Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Rekso Kadang: Basis Pendidikan Karakter Masyarakat Jawa


Oleh Husna Nashihin

Kasus dekandensi moral yang terjadi saat ini kian melejit. Bahkan, wabah dekandensi sudah merambah kalangan manusia dewasa yang seharusnya menjadi panutan, seperti orang tua, pendidik, pejabat, sampai tokoh agama.

Digitalisasi misalnya, mengakibatkan pornografi, hoax, ujaran kebencian, penipuan, dan lain sebagainya semakin membabibuta lewat media sosial. Mudahnya akses media sosial sebagai konsekuensi logis digitalisasi berimplikasi pada tidak bisa dibendungnya dampak negatif yang terjadi secara tuntas. Bayangkan saja, bagaimana bisa membatasi dampak negatif yang muncul dari media sosial, jikalau media sosial memang memberikan mimbar kebebasan akses bagi para pemakainya?

Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan besar, ada apa dengan pendidikan karakter yang sudah berlangsung saat ini, sehingga belum mampu merubah manusia menjadi pribadi yang lebih baik? Perlukah tambahan model pendidikan karakter yang bisa berjalan beriringan dengan pendidikan karakter pada sekolah formal? Agaknya guna mendukung pendidikan karakter pada sekolah formal, memang perlu dikembangkan sebuah model pendidikan karakter dengan basis tradisi atau kebudayaan masyarakat.

Ketika mencoba merefleksi tradisi masyarakat Jawa, ada satu tradisi yang menarik dan optimis bisa menjadi basis pendidikan karakter bagi masyarakat Indonesia. “Rekso Kadang” atau tradisi kumpul-kumpul keluarga bagi masyarakat Jawa ini memiliki manfaat positif yang luar biasa yang layak untuk dikaji secara mendalam.

Kearifan nenek moyang di Jawa dalam menjaga keluarganya dari segala keburukan ini menimbulkan sebuah pertanyaan, mungkinkah budaya ini memang sengaja diadakan oleh para nenek moyang di Jawa sebagai usaha membentengi keturunannya agar senantiasa baik? Ataukah tradisi ini hanyalah sebuah kebetulan belaka yang saat ini secara kebetulan juga sangat dibutuhkan untuk bisa mengatasi dekandensi moral dan perpecahan yang kian melejit?

“Rekso Kadang” merupakan tradisi kumpul-kumpul bagi sekelompok keluarga besar di Jawa yang awalnya diadakan hanya oleh keluarga kerajaan. Belakangan ahirnya Rekso Kadang menjadi budaya yang dilakukan oleh hampir semua masyarakat Jawa. Secara bahasa Rekso mengandung arti menjaga, sedangkan Kadang memiliki arti keluarga. Rekso Kadang secara istilah memiliki arti acara perkumpulan yang bertujuan mempererat tali silaturahmi keluarga.

Saat ini Rekso Kadang sudah berubah nama sesuai dengan sentuhan masing-masing daerah yang melestarikannya. Akibat sentuhan filosofi Jawa misalnya, Rekso Kadang berubah menjadi “Trah” yang berarti hujan. Istilah trah biasa digunakan oleh mayoritas masyarakat Jawa saat ini.

Di sisi lain, ada pula sentuhan Arab atau Islam yang menjadikan Rekso Kadang berubah nama menjadi “Bani” atau Dzuriyah”. Pada generasi kekinian, Rekso Kadang mengalami simplifikasi nama menjadi kumpulan keluarga atau arisan keluarga. Bahkan, pada sebagian keluarga modern, Rekso Kadang mengalami sentuhan istilah perkantoran menjadi rapat keluarga atau meeting keluarga.

Terlepas dari berbagai istilah yang berkembang, secara esensial Rekso Kadang tetap menjadi tradisi masyarakat Jawa yang bertujuan merekatkan tali silaturahmi. Tradisi ini sampai sekarang masih berkembang dan dipertahankan di beberapa daerah, seperti di Yogyakarta, Klaten, Boyolali, Solo, Magetan, Wonogiri, Ponorogo, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Semarang, Kudus, Demak, Jepara, dan masih banyak kota lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Rekso Kadang biasanya dilaksanakan pada hari Minggu. Ada yang dilaksanakan sebulan sekali atau dua bulan sekali, ada pula yang melaksanakan sesuai penghitungan Jawa (Pasaran Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing) seperti selapan (35 hari) sekali atau dua lapan (70 hari) sekali, bahkan ada juga yang setahun sekali atau dua kali.

Ada beberapa fakta unik yang berhasil terekam dalam tradisi Rekso Kadang yang mampu menjadi basis pendidikan karakter. Pertama, anggota Rekso Kadang yang terdiri dari berbagai suku dan daerah yang berbeda-beda. Pernikahan keturunan anggota Rekso Kadang dengan keturunan dari suku dan daerah lain menjadikan adanya anggota Rekso Kadang yang berbeda suku dan daerah. Daerah dan suku yang berbeda tentunya juga melahirkan kepribadian dan pemikiran yang berbeda pula. Realitas ini mampu membentuk karakter saling menghargai dan toleransi.

Kedua, anggota Rekso Kadang yang terdiri dari agama, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan tingkat ekonomi yang berbeda-beda. Realitas ini mampu membentuk karakter saling menghargai, peduli sosial, dan kerja sama. Agama yang berbeda tentunya mampu membentuk karakter toleransi beragama antar anggota Rekso Kadang. Kepedulian sosial tercermin dari sikap saling membantu ketika salah satu anggota Rekso Kadang tertimpa musibah. Kerja sama antar anggota Rekso Kadang tercermin dari sikap gotong royong ketika menyelenggarakan hajatan salah satu anggota Rekso Kadang.

Ketiga, penyelenggaraan Rekso Kadang yang diadakan secara bergiliran. Anggota Rekso Kadang yang mendapat giliran ketempatan acara, harus mempersiapkan tempat dan konsumsi. Usaha anggota Rekso Kadang dalam mempersiapkan acara tersebut dapat membentuk karakter kerja keras dan tanggung jawab. Kerja keras dan tanggung jawab tercermin dalam sikap sungguh-sungguh anggota rekso kadang dalam menyusun perencanaan sampai pelaksanaan acara. Apalagi ketika anggota yang ketempatan Rekso Kadang berasal dari tingkat ekonomi menengah kebawah, konsumsi yang harus disiapkan sampai “dianak-anake” atau diupayakan ada sebagus mungkin.

Keempat, acara tausiah keagamaan. Tausiah keagamaan menjadi menarik tatkala anggota Rekso Kadang berasal dari agama yang berbeda-beda, meskipun memang dalam satu Rekso Kadang terkadang juga diketemukan terdiri dari satu agama yang sama. Tausiah keagamaan diberikan dengan mempertimbangkan anggota Rekso Kadang yang berbeda agama, sehingga hanya menyampaikan hal-hal yang sifatnya umum dan tidak menyinggung agama lain. Fakta ini merupakan cerminan dari pembentukan karakter religius, toleransi agama, dan saling menghargai perbedaan.

Kelima, acara wejangan atau nasihat dari pihak kasepuhan (anggota senior). Wejangan merupakan menyampaian nasihat atau pesan dari sesepuh anggota Rekso Kadang terhadap semua anggota. Materi yang disampaikan biasanya berkenaan dengan situasi terkini, seperti isu agama, ekonomi, politik, pendidikan, pekerjaan, bahkan mengenai kejahatan yang sedang marak terjadi agar supaya tidak menimpa anggota Rekso Kadang lainnya. Wejangan ini mampu menumbuhkan karakter rasa ingin tahu bagi anggota Rekso Kadang.

Keenam, iuran dana sosial. Dana yang sudah terkumpul disalurkan khususnya kepada anggota Rekso Kadang yang sedang tertimpa musibah dan masyarakat lain pada umumnya seperti bencana alam di Aceh, Yogyakarta, Lombok, dan lain sebagainya. Kegiatan ini tentunya mampu membentuk karakter peduli sosial.

Ketujuh, doa bagi leluhur atau tahlilan. Acara ini menjadi wujud bakti anggota Rekso Kadang kepada para sesepuh atau leluhur. Doa yang dipanjatkan merupakan cerminan dari pembentukan karakter berbakti kepada orang tua.

Sekian banyak karakter yang dihasilkan dari tradisi Rekso Kadang ini, tentunya mampu meneguhkan tradisi ini menjadi basis pendidikan karakter khususnya bagi masyarakat Jawa. Apabila semua keluarga di Indonesia bisa menyelenggarakan Rekso Kadang ataupun acara sejenis ini, maka niscaya pendidikan karakter akan terlaksana sampai pada semua lini kehidupan masyarakat Indonesia.

Namun sungguh sangat disayangkan, arus modernisasi saat ini nampaknya sudah membawa kaum milenial di Indonesia ke jurang egocentris yang cenderung menafikan agenda kumpul keluarga besar seperti Rekso Kadang. Di tengah arus deras modernisasi ini, mungkinkah tradisi lama seperti Rekso Kadang ini masih akan terus terlaksana dan dikembangkan, apalagi untuk sampai menjadi basis pendidikan karakter bagi masyarakat Indonesia?

Meskipun tantangan sangat berat, apapun yang terjadi, tradisi seperti Rekso Kadang sebagai wujud kebudayaan masyarakat Indonesia agaknya memang bisa menjadi senjata ampuh dalam membentuk karakter anak bangsa melalui penjagaan berbasis keluarga. Kunci keberhasilan ini berada pada tekat bangsa ini untuk senantiasa bisa berusaha mempersandingkan antara kebudayaan dengan pendidikan secara beriringan, seperti halnya usaha menjadikan tradisi Rekso Kadang sebagai basis pendidikan karakter masyarakat.

Label:

Posting Komentar

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget