Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Desember 2018

Pati, Harianguru.com – Mbah Anggur yang memiliki nama asli Sumowijoyo, merupakan salah satu waliyullah yang lokasi kuburannya di sebelah barat Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. Beliau merupakan salah satu murid dari Ki Brojoseti Singo Barong pendiri Desa Dukuhseti, Pati, Jawa Tengah.

Pada Kamis malam (27/12/2018), Jamaah Pasrah merayakan Haul Mbah Anggur dengan menggelar beberapa ritual di kompleks kuburannya. “Malam ini (Kamis), Jamaah Pasrah dan warga di hutan di makam Mbah Anggur yang sudah terlaksana  mulai tahun 1999 sampai 2018 menggelar haul Mbah Anggur,” kata Ngalimun Ketua II Jamaah Pasrah dalam pesan selulernya kepada Harianguru.com.

Pihaknya menegaskan, bahwa Mbah Anggur dapat dijadikan sebagai salah satu gurunya petani di wilayah Kabupaten Pati, khsusunya di Dukuhseti.
Dijelaskannya, bahwa peringatan haul itu bersamaan dengan peringatan Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. “Malam ini kita barengkan dengan Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani,” ujar perangkat Desa Dukuhseti, Pati, tersebut kepada wartawan.

Mantan Ketua GP Ansor Dukuhseti ini menjelaskan, bahwa Mbah Anggur merupakan salah satu murid dari Mbah Brojoseti Singo Barong waliyullah dan pendiri Desa Dukuhseti. Selain dikenal Sumowijoyo, Mbah Anggur juga dikenal dengan nama Syekh Hamim. “Kalau Haul Mbah Brojoseti Singo Barong bersamaan dengan Maulid Nabi. Sedangkan Mbah Anggur itu murid dari Mbah Brojoseti yang dulu meninggal karena konon disembelih Ki Gede Tualang seorang siluman sakti yang memusuhi Mbah Brojoseti,” lanjut dia.

Di dalam kuburan, juga masih tersimpan kayu yang digunakan untuk menyembelih Mbah Anggur tersebut. “Ini adalah kayu yang digunakan Ki Gede Tualang yang dulu membunuh Mbah Anggur, yang sampai saat ini masih tersimpan dan menjadi saksi bisu kehidupan,” papar guru SMK Jamaah Pasrah tersebut.

Dinamakan Anggur, karena dulu menurut Ngalimun, pekerjaan Mbah Anggur adalah bertani, dan menjadi murid Mbah Brojoseti sekaligus beternak. Dalam Bahasa Jawa, nganggur, atau nggur-ngguran itu karena dimaknai sebagai tidak punya pekerjaan, meskipun beliau bekerja sebagai petani dan peternak.

Pihaknya berharap, peringatan haul itu menjadikan keberkahan dan wahana mendekatkan diri pada Allah melalui kekasihnya. (Hg44)..

Ponorogo, Harianguru.com -  NBCC 2018 yang diselenggarakan himpunan mahasiswa jurusan manajemen Universitas Darussalam Gontor Ponorogo sukses digelar.Kegiatan tersebut berhasil menarik minat peserta dari berbagai daerah di indonesia. Kegiatan ini  sendiri diikuti oleh 86 Tim Kompetisi dari 42 Perguruan Tinggi se-Indonesia.

Indra selaku Koordinator HMMI Wilayah IV menjelaskan "NBCC dan Dialog Publik merupakan program salah satu progam kerja himpunan mahasiswa Manajemen Indonesia wilayah IV" jelasnya

Indra juga  mengatakan " Hari ini adalah sesi presentasi 15 finalis yang telah lolos dari babak penyisihan sebelumnya. Studi kasus yang digunakan adalah The Floating School yang merupakan instansi yang bergerak di bidang sosial berupa sekolah apung di pulau terpencil untuk mendidik anak anak dan pemuda"katanya

Dia juga menambahkan "Pemuda saat ini memiliki tantangan yang lebih besar dan berbeda dibanding zaman orde baru dimana dulu mahasiswa mau tidak mau harus turun ke jalan untuk memperjuangkan hak rakyat, sedang kali ini persoalan perjuangan rakyat lebih kompleks lagi mulai dari perkembangan era digital, ketimpangan sosial dan pendidikan yang belum merata ke daerah daerah terpencil, dan ini kegiatan ini mengajak para mahasiswa untuk menjawab tantangan itu melalui the floating school" katanya kepada Harianguru.com pada Sabtu (22/12/2018).

Ditemui ditempat berbeda , Luqman ketua hmjm Unida Gontor mengatakan hal yang senada " bahwasanya kegiatan kompetisi kali ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang unjuk siapa yang terbaik, namun menjadi wadah sharing antar delegasi agar nantinya memberikan experience yang lebih bermanfaat kepada seluruh delegasi yang hadir"katanya. (Hg44).

Banjarnegara, Harianguru.com - PGRI Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang Ziarah ke Makam Almarhum Dr Sulistyo M.Pd, yang juga pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Besar PGRI (18/12/2018).

Alamarhum Dr Sulistyo, M.Pd merupakan sosok pemimpin, pejuang, teladan bagi kita semua. bukan hanya guru PNS, tetapi juga guru yang masih berstatus honorer. Sampai sekarang, jasa beliau masih terkenang, sehingga makam beliau selalu ramai dikujungi peziarah untuk mendoakan beliau.

Pada kesempatan itu, PGRI Kecamatan Tegalrejo, PGRI Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang serta PGRI Kecamatan Kaliwungu, Kudus melakukan ziarah ke makam almarhum Dr. Sulistyo M.Pd. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh jajaran pajabat PGRI, UPTD Pendidikan, Kepala Sekolah, Guru, dan Pegawai.

Menurut Saryadi, S.Pd, Ketua PGRI Tegalrejo, “kegiatan ini merupakan tindak lanjut program yang telah direncanakan PGRI Kecamatan Tegalrejo bekerjasama dengan UPTD Pendidikan Tegalrejo”.
Pihaknya menambahkan “kegiatan ini juga untuk mengenang, mendoakan dan meneladani perjuangan bapak Sulistyo yang telah memperjuangkan nasib guru di seluruh Indonesia”. Ujar beliau.

Kristinah, S,Pd Kepala UPTD Pendidikan Tegalrejo mengungkapkan “Almarhum merupakan teladan, menginspirasi seluruh guru di Indonesia, beliau juga sangat gigih untuk memperjuangkan hak-hak guru”.

Pihaknya berharap seluruh kepada kepala sekolah dan guru mampu melanjutkan cita-cita dan perjuangan beliau, sehingga mampu meningkatkan kinerja dan prosefesionalisme kerja di instansi masing-masing.” (agw)

Harianguru.com - Berkeinginan  keras memiliki Pelabuhan, Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE MH melakukan studi banding ke Pelabuhan Karimunjawa Jepara beserta jajaran Dinas Perikanan Kabupaten Brebes.


"Mudah mudahan, Brebes dalam waktu dekat memiliki pelabuhan perikanan," tutur Idza disela kunjungannya ke Pelabuhan Karimunjawa, Jumat (21/12/2018).


Menurutnya, potensi perikanan Brebes sangat besar. Untuk itu perlu tataniaga yang hebat pula dengan tersedianya pelabuhan perikanan.


"Brebes memiliki potensi Perikanan yang tinggi, untuk itu perlu dibangun sarana pendukungngya seperti tersedianya pelabuhan dan sumber daya lainnya," tandas Idza


Kunjungan Bupati diterima Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai (KPPP) Karimunjawa Ahmad Saefus Jahri


Saefus mengaku senang mendapatkan kunjungan silaturahmi Bupati Brebes beserta jajaran Dinas Perikanan. Dia menjelaskan, pelabuhan ini disinggahi  kapal nelayan dan kapal niaga lainnya tiap hari.


Saefus menjelaskan, Karimunjawa menjadi lumbung ikan Jateng. Juga terdapat terumbu karang yang  baik, sehingga menjadi daerah tujuan wisata.


Pelabuhannya juga melayani

Perbengkelan perahu dan pabrik es.


Dia juga menyadari masih belum tercukupinya SDM. Meski demikian, Pendapatan Asli Daerah dari Pelabuhan Perikanan Karimunjawa sebesar Rp 363 jt tercapai.


Selain itu, lanjut Sarfus, dermaga pelabuhan juga untuk penyeberangan wisatawan ke Karimunjawa yang sudah mendunia.


Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Brebes Gatot Rudiantoro menjelaskan, potensi perikanan di Kabupaten Brebes tahun 2018 mencapai produksi tangkap ikan mencapai 2,3 jt kilogram pertahun dari sepanjang pantai 73 km di Brebes.


Para nelayan tersebut masih tersebar di pangkalan pendaratan ikan seperti Pengaradan, Krakahan, Kluwut, Pulolampes, Kaliwlingi.


"Bila tersedia pelabuhan diharapkan terfokus dan hasil tangkapan makin besar karena adanya kapal besar dan kapal kapal dari daerah tetangga bisa masuk," ujar Gatot.


Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kab Brebes Maskorim  menambahkan, dalam kunjungan kerja ke Karimunjawa pihaknya juga mengajak para Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Putra Laut Prapag Kidul Losari, KUB Mangrovesari Kaliwlingi Brebes, KUB Harapan Makmur Limbangan Losari dan KUB Sumber Laut Pulogading  Bulakamba.


Menurutnya, lebih dari 13,5 ribu nelayan di Brebes,  berharap ada gairah tersendiri bila tersedia pelabuhan di Brebes.


"Usai studi banding, kami berharap para Ketua KUB tersebut bisa menularkan ilmu yang didapat kepada anggota, sehingga ada kuantitas dan kualitas hasil tangkapan ikan mereka," pungkasnya. (wsd)

Temanggung, Harianguru.com - Bertempat di aula lantai II, Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung menggelar Lomba Baca Puisi Tingkat MI/SD Se Kabupaten Temanggung dan Magelang, Sabtu (23/12/2018).

Kegiatan tersebut, diikuti 52 MI/SD Se Kabupaten Temanggung dan Magelang yang membawakan tiga puisi utama, yaitu Alhadid karya Fatin Hamama, Karawang Bekasi karya Chairil Anwar dan puisi lainnya.

Dalam laporannya, Ketua Panitia Lomba Idammatussilmi menegaskan kegiatan tersebut dilaksanakan dalam memperingati Hari Pahlawan Nasional tahun 2018. "Peserta ada 52 yang berasal dari Temanggung dan Magelang," beber dia saat menyampaikan laporan.

Sedangkan dalam sambutannya, Kaprodi PGMI STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan wahana mencari dan meningkatkan bakat siswa-siswi MI dan SD di wilayah Temanggung dan Magelang. "Selamat menjalankan ibadah baca puisi bagi adik-adik semua. Menang dan kalah itu biasa, tapi adik-adik berani membaca puisi di depan kami semua itu sudah ibadah dan prestasi luar biasa," beber dia.

Menurut penulis buku Senandung Keluarga Sastra tersebut, ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua. "Pertama ibadah mahzah seperti dalam rukun Islam. Kedua ibadah muamalah yang berhubungan dengan manusia termasuk membaca puisi," papar peraih Juara I Lomba Esai Nasional Filsafat Ilmu UGM 2018 tersebut.

Dalam forum yang dihadiri puluhan guru pendamping, dosen tersebut, panitia mendapuk Kepala Lembaga Bahasa STAINU Temanggung Effi Wahyuningsih sebagai Juri I, dan Juri II Kaprodi PGMI STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda, dan Juri III dosen dan cerpenis, Farinka Nurrahmah Azizah.

Sementara itu, Ketua Tim Juri Effi Wahyuningsih mengatakan dalam lomba tersebut, Juara I didapat Muhammad Reihan Azzidab siswa SDN Japan Magelang dengan total nilai 287, Juara II Yumna Rihadatul Aisa siswi MI Ma'arif 1 Gesing dengan total nilai 278, Juara III Vita Wulandari siswi Windusari Magelang dengan total nilai 277, Harapan I Muhammad Abdurrahman A siswa MI Ma'arif Gesing dengab total nilai 274, Harapan II Latifah Alya Agyunda siswi SD Muhammad Temanggung dengan total nilai 273, Harapan III Nandita Widya Anjani SDN Candisari Magelang dengan total nilai 272.

Semua peserta diberi penghargaan berupa sertifikat dan para juara mendapatkan piala, sertifikat, uang pembinaan dan surat keputusan kejuaraan. (Red-HG3/Andrian Gandi).


Temanggung, Harianguru.com – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini, bekerjasama dengan Penerbit Formaci Semarang serta Harian Jateng menggelar Seminar Regional bertajuk “Strategi Menjadi Guru Berprestasi Melalui Literasi” pada Sabtu siang (15/12/2018). 

Seminar ini mendatangkan Dian Marta Wijayanti guru SDN Sampangan 01 Kota Semarang yang menjuarai beberapa even, tingkat regional maupun nasional dan Heri Susanto Pemimpin Umum Harianjateng.com yang dihadiri puluhan mahasiswa.

Dalam sambutannya, Hamidulloh Ibda Kaprodi PGMI STAINU Temanggung mengatakan literasi abad 21 tidak cukup jika sekadar literasi lama. 

“Sekarang era Revolusi Industri 4.0, mendorong kita harus melakukan literasi baru, yaitu literasi data, teknologi, dan literasi manusia sebagai pelengkap dari literasi lama, yaitu membaca, menulis, dan berhitung,” ujar penulis buku Sing Penting NUlis Terus tersebut.

Di sisi lain, sebagai calon guru, mahasiswa Jurusan Tarbiyah harus dapat melakukan tiga pilar literasi. “Jadi apa yang kita lakukan dalam perkuliahan, harus menyasar pada tiga pilar literasi, yaitu membaca, menulis, dan mengarsipkan,” tegas pengurus bidang Diklat dan Litbang LP Ma’arif NU Jateng tersebut.

Sementara itu, Dr. H. Muh Baehaqi MM, Ketua STAINU Temanggung menegaskan dalam sambutannya, pemakaian alat-alat teknologi harus dimanfaatkan mahasiswa untuk kegiatan positif.

“Semua punya android, maka kita harus memanfaatkannya untuk kegiatan positif yang mendukung literasi. Jangan hanya gunakan HP untuk WA dan Facebook saja. Banyak manfaat positif untuk menyimpan e-book, kitab-kita kuning, dan ini sudah saya praktikkan dan terapkan dalam pembelajaran,” beber dia.

Menurut doktor jebolan UII Yogyakarta itu, kegiatan tersebut sangat bagus meskipun hanya dipersiapkan tiga hari. “Ini bagus, karena tak perlu banyak rencana tapi langsung terlaksana. Ini langkah cerdas,” katanya.

Usai kegiatan, acara dilanjutkan dengan MoU antara Prodi PGMI dan PIAUD, dengan Penerbit Formaci dan Harian Jateng yang disaksikan semua peserta. (hg55).


Temanggung, Harianguru.com – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini, melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Harian Jateng dan Penerbit Formaci, Sabtu (15/12/2018).

Kegiatan itu, diinisiasi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini, yang bekerjasama dengan Penerbit Formaci Semarang serta Harian Jateng yang dirangkai dengan Seminar Regional bertajuk “Strategi Menjadi Guru Berprestasi Melalui Literasi” pada Sabtu siang (15/12/2018).

Seminar ini mendatangkan Dian Marta Wijayanti guru SDN Sampangan 01 Kota Semarang yang menjuarai beberapa even, tingkat regional maupun nasional dan Heri Susanto Pemimpin Umum Harianjateng.com yang dihadiri puluhan mahasiswa.

Hamidulloh Ibda Kaprodi PGMI STAINU Temanggung mengatakan, tujuan MoU itu untuk memperkuat program dan tugas prodi yang menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi di wilayah pendidikan dan pengajar, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat.

“Kami sudah menyiapkan beberapa naskah untuk siap diterbitkan, baik itu dari kalangan mahasiswa atau dosen. Maka MoU ini sangat membantu kami agar buku-buku dapat ISBN dan KDT dari Perpusnas yang dibantu penerbit,” ujar pengurus bidang Diklat dan Litbang LP Ma’arif NU Jateng tersebut. (hg44)


Temanggung, Harianguru.com – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini, bekerjasama dengan Penerbit Formaci Semarang serta Harian Jateng menggelar Seminar Regional bertajuk “Strategi Menjadi Guru Berprestasi Melalui Literasi” pada Sabtu siang (15/12/2018). 

Seminar ini mendatangkan guru SDN Sampangan 01 Kota Semarang Dian Marta Wijayanti yang menjuarai beberapa even, tingkat regional maupun nasional dan Pemimpin Umum Harianjateng.com Heri Susanto yang dihadiri puluhan mahasiswa.

Dalam sambutannya, Kaprodi PGMI STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda mengatakan literasi abad 21 tidak cukup jika sekadar literasi lama. “Sekarang era Revolusi Industri 4.0, mendorong kita harus melakukan literasi baru, yaitu literasi data, teknologi, dan literasi manusia sebagai pelengkap dari literasi lama, yaitu membaca, menulis, dan berhitung,” ujar pengurus bidang Diklat dan Litbang LP Ma’arif NU Jateng tersebut.

Di sisi lain, sebagai calon guru, mahasiswa Jurusan Tarbiyah harus dapat melakukan tiga pilar literasi. “Jadi apa yang kita lakukan dalam perkuliahan, harus menyasar pada tiga pilar literasi, yaitu membaca, menulis, dan mengarsipkan,” tegas penulis buku Media Literasi Sekolah tersebut.

Sementara itu, Ketua STAINU Temanggung Dr. H. Muh Baehaqi MM menegaskan dalam sambutannya, pemakaian alat-alat teknologi harus dimanfaatkan mahasiswa untuk kegiatan positif. “Semua punya android, maka kita harus memanfaatkannya untuk kegiatan positif yang mendukung literasi. Jangan hanya gunakan HP untuk WA dan Facebook saja. Banyak manfaat positif untuk menyimpan e-book, kitab-kita kuning, dan ini sudah saya praktikkan dan terapkan dalam pembelajaran,” beber dia.

Dalam pemaparannya, Dian Marta Wijayanti menegaskan calon guru atau guru wajib berprestasi, apalagi guru-guru NU. "Syarat guru berprestasi, memang kebanyakan diukur dari masa kerja. Tapi bagi saya, guru berprestasi itu pertama adalah yang dapat melakukan inovasi. Yaitu, dengan melakukan pengembangan bahan ajar, materi, media, dan asesmen. Kedua, pengembangan diri dan karya ilmiah. Baik itu seminar, workshop, penelitian, artikel, jurnal, simposium. Ketiga, kompetisi. Yaitu, join lomba terkait pendidikan, kepenulisan, maupun sosial budaya,” ujar Lulusan Terbaik PGSD UNNES tahun 2013 tersebut.

Menurut mantan Asessor Early Grade Reading Assessment (EGRA) USAID Prioritas Jawa Tengah itu, tidak ada guru hebat, kecuali yang berpengalaman. “Tentu, pengalaman tidak hanya di dalam kelas, di sekolah, melainkan juga dari luar,” beber peraih Juara II LKTI Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng tahun 2008 tersebut.

Dijelaskan Dian, bahwa guru mengajar di kelas itu biasa, guru mengajar di luar kelas itu baru luar biasa. "Maka kalau kita menulis, berkompetisi, melakukan presentasi karya ilmiah di luar, itu dampaknya dapat digunakan atau berdampak pada orang banyak,” papar Juara II LKTI Bank Jateng tahun 2018 tersebut.

Menurut periah Juara III Inovasi Pembelajaran (INOBEL) PGRI 2018 ini, berkarya itu wajib, berprestasi itu hadiah. “Kalau kita lomba, tak perlu diwartakan. Nanti kalau kita menang, akan mengharumkan nama kampus kita, khususnya STAINU Temanggung,” lanjut mantan Mahasiswa Berprestasi di UNNES tersebut.

Nominator Pemenang Lomba Jurnalistik dan Blog Dirjen PAUD dan Dikmas Kemdikbud 2018 ini juga membeberkan sejumlah trik untuk menjadi guru berprestasi. “Pertama triknya adalah manajemen waktu. Anda harus sadar, aku mahasiswa, aku calon guru, maka pasti banyak waktu meskipun harus diatur sesuai kesibukan masing-masing,” tambah Guru Berprestasi Kesharlindung DIKDAS Kemdikbud tahun 2017 dan 2018 tersebut.

Selanjutnya, kata Dian, mahasiswa harus haus kompetisi. "Searching berbagai informasi tidak hanya materi perkuliahan tapi juga lomba-lomba,” beber perempuan yang pernah meraih Juara 3 LKTI Pekan Ilmiah Biologi Terpadu Jateng-DIY tersebut.

Selain itu, mahasiswa juga harus rajin iktu lomba esai dan artikel yang diselenggarakan kampus. “Tak hanya itu, aktiflah menulis di media massa. Itu bagian dari wujud entrepreneurhsip, edupreneurhsip, dan teacherpreneurship sesuai visi Prodi PGMI STAINU Temanggung,” lanjut penulis buku Guru Zaman Now; Guruku Sahabatku tersebut.

Mahasiswa, menurut dia, harus yakin pada diri sendiri. “Ada ribuan lomba karya tulis yang dapat diikuti mahasiswa. Ikutlah UKM atau Lembaga Pers mahasiswa. Jadilah mahasiswa sibuk untuk kegiatan literasi, cari pengalaman sebanyaknya saat kuliah,” beber peraih Juara III LKTI BKKBN Jateng tersebut.

Apa keuntungan mahasiswa yang rajin menulis?, kata dia, Pertama, Insyaallah mudah dalam menyelesaikan skripsi. Kedua, terbiasa berpikir kritis dan peka. Ketiga, siap menjadi guru hebat.

”Tantangan guru di masa depan semakin besar. Maka kita harus melek IT, multitalent, dan dirindukan semua orang terutama siswa. Kita jangan minder, karena banyak guru berprestasi yang berasal dari daerah tertinggal. Maka solusinya, ya mulailah sekarang juga. Menulis tidak harus menunggu jadi doktor atau profesor,” beber guru yang pernah menjadi Finalis Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah tersebut.

Sementara itu, Heri Susanto menjelaskan, salah satu syarat guru atau mahasiswa berprestasi adalah aktif dan mengawal dunia pers atau jurnalistik. “Melek literasi itu sangat wajib, tujuannya agar mahasiswa dan guru tidak kapusan ketika membaca, atau membagikan berita,” beber mantan pengurus IPNU Ranting Desa Ngerjo Kendal tersebut.

Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (PEKAT IB) Kabupaten Kendal ini juga menandaskan, bahwa berliterasi sangat wajib bagi mahasiswa. “Menulis di media massa sekarang sangat mudah, akan berbeda antara mahasiswa yang rajin menulis dengan yang tidak,” tukas anggota PWI tersebut.


Pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jawa Tengah ini juga membeberkan, menjadi guru literasi sudah dilegitimasi oleh Alquran dan dicontohkan Nabi Muhammad. “Bagi saya, guru yang sudah melek literasi, mampu membagikan informasi dengan baik, dan tidak terkena berita bohong, hoaks, fitnah, itu sudah berprestasi,” ujar dia.

Mahasiswa NU, kata Heri, guru NU, dalam cek ricek berita atau bahasa kita tabayun, dengan membagikan informasi kepada peserta didik yang benar itu sudah prestasi luar biasa di zaman milenial sekarang. (hg59/Andrian Gandi).

Temanggung, Harianguru.com - Karang Taruna Desa Kebonsari Wonoboyo pada hari Selasa (11/12/2018) pada pukul 09.00-14.30 WIB di Rumah makan Girli Parakan Temanggung mengadakan pelatihan dan pembinaan keorganisasian, dalam acara yang dihadiri oleh Kepala Desa Kebonsari dan seluruh jajaran perangkat desa sebagai panitia, salah satu pegawai kecamatan sebagai tamu kehormatan dan pengurus serta anggota karang taruna Kebonsari sebagai peserta.



Dalam acara yang di hadiri oleh Bapak Rubiyanto sebagai narasumber memberi materi tentang pemanfaatan potensi desa dan pembangunan SDM, yang harus digali dan di asah terus menerus, sehingga potensi desa bisa dimaksimalkan, hal ini butuh konsitensi terutama kaum milinial.

Selsin itu karang taruna memiliki tanggung jawab utk proses pembangunan nasional melalui pembangunan desa agar negara ini bersinar karena lilin lilin kecil di setiap desa seluruh Indonesia.



Sementara Pengurus Karang Taruna Kabupaten Temanggung yang hadir yaitu Ketua Umum Saudara Yoki, Gusdur sebagai Sekertaris dan Pengurus yang lain saudara Romadhon, dalam acara tersebut memberi materi tentang hal-hal yang terkait dengan Karang Taruna seperti adminitrasi, kesekretariatan serta pertanggungjawaban pada wilayah tugas pokok dan fungsi diantaranya  a. rekreasi-olahraga-kesenian dan edukasi, b. Pendidikan dan pelatihan, c. Usaha kesejahteraan sosial, d. Usaha ekonomi produktif.



Bapak Widodo selaku kepala desa Kebonsari dalam sambutannya  mengatakan Pemuda perlu adanya gairah untuk membangkitkan semangatnya guna untuk pembangunan Desa Kebonsari, Kabupaten Temanggung bahkan sampai Nasional.



Acara yang berlangsung lancar, disampaikan oleh Sekertaris KT Temanggung kepada kepada Pengurus Kabupaten, dan ditanggapi langsung  Muhamad Jamal, SH. MH selaku Majelis Pertimbangan Karang Taruna Temanggung, dan menanggapinya, saya mengapresiasi kegiatan tersebut, hal ini sangat perlu dilakukan mengingat perjalanan organisasi butuh orang-orang yang mempunyai SDM mumpuni, agar segala persoalan kepemudaan bisa diatasi dengan cepat, tidak hanya itu.

"Saya berharap pelatihan tidak hanya masalah organisasi, namun pelatihan tentang hukum, pikiran saya adalah bagaimana Karang Taruna di Desa  se Kabupaten Temanggung mampu menguasai materi hukum dalam hal teori dan praktek, agar masalah yang timbul di desa cukup karang taruna yang menyelesaikan, saya sebagai Advokat dan Konsultan Hukum siap melatih kepada karang taruna agar mahir dalam mengatasi masalah," kata dia.

Acara dilakukan sangat meriah, sembari mempererat tali persaudaraan, tidak ada jarak antara pengurus Kabupaten dan Desa. (Red-HG65).

Sosialisasi Buku Digital Kepada Siswa

Oleh: Nurchaili

Saat ini kehidupan sebagian orang sudah tak terpisahkan dari smartphone (telepon pintar). Kesehariannya selalu melekat dengan alat komunikasi di era digital ini. Smartphone menjadi kebutuhan pokok selain sandang dan pangan. Bahkan ada yang rela mengurangi jatah makan demi memiliki smartphone atau sekadar membeli pulsa agar tetap eksis di dunia maya (online).

Kondisi ini semakin menjauhkan budaya literasi (membaca dan menulis) dari masyarakat Indonesia yang selama ini memang sudah dikenal lebih suka menonton atau mendengar dibandingkan membaca apalagi menulis. Padahal kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kemampuan literasi masyarakatnya. Dalam Al-Qur’an, ayat pertama yang diturunkan Allah Swt. juga memerintahkan kita untuk membaca (Iqra’), baik membaca ayat-ayat yang tersurat dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi maupun ayat-ayat yang tersirat di alam semesta.

Literasi merupakan sarana untuk mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapat, baik di bangku sekolah, rumah maupun lingkungan sekitar.  Dalam Deklarasi Praha tahun 2003 disebutkan juga literasi mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Di abad informasi saat ini kemampuan literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir dalam menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, auditori, dan digital (Sutrianto, dkk., 2016). Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.

Ismail, T. (2003) mengungkapkan budaya membaca di kalangan pelajar Indonesia masih sangat rendah. Kondisi ini terlihat dari perbandingan banyaknya buku yang wajib dibaca pelajar Indonesia dengan negara lainnya. Pada masa penjajahan Belanda misalnya, siswa AMS-B (setingkat SMA) diwajibkan membaca 15 judul karya sastra per tahun, sedangkan siswa AMS-A membaca 25 karya sastra setahun. Siswa AMS wajib membuat 1 karangan per minggu, 18 karangan per semester, atau 36 karangan per tahun, sedangkan siswa SMA sekarang tidak diwajibkan membaca buku.

Di Amerika Serikat, siswa SMA diwajibkan membaca 32 judul karya sastra dalam setahun, siswa Jepang 15 judul, Brunei Darussalam 7 judul, Singapura dan Malaysia 6 judul, serta Thailand 5 judul (www.wartakota.tribunnews.com).

Di tahun 2011, United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) melansir hasil surveinya yang menunjukkan indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001persen, atau hanya ada seorang dari 1000 penduduk yang mau membaca buku secara serius. Rendahnya minat baca juga bisa terdeteksi dari kurangnya jumlah buku baru yang terbit di Indonesia. Data tahun 2014, buku yang terbit hanya lebih dari 30 ribu judul. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang kurang lebih 250 juta jiwa,  satu orang belum bisa membaca satu buku. (www.cnnindonesia.com).

Berdasarkan standar Unesco, idealnya satu orang membaca tujuh judul buku per tahun. Berarti minat baca masyarakat Indonesia masih rendah dan jauh dari standar. Di era digital saat ini, menggiring generasi muda untuk berliterasi secara ideal bukanlah perkerjaan yang mudah. Betapa tidak, budaya dengar, tonton, hunting, posting, chatting, gaming, dan sebagainya dianggap lebih penting dan lebih populer daripada budaya membaca dan menulis (Azwardi, 2016). Orang tua pun jarang ada yang membeli buku untuk anaknya, tapi sebaliknya menjejali mereka dengan smartphone atau gadget.

Buku Digital
Buku Digital (Digital Book) atau dikenal juga dengan Electronic Book (E-book) adalah sebuah bentuk buku yang dapat dibuka secara elektronis melalui komputer, laptop atau smartphone. Buku digital adalah publikasi yang dapat dirancang semenarik mungkin karena didalamnya dapat memuat video, animasi, dan audio (suara) disamping teks dan gambar yang hanya dimiliki buku konvensional. Buku Digital dapat disimpan di PC (Personal Computer), laptop, smartphone, tablet, atau piranti elektronik yang secara khusus disediakan untuk menyimpan dan membaca buku  digital. Selain itu buku digital juga bersifat ramah lingkungan dan mendukung gerakan paperless.

Format ePub kini menjadi salah satu format buku digital yang paling populer.  Fitur yang dimilikinya antara lain: format terbuka dan gratis, terbaca di berbagai perangkat, tersedianya software pembuat ePub, mendukung penggunaan video dan audio, Reflowable (word wrap), tersedia pengaturan ukuran teks dan kemudahan lainnya. Salah satu sumber buku digital dapat diperoleh melalui SEAMOLEC Appstore dengan mengakses laman web http://seamarket.seamolec.org.

Buku digital memiliki berbagai fungsi, antara lain: (a) sebagai salah satu alternatif media belajar; (b) berbeda dengan buku cetak, buku digital dapat memuat konten multimedia di dalamnya sehingga dapat menyajikan bahan ajar yang lebih menarik dan membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan; (c) sebagai media berbagi informasi; (d) dibandingkan dengan buku cetak, buku digital dapat disebarluaskan secara lebih mudah, baik melalui media seperti website, kelas maya, email dan media digital lainnya; dan (e) seseorang dapat dengan mudah menjadi pengarang serta penerbit dari buku yang dibuatnya sendiri.

Budayakan Literasi
Jika ingin memenangkan kompetisi global, seluruh masyarakat Indonesia harus melek literasi. Pendidikan sebagai investasi masa depan generasi bangsa harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Lembaga pendidikan harus memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi dalam menyiapkan media pembelajaran. Sekarang penggunaan internet dan smartphone sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk pelajar dan mahasiswa.

Kehadiran internet dan smartphone adalah keniscayaan. Keduanya begitu fenomenal dan menjadi kebutuhan hidup manusia di era digital. Dalam dunia pendidikan, penggunaan internet sebagai media pembelajaran bisa menjadi salah satu solusi dalam mengatasi rendahnya kemampuan literasi peserta didik. Apalagi saat ini sebagian besar sumber informasi konvensional (perpustakaan) belum mampu  memenuhi dan memberi kepuasan bagi peserta didik dalam mendapatkan informasi dan sumber pengetahuan. Buku-buku konvensional juga belum tersedia dalam jumlah yang memadai dan terkadang membosankan bagi peserta didik. Karenanya perpustakaan harus berinovasi dengan menyediakan buku-buku digital yang dapat diakses penggunanya setiap saat tanpa terhalang oleh ruang dan waktu.

Di samping itu guru yang bisa diposisikan sebagai kelompok Digital Immigrant keberadaannya sangat penting bagi peserta didik. Guru harus mampu membimbing dan mengarahkan peserta didik agar belajar memanfaatkan internet dan smartphone ke arah yang lebih positif guna menunjang pembelajaran. Era digital hendaknya memotivasi dunia pendidikan untuk berinovasi tanpa henti. Sekolah atau madrasah tidak perlu anti terhadap peserta didik yang gandrung dengan internet dan smartphone-nya.

Sebaliknya, semua elemen pendidikan harus mampu memanfaatkan potensi internet dan smartphone agar peserta didik dapat memanfaatkannya untuk pembelajaran sekaigus meningkatkan kemampuan literasinya. Budaya literasi harus ditumbuhkan, karena penguasaan literasi dapat membuka cakrawala, memperluas wawasan, dan memahami dunia dalam lingkup yang lebih luas.

Penutup
Buku digital bisa menjadi salah satu solusi dalam menumbuhkan budaya literasi. Dengan berbagai keunggulan dan daya tarik yang dimilikinya diharapkan mampu menumbuhkan minat baca masyarakat. Dengan tumbuhnya budaya literasi, masyarakat Indonesia akan bergerak menuju masyarakat belajar (learning society) sehingga terwujudlah bangsa yang cerdas (educated nation) sesuai dengan amanat UUD 1945.  

Penulis adalah Guru MAN 4 Aceh Besar/mentor Training Online Buku Digital Bacth 2 SEAMEO-SEAMOLEC. Nurchaili dilahirkan di Banda Aceh, Provinsi Aceh, pada tanggal 17 Mei 1971 dari pasangan (Alm) Muhammad Amin, SH dan (Almh) Tjut Meurah Asiah. Menyelesaikan Sekolah Dasar di SD Negeri No. 11 Banda Aceh pada tahun 1984 dan SMP pada tahun 1987 di SMP Negeri 1 Banda Aceh. Selanjutnya pada tahun yang sama putri ke tiga dari tujuh bersaudara ini melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Banda Aceh. Namun ia menamatkannya di SMA Negeri 5 Banda Aceh (sekarang SMA Negeri 4 “DKI Jakarta”) setelah sebelumnya juga sempat menjalani studi di SMA Negeri 6 Pekanbaru, Provinsi Riau.

Pada tahun 1990 selepas dari menyelesaikan pendidikan tingkat SMA, diterima di Jurusan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh dan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada tahun 1995 dengan yudisium Cum Laude (IPK: 3,88/4,00). Pada tahun 2004, setelah mengikuti seleksi yang ketat dan jujur (dalam program Bagimu Aceh, Budi Luhur Peduli), ia terpilih sebagai salah seorang penerima beasiswa dari Yayasan Pendidikan Budi Luhur Jakarta untuk melanjutkan studi di Program Studi Magister Ilmu Komputer, Universitas Budi Luhur Jakarta. Ia menyelesaikan studi magisternya pada tahun 2006 dengan yudisium Cum Laude (IPK: 3,89/4,00) dan menjadi Wisudawan Terbaik Program Studi Magister Ilmu Komputer periode Oktober 2006.

Berbagai prestasi pernah diraihnya, antara lain: Siswa Teladan SLTP tingkat Nasional, Mahasiswa Berprestasi Unsyiah, Juara LKTI tingkat Nasional, Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden RI, Terbaik Pertama “PKS Award 2008” Anugerah Untuk Guru, Juara I Pemilihan Guru Madrasah Teladan Tingkat Nasional Tahun 2008, Tahun 2010 memperoleh penghargaan dari Mendiknas sebagai salah seorang pemenang Lomba Menulis Artikel Pendidikan Tingkat Nasional, Juara III Guru SMA/MA Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2014, memperoleh penghargaan dari Gubernur Aceh sebagai guru berprestasi tingkat nasional dalam rangka Hardikda ke-55, Peserta Studi Banding Pendidikan ke Perancis Tahun 2015 bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Berprestasi, dan Pemenang Karya Tulis Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Tingkat Nasional Tahun 2015.

Kegemarannya dalam dunia tulis menulis telah terpupuk sejak di Sekolah Dasar hingga sekarang. Berbagai penghargaan dibidang ini pernah diraihnya dan beberapa tulisannya telah dipublikasikan di berbagai media baik lokal maupun nasional. 

Sebagai salah seorang Guru Pamong Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) FKIP Unsyiah dan Sekretaris Umum Ikatan Alumni Pendidikan Kimia (Ikapenmia) Provinsi Aceh Periode 2008-2011, ia selalu aktif mengikuti berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan serta kegiatan ilmiah lainnya baik di dalam maupun luar negeri, diantaranya mengikuti kursus ”SS-0607 : Making Sense of Secondary Science Cooperatively” di Southeast Asian Ministers of Education Organisation (SEAMEO)–Regional Centre for Education in Science and Mathematics (RECSAM), Penang, Malaysia pada tahun 2003 dan pada tahun yang sama menjadi delegasi Indonesia dalam kegiatan ”World Conference on Science and Technology Education” yang diselenggarakan oleh International Council of Associations for Science Education (ICASE) serta mengikuti workshop pasca konferensi ICASE dengan topik ”Amazing Science and Mathematics Activities” dan “Widening Children’s Perceptions of Science and Technology” di Hotel Equatorial Penang, Malaysia. Ia juga menjadi pembicara di beberapa seminar dan workshop yang berkenaan dengan pendidikan. 


Temanggung, Harianguru.com – Melalui Program Kadang Peduli 2018, Kadang Temanggungan bekerjasama dengan STAINU Temanggung menggelar seminar Manajemen Peningkatan Profesionalisme Dosen pada Sabtu (8/12/2018) di STAINU Temanggung yang diikuti puluhan dosen dan pejabat kampus.

Dalam sambutannya, Ketua STAINU Temanggung Dr. H. Muh Baehaqi, MM menyampaikan bahwa kegiatan itu menjadi langkah awal untuk bersinergi memajukan STAINU Temanggung. “Mimpi saya, tahun 2019 ini kita beralih status dari Sekolah Tinggi menjadi Institut. Dari STAINU menjadi INISNU. Karena syarat minimal sudah kita penuhi, yaitu enam prodi, dan enam dosen tetap ber-NIDN di masing-masing prodi,” katanya.

Saya langsung welcome, kata dia, dengan teman-teman Kadang Temanggungan. “Saya melihat beberapa bulan lalu, banyak teman-teman asli Temanggung banyak sukses di tingkat nasional. Banyak kalangan Dirjen, ada juga di Polri, dan lainnya. Nah, mimpi saya ini, kalau nanti STAINU jadi universitas harus punya enam profesor atau guru besar,” beber doktor jebolan UII Yogyakarta tersebut.

Eli Mantofani Ketua Forum Ikatan Kadang Temanggungan (FIKT) mengatakan bahwa kegiatan itu menjadi salah satu kegiatan yang digelar bersamaan selain di Pendopo Pengayoman, Kledung, dan Kaloran. “Langkah ini menjadi awal, untuk membesarkan STAINU Temanggung ini. “Kalau infrastruktur nanti gampang kita usahakan. Yang paling penting SDM dosen kita genjot untuk melesat agar ke depan lebih baik,” beber dia.

Kadang Temanggung adalah forum silaturahim yang berisi orang-orang yang asli dan pernah belajar, hidup di Temanggung. “Kami rindu Temanggung akan jadi kota indah, bersih, dan maju,” beber dia.

Dalam kesempatan itu, disi Dr. Endah Nuraini, MM Ketua Program Pascasarjana PPM School of Management Jakarta tersebut mengatakan pembelajaran, kurikulum, memang harus sesuai dengan visi misi. “Profil lulusan harus menggambarkan visi dan misi,” bebernya.

Semua dosen harus Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Mendidik dan mengajar, meneliti, dan pengabdian kepada masyarakat. Kalau yang namanya profesionalisme, profesional, bergantung definisinya sekarang. Profesional wajib karena zaman dulu dengan sekarang beda. Jika dulu ada anak nilainya jelek, bapak ibu tidak marah pada guru, tapi sekarang mendatangi gurunya,” beber dia.

Sifar kegiatan yang dilakukan dengan mengikuti sistem, bukan tuntutan. Profesionalisme salah satunya tingkah laku, kepakaran, atau kualitas dari soerang yang profesional.

Ada tiga skill yang wajib dikuasai. Pertama, technical skill, kedua, communication, ketiga, human relations. “Seorang dosen tidak hanya dituntut pintar, tapi harus lihar berkomunikasi, dan menghadapi kompleksitas,” lanjut dia.

Dalam kesempatan itu, doktor yang akrab disapa Nunik itu menjelaskan profesionalisme dari tiga aspek. Mulai dari mendidik/mengajar, meneliti dan mengabdi. “Ada beberapa teknik mengajar yang baik. Pertama, adalah penampilan. Kedua, ruangan. Ketiga, analisis mahasiswa. Keempat, materi. Kelima, peralatan presentasi. Keenam, harapkan yang tidak diharapkan,” lanjut dia.

Untuk sesi awal mengajar atau perkuliahan, kata dia, pertama adalah introduksi yang harus singkat, hindari diskon diri, dan antusias. Kemudian, lanjut dia, awal kali pembukaan harus menarik dan berkesan. 

Selain Ketua dan Pembantu Ketua, hadir Kaprodi PAI, MPI, HKI, PIAUD, ES, dan lainnya beserta puluhan dosen. (hg120/hms).

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget