Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Februari 2018

Temanggung, Harianguru.com - Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Grip STAINU Temanggung berhasil menghelat Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) selama dua hari, Sabtu (24/2/2018) sampai Minggu (25/2/2018). Uniknya, mereka sebelum menggelar PJTD itu dimulai dengan kegiatan mujahadah dan malam keakraban atau makrab antara pengurus dan anggota baru serta senior LPM Grip.

Dijelaskan panitia, bahwa sebelum acara PJTD dimulai Sabtu (24/2/2018) sekitar jam 18.30 wib seluruh panitia dan juga peserta melakukan mujahadah terlebih dahulu.

Acara PJTD dibuka oleh ketua demisioner LPM GRIP 2016/2017, acara setelah pembukaan adalah acara makrab. Di dalam acara makrab dari masing-masing anggota LPM Grip menyampaikan kesan dan pesan selama ikut ke dalam LPM, dan para peserta menyampaikan motivasi kenapa mengikuti organosadi LPM GRIP. Setelah itu dilanjutkan pelatihan desain grafis dan layout pelatihan tersebut selesai sekitar jam 01.00 wib.

Minggu (25/2/2018) pagi, acara PJTD LPM Grip ini dilanjutkan materi kejurnalistikan dengan pemateri Bapak Hamidullih Ibda pengurus Bidang Literasi Media SMSI Jateng.
.
"Di dalam pers itu harus mempunyai data yang akurat, dan tidak boleh memihak artinnya harus sesuai dengan kenyataan di lapangan, dan pers itu berhak mengguasai isu-isu yang ada di kampus," kata Ibda yang juga dosen PGMI STAINU Temanggung tersebut di hadapan peserta.

Sementara itu, panitia PJTD LPM Grip menegaskan bahwa tujuan dengan diadakan acara PJTD ini diharap nantinnya para anggota LPM bisa menjadi mahasiswa yang kritis dan bisa membuat isu-isu yang ada di kampus yang nantinnya akan tuangkan ke dalam karya tulisan. (hg33/adi astanto).

Semarang, Harianguru.com - Puluhan orangtua atau wali murid PAUD Labschool UNNES hadir dalam Family Gathering bertajuk "Mewujudkan Sekolah Menyenangkan Melalui Toleransi Agama dan Budaya pada Anak Usia Dini" pada Jumat pagi (23/2/2018) di lantai 2 PAUD Labschool UNNES di Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur, Semarang.

Kepala PAUD Labschool UNNES, Ismuwati, dalam sambutannya menegaskan bahwa anak-anak PAUD Labschool UNNES dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan pesat. Salah satunya adalah mengembangkan karakter toleransi melalui pembuatan batik. Tema yang diangkat dalam acara tersebut dijelaskannya adalah kepedulian PAUD Labschool UNNES terhadapan penanaman karakter toleransi di era sekarang.

Pihaknya menegaskan bahwa Labschool UNNES telah berhasil menciptakan batik keberagaman melalui kreativitas anak-anak. "Kemarin sudah mendapat apresiasi dari Jogjakarta dan nanti kita akan saksikan hasil karya batik anak-anak," beber dia.

Dijelaskan dia, perkembangan anak-anak PAUD Labschool UNNES tidak diprioritaskan untuk mengejar perkembangan kognitif, namun juga perkembangan spiritual dan emosional.

Saya ucapkan terima kasih, kata dia, kepada bapak dan ibu wali murid bersedia hadir di sini. "Semoga acara ini semakin mendekatkan kekeluargaan antara guru dan wali murid," harap dia.

Salah satu wali murid siswa Labschool UNNES, Dian Marta, mengatakan kegiatan itu menjadi bagian dari pengenalan orang tua dengan kegiatan anak-anaknya di sekolah.

Menurut dia, dunia anak-anak memang tidak sekadar mengejar kemampuan kognitif, namun harus menyeimbangkan aspek afektif dan paikomotorik. (hg33/hi)


Temanggung, Harianguru.com - Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Grip STAINU Temanggung, Jawa Tengah, akan menggelar Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar dengan narasumber Hamidulloh Ibda Pengurus Bidang Literasi Media Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Jawa Tengah pada Sabtu sampai Minggu (24-25/2/2018).

Direncanakan, kegiatan ini akan digelar di Ruang Rapat Dosen Gedung Syariah lantai 2 STAINU Temanggung. "Buktikan bahwa kamu mampu menjadi jurnalis yang andal dan berkompeten. Buktikan jika kamu bukan hanya mahasiswa yang apatis, tunjukkan bahwa kamu itu mahasiswa yang kritis akan isu-isu regional maupun nasional dengan bergabung bersama kami di LPM GRIP STAINU Temanggung dengan mengikuti PJTD silahkan catat jadwalnya," kata Itsma panitia kegiatan kepada harianguru.com, Kamis (22/2/2018).

LPM Grip STAINU Temanggung dalam acara ini juga mendapuk sejumlah media online sebagai media partner. Mulai dari Harianjateng.com, Tabayuna.com, dan Hariantemanggung.com.
Menurut dia panitia memberikan fasilitas mulai dari sertifikat, akomodasi dan ilmu teoretis dan praktis tentang kejurnalistikan dengan kontribusi Rp 10.000.

"Syarat pendaftaran mengisi formulir, menyerahkan FC NIRM dan membayar uang kontribusi. Bagi mahasiswa dan mahasiswi STAINU Temanggung yang berminat ayo silakan hubungi 0856-4708-2144 (Itma Y) dan 0822-2068-2158 (Adi Astanto) untuk komunikasi via WhatsApp," pungkas dia. (hg44/hms)


Pati, Harianguru.com - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, Jawa Tengah berhasil menyelenggarakan even Sepak Takraw PATI OPEN 2018  Usia 12th, Usia 15th, dan Usia 17th putra maupun putri. Kegiatan tersebut dilaksanakan  pada tanggal 21-22 Februari 2018.

Supar Kasi Pembinaan Olahraga Pelajar Kabupaten Pati mengatakan PATI OPEN 2018 merupakan ajang pembinaan yang bertujuan untuk menyeleksi atlet Sepak Takraw untuk mewakili Kabupaten Pati. Dalam ajang POPDA Eks. Karesidenan pada bulan maret mendatang, jadi yang juara menjadi acuan untuk mewakili Kabupaten Pati,” kata dia.

Even tersebut di ikuti oleh banyak peserta perwakilan dari sekolah kecamatan maupun club yang ada di Kabupaten Pati salah satunya adalah club ASTF DUKUHSETI Pati. “Anak-anak dari club saya sebar untuk mewakili sekolahan  masing-masing karena dalam ajang ini akan berkelanjutan ke jenjang karesidenan jadi harus ada kerjasama dari pihak club dan instansi sekolah, kata Johan perintis ASTF Dukuhseti, Pati.

Hasil dari PATI OPEN 2018  kemarin, anak-anak dari ASTF Dukuhseti yang mewakili sekolah masing-masing total mendapatkan 11 piala dari semua nomor yang dipertandingkan yaitu, usia 12th SDN Dukuhseti 02 putra juara 1 dan  3, putri juara 2 dan 3. Usia 15th MTS Himmatul Muta’allimin putra juara 2, putri juara 2 dan 3 serta MTS Madarijul Huda putra juara 3. Usia 17th MA Madarijul Huda putra juara 1 dan perwakilan club ASTF Dukuhseti juara 2.

Johan menegaskan karena tujuan club ini adalah untuk memasyarakatkan olahraga Sepak Takraw dan mengangkat prestasi Kabupaten Pati dalam bidang olahraga Sepak Takraw. Jadi saya akan mempersiapkan anak-anak untuk even POPDA Eks. Karesidenan karena SDN Dukuhseti 02 dan MA Madarijul Huda keluar sebagai juara. Semoga dalam ajang POPDA Eks. Karesidenan bisa membawa nama Kabupaten Pati lolos ke tingkat Provinsi,” harap dia. (hg44/hms).

Temanggung, Harianguru.com - Tim PPL STAINU Temanggung di SMA Negeri 1 Pringsurat, Temanggung, Jawa Tengah resmi pamitan karena sudah usai praktik, Selasa (20/2/2018).

Saat penarikan mahasiswa-mahasiswi PPL STAINU Temanggung, Selasa (20/2/2018), Drs. Teguh Wibowo, MM, Kepala SMAN 1 Pringsurat mengatakan bangga sekolahannya menjadi kepercayaan untuk dijadikan belajar praktik melalui PPL.

"Kami atas nama SMA Negeri 1 Pringsurat mengucapkan terima kasih atas kepercayaan STAINU yang telah menjadikan sekolah kami untuk PPL. Kami selalu membuka diri untuk mahasiswa yang nanti dalam penyelesaian laporan untuk kelengkapan data," beber Drs. Teguh Wibowo, MM Kepala SMA Negeri 1 Pringsurat saat menyampaikan sambutan.

Pihaknya juga menjelaskan, dalam proses  PPL, SMAN 1 Pringsurat turut bangga karena menjadi mitra dengan STAINU untuk berbagi pengalaman dalam penguatan kompetensi keguruan.

"Sungeng kundur. Semoga apa yang didapat dari sini bisa diimplementasikan. Selamat menjalankan kuliah lagi bagi mahasiswa dan semoga cepat lulus dengan tepat," lanjut dia.

Sementara itu, Hamidulloh Ibda dosen pembimbing lapangan menyampaikan bahwa tujuan utama dari PPL adalah untuk mempraktikkan teori-teori dalam perkuliahan yang didapat dari kampus. Dijelaskannya, bahwa empat kompetensi keguruan yaitu pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional serta delapan keterampilan mengajar menjadi capaian pokok dalam PPL tersebut.

"Di SMAN 1 Pringsurat ini tentu mahasiswa dan mahasiswa bisa belajar bersama khususnya kepada guru pamong untuk penguatan empat kompetensi keguruan. Hal itu menjadi kewajiban karena tidak didapat di kampus," beber dia.

Saat menyampaikan pesan dan kesannya, Ahmad Nur Islakh Koordinator Mahasiswa PPL mengatakan terima kasih kepada semua guru, karyawan dan utamanya guru pamong yang telah berbagi ilmu, arahan dan pengalamannya selama PPL.

Usai penarikan, mahasiswa memberikan kenang-kenangan kepada kepala sekolah, dosen pembimbing lapangan, guru pamong dan sekolah. Mereka berterima kasih dengan sinergitas yang terjalin antara STAINU dengan SMAN 1 Pringsurat tersebut. (*)

Ilustrasi:  Prof. Dr. Barmawy Munthe, MA guru besar UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta saat menyampaikan materi.
Purworejo, Harianguru.com - Prof. Dr. Barmawy Munthe, MA guru besar UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta menyampaikan ada beberapa tugas berat dosen yang harus dilakukan dosen sebelum mengajar.

Baca: Dosen STAINU Temanggung Perkuat Kualitas Metode Pembelajaran

"Sebelum mengajar, dosen harus bisa merumuskan capaian pembelajaran atau kompetensi sebuah mata kuliah yang mengacu pada KKNI-SNPT," kata Prof. Munthe dalam Workshop Metode Pembelajaran yang Merujuk pada KKNI-SNPT yang digelar di Hotel Sanjaya Inn Purworejo, Sabtu (17/2/2018) yang digelar oleh STAIAN Purworejo bekerjasama dengan Center for Teaching Staff Development (CTSD) UIN Sunan Kalijaga.

Workhsop yang digelar sampai besuk Minggu (18/2/2018) ini dihadiri dosen-dosen STAIAN Purworejo dan Tim CTSD UIN Sunan Kalijaga, hadir pula perwakilan dari STAINU Temanggung, dosen-dosen STAINU Purworejo, STAI Al-Husein Magelang dan lainnya.

Selain itu, Prof. Munthe, sapaannya, juga membeberkan bahwa dosen harus mampu mendesain standar isi atau materi pembelajaran satu mata kuliah yang mengacu KKNI-SNPT. "Kemudian menentukan berbagai strategi pembelajaran atau standar proses yang mengacu KKNI-SNPT," beber profesor berkopyah tersebut.

Selanjutnya, mengaplikasikan prinsip dan teknik standar penilaian pembelajaran dan membuat Rencana Pembelajaran Semester atau RPS serta membuat outline atau Satuan Acara Perkuliahan (SAP) untuk satu semester sesuai KKNI-SNPT.

Pihaknya juga menyampaikan pengertian KKNI dan SNPT. Menurut dia, KKNI adalah urusan kualifikasi dan diskualifikasi dari hasil pendidikan. "Kualifikasi lulusan harus jelas. Dan yang membuat kurikulum di tingkat prodi ya prodi itu sendiri," beber dia.

Maka, menurut dia, pengembangan kurikulum KKNI yang disesuaikan dengan visi-misi prodi atau institusi sangat menentukan profil lulusan sebagai produk dari kampus tersebut.

Semua itu, menurut dia sangat berdampak pada capaian pembelajaran lulusan. "Kata kerja operasional menjelaskan, memahami, mengetahui, itu di bawah standar. Kalau level enam di KKNI sesuai taksonomi Bloom yang sudah direvisi itu minimal menganalisis," tegas dia.

Kalau tidak seperti itu, kata dia, harus dibenahi. "Apa jadinya lulusan dari kampus Anda kalau capaian pembelajaran  lulusan tidak jelas," papar dia.

Pihaknya menjelaskan tingkatan level dalam pembelajaran. Menurutnya, yang paling bawah adalah mengingat, kemudian memahami, menerapkan, analisis, evaluasi dan terakhir adalah membuat atau creating.

Selain Prof. Dr. Barmawy Munthe, M.A, hadir pula narasumber dalam kegiatan ini Dr. H. Maksudin, M.Ag, Dr. Sekar Ayu Aryani, M.Ag, Dr. Eva Latipah, M.Si, Diah Ajeng Purwani, M.Si, Dr. Imelda Fajriati, M.Si dan Jauhar Faradis, MA. (red-HG33/hms)

Ilustrasi: Dosen STAINU Temanggung saat foto bersama Ketua Tim CTSD UIN Sunan Kalijaga Dr. H. Maksudin, M.Ag dan Prof. Dr. Barmawy Munthe, MA di sela-sela materi.
Purworejo, Harianguru.com - Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, dua dosen STAINU Temanggung mengikuti Workshop Metode Pembelajaran yang Merujuk pada KKNI-SNPT yang digelar di Hotel Sanjaya Inn Purworejo selama dua hari, Sabtu (17/2/2018) sampai besuk Minggu (18/2/2018).

Dua dosen itu adalah Hamidulloh Ibda dosen dan Kaprodi PGMI dan Husna Nashihin dosen dan Sekprodi PIAUD STAINU Temanggung. Kegiatan ini digelar oleh STAIAN Purworejo yang bekerjasama dengan Center for Teaching Staff Development (CTSD) UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

Narasumber dalam kegiatan ini adalah Dr. H. Maksudin, M.Ag, Prof. Dr. Barmawy Munthe, M.A, Dr. Sekar Ayu Aryani, M.Ag, Dr. Eva Latipah, M.Si, Diah Ajeng Purwani, M.Si, Dr. Imelda Fajriati, M.Si dan Jauhar Faradis, MA.

Saat menyampaikan materi, Dr. Eva Latipah, M.Si mengatakan bahwa workshop metode pembelajaran merujuk KKNI-SNPT ini dimaksudkan untuk berbagi (sharing) pengetahuan dan pengalaman bidang kompetensi pedagogi yang mengacu pada KKNI dan SNPT.

"Tim fasilitator workshop ini adalah Tim CTSD UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Materi yang diberikan merupakan satu alternatif untuk mendesain sebuah mata kuliah secara holistik yang mengacu KKNI-SNPT yang meliputi Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi Pembelajaran, Standar Proses Pembelajaran yang interaktif-partisipatif, dan Standar Penilaian Pembelajaran sesuai prosedur dan teknik yang fair," kata Dr. Eva Latipah, M.Si, Sabtu (17/2/2018).

Dalam kesempatan itu, selain dosen-dosen STAIAN Purworejo dan Tim CTSD UIN Sunan Kalijaga, hadir pula perwakilan dari STAINU Temanggung, dosen-dosen STAINU Purworejo, STAI Al-Husein Magelang dan lainnya.

Dijelaskan Eva, bahwa workshop metode pembelajaran itu berorientasi pada hasil dan sekaligus pada proses. "Untuk itu, semua peserta akan terlibat aktif dalam penerapan teori-teori yang hasil akhirnya adalah karya," beber dia.

Semua peserta, dalam workshop ini langsung diajak simulasi dan wajib mengerjakan tugas dari para narasumber. Mulai dari materi KKNI-SNPT, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi/Materi Pembelajaran, Standar Proses Pembelajaran, Standar Penilaian Pembelajaran, Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dan Outline Mata Kuliah atau SAP. (red-HG33/hms).

Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun (HUT)  ke 64 dan 63, PC IPNU-IPPNU Kabupaten Temanggung menggelar rangkatan acara di komplek kampus STAINU Temangggung yang berakhir Minggu (18/2/2018).



Bertempat di halaman STAINU Temanggung, pada hari Sabtu (17/2/2018) kemarin, peringatan HUT PC IPNU-IPPNU yang ke 64 dan 63 ini mengangkat tema "Pemuda Zaman Now" dengan mengadakan beberapa kegiatan seperti festival band religi, artikel ilmiah, vlog dan seminar pemuda, kesenian daerah Kabupaten Temanggung.



Kegiatan yang dilaksanakan mulai 17 sampai 18 Februari 2018 ini menarik antusiasme warga nahdliyin di wilayah Temanggung dan civitas akademika STAINU Temanggung.



Dalam pembukaan HUT IPNU-IPPNU ini, ini dihadiri oleh Sekda Temanggung, Ketua STAINU Temanggung, Presiden Mahasiswa STAINU Temanggung dan seluruh Ketua PAC IPNU-IPPNU se Kabupaten Temanggung.



Dalam sambutannya, Ketua Panitia M Ulfi Fadli menuturkan kegiatan ini dilakukan agar nantinya dapat meningkatkan sinergitas kader IPNU-IPPNU se Kabupaten Temanggung.



Kemudian, Ketua Panitia juga menuturkan agar kegiatan HUT ini berjalan dengan lancar dengan berpesan agar supaya mengikuti seluruh kegiatan yang dilakukan di acara HUT IPNU-IPPNU ini.



Sementara itu, Wakil Sekda Temanggung Romadhon, menuturkan agar nantinya seluruh kader IPNU-IPPNU  mempunyai sinergitas keilmuan Islam yang tinggi.



Pembukaan acara HUT IPNU-IPPNU ini dibuka secara simbolis oleh Ketua STANU Temanggung, Drs. H. Muh Baehaqi, MM yang dihadiri ratusan hadiran dari berbagai kalangan.



Mereka tampak antusias dengan berselfi, foto-foto dan menyimak festival band di komplek kampus STAINU Temanggung. (red-HG33/kholil).



Oleh: Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.

Penulis adalah Guru SD Supriyadi Semarang


“Ketika saya duduk di bangku SD sampai SMA, jika saya membuat kesalahan, keributan, pasti dijewer guru. Bahkan tak jarang pula guru menyentilkan tuding (penggaris dari bambu) ke badan saya. Teman-teman lain pun mengalami hal yang sama. Dengan hukuman dari guru yang seperti itu, saya merasa takut menjadi anak yang bodoh, saya takut untuk tidak belajar, saya takut menjadi anak yang tidak disiplin, saya takut menjadi anak yang tidak jujur, saya takut menjadi anak yang tidak menghormati guru. Dan, dari rasa ketakutan yang diberikan  oleh sang guru, kini saya pun menjadi seorang guru. Saya selalu berkaca dari guru-guru saya. Beliau lah sosok panutan kemuliaan dari semua profesi”. Ini lah seklumit curahan hati penulis, yang mungkin mewakili sebagian besar kids jaman old.

Walaupun telah mendapat perlakuan sakit secara fisik dan itu hanya sesaat, tapi hubungan murid dengan guru, hubungan orang tua dengan guru tetaplah harmonis. Pada waktu dulu belum ada Undang-Undang Perlindungan Anak, tidak pernah pemberitaan berakhir tragis, guru dihukum, kabar guru diciduk polisi, guru dijeblos ke penjara, guru dipukul orang tua siswa, bahkan guru dianiaya muridnya sendiri hanya karena guru menegurnya. Seperti yang baru baru ini terjadi di Sampang, Madura, seorang guru meninggal setelah dianiaya muridnya yang tak terima ditegur dan dicoret pipinya oleh sang guru. Sungguh sakit hati ini, gemetar badan ini. Lagi, seolah tak ada habisnya penyiksaan terhadap guru.

Satu-satu pergi, satu-satu hilang. Demikianlah pesan “guru BUDI” yang menjadi korban pemukulan hingga akhirnya meninggal dunia akibat ulah muridnya yang duduk di kelas XI di sebuah SMA Negeri di Sampang, Madura.  Postingan terakhir di akun IG abc_isme (Achmad Budi Cahyono), lirik ‘Sendja Djiwa’ seolah menjlentrehkan tentang krisis moralitas murid terhadap gurunya. Satu per satu sikap hormat terhadap guru telah pergi. Satu per satu sopan santun terhadap guru telah hilang. Satu per satu rasa segan terhadap guru pergi lalu hilang.

Pada saat sekarang ini, perilaku dan tindakan murid terhadap guru semakin memprihatinkan. Hampir tidak ada lagi siswa yang berjalan dengan merundukkan badan di depan gurunya, tidak ada lagi murid yang segan dan hormat kepada gurunya. Bahkan pada saat berlangsungnya proses kegiatan belajar mengajar murid tak segan-segan melawan gurunya, mulai dari perkataan sampai pukulan, MIRIS!!.
Jaman modern kini, murid berpikir secara instan, bahwa dirinya adalah sosok yang akan selalu mendapat perlindungan dan terbebas dari kesalahan apalagi hukuman. Bertindak semaunya sendiri tanpa memperhatikan dengan siapa dia berbicara dan bertindak. 

Mungkinkah, dari imbas Undang-Undang perlindungan anak menjadikan murid semakin brutal, arogan dan radikal terhadap gurunya?
Kita tahu, bahwa guru pasti memberikan pendidikan yang terbaik walaupun terkadang perlu jeweran, cubitan dan sentilan dari guru. Dengan adanya UU perlindungan anak tentunya sangat mempengaruhi dunia pendidikan karena dalam undang-undang, anak tidak boleh dipukul dan disakiti. Sering kita amati, murid sekarang tidak segan-segan merokok di depan gurunya sendiri bahkan ada yang berkendara melewati guru yang sedang berjalan kaki tidak berhenti menyapa, terlebih memberi tumpangan kepada gurunya.

Apa Penyebabnya?
Sikap murid-murid dahulu dengan sekarang amat jauh berbeda bagai “langit dan bumi”. Dewasa ini, boleh dikatakan hampir kebanyakan murid kurang menghormati guru-guru di sekolah apalagi di luar sekolah, saat bertemu sang guru.

Berikut ini, menjadi penting untuk kita bersama-sama kembali peduli dan renungkan. Pertama, Orang tua murid itu sendiri. Pada jaman dahulu orang tua murid begitu akrab hubungannya dengan guru-guru. Mereka sentiasa bertegur sapa saat bertemu, orang tua sangat menghormati guru, bahkan tak jarang, hanya sekedar berkirim “salam” untuk guru yang dititipkan melalui anaknya.  Sekarang di jaman serba modern ini, keadaan seperti ini tidak berwujud lagi. Dahulu orang tua murid senantiasa menempatkan guru berada di pihak yang benar jika guru menghukum anaknya, karena orang tua menyadari guru pasti memberikan pendidikan terbaik, tidak mungkin guru memberi hukuman jika muridnya tidak melakukan kesalahan.

Pada masa sekarang, sebaliknya, guru yang selalu disalahkan, jika guru menghukum murid dengan jeweran atau cubitan. Bagi orang tua, mereka menutup rapat mata dan telinga mereka dan lebih berpihak kepada anak-anak serta menyalahkan guru.

Kedua, Faktor perkembangan IT. Dahulu guru adalah satu-satunya sumber ilmu jika dibandingkan jaman modern yang serba canggih ini. Sekarang,  murid bisa mendapat ilmu dari pelbagai sumber seperti dari TV, berbagai media cetak dan terbaru sekali ialah melalui internet. Murid menjadi  merasa sok tahu dan lebih tau dari gurunya. Jika ini menjadi satu dari penyebabnya, kita sebagai guru harus semakin aktif di dalam mengakses ilmu pengetahuan dan berita terbaru.

Ketiga, Kedudukan guru yang semakin goyah di masyarakat. Pada masa dahulu guru adalah profesi yang amat dihormati di masyarakat. Jika ada suatu acara di daerah misalnya, gurulah yang memainkan peran utama. Guru-guru jaman dahulu akan duduk di barisan berdampingan dengan jabatan penting di daerah itu. Keadaan sekarang sudah berubah. Pada masa ini posisi telah diambil alih oleh elit politik yang berkepentingan hingga artis.

Pekerjaan guru adalah satu pekerjaan yang mulia, yang sekarang ini dipandang sebelah mata. Undang-Undang perlindungan anak seolah menjadi senjata murid yang minim etika terhadap gurunya. Menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah seharusnya, sebagai pihak yang berwenang atas muatan yang dibuat. Kedudukan guru di berbagai lapisan keluarga hingga masyarakat perlu dipulihkan. Cara-cara ini menjadi solusi yang dapat memberikan kesadaran kepada murid-murid agar kembali menghormati gurunya. Satu-satu pergi, satu-satu hilang, semoga tidak ada lagi ‘guru budi’ yang pergi dan hilang. (hg8)

Suasana Wisuda Program Sarjana ke XXIII STAINU Temanggung, Selasa (13/2/2018).
Temanggung, Harianguru.com - Dr. Nurul Huda perwakilan dari Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) mengatakan bahwa banyak peran LPTNU yang harus dipahami perguruan tinggi NU.

"LPTNU itu dibentuk saat Muktamar NU di Jombang. Kalau dulu namanya Lajnah NU. Tugasnya, mendirikan dan pembinaan perguruan tinggi NU," beber dia dalam Wisuda XXIII STAINU Temanggung," Selasa (13/2/2018) di Gedung Pemuda Temanggung.

Dari awal, kata dia, ada 31 perguruan tinggi baru yang tumbuh dari Jakarta, Medan dan sampai ke Timur.

"Selain pendirian, kami mendorong perguruan tinggi ilmu ekonomi menjadi sekolah tinggi agama Islam. Nah kalau yang sudah menjadi sekolah tinggi ilmu agama Islam NU, kita dorong menjadi institut atau universitas," beber dia yang mewakili Prof Dr. KH. Mujahidin dalam forum tersebut.

Syarat menjadi institut, kata dia, hanya enam saja. "Nah, STAINU Temanggung ini sudah enam prodi. Makanya ini nanti kita dorong untuk segera berubah menjadi INISNU," beber dia.

Kita mendorong atas perubahan itu untuk meningkatkan akreditasi. "Kalau kemarin STAINU sudah mendapat akreditasi B, maka besuk harus dapat A. Mudah-mudahan dorongan ini menjadi ikhtiar untuk kemajuan pendidikan tinggi di NU," kata dia.

Dalam wisuda itu, hadir perwakilan LPTNU, PWNU Jawa Tengah, PCNU Temangggung,  BPPPTNU Temanggung, Prof Dr H Muhibbin Noor, MA, Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga yang mewakili Bupati Temanggung,

Hadi pula perwakilan dari Bank Jateng dan Bank Syariah, tamu undangan dari Kodim, Polres, SKPD dan pejabat Temanggung yang hadir. Hadir pula para anggota Senat, kiai, alim ulama, orang tua dan wisudawan, civitas akademika STAINU Temanggung. (red-hg44/hms).

Suasana Wisuda Program Sarjana ke XXIII STAINU Temanggung
Temanggung, Harianguru.com - Prof Dr H Muhibbin Noor Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah, mengatakan bahwa hidup di zaman now ini, lulusan S1 harus melanjutkan studi lanjut yaitu S2 atau magister.

"Zaman now, S1 itu belum apa-apa. Sekarang ya minimal S2, jangan puas dengan apa yang didapat," kata Rektor UIN Walisongo Semarang itu dalam Wisuda XXIII STAINU Temanggung di gedung pemuda Temanggung, Selasa (13/2/2018).

Kalau tidak bisa S2, kata dia, ya yang penting membaca, membaca dan lakukan pembelajaran di lembaga non formal.

Dalam wisuda itu, hadir perwakilan LPTNU, PWNU Jawa Tengah, PCNU Temangggung,  BPPPTNU Temanggung, Prof Dr H Muhibbin Noor, MA, Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga yang mewakili Bupati Temanggung,

Hadi pula perwakilan dari Bank Jateng dan Bank Syariah, tamu undangan dari Kodim, Polres, SKPD dan pejabat Temanggung yang hadir. Hadir pula para anggota Senat, kiai, alim ulama, orang tua dan wisudawan, civitas akademika STAINU Temanggung. (red-HG22/hi)

Anak-anak TK IT Mutiara Hati saat di Museum Dirgantara
Harianguru.com - Dalam perkembangan anak, tidak melulu berorientasi pada kecerdasan intelektual, namun juga emosional dan spiritual. Apalagi, bagi mereka yang masih duduk di bangku TK/PAUD. Mereka sangat membutuhkan kegiatan di luar dengan spirit belajar dan bermain.

Oleh karena itu, TK IT Mutiara Hati Parakan, Temanggung, melalukan Rilah Jauh ke Museum Dirgantara Yogyakarta pada Rabu, 8 Februari 2018 dalam rangka melejitkan kecerdasan emosional pada anak didik mereka.

Anak-anak tersebut, bersama guru berangkat pukul 07.00 WIB dari depan Kantor Kawedanan Parakan menuju lokasi Museum Dirgantara Yogyakarta. Dalam kegiatan itu, anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan Rilah dengan tema pesawat tersebut.

Rhindra Puspitasari, M.Pd komite TK IT Mutiara Hati Parakan yang juga dosen Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAINU Temanggung, kegiatan Rilah tersebut dapat meningkatkan kecerdasan emosi anak. 
Anak-anak TK IT Mutiara Hati saat di Museum Dirgantara

"Kegiatan seperti ini sangat membantu akselerasi pertumbuhan anak, terutama kecerdasan emosional. Mereka juga sejenak menyegarkan pikiran karena lama belajar di sekolah," kata dia kepada Harianguru.com pada Minggu (11/2/2018).

Pihaknya menjelaskan, pengalaman baru dan perasaan gembira anak saat mengikuti kegiatan Rilah adalah salah satu hal yang ptg dalam pembentukan kecerdasan emosi anak.

"Memahamkan anak atas emosi dasar manusia sangat penting dan harus dilatihkan. Melalui Rilah hal baru dan perasaan gembira, anak-anak akan mudah mendapatkan kegembiraan dan anak akan belajar bagaimana mengelola emosi bahagia," jelas anggota Lembaga Penjamin Mutu (LPM) STAINU Temanggung itu.

Rindra juga membebeakrna, bahwa Rilah dilaksanakan oleh TK IT Mutiara Hati Parakan dengan menggunakan 4 bus pariwisata dengan tujuan ke Museum Dirgantara dan Pandawa Water World di Solo. "Kurang lebih ada jumlah peserta dan wali murid serta crew sekitar 200-an," ujar Rindra. (HG33/ibda).

Tiga dosen STAINU Temanggung
Semarang, Harianguru.com - Dalam Pelatihan dan Sertifikasi Dewan Pengawas Syariah KSPPS-BMT Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) Institut, tiga  dosen STAINU Temanggung meraup  nilai tertinggi.



Dalam ujian pelatihan dan  sertifikasi Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) itu, tiga dosen STAINU Temanggung tersebut adalah Amin Nasrulloh, L.C, M.Ek, Kaprodi Ekonomi Syariah yang mendapatkan peringkat pertama dengan nilai 86.



Kemudian, informasi yang diterima harianguru.com pada Sabtu (10/2/2018) malam, peringkat ke-2 juga dosen Ekonomi Syariah, Nasih Muhammad, S.H.I , M.H. dengan nilai 76. Sedangkan peringkat ke-3 dengan nilai yang sama 76 oleh kaprodi Ahwal Al-Syakhshiyyah, Sumarjoko, S.H.I., M.S.I.



Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam dunia perbankan, berperan dalam mengawasi produk-produk perbankan syariah sebelum diluncurkan kepada masyarakat luas. Eksistensi peran aktif dari Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) ini adalah suatu keharusan dan mutlak ada, di mana yang membedakan bank konvensional dengan bank syariah atau lembaga keuangan syariah yang lain seperti Baitul Mal WaTamwil (BMT) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) dan lain sebagainya, yaitu dengan adanya peran penting DPS dalam mengawasi, baik dari segi operasional atau mekanisme, produk danjasa yang dikeluarkan oleh pihak bank.



Hal tersebut dilakukan agar kegiatan tranksaksi ataupun manajemen dilakukan benar-benar berjalan sesuai koridor yang telah ditentukan oleh kaidah hukum syara atau hukum Islam. Oleh karena itu, sangat urgen dilakukan pelatihan dan sertifikasi guna mencapai tujuan tersebut.



Menurut Sumarjoko, pelatihan dan sertifikasi ini sangat bermanfaat bagi perkembangan dunia pengawas syariah. Khususnya, bagi akademisi yang konsen dalam bidang tersebut.



Pihaknya juga menegaskan, banyak oase pengetahuan yang bisa diimplementasikan untuk diterapkan di kampus. "Harapan kami adalah semoga lebih bermanfaat di STAINU Temanggung," ujar dia, Sabtu (10/2/2018).



Kegiatan itu, merupakan pelatihan sekaligus sertifikasi yang dihelat di Hotel Grasia Semarang, mulai 8 Februari 2018 hingga 10 Februari 2018 yang diikuti oleh sejumlah kalangan. (hg4/hms).

Temanggung, Harianguru.com - Dalam PPL, mahasiswa dan mahasiswi STAINU Temanggung banyak berperan aktif dalam berbagai program. Tidak hanya manasik haji, namun mereka juga melakukan simulasi praktik perawatan jenazah kepada pelajar.

Baca juga: Tim PPL STAINU Temanggung Ajak Pelajar SMAN1 Praktik Manasik Haji

Rika Masyitoh, S. Pd. I, guru Pengampu PAI kelas XI SMA Negeri 1 Temanggung, menjelaskan bahwa banyak manafaat yang didapat pelajar dalam simulasi praktik perawatn jenazah tersebut.

"Alhamdulillah dengan adanya demonstrasi praktik perawatan jenazah dari praktikan mahasiswa mahadiswi STAINU Temanggung, bisa memberikan pembelajaran yang mendidik, bahkan bisa menggugah antusias siswa siswi kelas XI untuk lebih memahami bagaimana tata cara perawatan jenazah ini," kata Rika Masyitoh, Rabu (7/2/2018).

Semoga dengan adanya wahana praktik pembelajaran ini, kata dia, siswa bisa tergugah untuk ikut andil dalam kehidupan masyarakat nantinya, ketika ada peristiwa meninggalnya seseorang di masyarakat. "Meskipun perawatan jenazah hukumnya fardhu kifayah tetapi harus dketahui 4 hal dalam merawat jenazah tersebut," papar guru tersebut.






Sementara itu, Nailil Maghfiroh mahasiswi STAINU Temanggung yang melakukan PPL di SMAN1 Temanggung, menegaskan bahwa pihaknya bersama rekan-rekannya melakukan metode berbeda dalam PPL di tahun ini. "Salah satu metode yang kami gunakan pada saat PPL ini adalah dengan demonstrasi cara mengafani dan menyalati jenazah. Metode ini sangat efektif sekaligus sesuai dengan karakter pembelajaran yg holistik dan menyenangkan pada K13," - Nailil Maghfiroh.

Pihaknya bersama kawan-kawannya berharap, melalui praktik itu, pelajar bisa mempraktikkannya secara langsung dengan cara yang sudah ditentukan dalam Islam. (HG44/hms).

Temanggung, Harianguru.com - Tim Mahasiswa PPL STAINU Temanggung yang melakukan kegiatan praktik di SMA Negeri 1 Temanggung, bekerjasama dengan pihak sekolah, menggelar praktik manasik haji di KBIH Babussalam NU Temanggung di komplek kampus STAINU Temanggung.


Sesuai rencana, kegiatan ini akan berakhir pada besuk Kamis (8/2/2018) yang dimulai sejak Selasa (6/2/2018) kemarin.

Afif Khoirrurrahman, S.Pd.I guru mapel PAI Kelas X SMA N 1 Temanggung mendukung penuh kegiatan tersebut. "Saya sangat mendukung dan berharap agar setiap tahunnya dapat diselenggarakan manasik haji. Kegiatan manasik haji menjadi bekal pengetahuan di kemudian hari, di saat siswa diberikan kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji," kata dia kepada harianguru.com, Rabu (7/2/2018).

Saya berharap di tahun depan, lanjut dia, dapat menjadi rutinitas siswa SMA N 1 Temanggung khususnya kelas X. "Tujuannya agar menjadi bekal pengetahuan bagi mereka dihari yang akan datang," lanjut dia.

Sementara itu, Koordinator PPL SMA N 1 Temanggung, Roni Nefriyadi mengatakan bahwa kegiatan itu selain bermanfaat bagi pelajar SMA, juga menjadi bagian dari implementasi materi kuliah yang didapat saat perkuliahan di STAINU Temanggung.

"Materi yang kami terima saat microteaching adalah kurikulum 2013, dengan model pendekatan saintifik, yang tentunya harus disertai dengan keterampilan peserta didik untuk mengimplementasikan materi-materi yang telah dipelajari di sekolah," kata dia.

Manasik haji ini, kata dia, kemudian, dilaksanakan untuk mensikronkan antara teori dan praktik. "Sehingga peserta didik mampu menganalisis keadaan serta mampu beradaptasi dengan hal-hal baru di lapangan yang mungkin luput tersampaikan disaat pemberian materi," paparnya.

Selain manasik haji, lanjut dia, praktikan di SMA N 1 Temanggung untuk kelas XI juga sedang menjalankan praktik mengkafani jenazah. "Manasik Haji dilaksanakan pada hari Selasa 6 Februari 2018 sampai besuk Kamis, 8 Februari 2018 untuk kelas X SMAN 1 Temanggung," tukas dia. (hg39/hi).

Salah satu mahasiswi usai mencoblos di kampus STAINU Temanggung, Sabtu (3/2/2018).
Temanggung, Harianguru.com - Menjelang pelaksanaan Pemilihan Bupati-Wakil Bupati Temanggung 2018 yang akan dilaksanakan Juni mendatang, ratusan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung melakukan pembelajarann demokrasi melalui pemilihan raya mahasiswa.

Baca: Dosen STAINU Temanggung Dorong Akademisi Kawal Pilkada 2018

Hari ini, Sabtu (3/2/2018), kampus hijau Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung tampak ramai. Meski ada sebagian mahasiswa yang cuek dengan keramaian itu. Namun, antusiasme mereka tampak gemrincing bak suara gelang yang diayun-ayun.

Mahasiswa STAINU Temanggung yang memiliki hajat pemilihan Presiden dan Wakil Presiden BEM akan menjadi titihan demokrasi mahasiswa di bangku perkuliahan. Dengan meminjam pola demokrasi, mereka melakukan prinsip langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

Tahun ini, hajat pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di kampus yang berlokasi di Jalan Suwandi-Suwardi Temanggung ini hanya satu pasangan calon. Yaitu M. Yasin dan Ulfi yang diusung dari Partai Kebangkitan Mahasiswa (PKM).

Ketua Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) STAINU Temanggung, Fuad Miaffi menjelaskan bahwa antusiasme mahasiswa STAINU lumayan tinggi dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden BEM tahun ini.

"Untuk hasil semuanya 181 suara. Kosong ada 27, suara rusak ada 17 dan pasangan calon mendapat 173 suara," kata dia usai penghitungan suara.

Diah Putri Ramadhany panitia KPUM juga menambahkan bahwa pemungutan suara dilaksanakan secara terbuka usai pemungutan suara.

Pihaknya menangkap sinyal, mengapa hanya muncul satu pasangan calon yaitu Ahmad Yasin dan M Ulfi Fadli karena syarat minimal adalah mahasiswa semester enam. "Karena yang boleh menyalonkan hanya semester enam," kata dia.


"Pelantikanya dibarengkan sama semua UKM di STAINU Temanggung. Tanggal yang pastinya belum dirapatkan," lanjut dia.

Geliat keterbukaan demokrasi pun mulai tampak. "Prosesnya sudah baik, soalnya sebelum pemungutan diadakan mimbar bebas walaupun calon cuma 1, mahasiswa dan dosen tau apa visi misi dari capres dan cawapres," kata Wiwin, salah satu mahasiswi Prodi PAI usai mencoblos.

Pemungutan juga luber jurdil, kata dia, penghitungan suara terbuka dan bisa disaksikan semua mahasiswa.

Sebelumnya, berbagai ajakan pun dilakukan panitia. "JANGAN LUPA! Gunakan hak suara anda pada hari Sabtu, 3 Februari 2018 mulai pukul 10.00-15.30 dengan datang ke TPS (Sebelah Pos Jaga) untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa STAINU Temanggung masa bhakti 2018/2019. Suara anda berpengaruh untuk kemajuan STAINU satu tahun mendatang. coblos nang Gambar, Nomer utowo lambang partai, utowo nang kotak kosonge, ojo nang lione wilayah kue ndak ora sah, disekolahke duwur-duwur iseh golput ora kids zaman now jenengane. PEMIRA STAINU 2018 SUKSES TANPA EKSES !," demikian ajakan panitia.

Usai hasil akhir penghitungan suara, langkah berikutnya kandidat terpilih akan dilantik sekaligus membentuk kepengurusan baru untuk menjalankan program kerja yang akan mereka rumuskan ke depan untuk kemajuan kemahasiswaan STAINU Temanggung. (HG50/hi).

Sampang, Harianguru.com - Kematian Pak Budi, menjadi wujud kelam pendidikan di Indonesia ini. Akibat perkara sepele, menjadikan nyawa seorang guru melayang tanpa belas kasih.

Siswa SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura pemukul guru hingga tewas, walau telah diamankan polisi, namun warganet terus menghujatnya di media sosial, seperti di Facebook.

Setelah ramai diberitakan, seorang netizen tiba-tiba membagikan nama akun Facebook sang murid yang tega memukul gurunya itu.

Saat namanya diketik di kolom pencarian, ratusan komentar telah membanjiri beragam status dan foto yang diunggahnya.


Saking banyaknya cecaran, ketika wartawan harianguru.com melakukan pantauan, komentar berjejer-jejer seakan tanpa henti.

Terlihat, fotonya saat memakai seragam bola dengan memakai sepatu saling berlainan tidak luput dari sumpah serapah.

Tidak hanya itu, fotonya saat berselfie, nongkrong di cafe ketika masih berseragam, dan saat duduk di dalam ruangan kelas, turut diramaikan umat netizen se Indonesia.

Amarah netizen tidak tertahankan untuk melempar berbagai unek-unek di kepala.

Bahkan, beberapa netizen ada yang nekat membagikan akun Instagram beserta nomer WA sang murid.

Berikut cuplikan komentar yang mengalir deras tanpa henti di akun Facebook murid yang pukul gurunya hingga berujung maut.

Saat menulis status tentang cinta, Atep Sulee berkomentar, "Cewe juga takut pacaran sm lu ntr malah di bunuh lagi..klo di tolak seremmmmmmm ada setan ngamukk"

Ketika membagikan foto pamflet pendaftaran syarat penerimanaan Polri, Dekari Endru berkomentar, "Yang kaya gini mo jadi aparat, ini mah keparat namanya"

Dirinya juga pernah menulis status perihal pengemis cinta, Taufik Hidayatberkomentar, "Sekarang teruslah jadi pengemis... itupun kalo ada yg mau sma pembunuh wkwkwowkwo"

Netizen bernama Jagad bahkan nekat melemparkan doa ngeri seperti ini.


"Semoga orang seperti dirimu tidak hidup lama di dunia indah ini. Kau bunuh orang yang rela membagi ilmunya demi membuat murid2nya cerdas. Orang macam sepertimu ini tak pantas sekolah. Kembalilah kau ke hutan dan temuilah tarzan ! Dasar kau setan !"

Tiba pada akhirnya, seorang netizen bernama Pudji Rabbani berkomentar, "Anjrit comennya serasa live stream."

Tak hanya di Facebooknya, hujatan juga membanjiri semua postingan di Instagramnya.

Dari pantauan Harianguru.com, ada 18 postingan di Instagramnya itu dan semuanya dibanjiri hujatan warganet.

Hampir di semua postingannya, warganet menuliskan banyak kata pembunuh.

Di postingan terakhirnya, tampak pelaku berfoto di sebuah tempat wisata.

Di foto ini, selain menuliskan kata pembunuh, warganet juga menghujatnya dengan mengatakan dia sok jagoan dan masih kecil sudah membunuh.

“Jadi ini murid yg so jagoan mukul guru nya, miris ya,” ujar sandi_simon.

“Masih kecil udah berani ngebunuh,” sebut jabar_rebpal.

Di postingan lainnya bergambar dia sedang memakai seragam pramuka, juga tak luput dari serbuan warganet.


“Selamat, selamanya lo bakal diinget sebagai PEMBUNUH,” ujar claudeack.

Saking geramnya, bahkan ada juga warganet yang memintanya untuk bunuh diri saja.

“Kapan lu mau bunuh diri @abyfadhly ??” tanya torto_darmain.

Di sebuah postingan lainnya, dia tampak berfoto close up dengan pose tangannya di samping kepala dan dia tersenyum ke kamera.

Beberapa warganet berkomentar tak percaya melihat wajah polosnya dan tak ada tampang pembunuh sama sekali, namun ternyata tega membunuh gurunya.

Bahkan tampangnya dikatakan lebih mirip bencong atau ngondek.

“kmGa ada serem seremnya padahal ya mukanya tp ngebunuh gurunya @pangestika_r @cndaru @parwatipuji.pp mlah ky ngondek,” sebut intancahya.

“Muka kya jamban sampah msyarakat..kmna2 lu dicari.in mampus lu

farisalislamiKata2 lu kaya malaikat tapi hati lu kaya iblis bangsat,, lu punya tanggungan di dunia dan di akhirat yang harus lu hadapain anak dajjal,” tambah ikky_aditiya.

Tak hanya itu, di postingannya yang lain, yaitu gambar Kakbah, hujatan juga memenuhi kolom komentarnya.

Mereka mengatakan tak pantas dia memposting atau bahkan berkeinginan bisa ke Kakbah sementara dia menjadi pembunuh.

Namun ada juga segelintir komentar lucu menggambarkan kegalauan warganet yang ingin menghujatnya namun postingannya Kakbah yang merupakan tempat suci bagi umat Islam sedunia.

“Mau komen kasar tapi fotonya kakbah, serba salah,” tulis lilfantat, galau.

“Salah komen di sini komen di gambar lain ni. Gambar ka'bah,” ujar warganet lainnya, rara_li77. (Hg44.bps).

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget