Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Buku Digital dan Budaya Literasi

Sosialisasi Buku Digital Kepada Siswa

Oleh: Nurchaili

Saat ini kehidupan sebagian orang sudah tak terpisahkan dari smartphone (telepon pintar). Kesehariannya selalu melekat dengan alat komunikasi di era digital ini. Smartphone menjadi kebutuhan pokok selain sandang dan pangan. Bahkan ada yang rela mengurangi jatah makan demi memiliki smartphone atau sekadar membeli pulsa agar tetap eksis di dunia maya (online).

Kondisi ini semakin menjauhkan budaya literasi (membaca dan menulis) dari masyarakat Indonesia yang selama ini memang sudah dikenal lebih suka menonton atau mendengar dibandingkan membaca apalagi menulis. Padahal kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kemampuan literasi masyarakatnya. Dalam Al-Qur’an, ayat pertama yang diturunkan Allah Swt. juga memerintahkan kita untuk membaca (Iqra’), baik membaca ayat-ayat yang tersurat dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi maupun ayat-ayat yang tersirat di alam semesta.

Literasi merupakan sarana untuk mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapat, baik di bangku sekolah, rumah maupun lingkungan sekitar.  Dalam Deklarasi Praha tahun 2003 disebutkan juga literasi mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Di abad informasi saat ini kemampuan literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir dalam menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, auditori, dan digital (Sutrianto, dkk., 2016). Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.

Ismail, T. (2003) mengungkapkan budaya membaca di kalangan pelajar Indonesia masih sangat rendah. Kondisi ini terlihat dari perbandingan banyaknya buku yang wajib dibaca pelajar Indonesia dengan negara lainnya. Pada masa penjajahan Belanda misalnya, siswa AMS-B (setingkat SMA) diwajibkan membaca 15 judul karya sastra per tahun, sedangkan siswa AMS-A membaca 25 karya sastra setahun. Siswa AMS wajib membuat 1 karangan per minggu, 18 karangan per semester, atau 36 karangan per tahun, sedangkan siswa SMA sekarang tidak diwajibkan membaca buku.

Di Amerika Serikat, siswa SMA diwajibkan membaca 32 judul karya sastra dalam setahun, siswa Jepang 15 judul, Brunei Darussalam 7 judul, Singapura dan Malaysia 6 judul, serta Thailand 5 judul (www.wartakota.tribunnews.com).

Di tahun 2011, United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) melansir hasil surveinya yang menunjukkan indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001persen, atau hanya ada seorang dari 1000 penduduk yang mau membaca buku secara serius. Rendahnya minat baca juga bisa terdeteksi dari kurangnya jumlah buku baru yang terbit di Indonesia. Data tahun 2014, buku yang terbit hanya lebih dari 30 ribu judul. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang kurang lebih 250 juta jiwa,  satu orang belum bisa membaca satu buku. (www.cnnindonesia.com).

Berdasarkan standar Unesco, idealnya satu orang membaca tujuh judul buku per tahun. Berarti minat baca masyarakat Indonesia masih rendah dan jauh dari standar. Di era digital saat ini, menggiring generasi muda untuk berliterasi secara ideal bukanlah perkerjaan yang mudah. Betapa tidak, budaya dengar, tonton, hunting, posting, chatting, gaming, dan sebagainya dianggap lebih penting dan lebih populer daripada budaya membaca dan menulis (Azwardi, 2016). Orang tua pun jarang ada yang membeli buku untuk anaknya, tapi sebaliknya menjejali mereka dengan smartphone atau gadget.

Buku Digital
Buku Digital (Digital Book) atau dikenal juga dengan Electronic Book (E-book) adalah sebuah bentuk buku yang dapat dibuka secara elektronis melalui komputer, laptop atau smartphone. Buku digital adalah publikasi yang dapat dirancang semenarik mungkin karena didalamnya dapat memuat video, animasi, dan audio (suara) disamping teks dan gambar yang hanya dimiliki buku konvensional. Buku Digital dapat disimpan di PC (Personal Computer), laptop, smartphone, tablet, atau piranti elektronik yang secara khusus disediakan untuk menyimpan dan membaca buku  digital. Selain itu buku digital juga bersifat ramah lingkungan dan mendukung gerakan paperless.

Format ePub kini menjadi salah satu format buku digital yang paling populer.  Fitur yang dimilikinya antara lain: format terbuka dan gratis, terbaca di berbagai perangkat, tersedianya software pembuat ePub, mendukung penggunaan video dan audio, Reflowable (word wrap), tersedia pengaturan ukuran teks dan kemudahan lainnya. Salah satu sumber buku digital dapat diperoleh melalui SEAMOLEC Appstore dengan mengakses laman web http://seamarket.seamolec.org.

Buku digital memiliki berbagai fungsi, antara lain: (a) sebagai salah satu alternatif media belajar; (b) berbeda dengan buku cetak, buku digital dapat memuat konten multimedia di dalamnya sehingga dapat menyajikan bahan ajar yang lebih menarik dan membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan; (c) sebagai media berbagi informasi; (d) dibandingkan dengan buku cetak, buku digital dapat disebarluaskan secara lebih mudah, baik melalui media seperti website, kelas maya, email dan media digital lainnya; dan (e) seseorang dapat dengan mudah menjadi pengarang serta penerbit dari buku yang dibuatnya sendiri.

Budayakan Literasi
Jika ingin memenangkan kompetisi global, seluruh masyarakat Indonesia harus melek literasi. Pendidikan sebagai investasi masa depan generasi bangsa harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Lembaga pendidikan harus memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi dalam menyiapkan media pembelajaran. Sekarang penggunaan internet dan smartphone sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk pelajar dan mahasiswa.

Kehadiran internet dan smartphone adalah keniscayaan. Keduanya begitu fenomenal dan menjadi kebutuhan hidup manusia di era digital. Dalam dunia pendidikan, penggunaan internet sebagai media pembelajaran bisa menjadi salah satu solusi dalam mengatasi rendahnya kemampuan literasi peserta didik. Apalagi saat ini sebagian besar sumber informasi konvensional (perpustakaan) belum mampu  memenuhi dan memberi kepuasan bagi peserta didik dalam mendapatkan informasi dan sumber pengetahuan. Buku-buku konvensional juga belum tersedia dalam jumlah yang memadai dan terkadang membosankan bagi peserta didik. Karenanya perpustakaan harus berinovasi dengan menyediakan buku-buku digital yang dapat diakses penggunanya setiap saat tanpa terhalang oleh ruang dan waktu.

Di samping itu guru yang bisa diposisikan sebagai kelompok Digital Immigrant keberadaannya sangat penting bagi peserta didik. Guru harus mampu membimbing dan mengarahkan peserta didik agar belajar memanfaatkan internet dan smartphone ke arah yang lebih positif guna menunjang pembelajaran. Era digital hendaknya memotivasi dunia pendidikan untuk berinovasi tanpa henti. Sekolah atau madrasah tidak perlu anti terhadap peserta didik yang gandrung dengan internet dan smartphone-nya.

Sebaliknya, semua elemen pendidikan harus mampu memanfaatkan potensi internet dan smartphone agar peserta didik dapat memanfaatkannya untuk pembelajaran sekaigus meningkatkan kemampuan literasinya. Budaya literasi harus ditumbuhkan, karena penguasaan literasi dapat membuka cakrawala, memperluas wawasan, dan memahami dunia dalam lingkup yang lebih luas.

Penutup
Buku digital bisa menjadi salah satu solusi dalam menumbuhkan budaya literasi. Dengan berbagai keunggulan dan daya tarik yang dimilikinya diharapkan mampu menumbuhkan minat baca masyarakat. Dengan tumbuhnya budaya literasi, masyarakat Indonesia akan bergerak menuju masyarakat belajar (learning society) sehingga terwujudlah bangsa yang cerdas (educated nation) sesuai dengan amanat UUD 1945.  

Penulis adalah Guru MAN 4 Aceh Besar/mentor Training Online Buku Digital Bacth 2 SEAMEO-SEAMOLEC. Nurchaili dilahirkan di Banda Aceh, Provinsi Aceh, pada tanggal 17 Mei 1971 dari pasangan (Alm) Muhammad Amin, SH dan (Almh) Tjut Meurah Asiah. Menyelesaikan Sekolah Dasar di SD Negeri No. 11 Banda Aceh pada tahun 1984 dan SMP pada tahun 1987 di SMP Negeri 1 Banda Aceh. Selanjutnya pada tahun yang sama putri ke tiga dari tujuh bersaudara ini melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Banda Aceh. Namun ia menamatkannya di SMA Negeri 5 Banda Aceh (sekarang SMA Negeri 4 “DKI Jakarta”) setelah sebelumnya juga sempat menjalani studi di SMA Negeri 6 Pekanbaru, Provinsi Riau.

Pada tahun 1990 selepas dari menyelesaikan pendidikan tingkat SMA, diterima di Jurusan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh dan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada tahun 1995 dengan yudisium Cum Laude (IPK: 3,88/4,00). Pada tahun 2004, setelah mengikuti seleksi yang ketat dan jujur (dalam program Bagimu Aceh, Budi Luhur Peduli), ia terpilih sebagai salah seorang penerima beasiswa dari Yayasan Pendidikan Budi Luhur Jakarta untuk melanjutkan studi di Program Studi Magister Ilmu Komputer, Universitas Budi Luhur Jakarta. Ia menyelesaikan studi magisternya pada tahun 2006 dengan yudisium Cum Laude (IPK: 3,89/4,00) dan menjadi Wisudawan Terbaik Program Studi Magister Ilmu Komputer periode Oktober 2006.

Berbagai prestasi pernah diraihnya, antara lain: Siswa Teladan SLTP tingkat Nasional, Mahasiswa Berprestasi Unsyiah, Juara LKTI tingkat Nasional, Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden RI, Terbaik Pertama “PKS Award 2008” Anugerah Untuk Guru, Juara I Pemilihan Guru Madrasah Teladan Tingkat Nasional Tahun 2008, Tahun 2010 memperoleh penghargaan dari Mendiknas sebagai salah seorang pemenang Lomba Menulis Artikel Pendidikan Tingkat Nasional, Juara III Guru SMA/MA Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2014, memperoleh penghargaan dari Gubernur Aceh sebagai guru berprestasi tingkat nasional dalam rangka Hardikda ke-55, Peserta Studi Banding Pendidikan ke Perancis Tahun 2015 bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Berprestasi, dan Pemenang Karya Tulis Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Tingkat Nasional Tahun 2015.

Kegemarannya dalam dunia tulis menulis telah terpupuk sejak di Sekolah Dasar hingga sekarang. Berbagai penghargaan dibidang ini pernah diraihnya dan beberapa tulisannya telah dipublikasikan di berbagai media baik lokal maupun nasional. 

Sebagai salah seorang Guru Pamong Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) FKIP Unsyiah dan Sekretaris Umum Ikatan Alumni Pendidikan Kimia (Ikapenmia) Provinsi Aceh Periode 2008-2011, ia selalu aktif mengikuti berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan serta kegiatan ilmiah lainnya baik di dalam maupun luar negeri, diantaranya mengikuti kursus ”SS-0607 : Making Sense of Secondary Science Cooperatively” di Southeast Asian Ministers of Education Organisation (SEAMEO)–Regional Centre for Education in Science and Mathematics (RECSAM), Penang, Malaysia pada tahun 2003 dan pada tahun yang sama menjadi delegasi Indonesia dalam kegiatan ”World Conference on Science and Technology Education” yang diselenggarakan oleh International Council of Associations for Science Education (ICASE) serta mengikuti workshop pasca konferensi ICASE dengan topik ”Amazing Science and Mathematics Activities” dan “Widening Children’s Perceptions of Science and Technology” di Hotel Equatorial Penang, Malaysia. Ia juga menjadi pembicara di beberapa seminar dan workshop yang berkenaan dengan pendidikan. 

Label:

Posting Komentar

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget