Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Filosofi Ki Hadjar Dewantara tak Terbatas Pada Guru

Ki Hadjar Dewantara. (Foto: National Geographic Indonesia).

Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.
Penulis adalah Guru SD Supriyadi Semarang, Alumni Pascasarjana UNNES

Tepat hari ini, Rabu 2 Mei 2018 diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional atau sering dikenal Hardiknas. Hardiknas  adalah hari penghargaan, sosok pahlawan nasional yang selalu kita kagumi dan banggakan, yaitu Ki Hadjar Dewantara atau Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Dengan tekad dan usahanya dalam perjuangan untuk menegakkan tiang pendidikan di nusantara ini, hingga beliau dijuluki sebagai bapak pendidikan.

Pendidikan di negeri ini belum terlepas dari berbagai persoalan. Permasalahan dalam sebuah pendidikan tidak hanya menyangkut tentang pendidik dan peserta didik. Akan tetapi juga menyangkut tentang bagaimana kurikulum dan pelaksanaannya, bagaimana dengan guru dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar di kelas, dan juga bagaimana dengan materi-materi yang diajarkan pada peserta didiknya. Hal yang demikian tadi masih dalam ranah akademis sebuah pendidikan.

Jika dibandingkan dengan pendidikan yang dahulu, prestasi akademik saat ini memang nampaknya jauh lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnya, akan tetapi bagaimana dengan tingkah laku dan karakter peserta didiknya? Inilah yang menjadi  potret buram dunia pendidikan saat ini. Perilaku peserta didik ini nyatanya tidak hanya guru yang selalu mengawasinya, tetapi orang tua ikut andil dalam perbaikan perilaku seorang anak.

Untuk Guru dan Orang Tua
Bapak Ki Hajar Dewantara yang memperoleh sebutan sebagai bapak pendidikan ini memiliki semboyan yang menjadi salah satu kontribusi positif bagi pendidikan di Indonesia. Semboyan tersebut berbunyi “ing ngarso sung tulodho, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani”.

Penjabaran dari semboyan tersebut adalah, (1) Ing Ngarso Sung Tulodo: ketika menjadi pemimpin harus dapat memberikan suri tauladan untuk semua orang yang ada disekitarnya. (2) Ing Madyo Mbangun Karso: seseorang di tengah-tengah kesibukannya diharapkan dapat membangkitkan semangat. (3) Tut Wuri Handayani: di belakang, seseorang diharapkan dapat memberikan suatu dorongan moral dan semangat.

Tampaknya ilosofi itu bukan hanya berlaku pada guru saja, tetapi juga berlaku untuk orang tua. Sebab orang tua memliki andil besar dalam mendidik anaknya dengan ruang waktu yang cukup luas, dengan menciptakan berbagai macam metode seperti menciptakan lingkungan belajar, meluangkan waktu khusus untuk belajar, melakukan pendampingan belajar, dan lain-lain. Peran aktif orang tua harus didukung oleh pola komunikasi pendekatan yang baik dengan anak, hingga anak memiliki daya pandang berbeda antara suasana pendidikan di sekolah dengan di rumah, melalui kemasan-kemasan yang berbeda pula tentunya.

Dalam melakukan metode pembelajaran di rumah, orang tua harus meningkatkan kualitas diri mereka agar bisa memahami tugas yang diberikan di sekolah atau guru, bahkan ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu membantu anak mengenali dirinya mengenali kelebihan dan kelemahannya, membantu anak mengembangkan potensi sesuai bakat dan minatnya, membantu meletakan pondasi yang kokoh untuk keberhasilan hidup anak dan membantu anak merancang masa depannya.

Di sekolah, guru harus pandai dalam melakukan eksplorasi metode yang melibatkan  orang tua, dengan pemanfaatan media sosial atau komunikasi yang secara intens dan langsung, agar tugas dan perilaku anak didiknya bisa terkontrol, baik secara perkembangan nalar atau sikap yang berdampak pada nilai-nilai kehidupan.

Tanggung jawab sebuah pendidikan tidak terletak pada sebuah lembaga pendidikan saja, yang biasanya para orang tua salah mengartikan sebuah pendidikan ketika mereka menyekolahkan anak-anak mereka. Masih dijumpai orang tua siswa yang seperti ini, yang penting mereka kerja cari uang untuk biaya anak sekolah tetapi luput pengawasan dalam mendidiknya dalam keluarga. Sekedar memenuhi kebutuhan anak secara materiil tetapi tidak ikut serta mengawasi dan membimbing perilaku dan akhlaknya. Wajar saja jika anak sebagian besar tidak mampu mengubah perilakunya menjadi lebih baik.

Hari Pendidikan Nasional tidak seharusnya hanya diperingati dikalangan institusi pendidikan saja, melainkan seluruh masyarakat bangsa ini, dijadikan bahan evaluasi pendidikan untuk ke depannya. Dijadikan pelopor semangat mendidik, terdidik, berkependidikan di kemudian hari.

Memperingati saja tidak cukup, bila perlu ada perubahan pendidikan yang lebih maju dan lebih baik, dari akademis, non akademis, bahkan dengan moral seorang peserta didik. Jika moral peserta didik sejak dini baik, barang tentu akan mampu membawa perubahan yang lebih baik pula untuk bangsa ini, mengingat mereka juga bagian dari generasi pemuda bangsa Indonesia. Begitu pula dengan seorang pendidik, juga mampu membuat perubahan-perubahan yang inovatif, yang dapat menjadi teladan bagi siswa-siswanya maupun teman guru lainnya. Dan para orang orang tua juga setidaknya tidak melulu pasrah semuanya mengenai pendidikan anaknya pada pihak sekolah. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama demi masa depan bangsa yang berkarakter gemilang. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2018. (hg44).
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget