Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Mei 2019


Temanggung, Harianguru.com - Serangkaian acara yang diselenggarakan oleh BEM STAINU Temanggung untuk mengharapkan berkah di bulan Ramadhan. Acara dimulai dengan acara pembukaan yang dihadiri oleh pejabat kampus bagian kemahasiswaan dan seluruh Ketua UKM STAINU Temanggung. Acara dimulai Jumat sore (31/5/2019), dan direncanakan dilanjutkan Sabtu (1/6/2019).

Dalam acara tersebut BEM STAINU juga menghadirkan SMA, SMK, MA, Temanggung dengan jumlah peserta 52 orang dari perwakilan 11 Sekolah di Temanggung.

Setelah acara pembukaan tersebut seluruh peserta dan tamu undangan berbuka bersama lalu melaksanakan ibadah salat tarawih bersama yang diimami oleh Gus Nashih.

Setelah selesai pelaksaan sholat teraweh Gus Nashih menyampikan kultum mengenai puasa yang dijalankan oleh Nabi-Nabi sebelumnya. "Seperti Nabi Adam yang melaksanakan puasa setiap tanggal 13, 14, 15 lalu pusa Daud dan Nabi lainnya. Banyak keutamaan-keutamaan yang didapatkan dari puasa tersebut," katanya.

Setelah kultum tersebut dilanjutkan acara lomba yaitu lomba tausiyah yang diwakili oleh satu orang dari tiap-tiap sekolah. Dalam lomba tersebut mengusung beberapa tema yaitu mengenai pergaulan remaja, teknologi dan informasi, berbakti pada orang tua, dan lailatul qadar.

Demikian serangkaian acara yang diselenggarakan pada Jumat sore 31 Mei 2019 sampai malam untuk acara yang selanjutnya akan diteruskan pada hari Sabtu 1 Juni 2019. (HG99/Astuti).

Semarang, Harianguru.com - Dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas), Iman Fadhilah, menegaskan bahwa PWNU Jateng menjadi IPNU sebagai tumpuan awal penjaga Aswaja. "Kami berharap besar bahwa segenap kader dan pengurus IPNU Jateng untuk jdi garda terdepan dalam menjaga aqidah ahlus sunnah wal jamaah an anhdliyah, karena tidak kami pungkiri, bahwa generasi pelajar dan muda sanagt rentan dipengaruhi dengan indoktrinasi radikalisme dan anti nasionalisme terhadap bangsanya," kata Iman Fadhilah yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jateng dalam sesi Focus Group Discussion yang diselenggarakan oleh PW IPNU Jateng di Merak Room Hotel Muria Semarang pada Sabtu (25/5/2019) yang dilanjutkan dengan buka bersama.

Pihaknya juga menyoroti maraknya situs berita yang secara afiliasi memiliki ikatan dekat dengan organisasi pendukung radikalisme, "Atas kerja-kerja didunia internet oleh PW IPNU Jateng kami sangat apresiasi, utamanya melalui portal online ipnujateng.or.id, jaga konsistensi itu" Tegas Iman yang juga Akademisi di Universitas Wahid Hasyim Semarang.

"Perkembangan Organisasi Pelajar di Sekolah yang berkedok kegamaan perlu menjadi sorotan banyak pihak, utamanya pegiat NU yang terlibat aktif di dunia pendidikan. Terlebih akses informasi dan komunikasi tidak terbendung, bahkan kami mengalami langsung, ada anak didik kami yang pamit orang tuanya di Jakarta untuk ke Semarang, suatu ketika orang tua telpon dan mempertanyakan anak yang bersangkutan, ternyata ia belum ke pondok, akhirnya dicari dan anak akhirnya balik, dari ceritanya ia bilang dari Solo. Namun pengamatan kami pasca dari solo perangainya berubah dan nampak seperti orang linglung ditanya tidak mau jawab dengan lugas dan bahkan sering membenturkan kepalanya sendiri ke tembok, kami mencurigai ia terkena brainwash. Maka potensi indoktrinasi radikalisme tersebar dimanapun dan menyasar kalangan pelajar dan muda" Papar Iman yang juga aktif mengelola Yayasan Pendidikan Islam Taqwa Illah di Meteseh Semarang.

Selain Iman Fadhilah, agenda ini juga hadirkan pembicara lain, Muh Zen Adv Anggota Komisi E DPRD Jateng, H Tino Indra Ketua DPD KNPI Jateng, H M Faojin Ketua Pergunu Jateng, serta Ketua PW IPNU Jateng Ferial Farkhan Ibnu Akhmad. Dari kalangan peserta hadir perwakilan Jajaran Pengurus Pimpinan Komisariat Perguruan Tingi (PKPT) IPNU Kampus-kampus di Ibukota Provinsi Jawa Tengah. (HG11/A Halim Solkan).

Semarang, Harianguru.com - Segenap Pelajar NU Jateng utamanya jajaran Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi IPNU Kampus-kampus di Semarang berkumpul di Merak Room Hotel Muria Semarang mengikuti fokus group discussion (FGD) dan Buka Bersama yang diagendakan oleh PW IPNU Jawa Tengah, pada Sabtu (25/5/2019).

Tema agenda ini "Menerawang Wajah Pendidikan Indonesia Pasca Pemilu 2019". Forum ini menghadirkan, Muh Zen Adv Anggota Komisi E DPRD Jateng FPKB, H Tino Indra Wardono Ketua DPD KNPI Jawa Tengah, H Iman Fadhilah Wakil Sekretaris PWNU Jateng, H. M Faojin Praktisi Pendidikan/Ketua Pergunu Jateng.

Muh Zen Adv dalam paparannya mengungkapkan, bahwa pendidikan adalah sektor penting yang harus dikawal oleh semuanya, utamanya segenap pengurus PW IPNU Jateng, karena bagaimanapun input kader berasal dari sana, pihaknya juga perihatin atas maraknya forum organisasi di tingkat sekolah utamanya organisasi berkedok keagamaan namun dalam praktiknya malah menjadi sarana pengembangan nilai radikalisme dan mengkebiri nilai keagamaan dan pancasila.

"Pemerintahan ditingkat manapun, harus punya komitmen politik yang tinggi atas keberhasilan dan pengembangan pendidikan. Jika mereka abai maka SDM Masyarakatnya akan rendah. Masyarakat bisa mengawal dengan memantau berapa persen sih alokasi dana APBD untuk pendidikan" Tegas Muh Zen yang juga Ketua Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI).

Pihaknya juga sampaikan bahwa DPRD Jateng telah menetapkan Perda Pendidikan yang harapannya kedepan tidak ada kembali dikotomi antara Pendidikan Formal/Non Formal.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka membuka wacana dan menelaah potensi perubahan haluan kebijakan pendidikan, utamanya jika melihat hasil pemilu 2019. Kegiatan ini dihadiri ada perwakilan dari UIN Walisongo, UNNES, UNWAHAS, serta Perwakilan PC IPNU Kota Semarang. (HG33/A Halim Solkan).

Kalimantan Timur, Tenggarong, Harianguru.com -   Kurnia Astuti, seorang guru dari SDN 003 Tenggarong,  sudah empat kali selama bulan April 2019 keliling kompleks perumahan tempat ia tinggal menawarkan pada warga untuk membaca buku.  Ia tidak sendiri, tapi ditemani oleh tiga anaknya yang masih kecil-kecil: Bilqis yang masih kelas empat SD, Yasmin yang sementara masih duduk di TK, dan adiknya Asifa yang masih usia tiga tahun. Buku-buku  milik pribadi berbentuk komik, novel, majalah dan lain-lain tersebut dibawa dengan gerobak dorong yang biasa digunakan untuk membawa galon air.

“Bersama anak-anak saya, saya dorong gerobak menawarkan pada siapa saja untuk membaca secara gratis, terutama anak-anak. Saya merasa terpanggil setelah melihat besarnya kecenderungan anak-anak disini buang-buang waktu bermain gadget. Kadang-kadang bahkan anak saya ikut-ikutan tergoda. Saya ingin anak-anak di kompleks ini lebih mampu memanfaatkan waktunya dengan rajin membaca buku,” ujarnya.

Jadwal berputar keliling kompleks menawarkan buku adalah tiap hari Jum’at pukul 16.30-17.30. Mereka tidak hanya keliling  kompleks perumahan mereka sendiri, tapi juga kompleks tetangga.  Orang tua dan anak-anak pun menyambut  gembira kegiatan bu Kurnia. “Bahkan biasa orang tua memerintahkan anak-anaknya gabung membaca, daripada bermain gadget saja,” ujarnya.

Pada bulan Mei ini, karena puasa, ia tidak keliling, tapi menyilahkan pembaca untuk datang langsung ke perpustakaan mininya di rumah. “Buku saya belum begitu banyak. Tapi saya nanti akan pasang banner rumah baca di rumah saya. Saya mempersilahkan siapa saja  menyumbang buku dan akan saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk gerakan literasi,” ujar salah satu fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation ini. 
Namun yang patut diacungi jempol adalah keberanian dan semangatnya berserta keluarganya pada waktu pemilu kemarin tanggal 17 April 2019. Dibantu suaminya, Syamsul Efendi, ia membawa gerobak baca keliling tersebut ke tempat pemungutan suara (TPS) dan membuka lapak baca disitu.

“Saya amat prihatin dengan tingkat literasi di Indonesia. Jadi saya mencoba menggugah semua orang untuk tergerak mau membaca,” ia menceritakan motifnya. Menurutnya, awalnya hampir tak ada orang yang menggubris lapaknya di TPS tersebut. Kebanyakan orang-orang asyik bermain hp sambil menunggu waktu mencoblos. “Saya sampai tawarkan ke tempat duduk mereka. Saya katakan tidak dipungut biaya, tapi tetap tak ada yang menggubris,” kenangnya.

Orang-orang baru perhatikan lapak membaca tersebut, saat tiba-tiba pejabat provinsi dan kabupaten  datang berkunjung ke TPS tersebut, diantaranya  Kasi Perpustakaan Kabupaten Idmansyah,  dan Pejabat Dinas Kebudayaan Daerah Pak Yuyun. Ternyata para pejabat  tersebut tidak langsung menuju ke TPS, tapi ke lapak baca yang didirikan ibu Kurnia. Melihat hal tersebut, orang-orang baru ikut-ikut mengapresiasi kegiatan bu Kurnia.

Menurutnya, karena kegiatan buka lapak baca di tempat pemungutan suara tersebut, akhirnya ia cukup dikenal dan  diminta untuk menjadi nara sumber literasi di beberapa tempat. “Melihat saya gigih membuka lapak pakai buku-buku pribadi di tempat umum, Kasi Perpustakan mengundang saya  jadi narasumber kegiatan literasi di perpustakaan daerah dan juga mengisi kegiatan di Taman PINTAR. Saya juga akan mendapat hadiah tambahan buku dari Rumah Budaya Kutai,” ujarnya.

Keluarga Literasi
Menurut Kurnia, awalnya ia bukanlah pembaca buku yang rutin. Ia baru tergerak rutin membaca, setelah ia membaca banyak artikel tentang pentingnya gerakan literasi dan ikut pelatihan budaya baca Tanoto Foundation. 

“Walaupun saya suka menulis diary. Bahkan diary saya sampai 30 buku. Saya awalnya bukan pembaca yang baik,” ujarnya.

Kini ia selalu luangkan diri setiap hari untuk membaca buku. Bahkan bersama suaminya, ia sepakat untuk membuat program khusus membaca bagi keluarga tersebut. Setiap pagi, anaknya yang SD setelah shoat subuh diwajibkan membaca selama 10 menit. Sedangkan tiap malam, ia dan suaminya bergantian membacakan pada anak-anaknya buku cerita.

“Karena kegiatan ini, anak saya yang usia tiga tahun sekarang sangat menyukai buku. Untuk tiga buku favoritnya, walaupun Ia belum bisa membaca, ia sudah hapal isi buku kecil tersebut tiap halaman,” ujarnya bangga. Sedangkan yang paling besar, Bilqis, sudah pandai menceritakan kembali isi buku.

“Selain saya minta menceritakan isi buku bacaan lewat lisan, saya juga gunakan kertas bekas untuk membimbingnya menceritakan buku yang ia telah baca lewat tulisan. Hasil karyanya kemudian ditempel di kotak membaca seperti kotak kado dan jadi hiasan di rumah kami, “ ujarnya.

Bu Kurnia saat ini sedang menyusun sebuah buku dan sudah dihubungi oleh penerbit. “Semoga saya benar-benar bisa menerbitkan buku,” ujarnya. (HG33). 

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Disela-sela malam peringatan Hari Pendidikan Nasional  yang diadakan di halaman Kantor Bupati, Edi Damansyah, Bupati Kutai Kartanegara, menyatakan apresiasinya terhadap sumbangsih Tanoto Foundation pada pengembangan pendidikan di daerah tersebut. “Program PINTAR Tanoto Foundation turut serta menjawab kebutuhan pengembangan pendidikan di daerah ini,” ujarnya kemarin, 4 Mei 2019.

Ia juga berharap bahwa program-program CSR dan Filantropi yang lain, meniru model program pengembangan pendidikan yang telah dilakukan Tanoto. Penekanan ini searah dengan sambutannya di depan para undangan acara tersebut,  bahwa program CSR dan filantropi di Kukar  hendaknya membuat rencana induk pengembangan pemberdayaan di area lingkungan tempat perusahaan bekerja.

Program Pendidikan merupakan salah satu program prioritas Kutai Kartanegara.  Menurut bupati,  saat ini Kukar mengalokasikan 25 persen dana APBD untuk pendidikan. Bupati yang baru dilantik ini merasa prihatin dengan neraca pendidikan Kukar  yang menempati peringkat 8 dari 10 Kabupaten/kota yang ada di Kaltim. “Padahal semua aparatur pendidikan telah bekerja dengan baik.  Kita perlu selalu mengevaluasi program pendidikan yang kita laksanakan dan  mengupdate data-data pendidikan kita,” tekannya.

Rencananya untuk menjawab tantangan pendidikan di Kukar,  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar  akan menyebarluaskan pelatihan program PINTAR untuk guru-guru sekolah non mitra. “Sudah kami usulkan ke bupati dan disambut dengan baik,” ujar Emi Rosana, Kasi Kurikulum SMP Dinas Pendidikan Kukar.

Pada acara tersebut, Tanoto Foundation merupakan salah satu lembaga dan perusahaan yang mendapatkan piagam penghargaan bupati Kukar. Selain lembaga dan perusahaan,  bupati juga memberikan piagam penghargaan pada pengawas, kepala sekolah dan guru, dan pihak-pihak lainnya yang berprestasi.

Diantara mereka adalah fasilitator-fasilitator daerah Tanoto Foundation untuk daerah Kukar. Warni Arimbi, sebagai kepala sekolah terbaik tingkat SD tingkat Provinsi Kaltim, Rubiyanto juara I Pengawas SMP Berprestasi, Imam Huzaeni Juara I KS SMP Berprestasi, Kurnia Astuti Juara II Guru berprestasi Tingkat SD,   dan Ranem Juara III guru berprestasi tingkat SMP. 

Sebelumnya pada acara Hardiknas yang diadakan oleh pemkot Balikpapan tanggal 2 Mei 2019, Tanoto Foundation juga mendapatkan piagam penghargaan yang juga diterima langsung oleh Provincial Coordinator Program PINTAR Tanoto Kaltim, Affan Surya.

Bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Kemenag  Kutai Kartanegara dan Balikpapan dan Universitas Mulawarman serta IAIN Samarinda, dari September 2018 sampai April 2019,  Tanoto Foundation telah melatih kurang lebih 2000 pendidik tingkat SD/MI dan SMP/MTs di Kaltim. Para pendidik tersebut dibekali ketrampilan mengajar dan menyiapkan lingkungan belajar yang sesuai dengan tuntutan abad 21.  (Hg44).

Temanggung, Harianguru.com - Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Jurusan Tarbiyah STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda, merillis dua buku bersamaan. Buku pertama berjudul Stop Nikah, Ayo Pacaran! Yang diterbitkan Formaci dan kedua buku Konsep dan Aplikasi Literasi Baru di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 yang diterbitkan CV. Pilar Nusantara.

Menurut Pengurus Bidang Litbang dan Diklat LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah ini, buku Stop Nikah, Ayo Pacaran! Berisi tentang ajakan untuk tidak poligami. "Memang boleh, bahkan dalam Alquran disebut boleh empat istri tapi itu kalau berlaku adil. Saya beristri satu saja sudah ngelu kok mau empat," kata Pimred Majalah MOPDIK Ma'arif tersebut, Selasa (21/5/2019).

Menurut pria kelahiran Pati ini, buku Stop Nikah, Ayo Pacaran! Merupakan buku berseri setelah buku Stop Pacaran, Ayo Nikah! Yang terbit tahun 2013. "Kalau mau baca buku Stop Nikah, Ayo Pacaran! Harusnya baca buku Stop Pacaran, Ayo Nikah! Dulu biar tidak gagal paham. Pacaran dalam buku kedua ini maksudnya pacaran dalam bingkai rumah tangga setelah nikah. Maka stop nikah itu artinya menghentikan pernikahan berkali-kali alias satu kali," tegas peraih Juara 1 Lomba Artikel Nasional Kemdikbud 2018 tersebut.

Sedangkan buku Konsep dan Aplikasi Baru berisi tentang literasi baru, yaitu literasi data, teknologi, dan manusia atau SDM sebagai pengganti literasi lama, yaitu membaca, menulis, dan berhitung. Buku ini ditulis bersama Sekretaris Jurusan PGSD FIP UNNES Farid Ahmadi, Ph.D. "Buku Konsep dan Aplikasi Literasi Baru ini tidak hanya implementatif di perguruan tinggi dan sekolah, namun juga di dalam keluarga. Sejak di keluarga, harusnya sudah diajarkan melek data, teknologi, dan humanisme karena fenomena sekarang ini kita sarat akan disrupsi," kata dia.

Buku tersebut, dalam waktu dekat juga akan mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). "Kemarin sudah diajukan dan semua syarat sudah memenuhi, jadi tinggal menunggu HKI turun," kata dia.

Sebelumnya, Ibda telah produktif menulis dan mengedit buku lintas tema. Mulai dari Demokrasi Setengah Hati (2013), Stop Pacaran, Ayo Nikah! (2013), Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner (2014), Media Pembelajaran Berbasiswa Wayang: Konsep dan Aplikasi (2017), Sing Penting NUlis Terus: Panduan Praktis Menulis Artikel dan Esai di Koran (2017), Senandung Keluarga Sastra: Serpihan Cinta dan Enigma Rasa (2018), Media Literasi Sekolah: Teori dan Praktik (2018), Teacherpreneurship: Konsep dan Aplikasi (2018), Filsafat Umum Zaman Now (2018), Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut untuk Mahasiswa: Dilengkapi Caturtunggal Keterampilan Berbahasa (2019), dan lainnya dalam bentuk bunga rampai.

Kemudian yang terbaru adalah Stop Nikah, Ayo Pacaran! serta Konsep dan Aplikasi Literasi Baru di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. "Semoga istikamah dan dapat menulis meski karya saya masih banyak kekeliruan," beber dia. (hb44/hms).

Ilustrasi
Oleh : Rizki Dwi Septiani
Guru MI Ma’arif Bulurejo Kab. Magelang

Tunjangan yang diserahkan kepada guru wiyata bhakti yang diberikan dari dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah, tunjangan BOSDA ini tidak hanya diberikan pada Guru Whiyata Bhakti Swasta saja, namun juga diberikan pada Guru Wiyata Bhakti Negeri.

Tunjangan ini biasanya cair setiap tiga bulan sekali bahkan sampai enam bulan. Tunjangan besaran yang diterima oleh guru wiyata bhakti swasta sekitar mulai RP. 250 ribu sampai 350 ribu pr bulannya. Kalau guru wiyata bhakti negeri diterimakan dari RP. 500 ribu sampai 1.400 ribu.

Pemerintah berharap kepada guru wiyata bhakti penerima tunjangan dari daerah dapat meningkatkan kinerjanya dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama ketia mengajar dan mendidik siswa. Tunjangan ini juga berlaku kepada tenaga kependidikan seperti TU agar dapat meningkatkan kinerjanya dalam hal ketata usahaan.  Namun juga tidak semua guru wiyata bhakti mendapat tunjangan dari BOSDA karena ada persyaratan yang sesuai dengan sandart yang diberlakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Dalam pemberian tunjangan dari daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan membuat kriteria penerima, dalam rangka untuk keadilan bagi para guru, seperti guru yang pendidikannya linier dan tidak linier, masakerja 10 tahun keatas . untuk honor yang diberikan kepada guru wiyata bhakti swasta paling tinggi 350 ribu dan paling sedikit 250 ribu yang diterima setiap perbulan, walaupun tunjangan tersebut cair tidak selalu pada setiap bulan.
Di kabupaten Magelang sebanyak kurang lebih 1420 GTT dan PTT menerima tunjangan insentif.

Tunjangan insentif diberikan untuk bantuan kesejahteraan guru wiyata bhakti, bantuan kualifikasi pendidikan dan pengembanagn profesi dikirim langsung ke rekening penerima tunjangan lewat rekening Bank Jateng atas nama masing – masing.
Tahun ini para guru mendapatan gaji tambahan dari dana bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar 15 %. Pemberian honor tersebut mengacu pada permendikbud No. 8 tahun 2017 tentang petunjuk teknis bantuan operasional sekolah.

Selama ini para guru mendapatkan intensif rata rata 125 ribu perbulan. Guru honorer yang akan mendapatkan honor dari BOS , mereka yang TMT nya di bawah Desember 2016,  juga bahwa guru yang akan mendapatkan honor dari BOS , guru honorer yang baru.namun dengan ketentuan TMT nya di bawah Desember 2016 guru honorer yang masa kerjanya sudah sepuluh tahun turut mendapatkan honor dari BOS.

Saya mendengar bahwa akan ada kenaikan gaji untuk ASN, harapan saya jangan hanya PNS yang dinaikkan gaji nya , tetapi juga untu para guru honorer yang selama ini hanya mendapat gaji yang sangat kecil, walaupun ada bantuan seperti insentif atau BOSDA namun harapan nya tetap ada kenaikan gaji atau bantuan yang di berikan oleh pemerintah kepada para guru honorer.

Saya juga mendengar akan ada honor bagi GTT yang direncanakan akan dibayaran di akhir ini dengan jumlah sebesar UMK masing masing supaya meningkatkan kesejahteraan bagi para guru GTT. 

Namun banyak GTT dan PTT yang belum lulus S1 atau lulusan tingkat SMA untuk itu hanya memanfaatkan honor dari Bantuan Operasional Sekolah ( BOS ) untuk honor GTT dan PTT masimal 15 %. Dan tidak boleh lebih dari itu, apalagi meminta tambahan atau bayaran dari siswa bagi tingkat SD/MI tidak berani. Dan harapannya pemerintah juga juga memikirkan para guru wiyata yang mendapatan gaji kecil, tidak hanya memikiran PNS saja.

Harapan para guru wiyata pastinya ingin merasakan bisa dinaikkan gajinya sama seperti PNS, akan tetapi sampai saat ini pemerintah hanya menaikkan gaji untuk para PNS. Namun kenyataanya entah sampai kapan jika gaji untuk para guru wiyata dinaikkan dapat terlaksana. Yang ada semakin tahun adanya perekrutan guru akan semain meningkat di setiap tahunnya, namun untuk gaji para GTT hanya seperti itu.

Bahkan untuk pengangkatan guru CPNS pun mulai dikurangi dan di batasi. Semoga dengan adanya bantuan dari pemerintah seperti bantuan intensif , BOSDA dan bantuan sebagainya membuat para guru wiyata dapat meningkatkan kualitas dalam meningkatkan kinerjanya terutama dalam mengajar. (Hg88).

Semarang, Harianguru.com - Panitia Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Persema) ke-XI Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jawa Tengah menggelar technical meeting (TM) yang diikuti semua LP Ma'arif NU se Jawa Tengah sebagai calon peserta Porsema XI di kantor PWNU Jateng, Sabtu (11/5/2019). 

Hadir lebih dari 100 orang perwakilan LP Ma'arif se Jateng yang dipandu Sekretaris Panitia Porsema Abdulloh Muchib. Hadir Bendahara LP Ma'arif PWNU Jateng Ahmad Muzammil, Wakil Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng Ziaul Khaq, Wakil Ketua PWNU Jateng Dr. Mahsun Mahfudz, dan Ketua LP Ma'arif Temanggung Miftahul Hadi yang juga Panitia Porsema tingkat lokal.

Dalam acara itu, Panitia Porsema menjelaskan bahwa pelaksanaan sudah final besuk pada 24-27 Juni 2019 di Kabupaten Temanggung. Pemaparan dimulai dari Ketua LP Ma'arif Temanggung Miftahul Hadi, Panitia Porsema Tingkat Wilayah Abdulloh Muchib, Rifki Muslim, Fikri, dan Khoirun Niam. 

Selain membahas hal-hal teknis perlombaan bidang seni dan olahraga, mereka juga membahas banyak hal berkaitan dengan potensi Porsema XI NU di Kota Tembakau bulan depan.

"Monggo kita bergerak bersama untuk menyukseskan Porsema XI NU Jateng di Temanggung. Seluruh Pengurus LP Ma'arif PWNU Jateng menjadi panitia Porsema. Jadi mari bergerak bersama," beber Bendahara Panitia Porsema XI Ahmad Muzammil.

Menurut dia, Porsema NU menjadi ajang untuk mencari bibit-bibit atlet baik atlet olahraga sesuai cabangnya dan bibit seniman di kalangan siswa-siswi Ma'arif.

Setelah TM, menurut Muzammil, panitia akan merekap data yang masuk. Sebab, perlu sinkronisasi berbagai data termasuk data peserta lomba baik olahraga dan seni, dan data lain yang berkaitan dengan teknis perlombaan. (Hg56/Ibda).


CALL FOR PAPER
Lomba Penulisan Artikel Ilmiah Tingkat Nasional

Jurnal Ilmiah Citra Ilmu: Kajian Kebudayaan dan Keislaman

TOTAL HADIAH : 4.000.000
Juara 1 Rp. 1.500.000
Juara 2 Rp. 500.000
Juara 3 Rp. 300.000
17 Artikel pilihan masing-masing Rp.100.000, 2 ekslempar jurnal cetak. Semua hadiah tidak potong pajak.

Lembaga Penelitian, Pengembangan, Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M) STAINU Temanggung mengundang bapak/ibu para peneliti, dosen, penulis untuk mengikuti lomba penulisan artikel jurnal ilmiah.
*Tulisan hendaknya orisinil (bebas plagiasi) dan didasarkan pada hasil penelitian atau kajian konseptual.
*Tema "Islam dan Budaya di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0"
Fokus pada budaya, teologi Islam, tafsir Alquran, ilmu Hadits, perbandingan agama, Kalam, Tasawuf, Filsafat Islam, ekonomi Islam, hukum Islam, Tafsir, sosiologi agama, dan Studi Agama dan Pemikiran Islam.
* Juara 1, 2, 3 dan 17 besar, naskahnya akan diterbitkan pada Juara Citra Ilmu
* Lebih disukai menggunakan Reference Manager Mendeley, Zotero, dengan gaya format Chicago Style (Fullnote)
*Author Guideline dilihat di sini: http://ejournal.stainutmg.ac.id/index.php/JICI/about#Guidelines

Ketentuan:
1. Panjang tulisan 5000 s/d 8000 kata
2. Nama penulis maksimal 2 orang
3. Artikel menggunakan font Palatyno Linotype–latin (11 pt) atau Sakkal Majalla-arabic (14 pt)
4. Format sesuai template Jurnal Citra Ilmu
5. Artikel dikirim ke email : citailmujurnal@gmail.com mulai 1 Mei 2019 dan paling lambat 30 Juli 2019 pukul 16.00 WIB

Reviewer:
Prof. Dr. Abdullah Hadziq, M.Ag.
Prof. Dr. Irwan Abdullah, M.A.
Prof. Dr. phil. Sahiron Syamsuddin,M.A.
Dr. Baedhowi, M.Ag.

Informasi:
085 842 460 079 (Moh. Syafi')
085 626 747 99 (Hamidulloh Ibda)

Website OJS:
ejournal.stainutmg.ac.id

Sesabu, Harianguru.com - Sebulan Satu Buku, merupakan gerakan literasi yang Bu Zulfa Alany canangkan bersama dengan guru-guru lainnya di MTs Negeri 2 Kendal. Bu Zulfa menceritakan bahwa Ide Sesabu berawal dari kondisi siswa zaman sekarang yang hampir hilang kebiasaan membacanya. Hal ini berimbas pada penguasaan Bahasa Asing yang kurang. Padahal, di era industry 4.0 bahasa Inggris menjadi alat komunikasi penting dalam berhubungan dengan dunia global.

Sebagai percontohan awal dilakukan di kelas 7A unggulan. Langkah-langkah  yang dia laksanakan yaitu berkoordinasi dengan pihak madrasah dan komite madrasah, mensosialisasikan di kelas-kelas, menghimbau siswa untuk meminjam buku berbahasa Inggris ke perpustakaan sekolah atau daerah dan/atau memiliki buku sendiri.

Bak peribahasa gayung bersambut, sosialisasi diawal bulan belum sampai seminggu sudah terlihat respon positif dari siswa. Mereka sudah membawa buku-buku berbahasa Inggris baik fiksi maupun non fiksi saat jam tambahan siang. Setelah para siswa menegaskan bahwa mereka siap menyukseskan gerakan ini, Barulah guru cantik ini memberitahukan prosedur pelaksanaannya.

“Saya terinspirasi dari video-video dan materi pelatihan program pengembangan inovasi untuk kualitas pembelajaran (PINTAR) Tanoto Foundation tentang penguatan literasi dan budaya baca,alagi siswa sudah terbiasa dengan membaca 15 menit diawal pembelajaran. Saya yakin program ini akan sukses dan membawa banyak perubahan,” ungkap Bu Zulfa. Kelebihan lain dari gerakan ini yaitu, Sesabu dibawa ke rumah dengan pantauan orangtua dan guru, sehingga semua pihak bisa bersinergi.

Setelah program dilaksanakan. Guru mulai memantau perkembangan penguasaan siswa pada buku yang dipegangnya. Di mulai dari penguasaan kosa kata. Pemantauan yang dilakukan yaitu mengajak siswa membuat kamus kecil yang berisi kosakata dari buku berbahasa Inggris yang dipegangnya. Kamus kecil ini dibuat sedemikian rupa mendekati kamus sebenarnya, diberi penyekat kecil yang digunakan sebagai pembatas tiap pergantian huruf.

Selain itu, dalam buku khusus yang berlabel Literasi Sesabu siswa juga menuliskan struktur Bahasa dan fungsi sosial teks. Analisis dari siswa juga meliputi struktur kalimat, terjemahan dari buku yang mereka pegang, bahkan analisis pesan moral atau pun manfaat membaca buku tersebut. Pemantauan ini dilaksanakan seminggu sekali setiap jam tambahan di kelas 7A.

Target yang terakhir yaitu siswa mampu mengungkapkan isi buku dengan menggunakan kalimat mereka. Dengan bantuan wali murid, bersama-sama membimbing dan mengarahkan untuk menjadi seorang penulis yang menghasilkan karya yang baik.

Menjelang satu bulan, beberapa siswa sudah mulai menyelesaikan tugas dan siap melanjutkan membaca buku lainnya. Pada akhir batas kesepakataan, siswa mempresentasikan hasil literasinya dalam pembelajaran. Hasilnya cukup signifikan meningkatkan penguasaan Bahasa Inggris, kemampuan literasi dan pemahaman pada buku.

Kepala MTs Negeri 2 Kendal Drs. H. Junaedi, M.Pd mendukung program ini,  “secara bertahap akan di galakkan implementasinya di madrasah,” ungkapnya.  Siswa kelas 7A, Muhammad Muwaffiq juga sangat antusias untuk melaksanakan program Sesabu ini.  “Kami jadi berpengalaman membaca banyak buku berbahasa Inggris. Kami jadi tertantang menguasai Bahasa Inggris,” kata  Muwafaq setelah mempresentasikan buku yang telah dibacanya. (HG44).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Dari September 2018  sampai Maret 2019, bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan baik di Balikpapan dan Kutai Kartanegara dan Universitas Mulawarman dan IAIN Samarinda, Tanoto Foundation telah melatih hampir dua ribu pendidik di Kaltim cara mengajar dengan menggunakan skenario MIKIR, singkatan dari Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi.

Banyak sekolah juga yang sudah mulai konsisten menerapkan di sekolah, terutama sekolah-sekolah mitra. Lalu apa keunggulan mengajar menggunakan skenario MIKIR ini dibandingkan dengan model mengajar seperti biasanya?

Menurut Ponidi, Pengawas Sekolah Dasar di Kutai Kartanegara, Skenario MIKIR membuat guru lebih mudah membuat perencanaan mengajar yang kreatif. “MIKIR itu suatu pola yang memudahkan guru menyusun skenario mengajar yang kreatif. Setiap unsur atau singkatan di MIKIR tinggal diturunkan jadi kegiatan di kelas. Guru tinggal memutuskan apa yang harus dilakukan  agar siswa mengalami, bisa berinteraksi dengan baik,  bagaimana cara berkomunikasinya, dan juga bagaimana bentuk refleksi atas pembelajaran hari itu,” ujarnya.
Selama ini, menurutnya,  guru kesulitan menyusun rencana mengajar. Padahal menyusun rencana pembelajaran adalah kewajiban bagi guru. Karena kesulitan,  guru kadang copy paste saja dari internet, atau membayar orang untuk membuatkannya.

Murid Jadi Rindu Gurunya
Wiwik Kustinaningsih, guru MIN I Balikpapan, merasakan banyak kelebihan mengajar pakai skenario MIKIR. “Tidak seperti dulu, siswa saya sekarang sering merindukan gurunya. Kalau saya bilang saya akan digantikan guru lain walau sebentar, mereka pasti protes,” ujarnya.

Menurutnya, dengan mengajak siswa mengalami (M dalam MIKIR) atau to experience, siswa menjadi mudah memahami. Saat mengajar tentang Gaya pada kelas IV, dia memfasilitasi siswa untuk melakukan berbagai aktvitas yang mengantar siswa  mengetahui sendiri apa itu gaya.

Misalnya untuk gaya gravitasi, kelompok siswa difasilitasi  menjatuhkan benda-benda dan mengidentifikasi apa yang terjadi.  Untuk gaya magnet, siswa langsung praktik dengan menarik benda dengan magnet dan mengidentifikasi apa yang terjadi dan menuliskan manfaat-manfaatnya. Demikian juga untuk gaya lainnya.    “Siswa menjadi lebih paham, mudah mengerti bahkan bagi yang masih susah menulis atau membaca pun jadi paham apa yang diajarkan. Mereka juga antusias dan gembira,” ujarnya

Menurut Khundori Muhammad, spesialis Pembelajaran Sekolah Dasar program Tanoto Foundation, menggunakan skenario MIKIR akan mempermudah guru melaksanakan K13. “Kesulitan membuat rencana pembelajaran model K13  akan mudah diatasi kalau guru menerapkan MIKIR,” ujarnya.

Dengan mengalami atau M dalam MIKIR, siswa menjadi lebih paham. “Beda kalau cuma mendengar, seperti yang banyak dilakukan selama ini, siswa akan lebih sering lupa,” ujarnya.

Selain diajak mengalami, dengan MIKIR, lewat unsur interaksi,  siswa juga difasilitasi untuk memiliki kecakapan sosial, “Karena hidup di zaman modern makin kompleks, siswa harus trampil mengungkapkan pendapat dan menerima pendapat orang lain. Dalam MIKIR, guru harus menyusun skenario bagaimana siswa bisa berinteraksi dengan baik, terutama interaksi ilmiah,” ujarnya.

Untuk memupuk rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi, dengan MIKIR, siswa juga diajak untuk berani tampil ke muka di setiap pelajaran. “Lewat refleksi, mereka juga diajak untuk melakukan evaluasi pemahaman mereka dan proses pembelajaran saat itu. MIKIR berusaha merangkum semua kecakapan yang harus dimiliki oleh siswa untuk hidup di abad 21,” ujar Khundori menutup. (HG33).

Peluncuran Program Ekspor Shopee Kreasi Nusantara dari Lokal untuk Global
Jambi, Harianguru.com – Setelah setahun mengimplementasikan Program PINTAR Tanoto Foundation, sekolah dan madrasah mitra di Kabupaten Tanjung Jabung Timur  menunjukkan keberhasilan program melalui unjuk karya Program PINTAR yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2019.

CEO Global Tanoto Foundation, Satrijo Tanudjojo menyebut penyebaran praktik-praktik baik pendidikan  ini adalah kunci untuk pemerataan kualitas pendidikan. Menurutnya, Program PINTAR menjangkau kurang dari 10% sekolah dan madrasah di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Bila hanya mengandalkan Program PINTAR, pemerataan kualitas pendidikan, akan memakan waktu lama untuk mecapai dampak yang signifikan.

"Tanoto Foundation adalah katalisator. Kami mengawali pengembangan program, pemerintah daerah yang mendiseminasikan untuk mencapai tujuan bersama sebagai satu tim Indonesia, yaitu anak-anak kita menjadi pintar, dapat bersaing di dunia global, dan peringkat anak-anak kita dalam tes PISA akan meningkat secara signifikan," tukasnya di sela-sela acara unjuk karya praktik baik Program PINTAR di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Wakil Bupati Kabupaten Tanjung Jabung Timur, H. Robby Nahliansyah sangat terkesan melihat para siswa yang mempresentasikan hasil karya pembelajarannya. "Saya melihat sendiri anak-anak kita yang biasanya takut menjawab pertanyaan orang dewasa, justru saat ini mereka percaya diri dan mampu mempresentasikan dengan baik hasil belajarnya. Hal ini adalah lompatan besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Tanjung Jabung Timur," tukasnya setelah mengunjungi stan-stan sekolah madrasah.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Tanjung Jabung Timur, Drs. Djunaedi Rahmat, menyampaikan komitmennya mendiseminasikan Program PINTAR ke seluruh sekolah dan madrasah di semua kecamatan. "Untuk tahap pertama, kami sudah menganggarkan Rp635 juta dana dari APBD untuk diseminasi Program PINTAR," katanya bersemangat.

Pada acara ini, sekolah dan madrasah di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, menunjukkan dampak implementasi Program PINTAR dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, manajemen berbasis sekolah, dan budaya baca.

Misalnya SDN 61/X Talang Babat yang siswanya menyimulasikan proses perubahan wujud benda dari cair menjadi padat, dengan membuat air laut menjadi kristal garam melalui proses pemanasan. Ada juga SDN 215/X Sungai Tanah yang menunjukkan media pengamatan terjadinya metamorfosis katak. Sementara SMPN 4 Tanjab Timur, siswanya mempraktikkan percobaan bahan limbah detergen yang berbahaya untuk kehidupan mahkluk hidup di sungai, atau SMPN 12 yang mendemontrasikan konsep tekanan dan luas penampang dalam kehidupan sehari-hari. 

Hasil karya tersebut menunjukkan kemampuan siswa menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran. Mereka juga tampak terlatih dalam menerapkan keterampilan abad 21, seperti kreativitas, berpikir kritis, kerja sama, dan komunikatif.

Pada acara Unjuk Karya Praktik Baik tersebut juga dilakukan  penandatanganan MoU diseminasi Program PINTAR antara Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama. Pelaksanaan diseminasi pelatihan ini akan menggunakan APBD 2019. Tanjung Jabung Timur menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang meresmikan penyebarluasan Program PINTAR. (HG44).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Pelatihan pembelajaran aktif Tanoto Foundation yang menggunakan skenario MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi) selama ini banyak diadopsi oleh Dinas Pendidikan dan Kemenag daerah mitra seperti Kukar dan Balikpapan. Sebagai Mitra Tanoto Foundation, mereka melatihkan ke pendidik yang bukan target sasaran langsung program. Jumlah pesertanya  pada tahun 2019 bahkan mencapai 695  orang terdiri dari kepsek, guru dan pengawas.  

Namun ternyata bukan entitas pemerintah saja yang tertarik untuk menyebarluaskan. Dua perusahaan besar pertambangan batu bara yaitu Indominco Mandiri dan sub contractornya Pama Persada, baru-baru ini ikut berperan membiayai pelatihan pembelajaran aktif tersebut. Pelatihan kali  diikuti  81 guru yang berasal dari desa Santan Tengah dan Santan Ilir di Marrangkayu, Kutai Kartenegara, Kaltim.

Menariknya, diseminasi ini terjadi karena ada seorang guru yang melihat postingan-postingan pembelajaran oleh guru-guru yang pernah dilatih oleh Tanoto Foundation di Facebook. Nama ibu itu adalah Kartini, ketua Kelompok Kerja Guru di Marrangkayu. “Jadi saya bergabung dengan grup Forum Peningkatan Kualitas Pendidikan di Facebook, dan saya sangat tertarik dengan model pembelajaran-pembelajaran yang membuat siswa aktif, kreatif dan inovatif yang diposting disitu yang selama ini belum banyak kami lakukan,” ujarnya (10 April 2019).

Dia kemudian menghubungi salah satu fasilitator daerah Tanoto Foundation di Marrangkayu, Nanang Nuryanto, melihat kemungkinan pelatihan untuk guru-guru di Marrangkayu. Setelah mendapatkan kepastian pelatihan bisa dilakukan,  ia mengajukan proposal pembiayaan ke Indominco. Proposal tersebut dengan cepat disetujui. Indominco  menalangi bagian konsumsi pelatihan, dan perusahaan sub contractornya yaitu PAMA Persada membiayai bagian honor fasilitator.

“Biasanya persebaran pelatihan pembelajaran aktif PINTAR  diusulkan oleh Kemenag, Dinas Pendidikan atau UPT, nah kali ini benar-benar digagas oleh guru, terutama olehi bu Kartini. Mereka ingin mengubah metodologi mengajar mereka yang selama ini lebih banyak klasikal atau ceramah, ke yang membuat siswa memiliki skill yang dibutuhkan untuk menghadapi era industry 4.0, “ ujar Nanang Nuryanto.

Keberhasilan Pelatihan

Pelatihan  yang dilakukan, menurut para peserta, membuahkan hasil yang memuaskan. Setelah tiga hari menjalani pelatihan dan praktik langsung di sekolah, guru-guru merasa memiliki ketrampilan mengajar yang baru. “Selama mengikuti pelatihan, saya merasa dapat paling banyak ilmu disini. Membuat lembar kerja dan rencana pembelajaran bisa hanya dengan acuan dari kompetensi dasar atau KD, tanpa  melihat buku teks lagi. Padahal sebelumnya saya selalu tergantung buku teks,” ujar ibu Hasnah, salah satu peserta.

Pada pelajaran IPA, Siswa-siswa SD 015 Marrangkayu diminta membuat mobil-mobilan, gasing dan dan pinang pusing atau berputar,   sambil mengidentifikasi dan melaporkan tentang hubungan pengaruh gaya dan gerak. Ratna, guru yang mengajar praktik pada pelajaran tersebut, ketika refleksi, merasa mendapatkan pengetahuan yang luar biasa setelah pelatihan, bahkan ia bercerita sambil menangis. “Dengan pembelajaran ini, anak-anak benar-benar menjadi aktif, mereka benar-benar terlibat dan  mengalami langsung. Kenapa ya pembelajaran dari dahulu tidak seperti ini,” ujar  guru dari SD 015 tersebut.

Siswa kelas 5 di SDN 015 Marrngkayu juga  berhasil mengidentifikasi pengaruh limbah terhadap lingkungan.  Siswa membuat percobaan memasukkan ikan ke berbagai media air yang dicampuri dengan minyak jelantah, rinso dan lain-lain. Mereka membuat laporan dan presentasi tentang hasil percobaan tersebut. 

Bahkan Ibu Kartini, penggagas diadakannya pelatihan ini, ingin juga nanti menyelenggarakan pelatihan modul 2 program PINTAR. “Pembelajaran aktif ini berhasil membuat siswa mengalami dan mengeksplorasi potensi siswa. Kami penasaran seperti apa modul II. Karena modul satu ini saja memberikan kami banyak pengetahuan baru,” ujarnya

Community Development Officer PT Indominco, Sulaiman, walaupun ingin melihat capaian lebih jauh,  mengatakan perusahaan siap untuk mendanai pelatihan modul II. “Kami siap membiayai lebih jauh kalau dampak positifnya nyata di lapangan dan isi dari modul II itu jelas sasarannya,” ujarnya.

Tulus Sutopo, Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara sangat menghargai kontribusi dua perusahaan tersebut. “Kita patut berterima kasih pada perusahaan-perusahaan yang perduli dengan peningkatan kualitas pendidikan di Kukar. Model ini bisa diikuti oleh perusahaan-perusahaan lainnya di kecamatan lainnya di  wilayah Kukar,” katanya.

Sandra Lakembe, Government Liason Officer Tanoto Foundation Kalimantan Timur, mewakili pihak Tanoto Foundation, juga sangat mengapresiasi inisaitif yang dilakukan guru-guru di Marrangkayu dan sumbangsih perusahaan terhadap pelatihan. “Kabupaten Kutai Kartanegara sedang defisit anggaran. Keterlibatan perusahaan dan sumber-sumber daya daerah yang lain sangat diperlukan untuk memastikan tersebarnya praktik pengajaran yang lebih sesuai dengan zaman ini,” ujarnya. (HG44).

Ilustrasi

Oleh Nurul Khasanah
Mahasiswa PAI STAINU Temanggung

Pemilu adalah salah satu hajat besar bangsa ini untuk menentukan arah tujuan bangsa ini. Pada tahun ini Indonesia akan membuat sejarah baru, yaitu dengan menggabungkan pemilihan presiden dengan pemilihan legislatif. Sehingga dalam satu waktu kita akan memberikan suara kita sebanyak lima kali dalam satu waktu.

Dalam daftar pemilih tetap yang dirilis oleh KPU sebanyak 192.828.520 rakyat Indonesia akan memberikan suaranya. Di antara sedemikian banyak rakyat Indonesia yang akan memberikan hak suaranya terdapat 40 juta pemilih yang terdaftar sebagai mahasiswa. Sehingga mahasiswa menjadi salah satu target para calon untuk mengait suaranya (Detik news.com, 8/04/2019).

Akan tetapi dengan rendahnya tingkat pemahaman mahasiswa tentang Pemilu menjadi di salah gunakan oleh kaum yang memiliki kepentingan dengan membuat berita yang tidak benar. Sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan mahasiswa terhadap para calon.

Budaya Golput
Golput merupakan tindakan secara sadar tidak menggunakan hak pilihnya. Golput ini dipengaruhi beberapa faktor di antaranya timbulnya rasa tidak percaya terhadap pemerintah. Budaya Golput setiap tahunnya menurun dimulai pada saat pemilu pertama kali yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum tahun 1999 tingkat partisipasi pemilih mencapai 90 persen lebih, setelah itu Golput selalu melebihi angka 15 persen baik pemilih pada pemilu eksekutif maupun legislatif pada tahun 2004, jumlah Golput mencapai 15,9 persen pada pemilihan legislatif sedangkan pada pilpres meningkat 21,8 persen dan 23,4 persen.

Pada tahun 2009 untuk pemilu legislatif jumlah Golput mencapai 29,1 dan pemilu pilpres jumlah Golput sebanyak 28,3 persen. Pada pemilu tahun selanjutnya jumlah Golput mencapai 24,89 persen untuk pemilu legislatif dan 30 persen lebih untuk pilpres (Tirto.id, 12/08/2018)

Salah satu penyebab mahasiswa di Yogyakarta pada tahun 2014 adalah di keluarkan peraturan bahwa pemilih wajib mendaftarkan dirinya sendiri tanpa diwakili oleh orang lain. Dengan keluarnya peraturan ini bila mahasiswa tersebut sadar dengan hak pilih yang dia sumbangkan bisa mengubah masa depan bangsa ini, tetapi bila mahasiswa tersebut semua tidak usah ribut pasti dia tidak akan mengurusnya. Juga kurangnya sosialisasi lembar A-5. Sehingga pada pemilu 2014 terdapat banyak sekali Golput yang terjadi.

Bagaimana dengan pemilu tahun ini apakah akan meningkat lagi? Semoga tidak karena kini masyarakat lebih aktif dalam mengawasi jalannya kampanye yang sedang dilakukan para calon legislatif maupun presiden. Juga kita sebagai mahasiswa harus lebih selektif dalam membaca berita karena banyak sekali berita bohong yang menyebar luas di kalangan masyarakat.

Dilarang Golput!
Untuk meningkatkan antusias mahasiswa dalam ikut serta memeriahkan pemilu atau pesta demokrasi yang akan digelar pada tanggal 17 April ini. Diperlukannya strategi khusus karena mahasiswa adalah kaum intelektual yang memiliki pemikiran kritis terhadap sesuatu, jadi harus ada strategi khusus untuk menarik hati mahasiswa itu sendiri. Dengan memberikan visi dan misi yang tidak muluk-muluk atau berlebihan tetapi dapat diwujudkan, sehingga tidak hanya sekedar janji belakang.

Sebagai mahasiswa kita harus dapat ikut serta untuk meningkatkan antusias masyarakat umum untuk menggunakah hak pilihnya. Karena dengan menggunakan hak pilih kita kita dapat ikut serta mengubah masa depan negara kita tercinta Indonesia menjadi lebih baik. Kita harus tanya pada diri kita, apakah masa depan negara kita bisa berubah menjadi lebih baik? Tentu saja bisa, karena masa depan bangsa ini ada di tangan kita.

Dalam perundang-undangan kita juga diatur bahwa golput tidak boleh dilakukan.
Pasal yang dapat diperumpamakan dengan golput tertera dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu khususnya Pasal 515, "Setiap orang yang dengan sengaja pada saat pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainya kepada pemilih supaya tidak menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya tidak sah, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak 36 juta rupiah.

Golput yang seperti diatur dalam Pasal 515 Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 sangat sulit ditemukan. Fenomena seperti dalam Pasal 515 esensinya bukan mempengaruhi atau mengajak untuk tidak memilih, justru mempengaruhi atau mengajak untuk memilih peserta pemilu tertentu. Melihat semangatnya, pasal ini sejatinya bukan direncanakan dan ditujukan kepada kelompok golput, tapi untuk seseorang atau kelompok yang melakukan politik uang (money politics) atau dalam istilah masyarakat umum disebut "serangan fajar".(detiknews.com, 26/06/2018)

Sekarang ini para calon presiden pasti mengampanyekan dilarang Golput, karena Golput itu hanya untuk orang yang ingin cari aman saja tidak mau ada perubahan. Sehingga, para mahasiswa juga perlu adanya gebrakan kampanye dilarang Golput. Sekarang tanyakan pada diri anda, mau ada perubahan? Maka dari itu jangan Golput.


Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget