Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Medsos dan Pendidikan Karakter

Ilustrasi
Oleh: Nurchaili

Karakter bangsa Indonesia yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur Pancasila semakin tergerus perkembangan zaman. Sikap toleransi, gotong royong, persaudaraan, berbudi pekerti luhur, kebinekaan dan sifat  mulia lainnya semakin memudar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa Indonesia kini terancam akan kehilangan jati diri sebagai bangsa yang bermartabat dan berperadaban tinggi.

Pakar pendidikan Thomas Lickona memaparkan sepuluh aspek degradasi moral (karakter) yang melanda suatu negara yang merupakan tanda-tanda kehancuran sebuah bangsa. Tanda-tanda tersebut adalah meningkatnya kekerasan pada remaja, penggunaan kata-kata yang memburuk, pengaruh kelompok/golongan yang kuat dalam tindak kekerasan, meningkatnya penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, kaburnya batasan moral baik-buruk, menurunnya etos kerja, rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, membudayanya ketidakjujuran, serta adanya saling curiga dan kebencian diantara sesama.

Mencermati kondisi kekinian bangsa Indonesia, tentu kita semua sepakat kalau tanda-tanda yang digambarkan di atas sudah terjadi di negara kita. Bangsa Indonesia harus segera berbenah. Pemerintah harus mampu mengidentifikasi, mengembalikan dan memperbaiki karakter bangsa sebagaimana nilai-nilai luhur yang telah dituntun dalam agama dan diwariskan nenek moyang berupa kebudayaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebinekaan dan persaudaraan.


Pendidikan Karakter
Gerakan Nasional Pendidikan Karakter telah dimulai sejak tahun 2010, mulai jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Perguruan Tinggi termasuk pendidikan nonformal dan informal. Namun dalam perjalanannya, pendidikan karakter tampak kurang termanifestasikan dengan baik dalam masyarakat, termasuk di sekolah yang menjadi sasaran utama penerapan pendidikan karakter.
Permasalahan pendidikan karakter sangat kompleks, dan ini menjadi salah satu tantangan dan tugas mulia kita saat ini. Terlebih tantangan dalam menyukseskan Kurikulum 2013 yang salah satunya fokus pada pendidikan karakter. 

Presiden Joko Widodo melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) telah menetapkan penguatan karakter bangsa sebagai salah satu butir Nawacita yang telah dicanangkannya. Karena itu pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Program yang telah berjalan sejak tahun 2016 ini berupaya menumbuhkan lima nilai karakter utama sebagai dimensi terdalam pendidikan yang membudayakan dan memberadabkan para pelaku pendidikan yaitu: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.

PPK merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter melalui proses pembentukan, transformasi, transmisi, dan pengembangan potensi peserta didik dengan cara harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik) sesuai falsafah hidup Pancasila. Untuk itu diperlukan dukungan pelibatan publik dan kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari GNRM (cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id).

Melalui pendidikan diharapkan penanaman kembali nilai-nilai luhur yang menjadi karakter bangsa Indonesia dapat lebih efektif. Sebab sasaran pembangunan karakter adalah generasi muda sebagai aset bangsa yang akan menjadi penentu eksistensi bangsa dimasa mendatang. Untuk menciptakan peradaban bangsa yang unggul dan diakui oleh bangsa-bangsa lain harus dilakukan PPK secara revolusioner. Pendidikan karakter harus berfokus pada mengubah cara berpikir (mindset), sikap dan perilaku (attitude) dan gaya hidup (lifestyle) yang selama ini sudah kebablasan sehingga jauh dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Peran Media Sosial
Salah satu cara yang bisa ditempuh dalam penumbuhan dan penguatan pendidikan karakter adalah melalui media sosial (medsos). Medsos merupakan sebuah aplikasi yang mengizinkan penggunanya berinteraksi dan memberikan timbal balik dengan sesama pengguna,  membuat, mengedit dan membagikan informasi dalam berbagai bentuk. Karenanya medsos dapat berperan dalam menjangkau semua pihak guna menyampaikan informasi, termasuk dalam dunia pendidikan dan proses pembelajaran. Aplikasi medsos yang populer di Indonesia antara lain: Facebook, WhatsApp, Twitter, Google+, Instagram, Line dan lainnya. Euforia medsos terbukti mampu mengubah cara berpikir dan bertindak seseorang. Potensi inilah yang harus dimanfaatkan dalam dunia pendidikan untuk PPK di Indonesia.
Ketika teknologi sudah mendominasi, guru yang bisa diposisikan sebagai kelompok Digital Immigrant keberadaannya juga sangat penting bagi peserta didik. Guru harus bisa membimbing dan mengarahkan peserta didik agar belajar memanfaatkan medsos ke arah yang lebih positif, salah satunya untuk PPK. Sebagai langkah awal, setiap guru terutama wali kelas dapat membuat grup kelasnya dengan memanfaatkan aplikasi medsos berbasis App Messenger. Misalnya WhatsApp (WA) yang menjadi salah satu aplikasi medsos terpopuler di Indonesia saat ini.

Melalui WA guru dapat membuat grup beranggotakan seluruh siswa beserta orang tua/wali. Grup ini berfungsi sebagai “Ruang Kelas” untuk saling berbagi konten (tulisan, foto, animasi, video, dll) tentang pendidikan karakter. Siswa maupun orang tua/wali dapat berkomentar dan memberi masukan terhadap postingan yang masuk. Guru bertindak sebagai pengelola grup dan mengawasi diskusi yang berlangsung. Setiap harinya guru memilih postingan terbaik untuk dibacakan atau ditampilkan di depan kelas oleh pengirimnya. Selanjutnya guru memberikan penguatan terhadap nilai-nilai karakter positif yang ditampilkan. Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan atau menumbuhkan nilai-nilai pendidikan karakter pada peserta didik, namun juga dapat meningkatkan kemampuan literasinya.

Hal yang sama juga dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran guna  mendidik karakter siswa selaras dengan mata pelajaran yang diampunya. Bagi peserta didik sekolah dasar atau sekolah yang melarang penggunaan smartphone/gadget di lingkungan sekolah, guru bisa membuat grup yang beranggotakan orang tua/wali siswa. Melalui grup ini guru dapat menginformasikan setiap kegiatan yang berlangsung di kelas/sekolah. Selain itu orang tua/wali dapat memantau aktivitas atau nilai anaknya dan bisa juga bertanya sesuatu hal kepada guru. Melalui medsos suntikan motivasi dan PPK dapat dilakukan kapan dan dimana saja tanpa terbatas oleh ruang dan waktu.

Penutup
Kehadiran medsos adalah sebuah keniscayaan. Keberadaannya begitu fenomenal dan menjadi kebutuhan hidup manusia di era digital. Medsos memiliki sisi positif dan negatif. Di pundak kita lah sebagai orang tua, guru, dan masyarakat umummya untuk membimbing dan mengarahkan putra-putri kita dalam  memanfaatkan medsos secara positif.

Dikembangkannya cara-cara baru pembelajaran berbasis teknologi informasi  memberi kesempatan kepada guru, peserta didik dan orang tua/wali untuk memperoleh sumber informasi dan pengetahuan dengan mudah dan murah. Medsos bisa menjadi salah satu cara revolusioner dalam PPK. Semoga dengan memanfaatkan medsos dalam pendidikan karakter dapat merevolusi mental dan karakter bangsa Indonesia sehingga tercipta generasi emas 2045 yang memiliki kecakapan abad 21.


Penulis adalah Guru/alumnus FKIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget