Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

September 2019



Kalimantan Timur, Harianguru.com - Untuk ikut mengurangi pemanasan global, banyak hal yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah menanam pohon sebanyak-banyaknya. “Menanam pohon merupakan cara paling efektif mengurangi pemanasan global. Semakin banyak pohon yang ditanam, semakin banyak karbon dioksida yang diserap dan semakin banyak produksi oksigen. Untuk ikut berpartisipasi dalam pengurangan pemanasan global ini, kami meminta para orang tua, siswa dan semua warga sekolah termasuk guru menanam minimal satu pohon di sekolah kami,” ujar pak Agus Suparmanto, kepala Sekolah SMPN 04 Tenggarong, Kalimantan Barat, Selasa, 17 September 2019.
Namun bukan hanya karena alasan ingin berpartisipasi dalam pengurangan pemanasan global,  kegiatan ini bertujuan juga agar sekolah semakin asri dan nyaman, memiliki lebih banyak  sumber-sumber belajar dan sumber pembiayaan untuk kegiatan sekolah.
“Setelah ikut pelatihan Program PINTAR bersama Tanoto Foundation, Kemenag dan Dinas Pendidikan, kami berupaya lebih intens untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam segala aspek. Peran serta masyarakat yang besar akan mempercepat pengembangan sekolah ini ” ujar pak Agus menerangkan latar belakang kegiatan ini.
“Untuk program ini, awalnya kami rapat bersama orang tua siswa baru yang tergabung dalam paguyuban kelas. Pak Sugiono, Bu Rita Sinaga, Pak Maman sebagai wali kelas bersama  ketua komite juga hadir dalam rapat itu. Dalam curah pendapat yang kami lakukan, para orang tua ingin terlibat dalam semua kegiatan di sekolah. Salah satunya dalam pengelolaan lingkungan sekolah. Nah akhirnya disepakati, semua warga sekolah baik orang tua siswa,  siswa dan pendidik akan menanam minimal satu pohon di sekolah,” ujar Agus.
Akhirnya pada pertengahan September kemarin,  program mulai dijalankan.  Sebagai awalan, semua orang tua siswa kelas satu yang berjumlah 80 orang berkumpul dan menanam pohon di lahan di sekolah. Kebetulan sekolah memiliki lahan yang luasnya mencapai dua hektar. Bibit-bibit pohon terdiri dari rambutan, mangga, durian, cempedak, kelapa, jambu air, jambu biji, blimbing, klengkeng, jeruk dan petai ramai-ramai ditanam  di sebagian lahan tersebut.
“Kali ini orang tua kelas satu, nanti menyusul orang tua kelas dua dan tiga, dan juga masing-masing siswa. Jadi satu warga sekolah benar-benar menyumbang minimal satu pohon ke sekolah,” ujar Agus.
Masing-masing pohon kemudian diberi nama siswa  dengan kertas yang dilaminating. Tanda itu menunjukkan siapa yang bertanggung jawab untuk merawatnya.
“Kelak yang merasakan panennya tidak hanya anaknya namun juga cucu-cucunya ketika bersekolah di SMP ini. Program ini juga akan berkontribusi terhadap produksi oksigen di sekeliling sekolah, sehingga anak-anak bermain dan berolahraga tidak akan kekurangan supply oksigen. Hasil buah-buahannya nanti juga bisa dijual untuk membiayai kegiatan pembelajaran di sekolah,” ujar pak Sugiono salah satu wali kelas satu SMP 4 Tenggarong.
“Apalagi sekarang banyak kebakaran hutan yang mengurangi jumlah pohon penyerap karbon dioksida. Apabila semua sekolah melaksanakan penghijauan dan pohon yang ditanam sampai berjumlah ribuan bahkan ratusan, akan ikut secara signifikan mengurangi pemanasan global,” tambahnya.
Pak Agus berencana kelak pada hari-hari tertentu, sekolah akan mengadakan program makan sehat bersama. “Untuk mengakrabkan warga sekolah,  suatu saat kita akan mengadakan kegiatan makan sehat bersama, salah satunya adalah buah-buahan yang dihasilkan di kebun sekolah ini,” ujarnya.
Selain terlibat dalam kegiatan ini, orang tua siswa di SMPN 4 Tenggarong juga terlibat dalam banyak program dan kegiatan sekolah yang lain.   Mereka terlibat dalam program peningkatan budaya baca di sekolah dengan menyumbangkan buku-buku dan ikut mengawasi dan mendorong siswa membaca.  Mereka juga menyumbang untuk pengembangan fasilitas sekolah, kerja bakti dan lain-lain.
“Semuanya berbasis kesukarelaan. Kami tidak menentukan jumlah dan kapan waktunya. Kami intens diskusi tentang kebutuhan-kebutuhan siswa dan sekolah lewat grup whats app yang kami bentuk untuk tiap-tiap paguyuban kelas. Lewat cara ini kami berusaha selalu terbuka dan akuntabel dengan orang tua siswa,” ujar Agus menutup.  (HG44).


Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.
Penulsi merupakan guru SD Supriyadi Semarang.

Di zaman sekarang ini, kita jarang melihat anak-anak bermain permainan tradisional. Tidak pernah lagi melihat anak-anak bermain ‘jamuran’, gundu, cublak-cublak suweng, dakon, bermain hujan, lumpur dan permainan tradisional lainnya. Kenyataanya bahwa anak-anak di zaman teknologi ini lebih senang mengurung diri di kamar. Anak-anak lebih mementingkan bermain game daripada meningkatkan hubungan sosial mereka.

Perkembangan dan kemajuan teknologi begitu pesat, terlebih gadget (smartphone/handphone/HP/tab) menjadi sebuah kebutuhan wajib bagi manusia saat ini. Pada awal kemunculannya, gadget dianggap sangat positif karena dapat mempercepat pekerjaan manusia dalam proses mencari informasi dengan mudah.

Namun sekarang, gadget tidak bisa dipisahkan dari semua kalangan, dari orang tua, anak kuliah, anak sekolah SMA, SMP, SD bahkan sampai anak usia prasekolah sudah dibekali dengan gadget di sela waktu bermainnya.

Seiring waktu berjalan, manusia mulai merasakan efek negatif dari benda ini, seperti masalah kesehatan, masalah sosial, dan ganguan perkembangan psikologis pada anak. Dampak negatif yang terjadi adalah dapat memutuskan hubungan sosial dengan teman-teman sebayanya. Dengan demikian, tidaklah heran jikalau di zaman ini anak-anak lebih bersifat individualistik, acuh tak acuh dengan lingkungan sekitarnya serta minimnya sikap respek terhadap fenomena realitas di sekitarnya.

Racun bagi Anak?
Benda kecil dengan kemampuan teknologi canggih jika digunakan tidak dengan sangat bijak bukan lah tidak mungkin akan menjadi racun bagi penggunanya terlebih bagi anak usia sekolah.

Pertama, dengan adanya gadget konsentrasi anak saat belajar akan mengalami penurunan. Konsentrasinya menjadi lebih singkat dan sikap respek anak terhadap lingkungan sekelilingnya berkurang. Anak kerap kali berimajinasi mengenai tokoh game yang sering dimainkan pada gadget nya. Kebiasaan anak menggunakan gadget akan merusak kemampuan berkonsentrasi. Memang mengasyikkan, tapi akhirnya terbiasa, sehingga pada waktu seorang anak harus fokus terhadap sesuatu hal, fokus dengan belajar di rumah, fokus saat memperhatikan guru di keas, akhirnya menjadi susah untuk fokus.
Kedua, mengalami kecanduan. Kebiasaan memegang gadget dalam waktu yang sering bagi anak, makan sambil pegang gadget, mau tidur dan bangun tidur pegang gadget, pulang sekolah pegang gadget, terlebih hari libur ful gadget. Kondisi ini adalah efek candu dari gadget. Saat di sekolah pikirannya ingin segera pulang biar main gadget, ingin segera hari libur biar bisa main gadget. Saking asiknya kebiasaan dengan gadget, sehingga bila tidak ada gadget, anak-anak merasa gelisah.
Ketiga, malas membaca dan menulis. Gadget membuat anak-anak menjadi sangat malas membaca dan menulis. Karena kebanyakan siswa menganggap sekedar membaca tulisan merupakan hal yang membosankan, sehingga anak lebih memilih gadget. Selain itu, anak lebih mencari hal yang praktis dalan melakukan aktivitas belajar. Motorik anak menjadi kurang efektif dan kebiasaan menulis menggunakan tangan menjadi kurang apik.

Keempat, menurunnya kemampuan bersosialisasi. Anak menjadi acuh dengan lingkungan sekitar dan tidak paham dengan etika bersosialisasi. Rasa solider antar sesama memudar dan komunikasi pun tidak efektif. Imbasnya psikososial anak menjadi tumpul.
Kelima, menghambat perkembangan psikologis anak. Penggunaan gadget akan membuat pergerakan anak sempit. Anak yang menggunakan gadget secara berlebihan akan berdampak buruk pada prestasi akademiknya. Pengawasan dan penggunaan terhadap gadget harus lebih intensif. Jika tidak diawasi oleh orang tua, maka bukan tidak mungkin akan mengakibatkan stres pada anak. Anak stres akibat tidak dapat memenangkan permainan di gadget nya, sehingga sering mengganggu kondisi mentalnya.
Keenam, malas melakukan banyak hal. Saat menggunakan gadget, anak cenderung tidak melakukan gerak badan. Sensor motorik yang tidak sering diasah akan tumpul, tidak berkembang bahkan mati. Akibatnya, jika sensor motorik tidak digunakan oleh anak sejak kecil, bukan hanya keterampilan menulis saja yang menurun, tetapi akan membuahkan penyakit akibat tidak melakukan gerak motorik pada badan.
Ketujuh, anak menjadi agresif. Konten kekerasan dalam gadget, dapat menstimulus anak untuk melakukan hal apa yang dilihatnya. Dampak buruk jangka panjang pada anak yang mengkonsumsi gadget, menjadi lebih agresif dari anak biasanya. Bukan tidak mungkin anak akan meniru adegan permainan kekerasan pada teman sebayanya.

Tanggung Jawab Bersama
Gadget menjadi sarana informasi yang baik walaupun terkadang ada informasi yang salah atau tidak tepat, maka dengan itu kita harus menggunakan gadget dengan bijak, apalagi zaman sekarang teknologi sangat canggih serta ditambah adanya social media yang semakin merajalela, bisa saja gadget yang semestinya bisa dijadikan tutor untuk belajar malah hanya untuk bermain social media dan bermain game.

Maka perlunya pengawasan intensif dari orang tua di rumah. Mengembalikan waktu belajar anak untuk belajar, mengembalikan waktu sosial bermain anak dengan teman-teman di lingkungannya. Kualitaskan waktu berkumpul bersama anak-anak, seperti saat sedang makan malam bersama, menonton TV bersama, jangan biarkan anak bermain gadget/handphone terus menerus. Mengajak anak untuk bercerita tentang kesehariannya di sekolah, kesulitan-kesulitan apa yang dihadapi dalam belajarnya.

Jangan biarkan kondisi pada saat kita bertemu satu sama lain, berbicara, bertukar pikiran dan pengalaman, malah lebih fokus ke gadget daripada bercerita dan tertawa bersama keluarga atau teman. Gunakan gadget sesuai kebutuhan sebagai sarana yang membantu kita secara positif. Terutama melindungi anak-anak dari bahaya laten gadget jika minim bimbingan dan pengawasan orang tua. (*)

Temanggung, Harianguru.com - Lembaga Bahasa (LB) STAINU Temanggung, Jawa Tengah pada tahun 2019 ini kembali menggelar Lomba Cipta Puisi Tingkat SMA/sederajat Se-Jawa Tengah dan  DIY. Lembaga Bahasa (LB) STAINU Temanggung yang merupakan lembaga pengembangan dan pelayanan bahasa di STAINU Temanggung akan menyelenggarakan Lomba Cipta Puisi Tingkat SMA/sederajat Se-Jawa Tengah dan DIY dengan tema “Nasionalisme”.

Menurut Kepala Lembaga Bahasa STAINU Temanggung Effi Wahyuningsih, M.Pd., kegiatan ini bertujuan untuk mewadahi imajinasi dan kreativitas penyair muda, meningkatkan rasa patriotiosme dan nasionalisme yang dituangkan dalam karya sastra dalam bentuk puisi.

Pendaftaran dan pengumpulan berkas lomba dibuka mulai tanggal 10 September sampai dengan 15 November 2019. Penganugerahan pemenang lomba akan dilaksanakan pada Sabtu, 30 November 2019 bersamaan dengan diselenggarakannya seminar literasi bersama Muhammad Rois Rinaldi, sastrawan yang sekaligus menjadi Juri dalam lomba ini.

Siswa SMA/sederajat se Jawa Tengah dan DIY yang yang berminat menjadi peserta lomba dapat melakukan registrasi dan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 40.000, - (empat puluh ribu rupiah). Seluruh peserta lomba akan mendapatkan sertifikat sebagai peserta lomba cipta puisi. Selain itu, semua puisi karya peserta akan dibukukan dalam antologi puisi ber-ISBN.

“Bagi sekolah yang mendelegasikan minimal 5 peserta, akan mendapatkan satu (1) Buku Antologi Puisi (karya peserta) secara gratis," ujar beliau, Sabtu (21/9/2019).

Andrian Gandi W., M.Pd selaku ketua panitia Lomba Cipta Puisi menambahkan kegiatan ini merupakan momentum bagi penyair muda tingkat SMA Se-Jawa Tengah dan DIY dalam membangkitkan ruh dan semangat dalam menulis karya  sastra dalam bentuk puisi.

“Selain itu, kegiatan ini diharapkan semakin menggugah semangat nasionalisme dan patriotiosme generasi muda di Jawa Tengah dan DIY," katanya.

Pihaknya menambahkan 10 besar peserta dan satu pendamping  diwajibkan hadir pada hari Sabtu, 30 November 2019 untuk mengikuti rangkaian kegiatan penganugerahan pemenang lomba, seminar literasi, pemberian penghargaan kepada pemenang lomba, dan peluncuran antologi puisi karya peserta."

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi narahubung berikut: Khamim Saefuddin,  M.Pd.I (081226987584) dan Wahyu Egi Widayat (089671559908).

Untuk formulir pendaftaran silakan klik: http://bit.ly/LombaciptapuisiLBSTAINUTMG2019 

Untuk Pedoman/Juknis Lomba silakan kilik: https://stainutmg.ac.id/lomba-cipta-puisi-2019

(hg44/agw).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget