Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Satu Masa yang Tertelan Zaman


Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.
Penulis merupakan guru SD Supriyadi Semarang

Masih ingatkah dibenak kita dengan permainan-permainan tradisonal yang dulu digandrungi oleh banyak anak-anak pada masanya. Seperti permainan petak umpet, jamuran, cublak-cubak suweng, gasing, engklek, sundamanda, dakon, dul-dulan, blentik dan lain sebagainya. Permainan tempo dulu itu sekarang sudah jarang didengar oleh telinga anak-anak zaman sekarang yang lebih senang menghabiskan waktunya di depan layar komputer atau di depan smartphone.

Anak-anak sekarang lebih senang bermain playstation atau menonton televisi dibandingkan melakukan dolanan (permainan) anak. Bahkan beberapa dolanan telah hilang karena tidak pernah lagi dimainkan oleh anak-anak zaman sekarang. Sayang sekali jika permainan tradisonal itu semakin hari semakin menghilang dan sudah tidak dikenal lagi oleh anak dan di lingkungan masyarakat. Padahal, berbagai dolanan anak mengandung nilai moral dan edukasi seperti sikap bergotong royong, kreatif dan belajar bekerja sama yang tidak terdapat dalam budaya permainan modern, yang cenderung mengedepankan nilai individualis, kepraktisan, dan keuntungan komersial semata.

Sebagai contoh adalah dolanan cublak-cublak suweng mengingatkan agar kita bersikap santun atau yo prakonco yang mengingatkan akan pentingnya kerukunan. Tapi di zaman yang praktis dan efisien saat ini lebih memanfaatkan kecanggihan teknologi yang berkembang pesat. Bahkan anak-anak yang masih berusia dini sudah banyak diperkenalkan dengan permainan-permainan yang canggih sehinnga dapat mengubah pola pikirnya menjadi lebih konsumtif. Banyaknya berbagai macam permainan dengan teknologi visual dan lebih praktis menjadikan pemikiran mereka hanya tertuju pada dunia visual bukan dunia nyata yang ada di sekelilingnya.

Apa Penyebabnya?
Banyak hal yang menjadi faktor semakin menghilangnya permainan tradisional saat ini, sehingga tidak semeriah dan semarak seperti waktu itu. Seperti perkembangan pola pikir orang tua yang mengarah pada hal yang praktis. Permainan yang beredar saat ini bisa dinikmati dengan mudah di Internet Game Online, Gadged, HP, PlayStation, dan lain sebagainya. Sehingga menjadikan anak kurang menenemukan artinya kreativitas, kebersamaan, kekompakan dan hidup di alam nyata. Sebenarnya permainan modern boleh diberikan dengan batasan-batasan tertentu. Jangan hanya karena orang tua yang sibuk menjadi alasan untuk memberikan anak permainan yang instant tapi tidak berdampak memberikan suatu permainan yang menstimulus perkembangan sosialnya.

Teknologi memang menawarkan kemudahan dan hiburan dengan perkembangan begitu pesat. Saat ini masyarakat menengah atas maupun masyarakat bawah mulai merasakan hal itu sebagai bagian dari hidupnya dan seolah menjadi suatu kewajaran. Sementara produsen mainan terus mendominasi pasar. Banyak toko, warung, pasar, bahkan di lapak-lapak khusus mainan mudah ditemui mainan boneka, tembak-tembakan, robot-robotan, mobil-mobilan, pesawat terbang, helikopter baik secara manual, menggunakan batu baterai sampai mainan otomatis yang menggunakan remote control. Anak siapa yang tak tertarik dengan mainan model begitu. Selain itu semakin menipisnya lahan bermain anak yang ada, sehingga mempengaruhi persediaan tempat untuk melakukan permainan yang dulu menjadi trend itu.

Kemajuan zaman telah ‘menelan’ satu masa. Anak-anak tak punya banyak waktu lagi untuk bermain semacam dulu, lahan untuk bermain pun juga makin berkurang. Jangankan lagu dolanan, lagu anak-anak pun rasanya sangat asing bagi anak-anak zaman sekarang. Anak-anak zaman sekarang akan lebih mudah menghafal lagu-lagu cinta, lagu-lagu patah hati, lagu-lagu dewasa yang sebenarnya mereka sendiri belum tahu maknanya, dan belum masanya bagi mereka. Jangankan anak-anak, orang tua pun tak banyak yang paham lagu dolanan dan lagu anak-anak, dan tak jarang orang tua yang merasa bangga mendengar anak-anak mereka bernyanyi lagu cinta, lagu patah hati, lagunya orang dewasa, hingga begitu bangganya ketika anak-anak mereka bisa menyanyikan lagu dengan bahasa inggris, tapi tidak bisa nembang jawa dan ini (menurut saya) adalah sebuah ironis.

Pengenalan Ulang
Untuk itu diperlukan upaya revitalisasi guna melestarikan berbagai dolanan anak tersebut, seperti pengenalan ulang berbagai jenis dolanan di sekolah melalui media yang menarik. Selain itu, berbagai kegiatan seperti lomba dan festival harus sering diadakan agar anak tidak melupakan budaya tradisional mereka.

Dalam hal ini orang tua sebagai pendidik pertama di lingkungan keluarga harus memberikan permainan yang sesuai dengan perkembangan usia dan psikologisnya. Seperti permainan tradisional yang mampu memacu kecerdasan, bukan hanya intelegence saja namun juga melatih kecerdasan emosi dan kecerdasan sosial anak tanpa harus mengabaikan teknologi yang terus berkembang. Sehingga dalam zaman yang berkembang ini permainan tradisional dapat terus dilestarikan hingga generasi yang akan datang dapat mengetahui bahwa budaya permainan tradisional tidak akan hilang tertelan oleh zaman yang terus berkembang. Bijaknya orangtua bisa memilih sebuah hiburan yang murah meriah, tetapi bisa mengasah apresiasi anak terhadap beragam kekayaan seni dan budaya adiluhung yang perlu dilestarikan dan diugemi bersama.

Selain itu pemerintah juga harus memberikan kurikulum pendidikan terkait permainan tradisional yang terintegrasi dengan pembelajaran, agar ciri khas suatu bangsa dalam daerah dapat terjaga ciri khas kewarisannya sampai kapanpun.

Satu masa yang ‘tertelan’ zaman dan semakin terkikis oleh kemajuan zaman serta pergeseran pola pikir. Tak perlu menyalahkan siapapun, semua kembali pada diri masing-masing. Hanya saja tak semestinya zaman menghilangkan satu masa (kanak-kanak), karena bagaimanapun juga setiap tahapan kehidupan membutuhkan sebuah proses, hubungan sosial, komunikasi, interaksi dan butuh dinamika dalam setiap masa. (*)
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget