Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

2019


Wonosobo, Harianguru.com - Hari ini, Senin 30 Desember 2019, Yayasan Al Madina mengadakan pelatihan bagi para asatidz SD Al Madina Wonosobo, Jawa Tengah.

Pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan asatidz menghadapi semester II dengan lebih baik lagi, ujar Ustadzah Enci Lu'luul Khasanah,S.Pd selaku Kepala Sekolah SD Al Madina.

Acara ini dibuka langsung oleh Dr. H. Ngarifin Shidiq,M.Pd.I Ketua Yayasan Al Madina dan Ketua PCNU Kabupaten Wonosobo.

Menurut beliau setiap asatidz Al Madina harus lebih baik lagi dan tidak boleh berpuas diri dan menganalisis menggunakan SWOT.

Kegiatan dengan tema Remidial dan Pengayaan ini dipimpin oleh Ruslaeni,S.Pd,MM.Pd. Beliau menjabat sebagai Kepala Sekolah SD 5 Wonosobo.

Semoga acara hari ini berjalan dengan baik, dan bermanfaat bagi seluruh asatidz SD Al Madina,Aamiin. Al Madina Excellent. (hg12/tofan)

Wonosobo, Harianguru.com - Bertempat di SMP Almadina Wonosobo pada hari Jumat tanggal 26 Desember 2019 dilangsungkan Diklat Gerakan Literasi Ma'arif (GLM) yang di ikuti oleh 4 kabupaten yaitu Wonosobo, Banjarnegara , Magelang dan Temanggung.

Pembukaaan GLM dibuka langsung  oleh PWNU jateng yang dimulai jam 10:00 . Dihadiri juga Dr. H Abdul Majid M.Pd. selaku Ketua LP Ma'arif wonosobo, Edi Rohani M.Pd.I, tim pemateri PWNU Jawa Tengah, sektetaris PCNU Wonosobo Dr. H. Mushofa MP.d.

Acara di mulai jam 13:00 dalam sesen pertama  yang di isi oleh Bapk M Igbal Nawawi para peserta wajib membuat laporan kegiatan GLM yang sedang berlangsung.(hg44).

Wonosobo, Harianguru.com - Rinai hujan mengguyur bumi Wonosobo sejak jam 12 siang tadi. Tanah becek dan hawa dingin tak menyurutkan semangat para guru untuk tetap ngangsu kaweruh dalam diklat pendidikan dan literasi oleh LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah bekerja sama dengan direktorat Guru dan tenaga kependidikan Kementrian  Agama Republik Indonesia.

Acara dengan tema Gerakan Literasi Ma'arif ini membuat hidup lantai tiga gedung SMP Almadina Boarding School Wonosobo pada tanggal 27-28 Desember 2019. Sebanyak 50 peserta yang merupakan perwakilan dari sekolah di berbagai daerah di Jawa Tengah hadir dalam gerakan literasi ini.

Mereka begitu antusias mengingat acara seperti ini masih jarang ditemui. Tentu saja bersama Narasumber yang mumpuni, rundown acara mulai dari opening hingga materi penulisan berita, essai, puisi dan praktek penukisan begitu semarak.

Dengan harapan besar dari Ketua PCNU dan seluruh pengurus besar Nahdlotul Ulama, agar Guru sebagai tonggak pendidikan yang mencerdaskan anak bangsa harus punya wawasan luas, terutama dalam bidang jurnalistik.

Guru sebagai yang digugu dan ditiru jika ingin anak didiknya gemar membaca, ia sendiri harus bisa membiasakan diri dengan membaca banyak buku. Membaca dan menulis tidak akan pernah terpisahkan. Karena pembaca ulung juga pasti bisa menulis. (HG44).

Wonosobo, Harianguru.com - Menurut pemateri Diklat Literasi Gerakan Literasi Ma'arif (GLM), Junaidi Abdul Munif, ternyata menulis itu bukan dari bakat, meskipun banyak orang pandai menulis karena bakat.

Hal itu diungkapkan Tim GLM LP Ma'arif PWNU Jateng Junaidi Abdul Munif dalam Diklat GLM Wonosobo yang digelar mulai 27  sampai 28 Desember 2019

"Bisa jadi bakat menulis cuma 1% saja selebihnya karena kemauan, kerja keras dan banyak membaca. Buku-buku dari para pakar pendidikan atau para novelis bisa dijadikan referensi," kata Junaidi Abdul Munif.

Ia mengatakan untuk mereka yang ingin memulai belajar menulis bisa mengikuti langkah-langkah berikut: Epigon/pengikut, banyak membaca, banyak referensi, memiliki komunitas, dan yang terpenting memiliki kemauan yang kuat. Silahkan para pemula bisa mengikuti langkah-langkah di atas. (Hg44/Sri Muktiningsih)

Wonosobo, Harianguru.com - LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah mengadakan pelatihan literasi dengan judul "Gerakan Literasi Maarif"

Acara ini bertujuan meningkatkan kemampuan para peserta dan pemahaman dasar dalam hal literasi

Meski mendung menyelimuti SMP Al Madina di pagi ini tampak para peserta antusias,ini terbukti dari 60 peserta hadir dalam pelatihan ini.

Acara yang berlangsung 2 hari mulai tanggal 27-28 desember 2019 ini diikuti dari beberapa daerah sekitar kota berkabut ini,ada dari Wonosobo, Banjarnegara, Temanggung, dan Magelang.

Selain antusias dari para peserta, dan tamu undangan juga ikut hadir dalam acara ini seperti ketua maarif PWNU,Ketua PCNU,dan ketua LP ma'arif wonosobo ikut memberikan sambutan dan motivasi di acara ini.

Semoga acaranya berjalan dengan baik dan menjadi acuan di kabupaten selanjutnya.bravo LP ma'arif (hg44/tofan) .

Banjarnegara, Harianguru.com -Dalam rangka pengembangan madrasah dan sekolah Inklusi di Jawa Tengah, Lembaga Pendidikan Ma`arif (LPM) PWNU Jawa Tengah pada Minggu – Selasa 22-24 Desember 2019, menggelar Training of Trainer (ToT) Tahap I Fasilitator Inklusi. Kegiatan di laksanakan di Hotel Surya Duta Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah. Hadir sebagai Nara Sumber dari INOVASI Muhammad Taufiq dari Probolinggo dan Heri Setiawan dari NTB.

Koordinator Program Inklusi LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah Fakhruddin Karmani mengatakan bahwa ada 22 peserta calon fasilitator pendidikan inklusiyang terdiri atas unsur guru SLB, kepala madrasah dan sekolah Inklusi, Pengawas Madrasah dan Sekolah, Komunitas Inklusi dan pengurus LP Ma'arif PWNU Cabang dan Wilayah.

Lebih lanjut Fakhruddin menyampaikan bahwa calon fasilitator ini akan memiliki peran strategis dalam pengembangan dan desiminasi program Inklusi Ma`arif di Jawa Tengah. “Saat ini kami sedang bermitra dengan UNICEF untuk piloting madrasah inklusi di 4 Kabupaten (Banyumas, Kebumen, Brebes, Kab. Semarang). Dengan terbentuknya tim fasilitator ini, kedepan LP Ma`arif akan secara mandiri mengembangkan dan mendesiminasikan program ke Kabupaten lain. Harapannya semua Madarsah/Sekolah Ma`arif di Jawa Tengah mengenal pembelajaran yang inklusif dan saatnya nanti semua siap memberikan layanan pembelajaran kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)," ujar dia.

Sebagai informasi bahwa saat ini LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah telah menyelesaikan pendataan/identifikasi terhadap jumlah ABK yang sekolah di bawah naungan LP Ma`arif Jawa Tengah. Dari 80% data yang masuk tercatat 1.477 ABK di 25 Kabupaten Kota dari 35 Kabupaten/Kota.

“Data ini masih akan berkembang dan harapan kami 35 kab/kota bisa terselesaikan. Dari data sementara Kab. Pekalongan yang paling tinggi ABKnya” lanjut Fakhruddin.

Tugas Fasilitator
Dalam pengantar kegiatan pembukaan ToT, tim Program Kemitraan LP Ma`arif NU Jawa menyampaikan beberapa tugas fasilitator Inklusi LP Ma`arif NU Jawa Tengah. Pertama, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan perencanaan, implementasi, dan pendampingan dan pengambangan Madrasah berbasis inklusi di LP Ma`arif Wilayah dan LP Ma`arif Cabang. Kedua, menfasilitasi pelatihan-pelatihan di Madrasah Inklusi yang mencakup pengembangan bahan/materi/modul, fasilitasi pelatihan dan pendampingan. Ketiga, mendukung Tim pengembang untuk mendokumentasikan pendekatan pembelajaran berbasis inklusi dengan pendekatan berbasis Gugus (forum KKG/MGMP/KKM). Keempat, mengimplementasikan penguatan pendidikan karakter ASWAJA An-Nahdliyah dalam setiap pelaksanaan kegiatan pelatihan di madrasah-madrasah baik dalam pelatihan maupun pendampingan.

Sedangkan peserta ToT Fasilitator Inklusi tersebut terdiri atas guru, kepala madrasah dan sekolah inklusi, dosen dan psikolog, pengawas SLB, komunitas inklusi, pengurus LP Ma'arif PCNU Banjarnegara, dan pengurus LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah. (Hg88).

Banjarnegara, Harianguru.com - Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jawa Tengah dan UNICEF menggelar Training of Trainer (ToT) Fasilitator Inklusi yang resmi dibuka pada Ahad (22/12/2019) dan akan berakhir Selasa (24/12/2019). Kegiatan yang bertempat di Madukara Room Hotel Surya Yudha Jl. Raya Rejasa, Rejasa, Banjarnegara.

Dalam sambutannya, Ketua LP Ma'arif PCNU Banjarnegara Hendro Cahyono mengatakan pihaknya tersanjung karena Banjarnegara dijadikan tempat ToT. "Anak-anak berkebutuhan khusus memang layak mendapat perhatian. Pemerintah Banjarnegara, dari data ada 3 SLB dan 15 sekolah inklusi namun belum maksimal. Dengan adanya ToT ini, kami berharap ke depan pendidikan inklusi di Banjarnegara semakin baik," beber dia.

Semoga acara ini lanjar, lanjut dia, dan bermanfaat bagi ABK karena mereka adalah anak-anak kita, generasi muda kita.

Ketua LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan mengatakan bahwa peserta sekitar 30 orang ini adalah calon fasilitator pendidikan inklusi. 

Andi juga mengatakan, LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah memiliki beberapa program. Salah satunya adalah SIMNU yang di dalamnya tahun ini menemukan data ABK se Jawa Tengah. "Data ini menjadi dasar pemetaan apa saja yang akan dilakukan untuk perbaikan ke depan," lanjut dia.

Salah satu program LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah adalah sekolah dan madrasah inklusi. "Kami (LP Ma'arif PWNU Jateng) yang bermitra dengan UNICEF merasa prihatin karena data ABK di Indonesia masih tinggi. Maka kami bersama UNICEF ingin mewujudkan hak pendidikan, hak sosial, hak ekonomi yang ini sesuai spirit nilai Mabadi Khaira Ummah yang salah satunya keadilan, al-adalah," kata dia.

Beberapa kegiatan berjalan lancar di kabupaten/kota yang dijadikan piloting sekolah dan madrasah inklusi telah berjalan maksimal. "Spirit keadilan pendidikan ini adalah ruh agama. Maka nanti ketika misalnya kemitraan LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah dan UNICEF berakhir, pengurus LP Ma'arif harus melanjutkan program inklusi ini karena ini sesuai spirit agama, undang-undang dan kemanusiaan," lanjut dia.

Pihaknya juga menekankan, semua program inklusi tersebut klimaksnya adalah masyarakat inklusif. "Ini membutuhkan paradigma mendasar, karena memandang ABK itu butuh paradigma yang benar. Jika sudah benar, maka untuk mewujudkan inclusive society akan dapat kita capai," katanya.

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan ToT Fasilitator Inklusi yang diisi narasumber dari UNICEF dan INOVASI. Sedangkan peserta ToT Fasilitator Inklusi tersebut terdiri atas guru, kepala madrasah dan sekolah inklusi, dosen dan psikolog, pengawas SLB, komunitas inklusi, pengurus LP Ma'arif PCNU Banjarnegara, dan pengurus LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah. (Htm88/H. Ibda).

Temanggung, Harianguru.com - Untuk meningkatkan kompetensi Kepala Madrasah khususnya Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) di wilayah Kabupaten Temanggung, selama 6 hari mulai tanggal 26 Nopember – 30 Nopember 2019 , Kelompok Kerja Pengawas ( Pokjawas) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Temanggung bekerjasama dengan Balai Diklat Keagamaan Semarang, mengadakan Pendidikan dan Pelatihan Teknis Substantif Kepala Madrasah, bertempat di MTsN 1 Temanggung.

Kegiatan tersebut diikuti 79 peserta kepala MI, di wilyah binaan Kecamatan Tretep, Wonoboyo, Bejen, Candiroto, Parakan, Kledung, Bansari, Ngadirejo , Jumo, Bulu, Tlogomulyo dan Kaloran, di antaranya Mahfud,S.Pd.I, Kepala MI An-Nur Sigedong yang juga mengikuti Diklat tersebut.

Selama 6 hari peserta mendapat materi tentang Kompetensi Kepala Madrasah, Kepemimpinan, Tata Persuratan, Penilaian Kinerja Guru dan Kepala Madrasah, EDM serta Penyusunan RKAM.
Materi disampaikan oleh para Widyaiswara dari Balai Diklat Keagamaan Semarang.
Saefudin,M.Pd. selaku Kepala Kantor Kementerian Kabupaten Temanggung dalam sambutan Pembukaan diklat tersebut mengatakan kegiatan seperti ini sangat penting, guna membekali kepala Madrasah dalam mengelola sebuah lembaga pendidikan.

Lebih lanjut Saefudin megatakan Keberhasilan proses belajar mengajar membutuhkan peran berbagai pihak, salah satunya Kepala Madrasah, bahkan kepala madrasah berperan penting sebagai pemimpin dalam manajemen madrasah, termasuk mengatur guru dan siswa.

Mahfud, S.Pd.I Kepala MI An-Nur Sigedong mengatakan dengan adanya Diklat Teknis Substantif Kepala Madrasah Kab. Temanggung, yang dilaksanakan dari tanggal 26-30 November 2019. "Banyak sekali ilmu dan pengalaman yang kami dapatkan, bagi kami selaku Kepala Madrasah akan berusaha melaksanakan apa yang telah kami dapatkan selama Diklat, namun kiranya untuk dapat melaksanakanya kami selalu mengharapkan dukungan dan support dari berbagai pihak, guna untuk membawa madrasah yang lebih baik, dan terciptanya madrasah hebat bermartabat," katanya.

Miftahul Hadi, MPd Ketua Panitia Diklat dan Ketua Pokjawas Kabupaten Temanggung mengatakan untuk MI an-Nur Sigedong yang relatif masih baru, cari spesifikasi kelebihan sebagai mode/ brending, sesuai dengan potensinya, missal tahfidz. "Kondisikan internal guru dengan baik, walaupun masalah kesejahteraan belum seperti yang diharapkan. Ciptakan image positif di masyarakat. Untuk itu apa yang kemarin diterima pada saat Diklat untuk segera dilaksanakan. Mulai dari analisa EDM sampai dengan RKM/RKT. Terus berusaha, tidak ada kata besok menunda waktu, harus mulai saat ini, mulai dari diri sendiri, jika semua pengelola kompak satu kata satu langkah, maka pasti akan menuai hasil yang tinggi. Selamat berjuang," katanya.

Pada kesempatan lain M. Farokhi, S.Ag selaku Pengawas Pendidikan Agama Islam Kecamatan TretepWonoboyo mengharapkan kepada Mahfud, S.Pd.I Selaku Kepala Madrasah Ibtidaiyah An-Nur Sigedong harus memiliki kompetensi yang memadai untuk menggerakkan dan mengembangkan semua potensi yang ada di madrasah, kepala Madrasah benar-benar harus meningkat kompetensinya baik kompetensi Kepribadian, Kompetensi manajerial, Kompetensi Kewirausahaan, Kompetensi Supervisi dan kompetensi sosailnya. "Sehingga dapat mewujudkan Madrasah yang Hebat dan madrasah yang bermartabat sesuai harapan masyarakat," pesannya. (Hg44).

Suasana deklarasi
Kebumen, Harianguru.com - Kabupaten Kebumen mendeklarasikan diri sebagai Kabupaten Inklusi. Bupati Kebumen KH. Yazid Mahfudz membacakan naskah deklarasi dihadapan ribuan peserta deklarasi.

Hadir dalam Deklarasi Kebumen Inklusi Chief of Field Office UNICEF Arie Rukmantara dan tim UNICEF, Ketua LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah Ratna Andy Irwan dan Jajaran Pengurus, para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Kebumen, Tokoh Masyarakat, Para Penyandang Difable dan ABK, Serta madrasah dan sekolah inklusi di Kebumen, Jumat, 6 Desember 2019.

Dalam sambutannya, Bupati Kebumen menyampaikan apresiasinya dan ucapan terima kasihnya kepada para pihak dan tokoh pemerhati inklusi yang sudah mendorong Kabupaten Kebumen inklusi.

“Saya sampaikan terima kasih kepada LP Ma`arif NU Jateng dan UNICEF yang telah hadir dan membantu menuju Kabupaten Inklusi serta para tokoh pemerhati inklusi," demikian disampaikan Bupati.

Dalam kesempatan tersebut Bupati juga berharap agar semua OPD dan dinas-dinas harus siap memberikan pelayanan yang inklusif kepada publik. Bahkan semua OPD di Kabupaten Kebumen diharapkan bisa menerima pegawai baik yang honorer maupun PNS yang difable sebagaimana amanat undang-undang.

Chief of Field Office UNICEF Arie Rukmantara menyampaikan apresiasi atas lahirnya perangkat-perangkat pendukung inklusi seperti SK bupati tentang Komite Perlindungan Penyandang Disabikitas, adanya forum komunikasi difable yang pimpin anak muda, kemudian ada 3 Dinas di Kabupaten Kebumen yang yang sudah melangkah membangun fasilitas-fasilitas yang ramah difabel.

Arie Rukmantara juga menyampaikan terima kasih kepada LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah yang selalu progresif ketika ditawarkan inovasi baru dan selalu menyambut karena madrasah inklusi ini menjadi hal baru yang sangar bagus.

“Terima kasih Pak Bupati suatu saat kami ingin hadir dengan penghargaan yang berbeda dengan indikator yang berbeda untuk melihat kemajuan Kebumen. Kami ingin melihat angka partisipasi belajar, angka aksestabilitas penyandang disabilitas ke sekolah naik, angka pertumbuhan ekonomi naik, angka pengangguran yang turun. Ketika itu terjadi nanti kami akan datang pak dan menunjukkan kepada dunia bahwa ada cara bagi kabupten yang katanya punya prestasi dibawah secara ekonomi tetapi bisa naik ke atas. Olahraga Inklusi ini untuk menunjukkan bahwa kita bisa bermain bersama dan berkolaborasi bersama karena lapangan kerja abad 21 adalah lapangan kerja yang tidak mengenal diskriminasi bahkan saat ini sudah ada CEO yang berkebutuhan khusus,” demikian disampaikan Arie.

Sementara Ketua LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah Ratna Andi Irawan, meyampaikan bahwa LP Ma`arif Jawa Tengah merasa ikut terpanggil melihat realitas masyarakat difabel yang kurang mendatkan perhatian dari pemerintah. Menurut Andi sudah dua tahun ini LP Ma`arif NU Jawa Tengah sudah bekerjasama dengan UNICEF melakukan program madrasah inklusi di Jawa Tengah.

“Saat ini sudah ada 17 madarsah Ma`arif yang sudah kami deklarasikan sebagai madrasah Inklusi yang hari ini juga hadir di belakang di stand-tand yang ada. Silahkan nanti bisa dilihat dan bertanya apa saja yang sudah dilakukan dan dipersiapakan menjadi madarsah inklusi," demikian ungkap Andi.

Sebagai informasi, bahwa kegiatan Kebumen inklusi ini diramaikan dengan stad-stand sekolah dan madrasah inklusi. 4 Madrasah LP Ma`arif inklusi mitra UNICEF yang hadir adalah (MTs Ma`arif Karangsambung, MI Ma`arif Kemangguhan, MI Ma`arif Sidumulyo Ambal, MI Ma`arif NU + Jatinegara dan dihasiri satu SDN Suroturunan sebagai mitra LP Ma`arif).

Hadir Juga SDLB Kabupaten Kebumen dalam stand inklusi serta dari Rumah Inklusif Kebumen.

Selain stand dan pameran inklusi salah satu hal menarik lainnya adalah 4 Madrasah Inklusi LP Ma`arif menampilkan permainan futbolnet atau olahraga Inklusi (sport festival inclusion) yaitu bermain kolaborasi antara Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan non ABK dalam berbagi ragam permainan.

"Di sinilah nilai dari inklusi dan pameran hari ini. Kita tunjukkan bahwa pendidikan inklusi yang dikembangkan madrasah Ma`arif ini akan menjadi contoh dalam setiap pembelajaran di Madrasah/sekolah. Kita mengajarkan kebersamaan dan kesamaan dalam hidup tanpa ada batas dan bulliying. Semoga yang hadir dan melihat permainan ini bisa terprovokasi dan membangkitkan semangat inklusif terutama para pendidik,” ujar Fakhruddin Karmani Manager Program Madrasah Inklusi LP Ma`arif NU Jawa Tengah. (Hg77/HI).

Kebumen, TABAYUNA.com - Kementerian Agama RI melalui Kasubdit Kerjasama dan Kelembagaan kementeran Agama RI Dr. Abdullah Faqih, MA., M.Ed, melakukan monitoring program Madrasah inklusi di Kabupaten Kebumen. Dalam Forum FGD yang dihadiri oleh Perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, Pengurus LP Ma`arif PWNU Jateng dan PCNU Kebumen, Kepala Madrasah, Komite, Guru Pembimbing Khusus (GPK) ABK, menyampaikan apresiasi dan bangga kepada LP Ma`arif Jateng yang sudah menggerakkan madrasah menjadi inklusif.

“Kami merasa bangga dan senang bisa hadir ditengah-tengah Bapak/Ibu semua. Dan jujur yang menggerakkan saya hadir kesini adalah karena ini tentang inklusif. Masih banyak orang yang menganggap inklusif bukan program yang diunggulkan padahal Ini program yang sangat mulia dan mari kita populerkan ke masyarakatkan agar kita bisa menjamin bahwa pendidikan itu tidak hanya dinikmati oleh orang-orang kaya/kota, dan pendidikan harus dimiliki semua” ujar Faqih pada Sabtu 30 November 2019.

Lebih lanjut Faqih menyampaikan bahwa saaat ini Kementerian Agama RI sedang dalam proses penyelesaian Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang disabiltas/pengelolaan madrasah inklusi. Namun demikian pihaknya memastikan agar layanan Anak Berkebutuhan Khusu (ABK) di madarasah dan juga esejahteraan Guru Pembimbing Khusus (GPK) akan menjadi prioritas perhatian.

“Hasil monitoring ini akan kami jadikan bahan diskusi dengan tim di Jakarta agar kami segera menyelesaikan PMA dan segera mensosialisasikan ke kementerian agama kabupaten agar semua madrasah khsusunya Madrasah Negeri harus inklusif dan tidak boleh menolak anak ABK. Terima kasih kepada LP Ma`arif Jateng yang sudah jauh melangkah tanpa menunggu regulasi/peraturan dari Kemenag. Ini patut di apresiasi” Demikian disampaikan Dr. Faqih.

Menurut Fakhruddin Karmani, Wakil Ketua LP Ma`arif Jateng sekaligus Program Manager Inklusi LP Ma`arif Jateng menjelaskan bahwa saat ini LP Ma`arif Jateng sudah mendampingi 17 Madarsah di 4 Kabupaten (Semarang, Kebumen, Banyumas, Brebes) dan mendesiminasikan ke 11 Sekolah dan Madrasah tentang pengelolaan Madrasah/Sekolah Inklusif.

“LP Ma`arif Jateng telah mendeklarasikan 17 Madrasah Inklusif dan kami SK kan, sehingga 17 madrasah ini bisa menjadi rujukan masyarakat yang memiliki anak berkebutuhan khusus menyekolahkan anaknya. Harapan kami kedepan anak-anak berkebutuhan khsus terutama di Jawa Tengah akan memiliki kesempatan yang sama memperoleh layanan pendidikan Formal” ungkap Fakhruddin.

Kepala MI Ma`arif Sidomulyo Ambal, Amin Masruri, M.Pd menjelaskan bahwa saat ini MI Ambal sebagai Madarsah Inklusif telah banyak menerima manfaat dari pendampingan yang dilakukan oleh LP Ma`arif NU Jateng – UNICEF. Salah satu indikator adalah kenaikan Jumlah siswa terutama anak ABK. Sejak didampingi LP Ma`arif perkembangan madrasah kami semakin pesat. Awalnya kami hanya menerima siswa ABK 3 orang dan saat ini kami memiliki 14 ABK. "Alhamdulillah setelah LP Ma`arif Jateng meyakinkan kami untuk melaksanakan madrasah Inklusif kami semakin semangat. Terima kasih kepada Kemenag RI yang sudah memberi bantuan dana kepada kami pada tahun ini. Sehingga kami bisa melengkapi fasilitas layanan untuk anak ABK dan juga peningkatan kapasitas guru kami” demikian disampaikan Amin Masruri.

Sebagai informasi, MI Sidomulyo adalah salah satu Madrasah di Jawa tengah yang menerima bantuan dana dari kementerian Agama Ri untuk dukungan penyelenggaraan program madrasah inklusi. (Hg77/FK).

Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka memajukan literasi Indonesia, salah satu kampus yang berada di Kota Tembakau, STAINU Temanggung mengadakan Seminar Literasi, Pengumuman Juara Lomba Cipta Puisi 2019, dan Peluncuran Antologi Puisi "Nasionalisme" pada Sabtu, (30/11/2019) pagi hingga siang hari ini. Lebih tepatnya. Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Bahasa STAINU Temanggung di aula kampus. Lembaga Bahasa STAINU Temanggung bekerja sama dengan berbagai pihak dalam penyelenggaraan acara tersebut.

Pembukaan disambut dengan penampilan Pencak Silat Pagar Nusa dari MA Hidayatullah Temanggung. Dengan 330 peserta di aula STAINU Temanggung, serentetan acara mulai dari pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, menyanyikan lagu Indonesian Raya, Mars Subbanul Wathon, Mars STAINU Temanggung, sambutan-sambutan, dan doa penutup berjalan dengan lancar.

Dalam sambutannya, ketua STAINU Temanggung, Dr. H. Muh. Baihaqi M.M., memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Lembaga Bahasa selaku penyelenggara acara, panitia kegiatan, dan seluruh peserta seminar maupun lomba cipta puisi 2019. Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan tersebut diharapkan dapat berjalan dengan lancar dan membuahkan hasil yang nyata.

Andrian Gandi Wijanarko, M.Pd., selaku ketua panitia penyelenggara kegiatan tersebut menyampaikan dalam sambutannya, "Acara ini diharapkan dapat memberikan pengaruh yang lebih baik ke depannya, baik itu secara estetika maupun tingkah laku kita semua dalam bermasyarakat."

Acara seminar literasi dimoderatori oleh Hamidulloh Ibda, S.Pd.I., M.Pd., dan Muhammad Rois Rinaldi selaku pemateri utama yang juga merupakan sastrawan terkenal dari Jawa Barat. Ia pernah menerima banyak penghargaan seputar literasi dari berbagai penjuru seperti Malaysia, Kuala Lumpur, Serang, dan lain-lain. Rois Rinaldi sendiri pada kesempatan hari ini banyak mengupas berbagai hal tentang karya sastra berupa puisi. Baik itu dari segi diksi (pilihan kata), estetika bahasa puisi, potongan kata, dan masih banyak lagi.

Dalam rangka Lomba Cipta Puisi 2019 yang diadakan oleh Lembaga Bahasa STAINU Temanggung, bersama dua rekan dewan juri, Hamidulloh Ibda dan Niam At-Majha, Rois mengakui bahwa meskipun dibandingkan dengan tahun pertama yang menampung 130 penyair dan tahun kedua hanya 90 penyair, diksi dan estetika bahasa yang digunakan jauh lebih baik di tahun kedua ini. Rois juga menambahkan bahwa puisi akan berkembang sesuai dengan jaman.

"Pengetahuan tidak hanya seputar apa yang kita baca dalam buku, namun juga apa yang kita baca dalam hidup," tuturnya.

Salah satu pertanyaan menarik dari peserta seminar ialah bertanya tentang cara agar tulisan seorang penulis diminati banyak orang. Dengan lugasnya, Rois menjawab bahwa persepsi tersebut harus dihilangkan karena jika seorang penulis menciptakan sebuah karya, maka seorang penulis harus mendedikasikan hatinya untuk menunjukkan diri sendiri dalam karyanya pada manusia.

"Di situlah kita dan Indonesia benar-benar berada pada satu tarikan napas. Tidak ada lagi cinta yang diekspresikan dengan cara yang salah," tutup Rois dalam seminarnya.

Acara yang dikemas sempurna oleh Lembaga Bahasa STAINU Temanggung ini sangat membantu peserta dalam bersama memajukan literasi yang ada di Indonesia ini, khususnya lingkup yang sangat dekat dengan kita.

Acara yang paling ditunggu setelah seminar literasi tersebut adalah pengumuman pemenang Lomba Cipta Puisi 2019 tingkat Jawa Tengah dan DIY tema "Nasionalisme". Juara pertama diraih oleh Linda Lidyasari (SMKN 1 Temanggung) dengan judul Surat Buat Bapakku, juara kedua diraih oleh Andika (SMAN 1 Candimulyo) dengan judul Janji Pohon Kurma, juara ketiga diraih oleh Zahara Sania (MAN Debaito Sunan Plumbon) dengan judul Masa Kepahitan.

Adapun juara harapan satu oleh Misbahul Munir Septian (SMAN 1 Candimulyo) dengan judul Asa Jiwa, juara harapan dua oleh Rizal Iman Mubarok (MAN Debaito Sunan Plumbon) dengan judul Kelam, dan juara harapan tiga oleh Ardana Kartika Sari (SMAN 2 Temanggung) dengan judul Kausa Gelora.

Adapula empat kontributor puisi yang masuk ke dalam sepuluh besar yaitu Septian, Brahmada, Khusnul Kharomah (pengirim puisi pertama), dan Sofi Widiyanti. Sepuluh besar kontributor Lomba Cipta Puisi 2019 akan mendapatkan buku antologi puisi "Nasionalisme".

Sebelum ditutup, banyak dari peserta yang menunjukkan bakatnya melalui puisi-puisi karya sendiri maupun karya penyair. Dan lebih istimewa lagi, Rois Rinaldi bahkan membacakan puisi karya sang juara pertama, Linda Lidyasari.

Acara ini berjalan dengan lancar meskipun Effy Wahyuningsih, M.Pd. selaku ketua Lembaga Bahasa STAINU Temanggung, mengaku sempat khawatir jika aula tidak muat menampung 330 peserta. Namun, semua kendala telah teratasi dengan memaksimalkan ruangan aula tersebut.

Salah satu peserta seminar, Iis Narahmalia, mahasiswi STAINU Temanggung juga mengaku senang mengikuti acara ini karena sangat bermanfaat bagi jalannya literasi dalam negeri ini. Dia juga berharap bisa menjadi sastrawan seperti tokoh kita hari ini, Muhammad Rois Rinaldi. (Hg88/Novia/lpmgrip).

Suasana ToT
Semarang, Harianguru.com - Dalam rangka penguatan dan peningkatan kompetensi Guru Ma`arif NU Jawa Tengah, LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah melaksanan ToT In-2 Master Trainer Program Pengembangan Keprofessian Berkelanjutan (PPKB) Guru Ma`arif yang dilaksanakan selama 3 hari 22-24 Nopember 2019 di Kantor PWNU Jawa Tengah. Sebelumnya ToT In-1 PKB dilaksanakan pada 6-9 September 2019.

Menurut Koordinator Bidang Mutu LP Ma`arif Jateng sekaligus Wakil Ketua LP Ma`arif NU Jawa Tengah, Fakhruddin Karmani, Pelaksanaan ToT Master Trainer PKB Guru Ma`arif terlaksana atas dukungan dari Direktorat GTK Kementerian Agama RI dan dukungan dari tim TASS (Technical Assistance for Education Systems) dari pemerintah Australia. Dalam kegiatan ToT In-2, tim Pengembangan PKB Dir GTK yang hadir adalah Yun Yun Yunadi dan dari TASS Tjipto Prakosa.
 
“Sejak awal mulai dari Perencanaan sampai kegiatan ToT ini, kami selalu didampingi oleh Tim Pengembang PKB Guru Kementerian Agama RI dan tim TASS. Jadi inshaalloh tahapan yang kami lakukan sesuai dengan juknis atau panduan dari Kementerian Agama. Dan tahapan PKB Guru yang akan kami kembangkan ini berbasis Gugus/KKG/MGMP dan materinya menyesuaikan dengan kebutuhan dan juga mengacu Assesment yang akan dilakukan kepada Guru Ma`arif sebelum PKB," kata dia.

Sebagaimana direncanakan, bahwa output dari ToT In-2 ini adalah bahan/materi yang akan dikembangkan untuk melatih Tim Fasilitator/trainer Ma`arif Cabang. Selain itu fokus pada In-2 ini juga membekali para Trainer dengan konsep monitoring evaluasi dan penjaminan mutu.
 
Ketua LP Ma`arif NU Jawa Tengah, Ratna Andi Irawan dalam sambutan pembukaan menyampaikan bahwa salah satu fokus utama pengurus Ma`arif periode ini adalah pengembangan SDM, bahkan pihaknya juga telah menyiapkan infrastruktur maya untuk mewadahi dan optimalisasi layanan peningkatan mutu di sekolah/madrasah LP Maarif NU yaitu server data yang mengarah kepada layanan e-learning.

“karena PKB Guru yang akan kita lakukan nanti berbiaya mandiri, maka semua infrastruktur dan SDM harus benar-benar kita siapkan. Jika diperlukan setelah ToT In-2 ini ada pertemuan lagi oleh Master Trainer untuk menyiapkan lebih matang lagi pasti akan kami lakukan. Bahkan kami sudah mendesain Gedung di kantor PWNU Jawa Tengah menjadi ruang kelas yang standar untuk pelatihan dan juga penginapan yang memadahi. Kami juga sudah siapkan skema pembiayaan PKB di Ma`arif Cabang dengan model sharing antar Ma`arif Wilayah dan cabang” demikian tutur Andi.

Sebagain informasi, peserta/Master Trainer PKB Guru Ma`arif Jawa Tengah terdiri dari perwakilan instansi maupun unsur profesional seperti Pengawas Sekolah/Madrasah, Dosen, Guru dan kepala Madarasah/Sekolah dan dari Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Kemenag. Dengan demikian diharapakan semua potensi pengembangan Mutu bisa dilihat dalam banyak perspsktif dan benar-benar berbasis kebutuhan. (HG77/Ibda).


Semarang, Harianguru.com - Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar NU dan Ikatan Pelajar Putri NU Provinsi Jawa Tengah bergerak cepat dan merespon positif atas langkah yang telah diupayakan oleh Pimpinan Pusat IPNU dan IPPNU baru-baru ini. 

Jajaran IPNU dan IPPNU Jateng langsung menindaklanjutinya dengan menjalin kerjasama dengan LP Maarif PWNU Jateng yang tertuang dalam penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Jawa Tengah di Aula PWNU Jateng Lantai 3 Jl Dr Cipto No 180 Karangtempel Semarang, Jumat (22/11/2019).

MoU ini dilakukan di sela-sela pembukaan Training of Trainer Master Trainer Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PPKB) Guru Ma’arif NU Jawa Tengah.

MoU itu berisi tentang kerjasama pendirian dan pengembangan komisariat IPNU-IPPNU di setiap sekolah di bawah naungan LP Maarif NU. Hal ini sebagaimana dimuat oleh NU Online baru-baru ini. Tak hanya berupa MoU saja, kerjasama itu juga dilengkapi buku panduan pendirian Komisariat IPNU-IPPNU yang sudah tercetak di tingkat sekolah/madrasah Ma’arif yang sudah dibahas jauh-jauh sebelum antara tim IPNU-IPPNU dengan LP Ma’arif PWNU Jateng.

“MoU ini sebenarnya sebagai tahap akhir dari tahapan proses kerjasama antara LP Ma’arif PWNU Jateng dengan IPNU-IPPNU sejak beberapa bulan lalu dengan menyusun standar pendirian Komisariat IPNU-IPPNU di sekolah dan madrasah disertasi tentang pola pembinaannya sampai teknis,” kata Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng R. Andi Irawan.


Sebagaimana diketahui sebelumnya, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) dan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) tanda tangani nota kesepahaman (MoU) dengan Lembaga Pendidikan Maarif di Hotel Bintang, Jalan Raden Saleh, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

"Kita mengharapkan dukungan nyata dari LP Maarif Jateng dalam pendirian dan pengembangan komisariat IPNU dan IPPNU di Sekolah/Madrasah di bawah naungan LP Maarif NU Jawa Tengah, utamanya di 3.241 Sekolah/Madrasah sebagaimana data terbaru PW LP Maarif NU Jateng," ungkap Ferial Farkhan Ibnu Akhmad Selaku Ketua PW IPNU Jawa Tengah dalam kesempatan tersebut.

Penandatanganan tersebut turut dihadiri serta disaksikan Rois Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh bersama Khotib Syuriyah KH Hudallah Ridwan, serta Ketua PW LP Maarif NU Jateng Ratna Andi Irawan M.Ag, jajaran Tanfidziyah PWNU Jateng diwakili Prof Dr Musahadi selaku Wakil Ketua PWNU Jateng, kemudian Ketua PW IPPNU Jateng Sri Nur Ainingsih dan Wakil Komandan DKW CBP IPNU Jateng Ahmad Syukron.

Senada dengan Feri, Rekanita Ain, sapaan akrab Ketua PW IPPNU Jateng juga mengharapkan agar pasca penandatanganan ini ada langkah konkrit yang disinergikan bersama antara LP Ma'arif NU Jateng dengan PW IPNU dan IPPNU Jateng.

"Kita respon positif langkah ini, dan kami siap bersinergi untuk menindaklanjuti kerjasama ini" tutur Ain pasca pendatanganan MoU ditemani pengurus PW IPPNU Jateng lainnya, Asriyani Awaliyah dan Fitri Muhtadi.

Sementara itu, Andi Selaku Ketua PW LP Maarif NU Jateng menegaskan bahwa pihaknya dalam periode ini memang menggencarkan penguatan mutu kelembagaan LP Maarif NU Jateng dan komitmen atas kerjasama dilakukan pihaknya dengan IPNU dan IPPNU Jateng ini. Pernyataan ini juga dikuatkan oleh Mahmudi selaku Sekretaris PW LP Maarif NU Jateng.

"Pasca penandatanganan ini, kami akan segera agendakan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PW LP Maarif NU Jateng pada 15 Desember 2019 dan Rapat Kerja Dinas (Rakerdin) di 6 Titik Karesidenan Se Jateng, disana kami ajak PW IPNU dan IPPNU Jateng guna memaparkan dan mempresentasikan langkah atas program dan MoU ini dihadapan perwakilan PC LP Maarif NU Kabupaten/Kota se Jateng maupun segenaP Kepala Sekolah/Madrasah dibawah naungan LP Maarif NU," ungkap Mahmudi di hadapan pengurus PW IPNU dan IPPNU Jateng.

Adapun naskah kerjasama tersebut memuat tentang kesepakatan atas dukungan LP Maarif NU Jateng terhadap pendirian Komisariat IPNU dan IPPNU di Sekolah/Madarasah dibawah naungannya, pengawalan untuk pembinaan segenap dewan guru yang nanti akan dijadikan pembina Pimpinan Komisariat IPNU dan IPPNU, Ruang terbuka dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk utusan IPNU dan IPPNU menyampaikan materi Ke IPNU IPPNU an, dan memfasilitasi pengadaan modul materi serta panduan pendirian Komisariat IPNU dan IPPNU di Sekolah/Madrasah lingkungan LP Maarif NU. (hg44/A Halim Solkan).

Semarang, Harianguru.com - Bertempat di kantor PWNU Jawa Tengah, Training of Trainer Master Trainer Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PPKB) Guru Ma'arif NU Jawa Tengah resmi dibuka, Jumat malam (22/11/2019).

Dalam sambutannya, Wakil Ketua PWNU Jateng Prof. Dr. H. Musahadi, memberi banyak pesan pada Master Trainer PPKB Guru Ma'arif NU Jawa Tengah.

"Para master trainer ini orang pilihan. Maka perlu pencandraan, mendefinisikan perubahan zaman sekarang ke dalam pendidikan. Apa yang dapat ditransformasi Program PPKB ini harus sesuai dengan perkembangan zaman," beber dosen UIN Walisongo Semarang tersebut.

Kegiatan penyiapan generasi itu sangat strategis, lanjutnya, karena memiliki dampak atau impact yang luas. "Apa yang dilakukan LP Ma'arif NU Jawa Tengah, apa yang dilakukan PWNU Jawa Tengah, IPNU-IPPNU Jawa Tengah, LP Ma'arif se Jawa Tengah, dan masyarakat luas tentang pendidikan, baik fisik maupun nonfisik, harus didukung dengan maksimal," lanjut mantan Wakil Rektor UIN Walisongo tersebut.

Kunci menghadapi perubahan, menurut Prof Musa ada dua. "Pertama adalah keberanian kreativitas. Kedua keberanian inovasi," tegasnya.

Pihaknya juga menjelaskan, di LP Ma'arif NU, proses pembelajarannya harus meneladani Rasulullah, tidak cukup melalui berjanzen san dzibaan, namun harus meneladani moralitas, integritasnya, itu harus dilakukan sekuat tenaga.

Semua lembaga, organisasi, menurut Prof Musa akan dapat bertahan, dan berkembang ketika dapat menyesuaikan dengan zaman. Untuk itu, pihaknya berharap PPKB ini menjadi bagian untuk meningkatkan mutu pendidikan di LP Ma'arif NU.

Selain Prof Musa, hadir Rais Syuriah PWNU Jateng KH. Ubaidillah Shodaqoh, Sekretaris PWNU Jateng KH. Hudallah Ridwan Naim, Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng R. Andi Irawan, Ketua IPNU-IPPNU Jateng, puluhan tim ToT Master Trainer, dan jajaran pengurus LP Ma'arif PWNU Jateng.

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan penandatangan MoU antara LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah dengan PW IPNU-IPPNU Jawa Tengah tentang pendirian komisariat IPNU-IPPNU dan perkaderannya di sekolah dan madrasah LP Ma'arif se Jawa Tengah. (Hg77/Ibda).

Rapat persiapan Kemah Kebangsaan Sakoma NU Jawa Tengah

Semarang, Harianguru.com - Direncanakan dalam Kegiatan Kemah Kebangsaan Anggota Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’arif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (8-10 November 2019) akan dilasanakan Bedah Syarat Kecakapan Umum (SKU) Pramuka untuk di tambah kompetensi khusus terkait Ajaran Ahlussunah Waljama’ah Annadliyah. Hal itu diungkapkan Ketua Sakoma NU Jateng, H. Shobirin, S.Ag., M.Pd.I, di sela-sela rapat persiapan Kemah Kebangsaan, Ahad (3/11/2019).

“Bedah Syarat Kecakapan Umum (SKU) Pramuka ini rencananya akan kami laksanakan dalam kegiatan Kemah Kebangsaan Anggota Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’rif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah tahun 2019,” ujar H. Shobirin.

Dijelaskannya, SKU hasil kegiatan ini dimaksudkan untuk digunakan bagi semua anggota Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’rif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, kegiatan ini selain merupakan salah satu program Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’rif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah.

“Ini merupakan jabaran program Lembaga Pendidikan Ma’arif PWNU Jawa Tengah juga bentuk ikhtiar pengurus dalam melaksanakan tugas pokok memberikan wadah bagi gugus depan dil ingkungan Lembaga Pendidikan Maarif Nahdatul Ulama untuk menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi peserta didik guna menumbuhkan tunas bangsa agar menjadi generasi yang lebih baik, bertanggungjawab, mampu membina dan mengisi kemerdekaan serta membangun dunia yang lebih baik,” jelasnya.

Dengan kegiatan ini diharapkan Sako Ma’arif Nahdlatul Ulama Jawa Tengah dapat mewujudkan tujuannya untuk membentuk setiap Pramuka memiliki beberapa karakter. “Pertama, agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup. Kedua, memiliki keyakinan akan kebenaran aqidah Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah,” katanya.

Sesuai rencana, Kemah Kebangsaan akan digelar pada 8-10 November 2019 di kompleks Bumi Perkemahan Candra Birawa Pusdiklatda Jawa Tengah. Ratusan peserta sudah siap mengikuti kegiatan itu dari wilayah Jawa Tengah. (Hg44/HI).

Suasana rapat persiapan Kemah Kebangsaan

Semarang, Harianguru.com – Semarang – Menjelang digelarkan Kemah Kebangsaan Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif (Sakoma) LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah besuk pada Jumat 8 November 2019 sampai Ahad 10 November 2019, jajaran panitia menggelar rapat di kompleks Bumi Perkemahan Candra Birawa Pusdiklatda Jawa Tengah, Ahad (3/11/2019). Hadir sejumlah panitia yang membahas persiapan tersebut. 


Ketua Sakoma NU Jawa Tengah, H. Shobirin, S.Ag., M.Pd.I, mengatakan bahwa persiapan sampai Ahad ini sudah matang. “Sebelum rapat, panitia bidang petualangan penegak pandega telah melakukan survei tempat petualangan di sekitar Curug Lawe dan Curug Benowo serta Desa Kalisidi untuk memastikan lokasi kegiatan penegak pandega berpetualangan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ketua Sakoma NU Jateng dan Waka Binawasa Kakak Drs. H. Sumardi Nurrahman juga turut mendampingi survei lokasi Curug Lawe dan Curug Benowo Kalisidi Ungaran Barat.

Sampai hari ini, rekap jumlah peserta terakhir sejumlah 339 peserta. “Besuk, seluruh panitia akan datang Kamis 7 November  2019 pukul 15.00 WIB. Mulai memasang umbul-umbul kegiatan, bendera pendukung kegiatan, spanduk dan baliho kegiatan  serta perlengkapan lain pendukung kegiatan,” katanya.
Survei lokasi Curug Lawe dan Curug Benowo Kalisidi Ungaran Barat.
“Untuk mendukung kegiatan upacara pembukaan diupayakan ada peserta upacara  dari anggota Sako Ma’arif Wilayah Ungaran yaitu Gudep Sako Ma’arif MI Keji, MTs NU Ungaran, SMK NU Ungaran dan Gudep Sako Ma’arif yang memungkinkan diundang,” lanjutnya.

Direncanakan, akan ada acara tersendiri bagi Ketua Sako Ma’arif NU Kabupaten/Kota yang diundang untuk penguatan organisasi dan sosialisasi program Sakoma NU Jawa Tengah.

“Sehubungan untuk kegiatan Bakti Menanam pohon di lokasi sekitar Curuk Lawe  dianggap  belum sangat perlu untuk saat ini, maka kegiatan Bakti di alihkan bentuk pelepasan burung di alam terbuka Curuk Lawe (bagi peserta) dan tabur benih ikan (bagi Pengurus Sakoma NU Jateng) informasi perubahan dan teknik pengadaan akan di informasikan Sekretaris Panitia kepada kontingen kabupaten/kota,” jelasnya.

Untuk seremonial pembukaan, katanya, disepakati dengan bentuk pelepasan balon udara yang di bawahnya digantungkan kaos kegiatan dan nominal voucer  belanja sebagai hadiah yang menemukan. “Mengingat efektifitas kegiatan kegiatan penguatan Aswaja dan Sakoma NU Jateng Anti Radikalisme dilaksanakan di satu tempat dengan 2 sesi,” katanya.

“Untuk pendukung kegiatan Sakoma NU Jateng Bersholawat diadakan Tambahan Tenda terob di tribun Lapangan upacara sebelah barat sebagai panggung kegiatan. Karena sekitar curuk lawe sinyal HP sangat minim, maka kepada semua panitia diharapkan membawa/ meminjam HT sebagai pendukung komunikasi panitia melaksanakan tugas,” katanya.


Persiapan itu, menurut H. Shobirin sudah hampir 99 persen. Ia berharap, Kemah Kebangsaan itu dapat membangun generasi nasionalis, dan menguatkan ideologi Aswaja Annahdliyah. (Red-HG33/HI).

Kutai Kartanegara, Harianguru.com - Di hadapan 401 Kepala Sekolah SD Negeri dan Swasta se kabupaten Kutai Kartanegara yang hadir pada Rapat Kerja AKSI (Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia) untuk Kabupaten Kutai Kartanegara yang dipusatkan di Kecamatan Sebulu, Bupati Kukar, Edi Damansyah menekankan pada seluruh kepala sekolah untuk menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah yang telah dikenalkan oleh program PINTAR hasil kerjasama dengan Tanoto Foundation. “Manajemen Berbasis Sekolah dari Program PINTAR kerjasama dengan Tanoto Foundation harus diterapkan di semua sekolah,” ujarnya menekankan baru-baru ini.



Manajemen Berbasis Sekolah yang dilatihkan oleh program PINTAR Tanoto Foundation mendorong manajemen sekolah dilakukan lebih professional, transparan dan akuntabel. “Sudah terbukti kalau pelatihan PINTAR tentang manajemen berbasis sekolah  membuat kepala sekolah menjadi lebih efektif dalam kepemimpinan.  Sekolah menjadi lebih transparan, budaya baca diterapkan dan peran serta masyarakat juga makin besar,” ujar Suwarni, Pengurus AKSI bagian Hukum yang juga  Kepala Sekolah SDN 003 Loa Kulu menanggapi seruan bupati tersebut. 



Dalam rapat tersebut, para kepala sekolah yang hadir membahas berbagai isu, misalnya isu keuangan, anggaran untuk peningkatan kualitas guru dan lain-lain. Berkaitan dengan anggaran untuk peningkatan kualitas guru ini, bupati  meminta kepala sekolah menganggarkan dana Boskap untuk mengadopsi pelatihan progam PINTAR kerjasama dengan Tanoto Foundation. Dia juga meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengalokasikan secara khusus anggaran untuk program ini.



Pelatihan Serempak



Di tempat terpisah, Program PINTAR hasil kerjasama Tanoto Foundation, Kemenag dan Pemerintah Daerah lewat Dinas Pendidikan secara serempak melakukan banyak pelatihan pembelajaran. Salah satunya adalah pelatihan Praktik Baik Pembelajaran untuk guru-guru SMP dan MTs berdasarkan mata pelajaran yang dilaksanakan di Grand Elty, Kukar (20 – 23 Oktober 2019). 



Pelatihan kali ini diikuti oleh 52 peserta dari 8 SMP dan MTs mitra program PINTAR. Pelatihan kali ini merupakan pelatihan modul 2 yang lebih menukik lagi membahas pelaksanaan mengajar sesuai dengan karakter mata pelajaran. Mata pelajaran tersebut adalah matematika, IPA, bahasa Indonesia, IPS, bahasa Inggris, dan Literasi Kelas Awal.



Agus Prihantoro, Spesialis Pembelajaran SMP Tanoto Foundation mengatakan bahwa modul dua lebih mengantarkan siswa untuk lebih kreatif. “Pembelajaran yang berkarakter mapel dapat mengembangkan potensi anak. Pada  mapel IPS misalnya, yang dikembangkan adalah ketrampilan berpikir kritis, mengolah informasi dan berperan dalam kelompok, yang semua mengarahkan agar siswa menjadi lebih kreatif” ujarnya menguraikan.



Sedang pada  pembelajaran IPA, ketrampilan yang dikembangkan adalah berpikir secara ilmiah. “Siswa diajak untuk senantiasa mampu memecahkan masalah secara ilmiah, secara logis, dan menemukan jawaban dari setiap persoalan karena kemampuan berpikir ilmiah tersebut,” ujar Agus.



Menurut Agus, salah satu yang menarik dalam dalam modul pembelajaran bahasa Indonesia, menulis cerpen dengan literasi visual. Para siswa diajak untuk melihat gambar dan mendeskripsikan gambar tersebut secara imajinatif untuk membentuk cerita. Ternyata dengan cara tersebut, para siswa mampu menulis dengan panjang-panjang walaupun baru mendapatkan model demikian pertama kalinya. “Ketrampilan menulis menjadi lebih cepat berkembang dengan literasi visual yang dikenalkan pada modul dua kali ini,” ujar Agus menambahkan.



Pelatihan yang sama dilaksanakan di lima provinsi di Indonesia, yaitu Jambi, Jateng, Kaltim, Sumut dan Riau. (HG44).

Suasana  Expo dan Pameran Inklusi
Semarang, Harianguru.com - Bertempat di GOR Wujil Ungaran Kab. Semarang, LP Ma`arif NU Jawa Tengah bersama 4 Madrasah inklusi mitra UNICEF (MTs NU Ungaran, MI Ma`arif Keji, MI Gedanganak, MI Pabelan) mengikuti kegiatan Expo dan Pameran Inklusi di GOR Wujil Kabupaten Semarang, Selasa, 28 Oktober 2019.

Kegiatan tersebut juga dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober. Acara expo pendidikan yang dibuka oleh Bupati Kab. Semarang tersebut melibatkan 70 stand pameran pendidikan mulai dari jenjang pendidikan Dasar, Menengah, dan Sekolah Luar Biasa. Acara expo dan pameran akan berlangsung selama 2 hari, 28-29 Oktober 2019.

Hari pertama kegiatan Expo, Stand Madrasah inklusi menjadi salah satu stand yang paling ramai dikunjungi, tercatat sampai sore hari pukul 16.00 dalam buku daftar hadir, hampir 900 pengunjung mengisi daftar hadir yang disediakan panitia. Sekda Kabupaten Semarang, Kepala Disdikbudpora Kab. Semarang, Kabid Penma Kemenag Kab. Semarang menjadi tokoh-tokoh pertama yang menyempatkan diri hadir di stand LP Ma`arif setelah pembukaan dan memberikan apresiasi yang cukup luar biasa. “Inklusi Hebat” demikian kata Sekda Kab. Semarang Gunawan Wibisono di stand LP Ma`arif.

Selain stand dan pameran inklusi salah satu hal menarik lainnya yang menjadi perhatian pengunjung adalah ditengah-tenga ragam pameran dan expo Madrasah Inklusi LP Ma`arif menampilkan permainan futbolnet, kolaborasi antara anak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan non ABK.

“Di sinilah nilai dari inklusi dan pameran hari ini. Kita tunjukkan bahwa pendidikan inklusi yang dikembangkan madrasah Ma`arif ini akan menjadi contoh dalam setiap pembelajaran di Madrasah/sekolah. Kita mengajarkan kebersamaan dan kesamaan dalam hidup tanpa ada batas dan bulliying. Semoga yang hadir dan melihat permainan ini bisa terprovokasi dan membangkitkan semangat inklusif terutama para pendidik,” ungkap Ratna Andi Irawan, Ketua LP Ma`arif Jawa Tengah di lokasi Expo yang juga didampingi oleh beberapa pengurus Ma`arif Wilayah.

Nada Optimis akan dampak dari kehadiran stand Inklusi ini juga disampaikan oleh Supriyono kepala MI Keji Ungaran. “Bapak/Ibu, stand madarasah inklusi kita banyak diapresiasi yang sangat bagu, meskipun awalnya beberapa orang ragu dan menyangsikan keseriusan dan kemampuan kita. Alhamdulillah kita bisa membuktikan dan banyak yang salut dan mendukung kita. Semua harus all out menampilkan yang terbaik, inshaalloh pesan pendidikan kita akan diterima oleh yang lain,” kata Supriyono kepada semua Tim Inklusi Ma`arif.

Sesuai Jadwal kegiatan, hari ke-dua tim inklusi LP Ma`arif masih akan menampilkan futbolnet dengan model permainan lain. Sehingga diharapkan pada hari ke-dua pameran dan stand madrasah inklusi Ma`arif akan lebih banyak lagi pengunjung dan melihat penampilan kolaborasi ABK dan non ABK. “inilah yang kita sebut kolaborasi tanpa batas,” ungkap Miftahul Huda, education officer program Inklusi LP Ma`arif NU Jawa Tengah. (red-HG99/HI).

Muarakaman, Harianguru.com - 13 Sekolah Dasar di Muara Kaman sekitar enam bulan belakangan ini mulai berubah.  Mereka secara rutin melakukan program membaca senyap selama 15 menit, menjalankan strategi mendekatkan buku pada siswa dengan membangun pojok-pojok baca, taman baca dan lain-lain. Para guru-guru juga menerapkan pembelajaran aktif yang membuat proses belajar menjadi menyenangkan dan siswa semakin betah di sekolah.

Perubahan tersebut tak lepas dari perjuangan seorang pengawas di daerah tersebut. Namanya Pak Ponidi. Sebagai pengawas, ia agak risau melihat guru-guru di bawah pengawasannya  belum mampu membuat perencanaan mengajar dengan baik. “Mengajar itu seperti membuat film yang bagus. Jadinya perlu skenario yang juga bagus. Film yang bagus itu yang mempunyai alur yang menyenangkan, membuat penonton penasaran dan akhirnya  diingat terus menerus. Nah demikian juga mengajar, punya langkah dan proses yang harus membuat siswanya juga demikian. Harus punya skenario yang matang yang mengantar siswa menguasai banyak kompetensi,“ ujarnya, 18 Oktober 2019.

Ia mendapati guru-guru mengopi paste rencana persiapan mengajarnya dari internet, dan jarang membuat sendiri. “Nah kadang juga,  copy paste rencana mengajar itu juga tidak dilaksanakan di kelas. Akhirnya guru mengajar tanpa langkah-langkah yang strategis dan bermakna. Ia hanya mengikuti nalurinya saja,” ujar salah satu Fasilitator program PINTAR Tanoto Foundation ini.

Setelah ia ikut pelatihan PINTAR, pak Ponidi menjadi tahu apa yang harus dilakukan untuk menghapus kecenderungan guru-guru seperti itu. Program PINTAR merupakan program pelatihan yang dikhususkan untuk pendidikan dasar hasil kerjasama antara Tanoto Foundation, Kemenag dan Pemda setempat lewat Dinas Pendidikan.

Ia ingin juga para guru tersebut mendapatkan pelatihan yang menurutnya sangat bermakna. “Dengan pelatihan program PINTAR, kita sebagai pendidik menjadi tahu dengan lebih gampang bagaimana cara membuat rencana persiapan mengajar yang alurnya menarik dan menyenangkan siswa” ujarnya antusias.

Untuk mewujudkan pelatihan itu, ia menghubungi kelompok kerja kepala sekolah dan juga kepala UPTD Muarakaman. Pelatihan tiga hari akhirnya berlangsung sukses dengan menggunakan dana BOS.

Setelah itu, untuk memastikan  pelatihan benar-benar dilaksanakan di sekolah, sebagai pengawas, Ponidi berkeliling melakukan penguatan dan pendampingan.

Ia sering melakukan pertemuan dengan para guru, mereviu kembali materi pelatihan, meninjau RPP, melihat kegiatan guru di kelas, meninjau pelaksanaan budaya baca dan peran serta masyarakat di sekolah. Yang didatangi secara intensif bukan cuma sekolah-sekolah di bawah pengawasannya, tapi semua sekolah yang pernah dilatih. “Pak Ponidi sering sekali datang ke sekolah kami untuk menguatkan pelatihan kemarin, walau sekolah kami bukan dibawah mandat pengawasannya,” ujar Iskandar, kepala sekolah SDN 029 Muarakaman, memberikan kesaksian.

Berkat kerja keras pak Ponidi didukung oleh K3S dan UPTD Muarakaman, dampak diseminasi program PINTAR  mulai tampak di 13 sekolah tersebut.  Di SDN 025, misalnya, orang tua siswa kelas 2 bergotong royong membuat sudut baca dan menghias kelas. Hal yang sama dilakukan oleh SDN 029, yang lebih jauh  menghias setiap bangku kelas dengan taplak meja yang cantik. Di SDN 008, para orang tua siswa membangun taman baca dari Ban Bekas dan menjadi percontohan bagi sekolah-sekolah lain. Bahkan taman Baca di SDN 028, diresmikan langsung oleh Bupati Kutai Kartanegara.

“Saya bersyukur bahwa banyak perubahan nyata di sekolah-sekolah diseminasi program PINTAR. Siswa sekarang lebih suka membaca buku, aktif dan lebih berani tampil ke depan untuk tampil presentasi. Sangat penting mempersiapkan anak didik disini dengan baik, karena kita dekat dengan calon lokasi ibukota negara yang baru,” ujar Ponidi.

Yang paling menyenangkan baginya sekarang, tidak ada guru di sekolah-sekolah tersebut yang download rencana pelaksanaan pembelajaran dari internet. “Mereka bahkan bilang, yang dari internet itu sebenarnya lebih susah dilaksanakan dibanding yang mereka buat sendiri sesuai konteks sekolah,” ujarnya senang. (HG44).


Semarang, Harianguru.com – Pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah, di akhir tahun 2019 akan menggelar Sekolah Menulis Sastra (SMS) #1. Penanggungjawab acara, Hamidulloh Ibda, mengatakan bahwa kegiatan itu diperuntukkan guru dan umum dari semua unsur.

“Program ini merupakan bagian dari tindaklanjut Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) yang sudah kami launching pada bulan ini. Menulis dan mengapresiasi karya sastra menjadi kompetensi penting yang harus dikuasai guru saat ini,” kata penulis buku Senandung Keluarga Sastra tersebut, Sabtu (19/10/2019).

Dalam penjelasannya, ia mengatakan pembicara utama dalam kegiatan pertama kali itu akan menghadirkan Tokoh Sastrawan Asia Tenggara dari eSastera Kuala Lumpur, yaitu Muhammad Rois Rinaldi.

Syarat dan prosedur, yaitu guru semua jenjang dan umum (tidak ada batasan usia), menulis 1 puisi bertema Hubbul Wathan (Cinta Tanah Air), mentransfer infak Rp 100.000 ke nomor rekening BRI. 3741-01-032772-53-3 a.n Ahmad Muzamil.

Peserta mendapatkan fasilitas materi saat pelatihan, 1 buku antologi karya peserta, kudapan, dan sertifikat. Sesuai rencana, tempat kegiatan di Hotel Muria Semarang pada 1 Desember 2019 pukul 09.00 WIB-selesai.

“Kuota Terbatas 100 orang. Konfirmasi ke Khoirun Niam 082276951949 atau Hamidulloh Ibda 08562674799,” kata dia.

Pendaftaran, upload bukti transfer dan pengiriman naskah terakhir 25 November 2019 melalui http://bit.ly/RegistrasiSMS1. (Admin).

Pati, Harianguru.com - Perpustakaan siswi Mathali'ul Falah mengadakan bedah novel karya Elin Khanin yang bertajuk Cinta Sang Abdi Ndalem Jumat(18/10/2019).

Motivasi Elin dalam menulis novel CSAN yaitu bahwa kang/mbak yang mengabdikan dirinya kepada kiainya dengan penuh ikhlas, tentu cinta mereka juga ikhlas.

"Saya ingin menunjukan apabila pesantren mempunyai nilai nilai yang berbeda, apalagi dengan kisah cintanya, dengan terbitnya novel ini saya berharap orang yang membaca akan semakin cinta terhadap orang tuanya, kiainya dan suami/istrinya" jelas Elin muthakhorijat Matolek 2007.

Ahla Kholidah, sebagai moderator mengemukakan apabila orang yang membaca novel Cinta sang Abdi Ndalem, tentu akan melihat Kajen dari sisi yang berbeda, desa kecil yang di huni puluhan pesantren.  Dan lagi mereka yang telah boyong dari Kajen akan sedikit terobati kerinduan nya apabila membaca novel tersebut.

"Kami dari para guru akan memperioritaskan alumni yang telah menjadi penulis untuk bisa bedah di almamater nya, tujuannya sederhana yaitu untuk memberikan motivasi kepada adik adik yang masih mengenyam pendidikan di pesantren," ujar Alek Fauzi

Senada dengan hal itu, Penulis juga berpesan apabila punya cita cita ingin menjadi penulis tentu harus tekun dan lagi tulislah apa yang di dekatmu, apa yang kau kuasai dan kau pahami, sebab menulis itu pembiasan.

Lanjutnya, kedepannya harapan saya akan lahir penulis penulis baru yang terlahir dari pesantren dan kisah cinta dari pesantren. (HG44/K Niam).

Pelajar SMKN 2 Sragen yang mengibarkan bendera HTI yang viral di media sosial

Semarang, Harianguru.com - Aksi pembentangan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Palestina di kompleks SMK Negeri 2 Sragen, Jawa Tengah yang viral di media sosial, mendapat respon serius dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (PWNU Jateng). Sebab, HTI merupakan ormas terlarang karena bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Untuk itu, PWNU Jawa Tengah mendesak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk menindak tegas aksi tersebut. PWNU Jateng mendepak Ganjar Pranowo mengambil langkah cepat pelaku atau orang yang di belakang kejadian tersebut.

Hal itu disampaikan Sekretaris Tanfidziyah PWNU Jateng KH Hudallah Ridlwan Naim (Gus Huda) dalam siaran pers yang diterima Harianguru.com, Kamis (17/10/2019). Gus Huda menegaskan bahwa kejadian tersebut sangat disayangkan. “Di periode kedua kepemimpinan Pak Ganjar menjadi Gubernur Jawa Tengah, sangat disayangkan jika ada kasus seperti ini,” tegasnya.

Gus Huda juga membeberkan bahwa pihaknya menemukan foto sejumlah siswa dan guru SMKN 2 Sragen yang viral di media sosial dengan membentangkan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid yang identik simbol Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan bendera Palestina.

“Jika ini benar, maka sangat disesalkan. Baru saja Gubernur Jateng menyatakan telah menindak sejumlah kepala SLTA yang terpapar radikalisme, kini simbul organisasi terlarang itu dibentangkan di sekolah negeri,” tegas Gus Huda.

Dijelaskannya, sekolah yang menjadi tempat penyelenggara pendidikan untuk mencetak generasi muda yang berwawasan kebangsaan dan dibiayai negara itu seharusnya steril dari virus intoleran dan radikalisme. “Kejadian ini  sebagai bukti bahwa masih banyak racun dan virus pengasong khilafah yang sudah menyebar ke bawah. Ini fakta bahwa radikalisme sudah menyusup dan mengakar di tingkatan pelajar,” lanjutnya.

Pembentangan bendera yang menjadi simbul organisasi yang sudah dibubarkan di lembaga pendidikan berstatus negeri ini, menurut Gus Huda, menunjukkan bahwa garis kebijakan gubernur tidak diindahkan oleh aparatur di bawahnya. “Kepala Sekolah jenjang SMA kan kewenangan Pemrov, maka Gubernur Jateng sebagai orang nomor satu di Pemrov harus berani menindak tegas pelaku tersebut,” katanya.

Atas kejadian yang kesekian kalinya ini, Gus Huda mendesak Gubernur Jateng untuk bersih-bersih dan memberantas pengusung ideologi terlarang di lembaga pendidikan tingkat SLTA yang secara terbuka melakukan tindakan inkonstitusional.

Jauh-jauh hari, PWNU Jateng telah menginstruksikan kepada warga NU di Jateng untuk selalu siap siaga menghadapi radikalisme dan terorisme, di antaranya menghadang organisasi terlarang yang mencoba-coba untuk bangkit dan kini justru menyusup di lembaga pendidikan yang harusnya steril dari virus radikalisme.

“Termasuk kasus di Sragen ini, kami mendapat laporan lengkap dari kader NU di sana. Kami berharap pemegang otoritas juga lebih meningkatkan intensitas pengawasan sekaligus penindakannya agar virus ideologi terlarang tidak melebar,” tegasnya.

Sebagai organisasi yang mendukung nasionalisme dan tegaknya NKRI, PWNU Jateng mendukung dan menanti ketegasan Ganjar Pranowo sebagai orang nomor satu di Pemrov yang secara garis kebijakan membawahi SMA di Jateng. “Kami tunggu ketegasan Pak Ganjar, karena ini sekolah negeri yang urusannya dengan Pemrov Jateng,” lanjutnya.

“Kami juga mendesak Gubernur Jateng segera mengevaluasi sistem dan prosedur pengangkatan kepala sekolah negeri,” katanya.

Sebab, menurut Gus Huda, penjaringan kepala sekolah di jenjang SLTA harusnya steril dari orang-orang yang terindikasi radikal.  “Ini bisa jadi sistem penyaringan jebol, screeningnya jebol. Secara hukum, SK Kepala Sekolah tidak masalah, tapi proses penyaringan keluarnya SK jebol, maka ini harus diperbaiki agar semua SLTA di Jateng ini benar-benar steril dari radikalisme,” tutupnya. (hg44).

Kalimantan Timur, Harianguru.com  - Jumpa Kopi adalah strategi untuk membuat koleksi buku di pojok baca ruang kelas SMPN 4 Tenggarong terasa selalu baru. Jumpa Kopi adalah akronim dari Jumat Pagi Koleksi Pindah.

Program ini dilaksanakan setiap Jumat pagi selepas para siswa melakukan senam pagi. Dikoordinir oleh masing-masing pengurus kelas, para siswa setiap kelas menukarkan koleksi buku bacaan di pojok-pojok baca kelas dengan kelas lainnya. 

Misalnya, kelas VIIA bertukar koleksi buku dengan kelas VIIB, VIIC bertukar dengan VIIIA, IXA dengan IXB dan seterusnya.

“Jumpa Kopi dilaksanakan karena koleksi buku di pojok baca dalam satu minggu rata-rata semua sudah terbaca. Agar ada buku baru maka koleksinya ditukar antar kelas,” kata Agus Suparmanto, Kepala SMPN 4 Tenggarong.
Melalui Jumpa Kopi semangat membaca siswa meningkat. Mereka setiap saat bertemu dan disuguhi buku-buku yang belum pernah dibaca.

“Siswa di kelas juga semakin peduli dengan pojok baca yang sudah dibuat bersama-sama,” katanya lagi.
Jumat kopi merupakan istilah yang diperkenalkan Agus Suparmanto di sekolah tersebut. Hal itu dilakukan agar semangat membaca tetap terjaga. Jika buku sudah terbaca semua, tanpa buku yang baru semangat membaca akan turun drastis.

Koleksi buku di sekolah memang cepat habis terbaca. Terutama sejak SMPN 4 Tenggarong mengadakan program membaca 15 menit tiap pagi sebelum pembelajaran.

Sekolah tersebut juga membuat jurnal membaca untuk tiap siswa. Jurnal tersebut berisi kolom tanggal, halaman buku yang dibaca, rangkuman, dan tanda tangan wali kelas atau orang tua siswa.

“Kedua program ini telah meningkatkan minat baca siswa. Dengan Jurnal membaca siswa terpicu untuk berlomba-lomba membaca buku. Karena dengan jurnal tersebut akan ketahuan berapa jumlah buku yang dibaca tiap bulan,” ujar Agus.

Untuk menambah koleksi buku bacaan, selain menganggarkan 20 persen dari dana BOS, sekolah juga melibatkan orang tua siswa.

Dalam rapat, para orang tua siswa sepakat untuk mendukung gerakan literasi dengan menyumbangkan buku semampu mereka secara sukarela.

“Rata-rata orang tua siswa menyumbang satu buku untuk menambah koleksi pojok baca. Namun di pojok baca, bukunya juga berasal dari perpustakaan,” jelas Agus.

Untuk membuat siswa terpapar terus menerus dengan buku, sekolah mitra Tanoto Foundation ini juga membangun taman-taman baca di halaman dan lorong sekolah. Sekolah menyebutnya dengan nama Teras Baca dan Terminal Baca.

Teras baca terletak di lorong jalan masuk ke sekolah, dan terminal baca di bawah pohon yang rindang.

“Strategi mendekatkan siswa dengan buku terbukti efektif untuk membuat siswa tergerak untuk membaca. Bahkan dalam sebulan ada siswa yang membaca 27 buku bacaan,” ujar pak Agus yang bangga dengan peningkatan minat membaca siswanya.

Agus Suparmanto, yang juga fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation, menyebarkan Jumpa Kopi yang dilakukan di sekolahnya melalui group facebook Forum Peningkatan Kualitas Pendidikan.

“Saya membagikan link FB Jumpa Kopi yang saya tulis kepada seluruh kepala sekolah SMP di Tenggarong. Ternyata banyak yang tertarik karena Jumpa Kopi memecahkan masalah penyediaan buku bacaan di kelas. Juga minim biaya,” katanya.

Fatiyah Febiana, Siswa Keas 7a, menyatakan kesenangannya dengan program Jumpa Kopi. Dengan program tersebut, ia semakin senang membaca. “Bukunya selalu baru dan saya sudah membaca puluhan buku dalam bulan ini,” ujarnya. (Hg44).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget