Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Golput dan ‘Heterotopia’ Demokrasi


Oleh Dwi Prabowo
Dosen Teknik Lingkungan Universitas Surya

Besarnya angka goput pada setiap penyelenggaraan pemilukada membuat pesismisme terhadap pelaksanaan demokrasi akan mendatangkan kemaslahatan. Rendahnya tingkat kesadaran politik masyarakat dianggap menjadi penyebab utama. Menarik jika mencermatu angka golput dari penyelenggaraan pemilu yang pernah dilaksanaka di Indonesia. 

Angka golput justu cenderung semakin besar dari waktu ke waktu. Apa yang terjadi dengan Negara demokrasi kita? Apakah demokrasi Indonesia tidak bermakna lagi?. Masyarakat sudah tidak percaya demokrasi dapat membawa perubahan Indonesia ke arah lebih baik?

Nada sumbang pesimisme mewarnai demokrasi dari jaman Plato sampai hari ini. Plato bahkan dengan terang-terangan mengatakan kebusukan demokrasi. Hingga saat ini pun masih banyak orang melontarkan nada yang serupa. 

Saat ini bagaimanapun juga demokrasi adalah konsep utopia yang tidak akan pernah dapat tercapai. Utopia demokrasi semakin nampak dalam bingkai negara demokrasi. Utopia demokrasi justru akan semakin memudar dalam masyarakat majemuk yang abstrak. Yang ada adalah heterotopia demokrasi.

Di berbagai pilkada di Indonesia, angka rata-rata golput mencapai Lebih 40%. Kegagalan Negara mengemban amanat warga negaranya dituding menjadi penyebab tingginya tingkat apatisme masyarakat. Banyaknya elit pemerintah yang terlibat dalam kasus korupsi juga dituding menjadi penyebab lainnya. Tetapi apakah benar demikian yang menyebabkan tingginya angka golput di Indonesia.

Kita harus melihat demokrasi dari sudut lain daripada hanya memperdebatkan jumlah partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum. Demokrasi bagaimanapun juga tidak bisa lepas dari sejarah perkembangan masyarakat dari awal peradaban hingga masyarakat kita saat ini. 
Rappler.com

Esensi demokrasi sudah ada sejak adanya kehidupan manusia tetapi istilah demokrasi baru muncul pertama kali pada masyarakat yunani kuno. Demokrasi dengan demikian adalah satu dari banyak istilah yang ikut mengalir dalam derasnya kehidupan masyarakat.

Masyarakat Abstrak
Demokrasi selalu mengandaikan adanya sebuah masyarakat tertutup dengan ruang wilayah yang kongkret. Karl R. Popper (Dalam Masyarakat terbuka dan musuh-musuhnya,1950) mengatakan masyarakat tertutup paling baik diumpamakan sebuah organisme. 

Manusia sebagai sebuah organisme dengan berbagai organ yang ada selalu menempati ruang tubuh yang tetap dan kongkret. Tangan tidak mungkin menggatikan posisi kepala dan sebaliknya kepala tidak mungkin menggantikan posisi kepala.

Sebuah masyarakat tertutup yang mirip kesatuan unit di mana anggotanya disatukan oleh ikatan biologis, kekeluargaan, dan kebersamaan hidup. Selain itu masyarakat tertutup adalah kelompok kongkret yang terdiri dari individu-individu kongkret dengan hubungan yang kongkret secara fisik. Di atas konsep organisme seperti ini utopia demokrasi disandarkan. Namun sayangnya masyarakat yang benar-benar kongkret seperti itu tidak pernah ada.

Pengandaian adanya masyarakat tertutup dengan wilayah kongkret seperti itulah yang oleh John Agnew (Human geography today, 1999:175) menyebabkan konsep negara demokrasi terperosok dalam “jebakan wilayah teritorial”. Minimal ada tiga anggapan modern yang menyebabkan konsep negara demokrasi masuk dalam jebakan wilayah territorial. 

Pertama, kedaulatan negara menghendaki adanya wilayah teritorial dengan batas yang kongkret dan jelas. kedua, ada sebuah pemisahan secara mendasar antara urusan dalam negera (domestic) dan urusan di luar negara (foreign). ketiga, wilayah negara bertindak seolah-oleh sebagai wadah geografis dari masyarakat. Ketiga anggapan tersebut menyebabkan munculnya utopia demokrasi yang hampir mustahil terwujud dalam masyarakat global saat ini.

Utopia demokrasi paling mungkin hanya dapat terjadi pada level keluarga atau kelompok masyarakat dengan ikatan kekeluargaan yang kuat. Terdapat sebuah keintiman antara anggota kelompok. Meminjam istilah Edwar W Soja (Dalam Postmetrpolis,2000:), Synekism adalah sebuah kondisi yang muncul dari kehidupan bersama dalam kelompok dengan suasana kekeluargaan. Kita bisa membayangkan kehidupan awal manusia di bumi adalah synekism tahap pertama ditandai dengan identitas yang masih tunggal. Synekism seperti ini masih kita jumpai pada level keluarga dengan ikatan darah sebagai identitas utamanya.

Dengan demikian synekism yang paling mungkin terwujudnya utopia demokrasi adalah pada level keluarga. Pada level yang lebih luas adalah kelompok sosial dengan ikatan kebersamaan yang kuat. Kelompok masyarakat yang berpindah-pindah adalah synekism yang mendekati utopia demokrasi setelah level keluarga. Tahap selanjutnya adalah kehidupan masyarakat dalam Negara kota pada masa Yunani kuno dimana plato sangat mengutuk demokrasi.

Perkembangan masyarakat dari awal hingga saat ini dengan demikian merupakan perkembangan dari masyarakat tertutup menuju masyarakat terbuka. Namun masyarakat tertutup itu masih ada. Berbagai kelompok (community) yang tidak bisa dibatasi wilayah territorial. Demokrasi Negara dengan demikian adalah usaha untuk menyeragamkan berbagai identitas komunitas ke dalam komunitas besar wilayah Negara. Sebuah utopia dalam dunia global di mana batas territorial Negara semakin kabur oleh teknologi informasi yang terus berkembang.

Globalisasi Demokrasi
Lalu bagaimana dengan kondisi saat ini?. Saat ini kita hidup dalam sebuah masyarakat terbuka di mana hubungan antar individu lebih dominan bersifat abstrak. Masyarakat yang telah kehilangan karakteristik kelompok kongkretnya. Dalam masyarakat abstrak, hubungan antar individu tidak didasarkan pada hubungan yang kongkret secara fisik, kekeluargaan, dan kebersamaan. Sebuah kondisi masyarakat yang semakin majemuk dalam lingkup global.

Sebuah masyarakat abstrak yang tidak bisa lagi disatukan oleh wilayah territorial apapun termasuk Negara. Yang ada bukan utopia demokrasi tetapi Heterotopia Demokrasi. Demokrasi tidak hanya Pemilu tetapi demokrasi bisa AC Milan, Harry Potter, The Beatles yang melampaui batas wilayah territorial apapun. 

Demokrasi macam ini yang lebih kongkret dalam arti tidak terikat wilayah territorial tertentu. Semua penggemar AC Milan, Harry Popper, David Beckham dapat membentuk sebuah perkumpulan dari seluruh penjuru dunia dalam identitas yang tunggal. Demokrasi menjadi semakin majemuk dan demokrasi Negara hanya menjadi salah satu dari heterotopia demokrasi.

Akhirnya dalam heterotopia demokrasi seperti sekarang ini kita tidak seharusnya terlalu menilai parameter demokrasi negara dengan tingkat partisipasi dalam pemilu. Heterotopia demokrasi menunjukkan bahwa identitas kelompok telah berbaur dalam masyarakat global yang tidak mengenal batas territorial apapun termasuk negara dan semua komponen didalamnya. Demokrasi Negara tetap ada tetapi harus bersaing dengan demokrasi-demokrasi lainnya macam AC Milan, Harry Potter, Piala Dunia dan banyak lagi lainnya.

Dalam kondisi yang demikian itu maka satu-satunya cara adalah menumbuhkan kembali nilai-nilai persamaan senasib sepenanggunangan sebagai sebuah bangsa. Bangsa yang didalamnya selalu ada keintiman layaknya sebuah ikatan dalam keluarga. Dengan demikina aka nada kesadaran terhadap nasib masa depan bangsa pada selembar kertas suara. Bukan sekedar dimaknai dengan angka-angka rupiah yang menentukan kemauan untuk dating ke TPS. (*)
Label:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget