Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Happy Performing; “Belajar Sambil Melawak”

Ilustrasi
Oleh Husna Nashihin, M.Pd.I.
Penulis Merupakan Dosen Prodi PIAUD STAINU Temanggung

Metode pembelajaran efektif dan menyenangkan di sekolah selama ini dinilai “mahal”. Padahal, ada konsep atau metode pembelajaran yang murah dan bisa dikembangkan guru.  Salah satunya dengan mengkomparasikan hasil studi literasi dengan realitas empiris di lapangan, berupa happy performing (pertunjukan menyenangkan). Bahkan konsep ini mampu mengubah persepsi pembelajaran yang membosankan menjadi menyenangkan atau bisa dibahasakan “melawak sambil belajar”.

Hasil studi ini mampu menemukan sebuah konsep atau desain pembelajaran baru yang tidak lagi menguras waktu, biaya, dan tenaga seorang guru. Metode happy performing menjadi salah satu metode pembelajaran yang urgent untuk dikembangkan dan dikaji karena fleksibilitasnya yang bisa berkolaborasi dengan semua mata pelajaran dan pada semua tingkatan usia di sekolah dasar.

Secara substansial, happy performing mengandung makna pembelajaran harus menyenangkan bagi siswa. Selanjutnya, pembelajaran yang menyenangkan akan mampu membangkitkan motivasi belajar siswa. Motivasi belajar saat ini menjadi hal penting yang sering “disepelekan” oleh guru, sehingga seringkali guru tidak berusaha membangkitkan motivasi belajar siswa pada saat proses pembelajaran sudah dirasa menjenuhkan bagi siswa. Hal ini disebabkan karena faktor pengetahuan dan ketrampilan guru yang minim akan variasi metode pembelajaran yang efektif. Pemaparan mengenai implementasi happy performing dalam pembelajaran tingkat sekolah dasar ini akan menjadi jawaban atas kesulitan yang dihadapi guru tersebut.

Urgensi happy performing ini terletak pada pentingnya mendesain konsep pembelajaran yang aktif, efektif, dan menyenangkan bagi siswa. Kolaborasi ini sangat tergantung kreatifitas guru yang bersangkutan, semakin kreatif, maka konsep kolaborasi happy performing akan mampu menjadikan desain pembelajaran yang saling mendukung dalam membangkitkan motivasi belajar serta penyampaian materi (transfer of knowledge). Goal nya, tujuan pembelajaran yang dilaksanakan dapat tercapai secara maksimal dan tuntas sebagaimana konsep pembelajaran tuntas (mastery learning).

Happy performing dalam konteks pembelajaran di Indonesia dapat diartikan sebagai metode pertunjukan yang menyenangkan. Lebih jauh, metode ini memberikan kebebasan kreatifitas guru untuk mendesain pertunjukan yang menyenangkan bagi siswa, meskipun pertunjukanya bisa sangat sederhana karena mempertimbangkan keterbatasan watu pembelajaran. Metode ini merupakan inovasi baru yang muncul dari pengembangan (development) metode pembelajaran aktif yang selama ini dalam prakteknya hanya menekankan aspek keaktifan fisik maupun daya berfikir siswa, sehingga motivasi belajar yang lemah akibat dari kejenuhan belajar siswa terabaikan. Happy performing bisa menjadi metode partner atau variasi bagi metode pembelajaran aktif lainnya yang sangat simple (sederhana) dan mudah diterapkan oleh guru.


Secara empiris, penulis akan menyajikan hasil analisis implementasi metode happy performing berdasarkan pengalamanya menjadi guru sekolah dasar selama 2 tahun di wilayah Yogyakarta pada dua sekolah dasar yang berbeda. Studi literasi yang divalidasi secara empiris pada tulisan ini akan menghasilkan konsep strategi atau penggabungan metode pembelajaran yang baru bagi dunia pendidikan, khususnya sekolah dasar. Selain itu, pengembangan happy performing sangat selaras dengan pencanangan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang dimotori oleh perkumpulan mahasiswa Indonesia yang berada di Australia.

Dalam prakteknya, sebagaimana hasil observasi pada situs www.sekolahmenyenangkan.org, Gerakan sekolah menyenangkan (GSM) saat ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari implementasi Kurikulum 2013 (Kurtilas) di sekolah dasar. Kurikulum 2013 (Kurtilas) merupakan kurikulum resmi yang hendaknya diterapkan pada semua jenjang pendidikan di Indonesia, meskipun saat ini masih dalam proses transformasi. Berdasarkan hasil observasi, dalam website tersebut banyak sekolah yang sudah menerapkan kurikulum 2013 bergabung menjadi anggota Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang antara satu sekolah dengan yang lainnya saling bertukar pengalaman dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 dengan konsep GSM mereka dengan mengupload video atau konsep pembelajaran terkait..

Happy performing dalam implementasinya bisa dikolaborasikan secara fleksibel dengan semua metode pembelajaran, seperti, diskusi kelompok, kuis, gallery of learning, dan lain sebagainya. Happy performing dalam pembelajaran bisa diterapkan melalui dua cara, yaitu; pertama, memiliki korelasi dengan konten, dan kedua, tidak memiliki korelasi dengan konten. Kedua cara ini bisa digunakan secara bersamaan dalam pembelajaran.

Happy performing yang penerapannya memiliki korelasi dengan konten mata pelajaran harus bisa mendukung penyampaian pengetahuan (transfer of knowledge) secara menyenangkan, sedangkan happy performing yang penerapannya tidak memiliki korelasi dengan konten mata pelajaran, maka tidak harus dijadikan sebagai pendukung penyampaian pengetahuan (transfer of knowledge). Metode ini mampu menjadikan implementasi metode lain dalam pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan, meskipun ketika happy performing dalam penerapannya tidak memiliki korelasi dengan konten mata pelajaran. Fleksibilitas ini menjadikan happy performing sangat mudah diterapkan dalam pembelajaran sehingga pembelajaran bisa menjadi efektif dan menyenangkan.

Skema implementasi metode happy performing memiliki hubungan secara langsung dan tidak langsung dengan konten mata pelajaran dan metode pembelajaran yang lainnya. Metode ini dapat berkolaborasi dengan metode pembelajaran lain yang digunakan oleh guru, baik happy performing berhubungan secara langsung ataupun berhubungan dengan tidak langsung dengan konten mata pelajaran yang akan diajarkan. Happy performing yang berhubungan secara langsung dengan konten mata pelajaran mengandung arti bahwa pertunjukan yang ditampilkan oleh siswa memiliki daya dukung terhadap menyampaian materi pelajaran (transfer of knowledge).

Adapun happy performing yang berhubungan tidak langsung dengan konten mata pelajaran mengandung arti bahwa pertunjukan yang ditampilkan oleh siswa dapat membangkitkan motivasi belajar mereka, sehingga secara tidak langsung akan sangat mendukung proses penyampaian materi pelajaran (transfer of knowledge). Untuk itu, dalam implementasinya, happy performing tidak harus selalu menkankan pada pertunjukan dari siswa yang berhubungan dengan konten mata pelajaran, justru harus divariasi dengan pertunjukan yang tidak berhubungan dengan konten mata pelajaran, selama hal ini mampu menjadikan siswa senang selama proses pembelajaran. Kolaborasi metode yang seperti ini akan menjadikan pembelajaran efektif dan menyenangkan yang selanjutnya akan bisa mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran secara maksimal.

Guna mempermudah simulasi implementasi happy performing dalam pembelajaran, maka berikut beberapa contoh implementasi happy performing dalam pembelajaran; Kolaborasi happy performing dengan metode diskusi kelompok; langkah pertama, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Langkah kedua, siswa diminta membuat nama kelompoknya masing-masing. Nama kelompok bisa berhubungan (mendukung) dengan konten mata pelajaran yang akan disampaikan atau bertema bebas. Langkah ketiga, happy performing nya dilaksanakan dengan penugasan membuat yel-yel, puisi, pantun jenaka, atau lagu dengan mewajibkan mereka menggunakan nama kelompok tersebut.

Langkah keempat, setiap kelompok harus menampilkan (perform) hasil karyanya. Contohnya; nama kelompok Bagong, maka ketika mereka diminta membuat puisi dengan ketentuan wajib menggunakan kata bagong pada setiap baitnya, seperti bait berikut; “bagong oh bagong, engkau sungguh gendut dan bulet” dan seterusnya. Hal ini akan menjadikan mereka senang (happy) ketika menampilkanya di depan kelas sebelum menyampaikan hasil diskusi, meskipun judul puisi yang ditampilkan tidak berhungan secara langsung dengan konten mata pelajaran. Hal yang patut diperhatikan lainnya bahwa penampilan happy performing juga harus menjadi aspek penilaian juga, supaya siswa mendapat penghargaan atas kreatifitas mereka.

Fleksibilitas kolaborasi happy performing dengan metode pembelajaran lainnya membutuhkan kreatifitas tinggi dari guru sebagai pendesain pembelajaran. Selain contoh di atas, sebenarnya masih banyak lagi contoh desain happy performing yang dikolaborasikan dengan metode pembelajaran aktif lainnya. Bahkan, kolaborasi happy performing dengan metode pembelajaran aktif lainnya bagi anak kelas 1 tingkat sekolah dasar juga sangat mudah dan sederhana untuk diterapkan. Secara empiris, dalam pembelajaran kelas 1 sekolah dasar pernah diterapkan metode kuis yang dikolaborasikan dengan happy performing.

Langkah pertama, guru membagi siswa menjadi empat kelompok besar (situasional).  Langkah kedua, setiap kelompok diminta membuat nama kelompok bebas dan membuat yel yel yang menggunakan nama kelompok itu (situasional; guru bisa membuatkan yel yel, siswa hanya membaca bersama-sama). Langkah ketiga, sebelum memulai kuis setiap kelompok diminta menampilkan yel yel di depan kelas. Langkah keempat, guru memberikan penghargaan atas yel yel yang telah ditampilkan dengan pemberian skor pada setiap kelompok.

Akhirnya, sudut pandang mengenai mudah atau sulitnya mengimplementasikan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan dapat terjawab dengan konsep kolaborasi happy performing pada setiap implementasi metode pembelajaran aktif lainnya. (*)


Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget