Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

2019

Temanggung, Harianguru.com - Bertempat di Gedung PCNU Temanggung, Panitia Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) NU Jawa Tengah XI, menggelar rapat internal, Kamis (21/3/2019). Hadir Ketua LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan, M.Ag., Ketua LP Ma'arif Temanggung H. Miftakhul Hadi, M.Pd., Ketua Porsema XI Zaedun, dan pengurus LP Ma'arif NU Jateng Ahmad Muzammil, Hamidulloh Ibda dan panitia lokal Porsema XI NU Jateng.

Dalam sambutannya, Ketua LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan mengatakan ada beberapa penekanan dalam Porsema NU XI. "Pembukaan akan lebih menarik dari sebelumnya. Kemarin sudah berkoordinasi dengan EO yang nanti akan survei lapangan. Kita sudah mengkani isu, salah satunya kekhasan Temanggung yaitu Kiai Parak Bambu Runcing KH. Subkhi. Kita akan melakukan kajian literatur agar isu ini menjadi matang dan laik diangkat dalam Porsema XI ini," ujar dia.

Untuk itu, kata Andi, kerjasama dengan berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mematangkan konsep dalam rangkaian acara Porsema XI NU Jateng tersebut.

Sementara itu, Ketua LP Ma'arif PCNU Temanggung H. Miftakhul Hadi menambahkan, bahwa dua tahun lalu NU Temanggung sudah mengangkat jasa Kiai Subkhi sebagai sosok sentral bambu runcing. "Dua tahun lalu saat Hari Santri Nasional, Kiai Subkhi sudah diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Gagasan ini sangat menarik dan akan lebih kuat jika didukung dalam Porsema kali ini yang bertempat di Temanggung," katanya.

Dulu, katanya, sudah diseminarkan yang menghadirkan pakar termasuk Kepala Madrasah Mua'allimin dan KH. Anasom yang asli Jumo Temanggung yang sekarang menjadi Ketua PCNU Kota Semarang.

Seperti diketahui, K. H. Subchi memiliki nama lahir Mohamad Benjing. Nama setelah berumah tangga R Somowardojo, Nama setelah Haji:Subchi/ Subki/ Subeki). Beliau lahir di Parakan, Temanggung, 31 Desember 1858 da meninggal di Parakan, Temanggung, 6 April 1959 pada umur 100 tahun. Kiai Subkhi merupakan seorang tokoh pejuang kemerdekaan penggagas senjata bambu runcing. Ia merupakan penasehat Barisan Bambu Runcing bersama dengan Kyai-kyaipengurus lain diantaranya K.H. Sumogunardho, K.H. M. Ali dan K.H. Nawawi dan juga pernah menjadi guru Jendral Sudirman.

Dari sejarah yang tertulis, Kiai Subkhi akan diangkat menjadi brand dalam mengangkat perjuangan kiai dalam berperan memerdekakan NKRI.

Sementara itu, Wakil Ketua LP Ma'arif NU Jateng Fakhrudin Karmani yang juga Panitia SC Porsema menegaskan perlu kerjasama dengan berbagai pihak untuk mengangkat local wisdom khususnya Kiai Subkhi sebagai sosok Kiai Bambu Runcing. "Teknisnya entah nanti berupa tari, fashion show, atau pertunjukan seni yang lain akan diserahkan kepada EO untuk mengangkat Kiai Subkhi yang laik diangkat sebagai Pahlawan Nasional," kata dia.

Untuk membahas persiapan teknis, panitia akan merapatkan kembali pada Ahad (24/3/2019) yang akan dihadiri semua panitia Porsema XI NU Jateng. (HG44/Hi).


Temanggung, Harianguru.com - MTs Ma'arif Gemawang, Kabupaten Temanggung menggelar Seminar bertajuk "Pelajar Vs Pacaran" (Membangun Pelajar NU Bermartabat) yang digelar Sabtu pagi (16/3/2019), yang menghadirkan Pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma'arif NU Jawa Tengah Hamidulloh Ibda.

Dalam sambutannya, Kepala MTs Ma'arif Gemawang Imam Achmadi mengatakan kegiatan itu dirangkai dengan Pelantikan Pengurus Komisariat IPNU-IPPNU MTs Ma'arif Gemawang. Pihaknya mengatakan bahwa kegiatan seminar itu dalam rangka membentengi pelajar dari pengaruh global termasuk pacaran.

Sementara itu, saat mengisi seminar itu, Hamidulloh Ibda mengajak ratusan pelajar dari siswa-siswi MTs Ma’arif Gemawang dan kader IPNU-IPPNU mendefinisikan pacaran dari aspek bahasa dan istilah. “Secara bahasa, pacaran itu asal katanya pacar. Pacar itu di tempat saya, Pati, adalah aktivitas memberi warna pada kuku, atau pitek, kutek yang terbuat dari daun inai. Sedangkan secara bahasa di KBBI, diartikan sebagai kekasih, orang yang disayangi, atau aktivitas kasih sayang terhadap lawan jenis. Tapi, ini tentunya bagi yang sudah menikah, bukan di luar menikah,” beber penulis buku Stop Pacaran, Ayo Nikah! tersebut.

Kaprodi PGMI STAINU Temanggung itu juga menandaskan, bahwa dalam Alquran, pacaran tidak ada. “Yang ada hanya khitbah, nikah, talak, rujuk, zina, saya belum menemukan arti pacaran di Alquran. Maka jika tidak ada, jelas hukum pacaran ketika mendekati zina ya tidak diperbolehkan. Mendekati saja tidak boleh, apalagi sampai melakukannya,” beber dia.

Lalu, kata dia, banyak mana antara dampak positif dan negatif dalam pacaran? “Ya jelas banyak dampak negatifnya. Mulai dari mengganggu pikiran, menghabiskan uang, maksiat, dan juga menyakitkan hati, membuat Anda baper. Dan ketika Anda putus, maka ada tragedi kesenjangan, baik itu silaturahminya, atau sosialnya,” lanjut penulis buku Stop Nikah, Ayo Pacaran tersebut.

Maka solusinya, menurut Ibda, harus melakukan beberapa hal. “Solusinya ya menaham, ngempet, karena sudah jelas dalam hadis Nabi Muhammad, orang yang selamat, cerdas, adalah orang yang mampu menundukkan nafsunya,” kata penulis buku Media Literasi Sekolah tersebut.

Pihaknya juga memberi solusi dalam beberapa hal. “Pertama, stop pacaran ayo belajar, stop nikah ayo aktif organisasi, di IPNU, IPPNU, Pagar Nusa dan lainnya. Kemudian, stop pacaran ayo aktif mengaji, stop pacaran ayo baca buku, stop pacaran, ayo aktif dalam kegiatan keagamaan. Baik itu tahlilan, manakiban, zibaan, istigasah, dan lainnya,” ujar ayah dari Sastra Nadira Iswara tersebut.

Selain itu, pihaknya menegaskan bahwa pelajar terutama aktivis IPNU-IPPNU ketika pacaran, aslinya adalah mereka yang tidak punya pekerjaan. “Ya, kalau Anda ingin produktif, maka boleh-boleh saja pacaran. Pacaran dengan buku, dengan organisasi, dengan IPNU-IPPNU, dengan kitab, jangan pacaran dengan lawan jenis ketika belum menikah,” beber dia.

Di akhir acara, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang sangat meriah karena pelajar-pelajar tersebut melakukan curhat dan sharing terhadap pengalaman pribadi dan mencoba mencari solusinya. (HG33/khamim).

Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka meneguhkan kampus riset, STAINU Temanggung terus menggalakkan tradisi literasi. Hal itu terwujud dengan adanya empat buku yang ditulis mahasiswa-mahasiswi STAINU Temanggung semester satu yang resmi dilaunching Sabtu (16/3/2019) oleh Pembantu Ketua I Bidang Akademik Dr. Baedhowi, M.Ag.

Saat melaunching, Baedhowi menegaskan bahwa penulisan buku tersebut sangat luar biasa karena ditulis mahasiswa semester bawah yaitu satu. "Saya teringat suatu cerita, bahwa Nabi Muhammad SAW menegaskan adalah kotanya ilmu, sedangkan Sayyidina Ali adalah pintunya meskipun beliau paling muda. Saya berharap, mahasiswa meskipun masih muda sudah berkarya dan melestarikan tradisi keilmuwan," kata doktor jebolan UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Keempat buku tersebut sudah resmi mendapat ISBN dan KDT dari Perpusnas RI yaitu "Sejarah dan Legenda Desa di Temanggung, Magelang dan Semarang", "Problematika Anak MI/SD dan Solusinya", "Tradisi-tradisi Islam Nusantara Perspektif Filsafat dan Ilmu Pengetahuan", dan "Cetak Biru Pendidikan Indonesia Tahun 2045" yang ditulis mahasiswa-mahasiswi Prodi PAI dan PGMI STAINU Temanggung secara berjemaah yang diterbitkan penerbit Formaci, CV. Pilar Nusantara, CV. Harian Jateng Network.


Hadir Nurul Hidayah, Puji Rahayu, M. Khoirul Azmi, dan Habibi dari perwakilan mahasiswa yang presentasi isi buku. Selain pemateri dari perwakilan mahasiswa, hadir Ketua Lembaga Penjamin Mutu (LPM) STAINU Temanggung Khamim Saifuddin, Sekprodi PAI Sigit Tri Utomo yang mewakili Kaprodi STAINU Temanggung, dan Pimred Majalah Ma'arif PWNU Jawa Tengah Hamidulloh Ibda.

Saat memaparkan kritik buku, Sigit Tri Utomo menegaskan bahwa tradisi literasi tidak hanya membaca, namun juga menulis dan mengarsipkan. "Zaman Nabi Muhammad Alquran belum berbentuk muzhaf, kemudian zaman Khalifah Usman bin Affan, barulah kemudian Alquran dimuzhafkan. Itulah bukti sejarah bahwa menulis dan mengarsipkan itu penting. Di STAINU, ada Anda yang baru semester satu sudah menulis buku, ini luar biasa dan wajib diapresiasi," katanya.

Ia juga memaparkan, kekurangan buku pada metodologi penghimpunan data. "Misal wawancara, maka harus orang banyak dan harus dianalisis sesuai metode yang digunakan agar tulisan berbobot," katanya.

Sementara itu, Hamidulloh Ibda menambahkan bahwa orang meriset ibarat menggali sumur dan parit. "Kalau Anda menggali sumur, maka yang difokuskan adalah kedalamannya. Jika menggali parit, itu keluasannya. Maka di buku ini, meskipun sudah terbit, perlu dibenahi pada aspek kedalaman dan keluasan dan tidak sekadar deskriptif saja," papar penulis buku Media Literasi Sekolah tersebut.

Ia juga menambahkan, kekurangan buku pada kelemahan mahasiswa yang belum detail membedakan metode kutipan. Baik innote, endnote maupun footnote. "Tapi Anda semester satu sudah menerbitkan buku, bagi saya itu luar biasa. Saya saja dulu semester delapan baru bisa menerbitkan buku," kata Kaprodi PGMI tersebut.

Pihaknya juga menjelaskan, bahwa dari keempat buku itu, mahasiswa mulai berlatih mengasah nalar intelektual agar tidak kagetan, gumunan, dan memiliki bekal untuk menilai tradisi-tradisi Islam Nusantara, sejarah dan legenda desa, mencari solusi problematika anak SD/MI, serta mampu meneropong masa depan pendidikan Indonesia tahun 2045.

Khamim Saifuddin juga menegaskan beberapa artikel ilmiah dalam buku sudah memenuhi kaidah akademik. "Sekilas, bahasanya masih curhatan ABG, belum seperti curhatan ilmuwan. Tapi, saya apresiasi yang tinggi, karena ini adalah wujud mutu mahasiswa," tutur penulis buku KH. Ilyas Kalipaing tersebut.

Di akhir pemaparan dan bedah buku, acara dilanjutkan dengan tanya jawab serta diskusi yang bertajuk "Tak Meriset, Tak Greget. Tak Nulis Pakem, Tak Gandem". (HG44/Hms).

Bogor, Harianguru.com — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menekankan pentingkan sinergisitas antara pemerintah dengan para pemangku kepentingan dalam membuat rencana aksi untuk meningkatkan kualitas dan layanan pengembangan perfilman. “Buatlah agenda atau rencana aksi yang akan dilakukan tahun ini antara para pemangku kepentingan perfilman dan Pusbangfilm untuk meningkatkan kualitas dan layanan pengembangan perfilman. Ini inti dari penyelenggaraan Rakor tahun ini,” ujar Kepala Pusat Pengembangan Perfilman (Kapusbangfilm) Kemendikbud, Maman Wijaya, saat membuka Rapat Koordinasi Pengembangan Perfilman  Tahun 2019, di Bogor, Kamis (14/03/2019).

Untuk itu,  Maman mengajak para peserta rapat koordinasi untuk saling bertukar pikiran guna menambah pengetahuan yang nantinya dapat diimplementasikan di daerah masing-masing. “Terkadang kita merasa daerah kita paling bagus dalam pengembangan perfilman, padahal daerah lain masih lebih bagus lagi. Disini saatnya kita dapat saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam pengembangan perfilman,” ungkap Maman.

“Setelah penyelenggaraan Rakor ini saya berharap pelayanan dalam pengembangan perfilman bisa cepat dan tidak rumit, sehingga dapat meningkatkan produksi film nasional. Tahun 2018 sudah terdapat 148 produksi film yang beredar,” terang Maman.

Tidak hanya jumlah produksi film yang meningkat setiap tahunnya, tetapi jumlah penonton selama 5 tahun terakhir juga semakin meningkat. “Dari 32 juta penonton pada tahun sebelumnya, pada tahun 2018 meningkat sekitar 48 juta penonton,” jelas Maman.

Maman berharap melalui rapat koordinasi Pengembangan Perfilman ini dapat meningkatkan sinergisitas program dan pembinaan perfilman antara Kemendikbud dengan pemangku kepentingan perfilman; meningkatkan kualitas perfilman yang berdaya saing dan memiliki konten nilai-nilai budaya dan kearifan lokal serta pembangunan karakter bangsa, serta; meningkatkan kualitas layanan perizinan kegiatan dan usaha perfilman. “Film harus menjadi media inspiratif dan media literasi, sehingga program pembelajaran menjadi lebih efektif. Dengan itu, diharapkan banyak guru dan siswa yang memiliki kreatifitas dan kemampuan untuk memanfaatkan film sebagai sarana mewujudkan prestasi,” pungkas Maman.

Sementara itu, Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Kapustekkom), Kemendikbud, Gogot Suharwoto, mengemukakan bahwa Pustekkom telah memproduksi sebanyak 12 film sejak tahun 2012 hingga 2018. “Tahun 2018 Pustekkom memproduksi dua film yakni film ‘Aku dan Hari Esok’, dan film ‘Langkah yang Tersisa’. Kami siap bekerjasama dengan insan perfilman,” jelasnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Dedi Taufik, pada kesempatan yang sama, membagikan strategi yang digunakan daerahnya dalam pengembangan perfilman. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kata dia, memiliki enam strategi, yakni, penyelenggaraan acara (event) perfilman dengan bentuk festival film; fasilitasi bioskop alternatif; penyediaan sarana gedung ruang publik; fasilitasi media alternatif, dan; pelayanan dalam mempermudah insan perfilman memproduksi film.

Pada rapat koordinasi Pengembangan Perfilman tahun 2019, berlangsung pada tanggal 13 – 15 Maret 2019, terdapat enam pokok pembahasan, yakni (1) penyelamatan film media seluloid, (2) peningkatan kualitas SDM perfilman, (3) kajian dan pendataan perfilman, (4) regulasi dan layanan perizinan perfilman, (5) fasilitasi pengembangan perfilman, dan (6) peningkatan apresiasi perfilman Indonesia. (HG33/Hms).

Ilustrasi
Jakarta, Harianguru.com - Untuk mewujudkan tata kelola pendidikan dan kebudayaan yang berkualitas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus mendorong optimalisasi pendayagunaan data pendidikan dan kebudayaan yang semakin terintegrasi. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menekankan pentingnya data yang akurat bagi pengambilan keputusan dan perancangan kebijakan strategis dalam rangka memajukan pendidikan dan kebudayaan.

"Penting bagi kita melakukan klarifikasi terhadap data-data yang masuk kepada kita. Agar dalam mengambil kebijakan juga tepat, jangan sampai keliru," pesan Mendikbud Muhadjir Effendy saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Pendataan Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2019, di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Apresiasi diberikan Mendikbud atas kinerja para peserta rakornas yang merupakan pengelola data pendidikan dan kebudayaan dari berbagai wilayah di Indonesia. Para operator yang mengunggah data disebutnya sebagai "akar rumput" yang sangat berjasa. Menurutnya, para pembuat kebijakan tidak dapat berbuat banyak tanpa asupan data yang berkualitas.

"Saya yakin orang yang berkutat dengan data adalah orang yang memiliki idealisme dan dedikasi atau semangat pengabdian yang tinggi," kata Muhadjir.

Sekretaris Jenderal (Sesjen) Didik Suhardi mengatakan bahwa Kemendikbud telah memiliki data yang terintegrasi dari berbagai jalur dan jenjang pendidikan. Integrasi data pokok pendidikan dasar dan menengah (dikdasmen) dimulai sejak tahun 2011, kemudian pada tahun 2015 mulai diperkenalkan data pokok pendidikan anak usia dini dan pendidikan masyarakat (PAUD dan Dikmas)

"Tahun 2019 ini kita sudah bisa menyajikan data secara komplit dan semuanya telah berbasis sistem. Sekarang kita bisa menyajikan data secara real time ," tutur Sesjen Didik dalam laporannya.

Ditambahkannya, data yang telah dihimpun dan diolah Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan (PDSPK) menjadi dasar pengambilan kebijakan sistem zonasi yang bertujuan untuk mempercepat pemerataan akses layanan dan mutu pendidikan nasional.

Integrasi Data Kuatkan Ekosistem Pendidikan

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud tidak hanya melibatkan para pengelola data pokok Dikdasmen, serta data pokok PAUD dan Dikmas dalam rakornas tahun ini. Namun, untuk pertama kalinya, para pengelola data kebudayaan serta pengelola data bahasa dan sastra turut bergabung untuk menyamakan persepsi dalam membangun data pokok pendidikan dan kebudayaan yang berkualitas.

"Ini sebagai upaya untuk membentuk insan Indonesia yang tidak hanya cerdas akademik saja, tetapi juga berakhlak mulia," ujar Kepala PDSPK Kemendikbud, Bastari.

Pendayagunaan data yang terintegrasi akan sangat bermanfaat dalam upaya menguatkan ekosistem pendidikan, yang nantinya berujung pada peningkatan mutu pendidikan. Dicontohkan Bastari, sekolah dapat mengetahui dan memanfaatkan berbagai macam potensi sumber-sumber belajar seperti cagar budaya atau museum yang berada di sekitarnya untuk pendidikan karakter. Ataupun, melalui kebijakan zonasi, akan lebih mudah untuk melakukan gotong royong berbagi sumber daya (resource sharing) antar-satuan pendidikan.

Peningkatan kualitas data serta penguatan kerja sama, baik internal maupun eksternal, menjadi tujuan penyelenggaraan rakornas. Tak hanya integrasi antara data pokok pendidikan dan kebudayaan saja, tetapi rakornas kali ini juga akan membahas upaya integrasi data pokok antarkementerian dan lembaga.

Dijelaskan Kepala PDSPK, saat ini Kemendikbud bersama Kementerian Dalam Negeri sedang membahas intens proses integrasi data pokok pendidikan dengan data kependudukan dan catatan sipil (dukcapil) seiring dengan upaya mewujudkan identitas kependudukan tunggal. (hg44/hms)

Rapat Panitia Porsema XI
Temanggung, Harianguru.com - Jajaran panitia tingkat wilayah LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah dan panitia lokal LP Ma'arif PCNU Temanggung mematangkan konsep persiapan Pekan Seni Olahraga Ma'arif (Porsema) XI di kantor PCNU Temanggung, Selasa malam (12/3/2019).

Dalam kesempatan itu, Ketua LP Ma'arif Temanggung Miftakhul Hadi, M.Pd., menegaskan bahwa kepanitiaan Porsema XI di Temanggung melibatkan sejumlah elemen termasuk unsur pemerintah daerah, dinas, dan lainnya. "Dari awal kami sampaikan, karena dana juga dibantu Pemkab, maka nanti kepanitiaan akan dibantu dari Pemda dan dinas terkait. Jadi ada panitia pusat ada panitia lokal," katanya.

Pihaknya menambahkan, bahwa ploting anggaran paling besar adalah untuk konsumsi yang sudah dibantu Pemkab Temanggung. "Untuk kebutuhan juri, kami juga berkoordinasi dengan KONI Temanggung bahkan KONI Jateng agar dapat membantu suksesi lomba. Untuk seni, kami berkoordinasi dari luar untuk menjaga objektivitas," katanya.

Pihaknya juga memetakan bahwa dari semua LP Ma'arif se Jawa Tengah, ditaksir lebih dari 5000 orang akan datang ke Temanggung, baik atlet maupun official.

Ketua LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan, M.Ag., mengatakan bahwa rapat perdana antara panitia wilayah dan lokal itu, bahwa Porsema tujuannya untuk silaturahim, antarcabang se Jawa Tengah. "Tidak hanya kompetisi, namun Porsema ini wahana untuk silaturahim di Temanggung," bebernya.

LP Ma'arif untuk menggali potensi di sekolah dan madrasah di Ma'arif, baik aspek seni atau olahraga."Harapan kami, potensi kader Ma'arif ini tidak hanya berhenti di Porsema. Namun ditindaklanjuti sampai ke kancah nasional baik dalam aspek maupun seni," katanya.

Kami sudah mengirimkan surat ke Kemenpora RI, kata Andi, untuk meminta Menpora membuka Porsema XI di Temanggung. Kami juga akan beraudiensi untuk menyalurkan bakat atau potensi kader-kader Ma'arif dapat tersalurkan dan difasilitasi pemerintah.

Saat rapat persiapan, Sekretaris Panitia Lokal Porsema XI Hanif Masykur, menjelaskan bahwa planning lokasi pembukaan di Alun-alun Temanggung, sekretariat di STAINU Temanggung, bazar di halaman Gedung Pemuda Temanggung, lomba cabang bola voli di Alun-alun Temanggung, lari sprint di Stadion Bumi Phala Temanggung, lari jarak jauh di Jalan Raya Tembarak-Temanggung, tenis meja di indoor GOR Bambu Runcing, bulu tangkis di GOR Makukuhan, dan beberapa lomba seni di MAN Temanggung dan Gedung Pemuda Temanggung, dan sejumlah lomba yang lainnya.

Untuk penginapan membutuhkan 16 tempat, di STAINU Temanggung serta beberapa sekolah dan madrasah yang dekat dengan pusat acara.

Sementara itu, Ketua Panitia Wilayah Porsema XI, Zaedun, menegaskan bahwa koordinasi sangat penting antara panitia lokal dengan wilayah agar Porsema XI berjalan baik dari sebelumnya.

Hadir jajaran panitia wilayah, lokal, dan jajaran panitia unsur lain dari IPPNU, PMII, dan lainnya. (HG33/Ibda).


Oleh Husna Nashihin

Kasus dekandensi moral yang terjadi saat ini kian melejit. Bahkan, wabah dekandensi sudah merambah kalangan manusia dewasa yang seharusnya menjadi panutan, seperti orang tua, pendidik, pejabat, sampai tokoh agama.

Digitalisasi misalnya, mengakibatkan pornografi, hoax, ujaran kebencian, penipuan, dan lain sebagainya semakin membabibuta lewat media sosial. Mudahnya akses media sosial sebagai konsekuensi logis digitalisasi berimplikasi pada tidak bisa dibendungnya dampak negatif yang terjadi secara tuntas. Bayangkan saja, bagaimana bisa membatasi dampak negatif yang muncul dari media sosial, jikalau media sosial memang memberikan mimbar kebebasan akses bagi para pemakainya?

Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan besar, ada apa dengan pendidikan karakter yang sudah berlangsung saat ini, sehingga belum mampu merubah manusia menjadi pribadi yang lebih baik? Perlukah tambahan model pendidikan karakter yang bisa berjalan beriringan dengan pendidikan karakter pada sekolah formal? Agaknya guna mendukung pendidikan karakter pada sekolah formal, memang perlu dikembangkan sebuah model pendidikan karakter dengan basis tradisi atau kebudayaan masyarakat.

Ketika mencoba merefleksi tradisi masyarakat Jawa, ada satu tradisi yang menarik dan optimis bisa menjadi basis pendidikan karakter bagi masyarakat Indonesia. “Rekso Kadang” atau tradisi kumpul-kumpul keluarga bagi masyarakat Jawa ini memiliki manfaat positif yang luar biasa yang layak untuk dikaji secara mendalam.

Kearifan nenek moyang di Jawa dalam menjaga keluarganya dari segala keburukan ini menimbulkan sebuah pertanyaan, mungkinkah budaya ini memang sengaja diadakan oleh para nenek moyang di Jawa sebagai usaha membentengi keturunannya agar senantiasa baik? Ataukah tradisi ini hanyalah sebuah kebetulan belaka yang saat ini secara kebetulan juga sangat dibutuhkan untuk bisa mengatasi dekandensi moral dan perpecahan yang kian melejit?

“Rekso Kadang” merupakan tradisi kumpul-kumpul bagi sekelompok keluarga besar di Jawa yang awalnya diadakan hanya oleh keluarga kerajaan. Belakangan ahirnya Rekso Kadang menjadi budaya yang dilakukan oleh hampir semua masyarakat Jawa. Secara bahasa Rekso mengandung arti menjaga, sedangkan Kadang memiliki arti keluarga. Rekso Kadang secara istilah memiliki arti acara perkumpulan yang bertujuan mempererat tali silaturahmi keluarga.

Saat ini Rekso Kadang sudah berubah nama sesuai dengan sentuhan masing-masing daerah yang melestarikannya. Akibat sentuhan filosofi Jawa misalnya, Rekso Kadang berubah menjadi “Trah” yang berarti hujan. Istilah trah biasa digunakan oleh mayoritas masyarakat Jawa saat ini.

Di sisi lain, ada pula sentuhan Arab atau Islam yang menjadikan Rekso Kadang berubah nama menjadi “Bani” atau Dzuriyah”. Pada generasi kekinian, Rekso Kadang mengalami simplifikasi nama menjadi kumpulan keluarga atau arisan keluarga. Bahkan, pada sebagian keluarga modern, Rekso Kadang mengalami sentuhan istilah perkantoran menjadi rapat keluarga atau meeting keluarga.

Terlepas dari berbagai istilah yang berkembang, secara esensial Rekso Kadang tetap menjadi tradisi masyarakat Jawa yang bertujuan merekatkan tali silaturahmi. Tradisi ini sampai sekarang masih berkembang dan dipertahankan di beberapa daerah, seperti di Yogyakarta, Klaten, Boyolali, Solo, Magetan, Wonogiri, Ponorogo, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Semarang, Kudus, Demak, Jepara, dan masih banyak kota lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Rekso Kadang biasanya dilaksanakan pada hari Minggu. Ada yang dilaksanakan sebulan sekali atau dua bulan sekali, ada pula yang melaksanakan sesuai penghitungan Jawa (Pasaran Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing) seperti selapan (35 hari) sekali atau dua lapan (70 hari) sekali, bahkan ada juga yang setahun sekali atau dua kali.

Ada beberapa fakta unik yang berhasil terekam dalam tradisi Rekso Kadang yang mampu menjadi basis pendidikan karakter. Pertama, anggota Rekso Kadang yang terdiri dari berbagai suku dan daerah yang berbeda-beda. Pernikahan keturunan anggota Rekso Kadang dengan keturunan dari suku dan daerah lain menjadikan adanya anggota Rekso Kadang yang berbeda suku dan daerah. Daerah dan suku yang berbeda tentunya juga melahirkan kepribadian dan pemikiran yang berbeda pula. Realitas ini mampu membentuk karakter saling menghargai dan toleransi.

Kedua, anggota Rekso Kadang yang terdiri dari agama, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan tingkat ekonomi yang berbeda-beda. Realitas ini mampu membentuk karakter saling menghargai, peduli sosial, dan kerja sama. Agama yang berbeda tentunya mampu membentuk karakter toleransi beragama antar anggota Rekso Kadang. Kepedulian sosial tercermin dari sikap saling membantu ketika salah satu anggota Rekso Kadang tertimpa musibah. Kerja sama antar anggota Rekso Kadang tercermin dari sikap gotong royong ketika menyelenggarakan hajatan salah satu anggota Rekso Kadang.

Ketiga, penyelenggaraan Rekso Kadang yang diadakan secara bergiliran. Anggota Rekso Kadang yang mendapat giliran ketempatan acara, harus mempersiapkan tempat dan konsumsi. Usaha anggota Rekso Kadang dalam mempersiapkan acara tersebut dapat membentuk karakter kerja keras dan tanggung jawab. Kerja keras dan tanggung jawab tercermin dalam sikap sungguh-sungguh anggota rekso kadang dalam menyusun perencanaan sampai pelaksanaan acara. Apalagi ketika anggota yang ketempatan Rekso Kadang berasal dari tingkat ekonomi menengah kebawah, konsumsi yang harus disiapkan sampai “dianak-anake” atau diupayakan ada sebagus mungkin.

Keempat, acara tausiah keagamaan. Tausiah keagamaan menjadi menarik tatkala anggota Rekso Kadang berasal dari agama yang berbeda-beda, meskipun memang dalam satu Rekso Kadang terkadang juga diketemukan terdiri dari satu agama yang sama. Tausiah keagamaan diberikan dengan mempertimbangkan anggota Rekso Kadang yang berbeda agama, sehingga hanya menyampaikan hal-hal yang sifatnya umum dan tidak menyinggung agama lain. Fakta ini merupakan cerminan dari pembentukan karakter religius, toleransi agama, dan saling menghargai perbedaan.

Kelima, acara wejangan atau nasihat dari pihak kasepuhan (anggota senior). Wejangan merupakan menyampaian nasihat atau pesan dari sesepuh anggota Rekso Kadang terhadap semua anggota. Materi yang disampaikan biasanya berkenaan dengan situasi terkini, seperti isu agama, ekonomi, politik, pendidikan, pekerjaan, bahkan mengenai kejahatan yang sedang marak terjadi agar supaya tidak menimpa anggota Rekso Kadang lainnya. Wejangan ini mampu menumbuhkan karakter rasa ingin tahu bagi anggota Rekso Kadang.

Keenam, iuran dana sosial. Dana yang sudah terkumpul disalurkan khususnya kepada anggota Rekso Kadang yang sedang tertimpa musibah dan masyarakat lain pada umumnya seperti bencana alam di Aceh, Yogyakarta, Lombok, dan lain sebagainya. Kegiatan ini tentunya mampu membentuk karakter peduli sosial.

Ketujuh, doa bagi leluhur atau tahlilan. Acara ini menjadi wujud bakti anggota Rekso Kadang kepada para sesepuh atau leluhur. Doa yang dipanjatkan merupakan cerminan dari pembentukan karakter berbakti kepada orang tua.

Sekian banyak karakter yang dihasilkan dari tradisi Rekso Kadang ini, tentunya mampu meneguhkan tradisi ini menjadi basis pendidikan karakter khususnya bagi masyarakat Jawa. Apabila semua keluarga di Indonesia bisa menyelenggarakan Rekso Kadang ataupun acara sejenis ini, maka niscaya pendidikan karakter akan terlaksana sampai pada semua lini kehidupan masyarakat Indonesia.

Namun sungguh sangat disayangkan, arus modernisasi saat ini nampaknya sudah membawa kaum milenial di Indonesia ke jurang egocentris yang cenderung menafikan agenda kumpul keluarga besar seperti Rekso Kadang. Di tengah arus deras modernisasi ini, mungkinkah tradisi lama seperti Rekso Kadang ini masih akan terus terlaksana dan dikembangkan, apalagi untuk sampai menjadi basis pendidikan karakter bagi masyarakat Indonesia?

Meskipun tantangan sangat berat, apapun yang terjadi, tradisi seperti Rekso Kadang sebagai wujud kebudayaan masyarakat Indonesia agaknya memang bisa menjadi senjata ampuh dalam membentuk karakter anak bangsa melalui penjagaan berbasis keluarga. Kunci keberhasilan ini berada pada tekat bangsa ini untuk senantiasa bisa berusaha mempersandingkan antara kebudayaan dengan pendidikan secara beriringan, seperti halnya usaha menjadikan tradisi Rekso Kadang sebagai basis pendidikan karakter masyarakat.


Oleh Isni Indriyana
Guru MI Nahdlatut Tholibin Malebo, Temanggung, Jawa Tengah

Bahasa Jawa sebagai salah satu produk budaya, harus dikuatkan dari ruang kelas. Sebab, selama ini sangat sedikit anak-anak yang dapat berbahasa Jawa dengan benar, baik dan indah, padahal mereka lahir dan tumbuh di Jawa. Lalu apa penyebabnya? Selain  kurangnya pembiasaan dari keluarga dan lingkungan, berbahasa Jawa belum diterapkan secara maksimal di ruang kelas. Maka sangat wajar anak-anak masih berbahasa kasar, belum sopan, dan mengalami kekacauan berbahasa.

Pergaulan anak Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) juga menjadi keprihatinan zaman sekarang. Anak lebih menggunakan bahasa yang disebut gaul daripada mebudayakan Bahasa Jawa. Hal ini disebabkan karena tontonan acara televisi yang mereka lihat lebih dominan menggunakan bahasa kekinian daripada bahasa daerah masing-masing. Hal itu akan menjadi masalah besar jika terus dibudayakan sampai anak menjadi dewasa dan tumbuh besar.

Semakin hari bahasa daerah menjadi bahasa yang terbatas dan berkurang pemakaiannya. Bahasa menjadi terancam karena penggunaannya menjadi semakin sedikit dan tercemar oleh bahasa yang berkembang saat ini. Hal yang lebih memprihatinkan terjadi di lingkungan sekolah dan tempat tinggal masing-masing yakni tidak semua orang yang lebih tua mengajarkan berbahasa Jawa dengan baik dan benar. Hal itu menambah sebab akibat anak menjadi kurang untuk berbahasa Jawa sesuai adat istiadaat yang diterapkan dengan baik.

Hermadi (2010) mengungkapkan, Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan sebagai pergaulan sehari-hari di daerah Jawa, khususnya Jawa Tengah.  Bahasa Jawa ini menjadi suatu bahasa daerah yang menjadi ciri khas daerah Jawa sendiri dengan cara penyebaran di berbagai wilayah Nusantara sehingga bahasa Jawa mempunyai ragam yang berbeda antar Jawa satu dengan yang lainnya.

Menguatkan Bahasa Jawa
Menguatkan bahasa Jawa menjadi penting agar tidak terkikisnya budaya dan pendidikan anak SD/MI sendiri. Bahasa Jawa mengajarkan tentang etika berbahasa yang benar dan baik yang diajarkan untuk komunikasi sehari-hari serta berkomunikasi dengan orang yang lebih dewasa dengan sebutan unggah-ungguh basa.

Unggah-ungguh basa ini mengajarkan tingkatan bahasa dengan lawan bicara orang yang sebaya ataupun orang yang lebih tua dengan tingkatan bahasa yang berbeda.Terdapat tiga bentuk tingkatan dalam unggah-ungguh basa, yakni ngoko (kasar), madya (biasa), dan karma (halus). Misal, dalam Bahasa Indonesia “aku sudah pulang”, bahasa Jawa yang digunakan diri sendiri dengan orang yang lebih dewasa sudah berbeda. Diri sendiri dengan penggunaan ngoko, ”aku wis bali” atau yang lebih halus “kula sampun wangsul”, akan berbeda untuk orang yang lebih dewasa dengan “ibuk sampun kondur”.

Pembiasaan berbahasa Jawa diperlukan supaya anak terbiasa berbahasa yang benar dan baik sekaligus menjadi upaya pembudayaan agar tidak terkikis dengan bahasa yang lain. Cara ini dapat dilakukan dengan dimulainya komunikasi di dalam ruang kelas, dibuatnya peraturan yang mengharuskan anak berkomunikasi dengan teman ataupun guru di ruang kelas dengan menggunakan bahasa Jawa.

Untuk menambah motivasi anak menggunakan bahasa Jawa dengan benar dan baik, guru dapat memberikan sedikit penghargaan kepada anak untuk lebih menggiatkan menggunakan Bahasa Jawa. Selanjutnya, dalam proses pembelajaran sehari-hari harus dimulai menggunakan dengan Bahasa Jawa.

Langkah awal, tidak harus setiap hari guru menggunakan Bahasa Jawa dalam menjelaskan. Hanya pada hari-hari tertentu saja untuk menjadi permulaan. Namun untuk selanjutnya bahasa Jawa harus lebih digunakkan pada pembelajaran semua mata pelajaran, tidak hanya Bahasa Jawa. Semakin hari anak akan terbiasa dengan pembiasaan dan pembelajaran menggunakan Bahasa Jawa tersebut.

Dalam pelaksanaan pembiasaan dan pembelajaran, peran guru sangat penting dalam penguatan dan sikap menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar. Guru sebagai seseorang yang digugu lan ditiru harus memberikan contoh yang baik dan benar dalam berbahasa terhadap anak agar anak lebih berapresiasi dalam penguatan Bahasa Jawa secara implisit ini. Secara tidak langsung dan bertahap, hal di atas akan membentuk karakter anak yang mampu untuk secara benar dan baik menggunakan Bahasa Jawa sesuai yang diharapkan.

Tidak hanya di dalam lingkungan sekolah saja, namun hal itu harus dilaksanakan di dalam keluarga dan masyarakat. Menjadi kewajiban anak nantinya, dan tanggung jawab guru seterusnya untuk selalu menggunakan bahasa Jawa dengan unggah-ungguh basa yang benar dan baik.

Jawa tidak hanya di dominasi dengan penggunaan gaya bahasanya, banyak kebudayaan Jawa yang bisa mendukung adanya penguatan kebudayaan Jawa ini, dengan pengadaan lomba nembang, macapat, penulisan aksara jawa, cerita jawa akan menambah semangat anak-anak untuk lebih belajar tentang kebudayaan dan pendidikan Jawa, khususnya penggunaan bahasa dengan benar dan baik dalam berkomunikasi.

Seperti yang sudah dijelaskan, ketika anak sudah terbiasa dengan penggunaan Bahasa Jawa, secara otomatis akan mengangkat kebudayaan itu sendiri. Hal yang baik tidak cepat dilakukan hanya dengan waktu sehari atau dua hari saja. Proses yang panjang akan dilalui untuk bisa menguatkan Bahasa Jawa dan itu berawal dari pembiasan pembelajaran Bahasa Jawa dari ruang kelas.

Dengan menguatkan Bahasa Jawa di ruang kelas dalam proses pembelajaran, hal ini akan melestarikan salah satu budaya Jawa sekaligus dengan menjaga kearifan lokal yang ada. Bahasa Jawa harus mendapatkan perhatian lebih agar selalu terjaga. Kalau tidak dimulai dari kita, siapa lagi?

Semarang, Harianguru.com - Setelah sukses mengikuti Pergamanas II tahun 2019 di Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur beberapa minggu lalu, Panitia Pergamanas LP Ma'arif PWNU Jateng menggelar LJP di kantor LP Ma'arif PWNU Jateng, Rabu (6/3/2019).

Dalam pengarahannya, Ketua LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan mengapresiasi kinerja panitia karena sudah bekerja maksimal dan berhasil menyabet Juara Umum dan Peserta Terbanyak pada agenda besar Pergamanas II tahun 2019. "Banyak sekali nilai-nilai dalam Pramuka yang senada dengan ideologi Islam Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah bagi anak-anak dan pelajar," kata dia.

Pihaknya juga menambahkan, bahwa persiapan Pelantikan Sakoma NU Jateng harus mampu menyelesaikan masalah kepramukaan. "Kita tentu sepakat, bahwa Pramuka tidak sekadar formalitas, namun menjadi media untuk penguatan ideologi Aswaja Annahdliyah," tegas dia.

Andi menambahkan, bahwa kinerja LP Ma'arif sudah maksimal. "Kita sudah melaksanakan berbagai kegiatan. Penyusunan soal, lalu pemilihan Ketua Sakoma NU Jateng, kemudian SIM. Tadi siang kami juga sudah bertemu dengan Kemenag RI dan insyaallah kita akan mengikuti Master of Trainer yang akan mengirim 10 orang di Jawa Timur," katanya.

Untuk program UNICEF, katanya, juga sudah berjalan dan kemarin sudah roadshow di beberapa kabupaten dan kota.

Selain Ketua, hadir dalam kesempatan itu, pengurus lain dan sekaligus Panitia Pergamanas. Dalam laporannya, Ketua Panitia Pergamanas sekaligus Ketua Sakoma NU Jateng H. Sobirin mengapresiasi kinerja panitia. "Dari awal kita sampai lokasi, hanya panitia dari Jateng yang bekerja sampai pagi dan dikawal langsung Ketua LP Ma'arif NU Jateng," katanya.

Pihaknya berharap, LPJ kali ini menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan terutama persiapan Porsema yang akan digelar pada Juni 2019 mendatang. (HG33/Ibda).

Husna Nashihin dan Hamidulloh Ibda

Temanggung, Harianguru.com - Pada 1 Maret 2019 kemarin, dua dosen STAINU Temanggung dinyatakan menjadi juara pada Sayembara Artikel Jurnal Abjadia: International Journal of Education. Mereka adalah Husna Nashihin Sekprodi PIAUD STAINU Temanggung yang lolos menjadi Juara 3 dan Hamidulloh Ibda Kaprodi PGMI STAINU Temanggung yang lolos menjadi Juara 9.

Jurnal Abjadia merupakan jurnal internasional yang diterbitkan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Jawa Timur, Indonesia. Panitia, mengakui banyak pengirim naskah jurnal dari berbagai provinsi dan ditentukan sampai 15 Juara melalui email masing-masing peserta. 

Selain dosen dari STAINU Temanggung, peserta yang lolos dari IAIN Tulungagung, Universitas Islam Malang, Universitas Jambi, Universitas Bengkulu, Unisma Malang, Unibraw Malang, STIQ Amuntai Kalsel, UIN Raden Intan Lampung, dan SMAN 1 Kertosono. Jurnal yang dapat diakses di laman http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/abjadia ini merupakan jurnal yang diterbitkan dengan Bahasa Inggris dan Arab.


Dalam kesempatan itu, Husna Nashihin melakukan penelitian lapangan di sebuah sekolah dasar di Yogyakarta dengan judul Character Internalization Based School Culture of SDN Karangmloko 2. "Sejak awal mengetahui adanya sayembara, saya langsung sempatkan meneliti sekolah dasar ini karena memang ada keunikan dalam proses internalisasi karakternya, alhamdulillah lolos. Artinya model pendidikan karakter yang saya usung ini bisa diketahui secara internasional", paparnya, Selasa (5/3/2019).

Selain berhasil lolos dalam sayembara jurnal internasional ini, Husna juga berhasil lolos menjadi juara dalam ajang jurnal nasional yang diselenggarakan oleh J-PAI UIN Malang dan jurnalnya juga akan dimuat dalam edisi tahun ini. "Alhamdulillah, 2 sayembara yang saya ikuti bisa lolos semuanya, semoga menjadi berkah buat STAINU Temanggung", tambah Husna yang juga Sekprodi PIAUD ini.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Hamidulloh Ibda meneliti tentang paguyuban kelas di SDN Sampanan 01 Kota Semarang dalam membendung kenakalan anak. Ia mengkaji pelibatan keluarga dan masyarakat dalam menyukseskan pendidikan anak melalui paguyuban kelas yang sudah berjalan sukses di SD tersebut. Pihaknya mengirim jurnal bertajuk Class Association Program to Prevent Delinquency of Elementary School Children. "Alhamdulillah, meski tidak mengira bisa lolos sebagai Juara 9, namun ternyata lolos," ujar pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma'arif NU Jawa Tengah tersebut, Selasa (5/3/2019).

Sebelumnya, ia telah menulis banyak artikel di berbagai jurnal nasional maupun internasional. Salah satu jurnal internasionalnya adalah yang diterbitkan International Journal Ihya' 'Ulum al-Din. Ia juga menjadi Juara I Lomba Artikel Tingkat Nasional Kemdikbud 2018, dan Juara I Lomba Esai Nasional Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM 2018. Tahun 2019, ia juga dinobatkan sebagai Dosen Penulis Artikel Jurnal Terbanyak oleh Lembaga Penjamin Mutu STAINU Temanggung.

"Semoga artikel dalam riset saya ini dapat menjadi sumbangsih bagi akademisi dan utamanya di SD atau MI di Indonesia bahkan di dunia," katanya. (hg44/HI).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Para guru di Muara Kaman, kecamatan tertua di Kaltim,  selama ini belum banyak mendapatkan suntikan peningkatan kapasitas.   Untuk meningkatkan kualitas mereka, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Gugus Empat Muara Kaman bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara, menggandeng Tanoto Foundation untuk melatih metode pembelajaran aktif dengan pendekatan MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi).

Menurut Tulus Sutopo, Kabid Pembinaan Sekolah Dasar Kutai Kartanegara, walaupun masih baru,  masuknya Tanoto Foundation dengan program PINTARnya telah  terbukti meningkatkan kualitas pendidikan di daerah tersebut.

Hal ini ditandai dengan nilai standar proses pembelajaran daerah ini pada tahun 2018 menjadi tertinggi di Kaltim. Penilaian tersebut dilakukan oleh LPMP Kaltim. “Oleh karena itu, Pemda sangat mendukung proses replikasi  atau penyebarluasan program PINTAR ini ke pendidik di seluruh Kutai Kartanegara yang tidak menjadi target langsung Tanoto Foundation,” ujar Tulus saat membuka pelatihan di SD 028 Muara Kaman, dalam siaran pers yang diterima harianguru.com Kamis, 14 Februari 2019.   

Diseminasi  program praktik baik pembelajaran aktif atau active learning ini dilakukan untuk 61 pendidik dari 13  sekolah yaitu Sekolah Dasar 08, 012, 17, 18,  dan lain-lain. Mereka terdiri dari kepala sekolah dan para guru.   
Menuru Sutopo, saat ini Kutai Kartanegara sedang defisit anggaran dan pelatihan guru belum masuk dalam APBD. “Sehingga kami sangat bersyukur Tanoto Foundation bisa hadir di Kabupaten ini membantu peningkatan kualitas pendidikan disini,” ujarnya.

Beberapa pendidik peserta pelatihan berasal dari SD 017 dan 018 Menamang . Sekolah tersebut sangat jauh dari tempat pelatihan.  Lebih dari 132 kilo meter dan memakan waktu perjalanan tiga jam. Sebagian jalannya belum diaspal, sehingga susah dilewati. “Walaupun jauh, semoga dengan pelatihan ini, cara mengajar saya lebih baik,” ujar pak Suryanto, guru kelas enam SD 017 Menamang. 

Sampai bulan Maret 2019, repilikasi program PINTAR Tanoto Foundation akan terus dilakukan baik oleh Kemenag maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara, yang totalnya akan mencapai 7 gelombang. Setiap gelombang akan melibatkan lebih kurang 60 peserta. Sebelumnya replikasi program juga dilakukan oleh Kemenag Balikpapan yang melibatkan 289 pendidik Madrasah Ibtidaiyah. (HG44/Hms).

Blora, Harianguru.com - Pertemuan Pramuka Sehari dalam rangka Pesta Siaga tingkat Kwartir Cabang (Kwarcab) Blora tahun 2019 berlangsung seru di SMK Negeri 1 Jati, Jumat (22/2/2019) kemarin, bertepatan dengan Hari Baden Powell (Bapak Pandu Dunia). Sebanyak 32 regu atau barung Pramuka Siaga yang terdiri dari 16 regu putra dan 16 regu putri dari 16 Kwartir Ranting (Kwaran) se Kabupaten Blora ikut serta dalam acara ini.

Pesta Siaga diawali dengan upacara pembukaan yang dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Blora, H.Arief Rohman M.Si yang tidak lain Ketua Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Blora. Di halaman SMK Negeri 1 Jati, seluruh peserta membentuk lingkaran besar untuk mendengarkan amanat dari Kak Arief Rohman sebelum memulai perlombaan.

Wakil Bupati dalam sambutannya menyatakan rasa senang dan bangganya bisa berada di tengah adik-adik siaga yang pemberani dan sehat. Ia juga mengucapkan Selamat Hari Baden Powell ke 162 untuk seluruh anggota Pramuka se Kabupaten Blora.

Pesta Siaga ini kegiatan yang sangat positif dalam membentuk karakter adik-adik siaga. Kami berharap melalui kegiatan ini dapat mendorong perkembangan dan kemandirian Gerakan Pramuka khususnya Pramuka Siaga untuk mempercepat keberhasilan dalam upaya pembentukan karakter kaum muda sebagai calon pemimpin bangsa yang lebih handal, lebih baik dan beriman pada masa yang akan datang,” ucapnya.

Wakil Bupati juga mengajak seluruh jajaran untuk mensukseskan kegiatan Pesta Siaga dengan tema Gembira, Kreatif, dan Bersahabat yang pada tahun ini mempunyai makna luar biasa. Sebuah tema yang tidak jauh dengan dunia adik-adik yang sangat menggembirakan.

Perlu diketahui bersama bahwa kegiatan ini tidak berhenti disini, melainkan masih ada kegiatan di tingkat Binwil Pati dan sampai ke Tingkat Kwartir Daerah Jawa Tengah.

Kepada Kakak Pembina Pendamping saya berpesan; tanamkan dalam jiwa adik-adik peserta bahwa ini adalah kompetisi yang menyenangkan bukan menegangkan, junjung tinggi nilai-nilai luhur yang tertanam dalam Dwi Darma Pramuka, ada darma yang mampu mencetak kaum muda berkarakter,” lanjutnya.

Dalam upacara pembukaan juga dilakukan pemberian hadiah berupa kuis wawasan kebangsaan untuk adik-adik siaga oleh Wakil Bupati bersama Kapolres dan Dandim yang pada kesempatan itu turut hadir langsung ke SMK Negeri 1 Jati.

Sejumlah pertunjukan seni budaya juga ditampilkan dalam acara ini, seperti drumband, seni barongan, tari tradisional, dan aneka permainan. Pesta Siaga resmi dibuka oleh Wakil Bupati dengan pelepasan balon disertai burung yang keluar dari replika tunas kelapa.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Forkopimda, Kepala OPD, Forkopimcam, Camat se Kabupaten Blora, Organisasi Wanita se Kabupaten Blora dan seluruh pengurus Pramuka.

Selama satu hari seluruh regu atau barung mempertunjukkan kemampuannya dengan percaya diri, kompak dan semangat, di masing-masing pos atau taman penilaian. Diantaranya Ketaqwaan, Keimanan, Permainan Besar, Yel-yel, Pengetahuan Umum/Pramuka, Penglihatan dan Ingatan, Tali dan Ikatan, Kompas, Kereta Bola Basket, Pentas Budaya, PBB (Baris-berbaris) hingga Bumbung Kemanusiaan.

Nadia, salah satu peserta Pesta Siaga merasa senang bisa tampil dengan regunya dalam ajang tahunan tersebut. Meskipun cuaca terik, tidak mengurangi semangat nya untuk menampilkan kemampuan terbaiknya.

Saya dan teman-teman sudah latihan, dan sekarang saatnya kita tampil agar bisa unggul. Pengennya bisa menang dan dapat piala seperti saat di tingkat Kecamatan beberapa waktu lalu,” ucap Nadia.

Handika Rahman, salah satu panitia sekaligus tim juri menerangkan bahwa setelah semua penampilan dinilai dan direkap, diperoleh masing-masing barung tergiat putra dan putri. Dimana tergiat pertama hingga ketiga nantinya akan mewakili Blora di Pesta Siaga tingkat Binwil Pati yang akan dilaksanakan bulan Maret.

Berdasarkan rekap nilai, diperoleh tiga regu tergiat sebagai berikut :
Tergiat Putra
Tergiat I Barung Siaga dari SDN 4 Jiken dengan nilai 1047,6
Tergiat II Barung Siaga dari SDN 1 Ngawen dengan nilai 1031,6
Tergiat III Barung Siaga dari SDN 5 Jepon dengan nilai 1016

Tergiat Putri
Tergiat I Barung Siaga dari SDN 2 Ngawen dengan nilai 1040,6
Tergiat II Barung Siaga dari SDN Giyanti dengan nilai 1021,3
Tergiat III Barung Siaga dari SDN 1 Nglandeyan dengan nilai 1017,9

Penyerahan hadiah dan piala dilakukan langsung dalam upacara penutupan yang dilaksanakan pada sore harinya. (HG44/Hms).

Kendal, Harianguru.com -  Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (PINTAR) Tanoto Foundation memfasilitasi para pelaku pendidikan di Asia untuk berkolaborasi dan menemukan praktik baik pendidikan. Pelaku pendidikan yang tergabung dalam Asia Philantrophy Circle (APC) dan filantropi Indonesia diajak untuk melihat langsung pola pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh PINTAR di Kabupaten Mitra yaitu Kendal dan Semarang.

“Sebagai pemimpin kluster pendidikan di organisasi filantropi Indonesia, Tanoto Foundation memiliki kepedulian untuk berbagi pengalaman dan memfasilitasi agar terjalin sebuah pertukaran ide dan kolaborasi  yang baik antar sesama filantropi pendidikan. Oleh karena itu, 2 hari ini kami mengajak mereka untuk berkunjung ke mitra di Kendal dan Semarang. Melihat secara langsung implementasi disekolah dan langsung berdiskusi dengan stakeholder pendidikan mitra,” kata Direktur Program PINTAR Tanoto Foundation Stuart Weston disela-sela kunjungan ke Kendal, Rabu (27/2).

Selama kunjungan, 20 orang dari 12 lembaga filantropi diajak untuk berkunjung ke pelatihan fasilator baru untuk diseminasi program PINTAR di SDN 2 Pegulon Kendal, kemudian mereka berdiskusi dengan Dinas Pendidikan dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kendal. Setelah itu mereka mengunjungi MI NU 53 Turunrejo, SDN 1 Brangsong, dan terakhir mereka melihat pelaksanaan pelatihan peran serta masyarakat mitra UIN Walisongo di Semarang.

“Mereka cukup terkejut dengan berbagai capaian program PINTAR di Kendal. Dalam waktu yang singkat, sekitar 5 bulan, banyak sekali perubahan yang terlihat, baik dalam manajemen sekolah, peran serta masyarakat, pembelajaran aktif, dan juga pengembangan budaya baca,” ungkap Stuart.

Kepala Perencanaan Strategis dan Kemitraan Tanoto Foundation Paul Collet menjelaskan, pada 2017, Tanoto Foundation bekerja sama dengan Asia Philanthropy Circle meluncurkan buku panduan berjudul Katalisasi Penghidupan Produktif: Panduan Intervensi Pendidikan Melalui Jalur Akselerasi untuk Skala Besar dan Dampak Maksimal.

Dalam buku panduan tersebut, terdapat empat rekomendasi bagi lembaga filantropi untuk fokus dalam kegiatan meningkatkan kualitas pendidikan: kualitas guru, kepemimpinan guru dan tata kelola sekolah, pendidikan dan pengembangan anak usia dini, dan pendidikan kejuruan.

“Tanoto Foundation fokus pada tiga kegiatan rekomendasi APC, yaitu kualitas guru, kepemimpinan guru dan tata kelola sekolah, dan pendidikan dan pengembangan anak usia dini. Pada 28 September 2018, Tanoto Foundation meluncurkan program PINTAR, yang berfokus pada pada tiga pendekatan, yaitu membangun praktik-praktik baik pembelajaran, manajemen dan kepemimpinan sekolah; mendukung pemerintah menyebarluaskan praktik-praktik baik; dan  mendukung Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dalam pendidikan calon guru.” ungkap pria keturunan selandia baru ini.

Di dalam laporan juga ditemukan bahwa sudah banyak program yang dilakukan oleh filantropi Indonesia namun skalanya masih kecil dan pada daerah-daerah operasi organisasi tersebut sehingga perlu dikembangkan sebuah kolabolarasi yang efektif sehingga cakupannya bisa lebih luas.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal Drs Sutadi dalam sambutannya kepada peserta filantropi menyebutkan bahwa, kunci sukses implementasi program PINTAR di Kendal yaitu keterbukaan terhadap kolaborasi dengan berbagai pihak. Apalagi terhadap program PINTAR yang notabene memiliki semangat yang sama dalam perbaikan pendidikan.

Mariska Estelita salah satu peserta dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengungkapkan bahwa dirinya melihat kerjasama yang dibangun oleh PINTAR ini memiliki keunikan. Kenunikan tersebut adalah dengan cara melibatkan semua elemen pendidikan. Mulai dari Pemerintah daerah baik berupa MOU atau perjanjanjian kerjasama yang legal dan jelas, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan /Universitas, komite sekolah, guru, Kepala Sekolah, Pengawas, Korwil, kepala desa, perpustakaan dan semua lembaga didaerah yang ada kaitan dengan pendidikan.

“Semua bisa bersinergi dan secara holistic, mereka terbuka dan berinisitaif untuk menghadirkan pendidkan yang terbaik. Ini yang menarik dari Program PINTAR, sehingga kami sangat tertarik untuk berbagi dan berkolaborasi,” ungkap Mariska dengan antusias.

Tindak lanjut dari kunjungan ini, para filantropi sepakat untuk membuat komunitas pendidikan yang lebih kuat di Indonesia, kemudian mereka akan juga berbagi program untuk saling melengkapi, berbagai softwere internal dan pertukaran ide kretif lainnya. (HG44/Hms).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget