Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Juni 2019

Ilustrasi Pembukaan Porsema
Semarang, Harianguru.com - Perhelatan Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) XI LP Ma'arif PWNU Jateng telah sukses digelar pada 24-27 Juni 2019 di Kabupaten Temanggung. Dengan hasil, Juara Umum 1 Kabupaten Kudus, Juara Umum 2 Banyumas, dan Juara Umum 3 Jepara.

Ketua Tim Media Center Porsema Ziaul Khaq, mengapresiasi peran media massa, baik cetak atau online yang membantu publikasi Porsema sejak dari awal hingga akhir. "Kami dari Tim Media Center mengapresiasi rekan-rekan wartawan yang telah meliput dan mempublikasikan Porsema dari awal sampai akhir, sehingga warga NU yang jauh dari Jawa Tengah dapat mengikuti perhelatan bergengsi ini," kata dia, Sabtu (29/6/2019).

Ia mengakui, tanpa adanya publikasi di media, Porsema tidak akan dapat diketahui publik, baik itu warga NU atau masyarakat luas. "Intinya, kami sangat bangga dengan rekan-rekan jurnalis, baik cetak, online, televisi, atau radio bahkan Youtuber yang telah memublikasikan Porsema ini," lanjut dia.

Sementara itu, Sekretratis Panitia Porsema XI LP Ma'arif PWNU Jateng, Abdulloh Muchib juga menyampaikan bahwa banyak apresiasi dari luar karena publikasi Porsema yang begitu gencar. "Kami secara internal memiliki tim media, dan juga banyak wartawan yang meliput baik itu yang dipublikasikan di media NU atau media umum," kata dia.

Fungsi media massa, menurut dia, memang menginformasikan, namun dalam Perhelatan Porsema kali ini juga mengedukasi betapa pentingnya berdakwah melalui media massa yang isinya tentang kegiatan positif Ma'arif melalui Porsema. "Semoga amal baik dari semua elemen khususnya media nanti mendapat balasan setimpal. Tanpa adanya bantuan media, maka Porsema akan sepi dan tidak dapat diketahui masyarakat secara luas," lanjut dia. (hg55/hi).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Kreativitas untuk menumbuhkan budaya membaca semakin banyak muncul di sekolah. Salah satunya adalah Sekolah Dasar Negeri  020 Balikpapan Tengah, Kalimantan Timur. Siswa di sekolah ini mengumpulkan koin, dan bersama guru dan komite pergi ke toko buku untuk membeli buku melengkapi koleksi buku yang sudah ada di sekolah. Koin tersebut juga dimanfaatkan untuk membeli pipa paralon yang dibentuk sedemikian rupa  menjadi dudukan buku yang sudah dibeli. 

Pengumpulan koin tersebut dilakukan tiap hari sabtu. Tiap kelas  memiliki kaleng koin sendiri. Koin masing-masing kelas kemudian dikumpulkan oleh guru yang bertanggung jawab. Jumlah yang terkumpul setelah empat-lima bulan efektif pembelajaran mencapai hampir dua juta rupiah. 

Selain tiga orang lainnya, Rayhana adalah salah satu siswa yang terpilih memilih dan membeli buku-buku hasil pengumpulan koin tersebut.  Selain berhak memilih buku, ia juga berhak menjadi peminjam dan pembaca pertama buku-buku yang dipilihnya.   Setelah selesai, ia harus mengembalikan lagi buku-buku tersebut ke sekolah.

“Rayhana dan yang tiga siswa lainnya berhak demikian karena sering tampil ke depan untuk bercerita pada saat acara Sabtu Ceria. Acara Sabtu Ceria kami adakan  tiap bulan sekali selama kurang lebih 45 menit. Setiap anak bebas menunjukkan kemampuannya pada saat itu, menyanyi, baca puisi, menunjukkan keberhasilan pembelajaran dan  bercerita” ujar Rahadiani Dwi, guru kelas II, 29 Juni 2019.

Rahadiani berharap dengan penghargaan demikian, siswa-siswa yang lain juga terpacu untuk lebih banyak membaca buku dan mau tampil bercerita di Sabtu Ceria.  

“Buku yang dipilih oleh siswa biasanya juga buku yang disukai oleh teman-teman sebayanya. Ini poin yang amat penting karena program kita adalah bagaimana menumbuhkan kesukaan membaca pada anak-anak. Supaya siswa gemar membaca, biarkan mereka memilih buku sesuai selera mereka,” ujar Listiyorini, guru kelas IV A yang menemani siswa belanja buku.  

Menurut Listiyorini, kegiatan pengumpulan koin dan pembelian buku  sendiri oleh siswa ini menumbuhkan sifat memiliki siswa terhadap buku-buku di sekolah. “Karena mereka sendiri yang kumpulkan koin dan membeli  buku, mereka menjadi lebih merasa memiliki terhadap buku-buku tersebut,” ujarnya.

Pembelian Pipa Untuk Pipa Baca
Selain untuk beli buku, hasil Koin Literasi tersebut  juga dibelikan pipa parallon yang dibelah sebagian untuk  digunakan sebagai dudukan buku yang sudah dibeli tersebut. Pipa tersebut kemudian dipasang di setiap dinding luar depan kelas. Kelas satu sampai kelas enam memiliki pipa baca masing-masing dan kurang lebih 80 buku yang berhasil dibeli dengan koin tersebut diletakkan secara merata di pipa-pipa baca tersebut setiap hari. 

“Supaya jumlah buku yang kami beli banyak, kami tidak membeli di toko buku yang mahal. Walaupun kualitas kertasnya agak berbeda, tapi isinya bagus,” ujar Listyorini.  

“Untuk mengakomodasi program 15 menit membaca sebelum pembelajaran yang kami laksanakan tiap hari pembelajaran, kami sebenarnya sudah memiliki pojok baca di tiap kelas. Buku-buku di pojok baca, berasal kebanyakan dari siswa. Tiap siswa dulu sebelumnya menyumbang rata-rata satu buku atau lebih secara sukarela. Dengan adanya pipa baca yang terletak di dinding luar kelas dan pojok baca yang ada di dalam kelas, siswa semakin sering terpapar dengan buku. Kemana-mana mereka akan lihat buku.  Kita berharap dengan strategi memapar siswa dengan buku ini, siswa tergerak untuk selalu baca buku,” ujar ibu kepala sekolah Linceria Hutapea.

Awal Mula Program
Program literasi ini muncul setelah kepala sekolah dan guru di sekolah tersebut dilatih program PINTAR Tanoto Foundation tentang manajemen sekolah dan peran serta masyarakat, yang di dalamnya juga berisi menggerakkan program budaya baca. Setelah ikut pelatihan tersebut, pihak sekolah langsung mengundang komite dan orang tua siswa mengadakan rapat untuk menggerakan budaya baca dan program-program lainnya. Komite dan orang tua sepakat menyukseskan program tersebut.

“Pembuatan pipa paralon untuk dudukan baca itu dilakukan oleh orang tua siswa. Mereka juga aktif membantu pada banyak kegiatan yang lain, misalnya pembuatan taman, acara olahraga, halal bi halal dan lain-lain. Ini terjadi setelah komite dan orang tua kami ajak musyawarah secara terbuka. Kami ceritakan kebutuhan sekolah dan keterbatasan sekolah untuk menanggung semuanya,” ujar Rahadiani.

Menurut Mustajib, Communication Specialist Program PINTAR Tanoto Foundation Kaltim, gerakan koin literasi yang dilakukan oleh SDN 020 perlu direplikasi oleh banyak sekolah lain. “Gerakan seperti ini sudah dilakukan oleh beberapa sekolah lain, seperti  MTs Negeri I Balikpapan, MINU Balikpapan dan lain-lain, dan masih perlu direplikasi oleh banyak sekolah lain.  Salah satu hal yang paling penting dalam program menumbuhkan gemar membaca adalah ketersediaan buku yang bervariasi secara terus menerus. Untuk memastikan ketersediaan buku yang banyak dan bervariasi, peran orang tua siswa sangat penting. Mereka perlu diajak bermusyawarah. Sekolah memiliki keterbatasan untuk bisa menanggung semuanya,” ujarnya.

Program PINTAR merupakan program peningkatan pendidikan dasar hasil kerjasama Tanoto Foundation dengan Dinas Pendidikan dan Kemenag. Di Balikpapan, program ini menyasar ke 24 sekolah SD/MI dan SMP/MTs. Budaya Baca menjadi salah aktivitas utama program ini. (HG44),

Temanggung, Harianguru.com - Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) XI LP Ma'arif PWNU Jateng pada Kamis (27/6/2019) resmi ditutup di Graha Bumi Pala Temanggung.

Berdasarkan SK Nomor 12/PW.11/LPM/SK/VI/2019 tentang Penetapan Juara 1, 2, 3 Porsema XI Tingkat Jawa Tengah tahun 2019, Juara Umum 1 LP Ma'arif NU Kudus, Juara Umum 2 LP Ma'arif NU Banyumas, Juara Umum 3 LP Ma'arif NU Jepara.

Dalam sambutannya, Ketua LP Ma'arif PCNU Temanggung H. Miftakhul Hadi menyampaikan bahwa kejuaraan bukan tujuan utama kegiatan Porsema. "Yang tidak juara jangan berkecil hati karena Porsema ini tujuannya untuk silaturahmi," beber dia.

Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng R. Andi Irawan mengatakan bahwa tujuan utama Porsema ada tiga. "Pertama adalah media silaturahim, untuk menyambut persaudaraan warga Nahdliyin. Kedua, menyiarkan bahwa NU memiliki peran besar untuk memberikan sumbangsih pada kemajuan pendidikan di Indonesia khususnya di Jawa Tengah," beber dia.

Data yang kami dapat dari Kemeneg RI beberapa bulan lalu, kata Andi, 95 persen madrasah di Indonesia swasta. "Mayoritasnya adalah miliki NU tentu adalah LP Ma'arif. Jelas ini adalah bentuk nyata peran Ma'arif dalam memajukan mutu pendidikan," kata dia.

Ketiga, memberikan media atas bakat dan minat dalam bidang olahraga dan seni. "Jadi, intinya ada pada nomor satu yaitu menjaga ukhuwah nahdliyah lewat silaturahim," tegas dia.

Pihaknya juga menegaskan, bahwa ke depan perlu kegiatan kontinu berupa penyiapan atlet baik olahraga dan seni di madrasah dan sekolah. "Penyiapan atlet tidak sekadar saat Porsema namun harus ada pembinaan kontinu," ujar dia.

Dalam Porsema XI ini, mengangnat tema Menuju Generasi Emas Aswaja An-Nahdiyah yang Sportif, Kreatif, dan Berkarakter. "Ada tiga kata kunci di sini, yaiti sportif kreatif dan berkarakter. Dalam olahraga dan seni, membutuhkan sportivitas, kreativitas dan karakter. Hal itu kami harap lahir dari Porsema ini sesuai basic dari nilai-nilai pesantren," tandas dia.

Sekda Temanggung, menyampaikan bahwa dipilihnya Temanggung menjadi wahana sosialisasi kearifan lokal dan wisata Temanggung. "Kami bangga Temanggung menjadi Porsema XI LP Ma'arif PWNU Jateng. Ini merupakan wahana sosialisasi karena Temanggung ini kota kecil sebagai kota tengah-tengahnya Jawa Tengah, namun dipilih menjadi tuan rumah Porsema," kata Sekda.

Ia juga mengajak kepada semua peserta Porsema untuk memaknai kesehatan jasmani dan rohani sebagai wahana pembangunan banga.

Selain Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng, Ketua LP Ma'arif PCNU Temanggung dan Sekda, hadir juga Tim SC Panitia Porsema Fakhrudin Karmani dan Ziaul Khaq, Wakil Ketua Panitia Porsema Hamidulloh Ibda, Sekretaris Panitia Porsema Abdulloh Muchib, Bendahara Panitia Porsema Ahmad Muzammil dan ribuan peserta se Jateng.

Wakil Ketua Panitia Porsema Hamidulloh Ibda, mengatakan bahwa dari rekapitulasi perolehan medali, Kudus mendapat 15 emas, 8 perak, dan 5 perunggu. Untuk Banyumas mendapat medali 13 emas, 3 perak, 6 perunggu. "Sedangkan Jepara mendapat medali 12 emas, 14 perak, dan 3 perunggu," kata dia.

Penetapan Juara Umum sesuai dengan perolehan medali emas yaitu Kudus. "Untuk peringat di bawahnya ada Temanggung, Pati, Batang, Pekalongan, Kota Semarang, Grobogan, Wonosobo dan lainnya," kata dia.

Secara resmi, Sekda Suryono menutup kegiatan Porsema pada pukul 10.41 WIB. Kegiatan dilanjutkan penyerahan piala dan penghargaan kepada atlet olahraga dan seni yang juara. (hg98/Irfan).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Tahun 2017, bukan sekolah-sekolah favorit yang ada di Jakarta, Bandung, Surabaya dan lain-lain, tapi sekolah  terpencil yang terletak di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur  yang jadi Juara Satu Budaya Mutu Nasional yaitu Sekolah Dasar 003 Kecamatan Loa Kulu. Hebatnya lagi, pada tahun 2019,  sekolah ini juga mengantarkan ibu Warni Arimbi, sang kepala sekolah, menjadi juara satu kepala Sekolah SD berprestasi se-Kaltim. Nah apa rahasia sekolah terpencil di Kutai Kartanegara ini bisa mencapai prestasi demikian?  Warni Arimbi mengungkapkan strategi-strateginya.

Menurut Warni,  untuk mendapatkan juara satu budaya mutu nasional, dia jadikan inklusi sebagai ‘jualan’.  “Selain  memperbaiki manajemen, pembelajaran aktif, dan penerapan program budaya baca, sekolah kami juga menerima dan memberikan perhatian khusus yang besar kepada anak-anak inklusi,” ujar salah satu fasilitator daerah program PINTAR Tanoto Foundation untuk Kutai Kartanegara ini, 24 Juni 2019. 

Rata-rata  2-4 anak-anak inklusi terdapat di tiap kelas sekolah ini. Saat ini sekolah dihuni 325 siwa dan memiliki 12 rombongan belajar.   27 siswa diantaranya masuk kategori inklusi.  Siswa-siswa inklusi tersebut ada yang hiperaktif, tuna ganda, tuna grahita, low vision,  tuna daksa, tuna rungu, tuna wicara, autis,  dan kesulitan belajar. “Jumlah siswa inklusi tergolong  banyak, bisa mengalahkan sekolah luar biasa yang biasa per kelasnya 3-4 siswa saja,” ujar Warni.

Siswa yang dianggap belum bisa bergabung dengan kelas inklusi, ditempatkan terlebih dahulu di kelas yang khusus anak inklusi. Jumlah siswa di kelas khusus ini bisa mencapai 12 orang.

Agar sekolah profesional dalam menangani siswa inklusi, tiga guru di sekolah tersebut diutus untuk belajar khusus penanganan siswa inklusi. Ibu Suparti dan Yohana belajar di Sekolah Luar Biasa selama 3,5 bulan. Ibu Yohana kemudian diutus kembali belajar bersama ibu Zuhro kursus khusus penanganan inklusi selama 6 bulan.

Ketiga guru tersebut kemudian mengajarkan ketrampilannya pada guru-guru yang lain lewat pertemuan kelompok kerja guru (KKG) mini yang diadakan tiap Sabtu di sekolah tersebut. “Dengan program ini, secara bertahap, semua guru memiliki kemampuan dasar yang baik menangani siswa-siswa Inklusi,” ujar Warni.
Menurut Warni, sekolah mau menerima banyak anak inklusi karena sekolah inklusi yang lain jauh dari situ, yaitu di Tenggarong Kota. 

Banyak sekali tantangan mengajar siswa-siswa inklusi. “Menghadapi mereka harus sabar dan harus benar-benar tahu wataknya. Ada yang suka tiba-tiba keluar menikmati hujan, ada yang tidak mau bergaul, ada yang suka naik-naik meja dan gaduh dan berbagai watak lainnya,” kata ibu Suparti, guru yang menjadi penanggung jawab khusus  inklusi.

Menurut ibu Titik, pengajar kelas satu di sekolah tersebut, penerapan metode pembelajaran aktif program PINTAR Tanoto Foundation membuat siswa inklusi lebih mudah bersosialisasi dengan kawan-kawannya. “Siswa jadi lebih banyak belajar bersosialisasi dan belajar bersikap dengan lebih baik kepada temannya karena proses pembelajaran melibatkan pembentukan kelompok,” ujarnya.

Sebelumnya pada tahun 2016,  sekolah ini juga pernah juara ke-6  budaya mutu nasional dari 134 sekolah peserta se Indonesia. Penilaian budaya mutu ditekankan pada mutu MBS, pembelajaran, UKS, ekstra kuriler, dan perpustakaan. Tidak hanya berdasarkan portofolio yang dikirimkan, petugas kementrian juga langsung turun langsung menilai sekolah selama beberapa hari. “Kalau kita menekankan pada ekstra kurikuler, kita akan selalu kalah.  Sekolah-sekolah di Jawa sangat hebat ekstra kurikulernya. Kita tekankan pada aspek inklusi, yang merupakan bagian MBS, dan juga pembelajarannya,” ujar Warni mengungkapkan strateginya.

Untuk budaya baca, sekolah ini secara aktif menyelenggarakan 15 menit membaca sebelum pembelajaran. Sekolah juga menetapkan jadwal hari wajib kunjungan ke perpustakaan bagi tiap kelas. Sekolah juga mengadakan kerjasama dengan perpusda. Seminggu sekali Perpusda datang ke sekolah dengan mobil pustaka. Sekolah juga memberikan penghargaan kepada siswa yang sering berkunjung dan membaca atau pinjam buku di perpustakaan.

Setelah terpilih Juara Satu Kepsek berprestasi tingkat SD di Kaltim, saat ini Warni Arimbi sedang mempersiapkan diri ikut lomba kepala sekolah berprestasi tingkat nasional. “Semoga terpilih dan sekali lagi mengharumkan nama sekolah,” ujarnya menutup. (HG44).

Semarang, Harianguru.com - Lembaga Pendidikan Ma’arif PWNU Jateng melalui Bidang Diklat dan Litbang pada tahun 2019 ini menggelar Lomba Karya Tulis Ilmiah (LTKI) Tingkat Nasional 2019. Hal itu disampaikan Ketua Panitia Lomba Karya Tulis Ilmiah (LTKI) Tingkat Nasional 2019 LP Ma’arif PWNU Jateng Hamidulloh Ibda pada Senin (17/6/2019).



“Lomba Karya Tulis Ilmiah (LTKI) Tingkat Nasional 2019 adalah ajang kompetisi berupa karya ilmiah hasil riset, pengembangan pemikiran/gagasan, kajian konseptual, yang diselenggarakan Bidang Diklat dan Litbang LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah dari jenjang pelajar, mahasiswa, tendik, guru, dan dosen, baik dari internal atau eksternal LP Ma’arif,” kata dosen STAINU Temanggung itu.



Untuk temanya, lomba artikel ilmiah 2019 ini yaitu “Strategi Memajukan Pendidikan Ma’arif NU di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0”. Panitia sengaja membagi LKTI ini ke dalam empat kategori yang mengakomodir semua pelajar, mahasiswa, guru, dosen, peneliti, dan masyarakat luas.



Untuk kategori pertama, yaitu disebut Ma’arif 1 yang terdiri atas pelajar madrasah/sekolah jenjang MA/SMA/SMK di bawah LP Ma’arif se Indonesia. Kategori kedua, yaitu Ma’arif yang terdiri atas tenaga kependidikan, guru, kepala sekolah/madrasah, dan pengurus LP Ma’arif di tingkat MWC dan PC se Indonesia.



Ketagori ketiga, yaitu Ma’arif 3  yang terdiri atas mahasiswa/mahasiswi jenjang S1-S3 di bawah kampus yang berafiliasi dengan NU/LPTNU se Indonesia. Ketagori keempat, yaitu Ma’arif 4 yang terdiri atas pelajar, mahasiswa/mahasiswi jenjang S1-S3, dosen, guru, dan masyarakat luas di luar Ma’arif dan NU se Indonesia.



Total hadiah yaitu Rp. 32.800.000. Unatuk kategori Ma’arif 1, Ma’arif 2, Ma’arif 3, dan Ma’arif 1, untuk Juara 1 mendapatkan Rp. 2.500.000, Juara 2 Rp. 2.000.000, Juara 3 Rp. 1.500.000. Sedangkan Juara Harapan 1 Rp. 1.000.000, Juara Harapan 2 Rp. 700.000, dan Juara Harapan 3 Rp. 500.000.



Untuk Juara 1, 2, 3 dan Harapan 1, 2, 3, akan mendapatkan voucher penerbitan buku CV. ASNA PUSTAKA milik LP Ma'arif PWNU Jateng. Semua peserta akan mendapatkan sertifikat, dan naskahnya akan berkesempatan dibukukan, dan diseleksi untuk dimuat di Jurnal ASNA milik LP Ma'arif PWNU Jateng.



Jadwal pelaksanaan, untuk sosialisasi dimulai pada 27 Juni 2019 sampai 30 November 2019. Lalu pengiriman naskah dimulai 27 Juni 2019 sampai 30 November 2019, seleksi administrasi pada 27 Juni 2019 sampai 30 November 2019, dan penilaian dilakukan 30 November 2019 sampai 30 Desember 2019. Pengumuman dilakukan pada 30 Desember 2019, dan penganugerahan hadiah pada awal Januari 2020.



Semua peserta harus mendaftar via online, lalu mengirim naskah dalam bentuk file bukan hardcopy ke email asnapustaka@gmail.com. Semua informasi yang belum jelas, dapat ditanyakan kepada panitia, yaitu Khoirun Niam 082276951949 dan Hamidulloh Ibda 08562674799.



Informasi lebih lanjut, silakan datang ke sekretariat Kantor LP Ma’arif PWNU Jateng Jalan Doktor Cipto No. 180, Sarirejo, Semarang Timur, Karangtempel, Kec. Semarang Tim., Kota Semarang, Jawa Tengah.



Pengumuman akan dilakukan melalui website maarifnujateng.or.id instagram: Maarifjateng / https://www.instagram.com/maarifjateng/, Facebook Majalah Maarif / https://www.facebook.com/majalah.maarif.16 dan Fanspage LP Ma’arif NU Jawa Tengah / https://www.facebook.com/lpmnujateng/.



Untuk pendaftaran dilakukan secara daring melalui laman yang sudah disiapkan, yaitu klik DI SINI. Sedangkan wajib peserta mengirim naskah dan silakan download panduannya klik DI SINI. Untuk template naskah dapat diunduh DI SINI. (Irfan).

Temanggung, Harianguru.com - Melalui Asna Pustaka, Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jateng melaunching dua buku karya siswa-siswa peserta Pekan Olahraga dan Ma'arif (Porsema) XI di ruang sekretariat panitia, Selasa (25/6/2019) di rektorat STAINU Temanggung.

Dalam kesempatan itu, Sekretaris Panitia Porsema XI LP Ma'arif PWNU Jateng Abdulloh Muchib mengapresiasi dua buku tersebut. "Ini adalah sejarah, karena sudah 22 tahun baru kali ini LP Ma'arif PWNU Jateng dapat menerbitkan buku hasil karya peserta Porsema," kata dia.

Panitia sangat mengapresiasi karena meski perhelatan Porsema hanya empat hari, namun dapat mendorong siswa menulis. "Ini bagian dari jihad literasi yang kami lakukan untuk mengglobalkan kiai atau ulama NU lokal," ujar dia.

Sementara itu, Ketua Tim Penulisan Buku LP Ma'arif PWNU Jateng Abdul Halim menegaskan bahwa penulisan buku di ligkup siswa memang jarang. Menurut dia, dua buku ini adalah emas berharga di dunia literasi. "Yang satu berisi kumpulan puisi, kedua berisi kumpulan biografi kiai atau ulama lokal NU yang sangat langka," tukas aktivis asal Pemalang itu.

Direktur Asna Pustaka Hamidulloh Ibda menjelaskan, bahwa LP Ma'arif PWNU Jateng periode 2018-2023 ini sudah memiliki penerbit sendiri. "Dua buku ini merupakan buku pertama terbitan Asna Pustaka yang dikelola Bidang Diklat dan Litbang LP Ma'arif PWNU Jateng," katanya.

Penulis buku Sing Penting NUlis Terus ini juga menjelaskan, buku pertama berjudul Puisi untuk Nusantara. Isinya adalah kumpulan puisi siswa-siswi jenjang SD/MI sampai SMA/SMK/MA Ma'arif se Jawa Tengah. "Saat ini sangat sedikit anak atau bahkan orang dewasa mau mengurusi puisi. Lewat buku ini, ke depan kami akan rumuskan konsep untuk meningkatkan keterampilan menulis, mengritik dan mengapresiasi sastra," lanjut penulis buku antologi puisi Senandung Keluarga Sastra tersebut.

Sedangkan buku kedua berjudul Riwayat Sang Penuntun berisi kumpulan biografi kiai NU lokal se Jawa Tengah yang ditulis peserta Porsema jenjang SMP/MTs dan SMA/SMK/MA. "Dari buku ini, saya kenal KH. Abdul Fattah, KH. Muhammad Najib dari Banjarnegara, KH. Turmudzi Al-huda dari Batang, lalu Kiai Khubaidi Usman dari Banyumas, Mbah Kalimi dari Blora, Kiai Abdullah dari Kendal dan lainnya. Beliau adalah kekayaan NU dan khususnya Ma'arif untuk diteladani," beber dia. (hg55/Ziaul).

Oleh: Nurchaili
Peserta study visit ke Korea Selatan/Juara I Guru Madrasah Aliyah Berprestasi 
Tingkat Nasional Tahun 2018/Mengajar di MAN 4 Aceh Besar

Alhamdulillah saya menjadi bagian dari rombongan study visit  berupa short course dan studi banding pendidikan ke Seoul, Korea Selatan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Kementerian Agama RI ini sebagai bentuk penghargaan dan afirmasi bagi GTK madrasah berprestasi. Study visit diikuti oleh 22 GTK pemenang pertama tahun 2017 dan 2018 dan pejabat dari Direktorat GTK Madrasah. Saya merasa bahagia dan senang, karena di kesempatan yang istimewa ini, saya bisa belajar dan melihat sekolah-sekolah di kampungnya “SAMSUNG”, smartphone yang semakin mendunia. Sebuah negara dengan teknologi yang semakin terdepan.

Korea Selatan (Korsel) menempati peringkat pertama sebagai negara dengan sistem pendidikan global terbaik dunia versi Pearson (www.bbc.com). Hal yang sama juga dilansir lembaga penelitian The Social Progress Imperative, yang menempatkan pendidikan dasar negara yang memiliki koneksi internet tercepat di dunia ini pada peringkat pertama dunia tahun 2018. (https://www.idntimes.com).

Selama sepekan  (28 April-5 Mei 2019), selain mengikuti kuliah singkat di Seoul National University (SNU) saya dan rekan-rekan diberi kesempatan untuk studi banding ke sekolah-sekolah di Seoul. Dua sekolah yang saya kunjungi adalah SNU Middle School dan Dae Gwang Middle School. Keduanya adalah sekolah setingkat SMP. SNU Middle School adalah sekolah laboratorium yang menjadi percontohan bagi sekolah-sekolah lainnya di Korea. Sekolah ini merupakan sekolah putra dengan jumlah siswa 640 orang. Sementara Dae Gwang Middle School adalah sekolah negeri yang memiliki 365 siswa dengan 32 orang guru. Sekolah ini berdiri sejak 25 November 1947.

Medio 1998-2000 Pemerintah Korsel mulai melengkapi sekolah-sekolah dengan komputer dan internet. Sejumlah 34 ribu guru diberikan komputer dan dilatih. Lalu dibangun 90 ribu ruang komputer dengan biaya lebih kurang 5.500 miliar won (1 won setara Rp. 13). Kurun waktu tiga tahun, komputer dan internet sudah merata di seantero negeri produsen mobil KIA dan Hyundai ini. Sejak saat itu semua sekolah di Negeri K-Pop ini sudah menggunakan media pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Media pembelajaran berbasis TIK ini telah mengambil tempat yang tak tergantikan.  Terlebih  saat  ini,  dimana  Revolusi  Industri  4.0  mendatangkan  berbagai tantangan baru.

Di Korea sudah sepuluh kali terjadi perubahan kurikulum. Semua ini dilakukan untuk melahirkan generasi Korea yang berbudi pekerti luhur, independen, bisa bekerjasama, kreatif dan inovatif. Karekteristik sekolah-sekolah di Korea berbeda dengan di Indonesia. Di Dae Gwang Middle School misalnya. Di sekolah ini diterapkan Free Semester System dimana saat kelas satu ada semester yang hanya belajar saja tanpa ujian. Sekolah ini juga mengajarkan drama, pembimbingan program pilihan seperti Chef (memasak), Carpentering (pertukangan Kayu), Drone dan lainnya. Sekolah ini merupakan sekolah digital. Semua guru diberikan tablet, dan untuk siswa disediakan 210 tablet. Ruang kelas dilengkapi TV 60 inc. dan fasilitas wi-fi serta papan tulis cerdas (smart board). Saya turut mencoba kecanggihan smart board ini.

Kurikulumnya juga terdapat beberapa keunikan, seperti adanya kegiatan relawan (volunteer) baik di sekolah maupun di luar, perencanaan pendidikan karir yang dilaksanakan setiap hari Jum’at. Ada juga kemah asrama yang dilakukan setiap dua hari, tiga malam dalam seminggu secara bergantian, kampung Inggris, dan ekspo sains berupa hasil karya/temuan siswa. Mereka juga mengadakan kegiatan amal setiap tahun dan praktik pengadilan yang diberi label “Student’s Mock” untuk mengadili siswa yang melanggar aturan sekolah. Sekolah ini juga mewajibkan kegiatan literasi bagi siswanya dengan membaca buku minimal satu judul dalam sebulan. Kegiatan ini didukung oleh dinas pendidikan yang memberi bantuan 5 juta won untuk membeli buku baru setiap tahunnya.

Oya hampir terlupakan. Sekolah yang saya kunjungi di negeri ginseng ini semua tertata rapi, indah dan nyaman. Lingkungan dan ruang kelasnya sangat bersih dan asri. Bagaimanakah dengan kita? Pendidikan Indonesia akan bisa lebih baik dan bersaing dengan negara lainnya jika semua pihak memiliki niat yang tulus dan ikhlas dalam mendidik generasi bangsa yang cerdas dan berakhlakul karimah. Semoga!

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Agar siswa senang tinggal di sekolah,  maka kelas sebagai tempat belajar anak harus nyaman, indah, rapi  dan mendukung pembelajaran. Namun bagaimana caranya agar tercipta kelas semacam itu tanpa harus membebani sekolah untuk membiayainya. Nah SDN 011 Balikpapan Tengah punya kiatnya, yaitu dengan mengadakan lomba bedah kelas.

Lomba bedah kelas adalah lomba yang diikuti oleh orang tua siswa masing-masing kelas yang tergabung dalam komite kelas atau paguyuban kelas untuk menunjukkan kelas yang paling rapi, indah dan menunjang pembelajaran. Untuk memperbaiki kelas tempat anaknya belajar tersebut, mereka tidak memakai dana sekolah tapi dana bersama-sama yang dihimpun komite kelas masing-masing.

Nah bagaimana cara mengawali agar lomba seperti ini bisa terlaksana. Pertama, agar orang tua siswa memahami bahwa sekolah tidak bisa membiayai semua kebutuhan sekolah,  pada waktu rapat penerimaan rapor siswa, kepala sekolah menceritakan secara terbuka keuangan, dan kebutuhan sekolah, dan apa yang diharapkan dari orang tua siswa untuk berperan. 

Kedua, penguatan oleh komite sekolah tentang pentingnya peran komite mendukung sekolah. Lewat keterbukaan tersebut, orang tua menjadi sadar bahwa tentang kebutuhan sekolah dan apa yang bisa mereka sumbangkan secara suka rela. Pertemuan tersebut akhirnya menyepakati bahwa, agar mereka termotivasi menyumbangkan dana, tenaga, dan lain-lain ke sekolah,  mereka semua ikut dalam lomba bedah kelas yang diselenggarakan oleh komite sekolah.

“Upaya membangkitkan peran orang tua siswa ini semakin terdorong setelah ikut pelatihan Peran Serta Masyarakat yang diadakan oleh Program PINTAR Tanoto Foundation. Kami langsung eksekusi di sekolah dengan mengadakan lomba ini, “ ujar Sahidayati, Kepala Sekolah, 31 Mei 2019. 

Lomba ini sangat efektif memotivasi orang tua siswa untuk berperan secara sukarela mewujudkan kelas yang menunjang anak-anak mereka belajar. Selama dua bulan, waktu yang diberikan oleh juri untuk membenahi  kelas, orang tua siswa yang tergabung dalam komite kelas, ramai-ramai bergotong-royong memperbaiki kelas masing-masing. Mereka biasa datang biasanya pada hari sabtu atau minggu sore.

Mereka menyumbang apa saja yang mereka mampu, baik dalam bentuk tenaga, keahlian dan dana. Ada yang mengecat, menggambar, membuat lemari pojok baca dan lain-lain. Semua dana berasal dari mereka sendiri. Kepala sekolah menyerahkan sepenuhnya hal tersebut pada komite kelas.   

Juri yang terdiri dari Ketua Komite, Pengawas dan Kepala sekolah dari sekolah lain, menilai kelas berdasarkan beberapa kriteria: keindahan, kerapian, kreatifitas dan pojok budaya baca. Juri sengaja dipilih dari orang luar, kecuali komite, untuk menjaga netralitas.

Agar pojok budaya baca kaya dengan buku-buku, orang tua siswa juga sepakat bahwa tiap siswa akan menyumbangkan satu buku. Buku tersebut diletakkan di pojok kelas masing-masing dan menjadi miliki bersama.

Lomba tersebut akhirnya dimenangkan oleh kelas tiga.   ibu Sudiyem sebagai wali kelas menerima piala langsung dari pengawas sekolah, Slamet Mulyadi. Rencananya sekolah akan mengadakan lomba bedah kelas per enam bulan sekali, dan piala yang dipegang kelas tiga saat ini adalah piala bergilir.

“Lomba ini berhasil membuat sekolah banyak berubah  lebih indah dan lebih menunjang pembelajaran. Buku-buku semakin banyak yang menunjang program membaca lima belas menit sebelum pembelajaran yang ada di sekolah kami,” ujar Sahidayati, Kepala Sekolah.

Menurut Soetrisno, selain membuat sekolah menjadi Taman Siswa, hubungan antar orang tua siswa juga semakin akrab. “Orang tua siswa semakin saling mengenal dan jalinan silaturahmi semacam ini sangat penting  untuk mendukung pengembangan sekolah ke depan,” ujarnya.

Menurut Communication Specialist Program PINTAR Tanoto Foundation Kaltim, Mustajib, tanpa peran orang tua siswa yang besar, sekolah sulit untuk berkembang melampaui target. “Sumbangan ke sekolah akan mempercepat kemajuan sekolah dan itu sangat dibolehkan asalkan tidak ditentukan besarannya dan  kapan waktu menyetornya,” ujarnya. (Hg33).

Temanggung, Harianguru.com - Panitia Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) XI Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jateng pada Senin (24/6/2019) di lokasi registrasi depan KBIH Babussalam NU Temanggung.

Ketua Tim Media Center Porsema XI Jateng Ziaul Haq mengatakan aplikasi merupakan produk dari salah satu panitia Porsema. Hal itu demi mendukung kelancaran kegiatan Porsema XI Jateng, maka LP Maarif PWNU Jawa Tengah membuat Aplikasi Android secara khusus.

"Silakan semua warga NU dan khususnya Ma'arif se Jateng di mana saja berada silakan download aplikasi dengan nama Porsema XI Jateng di Google Play," katanya.

Sementara tim perumus aplikasi Rohmat Eko Wahyudi, menegaskan bahwa aplikasi ini menggunakan sistem operasi android. "Semua HP dengan sistem aplikasi ini di manapun dengan syarat ada sinyalnya," ujarnya.


Dijelaskan dia, aplikasi android ini berisi beberapa menu. Pertama, Peta. Ini berfungsi untuk menelihat lokasi kegiatan lomba. Ikon porsema pada peta dapat di klik dan digunakan untuk menunjukan arah terhadap posisi perangkat android.

Kedua, menu Jadwal, berfungsi untuk melihat jadwal kegiatan Porsema XI Jateng. Di dalam menu ini terdapat jenis kegiatan, jenjang yang melaksanakan kegiatan, waktu kegiatan dan tempat kegiatan. Untuk mempermudah dalam melihat lokasi kegiatan, silahkan klik jadwal kegiatan yang diinginkan.

Ketiga menu Notifikasi, berfungsi untuk menginfokan semua informasi yang berkaitan dengan Porsema XI Jateng, seperti pemenang lomba, dan lainnga.

Aplikasi Porsema dapat didownload di http://bit.do/porsema-xi-jateng. "Silakan sebarkan pesan ini kepada seluruh panitia dan peserta Porsema XI Jateng serta pihak terkait yang lain. Jika ada masalah, silakan menghubungi kami di rohmad.ew@gmail.com untuk petunjuk penginstalan aplikasi, menginformasikan sesuatu atau memberi saran. Terimakasih," kata dia. (Hg88/Ibda).

Semarang, Harianguru.com - Berkhidmat di Nahdlatul Ulama (NU) merupakan karunia yang tidak didapat semua umat Islam. Sebab, selama ini banyak orang lebih memilih aktif di organisasi profit daripada nirlaba yang sepi dari aspek material. Hal itu diungkapkan Ketua PWNU Jateng Drs. KH. Mohamad Muzamil dalam agenda halalbihalal dan tasyakuran Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jateng, Selasa (18/6/2019).

"Khidmat di NU itu adalah karunia. Tidak semua orang berkesempatan aktif di NU. Ukurannya tidak naik tingkat dari PC ke PW, dari PW ke PB. Tapi peningkatan mutu pengabdian pada semua struktur NU di level manapun," tegas Kiai Muzamil saat menyampaikan sambutan.

Pihaknya juga menyampaikan, orang yang serius khidmat di NU pasti mengalami pengalaman spiritual yang tidak dialami orang lain. "Insyallah ada keberkahan, dan pasti ada pengalaman menarik. Secara material, di NU tidak ada apa-apanya. Namun di ranah spiritual, pasti tiap pengurus mengalami pengalaman spiritual menarik yang pasti tiap orang berbeda," ujar dia.

Hadir pengurusan harian LP Ma'arif PWNU Jateng dan panitia Porsema XI yang membahas persiapan teknis pelaksanaan Porsema pada 24-27 Juni 2019 mendatang.

Di forum itu, pihaknya menyampaikan dua hal inti program pendidikan yang dipesankan pada LP Ma'arif PWNU Jateng. "Pertama adalah peningkatan mutu pendidikan Ma'arif. Sekolah dan madrasah Ma'arif harus memiliki keunggulan komparatif. Sekarang jualannya tahfiz. Tapi kalau level kita di PAUD dan MI itu membaca, menganalisis baru menghafalkan. Karena menghafal itu, tidak semua anak atau tidak semua pelajar paham. Tugas LP Ma'arif menyadarkan masyarakat bahwa menghafal itu ada levelnya sendiri," katanya.

Selain itu, pihaknya juga memberi pemetaan penguatan aspek akidah Islam Aswaja Annahdliyah, bahasa, matematika, hafalan dan pembelajaran yang menyenangkan. "Sekarang memang beda. Paradigmanya pembelajaran menyenangkan, tapi tradisi hormat dan menjaga kewibaan pada guru harus tetap dijaga. Selain itu kepribadian guru juga harus diutamakan karena sebagai contoh," lanjutnya.

Program kedua yang harus dijalankan LP Ma'arif adalah mendirikan sekolah atau madrasah unggulan. "Perlu sekolah atau madrasah model, bisa seperti labschool. Secara informal sudah digagas di karesidenan Solo. Minimal, ada satu sekolah di periode ini mengelola sekolah model, baik jenjang PAUD, MI atau SD. Baru kalau sudah sukses bisa berkembang ke SMP/MTs dan SMA/SMK/MA," bebernya.

Pada kegiatan itu, Ketua PWNU Jateng memotong tumpeng yang diberikan kepada Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng. Usai tasyakuran, kegiatan dilanjutkan rapat persiapan Porsema XI. (Hg88/hi).

Temanggung, Harianguru.com - Pemerintah Kabupaten Temanggung melalui Bupati Muhammad Al Khadziq mendukung kegiatan Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema) ke XI tingkat Jawa Tengah yang akan digelar 24-27 Juni 2019 mendatang. Setelah Pemkab, Sekda dan semua dinas terkait juga turut mendukung kegiatan tersebut. Hal itu terungkap dalam Rapat Koordinasi Porsema di ruang rapat Kesra Pemkab Temanggung Jl. A. Yani No. 32, Dongkelan Utara, Jampiroso, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, Rabu siang (12/6/2019).

Hadir jajaran SKPD, OPD Pemkab Temanggung dan instansi terkait seperti perwakilan Polres, Satpol PP, PMI, PDAM, Kemenag, Dinas Pendidikan, Damkar, Dinas Perhubungan, PLN, dan lainnya serta pengurus LP Ma'arif PWNU Jateng yang diwakili Ziyaul Haq, Ahmad Muzammil, Hamidulloh Ibda, Abdulloh Muchib, dan Irfan, lalu LP Ma'arif PCNU Temanggung dan panitia Porsema Tingkat Wilayah dan Panitia Lokal serta
Event Organizer (EO) yang membantu acara tersebut.

Acara Rapat Koordinasi Porsema itu langsung dihandel Sekda Temanggung Suryono. Pihaknya menegaskan, bahwa Pemkab dan SKPD menyambut baik kegiatan Porsema karena akan dihadiri semua atlet se Jawa Tengah.

"Minimal, nanti Temanggung dikenal adik-adik atlet jenjang MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA/SMK se Jateng," katanya.

Sebab, menurut dia, Temanggung memiliki banyak kekayaan daerah. "Harapan kami Temanggung dikenal semua adik-adik atlet se Jateng. Karena Temanggung menyimpan banyak kenangan, ada kuliner seperti kopinya juga terkenal, ada wisata dan kekayaan lainnya," lanjutnya.

Maka, Sekda yang mewakili Bupati Temanggung mengajak semua SKPD dan instansi terkait untuk mendukung dan menyukseskan Porsema ke XI di Kota Tembakau tersebut.

Sementara itu, Ketua LP Ma'arif NU Temanggung H. Miftakhul Hadi, M.Pd menjelaskan detail rencana dan konsep Porsema XI tersebut.

"Ada 9 cabang lomba olahraga, 14 cabang lomba seni, ada parade kontingen, dan total lebih daru 4367 peserta, atlit dan pimpinan kontingan akan hadir di Temanggung yang akan kami bagi pada 16 titik di sekolah negeri atau swasta yang akan menginap di sana," bebernya saat memaparkan materi.

Untuk penanggungjawab dan koordinasinya, lanjut dia, akan dikawal semua pengurus MWC NU Ma'arif se Temanggung, dan bantuan dari semua Badan Otonom NU Temanggung.

Pihaknya juga menjelaskan teknis lomba, dari tanggal 24 sampai 27 Juni 2019 kepada semua peserta rapat koordinasi agar dapat disinergikan dengan semua instansi untuk menyukseskannya.

"Kami sangat berharap kepada semua OPD, dan Dinas terkait untuk turut mendukung kegiatan tersebut agar berjalan sesuai harapan," harapnya.

Semua pihak dari OPD dan instansi terkait merespon positif rencana Porsema itu karena mereka menilai Porsema hampir sama dengan Sea Games yang melibatkan semua. Semua instansi hanya berharap koordinasi lanjut yang intens yang ke depan akan meminimalkan potensi hambatan. (Hg99/Ibda).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget