Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Agustus 2018

Oleh: Dr. Andi Prastowo, M.Pd.I

Tuntutan zaman now semakin kompleks dan tinggi. Termasuk mutu pendidikan di jenjang pendidikan tinggi, salah satunya bagi prodi Pgmi. Sebenarnya intinya apa sih? Menurut Emma Sue-Prince dlm buku The Advantage, yaitu kemampuan beradaptasi. Untuk bisa beradaptasi, keterampilan apa yang dibutuhkan dan perlu diajarkan sejak di bangku kuliah.

1. Keterampilan berpikir kritis
Berpikir kritis terlahir dari keterampilan berpikir tingkat tinggi (hots). Hots tdk begitu saja bisa dimiliki. Hots harus dibiasakan dan dibelajarkan. Pada akhirnya, hots menjadi habit dlm berpikir. Nah, mungkin dulu kita sempat berpikir bahwa hots tidak cocok untuk jenjang SD/MI. Menurut Nugroho dan Eric Jensen, hots perlu diajarkan sejak dini. Utamanya pada jenjang SD/MI. Namun, perlu disederhanakan dari aspek penyampaiannya.

2. Keterampilan berpikir kreatif. Berpikir kreatif merupakan kemampuan berpikir inovatif. Keterampilan untuk menemukan sesuatu yang beda dan berdampak. Ini juga sama dengan keterampilan berpikir kritis. Keterampilan berpikir kreatif perlu dibiasakan dan dibelajarkan shg seseorang mampu menghasilkan produk pemikiran yg inovatif. Untuk belajar bagaimana berpikir kreatif bisa dibaca buku karya William Cord Murray berjudul Borrowing Brilliance atau buku Scott D. Anthony berjudul The Black Book of Innovation.

Terima kasih.
Semoga bermanfaat.

Harianguru.com - Dalam rangka peningkatan kualitas STAINU Temanggung dalam aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi,  Lembaga Penjamin Mutu (LPM) menggelar Workshop Peningkatan Mutu Dosen pada Kamis pagi (22/8/2018) yang dirangkai usai pembagian jadwal mata kuliah tahun akademik 2018-2019 sekaligus evaluasi dosen dan perkuliahan tahun akademik 2017-2018.

Dalam sambutannya, Dr. Baedhowi, M.Ag Pembantu Ketua I Bidang Akademik STAINU Temanggung menegaskan bahwa tugas dosen tidak sekadar mengajar seperti guru, namun juga ilmuwan. "Ilmuwan salah satu cirinya ya seperti di acara workshop ini di bidang penulisan dan penelitian. Apalagi sekarang zaman IT yang harus disesuaikan dengan perkembangan zaman termasuk penelitian," ujar doktor jebolan UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Pihaknya juga menegaskan, persiapan akreditasi AIPT STAINU sudah berjalan dan dosen harus menyesuaikan RPS yang dibuat dosen. "RPS penting, dan penelitian sebagai tugas ilmuwan juga penting," bebernya yang didampingi Sigit Tri Utomo Sekprodi PAI STAINU Temanggung.

Sigit juga menambahkan, bahwa dosen adalah peneliti yang mengajar. "Ini sudah dibahas di Kopertais X Jateng yang intinya dosen tidak hanya pendidik," ujar dia.

Usai pembagian jadwal dan evaluasi dosen, dilanjutkan Workshop Peningkatan Mutu Dosen yang mengkaji penyusunan RPS yang disampaikan Luluk Ifadah, M.S.I Kaprodi PAI, pembuatan akun Google Scholar, ID Sinta Ristek Dikti, OJS Jurnal, dan Webmail institusi yang diisi Hamidulloh Ibda Kaprodi PGMI dan M. Fadloli Al-hakim dosen PGMI STAINU Temanggung.

Dalam penyampaian materinya, Luluk Ifadah menegaskan RPS menjadi pijakan dosen mengajar dari tahap perencanaan sampai penilaian atau evaluasi. "Forum ini menjadi wahana untuk penyamaan persepsi dan konsorsium agar sama dalam perkuliahan," lanjut dia.

Usai itu, materi dilanjutkan dengan pembuatan akun webmail institusi, Google Scholar, ID Sinta Ristek Dikti, OJS Jurnal yang diisi Hamidulloh Ibda Kaprodi PGMI dan M. Fadloli Al-hakim dosen PGMI STAINU Temanggung.

Hamidulloh Ibda dalam pemaparannya, Google Scholar atau Google Cendekia menjadi hal wajib dikuasi dan dosen harus memiliki profil di Google Schoolar agar indek artikel ilmiah bisa disitasi dengan detail. "Artikel ilmiah berupa jurnal, prosiding, hasil penelitian akan semakin jelas ketika sudah punya profil. Akun Google Scholar ini menjadi syarat mendaftar akun Sinta Ristekdikti. Karena syaratnya hanya dua, yaitu ID Scopus dan Google Schoolar," beber dia.

M. Fadloli Al-hakim juga menambahkan, bahwa pembuatan akun Gooogle Scholar maupun sinta bergantung kelengkapan syarat, sinyal dan juga sistem. "Kalau SINTA kadang cepat kadang lama bisa sampai dua hari," beber dia.

Mereka berdua dalam forum itu menjadi fasilitator sekaligus menjadi tim pembuatan akun profil Google Scholar dan SINTA. Pelatihan akan ditindaklanjuti dengan pelatihan lagi dengan materi OJS dan Mendeley. (HG33/Dul).

Harianguru.com - Puluhan mahasiswa dan mahasiswi Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung, Jawa Tengah mengikuti orientasi dan sosialisasi kurikulum Prodi PGMI STAINU berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) pada Selasa pagi (21/8/2018) di lantai 2 gedung B STAINU Temanggung.

Orientasi dan sosialisasi ini diisi langsung Kaprodi PGMI STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda dan Sekprodi PGMI Farinka Nurrahmah Azizah yang diikuti puluhan mahasiswa-mahasiswi PGMI dari berbagai daerah termasuk dari Temanggung dan juga Magelang.

Dalam penjelasannya, Hamidulloh Ibda menegaskan bahwa Prodi PGMI STAINU Temanggung semakin hari mengalami peningkatan dari berbagai aspek. "Kita dorong para dosen melakukan tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kemarin saat evaluasi dosen, rata-rata dosennya mendapat nilai A dan B. Untuk ke depan, kami menarget di PGMI minimal satu tahun satu penelitian atau jurnal ilmiah bereputasi," beber dia.

Untuk menjembatani langkah itu, pihaknya dalam menyusun program kerja kemarin juga membuat klinik jurnal yang menjadi wahana menulis, meriset dan mempublikasikan hasil pemikiran atau penelitian.

Prodi PGMI sendiri, menurut dia, memiliki visi "unggul dalam bidang ilmu pendidikan dasar Islam dan teacherpreneurship berwawasan Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah pada tahun 2037".

"Mengapa kok tahun 2037? Karena ini visi jangka panjang dan tiap visi harusnya ada tahun pencapaiannya," tegas penulis buku Media Literasi Sekolah itu.

Penulis buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner itu mengucapkan apresiasi tinggi pada para mahasiswa baru karena tahun ini, jumlah pendaftar PGMI STAINU naik tinggi karena menjadi prodi nomor dua tervaforit setelah prodi PAI.

Sementara itu, Sekprodi PGMI Farinka Nurrrahmah Azizah menambahkan bahwa Prodi PGMI STAINU Temanggung hanya menyiapkan calon guru kelas jenjang MI/SD.

"Guru kelas itu harus paham semua mapel umum dan agama di jenjang MI atau SD. Ditambah psikologi, softskill teacherpreneurship bidang pendidikan dasar. Ada juga pramuka dan kesenian. Inilah yang membedakan dengan guru mapel," beber dia.

Usai orientasi dan sosialisasi, para mahasiswa dan mahasiswi baru itu berfoto bersama dan diajak berkomitmen untuk belajar giat dan memajukan Prodi PGMI STAINU Temanggung. (HG94/Dul).

Temanggung, Harianguru.com - Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Temanggung menggelar pelatihan untuk meningkatkan kualitas sekolah dan kepala sekolah dan juga perwakilan dari Prodi PAI, MPI dan PGMI STAINU Temanggung, Jawa Tengah.

"Teman-teman di Ma'arif sangat antusias akan pelatihan seperti ini. Harapan kita semoga kegiatan ini membawa manfaat untuk peningkatan kompetensi kepala sekolah di LP Ma'arif Temanggung," ujar H. Mifahul Hadi, S.Ag, M.Pd Ketua PC LP Ma'arif NU Temanggung dalam penutupan Pelatihan Kompetensi Guru Bidang Studi Manajemen Berbasis Sekolah bagi Kepala Sekolah / Madrasah Ma'arif NU yang dibuka pada Sabtu (11/8/2018) dan berakhir hari ini,  Ahad (12/8/2018) di RM Lukito Temanggung.

Menururnya, kepala madrasah ibarat lokomotif sebuah kereta. "Bapak Ibu sebagai pimpinan di sekolah harus menjadi contoh bagi anak buahnya," beber dia.

Sementara itu, Direktur IRCOS Nur Samsudin, MA mengatakan bahwa kegiatan itu semata-mata untuk menguatkan kapasitas di LP Ma'arif Temanggung.

Kelemahan kita, kata dia, adalah manajemen dan sumberdaya. "Kedua infrastruktur karena kurang dana. Solusinya ya dua, institusional building, baik sekolah maupun madrasah di naungan Ma'arif," beber dia.

"Kedua adalah kapasitas manusinya. Kita harus fokus ke sana salah satunya dengan kegiatan ini," ujar dia.

Saidah Sakwan, MA Wakil Ketua PP LP Ma'arif NU juga mengatakan bahwa inti dari penguatan LP Ma'arif saat ini ada pada penguatan kapasitas institusi dan manusianya. (hg44/hi).

Yogyakarta, Harianguru.com - Pada hari Sabtu, 11 Agustus 2018, Ketua STAINU Temanggung, Muh. Baehaqi kini resmi menyandang gelar doktor Hukum Islam dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Baehaqi menjalani sidang promosi doktor bidang hukum Islam di UII Yogyakarta. Sidang dimulai oleh ketua sidang oleh Dr. Hujair A.H Sanaky, M.S.I yang juga ketua prodi pascasarjana FAI UII Yogyakarta dilanjutkan pembacaan CV oleh sekretaris sidang Dr. Dadan Muttaqien, S.H.,M.Hum. dan promovendus  memaparkan disertasinya "Urgensi Fatwa Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah terhadap Pilihan Politik Kaum Nahdliyin di Jawa Tengah".

Seterusnya dilakukan sesi pertanyaan oleh penguji Dr. Tamyiz Muharram, M.A  dan Prof. Dr. Abdussalam tentang Arief mengenai politik dan madzab keagamaan NU. Turut hadir Penguji lain seperti Prof. Dr. Khoirudin Nasution, M.A guru besar UIN Sunan Kalijaga yang bertanya tentang emosional akademik dalam perjalan akademik juga tentang kontestasi politik di pemilu tentang pemenangan peserta, Dr. Dadan Muttaqin yang bertanya tentang termasuk dalam bidang fiqh disertasinya,  tatanan hukum dan kekuatan fatwa turut berpartisipasi dari PCNU Temanggung K.H Ya'kub Mubarok, FKPTKIS wilayah X Jawa Tengah, perwakilan dari civitas akademik STAINU Temanggung dan keluarga serta tamu undangan.

Perjalanan Ujian Promosi berlangsung menarik dan diselangi canda tawa namun tetap serius syarat makna hal ini dikarenakan Promovendus, Muh Baehaqi yang juga ketua STAINU Temanggung dapat menjawab pertanyaan dengan lancar. (hg55/Sigit).

Temanggung, Harianguru.com - Ketua PP Lembaga Ma'arif NU KH. Arifin Junaidi menjelaskan bahwa realisasi bantuan Rp 1 miliar dari donasi NU untuk korban bencana gempa di Lombok sudah terrealisasikan. Selain itu, LP Ma'arif NU juga menggagas sekolah trauma hilling yang tidak hanya berjalan seminggu dua minggu.

"Jadi kemarin saat konferensi pers, yang dikejar wartawan bukan Yai Said (Prof Dr KH Said Aqil Siraj), tapi malah saya yang dikejar karena saya yang bertanggungjawab dengan masalah ini," beber dia dalam kunjungan Pelatihan Kompetensi Kepala Sekolah / Madrasah Ma'arif NU di RM. Lukito Temanggung, Sabtu (11/8/2018).

Kami menyiapkan sekolah bencana atau trauma hilling. "Jadi seminggu setelah bencana, itu masih ramai, ada relawan, wartawan berseliweran, tapi setelahnya sepi. Makanya kami buat sekolah yang bisa mengobati trauma pada anak korban bencana," lanjut dia didampingi Saidah Sakwan Wakil Ketua LP Ma'arif NU.

Jadi kemarin, kata dia, wartawan mengira kita (LP Ma'arif) mendirikan sekolah. "Tapi ini lebih pada pengawalan berbasis pemberdayaan sosial atas gejala trauma bencana pada anak," kata dia dalam forum yang dihadiri lima puluh lebih kepala sekolah itu.

Selain itu, ia mengajak LP Ma'arif se Temanggung untuk melakukan pengumpulan dana untuk pengembangan model sekolah trauma hilling itu. (hg55/hi).

Temanggung, Harianguru.com - Madrasah Ma'arif NU wajib mengikuti perkembangan zaman. Salah satu melakukan inovasi dan penguatan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Hal itu terungkap dalam Pelatihan Kompetensi Guru Bidang Studi Manajemen Berbasis Sekolah bagi Kepala Sekolah / Madrasah Ma'arif NU yang dibuka pada Sabtu (11/8/2018) dan akan berakhir Ahad (12/8/2018).

Hadir KH. Arifin Junaidi dari Ketua Umum LP Ma'arif yang diwakili Saidah Sakwan Wakil Ketua LP Ma'arif, Direktur  Institute for Research and Community Studies (IRCOS) Drs. Nur Samsudin, MA, dan Kepala Dindikpora Temanggung, Drs. Darmadi, M.Pd, lima puluh kepala sekolah dan perwakilan dari Kaprodi PAI STAINU Temanggung Luluk Ifadah, Kaprodi PGMI STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda dan Khamim Saifuddin Ketua Lembaga Penjamin Mutu STAINU Temanggung.

Ketua Panitia H. Ahmad Jalil, M.Pd mengatakan kegiatan tersebut merupakan kerjasama antara Dindikpora Temanggung, Institute for Research and Community Studies (IRCOS), Kemendikbud dan Lembaga Ma'arif Nahdlatul Ulama.

"Ada lima puluh kepala sekolah madrasah, SMP dan SMK di bawah naungan LP Ma'arif NU Temanggung," beber dia.

Sebenarnya acara ini adalah kerjasama antara LP Ma'arif dengan IRCOS. "Kami berharap, kerjasama seperti diklat ini mohon tidak kali ini saja. Karena biasanya lima tahun sekali," ujar dia dalam sambutan acara tersebut.

Direktur  Institute for Research and Community Studies (IRCOS) Nur Samsudin menegaskan bahwa di Temanggung ada sekitar 162 lembaga pendidikan. "Kita baru bisa melaksanakan pelatihan lima puluhan, sisanya nanti menyusul," beber dia.

IRCOS menurut dia adalah lembaga independen yang bergerak di bidang riset dan pemberdayaan masyarakat. "LP Ma'arif jangan khawatir nanti kita akan melakukan kegiatan berlanjut. Kebetulan IRCOS disponsori dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kita untuk kesempatan ini fokus di wilayah Wonosobo, Temanggung, Kota Magelang dan Purworejo," lanjut dia.

Kepala Dindikpora Temanggung, Drs. Darmadi, M.Pd menegaskan, kegiatan itu merupakan pemacu dan pemicu rasa syukur karena dari 160 baru bisa diundang 50 kepala sekolah. "Saya mendukung kegiatan ini, siapapun pelakunya tidak ada dikotomi. Baik yang dikelola Kemendikbud maupun Kemenag," ujar dia.

Sekolah hakikatnya adalah milik publik, kata dia, maka kepala sekolah adalah pemimpin lembaga layanan publik. "Publik itu siapa, ya siswa. Di belakang siswa ada masyarakat. Apa indikator kesuksesan layanan itu, ya kepuasan publik. Bukan kepuasan pengelola atau panjenengan semua," lanjut dia.

Untuk bisa meningkatkan kualitas itu, kata dia, maka harus ada survei kepuasan publik. "Jika sudah disurvei maka akan ketemu hasilnya," papar dia.

Sementara itu, Saidah Sakwan Wakil Ketua LP Ma'arif NU menegaskan, pada tahun 2030 memiliki cita-cita membangun generasi emas. "Alasannya, kita sekarang sudah melewati era Revolusi Industri 4.0. Kita sudah beyond revolusi industri ketiga, pasca robot, era digitalisasi, era di mana ada robot tanpa mesin. Tantangan-tantangan ini harus kita jawab secepatnya," ujar dia.

LP Ma'arif NU, kata dia, ada  28.000 satuan pendidikan yang harus kita majukan. "Situasi global seperti ini, posisi generasi NU di mana? Ya kita sudah melakukan riset, afirmasi yang harus dibenahi. Ini adalah tantangan yang harus kita jawab, LP Ma'arif NU berupaya menjawab hal itu lewat berbagai program termasuk hari ini. Besuk kita juga ada program dengan Duta Besar Australia," beber dia.

Tugas berat LP Ma'arif NU, kata dia, juga pada radikalisme, ideologi transnasional. "Tantangan global sudah datang, tantangan ideologi juga datang. Maka pembelajaran Aswaja NU harus dikuatkan. Dari dulu saya tidak pernah mendengar alumni Ma'arif NU kok ngebom," ujar dia.

Menurut survei terbaru, kata dia, ada 89 juta warga NU. "Kita punya bonus demograsi. Dari total penduduk 126 juta, kita harus menjadi garda depan dalam kemajuan pendidikan," beber dia. (htm44/Dul).

Magelang, Harianguru.com - Dalam rangka menyambut hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke-73, SD Negeri Japan menggelar berbagai lomba pada Sabtu (11/08/2018) di halaman SD Negeri Japan, Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah.



Kegiatan tersebut di ikuti oleh seluruh siswa, karyawan dan Guru SD Negeri Japan.



Lomba terdiri balap karung, balap kelereng, makan kerupuk, memasukan pensil dalam botol serta kegiatan lainnya.



Peserta lomba sangat antusias dalam mengikuti lomba tersebut. Dalam kesempatan itu, Puji Sri Haryati Kepala SD Negeri Japan menyampaikan kegiatan sangat meriah dan anak-anak sangat antusias dengan kegiatan tersebut.



"Kegiatan ini kami lakukan untuk menyambut HUT RI Ke- 73, menumbuhkan semangat nasionalisme dan sportivitas," kata dia, Sabtu (11/8/2018)..



Ia juga menambahkan bahwa kegiatan itu menjadi kegiatan wajib tiap bulan Agustus. "Kegiatan ini sebagai partisipasi SD Negeri Japan dalam mengisi kemerdekaan dan menjaga kebersamaan keluarga SD Negeri Japan," lanjut dia. (hg93/AGW).


Temanggung, Harianguru.com - Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung menjalin kerjasama bidang akademik dengan MI Ma’arif Asmaul Husna Kranggan, Temanggung, Jawa Tengah. Hal itu terungkap dalam rangkaian Rapat Kerja, Sosialisasi Visi-Misi, dan Diskusi Prodi PGMI STAINU Temanggung di aula MI Ma’arif Asmaul Husna tersebut, Jumat siang (10/8/2018).

Penandatangan itu dilaksanakan usai agenda usai dan dilanjutkan pemberian papan bertuliskan “MI Ma’arif Asmaul Husna adalah Mitra Prodi PGMI STAINU Temanggung” yang diberikan dari prodi pada MI.

Kaprodi PGMI Hamidulloh Ibda dan Indah Wahyuningsih Kepala MI Maarif Asmaul Husna secara resmi menandatangai nota kesepahaman itu dalam bidang akademik.

“Selesai acara, kita langsung membina MI Ma’arif Asmaul Husna pada penyusunan kurikulum, Prota, Promes hingga RPP. Apalagi minggu depan, MI ini akan menggelar akreditasi. Jadi memang butuh bimbingan ekstra,” beber Hamidulloh Ibda Kaprodi PGMI STAINU Temanggung di sela-sela acara.

Sementara itu, Indah Wahyuningsih mengatakan senang sekali dengan kerjasama itu. “Kami masih berkembang. Makanya lebih tepatnya bukan bermitra, tapi kami ini adalah binaan Prodi PGMI STAINU. Semoga ini ke depan bisa berkembang di hal lain di luar kurikulum jenjang MI ini,” beber dia dalam kegiatan itu.

Hadir dalam diskusi itu mahasiswa-mahasiswi PGMI, guru, murid, kepala sekolah, komite dan perangkat desa setempat. Hadir pula mahasiswa-mahasiswi ISI Surakarta yang melakukan KKN di desa setempat.

Usai acara, perwakilan Prodi memberikan cindera mata, sekaligus pemberian papan untuk dipasang di MI yang bertuliskan “MI Ma’arif Asmaul Husna adalah Mitra Prodi PGMI STAINU Temanggung”. (hg40/dul).

Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka menguatkan kualitas akademik, Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung menggelar diskusi bertajuk "Masa Depan Lulusan PGMI: Menjadi PNS atau Honorer?" pada Jumat (10/8/2018) di aula MI Ma'arif Asmaul Husna Klowok Kidul, Kemloko, Kranggan, Temanggung.



Hadir dalam diskusi itu mahasiswa-mahasiswi PGMI, guru, murid, kepala sekolah, komite dan perangkat desa setempat. Hadir pula mahasiswa-mahasiswi ISI Surakarta yang melakukan KKN di desa setempat.



Dalam kesempatan itu, Andrian Gandi Wijanarko dosen PGMI STAINU Temanggung menegaskan jika disuruh memilih antara menjadi PNS dan honorer, pasti semua orang ingin menjadi PNS. "Itu kalau orientasinya materi. Tapi kalau untuk pendidikan dan pengabdian, menjadi PNS atau tidak ya tidak ada masalah karena tujuan menjadi guru bukan untuk jadi kaya," beber dia.



Pihaknya mengatakan, lulusan PGMI atau PGSD memiliki kesempatan sama dalam perekrutan CPNS. Masalahnya, menurut dia, tinggal kuota dan formasi yang ada, apalagi sejak 2014 sampai sekarang untuk formasi guru masih belum dibuka.



Ia juga mengatakan, berbagai langkah strategis sudah dilakukan pemerintah. Akan tetapi, dengan jumlah ribuan guru PNS pensiun sejak 2014 sampai sekarang, kebutuhan guru makin banyak namun belum juga ada perekrutan PNS.



"Semoga ke depan lulusan PGMI bisa menjadi PNS dengan kuota dan lowongan dengan formasi guru kelas MI atau SD," tukas dia.



Sementara itu, Farinka Nurrahmah Azizah Sekprodi PGMI STAINU Temanggung pemateri kedua menambahkan, menjadi PNS atau tidak bergantung kesempatan dan takdir. "Makanya di PGMI STAINU kita membuat profil lulusan teacherpreneurship," ujar dia.



Ia juga menjelaskan, ada beberapa profesi yang bisa dilakukan agar guru bisa mandiri. "Kalau orientasinya materi, guru bisa berbisnis atau melakukan usaha di bidang pendidikan. Seperti menjadi penulis lepas, blogger, motivator, jualan pulsa, dan lainnya. Tapi yang kita anjurkan adalah menjadi teacherpreneurship yang tidak jauh-jauh dari dunia pendidikan," lanjut dia.





Sementara itu, Hamidulloh Ibda Kaprodi PGMI STAINU Temanggung mengatakan, menjadi PNS atau honorer adalah pilihan. "Kita sebagai pengelola prodi memang berupaya yang terbaik agar lulusan kami punya market tinggi. Maka muatan kurikulum KKNI-SNPT sudah kami desain lengkap. Tinggal kuota dari pemerintah ada banyak atau tidak karena kita setara bahkan memiliki nilai plus daripada PGSD," lanjut dia.



Untuk itu, ia mengharap solusi adanya seleksi guru non ASN pada formasi PPPK. "Wiyata, honorer, swasta itu beda. Kalau honorer itu masuk K2 karena ngajar di sekolah negeri. Kalau swasta itu guru tetap yayasan/lembaga. Makanya untuk kesejahteraan sama-sama berpotensi untuk sertifikasi," lanjut dia. (hg70/Dul).

Temanggung, Harianguru.com - Dalam menyambut perkuliahan tahun akademik 2018-2019, Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung menggelar Rapat Kerja dan Sosialisasi Visi Misi di aula MI Ma'arif Asmaul Husna Kemloko, Kranggan, Temanggung, Jumat (10/8/2018).

Hadir jajaran dosen PGMI, mahasiswa, guru, siswa-siswi, komite MI Ma'arif Asmaul Husna, tokoh masyarakat dan perangkat desa setempat.

Dalam sambutannya, Kaprodi PGMI STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda mengatakan kurikulum yang diterapkan Prodi PGMI sejak 2017 sudah menerapkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT).

"PGMI dan PGSD itu sama secara kurikulum. Bahkan kita lebih mendalam karena ada nilai plus pada mata kuliah keagamaannya. Sesuai bidang kajian, PGMI memiliki nilai plus pada materi PAI MI seperti Fikih, Alquran Hadis, Akidah Akhlak, SKI, Bahasa Arab dan lainnya. Di PGMI juga ada materi umum seperti Bahasa Indoensia, Matematika, IPA, IPS, PKn dan lainnya. Di situlah salah satu keunggulan PGMI dari PGSD," beber pengurus Bidang Penjaminan Mutu Perkumpulan Dosen PGMI Korwil Jateng-DIY tersebut.

Dalam sejarahnya, kata dia, dulu Asosiasi Dosen PGMI kurun 2013-2014 sudah audiensi pada Dirjen Diktis. "Kemudian melakukan audiensi dengan Kemenpan RB untuk penyetaraan PGMI dan PGSD. Jawaban Kemenpan RB bisa, tapi syaratnya harus terakreditasi minimal B," papar dia.

Kemudian, pada perekrutan CPNS guru SD ada yang sudah menyetarakan. "Seingat saya, yang sudah menyetarakan adalah Kabupaten Banjarnegara, Kota Semarang dan Salatiga. Nah khusus Temanggung, kami ke depan berencana audiensi dengan BKD, Dinas Pendidikan dan Kemenag untuk penyetaraan," lanjut dia.

Di Semarang, katanya, saat perekrutan guru Non ASN atau PPPK kemarin sudah menyetarakan. "Jadi di penguman itu formasinya Calon Guru Kelas SD dengan syarat S1 PGSD/PGMI. Ini karena BKD nya sudah paham. Karena yang menentukan syarat dan perekrutan adalah BKD lokal kota atau kabupaten. Sedangkan Kemenpan RB hanya pada menentukan jumlah formasinya," tukas penulis buku Media Literasi Sekolah tersebut.

Visi kami, kata dia, adalah Unggul dalam Pendidikan Dasar Islam dan Teacherpreneurship berwawasan Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah pada tahun 2037.

Dalam Raker dan Sosialisasi Visi Misi itu, dirangkai dengan Diskusi Prodi dan penandatanganan MoU antara Prodi PGMI dengan MI Ma'arif Asmaul Husna dalam bidang akademik. (hg68/Dul).

Ilustrasi: Foto bencana. dok FT UGM

Oleh Wahyu Egi Widayat
Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam STAINU Temanggung

Definisi bencana menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Undang-undang tersebut juga menjelas berbagai macam bencana. Ada bencana alam, non alam, dan bencana sosial. Indonesia menjadi rawan bencana terhadap definis tersebut.
Apalagi akhir-akhir ini semua bencana tersebut terjadi. Indonesia ujung timur, tepatnya Papua telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), masyarakat mengidap gizi buruk karena beberbagai macam faktor penyebabnya.

Pendidikan Tanggap Bencana
Pendidikan tanggap bencana menjadi penting. Pemahaman ini harus dipahamkan terhadap anak sebagai persiapan masa depan untuk meminimalisir terjadinya bencana alam, non alam, dan sosial sebagai pendukung program pemerintahan Indonesia terbebas dari bencana.

Selain itu Indonesia sedang mendapat hujan bencana alam, baik itu Tsunami maupun gempa bumi.  Sutopo Purwo Nugroho sebagai Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas menerangkan, untuk potensi bencana tsunami, Indonesia menempati peringkat pertama dari 265 negara di duinia yang disurvei badan PBB. Resiko ancaman tsunami di Indonesia bahkan lebih tinggi dibandingkan di Jepang. Ada 5.402.239 orang berpotensi terkena dampaknya dalam hitungan UNISDR.

Pengenalan paling dasar terhadap anak adalah pehaman bagaimana menyelamatkan diri saat terjadi bencana. Selain untuk penyelematan diri sendiri juga dapat menyelamatkan nyawa orang lai yang berada disekitarnya saat bencana terjadi. Sehingga mampu meminimalisir terjadinya korban yang berjatuhan dan meminimalisir kerugian harta benda yang mampu diselamatkan.

Digambarkan saat terjadi gempa bumi, apabila di dalam ruang atau bangunan, untuk melindungi badan dan kepala dari reruntuhan bangunan dengan bersembunyi di bawah meja dan lain sebagainya sebagai perlindungan diri dan cari tempat yang paling aman.

Jika di luar ruangan segera mungkin untuk mencari tempat yang lapang untuk menghindari robohnya bangunan. Termasuk saat mengendarai mobil, apabila memungkinkan, untuk mncari tempat yang lapang sekiranya tidak mampu untuk keluar dari mobil mengantisipasi dari pergeseran lempeng. Jauhi pantai karena gempa bumi berpotensi terjadinya tsunami dan jauhi bukit yang berpotensi terjadinya tanah longsor.

Berdasarkan Perpres Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter, tanggap bencana merupakan wujud sikap masyarakat terhadap peduli lingkungan termasuk gebrakan dalam mewujudkan program pemerintah tentang revolusi mental. Maka dari itu pendidikan tanggap bencana sangat penting dalam meminimalisir terjadinya banyak kerugian dan korban.

Pra Bencana
Orang tua memberikan pendidikan terhadap anak tentang ciri-cirinya terjadi bencana. Pengenalan terhadap bencana melalui gawai maupun media lainnya. Sikap dan perilaku orang tua sangat penting menjadi contoh terhadap pengetahuan anak. Di manapun tempatnya harus memberikan pengetahuan tanggap bencana.

Karenanya, bencana dapat terjadi dimanapun tempat bukan hanya soal bencana alam namun juga soal bencana lainnya yang dapat megancam kemaslahatan hidup individunya. Mayoritas orang tua hanya memberi tahu anak dengan kalimat “jangan itu bahaya” sehingga dalam benak anak menjadi sebuah tanda tanya besar. Kalimat tersebut akan menjadikan enigma bagi anak, alhasil acuh tak acuh atau kepedulian yang kurang akan hal tersebut.

Saat Bencana Terjadi
Usia anak yang walau hanya menonton dengan terjun kelapangan langsung akan muncul sebuah paradigma bahwa ini merupakan kewajiban bersama untuk saling memperingatkan dan tolong menolong terhadap sesama. Termasuk salah satu karakter dalam PPK yaitu peduli sosial. Melihat kejadian seperti itu secara tidak langsung masuk ke dalam hati muncul rasa iba.

Hasilnya akan saling tolong menolong terhadap sesama. Pendangan kedepan akan tertanam sejak dini karakter peduli sosial dan peduli lingkungan. Saat terjadi bencana langsung tergerak untuk membantu orang disekitarnya. Konteksnya bencana alam maupun bencana yang disebabkan oleh faktor yang lain sesuai dengan undang-undang.

Selain itu, bukan hanya pada Tempat Kejadian Perkara (TKP), namun juga perlu dikenalkan pada unsur-unsur yang terlibat dan cara penangannya.

Pascabencana
Penekanan pada fase ini dengan berpartisipasi memperbaiki lingkungan atau pun dengan cara penggalangan dana. Cara tersebut akan memunculkan asumsi anak kenapa bisa terjadi dan apa penyebabnya. Selain itu muncul pertanyaan bagaimana cara mencegahnya agar tidak terjadi.

Bayangan anak mulai muncul kehati-hatian terhadap semua hal. Poin pentingnya mendoktrinisasi psikologis diri sendiri dan orang lain melalui pengalaman yang telah didapatkan sebagi contoh dan meyakinkan kepada lainnya.

Oleh karena itu penekanan sejak dini tentang tanggap bencana akan meminimalisir terjadinya bencana karena human error. Mengantisipasi banyaknya korban jiwa karena telah masuki knowladge tentang kebencanaan. Proses pemulihan kembali juga terbantu dengan ilmu secara empiris yang didapatkannya.

Ke depannya menjadikan prinsip pokok untuk selalu berhati-hati dalam bertindak. Tidak sembarangan melakukan hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain di masa mendatang.

Safety first menjadi acuan utama dalam kehidupan sehari-hari dan sosial masyarakat dalam ranah tanggap bencana dan mengurangi resiko bencana. Serta mengurangi korban dan dampak pasca kejadian sebagai nilai pendidikan karakter untuk merovolusi mental bangsa Indonesia sesuai Nawacita Presiden RI Joko Widodo.

Ilustrasi

Oleh Hamidulloh Ibda
Dosen dan Kaprodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung

Penguatan kemitraan Tri Sentra Pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat) sangat menentukan pendidikan anak di satuan pendidikannya. Dari tiga elemen tersebut, yang paling strategis adalah keluarga sebagai madrasah “pertama” dan “utama” bagi anak-anak dan remaja. Keluarga hebat, edukatif, dan peduli pendidikan anak sangat menentukan kesuksesan pendidikan anak, begitu pula sebaliknya.

Tidak semua keluarga memahami fungsi strategis di atas. Selama ini, sangat sedikit keluarga khususnya di kota yang mengetahui fungsi “sekolah berbasis keluarga”. Faktanya, orang tua di kota hanya memenuhi kebutuhan anak dari aspek sandang, pangan, dan papan saja. Sementara kebutuhan edukasi anak terabaikan, dan hanya dipasrahkan kepada sekolah dan lembaga les/bimbel.

Hakikatnya, keluarga menjadi penentu kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional di satuan pendidikannya. Ki Hajar Dewantara menjelaskan, keluarga menjadi lingkungan pertama dan utama dalam mendidik anak. Sayangnya, justru keluarga merupakan pelaku pendidikan yang paling kurang tersiapkan jika dibandingkan dengan segenap pelaku pendidikan lainnya (Sukiman, 2017: x).

Harris Iskandar (2017:viii) menjelaskan, pelibatan keluarga dalam proses pendidikan menjadi suatu keharusan, mengingat keluargalah pihak paling berkepentingan terhadap keberhasilan pendidikan anak. Akan tetapi, tidak semua keluarga memahami hal tersebut. Maka perlu penguatan fungsi sekolah dalam keluarga, sebab, peran keluarga dan masyarakat dalam pendidikan anak di satuan pendidikan tidak hanya formalitas, namun sangat substansial.

Delapan Fungsi Keluarga
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (2018) merumuskan tentang pentingnya penerapan 8 fungsi keluarga (agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, dan  lingkungan) dan pembentukan karakter sejak dini. Semua itu dalam rangka mewujudkan pelembagaan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera.

Secara teknis, bisa dilakukan dengan konsep pendekatan keluarga berkumpul, berinteraksi, berdaya, serta peduli dan berbagi. Pertama, keluarga berkumpul berupa meluangkan waktu tanpa disibukkan dengan gawai (gadget), televisi, atau alat elektronik lainnya. Kedua, keluarga berinteraksi, caranya meluangkan waktu berkumpul dan saling bercengkrama, serta saling tukar pengalaman dengan komunikasi yang lebih berkualitas.

Ketiga, keluarga berdaya, artinya keluarga mampu memanfaatkan potensi yang dimilikinya untuk membuat diri dan keluarganya tidak bergantung pada pihak lain. Keempat, keluarga peduli dan berbagi, yaitu keluarga yang mampu dan lebih beruntung mempunyai kepedulian dan keinginan untuk berbagi dan menolong orang lain.

Salah satu fungsi yang urgen dikuatkan di era milenial ini adalah fungsi pendidikan. Ayah, ibu harus memahami bahwa mereka adalah guru bagi anak-anaknya, dan rumah yang mereka huni adalah sekolah dan taman belajar yang harusnya menyenangkan.

Fungsi Sekolah dalam Keluarga
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki visi “Terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dengan berlandaskan gotong royong”. Dari visi itu, intinya adalah membentuk insan dan ekosistem pendidikan dan kebudayaan, bisa melalui sekolah formal atau pendidikan dalam keluarga.

Peran orang tua di rumah sangat kompleks. Dalam buku Menjadi Orang Tua Hebat Untuk Keluarga Dengan Anak Usia Sekolah Dasar (Kemdikbud, 2017: 33) menjelaskan setiap keluarga memiliki cara mendidik anak di rumah dalam menumbuhkan budi pekerti dan budaya prestasinya. Orang tua perlu terus belajar untuk menyesuaikan perkembangan anak dan zaman dengan menerapkan empat hal. Pertama, pembiasaan di keluarga. Kedua, menciptakan lingkungan rumah yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Ketiga, mencegah dan menanggulangi kekerasan pada anak. Keempat, persiapan masa akil balig.

Permendikbud Nomor 30 Tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan menjadi dasar untuk mewujudkan visi Kemdikbud di atas. Maka dari itu, perlu cetak biru untuk menguatkan fungsi sekolah dalam keluarga dengan beberapa pendekatan.

Pertama, keluarga harus dapat membangun ekosistem pendidikan dalam rangka menumbuhkembangkan karakter dan budaya berprestasi anak dan pelajar, baik untuk jenjang SD/MI sampai SMA/SMK/MA. Pendidikan keluarga menjadi syarat mutlak keberhasilan menciptakan generasi muda unggul, bekarakter religius, nasionalis, integritas, mandiri, dan gotong royong.

Kedua, penguatan peran orang tua sebagai guru dan keluarga sebagi sekolah, tidak sekadar sebagai rumah fisik. Fery Farhati (2017: 15) berpendapat, rumah merupakan sekolah dan orang tua pendidikan utama dalam kehidupan seorang. Menjadi orang tua adalah profesi sepanjang masa. Pola pengasuhan orang tua harus dipelajari secara terus menerus agar sensitif dan responsif terhadap perubahan dan perkembangan zaman.

Ketiga, orang tua harus memahami parenting dalam keluarga. Sebab, keberhasilan orang tua dalam mendidik akan sangat bergantung pada kecakapan dan pola asuh yang dimilikinya. Keempat, orang tua harus menjamin kesuksesan pendidikan anak di satuan pendidikannya, dengan melakukan peran ganda sebagai guru di rumah. Misalnya, anak-anak harus dikawal pekerjaan rumah dari sekolah, materi apa yang diajarkan, dan lainnya. Orang tua harus menguatkan pelajaran di sekolah secara kontinu tanpa harus menggunakan jasa les di bimbel.

Kelima, memahami usai anak sesuai satuan pendidikannya. Perkembangan usia anak menentukan tindakan yang dilakukan orang tua pada mereka. Mendidik anak harus disesuaikan dengan usia mereka. Orang tua harus belajar dalam mendampingi anak-anak untuk menjadi insan berkarakter, berbudi dan berprestasi.

Kemitraan Keluarga dan Sekolah
Kemitraan keluarga dan sekolah menjadi harga mati. Keluarga tidak bisa berjalan sendiri, begitu pula sekolah. Maka perlu penguatan kemitraan agar anak-anak mendapatkan haknya dan mereka sukses pendidikannya di satuan pendidikan masing-masing.

Nanik Suwaryani, dkk (2017: 8-10) menjelaskan, keterlibatan orang tua dalam menyukseskan pendidikan anak bisa dilakukan dengan beberapa pendekatan. Pertama, agar dapat memahami tahap perkembangan dan kesiapan belajar anak.

Kedua, memberikan masukan untuk kemajuan sekolah. Ketiga, melakukan pengulangan pembiasaan positif di rumah. Keempat, dapat mengikuti perkembangan dan memberikan dukungan untuk kemajuan belajar anak. Kelima, agar dapat membantuk memajukan sekolah.

Prinsip kemitraan keluarga dengan sekolah terbagi atas empat poin utama. Pertama, kesejajaran dan saling menghargai. Kedua, semangat gotong-royong dan kebersamaan. Ketiga, saling asah, asih, dan asuh. Keempat, saling melengkapi dan memperkuat.

Keterlibatan orang tua di sekolah bisa dilakukan melalui pertemuan dengan guru, mengikuti kelas orang tua, menjadi nara sumber kelas inspirasi, terlibat dalam paguyuban orang tua, hadir dalam kegiatan sosial di sekolah, membantu pengelola perpustakaan, hadir di Hari Ayah, hadir pada pentas akhir tahun ajaran, dan hadir pada pembagian raport.

Keluarga dan sekolah jika sudah solid bermitra, saling melengkapi dan menguatkan, maka untuk mewujudkan visi Kemdikbud bukanlah hal susah. Semua itu, muaranya adalah pada kesuksesan pendidikan anak. Sebab, anak adalah harta dan aset bangsa yang harus disukseskan pendidikannya dengan menguatkan peran sekolah dalam keluarga serta kemitraan keluarga dan sekolah.

Temanggung, Harianguru.com - Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung, Jawa Tengah menjalin kerjasama bidang akademik dengan MI Maarif Asmaul Husna Kranggan, Temanggung.

Hal itu terungkap dalam kunjungan Prodi PGMI STAINU Temanggung yang diwakili Kaprodi PGMI Hamidulloh Ibda, dosen PGMI Andrian Gandi Wijanarko dan Effi Wahyuningsih yang diterima langsung Kepala MI Maarif Asmaul Husna Indah Wahyuningsih, Selasa siang (7/8/2018).

"Kita menjalin kerjasama bidang akademik. Rencananya, besuk Jumat tanggal 10 Agustus 2018, kita meneken MoU dan sekaligus menggelar agenda Rapat Kerja Prodi dan Diskusi Prodi di MI ini," ujar Hamidulloh Ibda Kaprodi PGMI STAINU Temanggung di sela-sela kunjungan itu.

Pihaknya menuturkan, pada tahun ini akan menjalin kerjasama dengan beberapa Prodi lain yang serumpun dan juga lembaga sekolah. "Kemarin kita sudah kerjasama dengan PGMI STAINU Purworejo. Kurikulum kita juga dirujuk di sana, tadi pagi sudah saya kirimkan ke pengelola prodi sana. Untuk tahun ini, kita insyaallah akan menjalin kerjasama dengan MI atau SD lagi, dan PGMI atau PGSD di wilayah Jateng dan DIY," lanjut penulis buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner tersebut.

Sementara itu, Indah Wahyuningsih Kepala MI Maarif Asmaul Husna menambahkan, pihaknya sangat senang dengan kerjasama tersebut dalam rangka menguatkan kualitas internal MI. "Di sini masih KTSP, maka ke depan kami minta bimbingan dari Prodi PGMI STAINU untuk mengawal kurikulum, sampai pada prota, promes dan teknik pembelajaran di sini," kata dia. (*)

Makassar, Harianguru.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) menyosialisasikan penggunaan media sosial secara bijak kepada para siswa di Kota Makassar Sulawesi Selatan, Kamis (2/8/2018). Acara yang digelar di Hotel The Rinra Makassar ini dihadiri 96 peserta yang terdiri dari siswa SMP, SMA, SMK, serta sejumlah guru pendamping.

Narasumber yang hadir dalam kesempatan ini adalah Kepala BKLM Kemendikbud Ari Santoso, penulis dan praktisi media sosial Iwan Setyawan, serta youtuber Bayu Eko Moektito. Hadir juga dalam acara ini Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Mukhtar Thahir.

Kepala BKLM Ari Santoso mengajak para siswa manggunakan media sosial untuk hal-hal yang produktif. Ari mengatakan media sosial dapat digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat dan produktif, namun di sisi lain penyalahgunaan media sosial sangat mungkin terjadi di kalangan siswa. "Mari isi media sosial kita dengan konten-konten yang bermanfaat, dan jangan gampang menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian," kata Ari Santoso.

Ari Santoso juga mengingatkan agar para siswa tidak mengumbar data pribadinya, seperti tanggal lahir, alamat, hubungan keluarga, dan lain-lain di media sosial. Data-data pribadi tersebut rawan digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk suatu tindakan yang merugikan pemilik data. "Misalnya tanggal lahir, itu data yang sensitif bagi yang memiliki kartu kredit, begitu juga data hubungan keluarga bisa disalahgunakan untuk penipuan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," kata dosen di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, penulis dan praktisi media sosial Iwan Setyawan memotivasi para siswa agar memanfaatkan masa muda untuk hal-hal yang bermanfaat untuk masa depan. Menurutnya, usia SMP dan SMA merupakan langkah awal yang sangat menentukan seperti apa masa depan seseorang. "Isi masa muda ini dengan berbagai aktivitas positif, mulailah membaca misalnya karya sastra, cobalah menulis, asah kreativitas kalian sejak dini," kata lulusan Institut Pertanian Bogor tersebut.

Iwan memotivasi para siswa yang hadir dengan menceritakan perjuangan hidupnya dari anak miskin menjadi sosok yang mandiri. Menurutnya, pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib seseorang, memutus rantai kemiskinan. "Saya termasuk yang diselamatkan oleh pendidikan. Namun semua itu melalui perjuangan yang berat dan belajar secara gila-gilaan," kata Iwan.

Narasumber merupakan pemain dan sutradara film serta youtuber Bayu Eko Moektito menceritakan kisah suksesnya memanfaatkan media sosial. Menurut Bayu, saat ini konten video merupakan konten yang diminati masyarakat dan merupakan peluang yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang kreatif. "Siapa saja bisa membuat konten video dan disiarkan melalui media sosial. Intinya adalah konsisten dan memiliki ciri khas. Jangan tunda untuk memulai!" ajak pria yang dikenal dengan panggilan Bayu Skak tersebut. (NHG33/ur Widiyanto).

Jakarta, Harianguru.com - Dalam rangka memeriahkan Asian Games 2018, berlangsung pada 18 Agustus - 2 September 2018 mendatang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar jalan sehat pada Sabtu pagi (04/08/2018). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, bersama Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani, melepas keberangkatan peserta jalan sehat dari halaman kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta.

“Dengan membaca bismillah, mari kita mulai jalan sehat, jalan gembira, untuk menyukseskan Asian Games 2018,” disampaikan Puan Maharani di depan ribuan peserta jalan sehat.

Kegiatan jalan sehat ini diikuti sekitar 10.000 peserta yang terdiri atas 6.000 pegawai Kemendikbud dan 4.000 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jakarta. “Di sini kita libatkan semua karyawan dan siswa SMP, SMA dan SMK di Jakarta, agar mereka bisa ikut bahagia, ikut gembira dengan adanya Asian Games 2018,” ujar Mendikbud di sela-sela perjalanannya.

Mendikbud juga mengimbau kepada siswa Sekolah Keterbakatan Olahraga (SKO) dan siswa yang memiliki prestasi di bidang olahraga dapat menyaksikan pertandingan Asian Games 2018 yang akan diselenggarakan di Jakarta dan Palembang. “Untuk siswa yang ada di SKO dan siswa berprestasi, kami akan fasilitasi tiket menonton pertandingan sesuai dengan cabang olahraganya masing-masing agar kalian termotivasi," ujar Mendikbud.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyiapkan 50.000 tiket bagi para pelajar untuk menonton cabang olahraga yang dipertandingkan di Asian Games 2018 yang diprediksi akan sepi penonton.

Dengan jarak tempuh sejauh 5,9 km ini, para peserta jalan sehat mengelilingi komplek Gelanggang Olahraga Bung Karno, Senayan, Jakarta, dengan rute Jalan Sudirman-Jalan Gatot Subroto-Jalan Pemuda-Jalan Asia Afrika dan berakhir di Jalan Pintu Senayan I.

Setelah digelar di Papua dan Jakarta, kemendikbud juga akan menggelar kegiatan serupa di kota-kota lainnya seperti Banda Aceh dan Palembang, yang akan diselenggarakan pada minggu mendatang.

Menteri Muhadjir mengajak sahabat dikbud yang datang pagi ini untuk menyukseskan penyelenggaraan Asian Games 2018. Selain dukungan kepada para atlet yang akan bertanding, Muhadjir mengingatkan agar para siswa, guru, dan pegawai Kemendikbud agar turut menjaga ketertiban. "Kita jaga kebersihan. Jangan buang sampah di sembarang tempat," pesannya. (hg33/hms).

Temanggung, Harianguru.com - Pelajar Nahdlatul Ulama khususnya kader IPNU-IPPNU diharuskan melek, literat dan mampu mendeteksi mana media siber yang berfaham Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah dan mana yang tidak. Sebab, menjelang Pileg dan Pilpres 2019, banyak media siber bermunculan dan berkamuflase mengatasnamakan NU untuk memprovokasi dan memecah belah umat.

 "Tidak bisa dimungkiri, saat ini sudah lazim mencari informasi di media siber. Namun saya kadang emosi karena yang rekan-rekan rujuk itu media siber yang menyebarkan provokasi, menyulut api bahkan radikalisme," beber Hamidulloh Ibda dosen STAINU Temanggung dalam seminar literasi media siber, Ahad siang (5/8/2018).

Kegiatan bertajuk "Peran Pelajar NU Zaman Now dalam Membangun Media Siber Aswaja Annahdliyah" ini digelar IPNU-IPPNU Desa Tawangsari, Kecamatan Tembarak, Temanggung yang menjadi rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2018 ini.

Menurut Ibda, ada beberapa ciri media siber Aswaja Annahdliyah. Pertama, kontennya selalu menjunjung tinggi persatuan, perdamaian, dan membuat pembaca adem bukan menyulut api. Kedua, tidak ada berita, opini atau rubrik lain yang menghina apalagi bermisi mengganti Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

"Ketiga, konten media tersebut selalu mengomparasikan spirit Islam dan nasionalisme, kebangsaan, tradisi. Jika media itu membenturkan Islam dan Indonesia, mengharamkan hormat bendera merah putih, mengatakan taghut dan kufur pada Indonesia, maka jelas itu bukan ciri khas media NU," kata mantan Sekretaris IPNU dalam acara yang berlokasi di MI Maarif NU Nurul Ummah Tawangsari, Tembarak, Temanggung itu.

Keempat, media NU tidak pernah menggelorakan gerakan takfiri (mengafirkan), tabdi' (membidahkan), tasyri' (mensyirikkan), baik dari aspek fikrah (pemikiran), aqidah (keyakinan), amaliyah (tradisi) maupun harakah (gerakan).

Kelima, media siber atau cetak berfaham Aswaja Annahdliyah selalu memiliki prinsip moderat, toleran, tengah-tengah, tidak liberal dan sekuler, tidak pula kaku linier. "Jika ada media yang konsisten dengan tradisi NU, ia sudah bagian dari media siber NU. Tapi kita harus teliti, karena sekarang banyak media abal-abal berkamuflase seolah-olah NU," beber penulis buku 'Sing Penting NUlis Terus' tersebut.

Keenam, banyak sekarang yang mengaku Aswaja, meskipun namanya ada NU atau Aswaja, jangan mudah percaya. "Makanya deteksi dari segi konten sangat mudah untuk membedakan, mana media NU dengan yang palsu," tegas Pengurus Bidang Literasi Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jateng itu.

Kaprodi PGMI STAINU Temanggung ini mencontohkan, banyak media online didata oleh kader-kader NU. "Tapi minimal, baca dan rujuk NU Online, Bangkitmedia.com, DutaIslam.com, Tabayuna.com, Suaranahdliyin.com, Nujateng.com dan lainnya. Jangan sampai setelah acara ini rekan-rekan masih mengonsumsi berita Islam yang sumbernya tidak jelas," tegas dia.

Ia juga menyebut puluhan data media siber NU dan yang berkamuflase. Di sisi lain, ia membeberkan tidak hanya media siber. "Namun medsos seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path dan layanan pesan seperti WhatsApp harus Anda deteksi juga. Jangan asal konsumsi nanti keseleg," tukasnya dalam acara yang dihadiri puluhan kader IPNU-IPPNU itu.

Ketua IPNU Tawangsari  dalam acara seminar literasi media siber itu menambahkan, pihaknya mendukung gerakan literasi berbasis Aswaja Annahdliyah untuk menguatkan ideologi NU pelajar zaman now.

"Sangat bagus untuk kalangan pelajar khususnya pelajar NU dalam menghadapi peran sosmed dalam era milenial untuk menanggulangani berita-berita sosmed yang merusak ideologi NU," beber dia. (hg88/nrl)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget