Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

2019

Balikpapan,  Harianguru.com - Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan,  Mukiran,  menyatakan bahwa pembelajaran di semua sekolah dasar di Balikpapan harus memakai metode pembelajaran aktif. Metode tersebut sangat penting diterapkan karena ke depan Indonesia harus menghadapi kompetisi global yang membutuhkan manusia-manusia yang memiliki ketrampilan  berpikir tingkat tinggi,  analitis, kritis dan kreatif.

“Pembelajaran dengan model ceramah biasa hanya membuat para siswa mengingat, memahami, dan mengaplikasikan  pelajaran.  Ini pembelajaran model dahulu yang hanya berkutat bagaimana siswa memperoleh pengetahuan sebanyak-banyaknya. Karena sudah banyak tersedia fasilitas memperoleh pengetahuan secara mandiri, zaman sekarang siswa sudah harus lebih jauh pada tingkat memiliki ketrampilan menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi untuk pengembangan lebih jauh,” ujarnya, 24 Agustus 2019.

Untuk membuat siswa  analitis, kritis dan kreatif semacam itu, skenario pembelajaran harus disusun sedemikian rupa dan secara sungguh-sungguh. Guru harus harus mampu membuat lembar kerja siswa yang mendorong siswa terus berpikir analitis, kritis dan pada akhirnya melahirkan suatu karya. “Di Balikpapan ini, kemampuan guru dalam membuat lembar kerja siswa yang membuat siswa bisa berpikir kritis dan kreatif  sangat perlu ditingkatkan. Lembar kerja sekarang bukan lagi yang menilai pengetahuan siswa, tapi yang mengarahkan siswa menjadi analitis terhadap masalah, terlatih menjadi problem solver dan kreatif,” tegasnya.

Untuk menunjang hal tersebut,  pertengahan Agustus kemarin,  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan mendiseminasikan pelatihan pembelajaran aktif program PINTAR atau Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pendidikan. Program yang merupakan hasil kerjasama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kemenag Balikpapan dan Tanoto Foundation ini sebelumnya hanya untuk para pendidik di 24 sekolah,  namun karena komitmen pemerintah kota Balikpapan untuk membuat pendidikan dasar semakin berkualitas, program pelatihan tersebut didiseminasikan ke 181 pendidik dari 39 sekolah dasar lainnya. 

Selama pelatihan tersebut, para peserta dilatih membuat pertanyaan-pertanyaan yang membuat siswa bisa lebih analitis, kritis dan kreatif. Mereka juga dilatih mengelola kelas yang mengarahkan siswa lebih aktif, mampu bekerjasama dalam tim dan percaya diri. Mereka juga langsung menerapkan hasil pelatihan dengan praktik mengajar.

Sebelumnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan bekerjasama dengan LPMP Kaltim, menyelenggarakan diseminasi pelatihan dengan model yang hampir sama  untuk  34 ketua KKG kota Balikpapan. “Kami berharap ketua-ketua Kelompok Kerja Guru yang mencakup semua kecamatan ini, melatihkan ke anggota-anggotanya.  Dengan cara demikian,  metode pembelajaran aktif semakin dikenali dengan lebih baik,” ujar Triyuni Astuti, Kasi Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  Kota Balikpapan.

Diseminasi Program PINTAR di Samarinda
Berkat  motivasi dari dosen-dosen Universitas Mulawarman, empat sekolah dasar Katholik di Samarinda secara mandiri juga melakukan diseminasi pelatihan program pembelajaran aktif PINTAR.  Empat sekolah tersebut adalah sekolah Dasar Katholik Asisi, SDK WR Supratman 1, 2 dan 3. Peserta berjumlah 50 orang.

Metode pembelajaran aktif merupakan metode yang berdasarkan banyak penelitian  telah terbukti berhasil meningkatkan daya serap siswa.  Penelitian yang dilakukan oleh Hoellwarth & Moelter (2011)menunjukkan bahwa mengubah cara mengajar pelajaran fisika dari model mengajar tradisional  ke pembelajaran aktif akan meningkatkan  daya serap siswa terhadap pelajaran sebanyak 38 persen.  Awalnya daya serap siswa cuma  12 persen, setelah diterapkan pembelajaran aktif,   daya serapnya menjadi 50 persen. Hasil tersebut diukur dengan menggunkan Force Concept Inventory yang merupakan standar baku pengukuran pembelajaran fisika. “Mengadopsi pembelajaran aktif program PINTAR akan meningkatkan kualitas siswa, baik dari segi daya serap dan karakternya. Pembelajaran aktif akan membuat mereka memiliki kecakapan sosial dan lebih percaya diri,” ujar Prof. Dr. Makrina TIndengan, Guru Besar FKIP Universitas Mulawarman.

Sandra Lakembe, Penanggung jawab utama program diseminasi  dari Tanoto Foundation berharap pembelajaran aktif benar-benar konsisten  dilakukan oleh para guru yang sudah dilatih. “Dengan konsistensi, guru akan semakin banyak belajar dari pengalaman-pengalaman. Menjadi guru fasilitator itu butuh pembiasaaan tiap hari,” ujarnya. (HG44/Hms).

Kudus, Harianguru.com - Dalam rangka turut memperingati Dirgahayu Republik Indonesia ke-74, Pusat Kerja Gugus (PKG) PAUD, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, menggelar karnaval kemerdekaan di Lapangan Mrican, Honggosoco, Sabtu, 24/08/2019.

Mengusung tema, 'Dengan Semangat Proklamasi Kemerdekaan Menuju Indonesia Unggul' tersebut, menuai kemeriahan  dengan 51 lembaga PAUD, yang mengikuti jalanya karnaval.

Sedari pagi, ribuan peserta didik dari 51 lembaga PAUD di Jekulo, mengikuti karnaval mengendarai kereta mobil dan menghiasi dengan identitas bendera merah-putih.

Anak-anak PAUD tersebut juga kenakan berbagai pakian adat maupun profesi, terlihat antusias mereka dengan menyanyikan lagu kebangsaan.

"Karnaval tersebut terselenggara, berkat kerja sama yang apik, antara IGTKI dan Himpaudi Kecamatan Jekulo yang bernaung dalam PKG," ungkap Yuliana, salah satu panitia kegiatan.

Sementara, Kartono, Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Jekulo, dalam sambutanya, ia menyambut baik dan mengapresiasi atas pelaksanaan kegiatan karnaval tersebut.

Tujuan peringati Dirgahayu Republik Indonesia ini, tak lain adalah sebagai ungkapan untuk mensyukuri nikmat, bagaimana perjuangan untuk mencapai kemerdekaan sangat luar biasa, berkat pejuangan seluruh rakyat Indonesia yang begitu gigih, "alhamdulillah Allah Swt, merahmati perjuangan kita dengan kemerdekaan, kita patut mensyukurinya," tuturnya.

Dengan adanya karnaval, dalam peringatan kemerdekaan yang diagendakan PKG Jekulo, "ini sebagai salah satu manifestasi persatuan, untuk memupuk kedamaian dan pelaksanaan pendidikan PAUD yang lebih baik, khususnya di Kecamatan Jekulo," ujarnya.

PAUD merupakan pendidikan usia dini, untuk itu, Kartono, menyampaikan pesan kepada pendidik se kecamatan,  "tanamkanlah karakter pada peserta didik 'panjenengan' semua, untuk meraih generasi saleh, bakti kepada orang tua dan kepada Bangsa," pesanya disampaikan kepada Pendidik PAUD Jekulo.

Karnaval dihdiri oleh Stake-holder Kecamatan Jekulo, Kepala UPT Kecamtan Jekulo, Koramil, Polsek, Ketua PKG, Ketua IGTKI, Ketua Himpaudi dan Kepala Desa Honggosoco

Dalam kesempatan tersebut, kegiatan dibuka oleh Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Jekulo.  (Hg44/Fakhrudin).


Magelang, Harianguru.com -  Bertempat di Gedung Prajurit Kodim 0705, Jalan A. Yani, Portobangsan, kuliah umum untuk Mahasiswa Baru Fakultas Ekonomi UNTIDAR Magelang dengan tema “Pembentukan Karakter Generasi Muda yang Berprestasi, Berjiwa Pancasila, dan Berakhlakul Karimah’’.

 Kuliah umum ini menghadirkan ulama muda serta tokoh Magelang KH M. Yusuf Chudlori atau biasa disapa Gus Yusuf pengasuh Pondok Pesantren (API) Asrama Perguruan Islam Tegal Rejo, Senin (26/08/2019).

Kuliah umum dibuka oleh Wakil Rektor bidang Akademik, Dr. Noor Farid M.Si, dalam sambutanya di depan civitas akademika Fakultas Ekonomi dan Mahasiswa Baru sekitar 480 orang. Beliau menekankan mahasiswa baru untuk belajar sungguh-sungguh, sehingga kelak menjadi mahasiswa yang berguna dan bermanfaat bagi Agama, Nusa dan Bangsa. Selanjutnya sambutan Dekan Dr. Hadi Sasana, M.Si. mengucapkan selamat datang kepada mahasiswa baru.

“Jadilah mahasiswa yang berprestasi dan membanggakan serta menekankan pada aspek karakter yang berjiwa wirausaha, pancasila dan berakhlak,” ungkapnya.

Pembicara utama atau inti Gus Yusuf dalam isi kuliah umum mengatakan jadilah orang yang selalu bersyukur atas nikmatNya, syukur atas Kemerdekaan Indonesia, para pahlawan berjuang mati-matian demi kemerdekaan, saat ini kita tinggal merawatnya, tidak usah merusak apalagi mecah belah dengan hanya ikut-ikutan kelompok tertentu, yang jelas merusak tatanan bangsa.

Pancasila menjadi ideologi luar biasa bagi bangsa Indonesia, karena sila-sila merepresentasi cita-cita bersama. Mahsiswa tinggal meneruskan perjuangan para pahlawan dengan sungguh-sungguh dalam belajar serta kelak bisa menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi sesama.

Beliau juga menyempaikan ada tiga kunci kenikmatan dalam falsafah hidup nilai baik dan buruknya, hal penting yang harus dimiliki dan diketahui bersama untuk para mahasiswa baru fakultas ekonomi.

Pertama, ibadah yang taat, semisal Islam ya shalat lima waktu dijalankan tidak, kalau ya indikatornya Insya Allah baik, kalau tidak jelas Salatnya berarti ada masalah begitu indikatornya menilai seseorang baik/buruknya. Termasuk mahasiswa ya ikuti peraturan Kampus, ikuti aturan Rektor jangan sampai melanggarnya.

Kedua, ambil di tengah-tengah (Moderat), tidak usah terlalu cenderung ke kiri maupun kanan, tapi ambil jalan yang bijak yang bisa mengayomi semuanya,  jadilah mahasiswa yang biasa, tampil apa adanya tidak usah berlebih-lebihan, sok keminter, sok bener, sok hebat dan lainnya.

Ketiga, Akhlak/Budi Pekerti, akhlak itu di atas ilmu, sesama makhluk harus saling membumi, tawadhu, menghargai, menghormati kepada dosen, guru, orang tua dan kepada sesama, tanpa saling menyakiti, kalau  tidak mau disakiti jangan menyakiti, kalau tidak mau melukai, jangan sekali-kali melukai. Kemudian pesan terakhir mahasiswa harus betul-betul selektif dalam kegiatan kampus.

“Sekarang banyak ideologi radikal yang bisa membahayakan diri sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar, belajar dengan baik diimbangi dengan agama yang baik, belajar agama dengan benar karena menjadi landasan hidup, serta jauhi Narkoba buat generasi muda,” tutupnya. (Red-HG71/MoySukron).

Kudus, Harianguru.com - Kelompok Bermain Al-Azhar, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, menggelar upacara Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia, Sabtu, 17/08/2019.

Menariknya, seluruh pendidik KB Al-Azhar mengenakan pakaian adat Kudus. 

Pakaian adat kudus memiliki ciri khas, dimana perempuan yang memakai baju adat Kudus mengenkan caping kali, baju kurung bludru, jarik, selendang tohwatu dan pernak-pernik lainya tersebut dikenakan dalam upacara yang di selenggarakan di halaman KB Al-Azhar dan diikuti oleh 35 pendidik dan berlangsung sangat khidmat.

Eni Misdayani, Ketua Penyelenggara KB Al-Azhar menyampaikan, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini memilki beragam identitas masing-masing suku, baik bahasa dan budayanya, oleh karena itu, baju adat yang kita pakai hari ini merupakan jati diri kita sebagai warga Kudus.

"dengan pakain yang kita kenakan ini juga menunjukkan bahwa betapa melimpah-ruahnya kekayaan budaya kita dan salah satunya, sebagai salah satu wujud pelestarian baju adat Kudus" tuturnya.

Lanjut, Umi Eni, sapaan akrab Penyelenggara KB Al-Azhar tersebut, pada ulang tahun ke-74 Republik Indonesia, tahun ini, dengan tema SDM Unggul, Indonesia Maju, di dorong dengan kuatnya (SDM) Sumber Daya Manusia, "pendidikan di PAUD harus selalu kita upayakan untuk keberlangsungan para pewaris masa depan Bangsa," imbuhnya.

"Harapanya, melalui suksesnya pendidikan di PAUD, kita akan menyongsong menuju Indonesia Emas di tahun 2045, dengan kualitas pendidikan yang baik dan dimulai sejak dini, kita akan memiliki generasi yang benar-benar dapat dikata generasi emas dengan kerja keras dalam berbagai bidang termasuk pendidikan," pungkasnya. (hg44/Fakhrudin).


Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.

Ruang kelas sekolah hari ini tak ubahnya menjadi ekspo elektronik. Ruang kelas semakin berjubel dengan peralatan meja, kursi,AC, kipas angin, LCD, speker aktif, dan kabel-kabel bersliweran. Walaupun tidak semuanya, itulah sedikit kritik atas gambaran dinamika ruang kelas yang ada di sekolah saat ini. Semua diatur sedemikian rupa dengan kendali struktur yang ada.

Sepoi angin melambai-lambai dan hamparan sejuk taman sekolah tak lagi dijangkau oleh sejauh mata memandang. Memang terasa dingin suhunya saat listrik tidak oglangan, tetapi ketika listrik padam, semua berubah. Ruang kelas seakan pabrik yang mengepulkan asap panas. Panas, panas, dan panas. Sungguh ironis, pembelajaran desain ruang kelas masa lalu pun hanyut seiring kebijakan anggaran yang memihak teknologi, namun jauh dari sentuhan alam dan sosial.

Peran seorang guru pun pada sisi ini menjadi penting. Menghidupkan kembali suasana kelas yang ramah anak, yang sarat akan teknologi tapi tidak kaku saat teknologi mati. Aktivitas belajar tetap berjalan dengan menyenangkan meski tanpa AC, tanpa kipas angin, tanpa LCD dll. Karena selain mengasah kemampuan mengajar, guru sebagai pengajar sekaligus pendidik di sekolah pun perlu tahu bagaimana pola pengajaran yang tepat diberikan kepada peserta didiknya.

Dan bukan hanya soal pengetahuan, belakangan seiring perkembangan zaman, metode pembelajaran mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Saat kita bicara bahwa kita percaya kemerdekaan guru dan kemerdekaan belajar siswa, maka akan bersinggungan dengan banyak hal. Salah satunya kemerdekaan dalam proses belajar. Jika tujuannya agar anak mampu mengerjakan soal ujian, kita cukup mengajarkan cara menjawab soal-soal ujian dengan benar. Jika tujuannya agar anak mampu mempelajari dan menjawab tantangan hidup, selaku pendidik kita perlu mengajarkan murid untuk merdeka belajar.
Proses belajar yang bermakna mensyaratkan kemerdekaan guru dan murid dalam menentukan tujuan dan cara belajar yang efektif. Guru merdeka menemukan paduan yang pas antara tuntutan kurikulum, kebutuhan murid, dan situasi lokal. Murid merdeka menetapkan tujuan belajar bermakna, memilih cara belajar yang efektif, dan terbuka melakukan refleksi bersama guru.

Proses belajar yang menyenangkan dan bermakna hendaknya tidak memberikan sekat antara ruang kelas dengan realitas. Menyatukan keduanya dalam skenario pembelajaran dan kehidupan yang menarik. Jangan jadikan ruang kelas hanya menjadi objek penataan meja kursi dan seperangkat elekronik. Desain ruang kelas sudah saatnya dikembalikan pada sang pemilik kelas yakni guru dan siswa.    

Siswa dan guru harus sama-sama belajar. Ruang kelas yang sebenarnya adalah kenyataan yang ada. Jadikan ruang kelas menjadi sumber inspirasi bagi siswa. Jadikan setiap sudut ruang kelas menjadi media dan sumber belajar bagi siswa. Membawa alam semesta ke dalam ruang kelas bukanlah tak mungkin. Dibutuhkan kreatifitas guru dalam mewujudkan semua itu. Jadikan ruang kelas, menjadi udara sejuk nan asri. Jadikan ruang kelas menjadi air mengalir yang menghidupkan. Jadikan ruang kelas menjadi tanah yang subur, dan jadikan ruang kelas, menjadi cahaya penerang dengan pengalaman belajar, pengalaman mencoba, pengalaman menulis, pengalaman bercerita, pengalaman bermain peran, pengalaman berkomunikasi, pengalaman bersosial dan  penggalian berbagai ilmu.

Kemerdekaan siswa dan guru
Guru berperan penting dalam pendidikan, namun tuntutan akan besarnya peran atau secara spesifik tingginya kompetensi tidak akan tercapai saat guru tidak memiliki hal yang asasi: kemerdekaan. Kemerdekaan guru dalam jangka panjang berperan sentral untuk menumbuhkan kemerdekaan belajar siswa.

Lalu bagaimana cara guru menghidupkan kemerdekaan dalam kelas. Kemerdekaan bagi guru dalam mengelola pembelajaran dan kemerdekaan belajar bagi siswa?

Pertama, tersedia fasilitas dan prasarana yang membangkitkan semangat berkarya dan berimajinasi bagi anak. Seperti membuat pohon literasi di sudut kelas yang didisi dengan gantungan kaleng-kaleng bekas berisi karya-karya siswa baik secara individu ataupun kelompok. Bisa juga dengan membuat sudut baca yang menyediakan buku-buku bacaan anak. Sehingga setiap harinya anak-anak diajak membaca. Atau dengan memilih salah satu buku bacaan berurutan setiap harinya, lalu semua siswa mendengarkan bacaan yang dibacakan oleh guru atau salah satu siswa dengan suasana yang santai siswa duduk di lantai melingkar. Kegiatan demikian cukup efektif untuk menghilangkan kejenuhan belajar.

Kedua, siswa diberi kebebasan untuk bergerak di ruang kelas, bebas menyampaikan pendapat mereka dan tidak ada pengelompokan atas dasar tingkat kecerdasan. Karena pada dasarnya semua siswa memiliki kemampuan yang sama. Tinggal tugas guru untuk mengarahkan dan membimbing dengan sabar dan terbuka.

Ketiga, membiasakan siswa menulis buku harian atau diary. Aktivitas ini dilakukan setiap harinya setelah pembelajaran berakhir atau jelang jam pelajaran terakhir usai. Biarkan anak-anak menuliskan rasa suka dukanya di hari itu. Cara ini sangat efektif membantu guru memahami masing-masing kepribadian siswa, terlebih bagi siswa introvert yang terkenal dengan sikap pendiamnya. Setelah siswa pulang, guru membaca satu per satu tulisan siswa. Dari membaca tulisan siswa, guru bisa melakukan refleksi dari cara pengajarannya hari ini. Apa yang dituliskan oleh siswa menjadi tindak lanjut guru di pertemuan berikutnya. Permasalaan-permasalahan yang ada pada diri siswa, guru bisa membantunya. Setidaknya dengan menulis isi hatinya lewat diary, siswa pulang sekolah dalam keadaan tidak membawa beban psikisnya.

Keempat, menciptakan suasana kelas yang penuh kasih sayang, hangat, hormat dan terbuka, artinya guru bersedia mendengarkan keluhan peserta didik dengan aman dan mampu menjaga rahasia siswa. Kelima, jika ditemukan masalah pada siswa dengan siswa, guru menangani masalah tersebut dengan jalan berkomunikasi secara pribadi dengan siswa yang bersangkutan tanpa melibatkan pihak lain.

Guru tidak perlu menjadi figur yang serba ahli, selama dia merdeka dengan mempraktikkan segala apa yang dia pelajari dan belajar dari banyak kegagalan sebelum akhirnya meraih kemerdekaan sesungguhnya di dalam kelas bersama siswa. Karena kemerdekaan milik kita bersama, guru dan siswa.

-Penulis adalah Guru SD Supriyadi Semarang.

Kaltim, Harianguru.com - Hari kemerdekaan bisa dirayakan dengan berbagai macam cara. Salah satunya dengan menggerakan lebih jauh budaya baca yang sudah ada di sekolah, seperti dilakukan oleh SDN 008 Muara Kaman. Bergotong royong bersama dengan lebih 100 orang tua siswa, para pendidik di sekolah tersebut membangun dua pondok baca, taman dan pagar sekolah.

“Bertepatan dengan hari kemerdekaan, sekolah kami menjadi tempat rapat kelompok kerja kepala sekolah. Untuk menyambut mereka dan hari kemerdekaan 17 Agustus ini, pada awal Agustus kemarin, kami  mendirikan dua pondok baca bersama dengan orang tua siswa,” ujar Murniati, Kepala Sekolah, Sabtu, 17 Agustus 2019.

Uniknya pondok baca, taman dan pagar yang dibangun dibuat dari bahan yang murah yaitu dari ban mobil bekas. Bahan tersebut terutama untuk kursi dan mejanya, sedangkan atapnya dibuat dari daun palma.

Semua bahan untuk pembangunan pondok baca, taman dan pagar berasal dari orang tua siswa. Ban diambil dari dua bengkel yang ada di dekat sekolah milik orang tua siswa. Ban-ban itu gratis disumbangkan begitu saja oleh orang tua siswa. Orang tua siswa yang lain menyumbang kayu, cat, semen dan lain-lain. Ada juga yang menyumbang uang secara sukarela.  “Semua pengeluaran dan pemasukan akan kami laporkan secara terbuka kepada orang tua Siswa setelah kegiatan Agustusan hari ini,” ujar Murniati.

Lalu bagaimana cara agar orang tua siswa mau tergerak membantu sekolah. Murniati membagikan kiatnya. “Saya sering berkomunikasi secara terbuka dengan komite tentang berbagai kebutuhan sekolah dan keterbatasan dana yang kami miliki.  Setelah Pelatihan Program PINTAR Tanoto Foundation, sebagai bagian rencana tindak lanjut setelah pelatihan, saya juga berkonsultasi dengan komite untuk mendirikan pondok baca, taman dan pagar sekolah,” ujar Murniati.

Komite sangat sigap menanggapi usulan sekolah. Setelah diberitahu tentang keinginan membangun pondok baca, komite segera mengundang seluruh wali murid untuk rapat. Akhirnya wali murid dari kelas satu sampai kelas enam sepakat untuk bergotong royong  membangun bersama.

Saat ini, para wali murid juga berkumpul menyambut hari 17 Agustusan dengan berbagai lomba, salah satunya lomba lari terompah dan tarik tambang. “Ini kami lakukan agar hubungan kami dengan mereka semakin akrab. Hubungan yang akrab dengan mereka akan memudahkan membangkitkan peran serta masyarakat,” ujar Murniati.

30 Kepala sekolah yang ikut rapat K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) juga dipersilahkan untuk melihat dan bertanya tentang pondok baca, taman dan pagar yang dibangun. “Mereka banyak yang antusias bertanya tentang sumber dana membangun pondok baca ini. Karena murah, saya yakin mereka akan juga membangun pondok-pondok baca di sekolah masing-masing,”ujar Murniati bersemangat menyebarkan praktik baiknya.

Keperdulian komite dan orang tua siswa memang lumayan  besar di sekolah ini.  Ketua Komite, bapak Teguh Wahyudi, bahkan secara sukarela menyumbangkan 50 benih kelapa sawit dan pupuknya untuk sekolah. Tanaman tersebut ditanam di tanah sekolah seluas 75 x 100 meter. “Hasilnya nanti untuk memenuhi berbagai kebutuhan sekolah yang tidak bisa hanya mengandalkan dana BOS, misalnya untuk tambahan gaji guru honorer,” ujar Murniati.

Bangkitnya peran serta masyarakat juga tak lepas dari peran pengawas sekolah Pak Ponidi dan kepala UPT desa tersebut, Pak Alpian. Selama rapat dengan orang tua wali murid, pak Ponidi memberikan kesadaran terhadap orang tua siswa tentang pentingnya membaca bagi siswa sehingga masyarakat mau bergerak. Kepala UPT sering datang ke sekolah memberikan masukan-masukan. “Jadi kami didukung oleh banyak pihak. Tanpa keterlibatan banyak pihak, sekolah tidak akan bisa banyak mengalami kemajuan seperti sekarang,” ujar Murniati menutup. (Hg33/hms).


Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka menyambut HUT RI ke 74, MTs Ma'arif Gemawang Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah menggelar berbagai perlombaan di MTs Ma'arif Gemawang Selasa (13/8/2019) dan Rabu (14/8/2019).

Tujuan pelaksanaan lomba itu tidak sekadar formalitas, namun lebih pada untuk menanamkan spirit nasionalisme kepada pelajar.

Siswa-siswi MTs Ma'arif Gemawang mengikuti perlombaan permainan seru, seperti estafet air, mengambil koin pada pepaya dan memasukkan pensil ke dalam botol, dengan sangat antusias pada Selasa (13/8/2019). 

Perlombaan dilanjutkan kembali usai melaksanakan upacara peringatan Hari Pramuka ke 58 pada Rabu (14/8/2019) pagi. Adapun perlombaan pada hari ini adalah lomba menghias kelas, paduan suara dan menghias tumpeng.

"Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memupuk rasa nasionalisme dan cinta tanah air pada siswa-siswi MTs Ma'arif Gemawang khususnya dan generasi muda NU umumnya", tutur Kepala MTs Ma'arif Gemawang Imam Achmadi.

Peringatan HUT RI ini sangat penting agar generasi penerus bangsa tidak melupakan sejarah bangsanya dan memiliki semangat untuk mengisi kemerdekaan dengan berbagai prestasi yang mengharumkan nama bangsa.

Kegiatan perlombaan diakhiri dengan tasyakuran dan makan tumpeng bersama siswa dan guru MTs Ma'arif Gemawang. (Hg44//Enik)

Balikpapan, Harianguru.com - 24 Sekolah di Balikpapan, 16 SD/MI dan 8 SMP/MTs hari ini (24 Juli 2019) mengadakan showcase atau unjuk karya praktik baik pembelajaran dan manajemen berbasis sekolah di gedung KNPI Balikpapan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh program PINTAR hasil kerjasama antara pemerintah kota Balikpapan lewat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Balikpapan, Kemenag Balikpapan dan Tanoto Foundation.

Dalam pameran program PINTAR atau Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran ini, 24 sekolah ini mendirikan 24 stand yang memamerkan berbagai kreatifitas pendidik dan siswa di sekolah. Kreatifitas yang banyak muncul setelah  pelatihan pembelajaran aktif, manajemen berbasis sekolah, budaya baca dan peran serta masyarakat yang diselenggarakan untuk sekolah mitra program mulai bulan September 2018.

Dalam Sambutan Showcase atau pameran pendidikan ini, Bapak Walikota Balikpapan yang diwakili oleh Asisten 2, Muhammad Noor  mengajak para guru untuk menciptakan siswa yang inovatif, kreatif, produktif dan mampu berpikir tingkat tinggi serta cinta dan bangga terhadap Indonesia. Walikota juga menyatakan apresiasinya terhadap program PINTAR yang telah mengimplementasikan pelatihan yang ikut mendukung terciptanya siswa –siswa demikian.  “Dengan meningkatnya pihak-pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan di tanah air,  ke depan saya yakin sumber daya manusia Indonesia semakin baik dan maju,” ujarnya mengapresiasi.

Sementara Ari Widowati, Deputy Director Program Program Basic Education  Tanoto Foundation , menyatakan hasil yang terlihat dalam pameran merupakan praktik-praktik baik yang bisa dijadikan inspirasi bagi sekolah-sekolah lain. “Pendidikan yang berkualitas di semua sekolah bisa mempercepat kesetaraan peluang siswa ke depan,” ujarnya. Tak lupa dia juga ungkapkan  apresiasinya kepada pemerintah daerah atas kerjasama yang baik menjalankan  program PINTAR.

Selain pameran yang menampilkan karya siswa dan guru di booth, beberapa siswa juga melakukan unjuk karya hasil kreatif pembelajaran aktif memakai unsur MIKIR (mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi). Siswa kelas VI SDN 006 yaitu Nabila Salsabil dan Axel Nareswara menampilkan di hadapan undangan energy alternatif untuk menyalakan lampu dari buah apel, kentang dan  jeruk nipis.   Dengan kreatif, mereka berdua mencoba menghubungkan  buah-buah tersebut dengan kabel, tidak secara langsung, tapi pakai koin, paku, penjepit. “Bapak/Ibu, karena buah-buah tersebut mengandung asam solanum, maka dapat menghasilkan listrik dan menghidupkan lampu,” ujar Axel menyimpulkan.  

Sedangkan siswa SMP 12  yang diwakili oleh Ayuditya Pratiwi Widyani dan Muhammad Ikhsan menampilkan lomba menangkap es untuk membuktikan prinsip IPA dalam kehidupan sehari-hari. Demonstrasi yang dilakukan  ingin membuktikan bahwa  es yang diberikan garam akan membeku lebih lama.

Siswa dari MINU yang bernama Asyifa Soliha Ramadhani menampilkan kesukaannya membaca buku setelah sekolah menyelenggarakan program budaya baca, yaitu membaca 15 menit sebelum pembelajaran dan membaca masal selama 30 menit setiap hari sabtu. Soliha juga rajin membaca karena dorongan orang tua. Setiap bulan rata-rata dia membaca 5 sampai 8 buku.

Masih banyak siswa yang lain yang tampil menunjukkan kreatifitasnya, misalnya membuat balon dari coca cola dan garam, cara membuat hujan buatan secara sederhana dan lain-lain.

Setiap stand juga banyak menampilkan banyak karya inovatif dari siswa, misalnya maket gunung yang dibuat untuk mempraktekkan bagaimana gunung meletus, pembuat es krim sederhana,  saringan  air kotor, maket daur hidup hewan dan lain-lain.

Pameran kali ini merupakan unjuk keberhasilan pelatihan modul 1 program PINTAR. Mulai bulan Agustus 2019, PINTAR juga akan melatih para guru, kepala sekolah, komite dan pengawas dengan modul II, yang isinya akan lebih menukik lagi ke arah konten pembelajaran dan semua pendukungnya. Modul 1 lebih banyak  berpusat pada penguatan unsur pembelajaran aktif yaitu mengalami, interaksi, komunikasi dan refleksi dan aspek-aspek lain yang menunjangnya. 

“Kemenag Balikpapan telah mendiseminasikan program ini ke  seluruh madrasah Ibtidaiyah di Balikpapan yang jumlahnya 24 buah, dan Dinas Pendidikan juga telah mendiseminasikan ke 34 Ketua Kelompok Kerja Guru. Ketua-ketua tersebut diharapkan nanti mendiseminasikan ke semua guru yang lain di KKGnya.,” ujar Munawir, penanggung jawab kegiatan yang mengucapkan apresiasinya kepada pemerintah kota Balikpapan dan Kemenag yang mendukung penuh kegiatan unjuk karya ini.  (HG44).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap buku semenjak dini, SDN 003 Tenggarong Kutai Kartanegara menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan salah satu tema kegiatannya adalah Program Budaya Baca di sekolah tersebut.

Dalam kegiatan tersebut, 61 anak-anak didik baru sekolah tersebut dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok terdiri dari lima orang. Karena mereka belum diajarkan menulis dan membaca, tiap guru yang bertanggung jawab di kelompok hanya menceritakan sebuah buku cerita. Setelah mendengar cerita tersebut, siswa yang berani diberikan microphone dan  menceritakan kembali.  Orang tua siswa yang mengantar anaknya dan bebas masuk melihat juga kegiatan tersebut dari bangku-bangku yang sudah disediakan. 

Setelah diceritakan buku cerita tersebut, salah satu murid baru yang bernama Fatih berkata bahwa di rumah tidak pernah dilakukan kegiatan demikian. Ia kemudian berlari ke ibunya dan  memintanya melakukan kegiatan seperti itu juga di rumah. “Saya senang melihat reaksi itu.  Kegiatan  seperti ini juga dalam rangka menanamkan pada orang tua siswa bahwa budaya baca bukan cuma tanggung jawab sekolah, tapi juga orang tua siswa,” kata Kurnia Astuti,  salah satu guru yang bertanggung jawab atas kegiatan tersebut. 

Untuk menguatkan, budaya baca  juga disosialisasikan lewat rapat bersama orang tua siswa baru di hari berikutnya.  Dalam rapat tersebut, pihak sekolah menegaskan bahwa sekolah telah  memiliki SK Budaya Baca yang isinya berbagai kegiatan budaya baca dan penanggung jawabnya. Kegiatan tersebut umpamanya meliputi membaca 15 menit, membaca selama 2 jam di perpustakaan di waktu-waktu khusus,  menceritakan isi buku bacaan, kegiatan rutin menulis dan pengadaan buku. Orang tua juga diharapkan juga aktif membantu budaya baca selama di rumah, misalnya lewat bercerita dengan anaknya sebelum tidur.

Kegiatan yang hampir sama juga dilakukan oleh sekolah mitra Tanoto Foundation yang lain yaitu  MTsN 1 Balikpapan. Bekerjasama dengan Aliansi Bikers Sosial Balikpapan, para siswa baru dikumpulkan bersama di mushola dan dikenalkan budaya baca di sekolah. Salah satunya adalah mengenalkan program  pengadaaan buku lewat “koinku untuk buku”. Diharapkan semua siswa secara sukarela menyumbangkan koin setiap bulannya. Abdul Gofur, kepala MTsN 1 Balikpapan juga sempat membawa kaleng koinku dan siswa yang sudah membawa koin dari rumah memasukkan secara bergiliran ke kaleng tersebut.

Berkat kegiatan koinku untuk buku, sekolah tiap bulan rata-rata mendapatkan dana 800 ribu untuk pengadaaan buku. Buku tersebut dipajang di perpustakaan dan di Taman Baca yang terdapat di halaman sekolah. Abdul Gofur juga berkomitmen untuk terus meningkatkan budaya baca di sekolah dengan kegiatan budaya baca yang lebih kreatif dan lebih banyak lagi. Umi Putri Ibalia, guru sekaligus penanggung jawab budaya baca di sekolah berencana akan mengadakan pelatihan dasar jurnalistik bagi para siswa.

Di sekolah mitra Tanoto Foundation yang lain yaitu MIN 1 Balikpapan, untuk menyambut siswa baru, sekolah membangun pojok literasi di kelas. Dana pojok literasi tersebut berasal dari koin literasi yang juga sumbangan dari siswa.

Budaya  Baca merupakan salah satu program PINTAR yang saat ini dilaksanakan di Balikpapan, Kutai Kartanegara dan Samarinda. Program ini merupakan hasil kerjasama antara Kemenag dan Dinas Pendidikan, UNMUL dan IAIN Samarinda dengan Tanoto Foundation. (Hg44).

Temanggug, Harianguru.com - Ada yang sedikit berbeda dari biasanya, hari ini Kamis 18 Juli 2019 untuk pertama kalinya tim KKN Undip mengunjungi MI Ma'arif Malebo, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah.

Suara gemuruh menyambut kedatangan mereka, anak-anak berantusias karena mereka sebelumnya belum kenal.

Agus Ilmi guru olahraga mengucapkan biar nanti diajak ke lapangan saja dulu karena hari ini juga Kamis 18 juli 2019 murid-murid kelas 5 dan 6 kebetulan ada mata pelajaran PJOK. "Dan nnti untuk yang murid laki-laki biar bermain sepakbola dan murid perempuan biar bermain permainan dengan kakak-kakak KKN UNDIP yang perempuan juga," kata dia.

Maka dari itu sehabis istirahat pertama mereka langsung digiring ke lapangan untuk mengikuti praktik pelajaran PJOK.

Ilham fadil perwakilan dari TIM KKN UNDIP mengucapkan bertemu anak anak MI merupakan kebanggaan bagi kami. "Semangat tak kenal lelah, banyak bakat yang bisa digali dari mereka. Semangat terus aja buat anak anak MI buat menggapai cita cita nya," kata dia.

Walaupun kurang lebih hanya 2 jam tetapi sangat bermanfaat buat anak-anak MI Ma'arif Malebo karena kehadiran TIM KKN Undip menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka anak-anak kelas 5 dan 6. (Hg88).

Demak, Harianguru.com - Bertempat di Lapangan bola Jatimulyo Bonang Demak, Komunitas Pecinta Alam Demak (Pade) menggelar camping bersama komunitas sekabupaten Demak pada Sabtu sampai dengan Minggu (6-7/7/2019).

Acara yang dilakukan untuk memeringati Anniversary atau ulang tahu ke 5 komunitas Pade juga sekaligus memeringati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI).

Mengundang Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Raden Sahid dan Maunatul Mubarok untuk mengampanyekan gerakan anti narkoba dan pentingnya menjalani rehabilitasi bagi para korban pecandu narkoba di kabupaten Demak.

Anas Nasution, pimpinan IPWL Raden Sahid menyampaikan bahwa di tengah-tengah kita sebenarnya masih banyak para pengedar narkotika maupun obat-obatan terlarang yang demi mendapatkan uang rela merusak mental anak-anak muda di kabupaten Demak.

"Kita harus waspada kepada mereka. Tetapi lebih penting lagi kita juga harus memberikan perhatian kepada para korban pengedar, yaitu penyalahguna narkoba, kita harus menyelamatkannya dengan memberikan kesempatan berhenti dengan cara rehabilitasi," kata Anas.

Di Demak, lanjutnya ada 2 IPWL yang diberi kesempatan merehabilitasi. Yaitu IPWL Raden Sahid di Kebonagung dan Maunatul Mubarok di Sayung.

"Kami berharap komunitas ini menjadi peran penting untuk membantu pemerintah Demak menyelamatkan anak muda dari pengaruh buruk narkoba,"pungkas Anas.

Dwi Sulistyo, ketua komunitas Pade menyampaikan dalam peringatan ulang tahun Pade ke 5 itu dengan berharap komunitasnya maupun seluruh komunitas di kabupaten Demak melakukan gerakan-gerakan yang positif.

"Acara ini dibarengkan dengan peringatan hari antinarkotika sekaligus mengajak agar kawan-kawan juga ikut melakukan program yang menyelamatkan generasi muda di Demak dari pengaruh narkoba. Agar komunitas tidak disalah artikan kumpul kumpul tidak benar," kata pria yang hobi mendaki gunung itu.

Acara berlangsung dua hari itu diikuti hampir ratusan peserta dari lintas komunitas di Demak. Dengan rangkaian acara kampanye anti narkoba, donor darah, dan penanamab pohon. (HG44).

Tegal, Harianguru.com - Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jawa Tengah melakukan pendataan madrasah dan sekolah di wilayah Jawa Tengah yang terlaksana pada Sabtu (6/7/2019) dan Ahad (7/7/2019).

Wakil Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng Ziaul Haq menjelaskan bahwa kegiatan pendataan gelombang pertama ini terlaksana di Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kota Tegal. "Tujuan kami mendata ini untuk merapikan data, agar jelas jumlah madrasah dan sekolah Ma'arif di Jawa Tengah, kita punya server sendiri, yaitu di datamaarif.com. Dengan data kita bisa mandiri dan bisa berbuat banyak sesuai dengan kepentingan NU tanpa ada campur tangan dari pihak lain. Sebagai organisasi terbesar di Indonesia NU perlu mempunya pangkalan data mandiri. Sudah saatnya NU mandiri dalam hal data," kata dia.

Pihaknya menambahkan bahwa pendataan ini adalah yg pertamakali dilakukan di lingkungan pendidikan NU. "Terlebih lagi saat ini era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, madrasah dan sekolah Ma'arif harus melek data dengan menguatkan literasi data berbasis teknologi," kata dia.

Kegiatan itu digelar di PCNU Brebes, PCNU Tegal, SMA NU Kota Tegal yang digilir sesuai jadwal. "Nanti insyallah akan merata se Jawa Tengah. Tim kami sudah siap jemput bola agar pendataan berjalan lancar," ujar dia.

Selain Ziaul, hadir Tim IT LP Ma'arif PWNU Jateng Rohmat Eko Wahyudi, Herman Abu Bakar, Abdul Halim, dan dikawal langsung LP Ma'arif di masing-masing kabupeten dan kota. (hg44/Ibda)


Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.
Guru SD Supriyadi Semarang, Alumni Program Pascasarjana UNNES

Memasuki tahun ajaran baru, banyak orang tua yang menginginkan anaknya masuk ke sekolah negeri. Banyak pertimbangan yang menjadi alasan kenapa mereka lebih memilih anaknya masuk ke sekolah negeri dibandingkan sekolah swasta.

Namun, dengan semakin berkembangnya dunia pendidikan ada beberapa macam pembaharuan di dunia pendidikan salah satunya sistem pendaftaran berbasis zona dimana sekolahan negeri menerima siswa dari sekitar domisili.

Dengan sistem baru tersebut semakin marak kegelisahan dari sekolah yang berlabel favorit atau sekolah unggulan yang biasanya menyaring anak berprestasi di luar daerah jadi tidak bisa lagi dengan adanya sistem zonasi. Begitu pun kegalauan wali murid yang anaknya bergudang prestasi namun tidak bisa diterima di sekolah idaman karena berada di luar batas zona.

Memilih sekolah negeri memang masih menjadi momok idaman para orang tua. Pada umumnya, yang menjadikan para wali murid lebih memilih sekolah negeri ialah terkait persoalan biaya dan kualitas pendidikan. Banyak yang beranggapan jika selain biayanya murah, sekolah negeri juga memiliki kualitas pengajaran yang lebih bagus.

Banyak wali murid menganggap bahwa anaknya tidak diterima sekolahan Negeri maka akan malu dengan tetangganya. Anggapan keliru yang selalu menganggap anak yang sekolah tidak di sekolah negeri pasti anak bodoh, pasti anak nakal, pasti anak nilai akademiknya rendah. Memang tidak ada sekolah swasta yang bisa mendidik? Memang tidak ada sekolah swasta berkualitas? Soal bertambahnya ilmu memang hanya faktor dari sekolahan saja? Karena sesungguhnya kemampuan dari masing-masing siswa pun turut andil besar, dan sekolah hanya memfasilitasi, membimbing, mengarahkan dan membelajarkan. Dan bukan ditentukan dari label sekolah Negeri atau swasta.

Lalu apakah sekolah swasta selalu “kalah” jika dibandingkan dengan negeri? Ternyata tidak. Ada beberapa keunggulan sekolah swasta yang tidak dimiliki oleh sekolah negeri. Apa sajakah keunggulan tersebut?

Pertama, Secara fasilitas, sekolah swasta umumnya jauh lebih baik. Jika kita cermati, kebanyakan fasilitas yang ditawarkan sekolah swasta umumnya lebih baik dibandingkan dengan sekolah negeri. Hal ini disebabkan pengelolaan keuangan sekolah swasta sepenuhnya dikelola pihak yayasan yang memiliki sekolah. Sumber dana yang diperoleh pun berasal dari berbagai pihak, selain dari yayasan, wali murid, donatur, maupun kerja sama pendanaan dengan pihak lain. Jadi, mereka bisa leluasa meningkatkan kualitas fasilitas kegiatan belajar mengajarnya dengan mengedepankan sarana prasarana dan fasilitas penunjang proses pembelajaran.

Sedangkan untuk sekolah negeri, keuangan mereka ditentukan oleh pemerintah. Mereka hanya diberi jatah yang kadang sangat kurang untuk membangun fasilitas sekolah yang cukup mumpuni

Kedua, Secara mata pelajaran, sekolah swasta lebih beraneka ragam. Keuntungan lainnya yang bisa kita dapatkan dari sekolah swasta ialah lebih bervariasinya muatan mata pelajaran yang diberikan. Jika di sekolah negeri umumnya hanya fokus dengan mata pelajaran yang akan diujikan (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS) maka untuk sekolah swasta ada mata pelajaran lain yang tidak kalah ditekankan. Bahkan beberapa sekolah pun menjadikan mata pelajarn tertentu seperti muatan karakter dan agama menjadi program unggulan dalam tujuan pendidikannya.


Seperti misal, terjadi pada SD Supriyadi Semarang yang berdiri di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al-Falah. Selain siswa menerima pelajaran pokok dari pemerintah, ada beberapa program unggulan yang terinput dalam muatan mata pelajaran bidang keagamaan seperti akidah akhlak, fikih, Al Qur’an hadits, Bahasa Arab, dan penanaman karakter di setiap pembelajaran dengan tetap berpayung pada kurikulum yang berlaku dari pemerintah. Begitu pun dengan sekolah swasta yang lainnya, sudah barang pasti akan memvariasikan mata pelajaran sesuai dengan visi dan misinya.

Ketiga, Variasi dalam berkegiatan dan berorganisasi. Sama halnya seperti pelajaran, biasanya variasi kegiatan dan organisasi sekolah swasta lebih banyak pilihannya. Jika sekolah negeri berkutat dengan organisasi OSIS, PMI, Paskibra, atau olahraga, namun di sekolah swasta banyak ditemukan kegiatan dan organisasi yang tidak kalah keren. Organisasi tersebut biasanya sengaja dibentuk sebagai nilai jual kualitas sekolah swasta. Seperti kegiatan intrasekolah yang beraneka macamnya sehingga siswa bisa menyalurkan bakat dan minat sesuai dengan kemampuannya. Tak hanya kegiatan intra sekolah untuk siswa. Kegiatan organisasi yang beranggotakan wali murid dan masyarakat pun banyak dibentuk oleh sekolah swasta dengan tujuan utama menghidupkan kembali tripusat pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat).

Keempat, Pelayanan sekolah swasta biasanya lebih baik. Sekolah swasta dikenal memiliki etos kerja dan pelayanan yang cukup prima. Hal ini karena mengingat biaya yang dikeluarkan orangtua siswa tidak sedikit, jadi pelayanan terhadap peserta didikpun menjadi prioritas utama. Tidak jarang, jajaran yayasan dan dewan guru mengadakan rapat internal untuk melakukan evaluasi rutin, serta mendengarkan berbagai kritik dan masukan dari berbagai pihak demi kemajuan pendidikan.


Itulah beberapa keunggulan sekolah swasta dibandingkan dengan sekolah negeri. Menjadi benang merah dan menjadi koreksi bersama bahwa yang menentukan kesuksesan seseorang bukan status sekolah, Negeri atau Swasta, melainkan bagaimana kesungguhan usaha seseorang dalam meraih cita-cita.

Ilustrasi Pembukaan Porsema
Semarang, Harianguru.com - Perhelatan Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) XI LP Ma'arif PWNU Jateng telah sukses digelar pada 24-27 Juni 2019 di Kabupaten Temanggung. Dengan hasil, Juara Umum 1 Kabupaten Kudus, Juara Umum 2 Banyumas, dan Juara Umum 3 Jepara.

Ketua Tim Media Center Porsema Ziaul Khaq, mengapresiasi peran media massa, baik cetak atau online yang membantu publikasi Porsema sejak dari awal hingga akhir. "Kami dari Tim Media Center mengapresiasi rekan-rekan wartawan yang telah meliput dan mempublikasikan Porsema dari awal sampai akhir, sehingga warga NU yang jauh dari Jawa Tengah dapat mengikuti perhelatan bergengsi ini," kata dia, Sabtu (29/6/2019).

Ia mengakui, tanpa adanya publikasi di media, Porsema tidak akan dapat diketahui publik, baik itu warga NU atau masyarakat luas. "Intinya, kami sangat bangga dengan rekan-rekan jurnalis, baik cetak, online, televisi, atau radio bahkan Youtuber yang telah memublikasikan Porsema ini," lanjut dia.

Sementara itu, Sekretratis Panitia Porsema XI LP Ma'arif PWNU Jateng, Abdulloh Muchib juga menyampaikan bahwa banyak apresiasi dari luar karena publikasi Porsema yang begitu gencar. "Kami secara internal memiliki tim media, dan juga banyak wartawan yang meliput baik itu yang dipublikasikan di media NU atau media umum," kata dia.

Fungsi media massa, menurut dia, memang menginformasikan, namun dalam Perhelatan Porsema kali ini juga mengedukasi betapa pentingnya berdakwah melalui media massa yang isinya tentang kegiatan positif Ma'arif melalui Porsema. "Semoga amal baik dari semua elemen khususnya media nanti mendapat balasan setimpal. Tanpa adanya bantuan media, maka Porsema akan sepi dan tidak dapat diketahui masyarakat secara luas," lanjut dia. (hg55/hi).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Kreativitas untuk menumbuhkan budaya membaca semakin banyak muncul di sekolah. Salah satunya adalah Sekolah Dasar Negeri  020 Balikpapan Tengah, Kalimantan Timur. Siswa di sekolah ini mengumpulkan koin, dan bersama guru dan komite pergi ke toko buku untuk membeli buku melengkapi koleksi buku yang sudah ada di sekolah. Koin tersebut juga dimanfaatkan untuk membeli pipa paralon yang dibentuk sedemikian rupa  menjadi dudukan buku yang sudah dibeli. 

Pengumpulan koin tersebut dilakukan tiap hari sabtu. Tiap kelas  memiliki kaleng koin sendiri. Koin masing-masing kelas kemudian dikumpulkan oleh guru yang bertanggung jawab. Jumlah yang terkumpul setelah empat-lima bulan efektif pembelajaran mencapai hampir dua juta rupiah. 

Selain tiga orang lainnya, Rayhana adalah salah satu siswa yang terpilih memilih dan membeli buku-buku hasil pengumpulan koin tersebut.  Selain berhak memilih buku, ia juga berhak menjadi peminjam dan pembaca pertama buku-buku yang dipilihnya.   Setelah selesai, ia harus mengembalikan lagi buku-buku tersebut ke sekolah.

“Rayhana dan yang tiga siswa lainnya berhak demikian karena sering tampil ke depan untuk bercerita pada saat acara Sabtu Ceria. Acara Sabtu Ceria kami adakan  tiap bulan sekali selama kurang lebih 45 menit. Setiap anak bebas menunjukkan kemampuannya pada saat itu, menyanyi, baca puisi, menunjukkan keberhasilan pembelajaran dan  bercerita” ujar Rahadiani Dwi, guru kelas II, 29 Juni 2019.

Rahadiani berharap dengan penghargaan demikian, siswa-siswa yang lain juga terpacu untuk lebih banyak membaca buku dan mau tampil bercerita di Sabtu Ceria.  

“Buku yang dipilih oleh siswa biasanya juga buku yang disukai oleh teman-teman sebayanya. Ini poin yang amat penting karena program kita adalah bagaimana menumbuhkan kesukaan membaca pada anak-anak. Supaya siswa gemar membaca, biarkan mereka memilih buku sesuai selera mereka,” ujar Listiyorini, guru kelas IV A yang menemani siswa belanja buku.  

Menurut Listiyorini, kegiatan pengumpulan koin dan pembelian buku  sendiri oleh siswa ini menumbuhkan sifat memiliki siswa terhadap buku-buku di sekolah. “Karena mereka sendiri yang kumpulkan koin dan membeli  buku, mereka menjadi lebih merasa memiliki terhadap buku-buku tersebut,” ujarnya.

Pembelian Pipa Untuk Pipa Baca
Selain untuk beli buku, hasil Koin Literasi tersebut  juga dibelikan pipa parallon yang dibelah sebagian untuk  digunakan sebagai dudukan buku yang sudah dibeli tersebut. Pipa tersebut kemudian dipasang di setiap dinding luar depan kelas. Kelas satu sampai kelas enam memiliki pipa baca masing-masing dan kurang lebih 80 buku yang berhasil dibeli dengan koin tersebut diletakkan secara merata di pipa-pipa baca tersebut setiap hari. 

“Supaya jumlah buku yang kami beli banyak, kami tidak membeli di toko buku yang mahal. Walaupun kualitas kertasnya agak berbeda, tapi isinya bagus,” ujar Listyorini.  

“Untuk mengakomodasi program 15 menit membaca sebelum pembelajaran yang kami laksanakan tiap hari pembelajaran, kami sebenarnya sudah memiliki pojok baca di tiap kelas. Buku-buku di pojok baca, berasal kebanyakan dari siswa. Tiap siswa dulu sebelumnya menyumbang rata-rata satu buku atau lebih secara sukarela. Dengan adanya pipa baca yang terletak di dinding luar kelas dan pojok baca yang ada di dalam kelas, siswa semakin sering terpapar dengan buku. Kemana-mana mereka akan lihat buku.  Kita berharap dengan strategi memapar siswa dengan buku ini, siswa tergerak untuk selalu baca buku,” ujar ibu kepala sekolah Linceria Hutapea.

Awal Mula Program
Program literasi ini muncul setelah kepala sekolah dan guru di sekolah tersebut dilatih program PINTAR Tanoto Foundation tentang manajemen sekolah dan peran serta masyarakat, yang di dalamnya juga berisi menggerakkan program budaya baca. Setelah ikut pelatihan tersebut, pihak sekolah langsung mengundang komite dan orang tua siswa mengadakan rapat untuk menggerakan budaya baca dan program-program lainnya. Komite dan orang tua sepakat menyukseskan program tersebut.

“Pembuatan pipa paralon untuk dudukan baca itu dilakukan oleh orang tua siswa. Mereka juga aktif membantu pada banyak kegiatan yang lain, misalnya pembuatan taman, acara olahraga, halal bi halal dan lain-lain. Ini terjadi setelah komite dan orang tua kami ajak musyawarah secara terbuka. Kami ceritakan kebutuhan sekolah dan keterbatasan sekolah untuk menanggung semuanya,” ujar Rahadiani.

Menurut Mustajib, Communication Specialist Program PINTAR Tanoto Foundation Kaltim, gerakan koin literasi yang dilakukan oleh SDN 020 perlu direplikasi oleh banyak sekolah lain. “Gerakan seperti ini sudah dilakukan oleh beberapa sekolah lain, seperti  MTs Negeri I Balikpapan, MINU Balikpapan dan lain-lain, dan masih perlu direplikasi oleh banyak sekolah lain.  Salah satu hal yang paling penting dalam program menumbuhkan gemar membaca adalah ketersediaan buku yang bervariasi secara terus menerus. Untuk memastikan ketersediaan buku yang banyak dan bervariasi, peran orang tua siswa sangat penting. Mereka perlu diajak bermusyawarah. Sekolah memiliki keterbatasan untuk bisa menanggung semuanya,” ujarnya.

Program PINTAR merupakan program peningkatan pendidikan dasar hasil kerjasama Tanoto Foundation dengan Dinas Pendidikan dan Kemenag. Di Balikpapan, program ini menyasar ke 24 sekolah SD/MI dan SMP/MTs. Budaya Baca menjadi salah aktivitas utama program ini. (HG44),

Temanggung, Harianguru.com - Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) XI LP Ma'arif PWNU Jateng pada Kamis (27/6/2019) resmi ditutup di Graha Bumi Pala Temanggung.

Berdasarkan SK Nomor 12/PW.11/LPM/SK/VI/2019 tentang Penetapan Juara 1, 2, 3 Porsema XI Tingkat Jawa Tengah tahun 2019, Juara Umum 1 LP Ma'arif NU Kudus, Juara Umum 2 LP Ma'arif NU Banyumas, Juara Umum 3 LP Ma'arif NU Jepara.

Dalam sambutannya, Ketua LP Ma'arif PCNU Temanggung H. Miftakhul Hadi menyampaikan bahwa kejuaraan bukan tujuan utama kegiatan Porsema. "Yang tidak juara jangan berkecil hati karena Porsema ini tujuannya untuk silaturahmi," beber dia.

Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng R. Andi Irawan mengatakan bahwa tujuan utama Porsema ada tiga. "Pertama adalah media silaturahim, untuk menyambut persaudaraan warga Nahdliyin. Kedua, menyiarkan bahwa NU memiliki peran besar untuk memberikan sumbangsih pada kemajuan pendidikan di Indonesia khususnya di Jawa Tengah," beber dia.

Data yang kami dapat dari Kemeneg RI beberapa bulan lalu, kata Andi, 95 persen madrasah di Indonesia swasta. "Mayoritasnya adalah miliki NU tentu adalah LP Ma'arif. Jelas ini adalah bentuk nyata peran Ma'arif dalam memajukan mutu pendidikan," kata dia.

Ketiga, memberikan media atas bakat dan minat dalam bidang olahraga dan seni. "Jadi, intinya ada pada nomor satu yaitu menjaga ukhuwah nahdliyah lewat silaturahim," tegas dia.

Pihaknya juga menegaskan, bahwa ke depan perlu kegiatan kontinu berupa penyiapan atlet baik olahraga dan seni di madrasah dan sekolah. "Penyiapan atlet tidak sekadar saat Porsema namun harus ada pembinaan kontinu," ujar dia.

Dalam Porsema XI ini, mengangnat tema Menuju Generasi Emas Aswaja An-Nahdiyah yang Sportif, Kreatif, dan Berkarakter. "Ada tiga kata kunci di sini, yaiti sportif kreatif dan berkarakter. Dalam olahraga dan seni, membutuhkan sportivitas, kreativitas dan karakter. Hal itu kami harap lahir dari Porsema ini sesuai basic dari nilai-nilai pesantren," tandas dia.

Sekda Temanggung, menyampaikan bahwa dipilihnya Temanggung menjadi wahana sosialisasi kearifan lokal dan wisata Temanggung. "Kami bangga Temanggung menjadi Porsema XI LP Ma'arif PWNU Jateng. Ini merupakan wahana sosialisasi karena Temanggung ini kota kecil sebagai kota tengah-tengahnya Jawa Tengah, namun dipilih menjadi tuan rumah Porsema," kata Sekda.

Ia juga mengajak kepada semua peserta Porsema untuk memaknai kesehatan jasmani dan rohani sebagai wahana pembangunan banga.

Selain Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng, Ketua LP Ma'arif PCNU Temanggung dan Sekda, hadir juga Tim SC Panitia Porsema Fakhrudin Karmani dan Ziaul Khaq, Wakil Ketua Panitia Porsema Hamidulloh Ibda, Sekretaris Panitia Porsema Abdulloh Muchib, Bendahara Panitia Porsema Ahmad Muzammil dan ribuan peserta se Jateng.

Wakil Ketua Panitia Porsema Hamidulloh Ibda, mengatakan bahwa dari rekapitulasi perolehan medali, Kudus mendapat 15 emas, 8 perak, dan 5 perunggu. Untuk Banyumas mendapat medali 13 emas, 3 perak, 6 perunggu. "Sedangkan Jepara mendapat medali 12 emas, 14 perak, dan 3 perunggu," kata dia.

Penetapan Juara Umum sesuai dengan perolehan medali emas yaitu Kudus. "Untuk peringat di bawahnya ada Temanggung, Pati, Batang, Pekalongan, Kota Semarang, Grobogan, Wonosobo dan lainnya," kata dia.

Secara resmi, Sekda Suryono menutup kegiatan Porsema pada pukul 10.41 WIB. Kegiatan dilanjutkan penyerahan piala dan penghargaan kepada atlet olahraga dan seni yang juara. (hg98/Irfan).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Tahun 2017, bukan sekolah-sekolah favorit yang ada di Jakarta, Bandung, Surabaya dan lain-lain, tapi sekolah  terpencil yang terletak di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur  yang jadi Juara Satu Budaya Mutu Nasional yaitu Sekolah Dasar 003 Kecamatan Loa Kulu. Hebatnya lagi, pada tahun 2019,  sekolah ini juga mengantarkan ibu Warni Arimbi, sang kepala sekolah, menjadi juara satu kepala Sekolah SD berprestasi se-Kaltim. Nah apa rahasia sekolah terpencil di Kutai Kartanegara ini bisa mencapai prestasi demikian?  Warni Arimbi mengungkapkan strategi-strateginya.

Menurut Warni,  untuk mendapatkan juara satu budaya mutu nasional, dia jadikan inklusi sebagai ‘jualan’.  “Selain  memperbaiki manajemen, pembelajaran aktif, dan penerapan program budaya baca, sekolah kami juga menerima dan memberikan perhatian khusus yang besar kepada anak-anak inklusi,” ujar salah satu fasilitator daerah program PINTAR Tanoto Foundation untuk Kutai Kartanegara ini, 24 Juni 2019. 

Rata-rata  2-4 anak-anak inklusi terdapat di tiap kelas sekolah ini. Saat ini sekolah dihuni 325 siwa dan memiliki 12 rombongan belajar.   27 siswa diantaranya masuk kategori inklusi.  Siswa-siswa inklusi tersebut ada yang hiperaktif, tuna ganda, tuna grahita, low vision,  tuna daksa, tuna rungu, tuna wicara, autis,  dan kesulitan belajar. “Jumlah siswa inklusi tergolong  banyak, bisa mengalahkan sekolah luar biasa yang biasa per kelasnya 3-4 siswa saja,” ujar Warni.

Siswa yang dianggap belum bisa bergabung dengan kelas inklusi, ditempatkan terlebih dahulu di kelas yang khusus anak inklusi. Jumlah siswa di kelas khusus ini bisa mencapai 12 orang.

Agar sekolah profesional dalam menangani siswa inklusi, tiga guru di sekolah tersebut diutus untuk belajar khusus penanganan siswa inklusi. Ibu Suparti dan Yohana belajar di Sekolah Luar Biasa selama 3,5 bulan. Ibu Yohana kemudian diutus kembali belajar bersama ibu Zuhro kursus khusus penanganan inklusi selama 6 bulan.

Ketiga guru tersebut kemudian mengajarkan ketrampilannya pada guru-guru yang lain lewat pertemuan kelompok kerja guru (KKG) mini yang diadakan tiap Sabtu di sekolah tersebut. “Dengan program ini, secara bertahap, semua guru memiliki kemampuan dasar yang baik menangani siswa-siswa Inklusi,” ujar Warni.
Menurut Warni, sekolah mau menerima banyak anak inklusi karena sekolah inklusi yang lain jauh dari situ, yaitu di Tenggarong Kota. 

Banyak sekali tantangan mengajar siswa-siswa inklusi. “Menghadapi mereka harus sabar dan harus benar-benar tahu wataknya. Ada yang suka tiba-tiba keluar menikmati hujan, ada yang tidak mau bergaul, ada yang suka naik-naik meja dan gaduh dan berbagai watak lainnya,” kata ibu Suparti, guru yang menjadi penanggung jawab khusus  inklusi.

Menurut ibu Titik, pengajar kelas satu di sekolah tersebut, penerapan metode pembelajaran aktif program PINTAR Tanoto Foundation membuat siswa inklusi lebih mudah bersosialisasi dengan kawan-kawannya. “Siswa jadi lebih banyak belajar bersosialisasi dan belajar bersikap dengan lebih baik kepada temannya karena proses pembelajaran melibatkan pembentukan kelompok,” ujarnya.

Sebelumnya pada tahun 2016,  sekolah ini juga pernah juara ke-6  budaya mutu nasional dari 134 sekolah peserta se Indonesia. Penilaian budaya mutu ditekankan pada mutu MBS, pembelajaran, UKS, ekstra kuriler, dan perpustakaan. Tidak hanya berdasarkan portofolio yang dikirimkan, petugas kementrian juga langsung turun langsung menilai sekolah selama beberapa hari. “Kalau kita menekankan pada ekstra kurikuler, kita akan selalu kalah.  Sekolah-sekolah di Jawa sangat hebat ekstra kurikulernya. Kita tekankan pada aspek inklusi, yang merupakan bagian MBS, dan juga pembelajarannya,” ujar Warni mengungkapkan strateginya.

Untuk budaya baca, sekolah ini secara aktif menyelenggarakan 15 menit membaca sebelum pembelajaran. Sekolah juga menetapkan jadwal hari wajib kunjungan ke perpustakaan bagi tiap kelas. Sekolah juga mengadakan kerjasama dengan perpusda. Seminggu sekali Perpusda datang ke sekolah dengan mobil pustaka. Sekolah juga memberikan penghargaan kepada siswa yang sering berkunjung dan membaca atau pinjam buku di perpustakaan.

Setelah terpilih Juara Satu Kepsek berprestasi tingkat SD di Kaltim, saat ini Warni Arimbi sedang mempersiapkan diri ikut lomba kepala sekolah berprestasi tingkat nasional. “Semoga terpilih dan sekali lagi mengharumkan nama sekolah,” ujarnya menutup. (HG44).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget