Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

November 2017

Suasana Pelatihan Penyusunan Borang Akreditasi Perguruan Tinggi yang dihelat Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta Kopertais (FKPTKIS) Wilayah X Jawa Tengah di Hotel Puri Garden Semarang, pada 29-30 November 2017.
Semarang, Harianguru.com – Dalam rangka meningkatkan mutu akademik, STAINU Temanggung mengirim empat (4) perwakilan dalam agenda Pelatihan Penyusunan Borang Akreditasi Perguruan Tinggi yang dihelat Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta Kopertais (FKPTKIS) Wilayah X Jawa Tengah di Hotel Puri Garden Semarang, pada 29-30 November 2017.

Baca juga: Inilah 243 Kampus yang Lulusannya Tak Bisa Daftar CPNS

Mereka adalah Ketua STAINU Temanggung Drs. H. Muh Baehaqi, MM., Sekretaris Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Sigit Tri Utomo, M.Pd.I, Ketua Prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) M.Ridho Muttaqin, M.Pd.I, dan perwakilan akademik STAINU Temanggung Haryatun.  Dalam kesempatan itu, hadir  51 peserta perwakilan PTKI se Jawa Tengah.

Prof Dr Adiwijaya SSi MSi dari BAN PT saat menyampaikan materi, menegaskan bahwa semua perguruan tinggi di Indonesia harus terakreditasi, baik akreditasi institusi mapun prodi. “Mau tidak mau, tahun 2018 seluruh  PT di Indonesia harus terkadreditasi baik institusi maupun prodi. Hal ini penting karena jika tidak terakreditasi, tidak bisa meluluskan mahasiswa,” kata alumni PPs Institut Teknologi Bandung tersebut.

Ia menjelaskan, perguruan tinggi juga harus bisa melaksanakan akreditasi berbasis SAPTO. 

“Sistem akreditasi menggunakan SAPTO yaitu Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi Online. Hal ini memudahkan untuk merekam semua dokumen terkait 7 standar. Deadline-nya adalah Agustus 2018, jika setelah itu maka akreditasi akan ditambah menjadi 9 standar,” tegas guru besar Telkom University tersebut di hadapan peserta pelatihan.

Sementara untuk 7 standar tersebut berupa visi misi, tata pamong kepemimpinan penjaminan mutu, mahasiswa lulusan, sumber daya alam, kurikulum pembelajaran, pembiayaan dan sarpras, serta penelitan dan masyarakat kerjasama. “Adapun kelemahan selama ini yang dialami perguruan tinggi seperti  pada standar 2, 4 dan 7,” tukas guru besar Matematika tersebut.

Dalam hal ini, STAINU Temanggung mengirim empat wakil. “Ada Pak Ketua STAINU Temanggung, Kaprodi MPI, Sekprodi MPI, dan Operator Akademik,” kata Sigit Tri Utomo yang juga Sekprodi PAI STAINU Temanggung.

Acara tersebut, dimulai Rabu (29/11/2017) pukul 14.00 WIB mulai dari presensi dan chekcking kamar, kemudian bimbingan dan arahan yang dihadiri oleh Prof. Dr. Muhibbin, M.Ag, Koordinator FKPTKIS Wilayah X Jawa Tengah yang juga Rektor UIN Walisongo dan akan berakhir pada Kamis (30/11/2017).  Adapun yang menjadi pemateri didatangkan dari BAN PT yang juga guru Besar Matematika Telkom University, Prof. Adi Wijaya, MSi.

Pihaknya bersama perwakilan yang lain berharap, kegiatan itu menjadi langkah untuk menggenjot mutu dan kualitas STAINU Temanggung karena tahun 2018 mendatang akan melakukan akreditasi. (hg22/hi).

Temanggung, Harianguru.com - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) merupakan wadah pengembangan bakat di setiap perguruan tinggi. Salah satu UKM yang banyak diminati adalah UKM Olahraga. Oleh karena itu, STAINU Temanggung merespon hal itu dan menjadi sejarah dengan mendirikan UKM Olahraga yang diketuai oleh Usman Mafrukhin dan puluhan koleganya.

Hal itu dibuktikan dengan Peresmian dan Tasyakuran UKM Olahraga STAINU Temanggung pada Rabu, 29 November 2017. Hadir itu pimpinan yang diwakili oleh Puket 3, Drs. Moh. Abdul Munjid, M.S.I., serta Muhammad Fadloli Al Hakim, S.Pd., M.Or dosen dan pembina UKM Olahraga, dan Khamim Saifuddin, M.Pd.I dosen MPI sebagai motivator, lalu mahasiswa yang terlibat sebagai panitia maupun anggota UKM Olahraga.

Moh. Abdul Munjid dalam sambutannya menyampaikan beberapa hal. "Saya harap dengan diresmikannya UKM Olahraga ini, kita bisa mengambil hikmah dan ke depan kita selalu semangat demi STAINU Temanggung" ungkapnya dalam kegiatan yang dihadiri sejumlah elemen tersebut.

Kampus kita, kata dia, sangat mendukung dengan adanya UKM Olahraga ini, karena ternyata di luar perkiraan banyak mahasiswa yang mampu berprestasi di luar, terutama dalam bidang olahraga.

UKM Olahraga STAINU Temanggung memiliki 4 cabang olahraga, yaitu futsal, voli, tenis meja dan badminton, di mana anggotanya terdiri dari mahasiswa semester 1 sampai 7, dan bisa terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Muhammad Fadloli Al Hakim, dosen PGMI sekaligus pembina menegaskan para mahasiswa harus memaksimalkan UKM Olahraga itu sebagai wadah pengembangan bakat dan minat dalam olahraga.

"Kita harus punya semangat dalam memanajemen UKM Olahraga, di dalam olahraga ada sikap fair play dan sportif, kedua sikap itulah yang tidak akan ditemui di tempat lain," katanya.

Coba kita cari, kata dia, kegiatan yang di dalamnya ada benturan-benturan fisik, bahkan berdarah-darah. "Setelah itu mereka bisa bersalaman tanpa ada rasa dendam, dimana kita bisa menemukan kegiatan seperti itu? Ya di olahrga," tambahnya.

Sementara itu, Khamim Saifuddin, memberi banyak motivasi bagi para mahasiswa yang masuk di kepengurusan UKM Olahraga. "UKM Olahraga adalah UKM yang sangat menarik untuk kita berdakwah, karena olahraga sendiri merupakan salah satu cara kita untuk tetap menjaga kesehatan," tandas pengurus LTN NU Temanggung itu.

Kalian tidak boleh berkecil hati, kata dia, justru kalian harus berbangga hati, kampus kita ini, STAINU Temanggung, telah mampu menerbitkan, mengeluarlan SK UKM Olahraga. "Dengan niat beribadah, insyaallah UKM Olahraga akan selalu konsisten membuat prestasi untuk kampus," tegas Ketua IKA PMII Temanggung itu.

Acara tersebut dimulai pada 10.30 WIB dan selesai pada jam 11.50 WIB. Usai kegiatan itu, pengurus UKM Olahraga akan tancap gas dengan melakukan latihan rutin, dan juga mengadakan beberapa turnamen internal kampus. (Hi).

Semarang, harianguru.com - Bertempat di aula kecamatan Tembalang secara resmi Lala Aulia Zandra dilantik sebagai Ketua Umum HMI Komisariat FPIK Undip. Dalam sejarahnya setelah 20 tahun berdiri, salah satu komisariat besar di cabang semarang ini memiliki ketua umum perempuan.

Baca juga:  Lowongan Kerja di Universitas Diponegoro Semarang

Pelantikan dilaksanakan oleh pengurus HMI Cabang Semarang pada Selasa 28 November 2017. Dihadiri oleh senior, kader serta undangan dari HMI Korkom Diponegoro berjalan lancar dan khidmat.

Lala aulia zandra memiliki track record yang bagus selama berkarir di HMI. Pernah menjadi Wasekum Komunikasi Umat (KU) HMI Korkom Diponegoro periode 2016 yang saat itu dipimpin oleh kanda M. Dwi Sugiarto.

Jenjang LK 1 dilalui Lala pada saat menjadi mahasiswa baru tepatnya pada 2014 yang diselenggarakan HMI Komisariat FISIP Undip.

Ke depan Visi memperbaiki perkaderan menuju lebih baik menjadi tujuan yang harus dilaksanakan. (Hg99/hms).

Temanggung, harianguru.com - Sebanyak empat mahasiswa asal Thailand yang mewakili Majelis Muslim Thailand melakukan kunjungan ke kampus STAINU Temanggung dalam rangka studi banding pengembangan pendidikan tinggi. Mereka disambut M. Abdul Munjid Pembantu Ketua STAINU Temanggung dan Muh. Syafi' Ketua LP3M STAINU Temanggung dan sejumlah dosen, Selasa (28/11/2017).

Baca juga: Perubahan INISNU Temanggung Ditargetkan 2018 

Sebagai negara yang berada di Asia Tenggara yang berbatasan dengan Laos dan Kamboja di timur, Malaysia dan Teluk Siam di selatan, dan Myanmar dan Laut Andaman di barat, banyak pemuda Thailand belajar Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Hal itu tentu mendorong perguruan tinggi di Indonesia harus menyesuaikan perkembangan zaman.

Atas dasar itu, Muh. Syafi' Ketua LP3M STAINU Temanggung menegaskan bahwa potensi kerjasama untuk pengembangan pendidikan tinggi sangat besar. "Kita melihat bahwa potensi ini menjadi celah untuk memajukan STAINU Temanggung. Saat ini kami masih menjajaki, kira-kira wilayah mana yang nanti bisa disinergikan dengan mereka," ujar dia.

Keempat mahasiswa itu adalah Padiran, Ahsan, Akrom, Amron yang berasal dari Pattani. Secara geografis, Pattani merupakan salah satu provinsi di selatan Thailand. Provinsi-provinsi yang bertetangga adalah Narathiwat, Yala dan Songkhla. Masyarakat Melayu setempat menyebut provinsi mereka, Patani Darussalam atau Patani Raya.

Ke depan, menurut Syafi', akan diadakan kerjasama dengan wujud MoU akademik. "Bentuknya nanti berupa MoU kerjasama peningkatan mahasiswa muslim Thailand untuk kuliah di STAINU Temanggung," ujar dia.

Dalam kunjungan itu, selain berdiskusi, mahasiswa perwakilan Majelis Muslim Thailand itu juga mengunjungi ruang perkuliahan, perpustakaan, laboratorium, KBIH Babussalam juga asrama mahasiswa STAINU Temanggung.

"Kami senang ke sini karena sejuk. Kalau Bahasa Jawa, masih sedikit. Tapi kalau Bahasa Indonesia, alhamdulillah lumayan bisa karena kami juga masih rumpuh Melayu. Ya rumpun Nusantara lah," ujar salah satu mahasiswa tersebut. (hg10/Ibda).

Pimpinan STAINU Temanggung
Temanggung, Harianguru.com - Tahun 2018 mendatang, Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung menargetkan akan berkonversi menjadi Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, Jawa Tengah.

Baca juga: Ini Daftar 243 Kampus yang Tak Bisa Ikut Tes CPNS 2016 -2017

Hal itu terungkap dalam rapat tim sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun ajaran 2018-2019 bersama pimpinan STAINU Temanggung, Senin (27/11/2017) di aula kampus setempat.

"Nanti, kami ada tim percepatan perubahan dari STAINU menjadi INISNU Temanggung. Kebetulan kita punya tim yang juga dari LPTNU dan dari kita sendiri," kata Ketua STAINU Temanggung, Drs H. Muh Baehaqi MM saat menyampaikan sambutan dalam forum rapat tersebut.

Untuk meningkat menjadi institut, kata dia, sesuai syarat memang harus memenuhi seribu mahasiswa.

Pihaknya juga menambahkan, untuk pembangunan fisik memang terus digenjot. Bahkan, untuk Februari 2018, halaman depan STAINU Temanggung akan dipercantik lagi.

Pihaknya menjelaskan, bahwa perubahan itu dikoordinasikan dengan BP3TNU, PCNU dan semua stakeholders di kampus STAINU Temanggung. Apalagi, di STAINU Temanggung sendiri sudah ada enam prodi, mulai dari Pendidikan Agama Islam (PAI), Al Akhwal Assyaksiyah (AS), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Ekonomi Syariah (ES), Manajemen Pendidikan Islam (MPI).

Hal itu juga didukung dengan banyaknya dosen STAINU Temanggung yang tengah menempuh studi doktoral di beberapa kampus di Indonesia.

Sementara itu, koordinator tim sosialisasi PMB STAINU Temanggung 2018-2019, Muh Syafi' menargetkan pada PMB tahun ini dengan total mahasiswa sebanyak 1000. Target itu, nanti juga akan merambah tidak hanya di wilayah Jawa Tengah, namun juga target dari luar Jawa.

"Ada tiga metode PMB tahun ini, mulai dari branding online, offline, berbasis kegiatan dan manual," kata dia dalam rapat yang dihadiri tim sosialisasi PMB dan pimpinan STAINU Temanggung itu. (hg69/hi).

Temanggung, Harianguru.com - Hari Guru Nasional (HGN) yang diperingati 25 November 2017 ini menjadi momentum dosen STAINU Temanggung untuk mempublikasikan gagasan konseptual dan praktis bagi kemajuan pendidikan. Hal itu dibuktikan dengan peluncuran buku baru yang memberikan sumbangsih bagi akselerasi pendidikan dan dunia keguruan.

Mereka adalah Khamim Saifuddin dosen prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) yang menulis buku bertajuk "KH. Ilyas Kalipaing (Pejuang Tarbiyah)" yang diterbitkan Formaci Press. Lalu Hamidulloh Ibda dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) yang menulis buku "Media Pembelajaran Berbasis Wayang (Konsep dan Aplikasi) dan Husna Nashihin dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) yang menulis buku "Pendidikan Akhlak Kontekstual" yang diterbitkan CV. Pilar Nusantara dan Sumarjoko dosen dan Kaprodi AS merillis buku "Ikhtisar Usul Fiqh 2" yang diterbitkan oleh CV. Trussmedia Grafika.

"KH. Ilyas Kalipaing ini merupakan salah satu tokoh lokal asal Temanggung yang perannya sangat besar bagi perkembangan pendidikan Islam khususnya pesantren di wilayah Temanggung bahkan di luar Temanggung," ujar Khamim Saifuddin saat launching buku di aula STAINU Temanggung, Sabtu (25/11/2017).

Ia berharap, buku bersampul hijau itu menjadi salah satu inspirasi bahkan studi tokoh pendidikan lokal yang memiliki ide besar melalui pesantren yang dikembangkan sejak dulu. "Banyak kekurangan dan kelebihannya buku ini. Namun saya sudah mentashihkannya kepada beberapa kiai sepuh di Temanggung," ujar pengurus LTN NU Temanggung itu.

Sementara itu, Hamidulloh Ibda yang menulis buku tentang media itu juga menegaskan, di era disrupsi atau ketercerabutan seperti ini, guru juga dosen harus pakem dan tidak boleh tercerabut dari akarnya. "Wayang ini kan khazanah lokal khas Nusantara. Metallica saja pernah merillis lagu Master of Puppets. Walisongo juga melakukan pendekatan dakwah melalui wayang. Artinya, media wayang yang di sini saya singgung secara konsep dan aplikasi memang mendorong guru untuk tetap menjadi guru Nusantara meskipun di era digital," ujar mantan sekretaris IPNU tersebut.

Ada nilai edukasi, kata dia, budaya, konservasi dan juga spirit nasionalisme dalam media wayang tersebut. "Banyak nilai-nilai karakter dalam media wayang yang saya tulis dalam buku setebal 200 halaman ini. Buku ini di dalamnya sudah sesuai 17 karakter yang ada dalam Perpress 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Jadi sangat cocok untuk menghadapi era 21 ini yang penuh ketercerabutan," tegas editor Jurnal Citra Ilmu tersebut.

Husna Nashihin melalui buku "Pendidikan Akhlak Kontekstual" juga memberikan tawaran solusi atas kemunduran akhlak bangsa ini. Menurut dia, akhlak yang sudah dimasukkan dalam pendidikan tidak boleh sekadar tekstual, melainkan harus disesuaikan dengan kebutuhan zaman.


"Pendidikan Akhlak Kontekstual di sini berawal dari pola pengembangan pendidikan akhlak dengan menggunakan strategi Contextual Teaching and Learning (CTL). Hadirnya buku ini, saya harap menjadi spirit baru terhadap pengkajian pendidikan akhlak yang saat ini semakin tergantikan dengan pendidikan karakter," beber dia.

Menurut dia, pendidikan akhlak yang sudah hadir sejak lama dalam dunia pendidikan Indonesia urgen untuk dikembangkan karena memiliki kekayaan pengetahuan empiris yang relevan dengan kearifan budaya lokal di Indonesia. "Salah satu metode pengembangan pendidikan akhlak dapat dilakukan dengan pengembangan strategi yang digunakan di dalamnya. Maka buku setebal 200 halaman ini menjadi ikhtiar memajukan pendidikan melalui penguatan karakter kontekstual," tegas dia.

Sementara itu, Sumarjoko dosen dan Kaprodi AS Jurusan Syariah juga merillis buku "Ikhtisar Ushul Fiqh 2". Menurutnya, memahami ilmu Ushul Fiqh sangatlah penting bagi siapapun yang mendalami ilmu agama, terutama santri, mahasiswa, guru ataupun lainnya.

"Ushul Fiqh ibarat  anyaman jala (metode)  yang akan digunakan nelayan (faqih)   untuk mendapatkan barang tangkapan (hasil ijtihad ) sedangkan  samudera adalah sumbernya (mashadir ahkam)  yakni hukum yang tertulis ketetapannya," kata dia.

"Tujuan para nelayan  adalah untuk mendapatkan ikan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, baik secara langsung atau dijualnya," kata dosen kelahiran Tuban itu.

Demikian pula seseorang belajar ilmu Ushul Fiqh, lanjut dia, adalah untuk mendapatkan  suatu pemahaman  agama dengan mengetahui metode penetapan dari sumbernya. "Hal ini  sangat bermanfaat bagi orang tersebut dan bagi orang lain yang membutuhkannya," kata dia.

Sebelumnya, Sumarjoko juga telah meluncurkan buku "Ikhtisar Ushul Fiqih" pada tahun 2015 yang diterbitkan oleh CV. Trussmedia Grafika dengan editor Hidayatun Ulfa. Tahun 2017 ini, ia merillis kembali buku itu sebagai sumbangsih di dunia hukum Islam di negeri ini. (hg11/Dul).

Temanggung, Harianguru.com - K.H. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Magelang menegaskan bahwa era milenial seperti ini, dakwah harus berkonversi di internet.

Hal itu diungkapkannya dalam seminar dengan tema "Mempertahankan Nilai Pancasila di Era Milenial melalui Literasi" pada Sabtu, 25 November 2017 di gedung Graha Bumi Phala Temanggung yang digelar Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) GRIP STAINU Temanggung.

"Baru-baru ini kita dikejutkan dengan beberapa insiden besar yang langsung tersebar di luasnya dunia. Ini lah yang terjadi, bahwa teknologi menguasai dunia yang bisa bermanfaat dan memiliki madharat. Sehingga kita dituntut untuk memilih dan memilah bagaimana tantangan ini datang," tegasnya di hadapan ratusan peserta.

Hari ini, katanya, tidak hanya butuh orang alim, namun kita juga butuh orang alim dan paham tentang situasi saat ini dan bisa menghadapi dengan cara-cara yang kekinian. "Dakwah hari ini tidak cukup dengan door to door dan dalam mimbar. Tapi juga lewat teknologi internet. Kita boleh mengikuti arus zaman tapi jangan lupa kaki kita berpijak pada tanah air," ujar dia dalam seminar yang dihadiri ratusan peserta itu.

Dalam konteks mempertahankan nilai-nilai Pancasila, katanya, ukhuwah wathoniah juga penting. "Maka dari itu Pancasila adalah kado terbesar bangsa ini. Mempertahankan kesatuan lebih baik daripada melakukan perpecahan," bebernya.

Menjaga Pancasila sebagai ideologi bangsa saat ini diharuskan. "Dalam era ini, kebebasan memiliki batasan-batasan dan asal tidak melanggar ideologi atau syariat salah satunya," tukasnya.

Gus Yusuf juga menjelaskan dalam menggunakan teknologi membutuhkan kecerdasan yang arif. Maka dari itu lah, literasi digital yang berkaitan dengan internet, siber, komputer, harus dikuasi santri, kiai dan umumnya mahasiswa dan warga nahdliyin. (hg23/Dama).

Yosita (tengah)
Surakarta, Harianguru.com – Dari ratusan atlet yang berasal dari 30 kota/kabupaten di Jateng, Yosita Bella Noveliasari mahasiswi semester 1 Prodi PAI Jurusan Tarbiyah STAINU Temanggung berhasil merebut Juara I dalam Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) Jateng 2017 yang diselenggarakan pada Kamis-Sabtu (23-25/11/2017).

Baca juga: Ini Ciri-ciri Guru Zaman Now Menurut Dosen STAINU Temanggung.

Sesuai data yang disampaikan Priyono Ketua Panitia, sampai Rabu (22/11/2017), ada sekitar 410 atlet dan ofisial. Mereka berdatangan ke Asrama Haji Donohudan sebagai tempat penginapan bersama. Kemudian bertanding sesuai cabang olahraganya.

Dari perlombaan itu, Yosita pada Jumat (24/11/2017) ini nnberhasil menyabet Juara I cabang olahraga atletik lari. Ia menceritakan sempat terkendala lantaran harus melepas kerudung karena sudah menjadi ketentuan panitia. Namun, sebelumnya ia meminta izin teman-temannya sekelas dan meminta doa agar menjadi juara.

Tiga cabang olahraga yang dilombakan atau dipertandingkan pada kualifikasi menuju Peparprov Jateng III/2018 yakni atletik yang dilombakan di Stadion Sriwedari, bulu tangkis di GOR Sinar Kasih Solo dan tenis meja di Gedung Pengkot Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) kawasan Manahan. Usai juara, para atlet di cabang masing-masing akan maju ke ajang Paperprov Jateng 2018 mendatang.

Sementara itu, Fadloli dosen penggagas UKM Olahraga STAINU Temanggung merespon positif prestasi itu. "Tentunya kita harus bangga mempunyai mahasiswa yang di luar dugaan ternyata mampu mengharumkan nama STAINU Temanggung lewat prestasi olahraga," katanya.

Semoga ke depan, lanjut dia, lebih banyak lagi mahasiswa kita yang mampu berprestasi di luar sampai tingkat nasional lewat jalur UKM Olahraga di kampus kita.

Menurut dia, minggu depan juga akan dilaunching secara resmi UKM Olahraga STAINU Temanggung sebagai UKM baru yang menjadi wadah pengembangan bakat olahraga mahasiswa maupun mahasiswa. (hg10/hi).

Ilustrasi
Oleh: Nurchaili

Karakter bangsa Indonesia yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur Pancasila semakin tergerus perkembangan zaman. Sikap toleransi, gotong royong, persaudaraan, berbudi pekerti luhur, kebinekaan dan sifat  mulia lainnya semakin memudar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa Indonesia kini terancam akan kehilangan jati diri sebagai bangsa yang bermartabat dan berperadaban tinggi.

Pakar pendidikan Thomas Lickona memaparkan sepuluh aspek degradasi moral (karakter) yang melanda suatu negara yang merupakan tanda-tanda kehancuran sebuah bangsa. Tanda-tanda tersebut adalah meningkatnya kekerasan pada remaja, penggunaan kata-kata yang memburuk, pengaruh kelompok/golongan yang kuat dalam tindak kekerasan, meningkatnya penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, kaburnya batasan moral baik-buruk, menurunnya etos kerja, rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, membudayanya ketidakjujuran, serta adanya saling curiga dan kebencian diantara sesama.

Mencermati kondisi kekinian bangsa Indonesia, tentu kita semua sepakat kalau tanda-tanda yang digambarkan di atas sudah terjadi di negara kita. Bangsa Indonesia harus segera berbenah. Pemerintah harus mampu mengidentifikasi, mengembalikan dan memperbaiki karakter bangsa sebagaimana nilai-nilai luhur yang telah dituntun dalam agama dan diwariskan nenek moyang berupa kebudayaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebinekaan dan persaudaraan.


Pendidikan Karakter
Gerakan Nasional Pendidikan Karakter telah dimulai sejak tahun 2010, mulai jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Perguruan Tinggi termasuk pendidikan nonformal dan informal. Namun dalam perjalanannya, pendidikan karakter tampak kurang termanifestasikan dengan baik dalam masyarakat, termasuk di sekolah yang menjadi sasaran utama penerapan pendidikan karakter.
Permasalahan pendidikan karakter sangat kompleks, dan ini menjadi salah satu tantangan dan tugas mulia kita saat ini. Terlebih tantangan dalam menyukseskan Kurikulum 2013 yang salah satunya fokus pada pendidikan karakter. 

Presiden Joko Widodo melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) telah menetapkan penguatan karakter bangsa sebagai salah satu butir Nawacita yang telah dicanangkannya. Karena itu pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Program yang telah berjalan sejak tahun 2016 ini berupaya menumbuhkan lima nilai karakter utama sebagai dimensi terdalam pendidikan yang membudayakan dan memberadabkan para pelaku pendidikan yaitu: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.

PPK merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter melalui proses pembentukan, transformasi, transmisi, dan pengembangan potensi peserta didik dengan cara harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik) sesuai falsafah hidup Pancasila. Untuk itu diperlukan dukungan pelibatan publik dan kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari GNRM (cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id).

Melalui pendidikan diharapkan penanaman kembali nilai-nilai luhur yang menjadi karakter bangsa Indonesia dapat lebih efektif. Sebab sasaran pembangunan karakter adalah generasi muda sebagai aset bangsa yang akan menjadi penentu eksistensi bangsa dimasa mendatang. Untuk menciptakan peradaban bangsa yang unggul dan diakui oleh bangsa-bangsa lain harus dilakukan PPK secara revolusioner. Pendidikan karakter harus berfokus pada mengubah cara berpikir (mindset), sikap dan perilaku (attitude) dan gaya hidup (lifestyle) yang selama ini sudah kebablasan sehingga jauh dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Peran Media Sosial
Salah satu cara yang bisa ditempuh dalam penumbuhan dan penguatan pendidikan karakter adalah melalui media sosial (medsos). Medsos merupakan sebuah aplikasi yang mengizinkan penggunanya berinteraksi dan memberikan timbal balik dengan sesama pengguna,  membuat, mengedit dan membagikan informasi dalam berbagai bentuk. Karenanya medsos dapat berperan dalam menjangkau semua pihak guna menyampaikan informasi, termasuk dalam dunia pendidikan dan proses pembelajaran. Aplikasi medsos yang populer di Indonesia antara lain: Facebook, WhatsApp, Twitter, Google+, Instagram, Line dan lainnya. Euforia medsos terbukti mampu mengubah cara berpikir dan bertindak seseorang. Potensi inilah yang harus dimanfaatkan dalam dunia pendidikan untuk PPK di Indonesia.
Ketika teknologi sudah mendominasi, guru yang bisa diposisikan sebagai kelompok Digital Immigrant keberadaannya juga sangat penting bagi peserta didik. Guru harus bisa membimbing dan mengarahkan peserta didik agar belajar memanfaatkan medsos ke arah yang lebih positif, salah satunya untuk PPK. Sebagai langkah awal, setiap guru terutama wali kelas dapat membuat grup kelasnya dengan memanfaatkan aplikasi medsos berbasis App Messenger. Misalnya WhatsApp (WA) yang menjadi salah satu aplikasi medsos terpopuler di Indonesia saat ini.

Melalui WA guru dapat membuat grup beranggotakan seluruh siswa beserta orang tua/wali. Grup ini berfungsi sebagai “Ruang Kelas” untuk saling berbagi konten (tulisan, foto, animasi, video, dll) tentang pendidikan karakter. Siswa maupun orang tua/wali dapat berkomentar dan memberi masukan terhadap postingan yang masuk. Guru bertindak sebagai pengelola grup dan mengawasi diskusi yang berlangsung. Setiap harinya guru memilih postingan terbaik untuk dibacakan atau ditampilkan di depan kelas oleh pengirimnya. Selanjutnya guru memberikan penguatan terhadap nilai-nilai karakter positif yang ditampilkan. Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan atau menumbuhkan nilai-nilai pendidikan karakter pada peserta didik, namun juga dapat meningkatkan kemampuan literasinya.

Hal yang sama juga dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran guna  mendidik karakter siswa selaras dengan mata pelajaran yang diampunya. Bagi peserta didik sekolah dasar atau sekolah yang melarang penggunaan smartphone/gadget di lingkungan sekolah, guru bisa membuat grup yang beranggotakan orang tua/wali siswa. Melalui grup ini guru dapat menginformasikan setiap kegiatan yang berlangsung di kelas/sekolah. Selain itu orang tua/wali dapat memantau aktivitas atau nilai anaknya dan bisa juga bertanya sesuatu hal kepada guru. Melalui medsos suntikan motivasi dan PPK dapat dilakukan kapan dan dimana saja tanpa terbatas oleh ruang dan waktu.

Penutup
Kehadiran medsos adalah sebuah keniscayaan. Keberadaannya begitu fenomenal dan menjadi kebutuhan hidup manusia di era digital. Medsos memiliki sisi positif dan negatif. Di pundak kita lah sebagai orang tua, guru, dan masyarakat umummya untuk membimbing dan mengarahkan putra-putri kita dalam  memanfaatkan medsos secara positif.

Dikembangkannya cara-cara baru pembelajaran berbasis teknologi informasi  memberi kesempatan kepada guru, peserta didik dan orang tua/wali untuk memperoleh sumber informasi dan pengetahuan dengan mudah dan murah. Medsos bisa menjadi salah satu cara revolusioner dalam PPK. Semoga dengan memanfaatkan medsos dalam pendidikan karakter dapat merevolusi mental dan karakter bangsa Indonesia sehingga tercipta generasi emas 2045 yang memiliki kecakapan abad 21.


Penulis adalah Guru/alumnus FKIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

 KH. Muhammad Furqon Ketua PCNU Temanggung (kiri) dalam acara pembinaan guru madrasah di lingkungan MWC Ma'arif Kecamatan Gemawang, Temanggung, Kamis (23/11/2017).
Temanggung, Harianguru.com - Ki Hadjar Dewantara selama ini hanya dikenal sebagai Pahlawan Nasional dan Bapak Pendidikan Nasional. Padahal, Raden Mas Suwardi Suryaningrat merupakan salah satu di antara ribuan santri di Nusantara yang berkiprah banyak dalam dunia pendidikan.

"Suwardi Suryaningrat atau kita kenal Ki Hadjar Dewantara adalah santri tulen. Beliau adalah hafiz dan santri tulen yang menjadi Pahlawan Nasional," beber KH. Muhammad Furqon Ketua PCNU Temanggung dalam acara pembinaan guru madrasah di lingkungan MWC Ma'arif Kecamatan Gemawang, Temanggung, Kamis (23/11/2017).

Seperti diketahui, Ki Hadjar Dewantara saat kecil dikirim keluarganya mondok di sejumlah pesantren. Salah satu guru ngaji Ki Hajar Dewantara yaitu Kiai Sulaiman Zainuddin Abdurrahman, pengasuh pesantren di Kalasan Prambanan.

Salah satu santri Kiai Zainuddin adalah Suwardi Suryaningrat yang kemudian menjadi tokoh pendidikan nasional. Ki Hadjar belajar Alquran hingga mahir membaca dan memahami isinya dari Kiai Sulaiman bahkan Ki Hadjar juga hafiz 30 juz Alquran.

Kegiatan yang mengusung tema "Mewujudkan Tanggungjawab Guru pada Madrasah untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan dengan Landasan Aussunah Waljamaah" ini dihadiri puluhan guru dan kepala sekolah dari jenjang MI, MTs dan MA di lingkungan LP Ma'arif Gemawang, Temanggung.

Ada perempuan yang juga santri, kata Gus Furqon, beliau lahir di Jepara. "Beliau gelisah karena perempuan saat ini tidak mendapat kesempatan belajar dan nyantri. Lalu nyantri di Semarang kepada KH. Soleh Darat yang juga gurunya Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan ulama-ulama lain," beber kiai muda tersebut.

Kita tidak tahu, katanya, bahwa sebenarnya berkat usulan Kartini lah, KH. Soleh Darat menulis kitab Tafsir Faidul Qulran Bi'ilmil Qur'an. "Itu lah peran Kartini yang tidak banyak diketahui publik," lanjut dia.

Gus Furqon juga berharap, santri sekarang harus melek literasi taqrib dan jangan sampai tidak mengenal NU. "Kalau guru NU tidak mengenal NU pasti akan menjadi benalu bagi NU itu sendiri," tegasnya.

Selain Gus Furqon, acara yang digelar di aula MA. Ma'arif NU Gemawang itu juga diisi oleh H. Miftakhul Hadi, S.Ag Ketua LP Ma'arif Temanggung dan Hamidulloh Ibda dosen PGMI STAINU Temanggung. (hg33/hi).

Temanggung, Harianguru.com - Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) GRIP STAINU Temanggung akan mengadakan konferensi dan seminar dengan tema "Mempertahankan Nilai Pancasila di Era Milenial melalui Literasi" besuk pada Sabtu, 25 November 2017 di gedung Graha Bumi Phala Temanggung.

Pergeseran nilai-nilai Pancasila dan masuknya faham radikal menjadi perhatian serius LPM Grip. Apalagi kemampuan literasi kita saat ini diakui atau tidak masih rendah. Oleh karena itu, mereka menggelar kegiatan itu sebagai ikhtiar tetap menjadi negara yang bernafaskan Pancasila.

Anis, Ketua Panitia menjelaskan acara ini diselenggarakan dengan harapan mempertahankan nilai Pancasila dalam diri setiap individu khususnya para pemuda di wilayah Temanggung.

Sementara itu, Ketua Umum LPM Grip Almaksirun menegaskan kegiatan itu merupakan puncak dari kegiatan selama kepengurusannya di LPM Grip.

"Acara ini sebagai penutupan di periode saya, sehingga bisa mengesankan untuk para peserta dan anggota LPM GRIP STAINU Temanggung," kata dia, Jumat (24/11/2017).


Pihaknya juga menegaskan bahwa selain menjadi agenda akhir kepengurusannya, penguatan literasi juga menjadi pemantik tema besar dan menjadi bagian dari tujuan seminar itu.

"Kegiatan ini menjadi salah satu media untuk memberi pengetahuan tentang nilai Pancasila dan mempertahankannya melalui literasi," tegas dia.

Narasumber yang didapuk untuk mengisi materi dalam kegiatan ini adalah K.H. Muhammad Yusuf Chudlori atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Yusuf pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Magelang dan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa Jawa Tengah. Sementara Gus A. Syarif Yahya ulama Temanggung yang juga pembina LPM Grip didapuk menjadi moderator.


Panitia berharap, warga Temanggung khususnya akademisi bisa mengikuti kegiatan menarik tersebut. (hg09/Dama).

Pemateri dan panitia saat foto bersama
Temanggung, Harianguru.com - Dosen STAINU Temanggung, Hamidulloh Ibda mengenalkan literasi media sebagai syarat guru zaman now pada puluhan guru LP Ma'arif, baik jenjang MI, MTs, maupun MA, Kamis (23/11/2017).

Mereka berkumpul dalam acara pembinaan guru madrasah di lingkungan MWC Ma'arif Kecamatan Gemawang, Temanggung dengan tema "Mewujudkan Tanggungjawab Guru pada Madrasah untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan dengan Landasan Aussunah Waljamaah" yang tetap berkiblat pada faham Aswaja dan bisa menjadi generasi zaman now.


Hamidulloh Ibda, dosen Prodi PGMI STAINU Temanggung sebagai pemateri, dengan didampingi oleh Rhindra Puspitasari, Fatmawati Sungkawaningrum dan Muhammad Fadloli Al Hakim menyampaikan hal tentang literasi, terutama terkait dengan pendidikan.

Selain itu, acara ini juga diisi oleh KH. Muhammad Furqon selaku Ketua PCNU Temanggung, dan juga H. Miftachul Hadi, S.Ag Ketua LP Maarif NU Temanggung.

"Karena kita masuk dalam kategori yg serba digital, karena semua mudah didapat, tapi mengapa gadget kita hanya untuk medsos, maka disitulah mengapa literasi menjadi sebuah hal yg kompleks. Literasi adalah segala upaya yg dilakukan manusia dengan tujuan agar melek aksara, dan segala upaya untuk mendapatkan pengetahuan, itulah domainnya" ujar Hamidulloh Ibda dalam kegiatan itu.

Acara ini dihadiri oleh 50-an guru MI, MTS, dan MA se Kecamatan Gemawang.

Ibda juga menyampaikan tentang bagaimana caranya menjadi guru profesional yang menguasai media massa dan media sosial karena ketiga hal tersebut sangat erat kaitannya dengan literasi pendidikan khususnya di Kecamatan Gemawang. Ia menegaskan, guru zaman now adalah yang memenuhi tiga hal, yaitu kompetensi, karakter dan literasi.

Sementara itu, H. Miftakhul Hadi menyampaikan tentang LP Maarif NU dilihat dari dasar-dasar ilmu yg diterapkan. Beliau juga berbicara tentang sejarah LP Maarif di Kabupaten Temanggung.

"Ini kita perlu belajar, ta'lim wata'allum tentang apa saja yg ada di LP Maarif NU" katanyam

LP Maarif NU bertugas melaksanakan kebijakan NU di bidang pendidikan dan pengajaran formal.

"Kalau LP Maarif NU adalah sebuah kabinet, maka NU itu ya adalah kabinet, bisa disandingan dengan menteri pendidikannya NU," paparnya.

Sedangkan KH. Muhammad Furqon menceritakan tentang sejarah NU.
Beliau bercerita tentang perjuangan kyai-kyai NU saat zaman penjajahan.
Mulai dari pangeran diponegoro, suryadi suryaningrat atau sering dikenal Ki Hajar Dewantara, sampai pada pencipta lagu Indonesia Raya dan Syukur, Husein Muntaha, dan juga satu-satunya santri perempuan murid mbah kyai sholeh darat, R.A. Kartini.

"Berangkat dari penikiran bahwa perjuangan2 saat itu adalh santri, maka dibentuklah Nahdlatul Ulama. NKRI sebagai wadah bagi perjuangan Indonesia, ini adalah harga final" ungkap beliau.

Gus Furqon menambahkan, bahwa guru NU wajib tahu ideologi NU dan mendarahdaging dari akar. "Tanah air adalah wadah dari agama, oleh karenanya mempertahankan NKRI hukumnya adalah wajib" tegasnya. (Red-Hg33/Fadloli).

Kudus, Harianguru.com - Ratusan putra-putri KB mengunjungi Museum Jenang Mubarok sebagai rekreasi edukasi, kegiatan tersebut dilaksanakan senin pagi(20/11/2017).

Seperti yang dikatakan Dina Farida, salah satu pendidik KB Al-Azhar, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus mengatakan,"nampak dari mereka sangat antusias, bahkan kebanyakan berbondong-bondong datang ke sekolah lebih awal daripada hari biasanya,"katanya.

"Selain mengenal jenang yang notabenya adalah oleh-oleh khas kota santri, pengenalan sejarah Kabupaten Kudus juga harus mereka ketahui dengan mengunjungi museum, kita harus mengenalkan kepada mereka agar lebih dekat dan mengerti kudus tempo dulu, walaupun kini keadaan sudah tidak seperti dulu lagi karena perubahan zaman yang boleh dibilang sangat signifikan,"tuturnya

Lanjut bu Dina, sapaan akrab putra-putri KB Al-Azhar,"menurut kami museum ialah tempat yang tepat bagi anak-anak, karena di dalam Museum Jenang yang kami kunjungi, kita bisa menemukan replika Rumah Adat Kudus, replika Menara Kudus, tempat-tempat sejarah yang terbingkai apik, bahkan mereka juga dapat mengetahui orang nomor satu yang pernah memimpin di kota kretek dari masa ke masa," terangnya.

Dan kami juga senang, sebelum anak-anak masuk ke Museum, mereka disambut dengan baik oleh pihak Jenang Mubarok Kudus sebagai vendor-nya, putra-putri kami juga disuguhi dengan dongeng asal-usul jenang.

Selain itu kami juga diberikan kesempatan untuk masuk dalam pabriknya melihat secara langsung pembuatan jenang mubarok yang kini sudah mencapai 107 tahun masih bertengger diatas sebagai perusahaan jenang dengan kualitas baik, hingga generasi ke tiga sekarang, bahkan terkenal hingga manca,"tukasnya.

Sebelum agenda rekreasi ini, beberapa waktu lalu, kami juga sempat mengadakan kegiatan parenting yang bersifat pengembangan karakter anak, yang dipandu langusung oleh Drs. Susilo Rahardjo, M.Pd yang merupakan Dosen BK UMK(Universitas Muria Kudus).(red-HG33/fakhrudin).

Temanggung, Harianguru.com - Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung bekerjasama dengan LP Ma'arif NU Temanggung, PCNU Temanggung dan STAINU Temanggung akan menggelar Workshop Literasi pada Kamis 23 November 2017 di Aula MA. Ma'arif NU Gemawang, Temanggung, Jawa Tengah.

Penanggungjawab acara, Zaeni, menegaskan kegiatan itu dalam rangka penguatan literasi di kalangan guru di bawah LP Ma'arif Temanggung dari jenjang SD/MI sampai SMA/SMK/MA.

"Ada tiga pemateri dalam Workshop Literasi ini, yaitu KH. Muhammad Furqon Ketua PCNU Temanggung, H. Miftakhul Hadi, S.Ag., Ketua LP Ma'arif NU Temanggung dan Hamidulloh Ibda Dosen STAINU Temanggung," ujar Zaeni yang juga Ketua MWC NU Gemawang, Selasa (21/11/2017).

Workshop bertajuk "Guru NU Zaman Now" ini, ada tiga materi yang akan dipaparkan oleh masing-masing pemateri yang juga dalam momentum perayaan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2017.

"Ketua PCNU Gus Furqon akan  menyampaikan penguatan ideologi ahlussunnah waljamaah annahdliyah dan spirit tarbiyah. Ketua LP Ma'arif NU H. Miftakhul Hadi akan menyampaikan penguatan manajemen pendidikan. Sementara Hamidulloh Ibda dosen STAINU Temanggung akan menyampaikan materi penguatan literasi pada guru-guru terutama aspek penulisan karya tulis ilmiah dan literasi media," beber dia.

Ia berharap, kegiatan itu menjadi wahana menguatkan kemampuan literasi bagi semua guru. "Nanti juga ada stand kecil yang menampilkan buku-buku, jurnal dari karya dosen-dosen STAINU Temanggung," lanjut dia.

Maka dari itu, kata dia, saya harap semua peserta bisa memaksimalkan kegiatan tersebut untuk menguatkan dan menambah khazanah literasi untuk menghadapi zaman global saat ini. (red-HG33/Hms).

Papua, Harianguru.com - Dikabarkan sebanyak 1.300 warga Desa Banti dan Desa Kimbely, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua disandera oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault menilai,  Pemerintah lewat TNI, POLRI dan tokoh-tokoh masyarakat sudah banyak melakukan langkah-langkah persuasif. Terbukti,  sudah banyak pula mantan anggota OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang kembali ke Ibu Pertiwi NKRI. Ia mengingatkan masyarakat dan NGO, jangan kaget jika TNI dan POLRI melakukan tindakan tegas mana kala OPM atau kelompok kriminal bersenjata (KKB) menembak hingga jatuh korban.

“Sudah banyak mantan anggota OPM kembali ke NKRI, upaya-upaya persuasif, dialog dari TNI, POLRI, tokoh masyarakat sudah membuahkan hasil. Namun jika OPM atau KKB menggunakan senjata yang menyebabkan jatuhnya korban dari TNI, POLRI ataupun warga, kami mendukung TNI dan POLRI mengambil tindakan yang lebih tegas," ujar mantan Ketua Umum KNPI ini di Jakarta Selatan, Rabu (15/11).

Kwarnas Gerakan Pramuka juga mengecam aksi penyanderaan warga oleh KKB. Adhyaksa mendukung langkah-langkah pemerintah, karena memang pemerintah wajib melindungi warga negara Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri.

Dia juga mengapresiasi berbagai upaya persuasif yang tanpa kenal lelah dilakukan oleh TNI dan POLRI, dan mengimbau agar Organisasi Papua Merdeka kembali ke NKRI. “NKRI ini nikmat tiada tara, tidak asyik, tidak lengkap sebuah acara nasional tanpa kehadiran salah satu dari provinsi di NKRI, termasuk Papua. NKRI wajib kita wariskan utuh kepada generasi penerus," tambah Adhyaksa.

Disinggung mengenai peran Pramuka, Adhyaksa menjelaskan Pramuka itu perekat NKRI dengan berbagai kegiatan lapangan yang mempersatukan generasi muda dari seluruh wilayah NKRI.

“Tahun 2016 kita adakan Jambore Nasional, pesertanya 25.000 Pramuka (usia 11-15 tahun) dari seluruh kota/kabupaten di Indonesia. Tahun 2017 kita adakan Raimuna Nasional, pesertanya 15.000 Pramuka (usia 16-25 tahun). Kegiatan ini dibuka Presiden Jokowi, dihadiri Ibu Megawati, Panglima TNI, KASAD, KASAL, KASAU, KAPOLRI, dll. Kita adakan juga LT-V yang mempertemukan 528 Pramuka terbaik hasil seleksi ketat dari seluruh Indonesia,” terangnya.

Menurut Adhyaksa, meskipun persiapannya panjang dan tidak mudah, namun kegiatan lapangan seperti penjelajahan, halang rintang, napak tilas, perkemahan, sangat efektif untuk merekatkan anak muda. Yang mengadakan perkemahan tidak hanya pusat atau Kwarnas, namun juga seluruh Kwarda, Kwarcab, Kwarran, Gudep, Saka, dan lain-lain.

“Kalau anda ke Cibubur saat Jambore Nasional, Raimuna Nasional, LT-V maka anda tidak hanya melihat miniatur Indonesia, namun juga masa depan Indonesia. Ribuan Pramuka hidup di tenda-tenda perkemahan selama seminggu, mereka saling kenal-mengenal di alam terbuka, tertawa, bernyanyi, berlari, berbaris, bertukar alamat. Pulang dari perkemahan mereka bikin tagar #KembalikanKamiKeCibubur di media sosial. Itulah salah satu peran Pramuka sebagai perekat NKRI,” jelas Menpora periode 2004-2009 ini.(Red-HG33/Hms).

Temanggung, Harianguru.com – Prinsip belajar, tidak mengenal ruang, waktu dan juga usia. Di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Demikian yang menjadi prinsip Usman Ahmad, pemuda asal Desa Hoelea, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang kini duduk di semester V Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) STAINU Temanggung.

“Intinya mencari ilmu di mana pun tempatnya, dan alhamdulillah saya tersesat di jalan yang benar, di STAINU Temanggung,” kata Usman Ahmad kepada Harianguru.com, Kamis (16/11/2017).

Dijelaskan Usman, kehidupan di Hoelea sangat berbeda dengan di Temanggung atau umumnya di Jawa Tengah. Menurut Usman, Hoelea adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hoelea ini merupakan satu dari 19 desa dan kelurahan yang berada di kecamatan Omesuri. Di desa tersebut, jumlah penduduknya sebagian besar bersuku Flores yang sebagian besar penduduknya adalah petani.

Atas kondisi itu, Usman bertekad mencari ilmu demi kemajuan desanya. Meski dikatannya bahwa desanya maju, akan tetapi menurut dia butuh akselerasi dalam bidang pembangunan sumber daya manusia (SDM). “Kalau masalah SDM, ya di tempat saya alhamdulillah, banyak anak-anak yang sekolah dan kuliah di luar,” lanjut dia.

Aktivitas sehari-hari, Usman pun tidak sekadar aktif di perkuliahan. Ia juga mengaku aktif di organisasi Pergerakan Mahasiawa Islam Indonesia (PMII), Teater Petromas 11 pm dan UKM Olahraga STAINU Temanggung demi menunjang asupan gizi intelektualnya.

“Di STAINU Temanggung yang dari luar Jawa ada dua orang. Saya dan Moh Ardin Suwandi yang alamatnya sama dengan saya,” beber dia.

Ia mengaku, banyak hal yang didapat dari STAINU Temanggung. Selain kemampuan berpikir logis dan ilmiah, kelebihan kuliah di kampus NU juga menyadarkan mahasiswa akan pentingnya beragama secara ramah. Oleh karena itu, ia punya gagasan besar agar desanya tetap aman dan ramah. “Bagi saya ya keberagamaan harus selalu menjaga toleransi dan menjunjung tinggi Pancasila dan NKRI,” lanjut dia.

Hal itu, bagi Usman adalah sepaket. Maka ke depan, ia berniat menyebarkan ajaran Islam yang ramah, tidak mudah menyalahkan dan mengafirkan satu sama lainnya. “Alhamdulillah, sampai sampai ini tempat saya tidak terpengaruh oleh faham-faham radikalisme,” tegas dia.

Ke depan, sebelum lulus ia berharap agar STAINU Temanggung makin maju dan jaya. “Untuk STAINU Temanggung, ke depannya lebih maju dan cepat alih bentuk menjadi INISNU atau UNISNU,” harap Usman. (HG44/Hms).

Manokwari, Harianguru.com – Mungkin orang-orang merasa cukup dengan membuang sampah pada tempatnya, tetapi tidak bagi Yohanes Ada' Lebang, seorang Pembina Pramuka Universitas Papua. Ia menilai, lingkungan harus dijaga. Ia bersama anggota Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Manokwari, Papua Barat, melakukan Gerakan Kami Peduli Sampah Menuju Manokwari Nol Sampah.

“Saya melakukan ide ini dan didukung oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka Racana Johanes Abraham Dimara dan Racana Christhina Martha Tiahahu Pangkalan Universitas Papua (Unipa) Manokwari,” ujar Yohanes Ada' Lebang saat dihubungi, Minggu (12/11).

Gerakan Kami Peduli Sampah itu sudah berjalan dua tahun. “Satu tahun terakhir ini dengan kehadiran home industry pengelola plastik menjadi bijih-bijih plastik sehingga bank sampah juga baru dihadirkan,” beber Andalan Cabang Gerakan Pramuka Manokwari ini.

Sasaran gerakan ini adalah sekolah dan masyarakat. Melalui gerakan ini, ia berharap dapat memahamkan secara baik Dasa Darma Pramuka kedua kepada peserta didiknya dalam kegiatan sehari-harinya, serta memberikan edukasi kepada warga Manokwari dalam mendukung Manokwari menuju nol sampah.

Banyak hal yang sudah dilakukan melalui gerakan ini. Ia menuturkan, saat ini pihaknya sudah membuat bank sampah di kampus dengan penampung sementara bahan sederhana yaitu berupa jaring dan kayu, pencanangan Pulau Mansinam dan Pulau Nuswapi sebagai kampung bebas limbah plastik oleh bupati, dan pembuatan bank sampah di Gugus Depan binaan dan masyarakat.

Selain itu, lanjutnya, pengangkutan limbah plastik dari warga setiap hari Sabtu, sosialisasi di media massa dan elektronik, pemasangan spanduk dan baliho, bekerjasama dengan home industry dan pengelolaan sampah menjadi bijih-bijih plastik yang dikirim ke Surabaya serta safari kemanusiaan.

“Dan yang akan dilakukan, pada tanggal 18 November sebagai HUT Pencanangan Bebas Limbah Plastik di Kampus Universitas Papua dan safari kemanusian tetap berlanjut, serta membantu Gugus Depan dan kelompok masyarakat menghadirkan dan mengelola bank sampah, serta mencari mitra dalam mendukung sarana dan prasarana bank sampah UKM Universitas Papua yang masih sangat terbatas sebagai bank sampah yang pertama di Manokwari,” paparnya.

Pemerintah setempat pun merespons gerakan ini dengan baik. Yohanes mencontohkan, dukungan pemerintah itu diwujudkan dengam pencanangan Pulau Mansinam bebas limbah plastik oleh Bupati Manokwari. Tak hanya itu, Bupati pun diundang dalam berbagai seminar maupun pembuatan peraturan Bupati.

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault mengapresiasi gerakan untuk membuat Manokwari sebagai kota bebas sampah tersebut. Ia juga meminta agar anggota Gerakan Pramuka mencintai lingkungannya, sebagaimana dalam Dasa Darma Pramuka kedua, yakni cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.

“Pramuka memang erat hubungannya dengan hutan dan lingkungan hidup, Pramuka dibentuk karakternya di alam terbuka. Untuk itu, kita harus menjaganya. Kalau bukan kita lalu siapa lagi, kalau tidak alam Indonesia yang indah itu bisa hanya tinggal kenangan. Salut untuk Pramuka Manokwari,” ujarnya..

Adhyaksa juga berharap, gerakan bebas sampah tersebut didokumentasikan dan disebarkan di seluruh jejaring media sosial agar dapat menginspirasi Pramuka di seluruh Indonesia. "Saya berharap kakak-kakak di Manokwari mendomumentasikan sejarah pengabdian ini, baik dalam bentuk foto, video, maupun tulisan, agar menjadi inspirasi dari Papua Barat untuk Indonesia," pungkasnya.(Red-HG33/Hms).

Jakarta, Harianguru.com - Pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi dan Birokrasi akan membuka kembali penerimaan pegawai negeri sipil atau CPNS pada awal tahun 2018.

Baca juga: Cek, Inilah Daftar 25 Kampus yang Resmi Ditutup Kemenristek Dikti Tahun 2017

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Brokrasi, Asman Abnur menuturkan, penerimaan CPNS untuk mengisi porsi jabatan yang kosong dikarenakan banyaknya PNS yang pensiun.
"Yang pensiun ada sekira 220 ribu total di daerah dan di pusat. Kita hanya menerima 50 persen dari jumlah yang pensiun atau lebih sedikit," ujarnya.

Sementara untuk tahapan penerimaan CPNS untuk kementerian, lembaga dan pemerintah daerah pada 2018, sedang diajukan ke Presiden Jokowi untuk dikaji.

Baca juga: Ini Daftar 243 Kampus yang Tak Bisa Ikut Tes CPNS

"Saya berharap nanti Bapak Presiden menyetujui kemudian saya bersama dengan Menteri Keuangan sedang menghitung berapa biaya yang dibutuhkan untuk penerimaan PNS 2018," ujarnya.

Asman belum mengetahui jumlah persis penerimaan CPNS untuk tahun 2018. Tapi, ia memastikan bahwa di kementerian dan kelembagaan akan dibuka lagi. Misalnya, di Badan Narkotika Nasional (BNN) ada lowongan sebagai pelatih anjing pelacak, namun banyak CPNS yang tidak lulus seleksi.

"Formasi yang kurang kami penuhi," ujarnya.

Banyak Kendala Proses Penerimaan CPNS 2017

Asman mengakui dalam proses penerimaan calon pegawai negeri sipil masih banyak mengalami kendala di lapangan pada 2017.

"Peserta pagi-pagi (peserta) sudah datang, puluhan ribu orang tapi tolietnya tidak cukup. Ruang tunggu panas, ac mati," kata Asman Abnur.

Tak hanya itu, kata Asman, ada kendala teknis dalam proses ujian. Misalnya listrik sampai mati satu jam, sehingga tertunda pelaksanaannya.

Meskipun ada kendala di lapangan tapi dalam proses penerimaan CPNS di seluruh Indonesia berjalan dengan lancar.

"Alhamdulillah kemarin penerimaan (CPNS) ini lancar bahkan anak pejabat tidak lulus," katanya.

Asman menegaskan, bahwa orang ingin menjadi PNS harus melalui jalur resmi melalui tes dan tidak boleh ada orang yang membantu dalam proses penerimaan CPNS tersebut.

"Mudah-mudahan dengan terbangunnya trust yang sekarang saya punya kesempatan untuk membuka formasi tahun 2018," ujarnya.

Seperti diketahui, bahwa pemerintah membuka lowongan sebanyak 17.928 formasi CPNS untuk 60 kementerian/lembaga dan Pemerintahan Provinsi Kalimatan Utara pada 2017. (Red-HG33/hms).



Jakarta, Harianguru.com - Meskipun belum resmi apa saja formasi yang akan dibuka, namun lowongan CPNS tahun 2018 mendatang akan dibuka. Kabar baik bagi peserta yang tak lolos seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2017, karena pasalnya, pemerintah akan membuka lowongan CPNS daerah secara nasional pada 2018. Formasi CPNS 2018 tersebut khusus untuk kabupaten/kota.

Baca juga: Inilah 243 Kampus yang Lulusannya Tidak Bisa Daftar CPNS

Hal tersebut dibenarkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Asman Abnur di Makassar, "Tahun depan kita buka, tahun 2018, untuk daerah, per kabupaten dan provinsi," katanya dikutip dari Antara News, Senin (13/11/2017).

Menurutnya, penerimaan CPNS akan disesuaikan dengan usulan bupati dan gubernur sesuai dengan kompetensi bidang apa saja yang ingin dikembangkan di daerah.
"Jangan bidang pertanian misalnya yang ingin kita kembangkan, tetapi tidak punya pegawai di bidang pertanian," ujarnya.

Asman berharap Pemda dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) benar-benar mengkaji kebutuhan pegawainya dengan baik sebelum mengusulkan formasi yang dibutuhkan.

Sementara terkait jumlah CPNS yang akan diterima, Asman mengatakan sedang memperhitungkan jumlah penerimaan yang sesuai dengan kemampuan keuangan negara.

Baca juga: Ini Alasan Kuat, Kenapa Kamu Haram Jadi PNS

"Termasuk salah satu syarat, pemerintah daerah belanja pegawainya tidak boleh lebih dari 50 persen," katanya.

Tahapan seleksi CPNS 2018 akan dimulai setelah tahapan penerimaan CPNS gelombang II tahun 2017 selesai dilaksanakan. Namun, Asman sendiri berharap agar perekrutan CPNS daerah ini dilakukan secepatnya.

Selain itu, Menteri Asman belum memastikan apakah tahapan CPNS 2018 khusus daerah ini digelar serentak atau terpisah. (HG44).

PENERIMAAN GURU
KUTTAB AL FATIH SEMARANG
Deadline: 24 November 2017
Kuttab Al-Fatih Semarang adalah lembaga pendidikan yang memiliki visi melahirkan generasi gemilang di usia belia. Saat ini kami memberikan kesempatan bagi Anda yang berminat untuk ambil bagian dalam tujuan besar ini.
PERSYARATAN UMUM:
- Profesional.
- Siap Terikat dengan Kuttab Al-Fatih baik secara konsep maupun waktu.
- Bersedia mengikuti pendidikan calon guru selama 6 bulan (4 bulan pelatihan guru dan 2 bulan /40 hari dauroh Al-Qur'an).
- Menyenangi dunia anak-anak dan mampu berkomunikasi dengan baik ke anak-anak.
- Bersedia menambah dan menjaga hafalan sesuai dengan target yang diberikan.

GURU AL-QUR'AN:
- Usia minimal 19 tahun.
- Minimal memiliki hafalan Al-Qur'an sebanyak 10 Juz
- Membawa surat rekomendasi dari Ustadz/Syeikh tempat belajarnya

GURU PENDIDIKAN IMAN:
- Usia 22-35 tahun
- Lulus S1 segala jurusan
- Diutamakan memiliki pengalaman mengajar mininmal 1 tahun.
- Mampu mengoperasikan software Microsoft Office.
Data Diri dan Lamaran dikirim via email ke:
pgb.kafsemarang@gmail.com
Atau melelui pos / secara langsung ke :
Kuttab Al Fatih Semarang
Jalan Turus Asri II No. 02 RT 07 RW 03 Kelurahan Bulusan
Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. 50277
Telp. (024) 76917126 / HP: 0812 3147 1312.
Laman: www.kuttabalfatih.com.
Batas akhir pendaftaran: 24 November 2017.

Danang Ari Wibowo 
Jakarta, Harianguru.com - Danang Ari Wibowo guru SDN Igirmranak, Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah berhasil menyabet Juara 2 Penyaji Poster dalam rangkaian Seminar Nasional Kesharlindung Dikdas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI yang berlangsung pada 7-10 November 2017.

Dalam kesempatan itu, Danang, mengambil judul poster menarik. "Judul poster saya adalah 'Peningkatan Hasil Belajar Matematika dan Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Media Kartu Pankur (Pandawa & Kurawa) di SD Igirmranak," beber dia kepada Harianguru.com, Minggu (12/11/2017).

Menurut guru kelas 6 SD ini, ide dari poster tersebut berawal dari hasil belajar yang rendah pada operasi hitung penjumlahan bilangan bulat. "Kemudian ketika istirahat melihat anak didik suka bermain kartu mainan," lanjut dia.

Dari hasil yang ditemukan, menurut dia, ada dampak signifikan terhadap pembelajaran matematika.

"Efek hasil belajar meningkat dan permasalahan perilaku siswa di kelas berkurang," beber dia.

Selain Danang, untuk Juara 1 Penyaji Poster disabet guru dari Bima dan untuk Juara 3 adalah guru SMP dari Bogor. (HG44/HI).

Oleh Dian Marta Wijayanti, S.Pd
Guru SDN Sampangan 01 UPTD Gajahmungkur Kota Semarang

Pengantar
Semua orang percaya bahwa berita hoax (bohong) dan fake (palsu) sangat membahayakan. Satu peluru senjata api bisa membunuh satu orang. Akan tetapi satu berita hoax, bisa membuat orang se kampung, bahkan satu negara bisa geger dan perang. Bahaya hoax yang sangat menakutkan itu, harus diperangi dengan jalur edukasi literasi di sekolah. Sebab, pendidikan sangat strategis menanamkan jiwa yang cinta terhadap kebenaran, kevalidan bukan hoax.
Guru sebagai pendidik, wilayah kerja yang nyata dalam membendung hoax dan fake adalah menjadi “guru literasi”. Artinya, ia tidak sekadar menjadi guru yang biasa-biasa saja, melainkan benar-benar menjadi guru yang mampu membangkitkan spirit literasi kepada peserta didik di dalam kelas. Guru literasi menjadi penting karena guru adalah kunci sukses dan tidaknya pembelajaran di sekolah.
Sumber spirit “guru literasi” sebenarnya bergaung dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Akan tetapi, pemaknaan literasi selama ini faktanya masih sekadar pada kemampuan menyimak/mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Padahal, kemampuan literasi menurut Lipton dan Hubble (2016:13) juga berkaitan dengan melek komputer, usaha mendapatkan pengetahuan dan informasi melalui akses digital dengan benar.
Dari penjelasan itu, tentu makna guru literasi sangat luas. Mengapa? Karena literasi digital harus mengarah pada metode mengakses, menyeleksi dan menolak berita hoax dan fake yang selama ini menggurita di negeri ini. Literasi tidak sekadar pada tataran literasi perpustakaan, buku, namun juga literasi siber juga sangat penting diterapkan di sekolah.
Jika dianalisis, sumber hoax sebenarnya karena adanya kepentingan dan memang sudah diproduksi oleh pihak-pihak tertentu yang dibayar. Maka di sini, tugas guru tidak kapasitasnya jika memblokir atau menghapus berita hoax, melainkan lebih pada mengedukasi peserta didik melalui “pendidikan anti hoax” yang terwujud dengan jiwa guru literasi.
Gurita Hoax
Perubahan zaman yang begitu cepat ternyata menyeret pola pikir dan pola laku manusia. Banyaknya fenomena terang-terangan membagikan dan menjamurnya berita hoax dan fake membuktikan kontraproduktif terhadap gerakan literasi negeri ini. Tidak hanya masalah perselingkuhan ideologi, korupsi dan disrupsi, adanya pemproduksi isu SARA dan hoax juga menjamur di negeri ini. Gurita hoax adalah musuh bersama yang harus diperangi, karena sifat hoax adalah fitnah dan destruktif, dan produsen hoax adalah tukang fitnah yang paling keji dan lebih kejam daripada pembunuhan.
Di negeri ini, hoax sudah menggurita dan harus ditumpas sampai ke akarnya. Dari data yang dihimpun, ada 800 ribu situs penyebar hoax di Indonesia (Cnnindonesia.com, 29/12/2016). Sementara laporan di Kominfo yang tertinggi soal konten barbau SARA mencapai 5.142 dan berita palsu 5.070 sampai Januari 2017. Kemudian sampai Juli 2017 untuk laporan konten negatif mencapai 32 ribu lebih (Liputan6.com, 10/7/2017).
Data itu menjadi bukti bahwa hoax sangat menjamur dan tentu menjadi musuh yang nyata dan perlu dicari solusi permanen dan berjangka panjang. Sebab, selama akses internet masih ada, maka hoax akan selalu tumbuh. Dalam hal ini, tugas guru tentu pada wilayah edukasi yang bisa dilakukan melalui pendekatan preventif, kuratif, developmental dan edukatif. Semua itu tentu senafas dengan GLS yang dicanangkan pemerintah. Apalagi, solusi atas keterpurukan bangsa ini menurut Baswedan (2013: 15) adalah kompetensi, karakter dan literasi. Oleh sebab itu, “guru literasi” sangat urgen sebagai pendidik yang mampu membuka cakrawala berpikir peserta didik tentang bahaya hoax.
Konsumsi hoax terjadi karena masyarakat kita kurang “literat” (melek literasi) dan tidak memiliki kompetensi bermedia. Sebab, selama ini hampir semua masyarakat internet atau netizen dalam mengomsumsi berita tidak mempertimbangkan akurasi, kebenaran, validitas dan sumber berita. Padahal tidak hanya berita, namun hoax juga berkonversi di wilayah gambar, video, meme dan lainnya yang menjamur di media sosial.
Lantaran “buta literasi” dan asal membagikan tanpa tabayun, klarifikasi, cek ricek, maka hoax menjadi “hal biasa” dan kita seolah-olah berada pada “peradaban hoax”. Apa penyebabnya? Hal itu tentu dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang literasi, jurnalistik, ilmu tentang berita dan tidak ada edukasi literasi secara komprehensif.
Ditambah lagi, adanya media siber yang mudah dibuat dengan modal murah, menjadikan hoax semakin menggurita. Apalagi, media siber yang sudah pakem yang secara hukum sudah valid dengan media siber “abal-abal” susah dibedakan. Tipe media siber yang mengejar iklan dan view menjadikan hoax semakin menjamur.
Hal ini tentu berbahaya karena hampir semua peserta didik dari jenjang SD/MI sampai jenjang SMA/SMK/MA sudah berkawan dengan gadget atau gawai. Melalui benda kotak kecil itu, semua akses internet dan aplikasi bisa dioperasikan. Jika informasi yang didapat benar, tentu sah-sah saja. Namun bagaimana jika itu hoax? Tentu akan membahayakan mereka. Oleh karena itu, guru sebagai sumber informasi di sekolah harus menjadi “guru literasi” yang benar-benar mengedukasi warga sekolah bahkan masyarakat untuk menggerakkan spirit anti hoax.
Guru Literasi Anti Hoax
Semua guru hakikatnya adalah guru literasi. Akan tetapi sesuai dengan prinsip dasar GLS, guru literasi adalah mereka yang mampu membuat anak memiliki kemampuan membaca, menulis, melek media, komputer dan mampu mendeteksi berita hoax atau fake dengan yang asli. Gerakan guru literasi dalam mengedukasi peserta didik harus melakukan beberapa prinsip untuk mencetak anak memiliki kompetensi dan karakter literasi yang anti hoax.
Pertama, mengajak peserta didik untuk mengenal pers, fungsi dan tujuan pers, organisasi pers dan perusahaan pers. Sebab, selama ini peserta didik dibiarkan mengonsumsi berita tanpa diberi tahu dasarnya. Jika fondasinya melah, maka bangunan untuk mendapatkan berita juga tentu lemah. Selama ini, banyaknya berita hoax salah satunya diproduksi media siber di luar media pers yang sudah resmi terdaftar di Dewan Pers. Atau setidaknya, media itu para jurnalisnya sudah resmi menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) atau organisasi pers yang lain.
Wartawan atau jurnalis, dalam menjalankan tugasnya juga diuji melalui Uji Kompetensi Wartawan dan harus lolos Standar Kompetensi Wartawan yang ditetapkan Dewan Pers melalui organisasi profesi seperti PWI, AJI dan organisasi pers lainnya (Dewan Pers, 2011). Rata-rata, media hoax dikelola oleh mereka yang tidak mengenal kode etik dan undang-undang pers.
Oleh sebab itu, deteksi dini yang paling utama yang bisa diajarkan kepada anak-anak di sekolah bahkan warga sekolah secara umum dan masyarakat adalah mengetahui pers, peran, fungsi, tujuan dan juga regulasinya. Mengapa? Tidak semua media online adalah media pers. Jika tidak media pers, maka media itu berpotensi memproduksi hoax.
Peserta didik juga harus dikenalkan pada media yang benar-benar valid. Seperti yang sudah dilakukan oleh PWI dan AJI dengan mendirikan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) dan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) sebagai wahana menghimpun media siber yang Anti hoax.
Kedua, mengenalkan pada anak-anak di sekolah tentang perbedaan media siber dengan cetak. Kebanyakan, berita hoax disebar melalui basis siber atau online. Saya pribadi di sekolah, telah mengajak anak-anak belajar mendeteksi berita valid dengan yang hoax. Caranya adalah dengan mengajak mereka membuka berita media siber yang saya tampilkan di LCD dengan berita di koran yang tiap hari ada di sekolah karena langganan.
Teknisnya, dengan membandingkan berita di siber dan cetak dan kemudian mengkopi url dan memasukkannya ke https://data.turnbackhoax.id sebagai bukti ia hoax atau tidak. Dalam hal ini, media cetak menjadi solusi untuk anti hoax karena hanya media cetak yang masih dipercaya. Tingkat kebenaran media cetak lebih besar daripada media siber dan media sosial. Oleh karena itu, sejak dini anak-anak harus diajak literat dengan mencari variabel berita yang sama antara yang dimuat di media siber dan cetak.
Ketiga, mengedukasi peserta didik untuk lebih percaya berita asli daripada isu. Kecenderungan generasi milenial sekarang adalah lebih percaya isu, rumor atau gugon tuhon daripada berita valid. Pola pikir seperti ini menjadikan masyarakat latah dalam menerima informasi, karena di tengah banjir berita, antara isu dengan fakta beda tipis. Oleh karena itu, literasi media seperti ini sangat penting sebagai cara menumpas hoax.
Keempat, mengedukasi peserta didik untuk menerapkan pola pikir wartawan. Artinya, meskipun sebagai konsumen berita, masyarakat sekolah wajib memiliki bekal seperti wartawan. Dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, wartawan harus memenuhi unsur 5 W + 1 H (What, Who, Why, Where, When dan How). Kemudian juga ditambah dengan verifikasi, rapat redaksi dan dikaji ulang. Tradisi verifikasi harus diutamakan sebagai panglima dalam mendapatkan berita. Sebab, tidak hanya berkaitan dengan kebenaran ilmu pengetahuan, namun pola kerja wartawan seperti ini juga berfungsi mendeteksi berita itu layak konsumsi atau tidak.
Akan tetapi, sebagai warga terdidik, guru atau peserta didik tidak cukup jika hanya mendasarkan berita pada metode wawancara dan verifikasi. Justru seorang terdidik dalam mendapatkan berita harus melalui tahap minimal penelitian. Jika tidak bisa menerapkan pola kerja wartawan, maka warga sekolah akan mudah termakan hoax.
Kelima, mengadakan training jurnalistik dengan mengundang wartawan yang bekerja di media pakem dan legal. Cara seperti ini akan membuka cakrawala berpikir anak-anak di sekolah untuk semakin melek literasi media dan tidak akan mudah percaya dengan suatu berita. Melalui training itu, anak-anak diajarkan cara mendeteksi media, berita, dan membedakan mana berita hoax dan valid. Dengan gerakan literasi media itu, anak-anak akan punya bekal dan pada akhirnya menjadi generasi yang benar-benar anti hoax.
Penutup
Dalam kacamata jurnalistik, kehancuran bangsa bisa terjadi karena hoax yang dibiarkan dan tidak diperangi dengan terstruktur dan terencana melalui pendidikan. Di sinilah kehadiran guru literasi yang benar-benar literat, melek media dan berita sangat diperlukan sebagai orang yang digugu dan ditiru.
Guru literasi yang mengedukasi anti hoax harus tercermin melalui pola pikir, sikap bermedia dengan benar dan baik. Sebab, jangan sampai guru justru menjadi “penyebar hoax” dengan membagikan berita yang tidak jelas kebenarannya.

Apakah susah menjadi guru literasi? Tentu tidak. Meski guru literasi hanya bagian kecil sebagai solusi memberantas hoax, akan tetapi minimal guru sudah melakukan gerakan literasi melawan hoax melalui pendidikan di sekolah. Mengapa? Hakikatnya, guru adalah “pahlawan literasi anti hoax” di sekolah dan masyarakat. Apa metodenya? Yaitu dengan menanamkan kompetensi, karakter dan juga spirit revolusioner untuk percaya pada kebenaran, bukan pada hoax. Guru literasi bukan segalanya, akan tetapi lahirnya generasi muda yang anti hoax bisa berawal dari sana. (*)

#antihoax #marimas #pgrijateng

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget