Akuntansi Bentara Indonesia, Jakarta
STKIP Suluh Bangsa, Tangerang Selatan
STISIP Pusaka Nusantara, Jakarta
Universitas Preston Indonesia, Medan


Tema           Aplikasi Teknologi Penyelamat Lingkungan
Subtema :

1.       Inovasi Energi Terbarukan
2.       Pemanfaatan Energi Terbuang
3.       Inovasi Energi Ramah Lingkungan
4.       Pemanfaatan dan Teknologi Pengelolaan Limbah Lingkungan
5.       Aplikasi Teknologi Organisme sebagai Bioindikator

DESKRIPSI KEGIATAN
Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat SMA se-Jawa Timur dalam rangka BEC 2017 ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa SMA dalam melakukan penelitian ilmiah sederhana atau menuangkan pemikiran dan gagasan terkait aplikasi teknologi penyelamat lingkungan. Jumlah peserta yang mewakili satu sekolah tidak dibatasi. Kegiatan terdiri dari penulisan Karya Tulis Ilmiah sesuai dengan format dan struktur penulisan yang ditetapkan panitia BEC 2017. Karya Tulis Ilmiah tersebut setelah diterima panitia, akan melalui seleksi meja (desk evaluation) oleh reviewer yang kompeten. Sebanyak 6 finalis dari hasil evaluasi meja akan dipanggil untuk mempresentasikan Karya Tulis Ilmiahnya di depan dewan juri.
KETENTUAN PESERTA
1.       Peserta adalah siswa SMA/MA sederajat seluruh Jawa Timur yang masih berstatus aktif.
2.       Peserta dapat berkelompok yang terdiri dari 3 orang.
3.       Setiap karya peserta harus mendapat bimbingan oleh minimal satu orang guru pembimbing. Setiap guru pembimbing diperkenankan menjadi pembimbing lebih dari satu kelompok peserta Lomba Karya Tulis Ilmiah BEC 2017 Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Malang (Unisma).

CARA PENDAFTARAN
1.       Mengisi                formulir                pendaftaran       yang      dapat    diunduh (download)      di bec2017unisma.blogspot.com dan dikirim via email ke bec2017.fmipaunisma@gmail.com
2.       Membayar biaya pendaftaran dan mengirimkan bukti pembayaran via CP yang telah ditentukan.
3.       Biaya pendaftaran adalah sebesar Rp 150.000,00 untuk setiap tim yang disetorkan ke akun rekening panitia Bio Event Competition 2017. Dengan format pengisian slip “PEMBAYARAN LKTI BEC 2017 FMIPA UNISMA
a.n. DINDA ROHADATUL AISYI
no. Rekening 1800-865-847
Bank BCA
4.       Konfirmasi  pendaftaran  dan  pembayaran  dengan  menghubungi  panitia:  Dinda Rohadatul Aisyi (082232866077).
TIMELINE KEGIATAN
Step 1 : pendaftaran (22 juli-22 oktober 2017)
Step 2 : pengumpulan karya ( terakhir 22 oktober 2017 )
Step 3 : penilaian (22-27 oktober 2017)
Step 4 : pengumuman karya (28 oktober 2017)

Step 5 : presentasi (4 november 2017)

HADIAH
Enam besar finalis terpilih akan diundang untuk mempresentasikan karyanya di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Malang. Semua peserta yang mendaftar akan mendapatkan sertifikat. Hadiah Pemenang setiap peserta yang dinyatakan lolos sebagai 6 (enam) besar finalis akan mendapatkan sertifikat, souvenir dan uang tunai. Finalis yang ditetapkan sebagai Juara I, Juara II dan Juara III akan mendapatkan Sertifikat, Souvenir, Trofi Juara, dan Uang Tunai jutaan rupiah.

LET JOIN US!!! update terus info terbaru kami!
Fan page: Bio Event Competition 2017

--------------------
Cp: Dinda rohadatul aisyi ( 082232866077)
       Rodhiyatul maghfiroh (085746950940)

Nurul Friskadewi dosen mata kuliah Antropologi  Budaya Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) STAINU Temanggung
Temanggung, Harianguru.com – Di sela-sela kegiatannya belajar mengikuti Program Sandwich ke Austria,  Nurul Friskadewi dosen mata kuliah Antropologi  Budaya Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) STAINU Temanggung, Jawa Tengah berkesempatan mempromosikan budaya dan keunikan Indonesia di negeri tersebut.

Mahasiswi doktoral UGM Yogyakarta yang juga lolos Program 5000 Doktor Kemenag berkesempatan mengikuti Program Sandwich di Austria tersebut direncanakan akan berlangsung selaam empat bulan.

“As we know, Austria merupakan tempat nomor 1 di dunia yang paling nyaman, oleh karenanya banyak pendatang sebagai student, refugees, atau memang menikah dengan orang Austria sendiri,” ujar dia saat dihubungi melalui telepon seluler, Jumat (20/10/2017).

Meskipun banyak perbedaan, kata dia, tetapi tetap tertib, teratur, orang-orang ramah, dan tidak saling menghujat misalnya orang yang berkulit putih seperti dari orang Austria sendiri, Jerman dibandingkan dengan orang Nigeria, dan lainnya.

“Orang yang berjilbab seperti saya menjadi minoritas dan tetap dihargai. Di sisi lain, saya membawa nama Indonesia yang pasti orang-orang banyak yang ingin tahu mengenai Indonesia.

Dalam beberapa hal yang saya alami Indonesia hampir tidak diketahui. Orang mengenal saya sebagai orang Filipina, atau Pakistan. Dalam beberapa pertanyaan orang mereka lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Dengan dua posisi saya tersebut, setidaknya saya merefleksikan diri saya sendiri, bahwa pada saat ini berhubungan dengan dunia luar sudah tidak terelakkan lagi,” jelasnya.

Ia juga membeberkan, meski tempat tersebut bukan bangsanya sendiri namun ia menganggap sudah seperti negerinya sendiri. “Saya mencoba melihat bangsa lain dan saat itu juga saya melihat bangsa sendiri. Latar sejarah, kultur, sosial yang membuat berbeda. Tetapi ada yang lebih penting bagi saya yaitu pendidikan,” ujar dia.

Di luar program kerjasama, lanjut dia, saya mengikuti kegiatan WAPENA (Warga Pengajian Indonesia di Austria). “Saat ini saya sedang mempersiapkan acara Muslime aus Fernost yang bertemakan Einheit in der Vielfalt pada tanggal 21 Oktober 2017 di Kudlichgasse 3/5, 1100 Wien. Tema dari acara ini adalah berbeda-beda tapi satu, di mana mengenalkan Islam di Indonesia dengan melihat penyebaran agama Islam melalui budaya yang akan ditampilkan dengan pencak silat, gamelan, wayang, qasidah, pameran photography, makanan khas Indonesia dan lainnya,” beber dia.

Dalam berbagai sekolah kinder dan perbincangan bersama orangtua anak, kata dia, saya melihat pola pendidikan di sini setidaknya memberikan pesan moral bagi saya  bahwa pendidikan senantiasa memberikan efek positif karena dari kecil ditanamkan pendidikan mengenai bagaimana memuji orang lain, bagaimana menghargai orang lain, bagaimana mengantri, bagaimana memberikan kesempatan bagi orang lain untuk duduk ketika berada di tram, bagaimana peduli dengan orang lain, bagaimana mendahulukan orang tua dalam berbagai pelayanan, bagaimana secara bersama-sama menjadikan bangsa yang maju, bukan maju untuk mengalahkan yang lain.

“Perbedaan menjadi colourfull of life bukan menjadi sumber konflik,” beber dia.

Sesuai rencana, program yang sudah berjalan sejak 1 Oktober 2017 itu nanti akan berakhir sampai 31 Januari 2018 mendatang. Ia juga membeberkan, bahwa melalui program itu, jika hanya dari aspek pengalaman akademis saja tidak cukup. Sebab, melalui pertukaran di satu sisi, kata dia, saya melihat banyak hal baru, di mana memberikan pengertian kepada saya  mengenai perbedaan. (HG33).

Baca juga: Lewat Program Sandwich ke Austria, Dosen STAINU Temanggung Bawa Nama Harum Indonesia

Nurul Friskawati Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) STAINU Temanggung saat di Austria
Temanggung, Harianguru.com – Selama ini, masih jarang orang Indonesia yang berkesempatan mengikuti Program Sandwich ke luar negeri. Namun Nurul Friskadewi, mahasiswi doktoral UGM Yogyakarta yang juga lolos Program 5000 Doktor Kemenag berkesempatan mengikuti Program Sandwich ke Austria.

Baca juga: Alumnus STAINU Temanggung Lolos Beasiswa 5000 Doktor

Dosen yang mengampu mata kuliah Antropologi  Budaya Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) STAINU Temanggung itu berkesempatan mewakili Indonesia ke Austria untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui program tersebut.

“UGM memiliki kerjasama dengan universitas di berbagai belahan dunia, salah satunya University of Vienna. Pada tahun ini, jurusan anthropology mengirim mahasiswa ke Jerman, Belanda, Norwegia, Austria, maupun daerah Eropa lain. Untuk program doctoral degree, kebetulan kami ada program student exchange di Wina,” ujar Nurul Friskawati saat dihubungi harianguru.com melalui telepon selulernya, Jumat (20/10/2017).

Baca juga: Doktorisasi, Wujud Nyata Perkuat Kualitas Kampus

Kami, lanjut dia, se kelas diwajibkan mengirimkan proposal dan kemudian pihak Vienna University yang menentukan siapa yang di-approve. “Setelah pengumuman, kebetulan kami berdua yang dipilih. Setelah itu, atas persetujuan Kaprodi dan Kepala Kantor Urusan Internasional UGM dan lampiran proposal kami mengajukan support dari Erasmus International Mobility,” ujar dia.

Kerjasama antara UGM dan Uni-Wien, menurut dia, merupakan program pertukaran mahasiswa dan dosen yang bertujuan untuk memperdalam saling pengertian antar bangsa dalam perspektif antropologi.

Ditanya lama pelaksanaan program itu, ia menjelaskan kurang lebih sampai empat bulan. “Officially 4 bulan, terhitung 1 Oktober 2017 sampai 31 Januari 2018. Tapi kami harus berada di sana dua minggu sebelum mulai untuk melakukan orientasi di kampus,” lanjut dia.

Ia juga membeberkan, ada sejumlah kegiatan yang dilakukan di Austria tersebut. “Sesuai program kerjasama, kami mengikuti lecture Religion and New/Social Media: (digital) Anthropological Approaches dan University in Diversity. Selain itu juga mengikuti kursus bahasa Jerman, serta  melakukan riset pustaka,” imbuh dia.

Dalam kesempatan khusus, kata dia, saya berkesempatan untuk present mengenai Art and Craft in Yogyakarta, mengenai tulisan Martin Slama yaitu A Subtle Economy of Time: Social Media and The Transformation of Indonesia’s Islamic Preacher Economy.

“Selain itu juga menjadi discussant mengenai tulisan Patrick Eisenlohr yaitu As Makkah is Sweet and Beloved, So is Madina: Islam, Devotional Genres, and Electronic Mediation in Mauritius, dan tulisan Birgit Meyer mengenai Religion Sensations: Aesthetics, and Power Matter in the Study of Contemporary Religion,” ujar dia.

Selain itu, kata dia, saya juga mengikuti berbagai seminar maupun kunjungan ke berbagai museum antropology.


Selain itu juga, lanjut dia, saya mengikuti kegiatan di NUU Galeri seperti konser music dari berbagai belahan dunia, dan Lazy Sunday yang di dalamnya saya berperan memperkenalkan budaya Indonesia melalui seni tari, cuisine, dan lainnya.

Usai mengikuti program ini, ia memiliki harapan terkait kelanjutkan kerjasama itu. “Karena saya didelegasikan officially dari UGM besar harapan saya agar program ini berkelanjutan, dan berkembang dalam hal lain. Karena pengalaman akademis saja tidak cukup. Melalui pertukaran di satu sisi saya melihat banyak hal baru, di mana memberikan pengertian kepada saya  mengenai perbedaan,” harapnya. (HG33/Hms).

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget