Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Membangun Budaya Disiplin Lewat Penguatan Pramuka

Ilustrasi: Ketua Kwartir Nasional Pramuka Adhyaksa Dault dalam sebuah acara pramuka
Oleh Hamidulloh Ibda
Penulis merupakan Dosen dan Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung

Gerakan pramuka di Nusantara selama ini dipandang sebelah mata. Padahal, budaya disiplin bisa dibangun, dikuatkan, dan dimajukan melalui pendidikan pramuka. Penguatan gerakan pramuka menjadi salah satu solusi memajukan budaya disiplin bagi siswa-siswi SD/MI bahkan pelajar SMA/SMK/MA.

Budaya pramuka yang paling melekat adalah disiplin. Pramuka memiliki nilai-nilai, karakter, dan corak disiplin yang bisa membangun generasi muda hidup teratur. Menghargai waktu menjadi bentuk budaya konstruktif dan peduli masa depan sendiri dan bangsa ini. Jika kita menghargai waktu, tentu akan mudah menggapai masa depan.

Kita harus ingat pepatah Arab, “Al waqtu kas saif illam taqtha’hu qatha’aka” (waktu ibarat pedang, jika kamu tidak memotongnya, niscaya pedang itu akan memotongmu). Maka pelajar sebagai tunas-tunas penerus bangsa sangat “haram” memelihara “mental pemalas”. Apakah hanya pelajar? Tentu tidak. Guru, dosen, dan semua kalangan harus membuang mental malas.

Mental Molor dan Pemalas
Budaya disiplin di dunia pendidikan menjadi harga mati. Mengapa? Salah satu penyebab bangsa ini masih berkembang karena tidak menggerakkan kedisiplinan. Dari acara tingkat RT sampai tingkat pemerintahan, budaya molor laiknya jam karet dianggap sudah biasa. Ada undangan pukul 07.00 WIB, sangat wajar dan dianggap “biasa” ketika datang pukul 08.30 WIB. Ironis!

Mental molor dan pemalas harus direvolusi. Sebab, waktu tidak sekadar uang, melainkan kesempatan dan bagai emas. Lewat satu detik, semua kesempatan mendapat ilmu, karir, dan masa depan bisa hilang. Jika budaya di lembaga pendidikan masih ada yang molor tentu ironis. Padahal, di era milenial yang semua perkembangan begitu cepat bergerak ini sangat lucu jika kita santai-santai.

Mental molor dan pemalas adalah musuh bersama dan harus dilawan. Kita bisa melihat fakta pada kaum guru terutama yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terbagi atas Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang masih malas serta molor.

Tahun 2017, Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK) Menpan dan RB memecat 31 ASN. Mereka dipecat karena terbukti bolos kerja 46 hari bahkan lebih. Dari 35 orang yang disidang, 31 ASN secara resmi diberhentikan. BAPEK atau Badan Kepegawaian Negara (BKN) menindak ASN yang memang pemalas, karena membolos lebih dari 20 hari.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah 11 tahun 2017 tentang Manajemen PNS, mereka dipecat karena pelanggaran disiplin berat. Persoalan kedisiplinan para ASN itu menjadi potret bangsa ini tidak menghargai waktu dan menganggap sepele budaya disiplin.

Tidak hanya ASN yang tertangkap, namun budaya kita diakui atau tidak masih “compang-camping” ketika ada rapat, seminar, pelatihan, bahkan saat pergi sekolah. Anak-anak, pelajar, guru, pegawai swasta, buruh, hakim, akan kacau masa depannya jika masih membudayakan molor dan tidak mengutamakan kedisiplinan.

Budaya Disiplin
Lembaga pendidikan harus mencari formula bernas untuk merevolusi mental malas menjadi disiplin. Penguatan pendidikan pramuka di lembaga pendidikan untuk menguatkan kedisiplinan sangat mendukung penanaman pendidikan karakter dalam rangka menyukseskan Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental.

Hal itu tentu menjadi cita-cita bersama dan pendidikan pramuka sangat strategis menyukseskannya. Mengapa? Dalam pramuka ada tiga ruh untuk memajukan budaya disiplin, yaitu Prinsip Dasar Kepramukaan, Tri Satya Pramuka, dan Dasa Dharma Pramuka. Jika ketiga ruh itu ditanamkan pada pemuda kita, maka budaya disiplin bukan menjadi mimpi.

Pembangunan mental disiplin melalui Prinsip Dasar Kepramukaan sangatlah tepat. Di dalamnya, ada nilai keimanan dan ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa, peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya, terhadap diri pribadinya dan taat kepada kode kehormatan pramuka.

Nilai-nilai disiplin pramuka juga dibentuk lewat asupan karakter dari Tri Satya Pramuka. Pertama, demi kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh. Kedua, menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila. Ketiga, menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat. Keempat, menepati Dasa Dharma.

Kemudian, Dasa Dharma Pramuka juga harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari karena nilai-nilainya sangat agung. Pertama, takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Ketiga, patriot yang sopan dan kesatria. Keempat, patuh dan suka bermusyawarah.

Kelima, rela menolong dan tabah. Kelima, rajin, terampil dan gembira. Keenam, hemat cermat dan bersahaja. Ketujuh, disiplin, berani dan setia. Kedelapan, bertanggungjawab dan dapat dipercaya. Kesembilan, suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Nilai-nilai luhur itu sangat strategis untuk membangun kebudayaan Nusantara secara jangka panjang dengan fokus pada kedisiplinan. Semua itu bisa dilakukan dengan menguatkan pendidikan karakter untuk memajukan kebudayaan Nusantara. Sebab, budaya manusia Nusantara itu disiplin, menghargai waktu, dan tidak bermental malas.

Penguatan Pendidikan Pramuka
Gerakan pramuka di lembaga sekolah disesuaikan dengan jenjang umur. Untuk pramuka siaga, adalah mereka berumur 7-10 tahun. Pramuka penggalang mereka berumur 11-15 tahun. Pramuka penegak mereka berusia 16-20 tahun. Melihat usia itu jika dipetakan maka dari SD-SMA ada anggota pramuka siaga, penggalang, dan penegak.

Dari pemetaan ini, sangat strategis jika pendidikan pramuka dikuatkan untuk memajukan budaya disiplin bagi generasi muda. Ada beberapa langkah strategis menguatkannya. Pertama, sebagai ekstrakurikuler wajib, pramuka harus dipahami sebagai “kawah candradimuka” untuk mencetak generasi Pancasilais, nasionalis, bhineka, religius, dan berbudaya disiplin. Harus ada pola pikir “pramuka itu wajib” dan tidak sekadar formalitas belaka. Sebab, lewat pramuka akan lahir tunas-tunas penentu kemajuan Nusantara.

Kedua, penguatan pendidikan karakter harus ditekankan pada tiga ruh pramuka. Mulai dari Prinsip Dasar Kepramukaan, Tri Satya dan Dasa Dharma. Hal itu selaras dengan Perpres No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Substansi PPK itu menjadi jalan terang membangun bangsa kuat dan berbudaya melalui penguatan nilai-nilai agung. Mulai dari religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab.

Ketiga, sebagai ekstrakurikuler, banyak pelajar masih kurang interes dengan kegiatan pramuka. Sekolah harus membuat regulasi tegas agar semua pelajar mengikutinya. Misalnya, dengan membuat "kemah kebudayaan" yang di dalamnya ada penekanan kedisiplinan. Keempat, integrasi nilai-nilai karakter pramuka dalam pembelajaran. Sebab, pramuka adalah jalan ampuh mencetak kedisiplinan. Dalam kegiatan baris-berbaris, misalnya, anak bandel dan pemalas, secara otomatis akan disiplin dengan konsekuensi adanya hak-kewajiban serta hadiah-hukuman.

Kelima, perlu sinergi antara sekolah, dinas pendidikan, LPMP, dan pemerintah dengan Koordinator Gudep (Korgudep), Kwartir Ranting (Kwarran), Kwartir Cabang (Kwarcab), Kwartir Daerah (Kwarda), Kwartir Nasional (Kwarnas) untuk mewujudkan program Gerakan Nasional Revolusi Mental. Di dalamnya, ada penguatan budaya disiplin yang kini dibutuhkan bangsa ini.

Keenam, penguatan pendidikan pramuka juga harus dilakukan perguruan tinggi. Khususnya, di jurusan PGSD/PGMI yang fokus mencetak calon guru kelas. Dalam praktiknya, pramuka tidak sekadar menjadi mata kuliah wajib. Namun harus dikuatkan lewat UKM pramuka dan pelatihan-pelatihan. Meski di kampus hanya mengantarkan mahasiswa calon guru ikut Kursus Mahir Dasar (KMD), ke depan kampus harus mendorong mahasiswa dan guru ikut Kursus Mahir Lanjut (KML), Kursus Pelatih Dasar (KPD) bahkan Kursus Pelatih Lanjut (KPL).

Doktrin suci pramuka adalah kedisiplinan. Semua itu bisa dibangun dan dimajukan lewat penguatan pendidikan pramuka. Budaya disiplin dimulai dari perubahan cara berpikir dan gerakan konsisten lewat pendidikan pramuka. Harus diingat, tidak ada bangsa besar tanpa kedisiplinan. Begitu. (hg)
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget