Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Sastra Bukan SARA


Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd
Penulis adalah Guru SD Supriyadi Semarang

Pepatah lama mengatakan, "mulutmu harimaumu". Sungguh, pepatah itu benar sekali. Mulut adalah kunci keselamatan. Di mulutlah jaminan keselamatan seseorang digantungkan.

Dari mulutlah kerap kali masalah muncul dan timbul tenggelam. Tidak jarang mulut menjadi sumber pertikaian. Bahkan, kata-kata bijak lama yang sangat masyhur mengatakan bahwa manusia butuh waktu hanya dua tahun untuk belajar bicara, tetapi ia butuh waktu seumur hidup untuk belajar diam. Artinya, pekerjaan mengendalikan mulut adalah pekerjaan yang pembelajarannya ditempuh sepanjang hayat.

Bukan Ahok Lagi
Puisi berjudul 'Ibu Indonesia' karya Sukmawati Soekarnoputri yang dibacakannya dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018 menuai kontroversi. Banyak yang berkomentar puisi yang dibuat putri Presiden pertama Indonesia, Soekarno menghina agama Islam. Sangat tidak elok membandingkan antara cadar dengan konde serta azan dengan kidung. Jika seseorang mengaku tidak mengetahui syariat namun mengapa menghina syariat dalam puisinya. Tidak semestinya menghina yang berjilbab atau berkonde atau bercadar. Bersikap menghargai dengan pilihan masing-masing orang adalah langkah yang tepat.

Seharusnya Sukmawati belajar dari kasus Ahok tentang penistaan agama yang telah menimbulkan kegaduhan luar biasa di masyarakat dan kasus tersebut telah berkekuatan hukum tetap. Seorang figur masyarakat sudah seharusnya tidak mengeluarkan perkataan-perkataan yang berbau SARA, kasar, kotor, dan cenderung tidak mengindahkan etika. Figur yang baik adalah sosok yang bisa mengelaboriskan kesantunan ucapan dengan perilaku dan perbuatan dalam keseharian.

Syariat
Selama ini syariat telah mengalami distorsi makna akibat ketidaktahuan publik. Syariat yang berarti aturan kehidupan yang berasal dari wahyu didistorsi maknanya menjadi sekedar hukum Islam berupa hukum potong tangan, rajam atau hukum cambuk. Tentu saja pemahaman seperti ini tidak bisa memberikan gambaran utuh hakikat syariat itu sendiri.

Bukan hanya orang awam yang menjadi anti terhadap syariat, banyak kalangan muslim santri pun menolak, minimal tidak berani bicara penegakan syariat.

Syariat mempunyai peran strategis sebagai pedoman manusia menjalani kehidupannya. Keberadaan syariat memberikan andil penting bagi manusia agar pola hidup yang dijalaninya tetap dalam koridor Tauhid. Dengan tetap dalam koridor Tauhid, peradaban yang dibangun manusia dapat berjalan secara seimbang, wajar dan tidak menimbulkan problem kemanusian serius.

Sastra kok SARA?
Perkembangan sastra akhir-akhir ini mengalami kemajuan yang pesat. Perubahan setiap genre sastra seiring dengan perkembangan pengetahuan manusia. Setiap manusia yang melakoni situasi sosial hidupnya setiap hari selalu melahirkan beragam jenis interpretasi terhadap kehadiran gejala sosial yang ada. Entah secara kritis maupun solutif.
Kehadiran sastra merupakan suatu bentuk kajian halus terstruktur dan sistematis dalam realitas sosial masyarakat. Karena itu, sastra tidak pernah terpisah jauh dari kenyataan sosial masyarakat. Pada hakekatnya sastra lahir membahasakan kenyataan hidup sosial manusia. Dunia sastra pada zaman ini bukan lagi sesuatu yang sembunyi dari kehidupan sosial seperti pada masa penjajahan Orde baru. Di mana, para penyair tidak memberikan kebebasan. Suara dibungkam, kebebasan menulis dibatasi, apalagi bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah. Sebetulnya karya sastra dijadikan tumpuan dasar pemahaman akan keberadaan sosial masyarakat. Sastra hadir untuk mengungkapkan sesuatu yang tak terungkapkan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Nampaknya pembuat sastra mulai merusak syariat Tuhan dengan mencoba membolak-balik frasa. Dimana sastra dijadikan ajang pertaruhan ideologi negeri ini. Jika tak paham dengan syariat, bukan berarti malah kencang menelanjangkan kebodohan. Sastra, kok SARA?

Seharusnya sastra tak boleh bawa-bawa suku, adat, ras dan agama. Sastra tak diperbolehkan keluar dari jalurnya. Sastra itu bahasa kalbu, bukan frasa amarah. Sastra itu bahasa jiwa dan bukan pertarungan agama. Bahasa sastra itu ramah, bukan kalimat provokasi.

Tidak dibenarkan sastra menyerang agama dan keyakinan. Janganlah bersastra jika tak paham kode etik bersastra. Tak perlulah mengetik naskah nan mengusik jika tak tau aturan berpuisi. Artinya, sastra patut dibungkam jika mata pedangnya telah diasah untuk menyudutkan keyakinan orang lain. Diam akan lebih elok, atau simpan saja energi untuk bersastra dengan kebodohan. Jangan bangga berpuisi, tapi nyara!
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget