Halloween Costume ideas 2015

Kabar bahagia! bagi Anda, mahasiswa, guru, dosen dan siapapun yang ingin menerbitkan buku mudah dan murah, silakan kirim naskah ke formacipress@gmail.com dan kunjungi www.penerbitformaci.id

Januari 2020

Suasana pelatihan artikel populer
Wonosobo, Harianguru.com - Pada Rabu 29 Januari 2020, puluhan guru yang tergabung dalam forum Kegiatan Kolektif Guru (KKG) MI se Kecamatan Wonosobo dan Watumalang mengikuti kegiatan literasi tentang penulisan artikel populer.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di MI Ma'arif Kejiwan dengan menghadirkan narasumber dosen STAINU Temanggung sekaligus Koordinator Gerakan Literasi Ma'arif (GLM) LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah Hamidulloh Ibda.

Sementara itu Ketua KKG Catur Rochman berharap untuk guru-guru yang berada di forum KKG yang dipimpinnya miliki kemampuan literasi yang baik terutama dalam hal membaca dan menulis. Hal itu ia ungkapan karena masih rendahnya minat guru untuk membaca sementara program literasi membaca banyak digalakkan di berbagai madrasah.

Catur juga mengungkapkan dengan menulis akan mendapatkan poin yang nanti dapat digunakan oleh guru itu sendiri dalam kenaikan angka kredit.

Dalam kegiatan tersebut guru diberikan beberapa teori tentang menulis yang selanjutnya diikuti dengan praktik langsung penulisan artikel populer.

Ibda selaku narasumber mengapresiasi kegiatan KKG tersebut dan berharap guru memiliki semangat untuk menulis. Untuk selanjutnya hasil artikel guru akan berusaha diterbitkan untuk menjadi sebuah buku dan berharap KKG MI Kecamatan Wonosobo dan Watumalang menjadi pelopor diterbitkan buku dari KKG.

Usai pemaparan materi, semua peserta diajak praktik menulis dan akan dikumpulkan menjadi sebuah buku bunga rampai.

"Semua hasil karya artikel populer ini, seminggu lagi akan kami kumpulkan dan edit, dan akan kami terbitkan menjadi sebuah buku bunga rampai," kata Ibda. (Htm55/Catur R).

Wonosobo, Harianguru.com - Pada Rabu 29 Januari 2020 hari ini terlaksana Kegiatan Kolektif Guru (KKG) Kecamatan Wonosobo dan Watumalang yang bertempat di gedung MI Ma'arif Kejiwan.

Ada suasana berbeda pada pertemuan kali ini karena biasanya narasumber dari guru-guru senior maupun dari pengawas sendiri, kali ini sebagai narasumber yaitu salah satu penggerak literasi, yaitu Koordinator Gerakan Literasi Ma'arif (GLM) Hamidulloh Ibda bersedia hadir sebagai narasumber untuk mengisi acara.

Acara yang dimulai pukul 11.00 WIB ini diikuti oleh sekitar 60 guru dari 6 madrasah gabungan dari kecamatan Wonosobo dan Watumalang. Peserta menyambut baik dan antusias dengan kehadiran beliau.

"Program literasi di madrasah masih sangat minim karena rendahnya minat baca guru" kata Ketua KKG Kecamatan Wonosobo dan Watumalang Catur Rohman dalam sambutannya.

Karena itu tergeraklah KKG ini untuk menumbuhkan minat dan bakat guru dalam literasi baik membaca maupun menulis.

"Menulis bukan sesuatu yang susah," kata Hamidulloh Ibda pada saat memberikan materi dalam KKG sebagai motivasi dan penyemangat guru-guru madrasah dalam menulis.

Karena menurutnya, menulis itu tidak sulit karena setiap orang dapat memproduksi ribuan kata setiap harinya jadi tidak ada kata sulit dalam menulis.

Harapannya semua guru bisa tergugah dan memiliki semangat yang lebih dalam menulis. (Hg77/Yuli@).

Temanggung, Harianguru.com – Unit Kajian Islam (UKI) STAINU Temanggung dalam memperingati kelahiran Jenderal hebat, seorang pahlawan revolusioner bangsa mengadakan kegiatan “Nonton Film bareng dan Diskusi bersama”. Kegiatan ini dimulai pukul 13.00 WIB. Di Gedung Akhwalussakhiah STAINU Temanggung dengan Narasumber oleh Usman Mafrukin S.Pd dan Moderator Ahmad Farichin yang diikuti oleh mahasiswa STAINU Temanggung, pada Jumat 24 Januari 2020.

Hal menarik yang dikaji dalam diskusi ini mengenai sosok Jendral Sudirman sebagai Jendral besar dalam membela bangsa Indonesia di era penjajahan kolonial Belanda. Proses diskusi berjalan begitu heboh saat terjadi argumen baik pro maupun kontra mengenai sosok Jendral Sudirman.

“Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi Benteng Merah Putih. Akan tetap hidup, Tetap menuntut bela, siapapun lawan yang aku hadapi”.

Pengggalan Kalimat yang begitu indah akan rasa Nasionalisme sosok seorang pahlawan yang begitu besar dalam membela bangsanya sampai titik darah penghabisan, hal ini yang seharusnya menjadi sebuah dimensi bagi generasi milineal dalam menjadi penerus generasi bangsa di era revolusi Industri 4.0 ini.

Tokoh jendral sudirman memang selayaknya menjadi bagian dari keteladanan kepemimpinan, seperti salah satu ungkapannya “yang sakit adalah sudirman, paglima tidak ada rasa sakit”, jika dimaknai perkataan tersebut sangat mendalam, dan jarang yang sekarang ini dapat melaksanakan hal tersebut, karena jika diitarik benang merah, ungkapan tersebut adalah merelakan jiwa dan raga untuk mengabdi tanpa memperhatikan diri sendiri hinngga muncul pertanyaan, “apakah ada yang dapat meniru sosok jendral Sudirman di zaman seperti ini?
Tentu mustahil jika menjadi jendral sudirman, karena setiap insan diciptakan berbeda-beda, tidak ada yang sama. Namun, jika dalam sifat, tingkah laku, kita sedikit demi sedikit dapat meniru, mempelajari dan mengaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari. 

Rutinitas kegiatan Unit Kajian Islam (UKI) STAINU Temanggung yang dilaksanakan setiap minggunya khususnya di hari jumat berharap mampu menambah minat mahasiswa dalam mengasah ajang kreatifitas, baik dalam berorganisasi di intra maupun ekstra kampus yang mampu menumbuhkan jiwa nasionalisme seperti apa yang dapat kita tauladani dari sosok Jendral Sudirman. Hingga pada pertanyyan terakhir, apakah kita mampu meneruskan perjuangan beliau? Mari kita renungkan! (Hg33/Iis Narahmalia).


Semarang, Harianguru.com - Menulis bagi yang tidak terbiasa memang menjadi hal susah. Apalagi menulis karya sastra yang diterbitkan dalam bentuk buku. Namun hal itu tidak berlaku bagi Deni Prabowo, pelajar SMK Negeri 4 Kota Semarang.

Pelajar yang baru berumur 16 tahun tersebut berhasil menerbitkan buku pribadi. Buku berjenis antologi puisi tersebut diterbitkan penerbit CV. Pilar Nusantara dengan judul "Antara Cinta dan Senjata: Antologi Puisi".

"Proses menulis sekitar 3 bulan
Motivasinya, pertama ada tugas untuk membaca novel. Kelamaan suka sama dunia tulis menulis dan membaca. Lalu coba-coba membuat puisi. Karena suka jadi keterusan menulis," kata dia, Sabtu (25/1/2020).

Pelajar yang tinggal di Kelurahan Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang tersebut tidak memedulikan hal-hal yang membuat dirinya stagnan menulis. "Selama proses menulis, banyak kejadian-kejadian yang mendorong untuk diceritakan dalam bentuk puisi," lanjut dia.

Ia juga mengaku, pihak sekolah maupun orang tua sangat mendukung hobinya tersebut meski kini baru duduk di bangku SMA. Ia juga berharap ke depan agar ke depan semakin produktif dalam berkarya. (Hg45/Hi).

Oleh Lilik Puji Rahayu, S.Pd., M.Pd.

Perayaan Imlek kini bisa dinikmati di seluruh negeri, sebagaimana masyarakat merayakan adat tradisinya masing-masing. Pengakuan Imlek sebagai bagian budaya nasional ini adalah sumbangsih presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) dengan mencabut beberapa peraturan-peraturan yang dianggap diskriminatif terhadap orang-orang Tionghoa.

Momen Imlek lekat sekali dengan harapan keberuntungan serta keharmonisan keluarga. Menjadi momen tepat untuk berkumpul bersama keluarga, membagikan angpao kepada sanak saudara, hingga beristirahat sejenak dari berbagai kesibukan dunia. Menjadi momen untuk mensyukuri semua hal yang sudah didapat, serta menatap dengan optimis semua tantangan ke depannya.

Imlek tidak hanya menjadi seremoni tahunan bagi etnis tionghoa saja. Banyak sekali makna penting dari perayaan imlek yang dapat diimplementasikan bagi semua orang. Satu yang paling penting adalah menyadarkan kita tentang akulturasi budaya bangsa.

Dimana di setiap daerah memiliki cara unik tersendiri untuk ikut serta merayakan imlek. Seperti contohnya di Semarang, perayaan Imlek disambut dan dirayakan warga lintas etnis. Banyak masyarakat yang mengunjungi beragam festival di kawasan Pecinan. Pasar Imlek Semawis (PIS) menjadi salah satu rujukan penyelenggaraan agenda merayakan Imlek selama berpuluh-puluh tahun di kota Semarang. Sebab ada beragam agenda, seperti festival kuliner dan pertunjukan barongsai yang dipadukan dengan kebudayaan jawa.

Pembaruan lintas etnis inilah yang menjadikan momentum Imlek sebagai momen peraayaan penting. Akulturasi tradisi ini menjadi jembatan untuk menghapus antarsekat etnis dan agama. Keberagaman budaya tak menjadi penghalang bagi persatuan bangsa. Hal ini justru menjadi semakin eratnya persatuan.

Melek Akulturasi
Masyarakat nampaknya semakin menyadari bahwa akulturasi budaya Tionghoa ke Indonesia sudah terjadi jauh-jauh hari dan diterima dengan baik. Contoh diantaranya adalah Barongsai yang merupakan produk akulturasi. Di daerah Jawa sendiri barongan biasanya juga dipertunjukkan dalam kesenian Kuda Lumping. Di Bali juga ada pertunjukan tari barong yang alunan musiknya senada dengan iringan musik barongsai.

Akulturasi di bidang kuliner bahkan lebih terasa. Contohnya bakso, cakwe, lumpia dan kue bolang-baling. Makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia ini merupakan makanan adaptasi dari Tionghoa. Lebih baru lagi ketika muncul makanan bernama lontong cap go meh, yang semakin banyak orang ingin menikmatinya. Ada lagi makanan khas perayaan imlek yang berasal dari tepung ketan dan gula jawa yakni kue keranjang. Disebut kue keranjang, karena saat diberikan kepada teman/keluarga di saat perayaan imlek diletakkan dalam keranjang. Sama dengan kue keranjang, di Jawa ada kue sejenis itu, yakni ‘jenang’ yang berasal dari tepung ketan dan gula jawa, yang biasanya disuguhkan saat ada hajatan.

Pengaruh arsitektur Tionghoa pun terlihat pada bentuk masjid-masjid yang bergaya arsitekstur seperti kelenteng. Masjid Jami’ Ceng Ho di Kecamatan Mrebet, Purbalingga contohnya. Masjid ini memperlihatkan arsitektur Tionghoa dimana desain interior dan eksteriornya bernuansa kelenteng. Akan tetapi aktivitas di dalamnya sarat dengan nuansa Islami. Ini menunjukkan bahwa akulturasi budaya sudah diterima dengan baik di Indonesia baik untuk kalangan antaretnis maupun agama.
Berbeda dengan arsitektur bangunan, alat musik seperti gong dan canang/bende sejenis gong kecil, suling, kecapi telah masuk dan menjadi alat musik daerah di Indonesia. Gambang Keromong merupakan perpaduan antara musik jawa dan Tiongkok, pada mulanya adalah musik tradisional dari Betawi yang digunakan untuk mengiringi upacara sembahyang orang keturunan Tionghoa. Namun sekarang berkembang menjadi musik hiburan rakyat.

Akulturasi budaya pun sudah menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat Indonesia. Kebiasaan minum teh yang disuguhkan kepada tamu sudah cukup populer di Indonesia. Biasanya masyarakat menyuguhkan minuman hangat saat ada tamu berkunjung ke rumah, baik suguhan teh hangat, atau dengan mengganti teh dengan kopi.

Kemudian tradisi saling berkunjung dengan memberikan jajanan atau masakan pada hari raya. Ini sama seperti yang dilakukan oleh etnis Tionghoa saat perayaan imlek, yang mahsyur dengan pembagian angpau yang berisi uang dan pembagian kue keranjang pada kerabat, keluarga, teman, tetangga dan orang-orang yang disayangi.
Wayang Potehi di Jawa pun sebagai wujud akulturasi budaya. Kata “Potehi” berasal dari kata Poo berarti kain, Tay (kantong), Hie (wayang). Secara lengkap istilah Po Te Hi memiliki arti wayang kantong atau boneka kantong. Cara memainkannya adalah dengan memasukkan jari tangan ke dalam kantong kain dan menggerakkannya sesuai dengan jalannya cerita.

Dengan bukti-bukti kekayaan kebudayaan Indonesia hasil akulturasi dengan bangsa Tionghoa tidak perlu lagi memperdebatkan dikotomi warga keturunan Tionghoa dengan masyarakat pribumi, karena mereka adalah satu kesatuan NKRI.
Pelajaran penting lain dari imlek adalah rasa syukur. Selama perayaan imlek, masyarakat Tionghoa merayakannya dengan sembahyang Imlek dan perayaan Cap Go Meh yang bertujuan sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapatkan rezeki yang lebih berlimpah barokah. Selamat Tahun Baru Imlek 2020 Gong Xi Fa Chai.

- Penulis adalah Pecinta Budaya, Praktisi Pendidikan. Guru SD Supriyadi Semarang.

Kunjungan Kapolres Brebes di PCNU Brebes
Brebes, Harianguru.com - Kapolres Brebes AKBP Aris Supriyono, S.I.K., M.Si, bersama Kabag Ops Polres Brebes Kompol Raharja, S.H.,M.H, Kasat Intelkam AKP Edi Sudarmono, Sh, Kasat Binmas AKP Kamal Hasan, SH, Kasubag Humas AKP Suraedi, Kasat Lantas AKP Moch Adimas Purwonegoro Sugeng Eko, SIK. Dan KBO Sat Intelkam Ipda Yazis Asmungi, melaksanakan kegiatan silaturahmi dengan Ketua dan Pengurus Cabang (PC) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Brebes.

Kegiatan ini, dilaksanakan hari Senin (20/1/2020) yang bertempat di Kantor PCNU Brebes, yang beralamat di Jl. Yos Sudarso no 36 Koplek Islamic Centre Brebes.

Rombongan dari Polres tersebut, disambut langsung oleh Ketua Tanfidziyah H. M. Aqsho, M.Ag, Wakil Ketua KH. Sodikin Rahman, Sekretaris Lahmuddin serta Bendahara H. Agus Hasanuddin dan H. Sufawijaya.

Ketua Tanfidziyah H. M. Aqsho, M.Ag dalam sambutannya menyampaikan , ucapan selamat datang kepada Kapolres beserta rombongan di kantor PCNU Brebes

“Kami ucapkan selama datang kepada Kapolres beserta rombongan di kantor PCNU Brebes , dengan sepenuh keikhlasan kami siap membantu program Harkamtibmas Polres Brebes,” ujar M. Aqsho.

Sementara itu Dalam sambutannya Kapolres Brebes AKBP Aris Supriyono, S.I.K., M.Si berharap agar para ulama, tokoh agama dan tokoh masyarakat dapat bersinergi dengan kepolisian dan dapat berjalan bersama untuk menciptakan situasi wilayah yang kondusif khususnya di wilayah Polres Brebes.

Dalam kesempatan itu juga Kapolres Brebes yang aslinya asal Jepara. Pihaknya bercerita waktu remaja aktip di IPNU Ranting I Bandungharjo Keling (sekarang Donorejo) Jepara, suka ngaji Alquran, Barjanjinan dan Solawatan.
Ketika Kapolres menanyakan apa yang bisa dibantu untuk NU, yang ditimpali langsung oleh Ketua Tanfidziyah, bahwa Ansor Banser yang anggotanya sampi saat ini sudah 11.000, sedang punya keinginan untuk mempunyai mobil Komando Satkorcab Banser Brebes dan Mobil Komando GP Ansor Kab. Brebes, yang saat ini sedang mengumpulkan Donasi dari anggota dan donatur NU, yang langsung diapresiasi dan menyambut siap membantu dan mempasilitasi pengadaan 2 buah mobil Komando tersebut.

Alhamdulillah keinginan untuk mempunyai mobil Komando dimudahkan dengan hadirnya Kapolres di PCNU Brebres, yang diamini Ketua Ansor Kab. Brebes Ahmad Munsip bersama, Bayu Rohmawan (Wakil Ketua), Subhan (Kasatkorcab Banser) Dan Fauzan Amin (Kasetma Satkorcab Banser) yang sedang ada di PCNU Brebes.

Dalam pertemuan demi keselamatan dan kelancaran tugas Acara ditutup dengan Doa oleh KH. Sodikin Rahwan selaku Wakil PCNU Brebes. (Hg66/Hi).

Pemberian kenang-kenangan dari Kaprodi PGMI kepada Kepala SDN Sarirejo Kartini
Semarang, Harianguru.com - Dalam rangkan memenuhi kewajiban akademik, puluhan mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung melakukan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di SDN Sarirejo Kartini Kota Semarang, Rabu (15/1/2020).

Saat pembukaan, pengawas sekolah Korsatpen Semarang Timur Lusia Endang mengatakan bahwa SDN Sarirejo Kartini merupakan salah satu sekolah unik di Kota Semarang. "Sekolah ini pernah mendapat bantuan dari Pemkot Semarang mau direnovasi, namun tidak jadi karena untuk menjaga nilai sejarah," kata dia.

Sementara Kepala SDN Sarirejo Kartini Sri Sayoga mengatakan bahwa SD yang ia pimpin itu selain memiliki akar sejarah yang menarik karena didirikan R.A Kartini, juga sudah menerapkan berbagai wirausaha. "Kita ada beberapa program yang nanti bisa dikunjungi adik-adik mahasiswa semua untuk belajar wirausaha," katanya.

Menurutnya, dalam buku sejarah, SDN Sarirejo Kartini tersebut didirikan R.A Kartini pada tahun 1912. Dijelaskan dia, dulu nama SDN ini adalah SDN Kartini, kemudian kini berubah menjadi SDN Sarirejo Kartini untuk tetap menyematkan nama R.A Kartini yang juga pahlawan nasional sebagai pendiri sekolah tersebut.

Sementara Kaprodi PGMI STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda mengatakan bahwa Prodi yang ia pimpin merupakan Prodi baru sejak 2017. "Selain menyiapkan calon guru kelas jenjang MK/SD, profil lulusan kami yang kedua adalah menyiapkan calon teacherpreneurship di bidang pendidikan dasar," kata dia.

Untuk mendukung itu, kata pengurus LP. Ma'arif PWNU Jateng itu, kami menyiapkan mata kuliah teoretis dan praktik. "KKL ini merupakan salah satu mata kuliah yang dilakukan di luar untuk belajar secara langsung tentang wirausaha di bidang pendidikan dasar," lanjut penulis buku Guru Dilarang Mengajar tersebut.

Selain mereka, hadir juga dewan guru, komite, Ketua LP3M STAINU Temanggung, dosen dan mahasiswa PGMI STAINU Temanggung.

Usai pembukaan, mahasiswa berkeliling dan dipandu oleh guru. Mereka belajar pengembangan bisnis batik, kompos, keterampilan dan di kelas. Selain itu, pengembangan wirausaha di SDN Sarirejo Kartini ini juga menyasar ke berbagai ranah, seperi pengembangan softskill berupa rebana, tari, khitobah, TIKI, pembuatan souvenir dari sampah, dan lainnya. (Hg33/Gandi).

Semarang, Harianguru.com - Lembaga Pendidikan Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah menyiapkan 3 modul menuju madrasah madrasah/sekolah inklusi. Modul itu merupakan hasil karya 21 fasilitator inklusi dalam Training of Trainer (ToT) Tahap II Fasilitator Inklusi LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah - UNICEF yang berjalan sejak Kamis (9/1/2020). ToT akan berakhir pada Ahad (12/1/2020).

Penanggungjawab kegiatan Fakhrudin Karmani mengatakan bahwa sampai hari ketiga, Sabtu (11/1/2020) ini, semua fasilitator inklusi aktif dalam menyusun modul inklusi yang akan menjadi bahan pelatihan di madrasah/sekolah Ma'arif se Jawa Tengah.

"Hari ini, modul akan diplenokan. Dan kami juga sudah menyiapkan skema pelaksanaan sampai tataran teknis," kata Fakhrudin Karmani di sela-sela ToT, Sabtu (11/1/2020).

Modul yang disusun fasilitator itu akan menjadi acuan pelaksanaan madrasah/sekolah inklusi dari tataran konseptual sampai implementatif. (hg44/Ibda).

Semarang, Harianguru.com - Sebagai bentuk organisasi pelayanan, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah mendirikan Posko Bersama NU Peduli Jawa Tengah. Lokasi posko tersebut bertempat di komplek kantor PWNU Jawa Tengah Jalan Dr Cipto No.180, Karangtempel, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Tujan pendirian itu menurut Sekretaris PWNU Jawa Tengah KH. Hudallah Ridwan Naim (Gus Huda), adalah untuk menampung dan mendistribusikan semua bantuan sekaligus menjadi pusat informasi terkait penyaluran bantuan untuk korban bencana yang melanda di beberapa daerah di Jawa Tengah.

"Tujuan pendirian posko ini untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan dan kepedulian kepada umat, khususnya yang tertimpa musibah," kata Sekretaris PWNU Jawa Tengah KH. Hudallah Ridwan Naim kepada awak media, Sabtu (11/1/2020).

Dengan adanya posko bersama ini, lanjut Gus Huda, diharapkan seluruh elemen NU dan perangkat-perangkatnya saling bersinegi. "Sehingga bisa berkhidmah atau memberikan pelayanan dengan jeli, tepat, cepat dan tangguh," lanjutnya.

Untuk mengimplementasikan itu, melalui Surat Keputusan PWNU Jawa Tengah Nomor: PW.11/299/SK/I/2020 tentang Pengesahan Posko Bersama NU Peduli PWNU Jawa Tengah ditunjuklah Kordinator Posko Bersama, Ibu Winarti SS. M.Si, Ketua LPBI PWNU Jawa Tengah bersama panitia lain.

Menurutnya, sesuai data yang diterima, banjir di Kabupaten Grobogan ada 8 kecamatan yang terdampak banjir, ada sekitar 2.000 rumah terendam, dan ada 1 korban meninggal dunia.

"Silakan salurkan kepedulian Anda, bisa bantuan berupa uang ke nomor rekening 5010112851 Bank Mualamat an. Lazisnu Jateng,” katanya.

Sedangkan untuk kebutuhan mendesak, lanjutnya, Anda dapat menyumbangkan berupa perahu karet, terpal, selimut, pakaian dewasa dan anak-anak, obat-obatan, makanan, minuman, air bersih, dan lainnya.

Posko tersebut dibuka sejak Kamis (9/1/2020) yang dijadikan sebagai pusat pelayanan sekaligus distribusi bantuan dalam bentuka apa saja. Gus Huda berharap, adanya posko tersebut menjadikan warga atau pengurus NU turut peduli terhadap saudara-saudara sesama warga negara Indonesia agar mendapat bantuan yang layak. (hg44.Hi).

Pati, Harianguru.com - Bertempat di aula SMK JAPA Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Pati, Yayasan Jamaah Pasrah Pati bekerjasama dengan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemenag RI menggelar Workshop Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) pada Ahad (5/1/2020) yang bertajuk "Guru Mulia Lewat Karya".

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Jamaah Pasrah Ngalimun mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bantuan dari Ditjen GTK Kemenag dalam meningkatkan kualitas guru dan tenaga kependidikan madrasah dalam bidang literasi dan penulisan karya tulis ilmiah.

"Kami berterima kasih kepada Kemenag yang sudah mempercayai Yayasan Jamaah Pasrah untuk melaksanakan kegiatan Workshop Penulisan Karya Tulis Ilmiah, karena kegiatan seperti ini langka bahkan ini mungkin baru pertama kali ada di wilayah Kecamatan Dukuhseti Pati," kata lulusan Unwahas tersebut.

Selain puluhan guru dan tenaga kependidikan MI, MTs, MA, panitia juga mengundang Kemenag Pati. Sementara itu, panitia mendapuk Junaidi Abdul Munif Juara 1 Lomba Nasional Hari Santri 2017, dan Hamidulloh Ibda Juara 1 Lomba Artikel Kemdikbud 2018.

Dalam pemaparannya, Hamidulloh Ibda menjelaskan bahwa manusia sebagai animal symbolicum sebenarnya sudah dibekali kemampuan membaca, menulis, berbicara dan menyimak atau dikenal sebagai caturtunggal keterampilan berbahasa. "Secara umum, ada tiga jenis karya. Yaitu karya tulis jurnalistik, karya tulis ilmiah, dan karya sastra. Karya tulis ilmiah di sini, harus memenuhi syarat-syarat ilmiah, berdasarkan data, masalah ilmiah, metode ilmiah, sesuai GAP research, dan state of the art of the resarch," beber penulis buku Media Literasi Sekolah tersebut.

Dosen STAINU Temanggung itu juga menjelaskan beberapa aplikasi sitasi seperti Mendeley, Zotero, Citavi, EndNote dan lainnya. "Semua karya ilmiah, apalagi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah saat ini ketat, harus bebas plagiasi, duplikasi, fabrikasi dan falsifikasi," lanjut peraih Juara 1 Lomba Esai Tingkat Nasional Fakultas Filsafat UGM tahun 2018 tersebut.

Untuk mengecek similarity atau kesamaan tulisan dan plagiasi, Ibda juga menjelaskan beberapa aplikasi cek similarity seperti Turnitin, Grammarly, Copyscape, Plagiarism Checker dan lainnya.

Sedangkan Junaidi Abdul Munif menjelaskan teknik penulisan KTI dengan mengajak peserta mencari masalah ilmiah. "Karya ilmiah merupakan karya penelitian berbasis ilmiah, bukan asumsi. Ciri-ciri keilmiahannya bisa dilihat dari teori dan metode penelitian. Teori merupakan pendapat dari para pakar keilmuan yang telah diakuai secara luas. Sedangkan metode penelitian adalah cara untuk melakukan penelitian sehingga hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah," kata Junaidi.

Pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma'arif PWNU Jawa Tengah itu juga menjelaskan teknis mencari dan merumuskan masalah, menentukan metode riset, penyajian data sampai analisis data.

Usai penjelasan materi, semua peserta diajak praktik menulis karya ilmiah dan ditarget akan membukukan hasil karya peserta dalam bentuk buku khususnya artikel populer sebagai bagian dari artikel ilmiah. (Hg66).

Harianguru.com

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget