Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Mahasiswa Dilarang Golput!

Ilustrasi

Oleh Nurul Khasanah
Mahasiswa PAI STAINU Temanggung

Pemilu adalah salah satu hajat besar bangsa ini untuk menentukan arah tujuan bangsa ini. Pada tahun ini Indonesia akan membuat sejarah baru, yaitu dengan menggabungkan pemilihan presiden dengan pemilihan legislatif. Sehingga dalam satu waktu kita akan memberikan suara kita sebanyak lima kali dalam satu waktu.

Dalam daftar pemilih tetap yang dirilis oleh KPU sebanyak 192.828.520 rakyat Indonesia akan memberikan suaranya. Di antara sedemikian banyak rakyat Indonesia yang akan memberikan hak suaranya terdapat 40 juta pemilih yang terdaftar sebagai mahasiswa. Sehingga mahasiswa menjadi salah satu target para calon untuk mengait suaranya (Detik news.com, 8/04/2019).

Akan tetapi dengan rendahnya tingkat pemahaman mahasiswa tentang Pemilu menjadi di salah gunakan oleh kaum yang memiliki kepentingan dengan membuat berita yang tidak benar. Sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan mahasiswa terhadap para calon.

Budaya Golput
Golput merupakan tindakan secara sadar tidak menggunakan hak pilihnya. Golput ini dipengaruhi beberapa faktor di antaranya timbulnya rasa tidak percaya terhadap pemerintah. Budaya Golput setiap tahunnya menurun dimulai pada saat pemilu pertama kali yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum tahun 1999 tingkat partisipasi pemilih mencapai 90 persen lebih, setelah itu Golput selalu melebihi angka 15 persen baik pemilih pada pemilu eksekutif maupun legislatif pada tahun 2004, jumlah Golput mencapai 15,9 persen pada pemilihan legislatif sedangkan pada pilpres meningkat 21,8 persen dan 23,4 persen.

Pada tahun 2009 untuk pemilu legislatif jumlah Golput mencapai 29,1 dan pemilu pilpres jumlah Golput sebanyak 28,3 persen. Pada pemilu tahun selanjutnya jumlah Golput mencapai 24,89 persen untuk pemilu legislatif dan 30 persen lebih untuk pilpres (Tirto.id, 12/08/2018)

Salah satu penyebab mahasiswa di Yogyakarta pada tahun 2014 adalah di keluarkan peraturan bahwa pemilih wajib mendaftarkan dirinya sendiri tanpa diwakili oleh orang lain. Dengan keluarnya peraturan ini bila mahasiswa tersebut sadar dengan hak pilih yang dia sumbangkan bisa mengubah masa depan bangsa ini, tetapi bila mahasiswa tersebut semua tidak usah ribut pasti dia tidak akan mengurusnya. Juga kurangnya sosialisasi lembar A-5. Sehingga pada pemilu 2014 terdapat banyak sekali Golput yang terjadi.

Bagaimana dengan pemilu tahun ini apakah akan meningkat lagi? Semoga tidak karena kini masyarakat lebih aktif dalam mengawasi jalannya kampanye yang sedang dilakukan para calon legislatif maupun presiden. Juga kita sebagai mahasiswa harus lebih selektif dalam membaca berita karena banyak sekali berita bohong yang menyebar luas di kalangan masyarakat.

Dilarang Golput!
Untuk meningkatkan antusias mahasiswa dalam ikut serta memeriahkan pemilu atau pesta demokrasi yang akan digelar pada tanggal 17 April ini. Diperlukannya strategi khusus karena mahasiswa adalah kaum intelektual yang memiliki pemikiran kritis terhadap sesuatu, jadi harus ada strategi khusus untuk menarik hati mahasiswa itu sendiri. Dengan memberikan visi dan misi yang tidak muluk-muluk atau berlebihan tetapi dapat diwujudkan, sehingga tidak hanya sekedar janji belakang.

Sebagai mahasiswa kita harus dapat ikut serta untuk meningkatkan antusias masyarakat umum untuk menggunakah hak pilihnya. Karena dengan menggunakan hak pilih kita kita dapat ikut serta mengubah masa depan negara kita tercinta Indonesia menjadi lebih baik. Kita harus tanya pada diri kita, apakah masa depan negara kita bisa berubah menjadi lebih baik? Tentu saja bisa, karena masa depan bangsa ini ada di tangan kita.

Dalam perundang-undangan kita juga diatur bahwa golput tidak boleh dilakukan.
Pasal yang dapat diperumpamakan dengan golput tertera dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu khususnya Pasal 515, "Setiap orang yang dengan sengaja pada saat pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainya kepada pemilih supaya tidak menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya tidak sah, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak 36 juta rupiah.

Golput yang seperti diatur dalam Pasal 515 Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 sangat sulit ditemukan. Fenomena seperti dalam Pasal 515 esensinya bukan mempengaruhi atau mengajak untuk tidak memilih, justru mempengaruhi atau mengajak untuk memilih peserta pemilu tertentu. Melihat semangatnya, pasal ini sejatinya bukan direncanakan dan ditujukan kepada kelompok golput, tapi untuk seseorang atau kelompok yang melakukan politik uang (money politics) atau dalam istilah masyarakat umum disebut "serangan fajar".(detiknews.com, 26/06/2018)

Sekarang ini para calon presiden pasti mengampanyekan dilarang Golput, karena Golput itu hanya untuk orang yang ingin cari aman saja tidak mau ada perubahan. Sehingga, para mahasiswa juga perlu adanya gebrakan kampanye dilarang Golput. Sekarang tanyakan pada diri anda, mau ada perubahan? Maka dari itu jangan Golput.


Label:

Posting Komentar

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget