Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Melihat Sekolah di “Kampung Samsung”

Oleh: Nurchaili
Peserta study visit ke Korea Selatan/Juara I Guru Madrasah Aliyah Berprestasi 
Tingkat Nasional Tahun 2018/Mengajar di MAN 4 Aceh Besar

Alhamdulillah saya menjadi bagian dari rombongan study visit  berupa short course dan studi banding pendidikan ke Seoul, Korea Selatan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Kementerian Agama RI ini sebagai bentuk penghargaan dan afirmasi bagi GTK madrasah berprestasi. Study visit diikuti oleh 22 GTK pemenang pertama tahun 2017 dan 2018 dan pejabat dari Direktorat GTK Madrasah. Saya merasa bahagia dan senang, karena di kesempatan yang istimewa ini, saya bisa belajar dan melihat sekolah-sekolah di kampungnya “SAMSUNG”, smartphone yang semakin mendunia. Sebuah negara dengan teknologi yang semakin terdepan.

Korea Selatan (Korsel) menempati peringkat pertama sebagai negara dengan sistem pendidikan global terbaik dunia versi Pearson (www.bbc.com). Hal yang sama juga dilansir lembaga penelitian The Social Progress Imperative, yang menempatkan pendidikan dasar negara yang memiliki koneksi internet tercepat di dunia ini pada peringkat pertama dunia tahun 2018. (https://www.idntimes.com).

Selama sepekan  (28 April-5 Mei 2019), selain mengikuti kuliah singkat di Seoul National University (SNU) saya dan rekan-rekan diberi kesempatan untuk studi banding ke sekolah-sekolah di Seoul. Dua sekolah yang saya kunjungi adalah SNU Middle School dan Dae Gwang Middle School. Keduanya adalah sekolah setingkat SMP. SNU Middle School adalah sekolah laboratorium yang menjadi percontohan bagi sekolah-sekolah lainnya di Korea. Sekolah ini merupakan sekolah putra dengan jumlah siswa 640 orang. Sementara Dae Gwang Middle School adalah sekolah negeri yang memiliki 365 siswa dengan 32 orang guru. Sekolah ini berdiri sejak 25 November 1947.

Medio 1998-2000 Pemerintah Korsel mulai melengkapi sekolah-sekolah dengan komputer dan internet. Sejumlah 34 ribu guru diberikan komputer dan dilatih. Lalu dibangun 90 ribu ruang komputer dengan biaya lebih kurang 5.500 miliar won (1 won setara Rp. 13). Kurun waktu tiga tahun, komputer dan internet sudah merata di seantero negeri produsen mobil KIA dan Hyundai ini. Sejak saat itu semua sekolah di Negeri K-Pop ini sudah menggunakan media pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Media pembelajaran berbasis TIK ini telah mengambil tempat yang tak tergantikan.  Terlebih  saat  ini,  dimana  Revolusi  Industri  4.0  mendatangkan  berbagai tantangan baru.

Di Korea sudah sepuluh kali terjadi perubahan kurikulum. Semua ini dilakukan untuk melahirkan generasi Korea yang berbudi pekerti luhur, independen, bisa bekerjasama, kreatif dan inovatif. Karekteristik sekolah-sekolah di Korea berbeda dengan di Indonesia. Di Dae Gwang Middle School misalnya. Di sekolah ini diterapkan Free Semester System dimana saat kelas satu ada semester yang hanya belajar saja tanpa ujian. Sekolah ini juga mengajarkan drama, pembimbingan program pilihan seperti Chef (memasak), Carpentering (pertukangan Kayu), Drone dan lainnya. Sekolah ini merupakan sekolah digital. Semua guru diberikan tablet, dan untuk siswa disediakan 210 tablet. Ruang kelas dilengkapi TV 60 inc. dan fasilitas wi-fi serta papan tulis cerdas (smart board). Saya turut mencoba kecanggihan smart board ini.

Kurikulumnya juga terdapat beberapa keunikan, seperti adanya kegiatan relawan (volunteer) baik di sekolah maupun di luar, perencanaan pendidikan karir yang dilaksanakan setiap hari Jum’at. Ada juga kemah asrama yang dilakukan setiap dua hari, tiga malam dalam seminggu secara bergantian, kampung Inggris, dan ekspo sains berupa hasil karya/temuan siswa. Mereka juga mengadakan kegiatan amal setiap tahun dan praktik pengadilan yang diberi label “Student’s Mock” untuk mengadili siswa yang melanggar aturan sekolah. Sekolah ini juga mewajibkan kegiatan literasi bagi siswanya dengan membaca buku minimal satu judul dalam sebulan. Kegiatan ini didukung oleh dinas pendidikan yang memberi bantuan 5 juta won untuk membeli buku baru setiap tahunnya.

Oya hampir terlupakan. Sekolah yang saya kunjungi di negeri ginseng ini semua tertata rapi, indah dan nyaman. Lingkungan dan ruang kelasnya sangat bersih dan asri. Bagaimanakah dengan kita? Pendidikan Indonesia akan bisa lebih baik dan bersaing dengan negara lainnya jika semua pihak memiliki niat yang tulus dan ikhlas dalam mendidik generasi bangsa yang cerdas dan berakhlakul karimah. Semoga!

Label:

Posting Komentar

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget