Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Meraih Mimpi Menghidupkan Kemerdekaan Kelas


Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.

Ruang kelas sekolah hari ini tak ubahnya menjadi ekspo elektronik. Ruang kelas semakin berjubel dengan peralatan meja, kursi,AC, kipas angin, LCD, speker aktif, dan kabel-kabel bersliweran. Walaupun tidak semuanya, itulah sedikit kritik atas gambaran dinamika ruang kelas yang ada di sekolah saat ini. Semua diatur sedemikian rupa dengan kendali struktur yang ada.

Sepoi angin melambai-lambai dan hamparan sejuk taman sekolah tak lagi dijangkau oleh sejauh mata memandang. Memang terasa dingin suhunya saat listrik tidak oglangan, tetapi ketika listrik padam, semua berubah. Ruang kelas seakan pabrik yang mengepulkan asap panas. Panas, panas, dan panas. Sungguh ironis, pembelajaran desain ruang kelas masa lalu pun hanyut seiring kebijakan anggaran yang memihak teknologi, namun jauh dari sentuhan alam dan sosial.

Peran seorang guru pun pada sisi ini menjadi penting. Menghidupkan kembali suasana kelas yang ramah anak, yang sarat akan teknologi tapi tidak kaku saat teknologi mati. Aktivitas belajar tetap berjalan dengan menyenangkan meski tanpa AC, tanpa kipas angin, tanpa LCD dll. Karena selain mengasah kemampuan mengajar, guru sebagai pengajar sekaligus pendidik di sekolah pun perlu tahu bagaimana pola pengajaran yang tepat diberikan kepada peserta didiknya.

Dan bukan hanya soal pengetahuan, belakangan seiring perkembangan zaman, metode pembelajaran mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Saat kita bicara bahwa kita percaya kemerdekaan guru dan kemerdekaan belajar siswa, maka akan bersinggungan dengan banyak hal. Salah satunya kemerdekaan dalam proses belajar. Jika tujuannya agar anak mampu mengerjakan soal ujian, kita cukup mengajarkan cara menjawab soal-soal ujian dengan benar. Jika tujuannya agar anak mampu mempelajari dan menjawab tantangan hidup, selaku pendidik kita perlu mengajarkan murid untuk merdeka belajar.
Proses belajar yang bermakna mensyaratkan kemerdekaan guru dan murid dalam menentukan tujuan dan cara belajar yang efektif. Guru merdeka menemukan paduan yang pas antara tuntutan kurikulum, kebutuhan murid, dan situasi lokal. Murid merdeka menetapkan tujuan belajar bermakna, memilih cara belajar yang efektif, dan terbuka melakukan refleksi bersama guru.

Proses belajar yang menyenangkan dan bermakna hendaknya tidak memberikan sekat antara ruang kelas dengan realitas. Menyatukan keduanya dalam skenario pembelajaran dan kehidupan yang menarik. Jangan jadikan ruang kelas hanya menjadi objek penataan meja kursi dan seperangkat elekronik. Desain ruang kelas sudah saatnya dikembalikan pada sang pemilik kelas yakni guru dan siswa.    

Siswa dan guru harus sama-sama belajar. Ruang kelas yang sebenarnya adalah kenyataan yang ada. Jadikan ruang kelas menjadi sumber inspirasi bagi siswa. Jadikan setiap sudut ruang kelas menjadi media dan sumber belajar bagi siswa. Membawa alam semesta ke dalam ruang kelas bukanlah tak mungkin. Dibutuhkan kreatifitas guru dalam mewujudkan semua itu. Jadikan ruang kelas, menjadi udara sejuk nan asri. Jadikan ruang kelas menjadi air mengalir yang menghidupkan. Jadikan ruang kelas menjadi tanah yang subur, dan jadikan ruang kelas, menjadi cahaya penerang dengan pengalaman belajar, pengalaman mencoba, pengalaman menulis, pengalaman bercerita, pengalaman bermain peran, pengalaman berkomunikasi, pengalaman bersosial dan  penggalian berbagai ilmu.

Kemerdekaan siswa dan guru
Guru berperan penting dalam pendidikan, namun tuntutan akan besarnya peran atau secara spesifik tingginya kompetensi tidak akan tercapai saat guru tidak memiliki hal yang asasi: kemerdekaan. Kemerdekaan guru dalam jangka panjang berperan sentral untuk menumbuhkan kemerdekaan belajar siswa.

Lalu bagaimana cara guru menghidupkan kemerdekaan dalam kelas. Kemerdekaan bagi guru dalam mengelola pembelajaran dan kemerdekaan belajar bagi siswa?

Pertama, tersedia fasilitas dan prasarana yang membangkitkan semangat berkarya dan berimajinasi bagi anak. Seperti membuat pohon literasi di sudut kelas yang didisi dengan gantungan kaleng-kaleng bekas berisi karya-karya siswa baik secara individu ataupun kelompok. Bisa juga dengan membuat sudut baca yang menyediakan buku-buku bacaan anak. Sehingga setiap harinya anak-anak diajak membaca. Atau dengan memilih salah satu buku bacaan berurutan setiap harinya, lalu semua siswa mendengarkan bacaan yang dibacakan oleh guru atau salah satu siswa dengan suasana yang santai siswa duduk di lantai melingkar. Kegiatan demikian cukup efektif untuk menghilangkan kejenuhan belajar.

Kedua, siswa diberi kebebasan untuk bergerak di ruang kelas, bebas menyampaikan pendapat mereka dan tidak ada pengelompokan atas dasar tingkat kecerdasan. Karena pada dasarnya semua siswa memiliki kemampuan yang sama. Tinggal tugas guru untuk mengarahkan dan membimbing dengan sabar dan terbuka.

Ketiga, membiasakan siswa menulis buku harian atau diary. Aktivitas ini dilakukan setiap harinya setelah pembelajaran berakhir atau jelang jam pelajaran terakhir usai. Biarkan anak-anak menuliskan rasa suka dukanya di hari itu. Cara ini sangat efektif membantu guru memahami masing-masing kepribadian siswa, terlebih bagi siswa introvert yang terkenal dengan sikap pendiamnya. Setelah siswa pulang, guru membaca satu per satu tulisan siswa. Dari membaca tulisan siswa, guru bisa melakukan refleksi dari cara pengajarannya hari ini. Apa yang dituliskan oleh siswa menjadi tindak lanjut guru di pertemuan berikutnya. Permasalaan-permasalahan yang ada pada diri siswa, guru bisa membantunya. Setidaknya dengan menulis isi hatinya lewat diary, siswa pulang sekolah dalam keadaan tidak membawa beban psikisnya.

Keempat, menciptakan suasana kelas yang penuh kasih sayang, hangat, hormat dan terbuka, artinya guru bersedia mendengarkan keluhan peserta didik dengan aman dan mampu menjaga rahasia siswa. Kelima, jika ditemukan masalah pada siswa dengan siswa, guru menangani masalah tersebut dengan jalan berkomunikasi secara pribadi dengan siswa yang bersangkutan tanpa melibatkan pihak lain.

Guru tidak perlu menjadi figur yang serba ahli, selama dia merdeka dengan mempraktikkan segala apa yang dia pelajari dan belajar dari banyak kegagalan sebelum akhirnya meraih kemerdekaan sesungguhnya di dalam kelas bersama siswa. Karena kemerdekaan milik kita bersama, guru dan siswa.

-Penulis adalah Guru SD Supriyadi Semarang.

Label:

Posting Komentar

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget