Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

April 2018

Temanggung, Harianguru.com - Ada puluhan warga belajar Paket C Alhidayah Temanggung, sejak Jumat (27/4/2018) mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di MTs Negeri 1 Parakan Temanggung. Mereka melakukan UNBK itu dengan berbagi penyesuaian termasuk cara masuk, mengoperasikan dan keluar dari aplikasi UNBK. Namun, pengelola sudah melakukan simulasi terlebih dahulu agar mereka bisa menyesuaikan.

Salah satu warga belajar Paket C Alhidayah, Miftakhul Anwar, menegaskan bahwa banyak sekali manfaat UNBK baginya. "Ujian nasional adalah dua kata yang dapat membuat para pelajar mengalami berbagai perasaan, dari perasaan bahagia, sedih, takut akan bercampur aduk di pikiran," kata dia kepada Harianguru.com, Minggu (29/4/2018).

"Apalagi tahun ini ujian nasional menggunakan media komputer untuk menjawab soal-soal ujian, oleh karna itu semua pelajar diwajibkan harus sedikit memahami cara penggunaan komputer," kata dia.

Bagi mereka yang sudah terbiasa menggunakan komputer, lanjut dia, hal itu bukanlah menjadi masalah bagi mereka. "Tapi apa jadinya bagi para pelajar yang jauh dari hingar bingar dunia teknologi seperti komputer, sudah pasti hal ini akan menjadi kendala bagi mereka karna pada umumnya mereka kurang mengerti akan pengoprasian komputer," keluhnya.

Pihaknya juga berharap, dalam penerapan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) bisa tersosialisasikan ke pelosok-pelosok agar semua bisa tahu dan tercukupi semua fasilitas, baik dari ketersediaan internet dan utamanya komputer.

Sementara itu, penangggungjawab Paket C Alhidayah, Moh. Syafi' mengatakan untuk UNBK Paket C Alhidayah Temanggung memang belum bisa menyelenggarakannya sendiri dan harus ikut di sekolah yang fasilitasnya siap. "Alhamdullillah untuk UNBK tahun ini kita bertempat di MTs Negeri 1 Parakan," ujar dia kepada wartawan, Minggu (29/4/2018) di sela-sela mengawal UNBK.

Pelaksanaannya, kata dia, sejak Jumat 27 April 2018 kemarin, sampai besuk Senin April 2018 yang UNBK di MTs Negeri 1 Parakan. "Jumat itu jadwalnya Bahasa Indonesia dan Geografi untuk Program IPS, untuk Program IPA Bahasa Indonesia dan Kimia. Untuk Sabtu 28 April 2018, Program IPS jadwalnya Matematika dan Sosiologi, dan IPA itu Matematika dan Biologi," ujar Ketua LP3M STAINU Temanggung itu.

Sedangkan hari ini, jadwalnya Bahasa Inggris dan Ekonomi untuk Program IPS, dan Program IPA yaitu Bahasa Inggris dan Fisika. Sedangkan untuk besuk Senin 30 April 2018, itu jadwal terakhir yaitu Pendidikan Kewarganeraan untuk Program IPA maupun IPS," lanjut dia.

Meski ada sejumlah kendala seperti keterlambatan Token dalam aplikasi yang menunggu server dari pusat, namun ia mengakui semuanya sampai Minggu (29/4/2018) tadi berjalan lancar.

Adaptasi dengan komputer dan aplikasi yang menjadi hal sangat berkesan bagi warga belajar kita, kata dia, karena kebanyakan mereka jarang pegang komputer meski rata-rata memiliki ponsel android. "Tapi, alhamdulillah akhirnya mereka mampu beradaptasi dengan sukses karena ada simulasi UNBK," beber dia.

Pihaknya menegaskan, untuk Paket C Alhidayah ini merupakan program pendidikan yang diperuntukkan warga Temanggung dan sekitarnya yang berjuang menuntaskan pendidikan formalnya. "Kami menunggu bagi siapa saja yang ingin mendaftarkan diri untuk tahun ajaran depan," beber dia.

Dalam kesempatan itu, selain Moh. Syafi', hadir juga Jadi dan Nur Alfi selaku pengelola, dan hadir juga beberapa tentor yaitu Fatmawati Sungkawangrum, Hamidulloh Ibda, dan sejumlah Proktor dari MTs Negeri 1 Parakan.

Pihaknya berharap, Paket C Alhidayah Temanggung ini menjadi bagian dari sumbangsih untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. (HI).

Salah satu perlombaan
Temanggung, Harianguru.com - Menjaga tradisi kearifan lokal sangat strategis dilaksanakan dalam perlombaan Hari Kartini. Hal itulah yang digankap Tim KKN STAINU Temanggung yang berada di Desa Tawangsari, Kecamatan Tembarak, Temanggung. Mereka mengadakan beberapa lomba dalam rangka memperingati Hari Kartini tahun 2018 ini,

Dalam kesempatan itu, tim KKN STAINU menjelaskan bahwa setiap tanggal 21 April, perempuan Indonesia memperingati Hari Kartini."Mahasiswa KKN STAINU, di Desa Tawangsari , Kecamatan Tembarak,  Kabupaten Temanggung Mengadakan beberapa lomba untuk anak dan para ibu ibu wali murid," ujar Nasikha salah satu anggota TIM KKN STAINU Temanggung, Kamis (26/4/2018).

Kegiatan ini berlangsung di halaman MI Nurul Ummah pada hari Kamis, 26 April 2018 dari pukul 08.00 -hingga sore hari.

Lomba yang di adakan oleh tim KKN di antaranya merangkai huruf, menyusun lalimat, untuk kelas kecil  dan memanfaatkan barang bekas untuk kelas besar. Kegiatan lomba ini berlangsung sangat meriah dan mendapat antusias tinggi saat mengikuti kegiatan tersebut.

Kepala Sekolah MI Nurul Ummah mengatakan kegiatan ini bertujuan memperingati hari Kartini untuk para kawula muda dan memberikan apresiasi yang sangat baik untuk para tim KKN yang sudah menyelenggarakan kegiatan lomba tersebut.

“Saya kira kreativitas dari barang bekas sangat representatif dengan  peringatan Kartini. Sehingga pemanfaatan barang bekas sangat pas di momentum peringatan Hari Kartini,” katanya.

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam STAINU ini menambahkan, kegiatan yang merupakan program kerja selama mengabdi di lokasi KKN ini diharapkan mampu mewadahi bakat anak-anak.

“Setidaknya lewat kegiatan ini peserta mampu mengembangkan bakatnya,” harapnya.

Dari siswa sendiri juga sangat mendukung acara tersebut, dari salah satu siswa kelas 5 Nadia  mengucapkan rasa bangga dan rasa terimakasih untuk para tim KKN Tawangsari yabg telah menyelenggarakan lomba dalam peringatan hari kartini kepada para siswa dan masyarakat.

"Kami sangat senang dan gembira " ujarnya.

Selain lomba untuk siswa MI, Tim KKN STAINU Temanggung juga mengadakan lomba untuk ibu-ibu wali murid RA Masyitoh dan tidak ketinggalan lomba untuk masyarakat  yakni lomba mancing yang diadakan di kolam umum Dusun Gondangan yang tidak kalah antusias dengan acara pagi tadi, acara sore ini setidaknya dihadiri oleh puluhan orang dari berbagai dusun yang ada di Desa Tawangsari, Tembarak, Temanggung. (hg93/hms),


Temanggung, Harianguru.com – Saidwah Sakwan, Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)  RI bercerita banyak hal saat mengisi Kuliah Umum Hukum Persaingan Dagang di Indonesia yang dihadiri ratusan mahasiswa dan civitas akademika STAINU Temanggung, Rabu (25/4/2018).

Ia mengakui, meski sudah pernah menjadi dosen PNS, namun ia keluar untuk berani terjun ke politik sampai pernah menjadi anggota DPR RI bahkan kini menjadi Komisioner KPPU RI.

Perempuan kelahiran Demak ini juga mengajak semua mahasiswa-mahasiswi untuk confidence dalam Kuliah Umum tentang persaingan di dunia wirausaha kepada hadirin.

Mantan anggota DPR RI ini mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk tetap percaya diri atau confidance walaupun besar dari basik santri. “Kita manfaatkan potensi yang kita miliki karena orang lain belum tentu memiliki potensi santri. Dan dengan keyakinan sebagai seorang yang percaya dirinya atau mentalnya tinggi insyaallah akan ditinggikan juga derajatnya,” ujar dia di hadapan peserta kuliah umum.

Hadir jajaran Pembantu Ketua STAINU Temanggung, Kaprodi-Sekprodi, dosen, karyawan dan mahasiswa-mahasiswi dan sejumlah tamu undangan dalam kuliah umum tersebut.

Pihaknya menceritakan perjalanan hidupnya dari kecil yang pernah mondok di Kajen, Pati, di Sarang, Rembang sampai kuliah di IAIN Jakarta hingga akhirnya menjadi dosen PNS di sana. Namun, karena permintaan Gus Dur, ia pun keluar dari PNS dan ikut membantu Gus Dur dalam membesarkan partai kala itu kemudian ia sampai menjadi anggota DPR RI sampai menjadi Komisioner KPPU saat ini.

“Banyak potensi yang Anda milik. Jangan takut anak kampung, tapi kalau Anda santri, mahasiswa NU, pasti bisa menyaingi yang lain,” tegas dia di hadapan peserta.

Di akhir agenda kuliah umum itu, ia mempersilakan STAINU Temanggung jika ingin menggelar KKL atau PPL, atau pun meminta data untuk kepentingan skripsi, tesis maupun disertasi.

“Kami kalau ada PPL, atau KKL, apalagi dari STAINU, tidak kami pungut biaya. Malah, kami menyediakan makanan,” ujar dia. (HG55/egi).

Foto bersama usai kuliah umum

Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka mewujudkan persaingan usaha yang sehat, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)  RI menyampaikan Kuliah Umum tentang persaingan di dunia wirausaha kepada ratusan mahasiswa dan civitas akademika STAINU Temanggung, Rabu (25/4/2018). Hadir jajaran Pembantu Ketua STAINU Temanggung, Kaprodi-Sekprodi, dosen, karyawan dan mahasiswa-mahasiswi dan sejumlah tamu undangan.

Kuliah yang bertempat di aula lantai 4 STAINU Temanggung ini disampaikan Komisioner KPPU Saidah Sakwan, MA, yang menjelaskan tentang hukum dan polemik persaingan usaha yang ada di Indonesia di era sekarang ini.

“Kartel merupakan problem yang begitu besar walaupun tidak terasa oleh msyarakat umum” katanya. Sebuah problematika yang tidak dirasakan oleh umum namun imbas dari kejadian tersebut sangat besar. Itu merupakan salah satu persaingan dalam dunia usaha yang tidak fair competition. Dikarenakan memungut keuntungan kelompok yang imbasnya kepada rakyat,” tandasanya dalam seminar tersebut.

Direktur Institute for Research and Community Development Studies (IRCOS) Jakarta ini juga menegaskan, bahwa berdirinya KPPU karena kebutuhan negara untuk mengawal persaingan usaha agar sehat. “Awal mula KPPU ini terbentuk pada tahun 1999 atas polemik yang ada saat era reformasi berkobar. Karena perekonomian saat itu sedang tidak stabil, sehingga dengan terbentuknya ini (KPPU) sebagai langkah pemerintah untuk menstabilkan perekonomian yang ada,” beber perempuan kelahiran Demak tersebut.

Dilanjutkan, bahwa kompetisi usaha jangan sampai praktik monopoli akan tetapi untuk monopolinya boleh. “Semuanya ada batasan agar semuanya bisa seimbang seperti yang disampaikan di UU Nomor 5 Tahun 1999. Termasuk 6 unsur yang perlu diperhatikan mulai dari perjanjian yang dilarang, kegiatan yang dilarang, posisi dominan, KPPU, penegakan hukum dan ketentuan lain-lain untuk terciptanya pengetahuan akan usaha dan dapat terciptanya persaingan yang sehat,” ujar perempuan yang pernah bekerja sabagai Staf Khusus Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada tahun 2001 – 2003 tersebut.

Praktik monopoli, kata dia, merupakan pemusatan kekuatan ekonomi oleh salah satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan jasa maupun keduanya sehingga menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat serta memungkinkan kerugian terhadap kepentingan umum. “Oleh karena itu kenapa praktik dari monopoli itu dilarang,” tandas mantan anggota DPR RI tersebut.

Hal tersebut, lanjut dia, menjadi problem yang ada sekarang ini. “Termasuk kejadian masalah kartu perdana disaat whatsapp masih belum merajalela dan sms masih mahal. Dari 6 operator mereka sepakat untuk harga /sms adalah Rp. 350. Secara realita kebiajakan pemerintah adalah Rp. 74. Bisa dibayangkan bahwa dalam sehari sudah mendapat keuntungan berapa dalam sekali klik sms terkirim bagi para pengguna,” tegasnya dengan penuh semangat.

Disambungnya, bahwa hal tersebut juga merupakan hal yang tidak pantas dilakukan karena merupakan kartel dan kartel sendiri adalah salah satu tindakan yang bukan mencerminkan persaingan sehat.

Di akhir kuliah umum, ia mengajak dialog mahasiswa-mahasiswi STAINU Temanggung dan menyeru untuk melakukan usaha yang sehat, bersih dan sesuai aturan. Sebab, KPPU sangat membutuhkan peran mahasiswa dalam mengawasi sampai menindak pelanggaran usaha yang tidak sehat. (hg35/Wahyu Egi Widayat).

Temanggung, Harianguru.com - Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) STAINU Temanggung di Desa Tawangsari, Tembarak, Temanggung berhasil menyelenggarakan acara sosialisasi tentang "Zakat dan Wakaf", Rabu (25/4/2018) di lokasi KKN tersebut.

Hal itu diawali karena dengan melihat potensi wakaf di Indonesia sangat besar, tapi belum dimanfaatkan dengan maksimal. Masih banyak masyarakat yang belum mengenal macam-macam wakaf.

Acara ini menghadirkan Dosen STAINU Temanggung Nasikh Muhammad yang menjelaskan perkembangan wakaf berdasarkan pengalamannya menerapkan ibadah tersebut kepada masyarakat Desa Tawangsari, Tembarak, Temanggung.

Acara tersebut diselenggarakan pada Rabu tanggal 25 April 2018 pukul 20.00- 22.00. Acara sosialisasi ini dihadiri banyak kalangan, dari aparat pemerintahan dan beberapa tokoh takmir masjid beserta masyarakat sekitar dan tim KKN.

Acara ini berjalam dengan lancar dengan dibuka oleh tim KKN STAINU Temanggung Saiful Hakim sebagai pembagi waktu dan Muhammad Islah sebagai moderator acara tersebut.

Pemateri juga menyampaikan penyaluran zakat baik secara konsumtif atau langsung bisa di manfaatkan atau produktif. "Di mana pemberi zakat hanya memberi sarana agar penerima zakat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk akhirnya dapat memberi zakat kepada orang fakir miskin lainnya," kata dia.

Faktanya, di dusun-dusun Desa Tawangsari pernah diadakan badan pengelolaan zakat yang disimpan tidak sampai satu nisab sehingga hal ini membuat masyarakat tawangsari berhenti dari rutinitas mengupulkan zakat, namun langsung memberi pada masyarakat yang membutuhkan.

Selain itu sebagai penggerak atau kader pengelolaan zakat sadaqoh agar dilakukan oleh pemuda dusun.

Pernyataan lain juga disampaikan mahasin dalam forum yang sama yakni dengan sentralisasi zakat dan sodaqoh akan efektif dalam pelaksananaan manage pelayanan sentral zakat infaq sadaqoh.

Dalam ranah wakaf, tawangsari memiliki mushola wakaf yang akan dijadikan masjid hal ini menjadi permasalah yang panjang karena mushola wakaf tersebut sudah dijadikan tempat solat jumat yang dengan berbagai kriteria penempatan. Hal ini juga ditambah dengan adanya salah satu tokoh yang ragu-ragu dalam peralihan istilah masjid tersebut.

Pertanyaan tersebut dijawab pemateri dan peserta sosialisasi dengan persamaan konsep bahwa antara masjid dengan mushola hanya berbeda bahasa, namun pada intinya tetaplah menjadi tempat solat. Sehingga pada forum tersebut telah menyamakan cara pandang.  "Masalah tersebut telah muncul dan sudah ada bathsul masail di pondok lirboyo," tutur Muhyin salah satu peserta dalam kegiatan itu. (HG99/hms).

Temanggung, Harianguru.com - Pada Senin (23/4/2018), panitia menggelar acara pamungkas Dies Natalis STAINU Temanggung yang ke-48 dengan Seminar Literasi Medsos yang mengangkat tema "Perang Malaikat dan Syaitan di Media Sosial" yang dihadiri ratusan peserta dari pelajar SMA/SMK/MA dan civitas akademika STAINU Temanggung di lantai 3 STAINU Temanggung.

Pada kesempatan ini, BEM STAINU Temanggung selaku panitia pelaksana mendapuk pemateri dari Dinkominfo Temanggung yang diwakiliki Eko Kus Prasetyo dan Hamidullah Ibda dosen STAINU Temanggung sekaligus pengurus Bidang Literasi Media Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jateng.

Dalam kesempatan itu, Eko selaku narasumber pertama menjelaskan tentang etika dan etiket ber media sosial yang pada simpulanya mengajak peserta bijak dalam bermedia sosial.

"Kita jika ingin share maupun mengkonsumsi sesuatu dari medsos harus jelas dan dapat dipertanggungjawabkan akan berita maupun gambar itu dengan katalain 'saring dulu sebelum sharing' dulu," kata Eko.

Sementara itu, Hamidullah Ibda juga menegaskan tentang bagaimana memanfaatkan akun media sosial ke hal-hal yang positif jangan sampai kita terlarut dengan indahnya dunia maya, menjadi konsumen yang pintar memilih mana yg berita provokatif dan juga sara.

Pihaknya juga memberi solusi kepada pelajar dan mahasiswa khususnya agar menjadi pengguna medsos yang baik jangan mudah terprovokasi oleh berita maupun tulisan meme yang kiranya akan menimbulkan emosi dan terjadi konflik. "Maka harus pandai memilah mana yang baik dikonsumsi publik," ujar dia. (hg44/robin).

Temanggung, Harianguru.com - Tim Kuliah Kerja Nyara (KKN) STAINU Temanggung tahun 2018 di Desa Tawangsari, Kecamatan Tembarak, lagi-lagi mengadakan acara silaturahim sekaligus realisasi program yang diadakan di posko KKN Dusun Gondangan 2 yang dihadiri oleh pengurus IPNU-IPPNU Tawangsari, Selasa (24/4/2018).

Hadir pula pengurus remaja masjid se Desa Tawangasari, dan pengurus TPQ Se Desa Tawangsari. Kegiatan ini, dimulai pukul 8.30 WIB malam dan acara ini berjalan dengan lancar dan nyaman sesuai harapan.

"Harapannya masyarakat Tawangsari, khususnya pengurus kelembagaan agama dapat bersinergi untuk memajukan lembaga agamanya masing-masing," kata tim KKN STAINU Temanggung yang dipandu oleh Ahmad Nur Islah, Almaksirun selaku penyampai materi tentang manajemen organisasi dari pemateri Jafar Sodik dari Tim PKPNU yang berhalangan hadir pada malam itu.

Almaksirun selaku penyampai materi memberikan gambaran gamblang mengenai sistem organisasi yang wajib dimiliki oleh setiap peserta organisasi. "Saya hanya menyampaikan materi dengan menambah sedikit pengalaman dari orang lain, bukan untuk menggurui karena ini bersifat memfasilitasi namun terkendala pemateri yang belum dapat berkumpul ditengah-tengah kita," tutur almaksirun.

Seluruh peserta menanggapi program KKN STAINU Temanggung itu dengan  baik hal itu bisa dilihat dari antusias masyarakat setempat dalam membantu program KKN. (htm44/hms).

Suasana pemotongan tumpeng sebelum seminar literasi
Temanggung, Harianguru.com - Internet Citizen (Netizen) mahasiswa, pelajar, dosen dan semua kalangan harus menjadi malaikat yang menulis, mengabarkan, share apa saja termasuk berita, video, gambar dan meme di media sosial. Hal itu diungkapkan Hamidulloh Ibda pengajar dan Kaprodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung dalam seminar literasi bertajuk 'Perang Malaikat dan Syetan dalam Media Sosial", Senin (23/4/2018).

Baca: Ini Daftar 243 Kampus yang Tak Bisa Ikut Tes CPNS

"Manusia memiliki dua potensi. Benar salah, baik buruk, taat menentang, berbuat kebaikan dan kejahatan. Tidak hanya di dunia nyata namun juga di dunia maya sebagai benua yang kini kita huni," ujar Hamidulloh Ibda yang juga pengurus Bidang Literasi Media Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jateng tersebut.

Kegiatan itu menjadi puncak acara Dies Natalis STAINU Temanggung yang ke-48 yang juga mendapuk Eko Kus Prasetyo, ST., M.Eng Staf Pemberdayaan Komunikasi dan Informasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Temanggung yang bekerjasama dengan Polres Temanggung.

Dosen asal Pati ini menjelaskan, literasi di dunia pendidikan dan jurnalistik di Indonesia berkembang karena data kemampuan membaca dan mendapatkan informasi kita memang jauh dari harapan. "Literasi itu intinya adalah kemampuan literat, melek aksara, melalui kegiatan membaca, menulis, mendapatkan informasi dan kebenaran lewat kegiatan apa pun termasuk seminar ini," papar dia.

Ibda juga menambahkan, literasi di era Revolusi Industri 4.0 ini tidak lagi menggunakan literasi lama, namun harus menuju ke literasi baru. "Dulu, tangangan kita tahun 2015 ini MEA. Solusi pemerintah adalah penguatan kompetensi, karakter dan literasi. Namun di era disrupsi teknologi dan Revolusi Industri 4.0 ini, kita dituntut untuk menguasai literasi baru yang aspeknya ada empat. Mulai dari literasi data, teknologi dan humanisme atau SDM. Sementara literasi lama yang aspeknya membaca, menulis dan berhitung harus dikuatkan," ujar pengurus Bidang Literasi Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jateng itu.

Pihaknya mengajak semua hadirin untuk menjadi malaikat yang menyeru pada kebaikan, menganjurkan pada Islam ramah, toleran, dan rahmatal lillalamin. "Solusi untuk menjadi netizen malaikat ya mudah. Jangan mudah percaya dengan berita, foto, video atau meme. Kenali medianya, cek sumbernya, dan laporkan pada yang berwajib jika itu benar-benar hoax atau fake," papar penulis buku Media Literasi Sekolah itu.

Sementara itu, Eko Kus Prasetyo juga mengajak semua peserta untuk memfilter diri agar tidak mudah membagikan semua jenis uplodan di media sosial. "Istilah kami itu sharing dulu sebelum share," beber dia.

Pihaknya juga menjelaskan, manusia hidup di dunia nyata bisa menjadi baik atau malaikat. "Tapi kadang kita di medsos itu bisa menjadi orang lain. Gampangannya, kita bisa berjiwa dua antara di dunia nyata dan maya. Makanya kita harus menjadi malaikat baik di dunia nyata maupun maya," lanjut dia dalam seminar yang dihadiri ratusan pelajar dari Temanggung dan keluarga besar STAINU Temanggung itu.

Baca juga: Ini Alasan Kuat, Kenapa Kamu Haram Jadi PNS

Eko juga mengajak peserta seminar untuk memilah dan memilih uplodan di medsos. "Medsos inikan cuma alat berinteraksi, ya dia harus kita perlakukan dengan bijak agar kita tidak bisa tersandung UU ITE yang sudah direvisi ini. Karena di pasal-pasal jelas ada berapa hukuman penjara dan denda. Makanya kita harus menjadi malaikat dalam bermodsos," lanjut dia.

Sebelum seminar, kegiatan diawali dengan refleksi Dies Natalis ke 48  yang disampaikan Ketua  STAINU Temanggung, Moh. Baehaqi. Pihaknya mengatakan banyak sekali potensi kampus ini yang sudah berkembang. Salah satunya adalah perubahan dari FHI UNNU yang dulunya satu cabang dengan UNU Surakarta, kemudian menjadi STISNU Temanggung, lalu berubah menjadi STAINU Temanggung.

Kemudian, di tahun ini target akreditasi dan pengajuan konversi dari STAINU menjadi UNISNU Temanggung. Selain itu, dalam kegiatan itu juga dilakukan pemotorngan tumpeng, dan pemberian beberapa piala dan penghargaan juga diberikan Ketua STAINU Temanggung kepada para juara lomba tonis, lomba Duta STAINU dan dosen berprestasi. (red-HG99/Egi).

Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka meramaikan Dies Natalis STAINU Temanggung ke 48, panitia menggandeng sejumlah media termasuk Harianguru.com untuk menyukseskan gelaran tiap tahun tersebut. Hal itu tidak lain bertujuan untuk mengampanyekan Islam ramah, toleran, dan tidak mengajak pada radikalisme.

Dijelaskan Usman Ketua Panitia Dies Natalis STAINU Temanggung, pihaknya melalui beberapa relasi menggandeng sejumlah kerjasama dengan media di wilayah Jawa Tengah bahkan Indonesia.

"Kami menggandeng sejumlah media. Mulai dari media umum seperti Harianjateng.com, Hariantemanggung.com, Harianpemalang.com, Harianbrebes.com, Harianwonogiri.com, Hariansemarang.com, Harianblora.com, Koranpati.com, Wartanasional.com, Liputankendal.com. Untuk media pendidikan ada Harianguru.com dan Sieedo.com. Lalu untuk media Islami ada NU Online (Nu.or.id), Tabayuna.com, Islampers.com, Dutaislam.com, Suaranahdliyin.com, Islamcendekia.com," beber dia.

Pihaknya berharap, Dies Natalis STAINU Temanggung tahun ini bisa mengusung visi besar NU dalam menggalakkan literasi agama Islam berfaham Aswaja Annahdliyah dan menjaga NKRI, NU, ulama dan kiai yang toleran dan ramah.

Selain perlombaan olahraga, rangkaian dies juga ada Pemilihan Duta Mahasiswa, Festival Rebana Modern, dan juga Seminar Literasi yang digelar Senin (23/4/2018) besuk sebagai puncak dies.

Sementara itu, Ahmad Yasin Presiden BEM STAINU Temanggung juga mengajak semua warga STAINU untuk meramaikan gelaran tahunan ini sebagai bentuk rasa syukur dan khidmad pada NU.

Tanpa peran media, kata dia, misi mengampanyekan Islam ramah, toleran, akan susah tersampaikan pada publik. Hal itu menjadi bagian dari tugas NU dan kampus di bawah naungan NU.

"Kami atas nama kampus mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan media, jurnalis dan semua elemen yang turut mempublikasikan agenda besar kami. Semoga ini menjadi bagian dari syiar untuk mengampanyekan Islam yang ramah melalui media siber," ujar dia.

Upacaran terima kasih juga pihaknya sampaikan pada NU Temanggung, Bank Jateng, Polres Temanggung, KBIH Babussalam, Laziznu, Tirta Agung dan lainnya. "Semoga amal semua pihak mendapat balasan setimpal dari Allah," ujar dia. (hg55/Ibda)

Suasana festival rebana modern di komplek STAINU Temanggung
Temanggung, Harianguru.com - Sebanyak 13 grup rebana dari Kabupaten Temanggung, Magelang dan sekitarnya, Minggu (22/4/2018). Sampai pukul 23.00 WIB lebih, akhirnya grup Rebana Ittihadus Syabab dari Kemloko Sabet Juara 1 Festival Rebana Modern (Fesrebmod) STAINU Temanggung.

Data dari panitia, para peserta itu mulai dari rebana STAINU Temanggung, Nurul Ikhlas dari Munding, Kundisari, Permata Hati dari Windusari Magelang, As-syifa TPQ Darussalam Miri, Kerep.

Kemudian Nada Al-badhawi Hidayatussyibyan SMKN 1 Temanggung, Annajah Walitelon Temanggung, Nada Al Mahmudah Bansari, Sekar Langit Kandangan, Elvas Annaja Ngadirejo, Ittihadussyabab Kemloko Kaloran, Al Karomah Kledung, Baitussalam Tembarak.

Kegiatan yang berlangsung sehari semalam ini sangat ramai karena dihadiri ratusan orang yang lalu lalang dari berbagai daerah.

Dalam kesempatan itu dibuka pula berbagai stand. Mulai dari stand makanan, minuman, baju, kopi, dan lainnya sampai juga stand PMB STAINU Temanggung.

Usai pertandingan, akhirnya panitia dan juri menentukan tiga juara. "Juara 1 grup Ittihadus Syabab dari Kemloko Kaloran Temanggung. Juara 2 grup Sekar Langit, Tegalsari Kandangan Temanggung. Juara 3 Elfas An Naja, Pringsewu Ngadirejo Temanggung," kata Ahmad Yasin Presiden BEM STAINU Temanggung.

Mereka langsung diberi penghargaan dari panitia yang diberikan Husna Nashihin perwakilan dari STAINU Temanggung. (hg57/hms).

Stand mahasiswa PGMI STAINU Temanggung
Temanggung, Harianguru.com - Ralam rangka mengimplementasikan visi-misi Teacherpreneurship, sejumlah mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung yang tergabung dalam HMP PGMI STAINU Temanggung membuka stand bisnis dalam Festival Rebana Modern dalam rangkaian Dies Natalis STAINU Temanggung ke-48 di halaman kampus setempat, Minggu (22/4/2018).

Mereka menjajakan beberapa makanan, minuman, juga beberapa asesories dan juga perlengkapan seperti sabun dan sejenisnya yang laris-manis dalam rangkaian agenda Dies Natalis STAINU Temanggung tahun 2018 tersebut.

Ketua Program Studi PGMI STAINU Temanggung, Hamidulloh Ibda, merespon baik kegiatan tersebut karena sudah sejalan dengan visi-misi PGMI serta implementasi dari mata kuliah Teacherpreneurship.

"Minggu ini adalah pertemuan terakhir mata kuliah Teacherpreneurship sebelum UAS. Banyak konsep dan teori dapat diimplementasikan mahasiswa. Salah satunya adalah bisnis langsung, meskipun secara akademik ada namanya bisnis plann," beber Hamidulloh Ibda pengajar dari mata kuliah Teacherpreneurship di prodi PGMI tersebut.

Penulis buku Sing Penting NUlis Terus ini juga menambahkan, untuk prodi PGMI STAINU Temanggung sendiri fokusnya hanya pada dua capaian pembelajaran, yaitu mencetak calon guru kelas MI/SD dan Teacherpreneurship.

"Kami mendesainnya ke dalam beberapa mata kuliah sesuai rumpun akademiknya. Ada yang fokus penyiapan calon guru kelas MI/SD yang mana ini ada mata kuliah khusus PAI MI/SD dan mata kuliah umum guru kelas, seperti IPA, IPS, PKn, Matematika, Bahasa Indonesia dan lainnya," beber owner Penerbit Formaci tersebut.

Sedangkan untuk penyiapan Teacherpreneurship, ada mata kuliah Entrepreneurhsip, Teacherpreneurship, Strategi Bisnis Pendidikan, KKL, dan juga Praktik Teacherpreneurship. "Memang tidak fokus berjualan, tapi dalam konsep Teacherpreneurship ini adalah lebih pada konseptor, inovator, peneliti, penulis, pemilik perusahaan. Adapaun berbisnis kecil-kecilan adalah bentuk belajar dan implementasi dari Teacherpreneurship," ujar penulis buku Teacherpreneurship (Konsep dan Aplikasi) tersebut.

Selain mendorong bisnis di luar pendidikan, dalam perkuliahan Teacherpreneurship, penulis buku Media Literasi Sekolah ini juga telah mengajarkan kepada mahasiswa tentang kompetensi penelitian dan penulisan di bidang pendidikan dasar. Salah satunya adalah menulis karya tulis ilmiah, PTK dan opini di media massa.

Pihaknya berharap, ke depan implementasi Teacherpreneurship bisa merambah ke dunia yang lebih besar, namun harus fokus pada ranah pendidikan. (TB44/hms).

Temanggung, Harianguru.com - Haflah akhirussanah ke 49 dan haul muassis ke 12 pesantren Salafiyyah Tawangsari atau biasa disebut Pesat Desa Tawangsari, Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut yakni sejak tanggal 20 hingga 22 April 2018.

Sebagai mana acara tersebut adalah imtichan, perlombaan, pengajian, pentas seni budaya, dan puncaknya pengajian dari KH. Abdul Jalil dari Semarang.

Dalam sambutan panitia menyampaikan terima kasih dan ucapan maaf atas kekurangan dalam acara tersebut.

Sementara itu. Tim KKN STAINU Temanggung yang bertugas di Desa Tawangsari juga diundang untuk menghadiri sekaligus meliput acara tersebut guna realisasi program KKN, yakni penyebaran informasi untuk mempublish kegiatan Desa Tawangsari.

Kemudian dilanjutkan dengan sambutan pengasuh pesat bapak kh agus, beliau menyampaikan agar tetap sekolah dan ngaji di bawah nu, walaupun mahal tapi itu bentuk dari kecintaan terhadap nu, selain itu beliau juga berpesan sisa waktu diusahakan untuk mengaji agama.

Kemudian dalam pembelajaran beliau juga menerapkan kegiatan belajar mengajar yang baik dan tidak ingin ketinggalan sehingga harapan beliau penyesuaian akan diterapkan selesai alfiyah selesai SMA. Tutur beliau

Selanjutnya selesai pada titik penghujung acara mauidoh khasanah yang disampaikan oleh bapak kyai haji abdul jalil dari semarang.

Beliau berpesan dengan tegas selalu bukti kyai NU. karena sejalan dan sangat ikhlas dalam menuntun umatnya dan santri bersungguh-sungguh mengikuti kyai karena ilmu kyai sungguh bermanfaat dunia akhirat. (HG44/almaksirun).

Pati, Harianguru.com - Pangkalan MA Manahijul Huda (MA MAHIDA) Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Pati, Jawa Tengah yang tergabung pramuka Dewan Ambalan Ahmad Yani dan Cut Nyak Dien ini melakukan pelantikan pramuka penegak tingkat Bantara, Kamis kemarin (19/04/2018).

Pelantikan Bantara ini diikuti oleh ratusan anggota pramuka penegak mulai dari unsur Dewan Kehormatan Penegak, pengurus Dewan Ambalan Penegak, dan calon Penegak.

Ketua panitia, Moh Nasikhun Amin menvatakan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal seseorang yang tergabung di Gerakan Pramuka (Gerpra), khususnya di Pramuka Penegak yang akan memasuki kepramukaan yang sesungguhnya.

“Mudah-mudahan para Pramuka yang telah dilantik ini menjadi Pramuka Penegak lebih giat mengembangkan minat, bakat dan pengetahuannya di bidang kepramukaan salah satunya melanjutkan proses pendidikannya dengan mencapai Kecakapan lainnya. Tanda Kecakapan Khusus (TKK) bahkan kalau bisa mencapai Pramuka Tingkat Laksana," Harap ketua panitia.

Pelantikan Bantara  diawali dengan upacara pembukaan yang bertempat di halaman Masjid Baiturrohman Ngagel. Kemudian dimulai pemberangkatan peserta pukul 07.40 WIB untuk melaksanakan hiking. Tak lupa setiap sangga berbaris rapi dan tertib untuk menyusuri rute perjalanan.

Dalam hiking ini, setiap sangga diwajibkan berhenti di setiap pos yang dijaga oleh beberapa senior. Di pos pertama setiap sangga diuji kemampuannya dalam menghafal Tri Satya dan Dasa Dharma. Pada pos kedua, para peserta diminta untuk membuat bentuk simpul dengan tali temali minimal. Selanjutnya di pos ketiga diminta untuk menyanyikan lagu wajib dan yel-yel. Kemudian di pos keempat para peserta pelantikan diuji dalam hal penciuman dan perasa. Lalu dipos kelima diminta untuk melaksanakan PBB (Pengaturan Baris Berbaris). Dan yang terakhir, di pos keenam ini yang ditunggu-tunggu peserta yaitu halang rintang.



"Saya merasa senang bisa mengikuti pelantikan bantara ini meskipun agak melelahkan. Karna ini juga dapat melatih kemampuan kepramukaan siswa," ujar Luthfia Angelina salah satu siswa yang dilantik.



Sesampainya di madrasah peserta pelantikan beristirahat dan dilanjutkan dengan upacara pelantikan pukul 16.00 WIB. Upacara pelantikan ini ditandai dengan pembacaan sandi ambalan dan penyematan Tanda Kecakapan Umum (TKU) Bantara. Kegiatan ini sendiri merupakan prosesi pelantikan dan pengukuhan seorang Pramuka yang telah menyelesaikan Syarat-Syarat Kecakapan Umum (SKU) Pramuka Penegak sehingga berhak menggunakan Tanda Kecakapan Umum (TKU) Penegak Bantara. SKU Penegak



Pelantikan Bantara ini ditutup dengan pemberian hadiah kepada sangga terbaik. Untuk sangga yang terbaik yaitu sangga penegas 3. Kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah serta foto bersama. (HG44/Mishwa Calista Meli/Muh Ibrahim Musa).

Pati, Harianguru.com - Dalam rangka merayakan peringatan Hari Kartini 2018, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jamaah Pasrah (JAPA) Dukuhseti, Pati, Jawa Tengah, Sabtu (21/4/2018) menggelar upacara dan perayaan Hari Kartini.

"Temanya di tahun ini adalah 'Dengan Semangat Kartini Kita Tingkatkan Kualitas Keluarga dalam Meningkatkan Pendidikan Karakter Generasi Penerus Bangsa," kata Minanurrohman Kepala SMK JAPA.

Dijelaskannya, keluarga menjadi bagian penting untuk menanamkan pendidikan karakter. Oleh karena itu, fokus pendidikan tidak hanya dari sekolah, namun juga ditentukan dalam keluarga.

Dalam upacara itu, diikuti segenap dewan guru dan siswa-siswi SMK Japa. Mereka tampak mengenakan sejumlah baju khas daerah. (Hg33/hms).

Temanggung, Harianguru.com - Sesuai dengan tema besar KKN STAINU Temanggung tahun 2018 ini, tim KKN STAINU Temanggung tahun 2018 di Desa Tawangsari, Kecamatan Kemloko, Temanggung kini menyasar program pembentukan kepengurusan TPQ sekaligus takmir masjid,

Hal itu terungkap dalam rapat koordinasi yang dilaksanakan pada Sabtu (21/4/2018) pukul 19.00 - 22.00 WIB di Dusun Jogopati, Tawangsari, Tembarak, Temanggung.

Kegiatan tersebut di hadiri dari berbagai macam elemen masyarakat dari tingkat remaja , tokoh masyarakat, aparatur pemerintah dan perwakilan warga, sekaligus tim KKN STAINU Temanggung.

Kegiatan ini di laksanakan melihat dari permintaan masyarakat akan kebutuhan dengan hal tersebut.
Acara ini terlaksana dengan lancar .

Kegiatan ini di buka secara langsung Kepala Dusun kemudian sambutan dari shohibul bait/ kediaman Rumah yaitu bapak Kepala TPQ Muhyidin. "Saya berharap segera mendapatkan bukti dan integritas secara formal dari pihak lembaga yang berwenang. Masyarakat sangat bangga dan berharap penuh atas adanya KKN," kata dia.

Sementara itu, Almaksirun sebagai Kordes KKN di Desa Tawangsari sebagai fasilitator dalam pembentukan instruktural TPQ dan takmir masjid, menjadikan akan pentingnya struktural atau kepengurusan dalam sebuah lembaga.

Kemudian di situ, Almaksirun mewakili  dari tim KKN STAINU Temanggung juga menyampaikan, akan ada tindak lanjut dari kegiatan tersebut  yaitu tentang pendampingan secara  administrasi yang nantinya agar dapat segera terbit ID bagi masjid dan piagan statistik bagi TPQ sekaligus SK takmir.

Hal ini akan dilaksanakan secara beberapa kali, ujar almaksirun kordes KKN Tawangsari. Kemudian akan keberhasilan akan output yang di harapkan TPQ dan takmir sekaligus masjid di harapkan segera mendapat bukti legalitas secara formal dari pihak dari lembaga yang berwenang. (Hg33/hms).

Temanggung, Harianguru.com - Hari Kartini merupakan peringatan hari lahir Raden Ajeng Kartini yang mempertahankan emansipasi wanita pada eranya semasa masih muda. Seperti yang disampaikan oleh Titik Setyaningsih selaku Kepala Sekolah SDN Drono Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung pada saat upacara pembukaan memperingati hari Kartini.

“Semoga dengan peringatan ini (hari Kartini) dapat memunculkan generasi muda Kartini yang selalu mempertahan kan emansipasi wanita untuk seluruh wanita di Indonesia tercinta ini” ujar wanita hebat tersebut, Sabtu (21/4/2018) yang dilanjutkan dengan pembacaan sejarah RA. Kartini mulai dari kecil sampai masa dewasa disertakan dengan indentitasnya.

Serangkaiaan acara dalam peringatan Hari Kartini ini, adalah dengan upacara dilanjutkan dengan gerak jalan atau kirab mengelilingi desa dengan berpenampilan menggunakan baju adat. Setelah kirab mengelilingi desa dilanjutkan dengan fashion show yang dibagi menjadi dua klaster. Klaster pertama lombanya berpasangan dan yang kedua adalah individu. Peserta merupakan perwakilan dari masing-masing kelas mulai dari kelas 1 sampai kelas 6.

Penilaian dari lomba fashion show meliputi keserasian pakaian dan juga pengetahuan tentang Kartini. Penghujung acara ditutup dengan pembacaan para pemenang lomba fashion show. Klaster pertama atau lomba berpasangan diambil dari juara satu sampai juara tiga.

Andin dan Reva siswa kelas 2 mendapatkan juara satu dilanjutkan juara dua oleh Vita dan Nenat siswa kelas 4, terakhir sebagai juara tiga dimenangkan oleh Joko dan Sifa selaku siswa kelas 5. Adapun lomba individu, juara satu di menangkan oleh Andien disusul oleh Joko selaku juara dua dan terakhir sebagai juara tiga dipegang Nenat.

Kegiatan lain yang menyemarakkan peringatan hari Kartini adalah lomba kur dengan menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini. Peserta pada lomba ini adalah perwakilan kelas dan hasil kejuaraannya di pegang kelas 5.

Sara Devi Lukita salah satu koordinator kegiatan menyampaikan “agar anak muda masa kini lebih mengenal sejarah Indonesia pada umumnya dan pada RA. Kartini pada khususnya” pada sela-sela kegiatan. Disambung oleh mahasiswi semester 8 tersebut “selain mengingatkan sejarah tentang RA. Kartini juga memiliki tujuan untuk uri-uri budaya jawa. Jangan sampai kebudayaan jawa yang santun ini hilang begitu saja karena realita yang ada sekarang ini banyak yang bilang bahwa wong jowo ilang jowone (orang jawa hilang jawanya)’.

Terakhir dalam wawancaranya, selain memiliki tujuan tersebut juga sebagai program kerja mahasiswa KKN dari STAINU Temanggung sebagai bukti nyata dalam kemasyarakatan maupun sosial untuk menjalin tali silaturahim antara mahasiswa dan juga masyarakat sekitar. (Red-HS33/ Wahyu Egi Widayat).

Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka merayakan Hari Kartini 2018, MI Nurul Ummah Tawangsari, Tembarak, Temanggung berkerjasama dengan tim KKN STAINU Temanggung menggelar sejumlah kegiatan, Sabtu (21/4/2018).

Dijelaskan Kepala MI Nurul Ummah Tawangsari, bahwa pihaknya bersama tim, menyiapkan peluru bagi bangsa untuk negeri yang cinta akan NKRI dan faham akan sejarah Kartini.

"Kartini merupakan santri putri yang kuat dan beriman, beliau merupakan putri dari Asyiroh dan Bupati Jepara. Kartini merupakan murid dari KH. Sholeh Darat Semarang," bebernya.

Melalui kegiatan ini Almaksirun Koordinator KKN STAINU Temanggung di Desa Tawangsari juga menyapaikan pentingnya paham akan sejarah dan semangat untuk mengikuti uswah dari beliau Raden Ajeng Kartini.

Peringatan acara tersebut dilaksanakan mulai tanggal 21 April 2018,  26 April 2018, dan tepat 26 April 2018 nanti, tim KKN STAINU melaksanakan beberapa perlombaan, salah satunya kuis tebak sejarah Kartini, dan korsi joget.

Kegiatan tersebut dilaksanakan menjadi salah satu bukti kedekatan tim KKN STAINU Temanggung dengan warga dan sekolah. (hg33/hms).

Panelis bersama finalis Duta STAINU Temanggung
Temanggung, Harianguru.com - Pemilihan Duta Mahasiswa STAINU Temanggung tahun 2018, secara resmi diikuti puluhan mahasiswa-mahasiswi STAINU Temanggung, yang hari ini Sabtu (21/4/2018) berhasil maju ke babak final sebanyak enam orang. Pemilihan Duta Mahasiswa STAINU Temanggung ini digelar dalam rangka Dies Natalis STAINU Temanggung ke-48 yang sudah melalui tahap seleksi ketat.

Yeni Ervina Koordinator Duta Mahasiswa STAINU Temanggung menjelaskan dalam pemilihan ini ada tiga model dan tahapan pemilihan. Pertama, pendaftaran teknis syarat administratif. Dari aspek pendidikan-pengajaran dibuktikan dengan KTM, foto, hasil studi dan IPK. "Kemudian juga syarat bidang penelitian dengan bukti karya ilmiah/tulisan di media dan aspek pengabdian masyarakat dengan bukti sertifikat, SK kepengurusan atau keaktifan di dalam dan luar kampus," kata dia di aula lantai 3 STAINU Temanggung di sela-sela acara.

Kedua, seleksi internal panitia untuk menetukan finalis dan ketiga adalah presentasi yang berlangsung hari ini yang diikuti enam finalis, Sabtu (21/4/2018). Keenam finalis itu dari beberapa prodi yang sudah didaulat untuk maju ke babak final.

Dalam presentasi, para finalis yang berjumlah enam itu diberi pertanyaan seputar tiga hal. Mulai dari aspek kemahasiswaan, organisasi, aspek bahasa dan attitude, serta aspek akademik atau wawasan mahasiswa tentang pandangan Islam, nasionalisme, kebhinekaan dan ke NU an.

Panitia mendapuk tiga penelis, yaitu Kholilurrohman Wisudawan Terbaik STAINU Temanggung 2018, Khamim Saifuddin Ketua Lembaga Penjamin Mutu (LPM) dan Effi Wahyuningsih Ketua Lembaga Bahasa Asing (LBA) STAINU Temanggung.

Duta Mahasiswa ini menurut dia adalah perwakilan mahasiswa dan mahasiswi yang memiliki keunggulan lebih. Mulai dari bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi, sampai pada promosi budaya lokal, dan ikon mahasiswa yang memiliki keunggulan Bahasa Jawa, Indonesia, Arab dan Inggris.

Tugas mereka, kata Yeni, ke depan menjadi brand mahasiwa STAINU Temanggung untuk ajang promosi di bidang akademik, bahasa, bahkan budaya lokal di Jawa Tengah. Mereka, pada puncak acara Dies Natalis STAINU Temanggung besuk akan diberi selempang, sertifikat dan Piala Ketua STAINU Temanggung.

Dalam kesempatan itu, Khamim salah satu panelis menegaskan bahwa salah satu tugas Duta Mahasiswa adalah megampanyekan Islam Nusantara sebagai tipologi Islam di negeri ini. Maka mahasiswa yang dinobatkan sebagai juara harus bisa menjadi ikon promosi Islam yang ramah, toleran, nasionalis, pancasilais dan mampu membentengi Islam, ulama, NU, NKRI dari radikalisme.

Sementara itu, Yasin Presiden BEM STAINU Temanggung sebagai pelaksana teknis menegaskan bahwa pemilihan Duta Mahasiswa STAINU itu termasuk dari bagian rangkaian Dies Natalis STAINU Temanggung tahun ini. "Kemarin sudah ada lomba di bidang olahraga. Hari ini pemilihan duta, besuk ada festival rebana dan pameran. Terakhir, besuk Senin (23/4/2018) akan ada seminar tentanh literasi dan sebagai puncak acara Dies Natalis STAINU Temanggung," ujar dia. (HG44/HI).

Semarang, Harianguru.com  - Dalam rangka ulang tahun (Dies Natalis) ke UIN Walisongo  Semarang ke 48, BEM dan Ketua STAINU Temanggung turut menghadiri  Ngaji Kebangsaan bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Jumat (20/4/2018) di kampus tersebut.

UIN Walisogno menyelenggarakan acara bersama Kementerian Agama yang dihadiri ratusan orang dari berbagai kalangan. Mahasiswa STAINU yang diwakili BEM  turut mensukseskan acara Ngaji Kebangsaan bersama Menteri Agama dengan tema "Mengasah Jatidiri Indonesia" yang diawali dengan bacaan ayat suci Alquran beserta lagu kebangsaan Indonesia Raya serta Mars Syubbanul Wathan dan serangkaian acara lainnya.

Menag menyampaikan sebagai bangsa Indonesia harus bangga karena negeri ini memiliki keistimewaan yang melimpah.

"Kita sebagai bangsa Indonesia harus bangga karena berbagai keistimewaan yang dimiliki oleh negara Indonesia, berbagai suku yang beragam, berbagai kekayaan flora dan fauna dengan keberagaman tersebut kita patut bangga kepada negara ini," kata dia.

Pihaknya menambahkan, berbagai keragaman yang ada di Indonesia ini tidak menghalangi bagi bangsa Indonesia untuk hidup tenteram dan damai yang dilandasi dengan ideologi pancasila dan UUD 1945.

"Ideologi bangsa, UUD 1945, dan semua bidang kenegaraan tidak terlepas dari unsur religiusitas dan agama, karena Indonesia mengatur bidang keagamaan, walaupun mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim tetapi Indonesia bukan negara Islam, dan Indonesia juga bukan negara sekuler bersyukurlah kita dapat menjalankan Ibadah dengan tenang walaupun saat ini ada hal-hal yang mengatasnamakan agama," tambahnya.

Sebagai penutup, Lukman menyampaikan agama dan bangsa itu seperti uang logam yang mempunyai dua sisi yang berbeda tetapi keduannya tidak dapat dipisahkan, saat menjaga keutuhan negara secara tidak langsung juga menjalankan keagamaan begitulah sebaliknya.

Dalam kesempatan itu, Ketua STAINU Temanggung, Moh. Baehaqi beserta BEM STAINU Temanggung turut mendukung keragaman Indonesia. Tentunya, hal itu sudah sesuai dengan cita-cita NU yang selama ini komitmen menjaga NKRI. (HG67/Sri Astuti).


Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd. 
Penulis Merupakan Guru SD Supriyadi Semarang.

Ibu kita Kartini putri sejati, Putri Indonesia harum namanya
Ibu kita Kartini pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia

Sudah kah hari ini  kita menanyikan lagu ciptaan WR.Supratman berjudul “ibu kita Kartini”? Yah, karena bertepatan dengan tanggal 21 April, bangsa kita selalu memperingati Hari Kartini. Kartini merupakan pahlawan perempuan Indonesia yang dikenal melalui spirit emansipasi wanita. Karena spiritnya tersebut Kartini menjadi berjasa bagi perempuan-perempuan Indonesia.

Mengapa Kartini?
Saya tidak akan membicarakan sejarah Kartini dan berbagai perannya yang akhirnya menasbihkan beliau sebagai salah seorang pahlawan. Akan tetapi karena ini bulan April, secara otomatis pikiran saya tertuju pada satu momen spesial yakni Hari Kartini. Meskipun diperingati dalam satu hari perayaan khusus, apakah semua orang Indonesia mengenal betul siapa sosok Kartini dan  pemikiran-pemikirannya.

RA Kartini yang saya kenal melalui perayaan Hari Kartini ketika duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) dan berlanjut hingga bangku SMA. Perayaan Hari Kartini jaman saya kecil tidak jauh berbeda dengan jaman ini: anak-anak sekolah memakai baju adat seperti kebaya model Kartini dan anak laki-laki memakai blangkon lengkap dengan beskap jawanya. Lebih variasi lagi, sekarang anak-anak sekolah memakai pakaian adat nusantara saat perayaan hari Kartini.

Sejarah singkat Kartini, lahir pada tanggal 21 April 1879 merupakan seorang putri dari Bupati Jepara. Meskipun termasuk dalam keturunan kaum bangsawan, namun Kartini memiliki keterbatasan atau kesempatan yang minim dibanding anak laki-laki pada masanya. terutama keterbatasan mendapatkan pendidikan. Selain hidup dalam masa kolonialisme, lingkungan tempat tinggal Kartini juga masih memegang teguh adat, dimana ketika seorang anak perempuan sudah berumur 12 tahun, maka anak tersebut harus dipingit sampai kelak akan ada yang meminangnya, tidak ada jenjang pendidikan yang tinggi bagi kalangan perempuan.

Dengan banyak hal yang lalu lalang dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada pilihan. Bagi perempuan, sebagian orang melihat pilihan yang ada terbatas ataupun “dibatasi” oleh hal-hal tertentu. RA Kartini dengan quote terkenalnya “Habis gelap terbitlah terang” menjadi salah satu sosok pertama yang dikenal berani membuat pilihan dan berani memperjuangkan pilihan yang dipilih. Saat ini, apalagi dengan adanya sosial media, kita sengaja ataupun tidak disengaja mengkritisi/dikritisi, menghakimi/dihakimi.

Oleh karena itu, Hari Kartini mengingatkan kita semua akan kesempatan luxurious yang sangat berharga: kesempatan untuk mendalami pilihan yang ada, kesempatan untuk memilih, kesempatan untuk berani memilih, dan kesempatan untuk berani memperjuangkan hal yang sudah dipilih. Hari Kartini mengingatkan untuk bersyukur akan hal ini dengan memahami berbagai pilihan yang ada. Hari Kartini mengingatkan untuk mempelajari pilihan-pilihan yang ada sebelum memilih. Hari Kartini juga mengingatkan untuk menghormati perempuan-perempuan di luar sana yang sudah membuat pilihan dan memperjuangkan pilihan itu, baik itu pilihan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, pilihan untuk berkarir, pilihan untuk berumah tangga, pilihan untuk hidup mandiri, dan apapun itu.

Kartini adalah sosok teladan gambaran seorang ibu, yaitu keteladanan dan kehangatan cinta ibu dalam keluarga. Peranan  ibu dalam membangun keluarga dan kehidupan masyarakat sangat penting, tidak saja pada masa lalu dan masa kini, tapi juga di masa mendatang. Ibu merupakan saka guru peradaban sehingga kata bijak menyatakan, "wanita ialah tiang negara. Bila wanitanya baik, baiklah negara dan bila wanitanya buruk, rusaklah negara."

Sebagai Pelajaran
Terdapat beberapa catatan penting yang dapat kita pelajari dari sosok kehidupan, perilaku dan pemikiran Kartini.

Pertama, patuh dan taat pada orang tua. Seperti Kartini yang memilih untuk bersikap patuh dan taat atas keputusan yang diambil orang tuanya, yaitu menetap di dalam rumah (dipingit) alias tidak melanjutkan sekolah seperti keinginannya. Hal ini mencerminkan pada kita, meski harus mengorbankan keinginan yang menggebu untuk melanjutkan pendidikannya, namun karena keputusan orang tuanya, Kartini lebih memilih sikap patuh dan taat kepada orang tuanya, artinya ia tidak ingin mendurhakai orang tuanya.

Kedua, pantang menyerah demi mengagapi cita-cita. Sejarah membuktikan, kendati berada dalam pingitan dan tidak melanjutkan pendidikan ke sekolah formal. Semangat Kartini untuk terus belajar tidak terhenti, cita-citanya untuk memajukan diri dan kaumnya (kaum perempuan) terus diupayakan melalui cara-cara yang dapat ia lakukan.

Ketiga, visioner (memiliki pandangan jauh ke depan). Kaum perempuan pun harus terus belajar, berhak memperoleh ilmu pengetahuan dan pendidikan dari dunia luar.

Momen peringatan hari kelahiran RA Kartini bisa dimanfaatkan untuk kembali menggali makna perjuangan beliau secara utuh. Bukan hanya sebatas perayaan simbolik dengan mengenakan kebaya, berkonde, berblangkon atau lomba-lomba semata. Perjuangan Kartini lebih cerdas dari sekedar ornamen dan solekan yang erat melekat pada tubuh perempuan.

Seperti pemikiran Kartini yang menempatkan pendidikan sebagai suatu hak untuk semua kalangan, agar masyarakat pun berpikiran maju, perempuan butuh ilmu pengetahuan dan pendidikan yang luas untuk menjadi manusia pembangunan. Biarkan perempuan memilih ranah perjuangan dan keputusan yang menurut semua norma itu baik, bukan untuk dihakimi, dikekang dan diterbelakangkan. Perempuan, akan tetap berkodrat sebagai perempuan. Kebebasan berekspresi dalam garis kepatutan tak akan membuatnya menjadi arogan. Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan Indonesia. (hg)

Ilustrasi: Ketua Kwartir Nasional Pramuka Adhyaksa Dault dalam sebuah acara pramuka
Oleh Hamidulloh Ibda
Penulis merupakan Dosen dan Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung

Gerakan pramuka di Nusantara selama ini dipandang sebelah mata. Padahal, budaya disiplin bisa dibangun, dikuatkan, dan dimajukan melalui pendidikan pramuka. Penguatan gerakan pramuka menjadi salah satu solusi memajukan budaya disiplin bagi siswa-siswi SD/MI bahkan pelajar SMA/SMK/MA.

Budaya pramuka yang paling melekat adalah disiplin. Pramuka memiliki nilai-nilai, karakter, dan corak disiplin yang bisa membangun generasi muda hidup teratur. Menghargai waktu menjadi bentuk budaya konstruktif dan peduli masa depan sendiri dan bangsa ini. Jika kita menghargai waktu, tentu akan mudah menggapai masa depan.

Kita harus ingat pepatah Arab, “Al waqtu kas saif illam taqtha’hu qatha’aka” (waktu ibarat pedang, jika kamu tidak memotongnya, niscaya pedang itu akan memotongmu). Maka pelajar sebagai tunas-tunas penerus bangsa sangat “haram” memelihara “mental pemalas”. Apakah hanya pelajar? Tentu tidak. Guru, dosen, dan semua kalangan harus membuang mental malas.

Mental Molor dan Pemalas
Budaya disiplin di dunia pendidikan menjadi harga mati. Mengapa? Salah satu penyebab bangsa ini masih berkembang karena tidak menggerakkan kedisiplinan. Dari acara tingkat RT sampai tingkat pemerintahan, budaya molor laiknya jam karet dianggap sudah biasa. Ada undangan pukul 07.00 WIB, sangat wajar dan dianggap “biasa” ketika datang pukul 08.30 WIB. Ironis!

Mental molor dan pemalas harus direvolusi. Sebab, waktu tidak sekadar uang, melainkan kesempatan dan bagai emas. Lewat satu detik, semua kesempatan mendapat ilmu, karir, dan masa depan bisa hilang. Jika budaya di lembaga pendidikan masih ada yang molor tentu ironis. Padahal, di era milenial yang semua perkembangan begitu cepat bergerak ini sangat lucu jika kita santai-santai.

Mental molor dan pemalas adalah musuh bersama dan harus dilawan. Kita bisa melihat fakta pada kaum guru terutama yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terbagi atas Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang masih malas serta molor.

Tahun 2017, Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK) Menpan dan RB memecat 31 ASN. Mereka dipecat karena terbukti bolos kerja 46 hari bahkan lebih. Dari 35 orang yang disidang, 31 ASN secara resmi diberhentikan. BAPEK atau Badan Kepegawaian Negara (BKN) menindak ASN yang memang pemalas, karena membolos lebih dari 20 hari.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah 11 tahun 2017 tentang Manajemen PNS, mereka dipecat karena pelanggaran disiplin berat. Persoalan kedisiplinan para ASN itu menjadi potret bangsa ini tidak menghargai waktu dan menganggap sepele budaya disiplin.

Tidak hanya ASN yang tertangkap, namun budaya kita diakui atau tidak masih “compang-camping” ketika ada rapat, seminar, pelatihan, bahkan saat pergi sekolah. Anak-anak, pelajar, guru, pegawai swasta, buruh, hakim, akan kacau masa depannya jika masih membudayakan molor dan tidak mengutamakan kedisiplinan.

Budaya Disiplin
Lembaga pendidikan harus mencari formula bernas untuk merevolusi mental malas menjadi disiplin. Penguatan pendidikan pramuka di lembaga pendidikan untuk menguatkan kedisiplinan sangat mendukung penanaman pendidikan karakter dalam rangka menyukseskan Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental.

Hal itu tentu menjadi cita-cita bersama dan pendidikan pramuka sangat strategis menyukseskannya. Mengapa? Dalam pramuka ada tiga ruh untuk memajukan budaya disiplin, yaitu Prinsip Dasar Kepramukaan, Tri Satya Pramuka, dan Dasa Dharma Pramuka. Jika ketiga ruh itu ditanamkan pada pemuda kita, maka budaya disiplin bukan menjadi mimpi.

Pembangunan mental disiplin melalui Prinsip Dasar Kepramukaan sangatlah tepat. Di dalamnya, ada nilai keimanan dan ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa, peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya, terhadap diri pribadinya dan taat kepada kode kehormatan pramuka.

Nilai-nilai disiplin pramuka juga dibentuk lewat asupan karakter dari Tri Satya Pramuka. Pertama, demi kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh. Kedua, menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila. Ketiga, menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat. Keempat, menepati Dasa Dharma.

Kemudian, Dasa Dharma Pramuka juga harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari karena nilai-nilainya sangat agung. Pertama, takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Ketiga, patriot yang sopan dan kesatria. Keempat, patuh dan suka bermusyawarah.

Kelima, rela menolong dan tabah. Kelima, rajin, terampil dan gembira. Keenam, hemat cermat dan bersahaja. Ketujuh, disiplin, berani dan setia. Kedelapan, bertanggungjawab dan dapat dipercaya. Kesembilan, suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Nilai-nilai luhur itu sangat strategis untuk membangun kebudayaan Nusantara secara jangka panjang dengan fokus pada kedisiplinan. Semua itu bisa dilakukan dengan menguatkan pendidikan karakter untuk memajukan kebudayaan Nusantara. Sebab, budaya manusia Nusantara itu disiplin, menghargai waktu, dan tidak bermental malas.

Penguatan Pendidikan Pramuka
Gerakan pramuka di lembaga sekolah disesuaikan dengan jenjang umur. Untuk pramuka siaga, adalah mereka berumur 7-10 tahun. Pramuka penggalang mereka berumur 11-15 tahun. Pramuka penegak mereka berusia 16-20 tahun. Melihat usia itu jika dipetakan maka dari SD-SMA ada anggota pramuka siaga, penggalang, dan penegak.

Dari pemetaan ini, sangat strategis jika pendidikan pramuka dikuatkan untuk memajukan budaya disiplin bagi generasi muda. Ada beberapa langkah strategis menguatkannya. Pertama, sebagai ekstrakurikuler wajib, pramuka harus dipahami sebagai “kawah candradimuka” untuk mencetak generasi Pancasilais, nasionalis, bhineka, religius, dan berbudaya disiplin. Harus ada pola pikir “pramuka itu wajib” dan tidak sekadar formalitas belaka. Sebab, lewat pramuka akan lahir tunas-tunas penentu kemajuan Nusantara.

Kedua, penguatan pendidikan karakter harus ditekankan pada tiga ruh pramuka. Mulai dari Prinsip Dasar Kepramukaan, Tri Satya dan Dasa Dharma. Hal itu selaras dengan Perpres No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Substansi PPK itu menjadi jalan terang membangun bangsa kuat dan berbudaya melalui penguatan nilai-nilai agung. Mulai dari religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab.

Ketiga, sebagai ekstrakurikuler, banyak pelajar masih kurang interes dengan kegiatan pramuka. Sekolah harus membuat regulasi tegas agar semua pelajar mengikutinya. Misalnya, dengan membuat "kemah kebudayaan" yang di dalamnya ada penekanan kedisiplinan. Keempat, integrasi nilai-nilai karakter pramuka dalam pembelajaran. Sebab, pramuka adalah jalan ampuh mencetak kedisiplinan. Dalam kegiatan baris-berbaris, misalnya, anak bandel dan pemalas, secara otomatis akan disiplin dengan konsekuensi adanya hak-kewajiban serta hadiah-hukuman.

Kelima, perlu sinergi antara sekolah, dinas pendidikan, LPMP, dan pemerintah dengan Koordinator Gudep (Korgudep), Kwartir Ranting (Kwarran), Kwartir Cabang (Kwarcab), Kwartir Daerah (Kwarda), Kwartir Nasional (Kwarnas) untuk mewujudkan program Gerakan Nasional Revolusi Mental. Di dalamnya, ada penguatan budaya disiplin yang kini dibutuhkan bangsa ini.

Keenam, penguatan pendidikan pramuka juga harus dilakukan perguruan tinggi. Khususnya, di jurusan PGSD/PGMI yang fokus mencetak calon guru kelas. Dalam praktiknya, pramuka tidak sekadar menjadi mata kuliah wajib. Namun harus dikuatkan lewat UKM pramuka dan pelatihan-pelatihan. Meski di kampus hanya mengantarkan mahasiswa calon guru ikut Kursus Mahir Dasar (KMD), ke depan kampus harus mendorong mahasiswa dan guru ikut Kursus Mahir Lanjut (KML), Kursus Pelatih Dasar (KPD) bahkan Kursus Pelatih Lanjut (KPL).

Doktrin suci pramuka adalah kedisiplinan. Semua itu bisa dibangun dan dimajukan lewat penguatan pendidikan pramuka. Budaya disiplin dimulai dari perubahan cara berpikir dan gerakan konsisten lewat pendidikan pramuka. Harus diingat, tidak ada bangsa besar tanpa kedisiplinan. Begitu. (hg)

Temanggung, HARIANGURU.com - Rangkaian Dies Natalis STAINU Temanggung ke 48 ini sangat meriah. Lomba tonnis yang dihelat pada Kamis (19/4/2018), menjadi lomba yang mengawali kegiatan Dies Natalis STAINU Temanggung yang pertama kali yangd iikuti antarcivitas akademika STAINU Temanggung.

BEM STANU Temanggung yang menjadi panitia dalam rangkaian acara Dies Natalis STAINU Temanggung itu, melangsungkan kegiatan yang pertama yaitu perlombaan tonnis.

Ana Sofiyatul Azizah Pembantu Ketua STAINU Temanggugn, dalam kesempatan itu membuka acara tersebut dan berharap agar pertandingan berjalan dengan fair dan sportif.

Sementara itu, Wakil Presiden BEM STAINU Temanggung, Ulfi, menjelaskan bahwa lomba tonnis diadakan selain menjadi salah satu rangkaian acara Harlah STAINU Temanggung ke 48, tonnis merupakan olahraga yang belum mashur khusunya kalangan temanggung sendiri. "Karena meruapakan olahraga yang notabene baru diusung oleh dosen UNNES dan diharap bisa menjadi ikon olahraga yang diangkat di Temanggung sendiri," beber dia, Jumat (20/4/2018).

Sementara M. Fadholi AH perintis olahraga tersebut menjelaskan bahwa olahraga ini bukan termasuk kategori lomba yang sulit seperti sepakbola atau basket. "Olahraga ini bisa dilakukan oleh kalangan civitas akademika STAINU yang masih awam akan tonnis itu sendiri jadi akan tetap berjalan ramai," beber dosen Prodi PGMI STAINU Temanggung itu.

Selain tonnis, ada sejumlah rangkaian Dies Natalis STAINU Temanggung. Panitia berharap agar kegiatan tahunan ini menjadi wahana memajukan kampus. (hg66/Robin).

Ilustrasi: Suasana pembelajaran di SD. (Dok-harianguru.com).

Oleh Junaidi Abdul Munif
Penulis merupakan Pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Semarang

Indonesia memiliki sejarah yang panjang dengan kebudayaan. Takdir sebagai wilayah yang diberi anugerah oleh Tuhan dengan kesuburan tanah dan keragaman rempah-rempah, membuat kepulauan ini menjadi sasaran imperialisme-kolonialisme negara-negara Eropa. Berbagai negara datang ke Nusantara, membawa serta agama dan budaya mereka. Karya agung Dennys Lombard, seri Nusa Jawa: Silang Budaya sebanyak tiga buku telah menunjukkan hal itu.

Pengalaman menunjukkan bahwa kita memiliki pertahanan budaya yang sungguh kuat. Beratus tahun dijajah oleh Belanda, tidak menjadikan kita pandai berbahasa Belanda. Tengoklah Amerika Serikat, Australia, Brazil, di mana bahasa negara-negara penjajahnyamenjadi bahasa nasional negara jajahan.

Tapi kita kini menghadapi persoalan pelik. Kenakalan remaja dan disrupsi atas kebudayaan sendiri menjadi keprihatinan kita bersama. Kasus siswa menghajar guru hingga meninggal dunia di Madura, pelajar yang merampok mobil dan membunuh sopir taksi online di Semarang, tawuran pelajar yang seolah tiada hentinya, seks bebas di kalangan belajar yang indikatornya pelajar hamil di luar nikah, adalah sederet persoalan pendidikan kita saat ini.

Tentu globalisasi dengan mudah kita persalahkan sebagai biang masalah kemerosotan budaya kita. Namun benarkah demikian? Pada tahun 1980-an, pandangan demikian sudah muncul, dengan anggapan bahwa teknologi modern berperan besar merubah budaya dan nilai-nilai masyarakat Indonesia. Teknologi menjadi salah satu faktor saja dari sekian faktor yang menggeser nilai-nilai masyarakat.

Manusia telah kehilangan tujuan hidupnya, fungsinya dalam masyarakat, dan fungsinya sebagai makhluk Tuhan di dunia. Karena kehilangan tujuan itu, ekses yang timbul adalah persoalan-persoalan negatif. Martojo menyebutnya dengan pathologi sosial dengan gejala antara lain kemiskinan, pelacuran, frustrasi, apatis, kenakalan dan kejahatan (Moemponi Martojo, 1981).

Peran Pendidikan
Dari contoh bahasa di atas kita patut merasa optimis bahwa sesungguhnya kita memiliki modal budaya yang kuat untuk tidak mudah larut dalam gegar budaya asing. Kita sebelumnya cukup sering salah memandang kebudayaan dari hal-hal yang material; cagar budaya, seni tradisi, adat istiadat. Padahal kebudayaan lebih kompleks dari itu. 

Nomenklatur “Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan” (Kemdikbud) menyiratkan makna bahwa pendidikan dan kebudayaan adalah dua keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Membicarakan pendidikan adalah membicarakan kebudayaan.

Karena pendidikan adalah kebudayaan, maka pendidikan juga merupakan entitas yang kompleks. Pendidikan berurusan dengan manusia yang juga kompleks dan dinamis. Pendidikan yang kompleks itu perlu diterjemahkan ke dalam sub-pendidikan yang aplikatif dalam rangka menghasilkan luaran (output) pendidikan yang positif.    

Pemerintah merumuskan tiga macam jenis satuan pendidikan, yaitu pendidikan formal, non formal, dan informal. Ketiganya memiliki peran yang sama-sama kuat untuk membentuk generasi muda yang berbudaya. Mengapa pemerintah sampai pada simpulan yang demikian?

Hal ini pararel dengan istilah pendidikan dalam Islam, yaitu ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib. Pertama, ta’lim yang berasal dari bahasa Arab ‘alama memiliki arti tahu, yang paralel dengan knowledge (pengetahuan). Pendidikan dalam ta’lim adalan transfer of knowledge (transfer pengetahuan) dari guru ke peserta didik. Model ini banyak kita temukan dalam sistem pendidikan formal, di mana kelas yang berjenjang merupakan manifestasi pengetahuan mana yang akan diberikan pada peserta didik.

Kedua, tarbiyah berasal dari akar kata rabba. Tuhan juga disebut dengan Rabbun yang mempunyai makna sebagai Zat yang mengasuh. Naquib Al-Attas memaknai tarbiyah antara lain sebagai “mengasuh, memelihara, dan menjinakkan (Munarji, 2004). Dari definisi itu ada nuansa suri tauladan dari guru pada peserta didik. Model pendidikan tarbiyah ini antara lain kita temukan dalam pola pendidikan keluarga.

Ketiga, ta’dib berasal dari adab, memiliki arti tata krama, sopan santun. Model pendidikan ini kita temukan dalam pendidikan non formal seperti pesantren, sanggar, madrasah diniyyah. Lembaga-lembaga pendidikan non formal yang mudah kita temukan di kehiduapn sekitar.

Adab atau ilmu etik menurut Ki Hajar Dewantara adalah ilmu yang mempelajari kebaikan dan keburukan dalam hidup manusia, teristimewa mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan (Ki Hajar Dewantara, 1961).

Jelas bahwa adab yang dapat kita maknai sebagai kebudayaan berpijak pada nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, nilai baik maupun buruk. Nilai-nilai itu akan menjadi pertimbangan kita untuk melakukan perbuatan. Pendidikan memiliki peran untuk memberikan pengetahuan tentang nilai-nilai tersebut, memilah mana nilai yang baik, untuk kemudian diejawantahkan dalam perbuatan.

Kita Semua adalah Guru
Pendidikan yang diklasifikasi dalam tiga istilah dan fungsi itu perlu kita kuatkan di masing-masing satuan pendidikan. Untuk pendidikan formal yang klasikal (ta’lim), pembelajaran disusun dengan kerangka nilai-nilai sebagai kognisi dan titik pijak untuk melakukan perbuatan. Keterbatasan waktu (intensitas) yang minimum antara guru dan murid sedikit menyulitkan kita untuk tampil dalam pola pendidikan pengasuhan (tarbiyah).

Dalam pendidikan informal (tarbiyah) yang mengandaikan peran penting pengasuhan keluarga, terutama orangtua dan saudara. Peran kita sebagai orangtua, kakak, saudara, adalah menguatkan nilai-nilai yang disampaikan dalam pendidikan formal. Kita harus menjadi teladan untuk memilah nilai, memilih nilai yang baik, dan mewujudkannya dalam perbuatan yang baik pula.

Sementara dalam pendidikan non formal (ta’dib), figuritas kiai di pesantren, ustadz di madrasah diniyah, pengelola sanggar, ataupun tokoh masyarakat, mereka adalah guru yang berperan penting dalam pemberadaban anak-anak kita. Pada pendidikan nonformal ini kita sesungguhnya tidak hanya dididik oleh satuan pendidikan, melainkan juga dididik oleh sub-sub pendidikan informal; media massa, masyarakat, internet, dan lain-lain.

Dari logika itu, kita sesungguhnya adalah guru. Di sekolah kita adalah guru bagi peserta didik. Di rumah kita adalah guru bagi anak-anak dan keluarga. Di masyarakat kita adalah guru bagi masyarakat. Dengan begitu pendidikan sebagai jalan kebudayan akan menghasilkan insan-insan Indonesia yang beradab. (hg)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget