Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Maret 2019

Kudus, Harianguru.com -Peserta didik KB Al-Azhar Jekulo kunjungi BPBD (Badan penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Kudus, Jumat 29/03/2019.

"Kunjungan diikuti 124 anak, terdiri atas Kelompok Persiapan A dan B," Terang Eni Misdayani, Penyelenggara KB Al-Azhar.

"Ini pertama kali, kami (red: KB Al-Azhar) berkunjung ke BPBD, " Ujarnya.

Tujuan daripada kegiatan ini, tak lain adalah mengenalkan secara dini pada anak, akan pentingnya tanggap bencana.

Dengan kunjungan ke BPBD ini, anak-anak mengenal berbagai macam bencana, mengetahui asal muasal terjadinya, dan penanggulanganya, bahkan anak dikenalkan berbagai macam alat keselamatan pada bencana" Jelas Eni Misdayani, Penyelenggara KB Al-Azhar.

Kegiatan ini di sambut baik Djunaedi, Sekretaris Dinas BPBD Kabupaten Kudus, di hadapan anak-anak, ia mengimbau agar tidak membuang sampah secara sembarangan, apalagi di sungai, akan mengakibatkan banjir," pesannya pada anak-anak.

Dipandu oleh Johan dan Abdul Jalil, anak-anak di putarkan film edukatif, menanggapi perihal bencana dan cara mengatasi, mereka menyerukan pada anak-anak agar tak panik, sekalipun dalam keadaan darurat bencana.

Selain itu, anak-anak Al-Azhar juga di ajak simulasi dan praktik langsung di halaman, untuk memadamkan api.

Dari truck tangki BPBD, bersama Agung Hartono, dkk, anak-anak KB Al-Azhar di ajari menggunakan helm safety, rompi, memegang selang, dan cara menyemprotkan air yang tepat pada titik api.

"Saya senang berkunjung, bermain dan belajar di BPBD Kudus," Tutur Abraham Arya Satya



Bahkan, dengan tanggap, ia bertanya pada Abdul Jalil, sewaktu melihat Gudang Logistik BPBD, "saya minta nomor telepon BPBD, Pak?" Tanggap Arya. (Fakhrudin)

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Semenjak Tanoto Foundation bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kemenag mengenalkan skenario pembelajaran memakai unsur MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi), banyak guru di Kaltim yang kreatif dalam mengajar. Mereka berusaha membuat pembelajaran jadi menyenangkan dan sesuai karakter anak-anak. Salah satunya bu Lusi Ambarani, guru kelas II dari Madrasah Nahdatul Ulama Balikpapan. Ia mengajar pecahan pada siswa dengan memakai media kue enak yang  disukai anak-anak : kue donat.

“Ini adalah salah satu cara saya agar siswa menjadi senang belajar matematika. Kebanyakan siswa takut dengan matematika kalau kita mengajar tidak dengan cara yang menyenangkan dan sesuai karakter mereka,” ujar bu Lusi.

Nah bagaimana caranya ia mengajar pecahan dengan memakai donat? 
Pertama, ibu Lusi tidak langsung membagikan donat pada siswa, tapi lebih dahulu mengajak  mereka mengamati kertas biru yang  dia modelkan sebagai donat.  Ibu Lusi bertanya pada para siswa, kalau ia memiliki donat yang harus dibagi adil pada salah satu siswa, maka apa yang harus ia lakukan? Para siswa  menjawab donat tersebut harus dibagi dua.

Setelah itu, ibu Lusi menempelkan kertas biru tersebut di papan tulis dan meminta siswa menentukan berapa besar jadinya dari salah satu bagian donat tersebut. Para siswa langsung menjawab setengah bagian. Ibu Lusi kemudian menuliskan angka  ½ di papan tulis dan mengajarkan bahwa yang diatas disebut pembilang dan yang dibawah disebut penyebut dalam sebuah pecahan.

Selanjutnya ibu Lusi  mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengarahkan siswa mengerti 1/4, 1/5 dan seterusnya.  Misalnya dengan pertanyaan “Ibu punya selembar kertas berbentuk lingkaran dan mau dibagi 4 sama rata? Berapakah nilai masing-masing kertas yang telah dibagi empat?” 

Setelah siswa mengerti konsepnya, mereka dibagi menjadi lima kelompok. Kali ini ibu Lusi benar-benar memberikan mereka kue donat dan pemotongnya. Masing-masing kelompok diberi tugas membagi donat berdasarkan angka pecahan yang ia berikan. Tiap kelompok mendapatkan angka yang berbeda-beda, misalnya 1/7, 1/8, 1/9 dan seterusnya.
Disinilah waktu yang amat menyenangkan, para siswa memotong-motong kue donat yang diberikan sesuai angka pecahan yang diberikan. Mereka sangat antusias!

Apalagi setelah selesai kegiatan itu, para siswa diajak saling mengunjungi hasil kerja kelompok. Difasilitasi oleh ibu Lusi, para siswa mengoreksi pekerjaan  kelompok lainya. Dengan saling berkunjung seperti ini, siswa sambil bermain diajak bu Lusi untuk memahami apa yang ia kerjakan dan dikerjakan temannya.

“Siswa gembira sekali mengunjungi hasil karya teman-temannya. Apalagi setelah itu, kue kue yang dijadikan media belajar dimakan bersama-sama, mereka begitu gembira!” cerita  bu Lusi tentang siswa-siswanya.  

Namun permainan belum selesai.  Untuk menguji kemampuan siswa, bu Lusi juga meminta siswa secara individu membuat sendiri soal pecahan dan membuat gambarnya. 
Karena sudah mengetahui konsep yang diajarkan, siswa sangat cekatan menjawab. Salah satu siswa misalnya menuliskan angka 1/3, kemudian menggambar sebuah persegi panjang, lalu dibagi menjadi 3 bagian sama besar. Adapula yang menuliskan bilangan 1/10 dan menggambar sebuah lingkaran yang ia bagi menjadi 10 bagian, layaknya pizza.
“Anak-anak menikmati sekali pembelajaran matematika dengan cara begini. Mereka gembira sekaligus cepat mengerti,” kata bu Lusi antusias.

Mengutip penelitian INAP Kemendikbud tahun 2016, Indonesia dikategorikan masuk kondisi darurat matematika. 77,6 persen siswa SD di seluruh Indonesia memiliki kompetensi matematika yang sangat rendah,  20,58 cukup dan hanya 2,29 persen yang kategori baik. Hal ini disinyalir salah satu sebabnya adalah karena kurangnya kemampuan metodologi pembelajaran matematika oleh guru. “Model pembelajaran yang ibu Lusi lakukan perlu disebarluaskan,  agar siswa semenjak dini menyukai matematika, pelajaran yang seringkali jadi momok bagi para siswa, “ ujar Mustajib, Communication Specialist Tanoto Foundation Kalimantan Timur. (HG44/Hms).

Temanggung, Harianguru.com - Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung menggelar Rapat Tinggi (Rating) yang dirangkai usai kegiatan Sosialisasi Visi Misi di aula MI Asmaul Husna Kemloko, Kranggan, Temanggung pada Sabtu (30/3/2019).

Kegiatan Rating berakhir Ahad (31/3/2019) yang diikuti pengurus HMP dan semua mahasiswa-mahasiswi PGMI STAINU Temanggung. Rating itu membahas program kerja yang sudah berlangsung dan yang akan datang yang dipimpin Ketua HMP PGMI STAINU Temanggung Munawaroh.

Sebelumnya Kaprodi PGMI STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda juga datang dan melakukan sosialiasi visi misi kepada guru dan mahasiswa. Sosialisasi itu merupakan tindaklanjut MoU yang dilalukan tahun lalu. Tahun lalu sudah berjalan pendampingan pembuatan RPP bagi guru-guru MI Asmaul Husna.

Selain Kaprodi PGMI STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda, saat sosialisasi juga hadir sosen PGMI M. Fadloli Alhkim, Effi Wahyuningsih, dan Faizah, mahasiswa, komite, guru dan yayasan yang menaungi MI Asmaul Husna.

Dalam pemaparannya, Kaprodi PGMI STAINU Temanggung mengatakan bahwa Prodi yang ia kelola sebentar lagi akan malalukan akreditasi. "Meski belum punya lulusan dan masih baru berjalan dua tahun, tapi kami sudah upload borang akreditasi di Sapto. Semoga hasilnya maksimal," tutur pengurus Bidang Litbang dan Diklat LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah tersebut.

Saat menjelaskan visi misi, ia mengatakan bahwa Visi Prodi PGMI STAINU Temanggung adalah Unggul dalam Bidang Ilmu Pendidikan Dasar Islam dan Teacherpreneurship Berwawasan Ahlussunah Waljamaah Annahdliyah pada tahun 2037. "Sesuai profil lulusan, Prodi PGMI STAINU Temanggung menyiapkan calon guru kelas MI/SD dan teacherpreneurship bidang pendidikan dasar," papar penulis buku Stop Pacaran, Ayo Nikah! tersebut.

Pihaknya berharap, persiapan akreditasi matang dan target minimal dapat akreditasi B dari BAN-PT. (HG44).

Tangerang, Harianguru.com - Kabupaten Tangerang menjadi tuan rumah ketiga di Provinsi Banten dalam Gebyar Pendidikan dan Kebudayaan 2019. Bertempat di Lapangan Kompleks Kantor Bupati Tangerang pada Sabtu (16/3/2019), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy turut mengisi kemeriahan acara dengan memberikan kuis berhadiah. Kuis untuk siswa diberikan berdasarkan jenjang sekolahnya dengan tema wawasan kebangsaan. Kuis istimewa juga diberikan untuk siswa dan guru bagi mereka yang bisa memperagakan gerakan silat dengan baik di atas panggung Gebyar Dikbud 2019.

"SMA dan SMK dulu, ya. Siapa yang hafal Pembukaan UUD 1945?", tanya Mendikbud. Beberapa pelajar pun mengangkat tangan dan naik ke panggung. Imam dari SMA Negeri 6 Kabupaten Tangerang berhasil melafalkan teks Pembukaan UUD 1945 dengan baik dan lancar daripada peserta kuis lainnya. Mendikbud kemudian memberikan hadiah laptop kepada Imam.

Ditemui usai menerima hadiah dari Mendikbud, Imam menuturkan ia cukup menguasai wawasan kebangsaan karena bergabung dengan kegiatan ekstrakurikuler yang disebut Empat Pilar. "Jadi diskusi tentang negara, politik, hukum, sampai pasal-pasal dalam undang-undang," tuturnya. Ia juga aktif berorganisasi dengan menjadi Sekretaris Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di SMAN 6 Kabupaten Tangerang. Hadiah laptop yang diterima dari Mendikbud akan digunakannya juga untuk menjalani amanah sebagai Sekretaris OSIS.

Sementara itu untuk jenjang SMP, Mendikbud meminta pelajar untuk melafalkan naskah Teks Proklamasi. Hadiah utama berupa laptop berhasil diraih oleh Ayu Safitri dari SMP Negeri 1 Tigaraksa Kabupaten Tangerang. Ia mampu melafalkan Teks Proklamasi dengan lantang dan lancar.

Bagi pelajar jenjang SD, Mendikbud meminta mereka untuk menyebutkan nama-nama kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Banten. Kali ini Mendikbud meminta bantuan Wakil Bupati Tangerang, Mad Romli, untuk menjadi jurinya. Lucunya, para pelajar SD ini banyak yang menyebutkan nama tempat yang berada di luar Provinsi Banten, seperti Depok, Bogor, bahkan Ciledug. Dengan bimbingan Wakil Bupati Tangerang, mereka akhirnya berhasil menyebutkan nama-nama kabupaten dan kota sesuai permintaan Mendikbud.

Tidak hanya wawasan kebangsaan, Mendikbud juga memberikan kuis istimewa bagi mereka yang mampu melakukan seni bela diri tradisional, yakni silat. Dua pelajar SMA dari Perguruan Silat Pamur naik ke panggung, dan diminta Mendikbud untuk memperagakan gerakan silat tarung. Pertarungan keduanya di atas panggung berlangsung dengan seru, disambut tepuk tangan meriah dari peserta Gebyar Dikbud 2019. Namun, Mendikbud rupanya kurang puas dengan penampilan mereka. "Pukulannya mana? Kok tendangan aja? Silat itu kan harus ada pukulan dan tendangan," katanya. Keduanya pun kembali memperagakan silat tarung khusus jurus pukulan. Mereka lalu menerima hadiah laptop dari Mendikbud. Kuis peragaan gerakan silat juga berlaku untuk guru. Seorang guru perempuan memperagakan silat sebagai gerakan seni, sementara seorang guru laki-laki memperagakan silat kampung. Mereka pun menerima hadiah laptop. "Dipakai untuk mengisi dapodik, ya," ujar Mendikbud.

Dalam sambutannya Mendikbud mengatakan, capaian pemerintah di bidang pendidikan dan kebudayaan tidak lepas dari peran dan kontribusi pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Kabupaten Tangerang. "Terima kasih kepada bupati, wakil (bupati), dan seluruh jajaran pemerintah daerah di Kabupaten Tangerang. Juga kepada guru, pengawas, penilik, atas pengabdian dan peran sertanya dalam memajukan pendidikan," kata Mendikbud. Ia mengajak semua pihak untuk bersyukur atas capaian-capaian di bidang pendidikan dan kebudayaan. Pemerintah juga bertekad untuk terus memacu kemajuan pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. (hg44/Desliana Maulipaksi).

Temanggung, Harianguru.com – Sejumlah panitia wilayah dan lokal Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XI menggelar rapat di gedung PCNU Temanggung, Sabtu sore (23/3/2019). Hadir Ketua Porsema Zaedun, Wakil Ketua Porsema Hamidulloh Ibda, dan Sekretaris Porsema Abdulloh Muchib, Ketua LP Ma’arif Temanggung H. Miftakhul Hadi, dan semua koordinator lomba olahraga dan seni.

Dalam pemaparannya, rapat tersebut menindaklanjuti rapat sebelumnya bersama SC, dan agendanya menentukan semua kebutuhan lomba olahraga dan seni, baik jenjang SD/MI, SMP/MTs, maupun SMA/SMK/MA di masing-masing cabang lomba.

“Semua kebutuhan diinvetarisir, agar nanti saat teknis pelaksanaan lomba benar-benar siap, bapak ibu menjadi penanggungjawab lomba yang tugasnya agak berat,” kata Zaedun.

Pihaknya juga mengatakan, pertemuan tersebut merupakan rapat teknis agar menemukan format ideal dari juklak yang sudah ada dan mematangkan persiapan Porsema di Kota Tembakau tersebut. “Pertemuan berikutnya, sesuai agenda, akan ada pertemuan tim SC dengan EO yang akan membahas lebih detail tentang branding Bambu Runcing yang sudah disiapkan LP Ma’arif Temanggung,” beber dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Porsema Hamidulloh Ibda menambahkan, dari semua cabang lomba yang ada, yang paling banyak adalah di cabang olahraga dan seni. “Kebutuhan paling teknis mulai dari juri, tempat, metode penilaian, dan kebutuhan teknis lain seperti administrasi, alat-alat olahraga, microphone, dan lainnya. Kebutuhan ini akan semakin jelas jika setiap koordinator duduk bersama membahasnya secara rinci pada sore ini,” beber dia.

Ketua LP Ma’arif Temanggung H. Miftakhul Hadi juga menambahkan, pertemuan dengan panitia inti SC, akan didatangkan pakar yang memahami sejarah dan nilai-nilai yang ada pada Bambu Runcing yang disentralkan pada figus Kiai Subkhi yang akan menjadi branding pada Porsema XI pada bulan Juni 2019 mendatang.

Selain panitia wilayah dan lokal, hadir jajaran guru, kepala sekolah, IPNU-IPPNU, Pagar Nusa, dan unsur lain yang dilibatkan dalam rapat di gedung PCNU Temanggung tersebut. (HG55)


Temanggung, Harianguru.com – Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (KOPRI) Cabang Temanggung menggelar Sekolah Islam Gender (SIG) yang dilaksanakan 23-24 Maret 2019. Kegiatan ini bertajuk tema 'Aktualisasi Gerakan PMII dalam Mengawal Demokrasi”.

“Kenapa mengusung tema demikian? Harapannya di negara demokrasi dan memasuki era pesta demokrasi yang tinggal menghitung hari ini di harapkan kader PMII dapat mengawal pemilu besok 17 April 2019 agar terlaksana dengan damai dan adil, kader PMII juga harus bisa menjadi icon di daerahnya masing-masing  untuk ikut mengkondisikan kondusifitas masyarakat agar tidak terjadi konflik perpecahan sebab Pemilu,” tegas Ketum PC PMII Temanggung Ibrahim Fahmi dalam sambutan pembukaan SIG tersebut.

Sementara Ketua KOPRI Temanggung Wiwin Nur Hidayah juga menekankan agar peserta dari kader-kader PMII Komisariat Trisula STAINU Temanggung, ada juga dari UNTIDAR serta STAIA Syubhanul Wathan Magelang untuk mengikuti acara hingga akhir. “Agar nantinya ilmu yang di dapat teraplikasi dalam diri sahabat-sahabati semua,” katanya.

Pada hari pertama, tanggal 23 di isi dua materi dari Pengurus Cabang PMII Temanggung Herny Ambarwati menyampaikan materi tentang gender perspektif fiqih. Sedangkan dari IKA Alumni PMII Temanggung Liwaul Hakim membawakan materi tentang hukum Islam.

Ketua panitia kegiatan ini, Vika Khalwa Ngaisah, mengatakan meski usai UTS, mahasiswa STAINU Temanggung khususnya, masih semangat mengikuti kegiatan itu. “Dan Alhamdulillah antusias peserta sangat baik mengingat setelah UTS pun semangat mereka tetap ada untuk berpartisipasi mengikuti acara ini, semoga nantinya dengan SIG menjadi tau ilmu gender dari berbagai prespektif,” tegas dia. (Red-HG44//Usman).

Temanggung, Harianguru.com - Bertempat di Gedung PCNU Temanggung, Panitia Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) NU Jawa Tengah XI, menggelar rapat internal, Kamis (21/3/2019). Hadir Ketua LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan, M.Ag., Ketua LP Ma'arif Temanggung H. Miftakhul Hadi, M.Pd., Ketua Porsema XI Zaedun, dan pengurus LP Ma'arif NU Jateng Ahmad Muzammil, Hamidulloh Ibda dan panitia lokal Porsema XI NU Jateng.

Dalam sambutannya, Ketua LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan mengatakan ada beberapa penekanan dalam Porsema NU XI. "Pembukaan akan lebih menarik dari sebelumnya. Kemarin sudah berkoordinasi dengan EO yang nanti akan survei lapangan. Kita sudah mengkani isu, salah satunya kekhasan Temanggung yaitu Kiai Parak Bambu Runcing KH. Subkhi. Kita akan melakukan kajian literatur agar isu ini menjadi matang dan laik diangkat dalam Porsema XI ini," ujar dia.

Untuk itu, kata Andi, kerjasama dengan berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mematangkan konsep dalam rangkaian acara Porsema XI NU Jateng tersebut.

Sementara itu, Ketua LP Ma'arif PCNU Temanggung H. Miftakhul Hadi menambahkan, bahwa dua tahun lalu NU Temanggung sudah mengangkat jasa Kiai Subkhi sebagai sosok sentral bambu runcing. "Dua tahun lalu saat Hari Santri Nasional, Kiai Subkhi sudah diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Gagasan ini sangat menarik dan akan lebih kuat jika didukung dalam Porsema kali ini yang bertempat di Temanggung," katanya.

Dulu, katanya, sudah diseminarkan yang menghadirkan pakar termasuk Kepala Madrasah Mua'allimin dan KH. Anasom yang asli Jumo Temanggung yang sekarang menjadi Ketua PCNU Kota Semarang.

Seperti diketahui, K. H. Subchi memiliki nama lahir Mohamad Benjing. Nama setelah berumah tangga R Somowardojo, Nama setelah Haji:Subchi/ Subki/ Subeki). Beliau lahir di Parakan, Temanggung, 31 Desember 1858 da meninggal di Parakan, Temanggung, 6 April 1959 pada umur 100 tahun. Kiai Subkhi merupakan seorang tokoh pejuang kemerdekaan penggagas senjata bambu runcing. Ia merupakan penasehat Barisan Bambu Runcing bersama dengan Kyai-kyaipengurus lain diantaranya K.H. Sumogunardho, K.H. M. Ali dan K.H. Nawawi dan juga pernah menjadi guru Jendral Sudirman.

Dari sejarah yang tertulis, Kiai Subkhi akan diangkat menjadi brand dalam mengangkat perjuangan kiai dalam berperan memerdekakan NKRI.

Sementara itu, Wakil Ketua LP Ma'arif NU Jateng Fakhrudin Karmani yang juga Panitia SC Porsema menegaskan perlu kerjasama dengan berbagai pihak untuk mengangkat local wisdom khususnya Kiai Subkhi sebagai sosok Kiai Bambu Runcing. "Teknisnya entah nanti berupa tari, fashion show, atau pertunjukan seni yang lain akan diserahkan kepada EO untuk mengangkat Kiai Subkhi yang laik diangkat sebagai Pahlawan Nasional," kata dia.

Untuk membahas persiapan teknis, panitia akan merapatkan kembali pada Ahad (24/3/2019) yang akan dihadiri semua panitia Porsema XI NU Jateng. (HG44/Hi).


Temanggung, Harianguru.com - MTs Ma'arif Gemawang, Kabupaten Temanggung menggelar Seminar bertajuk "Pelajar Vs Pacaran" (Membangun Pelajar NU Bermartabat) yang digelar Sabtu pagi (16/3/2019), yang menghadirkan Pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma'arif NU Jawa Tengah Hamidulloh Ibda.

Dalam sambutannya, Kepala MTs Ma'arif Gemawang Imam Achmadi mengatakan kegiatan itu dirangkai dengan Pelantikan Pengurus Komisariat IPNU-IPPNU MTs Ma'arif Gemawang. Pihaknya mengatakan bahwa kegiatan seminar itu dalam rangka membentengi pelajar dari pengaruh global termasuk pacaran.

Sementara itu, saat mengisi seminar itu, Hamidulloh Ibda mengajak ratusan pelajar dari siswa-siswi MTs Ma’arif Gemawang dan kader IPNU-IPPNU mendefinisikan pacaran dari aspek bahasa dan istilah. “Secara bahasa, pacaran itu asal katanya pacar. Pacar itu di tempat saya, Pati, adalah aktivitas memberi warna pada kuku, atau pitek, kutek yang terbuat dari daun inai. Sedangkan secara bahasa di KBBI, diartikan sebagai kekasih, orang yang disayangi, atau aktivitas kasih sayang terhadap lawan jenis. Tapi, ini tentunya bagi yang sudah menikah, bukan di luar menikah,” beber penulis buku Stop Pacaran, Ayo Nikah! tersebut.

Kaprodi PGMI STAINU Temanggung itu juga menandaskan, bahwa dalam Alquran, pacaran tidak ada. “Yang ada hanya khitbah, nikah, talak, rujuk, zina, saya belum menemukan arti pacaran di Alquran. Maka jika tidak ada, jelas hukum pacaran ketika mendekati zina ya tidak diperbolehkan. Mendekati saja tidak boleh, apalagi sampai melakukannya,” beber dia.

Lalu, kata dia, banyak mana antara dampak positif dan negatif dalam pacaran? “Ya jelas banyak dampak negatifnya. Mulai dari mengganggu pikiran, menghabiskan uang, maksiat, dan juga menyakitkan hati, membuat Anda baper. Dan ketika Anda putus, maka ada tragedi kesenjangan, baik itu silaturahminya, atau sosialnya,” lanjut penulis buku Stop Nikah, Ayo Pacaran tersebut.

Maka solusinya, menurut Ibda, harus melakukan beberapa hal. “Solusinya ya menaham, ngempet, karena sudah jelas dalam hadis Nabi Muhammad, orang yang selamat, cerdas, adalah orang yang mampu menundukkan nafsunya,” kata penulis buku Media Literasi Sekolah tersebut.

Pihaknya juga memberi solusi dalam beberapa hal. “Pertama, stop pacaran ayo belajar, stop nikah ayo aktif organisasi, di IPNU, IPPNU, Pagar Nusa dan lainnya. Kemudian, stop pacaran ayo aktif mengaji, stop pacaran ayo baca buku, stop pacaran, ayo aktif dalam kegiatan keagamaan. Baik itu tahlilan, manakiban, zibaan, istigasah, dan lainnya,” ujar ayah dari Sastra Nadira Iswara tersebut.

Selain itu, pihaknya menegaskan bahwa pelajar terutama aktivis IPNU-IPPNU ketika pacaran, aslinya adalah mereka yang tidak punya pekerjaan. “Ya, kalau Anda ingin produktif, maka boleh-boleh saja pacaran. Pacaran dengan buku, dengan organisasi, dengan IPNU-IPPNU, dengan kitab, jangan pacaran dengan lawan jenis ketika belum menikah,” beber dia.

Di akhir acara, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang sangat meriah karena pelajar-pelajar tersebut melakukan curhat dan sharing terhadap pengalaman pribadi dan mencoba mencari solusinya. (HG33/khamim).

Temanggung, Harianguru.com - Dalam rangka meneguhkan kampus riset, STAINU Temanggung terus menggalakkan tradisi literasi. Hal itu terwujud dengan adanya empat buku yang ditulis mahasiswa-mahasiswi STAINU Temanggung semester satu yang resmi dilaunching Sabtu (16/3/2019) oleh Pembantu Ketua I Bidang Akademik Dr. Baedhowi, M.Ag.

Saat melaunching, Baedhowi menegaskan bahwa penulisan buku tersebut sangat luar biasa karena ditulis mahasiswa semester bawah yaitu satu. "Saya teringat suatu cerita, bahwa Nabi Muhammad SAW menegaskan adalah kotanya ilmu, sedangkan Sayyidina Ali adalah pintunya meskipun beliau paling muda. Saya berharap, mahasiswa meskipun masih muda sudah berkarya dan melestarikan tradisi keilmuwan," kata doktor jebolan UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Keempat buku tersebut sudah resmi mendapat ISBN dan KDT dari Perpusnas RI yaitu "Sejarah dan Legenda Desa di Temanggung, Magelang dan Semarang", "Problematika Anak MI/SD dan Solusinya", "Tradisi-tradisi Islam Nusantara Perspektif Filsafat dan Ilmu Pengetahuan", dan "Cetak Biru Pendidikan Indonesia Tahun 2045" yang ditulis mahasiswa-mahasiswi Prodi PAI dan PGMI STAINU Temanggung secara berjemaah yang diterbitkan penerbit Formaci, CV. Pilar Nusantara, CV. Harian Jateng Network.


Hadir Nurul Hidayah, Puji Rahayu, M. Khoirul Azmi, dan Habibi dari perwakilan mahasiswa yang presentasi isi buku. Selain pemateri dari perwakilan mahasiswa, hadir Ketua Lembaga Penjamin Mutu (LPM) STAINU Temanggung Khamim Saifuddin, Sekprodi PAI Sigit Tri Utomo yang mewakili Kaprodi STAINU Temanggung, dan Pimred Majalah Ma'arif PWNU Jawa Tengah Hamidulloh Ibda.

Saat memaparkan kritik buku, Sigit Tri Utomo menegaskan bahwa tradisi literasi tidak hanya membaca, namun juga menulis dan mengarsipkan. "Zaman Nabi Muhammad Alquran belum berbentuk muzhaf, kemudian zaman Khalifah Usman bin Affan, barulah kemudian Alquran dimuzhafkan. Itulah bukti sejarah bahwa menulis dan mengarsipkan itu penting. Di STAINU, ada Anda yang baru semester satu sudah menulis buku, ini luar biasa dan wajib diapresiasi," katanya.

Ia juga memaparkan, kekurangan buku pada metodologi penghimpunan data. "Misal wawancara, maka harus orang banyak dan harus dianalisis sesuai metode yang digunakan agar tulisan berbobot," katanya.

Sementara itu, Hamidulloh Ibda menambahkan bahwa orang meriset ibarat menggali sumur dan parit. "Kalau Anda menggali sumur, maka yang difokuskan adalah kedalamannya. Jika menggali parit, itu keluasannya. Maka di buku ini, meskipun sudah terbit, perlu dibenahi pada aspek kedalaman dan keluasan dan tidak sekadar deskriptif saja," papar penulis buku Media Literasi Sekolah tersebut.

Ia juga menambahkan, kekurangan buku pada kelemahan mahasiswa yang belum detail membedakan metode kutipan. Baik innote, endnote maupun footnote. "Tapi Anda semester satu sudah menerbitkan buku, bagi saya itu luar biasa. Saya saja dulu semester delapan baru bisa menerbitkan buku," kata Kaprodi PGMI tersebut.

Pihaknya juga menjelaskan, bahwa dari keempat buku itu, mahasiswa mulai berlatih mengasah nalar intelektual agar tidak kagetan, gumunan, dan memiliki bekal untuk menilai tradisi-tradisi Islam Nusantara, sejarah dan legenda desa, mencari solusi problematika anak SD/MI, serta mampu meneropong masa depan pendidikan Indonesia tahun 2045.

Khamim Saifuddin juga menegaskan beberapa artikel ilmiah dalam buku sudah memenuhi kaidah akademik. "Sekilas, bahasanya masih curhatan ABG, belum seperti curhatan ilmuwan. Tapi, saya apresiasi yang tinggi, karena ini adalah wujud mutu mahasiswa," tutur penulis buku KH. Ilyas Kalipaing tersebut.

Di akhir pemaparan dan bedah buku, acara dilanjutkan dengan tanya jawab serta diskusi yang bertajuk "Tak Meriset, Tak Greget. Tak Nulis Pakem, Tak Gandem". (HG44/Hms).

Bogor, Harianguru.com — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menekankan pentingkan sinergisitas antara pemerintah dengan para pemangku kepentingan dalam membuat rencana aksi untuk meningkatkan kualitas dan layanan pengembangan perfilman. “Buatlah agenda atau rencana aksi yang akan dilakukan tahun ini antara para pemangku kepentingan perfilman dan Pusbangfilm untuk meningkatkan kualitas dan layanan pengembangan perfilman. Ini inti dari penyelenggaraan Rakor tahun ini,” ujar Kepala Pusat Pengembangan Perfilman (Kapusbangfilm) Kemendikbud, Maman Wijaya, saat membuka Rapat Koordinasi Pengembangan Perfilman  Tahun 2019, di Bogor, Kamis (14/03/2019).

Untuk itu,  Maman mengajak para peserta rapat koordinasi untuk saling bertukar pikiran guna menambah pengetahuan yang nantinya dapat diimplementasikan di daerah masing-masing. “Terkadang kita merasa daerah kita paling bagus dalam pengembangan perfilman, padahal daerah lain masih lebih bagus lagi. Disini saatnya kita dapat saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam pengembangan perfilman,” ungkap Maman.

“Setelah penyelenggaraan Rakor ini saya berharap pelayanan dalam pengembangan perfilman bisa cepat dan tidak rumit, sehingga dapat meningkatkan produksi film nasional. Tahun 2018 sudah terdapat 148 produksi film yang beredar,” terang Maman.

Tidak hanya jumlah produksi film yang meningkat setiap tahunnya, tetapi jumlah penonton selama 5 tahun terakhir juga semakin meningkat. “Dari 32 juta penonton pada tahun sebelumnya, pada tahun 2018 meningkat sekitar 48 juta penonton,” jelas Maman.

Maman berharap melalui rapat koordinasi Pengembangan Perfilman ini dapat meningkatkan sinergisitas program dan pembinaan perfilman antara Kemendikbud dengan pemangku kepentingan perfilman; meningkatkan kualitas perfilman yang berdaya saing dan memiliki konten nilai-nilai budaya dan kearifan lokal serta pembangunan karakter bangsa, serta; meningkatkan kualitas layanan perizinan kegiatan dan usaha perfilman. “Film harus menjadi media inspiratif dan media literasi, sehingga program pembelajaran menjadi lebih efektif. Dengan itu, diharapkan banyak guru dan siswa yang memiliki kreatifitas dan kemampuan untuk memanfaatkan film sebagai sarana mewujudkan prestasi,” pungkas Maman.

Sementara itu, Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Kapustekkom), Kemendikbud, Gogot Suharwoto, mengemukakan bahwa Pustekkom telah memproduksi sebanyak 12 film sejak tahun 2012 hingga 2018. “Tahun 2018 Pustekkom memproduksi dua film yakni film ‘Aku dan Hari Esok’, dan film ‘Langkah yang Tersisa’. Kami siap bekerjasama dengan insan perfilman,” jelasnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Dedi Taufik, pada kesempatan yang sama, membagikan strategi yang digunakan daerahnya dalam pengembangan perfilman. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kata dia, memiliki enam strategi, yakni, penyelenggaraan acara (event) perfilman dengan bentuk festival film; fasilitasi bioskop alternatif; penyediaan sarana gedung ruang publik; fasilitasi media alternatif, dan; pelayanan dalam mempermudah insan perfilman memproduksi film.

Pada rapat koordinasi Pengembangan Perfilman tahun 2019, berlangsung pada tanggal 13 – 15 Maret 2019, terdapat enam pokok pembahasan, yakni (1) penyelamatan film media seluloid, (2) peningkatan kualitas SDM perfilman, (3) kajian dan pendataan perfilman, (4) regulasi dan layanan perizinan perfilman, (5) fasilitasi pengembangan perfilman, dan (6) peningkatan apresiasi perfilman Indonesia. (HG33/Hms).

Ilustrasi
Jakarta, Harianguru.com - Untuk mewujudkan tata kelola pendidikan dan kebudayaan yang berkualitas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus mendorong optimalisasi pendayagunaan data pendidikan dan kebudayaan yang semakin terintegrasi. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menekankan pentingnya data yang akurat bagi pengambilan keputusan dan perancangan kebijakan strategis dalam rangka memajukan pendidikan dan kebudayaan.

"Penting bagi kita melakukan klarifikasi terhadap data-data yang masuk kepada kita. Agar dalam mengambil kebijakan juga tepat, jangan sampai keliru," pesan Mendikbud Muhadjir Effendy saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Pendataan Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2019, di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Apresiasi diberikan Mendikbud atas kinerja para peserta rakornas yang merupakan pengelola data pendidikan dan kebudayaan dari berbagai wilayah di Indonesia. Para operator yang mengunggah data disebutnya sebagai "akar rumput" yang sangat berjasa. Menurutnya, para pembuat kebijakan tidak dapat berbuat banyak tanpa asupan data yang berkualitas.

"Saya yakin orang yang berkutat dengan data adalah orang yang memiliki idealisme dan dedikasi atau semangat pengabdian yang tinggi," kata Muhadjir.

Sekretaris Jenderal (Sesjen) Didik Suhardi mengatakan bahwa Kemendikbud telah memiliki data yang terintegrasi dari berbagai jalur dan jenjang pendidikan. Integrasi data pokok pendidikan dasar dan menengah (dikdasmen) dimulai sejak tahun 2011, kemudian pada tahun 2015 mulai diperkenalkan data pokok pendidikan anak usia dini dan pendidikan masyarakat (PAUD dan Dikmas)

"Tahun 2019 ini kita sudah bisa menyajikan data secara komplit dan semuanya telah berbasis sistem. Sekarang kita bisa menyajikan data secara real time ," tutur Sesjen Didik dalam laporannya.

Ditambahkannya, data yang telah dihimpun dan diolah Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan (PDSPK) menjadi dasar pengambilan kebijakan sistem zonasi yang bertujuan untuk mempercepat pemerataan akses layanan dan mutu pendidikan nasional.

Integrasi Data Kuatkan Ekosistem Pendidikan

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud tidak hanya melibatkan para pengelola data pokok Dikdasmen, serta data pokok PAUD dan Dikmas dalam rakornas tahun ini. Namun, untuk pertama kalinya, para pengelola data kebudayaan serta pengelola data bahasa dan sastra turut bergabung untuk menyamakan persepsi dalam membangun data pokok pendidikan dan kebudayaan yang berkualitas.

"Ini sebagai upaya untuk membentuk insan Indonesia yang tidak hanya cerdas akademik saja, tetapi juga berakhlak mulia," ujar Kepala PDSPK Kemendikbud, Bastari.

Pendayagunaan data yang terintegrasi akan sangat bermanfaat dalam upaya menguatkan ekosistem pendidikan, yang nantinya berujung pada peningkatan mutu pendidikan. Dicontohkan Bastari, sekolah dapat mengetahui dan memanfaatkan berbagai macam potensi sumber-sumber belajar seperti cagar budaya atau museum yang berada di sekitarnya untuk pendidikan karakter. Ataupun, melalui kebijakan zonasi, akan lebih mudah untuk melakukan gotong royong berbagi sumber daya (resource sharing) antar-satuan pendidikan.

Peningkatan kualitas data serta penguatan kerja sama, baik internal maupun eksternal, menjadi tujuan penyelenggaraan rakornas. Tak hanya integrasi antara data pokok pendidikan dan kebudayaan saja, tetapi rakornas kali ini juga akan membahas upaya integrasi data pokok antarkementerian dan lembaga.

Dijelaskan Kepala PDSPK, saat ini Kemendikbud bersama Kementerian Dalam Negeri sedang membahas intens proses integrasi data pokok pendidikan dengan data kependudukan dan catatan sipil (dukcapil) seiring dengan upaya mewujudkan identitas kependudukan tunggal. (hg44/hms)

Rapat Panitia Porsema XI
Temanggung, Harianguru.com - Jajaran panitia tingkat wilayah LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah dan panitia lokal LP Ma'arif PCNU Temanggung mematangkan konsep persiapan Pekan Seni Olahraga Ma'arif (Porsema) XI di kantor PCNU Temanggung, Selasa malam (12/3/2019).

Dalam kesempatan itu, Ketua LP Ma'arif Temanggung Miftakhul Hadi, M.Pd., menegaskan bahwa kepanitiaan Porsema XI di Temanggung melibatkan sejumlah elemen termasuk unsur pemerintah daerah, dinas, dan lainnya. "Dari awal kami sampaikan, karena dana juga dibantu Pemkab, maka nanti kepanitiaan akan dibantu dari Pemda dan dinas terkait. Jadi ada panitia pusat ada panitia lokal," katanya.

Pihaknya menambahkan, bahwa ploting anggaran paling besar adalah untuk konsumsi yang sudah dibantu Pemkab Temanggung. "Untuk kebutuhan juri, kami juga berkoordinasi dengan KONI Temanggung bahkan KONI Jateng agar dapat membantu suksesi lomba. Untuk seni, kami berkoordinasi dari luar untuk menjaga objektivitas," katanya.

Pihaknya juga memetakan bahwa dari semua LP Ma'arif se Jawa Tengah, ditaksir lebih dari 5000 orang akan datang ke Temanggung, baik atlet maupun official.

Ketua LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan, M.Ag., mengatakan bahwa rapat perdana antara panitia wilayah dan lokal itu, bahwa Porsema tujuannya untuk silaturahim, antarcabang se Jawa Tengah. "Tidak hanya kompetisi, namun Porsema ini wahana untuk silaturahim di Temanggung," bebernya.

LP Ma'arif untuk menggali potensi di sekolah dan madrasah di Ma'arif, baik aspek seni atau olahraga."Harapan kami, potensi kader Ma'arif ini tidak hanya berhenti di Porsema. Namun ditindaklanjuti sampai ke kancah nasional baik dalam aspek maupun seni," katanya.

Kami sudah mengirimkan surat ke Kemenpora RI, kata Andi, untuk meminta Menpora membuka Porsema XI di Temanggung. Kami juga akan beraudiensi untuk menyalurkan bakat atau potensi kader-kader Ma'arif dapat tersalurkan dan difasilitasi pemerintah.

Saat rapat persiapan, Sekretaris Panitia Lokal Porsema XI Hanif Masykur, menjelaskan bahwa planning lokasi pembukaan di Alun-alun Temanggung, sekretariat di STAINU Temanggung, bazar di halaman Gedung Pemuda Temanggung, lomba cabang bola voli di Alun-alun Temanggung, lari sprint di Stadion Bumi Phala Temanggung, lari jarak jauh di Jalan Raya Tembarak-Temanggung, tenis meja di indoor GOR Bambu Runcing, bulu tangkis di GOR Makukuhan, dan beberapa lomba seni di MAN Temanggung dan Gedung Pemuda Temanggung, dan sejumlah lomba yang lainnya.

Untuk penginapan membutuhkan 16 tempat, di STAINU Temanggung serta beberapa sekolah dan madrasah yang dekat dengan pusat acara.

Sementara itu, Ketua Panitia Wilayah Porsema XI, Zaedun, menegaskan bahwa koordinasi sangat penting antara panitia lokal dengan wilayah agar Porsema XI berjalan baik dari sebelumnya.

Hadir jajaran panitia wilayah, lokal, dan jajaran panitia unsur lain dari IPPNU, PMII, dan lainnya. (HG33/Ibda).


Oleh Husna Nashihin

Kasus dekandensi moral yang terjadi saat ini kian melejit. Bahkan, wabah dekandensi sudah merambah kalangan manusia dewasa yang seharusnya menjadi panutan, seperti orang tua, pendidik, pejabat, sampai tokoh agama.

Digitalisasi misalnya, mengakibatkan pornografi, hoax, ujaran kebencian, penipuan, dan lain sebagainya semakin membabibuta lewat media sosial. Mudahnya akses media sosial sebagai konsekuensi logis digitalisasi berimplikasi pada tidak bisa dibendungnya dampak negatif yang terjadi secara tuntas. Bayangkan saja, bagaimana bisa membatasi dampak negatif yang muncul dari media sosial, jikalau media sosial memang memberikan mimbar kebebasan akses bagi para pemakainya?

Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan besar, ada apa dengan pendidikan karakter yang sudah berlangsung saat ini, sehingga belum mampu merubah manusia menjadi pribadi yang lebih baik? Perlukah tambahan model pendidikan karakter yang bisa berjalan beriringan dengan pendidikan karakter pada sekolah formal? Agaknya guna mendukung pendidikan karakter pada sekolah formal, memang perlu dikembangkan sebuah model pendidikan karakter dengan basis tradisi atau kebudayaan masyarakat.

Ketika mencoba merefleksi tradisi masyarakat Jawa, ada satu tradisi yang menarik dan optimis bisa menjadi basis pendidikan karakter bagi masyarakat Indonesia. “Rekso Kadang” atau tradisi kumpul-kumpul keluarga bagi masyarakat Jawa ini memiliki manfaat positif yang luar biasa yang layak untuk dikaji secara mendalam.

Kearifan nenek moyang di Jawa dalam menjaga keluarganya dari segala keburukan ini menimbulkan sebuah pertanyaan, mungkinkah budaya ini memang sengaja diadakan oleh para nenek moyang di Jawa sebagai usaha membentengi keturunannya agar senantiasa baik? Ataukah tradisi ini hanyalah sebuah kebetulan belaka yang saat ini secara kebetulan juga sangat dibutuhkan untuk bisa mengatasi dekandensi moral dan perpecahan yang kian melejit?

“Rekso Kadang” merupakan tradisi kumpul-kumpul bagi sekelompok keluarga besar di Jawa yang awalnya diadakan hanya oleh keluarga kerajaan. Belakangan ahirnya Rekso Kadang menjadi budaya yang dilakukan oleh hampir semua masyarakat Jawa. Secara bahasa Rekso mengandung arti menjaga, sedangkan Kadang memiliki arti keluarga. Rekso Kadang secara istilah memiliki arti acara perkumpulan yang bertujuan mempererat tali silaturahmi keluarga.

Saat ini Rekso Kadang sudah berubah nama sesuai dengan sentuhan masing-masing daerah yang melestarikannya. Akibat sentuhan filosofi Jawa misalnya, Rekso Kadang berubah menjadi “Trah” yang berarti hujan. Istilah trah biasa digunakan oleh mayoritas masyarakat Jawa saat ini.

Di sisi lain, ada pula sentuhan Arab atau Islam yang menjadikan Rekso Kadang berubah nama menjadi “Bani” atau Dzuriyah”. Pada generasi kekinian, Rekso Kadang mengalami simplifikasi nama menjadi kumpulan keluarga atau arisan keluarga. Bahkan, pada sebagian keluarga modern, Rekso Kadang mengalami sentuhan istilah perkantoran menjadi rapat keluarga atau meeting keluarga.

Terlepas dari berbagai istilah yang berkembang, secara esensial Rekso Kadang tetap menjadi tradisi masyarakat Jawa yang bertujuan merekatkan tali silaturahmi. Tradisi ini sampai sekarang masih berkembang dan dipertahankan di beberapa daerah, seperti di Yogyakarta, Klaten, Boyolali, Solo, Magetan, Wonogiri, Ponorogo, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Semarang, Kudus, Demak, Jepara, dan masih banyak kota lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Rekso Kadang biasanya dilaksanakan pada hari Minggu. Ada yang dilaksanakan sebulan sekali atau dua bulan sekali, ada pula yang melaksanakan sesuai penghitungan Jawa (Pasaran Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing) seperti selapan (35 hari) sekali atau dua lapan (70 hari) sekali, bahkan ada juga yang setahun sekali atau dua kali.

Ada beberapa fakta unik yang berhasil terekam dalam tradisi Rekso Kadang yang mampu menjadi basis pendidikan karakter. Pertama, anggota Rekso Kadang yang terdiri dari berbagai suku dan daerah yang berbeda-beda. Pernikahan keturunan anggota Rekso Kadang dengan keturunan dari suku dan daerah lain menjadikan adanya anggota Rekso Kadang yang berbeda suku dan daerah. Daerah dan suku yang berbeda tentunya juga melahirkan kepribadian dan pemikiran yang berbeda pula. Realitas ini mampu membentuk karakter saling menghargai dan toleransi.

Kedua, anggota Rekso Kadang yang terdiri dari agama, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan tingkat ekonomi yang berbeda-beda. Realitas ini mampu membentuk karakter saling menghargai, peduli sosial, dan kerja sama. Agama yang berbeda tentunya mampu membentuk karakter toleransi beragama antar anggota Rekso Kadang. Kepedulian sosial tercermin dari sikap saling membantu ketika salah satu anggota Rekso Kadang tertimpa musibah. Kerja sama antar anggota Rekso Kadang tercermin dari sikap gotong royong ketika menyelenggarakan hajatan salah satu anggota Rekso Kadang.

Ketiga, penyelenggaraan Rekso Kadang yang diadakan secara bergiliran. Anggota Rekso Kadang yang mendapat giliran ketempatan acara, harus mempersiapkan tempat dan konsumsi. Usaha anggota Rekso Kadang dalam mempersiapkan acara tersebut dapat membentuk karakter kerja keras dan tanggung jawab. Kerja keras dan tanggung jawab tercermin dalam sikap sungguh-sungguh anggota rekso kadang dalam menyusun perencanaan sampai pelaksanaan acara. Apalagi ketika anggota yang ketempatan Rekso Kadang berasal dari tingkat ekonomi menengah kebawah, konsumsi yang harus disiapkan sampai “dianak-anake” atau diupayakan ada sebagus mungkin.

Keempat, acara tausiah keagamaan. Tausiah keagamaan menjadi menarik tatkala anggota Rekso Kadang berasal dari agama yang berbeda-beda, meskipun memang dalam satu Rekso Kadang terkadang juga diketemukan terdiri dari satu agama yang sama. Tausiah keagamaan diberikan dengan mempertimbangkan anggota Rekso Kadang yang berbeda agama, sehingga hanya menyampaikan hal-hal yang sifatnya umum dan tidak menyinggung agama lain. Fakta ini merupakan cerminan dari pembentukan karakter religius, toleransi agama, dan saling menghargai perbedaan.

Kelima, acara wejangan atau nasihat dari pihak kasepuhan (anggota senior). Wejangan merupakan menyampaian nasihat atau pesan dari sesepuh anggota Rekso Kadang terhadap semua anggota. Materi yang disampaikan biasanya berkenaan dengan situasi terkini, seperti isu agama, ekonomi, politik, pendidikan, pekerjaan, bahkan mengenai kejahatan yang sedang marak terjadi agar supaya tidak menimpa anggota Rekso Kadang lainnya. Wejangan ini mampu menumbuhkan karakter rasa ingin tahu bagi anggota Rekso Kadang.

Keenam, iuran dana sosial. Dana yang sudah terkumpul disalurkan khususnya kepada anggota Rekso Kadang yang sedang tertimpa musibah dan masyarakat lain pada umumnya seperti bencana alam di Aceh, Yogyakarta, Lombok, dan lain sebagainya. Kegiatan ini tentunya mampu membentuk karakter peduli sosial.

Ketujuh, doa bagi leluhur atau tahlilan. Acara ini menjadi wujud bakti anggota Rekso Kadang kepada para sesepuh atau leluhur. Doa yang dipanjatkan merupakan cerminan dari pembentukan karakter berbakti kepada orang tua.

Sekian banyak karakter yang dihasilkan dari tradisi Rekso Kadang ini, tentunya mampu meneguhkan tradisi ini menjadi basis pendidikan karakter khususnya bagi masyarakat Jawa. Apabila semua keluarga di Indonesia bisa menyelenggarakan Rekso Kadang ataupun acara sejenis ini, maka niscaya pendidikan karakter akan terlaksana sampai pada semua lini kehidupan masyarakat Indonesia.

Namun sungguh sangat disayangkan, arus modernisasi saat ini nampaknya sudah membawa kaum milenial di Indonesia ke jurang egocentris yang cenderung menafikan agenda kumpul keluarga besar seperti Rekso Kadang. Di tengah arus deras modernisasi ini, mungkinkah tradisi lama seperti Rekso Kadang ini masih akan terus terlaksana dan dikembangkan, apalagi untuk sampai menjadi basis pendidikan karakter bagi masyarakat Indonesia?

Meskipun tantangan sangat berat, apapun yang terjadi, tradisi seperti Rekso Kadang sebagai wujud kebudayaan masyarakat Indonesia agaknya memang bisa menjadi senjata ampuh dalam membentuk karakter anak bangsa melalui penjagaan berbasis keluarga. Kunci keberhasilan ini berada pada tekat bangsa ini untuk senantiasa bisa berusaha mempersandingkan antara kebudayaan dengan pendidikan secara beriringan, seperti halnya usaha menjadikan tradisi Rekso Kadang sebagai basis pendidikan karakter masyarakat.


Oleh Isni Indriyana
Guru MI Nahdlatut Tholibin Malebo, Temanggung, Jawa Tengah

Bahasa Jawa sebagai salah satu produk budaya, harus dikuatkan dari ruang kelas. Sebab, selama ini sangat sedikit anak-anak yang dapat berbahasa Jawa dengan benar, baik dan indah, padahal mereka lahir dan tumbuh di Jawa. Lalu apa penyebabnya? Selain  kurangnya pembiasaan dari keluarga dan lingkungan, berbahasa Jawa belum diterapkan secara maksimal di ruang kelas. Maka sangat wajar anak-anak masih berbahasa kasar, belum sopan, dan mengalami kekacauan berbahasa.

Pergaulan anak Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) juga menjadi keprihatinan zaman sekarang. Anak lebih menggunakan bahasa yang disebut gaul daripada mebudayakan Bahasa Jawa. Hal ini disebabkan karena tontonan acara televisi yang mereka lihat lebih dominan menggunakan bahasa kekinian daripada bahasa daerah masing-masing. Hal itu akan menjadi masalah besar jika terus dibudayakan sampai anak menjadi dewasa dan tumbuh besar.

Semakin hari bahasa daerah menjadi bahasa yang terbatas dan berkurang pemakaiannya. Bahasa menjadi terancam karena penggunaannya menjadi semakin sedikit dan tercemar oleh bahasa yang berkembang saat ini. Hal yang lebih memprihatinkan terjadi di lingkungan sekolah dan tempat tinggal masing-masing yakni tidak semua orang yang lebih tua mengajarkan berbahasa Jawa dengan baik dan benar. Hal itu menambah sebab akibat anak menjadi kurang untuk berbahasa Jawa sesuai adat istiadaat yang diterapkan dengan baik.

Hermadi (2010) mengungkapkan, Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan sebagai pergaulan sehari-hari di daerah Jawa, khususnya Jawa Tengah.  Bahasa Jawa ini menjadi suatu bahasa daerah yang menjadi ciri khas daerah Jawa sendiri dengan cara penyebaran di berbagai wilayah Nusantara sehingga bahasa Jawa mempunyai ragam yang berbeda antar Jawa satu dengan yang lainnya.

Menguatkan Bahasa Jawa
Menguatkan bahasa Jawa menjadi penting agar tidak terkikisnya budaya dan pendidikan anak SD/MI sendiri. Bahasa Jawa mengajarkan tentang etika berbahasa yang benar dan baik yang diajarkan untuk komunikasi sehari-hari serta berkomunikasi dengan orang yang lebih dewasa dengan sebutan unggah-ungguh basa.

Unggah-ungguh basa ini mengajarkan tingkatan bahasa dengan lawan bicara orang yang sebaya ataupun orang yang lebih tua dengan tingkatan bahasa yang berbeda.Terdapat tiga bentuk tingkatan dalam unggah-ungguh basa, yakni ngoko (kasar), madya (biasa), dan karma (halus). Misal, dalam Bahasa Indonesia “aku sudah pulang”, bahasa Jawa yang digunakan diri sendiri dengan orang yang lebih dewasa sudah berbeda. Diri sendiri dengan penggunaan ngoko, ”aku wis bali” atau yang lebih halus “kula sampun wangsul”, akan berbeda untuk orang yang lebih dewasa dengan “ibuk sampun kondur”.

Pembiasaan berbahasa Jawa diperlukan supaya anak terbiasa berbahasa yang benar dan baik sekaligus menjadi upaya pembudayaan agar tidak terkikis dengan bahasa yang lain. Cara ini dapat dilakukan dengan dimulainya komunikasi di dalam ruang kelas, dibuatnya peraturan yang mengharuskan anak berkomunikasi dengan teman ataupun guru di ruang kelas dengan menggunakan bahasa Jawa.

Untuk menambah motivasi anak menggunakan bahasa Jawa dengan benar dan baik, guru dapat memberikan sedikit penghargaan kepada anak untuk lebih menggiatkan menggunakan Bahasa Jawa. Selanjutnya, dalam proses pembelajaran sehari-hari harus dimulai menggunakan dengan Bahasa Jawa.

Langkah awal, tidak harus setiap hari guru menggunakan Bahasa Jawa dalam menjelaskan. Hanya pada hari-hari tertentu saja untuk menjadi permulaan. Namun untuk selanjutnya bahasa Jawa harus lebih digunakkan pada pembelajaran semua mata pelajaran, tidak hanya Bahasa Jawa. Semakin hari anak akan terbiasa dengan pembiasaan dan pembelajaran menggunakan Bahasa Jawa tersebut.

Dalam pelaksanaan pembiasaan dan pembelajaran, peran guru sangat penting dalam penguatan dan sikap menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar. Guru sebagai seseorang yang digugu lan ditiru harus memberikan contoh yang baik dan benar dalam berbahasa terhadap anak agar anak lebih berapresiasi dalam penguatan Bahasa Jawa secara implisit ini. Secara tidak langsung dan bertahap, hal di atas akan membentuk karakter anak yang mampu untuk secara benar dan baik menggunakan Bahasa Jawa sesuai yang diharapkan.

Tidak hanya di dalam lingkungan sekolah saja, namun hal itu harus dilaksanakan di dalam keluarga dan masyarakat. Menjadi kewajiban anak nantinya, dan tanggung jawab guru seterusnya untuk selalu menggunakan bahasa Jawa dengan unggah-ungguh basa yang benar dan baik.

Jawa tidak hanya di dominasi dengan penggunaan gaya bahasanya, banyak kebudayaan Jawa yang bisa mendukung adanya penguatan kebudayaan Jawa ini, dengan pengadaan lomba nembang, macapat, penulisan aksara jawa, cerita jawa akan menambah semangat anak-anak untuk lebih belajar tentang kebudayaan dan pendidikan Jawa, khususnya penggunaan bahasa dengan benar dan baik dalam berkomunikasi.

Seperti yang sudah dijelaskan, ketika anak sudah terbiasa dengan penggunaan Bahasa Jawa, secara otomatis akan mengangkat kebudayaan itu sendiri. Hal yang baik tidak cepat dilakukan hanya dengan waktu sehari atau dua hari saja. Proses yang panjang akan dilalui untuk bisa menguatkan Bahasa Jawa dan itu berawal dari pembiasan pembelajaran Bahasa Jawa dari ruang kelas.

Dengan menguatkan Bahasa Jawa di ruang kelas dalam proses pembelajaran, hal ini akan melestarikan salah satu budaya Jawa sekaligus dengan menjaga kearifan lokal yang ada. Bahasa Jawa harus mendapatkan perhatian lebih agar selalu terjaga. Kalau tidak dimulai dari kita, siapa lagi?

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget