Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Menguatkan Bahasa Jawa dari Ruang Kelas


Oleh Isni Indriyana
Guru MI Nahdlatut Tholibin Malebo, Temanggung, Jawa Tengah

Bahasa Jawa sebagai salah satu produk budaya, harus dikuatkan dari ruang kelas. Sebab, selama ini sangat sedikit anak-anak yang dapat berbahasa Jawa dengan benar, baik dan indah, padahal mereka lahir dan tumbuh di Jawa. Lalu apa penyebabnya? Selain  kurangnya pembiasaan dari keluarga dan lingkungan, berbahasa Jawa belum diterapkan secara maksimal di ruang kelas. Maka sangat wajar anak-anak masih berbahasa kasar, belum sopan, dan mengalami kekacauan berbahasa.

Pergaulan anak Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) juga menjadi keprihatinan zaman sekarang. Anak lebih menggunakan bahasa yang disebut gaul daripada mebudayakan Bahasa Jawa. Hal ini disebabkan karena tontonan acara televisi yang mereka lihat lebih dominan menggunakan bahasa kekinian daripada bahasa daerah masing-masing. Hal itu akan menjadi masalah besar jika terus dibudayakan sampai anak menjadi dewasa dan tumbuh besar.

Semakin hari bahasa daerah menjadi bahasa yang terbatas dan berkurang pemakaiannya. Bahasa menjadi terancam karena penggunaannya menjadi semakin sedikit dan tercemar oleh bahasa yang berkembang saat ini. Hal yang lebih memprihatinkan terjadi di lingkungan sekolah dan tempat tinggal masing-masing yakni tidak semua orang yang lebih tua mengajarkan berbahasa Jawa dengan baik dan benar. Hal itu menambah sebab akibat anak menjadi kurang untuk berbahasa Jawa sesuai adat istiadaat yang diterapkan dengan baik.

Hermadi (2010) mengungkapkan, Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan sebagai pergaulan sehari-hari di daerah Jawa, khususnya Jawa Tengah.  Bahasa Jawa ini menjadi suatu bahasa daerah yang menjadi ciri khas daerah Jawa sendiri dengan cara penyebaran di berbagai wilayah Nusantara sehingga bahasa Jawa mempunyai ragam yang berbeda antar Jawa satu dengan yang lainnya.

Menguatkan Bahasa Jawa
Menguatkan bahasa Jawa menjadi penting agar tidak terkikisnya budaya dan pendidikan anak SD/MI sendiri. Bahasa Jawa mengajarkan tentang etika berbahasa yang benar dan baik yang diajarkan untuk komunikasi sehari-hari serta berkomunikasi dengan orang yang lebih dewasa dengan sebutan unggah-ungguh basa.

Unggah-ungguh basa ini mengajarkan tingkatan bahasa dengan lawan bicara orang yang sebaya ataupun orang yang lebih tua dengan tingkatan bahasa yang berbeda.Terdapat tiga bentuk tingkatan dalam unggah-ungguh basa, yakni ngoko (kasar), madya (biasa), dan karma (halus). Misal, dalam Bahasa Indonesia “aku sudah pulang”, bahasa Jawa yang digunakan diri sendiri dengan orang yang lebih dewasa sudah berbeda. Diri sendiri dengan penggunaan ngoko, ”aku wis bali” atau yang lebih halus “kula sampun wangsul”, akan berbeda untuk orang yang lebih dewasa dengan “ibuk sampun kondur”.

Pembiasaan berbahasa Jawa diperlukan supaya anak terbiasa berbahasa yang benar dan baik sekaligus menjadi upaya pembudayaan agar tidak terkikis dengan bahasa yang lain. Cara ini dapat dilakukan dengan dimulainya komunikasi di dalam ruang kelas, dibuatnya peraturan yang mengharuskan anak berkomunikasi dengan teman ataupun guru di ruang kelas dengan menggunakan bahasa Jawa.

Untuk menambah motivasi anak menggunakan bahasa Jawa dengan benar dan baik, guru dapat memberikan sedikit penghargaan kepada anak untuk lebih menggiatkan menggunakan Bahasa Jawa. Selanjutnya, dalam proses pembelajaran sehari-hari harus dimulai menggunakan dengan Bahasa Jawa.

Langkah awal, tidak harus setiap hari guru menggunakan Bahasa Jawa dalam menjelaskan. Hanya pada hari-hari tertentu saja untuk menjadi permulaan. Namun untuk selanjutnya bahasa Jawa harus lebih digunakkan pada pembelajaran semua mata pelajaran, tidak hanya Bahasa Jawa. Semakin hari anak akan terbiasa dengan pembiasaan dan pembelajaran menggunakan Bahasa Jawa tersebut.

Dalam pelaksanaan pembiasaan dan pembelajaran, peran guru sangat penting dalam penguatan dan sikap menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar. Guru sebagai seseorang yang digugu lan ditiru harus memberikan contoh yang baik dan benar dalam berbahasa terhadap anak agar anak lebih berapresiasi dalam penguatan Bahasa Jawa secara implisit ini. Secara tidak langsung dan bertahap, hal di atas akan membentuk karakter anak yang mampu untuk secara benar dan baik menggunakan Bahasa Jawa sesuai yang diharapkan.

Tidak hanya di dalam lingkungan sekolah saja, namun hal itu harus dilaksanakan di dalam keluarga dan masyarakat. Menjadi kewajiban anak nantinya, dan tanggung jawab guru seterusnya untuk selalu menggunakan bahasa Jawa dengan unggah-ungguh basa yang benar dan baik.

Jawa tidak hanya di dominasi dengan penggunaan gaya bahasanya, banyak kebudayaan Jawa yang bisa mendukung adanya penguatan kebudayaan Jawa ini, dengan pengadaan lomba nembang, macapat, penulisan aksara jawa, cerita jawa akan menambah semangat anak-anak untuk lebih belajar tentang kebudayaan dan pendidikan Jawa, khususnya penggunaan bahasa dengan benar dan baik dalam berkomunikasi.

Seperti yang sudah dijelaskan, ketika anak sudah terbiasa dengan penggunaan Bahasa Jawa, secara otomatis akan mengangkat kebudayaan itu sendiri. Hal yang baik tidak cepat dilakukan hanya dengan waktu sehari atau dua hari saja. Proses yang panjang akan dilalui untuk bisa menguatkan Bahasa Jawa dan itu berawal dari pembiasan pembelajaran Bahasa Jawa dari ruang kelas.

Dengan menguatkan Bahasa Jawa di ruang kelas dalam proses pembelajaran, hal ini akan melestarikan salah satu budaya Jawa sekaligus dengan menjaga kearifan lokal yang ada. Bahasa Jawa harus mendapatkan perhatian lebih agar selalu terjaga. Kalau tidak dimulai dari kita, siapa lagi?

Label:

Posting Komentar

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget