Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Nilai Lebih di balik Sekolah dan Belajar Siang

Oleh Noperman Subhi, S.IP. M.Si

Sekolah yang kita tahu biasanya jam masuknya pagi. Tapi ada juga sekolah  yang jam masuknya siang. Kenapa harus ada sekolah yang mesti jam masuknya siang ?  ada dua kemungkinan; pertama, jam masuknya memang digilir. Artinya di sebuah sekolah, selain ada peserta didik yang jam masuknya siang, ada juga peserta didik yang jam masuknya mesti siang. Kedua, memang peserta didik di sebuah sekolah tersebut jam masuknya jam siang atau sekolah siang.

Sekolah siang sebenarnya bukan sesuatu yang asing dan tabu. Sekolah siang sudah dimulai sejak dahulu.  Umumnya penyebab peserta didik harus masuk siang karena beberapa alasan sebagai berikut : Pertama, fasilitas sekolah kurang. Biasanya sekolah yang fasilitas ruang belajar (kelas) kurang, maka kegiatan belajar mengajar harus menggunakan sistem Double shift. Peserta didik ada yang masuk pagi dan ada juga yang masuk siang.

Kedua, terlalu banyak peserta didik. Kalau dalam satu sekolah atau kelas terlalu banyak peserta didik, maka akan mengganggu konsentrasi belajar. Kegiatan belajar mengajar dengan sistem Double shift merupakan cara untuk mengatasi terlalu banyaknya jumlah peserta didik.

Ketiga, kekurangan guru. Kekurangan guru juga bisa menjadi salah satu penyebabnya kegiatan belajar harus menggunakan sistem Double shift. Dengan demikian semua peserta didik dapat belajar dan tidak ada jam pelajaran yang kosong.

Berikut beberapa label yang melekat pada sekolah yang jam belajarnya mulai dilaksanakan jam 12 sampai menjelang sholat magrib (malam) atau sekolah siang : Pertama, pada hari senin tidak ada upacara menaikan bendera. Karena jam masuknya siang, tentu saja peserta didik tidak dapat mengikuti dan mengadakan upacara menaikan bendera, namun biasanya akan diganti dengan upacara menurun bendera pada hari sabtu Sore sebelum jam pulang.

Kedua, pelajaran olahraga diadakan di jam terakhir. Siapa yang bakalan tahan jika olahraga saat sedang terik ? Mengantisipasi itu biasanya jam olahraga digeser ke jam pelajaran terakhir.

Ketiga, musuh utama sekolah siang adalah mengantuk. Karena sebelum sekolah siang terbiasa dengan rutinitas tidur siang, maka saat belajar di dalam kelas peserta didik akan merasa mengantuk, belum lagi adanya faktor panas sehingga semangat belajar kian berkurang. Keempat, jam istirahat terbatas. Karena waktu sekolah siang terbatas dan tidak seperti waktu belajar pagi, maka jam istirahatnya juga ikut terbatas. 

Kelima, pagi yang Membosankan. Bagi peserta didik, pagi hari sebelum sekolah itu adalah waktu yang membosankan karena sedikitnya teman bermain, apalagi rata-rata teman bermain peserta didik beda sekolah, kalaupun ada, tetap saja akan membosankan.

Keenam, tugas sekolah atau Belajar bisa dikerjakan diwaktu pagi. Jika ada tugas atau ujian dari sekolah, maka itu semua bisa dikerjakan pada pagi hari, artinya kalau malam kita bisa bebas, bisa nonton, begadang dan sebagainya. Kemungkinan untuk tidak mengerjakan tugaspun sangat kecil, ini didukung juga oleh faktor tidak adanya teman bermain sehingga pagi kita bisa fokus mempersiapkan segalanya untuk sekolah.

Ketujuh, beberapa Kebiasaan harus ditinggalkan. Masuk siang berarti beberapa kebiasaan yang sering dilakukan akan ikut menyesuaikan waktunya, bahkan bisa saja tidak dilakukan, seperti  kebiasaan tidur siang dan main sepak bola di sore hari.

Dibalik banyaknya kelemahan dan kekurangan sekolah siang terselip nilai positif walaupun kebenarnya mesti kaji ulang, yaitu sekolah siang dianggap lebih ampuh meningkatkan performa akademik peserta didik. Dasarnya, karena jam tubuh peserta didik bekerja dua hingga empat jam di belakang jam tubuh orang dewasa.

Dari informasi ini, diketahui bahwa jam mulai sekolah yang berbeda akan menghasilkan perkembangan peserta didik yang juga berbeda. Sebuah penelitian membuktikan bahwa memulai jam sekolah lebih awal bagi peserta didik ternyata kurang bermanfaat dibanding dengan memulainya lebih siang.

Sarah Jayne Blakemore (ilmuwan saraf dari University College London) seperti dilansir laman Daily Mail, mengatakan bahwa penelitian mengenai durasi belajar terlihat sangat menjanjikan. Pasalnya remaja (peserta didik) mengalami pergeseran jam tubuh sehingga sulit terjaga pada pagi hari dan sulit tidur pada permulaan malam. Mereka cenderung tidur larut malam dan bangun lebih siang. Ritme sirkadian atau jam tubuh berubah pada usia pubertas.

Sebelum pubertas, anak-anak paling mudah bangun dan terjaga di pagi hari dan mereka sudah mengantuk pada permulaan malam. Saat pubertas, terjadi hal sebaiknya, jadi para peserta didik kesulitan tidur di malam hari. Pergeseran jam tubuh peserta didik ini terjadi hingga usia 21 tahun, dan kemudian perlahan pola itu mulai berbalik seperti semula. Dan saat berumur 50 tahun, orang bisa dengan mudah bangun pagi seperti anak-anak.

Dalam kurikulum 2013 dinyatakan bahwa peserta didik tidak boleh masuk siang  atau sekolah siang. Dalam penerapan kurikulum 2013, jam pelajaran akan ditambah sehingga peserta didik yang sekolah  pagi akan pulang sekolah sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Akibatnya, peserta didik yang sekolah siang akan pulang lebih malam lagi. Pada kurikulum KTSP sebaliknya, sekolah diperbolehkan untuk menerima peserta didik sebanyak mungkin yang menyebabkan berlebihnya rombongan belajar sehingga membutuhkan banyak ruang belajar. Sedangkan untuk penambahan ruang belajar baru  belum ada anggaran. Untuk mencukupinya terpaksa peserta didik masuk siang.

DPRD Kota Serang melarang adanya sekolah siang. Penerimaan peserta didik baru harus disesuaikan dengan jumlah ruang belajar. Kalau tidak ada ruangan belajar jangan dipaksakan menerima peserta didik melebihi kapasitas yang tersedia. Sementara itu, pemprov DKI merencanakan akan membeli tanah yang luas untuk membangun gedung sekolah atau ruang belajar yang dapat menampung peserta didik dari tiga jenjang pendidikan, yaitu SD, SMP dan SMK di wilayah Jakarta sehingga peserta didik yang sekolah siang dapat menikmati sekolah pagi. Dinas Pendidikan DKI juga sedang melakukan pengelompokan sekolah dan penggabungan sekolah agar sekolah tersebut lebih banyak lagi dapat menampung peserta didik.

Berdasarkan pengalaman, sekolah siang sungguh melelahkan bagi guru karena terpaksa mengajar Double shift, setelah mengajar pagi mereka mesti melanjutkan mengajar siang juga sehingga menguras cukup tenaga dan melihat kesulitan peserta didik yang sekolah siang  dan harus pulang hingga menjelang  malam, alangkah eloknya pemerintah daerah (khususnya dinas pendidikan nasional) dan pengurus yayasan menerapkan jam masuk sekolah harus pagi  bagi  sekolah  negeri maupun swasta.

Masalah yang menarik adalah sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan YPLP Dasmen PGRI  dari berbagai tingkatan (contohnya SMP PGRI 9, SMK PGRI 1 dan SMA 5 Palembang), melakukan kegiatan belajar mengajar dalam satu ruang lokasi yang sama (kampus Macan Lindungan). Artinya ruang belajar yang dipakai adalah ruang belajar yang sama tetapi dengan tingkatan sekolah, guru dan perangkat sekolah yang berbeda, yang pengaturannya kegiatan belajar mengajarnya,  ada yang jam masuknya pagi (SMK PGRI 1) dan ada yang terpaksa  jam masuknya siang (SMP PGRI 9 dan SMA PGRI 5). 

Seperti  pejelasan diatas, jalan satu-satunya  agar  tidak ada peserta didik yang masuk siang, maka dalam penerimaan peserta didik di sesuaikan dengan kapasitas ruang belajar yang tersedia. Sesuatu yang sulit dilakukan, karena masing-masing sekolah tidak mau mengalah atau tidak ingin peserta didiknya di kurangi.

Selain membangun ruang belajar  baru oleh YPLP Dasmen PGRI dengan swadana atau bantuan pemerintah. Jalan yang terbaik  yaitu menutup sekolah yang jumlah peserta didiknya tidak memadai karena dianggap membebani yayasan dan memperburuk citra YPLP Dasmen PGRI yang “memelihara” sekolah  yang peserta didiknya sedikit.

 Apabila tetap dipaksakan masuk siang, hal ini tidak akan merubah stigma masyarakat yang menyatakan sekolah siang merupakan sekolah tumpangan dan tidak memiliki ruang belajar sendiri. Apalagi stigma tersebut dibenarkan oleh oknum guru yang mengajar  di sekolah pagi. Secara tidak langsung mereka telah menginformasi eksitensi sekolah siang kepada masyarakat pengguna pendidikan. Mereka menjadi penyambung lidah penghambat majunya sekolah siang. (*)

-Noperman Subhi, S.IP, M.Si, lahir di Pagaralam (Sumsel) 13 november 1969. Lulus S1 Ilmu Pemerintah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan S2 Magister Administrasi Pendidikan di Universitas Sjakhyakirti. Sekarang aktif sebagai guru PPKn diperbantukan di SMA PGRI 5 Palembang dengan jabatan Wakil kepala sekolah (2012 – sekarang). 
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget