Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

‘Sendja Djiwa’ di Moralitas Muridku



Oleh: Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.

Penulis adalah Guru SD Supriyadi Semarang


“Ketika saya duduk di bangku SD sampai SMA, jika saya membuat kesalahan, keributan, pasti dijewer guru. Bahkan tak jarang pula guru menyentilkan tuding (penggaris dari bambu) ke badan saya. Teman-teman lain pun mengalami hal yang sama. Dengan hukuman dari guru yang seperti itu, saya merasa takut menjadi anak yang bodoh, saya takut untuk tidak belajar, saya takut menjadi anak yang tidak disiplin, saya takut menjadi anak yang tidak jujur, saya takut menjadi anak yang tidak menghormati guru. Dan, dari rasa ketakutan yang diberikan  oleh sang guru, kini saya pun menjadi seorang guru. Saya selalu berkaca dari guru-guru saya. Beliau lah sosok panutan kemuliaan dari semua profesi”. Ini lah seklumit curahan hati penulis, yang mungkin mewakili sebagian besar kids jaman old.

Walaupun telah mendapat perlakuan sakit secara fisik dan itu hanya sesaat, tapi hubungan murid dengan guru, hubungan orang tua dengan guru tetaplah harmonis. Pada waktu dulu belum ada Undang-Undang Perlindungan Anak, tidak pernah pemberitaan berakhir tragis, guru dihukum, kabar guru diciduk polisi, guru dijeblos ke penjara, guru dipukul orang tua siswa, bahkan guru dianiaya muridnya sendiri hanya karena guru menegurnya. Seperti yang baru baru ini terjadi di Sampang, Madura, seorang guru meninggal setelah dianiaya muridnya yang tak terima ditegur dan dicoret pipinya oleh sang guru. Sungguh sakit hati ini, gemetar badan ini. Lagi, seolah tak ada habisnya penyiksaan terhadap guru.

Satu-satu pergi, satu-satu hilang. Demikianlah pesan “guru BUDI” yang menjadi korban pemukulan hingga akhirnya meninggal dunia akibat ulah muridnya yang duduk di kelas XI di sebuah SMA Negeri di Sampang, Madura.  Postingan terakhir di akun IG abc_isme (Achmad Budi Cahyono), lirik ‘Sendja Djiwa’ seolah menjlentrehkan tentang krisis moralitas murid terhadap gurunya. Satu per satu sikap hormat terhadap guru telah pergi. Satu per satu sopan santun terhadap guru telah hilang. Satu per satu rasa segan terhadap guru pergi lalu hilang.

Pada saat sekarang ini, perilaku dan tindakan murid terhadap guru semakin memprihatinkan. Hampir tidak ada lagi siswa yang berjalan dengan merundukkan badan di depan gurunya, tidak ada lagi murid yang segan dan hormat kepada gurunya. Bahkan pada saat berlangsungnya proses kegiatan belajar mengajar murid tak segan-segan melawan gurunya, mulai dari perkataan sampai pukulan, MIRIS!!.
Jaman modern kini, murid berpikir secara instan, bahwa dirinya adalah sosok yang akan selalu mendapat perlindungan dan terbebas dari kesalahan apalagi hukuman. Bertindak semaunya sendiri tanpa memperhatikan dengan siapa dia berbicara dan bertindak. 

Mungkinkah, dari imbas Undang-Undang perlindungan anak menjadikan murid semakin brutal, arogan dan radikal terhadap gurunya?
Kita tahu, bahwa guru pasti memberikan pendidikan yang terbaik walaupun terkadang perlu jeweran, cubitan dan sentilan dari guru. Dengan adanya UU perlindungan anak tentunya sangat mempengaruhi dunia pendidikan karena dalam undang-undang, anak tidak boleh dipukul dan disakiti. Sering kita amati, murid sekarang tidak segan-segan merokok di depan gurunya sendiri bahkan ada yang berkendara melewati guru yang sedang berjalan kaki tidak berhenti menyapa, terlebih memberi tumpangan kepada gurunya.

Apa Penyebabnya?
Sikap murid-murid dahulu dengan sekarang amat jauh berbeda bagai “langit dan bumi”. Dewasa ini, boleh dikatakan hampir kebanyakan murid kurang menghormati guru-guru di sekolah apalagi di luar sekolah, saat bertemu sang guru.

Berikut ini, menjadi penting untuk kita bersama-sama kembali peduli dan renungkan. Pertama, Orang tua murid itu sendiri. Pada jaman dahulu orang tua murid begitu akrab hubungannya dengan guru-guru. Mereka sentiasa bertegur sapa saat bertemu, orang tua sangat menghormati guru, bahkan tak jarang, hanya sekedar berkirim “salam” untuk guru yang dititipkan melalui anaknya.  Sekarang di jaman serba modern ini, keadaan seperti ini tidak berwujud lagi. Dahulu orang tua murid senantiasa menempatkan guru berada di pihak yang benar jika guru menghukum anaknya, karena orang tua menyadari guru pasti memberikan pendidikan terbaik, tidak mungkin guru memberi hukuman jika muridnya tidak melakukan kesalahan.

Pada masa sekarang, sebaliknya, guru yang selalu disalahkan, jika guru menghukum murid dengan jeweran atau cubitan. Bagi orang tua, mereka menutup rapat mata dan telinga mereka dan lebih berpihak kepada anak-anak serta menyalahkan guru.

Kedua, Faktor perkembangan IT. Dahulu guru adalah satu-satunya sumber ilmu jika dibandingkan jaman modern yang serba canggih ini. Sekarang,  murid bisa mendapat ilmu dari pelbagai sumber seperti dari TV, berbagai media cetak dan terbaru sekali ialah melalui internet. Murid menjadi  merasa sok tahu dan lebih tau dari gurunya. Jika ini menjadi satu dari penyebabnya, kita sebagai guru harus semakin aktif di dalam mengakses ilmu pengetahuan dan berita terbaru.

Ketiga, Kedudukan guru yang semakin goyah di masyarakat. Pada masa dahulu guru adalah profesi yang amat dihormati di masyarakat. Jika ada suatu acara di daerah misalnya, gurulah yang memainkan peran utama. Guru-guru jaman dahulu akan duduk di barisan berdampingan dengan jabatan penting di daerah itu. Keadaan sekarang sudah berubah. Pada masa ini posisi telah diambil alih oleh elit politik yang berkepentingan hingga artis.

Pekerjaan guru adalah satu pekerjaan yang mulia, yang sekarang ini dipandang sebelah mata. Undang-Undang perlindungan anak seolah menjadi senjata murid yang minim etika terhadap gurunya. Menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah seharusnya, sebagai pihak yang berwenang atas muatan yang dibuat. Kedudukan guru di berbagai lapisan keluarga hingga masyarakat perlu dipulihkan. Cara-cara ini menjadi solusi yang dapat memberikan kesadaran kepada murid-murid agar kembali menghormati gurunya. Satu-satu pergi, satu-satu hilang, semoga tidak ada lagi ‘guru budi’ yang pergi dan hilang. (hg8)
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget