Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

2019

Rapat persiapan Kemah Kebangsaan Sakoma NU Jawa Tengah

Semarang, Harianguru.com - Direncanakan dalam Kegiatan Kemah Kebangsaan Anggota Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’arif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (8-10 November 2019) akan dilasanakan Bedah Syarat Kecakapan Umum (SKU) Pramuka untuk di tambah kompetensi khusus terkait Ajaran Ahlussunah Waljama’ah Annadliyah. Hal itu diungkapkan Ketua Sakoma NU Jateng, H. Shobirin, S.Ag., M.Pd.I, di sela-sela rapat persiapan Kemah Kebangsaan, Ahad (3/11/2019).

“Bedah Syarat Kecakapan Umum (SKU) Pramuka ini rencananya akan kami laksanakan dalam kegiatan Kemah Kebangsaan Anggota Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’rif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah tahun 2019,” ujar H. Shobirin.

Dijelaskannya, SKU hasil kegiatan ini dimaksudkan untuk digunakan bagi semua anggota Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’rif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, kegiatan ini selain merupakan salah satu program Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’rif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah.

“Ini merupakan jabaran program Lembaga Pendidikan Ma’arif PWNU Jawa Tengah juga bentuk ikhtiar pengurus dalam melaksanakan tugas pokok memberikan wadah bagi gugus depan dil ingkungan Lembaga Pendidikan Maarif Nahdatul Ulama untuk menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi peserta didik guna menumbuhkan tunas bangsa agar menjadi generasi yang lebih baik, bertanggungjawab, mampu membina dan mengisi kemerdekaan serta membangun dunia yang lebih baik,” jelasnya.

Dengan kegiatan ini diharapkan Sako Ma’arif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah dapat mewujudkan tujuannya untuk membentuk setiap Pramuka memiliki beberapa karakter. “Pertama, agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup. Kedua, memiliki keyakinan akan kebenaran aqidah Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah,” katanya.

Sesuai rencana, Kemah Kebangsaan akan digelar pada 8-10 November 2019 di kompleks Bumi Perkemahan Candra Birawa Pusdiklatda Jawa Tengah. Ratusan peserta sudah siap mengikuti kegiatan itu dari wilayah Jawa Tengah. (Hg44/HI).

Suasana rapat persiapan Kemah Kebangsaan

Semarang, Harianguru.com – Semarang – Menjelang digelarkan Kemah Kebangsaan Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif (Sakoma) LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah besuk pada Jumat 8 November 2019 sampai Ahad 10 November 2019, jajaran panitia menggelar rapat di kompleks Bumi Perkemahan Candra Birawa Pusdiklatda Jawa Tengah, Ahad (3/11/2019). Hadir sejumlah panitia yang membahas persiapan tersebut. 


Ketua Sakoma NU Jawa Tengah, H. Shobirin, S.Ag., M.Pd.I, mengatakan bahwa persiapan sampai Ahad ini sudah matang. “Sebelum rapat, panitia bidang petualangan penegak pandega telah melakukan survei tempat petualangan di sekitar Curug Lawe dan Curug Benowo serta Desa Kalisidi untuk memastikan lokasi kegiatan penegak pandega berpetualangan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ketua Sakoma NU Jateng dan Waka Binawasa Kakak Drs. H. Sumardi Nurrahman juga turut mendampingi survei lokasi Curug Lawe dan Curug Benowo Kalisidi Ungaran Barat.

Sampai hari ini, rekap jumlah peserta terakhir sejumlah 339 peserta. “Besuk, seluruh panitia akan datang Kamis 7 November  2019 pukul 15.00 WIB. Mulai memasang umbul-umbul kegiatan, bendera pendukung kegiatan, spanduk dan baliho kegiatan  serta perlengkapan lain pendukung kegiatan,” katanya.
Survei lokasi Curug Lawe dan Curug Benowo Kalisidi Ungaran Barat.
“Untuk mendukung kegiatan upacara pembukaan diupayakan ada peserta upacara  dari anggota Sako Ma’arif Wilayah Ungaran yaitu Gudep Sako Ma’arif MI Keji, MTs NU Ungaran, SMK NU Ungaran dan Gudep Sako Ma’arif yang memungkinkan diundang,” lanjutnya.

Direncanakan, akan ada acara tersendiri bagi Ketua Sako Ma’arif NU Kabupaten/Kota yang diundang untuk penguatan organisasi dan sosialisasi program Sakoma NU Jawa Tengah.

“Sehubungan untuk kegiatan Bakti Menanam pohon di lokasi sekitar Curuk Lawe  dianggap  belum sangat perlu untuk saat ini, maka kegiatan Bakti di alihkan bentuk pelepasan burung di alam terbuka Curuk Lawe (bagi peserta) dan tabur benih ikan (bagi Pengurus Sakoma NU Jateng) informasi perubahan dan teknik pengadaan akan di informasikan Sekretaris Panitia kepada kontingen kabupaten/kota,” jelasnya.

Untuk seremonial pembukaan, katanya, disepakati dengan bentuk pelepasan balon udara yang di bawahnya digantungkan kaos kegiatan dan nominal voucer  belanja sebagai hadiah yang menemukan. “Mengingat efektifitas kegiatan kegiatan penguatan Aswaja dan Sakoma NU Jateng Anti Radikalisme dilaksanakan di satu tempat dengan 2 sesi,” katanya.

“Untuk pendukung kegiatan Sakoma NU Jateng Bersholawat diadakan Tambahan Tenda terob di tribun Lapangan upacara sebelah barat sebagai panggung kegiatan. Karena sekitar curuk lawe sinyal HP sangat minim, maka kepada semua panitia diharapkan membawa/ meminjam HT sebagai pendukung komunikasi panitia melaksanakan tugas,” katanya.


Persiapan itu, menurut H. Shobirin sudah hampir 99 persen. Ia berharap, Kemah Kebangsaan itu dapat membangun generasi nasionalis, dan menguatkan ideologi Aswaja Annahdliyah. (Red-HG33/HI).

Kutai Kartanegara, Harianguru.com - Di hadapan 401 Kepala Sekolah SD Negeri dan Swasta se kabupaten Kutai Kartanegara yang hadir pada Rapat Kerja AKSI (Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia) untuk Kabupaten Kutai Kartanegara yang dipusatkan di Kecamatan Sebulu, Bupati Kukar, Edi Damansyah menekankan pada seluruh kepala sekolah untuk menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah yang telah dikenalkan oleh program PINTAR hasil kerjasama dengan Tanoto Foundation. “Manajemen Berbasis Sekolah dari Program PINTAR kerjasama dengan Tanoto Foundation harus diterapkan di semua sekolah,” ujarnya menekankan baru-baru ini.



Manajemen Berbasis Sekolah yang dilatihkan oleh program PINTAR Tanoto Foundation mendorong manajemen sekolah dilakukan lebih professional, transparan dan akuntabel. “Sudah terbukti kalau pelatihan PINTAR tentang manajemen berbasis sekolah  membuat kepala sekolah menjadi lebih efektif dalam kepemimpinan.  Sekolah menjadi lebih transparan, budaya baca diterapkan dan peran serta masyarakat juga makin besar,” ujar Suwarni, Pengurus AKSI bagian Hukum yang juga  Kepala Sekolah SDN 003 Loa Kulu menanggapi seruan bupati tersebut. 



Dalam rapat tersebut, para kepala sekolah yang hadir membahas berbagai isu, misalnya isu keuangan, anggaran untuk peningkatan kualitas guru dan lain-lain. Berkaitan dengan anggaran untuk peningkatan kualitas guru ini, bupati  meminta kepala sekolah menganggarkan dana Boskap untuk mengadopsi pelatihan progam PINTAR kerjasama dengan Tanoto Foundation. Dia juga meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengalokasikan secara khusus anggaran untuk program ini.



Pelatihan Serempak



Di tempat terpisah, Program PINTAR hasil kerjasama Tanoto Foundation, Kemenag dan Pemerintah Daerah lewat Dinas Pendidikan secara serempak melakukan banyak pelatihan pembelajaran. Salah satunya adalah pelatihan Praktik Baik Pembelajaran untuk guru-guru SMP dan MTs berdasarkan mata pelajaran yang dilaksanakan di Grand Elty, Kukar (20 – 23 Oktober 2019). 



Pelatihan kali ini diikuti oleh 52 peserta dari 8 SMP dan MTs mitra program PINTAR. Pelatihan kali ini merupakan pelatihan modul 2 yang lebih menukik lagi membahas pelaksanaan mengajar sesuai dengan karakter mata pelajaran. Mata pelajaran tersebut adalah matematika, IPA, bahasa Indonesia, IPS, bahasa Inggris, dan Literasi Kelas Awal.



Agus Prihantoro, Spesialis Pembelajaran SMP Tanoto Foundation mengatakan bahwa modul dua lebih mengantarkan siswa untuk lebih kreatif. “Pembelajaran yang berkarakter mapel dapat mengembangkan potensi anak. Pada  mapel IPS misalnya, yang dikembangkan adalah ketrampilan berpikir kritis, mengolah informasi dan berperan dalam kelompok, yang semua mengarahkan agar siswa menjadi lebih kreatif” ujarnya menguraikan.



Sedang pada  pembelajaran IPA, ketrampilan yang dikembangkan adalah berpikir secara ilmiah. “Siswa diajak untuk senantiasa mampu memecahkan masalah secara ilmiah, secara logis, dan menemukan jawaban dari setiap persoalan karena kemampuan berpikir ilmiah tersebut,” ujar Agus.



Menurut Agus, salah satu yang menarik dalam dalam modul pembelajaran bahasa Indonesia, menulis cerpen dengan literasi visual. Para siswa diajak untuk melihat gambar dan mendeskripsikan gambar tersebut secara imajinatif untuk membentuk cerita. Ternyata dengan cara tersebut, para siswa mampu menulis dengan panjang-panjang walaupun baru mendapatkan model demikian pertama kalinya. “Ketrampilan menulis menjadi lebih cepat berkembang dengan literasi visual yang dikenalkan pada modul dua kali ini,” ujar Agus menambahkan.



Pelatihan yang sama dilaksanakan di lima provinsi di Indonesia, yaitu Jambi, Jateng, Kaltim, Sumut dan Riau. (HG44).

Suasana  Expo dan Pameran Inklusi
Semarang, Harianguru.com - Bertempat di GOR Wujil Ungaran Kab. Semarang, LP Ma`arif NU Jawa Tengah bersama 4 Madrasah inklusi mitra UNICEF (MTs NU Ungaran, MI Ma`arif Keji, MI Gedanganak, MI Pabelan) mengikuti kegiatan Expo dan Pameran Inklusi di GOR Wujil Kabupaten Semarang, Selasa, 28 Oktober 2019.

Kegiatan tersebut juga dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober. Acara expo pendidikan yang dibuka oleh Bupati Kab. Semarang tersebut melibatkan 70 stand pameran pendidikan mulai dari jenjang pendidikan Dasar, Menengah, dan Sekolah Luar Biasa. Acara expo dan pameran akan berlangsung selama 2 hari, 28-29 Oktober 2019.

Hari pertama kegiatan Expo, Stand Madrasah inklusi menjadi salah satu stand yang paling ramai dikunjungi, tercatat sampai sore hari pukul 16.00 dalam buku daftar hadir, hampir 900 pengunjung mengisi daftar hadir yang disediakan panitia. Sekda Kabupaten Semarang, Kepala Disdikbudpora Kab. Semarang, Kabid Penma Kemenag Kab. Semarang menjadi tokoh-tokoh pertama yang menyempatkan diri hadir di stand LP Ma`arif setelah pembukaan dan memberikan apresiasi yang cukup luar biasa. “Inklusi Hebat” demikian kata Sekda Kab. Semarang Gunawan Wibisono di stand LP Ma`arif.

Selain stand dan pameran inklusi salah satu hal menarik lainnya yang menjadi perhatian pengunjung adalah ditengah-tenga ragam pameran dan expo Madrasah Inklusi LP Ma`arif menampilkan permainan futbolnet, kolaborasi antara anak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan non ABK.

“Di sinilah nilai dari inklusi dan pameran hari ini. Kita tunjukkan bahwa pendidikan inklusi yang dikembangkan madrasah Ma`arif ini akan menjadi contoh dalam setiap pembelajaran di Madrasah/sekolah. Kita mengajarkan kebersamaan dan kesamaan dalam hidup tanpa ada batas dan bulliying. Semoga yang hadir dan melihat permainan ini bisa terprovokasi dan membangkitkan semangat inklusif terutama para pendidik,” ungkap Ratna Andi Irawan, Ketua LP Ma`arif Jawa Tengah di lokasi Expo yang juga didampingi oleh beberapa pengurus Ma`arif Wilayah.

Nada Optimis akan dampak dari kehadiran stand Inklusi ini juga disampaikan oleh Supriyono kepala MI Keji Ungaran. “Bapak/Ibu, stand madarasah inklusi kita banyak diapresiasi yang sangat bagu, meskipun awalnya beberapa orang ragu dan menyangsikan keseriusan dan kemampuan kita. Alhamdulillah kita bisa membuktikan dan banyak yang salut dan mendukung kita. Semua harus all out menampilkan yang terbaik, inshaalloh pesan pendidikan kita akan diterima oleh yang lain,” kata Supriyono kepada semua Tim Inklusi Ma`arif.

Sesuai Jadwal kegiatan, hari ke-dua tim inklusi LP Ma`arif masih akan menampilkan futbolnet dengan model permainan lain. Sehingga diharapkan pada hari ke-dua pameran dan stand madrasah inklusi Ma`arif akan lebih banyak lagi pengunjung dan melihat penampilan kolaborasi ABK dan non ABK. “inilah yang kita sebut kolaborasi tanpa batas,” ungkap Miftahul Huda, education officer program Inklusi LP Ma`arif NU Jawa Tengah. (red-HG99/HI).

Muarakaman, Harianguru.com - 13 Sekolah Dasar di Muara Kaman sekitar enam bulan belakangan ini mulai berubah.  Mereka secara rutin melakukan program membaca senyap selama 15 menit, menjalankan strategi mendekatkan buku pada siswa dengan membangun pojok-pojok baca, taman baca dan lain-lain. Para guru-guru juga menerapkan pembelajaran aktif yang membuat proses belajar menjadi menyenangkan dan siswa semakin betah di sekolah.

Perubahan tersebut tak lepas dari perjuangan seorang pengawas di daerah tersebut. Namanya Pak Ponidi. Sebagai pengawas, ia agak risau melihat guru-guru di bawah pengawasannya  belum mampu membuat perencanaan mengajar dengan baik. “Mengajar itu seperti membuat film yang bagus. Jadinya perlu skenario yang juga bagus. Film yang bagus itu yang mempunyai alur yang menyenangkan, membuat penonton penasaran dan akhirnya  diingat terus menerus. Nah demikian juga mengajar, punya langkah dan proses yang harus membuat siswanya juga demikian. Harus punya skenario yang matang yang mengantar siswa menguasai banyak kompetensi,“ ujarnya, 18 Oktober 2019.

Ia mendapati guru-guru mengopi paste rencana persiapan mengajarnya dari internet, dan jarang membuat sendiri. “Nah kadang juga,  copy paste rencana mengajar itu juga tidak dilaksanakan di kelas. Akhirnya guru mengajar tanpa langkah-langkah yang strategis dan bermakna. Ia hanya mengikuti nalurinya saja,” ujar salah satu Fasilitator program PINTAR Tanoto Foundation ini.

Setelah ia ikut pelatihan PINTAR, pak Ponidi menjadi tahu apa yang harus dilakukan untuk menghapus kecenderungan guru-guru seperti itu. Program PINTAR merupakan program pelatihan yang dikhususkan untuk pendidikan dasar hasil kerjasama antara Tanoto Foundation, Kemenag dan Pemda setempat lewat Dinas Pendidikan.

Ia ingin juga para guru tersebut mendapatkan pelatihan yang menurutnya sangat bermakna. “Dengan pelatihan program PINTAR, kita sebagai pendidik menjadi tahu dengan lebih gampang bagaimana cara membuat rencana persiapan mengajar yang alurnya menarik dan menyenangkan siswa” ujarnya antusias.

Untuk mewujudkan pelatihan itu, ia menghubungi kelompok kerja kepala sekolah dan juga kepala UPTD Muarakaman. Pelatihan tiga hari akhirnya berlangsung sukses dengan menggunakan dana BOS.

Setelah itu, untuk memastikan  pelatihan benar-benar dilaksanakan di sekolah, sebagai pengawas, Ponidi berkeliling melakukan penguatan dan pendampingan.

Ia sering melakukan pertemuan dengan para guru, mereviu kembali materi pelatihan, meninjau RPP, melihat kegiatan guru di kelas, meninjau pelaksanaan budaya baca dan peran serta masyarakat di sekolah. Yang didatangi secara intensif bukan cuma sekolah-sekolah di bawah pengawasannya, tapi semua sekolah yang pernah dilatih. “Pak Ponidi sering sekali datang ke sekolah kami untuk menguatkan pelatihan kemarin, walau sekolah kami bukan dibawah mandat pengawasannya,” ujar Iskandar, kepala sekolah SDN 029 Muarakaman, memberikan kesaksian.

Berkat kerja keras pak Ponidi didukung oleh K3S dan UPTD Muarakaman, dampak diseminasi program PINTAR  mulai tampak di 13 sekolah tersebut.  Di SDN 025, misalnya, orang tua siswa kelas 2 bergotong royong membuat sudut baca dan menghias kelas. Hal yang sama dilakukan oleh SDN 029, yang lebih jauh  menghias setiap bangku kelas dengan taplak meja yang cantik. Di SDN 008, para orang tua siswa membangun taman baca dari Ban Bekas dan menjadi percontohan bagi sekolah-sekolah lain. Bahkan taman Baca di SDN 028, diresmikan langsung oleh Bupati Kutai Kartanegara.

“Saya bersyukur bahwa banyak perubahan nyata di sekolah-sekolah diseminasi program PINTAR. Siswa sekarang lebih suka membaca buku, aktif dan lebih berani tampil ke depan untuk tampil presentasi. Sangat penting mempersiapkan anak didik disini dengan baik, karena kita dekat dengan calon lokasi ibukota negara yang baru,” ujar Ponidi.

Yang paling menyenangkan baginya sekarang, tidak ada guru di sekolah-sekolah tersebut yang download rencana pelaksanaan pembelajaran dari internet. “Mereka bahkan bilang, yang dari internet itu sebenarnya lebih susah dilaksanakan dibanding yang mereka buat sendiri sesuai konteks sekolah,” ujarnya senang. (HG44).


Semarang, Harianguru.com – Pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah, di akhir tahun 2019 akan menggelar Sekolah Menulis Sastra (SMS) #1. Penanggungjawab acara, Hamidulloh Ibda, mengatakan bahwa kegiatan itu diperuntukkan guru dan umum dari semua unsur.

“Program ini merupakan bagian dari tindaklanjut Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) yang sudah kami launching pada bulan ini. Menulis dan mengapresiasi karya sastra menjadi kompetensi penting yang harus dikuasai guru saat ini,” kata penulis buku Senandung Keluarga Sastra tersebut, Sabtu (19/10/2019).

Dalam penjelasannya, ia mengatakan pembicara utama dalam kegiatan pertama kali itu akan menghadirkan Tokoh Sastrawan Asia Tenggara dari eSastera Kuala Lumpur, yaitu Muhammad Rois Rinaldi.

Syarat dan prosedur, yaitu guru semua jenjang dan umum (tidak ada batasan usia), menulis 1 puisi bertema Hubbul Wathan (Cinta Tanah Air), mentransfer infak Rp 100.000 ke nomor rekening BRI. 3741-01-032772-53-3 a.n Ahmad Muzamil.

Peserta mendapatkan fasilitas materi saat pelatihan, 1 buku antologi karya peserta, kudapan, dan sertifikat. Sesuai rencana, tempat kegiatan di Hotel Muria Semarang pada 1 Desember 2019 pukul 09.00 WIB-selesai.

“Kuota Terbatas 100 orang. Konfirmasi ke Khoirun Niam 082276951949 atau Hamidulloh Ibda 08562674799,” kata dia.

Pendaftaran, upload bukti transfer dan pengiriman naskah terakhir 25 November 2019 melalui http://bit.ly/RegistrasiSMS1. (Admin).

Pati, Harianguru.com - Perpustakaan siswi Mathali'ul Falah mengadakan bedah novel karya Elin Khanin yang bertajuk Cinta Sang Abdi Ndalem Jumat(18/10/2019).

Motivasi Elin dalam menulis novel CSAN yaitu bahwa kang/mbak yang mengabdikan dirinya kepada kiainya dengan penuh ikhlas, tentu cinta mereka juga ikhlas.

"Saya ingin menunjukan apabila pesantren mempunyai nilai nilai yang berbeda, apalagi dengan kisah cintanya, dengan terbitnya novel ini saya berharap orang yang membaca akan semakin cinta terhadap orang tuanya, kiainya dan suami/istrinya" jelas Elin muthakhorijat Matolek 2007.

Ahla Kholidah, sebagai moderator mengemukakan apabila orang yang membaca novel Cinta sang Abdi Ndalem, tentu akan melihat Kajen dari sisi yang berbeda, desa kecil yang di huni puluhan pesantren.  Dan lagi mereka yang telah boyong dari Kajen akan sedikit terobati kerinduan nya apabila membaca novel tersebut.

"Kami dari para guru akan memperioritaskan alumni yang telah menjadi penulis untuk bisa bedah di almamater nya, tujuannya sederhana yaitu untuk memberikan motivasi kepada adik adik yang masih mengenyam pendidikan di pesantren," ujar Alek Fauzi

Senada dengan hal itu, Penulis juga berpesan apabila punya cita cita ingin menjadi penulis tentu harus tekun dan lagi tulislah apa yang di dekatmu, apa yang kau kuasai dan kau pahami, sebab menulis itu pembiasan.

Lanjutnya, kedepannya harapan saya akan lahir penulis penulis baru yang terlahir dari pesantren dan kisah cinta dari pesantren. (HG44/K Niam).

Pelajar SMKN 2 Sragen yang mengibarkan bendera HTI yang viral di media sosial

Semarang, Harianguru.com - Aksi pembentangan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Palestina di kompleks SMK Negeri 2 Sragen, Jawa Tengah yang viral di media sosial, mendapat respon serius dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (PWNU Jateng). Sebab, HTI merupakan ormas terlarang karena bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Untuk itu, PWNU Jawa Tengah mendesak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk menindak tegas aksi tersebut. PWNU Jateng mendepak Ganjar Pranowo mengambil langkah cepat pelaku atau orang yang di belakang kejadian tersebut.

Hal itu disampaikan Sekretaris Tanfidziyah PWNU Jateng KH Hudallah Ridlwan Naim (Gus Huda) dalam siaran pers yang diterima Harianguru.com, Kamis (17/10/2019). Gus Huda menegaskan bahwa kejadian tersebut sangat disayangkan. “Di periode kedua kepemimpinan Pak Ganjar menjadi Gubernur Jawa Tengah, sangat disayangkan jika ada kasus seperti ini,” tegasnya.

Gus Huda juga membeberkan bahwa pihaknya menemukan foto sejumlah siswa dan guru SMKN 2 Sragen yang viral di media sosial dengan membentangkan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid yang identik simbol Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan bendera Palestina.

“Jika ini benar, maka sangat disesalkan. Baru saja Gubernur Jateng menyatakan telah menindak sejumlah kepala SLTA yang terpapar radikalisme, kini simbul organisasi terlarang itu dibentangkan di sekolah negeri,” tegas Gus Huda.

Dijelaskannya, sekolah yang menjadi tempat penyelenggara pendidikan untuk mencetak generasi muda yang berwawasan kebangsaan dan dibiayai negara itu seharusnya steril dari virus intoleran dan radikalisme. “Kejadian ini  sebagai bukti bahwa masih banyak racun dan virus pengasong khilafah yang sudah menyebar ke bawah. Ini fakta bahwa radikalisme sudah menyusup dan mengakar di tingkatan pelajar,” lanjutnya.

Pembentangan bendera yang menjadi simbul organisasi yang sudah dibubarkan di lembaga pendidikan berstatus negeri ini, menurut Gus Huda, menunjukkan bahwa garis kebijakan gubernur tidak diindahkan oleh aparatur di bawahnya. “Kepala Sekolah jenjang SMA kan kewenangan Pemrov, maka Gubernur Jateng sebagai orang nomor satu di Pemrov harus berani menindak tegas pelaku tersebut,” katanya.

Atas kejadian yang kesekian kalinya ini, Gus Huda mendesak Gubernur Jateng untuk bersih-bersih dan memberantas pengusung ideologi terlarang di lembaga pendidikan tingkat SLTA yang secara terbuka melakukan tindakan inkonstitusional.

Jauh-jauh hari, PWNU Jateng telah menginstruksikan kepada warga NU di Jateng untuk selalu siap siaga menghadapi radikalisme dan terorisme, di antaranya menghadang organisasi terlarang yang mencoba-coba untuk bangkit dan kini justru menyusup di lembaga pendidikan yang harusnya steril dari virus radikalisme.

“Termasuk kasus di Sragen ini, kami mendapat laporan lengkap dari kader NU di sana. Kami berharap pemegang otoritas juga lebih meningkatkan intensitas pengawasan sekaligus penindakannya agar virus ideologi terlarang tidak melebar,” tegasnya.

Sebagai organisasi yang mendukung nasionalisme dan tegaknya NKRI, PWNU Jateng mendukung dan menanti ketegasan Ganjar Pranowo sebagai orang nomor satu di Pemrov yang secara garis kebijakan membawahi SMA di Jateng. “Kami tunggu ketegasan Pak Ganjar, karena ini sekolah negeri yang urusannya dengan Pemrov Jateng,” lanjutnya.

“Kami juga mendesak Gubernur Jateng segera mengevaluasi sistem dan prosedur pengangkatan kepala sekolah negeri,” katanya.

Sebab, menurut Gus Huda, penjaringan kepala sekolah di jenjang SLTA harusnya steril dari orang-orang yang terindikasi radikal.  “Ini bisa jadi sistem penyaringan jebol, screeningnya jebol. Secara hukum, SK Kepala Sekolah tidak masalah, tapi proses penyaringan keluarnya SK jebol, maka ini harus diperbaiki agar semua SLTA di Jateng ini benar-benar steril dari radikalisme,” tutupnya. (hg44).

Kalimantan Timur, Harianguru.com  - Jumpa Kopi adalah strategi untuk membuat koleksi buku di pojok baca ruang kelas SMPN 4 Tenggarong terasa selalu baru. Jumpa Kopi adalah akronim dari Jumat Pagi Koleksi Pindah.

Program ini dilaksanakan setiap Jumat pagi selepas para siswa melakukan senam pagi. Dikoordinir oleh masing-masing pengurus kelas, para siswa setiap kelas menukarkan koleksi buku bacaan di pojok-pojok baca kelas dengan kelas lainnya. 

Misalnya, kelas VIIA bertukar koleksi buku dengan kelas VIIB, VIIC bertukar dengan VIIIA, IXA dengan IXB dan seterusnya.

“Jumpa Kopi dilaksanakan karena koleksi buku di pojok baca dalam satu minggu rata-rata semua sudah terbaca. Agar ada buku baru maka koleksinya ditukar antar kelas,” kata Agus Suparmanto, Kepala SMPN 4 Tenggarong.
Melalui Jumpa Kopi semangat membaca siswa meningkat. Mereka setiap saat bertemu dan disuguhi buku-buku yang belum pernah dibaca.

“Siswa di kelas juga semakin peduli dengan pojok baca yang sudah dibuat bersama-sama,” katanya lagi.
Jumat kopi merupakan istilah yang diperkenalkan Agus Suparmanto di sekolah tersebut. Hal itu dilakukan agar semangat membaca tetap terjaga. Jika buku sudah terbaca semua, tanpa buku yang baru semangat membaca akan turun drastis.

Koleksi buku di sekolah memang cepat habis terbaca. Terutama sejak SMPN 4 Tenggarong mengadakan program membaca 15 menit tiap pagi sebelum pembelajaran.

Sekolah tersebut juga membuat jurnal membaca untuk tiap siswa. Jurnal tersebut berisi kolom tanggal, halaman buku yang dibaca, rangkuman, dan tanda tangan wali kelas atau orang tua siswa.

“Kedua program ini telah meningkatkan minat baca siswa. Dengan Jurnal membaca siswa terpicu untuk berlomba-lomba membaca buku. Karena dengan jurnal tersebut akan ketahuan berapa jumlah buku yang dibaca tiap bulan,” ujar Agus.

Untuk menambah koleksi buku bacaan, selain menganggarkan 20 persen dari dana BOS, sekolah juga melibatkan orang tua siswa.

Dalam rapat, para orang tua siswa sepakat untuk mendukung gerakan literasi dengan menyumbangkan buku semampu mereka secara sukarela.

“Rata-rata orang tua siswa menyumbang satu buku untuk menambah koleksi pojok baca. Namun di pojok baca, bukunya juga berasal dari perpustakaan,” jelas Agus.

Untuk membuat siswa terpapar terus menerus dengan buku, sekolah mitra Tanoto Foundation ini juga membangun taman-taman baca di halaman dan lorong sekolah. Sekolah menyebutnya dengan nama Teras Baca dan Terminal Baca.

Teras baca terletak di lorong jalan masuk ke sekolah, dan terminal baca di bawah pohon yang rindang.

“Strategi mendekatkan siswa dengan buku terbukti efektif untuk membuat siswa tergerak untuk membaca. Bahkan dalam sebulan ada siswa yang membaca 27 buku bacaan,” ujar pak Agus yang bangga dengan peningkatan minat membaca siswanya.

Agus Suparmanto, yang juga fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation, menyebarkan Jumpa Kopi yang dilakukan di sekolahnya melalui group facebook Forum Peningkatan Kualitas Pendidikan.

“Saya membagikan link FB Jumpa Kopi yang saya tulis kepada seluruh kepala sekolah SMP di Tenggarong. Ternyata banyak yang tertarik karena Jumpa Kopi memecahkan masalah penyediaan buku bacaan di kelas. Juga minim biaya,” katanya.

Fatiyah Febiana, Siswa Keas 7a, menyatakan kesenangannya dengan program Jumpa Kopi. Dengan program tersebut, ia semakin senang membaca. “Bukunya selalu baru dan saya sudah membaca puluhan buku dalam bulan ini,” ujarnya. (Hg44).

Balikpapan, Harianguru.com - Pelajaran bahasa Inggris  kadang terasa sulit bagi siswa. Namun banyak guru kreatif membuatnya asyik dan menyenangkan. Ini seperti yang dilakukan oleh ibu Irma Sabriati, guru Bahasa Inggris SMP 1 Balikpapan. Ia membuat siswa serasa mengamati para superhero dan kemampuan-kemampuannya.

Cara Ini dilakukan saat ia membahas tentang modalitas can dan cannot yang menyatakan kemampuan dan ketidakmampuan. Pelajaran untuk kelas 2.

Lalu bagaimana cara ia menghubungkan can dan cannot dengan para superhero. Pertama yang dilakukan ibu Irma menyuruh para siswa mencari referensi dahulu di google,  rumus-rumusnya maupun kegunaannya. “Para siswa sekarang tidak hanya saya suruh mencari di buku paket saja, tapi sumber dari mana saja. Ini dalam rangka gerakan literasi. Tugas saya juga memfasilitasi mereka untuk mengetahui, bukan terus menerus memberitahu kepada mereka. Mereka harus aktif,” ujar Irma, 27 September 2019

Para siswa tersebut secara berkelompok mencari berbagai referensi. Setelah menemukan, mereka diminta  saling mendiskusikan dan mempresentasikan apa yang didapatkannya di depan kelompoknya sendiri. Mereka didorong bercakap dengan bahasa Inggris ketika melakukan itu. “Siswa suka dengan model begini, mereka diberi kesempatan untuk mendiskusikan penemuan referensinya dengan bahasa Inggris. Mereka belajar speaking diantara teman-temannya,” ujarnya.

Setelah mencari referensi selesai,  mereka membuat contoh-contoh dari modalitas can tersebut dengan bahasa mereka sendiri, minimal 5. Nah disinilah ibu Irma meminta para siswa, membuat contoh-contoh dengan tema kemampuan dan ketidakmampuan para Superhero. “Dengan cara ini, ternyata mereka sangat bersemangat. Anak-anak milenial kan gandrung dengan game dan film superhero.  Dengan menghubungkan dengan cerita yang mereka sukai,  memantik diskusi yang menarik,”ujarnya

Baik tugas mencari formula, kegunaan dan contoh-contoh kata can tersebut dikerjakan di kertas plano besar secara berkelompok. Mereka juga diharuskan menggambar atau menempel foto super hero yang dipilih. “Contoh-contoh kalimat tersebut saya arahkan yang bentuhknya positif, tapi saya tak membatasi kalau mereka mau membuat kalimat negatif atau interogatif,” ujar Irma.

Setelah selesai, masing-masing kelompok presentasi di depan kelas. “Saat  presentasi,  untuk kalimat interogatifnya, saya  memberi pertanyaan langsung dari contoh kalimat positif yang mereka buat. Misalnya, ketika mereka memberi contoh superman can fly, maka saya bertanya pada mereka: can superman fly?  Pertanyaan ini sekaligus memberi contoh pada mereka bagaimana membentuk kalimat interogatif dari kalimat afirmatif atau positif,” ujar Irma lebih lanjut menerangkan metode mengajarnya. 

“Mereka juga kadang memberikan contoh kalimat-kalimat negatif dari kalimat positif yang mereka buat. Misalnya, batman can jump from tower to tower, kalimat negatifnya yang mereka buat: batman cannot jump from tower to tower,” ujar Irma. 

Setelah presentasi, Irma memerintahkan para siswa melakukan knowledge shopping. Kertas plano hasil karya kelompok ditempel di dinding-dinding kelas, dan dalam urutan searah jarum jam, kelompok siswa berputar melihat hasil karya kelompok lain. “Pada knowledge shopping ini, para siswa mempelajari masing-masing contoh yang dibuat kelompok lain, membandingkan dengan punya mereka sendiri, mengoreksi jika salah, dan  memberi masukan.” Ujar Irma

“Namun saya juga memberi tugas mereka untuk mencatat kata-kata baru yang didapat pada kertas plano pekerjaan kelompok lainnya. Ternyata dengan menggunakan contoh superhero, banyak kosa kata baru muncul yang dicatat para siswa, misalnya: resist, martial arts, hibernate, camouflage, stronghold dan lain-lain. Saya biasa meminta mereka menghapal kosa kata baru yang telah mereka dapatkan, atau memberi tugas berdasarkan kalimat yang mereka dapatkan,” ujar Irma menjelaskan caranya lebih lanjut.  
Setelah itu, menurut Irma, sangat penting untuk menguatkan pengetahuan siswa dengan meminta siswa menyimpulkan pelajaran hari itu.  Dia lebih jauh memberikan contoh dan penguatan lainnya.

“Namun yang  juga penting, selain tugas kelompok, memberikan tugas Individu pada siswa. Ini untuk mengevaluasi apakah  pemahaman siswa itu merata. Untuk tugas Individu saya biasa minta mereka mengerjakan soal-soal di buku paket,” ujarnya.
Semua siswa menyatakan bahwa model pembelajaran seperti ini menyenangkan. Namun banyak yang senang dengan model belajar kelompok demikian. “Saya senang belajar dengan model kelompok, karena saya bisa melatih conversation saya,” ujar Gaodie, salah seorang siswa.

Menurut Irma, belajar kelompok memang penting, selain untuk melatih conversation, akan mampu meningkatkan kecakapan sosial siswa. “Mereka makhluk sosial, jadi perlu dilatih memiliki kecakapan sosial semenjak dini,” ujarnya. (HG44).



Kudus, Harianguru.com - Peserta Didik KB Al-Azhar Jekulo, Kudus, menggelar doa bersama atas wafatnya BJ Habibie, Presiden Republik Indonesia ke-3, Kamis, 12/09/2019 siang.

Doa bersama yang dilakukan di Halaman KB Al-Azhar tersebut, diikuti oleh 142 Peserta didik dari Kelompok Persiapan.

Eni Misdayani, Ketua Penyelenggara KB Al-Azhar mengutarakan turut berduka cita, atas meninggalnya salah satu putra bangsa yang begitu besar jasanya.

Pada gelaran doa kali ini, ada pembelajaran yang bisa disampaikan kepada anak-anak kami, "pembelajaran terkait kepedulian sosial dan rasa cinta kepada tanah air," katanya.

"Lebihnya, untuk menghormati jasa para pahlawan atau pemimpin bangsa yang telah berjuang bagi Tanah Air," jelasnya.

Kami juga turut mengenalkan kepada mereka siapa Bapak BJ Habibie itu, "misalnya, dengan jasa Pak Habibie dengan mengharumkan Bangsa, membuat pesawat, bagi mereka (anak PAUD), akan lebih mudah mengenal dengan jasa beliau," ujarnya.

Tahlil dan doa dipimpin Ustazah Siti Aslamiyah, diiringi rasa khidmat oleh peserta didik KB Al-Azhar, sembari mengamini. (hg44/Udin).

Semarang, Harianguru.com - Bertempat di Aula Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Tim KKN-Integrasi Kompetensi IAIN Kudus yang di tempatkan di FKUB Kota Semarang menggelar workshop, Rabu malam, 11/09/2019.

Workshop mengangkat tema 'Memahami Pentingnya Tolerensi dan Bahaya Radikalisme' tersebut dihadiri berbagai elemen organisasi masyarakat setempat, termasuk Karang Taruna, unsur pemuda, mahasiswa dan stake holder Kelurahan Tinjomoyo.

Sulthon, sapaan akrab Sekretaris FKUB Kota Semarang Dr. H. Muhammad Sulthon tersebut, ia merasa sampai kini,  masih banyak masyarakat sekitar yang awam bahkan tidak mengetahui apa itu FKUB dan apa tugasnya,  "FKUB itu forum kerukunan umat beragama, dulu FKUB itu singkatan dari Forum komunikasi umat beragama, nah komunikasi itu kan bisa komunikasi dalam kondisi apapun, termasuk 'emosi'  juga bisa masuk dalam kategori,  jadi kurang tepat jika menggunakan singkatan itu, sehingga FKUB diganti dengan Forum kerukunan umat beragama, sampai sekarang," jelasnya.

Indonesia ini kan beranekaragam suku, budaya dan bahasa, Indonesia sebagai Bangsa yang besar, suku-suku yang banyak yang terhimpun pada wilayah NKRI ini, "untuk itu jangan sampai keanekaragaman yang ada ini menyebabkan kehancuran, dan masyarakat harus cerdas dalam konteks keragaman ini," paparnya.
 
Keanekaragmaan itu bisa menjadi kekuatan dalam bertoleransi, ketika kita taat bertoleransi bukan berarti meninggalkan agamanya tetapi lebih kepada menghargai satu sama lain, "mari peran FKUB ini kita gunakan sebagai wadah untuk menjunjung sebuah toleransi yang harus kita bangun sekuat mungkin untuk kerukunan yang hrus tetap kita jaga di Indonesia ini," tandasnya.

Senada dengan Sulthon, Wakil Ketua I FKUB Kota Semarang Syarif Hidayatullah, M.Ag, ia menambahkan, keterkaitan dengan bahaya radikalisme, ia berpesan, untuk tidak menjadi orang-orang fanatik dan terkesan kaku dalam berbagai hal, dan fantik akan menumbuhkan jiwa, bahwa (dia) atau kelompoknya sebagai alur yang paling benar.

Media atau medsos, sekarang memiliki peran yang signifikan dalam perkembangan intoleran atupun merujuk pada radikalisme, "kita harus bijak dan waspada pada penggunaanya," tukasnya. (hg44/Laila/din).

Surakarta, Harianguru.com -  Perbaikan terus-menerus dalam pembelajaran di kelas perlu dilakukan. Hal ini karena setiap saat tantangan di kelas selalu berbeda. Dengan perangkat pembelajaran yang sama, namun diterapkan pada siswa yang berbeda maka hasilnya akan berbeda. Karena itulah, kelas merupakan sebuah ruangan yang unik, yang setiap saat perlu di evaluasi, di refleksi, dibuat perencanaan dan pelaksanaan, kemudian perlu di evaluasi lagi.

Hal tersebut mengemuka dalam lokakarya penelitian tindak kelas, kolaborasi dosen guru kerja sama Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (PINTAR) Tanoto Foundation kerjasama dengan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang di Hotel Best Western Surakarta, selama 3 hari (30/8 – 1/9).

Head of Teacher Training and Learning Tanoto Foundation Ujang Sukandi menjelaskan bahwa, Tanoto Foundation memiliki perhatian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu bentuk perhatiannya adalah menyelesaikan masalah di kelas melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) rintisan kolaborasi LPTK dan Sekolah. Loka karya ini memadukan 2 unsur tersebut, satu unsur teoritis pada diri dosen yang sarat dengan pengalaman teoritis dengan banyak kajian pustaka, Dan unsur lainnya yaitu unsur praktik yang ada pada guru.

“Kami memadukan antara dosen yang menguasai banyak teori, dan guru yang menguasai banyak pemgalaman praktis. Kita akan kerjasamakan dan dorong implementasinya, mudah-mudahan PTK ini menghasilkan sebuah solusi nyata dan benar-benar membudaya,” jelas Ujang.

Ujang mengungkapkan, maksud kegiatan yang diikuti oleh 25 orang sebagai perwakilan dari 5 Mapel kolaborasi dosen dan guru ini adalah ingin membangun budaya PTK.  Ingin membangun kebiasaan ber-PTK. Dan bila disederhanakan, membangun berPTK menjadi kebiasaan guru untuk merefleksi mengajarnya. Menyadari atau mengidentifikasi apa yang harus diperbaiki,  lalu merencanakan perbaikan itu dan melaksanakan kembali perbaikan, “Kemudian merenung kembali, mengevaluasi apakah tindakan perbaikan sudah betul-betul ke arah yang diinginkan. Merefleksi lagi, merencanakan tindakan lagi, terus-menerus berulang,” katanya.

Ujang berpesan bahwa yang paling utama adalah di dalam diri guru harus ada keinginan untuk memperbaiki diri, untuk ingin mengajar hari ini lebih baik dari kemarin. Kalau tidak ada keinginan itu, maka metode apapun yang diberikan, tidak akan merubah apapun. Apakah dengan mindset, apakah dengan root mindset.

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)Dr Mardiyana, M.Si saat membuka acara mengatakan bahwa kolaborasi ini penting dilaksanakan. Perpaduan antara teoritas dan praktis. Sehingga kedua belah pihak akan mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman baru. Hal ini perlu di dorong untuk menjadi budaya akademis. Saat ini dilembaganya juga sedang gencar dilakukan program serupa. Bukan dengan PDCA (Plan, do, check, Action) namun berupa PPEPP.

“Di Perguruan tinggi sedang digalakkan konsep PPEPP atau singkatan dari  Penetapan/ perencanaan, Pelaksanaan, Evaluasi/ penilaian, Pengendalian, dan Peningkatan. Di perguruan tinggi manapun sedang di kerjakan pola ini.  Semoga kegiatan seperti PTK dengan berbagai pola ini dibiasakan dan dibudayakan,” ungkap Mardiyana.

Kegiatan tersebut diikuti oleh dosen- dosen dari 2 universitas mitra dan sekolah mitra Tanoto Foundation. Salah satu judul PTK kolaborasi dosen guru yang menarik yaitu tentang peningkatan keterampilan menulis laporan melalui penggunaan media gambar seri kelas II di SDN Sondakan Laweyan Surakarta tahun pelajaran 2019/2020. 

Dosen dari UNS Ibu Anesa Surya, M.Pd berkolaborasi dengan Agustina Nurfi Hirawati S Pd, guru dari SDN Sondakan. Mereka dengan apik  membuat pemetaan masalah di kelas II.  Pertama-tama mereka menganalis masalah pembelajaran keterampilan menulis lal akhirnya sampai menemukan sebuah solusi yaitu dengan menggunakan media gambar seri.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Ibu Kristi Liani Purwanti, Dosen FITK UIN Walisongo berkolaborasi dengan Ibu Emy Ekowati guru kelas 2 MI Tarbiyatul Khoirot Semarang. Mereka memetakan masalah tentang bagaimana meningkatkan kemampuan menyatakan perkalian dua bilangan 1 angka sebagai bentuk penjumlahan berulang dan menentukan hasilnya pada tema "Permainan di Lingkunganku ". Mereka juga membuat media TUBO untuk mengatasi masalah tersebut.

Pada Mapel Bahasa Indonesia tingkat SMP/MTs dilakukan secara kolaboratif antara Ibu Lulut Widyaningrum dari UIN Walisongo Semarang bersama dengan Ibu Nur Baetillah. Judul yang diangkat adalah "Penerapan Strategi Guided-Concept Mapping untuk meningkatkan Kemampuan Menentukan Unsur Intrinsik Teks Cerita Fantasi Kelas VII MTs Negeri 1 Kota  Semarang Tahun Pelajaran 2019-2020".

Penggunaan Strategi Guided Concept Mapping, dengan tetap memasukkan unsur MIKiR, dipilih karena dipercaya mampu meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya juga meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa. Terutama dalam menentukan unsur intrinsik dalam teks cerita fantasi. (HG44).

Kudus, Harianguru.com - "Selamat datang teman-teman mahasiswa Universitas Terbuka Pokjar Kudus, selamat mengikuti dan melaksanakan kegiatan PKM (Pemantapan Kemampuan Mengajar) di KB Al-Azhar," sambut Hj. Eni Misdayani, Ketua Penyelenggara KB Al-Azhar, Senin, 14/10/2019 di Gedung I KB Al-Azhar.

Monggo, dilaksanakan sesuai dan sebagaimana mestinya, PKM akan menambah wawasan ilmu baru bagi teman-teman mahasiswa.

"Saya yakin, pengalaman yang sudah diperoleh bagi mahasiswa yang sudah mengabdi pada lembaga PAUD, mungkin sudah banyak, akan tetapi praktik di KB Al-Azhar, InsyaAllah, dapat menemukan pembelajaran baru, mungkin juga akan sebaliknya ada hal baru yang bisa kami pelajari dari teman-teman sekalian," katanya.

Sementara Ali Asfuri, Dosen Pembimbing Praktik PKM Universitas Terbuka Pokjar Kudus, menerangkan, "tugas mahasiswa disini guna meningkatkan kemampuan mengajar pada mata kuliah pemantapan kemampuan mengajar,"terangnya.

"Saran kawan-kawan mahasiswa yang saya terima, ternyata tidak salah, KB Al-Azhar merupakan sebagai salah satu Lembaga PAUD prioritas di Jekulo, disini kalian dapat belajar banyak," pesannya kepada mahasiswa dan diikuti jawaban 'siap' oleh mahasiswa.

"Saya akan mendampingi selama mahasiswa belajar di KB Al-Azhar," paparnya.

Mahasiswa PGPAUD Universitas Terbuka Pokjar Kudus, akan melakukan praktik PKM di KB A-Azhar selama tiga hari, dan diikuti 12 mahasiswa.

Nampak hadir pula, selain Ali Asfuri, yakni, Inaroh, Supervisor II Universitas Terbuka Pokjar Kudus. (hg44/Udin)


Semarang, Harianguru.com -  Dalam rangka menumbuhkembangkan dan meningkatkan kulitas literasi di Jawa Tengah, Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif PWNU Jawa Tengah melaunching logo Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) pada Ahad (6/10/2019). Launching logo itu dihadiri pengurus dan sejumlah guru, dosen, di kantor LP Ma’arif PWNU Jateng di sela-sela sidang pleno kurikulum Aswaja Annahdliyah.

Dalam kesempatan itu, Ketua LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan mengatakan bahwa literasi merupakan program prioritas LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah periode ini. “Komitmen ini berangkat dari keprihatinan terhadap krisis dan rendahnya tingkat literasi pendidikan nasional, termasuk di antaranya madrasah dan sekolah Ma'arif  baik di kalangan guru maupun peserta didik. Karena itu, LP Maarif meluncurkan Gerakan Literasi Ma'arif atau GLM,” katanya.

Tujuan GLM, menurut Andi tidak sekadar untuk diterapkan di sekolah atau madrasah. “Namun juga untuk mendorong usaha meningkatkan literasi melalui penerbitan Jurnal Ilmiah Ahlussunnah Waljamaah (ASNA), membuat penerbitan Asna Pustaka   yang fokus menerbitkan buku-buku karya guru-guru Ma'arif, penguatan website Ma'arif, pelatihan dan kelas menulis, gerakan mendirikan perpustakaan, dan lainnya,” ujarnya.

Dengan program ini, katanya, kami berharap literasi di madrasah dan sekolah Maarif bisa meningkat dan lebih memajukan kualitas pendidikan nasional. “Sebab, suatu peradaban bisa diukur dari seberapa besar dan majunya literasi suatu bangsa,” katanya.

Sementara itu, Pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma’arif PWNU Jateng dan Ketua Tim GLM, Hamidulloh Ibda, menegaskan bahwa hadirnya GLM ini berawal dari rumus kemajuan bangsa yang sudah disepakati di WEF, yaitu kompetensi, karakter, dan literasi. “Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 2016 juga menggagas Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang menjadi bagian dari implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. GLN ini nanti muncul literasi sekolah, keluarga, dan masyarakat,” kata penulis buku Media Literasi Sekolah tersebut.

Sedangkan LP Ma’arif, kata dia, karena menaungi sekolah dan madrasah, maka tidak cocok jika gerakan literasi madrasah atau gerakan literasi sekolah. “Yang cocok adalah Gerakan Literasi Ma’arif yang mendorong peningkatan penulisan karya jurnalistik, karya tulis ilmiah, dan karya sastra,” lanjut peraih Juara I Lomba Artikel Tingkat Nasional Kemdikbud 2018 itu.

Wujud riilnya, selain yang sudah dijelaskan di atas, program GLM ini terbagi atas beberapa program. Pertama, penguatan literasi ilmiah. Wujudnya berupa penerbit Asna Pustaka, Jurnal ASNA (Jurnal Kependidikan dan Keislaman) yang sudah OJS dan versi cetak.

Penguatan ini juga diimbangi dengan Lomba Karya Tulis Ilmiah dari empat unsur, yaitu pelajar,mahasiswa, guru/dosen, dan umum. "Kami sudah membuka LKTI ini sejak  27 Juni 2019 dan akan berakhir pada 30 November 2019. Silakan cek di website Ma’arifnujateng.or.id atau bisa ketika saja LKTI Ma’arif NU Jateng di Google,” tandas penulis buku Konsep dan Aplikasi Literasi Baru tersebut.

Kedua, GLM diperkuat dengan Modul dan Panduan GLM yang nanti menjadi acuan sekolah dan madrasah Ma’arif untuk menguatkan literasi di satuan pendidikannya masing-masing. Ketiga, program perlombaan yang kontinu pada aspek penulisan karya karya jurnalistik, tulis tulis ilmiah, dan karya sastra.

“Kita punya Jurnal ASNA, penerbit ASNA Pustaka, Majalah Mopdik, website Ma’arif, juga program pelatihan, penerbitan, dan percetakan. Di tahun 2019 ini kita fokus penataan internal, dan 2020 kita siap turun ke cabang-cabang untuk menguatkan tiga elemen di atas, yaitu karya jurnalsitik, karya tulis ilmiah, dan karya sastra,” papar penulis buku Sing Penting NUlis Terus tersebut.

Dengan dirillisnya logo GLM itu, menurut dia tidak sekadar logo, melainkan menjadi identitas dan simbolisasi. “Ini penanda bahwa Ma’arif itu bisa loh berliterasi. Maka, logonya ya bermakna siswa-siswi dengan identitas membaca, dengan pilihan batik Ma’arif untuk siswa, dan identik warna hijau yaitu kesuburan,” jelas dosen STAINU Temanggung itu.

Logo ini, menurut dia, akan menjadi branding literasi di sekolah dan madrasah Ma’arif se Jateng. “Akan kita buat stiker, kaos, dan kita siapkan modul dan panduannya. Yang paling penting, sudah saatnya semua pelajar, guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah dan madrasah serta pengurus Ma’arif itu literat,” jelas dia. (hg13).



Kalimantan Timur, Harianguru.com - Untuk ikut mengurangi pemanasan global, banyak hal yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah menanam pohon sebanyak-banyaknya. “Menanam pohon merupakan cara paling efektif mengurangi pemanasan global. Semakin banyak pohon yang ditanam, semakin banyak karbon dioksida yang diserap dan semakin banyak produksi oksigen. Untuk ikut berpartisipasi dalam pengurangan pemanasan global ini, kami meminta para orang tua, siswa dan semua warga sekolah termasuk guru menanam minimal satu pohon di sekolah kami,” ujar pak Agus Suparmanto, kepala Sekolah SMPN 04 Tenggarong, Kalimantan Barat, Selasa, 17 September 2019.
Namun bukan hanya karena alasan ingin berpartisipasi dalam pengurangan pemanasan global,  kegiatan ini bertujuan juga agar sekolah semakin asri dan nyaman, memiliki lebih banyak  sumber-sumber belajar dan sumber pembiayaan untuk kegiatan sekolah.
“Setelah ikut pelatihan Program PINTAR bersama Tanoto Foundation, Kemenag dan Dinas Pendidikan, kami berupaya lebih intens untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam segala aspek. Peran serta masyarakat yang besar akan mempercepat pengembangan sekolah ini ” ujar pak Agus menerangkan latar belakang kegiatan ini.
“Untuk program ini, awalnya kami rapat bersama orang tua siswa baru yang tergabung dalam paguyuban kelas. Pak Sugiono, Bu Rita Sinaga, Pak Maman sebagai wali kelas bersama  ketua komite juga hadir dalam rapat itu. Dalam curah pendapat yang kami lakukan, para orang tua ingin terlibat dalam semua kegiatan di sekolah. Salah satunya dalam pengelolaan lingkungan sekolah. Nah akhirnya disepakati, semua warga sekolah baik orang tua siswa,  siswa dan pendidik akan menanam minimal satu pohon di sekolah,” ujar Agus.
Akhirnya pada pertengahan September kemarin,  program mulai dijalankan.  Sebagai awalan, semua orang tua siswa kelas satu yang berjumlah 80 orang berkumpul dan menanam pohon di lahan di sekolah. Kebetulan sekolah memiliki lahan yang luasnya mencapai dua hektar. Bibit-bibit pohon terdiri dari rambutan, mangga, durian, cempedak, kelapa, jambu air, jambu biji, blimbing, klengkeng, jeruk dan petai ramai-ramai ditanam  di sebagian lahan tersebut.
“Kali ini orang tua kelas satu, nanti menyusul orang tua kelas dua dan tiga, dan juga masing-masing siswa. Jadi satu warga sekolah benar-benar menyumbang minimal satu pohon ke sekolah,” ujar Agus.
Masing-masing pohon kemudian diberi nama siswa  dengan kertas yang dilaminating. Tanda itu menunjukkan siapa yang bertanggung jawab untuk merawatnya.
“Kelak yang merasakan panennya tidak hanya anaknya namun juga cucu-cucunya ketika bersekolah di SMP ini. Program ini juga akan berkontribusi terhadap produksi oksigen di sekeliling sekolah, sehingga anak-anak bermain dan berolahraga tidak akan kekurangan supply oksigen. Hasil buah-buahannya nanti juga bisa dijual untuk membiayai kegiatan pembelajaran di sekolah,” ujar pak Sugiono salah satu wali kelas satu SMP 4 Tenggarong.
“Apalagi sekarang banyak kebakaran hutan yang mengurangi jumlah pohon penyerap karbon dioksida. Apabila semua sekolah melaksanakan penghijauan dan pohon yang ditanam sampai berjumlah ribuan bahkan ratusan, akan ikut secara signifikan mengurangi pemanasan global,” tambahnya.
Pak Agus berencana kelak pada hari-hari tertentu, sekolah akan mengadakan program makan sehat bersama. “Untuk mengakrabkan warga sekolah,  suatu saat kita akan mengadakan kegiatan makan sehat bersama, salah satunya adalah buah-buahan yang dihasilkan di kebun sekolah ini,” ujarnya.
Selain terlibat dalam kegiatan ini, orang tua siswa di SMPN 4 Tenggarong juga terlibat dalam banyak program dan kegiatan sekolah yang lain.   Mereka terlibat dalam program peningkatan budaya baca di sekolah dengan menyumbangkan buku-buku dan ikut mengawasi dan mendorong siswa membaca.  Mereka juga menyumbang untuk pengembangan fasilitas sekolah, kerja bakti dan lain-lain.
“Semuanya berbasis kesukarelaan. Kami tidak menentukan jumlah dan kapan waktunya. Kami intens diskusi tentang kebutuhan-kebutuhan siswa dan sekolah lewat grup whats app yang kami bentuk untuk tiap-tiap paguyuban kelas. Lewat cara ini kami berusaha selalu terbuka dan akuntabel dengan orang tua siswa,” ujar Agus menutup.  (HG44).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget