Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

2019

Temanggug, Harianguru.com - Ada yang sedikit berbeda dari biasanya, hari ini Kamis 18 Juli 2019 untuk pertama kalinya tim KKN Undip mengunjungi MI Ma'arif Malebo, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah.

Suara gemuruh menyambut kedatangan mereka, anak-anak berantusias karena mereka sebelumnya belum kenal.

Agus Ilmi guru olahraga mengucapkan biar nanti diajak ke lapangan saja dulu karena hari ini juga Kamis 18 juli 2019 murid-murid kelas 5 dan 6 kebetulan ada mata pelajaran PJOK. "Dan nnti untuk yang murid laki-laki biar bermain sepakbola dan murid perempuan biar bermain permainan dengan kakak-kakak KKN UNDIP yang perempuan juga," kata dia.

Maka dari itu sehabis istirahat pertama mereka langsung digiring ke lapangan untuk mengikuti praktik pelajaran PJOK.

Ilham fadil perwakilan dari TIM KKN UNDIP mengucapkan bertemu anak anak MI merupakan kebanggaan bagi kami. "Semangat tak kenal lelah, banyak bakat yang bisa digali dari mereka. Semangat terus aja buat anak anak MI buat menggapai cita cita nya," kata dia.

Walaupun kurang lebih hanya 2 jam tetapi sangat bermanfaat buat anak-anak MI Ma'arif Malebo karena kehadiran TIM KKN Undip menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka anak-anak kelas 5 dan 6. (Hg88).

Demak, Harianguru.com - Bertempat di Lapangan bola Jatimulyo Bonang Demak, Komunitas Pecinta Alam Demak (Pade) menggelar camping bersama komunitas sekabupaten Demak pada Sabtu sampai dengan Minggu (6-7/7/2019).

Acara yang dilakukan untuk memeringati Anniversary atau ulang tahu ke 5 komunitas Pade juga sekaligus memeringati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI).

Mengundang Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Raden Sahid dan Maunatul Mubarok untuk mengampanyekan gerakan anti narkoba dan pentingnya menjalani rehabilitasi bagi para korban pecandu narkoba di kabupaten Demak.

Anas Nasution, pimpinan IPWL Raden Sahid menyampaikan bahwa di tengah-tengah kita sebenarnya masih banyak para pengedar narkotika maupun obat-obatan terlarang yang demi mendapatkan uang rela merusak mental anak-anak muda di kabupaten Demak.

"Kita harus waspada kepada mereka. Tetapi lebih penting lagi kita juga harus memberikan perhatian kepada para korban pengedar, yaitu penyalahguna narkoba, kita harus menyelamatkannya dengan memberikan kesempatan berhenti dengan cara rehabilitasi," kata Anas.

Di Demak, lanjutnya ada 2 IPWL yang diberi kesempatan merehabilitasi. Yaitu IPWL Raden Sahid di Kebonagung dan Maunatul Mubarok di Sayung.

"Kami berharap komunitas ini menjadi peran penting untuk membantu pemerintah Demak menyelamatkan anak muda dari pengaruh buruk narkoba,"pungkas Anas.

Dwi Sulistyo, ketua komunitas Pade menyampaikan dalam peringatan ulang tahun Pade ke 5 itu dengan berharap komunitasnya maupun seluruh komunitas di kabupaten Demak melakukan gerakan-gerakan yang positif.

"Acara ini dibarengkan dengan peringatan hari antinarkotika sekaligus mengajak agar kawan-kawan juga ikut melakukan program yang menyelamatkan generasi muda di Demak dari pengaruh narkoba. Agar komunitas tidak disalah artikan kumpul kumpul tidak benar," kata pria yang hobi mendaki gunung itu.

Acara berlangsung dua hari itu diikuti hampir ratusan peserta dari lintas komunitas di Demak. Dengan rangkaian acara kampanye anti narkoba, donor darah, dan penanamab pohon. (HG44).

Tegal, Harianguru.com - Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jawa Tengah melakukan pendataan madrasah dan sekolah di wilayah Jawa Tengah yang terlaksana pada Sabtu (6/7/2019) dan Ahad (7/7/2019).

Wakil Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng Ziaul Haq menjelaskan bahwa kegiatan pendataan gelombang pertama ini terlaksana di Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kota Tegal. "Tujuan kami mendata ini untuk merapikan data, agar jelas jumlah madrasah dan sekolah Ma'arif di Jawa Tengah, kita punya server sendiri, yaitu di datamaarif.com. Dengan data kita bisa mandiri dan bisa berbuat banyak sesuai dengan kepentingan NU tanpa ada campur tangan dari pihak lain. Sebagai organisasi terbesar di Indonesia NU perlu mempunya pangkalan data mandiri. Sudah saatnya NU mandiri dalam hal data," kata dia.

Pihaknya menambahkan bahwa pendataan ini adalah yg pertamakali dilakukan di lingkungan pendidikan NU. "Terlebih lagi saat ini era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, madrasah dan sekolah Ma'arif harus melek data dengan menguatkan literasi data berbasis teknologi," kata dia.

Kegiatan itu digelar di PCNU Brebes, PCNU Tegal, SMA NU Kota Tegal yang digilir sesuai jadwal. "Nanti insyallah akan merata se Jawa Tengah. Tim kami sudah siap jemput bola agar pendataan berjalan lancar," ujar dia.

Selain Ziaul, hadir Tim IT LP Ma'arif PWNU Jateng Rohmat Eko Wahyudi, Herman Abu Bakar, Abdul Halim, dan dikawal langsung LP Ma'arif di masing-masing kabupeten dan kota. (hg44/Ibda)


Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.
Guru SD Supriyadi Semarang, Alumni Program Pascasarjana UNNES

Memasuki tahun ajaran baru, banyak orang tua yang menginginkan anaknya masuk ke sekolah negeri. Banyak pertimbangan yang menjadi alasan kenapa mereka lebih memilih anaknya masuk ke sekolah negeri dibandingkan sekolah swasta.

Namun, dengan semakin berkembangnya dunia pendidikan ada beberapa macam pembaharuan di dunia pendidikan salah satunya sistem pendaftaran berbasis zona dimana sekolahan negeri menerima siswa dari sekitar domisili.

Dengan sistem baru tersebut semakin marak kegelisahan dari sekolah yang berlabel favorit atau sekolah unggulan yang biasanya menyaring anak berprestasi di luar daerah jadi tidak bisa lagi dengan adanya sistem zonasi. Begitu pun kegalauan wali murid yang anaknya bergudang prestasi namun tidak bisa diterima di sekolah idaman karena berada di luar batas zona.

Memilih sekolah negeri memang masih menjadi momok idaman para orang tua. Pada umumnya, yang menjadikan para wali murid lebih memilih sekolah negeri ialah terkait persoalan biaya dan kualitas pendidikan. Banyak yang beranggapan jika selain biayanya murah, sekolah negeri juga memiliki kualitas pengajaran yang lebih bagus.

Banyak wali murid menganggap bahwa anaknya tidak diterima sekolahan Negeri maka akan malu dengan tetangganya. Anggapan keliru yang selalu menganggap anak yang sekolah tidak di sekolah negeri pasti anak bodoh, pasti anak nakal, pasti anak nilai akademiknya rendah. Memang tidak ada sekolah swasta yang bisa mendidik? Memang tidak ada sekolah swasta berkualitas? Soal bertambahnya ilmu memang hanya faktor dari sekolahan saja? Karena sesungguhnya kemampuan dari masing-masing siswa pun turut andil besar, dan sekolah hanya memfasilitasi, membimbing, mengarahkan dan membelajarkan. Dan bukan ditentukan dari label sekolah Negeri atau swasta.

Lalu apakah sekolah swasta selalu “kalah” jika dibandingkan dengan negeri? Ternyata tidak. Ada beberapa keunggulan sekolah swasta yang tidak dimiliki oleh sekolah negeri. Apa sajakah keunggulan tersebut?

Pertama, Secara fasilitas, sekolah swasta umumnya jauh lebih baik. Jika kita cermati, kebanyakan fasilitas yang ditawarkan sekolah swasta umumnya lebih baik dibandingkan dengan sekolah negeri. Hal ini disebabkan pengelolaan keuangan sekolah swasta sepenuhnya dikelola pihak yayasan yang memiliki sekolah. Sumber dana yang diperoleh pun berasal dari berbagai pihak, selain dari yayasan, wali murid, donatur, maupun kerja sama pendanaan dengan pihak lain. Jadi, mereka bisa leluasa meningkatkan kualitas fasilitas kegiatan belajar mengajarnya dengan mengedepankan sarana prasarana dan fasilitas penunjang proses pembelajaran.

Sedangkan untuk sekolah negeri, keuangan mereka ditentukan oleh pemerintah. Mereka hanya diberi jatah yang kadang sangat kurang untuk membangun fasilitas sekolah yang cukup mumpuni

Kedua, Secara mata pelajaran, sekolah swasta lebih beraneka ragam. Keuntungan lainnya yang bisa kita dapatkan dari sekolah swasta ialah lebih bervariasinya muatan mata pelajaran yang diberikan. Jika di sekolah negeri umumnya hanya fokus dengan mata pelajaran yang akan diujikan (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS) maka untuk sekolah swasta ada mata pelajaran lain yang tidak kalah ditekankan. Bahkan beberapa sekolah pun menjadikan mata pelajarn tertentu seperti muatan karakter dan agama menjadi program unggulan dalam tujuan pendidikannya.


Seperti misal, terjadi pada SD Supriyadi Semarang yang berdiri di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al-Falah. Selain siswa menerima pelajaran pokok dari pemerintah, ada beberapa program unggulan yang terinput dalam muatan mata pelajaran bidang keagamaan seperti akidah akhlak, fikih, Al Qur’an hadits, Bahasa Arab, dan penanaman karakter di setiap pembelajaran dengan tetap berpayung pada kurikulum yang berlaku dari pemerintah. Begitu pun dengan sekolah swasta yang lainnya, sudah barang pasti akan memvariasikan mata pelajaran sesuai dengan visi dan misinya.

Ketiga, Variasi dalam berkegiatan dan berorganisasi. Sama halnya seperti pelajaran, biasanya variasi kegiatan dan organisasi sekolah swasta lebih banyak pilihannya. Jika sekolah negeri berkutat dengan organisasi OSIS, PMI, Paskibra, atau olahraga, namun di sekolah swasta banyak ditemukan kegiatan dan organisasi yang tidak kalah keren. Organisasi tersebut biasanya sengaja dibentuk sebagai nilai jual kualitas sekolah swasta. Seperti kegiatan intrasekolah yang beraneka macamnya sehingga siswa bisa menyalurkan bakat dan minat sesuai dengan kemampuannya. Tak hanya kegiatan intra sekolah untuk siswa. Kegiatan organisasi yang beranggotakan wali murid dan masyarakat pun banyak dibentuk oleh sekolah swasta dengan tujuan utama menghidupkan kembali tripusat pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat).

Keempat, Pelayanan sekolah swasta biasanya lebih baik. Sekolah swasta dikenal memiliki etos kerja dan pelayanan yang cukup prima. Hal ini karena mengingat biaya yang dikeluarkan orangtua siswa tidak sedikit, jadi pelayanan terhadap peserta didikpun menjadi prioritas utama. Tidak jarang, jajaran yayasan dan dewan guru mengadakan rapat internal untuk melakukan evaluasi rutin, serta mendengarkan berbagai kritik dan masukan dari berbagai pihak demi kemajuan pendidikan.


Itulah beberapa keunggulan sekolah swasta dibandingkan dengan sekolah negeri. Menjadi benang merah dan menjadi koreksi bersama bahwa yang menentukan kesuksesan seseorang bukan status sekolah, Negeri atau Swasta, melainkan bagaimana kesungguhan usaha seseorang dalam meraih cita-cita.

Ilustrasi Pembukaan Porsema
Semarang, Harianguru.com - Perhelatan Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) XI LP Ma'arif PWNU Jateng telah sukses digelar pada 24-27 Juni 2019 di Kabupaten Temanggung. Dengan hasil, Juara Umum 1 Kabupaten Kudus, Juara Umum 2 Banyumas, dan Juara Umum 3 Jepara.

Ketua Tim Media Center Porsema Ziaul Khaq, mengapresiasi peran media massa, baik cetak atau online yang membantu publikasi Porsema sejak dari awal hingga akhir. "Kami dari Tim Media Center mengapresiasi rekan-rekan wartawan yang telah meliput dan mempublikasikan Porsema dari awal sampai akhir, sehingga warga NU yang jauh dari Jawa Tengah dapat mengikuti perhelatan bergengsi ini," kata dia, Sabtu (29/6/2019).

Ia mengakui, tanpa adanya publikasi di media, Porsema tidak akan dapat diketahui publik, baik itu warga NU atau masyarakat luas. "Intinya, kami sangat bangga dengan rekan-rekan jurnalis, baik cetak, online, televisi, atau radio bahkan Youtuber yang telah memublikasikan Porsema ini," lanjut dia.

Sementara itu, Sekretratis Panitia Porsema XI LP Ma'arif PWNU Jateng, Abdulloh Muchib juga menyampaikan bahwa banyak apresiasi dari luar karena publikasi Porsema yang begitu gencar. "Kami secara internal memiliki tim media, dan juga banyak wartawan yang meliput baik itu yang dipublikasikan di media NU atau media umum," kata dia.

Fungsi media massa, menurut dia, memang menginformasikan, namun dalam Perhelatan Porsema kali ini juga mengedukasi betapa pentingnya berdakwah melalui media massa yang isinya tentang kegiatan positif Ma'arif melalui Porsema. "Semoga amal baik dari semua elemen khususnya media nanti mendapat balasan setimpal. Tanpa adanya bantuan media, maka Porsema akan sepi dan tidak dapat diketahui masyarakat secara luas," lanjut dia. (hg55/hi).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Kreativitas untuk menumbuhkan budaya membaca semakin banyak muncul di sekolah. Salah satunya adalah Sekolah Dasar Negeri  020 Balikpapan Tengah, Kalimantan Timur. Siswa di sekolah ini mengumpulkan koin, dan bersama guru dan komite pergi ke toko buku untuk membeli buku melengkapi koleksi buku yang sudah ada di sekolah. Koin tersebut juga dimanfaatkan untuk membeli pipa paralon yang dibentuk sedemikian rupa  menjadi dudukan buku yang sudah dibeli. 

Pengumpulan koin tersebut dilakukan tiap hari sabtu. Tiap kelas  memiliki kaleng koin sendiri. Koin masing-masing kelas kemudian dikumpulkan oleh guru yang bertanggung jawab. Jumlah yang terkumpul setelah empat-lima bulan efektif pembelajaran mencapai hampir dua juta rupiah. 

Selain tiga orang lainnya, Rayhana adalah salah satu siswa yang terpilih memilih dan membeli buku-buku hasil pengumpulan koin tersebut.  Selain berhak memilih buku, ia juga berhak menjadi peminjam dan pembaca pertama buku-buku yang dipilihnya.   Setelah selesai, ia harus mengembalikan lagi buku-buku tersebut ke sekolah.

“Rayhana dan yang tiga siswa lainnya berhak demikian karena sering tampil ke depan untuk bercerita pada saat acara Sabtu Ceria. Acara Sabtu Ceria kami adakan  tiap bulan sekali selama kurang lebih 45 menit. Setiap anak bebas menunjukkan kemampuannya pada saat itu, menyanyi, baca puisi, menunjukkan keberhasilan pembelajaran dan  bercerita” ujar Rahadiani Dwi, guru kelas II, 29 Juni 2019.

Rahadiani berharap dengan penghargaan demikian, siswa-siswa yang lain juga terpacu untuk lebih banyak membaca buku dan mau tampil bercerita di Sabtu Ceria.  

“Buku yang dipilih oleh siswa biasanya juga buku yang disukai oleh teman-teman sebayanya. Ini poin yang amat penting karena program kita adalah bagaimana menumbuhkan kesukaan membaca pada anak-anak. Supaya siswa gemar membaca, biarkan mereka memilih buku sesuai selera mereka,” ujar Listiyorini, guru kelas IV A yang menemani siswa belanja buku.  

Menurut Listiyorini, kegiatan pengumpulan koin dan pembelian buku  sendiri oleh siswa ini menumbuhkan sifat memiliki siswa terhadap buku-buku di sekolah. “Karena mereka sendiri yang kumpulkan koin dan membeli  buku, mereka menjadi lebih merasa memiliki terhadap buku-buku tersebut,” ujarnya.

Pembelian Pipa Untuk Pipa Baca
Selain untuk beli buku, hasil Koin Literasi tersebut  juga dibelikan pipa parallon yang dibelah sebagian untuk  digunakan sebagai dudukan buku yang sudah dibeli tersebut. Pipa tersebut kemudian dipasang di setiap dinding luar depan kelas. Kelas satu sampai kelas enam memiliki pipa baca masing-masing dan kurang lebih 80 buku yang berhasil dibeli dengan koin tersebut diletakkan secara merata di pipa-pipa baca tersebut setiap hari. 

“Supaya jumlah buku yang kami beli banyak, kami tidak membeli di toko buku yang mahal. Walaupun kualitas kertasnya agak berbeda, tapi isinya bagus,” ujar Listyorini.  

“Untuk mengakomodasi program 15 menit membaca sebelum pembelajaran yang kami laksanakan tiap hari pembelajaran, kami sebenarnya sudah memiliki pojok baca di tiap kelas. Buku-buku di pojok baca, berasal kebanyakan dari siswa. Tiap siswa dulu sebelumnya menyumbang rata-rata satu buku atau lebih secara sukarela. Dengan adanya pipa baca yang terletak di dinding luar kelas dan pojok baca yang ada di dalam kelas, siswa semakin sering terpapar dengan buku. Kemana-mana mereka akan lihat buku.  Kita berharap dengan strategi memapar siswa dengan buku ini, siswa tergerak untuk selalu baca buku,” ujar ibu kepala sekolah Linceria Hutapea.

Awal Mula Program
Program literasi ini muncul setelah kepala sekolah dan guru di sekolah tersebut dilatih program PINTAR Tanoto Foundation tentang manajemen sekolah dan peran serta masyarakat, yang di dalamnya juga berisi menggerakkan program budaya baca. Setelah ikut pelatihan tersebut, pihak sekolah langsung mengundang komite dan orang tua siswa mengadakan rapat untuk menggerakan budaya baca dan program-program lainnya. Komite dan orang tua sepakat menyukseskan program tersebut.

“Pembuatan pipa paralon untuk dudukan baca itu dilakukan oleh orang tua siswa. Mereka juga aktif membantu pada banyak kegiatan yang lain, misalnya pembuatan taman, acara olahraga, halal bi halal dan lain-lain. Ini terjadi setelah komite dan orang tua kami ajak musyawarah secara terbuka. Kami ceritakan kebutuhan sekolah dan keterbatasan sekolah untuk menanggung semuanya,” ujar Rahadiani.

Menurut Mustajib, Communication Specialist Program PINTAR Tanoto Foundation Kaltim, gerakan koin literasi yang dilakukan oleh SDN 020 perlu direplikasi oleh banyak sekolah lain. “Gerakan seperti ini sudah dilakukan oleh beberapa sekolah lain, seperti  MTs Negeri I Balikpapan, MINU Balikpapan dan lain-lain, dan masih perlu direplikasi oleh banyak sekolah lain.  Salah satu hal yang paling penting dalam program menumbuhkan gemar membaca adalah ketersediaan buku yang bervariasi secara terus menerus. Untuk memastikan ketersediaan buku yang banyak dan bervariasi, peran orang tua siswa sangat penting. Mereka perlu diajak bermusyawarah. Sekolah memiliki keterbatasan untuk bisa menanggung semuanya,” ujarnya.

Program PINTAR merupakan program peningkatan pendidikan dasar hasil kerjasama Tanoto Foundation dengan Dinas Pendidikan dan Kemenag. Di Balikpapan, program ini menyasar ke 24 sekolah SD/MI dan SMP/MTs. Budaya Baca menjadi salah aktivitas utama program ini. (HG44),

Temanggung, Harianguru.com - Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) XI LP Ma'arif PWNU Jateng pada Kamis (27/6/2019) resmi ditutup di Graha Bumi Pala Temanggung.

Berdasarkan SK Nomor 12/PW.11/LPM/SK/VI/2019 tentang Penetapan Juara 1, 2, 3 Porsema XI Tingkat Jawa Tengah tahun 2019, Juara Umum 1 LP Ma'arif NU Kudus, Juara Umum 2 LP Ma'arif NU Banyumas, Juara Umum 3 LP Ma'arif NU Jepara.

Dalam sambutannya, Ketua LP Ma'arif PCNU Temanggung H. Miftakhul Hadi menyampaikan bahwa kejuaraan bukan tujuan utama kegiatan Porsema. "Yang tidak juara jangan berkecil hati karena Porsema ini tujuannya untuk silaturahmi," beber dia.

Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng R. Andi Irawan mengatakan bahwa tujuan utama Porsema ada tiga. "Pertama adalah media silaturahim, untuk menyambut persaudaraan warga Nahdliyin. Kedua, menyiarkan bahwa NU memiliki peran besar untuk memberikan sumbangsih pada kemajuan pendidikan di Indonesia khususnya di Jawa Tengah," beber dia.

Data yang kami dapat dari Kemeneg RI beberapa bulan lalu, kata Andi, 95 persen madrasah di Indonesia swasta. "Mayoritasnya adalah miliki NU tentu adalah LP Ma'arif. Jelas ini adalah bentuk nyata peran Ma'arif dalam memajukan mutu pendidikan," kata dia.

Ketiga, memberikan media atas bakat dan minat dalam bidang olahraga dan seni. "Jadi, intinya ada pada nomor satu yaitu menjaga ukhuwah nahdliyah lewat silaturahim," tegas dia.

Pihaknya juga menegaskan, bahwa ke depan perlu kegiatan kontinu berupa penyiapan atlet baik olahraga dan seni di madrasah dan sekolah. "Penyiapan atlet tidak sekadar saat Porsema namun harus ada pembinaan kontinu," ujar dia.

Dalam Porsema XI ini, mengangnat tema Menuju Generasi Emas Aswaja An-Nahdiyah yang Sportif, Kreatif, dan Berkarakter. "Ada tiga kata kunci di sini, yaiti sportif kreatif dan berkarakter. Dalam olahraga dan seni, membutuhkan sportivitas, kreativitas dan karakter. Hal itu kami harap lahir dari Porsema ini sesuai basic dari nilai-nilai pesantren," tandas dia.

Sekda Temanggung, menyampaikan bahwa dipilihnya Temanggung menjadi wahana sosialisasi kearifan lokal dan wisata Temanggung. "Kami bangga Temanggung menjadi Porsema XI LP Ma'arif PWNU Jateng. Ini merupakan wahana sosialisasi karena Temanggung ini kota kecil sebagai kota tengah-tengahnya Jawa Tengah, namun dipilih menjadi tuan rumah Porsema," kata Sekda.

Ia juga mengajak kepada semua peserta Porsema untuk memaknai kesehatan jasmani dan rohani sebagai wahana pembangunan banga.

Selain Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng, Ketua LP Ma'arif PCNU Temanggung dan Sekda, hadir juga Tim SC Panitia Porsema Fakhrudin Karmani dan Ziaul Khaq, Wakil Ketua Panitia Porsema Hamidulloh Ibda, Sekretaris Panitia Porsema Abdulloh Muchib, Bendahara Panitia Porsema Ahmad Muzammil dan ribuan peserta se Jateng.

Wakil Ketua Panitia Porsema Hamidulloh Ibda, mengatakan bahwa dari rekapitulasi perolehan medali, Kudus mendapat 15 emas, 8 perak, dan 5 perunggu. Untuk Banyumas mendapat medali 13 emas, 3 perak, 6 perunggu. "Sedangkan Jepara mendapat medali 12 emas, 14 perak, dan 3 perunggu," kata dia.

Penetapan Juara Umum sesuai dengan perolehan medali emas yaitu Kudus. "Untuk peringat di bawahnya ada Temanggung, Pati, Batang, Pekalongan, Kota Semarang, Grobogan, Wonosobo dan lainnya," kata dia.

Secara resmi, Sekda Suryono menutup kegiatan Porsema pada pukul 10.41 WIB. Kegiatan dilanjutkan penyerahan piala dan penghargaan kepada atlet olahraga dan seni yang juara. (hg98/Irfan).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Tahun 2017, bukan sekolah-sekolah favorit yang ada di Jakarta, Bandung, Surabaya dan lain-lain, tapi sekolah  terpencil yang terletak di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur  yang jadi Juara Satu Budaya Mutu Nasional yaitu Sekolah Dasar 003 Kecamatan Loa Kulu. Hebatnya lagi, pada tahun 2019,  sekolah ini juga mengantarkan ibu Warni Arimbi, sang kepala sekolah, menjadi juara satu kepala Sekolah SD berprestasi se-Kaltim. Nah apa rahasia sekolah terpencil di Kutai Kartanegara ini bisa mencapai prestasi demikian?  Warni Arimbi mengungkapkan strategi-strateginya.

Menurut Warni,  untuk mendapatkan juara satu budaya mutu nasional, dia jadikan inklusi sebagai ‘jualan’.  “Selain  memperbaiki manajemen, pembelajaran aktif, dan penerapan program budaya baca, sekolah kami juga menerima dan memberikan perhatian khusus yang besar kepada anak-anak inklusi,” ujar salah satu fasilitator daerah program PINTAR Tanoto Foundation untuk Kutai Kartanegara ini, 24 Juni 2019. 

Rata-rata  2-4 anak-anak inklusi terdapat di tiap kelas sekolah ini. Saat ini sekolah dihuni 325 siwa dan memiliki 12 rombongan belajar.   27 siswa diantaranya masuk kategori inklusi.  Siswa-siswa inklusi tersebut ada yang hiperaktif, tuna ganda, tuna grahita, low vision,  tuna daksa, tuna rungu, tuna wicara, autis,  dan kesulitan belajar. “Jumlah siswa inklusi tergolong  banyak, bisa mengalahkan sekolah luar biasa yang biasa per kelasnya 3-4 siswa saja,” ujar Warni.

Siswa yang dianggap belum bisa bergabung dengan kelas inklusi, ditempatkan terlebih dahulu di kelas yang khusus anak inklusi. Jumlah siswa di kelas khusus ini bisa mencapai 12 orang.

Agar sekolah profesional dalam menangani siswa inklusi, tiga guru di sekolah tersebut diutus untuk belajar khusus penanganan siswa inklusi. Ibu Suparti dan Yohana belajar di Sekolah Luar Biasa selama 3,5 bulan. Ibu Yohana kemudian diutus kembali belajar bersama ibu Zuhro kursus khusus penanganan inklusi selama 6 bulan.

Ketiga guru tersebut kemudian mengajarkan ketrampilannya pada guru-guru yang lain lewat pertemuan kelompok kerja guru (KKG) mini yang diadakan tiap Sabtu di sekolah tersebut. “Dengan program ini, secara bertahap, semua guru memiliki kemampuan dasar yang baik menangani siswa-siswa Inklusi,” ujar Warni.
Menurut Warni, sekolah mau menerima banyak anak inklusi karena sekolah inklusi yang lain jauh dari situ, yaitu di Tenggarong Kota. 

Banyak sekali tantangan mengajar siswa-siswa inklusi. “Menghadapi mereka harus sabar dan harus benar-benar tahu wataknya. Ada yang suka tiba-tiba keluar menikmati hujan, ada yang tidak mau bergaul, ada yang suka naik-naik meja dan gaduh dan berbagai watak lainnya,” kata ibu Suparti, guru yang menjadi penanggung jawab khusus  inklusi.

Menurut ibu Titik, pengajar kelas satu di sekolah tersebut, penerapan metode pembelajaran aktif program PINTAR Tanoto Foundation membuat siswa inklusi lebih mudah bersosialisasi dengan kawan-kawannya. “Siswa jadi lebih banyak belajar bersosialisasi dan belajar bersikap dengan lebih baik kepada temannya karena proses pembelajaran melibatkan pembentukan kelompok,” ujarnya.

Sebelumnya pada tahun 2016,  sekolah ini juga pernah juara ke-6  budaya mutu nasional dari 134 sekolah peserta se Indonesia. Penilaian budaya mutu ditekankan pada mutu MBS, pembelajaran, UKS, ekstra kuriler, dan perpustakaan. Tidak hanya berdasarkan portofolio yang dikirimkan, petugas kementrian juga langsung turun langsung menilai sekolah selama beberapa hari. “Kalau kita menekankan pada ekstra kurikuler, kita akan selalu kalah.  Sekolah-sekolah di Jawa sangat hebat ekstra kurikulernya. Kita tekankan pada aspek inklusi, yang merupakan bagian MBS, dan juga pembelajarannya,” ujar Warni mengungkapkan strateginya.

Untuk budaya baca, sekolah ini secara aktif menyelenggarakan 15 menit membaca sebelum pembelajaran. Sekolah juga menetapkan jadwal hari wajib kunjungan ke perpustakaan bagi tiap kelas. Sekolah juga mengadakan kerjasama dengan perpusda. Seminggu sekali Perpusda datang ke sekolah dengan mobil pustaka. Sekolah juga memberikan penghargaan kepada siswa yang sering berkunjung dan membaca atau pinjam buku di perpustakaan.

Setelah terpilih Juara Satu Kepsek berprestasi tingkat SD di Kaltim, saat ini Warni Arimbi sedang mempersiapkan diri ikut lomba kepala sekolah berprestasi tingkat nasional. “Semoga terpilih dan sekali lagi mengharumkan nama sekolah,” ujarnya menutup. (HG44).

Semarang, Harianguru.com - Lembaga Pendidikan Ma’arif PWNU Jateng melalui Bidang Diklat dan Litbang pada tahun 2019 ini menggelar Lomba Karya Tulis Ilmiah (LTKI) Tingkat Nasional 2019. Hal itu disampaikan Ketua Panitia Lomba Karya Tulis Ilmiah (LTKI) Tingkat Nasional 2019 LP Ma’arif PWNU Jateng Hamidulloh Ibda pada Senin (17/6/2019).



“Lomba Karya Tulis Ilmiah (LTKI) Tingkat Nasional 2019 adalah ajang kompetisi berupa karya ilmiah hasil riset, pengembangan pemikiran/gagasan, kajian konseptual, yang diselenggarakan Bidang Diklat dan Litbang LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah dari jenjang pelajar, mahasiswa, tendik, guru, dan dosen, baik dari internal atau eksternal LP Ma’arif,” kata dosen STAINU Temanggung itu.



Untuk temanya, lomba artikel ilmiah 2019 ini yaitu “Strategi Memajukan Pendidikan Ma’arif NU di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0”. Panitia sengaja membagi LKTI ini ke dalam empat kategori yang mengakomodir semua pelajar, mahasiswa, guru, dosen, peneliti, dan masyarakat luas.



Untuk kategori pertama, yaitu disebut Ma’arif 1 yang terdiri atas pelajar madrasah/sekolah jenjang MA/SMA/SMK di bawah LP Ma’arif se Indonesia. Kategori kedua, yaitu Ma’arif yang terdiri atas tenaga kependidikan, guru, kepala sekolah/madrasah, dan pengurus LP Ma’arif di tingkat MWC dan PC se Indonesia.



Ketagori ketiga, yaitu Ma’arif 3  yang terdiri atas mahasiswa/mahasiswi jenjang S1-S3 di bawah kampus yang berafiliasi dengan NU/LPTNU se Indonesia. Ketagori keempat, yaitu Ma’arif 4 yang terdiri atas pelajar, mahasiswa/mahasiswi jenjang S1-S3, dosen, guru, dan masyarakat luas di luar Ma’arif dan NU se Indonesia.



Total hadiah yaitu Rp. 32.800.000. Unatuk kategori Ma’arif 1, Ma’arif 2, Ma’arif 3, dan Ma’arif 1, untuk Juara 1 mendapatkan Rp. 2.500.000, Juara 2 Rp. 2.000.000, Juara 3 Rp. 1.500.000. Sedangkan Juara Harapan 1 Rp. 1.000.000, Juara Harapan 2 Rp. 700.000, dan Juara Harapan 3 Rp. 500.000.



Untuk Juara 1, 2, 3 dan Harapan 1, 2, 3, akan mendapatkan voucher penerbitan buku CV. ASNA PUSTAKA milik LP Ma'arif PWNU Jateng. Semua peserta akan mendapatkan sertifikat, dan naskahnya akan berkesempatan dibukukan, dan diseleksi untuk dimuat di Jurnal ASNA milik LP Ma'arif PWNU Jateng.



Jadwal pelaksanaan, untuk sosialisasi dimulai pada 27 Juni 2019 sampai 30 November 2019. Lalu pengiriman naskah dimulai 27 Juni 2019 sampai 30 November 2019, seleksi administrasi pada 27 Juni 2019 sampai 30 November 2019, dan penilaian dilakukan 30 November 2019 sampai 30 Desember 2019. Pengumuman dilakukan pada 30 Desember 2019, dan penganugerahan hadiah pada awal Januari 2020.



Semua peserta harus mendaftar via online, lalu mengirim naskah dalam bentuk file bukan hardcopy ke email asnapustaka@gmail.com. Semua informasi yang belum jelas, dapat ditanyakan kepada panitia, yaitu Khoirun Niam 082276951949 dan Hamidulloh Ibda 08562674799.



Informasi lebih lanjut, silakan datang ke sekretariat Kantor LP Ma’arif PWNU Jateng Jalan Doktor Cipto No. 180, Sarirejo, Semarang Timur, Karangtempel, Kec. Semarang Tim., Kota Semarang, Jawa Tengah.



Pengumuman akan dilakukan melalui website maarifnujateng.or.id instagram: Maarifjateng / https://www.instagram.com/maarifjateng/, Facebook Majalah Maarif / https://www.facebook.com/majalah.maarif.16 dan Fanspage LP Ma’arif NU Jawa Tengah / https://www.facebook.com/lpmnujateng/.



Untuk pendaftaran dilakukan secara daring melalui laman yang sudah disiapkan, yaitu klik DI SINI. Sedangkan wajib peserta mengirim naskah dan silakan download panduannya klik DI SINI. Untuk template naskah dapat diunduh DI SINI. (Irfan).

Temanggung, Harianguru.com - Melalui Asna Pustaka, Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jateng melaunching dua buku karya siswa-siswa peserta Pekan Olahraga dan Ma'arif (Porsema) XI di ruang sekretariat panitia, Selasa (25/6/2019) di rektorat STAINU Temanggung.

Dalam kesempatan itu, Sekretaris Panitia Porsema XI LP Ma'arif PWNU Jateng Abdulloh Muchib mengapresiasi dua buku tersebut. "Ini adalah sejarah, karena sudah 22 tahun baru kali ini LP Ma'arif PWNU Jateng dapat menerbitkan buku hasil karya peserta Porsema," kata dia.

Panitia sangat mengapresiasi karena meski perhelatan Porsema hanya empat hari, namun dapat mendorong siswa menulis. "Ini bagian dari jihad literasi yang kami lakukan untuk mengglobalkan kiai atau ulama NU lokal," ujar dia.

Sementara itu, Ketua Tim Penulisan Buku LP Ma'arif PWNU Jateng Abdul Halim menegaskan bahwa penulisan buku di ligkup siswa memang jarang. Menurut dia, dua buku ini adalah emas berharga di dunia literasi. "Yang satu berisi kumpulan puisi, kedua berisi kumpulan biografi kiai atau ulama lokal NU yang sangat langka," tukas aktivis asal Pemalang itu.

Direktur Asna Pustaka Hamidulloh Ibda menjelaskan, bahwa LP Ma'arif PWNU Jateng periode 2018-2023 ini sudah memiliki penerbit sendiri. "Dua buku ini merupakan buku pertama terbitan Asna Pustaka yang dikelola Bidang Diklat dan Litbang LP Ma'arif PWNU Jateng," katanya.

Penulis buku Sing Penting NUlis Terus ini juga menjelaskan, buku pertama berjudul Puisi untuk Nusantara. Isinya adalah kumpulan puisi siswa-siswi jenjang SD/MI sampai SMA/SMK/MA Ma'arif se Jawa Tengah. "Saat ini sangat sedikit anak atau bahkan orang dewasa mau mengurusi puisi. Lewat buku ini, ke depan kami akan rumuskan konsep untuk meningkatkan keterampilan menulis, mengritik dan mengapresiasi sastra," lanjut penulis buku antologi puisi Senandung Keluarga Sastra tersebut.

Sedangkan buku kedua berjudul Riwayat Sang Penuntun berisi kumpulan biografi kiai NU lokal se Jawa Tengah yang ditulis peserta Porsema jenjang SMP/MTs dan SMA/SMK/MA. "Dari buku ini, saya kenal KH. Abdul Fattah, KH. Muhammad Najib dari Banjarnegara, KH. Turmudzi Al-huda dari Batang, lalu Kiai Khubaidi Usman dari Banyumas, Mbah Kalimi dari Blora, Kiai Abdullah dari Kendal dan lainnya. Beliau adalah kekayaan NU dan khususnya Ma'arif untuk diteladani," beber dia. (hg55/Ziaul).

Oleh: Nurchaili
Peserta study visit ke Korea Selatan/Juara I Guru Madrasah Aliyah Berprestasi 
Tingkat Nasional Tahun 2018/Mengajar di MAN 4 Aceh Besar

Alhamdulillah saya menjadi bagian dari rombongan study visit  berupa short course dan studi banding pendidikan ke Seoul, Korea Selatan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Kementerian Agama RI ini sebagai bentuk penghargaan dan afirmasi bagi GTK madrasah berprestasi. Study visit diikuti oleh 22 GTK pemenang pertama tahun 2017 dan 2018 dan pejabat dari Direktorat GTK Madrasah. Saya merasa bahagia dan senang, karena di kesempatan yang istimewa ini, saya bisa belajar dan melihat sekolah-sekolah di kampungnya “SAMSUNG”, smartphone yang semakin mendunia. Sebuah negara dengan teknologi yang semakin terdepan.

Korea Selatan (Korsel) menempati peringkat pertama sebagai negara dengan sistem pendidikan global terbaik dunia versi Pearson (www.bbc.com). Hal yang sama juga dilansir lembaga penelitian The Social Progress Imperative, yang menempatkan pendidikan dasar negara yang memiliki koneksi internet tercepat di dunia ini pada peringkat pertama dunia tahun 2018. (https://www.idntimes.com).

Selama sepekan  (28 April-5 Mei 2019), selain mengikuti kuliah singkat di Seoul National University (SNU) saya dan rekan-rekan diberi kesempatan untuk studi banding ke sekolah-sekolah di Seoul. Dua sekolah yang saya kunjungi adalah SNU Middle School dan Dae Gwang Middle School. Keduanya adalah sekolah setingkat SMP. SNU Middle School adalah sekolah laboratorium yang menjadi percontohan bagi sekolah-sekolah lainnya di Korea. Sekolah ini merupakan sekolah putra dengan jumlah siswa 640 orang. Sementara Dae Gwang Middle School adalah sekolah negeri yang memiliki 365 siswa dengan 32 orang guru. Sekolah ini berdiri sejak 25 November 1947.

Medio 1998-2000 Pemerintah Korsel mulai melengkapi sekolah-sekolah dengan komputer dan internet. Sejumlah 34 ribu guru diberikan komputer dan dilatih. Lalu dibangun 90 ribu ruang komputer dengan biaya lebih kurang 5.500 miliar won (1 won setara Rp. 13). Kurun waktu tiga tahun, komputer dan internet sudah merata di seantero negeri produsen mobil KIA dan Hyundai ini. Sejak saat itu semua sekolah di Negeri K-Pop ini sudah menggunakan media pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Media pembelajaran berbasis TIK ini telah mengambil tempat yang tak tergantikan.  Terlebih  saat  ini,  dimana  Revolusi  Industri  4.0  mendatangkan  berbagai tantangan baru.

Di Korea sudah sepuluh kali terjadi perubahan kurikulum. Semua ini dilakukan untuk melahirkan generasi Korea yang berbudi pekerti luhur, independen, bisa bekerjasama, kreatif dan inovatif. Karekteristik sekolah-sekolah di Korea berbeda dengan di Indonesia. Di Dae Gwang Middle School misalnya. Di sekolah ini diterapkan Free Semester System dimana saat kelas satu ada semester yang hanya belajar saja tanpa ujian. Sekolah ini juga mengajarkan drama, pembimbingan program pilihan seperti Chef (memasak), Carpentering (pertukangan Kayu), Drone dan lainnya. Sekolah ini merupakan sekolah digital. Semua guru diberikan tablet, dan untuk siswa disediakan 210 tablet. Ruang kelas dilengkapi TV 60 inc. dan fasilitas wi-fi serta papan tulis cerdas (smart board). Saya turut mencoba kecanggihan smart board ini.

Kurikulumnya juga terdapat beberapa keunikan, seperti adanya kegiatan relawan (volunteer) baik di sekolah maupun di luar, perencanaan pendidikan karir yang dilaksanakan setiap hari Jum’at. Ada juga kemah asrama yang dilakukan setiap dua hari, tiga malam dalam seminggu secara bergantian, kampung Inggris, dan ekspo sains berupa hasil karya/temuan siswa. Mereka juga mengadakan kegiatan amal setiap tahun dan praktik pengadilan yang diberi label “Student’s Mock” untuk mengadili siswa yang melanggar aturan sekolah. Sekolah ini juga mewajibkan kegiatan literasi bagi siswanya dengan membaca buku minimal satu judul dalam sebulan. Kegiatan ini didukung oleh dinas pendidikan yang memberi bantuan 5 juta won untuk membeli buku baru setiap tahunnya.

Oya hampir terlupakan. Sekolah yang saya kunjungi di negeri ginseng ini semua tertata rapi, indah dan nyaman. Lingkungan dan ruang kelasnya sangat bersih dan asri. Bagaimanakah dengan kita? Pendidikan Indonesia akan bisa lebih baik dan bersaing dengan negara lainnya jika semua pihak memiliki niat yang tulus dan ikhlas dalam mendidik generasi bangsa yang cerdas dan berakhlakul karimah. Semoga!

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Agar siswa senang tinggal di sekolah,  maka kelas sebagai tempat belajar anak harus nyaman, indah, rapi  dan mendukung pembelajaran. Namun bagaimana caranya agar tercipta kelas semacam itu tanpa harus membebani sekolah untuk membiayainya. Nah SDN 011 Balikpapan Tengah punya kiatnya, yaitu dengan mengadakan lomba bedah kelas.

Lomba bedah kelas adalah lomba yang diikuti oleh orang tua siswa masing-masing kelas yang tergabung dalam komite kelas atau paguyuban kelas untuk menunjukkan kelas yang paling rapi, indah dan menunjang pembelajaran. Untuk memperbaiki kelas tempat anaknya belajar tersebut, mereka tidak memakai dana sekolah tapi dana bersama-sama yang dihimpun komite kelas masing-masing.

Nah bagaimana cara mengawali agar lomba seperti ini bisa terlaksana. Pertama, agar orang tua siswa memahami bahwa sekolah tidak bisa membiayai semua kebutuhan sekolah,  pada waktu rapat penerimaan rapor siswa, kepala sekolah menceritakan secara terbuka keuangan, dan kebutuhan sekolah, dan apa yang diharapkan dari orang tua siswa untuk berperan. 

Kedua, penguatan oleh komite sekolah tentang pentingnya peran komite mendukung sekolah. Lewat keterbukaan tersebut, orang tua menjadi sadar bahwa tentang kebutuhan sekolah dan apa yang bisa mereka sumbangkan secara suka rela. Pertemuan tersebut akhirnya menyepakati bahwa, agar mereka termotivasi menyumbangkan dana, tenaga, dan lain-lain ke sekolah,  mereka semua ikut dalam lomba bedah kelas yang diselenggarakan oleh komite sekolah.

“Upaya membangkitkan peran orang tua siswa ini semakin terdorong setelah ikut pelatihan Peran Serta Masyarakat yang diadakan oleh Program PINTAR Tanoto Foundation. Kami langsung eksekusi di sekolah dengan mengadakan lomba ini, “ ujar Sahidayati, Kepala Sekolah, 31 Mei 2019. 

Lomba ini sangat efektif memotivasi orang tua siswa untuk berperan secara sukarela mewujudkan kelas yang menunjang anak-anak mereka belajar. Selama dua bulan, waktu yang diberikan oleh juri untuk membenahi  kelas, orang tua siswa yang tergabung dalam komite kelas, ramai-ramai bergotong-royong memperbaiki kelas masing-masing. Mereka biasa datang biasanya pada hari sabtu atau minggu sore.

Mereka menyumbang apa saja yang mereka mampu, baik dalam bentuk tenaga, keahlian dan dana. Ada yang mengecat, menggambar, membuat lemari pojok baca dan lain-lain. Semua dana berasal dari mereka sendiri. Kepala sekolah menyerahkan sepenuhnya hal tersebut pada komite kelas.   

Juri yang terdiri dari Ketua Komite, Pengawas dan Kepala sekolah dari sekolah lain, menilai kelas berdasarkan beberapa kriteria: keindahan, kerapian, kreatifitas dan pojok budaya baca. Juri sengaja dipilih dari orang luar, kecuali komite, untuk menjaga netralitas.

Agar pojok budaya baca kaya dengan buku-buku, orang tua siswa juga sepakat bahwa tiap siswa akan menyumbangkan satu buku. Buku tersebut diletakkan di pojok kelas masing-masing dan menjadi miliki bersama.

Lomba tersebut akhirnya dimenangkan oleh kelas tiga.   ibu Sudiyem sebagai wali kelas menerima piala langsung dari pengawas sekolah, Slamet Mulyadi. Rencananya sekolah akan mengadakan lomba bedah kelas per enam bulan sekali, dan piala yang dipegang kelas tiga saat ini adalah piala bergilir.

“Lomba ini berhasil membuat sekolah banyak berubah  lebih indah dan lebih menunjang pembelajaran. Buku-buku semakin banyak yang menunjang program membaca lima belas menit sebelum pembelajaran yang ada di sekolah kami,” ujar Sahidayati, Kepala Sekolah.

Menurut Soetrisno, selain membuat sekolah menjadi Taman Siswa, hubungan antar orang tua siswa juga semakin akrab. “Orang tua siswa semakin saling mengenal dan jalinan silaturahmi semacam ini sangat penting  untuk mendukung pengembangan sekolah ke depan,” ujarnya.

Menurut Communication Specialist Program PINTAR Tanoto Foundation Kaltim, Mustajib, tanpa peran orang tua siswa yang besar, sekolah sulit untuk berkembang melampaui target. “Sumbangan ke sekolah akan mempercepat kemajuan sekolah dan itu sangat dibolehkan asalkan tidak ditentukan besarannya dan  kapan waktu menyetornya,” ujarnya. (Hg33).

Temanggung, Harianguru.com - Panitia Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) XI Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jateng pada Senin (24/6/2019) di lokasi registrasi depan KBIH Babussalam NU Temanggung.

Ketua Tim Media Center Porsema XI Jateng Ziaul Haq mengatakan aplikasi merupakan produk dari salah satu panitia Porsema. Hal itu demi mendukung kelancaran kegiatan Porsema XI Jateng, maka LP Maarif PWNU Jawa Tengah membuat Aplikasi Android secara khusus.

"Silakan semua warga NU dan khususnya Ma'arif se Jateng di mana saja berada silakan download aplikasi dengan nama Porsema XI Jateng di Google Play," katanya.

Sementara tim perumus aplikasi Rohmat Eko Wahyudi, menegaskan bahwa aplikasi ini menggunakan sistem operasi android. "Semua HP dengan sistem aplikasi ini di manapun dengan syarat ada sinyalnya," ujarnya.


Dijelaskan dia, aplikasi android ini berisi beberapa menu. Pertama, Peta. Ini berfungsi untuk menelihat lokasi kegiatan lomba. Ikon porsema pada peta dapat di klik dan digunakan untuk menunjukan arah terhadap posisi perangkat android.

Kedua, menu Jadwal, berfungsi untuk melihat jadwal kegiatan Porsema XI Jateng. Di dalam menu ini terdapat jenis kegiatan, jenjang yang melaksanakan kegiatan, waktu kegiatan dan tempat kegiatan. Untuk mempermudah dalam melihat lokasi kegiatan, silahkan klik jadwal kegiatan yang diinginkan.

Ketiga menu Notifikasi, berfungsi untuk menginfokan semua informasi yang berkaitan dengan Porsema XI Jateng, seperti pemenang lomba, dan lainnga.

Aplikasi Porsema dapat didownload di http://bit.do/porsema-xi-jateng. "Silakan sebarkan pesan ini kepada seluruh panitia dan peserta Porsema XI Jateng serta pihak terkait yang lain. Jika ada masalah, silakan menghubungi kami di rohmad.ew@gmail.com untuk petunjuk penginstalan aplikasi, menginformasikan sesuatu atau memberi saran. Terimakasih," kata dia. (Hg88/Ibda).

Semarang, Harianguru.com - Berkhidmat di Nahdlatul Ulama (NU) merupakan karunia yang tidak didapat semua umat Islam. Sebab, selama ini banyak orang lebih memilih aktif di organisasi profit daripada nirlaba yang sepi dari aspek material. Hal itu diungkapkan Ketua PWNU Jateng Drs. KH. Mohamad Muzamil dalam agenda halalbihalal dan tasyakuran Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jateng, Selasa (18/6/2019).

"Khidmat di NU itu adalah karunia. Tidak semua orang berkesempatan aktif di NU. Ukurannya tidak naik tingkat dari PC ke PW, dari PW ke PB. Tapi peningkatan mutu pengabdian pada semua struktur NU di level manapun," tegas Kiai Muzamil saat menyampaikan sambutan.

Pihaknya juga menyampaikan, orang yang serius khidmat di NU pasti mengalami pengalaman spiritual yang tidak dialami orang lain. "Insyallah ada keberkahan, dan pasti ada pengalaman menarik. Secara material, di NU tidak ada apa-apanya. Namun di ranah spiritual, pasti tiap pengurus mengalami pengalaman spiritual menarik yang pasti tiap orang berbeda," ujar dia.

Hadir pengurusan harian LP Ma'arif PWNU Jateng dan panitia Porsema XI yang membahas persiapan teknis pelaksanaan Porsema pada 24-27 Juni 2019 mendatang.

Di forum itu, pihaknya menyampaikan dua hal inti program pendidikan yang dipesankan pada LP Ma'arif PWNU Jateng. "Pertama adalah peningkatan mutu pendidikan Ma'arif. Sekolah dan madrasah Ma'arif harus memiliki keunggulan komparatif. Sekarang jualannya tahfiz. Tapi kalau level kita di PAUD dan MI itu membaca, menganalisis baru menghafalkan. Karena menghafal itu, tidak semua anak atau tidak semua pelajar paham. Tugas LP Ma'arif menyadarkan masyarakat bahwa menghafal itu ada levelnya sendiri," katanya.

Selain itu, pihaknya juga memberi pemetaan penguatan aspek akidah Islam Aswaja Annahdliyah, bahasa, matematika, hafalan dan pembelajaran yang menyenangkan. "Sekarang memang beda. Paradigmanya pembelajaran menyenangkan, tapi tradisi hormat dan menjaga kewibaan pada guru harus tetap dijaga. Selain itu kepribadian guru juga harus diutamakan karena sebagai contoh," lanjutnya.

Program kedua yang harus dijalankan LP Ma'arif adalah mendirikan sekolah atau madrasah unggulan. "Perlu sekolah atau madrasah model, bisa seperti labschool. Secara informal sudah digagas di karesidenan Solo. Minimal, ada satu sekolah di periode ini mengelola sekolah model, baik jenjang PAUD, MI atau SD. Baru kalau sudah sukses bisa berkembang ke SMP/MTs dan SMA/SMK/MA," bebernya.

Pada kegiatan itu, Ketua PWNU Jateng memotong tumpeng yang diberikan kepada Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng. Usai tasyakuran, kegiatan dilanjutkan rapat persiapan Porsema XI. (Hg88/hi).

Temanggung, Harianguru.com - Pemerintah Kabupaten Temanggung melalui Bupati Muhammad Al Khadziq mendukung kegiatan Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) ke XI tingkat Jawa Tengah yang akan digelar 24-27 Juni 2019 mendatang. Setelah Pemkab, Sekda dan semua dinas terkait juga turut mendukung kegiatan tersebut. Hal itu terungkap dalam Rapat Koordinasi Porsema di ruang rapat Kesra Pemkab Temanggung Jl. A. Yani No. 32, Dongkelan Utara, Jampiroso, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, Rabu siang (12/6/2019).

Hadir jajaran SKPD, OPD Pemkab Temanggung dan instansi terkait seperti perwakilan Polres, Satpol PP, PMI, PDAM, Kemenag, Dinas Pendidikan, Damkar, Dinas Perhubungan, PLN, dan lainnya serta pengurus LP Ma'arif PWNU Jateng yang diwakili Ziyaul Haq, Ahmad Muzammil, Hamidulloh Ibda, Abdulloh Muchib, dan Irfan, lalu LP Ma'arif PCNU Temanggung dan panitia Porsema Tingkat Wilayah dan Panitia Lokal serta
Event Organizer (EO) yang membantu acara tersebut.

Acara Rapat Koordinasi Porsema itu langsung dihandel Sekda Temanggung Suryono. Pihaknya menegaskan, bahwa Pemkab dan SKPD menyambut baik kegiatan Porsema karena akan dihadiri semua atlet se Jawa Tengah.

"Minimal, nanti Temanggung dikenal adik-adik atlet jenjang MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA/SMK se Jateng," katanya.

Sebab, menurut dia, Temanggung memiliki banyak kekayaan daerah. "Harapan kami Temanggung dikenal semua adik-adik atlet se Jateng. Karena Temanggung menyimpan banyak kenangan, ada kuliner seperti kopinya juga terkenal, ada wisata dan kekayaan lainnya," lanjutnya.

Maka, Sekda yang mewakili Bupati Temanggung mengajak semua SKPD dan instansi terkait untuk mendukung dan menyukseskan Porsema ke XI di Kota Tembakau tersebut.

Sementara itu, Ketua LP Ma'arif NU Temanggung H. Miftakhul Hadi, M.Pd menjelaskan detail rencana dan konsep Porsema XI tersebut.

"Ada 9 cabang lomba olahraga, 14 cabang lomba seni, ada parade kontingen, dan total lebih daru 4367 peserta, atlit dan pimpinan kontingan akan hadir di Temanggung yang akan kami bagi pada 16 titik di sekolah negeri atau swasta yang akan menginap di sana," bebernya saat memaparkan materi.

Untuk penanggungjawab dan koordinasinya, lanjut dia, akan dikawal semua pengurus MWC NU Ma'arif se Temanggung, dan bantuan dari semua Badan Otonom NU Temanggung.

Pihaknya juga menjelaskan teknis lomba, dari tanggal 24 sampai 27 Juni 2019 kepada semua peserta rapat koordinasi agar dapat disinergikan dengan semua instansi untuk menyukseskannya.

"Kami sangat berharap kepada semua OPD, dan Dinas terkait untuk turut mendukung kegiatan tersebut agar berjalan sesuai harapan," harapnya.

Semua pihak dari OPD dan instansi terkait merespon positif rencana Porsema itu karena mereka menilai Porsema hampir sama dengan Sea Games yang melibatkan semua. Semua instansi hanya berharap koordinasi lanjut yang intens yang ke depan akan meminimalkan potensi hambatan. (Hg99/Ibda).


Temanggung, Harianguru.com - Serangkaian acara yang diselenggarakan oleh BEM STAINU Temanggung untuk mengharapkan berkah di bulan Ramadhan. Acara dimulai dengan acara pembukaan yang dihadiri oleh pejabat kampus bagian kemahasiswaan dan seluruh Ketua UKM STAINU Temanggung. Acara dimulai Jumat sore (31/5/2019), dan direncanakan dilanjutkan Sabtu (1/6/2019).

Dalam acara tersebut BEM STAINU juga menghadirkan SMA, SMK, MA, Temanggung dengan jumlah peserta 52 orang dari perwakilan 11 Sekolah di Temanggung.

Setelah acara pembukaan tersebut seluruh peserta dan tamu undangan berbuka bersama lalu melaksanakan ibadah salat tarawih bersama yang diimami oleh Gus Nashih.

Setelah selesai pelaksaan sholat teraweh Gus Nashih menyampikan kultum mengenai puasa yang dijalankan oleh Nabi-Nabi sebelumnya. "Seperti Nabi Adam yang melaksanakan puasa setiap tanggal 13, 14, 15 lalu pusa Daud dan Nabi lainnya. Banyak keutamaan-keutamaan yang didapatkan dari puasa tersebut," katanya.

Setelah kultum tersebut dilanjutkan acara lomba yaitu lomba tausiyah yang diwakili oleh satu orang dari tiap-tiap sekolah. Dalam lomba tersebut mengusung beberapa tema yaitu mengenai pergaulan remaja, teknologi dan informasi, berbakti pada orang tua, dan lailatul qadar.

Demikian serangkaian acara yang diselenggarakan pada Jumat sore 31 Mei 2019 sampai malam untuk acara yang selanjutnya akan diteruskan pada hari Sabtu 1 Juni 2019. (HG99/Astuti).

Semarang, Harianguru.com - Dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas), Iman Fadhilah, menegaskan bahwa PWNU Jateng menjadi IPNU sebagai tumpuan awal penjaga Aswaja. "Kami berharap besar bahwa segenap kader dan pengurus IPNU Jateng untuk jdi garda terdepan dalam menjaga aqidah ahlus sunnah wal jamaah an anhdliyah, karena tidak kami pungkiri, bahwa generasi pelajar dan muda sanagt rentan dipengaruhi dengan indoktrinasi radikalisme dan anti nasionalisme terhadap bangsanya," kata Iman Fadhilah yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jateng dalam sesi Focus Group Discussion yang diselenggarakan oleh PW IPNU Jateng di Merak Room Hotel Muria Semarang pada Sabtu (25/5/2019) yang dilanjutkan dengan buka bersama.

Pihaknya juga menyoroti maraknya situs berita yang secara afiliasi memiliki ikatan dekat dengan organisasi pendukung radikalisme, "Atas kerja-kerja didunia internet oleh PW IPNU Jateng kami sangat apresiasi, utamanya melalui portal online ipnujateng.or.id, jaga konsistensi itu" Tegas Iman yang juga Akademisi di Universitas Wahid Hasyim Semarang.

"Perkembangan Organisasi Pelajar di Sekolah yang berkedok kegamaan perlu menjadi sorotan banyak pihak, utamanya pegiat NU yang terlibat aktif di dunia pendidikan. Terlebih akses informasi dan komunikasi tidak terbendung, bahkan kami mengalami langsung, ada anak didik kami yang pamit orang tuanya di Jakarta untuk ke Semarang, suatu ketika orang tua telpon dan mempertanyakan anak yang bersangkutan, ternyata ia belum ke pondok, akhirnya dicari dan anak akhirnya balik, dari ceritanya ia bilang dari Solo. Namun pengamatan kami pasca dari solo perangainya berubah dan nampak seperti orang linglung ditanya tidak mau jawab dengan lugas dan bahkan sering membenturkan kepalanya sendiri ke tembok, kami mencurigai ia terkena brainwash. Maka potensi indoktrinasi radikalisme tersebar dimanapun dan menyasar kalangan pelajar dan muda" Papar Iman yang juga aktif mengelola Yayasan Pendidikan Islam Taqwa Illah di Meteseh Semarang.

Selain Iman Fadhilah, agenda ini juga hadirkan pembicara lain, Muh Zen Adv Anggota Komisi E DPRD Jateng, H Tino Indra Ketua DPD KNPI Jateng, H M Faojin Ketua Pergunu Jateng, serta Ketua PW IPNU Jateng Ferial Farkhan Ibnu Akhmad. Dari kalangan peserta hadir perwakilan Jajaran Pengurus Pimpinan Komisariat Perguruan Tingi (PKPT) IPNU Kampus-kampus di Ibukota Provinsi Jawa Tengah. (HG11/A Halim Solkan).

Semarang, Harianguru.com - Segenap Pelajar NU Jateng utamanya jajaran Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi IPNU Kampus-kampus di Semarang berkumpul di Merak Room Hotel Muria Semarang mengikuti fokus group discussion (FGD) dan Buka Bersama yang diagendakan oleh PW IPNU Jawa Tengah, pada Sabtu (25/5/2019).

Tema agenda ini "Menerawang Wajah Pendidikan Indonesia Pasca Pemilu 2019". Forum ini menghadirkan, Muh Zen Adv Anggota Komisi E DPRD Jateng FPKB, H Tino Indra Wardono Ketua DPD KNPI Jawa Tengah, H Iman Fadhilah Wakil Sekretaris PWNU Jateng, H. M Faojin Praktisi Pendidikan/Ketua Pergunu Jateng.

Muh Zen Adv dalam paparannya mengungkapkan, bahwa pendidikan adalah sektor penting yang harus dikawal oleh semuanya, utamanya segenap pengurus PW IPNU Jateng, karena bagaimanapun input kader berasal dari sana, pihaknya juga perihatin atas maraknya forum organisasi di tingkat sekolah utamanya organisasi berkedok keagamaan namun dalam praktiknya malah menjadi sarana pengembangan nilai radikalisme dan mengkebiri nilai keagamaan dan pancasila.

"Pemerintahan ditingkat manapun, harus punya komitmen politik yang tinggi atas keberhasilan dan pengembangan pendidikan. Jika mereka abai maka SDM Masyarakatnya akan rendah. Masyarakat bisa mengawal dengan memantau berapa persen sih alokasi dana APBD untuk pendidikan" Tegas Muh Zen yang juga Ketua Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI).

Pihaknya juga sampaikan bahwa DPRD Jateng telah menetapkan Perda Pendidikan yang harapannya kedepan tidak ada kembali dikotomi antara Pendidikan Formal/Non Formal.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka membuka wacana dan menelaah potensi perubahan haluan kebijakan pendidikan, utamanya jika melihat hasil pemilu 2019. Kegiatan ini dihadiri ada perwakilan dari UIN Walisongo, UNNES, UNWAHAS, serta Perwakilan PC IPNU Kota Semarang. (HG33/A Halim Solkan).

Kalimantan Timur, Tenggarong, Harianguru.com -   Kurnia Astuti, seorang guru dari SDN 003 Tenggarong,  sudah empat kali selama bulan April 2019 keliling kompleks perumahan tempat ia tinggal menawarkan pada warga untuk membaca buku.  Ia tidak sendiri, tapi ditemani oleh tiga anaknya yang masih kecil-kecil: Bilqis yang masih kelas empat SD, Yasmin yang sementara masih duduk di TK, dan adiknya Asifa yang masih usia tiga tahun. Buku-buku  milik pribadi berbentuk komik, novel, majalah dan lain-lain tersebut dibawa dengan gerobak dorong yang biasa digunakan untuk membawa galon air.

“Bersama anak-anak saya, saya dorong gerobak menawarkan pada siapa saja untuk membaca secara gratis, terutama anak-anak. Saya merasa terpanggil setelah melihat besarnya kecenderungan anak-anak disini buang-buang waktu bermain gadget. Kadang-kadang bahkan anak saya ikut-ikutan tergoda. Saya ingin anak-anak di kompleks ini lebih mampu memanfaatkan waktunya dengan rajin membaca buku,” ujarnya.

Jadwal berputar keliling kompleks menawarkan buku adalah tiap hari Jum’at pukul 16.30-17.30. Mereka tidak hanya keliling  kompleks perumahan mereka sendiri, tapi juga kompleks tetangga.  Orang tua dan anak-anak pun menyambut  gembira kegiatan bu Kurnia. “Bahkan biasa orang tua memerintahkan anak-anaknya gabung membaca, daripada bermain gadget saja,” ujarnya.

Pada bulan Mei ini, karena puasa, ia tidak keliling, tapi menyilahkan pembaca untuk datang langsung ke perpustakaan mininya di rumah. “Buku saya belum begitu banyak. Tapi saya nanti akan pasang banner rumah baca di rumah saya. Saya mempersilahkan siapa saja  menyumbang buku dan akan saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk gerakan literasi,” ujar salah satu fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation ini. 
Namun yang patut diacungi jempol adalah keberanian dan semangatnya berserta keluarganya pada waktu pemilu kemarin tanggal 17 April 2019. Dibantu suaminya, Syamsul Efendi, ia membawa gerobak baca keliling tersebut ke tempat pemungutan suara (TPS) dan membuka lapak baca disitu.

“Saya amat prihatin dengan tingkat literasi di Indonesia. Jadi saya mencoba menggugah semua orang untuk tergerak mau membaca,” ia menceritakan motifnya. Menurutnya, awalnya hampir tak ada orang yang menggubris lapaknya di TPS tersebut. Kebanyakan orang-orang asyik bermain hp sambil menunggu waktu mencoblos. “Saya sampai tawarkan ke tempat duduk mereka. Saya katakan tidak dipungut biaya, tapi tetap tak ada yang menggubris,” kenangnya.

Orang-orang baru perhatikan lapak membaca tersebut, saat tiba-tiba pejabat provinsi dan kabupaten  datang berkunjung ke TPS tersebut, diantaranya  Kasi Perpustakaan Kabupaten Idmansyah,  dan Pejabat Dinas Kebudayaan Daerah Pak Yuyun. Ternyata para pejabat  tersebut tidak langsung menuju ke TPS, tapi ke lapak baca yang didirikan ibu Kurnia. Melihat hal tersebut, orang-orang baru ikut-ikut mengapresiasi kegiatan bu Kurnia.

Menurutnya, karena kegiatan buka lapak baca di tempat pemungutan suara tersebut, akhirnya ia cukup dikenal dan  diminta untuk menjadi nara sumber literasi di beberapa tempat. “Melihat saya gigih membuka lapak pakai buku-buku pribadi di tempat umum, Kasi Perpustakan mengundang saya  jadi narasumber kegiatan literasi di perpustakaan daerah dan juga mengisi kegiatan di Taman PINTAR. Saya juga akan mendapat hadiah tambahan buku dari Rumah Budaya Kutai,” ujarnya.

Keluarga Literasi
Menurut Kurnia, awalnya ia bukanlah pembaca buku yang rutin. Ia baru tergerak rutin membaca, setelah ia membaca banyak artikel tentang pentingnya gerakan literasi dan ikut pelatihan budaya baca Tanoto Foundation. 

“Walaupun saya suka menulis diary. Bahkan diary saya sampai 30 buku. Saya awalnya bukan pembaca yang baik,” ujarnya.

Kini ia selalu luangkan diri setiap hari untuk membaca buku. Bahkan bersama suaminya, ia sepakat untuk membuat program khusus membaca bagi keluarga tersebut. Setiap pagi, anaknya yang SD setelah shoat subuh diwajibkan membaca selama 10 menit. Sedangkan tiap malam, ia dan suaminya bergantian membacakan pada anak-anaknya buku cerita.

“Karena kegiatan ini, anak saya yang usia tiga tahun sekarang sangat menyukai buku. Untuk tiga buku favoritnya, walaupun Ia belum bisa membaca, ia sudah hapal isi buku kecil tersebut tiap halaman,” ujarnya bangga. Sedangkan yang paling besar, Bilqis, sudah pandai menceritakan kembali isi buku.

“Selain saya minta menceritakan isi buku bacaan lewat lisan, saya juga gunakan kertas bekas untuk membimbingnya menceritakan buku yang ia telah baca lewat tulisan. Hasil karyanya kemudian ditempel di kotak membaca seperti kotak kado dan jadi hiasan di rumah kami, “ ujarnya.

Bu Kurnia saat ini sedang menyusun sebuah buku dan sudah dihubungi oleh penerbit. “Semoga saya benar-benar bisa menerbitkan buku,” ujarnya. (HG33). 

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Disela-sela malam peringatan Hari Pendidikan Nasional  yang diadakan di halaman Kantor Bupati, Edi Damansyah, Bupati Kutai Kartanegara, menyatakan apresiasinya terhadap sumbangsih Tanoto Foundation pada pengembangan pendidikan di daerah tersebut. “Program PINTAR Tanoto Foundation turut serta menjawab kebutuhan pengembangan pendidikan di daerah ini,” ujarnya kemarin, 4 Mei 2019.

Ia juga berharap bahwa program-program CSR dan Filantropi yang lain, meniru model program pengembangan pendidikan yang telah dilakukan Tanoto. Penekanan ini searah dengan sambutannya di depan para undangan acara tersebut,  bahwa program CSR dan filantropi di Kukar  hendaknya membuat rencana induk pengembangan pemberdayaan di area lingkungan tempat perusahaan bekerja.

Program Pendidikan merupakan salah satu program prioritas Kutai Kartanegara.  Menurut bupati,  saat ini Kukar mengalokasikan 25 persen dana APBD untuk pendidikan. Bupati yang baru dilantik ini merasa prihatin dengan neraca pendidikan Kukar  yang menempati peringkat 8 dari 10 Kabupaten/kota yang ada di Kaltim. “Padahal semua aparatur pendidikan telah bekerja dengan baik.  Kita perlu selalu mengevaluasi program pendidikan yang kita laksanakan dan  mengupdate data-data pendidikan kita,” tekannya.

Rencananya untuk menjawab tantangan pendidikan di Kukar,  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar  akan menyebarluaskan pelatihan program PINTAR untuk guru-guru sekolah non mitra. “Sudah kami usulkan ke bupati dan disambut dengan baik,” ujar Emi Rosana, Kasi Kurikulum SMP Dinas Pendidikan Kukar.

Pada acara tersebut, Tanoto Foundation merupakan salah satu lembaga dan perusahaan yang mendapatkan piagam penghargaan bupati Kukar. Selain lembaga dan perusahaan,  bupati juga memberikan piagam penghargaan pada pengawas, kepala sekolah dan guru, dan pihak-pihak lainnya yang berprestasi.

Diantara mereka adalah fasilitator-fasilitator daerah Tanoto Foundation untuk daerah Kukar. Warni Arimbi, sebagai kepala sekolah terbaik tingkat SD tingkat Provinsi Kaltim, Rubiyanto juara I Pengawas SMP Berprestasi, Imam Huzaeni Juara I KS SMP Berprestasi, Kurnia Astuti Juara II Guru berprestasi Tingkat SD,   dan Ranem Juara III guru berprestasi tingkat SMP. 

Sebelumnya pada acara Hardiknas yang diadakan oleh pemkot Balikpapan tanggal 2 Mei 2019, Tanoto Foundation juga mendapatkan piagam penghargaan yang juga diterima langsung oleh Provincial Coordinator Program PINTAR Tanoto Kaltim, Affan Surya.

Bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Kemenag  Kutai Kartanegara dan Balikpapan dan Universitas Mulawarman serta IAIN Samarinda, dari September 2018 sampai April 2019,  Tanoto Foundation telah melatih kurang lebih 2000 pendidik tingkat SD/MI dan SMP/MTs di Kaltim. Para pendidik tersebut dibekali ketrampilan mengajar dan menyiapkan lingkungan belajar yang sesuai dengan tuntutan abad 21.  (Hg44).

Temanggung, Harianguru.com - Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Jurusan Tarbiyah STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda, merillis dua buku bersamaan. Buku pertama berjudul Stop Nikah, Ayo Pacaran! Yang diterbitkan Formaci dan kedua buku Konsep dan Aplikasi Literasi Baru di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 yang diterbitkan CV. Pilar Nusantara.

Menurut Pengurus Bidang Litbang dan Diklat LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah ini, buku Stop Nikah, Ayo Pacaran! Berisi tentang ajakan untuk tidak poligami. "Memang boleh, bahkan dalam Alquran disebut boleh empat istri tapi itu kalau berlaku adil. Saya beristri satu saja sudah ngelu kok mau empat," kata Pimred Majalah MOPDIK Ma'arif tersebut, Selasa (21/5/2019).

Menurut pria kelahiran Pati ini, buku Stop Nikah, Ayo Pacaran! Merupakan buku berseri setelah buku Stop Pacaran, Ayo Nikah! Yang terbit tahun 2013. "Kalau mau baca buku Stop Nikah, Ayo Pacaran! Harusnya baca buku Stop Pacaran, Ayo Nikah! Dulu biar tidak gagal paham. Pacaran dalam buku kedua ini maksudnya pacaran dalam bingkai rumah tangga setelah nikah. Maka stop nikah itu artinya menghentikan pernikahan berkali-kali alias satu kali," tegas peraih Juara 1 Lomba Artikel Nasional Kemdikbud 2018 tersebut.

Sedangkan buku Konsep dan Aplikasi Baru berisi tentang literasi baru, yaitu literasi data, teknologi, dan manusia atau SDM sebagai pengganti literasi lama, yaitu membaca, menulis, dan berhitung. Buku ini ditulis bersama Sekretaris Jurusan PGSD FIP UNNES Farid Ahmadi, Ph.D. "Buku Konsep dan Aplikasi Literasi Baru ini tidak hanya implementatif di perguruan tinggi dan sekolah, namun juga di dalam keluarga. Sejak di keluarga, harusnya sudah diajarkan melek data, teknologi, dan humanisme karena fenomena sekarang ini kita sarat akan disrupsi," kata dia.

Buku tersebut, dalam waktu dekat juga akan mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). "Kemarin sudah diajukan dan semua syarat sudah memenuhi, jadi tinggal menunggu HKI turun," kata dia.

Sebelumnya, Ibda telah produktif menulis dan mengedit buku lintas tema. Mulai dari Demokrasi Setengah Hati (2013), Stop Pacaran, Ayo Nikah! (2013), Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner (2014), Media Pembelajaran Berbasiswa Wayang: Konsep dan Aplikasi (2017), Sing Penting NUlis Terus: Panduan Praktis Menulis Artikel dan Esai di Koran (2017), Senandung Keluarga Sastra: Serpihan Cinta dan Enigma Rasa (2018), Media Literasi Sekolah: Teori dan Praktik (2018), Teacherpreneurship: Konsep dan Aplikasi (2018), Filsafat Umum Zaman Now (2018), Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut untuk Mahasiswa: Dilengkapi Caturtunggal Keterampilan Berbahasa (2019), dan lainnya dalam bentuk bunga rampai.

Kemudian yang terbaru adalah Stop Nikah, Ayo Pacaran! serta Konsep dan Aplikasi Literasi Baru di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. "Semoga istikamah dan dapat menulis meski karya saya masih banyak kekeliruan," beber dia. (hb44/hms).

Ilustrasi
Oleh : Rizki Dwi Septiani
Guru MI Ma’arif Bulurejo Kab. Magelang

Tunjangan yang diserahkan kepada guru wiyata bhakti yang diberikan dari dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah, tunjangan BOSDA ini tidak hanya diberikan pada Guru Whiyata Bhakti Swasta saja, namun juga diberikan pada Guru Wiyata Bhakti Negeri.

Tunjangan ini biasanya cair setiap tiga bulan sekali bahkan sampai enam bulan. Tunjangan besaran yang diterima oleh guru wiyata bhakti swasta sekitar mulai RP. 250 ribu sampai 350 ribu pr bulannya. Kalau guru wiyata bhakti negeri diterimakan dari RP. 500 ribu sampai 1.400 ribu.

Pemerintah berharap kepada guru wiyata bhakti penerima tunjangan dari daerah dapat meningkatkan kinerjanya dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama ketia mengajar dan mendidik siswa. Tunjangan ini juga berlaku kepada tenaga kependidikan seperti TU agar dapat meningkatkan kinerjanya dalam hal ketata usahaan.  Namun juga tidak semua guru wiyata bhakti mendapat tunjangan dari BOSDA karena ada persyaratan yang sesuai dengan sandart yang diberlakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Dalam pemberian tunjangan dari daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan membuat kriteria penerima, dalam rangka untuk keadilan bagi para guru, seperti guru yang pendidikannya linier dan tidak linier, masakerja 10 tahun keatas . untuk honor yang diberikan kepada guru wiyata bhakti swasta paling tinggi 350 ribu dan paling sedikit 250 ribu yang diterima setiap perbulan, walaupun tunjangan tersebut cair tidak selalu pada setiap bulan.
Di kabupaten Magelang sebanyak kurang lebih 1420 GTT dan PTT menerima tunjangan insentif.

Tunjangan insentif diberikan untuk bantuan kesejahteraan guru wiyata bhakti, bantuan kualifikasi pendidikan dan pengembanagn profesi dikirim langsung ke rekening penerima tunjangan lewat rekening Bank Jateng atas nama masing – masing.
Tahun ini para guru mendapatan gaji tambahan dari dana bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar 15 %. Pemberian honor tersebut mengacu pada permendikbud No. 8 tahun 2017 tentang petunjuk teknis bantuan operasional sekolah.

Selama ini para guru mendapatkan intensif rata rata 125 ribu perbulan. Guru honorer yang akan mendapatkan honor dari BOS , mereka yang TMT nya di bawah Desember 2016,  juga bahwa guru yang akan mendapatkan honor dari BOS , guru honorer yang baru.namun dengan ketentuan TMT nya di bawah Desember 2016 guru honorer yang masa kerjanya sudah sepuluh tahun turut mendapatkan honor dari BOS.

Saya mendengar bahwa akan ada kenaikan gaji untuk ASN, harapan saya jangan hanya PNS yang dinaikkan gaji nya , tetapi juga untu para guru honorer yang selama ini hanya mendapat gaji yang sangat kecil, walaupun ada bantuan seperti insentif atau BOSDA namun harapan nya tetap ada kenaikan gaji atau bantuan yang di berikan oleh pemerintah kepada para guru honorer.

Saya juga mendengar akan ada honor bagi GTT yang direncanakan akan dibayaran di akhir ini dengan jumlah sebesar UMK masing masing supaya meningkatkan kesejahteraan bagi para guru GTT. 

Namun banyak GTT dan PTT yang belum lulus S1 atau lulusan tingkat SMA untuk itu hanya memanfaatkan honor dari Bantuan Operasional Sekolah ( BOS ) untuk honor GTT dan PTT masimal 15 %. Dan tidak boleh lebih dari itu, apalagi meminta tambahan atau bayaran dari siswa bagi tingkat SD/MI tidak berani. Dan harapannya pemerintah juga juga memikirkan para guru wiyata yang mendapatan gaji kecil, tidak hanya memikiran PNS saja.

Harapan para guru wiyata pastinya ingin merasakan bisa dinaikkan gajinya sama seperti PNS, akan tetapi sampai saat ini pemerintah hanya menaikkan gaji untuk para PNS. Namun kenyataanya entah sampai kapan jika gaji untuk para guru wiyata dinaikkan dapat terlaksana. Yang ada semakin tahun adanya perekrutan guru akan semain meningkat di setiap tahunnya, namun untuk gaji para GTT hanya seperti itu.

Bahkan untuk pengangkatan guru CPNS pun mulai dikurangi dan di batasi. Semoga dengan adanya bantuan dari pemerintah seperti bantuan intensif , BOSDA dan bantuan sebagainya membuat para guru wiyata dapat meningkatkan kualitas dalam meningkatkan kinerjanya terutama dalam mengajar. (Hg88).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget