Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Juli 2019

Balikpapan, Harianguru.com - 24 Sekolah di Balikpapan, 16 SD/MI dan 8 SMP/MTs hari ini (24 Juli 2019) mengadakan showcase atau unjuk karya praktik baik pembelajaran dan manajemen berbasis sekolah di gedung KNPI Balikpapan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh program PINTAR hasil kerjasama antara pemerintah kota Balikpapan lewat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Balikpapan, Kemenag Balikpapan dan Tanoto Foundation.

Dalam pameran program PINTAR atau Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran ini, 24 sekolah ini mendirikan 24 stand yang memamerkan berbagai kreatifitas pendidik dan siswa di sekolah. Kreatifitas yang banyak muncul setelah  pelatihan pembelajaran aktif, manajemen berbasis sekolah, budaya baca dan peran serta masyarakat yang diselenggarakan untuk sekolah mitra program mulai bulan September 2018.

Dalam Sambutan Showcase atau pameran pendidikan ini, Bapak Walikota Balikpapan yang diwakili oleh Asisten 2, Muhammad Noor  mengajak para guru untuk menciptakan siswa yang inovatif, kreatif, produktif dan mampu berpikir tingkat tinggi serta cinta dan bangga terhadap Indonesia. Walikota juga menyatakan apresiasinya terhadap program PINTAR yang telah mengimplementasikan pelatihan yang ikut mendukung terciptanya siswa –siswa demikian.  “Dengan meningkatnya pihak-pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan di tanah air,  ke depan saya yakin sumber daya manusia Indonesia semakin baik dan maju,” ujarnya mengapresiasi.

Sementara Ari Widowati, Deputy Director Program Program Basic Education  Tanoto Foundation , menyatakan hasil yang terlihat dalam pameran merupakan praktik-praktik baik yang bisa dijadikan inspirasi bagi sekolah-sekolah lain. “Pendidikan yang berkualitas di semua sekolah bisa mempercepat kesetaraan peluang siswa ke depan,” ujarnya. Tak lupa dia juga ungkapkan  apresiasinya kepada pemerintah daerah atas kerjasama yang baik menjalankan  program PINTAR.

Selain pameran yang menampilkan karya siswa dan guru di booth, beberapa siswa juga melakukan unjuk karya hasil kreatif pembelajaran aktif memakai unsur MIKIR (mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi). Siswa kelas VI SDN 006 yaitu Nabila Salsabil dan Axel Nareswara menampilkan di hadapan undangan energy alternatif untuk menyalakan lampu dari buah apel, kentang dan  jeruk nipis.   Dengan kreatif, mereka berdua mencoba menghubungkan  buah-buah tersebut dengan kabel, tidak secara langsung, tapi pakai koin, paku, penjepit. “Bapak/Ibu, karena buah-buah tersebut mengandung asam solanum, maka dapat menghasilkan listrik dan menghidupkan lampu,” ujar Axel menyimpulkan.  

Sedangkan siswa SMP 12  yang diwakili oleh Ayuditya Pratiwi Widyani dan Muhammad Ikhsan menampilkan lomba menangkap es untuk membuktikan prinsip IPA dalam kehidupan sehari-hari. Demonstrasi yang dilakukan  ingin membuktikan bahwa  es yang diberikan garam akan membeku lebih lama.

Siswa dari MINU yang bernama Asyifa Soliha Ramadhani menampilkan kesukaannya membaca buku setelah sekolah menyelenggarakan program budaya baca, yaitu membaca 15 menit sebelum pembelajaran dan membaca masal selama 30 menit setiap hari sabtu. Soliha juga rajin membaca karena dorongan orang tua. Setiap bulan rata-rata dia membaca 5 sampai 8 buku.

Masih banyak siswa yang lain yang tampil menunjukkan kreatifitasnya, misalnya membuat balon dari coca cola dan garam, cara membuat hujan buatan secara sederhana dan lain-lain.

Setiap stand juga banyak menampilkan banyak karya inovatif dari siswa, misalnya maket gunung yang dibuat untuk mempraktekkan bagaimana gunung meletus, pembuat es krim sederhana,  saringan  air kotor, maket daur hidup hewan dan lain-lain.

Pameran kali ini merupakan unjuk keberhasilan pelatihan modul 1 program PINTAR. Mulai bulan Agustus 2019, PINTAR juga akan melatih para guru, kepala sekolah, komite dan pengawas dengan modul II, yang isinya akan lebih menukik lagi ke arah konten pembelajaran dan semua pendukungnya. Modul 1 lebih banyak  berpusat pada penguatan unsur pembelajaran aktif yaitu mengalami, interaksi, komunikasi dan refleksi dan aspek-aspek lain yang menunjangnya. 

“Kemenag Balikpapan telah mendiseminasikan program ini ke  seluruh madrasah Ibtidaiyah di Balikpapan yang jumlahnya 24 buah, dan Dinas Pendidikan juga telah mendiseminasikan ke 34 Ketua Kelompok Kerja Guru. Ketua-ketua tersebut diharapkan nanti mendiseminasikan ke semua guru yang lain di KKGnya.,” ujar Munawir, penanggung jawab kegiatan yang mengucapkan apresiasinya kepada pemerintah kota Balikpapan dan Kemenag yang mendukung penuh kegiatan unjuk karya ini.  (HG44).

Kalimantan Timur, Harianguru.com - Untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap buku semenjak dini, SDN 003 Tenggarong Kutai Kartanegara menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan salah satu tema kegiatannya adalah Program Budaya Baca di sekolah tersebut.

Dalam kegiatan tersebut, 61 anak-anak didik baru sekolah tersebut dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok terdiri dari lima orang. Karena mereka belum diajarkan menulis dan membaca, tiap guru yang bertanggung jawab di kelompok hanya menceritakan sebuah buku cerita. Setelah mendengar cerita tersebut, siswa yang berani diberikan microphone dan  menceritakan kembali.  Orang tua siswa yang mengantar anaknya dan bebas masuk melihat juga kegiatan tersebut dari bangku-bangku yang sudah disediakan. 

Setelah diceritakan buku cerita tersebut, salah satu murid baru yang bernama Fatih berkata bahwa di rumah tidak pernah dilakukan kegiatan demikian. Ia kemudian berlari ke ibunya dan  memintanya melakukan kegiatan seperti itu juga di rumah. “Saya senang melihat reaksi itu.  Kegiatan  seperti ini juga dalam rangka menanamkan pada orang tua siswa bahwa budaya baca bukan cuma tanggung jawab sekolah, tapi juga orang tua siswa,” kata Kurnia Astuti,  salah satu guru yang bertanggung jawab atas kegiatan tersebut. 

Untuk menguatkan, budaya baca  juga disosialisasikan lewat rapat bersama orang tua siswa baru di hari berikutnya.  Dalam rapat tersebut, pihak sekolah menegaskan bahwa sekolah telah  memiliki SK Budaya Baca yang isinya berbagai kegiatan budaya baca dan penanggung jawabnya. Kegiatan tersebut umpamanya meliputi membaca 15 menit, membaca selama 2 jam di perpustakaan di waktu-waktu khusus,  menceritakan isi buku bacaan, kegiatan rutin menulis dan pengadaan buku. Orang tua juga diharapkan juga aktif membantu budaya baca selama di rumah, misalnya lewat bercerita dengan anaknya sebelum tidur.

Kegiatan yang hampir sama juga dilakukan oleh sekolah mitra Tanoto Foundation yang lain yaitu  MTsN 1 Balikpapan. Bekerjasama dengan Aliansi Bikers Sosial Balikpapan, para siswa baru dikumpulkan bersama di mushola dan dikenalkan budaya baca di sekolah. Salah satunya adalah mengenalkan program  pengadaaan buku lewat “koinku untuk buku”. Diharapkan semua siswa secara sukarela menyumbangkan koin setiap bulannya. Abdul Gofur, kepala MTsN 1 Balikpapan juga sempat membawa kaleng koinku dan siswa yang sudah membawa koin dari rumah memasukkan secara bergiliran ke kaleng tersebut.

Berkat kegiatan koinku untuk buku, sekolah tiap bulan rata-rata mendapatkan dana 800 ribu untuk pengadaaan buku. Buku tersebut dipajang di perpustakaan dan di Taman Baca yang terdapat di halaman sekolah. Abdul Gofur juga berkomitmen untuk terus meningkatkan budaya baca di sekolah dengan kegiatan budaya baca yang lebih kreatif dan lebih banyak lagi. Umi Putri Ibalia, guru sekaligus penanggung jawab budaya baca di sekolah berencana akan mengadakan pelatihan dasar jurnalistik bagi para siswa.

Di sekolah mitra Tanoto Foundation yang lain yaitu MIN 1 Balikpapan, untuk menyambut siswa baru, sekolah membangun pojok literasi di kelas. Dana pojok literasi tersebut berasal dari koin literasi yang juga sumbangan dari siswa.

Budaya  Baca merupakan salah satu program PINTAR yang saat ini dilaksanakan di Balikpapan, Kutai Kartanegara dan Samarinda. Program ini merupakan hasil kerjasama antara Kemenag dan Dinas Pendidikan, UNMUL dan IAIN Samarinda dengan Tanoto Foundation. (Hg44).

Temanggug, Harianguru.com - Ada yang sedikit berbeda dari biasanya, hari ini Kamis 18 Juli 2019 untuk pertama kalinya tim KKN Undip mengunjungi MI Ma'arif Malebo, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah.

Suara gemuruh menyambut kedatangan mereka, anak-anak berantusias karena mereka sebelumnya belum kenal.

Agus Ilmi guru olahraga mengucapkan biar nanti diajak ke lapangan saja dulu karena hari ini juga Kamis 18 juli 2019 murid-murid kelas 5 dan 6 kebetulan ada mata pelajaran PJOK. "Dan nnti untuk yang murid laki-laki biar bermain sepakbola dan murid perempuan biar bermain permainan dengan kakak-kakak KKN UNDIP yang perempuan juga," kata dia.

Maka dari itu sehabis istirahat pertama mereka langsung digiring ke lapangan untuk mengikuti praktik pelajaran PJOK.

Ilham fadil perwakilan dari TIM KKN UNDIP mengucapkan bertemu anak anak MI merupakan kebanggaan bagi kami. "Semangat tak kenal lelah, banyak bakat yang bisa digali dari mereka. Semangat terus aja buat anak anak MI buat menggapai cita cita nya," kata dia.

Walaupun kurang lebih hanya 2 jam tetapi sangat bermanfaat buat anak-anak MI Ma'arif Malebo karena kehadiran TIM KKN Undip menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka anak-anak kelas 5 dan 6. (Hg88).

Demak, Harianguru.com - Bertempat di Lapangan bola Jatimulyo Bonang Demak, Komunitas Pecinta Alam Demak (Pade) menggelar camping bersama komunitas sekabupaten Demak pada Sabtu sampai dengan Minggu (6-7/7/2019).

Acara yang dilakukan untuk memeringati Anniversary atau ulang tahu ke 5 komunitas Pade juga sekaligus memeringati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI).

Mengundang Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Raden Sahid dan Maunatul Mubarok untuk mengampanyekan gerakan anti narkoba dan pentingnya menjalani rehabilitasi bagi para korban pecandu narkoba di kabupaten Demak.

Anas Nasution, pimpinan IPWL Raden Sahid menyampaikan bahwa di tengah-tengah kita sebenarnya masih banyak para pengedar narkotika maupun obat-obatan terlarang yang demi mendapatkan uang rela merusak mental anak-anak muda di kabupaten Demak.

"Kita harus waspada kepada mereka. Tetapi lebih penting lagi kita juga harus memberikan perhatian kepada para korban pengedar, yaitu penyalahguna narkoba, kita harus menyelamatkannya dengan memberikan kesempatan berhenti dengan cara rehabilitasi," kata Anas.

Di Demak, lanjutnya ada 2 IPWL yang diberi kesempatan merehabilitasi. Yaitu IPWL Raden Sahid di Kebonagung dan Maunatul Mubarok di Sayung.

"Kami berharap komunitas ini menjadi peran penting untuk membantu pemerintah Demak menyelamatkan anak muda dari pengaruh buruk narkoba,"pungkas Anas.

Dwi Sulistyo, ketua komunitas Pade menyampaikan dalam peringatan ulang tahun Pade ke 5 itu dengan berharap komunitasnya maupun seluruh komunitas di kabupaten Demak melakukan gerakan-gerakan yang positif.

"Acara ini dibarengkan dengan peringatan hari antinarkotika sekaligus mengajak agar kawan-kawan juga ikut melakukan program yang menyelamatkan generasi muda di Demak dari pengaruh narkoba. Agar komunitas tidak disalah artikan kumpul kumpul tidak benar," kata pria yang hobi mendaki gunung itu.

Acara berlangsung dua hari itu diikuti hampir ratusan peserta dari lintas komunitas di Demak. Dengan rangkaian acara kampanye anti narkoba, donor darah, dan penanamab pohon. (HG44).

Tegal, Harianguru.com - Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jawa Tengah melakukan pendataan madrasah dan sekolah di wilayah Jawa Tengah yang terlaksana pada Sabtu (6/7/2019) dan Ahad (7/7/2019).

Wakil Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng Ziaul Haq menjelaskan bahwa kegiatan pendataan gelombang pertama ini terlaksana di Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kota Tegal. "Tujuan kami mendata ini untuk merapikan data, agar jelas jumlah madrasah dan sekolah Ma'arif di Jawa Tengah, kita punya server sendiri, yaitu di datamaarif.com. Dengan data kita bisa mandiri dan bisa berbuat banyak sesuai dengan kepentingan NU tanpa ada campur tangan dari pihak lain. Sebagai organisasi terbesar di Indonesia NU perlu mempunya pangkalan data mandiri. Sudah saatnya NU mandiri dalam hal data," kata dia.

Pihaknya menambahkan bahwa pendataan ini adalah yg pertamakali dilakukan di lingkungan pendidikan NU. "Terlebih lagi saat ini era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, madrasah dan sekolah Ma'arif harus melek data dengan menguatkan literasi data berbasis teknologi," kata dia.

Kegiatan itu digelar di PCNU Brebes, PCNU Tegal, SMA NU Kota Tegal yang digilir sesuai jadwal. "Nanti insyallah akan merata se Jawa Tengah. Tim kami sudah siap jemput bola agar pendataan berjalan lancar," ujar dia.

Selain Ziaul, hadir Tim IT LP Ma'arif PWNU Jateng Rohmat Eko Wahyudi, Herman Abu Bakar, Abdul Halim, dan dikawal langsung LP Ma'arif di masing-masing kabupeten dan kota. (hg44/Ibda)


Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.
Guru SD Supriyadi Semarang, Alumni Program Pascasarjana UNNES

Memasuki tahun ajaran baru, banyak orang tua yang menginginkan anaknya masuk ke sekolah negeri. Banyak pertimbangan yang menjadi alasan kenapa mereka lebih memilih anaknya masuk ke sekolah negeri dibandingkan sekolah swasta.

Namun, dengan semakin berkembangnya dunia pendidikan ada beberapa macam pembaharuan di dunia pendidikan salah satunya sistem pendaftaran berbasis zona dimana sekolahan negeri menerima siswa dari sekitar domisili.

Dengan sistem baru tersebut semakin marak kegelisahan dari sekolah yang berlabel favorit atau sekolah unggulan yang biasanya menyaring anak berprestasi di luar daerah jadi tidak bisa lagi dengan adanya sistem zonasi. Begitu pun kegalauan wali murid yang anaknya bergudang prestasi namun tidak bisa diterima di sekolah idaman karena berada di luar batas zona.

Memilih sekolah negeri memang masih menjadi momok idaman para orang tua. Pada umumnya, yang menjadikan para wali murid lebih memilih sekolah negeri ialah terkait persoalan biaya dan kualitas pendidikan. Banyak yang beranggapan jika selain biayanya murah, sekolah negeri juga memiliki kualitas pengajaran yang lebih bagus.

Banyak wali murid menganggap bahwa anaknya tidak diterima sekolahan Negeri maka akan malu dengan tetangganya. Anggapan keliru yang selalu menganggap anak yang sekolah tidak di sekolah negeri pasti anak bodoh, pasti anak nakal, pasti anak nilai akademiknya rendah. Memang tidak ada sekolah swasta yang bisa mendidik? Memang tidak ada sekolah swasta berkualitas? Soal bertambahnya ilmu memang hanya faktor dari sekolahan saja? Karena sesungguhnya kemampuan dari masing-masing siswa pun turut andil besar, dan sekolah hanya memfasilitasi, membimbing, mengarahkan dan membelajarkan. Dan bukan ditentukan dari label sekolah Negeri atau swasta.

Lalu apakah sekolah swasta selalu “kalah” jika dibandingkan dengan negeri? Ternyata tidak. Ada beberapa keunggulan sekolah swasta yang tidak dimiliki oleh sekolah negeri. Apa sajakah keunggulan tersebut?

Pertama, Secara fasilitas, sekolah swasta umumnya jauh lebih baik. Jika kita cermati, kebanyakan fasilitas yang ditawarkan sekolah swasta umumnya lebih baik dibandingkan dengan sekolah negeri. Hal ini disebabkan pengelolaan keuangan sekolah swasta sepenuhnya dikelola pihak yayasan yang memiliki sekolah. Sumber dana yang diperoleh pun berasal dari berbagai pihak, selain dari yayasan, wali murid, donatur, maupun kerja sama pendanaan dengan pihak lain. Jadi, mereka bisa leluasa meningkatkan kualitas fasilitas kegiatan belajar mengajarnya dengan mengedepankan sarana prasarana dan fasilitas penunjang proses pembelajaran.

Sedangkan untuk sekolah negeri, keuangan mereka ditentukan oleh pemerintah. Mereka hanya diberi jatah yang kadang sangat kurang untuk membangun fasilitas sekolah yang cukup mumpuni

Kedua, Secara mata pelajaran, sekolah swasta lebih beraneka ragam. Keuntungan lainnya yang bisa kita dapatkan dari sekolah swasta ialah lebih bervariasinya muatan mata pelajaran yang diberikan. Jika di sekolah negeri umumnya hanya fokus dengan mata pelajaran yang akan diujikan (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS) maka untuk sekolah swasta ada mata pelajaran lain yang tidak kalah ditekankan. Bahkan beberapa sekolah pun menjadikan mata pelajarn tertentu seperti muatan karakter dan agama menjadi program unggulan dalam tujuan pendidikannya.


Seperti misal, terjadi pada SD Supriyadi Semarang yang berdiri di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al-Falah. Selain siswa menerima pelajaran pokok dari pemerintah, ada beberapa program unggulan yang terinput dalam muatan mata pelajaran bidang keagamaan seperti akidah akhlak, fikih, Al Qur’an hadits, Bahasa Arab, dan penanaman karakter di setiap pembelajaran dengan tetap berpayung pada kurikulum yang berlaku dari pemerintah. Begitu pun dengan sekolah swasta yang lainnya, sudah barang pasti akan memvariasikan mata pelajaran sesuai dengan visi dan misinya.

Ketiga, Variasi dalam berkegiatan dan berorganisasi. Sama halnya seperti pelajaran, biasanya variasi kegiatan dan organisasi sekolah swasta lebih banyak pilihannya. Jika sekolah negeri berkutat dengan organisasi OSIS, PMI, Paskibra, atau olahraga, namun di sekolah swasta banyak ditemukan kegiatan dan organisasi yang tidak kalah keren. Organisasi tersebut biasanya sengaja dibentuk sebagai nilai jual kualitas sekolah swasta. Seperti kegiatan intrasekolah yang beraneka macamnya sehingga siswa bisa menyalurkan bakat dan minat sesuai dengan kemampuannya. Tak hanya kegiatan intra sekolah untuk siswa. Kegiatan organisasi yang beranggotakan wali murid dan masyarakat pun banyak dibentuk oleh sekolah swasta dengan tujuan utama menghidupkan kembali tripusat pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat).

Keempat, Pelayanan sekolah swasta biasanya lebih baik. Sekolah swasta dikenal memiliki etos kerja dan pelayanan yang cukup prima. Hal ini karena mengingat biaya yang dikeluarkan orangtua siswa tidak sedikit, jadi pelayanan terhadap peserta didikpun menjadi prioritas utama. Tidak jarang, jajaran yayasan dan dewan guru mengadakan rapat internal untuk melakukan evaluasi rutin, serta mendengarkan berbagai kritik dan masukan dari berbagai pihak demi kemajuan pendidikan.


Itulah beberapa keunggulan sekolah swasta dibandingkan dengan sekolah negeri. Menjadi benang merah dan menjadi koreksi bersama bahwa yang menentukan kesuksesan seseorang bukan status sekolah, Negeri atau Swasta, melainkan bagaimana kesungguhan usaha seseorang dalam meraih cita-cita.

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget