Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Mbah Anggur, Gurunya Petani di Kabupaten Pati

Pati, Harianguru.com – Mbah Anggur yang memiliki nama asli Sumowijoyo, merupakan salah satu waliyullah yang lokasi kuburannya di sebelah barat Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. Beliau merupakan salah satu murid dari Ki Brojoseti Singo Barong pendiri Desa Dukuhseti, Pati, Jawa Tengah.

Pada Kamis malam (27/12/2018), Jamaah Pasrah merayakan Haul Mbah Anggur dengan menggelar beberapa ritual di kompleks kuburannya. “Malam ini (Kamis), Jamaah Pasrah dan warga di hutan di makam Mbah Anggur yang sudah terlaksana  mulai tahun 1999 sampai 2018 menggelar haul Mbah Anggur,” kata Ngalimun Ketua II Jamaah Pasrah dalam pesan selulernya kepada Harianguru.com.

Pihaknya menegaskan, bahwa Mbah Anggur dapat dijadikan sebagai salah satu gurunya petani di wilayah Kabupaten Pati, khsusunya di Dukuhseti.
Dijelaskannya, bahwa peringatan haul itu bersamaan dengan peringatan Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. “Malam ini kita barengkan dengan Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani,” ujar perangkat Desa Dukuhseti, Pati, tersebut kepada wartawan.

Mantan Ketua GP Ansor Dukuhseti ini menjelaskan, bahwa Mbah Anggur merupakan salah satu murid dari Mbah Brojoseti Singo Barong waliyullah dan pendiri Desa Dukuhseti. Selain dikenal Sumowijoyo, Mbah Anggur juga dikenal dengan nama Syekh Hamim. “Kalau Haul Mbah Brojoseti Singo Barong bersamaan dengan Maulid Nabi. Sedangkan Mbah Anggur itu murid dari Mbah Brojoseti yang dulu meninggal karena konon disembelih Ki Gede Tualang seorang siluman sakti yang memusuhi Mbah Brojoseti,” lanjut dia.

Di dalam kuburan, juga masih tersimpan kayu yang digunakan untuk menyembelih Mbah Anggur tersebut. “Ini adalah kayu yang digunakan Ki Gede Tualang yang dulu membunuh Mbah Anggur, yang sampai saat ini masih tersimpan dan menjadi saksi bisu kehidupan,” papar guru SMK Jamaah Pasrah tersebut.

Dinamakan Anggur, karena dulu menurut Ngalimun, pekerjaan Mbah Anggur adalah bertani, dan menjadi murid Mbah Brojoseti sekaligus beternak. Dalam Bahasa Jawa, nganggur, atau nggur-ngguran itu karena dimaknai sebagai tidak punya pekerjaan, meskipun beliau bekerja sebagai petani dan peternak.

Pihaknya berharap, peringatan haul itu menjadikan keberkahan dan wahana mendekatkan diri pada Allah melalui kekasihnya. (Hg44)..
Label:

Posting Komentar

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget