Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

2019

Ilustrasi
Oleh : Rizki Dwi Septiani
Guru MI Ma’arif Bulurejo Kab. Magelang

Tunjangan yang diserahkan kepada guru wiyata bhakti yang diberikan dari dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah, tunjangan BOSDA ini tidak hanya diberikan pada Guru Whiyata Bhakti Swasta saja, namun juga diberikan pada Guru Wiyata Bhakti Negeri.

Tunjangan ini biasanya cair setiap tiga bulan sekali bahkan sampai enam bulan. Tunjangan besaran yang diterima oleh guru wiyata bhakti swasta sekitar mulai RP. 250 ribu sampai 350 ribu pr bulannya. Kalau guru wiyata bhakti negeri diterimakan dari RP. 500 ribu sampai 1.400 ribu.

Pemerintah berharap kepada guru wiyata bhakti penerima tunjangan dari daerah dapat meningkatkan kinerjanya dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama ketia mengajar dan mendidik siswa. Tunjangan ini juga berlaku kepada tenaga kependidikan seperti TU agar dapat meningkatkan kinerjanya dalam hal ketata usahaan.  Namun juga tidak semua guru wiyata bhakti mendapat tunjangan dari BOSDA karena ada persyaratan yang sesuai dengan sandart yang diberlakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Dalam pemberian tunjangan dari daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan membuat kriteria penerima, dalam rangka untuk keadilan bagi para guru, seperti guru yang pendidikannya linier dan tidak linier, masakerja 10 tahun keatas . untuk honor yang diberikan kepada guru wiyata bhakti swasta paling tinggi 350 ribu dan paling sedikit 250 ribu yang diterima setiap perbulan, walaupun tunjangan tersebut cair tidak selalu pada setiap bulan.
Di kabupaten Magelang sebanyak kurang lebih 1420 GTT dan PTT menerima tunjangan insentif.

Tunjangan insentif diberikan untuk bantuan kesejahteraan guru wiyata bhakti, bantuan kualifikasi pendidikan dan pengembanagn profesi dikirim langsung ke rekening penerima tunjangan lewat rekening Bank Jateng atas nama masing – masing.
Tahun ini para guru mendapatan gaji tambahan dari dana bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar 15 %. Pemberian honor tersebut mengacu pada permendikbud No. 8 tahun 2017 tentang petunjuk teknis bantuan operasional sekolah.

Selama ini para guru mendapatkan intensif rata rata 125 ribu perbulan. Guru honorer yang akan mendapatkan honor dari BOS , mereka yang TMT nya di bawah Desember 2016,  juga bahwa guru yang akan mendapatkan honor dari BOS , guru honorer yang baru.namun dengan ketentuan TMT nya di bawah Desember 2016 guru honorer yang masa kerjanya sudah sepuluh tahun turut mendapatkan honor dari BOS.

Saya mendengar bahwa akan ada kenaikan gaji untuk ASN, harapan saya jangan hanya PNS yang dinaikkan gaji nya , tetapi juga untu para guru honorer yang selama ini hanya mendapat gaji yang sangat kecil, walaupun ada bantuan seperti insentif atau BOSDA namun harapan nya tetap ada kenaikan gaji atau bantuan yang di berikan oleh pemerintah kepada para guru honorer.

Saya juga mendengar akan ada honor bagi GTT yang direncanakan akan dibayaran di akhir ini dengan jumlah sebesar UMK masing masing supaya meningkatkan kesejahteraan bagi para guru GTT. 

Namun banyak GTT dan PTT yang belum lulus S1 atau lulusan tingkat SMA untuk itu hanya memanfaatkan honor dari Bantuan Operasional Sekolah ( BOS ) untuk honor GTT dan PTT masimal 15 %. Dan tidak boleh lebih dari itu, apalagi meminta tambahan atau bayaran dari siswa bagi tingkat SD/MI tidak berani. Dan harapannya pemerintah juga juga memikirkan para guru wiyata yang mendapatan gaji kecil, tidak hanya memikiran PNS saja.

Harapan para guru wiyata pastinya ingin merasakan bisa dinaikkan gajinya sama seperti PNS, akan tetapi sampai saat ini pemerintah hanya menaikkan gaji untuk para PNS. Namun kenyataanya entah sampai kapan jika gaji untuk para guru wiyata dinaikkan dapat terlaksana. Yang ada semakin tahun adanya perekrutan guru akan semain meningkat di setiap tahunnya, namun untuk gaji para GTT hanya seperti itu.

Bahkan untuk pengangkatan guru CPNS pun mulai dikurangi dan di batasi. Semoga dengan adanya bantuan dari pemerintah seperti bantuan intensif , BOSDA dan bantuan sebagainya membuat para guru wiyata dapat meningkatkan kualitas dalam meningkatkan kinerjanya terutama dalam mengajar. (Hg88).

Semarang, Harianguru.com - Panitia Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Persema) ke-XI Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jawa Tengah menggelar technical meeting (TM) yang diikuti semua LP Ma'arif NU se Jawa Tengah sebagai calon peserta Porsema XI di kantor PWNU Jateng, Sabtu (11/5/2019). 

Hadir lebih dari 100 orang perwakilan LP Ma'arif se Jateng yang dipandu Sekretaris Panitia Porsema Abdulloh Muchib. Hadir Bendahara LP Ma'arif PWNU Jateng Ahmad Muzammil, Wakil Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng Ziaul Khaq, Wakil Ketua PWNU Jateng Dr. Mahsun Mahfudz, dan Ketua LP Ma'arif Temanggung Miftahul Hadi yang juga Panitia Porsema tingkat lokal.

Dalam acara itu, Panitia Porsema menjelaskan bahwa pelaksanaan sudah final besuk pada 24-27 Juni 2019 di Kabupaten Temanggung. Pemaparan dimulai dari Ketua LP Ma'arif Temanggung Miftahul Hadi, Panitia Porsema Tingkat Wilayah Abdulloh Muchib, Rifki Muslim, Fikri, dan Khoirun Niam. 

Selain membahas hal-hal teknis perlombaan bidang seni dan olahraga, mereka juga membahas banyak hal berkaitan dengan potensi Porsema XI NU di Kota Tembakau bulan depan.

"Monggo kita bergerak bersama untuk menyukseskan Porsema XI NU Jateng di Temanggung. Seluruh Pengurus LP Ma'arif PWNU Jateng menjadi panitia Porsema. Jadi mari bergerak bersama," beber Bendahara Panitia Porsema XI Ahmad Muzammil.

Menurut dia, Porsema NU menjadi ajang untuk mencari bibit-bibit atlet baik atlet olahraga sesuai cabangnya dan bibit seniman di kalangan siswa-siswi Ma'arif.

Setelah TM, menurut Muzammil, panitia akan merekap data yang masuk. Sebab, perlu sinkronisasi berbagai data termasuk data peserta lomba baik olahraga dan seni, dan data lain yang berkaitan dengan teknis perlombaan. (Hg56/Ibda).


CALL FOR PAPER
Lomba Penulisan Artikel Ilmiah Tingkat Nasional

Jurnal Ilmiah Citra Ilmu: Kajian Kebudayaan dan Keislaman

TOTAL HADIAH : 4.000.000
Juara 1 Rp. 1.500.000
Juara 2 Rp. 500.000
Juara 3 Rp. 300.000
17 Artikel pilihan masing-masing Rp.100.000, 2 ekslempar jurnal cetak. Semua hadiah tidak potong pajak.

Lembaga Penelitian, Pengembangan, Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M) STAINU Temanggung mengundang bapak/ibu para peneliti, dosen, penulis untuk mengikuti lomba penulisan artikel jurnal ilmiah.
*Tulisan hendaknya orisinil (bebas plagiasi) dan didasarkan pada hasil penelitian atau kajian konseptual.
*Tema "Islam dan Budaya di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0"
Fokus pada budaya, teologi Islam, tafsir Alquran, ilmu Hadits, perbandingan agama, Kalam, Tasawuf, Filsafat Islam, ekonomi Islam, hukum Islam, Tafsir, sosiologi agama, dan Studi Agama dan Pemikiran Islam.
* Juara 1, 2, 3 dan 17 besar, naskahnya akan diterbitkan pada Juara Citra Ilmu
* Lebih disukai menggunakan Reference Manager Mendeley, Zotero, dengan gaya format Chicago Style (Fullnote)
*Author Guideline dilihat di sini: http://ejournal.stainutmg.ac.id/index.php/JICI/about#Guidelines

Ketentuan:
1. Panjang tulisan 5000 s/d 8000 kata
2. Nama penulis maksimal 2 orang
3. Artikel menggunakan font Palatyno Linotype–latin (11 pt) atau Sakkal Majalla-arabic (14 pt)
4. Format sesuai template Jurnal Citra Ilmu
5. Artikel dikirim ke email : citailmujurnal@gmail.com mulai 1 Mei 2019 dan paling lambat 30 Juli 2019 pukul 16.00 WIB

Reviewer:
Prof. Dr. Abdullah Hadziq, M.Ag.
Prof. Dr. Irwan Abdullah, M.A.
Prof. Dr. phil. Sahiron Syamsuddin,M.A.
Dr. Baedhowi, M.Ag.

Informasi:
085 842 460 079 (Moh. Syafi')
085 626 747 99 (Hamidulloh Ibda)

Website OJS:
ejournal.stainutmg.ac.id

Sesabu, Harianguru.com - Sebulan Satu Buku, merupakan gerakan literasi yang Bu Zulfa Alany canangkan bersama dengan guru-guru lainnya di MTs Negeri 2 Kendal. Bu Zulfa menceritakan bahwa Ide Sesabu berawal dari kondisi siswa zaman sekarang yang hampir hilang kebiasaan membacanya. Hal ini berimbas pada penguasaan Bahasa Asing yang kurang. Padahal, di era industry 4.0 bahasa Inggris menjadi alat komunikasi penting dalam berhubungan dengan dunia global.

Sebagai percontohan awal dilakukan di kelas 7A unggulan. Langkah-langkah  yang dia laksanakan yaitu berkoordinasi dengan pihak madrasah dan komite madrasah, mensosialisasikan di kelas-kelas, menghimbau siswa untuk meminjam buku berbahasa Inggris ke perpustakaan sekolah atau daerah dan/atau memiliki buku sendiri.

Bak peribahasa gayung bersambut, sosialisasi diawal bulan belum sampai seminggu sudah terlihat respon positif dari siswa. Mereka sudah membawa buku-buku berbahasa Inggris baik fiksi maupun non fiksi saat jam tambahan siang. Setelah para siswa menegaskan bahwa mereka siap menyukseskan gerakan ini, Barulah guru cantik ini memberitahukan prosedur pelaksanaannya.

“Saya terinspirasi dari video-video dan materi pelatihan program pengembangan inovasi untuk kualitas pembelajaran (PINTAR) Tanoto Foundation tentang penguatan literasi dan budaya baca,alagi siswa sudah terbiasa dengan membaca 15 menit diawal pembelajaran. Saya yakin program ini akan sukses dan membawa banyak perubahan,” ungkap Bu Zulfa. Kelebihan lain dari gerakan ini yaitu, Sesabu dibawa ke rumah dengan pantauan orangtua dan guru, sehingga semua pihak bisa bersinergi.

Setelah program dilaksanakan. Guru mulai memantau perkembangan penguasaan siswa pada buku yang dipegangnya. Di mulai dari penguasaan kosa kata. Pemantauan yang dilakukan yaitu mengajak siswa membuat kamus kecil yang berisi kosakata dari buku berbahasa Inggris yang dipegangnya. Kamus kecil ini dibuat sedemikian rupa mendekati kamus sebenarnya, diberi penyekat kecil yang digunakan sebagai pembatas tiap pergantian huruf.

Selain itu, dalam buku khusus yang berlabel Literasi Sesabu siswa juga menuliskan struktur Bahasa dan fungsi sosial teks. Analisis dari siswa juga meliputi struktur kalimat, terjemahan dari buku yang mereka pegang, bahkan analisis pesan moral atau pun manfaat membaca buku tersebut. Pemantauan ini dilaksanakan seminggu sekali setiap jam tambahan di kelas 7A.

Target yang terakhir yaitu siswa mampu mengungkapkan isi buku dengan menggunakan kalimat mereka. Dengan bantuan wali murid, bersama-sama membimbing dan mengarahkan untuk menjadi seorang penulis yang menghasilkan karya yang baik.

Menjelang satu bulan, beberapa siswa sudah mulai menyelesaikan tugas dan siap melanjutkan membaca buku lainnya. Pada akhir batas kesepakataan, siswa mempresentasikan hasil literasinya dalam pembelajaran. Hasilnya cukup signifikan meningkatkan penguasaan Bahasa Inggris, kemampuan literasi dan pemahaman pada buku.

Kepala MTs Negeri 2 Kendal Drs. H. Junaedi, M.Pd mendukung program ini,  “secara bertahap akan di galakkan implementasinya di madrasah,” ungkapnya.  Siswa kelas 7A, Muhammad Muwaffiq juga sangat antusias untuk melaksanakan program Sesabu ini.  “Kami jadi berpengalaman membaca banyak buku berbahasa Inggris. Kami jadi tertantang menguasai Bahasa Inggris,” kata  Muwafaq setelah mempresentasikan buku yang telah dibacanya. (HG44).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Dari September 2018  sampai Maret 2019, bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan baik di Balikpapan dan Kutai Kartanegara dan Universitas Mulawarman dan IAIN Samarinda, Tanoto Foundation telah melatih hampir dua ribu pendidik di Kaltim cara mengajar dengan menggunakan skenario MIKIR, singkatan dari Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi.

Banyak sekolah juga yang sudah mulai konsisten menerapkan di sekolah, terutama sekolah-sekolah mitra. Lalu apa keunggulan mengajar menggunakan skenario MIKIR ini dibandingkan dengan model mengajar seperti biasanya?

Menurut Ponidi, Pengawas Sekolah Dasar di Kutai Kartanegara, Skenario MIKIR membuat guru lebih mudah membuat perencanaan mengajar yang kreatif. “MIKIR itu suatu pola yang memudahkan guru menyusun skenario mengajar yang kreatif. Setiap unsur atau singkatan di MIKIR tinggal diturunkan jadi kegiatan di kelas. Guru tinggal memutuskan apa yang harus dilakukan  agar siswa mengalami, bisa berinteraksi dengan baik,  bagaimana cara berkomunikasinya, dan juga bagaimana bentuk refleksi atas pembelajaran hari itu,” ujarnya.
Selama ini, menurutnya,  guru kesulitan menyusun rencana mengajar. Padahal menyusun rencana pembelajaran adalah kewajiban bagi guru. Karena kesulitan,  guru kadang copy paste saja dari internet, atau membayar orang untuk membuatkannya.

Murid Jadi Rindu Gurunya
Wiwik Kustinaningsih, guru MIN I Balikpapan, merasakan banyak kelebihan mengajar pakai skenario MIKIR. “Tidak seperti dulu, siswa saya sekarang sering merindukan gurunya. Kalau saya bilang saya akan digantikan guru lain walau sebentar, mereka pasti protes,” ujarnya.

Menurutnya, dengan mengajak siswa mengalami (M dalam MIKIR) atau to experience, siswa menjadi mudah memahami. Saat mengajar tentang Gaya pada kelas IV, dia memfasilitasi siswa untuk melakukan berbagai aktvitas yang mengantar siswa  mengetahui sendiri apa itu gaya.

Misalnya untuk gaya gravitasi, kelompok siswa difasilitasi  menjatuhkan benda-benda dan mengidentifikasi apa yang terjadi.  Untuk gaya magnet, siswa langsung praktik dengan menarik benda dengan magnet dan mengidentifikasi apa yang terjadi dan menuliskan manfaat-manfaatnya. Demikian juga untuk gaya lainnya.    “Siswa menjadi lebih paham, mudah mengerti bahkan bagi yang masih susah menulis atau membaca pun jadi paham apa yang diajarkan. Mereka juga antusias dan gembira,” ujarnya

Menurut Khundori Muhammad, spesialis Pembelajaran Sekolah Dasar program Tanoto Foundation, menggunakan skenario MIKIR akan mempermudah guru melaksanakan K13. “Kesulitan membuat rencana pembelajaran model K13  akan mudah diatasi kalau guru menerapkan MIKIR,” ujarnya.

Dengan mengalami atau M dalam MIKIR, siswa menjadi lebih paham. “Beda kalau cuma mendengar, seperti yang banyak dilakukan selama ini, siswa akan lebih sering lupa,” ujarnya.

Selain diajak mengalami, dengan MIKIR, lewat unsur interaksi,  siswa juga difasilitasi untuk memiliki kecakapan sosial, “Karena hidup di zaman modern makin kompleks, siswa harus trampil mengungkapkan pendapat dan menerima pendapat orang lain. Dalam MIKIR, guru harus menyusun skenario bagaimana siswa bisa berinteraksi dengan baik, terutama interaksi ilmiah,” ujarnya.

Untuk memupuk rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi, dengan MIKIR, siswa juga diajak untuk berani tampil ke muka di setiap pelajaran. “Lewat refleksi, mereka juga diajak untuk melakukan evaluasi pemahaman mereka dan proses pembelajaran saat itu. MIKIR berusaha merangkum semua kecakapan yang harus dimiliki oleh siswa untuk hidup di abad 21,” ujar Khundori menutup. (HG33).

Peluncuran Program Ekspor Shopee Kreasi Nusantara dari Lokal untuk Global
Jambi, Harianguru.com – Setelah setahun mengimplementasikan Program PINTAR Tanoto Foundation, sekolah dan madrasah mitra di Kabupaten Tanjung Jabung Timur  menunjukkan keberhasilan program melalui unjuk karya Program PINTAR yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2019.

CEO Global Tanoto Foundation, Satrijo Tanudjojo menyebut penyebaran praktik-praktik baik pendidikan  ini adalah kunci untuk pemerataan kualitas pendidikan. Menurutnya, Program PINTAR menjangkau kurang dari 10% sekolah dan madrasah di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Bila hanya mengandalkan Program PINTAR, pemerataan kualitas pendidikan, akan memakan waktu lama untuk mecapai dampak yang signifikan.

"Tanoto Foundation adalah katalisator. Kami mengawali pengembangan program, pemerintah daerah yang mendiseminasikan untuk mencapai tujuan bersama sebagai satu tim Indonesia, yaitu anak-anak kita menjadi pintar, dapat bersaing di dunia global, dan peringkat anak-anak kita dalam tes PISA akan meningkat secara signifikan," tukasnya di sela-sela acara unjuk karya praktik baik Program PINTAR di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Wakil Bupati Kabupaten Tanjung Jabung Timur, H. Robby Nahliansyah sangat terkesan melihat para siswa yang mempresentasikan hasil karya pembelajarannya. "Saya melihat sendiri anak-anak kita yang biasanya takut menjawab pertanyaan orang dewasa, justru saat ini mereka percaya diri dan mampu mempresentasikan dengan baik hasil belajarnya. Hal ini adalah lompatan besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Tanjung Jabung Timur," tukasnya setelah mengunjungi stan-stan sekolah madrasah.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Tanjung Jabung Timur, Drs. Djunaedi Rahmat, menyampaikan komitmennya mendiseminasikan Program PINTAR ke seluruh sekolah dan madrasah di semua kecamatan. "Untuk tahap pertama, kami sudah menganggarkan Rp635 juta dana dari APBD untuk diseminasi Program PINTAR," katanya bersemangat.

Pada acara ini, sekolah dan madrasah di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, menunjukkan dampak implementasi Program PINTAR dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, manajemen berbasis sekolah, dan budaya baca.

Misalnya SDN 61/X Talang Babat yang siswanya menyimulasikan proses perubahan wujud benda dari cair menjadi padat, dengan membuat air laut menjadi kristal garam melalui proses pemanasan. Ada juga SDN 215/X Sungai Tanah yang menunjukkan media pengamatan terjadinya metamorfosis katak. Sementara SMPN 4 Tanjab Timur, siswanya mempraktikkan percobaan bahan limbah detergen yang berbahaya untuk kehidupan mahkluk hidup di sungai, atau SMPN 12 yang mendemontrasikan konsep tekanan dan luas penampang dalam kehidupan sehari-hari. 

Hasil karya tersebut menunjukkan kemampuan siswa menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran. Mereka juga tampak terlatih dalam menerapkan keterampilan abad 21, seperti kreativitas, berpikir kritis, kerja sama, dan komunikatif.

Pada acara Unjuk Karya Praktik Baik tersebut juga dilakukan  penandatanganan MoU diseminasi Program PINTAR antara Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama. Pelaksanaan diseminasi pelatihan ini akan menggunakan APBD 2019. Tanjung Jabung Timur menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang meresmikan penyebarluasan Program PINTAR. (HG44).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Pelatihan pembelajaran aktif Tanoto Foundation yang menggunakan skenario MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi) selama ini banyak diadopsi oleh Dinas Pendidikan dan Kemenag daerah mitra seperti Kukar dan Balikpapan. Sebagai Mitra Tanoto Foundation, mereka melatihkan ke pendidik yang bukan target sasaran langsung program. Jumlah pesertanya  pada tahun 2019 bahkan mencapai 695  orang terdiri dari kepsek, guru dan pengawas.  

Namun ternyata bukan entitas pemerintah saja yang tertarik untuk menyebarluaskan. Dua perusahaan besar pertambangan batu bara yaitu Indominco Mandiri dan sub contractornya Pama Persada, baru-baru ini ikut berperan membiayai pelatihan pembelajaran aktif tersebut. Pelatihan kali  diikuti  81 guru yang berasal dari desa Santan Tengah dan Santan Ilir di Marrangkayu, Kutai Kartenegara, Kaltim.

Menariknya, diseminasi ini terjadi karena ada seorang guru yang melihat postingan-postingan pembelajaran oleh guru-guru yang pernah dilatih oleh Tanoto Foundation di Facebook. Nama ibu itu adalah Kartini, ketua Kelompok Kerja Guru di Marrangkayu. “Jadi saya bergabung dengan grup Forum Peningkatan Kualitas Pendidikan di Facebook, dan saya sangat tertarik dengan model pembelajaran-pembelajaran yang membuat siswa aktif, kreatif dan inovatif yang diposting disitu yang selama ini belum banyak kami lakukan,” ujarnya (10 April 2019).

Dia kemudian menghubungi salah satu fasilitator daerah Tanoto Foundation di Marrangkayu, Nanang Nuryanto, melihat kemungkinan pelatihan untuk guru-guru di Marrangkayu. Setelah mendapatkan kepastian pelatihan bisa dilakukan,  ia mengajukan proposal pembiayaan ke Indominco. Proposal tersebut dengan cepat disetujui. Indominco  menalangi bagian konsumsi pelatihan, dan perusahaan sub contractornya yaitu PAMA Persada membiayai bagian honor fasilitator.

“Biasanya persebaran pelatihan pembelajaran aktif PINTAR  diusulkan oleh Kemenag, Dinas Pendidikan atau UPT, nah kali ini benar-benar digagas oleh guru, terutama olehi bu Kartini. Mereka ingin mengubah metodologi mengajar mereka yang selama ini lebih banyak klasikal atau ceramah, ke yang membuat siswa memiliki skill yang dibutuhkan untuk menghadapi era industry 4.0, “ ujar Nanang Nuryanto.

Keberhasilan Pelatihan

Pelatihan  yang dilakukan, menurut para peserta, membuahkan hasil yang memuaskan. Setelah tiga hari menjalani pelatihan dan praktik langsung di sekolah, guru-guru merasa memiliki ketrampilan mengajar yang baru. “Selama mengikuti pelatihan, saya merasa dapat paling banyak ilmu disini. Membuat lembar kerja dan rencana pembelajaran bisa hanya dengan acuan dari kompetensi dasar atau KD, tanpa  melihat buku teks lagi. Padahal sebelumnya saya selalu tergantung buku teks,” ujar ibu Hasnah, salah satu peserta.

Pada pelajaran IPA, Siswa-siswa SD 015 Marrangkayu diminta membuat mobil-mobilan, gasing dan dan pinang pusing atau berputar,   sambil mengidentifikasi dan melaporkan tentang hubungan pengaruh gaya dan gerak. Ratna, guru yang mengajar praktik pada pelajaran tersebut, ketika refleksi, merasa mendapatkan pengetahuan yang luar biasa setelah pelatihan, bahkan ia bercerita sambil menangis. “Dengan pembelajaran ini, anak-anak benar-benar menjadi aktif, mereka benar-benar terlibat dan  mengalami langsung. Kenapa ya pembelajaran dari dahulu tidak seperti ini,” ujar  guru dari SD 015 tersebut.

Siswa kelas 5 di SDN 015 Marrngkayu juga  berhasil mengidentifikasi pengaruh limbah terhadap lingkungan.  Siswa membuat percobaan memasukkan ikan ke berbagai media air yang dicampuri dengan minyak jelantah, rinso dan lain-lain. Mereka membuat laporan dan presentasi tentang hasil percobaan tersebut. 

Bahkan Ibu Kartini, penggagas diadakannya pelatihan ini, ingin juga nanti menyelenggarakan pelatihan modul 2 program PINTAR. “Pembelajaran aktif ini berhasil membuat siswa mengalami dan mengeksplorasi potensi siswa. Kami penasaran seperti apa modul II. Karena modul satu ini saja memberikan kami banyak pengetahuan baru,” ujarnya

Community Development Officer PT Indominco, Sulaiman, walaupun ingin melihat capaian lebih jauh,  mengatakan perusahaan siap untuk mendanai pelatihan modul II. “Kami siap membiayai lebih jauh kalau dampak positifnya nyata di lapangan dan isi dari modul II itu jelas sasarannya,” ujarnya.

Tulus Sutopo, Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara sangat menghargai kontribusi dua perusahaan tersebut. “Kita patut berterima kasih pada perusahaan-perusahaan yang perduli dengan peningkatan kualitas pendidikan di Kukar. Model ini bisa diikuti oleh perusahaan-perusahaan lainnya di kecamatan lainnya di  wilayah Kukar,” katanya.

Sandra Lakembe, Government Liason Officer Tanoto Foundation Kalimantan Timur, mewakili pihak Tanoto Foundation, juga sangat mengapresiasi inisaitif yang dilakukan guru-guru di Marrangkayu dan sumbangsih perusahaan terhadap pelatihan. “Kabupaten Kutai Kartanegara sedang defisit anggaran. Keterlibatan perusahaan dan sumber-sumber daya daerah yang lain sangat diperlukan untuk memastikan tersebarnya praktik pengajaran yang lebih sesuai dengan zaman ini,” ujarnya. (HG44).

Ilustrasi

Oleh Nurul Khasanah
Mahasiswa PAI STAINU Temanggung

Pemilu adalah salah satu hajat besar bangsa ini untuk menentukan arah tujuan bangsa ini. Pada tahun ini Indonesia akan membuat sejarah baru, yaitu dengan menggabungkan pemilihan presiden dengan pemilihan legislatif. Sehingga dalam satu waktu kita akan memberikan suara kita sebanyak lima kali dalam satu waktu.

Dalam daftar pemilih tetap yang dirilis oleh KPU sebanyak 192.828.520 rakyat Indonesia akan memberikan suaranya. Di antara sedemikian banyak rakyat Indonesia yang akan memberikan hak suaranya terdapat 40 juta pemilih yang terdaftar sebagai mahasiswa. Sehingga mahasiswa menjadi salah satu target para calon untuk mengait suaranya (Detik news.com, 8/04/2019).

Akan tetapi dengan rendahnya tingkat pemahaman mahasiswa tentang Pemilu menjadi di salah gunakan oleh kaum yang memiliki kepentingan dengan membuat berita yang tidak benar. Sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan mahasiswa terhadap para calon.

Budaya Golput
Golput merupakan tindakan secara sadar tidak menggunakan hak pilihnya. Golput ini dipengaruhi beberapa faktor di antaranya timbulnya rasa tidak percaya terhadap pemerintah. Budaya Golput setiap tahunnya menurun dimulai pada saat pemilu pertama kali yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum tahun 1999 tingkat partisipasi pemilih mencapai 90 persen lebih, setelah itu Golput selalu melebihi angka 15 persen baik pemilih pada pemilu eksekutif maupun legislatif pada tahun 2004, jumlah Golput mencapai 15,9 persen pada pemilihan legislatif sedangkan pada pilpres meningkat 21,8 persen dan 23,4 persen.

Pada tahun 2009 untuk pemilu legislatif jumlah Golput mencapai 29,1 dan pemilu pilpres jumlah Golput sebanyak 28,3 persen. Pada pemilu tahun selanjutnya jumlah Golput mencapai 24,89 persen untuk pemilu legislatif dan 30 persen lebih untuk pilpres (Tirto.id, 12/08/2018)

Salah satu penyebab mahasiswa di Yogyakarta pada tahun 2014 adalah di keluarkan peraturan bahwa pemilih wajib mendaftarkan dirinya sendiri tanpa diwakili oleh orang lain. Dengan keluarnya peraturan ini bila mahasiswa tersebut sadar dengan hak pilih yang dia sumbangkan bisa mengubah masa depan bangsa ini, tetapi bila mahasiswa tersebut semua tidak usah ribut pasti dia tidak akan mengurusnya. Juga kurangnya sosialisasi lembar A-5. Sehingga pada pemilu 2014 terdapat banyak sekali Golput yang terjadi.

Bagaimana dengan pemilu tahun ini apakah akan meningkat lagi? Semoga tidak karena kini masyarakat lebih aktif dalam mengawasi jalannya kampanye yang sedang dilakukan para calon legislatif maupun presiden. Juga kita sebagai mahasiswa harus lebih selektif dalam membaca berita karena banyak sekali berita bohong yang menyebar luas di kalangan masyarakat.

Dilarang Golput!
Untuk meningkatkan antusias mahasiswa dalam ikut serta memeriahkan pemilu atau pesta demokrasi yang akan digelar pada tanggal 17 April ini. Diperlukannya strategi khusus karena mahasiswa adalah kaum intelektual yang memiliki pemikiran kritis terhadap sesuatu, jadi harus ada strategi khusus untuk menarik hati mahasiswa itu sendiri. Dengan memberikan visi dan misi yang tidak muluk-muluk atau berlebihan tetapi dapat diwujudkan, sehingga tidak hanya sekedar janji belakang.

Sebagai mahasiswa kita harus dapat ikut serta untuk meningkatkan antusias masyarakat umum untuk menggunakah hak pilihnya. Karena dengan menggunakan hak pilih kita kita dapat ikut serta mengubah masa depan negara kita tercinta Indonesia menjadi lebih baik. Kita harus tanya pada diri kita, apakah masa depan negara kita bisa berubah menjadi lebih baik? Tentu saja bisa, karena masa depan bangsa ini ada di tangan kita.

Dalam perundang-undangan kita juga diatur bahwa golput tidak boleh dilakukan.
Pasal yang dapat diperumpamakan dengan golput tertera dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu khususnya Pasal 515, "Setiap orang yang dengan sengaja pada saat pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainya kepada pemilih supaya tidak menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya tidak sah, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak 36 juta rupiah.

Golput yang seperti diatur dalam Pasal 515 Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 sangat sulit ditemukan. Fenomena seperti dalam Pasal 515 esensinya bukan mempengaruhi atau mengajak untuk tidak memilih, justru mempengaruhi atau mengajak untuk memilih peserta pemilu tertentu. Melihat semangatnya, pasal ini sejatinya bukan direncanakan dan ditujukan kepada kelompok golput, tapi untuk seseorang atau kelompok yang melakukan politik uang (money politics) atau dalam istilah masyarakat umum disebut "serangan fajar".(detiknews.com, 26/06/2018)

Sekarang ini para calon presiden pasti mengampanyekan dilarang Golput, karena Golput itu hanya untuk orang yang ingin cari aman saja tidak mau ada perubahan. Sehingga, para mahasiswa juga perlu adanya gebrakan kampanye dilarang Golput. Sekarang tanyakan pada diri anda, mau ada perubahan? Maka dari itu jangan Golput.


Kalimantan Timur, Harianguru.com - Agar siswa gemar membaca buku, banyak rekayasa yang harus dilakukan sekolah. Tanpa rekayasa yang terprogram, kebiasaan membaca buku juga tidak akan tumbuh. Salah satu yang penting adalah rekayasa menarik sumbangan buku dari masyarakat.

Sekolah-sekolah yang sudah menerapkan program literasi, biasanya mengalami kendala kekurangan buku saat program tersebut sudah berjalan. Siswa masih mau membaca buku, tetapi buku-buku yang bagus sudah terbaca semua. Hal ini bisa menurunkan semangat dan minat siswa untuk membaca.

Misalnya di  SD 12 Kutai Kartanegara.  Semenjak dilatihkan program budaya baca, sekolah mitra Tanoto Foundation ini sudah mulai menjalankan program literasi. Namun menurut Siti Albani, sekolahnya masih kekurangan banyak buku  “Buku di sekolah banyak sudah dibaca siswa. Strategi kami adalah kami akan memutar buku yang ada di pojok baca di setiap kelas ke kelas-kelas yang lain,” ujarnya.

Di sekolah-sekolah lain, beberapa strategi telah dilakukan untuk mendulang buku dari masyarakat, seperti berikut ini:
Madrasah Ibtidaiyah Asy Syauqi Kutai Kartanegara: Bekerja sama Dengan Perusahaan
Madrasah Ibtidaiyah Asy Syauqi langganan membeli buku paket pelajaran pada sebuah perusahaan buku. Dengan cerdik, sang kepala madrasah, ibu Iip Syarifah, sebagai timbal balik pembelian buku tersebut, mengusulkan perusahaan membantu meningkatkan budaya literasi sekolah. Ia mengusulkan perusahaan mengadakan reading day per kelas tiap minggu. Usul tersebut diterima. Perusahaan sesuai jadwal membawa banyak buku cerita ke kelas. Selama kurang lebih satu jam, para siswa membaca dan menceritakan isi buku bacaan. Perusahaan  memberikan hadiah buku carita bagi siswa yang berani bercerita di depan teman-temannya dengan baik. Kegiatan seperti ini sudah berlangsung dua kali. Selain itu, ibu Iip juga membentuk paguyuban kelas dan mengorganisasikannya lewat grup di whats apps. Lewat aplikasi tersebut, ia menghimbau orang tua siswa yang tergabung di dalamnya menyumbangkan buku. Saat penyerahan buku, gambar-gambarnya juga ia share di grup, sehingga memantik orang tua lainnya untuk perduli.

MI AL Aula Balikpapan : Mengumpulkan Buku dari Paguyuban Kelas dan Arisan Buku
Komite atau paguyuban kelas di Mi Al Aula cukup aktif untuk mengumpulkan buku. Ketua komite kelas satu yang sering datang ke sekolah, menghimbau para anggota paguyuban untuk menyumbangkan buku di rumah masing-masing untuk diletakkan di sudut baca..  Selain kegiatan tersebut, siswa kelas V Mi Al Aula juga punya kreatifitas. Mereka membuat arisan buku. Seluruh siswa mengumpulkan uang untuk satu orang, dan hasilnya dibelikan buku yang kemudian diletakkan di pojok baca. 

SDN 003 Tenggarong: Menarik Buku dari Calon Alumni
Untuk menambah jumlah buku, SDN 003 Tenggarong mewajibkan para siswa yang mau lulus menyumbangkan minimal satu buku buku cerita ke sekolah. Buku tersebut kemudian distempel tersendiri. Stempel alumni. Setiap lulusan sekolah, rata-rata sekolah mendapatkan 60 buku dari alumni. “Cukup banyak untuk menambah buku di sudut-sudut baca, yang kami rolling ke sudut baca ke setiap kelas yang lain,” ujar Kurnia, guru sekolah tersebut.

Mendulang buku di MTs Balikpapan; Program Koinku untuk Buku
MTs 1 Balikpapan memiliki cara unik untuk mendulang buku. Sekali sebulan pada hari Senin saat sehabis upacara,  sekolah mengadakan sumbangan koinku untuk buku atau disingkat kutu buku. Siswa yang ditunjuk khusus berkeliling menyodorkan kotak sumbangan. Karena jumlah siswa di madrasah tersebut berjumlah lebih dari 1000, hasil yang didapat cukup banyak, kurang lebih satu juta rupiah dalam sekali pengumpulan. Uang yang didapat dibelikan buku lewat kelompok literasi yang aktif di Balikpapan yaitu Komunitas Bikers Sosial. “Buku yang didapat lebih murah dan lebih variatif, sesuai selera siswa,” kata ibu Ummi Putri Balia, penggagas gerakan koinku untuk buku di madrasah ini. Sekolah saat ini telah membuat pojok baca, taman baca di tengah sekolah, dan juga jadwal membaca rutin.

SMPN1 Balikpapan: Lomba Perpustakaan Mini Kelas
Atas inisiasi ibu Aryanti, SMPN Balikpapan mengawali gerakan literasi di sekolah tersebut dengan mengadakan lomba perpustakaan mini kelas. Mereka membentuk kepanitiaan yang terdiri dari guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Mereka mengundang orang tua siswa dan mengumumkan bahwa sekolah akan memulai gerakan literasi dengan lomba perpustakaan mini kelas yang akan dikelola orang tua siswa. Salah satu kriteria ikut lomba perpustakaaan mini kelas  adalah bukunya harus berjumlah minimal 60 eks dan sesuai dengan usia anak. Karena persyaratan jumlah buku tersebut, orang tua siswa berlomba-lomba menyumbangkan buku ke sekolah untuk diisikan di perpustakaan mini di kelas. Buku yang terkumpul dari lomba ini lebih dari 600 buku.

Madrasah Ibtidaiyah Nahdatul Ulama Balikpapan:  Arisan dan Pengajian Penggalangan Dana
Pak Gunanto, kepala madrasah MINU, bukan hanya kepala madrasah biasa. Ia merupakan pedakwah aktif di komunitas. Untuk membangkitkan peran serta masyarakat masyarakat,  ia menggagas pertemuan rutin. Isi pertemuan  adalah pengajian,  arisan dan penggalangan dana.  Saat pertemuan, dia melaporkan keadaan keuangan sekolah, pengeluaran dan pendapatan, serta kebutuhan yang masih harus dipenuhi. Penggalangan dana dilakukan lewat kotak amal, dan sumbangan bulan berjalan. Hasil sumbangan dibelikan untuk kebutuhan sekolah, salah satunya buku-buku yang mengisi pojok baca dan taman baca. “Lewat pertemuan rutin dengan masyarakat, masyarakat menjadi lebih terikat dengan kita. Mereka menjadi lebih perduli dengan program sekolah, termasuk program literasi,” ujarnya.

Masih banyak trik-trik lain yang telah dijalankan banyak sekolah untuk memperoleh buku. Sekolah-sekolah mengajukan proposal ke perusahaan, perpustakaan daerah atau toko-toko buku. Sekolah bisa juga menyelenggarakan bazar buku dengan penerbit buku atau ikut dalam kegiatan-kegiatan literasi lain.

Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kemenag, Tanoto Foundation berusaha terus menerus meningkatkan  budaya baca di sekolah-sekolah di daerah mitranya.  Tanoto Foundation di awal tahun 2019 ikut menyumbangkan buku bagi 44 sekolah-sekolah mitra SD dan MI yang ada di Balikpapan, Kutai Kartanegara dan Samarinda. Masing-masing sekolah mendapatkan 70 buku cerita, atau totalnya 3080 buku.(HG44/hms).


Temanggung, Harianguru.com – Dalam Seminar Nasional dan Call for Paper Lembaga Bahasa STAINU Temanggung bertajuk “Peran Akademisi di Era Revolusi Industri 4.0 dalam Mengembangkan IPTEKS” di aula STAINU Temanggung, Sabtu (6/4/2019), Dosen S3 Politik Islam-Ilmu Politik, Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Dr Hasse J, MA menegaskan bahwa akademisi khususnya di STAINU Temanggung harus menjadi pioner dalam pengembangan IPTEKS.

Pihaknya menegaskan, bahwa perkembangan era Revolusi Industri 4.0 begitu pesat, dan mencerabut kehidupan termasuk agama dan nilai-nilai luhur yang diwariskan ulama. “Seolah-olah, dunia virtual telah menggantikan peran agama. Jika dulu orang ada orang mati ya datang takziyah, sekarang cukup kirim gambar tanda duka, ini harus dijawab dan diantisipasi agar agama tidak ditinggalkan generasi milenial,” beber jebolan Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM yang mewakili pembicara Prof Irwan Abdullah tersebut.

Pihaknya berharap, bahwa akademisi perlu melakukan inovasi terutama dalam mepertahankan nilai-nilai agama karena saat ini eranya adalah pos truth, antara yang hoaks dengan yang benar beda tipis. “Kita perlu bekerja kolektif, baik melalui pengembangan IPTEKS maupun melakukan inovasi dalam mempertahankan nilai-nilai agama,” beber pria kelahiran Bolabulu, Sidrap 09 September 1976 tersebut.

Dalam menjawab era pos truth ini, menurut pria tersebut, akademisi harus mengomparasikan agama dan teknologi. Sebab, kata dia, saat ini agama dan teknologi sangat berpotensi dijadikan propaganda asing khususnya penyebaran fitnah, ujaran kebencian, bahkan radikalisme.

Sementara itu, dosen Universitas Negeri Semarang Dr. Rochmad, MSi sebagai pembicara kedua mengatakan, untuk menjawab era Revolusi Industri 4.0 membutuhkan beberapa pendekatan. “Dalam pembelajaran, kita harus melakukan blended learning, pembelajaran berbasis daring. Ini harus dilakukan dan sudah dapat dilakukan karena boleh di atas lima puluh persen perkuliahan dengan memanfaatkan teknologi yang ada seperti SPADA,” beber dosen asal Temanggung tersebut.

Pihaknya juga menambahkan, akademisi harus dapat melakukan perkuliahan yang mengarah pada skill abad 21. “Selain itu, akademisi baik itu dosen atau mahasiswa harus dapat menerapkan berpikir kritis, berpikir logis, dan berpikir kreatif sesuai gradasinya,” tandasnya dalam seminar yang dimoderatori Kaprodi PGMI STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda tersebut.

Untuk menjawab Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, menurut Rochmad, akademisi harus memperkuat agama dengan cara memahaminya dengan benar. “Selain teknologi, kita harus bernalar, berlogika, bahkan akademisi harus punya amalan berupa hafalan Asmaul Husna, bahkan hafalan Quran sebagai solusi untuk menjawab era Revolusi Industri 4.0 ini, karena yang fisik itu pastik digerakkan yang metafisik,” beber dia.

Hadir dalam seminar itu Ketua STAINU Temanggung Dr. H. Muh Baehaqi, MM dan jajarannya serta ratusan mahasiswa, dan puluhan dosen, guru, akademisi yang telah mengikuti presentasi artikel hasil riset dalam Call for Paper yang dirangkai dalam kegiatan tersebut. (hg44).


Temanggung, Harianguru.com – Puluhan peneliti dari unsur dosen, mahasiswa Pascasarjana, guru, dan lainnya melakukan presentasi dalam forum Call for Paper yang dirangkai dengan Seminar Nasional bertajuk “Peran Akademisi di Era Revolusi Industri 4.0 dalam Mengembangkan IPTEKS” di ruang rapat STAINU Temanggung, Sabtu (6/4/2019).

Kegiatan tersebut digelar Lembaga Bahasa STAINU Temanggung yang dipimpin langsung moderator presentasi Rhindra Puspitasari, M.Pd., dengan didampingi reviewer Dr. Baedhowi, M.Ag., dan Hamidulloh Ibda, M.Pd.

Di sela-sela mereview, Dr. Baedhowi mengatakan di era Revolusi Industri 4.0, perlu mengintegrasikan hasil riset sesuai dengan perkembangan zaman agar tidak ahistoris. “Dari riset yang ada, perlu pengembangan sesuai disiplin ilmu masing-masing agar dapat memberi sumbangsih dalam dunia IPTEKS,” papar Pembantu Ketua I Bidang Akademik STAINU Temanggung tersebut.

Sementara itu, Hamidulloh Ibda juga mengatakan banyak naskah yang belum sesuai pedoman penulisan yang sudah ditentukan panitia. Untuk itu, kedalaman dan keluasan riset perlu dibenahi apalagi dari naskah yang masuk kebanyakan adalah hasil riset lapangan. “Sehingga impact dari riset lebih ditonjolkan daripada sekadar bermain teori,” kata peraih Juara I Lomba Artikel Nasional Kemdikbud 2018 tersebut.

Dalam laporannya, Ketua Panitia Call for Paper dan Seminar Nasional Zaidatul Arifah, M.Pd mengatakan bahwa banyak naskah artikel yang masuk dari berbagai kampus maupun institusi, dari unsur dosen, mahasiswa, guru, maupun peneliti unsur lain.

“Kami menerima naskah dari berbagai kampus. Selain internal STAINU Temanggung, ada dari Universitas Tidar Magelang, Unsiq Wonosobo, Universitas Sebelas Maret, IAIN Salatiga, STAINU Purworejo, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, Universitas Islam Batik Surakarta, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Peradaban Brebes, SDN Sampangan 01 Kota Semarang dan lainnya,” papar Zaidatul Arifah.

Dalam kesempatan itu, naskah dipresentasikan dan diberi masukan dari reviewer untuk diperbaiki. Ada naskah yang berbahasa Indonesia, Arab dan Inggris sesuai disiplin ilmu masing-masing. Usai presentasi, kegiatan dilanjutkan dengan seminar nasional yang diikuti ratusan peserta. (hg55/HI).


Semarang, Harianguru.com – Pada Kamis, (4/4/2019), Lembaga Pendidikan (LP) Ma`arif PWNU Jawa Tengah memulai kegiatan tahap pertama dengan merumuskan desain program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Guru Ma`arif Jawa Tengah. 

Kegiatan ini merupakan kemitraan antara LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah dengan Direktorat GTK Kementerian Agama RI.

Hadir dalam dalam kesempatan ini Tim Pengembang PKB Guru Direktorat GTK Kementerian Agama RI Bahris Salim. Adapun narasumber kegiatan ini adalah Manager Technical Assistance for Education Strengthening System (TASS) Abdul Munir, dan Konsultan Teknis TASS Kementerian Agama Ihsan. 

Hadir pula Ketua PWNU Jawa Tengah KH. Muzammil, Sekretaris PWNU Jawa Tengah Gus Hudalloh Ridwan Naim dan jajaran pengurus harian LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah.

Dalam kesempatan itu, Ketua PWNU Jateng KH Muzammil menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan kemitraan LP Ma`arif dan Kementerian Agama serta menyampakan ucapan terima kasih atas fasilitasi yang diberikan oleh tim TASS. “Kegiatan ini sangat penting mengingat bahwa mutu inilah yang dibutuhkan oleh guru-guru kita di Ma`arif,” papar KH Muzammil.

Sementara menurut Konsultan Teknis TASS Kementerian Agama RI Ihsan menyampaikabahwa ketika kementerian membuka ruang tersistem dan massif maka harus ada standar proses yaitu prencanaan, pelekasanaan, pemantauan dan evaluasi, dan pelaporan. 

Oleh karena itu tahapan-tahapan penyusunan perencanaan program harus dilalui dalam beberapa tahap agar sistemnya terbangun sampai siap untuk diimplementasikan,” katanya.

Ketua LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah, R. Andi Irawan mengatakan dalam penyususun perencanaan program ini LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah unsur yang terlibat sebagai tim perumus program adalah beberapa Ketua LP Ma`arif cabang, guru/kepala madasarah/sekolah, dosen, widyaiswara dan pengurus PW Ma`arif Jateng. 

“Komposisi tim perumus ini terdiri atas beberapa unsur yaitu akademisi, dari Balai Diklat, Kepala madrasah dan SMK, Ketua LP Ma`arif dan pengurus Ma`arif Wilayah,” ungkap dia.

Di akhir penjelasan tim TASS, menegaskan bahwa pertemuan ini akan berlangsung dalam beberapa tahap dan berkelanjutan sampai system terbentuk dan LP Ma`arif Jawa Tengah siap melaksanakan piloting dan desiminasi ke guru-guru maarif se Jawa Tengah. (HG44/Hi).

Kudus, Harianguru.com -Peserta didik KB Al-Azhar Jekulo kunjungi BPBD (Badan penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Kudus, Jumat 29/03/2019.

"Kunjungan diikuti 124 anak, terdiri atas Kelompok Persiapan A dan B," Terang Eni Misdayani, Penyelenggara KB Al-Azhar.

"Ini pertama kali, kami (red: KB Al-Azhar) berkunjung ke BPBD, " Ujarnya.

Tujuan daripada kegiatan ini, tak lain adalah mengenalkan secara dini pada anak, akan pentingnya tanggap bencana.

Dengan kunjungan ke BPBD ini, anak-anak mengenal berbagai macam bencana, mengetahui asal muasal terjadinya, dan penanggulanganya, bahkan anak dikenalkan berbagai macam alat keselamatan pada bencana" Jelas Eni Misdayani, Penyelenggara KB Al-Azhar.

Kegiatan ini di sambut baik Djunaedi, Sekretaris Dinas BPBD Kabupaten Kudus, di hadapan anak-anak, ia mengimbau agar tidak membuang sampah secara sembarangan, apalagi di sungai, akan mengakibatkan banjir," pesannya pada anak-anak.

Dipandu oleh Johan dan Abdul Jalil, anak-anak di putarkan film edukatif, menanggapi perihal bencana dan cara mengatasi, mereka menyerukan pada anak-anak agar tak panik, sekalipun dalam keadaan darurat bencana.

Selain itu, anak-anak Al-Azhar juga di ajak simulasi dan praktik langsung di halaman, untuk memadamkan api.

Dari truck tangki BPBD, bersama Agung Hartono, dkk, anak-anak KB Al-Azhar di ajari menggunakan helm safety, rompi, memegang selang, dan cara menyemprotkan air yang tepat pada titik api.

"Saya senang berkunjung, bermain dan belajar di BPBD Kudus," Tutur Abraham Arya Satya



Bahkan, dengan tanggap, ia bertanya pada Abdul Jalil, sewaktu melihat Gudang Logistik BPBD, "saya minta nomor telepon BPBD, Pak?" Tanggap Arya. (Fakhrudin)

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Semenjak Tanoto Foundation bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kemenag mengenalkan skenario pembelajaran memakai unsur MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi), banyak guru di Kaltim yang kreatif dalam mengajar. Mereka berusaha membuat pembelajaran jadi menyenangkan dan sesuai karakter anak-anak. Salah satunya bu Lusi Ambarani, guru kelas II dari Madrasah Nahdatul Ulama Balikpapan. Ia mengajar pecahan pada siswa dengan memakai media kue enak yang  disukai anak-anak : kue donat.

“Ini adalah salah satu cara saya agar siswa menjadi senang belajar matematika. Kebanyakan siswa takut dengan matematika kalau kita mengajar tidak dengan cara yang menyenangkan dan sesuai karakter mereka,” ujar bu Lusi.

Nah bagaimana caranya ia mengajar pecahan dengan memakai donat? 
Pertama, ibu Lusi tidak langsung membagikan donat pada siswa, tapi lebih dahulu mengajak  mereka mengamati kertas biru yang  dia modelkan sebagai donat.  Ibu Lusi bertanya pada para siswa, kalau ia memiliki donat yang harus dibagi adil pada salah satu siswa, maka apa yang harus ia lakukan? Para siswa  menjawab donat tersebut harus dibagi dua.

Setelah itu, ibu Lusi menempelkan kertas biru tersebut di papan tulis dan meminta siswa menentukan berapa besar jadinya dari salah satu bagian donat tersebut. Para siswa langsung menjawab setengah bagian. Ibu Lusi kemudian menuliskan angka  ½ di papan tulis dan mengajarkan bahwa yang diatas disebut pembilang dan yang dibawah disebut penyebut dalam sebuah pecahan.

Selanjutnya ibu Lusi  mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengarahkan siswa mengerti 1/4, 1/5 dan seterusnya.  Misalnya dengan pertanyaan “Ibu punya selembar kertas berbentuk lingkaran dan mau dibagi 4 sama rata? Berapakah nilai masing-masing kertas yang telah dibagi empat?” 

Setelah siswa mengerti konsepnya, mereka dibagi menjadi lima kelompok. Kali ini ibu Lusi benar-benar memberikan mereka kue donat dan pemotongnya. Masing-masing kelompok diberi tugas membagi donat berdasarkan angka pecahan yang ia berikan. Tiap kelompok mendapatkan angka yang berbeda-beda, misalnya 1/7, 1/8, 1/9 dan seterusnya.
Disinilah waktu yang amat menyenangkan, para siswa memotong-motong kue donat yang diberikan sesuai angka pecahan yang diberikan. Mereka sangat antusias!

Apalagi setelah selesai kegiatan itu, para siswa diajak saling mengunjungi hasil kerja kelompok. Difasilitasi oleh ibu Lusi, para siswa mengoreksi pekerjaan  kelompok lainya. Dengan saling berkunjung seperti ini, siswa sambil bermain diajak bu Lusi untuk memahami apa yang ia kerjakan dan dikerjakan temannya.

“Siswa gembira sekali mengunjungi hasil karya teman-temannya. Apalagi setelah itu, kue kue yang dijadikan media belajar dimakan bersama-sama, mereka begitu gembira!” cerita  bu Lusi tentang siswa-siswanya.  

Namun permainan belum selesai.  Untuk menguji kemampuan siswa, bu Lusi juga meminta siswa secara individu membuat sendiri soal pecahan dan membuat gambarnya. 
Karena sudah mengetahui konsep yang diajarkan, siswa sangat cekatan menjawab. Salah satu siswa misalnya menuliskan angka 1/3, kemudian menggambar sebuah persegi panjang, lalu dibagi menjadi 3 bagian sama besar. Adapula yang menuliskan bilangan 1/10 dan menggambar sebuah lingkaran yang ia bagi menjadi 10 bagian, layaknya pizza.
“Anak-anak menikmati sekali pembelajaran matematika dengan cara begini. Mereka gembira sekaligus cepat mengerti,” kata bu Lusi antusias.

Mengutip penelitian INAP Kemendikbud tahun 2016, Indonesia dikategorikan masuk kondisi darurat matematika. 77,6 persen siswa SD di seluruh Indonesia memiliki kompetensi matematika yang sangat rendah,  20,58 cukup dan hanya 2,29 persen yang kategori baik. Hal ini disinyalir salah satu sebabnya adalah karena kurangnya kemampuan metodologi pembelajaran matematika oleh guru. “Model pembelajaran yang ibu Lusi lakukan perlu disebarluaskan,  agar siswa semenjak dini menyukai matematika, pelajaran yang seringkali jadi momok bagi para siswa, “ ujar Mustajib, Communication Specialist Tanoto Foundation Kalimantan Timur. (HG44/Hms).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget